• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE DAN TEKNIK PENYUSUNAN STRATEGI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "METODE DAN TEKNIK PENYUSUNAN STRATEGI"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

METODE DAN TEKNIK PENYUSUNAN STRATEGI

Makalah Ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen Strategik yang Diampu Oleh Joko Setyono, S. E, M. Si.

Disusun Oleh:

ANNISA USWATUN KHASANAH (13820141) FARAH SAUFIKA P ( ) ARUM ADININGSIH ( ) FATIKHAH MEILAWATI (14820164)

PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA

(2)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pada dasarnya setiap perusahaan mempunyai rencana strategi dalam berusaha. Namun bisa terjadi seorang pemimpin perusahaan tidak menyadarinya. Rencana strategi merupakan tindakan yang bersifat kontinyu dan terus menerus, serta dilakukan

berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh para pelanggan di masa depan. Sehingga dibutuhkan kecepatan inovasi pasar yang baru dan masa depan. sehingga dibutuhkan kecepatan inovasi pasar yang baru dan perubahan pola konsumsi para konsumen yang didukung oleh kompetensi inti perusahaan tersebut.

Rencana ini yakni sebuah rencana yang strategis atau sebuah rencana yang akan bersifat jangka panjang, komprehensif, integrasi secara baik, berskala luas dan memiliki daya tahan tinggi. Selain mengetahui rencana tersebut, persoalanya adalah bagaimana agar dapat memperoleh sebuah rancangan yang strategis yang sesuai dengan situasi, kondisi serta keadaan lingkungan yang dihadapi pada diri sendiri maupun pada perusahaan dan masyarakat serta bangsa kita sendiri.

Setiap perusahaan harus mempunyai pengetahuan serta strategi usaha yang sesuai dengan jenis usaha yang dikelolanya agar perusahaan tersebut dapat dikendalikan. Dan sebaliknya jika perusahaan tidak mempunyai pengetrahuan serta strategi yang tidak sesuai maka perusahaan akan mengalami kerugiaan.

Dan untuk mengatisipasi kerugiaan tersebut maka perusahaan harus melakukan beberapa pendekatan yang akan dijabarkan satu persatu dalam makalah ini Diantaranya ada empat pendekatan yaitu pendekatan perkembangan yang menguntungkan,

pendekatan SWOT (SWOT Approach), pendekatan system (System Approach),pendekatan kesenajangan perencanaan (Planning Gap).

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana pendekatan yang dapat dilakukan oleh seorang perusahaan agar mendapat keuntungan secara maksimal ?

2. Apa saja teknik-teknik dalam menganalisa pembuatan strategi ?

(3)

PEMBAHASAN A. Proses Pembuatan Strategi

Tahap pembuatan strategi adalah suatu tahap yang paling menantang dan sekaligus menarik dalam proses manajemen strategik. Inti pokok dari tahap ini adalah menghubungkan organisasi dengan lingkungannya dan menciptakan strategi-strategi yang cocok untuk mencapai misi organisasi. Pembuatan strategi merupakan sesuatu hal penting yang harus dikerjakan oleh para manajer puncak karena proses ini adalah yang menentukan bagaimana organisasi mencapai tujuan-tujuannya. Dalam proses ini perusahaan akan lebih memfokuskan diri pada para pesaing.

Proses pembuatan strategi terdiri dari empat elemen yaitu:

1. Identifikasi masalah-masalah strategik yang dihadapi oleh organisasi

2. Pengambangkan alternatif-alternatif strategik yang ada denagn mempertimbangkan strategik generik serta variasinya

3. Evaluasi dari tiap alternatif

4. Penentuan/pemilihan strategi terbaik dan berbagai alternatif yang tersedia (Wahyudi, 1996: 99).

Pada bab ini kita akan mencoba untuk memikirkan tentang bagaimana kita dapat merumuskan sebuah rencana yang strategis atau sebuah rencana yang akan bersifat jangka panjang, komprehensif, terintegrasi secara baik, berskala luas dan memiliki daya tahan tinggi. Persoalan ini merupakan sebuah pertanyaan yaitu “How” atau “Bagaimana” kita harus mengatur pikiran kita agar dapat memperoleh sebuah ranangan yang strategis yang sesuai dengan situasi, kondisi serta keadaan lingkungan yang kita hadapi sendiri pada perusahaan maupun masyarakat dan bangsa serta negara kia sendiri. Untuk keperluan tersebut maka kita mengenal 4 macam cara berpikir atau yang sering disebut sebagai pendekatan pikir untuk keperluan itu yaitu:

