• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknologi Pada Kapal Perang tipe Battles

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Teknologi Pada Kapal Perang tipe Battles"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Bismarck, Kapal Perang Nazi Paling Legendaris

dan

Teknologinya

(2)
(3)

Agar bodinya tak bisa ditembus peluru meriam berkaliber besar, seluruh badan kapal Bismarck dilapisi baja setebal 33 cm. Lapisan baja tebal itu memang membuat Bismarck yang berbadan raksasa mempunyai bobot yang sangat berat dan berpengaruh pada kecepatan. Karena mesinnya sudah menerapkan sistem modern, kecepatan larinya tetap tinggi, 55 km per jam atau hampir dua kali lebih cepat dibanding kapal perang sejenis yang hanya mampu dipacu pada kecepatan 37 km per jam.

(4)

Sebelum Bismarck turun ke medan laga, Inggris sudah mengalami banyak kerugian akibat ulah kapal-kapal selam Jerman, U-boat dan satu kapal yang berperang secara licik, Graf Spee. Ratusan kapal dagang Inggris yang setiap harinya mengarungi Samudra Atlantik banyak yang dikaramkan oleh dua jenis kapal Jerman itu. Bahkan ketika Graf Spee berhasil ditaklukkan, ancaman itu masih ada. Ancaman akan menjadi makin mengerikan ketika Bismarck yang sudah rampung dibangun diluncurkan ke laut bersama saudara tuanya yang bentuknya mirip, Prinz Eugen.

(5)
(6)

Armada lnggis yang dikerahkan untuk memburu Bismarck dan rekannya meliputi penjelajah tempur Hood, kapal tempur Prince of Wales, penjelajah berat Norflok dan Sufflok, penjelajah ringan Birmingham dan Manchester, kapal induk Victorius yang mengangkut 72 pesawat tempur serta puluhan kapal perusak. Inggris memperkirakan Bismarck akan menuju jalur padat, Atlantik Tengah. Oleh karena itu, jalur melalui Selat Denmark Iceland dan Inggris Utara, sudah diblok kapal-kapal perang Inggris. Perburuan armada Inggris untuk menemukan Bismarck, kendati sudah melakukan pence-gatan di berbagai lokasi strategis ternyata sangat sulit. Baru setelah empat hari melakukan perburuan, Bismarck berhasil dideteksi radar Sufflolk saat bergerak memasuki Selat Denmark. Kapal Sufflolk dan Norflok memang hanya bertugas mengintai dan kemudian melaporkan hasilnya kepada rombongan kapal perang Hood dan George V.

(7)

Tugas utama Hood dan Prince of Wales adalah menyerang bersama-sama ke arah posisi

Bismarck. Namun karena hari masih pagi berkabut dan jarak mereka lebih dari 20 km, dua kapal perang Inggris itu tidak bisa membedakan mana kapal Bismarck dan mana yang Prinz Eugen. Kesalahan itu makin bertambah fatal karena ketika menembak, yang diserang bukan Bismarck tapi Prinz Eugen. Sementara dua kapal Jerman raksasa itu justru mengarahkan semua meriamnya ke arah Hood.

Kesalahan pilih sasaran dan kalah dalam segi persenjataan itu harus dibayar mahal oleh Inggris. Dalam duel sengit yang berlangsung tak terlalu lama, Hood tertembak telak bagian tengahnya oleh meriam-meriam raksasa Bismarck. Ledakan dahsyat disertai nyala api setinggi 300 meter tampak terlontar ke udara, rupanya peluru meriam Bismarck berhasil menghajar gudang mesiu Hood. Dalam hitungan detik, Hood yang terbelah dua akhirnya karam bersama 1416 orang awaknya. Hanya tiga orang yang berhasil selamat dan akibat bencana Hood itu, rakyat Inggris terpukul hebat. Balas dendam untuk memburu Bismarck dengan mengerahkan puluhan kapal perang yang kemudian digelar dalam satu armada pun dimulai lagi. Mereka harus mampu menemukan Bismaick sebelum mencapai Prancis yang saat itu masih menjadi jajahan Jerman.

