• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMULIHAN KEKUASAAN KELAS DOMINAN DAN PO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMULIHAN KEKUASAAN KELAS DOMINAN DAN PO"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

1 | P a g e

PEMULIHAN KEKUASAAN KELAS DOMINAN DAN

POLITIK NEOLIBERALISME

(Oleh: Eric Hiariej)

Kapitalisme global sebelum neoliberalisme, terutama setelah berakhirnya

Perang Dunia II, sebetulnya bertumpu pada prinsip embedded liberalism yang

menekankan arti penting partisipasi negara dalam perekonomian domestik sembari

menolak keterlibatan yang serupa pada level internasional (lihat, misalnya, Harvey

1989; Cox 1997). Prinsip ini merupakan jawaban terhadap malaise ekonomi yang

bersumber dari norma-norma merkantilisme yang melandasi praktik perdagangan

antar negara sepanjang abad sebelumnya yang menganjurkan intervensi

pemerintah dalam pasar internasional sebagai jalan terbaik mewujudkan

kepentingan nasional. Karenanya motivasi utamanya adalah mengembalikan elan

perdagangan bebas, menggantikan sikap-sikap protektif dan perang tarif yang

mewarnai perekonomian dunia sebelum dan selama perang. Tapi resesi ekonomi

yang melanda negara-negara maju sejak awal 1970an mengakhiri embedded

liberalism, terutama keyakinan positif terhadap intervensi negara, yang justru dinilai sebagai sumber masalah. Sebagai gantinya kapitalisme global ditata ulang

menurut cara berpikir disembedded liberalism, diantaranya dengan menghilangkan

konsensus buruh-majikan dalam kerangka demokrasi sosial, yang diwujudkan

melalui seperangkat regulasi, “teori-teori ilmiah” dan doktrin yang kemudian

dikenal dengan neoliberalisme.

Regulation School mengingatkan peralihan ini tidak berlangsung di balik

dinding-dinding perdebatan akademik di University of Chicago atau University of

Cambridge dan sama sekali tidak steril politik (Aglietta 1976; Lipietz 1987; lihat

juga Jessop 1990; Hoogvelt 2001). Dengan memanfaatkan skema yang

dikembangkan Karl Marx (1970; Marx and Engels 1967;1972) tentang hubungan

antara forces of production dan production relations dalam menjelaskan peralihan

(2)

2 | P a g e

kapitalisme dari sebuah tipe khusus mode of production ke tipe khusus lainnya,

mazhab ini melihat apa yang tulisan ini sebut dengan disembedded liberalism

sebagai hubungan produksi baru yang tak terelakkan, mengikuti kemunculan teknik

produksi baru, yang luas dikenal sebagai posfordisme, yang dimaksudkan untuk

mengatasi stagnasi ekonomi di Eropa Barat dan Amerika Utara. Kebijakan-kebijakan

seperti penarikan subsidi, reformasi pajak dan penundaan jaminan sosial

merupakan mode of regulations baru, yang sejalan dengan mode of production yang

juga baru, bukan sekedar panduan tentang bagaimana ekonomi dikelola, tapi

merupakan upaya “mengatur” kembali—atau bahkan mendisiplinkan—kehidupan

sosial-politik agar sesuai dengan kapitalisme yang tidak lagi bertumpu pada

kerjasama dan distribusi kekuasaan yang berimbang antara kelas pekerja dan

pemilik modal.

Cara berpikir Regulation School membantu tulisan ini melihat perkembangan

neoliberalisme sebagai proses yang tidak berlangsung dalam ruang hampa politik

seperti yang dibayangkan para penganut setianya sebagai sebuah keniscayaan yang

universal, netral dan bermoral. Pertama, jika kembali pada konsep hubungan

produksi perkembangan neoliberalisme berkaitan dengan perubahan perimbangan

kekuatan kelompok-kelompok sosial yang berkepentingan dengan proses

perubahan barang dan jasa menjadi komoditi yang alat produksi dan

keuntungannya dikendalikan oleh kelompok yang tidak terlibat langsung dalam

proses produksi. Kedua, sebagai mode of regulations neoliberalisme berkenaan

dengan proses penyebaran sebuah kesadaran baru yang dimaksudkan untuk

menundukkan bentuk-bentuk perlawanan yang mungkin muncul dengan cara-cara

persuasif. Ringkasnya tulisan ini akan melihat neoliberalisme dalam konteks

pemulihan kekuasaan kelas dominan dan hegemoni ideologi yang memungkinkan

mistifikasi proses pemulihan kekuasaan tersebut.

Gelombang liberalisme ekonomi besar-besaran yang menandai era

disembedded liberalism menurut sejumlah pemimpin, politisi dan pengamat,

menjanjikan sebuah dunia yang lebih baik. Tapi dalam tiga dekade terakhir orang

(3)

3 | P a g e

menegaskan bahwa janji ini hanyalah sebuah kebohongan besar. Gelombang

liberalisasi di hampir seantero bumi secara ironi justru telah gagal mencapai

tujuannya sendiri, yakni gagal mendorong pertumbuhan ekonomi dunia. Selama

dekade 1960an angka rata-rata pertumbuhan global adalah 3,5 persen pertahun.

Tiga dasawarsa berikutnya tingkat pertumbuhan hanya berkisar antara 1,1 dan 1,4

persen (UNDP 1999;2003). Di sebagian besar bekas negara-negara komunis di

Eropa Timur, terapi kejut ala Dana Moneter Internasional membawa malapetaka.

Selama dasawarsa 1990an pendapatan perkapita di Rusia, misalnya, anjlok 3,5

persen setiap tahunnya. Sementara tidak ada perubahan baik yang cukup berarti

bagi Afrika, di wilayah Amerika Latin disembedded liberalism menciptakan the lost

decade of 1980s bagi sebagian negara dan pertumbuhan yang berakhir dengan

kebangkrutan bagi sebagian lainnya (Harvey 2005). Tampaknya liberalisasi

mencatat beberapa prestasi menakjubkan di wilayah Asia Timur, Asia Tenggara dan

India. Tapi bahkan di tempat yang dinilai paling dinamis ini, keberhasilan ekonomi

disebabkan oleh sejumlah praktik dan kebijakan yang melenceng dari petunjuk

baku textbook liberalisme ekonomi, terutama dalam hal peran penting negara dalam

mendorong pembangunan ekonomi dan “membina” kelas pemilik modal (Harvey

2005). Serupa dengan itu, di Swedia praktik liberalisme ekonomi setengah hati

terbukti lebih berhasil dibanding komitmen penuh yang diberikan pemerintah

Inggris. Swedia melampaui Inggris dari segi pendapatan perkapita, tingkat inflasi,

posisi neraca pembayaran, tingkat kemiskinan dan taraf hidup (Harvey 2005).