(4)

Pendekatan ini merupakan cara berpikir yang paling mendasar dan merupakan pandangan yang paling tua dalam rangka upaya untuk membentuk suatu rencana strategis. Cara berpikir ini bertumpu pada upaya untuk menyusun suatu program kerja yang akan mendatangkan laba atau keuntungan yang sebesar-besarnya. Yang dimaksud keuntungan atau laba dalam hal ini tidaklah hanya bersifat mikro, akan tetapi keuntungan yang bersifat makro yaitu yang disebut dengan “penghasilan” atau “income”. Manusia akan selalu berupaya untuk memperoleh keuntungan makro yaitu penghasilan, begitu pula suatu negara atau daerah (Propinsi, Kabupaten, dan sebagainya) juga ini memperoleh penghasilan negara atau penghasilan daerah. Bagi suatu perusahaan yang bersifat mikro maka penghasilan atau income itu dikenal sebagai laba, keuntungan atau profit. Oleh karena itu maka kita harus menyusun suatu rencana kerja yang akan dapat memberikan penghasilan yang lebih besar kepada diri kita, keluarga kita serta perusahaan kita.

Keuntungan atau penghasilan yang telah kita peroleh itu nanti haruslah kita usahakan agar dapat menompang perkembangan kekayaan kita, sebab apabila kita tidak berhat-hati keuntungan yang telah kita peroleh dapat hilang atau habis karena kita pergunakan untuk keperluan yang bersifat konsumtif. Kita harus merancang kegiatan-kegiatan yang bersifat menabung atau saving serta investasi yang berbentuktambahan aktiva baik aktiva kerja maupun aktiva tetap.

(5)

Jadi rencana strategis yang harus kita susun merupakan program untuk menciptakan keseimbangan antara segala sarana yang kita miliki baik yang berupa sarana katausumber daya alam yaitu tanah, pekarangan, kebun, rumah atau gedung-gedung yang kita miliki ; sumber daya kapital yang berupa uang atau modal, maupun kapital yang berbentuk fisik yaitu mesin-mesin dan peralatan yang kita miliki di dalam perusahaan kita. Semua sumber daya yang kita miliki itu harus dapat kita rancang agar kita dapat menghasilkan sesuatu produk, baik yang berwujud yang biasa disebut barang maupun yang tidak berwujud yang biasa disebut jasa, yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan lingkungan masyarakat-baik yang berupa kebutuhan pokok sehari-hari, kebutuhan sekunder atau perlengkapan rumah tangga, pendidikan anak, pendidikan anaknya sendiri dan perlengkapan kerja atau perlengkapan pabrik, maupun kebutuhan tertier yang bersifat kemewahan seperti rekreasi, mobil mewah, vila peristirahatan, dan sebagainya. Apabila hal itu dapat kita wujudkan maka keseimbangan tersebut akan menimbulkan keuntungan dan selanjutnya menciptakan pertumbuhan atau perkembangan usaha kita. Keseimbangan tersebut dapat kita tunjukkan dengan gambar sebagai berikut.

Untuk mewujudkan adanya keseimbangan tersebut di atas, kita harus melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Analisis Terhadap kondisi lingkungan masyarakat

2. Analisis terhadapat sarana atau sumberdaya yang kita miliki 3. Mengidentifikasi adanya ketidakseimbangan

4. Menyusun rencana strategis untuk menseimbangkan (Gitosudarmo, Indriyo, 2001: 107-110).

2. Pendekatan SWOT (SWOT Approach)

Sarana Lingkungan

PERKEMBANGAN YANG

(6)

Pendekatan SWOT merupakan suatu pendekatan yang paling terkenal selama ini, hampir tidak ada satu manajer pun yang tidak mengenal metode SWOT ini. Kata SWOT merupakan perpendekan dari Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Treaths, yang dapat

diterjemahkan menjadi: Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman. Dalam metode ini kita harus memikirkan tentang kekuatan apa saja yang kita miliki, kelamahan apa saja yang melekat pada diri atau perusahaan kita dan kemudian kita juga harus melihat kesempatan atau opportunity yang terbuka bagi kita dan akhirnya kita harus mampu untuk mengetahui ancaman, gangguan, hambatan serta tantangan (AGHT) yang menghadang di depan kita. Dari pengamatan kita tentang SWOT kita bahkan harus mampu pula untuk melihat SWOTnya pesaing, agar kita dapat menyusun rencana kerja yang strategis untuk memenangkan pertempuran bisnis yang kita lakukan.

