Diterima: Januari 2020. Disetujui: Februari 2020. Dipublikasikan: Maret 2020. 77
Volume 8, Nomor 1, 2020, 77-96 ISSN: 2086-4116(Print), 2685-3760(Online) DOI 10.15575/irsyad.v8i1.123
Mediasi Perceraian melalui Konseling Keluarga
Brimob Polda Jabar
Vina Vionita¹*, Chatib Saefullah2, Zainal Mutaqin3
13Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung 2Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung
*Email : [email protected] ABSTRAK
Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui proses mediasi yang dilakukan oleh Brimob Polda Jabar dalam menyelesaikan kasus perceraian. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif yang analisisnya dilakukan secara kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan praktek lapangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa Pelaksaan proses mediasi ini menggunakan saluran hirarki yakni sesuai urutan tingkatan atau jenjang jabatan serta diberikan tiga kali kesempatan untuk melaksanakan sidang mediasi yang setiap tahapannya terdapat jeda waktu tiga bulan. Kegagalan mediasi dikarenakan tidak adanya keinginan dari kedua pihak untuk memperbaiki, penghambat dikarenakan kurangnya fasilitas sarana prasarana yang memadai dan faktor pendukung dipengaruhi dengan adanya Perkap No. 9 Tahun 2010 telah mengatur perihal nikah,talak,cerai dan rujuk. Dengan menggunakan konseling keluarga tingkat keberhasilan mediasi dapat menunjukan hasil yang lebih optimal, banyak pasangan memilih untuk rujuk kembali.
Kata Kunci : Mediasi Perceraian; Polisi; Konseling; Keluarga. ABSTRACT
This paper aims to find out the mediation process carried out by the West Java Police Mobile Brigade in resolving divorce cases. The research method uses descriptive methods whose analysis is done qualitatively. Data collection techniques carried out by observation, interviews, and field practice. The results showed that the implementation of the mediation process uses a hierarchical channel that is in the order of the level or level of position and is allowed three times to carry out a mediation session at each stage there is a three-month interval. The mediation failure was due to the lack of willingness from both parties to improve, the obstacle was due to the lack of adequate infrastructure and the supporting factors were influenced by Perkap No. 9 of 2010 has arranged regarding marriage, divorce, divorce, and reconciliation. By using family counseling the mediation success rate can show more optimal results, many couples choose to reconcile.
78 Irsyad : Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, dan Psikoterapi Islam 08(1) (2020) 77-96 PENDAHULUAN
Pada awalnya pihak kesatuan Brimob memberikan bimbingan dan nasehat kepada kedua calon mempelai, untuk memahami tugas dan tanggungjawab masing-masing sebagai pasangan anggota Brimob. Namun jika tengah perjalanan bahtera rumahtangga terdapat pasangan yang berkonflik hingga mengarah keperceraian maka bimbingan dan nasehat akan diberikan kembali melalui sidang mediasi. Mediasi merupakan cara penyelesaian sengketa secara damai yang tepat, efektif, dan dapat membuka akses yang lebih luas kepada para pihak untuk memperoleh penyelesaian yang memuaskan serta berkeadilan (Pasal 1 Perma Nomor 1 Tahun 2016).
Permasalahan keluarga yang sering muncul didalam keluarga anggota Brimob diantaranya berasal dari faktor eksternal dan internal. Adapun faktor eksternal permasalahan keluarga berasal dari pengaruh keadaan luar, seperti ikut campur keluarga besar baik dari pihak suami maupun pihak istri kedalam perjalanan rumah tangga anggota, tugas-tugas berat menjadi tekanan tersendiri yang dirasakan oleh anggota. Sedangkan untuk faktor internal permasalahan keluarga timbul dari perilaku individu itu sendiri, seperti halnya kemampuan manajemen qolbu dalam menjaga prilaku dan kesetiaan pada pasangan. Pengelolaan keuangan yang kurang bijak dilakukan oleh istri atau suami, dengan mengikuti gaya hidup mewah yang tidak seimbang dengan penghasilan yang didapat suami, contohnya berbelanja barang yang dianggap tidak terlalu dibutuhkan mencerminkan sikap pemborosan ataupun membeli barang-barang yang bernilai beli mahal sehingga diluar jangkauan penghasilan bulanan. Selain itu ada juga kasus yang sering terjadi yakni perselingkuhan, baik dilakukan oleh pihak suami maupun pihak istri.
Jika permasalahan keluarga tersebut sudah tidak dapat diselesaikan lagi oleh pasangan suami istri itu sendiri dan keluarga, maka otomatis akan berkembang menjadi sebuah konflik rumah tangga besar dan berkelanjutan hingga terjadi pelaporan ke pihak kedinasan Satuan Brimob dan dibutuhkan pihak ketiga sebagai pihak mediator, diantaranya pihak Bimrohtal sebagai penasehat keagamaan, Provost sebagai Penindakan peraturan, Komandan sebagai pertanggungjawaban atas tindakan yang dilakukan anggotanya, dan Renmin pencatatan hasil dan dokumentasi.
Cara mediasi Brimob Polda Jabar dengan menyelesaikan sengketa melalui proses perundingan untuk memperoleh kesepakatan para pihak dengan dibantu oleh mediator dengan menggunakan pendekatan teknik konseling keluarga. Konseling Keluarga adalah usaha membantu individu anggota keluarga untuk mengaktualisasikan potensinya atau mengantisipasi masalah yang dialaminya, melalui sistem kehidupan keluarga, dan mengusahakan agar terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri individu yang akan memberi dampak positif pula
Irsyad : Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, dan Psikoterapi Islam 08(1) (2020) 77-96 79 terhadap anggota keluarga lainnya. Cara komunikasi yang digunakan mediator Brimob Polda Jawa Barat menggunakan beberapa teknik konseling keluarga, diantaranya teori konseling psikoanalisa, teori konseling client centered dan teori konseling gestalt, Teknik mendengar seluruh keluh kesah yang dirasakan dari masing-masing pihak, sehingga hasil yang didapat memandang dinamika kepribadian manusia, perkembangan kepribadian, kesadaran dan ketidaksadaran, ciri komunikasi ini bisa diklasifikasikan kedalam teori konseling psikoanalisa.