(8)

Akhirnya Bismarck yang sudah tidak memiliki lagi kemampuan maksimal bertemu dengan kapal Inggris yang mampu menandinginya, King George V, bersama sejumlah kapal penjelajah yang kemudian berdatangan, Rodney, Norfolk dan Dorsetshire. Akibat pertempuran keroyokan itu, Bismarck yang berkali-kali diberondong peluru meriam kaliber besar dan torpedo akhrinya miring.

(9)

ketangguhan Bismarck kemudian tenggelam ke dasar Samudra Atlantik bersama panglimanya, Laksamana Gunther Lutjens.

(10)

Class and type: Bismarck-class battleship

Displacement: 41,700 tonnes standard

50,900 tonnes full load

Length:

251 metres (823.5 ft) overall

241.5 metres (792.3 ft) waterline

Beam: 36.0 metres (118.1 ft) waterline

Draft:

(11)

Propulsion:

12 Wagner high-pressure boilers;

3 Blohm & Voss geared turbines 150,170 shaft horsepower (111.98 MW);

3 three-blade propellers, 4.70 metres (15.42 ft) diameter

Speed: 30.1 knots (34.6 mph; 55.7 km/h) during trials (one work claims a

speed of 31.1 knots) (35.8 mph; 57.6 km/h)

Range: 8,525 nautical miles (9,810 mi; 15,788 km) at 19 knots (22 mph; 35

km/h)

(12)

Armament:

8 × 380 mm/L52 SK C/34 (15 in)(4×2)

12 × 150 mm/L55 SK-C/28 (5.9 in)(6×2)

16 × 105 mm/L65 SK-C/37 / SK-C/33 (4.1 in)(8×2)

16 × 37 mm/L83 SK-C/30 (1.5 in)

(13)

Armour:

Belt: 145–320 millimetres (5.7–13 in)

Deck: 110–120 millimetres (4.3–4.7 in)

Bulkheads: 220 millimetres (8.7 in)

Turrets: 130–360 millimetres (5.1–14 in)

Barbettes: 342 millimetres (13.5 in)

Conning tower: 360 millimetres (14 in)

Referensi

Dokumen terkait

Tugas akhir ini menerapkan sistem kendali PID sebagai dasar penghitungan performansi kapal Perang Kelas SIGMA Extended yang akan memberikan koefisien hidronamika baru

Dari beberapa sumber literatur dan beberapa pengujian serta analisa yang telah dilakukan sebelumnya, cara menghitung keandalan struktur pada kapal belum pernah ada

Soeharso-990 adalah Kapal Rumah Sakit dengan kemampuan sebagai rumah sakit tingkat II yang dalam pengorganisasiannya masuk didalam Armada RI Kawasan Timur pada jajaran

4.4.3 Simulasi Maneuver kapal perang dengan gangguan gelombang sea state 5 dan sudut datang gelombang 120 Uji gangguan dilakukan dengan menambahkan model

Pengumpulan data terdiri atas spesifikasi Kapal Perang KRI Diponegoro dan gangguan gelombang yang akan digunakan untuk merancang sistem stabilisasi rudder roll..

Rangkaian relay yang merupakan kontrol automatis ini bekerja berdasarkan masukan dari data kecepatan kapal yang pada permodelan ini menggunakan potensiometer yang

Dengan ini menyatakan bahwa Tugas Akhir dengan judul “Analisis Sensitivitas Sistem Kendali Akibat Perubahan Koefisien Hidrodinamika pada Kapal Perang Kelas SIGMA

Intensitas dan beban slamming yang terjadi pada badan kapal dapat ditentukan dari hasil respon spektrum relative bow motion [9].. Metode elemen hingga digunakan untuk