Mengapa kita harus melakukan analisi SWOT ini, karena kita harus berusaha untuk memenangkan pertandingan atau pesaingan bisnis itu. Kita harus berusaha agar dapat mengalahkan lawan tanding atau pesaing bisnis kita, kalau kita tidak ingin terpuruk dan terperosok ke dalam posisi bisnis yang lebih rendah. Kita harus dapat memenangkannya dan kemudian dapat menguasai pasar.

B. Penyusunan Rencana Strategis

Menduduki posisi strategis. Oleh karena itu maka pendekatan SWOT ini sebagai jawaban atas pertanyaan: How to win the game? How to win the competition?, How to bid the enemy? How to bid the rival?.

Dengan melakukan analisa SWOT atau KEKEPAN maka kita dapat memperoleh jawabannya. Aspek dalam analisa ini terbagi menjadi tiga aspek yang terdiri dari:

1. Aspek Global 2. Aspek Strategis 3. Aspek Operasional

(7)

Pembangunan Lima Tahunan (REPELITA). Setelah itu dijabarkan ke rencana jangka pendek atau tahunan yang biasa disebut RAPBN.

1. Aspek Global

Dalam aspek global ini kita harus mengetahu SWOT atau KEKEPAN kita yang berkaitan dengan aspek yang bersifat garis besar, atau kadang bersifat internasional. Aspek Global ini sangat berkaitan dengan Visi dan Misi yang harus dikembangkan oleh perusahaan. Aspek global ini jika kita berpikir tentang perencanaan global dari suatu negarabiasanya disebut Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Dalam perencanaan global tersebut harus dilihat SWOT dari negara itu dan dihubungkan dengan Visi dan Misi yang diemban bangsa tersebut.

Rencana global harus dirancang dari SWOT yang dimiliki oleh perusahaan, sehingga rencana tersebut akan dapat berjalan dengan baik karena akan sesuai dengan akar masalah yang ada pada organisasi kita. Oleh karena itu kita harus melakukan analisis terhadap faktor internal maupun faktor eksternal. Analisis faktor internal ditujukan untuk dapat memperoleh kekuatan dan kelemahan yang ada pada organisasi kita. Kemudian kita juga harus melakukan analisis terhadap faktor eksternal untuk memperoleh gambaran mengenai kesempatan atau

opportunities yang terbuka beserta ancaman, gangguan, hambatan, serta tekanan yang akan menghimpit organisasi kita.

2. Aspek Strategis

(8)

Setiap strategi pasti akan memiliki kebaikan dan keburukan masing-masing, juga mengandung resiko yang berbeda-beda. Maka seorang manajer harus berani mengambil keputusan untuk memilih suatu strategi yang dipandang memiliki resiko tertentu dengan hasil yang memuaskan. Dalam mengambil keputusan manajer terdapat beberapa tipe manajer yaitu:

a. Manajer tipe Risk Averter

Manajer yang menolak rencana kerja yang akan menanggung resiko tinggi. b. Manajer tipe Risk Prefferent

Manajer yang menyenangi program kerja beresiko tinggi. c. Manajer tipe Risk Neutral

Manajer yang memandang resiko merupakan sesuatu yang wajar, sehingga mereka akan selalu memikirkan, menganalisa besarnya resiko yang ditanggung dengan perhitungan yang cermat terhadap kemungkinan hasil.

1. Pendekatan Sistem (System Approach)

Pendekatan ini adalah pendekatan yang menitikberatkan pada pengertian sistem dan kemudian mengembangkannya untuk membentuk perencanaan strategis. Sistem adalah segala sesuatu yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berinteraksi diantara komponen-komponen dan interaksi tersebut akan timbul suatu hasil atau keluaran atau output.