Sebaliknya, dalam kurang lebih empat dekade terakhir sejak 1960an dunia

sesungguhnya menyaksikan dua perkembangan yang bertolakbelakang:

proletarisasi dan pemulihan dominasi borjuasi. Hampir tidak ada bedanya dengan

apa yang diungkapkan Marx sekitar dua abad yang lalu, perkembangan kapitalisme

paling kontemporer ditandai dengan keterpurukan kelas pekerja dan kejayaan kelas

pemilik modal. Berdasarkan perhitungan Bank Dunia (1995) jumlah tenaga kerja

dunia bertambah dua kali lipat dalam kurun waktu 1966-1995. Diperkirakan sekitar

3 milyar diantaranya tergolong buruh upahan yang bekerja dalam kondisi yang

(4)

4 | P a g e

dan peningkatan resiko kesejahteraan. Bank Dunia (1995: 1-2) mencatat “…more

than a billion individuals living on a dollar or less a day depend…on pitifully low

returns to hard work. In many countries workers lack representation and work in

unhealthy, dangerous, or demeaning conditions.” Sejak pertengahan 1970an gerakan

buruh bukan lagi dijinakkan, tapi bahkan dilumpuhkan sama sekali (lihat Hoogvelt

2001; Harvey 2005). Upaya ini dilakukan dengan cara kasar dan keras seperti yang

dipraktikkan Augusto Pinochet, Park Chung Hee atau Soeharto; dengan manipulasi

ideologi ala Deng Xiao Ping; maupun dengan jalan demokrasi yang dilalui Margaret

Thatcher dan Ronald Reagen. Di negara-negara berkembang dan cenderung otoriter

pertumbuhan industri yang berbasiskan buruh murah memerlukan pendisiplinan

kelas pekerja yang dilakukan melalui kombinasi represi politik dan manipulasi

perwakilan kepentingan (lihat misalnya Hadiz 1997). Aparat keamanan merupakan

agen pemerintah paling penting dalam mengatasi konflik industrial dan menindak

buruh-buruh oposan. Negara-negara ini juga mengkampanyekan beberapa ideologi

baru, seperti “pembangunanisme” dan “patriotisme”, untuk menutup-nutupi praktik

kapitalisme dan eksploitasi dalam rangka menundukkan common sense para buruh.

Saksi sejarah kekalahan ini bisa ditemukan dalam berbagai peristiwa pelanggaran

HAM yang menimpa aktivis buruh seperti insiden penembakan di Kwangju atau

pembunuhan Marsinah.

Di negara-negara maju proses kekalahan buruh lebih rumit, berkaitan erat

dengan restrukturisasi akibat krisis fordisme (Hoogvelt 2001; Jessop 2002; Harvey

2005; lihat juga Scholte 2000; Sklair 2001). Disiplin fiskal dan moneterisme yang

menjadi semangat dasar reformasi ekonomi untuk mengatasi stagnasi tak lain dari

”pemindahan kekayan dari tangan orang miskin ke tangan orang kaya”. Upaya keras

menciptakan “iklim bisnis yang kondusif” misalnya harus dibaca sebagai

penggunaan sumber daya publik (yang sebelumnya diperuntukkan bagi orang

miskin) untuk membangun infrastruktur yang memadai bagi akumulasi kapital dan

menyediakan subsidi dan pemotongan pajak bagi pemilik modal. Sudah tentu

kebijakan semacam ini menuai perlawanan kelas pekerja. Tapi sebuah “kontra

(5)

5 | P a g e

kekuatan serikat buruh dipreteli dengan cara merevisi semua UU perburuhan agar

berpihak kepada kapital. Selain itu pemerintah-pemerintah konservatif seperti

Reagan dan Thatcher juga memanipulasi pembangunan sektor industri untuk

melemahkan posisi tawar para pekerja. Di Amerika misalnya pemindahan aktivitas

industri ke daerah atau negara lain yang tidak memiliki kelas pekerja yang

terorganisir dengan baik merupakan praktik standar deindustrialisasi kawasan

yang menjadi basis gerakan buruh. Di Inggris Thatcher membuka negaranya bagi

investasi dan kompetisi modal asing yang menamatkan riwayat sejumlah industri

dengan tradisi perlawanan buruh yang kuat. Di awal 1980an monumen kekalahan

kelas pekerja bisa dilihat dalam kemenangan Reagan atas buruh pengawas lalu

lintas udara dan keberhasilan Thatcer menundukkan perlawanan para pekerja

tambang yang melakukan protes lebih dari setahun.

Sementara pendapatan orang miskin terus menurun secara drastis, para

borjuasi merupakan penerima keuntungan paling besar dari upaya melumpuhkan

kelas pekerja yg dilakukan baik di negara maju maupun di negara berkembang.

Menurut laporan PBB sejak 1960 jumlah pendapatan dari 20 persen orang terkaya

di dunia meningkat antara 70 sampai 85 persen (lihat Harvey 2000). Sampai dekade

1990an jumlah penghasilan bersih 358 orang terkaya di dunia setara dengan jumlah

pendapatan 45 persen penduduk dunia paling miskin (lihat Harvey 2000). Di

Amerika misalnya jumlah bersih kekayaan Bill Gates diperkirakan melampuai

jumlah bersih kekayaan sekitar 40 persen penduduk negeri itu yang paling miskin.

Boleh dibilang upaya mengintegrasikan ekonomi dunia dengan liberalisasi ekonomi,

pengurangan intervensi pemerintah dan pemberlakuan pasar bebas dalam tiga

puluh tahun terakhir hanya membuka jalan bagi proses pemulihan kekuasaan kelas

pemilik modal.

Pemulihan dominasi borjuasi, uniknya, tidak mengambil jalan konvensional.

Secara historis pemiliki modal dalam ekonomi kapitalis yang sudah maju

memperkaya dirinya dengan cara memperluas kegiatan produksi yang

memungkinkannya menumpuk keuntungan baru. Imperialisme merupakan salah

(6)

6 | P a g e

pusat mengalami kejenuhan dan cenderung menghasilkan penurunan keuntungan.