Teknik client centered digunakan pula untuk membantu anggota yang bermasalah dalam menemukan kesanggupan-kesanggupan dan memecahkan masalah, mengembangkan kepribadiannya secara menyeluruh serta memiliki kemampuan untuk memecahkan permasalahannya sendiri. Teknik lain yang digunakan yakni teori gestalt dimana dengan terbentuknya kepribadian klien secara menyeluruh, klien dapat menyadari sepenuhnya kelebihan dan kelemahan dirinya sehingga klien tidak akan lagi tergantung pada orang lain, tetapi ia dapat berdiri sendiri dan menentukan pilihannya sendiri sekaligus mampu mengemban tanggung jawab. Hal inilah yang akan membantu pasangan yang berkonflik untuk menemukan sumber permasalahan.
Setelah diketahui sumber dari konflik keluarga tersebut, maka pihak satuan akan memberi beberapa jalan keluar untuk tetap mempertahankan hubungan perkawinan pasangan tersebut. Jalan keluar yang diberikan pun sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi, oleh karena itu mayoritas anggota Brimob yang mengajukan permohonan perceraian pada akhirnya akan memilih rukun kembali karena dirasa akar dari permasalahan sudah dapat diselesaikan. Namun jika jalan keluar yang diberikan kepada pasangan tetap tidak menyelesaikan permasalahan maka keputusan akhir yakni menerbitkan surat permohonan cerai yang dirujukkan ke Polda Jawa Barat sehingga proses selanjutnya akan di lakukan oleh pihak psikologi Polda Jabar.
Dari latar belakang masalah tersebut dapat dirumuskan beberapa masalah dengan rumusan masalah: Bagaimana tahapan mediasi yang dilakukan oleh Mako Satuan Brimob Polda Jawa Barat? Bagaimana upaya mediator dalam memediasi keluarga yang akan bercerai di Mako Satuan Brimob Polda Jawa Barat? Apa faktor penghambat dan faktor pendukung mediasi di Mako Satuan Brimob Polda Jawa Barat dalam menanggulangi kasus perceraian? Bagaimana hasil pencapaian mediasi sebagai proses konseling keluarga yang dilakukan oleh Mako Satuan Brimob Polda Jawa Barat dalam menanggulangi kasus perceraian?
Penelitian tentang konseling keluarga pernah dilakukan oleh; Pertama, penelitian dilakukan oleh Sumarwiyah Sumarwiyah,Edris Zamroni, dan Richma
Hidayati (2015) dengan judul Solution Focused Brief Counseling (SFBC)” Alternatif
Pendekatan dalam Konseling Keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan
dalam keluarga seringkali ditimbulkan oleh salah satu anggota keluarga sehingga
80 Irsyad : Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, dan Psikoterapi Islam 08(1) (2020) 77-96
penelitian dilakukan oleh Afdal Afdal (2015) dengan judul Pemanfaatan Konseling Keluarga Eksperensial untuk Penyelesaian Kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman menunjukkan penyelesaian masalah kekerasan dalam keluarga lebih baik jika tidak diselesaikan
secara hukum namun melalui konseling. Ketiga, penelitian dilakukan oleh Fitri
Marifatul Laili (2015) dengan judul Penerapan Konseling Keluarga untuk Mengurangi
Kecanduan Game Online pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 21 Surabaya. Hasilnya
menunjukkan bahwa konseling keluarga berpengaruh terhadap pengurangan kecanduan siswa terhadap game online.
Keempat, penelitian dilakukan oleh Alfina Sari (2016) dengan judul
Konseling Keluarga untuk Mencegah Perceraian. Artikel ini menguraikan konsep minimalisasi dampak perceraian melalui bimbingan konseling keluarga. lebih lanjut konsep perkawinan, perceraian dan upaya pelayanmemalui pelayanan
konseling keluarga. Kelima, Penelitian dilakukan oleh Risdawati Siregar (2015)
dengan judul Urgensi Konseling Keluarga dalam Menciptakan Keluarga Sakinah. Hasil
kajian menunjukkan bahwa Peran konseling keluarga adalah sebagai fasilitator terhadap masalah yang terjadi dalam keluarga dan konselor memberikan bimbingan kepada semua anggota keluarga dengan melakukan habituation perilaku sehari-hari berdasarkan ajaran agama agar menjadi keluarga yang berbakti, positif, produktif dan mandiri melalui hubungan antara individu dan sistem keluarga dalam rangka menciptakan keluarga yang harmonis.
Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu maka dapat dibedakan dengan riset ini, yaitu terkait dengan subjek dan objek sekaligus. Jika penelitian terdahulu subjek dan objek kajiannya pada siswa, salah satu anggota keluarga, anak yang kecanduan game online, serta konsep bimbingan konseling keluarga berdasarkan kebiasaan dalam ajaran agama. Subjek dan objek dalam riset ini fokus pada keluarga anggota kesatuan Brimod Polda Jabar. Dari sisi kajian juga berbeda, jika penelitian terdahulu fokus pada kecanduan game online, KDRT, kebiasaan dalam ajaran agama, dan pasca perceraian penelitian ini pada persoalan menghadapi perceraian. Metode yang digunakan penelitian ini adalah metode deskriptif dengan analisis kualitatif dan termasuk dalam penelitian empiris atau penelitian lapangan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan praktek lapangan di Markas Komando Satuan Brimob Polda Jawa Barat yang beralamat di Sayang-Jatinangor Kabupaten Sumedang.
LANDASAN TEORITIS
Perceraian adalah berpisahnya dua orang insan (antara laki-laki dan perempuan) yang sebelumnya sudah ada perjanjian atau akad nikah (Sulaiman Rasjid, 1996: 401). Ketika pasangan suami istri merasa jenuh atau bosan saat menjalani kehidupan rumah tangganya niscaya hal tersebut merupakan pertanda awal dari kegagalan rumah tangga, kejenuhan yang dikaitkan dengan sejumlah persoalan
Irsyad : Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, dan Psikoterapi Islam 08(1) (2020) 77-96 81 yang bermacam-macam dapat melemahkan hubungan keluarga dan hubungan suami istri serta membukakan pintu untuk hal-hal yang negative seperti perceraian (Butsainah, As-Sayyid Al-Iraqi, 2005: 86).