Sistem yang memiliki berbagai input atau komponen dibagi menjadi 3 macam yakni : input dasar, input perlengkapan, dan input lingkungan. Ketiga input ini

berinteraksi dalam suatu proses. Sistem terdiri dari dua macam : a. Sistem yang tertutup.

Adalah sistem dimana dalam sistem itu proses interaksi antar komponen-komponen hanya terjadi dalam sistem itu sendiri dan tidak dipengaruhi oleh faktor lain luar. b. Sistem yang terbuka

Adalah sistem dimana proses interaksi antar input-input tersebut akan selalu

dipengruhi oleh faktor lain dari luar dan sebagai akibat dari pengaruh dari luar maka sistem itu akan memiliki sifat yang disebut “Self Regulation”. Kedua pemikiran tersebut menghasilkan dua bentuk rencana strategis :

a) Input planning adalah sebuah rencana yang mendasarkan diri dan bertumpu pada masalah penyediaan inputnya.

b) Output planning mendasarkan diri pada produk atau output yang akan dihasilkan. Jadi output inilah yang disebut sebagai perencanaan strategis yang harus

(9)

Ini merupakan pendekatan baru, banyak pihak yang mencoba mempelajarinya dan mencoba untuk menerapkannya.

a. Perencanaan Generasi Pertama (Frist Generation Planning)

Cara berfikir tradisional dalam melakukan perencaan pada umumnya dilakukan dengan cara membuat “proyeksi masa depan” yang akan dihadapi oleh suatu perusahaan. Cara berpikir tradisional yang seperti ini merupakan suatu cara dimana berpikir untuk melihat apa yang akan terjadi dimasa depan terhadap perusahaan dan mempersiapkan diri seraya menyusun perencanaan ataupun program kerja. maka pola pikir ini disebut sebagai suatu bentuk “perencanaan generasi pertama” atau “first generation planning”.

b. Perencanaan Generasi Kedua (Second Generation Planing)

Perencanaan kedua ini menuntut adanya semangat serta mental kerja lebih dari sekedar “pasrah pada nasib” seperti yang terdapat dalam pola pikir perencanaan gerenasi pertama. Maksudnya semangat serta mental kerja yang lebih dinamis, lebih proaktif agar masa depan dapat dibentuk, diperbaiki, dan ditingkatkan melalui berbagai upaya.

c. Kesenjangan Perencanaan (Planning Gap)

Di antara garis proyeksi dengan garis potensi usaha terdapat kesenjangan yang menyebabkan munculnya sebuah pendekatan yang disebut “Pendekatan Kesenjangan Perencanaan”. Kesenjangan ini merupakan gap yang bersifat positif yang harus

diusahakan untuk diperoleh agar kita dapat memperbaiki posisi bisnis di masa yang akan datang. Kita harus menciptakan program kerja yang strategis (Gitosudarmo, Indriyo, 2001: 137).

Cara mengisi kesenjangan tersebut adalah dengan tiga aspek:

1. Hi Tech

Dengan menggunakan teknologi tinggi, tentunya program kita tidak akan mudah ditiru oleh pesaing dan menggunakannya sebagai barrier to entry, atau pelindung bagi bisnis kita untuk tidak mudah dimasuki oleh pesaing-pesaing kita.

2. High Touch

Adalah upaya untuk membubuhkan adanya sentuhan halus, artistic, estetika tinggi. Dengan memberikan sentuhan seni budaya yang tinggi akan menambah daya beda dibandingkan produk-produk pesaing kita.

(10)

Adalah upaya untuk memberikan konsep yang tinggi terhadap produk kita sehingga akan menciptakan image yang bagus dan bervisi-misi (Gitosudarmo, Indriyo, 2001: 138-139).