Sebaliknya sejak awal 1980an para pemilik modal, bahkan di negara maju

sekalipun, mulai menumpuk kekayaannya dengan cara-cara tradisional seperti

“perampasan” atau dalam bahasa yang lebih halus “redistribusi kekayaan.” David

Harvey (2005: 159-65; 2000) menggunakan istilah accumulation by dispossession

untuk menyebut proses menghasilkan keuntungan yang dilakukan dengan cara

me-redistribusi ketimbang memproduksi kekayaan. Istilah ini merupakan hasil

modifikasi yang dilakukan Harvey terhadap konsep akumulasi primitif yang pernah

dikembangkan Marx saat menggambarkan model-model penumpukan keuntungan

di masa-masa awal perkembangan kapitalisme. Yang tergolong dalam

bentuk-bentuk redistribusi kekayaan, diantaranya, adalah: Komodifikasi dan privatisasi

tanah yang selalu diiringi dengan pemindahan paksa masyarakat petani; pengalihan

berbagai bentuk hak milik yang bersifat publik menjadi hak milik yang secara

eksklusif bersifat pribadi; penindasan hak-hak kolektif; komodifikasi tenaga kerja

dan pengekangan terhadap metode produksi dan konsumsi alternatif yang biasanya

disediakan masyarakat pribumi; perampasan aset melalui kekuatan-kekuatan

kolonial, neokolonial maupun imperial; moneterisasi sistem pertukaran dan

perpajakan terutama yang berkaitan dengan tanah; serta manipulasi hutang negara

dan sistem kredit untuk menumpuk kekayaan. Daftar ini bisa diperpanjang dengan

menambahkan beberapa teknik akumulasi dengan cara redistribusi kekayaaan yang

paling baru, termasuk, diantaranya, pemungutan sewa atas hak paten dan hak milik

intelektual dan penghapusan hampir semua bentuk hak milik bersama yang masih

tersisa seperti jaminan hari tua melalui sistem pensiun dan akses yang memadai

bagi pendidikan dan perawatan kesehatan.

Secara garis besar Harvey (2005: 160-65) menyebut empat bentuk

akumulasi dengan cara me-redistribusi kekayaan. Model pertama adalah privatisasi

dan komodifikasi yang bertujuan membuka lahan baru bagi akumulasi kapital yang

seringkali berakhir dengan korporatisasi sektor-sektor produksi yang sejauh ini

diterima sebagai wilayah yang seharusnya bebas dari upaya menumpuk

(7)

7 | P a g e

transportasi), jaminan kesejahteraan sosial (perumahan, pendidikan dan layanan

kesehatan), dan institusi publik (universitas, pusat penelitian dan penjara) menjadi

lahan bisnis baru yang mendatangkan keuntungan pribadi berlipat ganda di hampir

semua negara yang menerapkan sistem kapitalisme. Bahkan aktivitas seperti

peperangan sekalipun tidak luput dari terjangan privatisasi, seperti apa yg terjadi

dengan penggunaan tentara bayaran di Irak. WTO membantu proses komodifikasi

ini lebih jauh dengan memfasilitasi kesepakatan TRIPS yang menetapkan hak milik

pribadi atas produk-produk genetik dalam bentuk hak milik intelektual. Hak ini

membenarkan pemilik modal memungut sewa dari penduduk kebanyakan yang

justru berperan paling penting dalam mengembangkan produk-produk genetik yang

dipatenkan secara sepihak oleh segelintir perusahan besar. Komodifikasi juga

berlangsung atas budaya, sejarah dan kreativitas pikiran, umumnya melalui industri

pariwisata, yang berujung pada “penjualan” sebuah masyarakat secara keseluruhan

kepada pemilik modal. Seperti biasanya, kekuasaan negara selalu digunakan untuk

memaksakan privatisasi dan komodifikasi sekalipun harus menentang kehendak

umum. Berbagai program deregulasi yang bertujuan menyudahi intervensi

pemerintah dalam mekanisme pasar harus dibaca sebagai re-regulasi untuk

menyediakan kerangka kebijakan baru yang lebih sesuai bagi korporatisasi semua

sektor kehidupan. Sokongan negara yang tak jarang dilakukan dengan cara-cara

brutal pada dasarnya mempermudah pengalihan aset dan sumber daya dari tangan

publik dan masyarakat ke dalam kantong pribadi segelintir kelompok sosial.

Model kedua adalah finansialisasi yang berkaitan dengan deregulasi (atau

re-regulasi) yang membuat sistem finansial menjadi sentra baru akumulasi

keuntungan dengan cara redistribusi kekayaan. Sejak 1980 dunia menyaksikan

gelombang finansialisasi besar-besaran di hampir seantero jagad. Dalam waktu

kurang dari dua dekade jumlah total keuntungan transaksi finansial di bursa

internasional melonjak drastis dari angka US$ 2,3 milyar di tahun 1983 menjadi US$

130 milyar di tahun 2001 (lihat Harvey 2005). Angka spektakular tersebut

dibarengi oleh menjamurnya berbagai perilaku ekonomi yg destruktif seperti

(8)

8 | P a g e

terhadap perekonomian sebuah negara. Bagaimana sebuah redistribusi kekayaan

berlangsung dan bagaimana penumpukan keuntungan dengan cara ini membawa

efek buruk bisa dilihat dari perilaku seorang pialang di bursa saham (lihat Harvey

2005; Hoogvelt 2001). Seorang pialang “menggantungkan hidupnya” pada transaksi.

Kekayaannya merupakan akumulasi keuntungan yang ia peroleh dari komisi yang ia

dapatkan dari setiap transaksi. Karenanya setiap pialang punya kecenderungan

meningkatkan jumlah transaksi di rekeningnya (praktik yang dikenal dengan istilah

churning). Tak heran jika jumlah transaksi dan keuntungan yang tercatat dalam

sebuah pasar modal seringkali lebih mencerminkan churning ketimbang

kepercayaan pasar yang sesungguhnya. Perilaku yg semacam ini, ditambah

perekonomian yang semakin terceraikan dari sektor riil, membuat kebangkrutan

seperti yang dialami Enron mudah terjadi. Kebangkrutan Enron atau kelumpuhan

sistem moneter yang dialami beberapa negara Asia di akhir 1990an mencerminkan

kontradiksi antara para peraup keuntungan di pasar modal yang memperbanyak

kekayaannya dengan “spekulasi” di satu sisi dan orang kebanyakan yang tiba-tiba

jatuh miskin karena “ulah spekulan” di sisi lainnya.