Islam hanya mengijinkan perceraian kerena tidak ada jalan lain untuk keluar dari lingkaran ketegangan yang terus menerus dalam rumah tangga. Lagi pula sesudah dipertimbangkan bahwa bercerai itulah jalan yang terbaik bagi mereka dari pada terus menerus hidup dalam perselisihan, dalam konflik keluarga, yang hidup membara kalbu dalam suatu rumah tangga (Yayan Sopyan, 2012: 173). Walaupun dalam ajaran islam ada jalan penyelesaian terakhir yaitu perceraian, namun perceraian adalah suatu hal yang meskipun boleh dilakukan tetapi sangat dibenci Allah SWT (satria effendi, 2004: 96). sesungguhnya pada hakikatnya masalah yang dialami oleh manusia adalah wujud cobaan dan ujian dari Allah untuk menguji keteguhan iman dan kesabaran umat manusia. hal ini sudah jelas di dalam Al-Qur'an yakni QS Al-Baqarah ayat 155
ََّٰصلٱ ِرِ شَب َو ِِۗت ََٰرَمَّثلٱ َو ِسُفنَ ۡلۡٱ َو ِل ََٰو ۡمَ ۡلۡٱ َنِ م ٖصۡقَن َو ِعوُجۡلٱ َو ِف ۡوَخۡلٱ َنِ م ٖء ۡيَشِب مُكَّن َوُلۡبَنَل َو َني ِرِب
١٥٥
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (Depag, 2012: 22)
Berdasarkan ayat diatas sudah jelas bahwa sesungguhnya Allah memberikan cobaan kepada manusia baik dari segi sosial, ekonomi, politik dan psikologi yang dapat membawa pengaruh besar didalam keluarga. sehingga manusia dituntut untuk mampu mengembangkan dan menyesuaikan diri dengan berbagai potensi secara optimal, agar dapat menyelesaikan masalah yang terjadi didalam keluarga, maka diperlukan pihak ketiga (mediator) yang dapat memberikan nasehat dan pembinaan. Pihak ketiga ini bisa berasal dari tokoh masyarakat, tokoh agama, konselor, psikiater, atau bahkan diperoleh dari lembaga pemerintahan yang berwenang dan bertugas dalam pembinaan keutuhan rumah tangga.
Mediator dapat kita temukan disegala tempat, keluarga, sahabat, guru/ustadz, atau pada instansi Kepolisian perihal mediator pada mediasi memiliki peraturan tersendiri, yakni mengacu pada Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 9 tahun 2010 tentang Nikah, Talak, Cerai dan Rujuk (NTCR) yang didalamnya telah diatur pejabat yang berwenang dan memberikan izin serta tata cara nikah, talak, cerai, dan rujuk.
Mediasi berasal dari bahasa latin, Mediare yang berarti berada ditengah. makna ini menunjukan pada peran yang ditapilkan pihak ketiga sebagai mediator dalam menjalankan tugasnya menengahi dan menyelesaikan sengketa antara para pihak (Abbas, 2009: 1-2). Dengan adanya mediasi maka upaya damai sebagai building block penting sebelum perceraian benar-benar terjadi menjadi semakin kokoh (http://mediator-anggoro.blogspot.com/2012/03/mediasi-keluarga-dan-tantangannya-bagi_html. pd Jum'at, 29 November 2013 00.30).
82 Irsyad : Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, dan Psikoterapi Islam 08(1) (2020) 77-96 Tujuan dilakukan mediasi adalah menyelesaikan sengketa antara pihak anggota keluarga dengan melibatkan pihak ketiga atau disebut mediator yang netral dan imparsial. Mediator tidak memiliki wewenang dalam pengambilan keputusan, tetapi ia hanya membantu para pihak dalam menjaga proses mediasi guna mewujudkan kesepakatan damai mereka (Syahrizal Abbas, 2009: 24-25).
Konseling secara etimologi berarti pemberian nasehat, anjuran dan pembicaraan dengan bertukar pikiran (Tohirin, 2007: 22). Keluarga adalah dua atau lebih dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pemangkatan dan mereka hidup dalam satu rumah tangga dan berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing dan menciptakan serta memperhatikan suatu kebudayaan (Siti Chodijah, 2016: 197). Konseling keluarga adalah upaya bantuan yang diberikan kepada individu anggota keluarga melalui system keluarga (pembenahan komunikasi keluarga) agar potensinya berkembang seoptimal mungkin dan masalahnya dapat diatasi atas dasar kemauan membantu dari semua anggota keluarga berdasarkan kerelaan dan kecintaan terhadap keluarga (Sofyan S. Willis, 2008: 83).
Sehingga Konseling Keluarga dapat diperuntukan sebagai suatu proses interaktif yang berupaya membantu keluarga memperoleh keseimbangan homeostatis (kemampuan mempertahankan keluarga dalam kedaan seimbang) sehingga anggota keluarga dapat merasakan nyaman (Namora Lumongga Lubis, 2013: 221). Secara implisit tujuan dan fungsi konseling keluarga baik individu atau anggota keluarga yang dibimbing merupakan individu yang sedang menjalani proses perkembangan, karena merujuk pada hal tersebut maka tujuan konseling keluarga adalah agar setiap individu yang dibimbing memiliki kemampuan atau kecakapan melihat dan menemukan masalahnya sehingga anggota keluarga tersebut mampu atau cakap memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya serta mampu menyesuaikan diri secara efektif dengan lingkungan.
Teknik konseling keluarga menurut Mary (1988) dan Smith & Stevens-Smith (1992) mengemukakan bahwa pencapaian tujuan konseling melalui tahapan-tahapan sebagaimana yang telah dijelaskan, dengan menggunakan teknik-teknik tertentu. (Latipun, 2008: 57), Macam–Macam Konseling Keluarga yang dimaksud sebagai berikut :1) Terapi Gestalt mengemukakan teori mengenai struktur dan perkembangan kepribadian yang mendasari terapinya serta serangkaian eksperimen. Terapi Gestalt sifatnya eksistensial dan bersesuaian dengan ilmu pengetahuan dan alam semesta (Mohammad Surya, 2003: 58).
Tujuan utama dari terapi Gestalt adalah membantu klien untuk dapat mengembangkan kepribadiannya secara menyeluruh dan memiliki kemampun untuk memecahkan permasalahannya sendiri. 2) Psikoanalisa merupakan suatu metode penyembuhan yang lebih bersifat psikologis. (Mohammad Surya, 2003: 28). Freud menggunakan teknik asosiasi bebas (free as-sociation) yang kemudian menjadi dasar dari psikoanalisa. Adapun hal-hal yang perlu dibicarakan mengenai
Irsyad : Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, dan Psikoterapi Islam 08(1) (2020) 77-96 83 pendekatan psikoanalisa ini adalah bagaimana psikoanalisa memandang dinamika kepribadian manusia, perkembangan kepribadian, kesadaran dan ketidaksadaran, peran dan fungsi konselor, dan teknik-teknik terapi yang digunakan dalam psikoanalisa (Namora Lumongga Lubis, 2013: 141). 3) konseling behavioral ini tak dapat dipisahkan dari eksperimen-eksperimen Pavlov (1849-1936) dengan teori classikal conditioning-nya, Konselor behavioral membatasi perilaku sebagai fungsi interaksi antara pembawaan dengan lingkungan.