Segitiga Belajar dalam Perencanaan Strategis 1. IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi)

Tanpa IPTEK, tentunya kita akan ketinggalan zaman dan kalah dengan produk pesaing kita yang jelas lebih canggih. Kandungan IPTEK yang dimiliki oleh seorang manajer pada umumnya merupakan suatu Daya Intelegensia yang dimiliki seseorang. 2. Kreativitas

Merupakan hal yang sebenarnya lebih penting daripada IPTEK yang harus diterapkan bagi rencana strategis kita. Tanpa kreativitas, produk tidak akan menjadi wahana aplikatif yang sifatnya inovatif melebihi produk para pesaing. Kreativitas merupakan suatu bentuk imajinasi yang dimiliki oleh seseorang yang dapat ditingkatkan ketajamannya dengan berlatih, yaitu meningkatkan Daya Kreativitas sehingga mampu menghasilkan karya yang lebih tajam, lebih menggigit, dan lebih strategis dibandingkan mereka yang kurang kreatif.

3. IMTAQ (Iman dan Taqwa)

Merupakan bentuk gambaran mental bagi seorang manajer dalam menerapkan IPTEK serta kreativitas yang telah dilaksanakannya dalam perencanaan strategisnya. Landasan mental dan moral sangat diperlukan karena terkadang kekurangan aspek tersebut justru dapat membahayakan umat manusia. Oleh karena itu, menerapkan perwujudan Moral Quotient itu juga penting. (Gitosudarmo, Indriyo, 2001: 139-142)

Berbagai Bentuk Isi Bagi Kesenjangan Perencanaan

Adapun bentuk kegiatan yang dapat kita rancang untuk mengisi gap, dalam dunia bisnis dibagi menjadi tiga macam kegiatan. Mulai dari yang paling rendah sampai paling sulit dengan resiko yang semakin tinggi, yaitu:

1. Pasar Baru (New Market)

(11)

perusahaan akan memiliki kapasitas produksi yang belum digunakan secara maksimal. Ini seharusnya dapat digunakan untuk menghasilkan produksi yang dapat digunakan untuk memasuki pasar baru, baik daerah yang baru atau segmen pasar yang baru. Karena upaya ini dilaksanakan dengan mengintensifkan penggunaan mesin yang dimilik, maka disebut juga sebagai strategi Intensive Growth.

2. Produk Baru (New Product)

Tingkat kesulitan dan resiko lebih besar. Diperlukan penelitian R&B supaya dapat mengidentifikasi produk baru tersebut apakah cocok dan diterima baik oleh konsumen atau tidak. Karena sarana, sumber daya, dan sumber dana yang dikeluarkan untuk menciptakan produk baru juga tidak sedikit. Fokus kegiatan ini adalah menciptakan pertumbuhan bisnis yang terintegrasi. Oleh karena itu, upaya ini disebut pula sebagai Integrative Growth.

3. Bisnis Baru (New Business)

Merupakan upaya dengan kesulitan serta resiko tertinggi. Penciptaan bisnis baru tentunya lebih kompleks daripada pembuatan produk baru yang pada umumnya masih familiar dengan produk lama. (Gitosudarmo, Indriyo, 2001: 144-145)

Dalam dunia Kekuatan Persaingan Bisnis yang dapat Dikembangkan

Bisnis, kita mengenal adanya 3 macam kekuatan yang dipertimbangkan untuk dikembangkan sebagai senjata dalam merancang rencana strategisnya yaitu:

a. Kekuatan di bidang perongkosan produksi

Perusahaan dapat mengembangkan kekuatan dalam bidang perongkosan produksinya sedemikian rupa sehingga mereka memperoleh suatu kondisi yang membuat perongkosan produksinya menjadi rendah. Produk yang dihasilkan dapat dikembangkan menjadi suatu kekuatan strategis dengan cara menjaga serta selalu meningkatkan mutu produk yang kita hasilkan. Selain itu melakukan penganekaragaman produk, dan juga mengembangkan dan menciptakan produk-prouk yang memiliki keistimewaan tersendiri yang akan mampu untuk membangkitkan image produk tersebut.

b. Kekuatan di bidang perdagangan

(12)

semakinmudah untuk memperoleh produk yang kita sajikan kepada mereka, maka kita dapat memilih cara distribusi yang cocok bagi konsumen kita.

B. Teknik –teknik Analisa pembuatan strategi

Ada lima teknik analisa yang dikembangkan untuk membuat para perencana strategi dalam proses pembuatan strategi.