Harvey (2005: 162) menyebut model ketiga the management and

manipulation of crisis. Apa yang dia maksudkan adalah proses pengalihan kekayaan, umumnya dari negara-negara dunia ketiga ke negara-negara maju, dengan cara

memanfaatkan krisis hutang. Sejak awal dekade 1980an krisis hutang di suatu

negara yang hampir tidak pernah terjadi di era 1960an semakin sering terjadi.

Krisis ini menjadi langganan hampir semua negara berkembang, bahkan menjadi

penyakit yang endemik yang berpengaruh besar terhadap sejumlah proses

peralihan kekuasaan politik di Amerika Latin. Krisis hutang kemudian dirancang,

dikelola dan dikendalikan oleh lembaga-lembaga internasional seperti Dana

Moneter Internasional dan Bank Dunia untuk bukan saja mereformasi ekonomi tapi

juga yang terpenting mentransfer aset yang dimiliki negara yang dililit kesulitan ke

tangan korporasi besar. Menurut sebuah perhitungan, sejak 1980 diperkirakan

tidak kurang dari US$ 4,6 triliun telah disumbangkan oleh masyarakat di wilayah

(9)

9 | P a g e

moneter di Indonesia, Thailand dan negara-negara Asia lainnya Wade dan Veneroso

(1998: 21) mencatat “[f]inancial crisis have always caused trasnfers of ownership and

power to those who keep their own assets intact and who are in a position to create

credit, and the Asian crisis is no exception…there is no doubt that Western and

Japanese corporations are the big winners.” Keduanya menegaskan “[t]he

combination of massive devaluations, pushed financial liberalization, and

IMF-facilitated recovery may even precipitate the biggest peacetime transfer of assets from

dometic to foreign owners in the past fifty years anywhere in the world…

Model keempat adalah proses pengalihan kekayaan yang dilakukan oleh

negara sendiri. Negara, sekali mengalami proses liberalisasi, menjadi agen utama

kebijakan-kebijakan redistribusi yang mengalihkan alur perpindahan sumberdaya

dari kelas bawah ke kelas atas. Negara melakukan ini dengan cara privatisasi

sektor-sektor publik dan memangkas habis semua belanja negara yang memberikan

jaminan sosial kepada masyarakat kebanyakan. Harvey (2005: 164; lihat juga Jessop

2002; Swank 2003) mencatat seringkali privatisasi dikira menguntungkan kelas

bawah seperti dalam kasus privatisasi perumahan yang dilakukan rezim Margareth

Thatcher di Inggris. Mulanya semua orang begitu yakin proyek ini berpihak pada

kesejahteraan kelompok sosial pinggiran sejak ia memberi kesempatan kepada

kelompok tersebut untuk membeli rumah sendiri dengan harga yang terjangkau.

Tapi sekali privatisasi dilakukan yang bermain adalah spekulasi harga perumahan,

terutama di wilayah-wilayah perumahan yang dekat pusat perkotaan, yang

memaksa penduduk dengan penghasilan kecil terpaksa harus memilih tempat

tinggal yang semakin jauh dari tempat kerja bagi yang bernasib baik dan menjadi

gelandangan bagi yang bernasib kurang mujur. Harvey (2005: 164) menemukan hal

yang senada dalam kasus privatisasi yang dipelopori negara di Mexico dan Cina. Di

Meksiko privatisasi ejidos menghasilkan migrasi besar-besaran penduduk pedesaan

ke kota-kota besar untuk mencari pekerjaan. Di Cina pembaharuan wilayah

perkotaan, terutama di sekitar Beijing, mendislokasi tidak kurang dari 350.000

keluarga (atau sekitar satu juta orang). Negara juga me-redistribusi kekayaan dan

(10)

10 | P a g e

sistem perpajakan. Negara, diantaranya, mengutamakan pajak atas pendapatan

ketimbang pajak atas investasi, mempromosikan elemen-lemen regresif dalam kode

pajak dan pemberian berbagai macam subsidi dan potongan pajak bagi perusahan.

Neoliberalisme merupakan basis ideologi paling penting yang memberi

legitimasi bagi kapitalisme global dalam tiga dekade terakhir yang memulihkan

kekuasaan kelas pemilik modal (lihat Sklair 2002; Harvey 2005; McEwan 1999).

Secara garis besar neoliberalisme adalah semacam pendekatan ekonomi-politik

yang memperjuangkan kesejahteraan umat manusia melalui proses pembebasan

individu dari setiap macam kekangan. Kemerdekaan individu dalam hal ini hanya

bisa dijamin melalui kerangka kelembagaan yang ditandai dengan pengakuan

terhadap hak milik pribadi, pasar bebas dan perdagangan bebas. Negara bertugas

menciptakan dan mempertahankan kerangka kelembagaan yang sesuai untuk itu.

Negara, misalnya, harus menjamin kualitas dan integritas uang dengan berbagai

fungsinya. Negara juga harus membangun sistem pertahanan, membentuk militer

dan polisi dan fungsi-fungsi terkait lainnya untuk mengamankan hak milik pribadi

dan menjamin, dengan paksa jika perlu, beroperasinya pasar secara optimal.

Selanjutnya, jika sistem pasar bebas belum terbentuk di sektor-sektor seperti

pendidikan dan kesehatan maka sistem tersebut perlu segera diadakan, bila perlu

melalui regulasi yang dibuat negara (lihat Mehmet 1995; McEwan 1999).

Menurut catatan Harvey (2005) cikal bakal neoliberalisme berkaitan dengan

terbentuknya sebuah kelompok eksklusif pada tahun 1947 yang diberi nama Mont

Pelerin Society (MPS). Diambil dari nama salah satu tempat spa di Swiss, MPS

beranggotakan pemikir, ekonom dan sejarawan seperti Milton Friedman, Ludvig

von Mises, Karl Popper dan pemikir politik asal Austria yang cukup terkemuka saat

itu, Friedrich von Hayek. Kelompok ini menyebut dirinya “liberal” karena

komitmennya untuk memperjuangkan kemerdekaan individu. Seperti yang dikutip

dalam www.montpelerin.org/aboutmps.html (Harvey 2005: 20) manifesto MPS

diantaranya menyatakan: “The central values of civilization are in danger. Over large

stretchess of the earth’s surface the essential conditions of human dignity and freedom

(11)