Pada dasarnya, proses konseling merupakan suatu penataan proses atau pengalaman belajar untuk membantu individu mengubah perilakunya agar dapat memecahkan masalahnya. 4) terapi client centered sebagai reaksi terhadap apa yang disebutnya keterbatasan-keterbatasan mendasar dari psikoanalisis, hakikatnya konselor dalam client centered lebih menekankan aspek sikap dari pada teknik konseling, sehingga yang lebih diutamakan dalam konseling adalah sikap konselor, Konselor menjadikan dirinya sebagai instrument perubahan. Konselor bertindak sebagai fasilitator dan mengutamakan kesabaran dalam proses konselingnya. 5) Teori rasional emotif adalah konsep bahwa banyak perilaku emosional individu yang berpangkal self talk atau omong diri atau internalisasi kalimat-kalimat, yaitu orang yang menyatakan kepada dirinya sendiri tentang pikiran dan emosi yang bersifat negative (Mohammad Surya, 2003: 1112). HASIL DAN PEMBAHASAN
Keluarga bagi masyarakat sipil merupakan bagian yang sangat utama dari kepentingan lainnya, karena didalamnya kita dapat menemukan ketenangan dan kebhagiaan, akan tetapi fenomena di era modern saat ini banyak keluarga terganggu oleh berbagai masalah seperti masalah ekonomi, masalah perselingkuhan, masalah kejenuhan, masalah menurunnya kewibawaan orang tua karena mereka memperlihatkan prilaku yang kurang terpuji seperti mabuk-mabukan, berjudi sehingga membuat suami istri saling bermusuhan. Kebanyakan kasus-kasus seperti diatas ini diajukan ke Pengadilan Agama yang menyelesaikan kasus-kasus keluarga hanya berdasar agama saja tanpa dianalisis dari sisi psikologis, yaitu seberapa jauh perkembangan emosi suami istri yang bermasalah itu dapat mengancam keutuhan sebuah keluarga, disisi lain bagaimana komunikasi yang diciptakan sehingga timbul persoalan-persoalan kesalah-pahaman diantara masing-masing pihak (Sayyid, 2005: 43). Dari sinilah diusahakan agar masing-masing suami istri itu dapat mengungkapkan.
Beda halnya dengan keluarga anggota Brimob (Brigade Mobile) yang memliki tugas pokok kenegaraan, dan pada saat genting harus menomor duakan keluarga seperti menanggulangi kriminalitas yang berintensitas tinggi antara lain lawan teror, penjinakan bahan peledak/jibom, kerusuhan massa, kelompok terorganisir yang bersenjata, separatisme dan tugas kepolisian lainnya. Tanggungjawab yang dipikul tersebut merupakan tugas negara yang tidak ringan
84 Irsyad : Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, dan Psikoterapi Islam 08(1) (2020) 77-96 dan harus dilaksanakan oleh setiap anggota, karena Brimob memiliki visi dan misi “Jiwa Ragaku Demi Kemanusiaan”. Melalui motto pengabdian itu diharapkan anggota Brimob Polri dapat memahami tugas-tugas yang diembannya serta terpatri dalam dirinya nilai-nilai kemanusiaan untuk diinternalisasikan dan diimplementasikan sebagai pedoman hidup dalam rangka pengabdiannya kepada bangsa dan negara.
Oleh karenanya, dalam setiap penugasan Brimob, arahnya semata-mata untuk kepentingan masyarakat dan dapat dipertanggungjawabkan di depan hukum. Oleh karena itu dalam kehidupan pribadi masing-masing personel diberikan hak dan kesempatan untuk membangun hubungan rumah tangga dengan pasangan yang telah dipilih agar dapat memberikan kebahagiaan dan ketenangan dalam menyeimbangkan hidupnya. Namun sehubungan dengan hal tersebut banyak pasangan yang tidak dapat memahami tugas suami sebagai anggota, jika berkelanjutan maka menimbulkan suatu permasalahan didalam keluarga.
Permasalahan yang sering muncul didalam keluarga anggota Brimob diantaranya berasal dari faktor eksternal dan internal. Adapun faktor eksternal permasalahan keluarga berasal dari pengaruh keadaan luar, seperti ikut campur keluarga besar baik dari pihak suami maupun pihak istri kedalam perjalanan rumah tangga anggota, tugas-tugas berat menjadi tekanan tersendiri yang dirasakan anggota. Sedangkan untuk faktor internal permasalahan keluarga timbul dari perilaku individu itu sendiri, seperti halnya kemampuan manajemen qolbu dalam menjaga perilaku dan kesetiaan pada pasangan.
Pengelolaan keuangan yang kurang bijak dilakukan oleh istri atau suami dengan mengikuti gaya hidup mewah yang tidak seimbang dengan penghasilan yang didapat suami, contohnya berbelanja barang yang dianggap tidak terlalu dibutuhkan mencerminkan sikap pemborosan ataupun membeli barang-barang yang bernilai beli mahal sehingga diluar jangkauan penghasilan bulanan, kasus yang sering terjadi yakni perselingkuhan, baik dilakukan oleh pihak suami maupun pihak istri. Jika permasalahan keluarga tersebut sudah tidak dapat diselesaikan lagi oleh pasangan suami istri itu sendiri dan keluarga, maka otomatis akan berkembang menjadi sebuah konflik rumah yang tangga besar dan berkelanjutan hingga terjadi pelaporan ke pihak kedinasan Satuan Brimob dan dibutuhkan pihak ketiga sebagai pihak mediator (Walgito, 2002: 62).
Tahapan Mediasi Yang Dilakukan
Terdapat 2 faktor yang menyebabkan perceraian (T.O. Ihromi, 1999: 156) yaitu faktor yuridis dan faktor kebiasaan individu Yaitu faktor yang dikemukakan berdasarkan alasan yang dinyatakan sah secara hukum sebagaimana ditentukan dalam pasal 39 ayat (2) UU No.1 tahun 1974 yang telah dijabarkan dalam pasal 19 PP No. 9 tahun 1975, yaitu: Salah satu faktor berbuat zinah atau menjadi
Irsyad : Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, dan Psikoterapi Islam 08(1) (2020) 77-96 85 pemabuk, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan; Meninggalkan pihak lain selama 2 tahun berturut-turut tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya; Mendapat hukuman penjara selama 5 tahun atau hukuman yang lebih berat setelah pernikahan; Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain; Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/istri; Antara suami istri terus menerus menjadi perselisihan dan pertengkaran, tidak ada harapan hidup rukun kembali dalam rumah tangga; Suami beralih agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga.