1. Analisa Kesenjangan (Gap Analysis)

Analisa kesenjangan memberikan suatu mekanisme untuk menyatukan berbagai variasi produk dan bisnis dalam suatu perusahaan yang memiliki lebih dari satu produk atau bisnis., cotohnya adalah Indofood.

Jika terjadi kesenjangan/perbedaan (gap) antara hasil yang telah dicapai (titik C) dengan hasil yang diproyeksikan (titik B) maka mucul yang dinamakan Kesenjangan Strategik (Strategic Gap). Ada beberapa langkah-langkah yang dapat diambil untuk memperkecil kesenjangan ini :

a. Merubah strategi dari satu atau lebih SBU.

b. Merubah pengalokasian sumber-sumber daya diantara SBU. c. Menambah bisnis baru untuk memperkuat bisnis yang ada. d. Menghapuskan beberapa SBU yang ada.

e. Merubah tujuan dan sasaran perusahaan. 2. Matrik Startegi Umum (Grand Strategy Matrix)

Matrik Strategi Umum menjadi alat analisa yang terkenal dalam membuat strtategi alternative. Prinsipnya adalah memposisikan SBU-SBU ke dalam salah satu dari keempat kuadran yang dibentuk oleh garis horizontal dan vertical. Setelah posisi SBU dapat diketahui maka pemimpin perusahaan dapat memilih beberapa stategi alternatif yang cocok dengan posisi tersebut.

3. Grup Konsultan Boston (Boston Consulting Group)

Teknik ketiga yang dipakai dalam pembuatan strategi adalah BCG Matrix. Prinsip dasar dari teknik ini adalah dengan membagi sebuah daerah dengan dua garis yaitu garis vertikal dan horizontal menjadi empat daerah (kuadran). Keempat kuadran tersebut yaitu (Wahyudi, Agustinus Sri, 1996: 101-103) :

a. Bintang (Star)

Adalah sebuah produk atau SBU yang berada pada tingkat pertumbuhan pangsa pasar yang tinggi dan menguasai pangsa pasar yang relatif besar.

(13)

Adalah SBU atau produk dengan tingkat pertumbuhan pasar yang rendah dan menguasai pangsa pasar yang relatif tinggi. Posisi ini digunkan untuk membiayai unit bisnis lain yang sedang tumbuh.

c. Tanda Tanya (Question Mark)

Adalah SBU atau produk yang berada pada tingkat pertumbuhan tinggi dimana mereka hanya menguasai pangasa pasar yang rendah.

d. Anjing (Dog)

Adalah produk atau SBU yang berada pada tingkat pertumbuhan pasar yang rendah dan relatif pangsa pasar yang kecil.

4. Matrik SWOT

Teknik keempat adalah dengan menggabungkan SWOT menjadi suatu matrik dan

kemudian diidentifikasikan semua aspek dalam SWOT. Dari kuadran tempat bertemunya SWOT tersebut kemudian dibuat strategi yang sesuai dengan aspek-aspek SWOT.

(14)

5. Analisa Daur Kehidupan Produk (Product Life Cycle)

Teknik terakhir analah analisa daur kehidupan produk yang biasanya digunakan untuk membuat strategi pemasaran. Daur kehidupan produk ini menganalisa suatu produk berdasarkan perubahan yang terjadi pada tingkat penjualannya. Prinsipnya

mengatakan bahwa suatu produk akan melalui siklus kehidupan seperti halnya manusia yaitu kelahiran, pertumbuhan, dewasa, dan masa tua.

a) Tahap Perkenalan (Introduction)

Dalam masa perkenalan sebuah produk, penjualan mulai dari nol dan meningkat secara perlahan. Pada tahap ini, keuntungan akan menunjukkan jumlah yang negatif karena besarnya biaya yang dikeluarkan untuk penelitian dan promosi dan tidak dapat diimbangi oleh tingkat penjualan yang masih rendah. Strategi yang cocok adalah fokus-diferensiasi.

b) Tahap Pertumbuhan (Growth)

Selama tahap ini penjualan meningkat secara cepat dan kemudian diikuti dengan peningkatan yang rendah. Persaingan belum begitu ketat sehingga margin yang

dikenakan pada produk masih tinggi. Strategi yang cocok adalah diferensiasi.

c) Tahap Dewasa (Maturnity)