11 | P a g e progressively undermined by extensions of arbitrary power.” MPS percaya

perkembangan ini “…have been fostered by a decline of belief in private property and

the competitive market; for without the diffused power and initiative associated with

these institutions it is difficult to imagine a society in which freedom may be effectively

preserved.” Label neoliberal yang kemudian banyak digunakan untuk menyebut MPS

dan tokoh-tokoh lain diluarnya yang bersimpati dan berafiliasi dengan

gagasan-gagasan yang dilontarkan terutama oleh Hayek dan Friedman mencerminkan

kesetiaan ideologis kelompok eksklusif ini terhadap prinsip-prinsip pasar bebas yg

dikembangkan ekonom-ekonom neoklasik—khususnya berkat tulisan-tulisan Alfred

Marshall, William Stanley Jevons dan Leon Walras—di paruh kedua abad ke-19

untuk menggantikan teori-teori klasik versi Adam Smith, David Ricardo dan Karl

Marx. Tapi keberpihakan kepada kemerdekaan individu membuat MPS tidak

menolak begitu saja semua warisan pemikiran para teoritisi klasik. Adam Smith,

misalnya, tetap menjadi panutan penting. Idenya tentang “tangan-tangan yang tidak

kelihatan” yang menjadi basis penting beroperasinya pasar bebas diterima sebagai

mekanisme sosial paling baik dalam menggerakkan dan mengkoordinasikan

beragam insting dan perilaku manusia—termasuk bermacam tabiat paling buruk

yang pernah ada seperti nafsu memperkaya diri dan ambisi menguasai—untuk

menghasilkan kemaslahatan bersama (lihat Friedman 1982). MPS karenanya

menganggap bukan saja fasisme, komunisme dan berbagai kekuasaan diktatorial

sebagai ancaman, tapi juga segala bentuk intervensi negara yang menegasikan

kebebasan individu untuk memilih dan memutuskan atas nama kesepakatan

kolektif dan kebaikan publik. Doktrin ini selama lebih kurang dua dekade setelah PD

II digunakan untuk menentang model ekonomi Keynesian yang menekankan peran

penting negara dalam mempertahankan siklus usaha dan mengendalikan resesi.

MPS dan para neoliberal menolak intervensi negara dalam mempengaruhi investasi

dan akumulasi modal seperti yang dianjurkan John Myanard Keynes karena mereka

yakin informasi yang diperoleh negara melalui mekanisme politik—sebelum

membuat keputusan—tidak sebaik sinyal yang diperoleh pasar melalui operasi

(12)

12 | P a g e

negara cenderung bias kepentingan kelompok yang lebih kuat, sedangkan

keputusan yang dibuat pasar tidak mungkin terperangkap dalam persoalan serupa.

Hegemoni Gagasan-gagasan Neoliberal

Hayek (1978) melihat pertarungan ide sebagai kunci keberhasilan

neoliberalisme. Menurutnya diperlukan sedikitnya satu generasi sebelum

neoliberalisme benar-benar berhasil mengalahkan Marxisme, Sosialisme, model

ekonomi etatis dan model campur tangan negara ala Keynesian. Namun dalam

praktiknya, keberhasilan ideologi yang diperjuangkan MPS dan kelompok-kelompok

serupa lainnya seperti Institute of Economic Affairs di London dan Heritage

Foundation di Washington mendominasi dunia berhutang banyak pada sokongan

dana dan politik beberapa orang kaya dan pemimpin-pemimpin korporasi besar

yang berpengaruh di Inggris dan Amerika. Para borjuis ini bersedia memberi

dukungan penuh kepada siapa saja—termasuk kepada McCarthyism—sepanjang

bertentangan dengan konsensus pasca PD II yang cenderung berpihak pada model

ekonomi yang bergantung pada campur tangan pemerintah. Dominasi

neoliberalisme juga berhutang pada jasa baik elit perbankan di Swedia yang

berpengaruh besar dalam pemberian hadiah Nobel kepada Hayek di tahun 1974 dan

Friedman di tahun 1976. Hadiah Nobel itu sendiri membawa semacam aura

superioritas akademik bagi gagasan-gagasan neoliberalisme, yang diantaranya

mempermudah dan memperkuat dominasi Milton Friedman di University of

Chicago.

Tapi keberhasilan yang sesungguhnya dari neoliberalisme berkaitan dengan

kemampuannya mengkonstruksi semacam “persetujuan politik” yang berasal dari

spektrum sosial yang cukup luas yang bisa dimanfaatkan kekuatan-kekuatan politik

pendukungnya—terutama partai-partai konservatif pada mulanya—untuk

memenangkan pemilu. Persetujuan politik ini membuat neoliberalisme menjadi apa

yang disebut Gramsci (1971: 321-43) dengan common sense—yakni sense atau cara

berpikir yang diyakini umum—yang ditempa melalui proses sosialisasi budaya yang

(13)

13 | P a g e

lokal. Gramsci mengingatkan common sense, bertolak belakang dengan good sense,

bisa dikonstruksikan tanpa sikap kritis terhadap persoalan hidup sehari-hari.

Neoliberalisme yang telah menjadi common sense karenanya bisa menyesatkan atau

menyamarkan persoalan sosial sesungguhnya dibalik kedok-kedok seperti

prasangka kultural dan stereotip. Nilai-nilai budaya dan tradisi seperti kepercayaan

pada Tuhan, patriotisme dan pandangan tentang posisi perempuan dalam

masyarakat dan ketakutan terhadap komunis, pendatang atau orang asing selalu

dengan mudahnya dimobilisasi untuk menutup-nutupi realitas yang sebenarnya.

Efek paling penting dari proyek hegemoni semacam ini adalah jargon-jargon

neoliberal seperti pasar bebas dan hak milik pribadi diterima sebagai sesuatu yg

perlu, dan bahkan alami, bagi proses penataan (kembali) orde sosial. Efek lainnya

adalah masalah-masalah mendasar seperti kemiskinan dan kriminalitas tidak lagi

dipandang sebagai isu politik dan dinetralkan sebagai persoalan kultural.