Faktor kebiasaan individu yakni alasan yang dinyatakan karena ketidakcocokan lahir dan batin suatu pasangan namun tidak diatur dalam undang-undang, seperti halnya bercerai dikarenakan alasan tidak mempunyai anak akibat terjadi kemandulan pada salah satu pasangan, suami/istri melakukan hubungan seksual yang tidak normal dan diluar kebiasaan atau memiliki kelainan orientasi seksual, adanya perbedaan visi atau pandangan hidup dan lain-lain.
Brimob Polda Jawa Barat memiliki beberapa seksi mediator yang mengikuti sidang mediasi, 1) Komandan Dan Wakil Komandan Beserta Istri, Tugas yang diemban oleh setiap komandan adalah membina setiap anggotanya, sehinga ketika terdapat masalah perceraian komandanlah yang menjadi konselor utama bagi anggota. Pada saat agenda mediasi pertama komandan yang akan mengonseling anggota yang bermasalah adalah komandan pleton, dimana 1 pleton membawahi 3 regu sedangkan 1 regu membawahi 12 anggota. Pada agenda mediasi kedua komandan dan wakil komandan kompi beserta istri yang akan menjadi mediator masalah rumah tangga ini. Komandan kompi memiliki tanggungjawab terhadap manggota yang lebih banyak yaitu 7 pleton atau 84 anggota.
Jika mediasi kedua masih gagal maka masih tersisa mediasi ketiga atau bisa disebut mediasi terakhir didalam Markas Komando Brimob Polda Jawa Barat dimana yang menjadi mediator adalah komandan dan wakil komandan batalyon beserta istri selaku Bhayangkari. Ketika kedua pasangan bersih kukuh untuk mengakhiri hubungan dengan perceraian komandan akan memberi peringatan mengenai dampak yang akan terjadi pada kepangkatan anggota. 2) Provost, merupakan Divisi Profesi dan Pengamanan (Div.Propam) yang dipakai oleh organisasi Polri pada salah satu struktur organisasinya sesuai Kep. Kapolri Nomor: Kep/54/X/2002. Provost mempunyai tanggungjawab kepada masalah pembinaan profesi dan pengamanan di lingkungan internal organisasi Polri dan ditugaskan sebagai penyelidik dalam menegakan disiplin dan ketertiban dengan cara mengawasi dan mengusut anggota pada lingkup kepolisian yang bermasalah. 3) Perencanaan dan Administrasi (Renmin) merupakan salah satu bagian dari Biro Operasi (Roops) yang menjadi unsur pengawas dan pembantu pimpinan pada tingkat Polda yang berada dibawah Kapolda. Renmin bertugas menyusun
86 Irsyad : Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, dan Psikoterapi Islam 08(1) (2020) 77-96 perencanaan program kerja dan anggaran manajemen sarpras, personel dan kinerja serta mengeola keuangan dan pelayanan ketatausahaan dan urusan dalam lingkungan Roops. 4) Badan Penasehatan perkawinan perselisihan perceraian dan rujuk (BP4R), merupakan kegiatan siraman rohani dan pencerahan di bidang keagamaan, yang dilaksanakan secara rutin mingguan guna membina mental dan spiritual personel kepolisian
Oleh karenanya Binrohtal menjadi salah satu seksi mediator yang diikutsertakan dalam proses sidang mediasi berfungsi sebagai penasehat dari sudut pandang keagamaan sesuai keyakinan yang dianut oleh masing-masing anggota kepolisian. Adapun pelaksana tugas Binrohtal dilakukan oleh personel kepolisian yang berkompeten di bidang keagamaan atau anggota yang ditunjuk sesuai refrensi atasan karena dianggap mampu mengemban tugas tersebut.
Penyelesaian masalah perkawinan ini diberikan kepada anggota yang sedang memiliki konflik didalam rumah tangganya dan merasa sudah tidak dapat diselesaikan secara internal keluarga, sehingga harus diselesaikan dengan melibatkan pihak ketiga yakni mediator. Langkah-langkah yang dilakukan oleh para mediator di Markas Komando Satuan Brimob Polda Jawa Barat dalam memediasi keluarga yang memiliki konflik dan akan bercerai melalui tiga kali tahapan proses mediasi dan dilakukan saluran hirarki yakni sesuai urutan tingkatan/jenjang jabatan.
Tahap pertama, pada sesi tahap ini provost akan meminta penjelasan awal tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi pada pasangan suami istri yang bermasalah tersebut. Selanjutnya pihak provost menyamakan masing-masing jawaban dari suami dan istri tersebut, hal ini dilakukan karena pada tahap pertama setiap pasangan dikonseling dengan waktu dan tempat yang berbeda, Setelah usai sesi konseling maka konseli harus menuliskan hal yang sama sesuai yang diceritakannya pada Berita Acara Perkara (BAP).
Sidang mediasi tahap kedua, dilaksanakan pada kurun waktu kurang lebih tiga bulan setelah sidang mediasi pertama berlangsung. Sesi tahap kedua ini dilaksanakan apabila belum ada penyelesaian permasalahan rumah tangga pada sesi tahap sebelumnya. Seperti halnya pada tahap pertama yang mengikuti sidang mediasi tahap kedua hanya pihak suami dan istri saja, namun karena sudah diketahui sumber dari konflik keluarga tersebut, maka pihak mediator akan memberi beberapa jalan keluar untuk tetap mempertahankan hubungan perkawinan pasangan tersebut. Pada mediasi tahap kedua ini tim mediator mengagendakan untuk kunjungan kerumah (Home Visit) ke pihak suami istri yang bermasalah guna melakukan pendekatan secara kekeluargaan dan sifatnya lebih santai sehingga jauh dari kesan formal kedinasan, home visit secara lebih intens dilakukan khususnya pada pihak-pihak yang tidak menghadiri sidang mediasi yang telah dijadwalkan.
Irsyad : Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, dan Psikoterapi Islam 08(1) (2020) 77-96 87 1) Mediator berkunjung ke pihak pasangan yang bermasalah guna bertemu dan malakukan pendekatan secara personal namun mediator tetap menjaga sikap netral terhadap masing-masing pihak.; 2) Karakteristik yang ditampilkan tim mediator adalah terpadu, sesuai kata dengan perbuatan dan konsisten;3) Mediator harus dapat secara akurat dan memahami permasalahan yang timbul serta mempunyai empati terhadap pada pasangan tersebut; 4) Mediator tidak memberikan penilaian yang timpang terhadap salah satu pihak yang bermasalah akan tetapi mediator selalu objektif dalam memandang permasalahan yang ada. Tidakan home visit yang dilakukan oleh tim mediator Brimob Polda Jabar ini masuk kedalam teknik konseling keluarga yang menggunakan metode terapi terpusat pada klien (Client Centered).