Pada tahap ini penjualan mencapai titik paling maksimal dan kemudian menurun sehingga keuntungan yang diperoleh menjadi kecil. Hal ini munculnya banyak pesaing yang menjual produk serupa. Di periode ini, perusahaan dapat menggunakan strategi kepemimpinan biaya menyeluruh atau diferensiasi.

d) Tahap Menurun (Decline)

(15)

Setelah melakukan analisa dengan menggunkan beberapa teknik analisa di atas dan membuat beberapa strategi yang dianggap cocok maka semua strategi tersebut digabungkan dalam suatu laporan yang sering disebut sebagai Rencana Bisnis.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Sebuah rencana strategis yang akan bersifat jangka panjang, komprehensif, terintegrasi secara baik, berskala luas dan memiliki daya tahan tinggi maka ada empat pendekatan yaitu pendekatan perkembangan yang menguntungkan, pendekatan SWOT (SWOT Approach), pendekatan system (System Approach),pendekatan kesenajangan perencanaan (Planning Gap).

Pendekatan perkembangan yang menguntungkan bisa dicapai apabila bisa mewujudkan adanya “keseimbangan yang menguntungkan”. Keseimbangan ini adalah keseimbangan antara “sarana atau source” yang dimiliki dengan “lingkungan atau environment” yang dihadapi.

Pendekatan analisis SWOT ini perlu dilakukan karena kita harus berusaha

memenangkan pertandingan atau persaingan bisnis tersebut. Berusaha agar dapat mengalahkan lawan tanding atau pesaing bisnis jika tidak ingin berada pada posisi bisnis yang lebih rendah.

Dalam melakukan analisis SWOT atau KEKAPAN, terdapat tiga aspek yaitu aspek global, aspek strategis,dan aspek operasional. Pendekatan sistem ini pendekatan menitikberatkan pada pengertian sistem dan kemudian mengembangkannya untuk membentuk perencanaan strategis. Sistem adalah segala sesuatu yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berinteraksi.

(16)

Ada lima teknik analisa yang dikembangkan untuk membantu para perencana strategi dalam proses pembuatan strategi yaitu, analisa kesenjangan, matrik, strategi umum, matrik SWOT, analisa daur kehidupan produk.

Setelah melakukan analisa dengan menggunakan beberapa teknik analisa dan membuat strategi yang dianggap cocok maka semua strategi tersebut digabungkan dalam suatu laporan yang sering disebut dengan Rencana Bisnis (Business Plan). Saat ini organisasi telah mempunyai suatu Rencana Bisnis yang terdiri dari kumpulan-kumpulan dokumen serta strategi-strategi untuk mencapainya.

DAFTAR PUSTAKA Gitosudarmo, Indriyo. 2008. Management Strategic .Yogyakarta: BPFE.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Pengaruh Laba Kotor, Laba Operasi dan Laba

2ingkungan pengendalian sangat dipengaruhi oleh sejauh mana indi0idu mengenali mereka yang akan dimintai pertanggungjawaban. &ni berlaku sampai kepada

Beberapa program kegiatan IDDC di antaranya adalah Klinik Desain, Designer Dispatch Service (DDS) dan Good Design Indonesia (GDI) yang kesemuanya bermuara pada pengembangan produk

Penghargaan yang mendalam penulis sampaikan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Bima yang telah memberikan kesempatan dan dukungan dana bagi penulis untuk mengikuti pendidikan

Saya lebih senang menerima auditor yang berkenan merubah atau Mengganti prosedur dalam suatu penugasan jika:. Hasil Audit terdahulu tidak terkait dengan adanya masalah klien

Mahasiswa mampu menjelaskan tiga level budaya (S9, KU1, KU5)  Ketepatan menjelaskan peran kosep budaya organisasi dalam proses bisnis  Ketepatan menjelaskan

1) Indikator kinerja Persentase tingkat keamanan dan ketertiban dalam masyarakat pada Tahun 2017 terealisasi sebesar 83,33% dari 100% target yang ditetapkan, dengan capaian

Buka file Peta format JPG hasil registrasi, dengan Global Mapper, maka akan muncul tampilan seperti berikut :... Simpan dengan nama file yang sama dengan nama file