Penetrasi ideologi neoliberalisme melalui berbagai saluran: perusahaan,

media dan berbagai lembaga yang membentuk arena yang disebut masyarakat sipil

seperti universitas, sekolah, lembaga agama, lembaga swadaya masyarakat dan

asosiasi profesional. Yang menarik, neoliberalisme berhasil menancapkan

pengaruhnya dengan cara memanipulasi para pengkritiknya dan menggunakan

kritik-kritik yang dilontarkan terhadap dirinya sebagai basis pembenaran baru bagi

kapitalisme. Seperti yang diuraikan di atas para neoliberalis selalu menggambarkan

neoliberalisme sebagai ideologi yang berorientasi pada kemerdekaan individu. Saat

menjadi common sense gambaran ini menciptakan suasana pendapat umum yang

mendukung dan menyetujui sistem pasar bebas dan hak milik pribadi sebagai

penjamin paling baik kebebasan sipil dan hak-hak asasi manusia. Namun

sebetulnya, dalam kurang lebih empat dasawarsa terakhir kemerdekaan individu

sebagi idealisme, sebagai nilai penting yang menentukan legitimasi sebuah orde

sosial, bukan milik para neoliberalis. Idealisme ini, pada awalnya, milik para

aktivis—kebanyakan mahasiswa, seniman, intelektual, sastrawan dan filsosof—

yang turun ke jalan kota-kota besar seperti Paris, Berlin, Mexico City, Washington

(14)

14 | P a g e

Para aktivis gerakan yang kemudian dikenal dengan “Gerakan 1968” menuntut

kemerdekaan pribadi yang lebih besar dari kendali orang tua, lembaga pendidikan,

korporasi, birokrasi dan negara. Gerakan 1968 juga memperjuangkan keadilan

sosial. Para aktivis, terutama yang berlatar belakang “kiri”, melihat eksploitasi di

bidang ekonomi sama berbahayanya dengan penindasan kebebasan sipil dan

hak-hak politik (Gitlin 1994; Zaretski 1995). Tapi masalahnya upaya mewujudkan

keadilan sosial mensyaratkan adanya semacam solidaritas sosial dan kesediaan

mengorbankan beberapa hasrat, kebutuhan dan kepentingan yang bersifat

individual bagi sebuah tujuan bersama yang lebih besar seperti mengurangi jurang

kesenjangan sosial dan meningkatkan kelestarian lingkungan alam. Dalam tradisi

gerakan kiri dimana saja, misalnya, para aktivis sudah lama menyadari sulitnya

menempa disiplin kolektif yang diperlukan bagi sebuah aksi politik untuk mencapai

keadilan sosial tanpa sampai batas-batas tertentu mengebiri kemerdekaan inidvidu

dan pengakuan sepenuhnya atas kebebasan berekspresi setiap identitas. Mulanya

kedua jenis idealisme ini bisa dipersatukan oleh musuh bersama. Pendukung

keduanya sama-sama menganggap negara dan korporasi besar sebagai ancaman

bukan saja terhadap kemerdekaan individu tapi juga terhadap keadilan,

kesejahteraan dan lingkungan. Namun sejak awal pula bibit perpecahan sudah

nampak bahkan dalam cikal bakal Gerakan 1968 itu sendiri antara kelompok “kiri”

yang didominasi serikat buruh dan sisa-sisa partai komunis di satu sisi dan para

mahasiswa dan intelektual yang begitu terobsesi dengan kebebasan berbicara dan

berekspresi di sisi seberangnya. Neoliberalisme tidak menciptakan perpecahan ini,

tapi ikut memanipulasinya untuk kepentingan pemulihan kekuasaan kelas. Retorika

ala neoliberal yang juga menekankan arti penting kebebasan individu memiliki

kekuatan untuk menceraikan libertarianisme, politik identitas dan

multikulturalisme dari tema-tema keadilan sosial. Pertama-tama, neoliberalisme

memanfaatkan tuntutan kemerdekaan pribadi yang lebih besar untuk melucuti

kekuatan semua bentuk aksi kolektif—terutama negara dan serikat buruh.

Margareth Thatcher, misalnya, menolak arti penting society yang melebihi arti

penting individu dan mempertanyakan apakah society sebagai konsep dalam ilmu

(15)

15 | P a g e

memangkas habis sisa-sisa negara kesejahteraan peninggalan model ekonomi

Keynesian di Inggris (lihat Hoogvelt 2001; Jessop 2002; Harvey 2005). Langkah

berikutnya, kebebasan sipil dan hak asasi manusia yang diperjuangkan begitu

banyak orang dalam empat dekade belakangan menjadi sumber inspirasi bagi

penciptaan sebuah kultur sosial baru yang berbasis pasar bebas dan menjamin

proses akumulasi kapital secara terus menerus. Untuk itu neoliberalisme perlu

sedikit memelintir gagasan kemerdekaan individu menjadi kebebasan setiap

konsumen untuk memilih bukan saja produk yang tersedia di pasar, tapi juga yang

lebih penting adalah kemerdekaan memilih gaya hidup, cara-cara berekspresi dan

berbagai macam praktik-praktik budaya lainnya. Proses neoliberalisasi yang

bertumpu pada upaya mendiskriminasi gagasan keadilan sosial dan menjunjung

tinggi kebebasan sipil dan hak asasi manusia ini karenanya berperan besar dalam

menghasilkan dan memanfaatkan budaya pop kontemporer di satu sisi dan begitu

lengket dengan gerakan budaya yang dikenal dengan sebutan posmodernisme di

sisi lainnya (lihat Callincios 1989; 2003).

Artinya semua gerakan politik yang terobsesi dengan gagasan kemerdekaan

individu dan memandang kebebasan sipil dan hak asasi manusia sebagai sesuatu

yang sakral mudah terjatuh ke dalam pelukan neoliberalisme. Karena itu bisa

dimengerti jika Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia dengan mudahnya bisa

menyusupi negara-negara yang sedang menjalani proses “transisi menuju

demokrasi” yang begitu mendambakan kebebasan dan keterbukaan politik. Mudah

juga dipahami bila di kebanyakan negara yang baru ditinggalkan rezim otoriter

upaya menegakkan demokrasi—konsep yang memiliki pengertian luas dengan

elemen-elemen yang bisa bertentangan satu sama lain—mengalami proses

penyempitan makna menjadi upaya memperjuangkan akuntabilitas publik,

menuntut transparansi dan membentuk good governance. Tiga konsep terakhir ini

merupakan produk cara berpikir neoliberal tentang fungsi yang sepantasnya

diemban sebuah negara dan demokrasi bagi kepentingan beroperasinya pasar

(16)

16 | P a g e

merupakan salah satu badan internasional yang mengkampanyekan pentingnya

good governance.