Sidang mediasi tahap ketiga, dilaksanakan pada kurun waktu kurang lebih empat bulan setelah sidang mediasi kedua berlangsung. Pada sesi mediasi tahap ketiga yang mengikuti sidang selain pihak suami dan istri juga memanggil seluruh anggota keluarga mulai dari anak kandung pasangan suami istri juga orang tua dari masing-masing pihak suami ataupun pihak istri. Dalam proses ini mediator memberikan pertanyaan yang jauh lebih mendalam tentang perkembangan hubungan perkawinan setelah melalui jeda waktu proses mediasi sebelumnya, lebih dari itu mediator memberikan pemahaman resiko yang akan dihadapi dan konsekwensi yang akan didapatkan oleh masing-masing pihak yang bersangkutan dan keluarga.
Setelah seluruh pihak mengetahui sumber permasalahan dari konflik keluarga tersebut, maka pihak mediator satuan Brimob akan memberikan beberapa alternative solusi sebagai jalan keluar pemecahan permasalahan, guna mempertahankan hubungan perkawinan pasangan tersebut. Jalan keluar yang diberikan pun sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi. Oleh karena itu mayoritas anggota Brimob yang mengajukan permohonan perceraian pada akhirnya akan memilih rukun kembali karena dirasa akar dari permasalahan sudah dapat diselesaikan. Namun jika jalan keluar yang diberikan kepada pasangan tetap tidak menyelesaikan permasalahan, maka keputusan akhir yakni menerbitkan surat permohonan cerai guna dirujukkan ke Polda dan proses selanjutnya akan dilakukan oleh pihak psikologi Polda.
Upaya Mediator Dalam Memediasi Keluarga Yang Akan Bercerai
Strategi yang digunakan oleh mediator di Markas Komando Satuan Brimob dengan cara mendengarkan dari masing-masing pihak, mengamati perilaku, pemetaan masalah, memberikan pandangan kedepan, memberikan nasehat pada pihak yang berkonflik, memberikan wacana sebagai jalan keluar permasalahan, memberi motivasi dan arahan, selanjutnya anggota segera melaksanakan tindakan nyata sebagai wujud keseriusan anggota dalam memperbaiki hubungan rumah tangga guna keluar dari permasalahan keluarga.
88 Irsyad : Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, dan Psikoterapi Islam 08(1) (2020) 77-96 mendengarkan pihak yang bermasalah, baik dari pihak suami maupun istri untuk menyampaikan keluhan-keluhan dan permasalahan yang dihadapi dalam keluarga tersebut. Dengan cara mendengarkan maka mediator dapat mengetahui inti permasalahan yang menjadi penyebab timbulnya konflik sehingga mediator dapat mengklasifikasikan permasalahan yang terjadi (Lutfi, 2008:71) Langkah ini sangat diperlukan untuk mengambil tindakan pemetaan sebagai langkah lanjutan mediasi. Dalam sesi mendengarkan, mediator juga melakukan pengamatan terhadap ekspresi wajah dan gerak-gerik pasangan yang mengalami konflik. Hal ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui seberapa besar masalah tersebut mempengaruhi kehidupan pasangan anggota yang berkonflik dalam rumah tangganya, artinya mediator menangkap segala permasalahan yang terjadi dari pihak-pihak yang berkonflik, untuk selanjutnya mengambil kesimpulan dan mengklasifikasikan masalah agar nantinya tidak ada kesalahan dalam mengambil tindakan.
Diberikannya juga nasehat kepada pasangan yang berkonflik terkait dengan masalah yang dihadapi dan memberikan pemahaman tentang makna yang tersirat didalam masalahnya baik dampak positif maupun negatif yang akan ditimbulkan dari keputusan cerai tersebut, sehingga pasangan tersebut bisa bersikap lebih bijak, tenang, sabar, serta dapat berpikir secara jernih, agar tidak mengambil keputusan yang salah dan disesali kedepannya.
Setiap permasalahan yang dihadapi oleh pasangan anggota, pihak mediator memberikan wacana tindakan dan alternatif jalan keluar sebagai pemecahan permasalahan yang ada. Oleh karena itu pengklasifian masalah diperlukan guna mendapatkan solusi yang tepat dan benar. Secara keseluruhan motivasi juga di berikan guna membangun mental pasangan anggota agar dapat mengembangkan potensi yang ada pada diri masing-masing pasangan, sehingga mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Selanjutnya mediator juga memberikan arahan tindakan apa yang harus segera dilakukan oleh pihak-pihak yang berkonflik sebagai bukti nyata penyelesaian permasalahan.
Berdasarkan pendapat dari tim mediator Brimob, (Bapak IPTU Ali Mahmudi (Provost Satuan Brimob), Bapak Bripka Asep Juhana (Provost Densus Gegana), Bapak H. Agus Nurkholiq S.Ag., SE., MA. (Ketua BP4R Rohaniawan) pada tenggang waktu yang berbeda), mengungkapkan bahwa penyabab terjadinya perceraian ada bermacam-macam, tetapi hanya enam macam masalah penyebab perceraian yang sering muncul dalam konflik rumah tangga pasangan suami-istri yang direkomendasikan kepada peneliti, diantaranya yaitu: masalah ekonomi, adanya orang ketiga, gagal komunikasi dalam keluarga namun over media sosial, tidak terpenuhi hak suami istri, nikah sirih dibelakang istri, hyper sex. Berikut penyebab perceraian dan solusi yang diberikan oleh mediator kepada pasangan yang berkonflik dapat dilihat pada tabel 1.
Irsyad : Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, dan Psikoterapi Islam 08(1) (2020) 77-96 89 Tabel 1.