Manipulasi Wacana Anti Kapitalisme

Bagaimana ini dijelaskan? Menurut salah satu pemikir Neomarxis

kontemporer, Luc Boltanksi, (Boltanski et al. 1991; lihat juga Callinicos 2006)

kapitalisme selalu memerlukan ideologi sebagai medium yang cenderung

nirkekerasan untuk memperlancar proses akumulasi modal. Tanpa idelogi

kapitalisme bisa tampil dalam wajah perang yang brutal. Karena itu bagi Boltanski

the spirit of capitalism seperti yang dikemukakan Weber, tapi diabaikan Marx,

berperan penting melestarikan proses penumpukan kapital dan kekuasaan kelas.

Tapi Boltanski juga mengingatkan kapitalisme bukanlah sistem yang bisa

membenarkan dirinya sendiri. Kapitalisme selalu mencari sumber pembenar dari

sistem (nilai) yang lain. Etika protestan, misalnya, merupakan contoh sistem lain

yang dimanfaatkan kapitalisme sebagai basis legitimasi. Untuk itu, menurut

Boltanski, konsep legitimasi atau ideologi (atau juga mungkin hegemoni) tidak

begitu cocok. Sebab istilah-istilah ini mudah terperangkap dalam pemilahan

Marxisme ortodoks antara base dan superstructure yang membuat ideologi dan

legitimasi sekedar sebagai bentuk kultural dominasi kelas dengan basis penindasan

sesungguhnya berada di wilayah ekonomi, dan karenanya menganggap kapitalisme

sebagai sistem yang mandiri. Sebagai gantinya ia menggunakan istilah justification.

Dengan menggunakan konsep justification Boltanski mengembangkan berbagai

corak kapitalisme yang bisa dibeda-bedakan berdasarkan “semangat

kapitalisme”-nya. Setidaknya ada tiga tipe kapitalism jika dilihat dari segi “semangat

kapitalisme”: kapitalisme keluarga, kapitalisme manajerial dan kapitalisme global.

Dalam kapitalisme keluarga justification terhadap proses akumulasi kapital

bersumber dari nilai-nilai konservatif tentang peran individu (biasanya laki-laki

yang dianggap kepala keluarga) yang berjuang menghidupi anak dan istrinya yang

biasanya disediakan agama-agama besar. Legitimasi model kapitalisme managerial,

(17)

17 | P a g e

dengan sosok seorang manajer yang berkualitas. Dalam perkembangan terakhir,

menurut Boltanski, model kapitalisme global berhasil memanfaatkan wacana yang

dikembangkan para pengkritiknya sebagai sumber justification.

Bagi pengkritiknya kapitalisme selalu menimbulkan empat persoalan besar:

ketercerabutan dari akar-akar sosial, penindasan, kesengsaraan dan kesenjangan,

dan oportunisme dan egoisme. Bersandar pada dua tipe alienasi seperti yg pernah

diterangkan Marx, Boltanski membedakan antara jenis kritik “artistik” yang

bersumber dari dua persoalan pertama yang lebih memperhatikan isu kemerdekaan

individu dan kritik “sosial” yang berkaitan dengan dua persoalan terakhir yang lebih

menekankan soal keadilan sosial. Kritik artistik menyalahkan kapitalisme karena

merusak otonomi setiap individu dan kapasitas setiap orang untuk menjalani hidup

menurut pilihannya masing-masing. Kritik sosial menganggap kapitalisme sebagai

penyebab kemiskinan, ketidakadilan dan menurunnya solidaritas kolektif. Dalam

kurun waktu yang cukup lama kritik sosial mendominasi diskursus anti-kapitalisme.

Tapi sejak 1968 muncul tema-tema seperti otonomi, kreatifitas dan alienasi sebagai

kekuatan perlawanan ideologi baru yang membuka jalan bagi dominasi kritik

artistik. Mulanya kritik artistik—yang terpusat pada upaya memperjuangkan

kemerdekaan individu seperti diungkapkan di atas—menjadi milik mahasiswa,

intelektual, seniman dan kalangan terpelajar kelas menengah lainnya. Tapi

kemudian kritik model ini juga menjangkiti tempat-tempat kerja. Sementara kritik

sosial cenderung menuntut, misalnya, upah yang lebih tinggi, kritik artistik menolak

kerja itu sendiri, seperti perlawanan yang dilakukan para pekerja berusia muda

terhadap metode taylorism.

Para pemilik modal, mulanya, memahami peningkatan resistensi terhadap

kapitalisme sejak akhir 1960an dalam konteks kritik “sosial” (Calinicos 2006). Tak

heran jika reaksinya berbentuk pemberian berbagai konsesi yang bersifat material

sembari berupaya keras memulihkan kompromi buruh-majikan pasca perang ala

Keynesian. Tapi sejak pertengahan 1970an kelas dominan mulai menyadari bahwa

perlawanan tersebut harus dibaca dengan kacamata kritik “artistik.” Untuk itu

(18)

18 | P a g e

tempat kerja dengan slogan “fleksibilitas.” Kendali manajer perusahan diganti

dengan sistem kerja yang bertumpu pada self-control, begitu juga tanggung jawab

kolektif yang diemban perusahaan dialihkan menjadi tanggung jawab setiap pekerja

penerima upah. Akibatnya, di satu sisi, hirarki organisasi produksi berubah dari

struktur yang vertikal menjadi model manajerial yang lebih horisontal, ukuran

perusahaan berangsur-angsur diperkecil dan kerja tim sebagai unit kecil pelaku

produksi di pabrik menjadi semakin dominan (lihat Hoogvelt 2001; Jessop 2002). Di

sisi lain berkembang praktik-praktik seperti subcontracting yang praktis mengganti

model korporasi yang bersifat sentralistik dengan model jaringan kerjasama antar

perusahaan yang independen satu sama lain dan profil baru tenaga kerja yang

hidupnya tidak lagi bersandar pada perusahaan tapi semakin tergantung secara

langsung pada pasar (lihat Castells 2000; Urry 2003). Kata kunci dari perubahan ini

adalah network, yakni sebuah sistem (sosial) yang fleksibel yang memungkinkan

setiap orang bisa bekerja sama satu sama lain dengan tetap mempertahankan

identitas masing-masing. Menurut Boltanski tekanan pada network, fleksibilitas dan

identitas menujukkan apa yang ia sebut dengan the morphological homology antara

kapitalisme dan diskursus anti kapitalisme dalam dua puluh tahun terakhir. Kritik

“artistic” yang menuntut pemulihan otoritas pribadi dan hak memilih hidup

berdasarkan pilihannya sendiri telah menjadi sumber justification penting bagi

kapitalisme global untuk menciptakan sosok manusia (borjuis) baru, network man,

yang sering dikampanyekan majalah-majalah seperti Financial Times. Para aktivis

dan pemikir yang terlibat di garda paling depan dalam gerakan kritik sejak akhir

1960an, ironinya, tampil sebagai salah satu pendukung penting transformasi

kapitalisme global. Dalam dunia filosofi avant-garde, catat Boltanski, konsep

network menjadi metaphor paling popular sejak 1970an sebagai bentuk

representasi baru dari apa yang selama ini dikenal dengan masyarakat.

Pemikir-pemikir seperti Deleuze, Guattari dan Negri (Deleuze dan Guattari 1983; Hardt dan

Negri 2000; 2006)—juga Derrida dan Baudrillard—berkali-kali membela metaphor

ini sambil menolak konsep seperti struktur dan sistem sebagai bentuk esensialisme

(19)

19 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA

Aglietta, M. 1976. The Theory of Capitalist Regulation. London: Verso

Boltanski, L., Thevenot, L. and Porter, C. 1991. On Justification: Economies of

Worth. Princeton: Princeton University Press

Callinicos, A. 1989. Agianst Postmodernism: A Marxist Critique. Cambridge: Polity

Callinicos, A. 2003. An Anti-Capitalist Manifesto. Cambridge: Polity Press

Callinicos, A. 2006. The Resources of Critique. Cambridge: Polity

Castells, Manuel. 2000. The Information Age, vol. 1, The Riose of Network Society. Oxford: Balckwell Publishers

Cox, R. 1997. Democracy in Hard Times: Economic Globalization and the Limits of Liberal Democracy. Dalam A. McGre (ed.), The Transformation of

Democracy?. Cambridge: Polity Press

Dalton, R. and Kuechler, M. (ed.). 1990. Challenging the Political Order: New Social

and Political Movements in Western Democracies. New York: Oxford

University Press

Deleuze, G. and Guattari, F. 1983. Anti-Oedipus: Capitalism and Schizoprenia. Minneapolis: University of Minnesota Press

Friedman, Milton. 1982. Capitalism and Freedom. Chicago: University of Chicago Press.

Gitlin, T. 1994. From Universality to Difference: Notes on the Fragmentation of the Idea of the Left. In C. Calhoun (ed.), Social Theory and the Politics of

Identity. Oxford, UK and Cambridge, US: Blackwell

Gramsci, A. 1971. Selections from the Priosn Notebooks. Diterjemahkan oleh Q. Hoare dan G. Nowell Smith. London: Lawrence and Wishart

Hardt, M. and Negri, A. 2000. Empire. Cambridge: Harvard University Press

Hardt, M. and Negri, A. 2006. Multitude. London: Penguin

Harvey, D. 1989. The Condition of Postmodernity. Oxford and New Malden: Blackwell

Harvey, D. 2000. Spaces of Hope. Edinburgh: Edinburgh University Press

Harvey, D. 2005. A Brief History of Neoliberalism. Oxford: Oxford University Press

Hayek, F. 1978. The Constitution of Liberty. Chicago: University of Chicago Press

Hoogvelt, A. 2001. Globalization and the Postcolonial World: The New Political

(20)

20 | P a g e Jessop, R. 1990. Regulation Theories in Retrospect and Prospect. Economy and

Society 19 (2): 153-216

Jessop, R. 2002. The Future of the Capitalist State. Cambridge: Polity.

Lipietz, A. 1987. Mirages and Miracles. London: Verso.

Marx, K. 1967. Capital (3 volume). New York: International Publishers

Marx, K. 1970. Preface dalam A Contribution to the Critique of Political Economy. Moscow: Progress Publishers.

Marx, K. and Engels, F. 1967. The Communist Manifesto. Harmondsworth: Penguin Books.

Marx, K and Engels, F. 1972. The German Ideology. In The Marx-Engels Reader, edited by R. C. Tucker. New York: Norton

MacEwan, A. 1999. Neo-liberalism or Democracy? Economic Strategy, Markets, and Its

Alternatives for the 21st Century. London: Pluto

Mehmet, O. 1995. Westernizing the Third World: The Eurocentricity of Economic

Development Theories. London: Routledge

Scholte, J.A. 2000. Globalization: A Critical Introduction. New York: Palgrave.

Sklair, L. 2002. Capitalism and Its Alternatives. Oxford: Oxford University Press.

Swank, D. 2003. Withering Welfare? Globalisation, Political Economic Institution, and Contemporary Welfare States. Dalam L. Weiss (ed.), States in Global

Economy: Bringing Domestic Instituion Back In. Cambridge: Cambridge

University Press.

UNDP. 1999. Human Development Report

UNDP. 2003. Human Development Report

Urry, J. 2003. Global Complexity. Cambridge: Polity

Wade, R. and Veneroso, F. 1998. The Asian Crisis: The High Debt Model versus the Wall Street-Treasury-IMF Complex. New Left Review (228): 3-23

World Bank. 1995. World Development Report: Workers in Integrating World. New York: World Bank

Referensi

Dokumen terkait

sajak atau puisi yang isinya sindiran mengancam, mengejek secara kasar terhadap kepincangan sosial atau ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat.. 12 Sektet Sajak yang terdiri

Bermula pada ketidakberhasilan Taman Nasional untuk mengembangkan potensi pariwisata yang ada di Pulau Kapota, Dinas Pariwisata mulai mendekati Pak Suhairi, yang

[r]

Danise dan Robert (2009:107), mengemukakan bahwa strategi investasi yang berdasarkan kepemilikan modal dari dalam perusahaan (modal sendiri) memiliki hubungan

Agar dapat memiliki kemampuan keterampilan konsep kepala sekolah diharapkan selalu belajar dari pekerjaan sehari-hari terutama dari cara kerja para guru dan

tahunan, selebaran berita, surat pembaca (di surat kabar, majalah) dan karangan di surat kabar. 27 Dengan dokumentasi, peneliti mencatat tentang sejarah Pondok

Berdasarkan hasil analisis data penelitian yang dilakukan pada tanggal 7 Mei 2014 sampai tanggal 3 Juli 2014, dapat disimpulkan bahwa perkembangan dari pemahaman konsep

1) materi seksual dalam periklanan bertindak sebagai daya tarik untuk mengambil perhatian yang juga mempertahankan perhatian tersebut untuk waktu yang lebih lama. 2)