Pemetaan Kasus dan Solusi Masalah Penyebab Perceraian
Penyebab Perceraian Solusi
Masalah Ekonomi Mediator memberikan pandangan tentang posisi klien dengan adanya masalah tersebut,
Memberikan pekerjaan sampingan diluar jam dinas kepolisian, Memberikan saran agar istri pun ikut andil dalam mengatur keuangan secara bijak,
Bahkan alangkah lebih baik jika istri membuka usaha sampingan untuk menopang kebutuhan rumah tangga sekunder/tersier. Adanya orang ketiga Mediator memberikan pandangan tentang permasalahan yang
sedang dihadapi konseli dalam sudut pandang suami maupum istri, Mensehati pihak yang melakukan kesalahan, bahwa suami atau istri yang memiliki PIL/WIL itu akan menjadi pertanggungjawaban akherat,
Memberikan arahan untuk intropeksi diri, agar selalu melakukan perbaikan diri,
Memotivasi untuk membangun mental pasangan agar sabar dalam menghadapi masalah,
Memperbaiki komunikasi,
Memberikan pengertian pada pasangan,
Memberi hukuman disiplin kepada anggota yang bersalah, Menjaga kerahasiaan pasangan.
Gagal komunikasi dalam keluarga namun over dalam media sosial
Mencurahkan perhatian dan kepedulian kepada setiap anggota keluarga dirumah,
Menanamkan rasa saling percaya kepada pasangan,
Menciptakan quality time agar keluarga lebih harmonis dan mesra, Mengurangi intensitas bermain media sosial dan lebih
mencurahkan waktu untuk keluarga. Tidak terpenuhi hak
suami-istri Menasehati pasangan tentang hak dan kewajiban suami-istri, Memberikan arahan kepada pasangan untuk saling terbuka dalam segala hal antara suami-istri,
Meluangkan waktu berkumpul bersama keluarga, Memberikan perhatian dan saling menghargai. Nikah sirih diam-diam Menasehati istri agar bersabar,
90 Irsyad : Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, dan Psikoterapi Islam 08(1) (2020) 77-96
Menindak tergas anggota yang terbukti melakukan kesalahan, Diharuskan untuk memutuskan hubungan dengan istri sirih dan kembali pada istri pertama,
Memberikan motivasi kepada pasangan untuk tetap melakukan kewajibannya,
Memberikan arahan untuk memperbaiki diri sifat, dan sikap yang kurang baik.
Hiper seks Memberikan nasehat untuk mengalihkan hasrat syahwatnya ke kegiatan dan hal yang lebih positif seperti olahraga,
Memberikan arahan sesuai dengan hukum islam seperti meningkatkan kegiatan spiritual,
Memberikan solusi atau fatwa sesuai dengan hukum islam menggunakan dasar Al-Qur'an dan Sunnah yang memiliki konsekuensi tegas dan bersifat mutlak sesuai syariat. Sumber: Hasil Penelitian
Penyebab perceraian dan solusi yang diberikan oleh mediator kepada pasangan yang berkonflik sebagaimana dalam tabel 1 menunjukan bahwa setiap permasalahan akan ditangani dengan cara dan solusi yang berbeda.
Faktor Penghambat dan Faktor Pendukung Mediasi
Mufida Ch. (2013: 67) mengemukakan dalam melaksanakan kegiatan mediasi untuk pasangan yang akan bercerai tentu instansi Brimob menemukan beberapa faktor kegagalan, penghambat dan pendukung didalam pelaksanannya. Faktor yang menyebabkan proses mediasi gagal dalam perkara perceraian adalah tidak hadirnya para pihak dalam forum mediasi, tidak adanya keinginan dari para pihak untuk menempuh jalur mediasi sebagai upaya mempertahankan keutuhan rumah tangga, sang suami sudah memberi talak 3 kepada istri dan sudah siap menerima semua resiko dan hukuman dari instansi.
Faktor yang menghambat proses mediasi dalam perkara perceraian diantaranya minimnya sarana dan pra sarana yang dimiliki oleh instansi Brimob Polda Jawa Barat (ruangan khusus mediasi, konselor yang ahli di bidangnya), adanya perasaan malu atau minder bagi keluarga yang akan bercerai sehingga ada sebagian yang tidak terbuka dengan mediator mengenai permasalahannya, kurangnya perhatian dan antusias para keluarga yang akan bercerai didalam mengikuti proses mediasi tersebut. Dan Faktor pendukung proses mediasi dalam perkara perceraian salah satunya karena Brimob memiliki berbagai aturan tentang nikah talak cerai dan rujuk sesuai Perkap Nomor 9 tahun 2010 untuk setiap anggotanya, sehingga dapat mengendalikan terjadinya peningkatan kasus
Irsyad : Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, dan Psikoterapi Islam 08(1) (2020) 77-96 91 perceraian atau kedua belah pihak yang berselisih masih mau mendengar nasehat dari mediator.
Hasil Yang Dicapai Mediasi Sebagai Proses Konseling Keluarga
Dari semua teknik konseling keluarga yang digunakan dalam memediasi, mediator telah berusaha semaksimal mungkin guna mendamaikan kembali pasangan yang sedang berkonflik, dengan cara melakukan home visit, mendiskripsikan masalah klien, memberikan nasehat, meminta klien untuk intropeksi diri misalnya memperbaiki sikap atau perbuatan yang kurang baik atau tidak disukai oleh pasangan, memberikan motivasi untuk menumbuhkan gairah hidup pasangan, memberikan pandangan tentang dampak yang akan ditimbulkan dari masalah tersebut baik dampak positif atau negatif, namun jika hasil akhirnya tetap perpisahan yang menjadi solusi, maka mediator tidak melarangnya karena semua keputusan berada di tangan keluarga tersebut. Dibuktikan dengan data yang masuk pada Kepala Sub. Bagian Perencanaan dan Administrasi (Subbag. Renmin) dalam pelaksanaan tugasnya dibantu oleh Urusan Administrasi (Urmin) bertugas menyelenggarakan kegiatan administrasi umum personel dan materi logistik menunjukan bahwa kasus permohonan peceraian sejak tahun 2015 hingga 2017 terdapat terdapat 65 pasangan yang berkonflik dengan berbagai latar belakang kasus yang berbeda-beda dari yang ringan hingga yang dianggap berat. Setelah melewati beberapa tahap konseling atau mediasi perceraian hasilnya 11 pasangan yang tetap memutuskan untuk cerai dan 54 pasangan memilih untuk rujuk/berdamai lagi, hal itu terjadi juga atas campur tangan pihak BP4R dan
Provost bidang seksi penyidikan (Riksa) dalam menangani masalah keluarga. Setiap keputusan akan membuahkan hasil berupa resiko dan konsekwensi, termasuk setiap pasangan yang melakukan perceraian akan merasakan dampak yang harus ditanggung oleh masing-masing pihak dari keluarga, Jika hubungan pernikahan putus karena perceraian maka berakibat pernikahan jadi dihapus, harta bersama dibagi dua antara suami istri, istri menjadi lebih mandiri, memberikan tunjangan nafkah kepada mantan istri dan anak-anak sesuai putusan hakim selama dia belum menikah, kekuasaan orang tua terhadap anak berakhir dan anak akan berubah menjadi dibawah perwalian, hakim menentukan wali bagi anak-anak yang masih dibawah umur, Jika pihak anggota Brimob yang dianggap bersalah atas perceraian ini, maka hukuman disiplin akan diterapkan. Mulati (2012: 90-91).
Pengaruh negatif juga akan muncul dan diderita oleh semua pihak setiap yang merasakan perceraian, diantaranya rasa trauma karena perceraian seringnya lebih besar dari pada dampak kematian, karena sebelum dan pasca perceraian sudah timbul rasa sakit dan tekanan emosional serta mengakibatkan celaan sosial. Dalam setiap kasus perceraian anak selalu menjadi korban dalam perpecahan hubungan orang tuanya karena dalam kesehariannya anak akan merasa kaget, sedih, cemas, marah atau bingung pada saat yang bersamaan. Anak juga akan lebih
92 Irsyad : Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, dan Psikoterapi Islam 08(1) (2020) 77-96 mungkin mengalami masalah dalam bersosialisasi, walaupun sebagian anak juga mungkin bisa untuk melewati masa stress dan justru tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Efek yang paling jelas dari perceraian yaitu perubahan peran dan status seseorang yaitu dari istri menjadi janda dan dari suami menjadi duda dan hidup sendiri.
Begitu juga dengan peran masing-masing istri harus lebih mampu menghidupi diri sendiri (mandiri) bahkan apabila mendapatkan hak asuh anak terutama anak kandung yang masih dibawah umur maka istri akan mempunyai peran ganda baik sebagai ibu sekaligus sebagai bapak untuk anaknya, begitu pula sebaliknya. Kehilangan pasangan karena perceraian menimbulkan masalah bagi pasangan itu sendiri, hal ini lebih menyulitkan lebih khususnya wanita, wanita yang diceraikan suaminya akan mengalami kesepian yang mendalam, bagi wanita yang bercerai masalah sosial lebih sulit diatasi dibandingkan bagi pria yang bercerai. Secara tidak langsung orang tua akan merasakan hawa kesedihan yang menimpa anaknya pasca perceraian, biasanya mereka merasa gagal dalam mengantarkan anaknya untuk menemukan pasangan sehidup semati.
Sebuah perceraian memang sebaiknya tidak perlu terjadi, tetapi jika didalam suatu hubungan pernikahan sudah tidak dapat dipertahankan lagi maka lebih baik dilakukan perceraian. Amir Syarifuddin, (2006: 201) Karena bisa jadi didalamnya terdapat hikmah yang dapat dipetik untuk menjalani kehidupan yang lebih baik, hikmah yang dimaksud diantaranya, Terhindar dari mala petaka rumah tangga yang lebih besar yang dapat merugikan salah satu atau kedua belah pihak baik suami atau istri terlebih buah hati. Tidak membiarkan perbuatan aniaya yang dilakukan oleh satu pihak secara berlarut-larut yang dapat mencelakakan mereka. Menghindari sikap bermusuhan yang berkepanjangan. Menyadarkan suami untuk tidak sembarangan mengucapkan kata talak atau perkataan yang menyerupai itu. Menyadarkan kedua belah pihak, suami istri agar selalu rukun damai menjaga ikatan pernikahan demi terwujudnya keluarga sakinah mawadahwarahma.
Terdapat keterbatasan dalam penampilan data angka secara rinci dan otentik dalam laporan ini dikarenakan kasus perceraian pada keluarga anggota Brimob masuk kedalam klasifikasi yang bersifat rahasia, namun sumber data secara garis besar yang bisa didapatkan dari pihak Renmin Satuan Brimob yang menunjukan tingkat keberhasilan pada proses mediasi perceraian menggunakan metode konseling keluarga ini sekitar 80% dari jumlah kasus yang ditangani. Sehingga dapat dikategorikan bahwa tim mediator berhasil mengembalikan keluarga pasangan yang bermasalah untuk bersatu kembali serta melanjutkan hubungan pernikahannya dan mendapatkan jalan keluar dari segala sumber permasalahan yang dihadapi, sedangkan 20% lebihnya tetap melanjutkan proses perceraian.
Irsyad : Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, dan Psikoterapi Islam 08(1) (2020) 77-96 93 PENUTUP
Setiap keputusan yang diambil akan membuahkan hasil berupa resiko dan konsekwensi, termasuk setiap pasangan yang memilih kembali rujuk atau tetap melakukan perceraian Dari materi yang telah dipaparkan diatas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Pertama, Konseling perkawinan merupakan proses pemberian bantuan terhadap orang yang memiliki masalah dengan perkawinannya agar dalam menjalankan kehidupan perkawinan dan rumah tangga selaras dengan ketentuan Allah SWT untuk membentuk keluarga sakinah mawadah warohma sehingga dapat mencapai kebahagiaan hidup dunia dan akherat. Namun apabila perkawinan dirasa sudah tidak dapat dipertahankan lagi maka perceraian menjadi jalan keluar dan penyelesaian dari permasalahan rumah tangga. Adapun tahapan mediasi yang dilakukan terhadap keluarga anggota Brimob yang bermasalah dengan melalui tiga tahapan proses mediasi sesuai urutan tingkatan dan jenjang jabatan. Dari ketiga tahapan mediasi yang dilakukan tersebut masing-masing memberikan jeda waktu kurang lebih tiga bulan, empat bulan hingga lima bulan seiring dengan melihat ada atau tidaknya perkembangan perubahan hubungan bagi pasangan yang berkonflik.
Kedua, Upaya mediator dalam memediasi keluarga yang akan bercerai menggunakan strategi mediasi sebagai berikut: mendengarkan dari masing-masing pihak, mengamati ekspresi wajah dan gerak-gerik, pemetaan masalah pemberian nasehat pada pihak yang berkonflik, membantu memberikan wacana sebagai jalan keluar permasalahan serta memberi motivasi dan arahan untuk tindakan nyata, tak luput juga pemberian hukuman sesuai prosedur bagi anggota yang terbukti bersalah. Sebagaimana berdasarkan pemetaan penyebab kasus yang sering timbul dan solusi pemecahan masalah dalam kasus perceraian dikarenakan oleh beberapa masalah, salah satu contoh permasalahan yakni masalah ekonomi, faktor ini sering menjadi pemicu dalam keretakan rumah tangga oleh karena itu wacana solusi yang ditawarkan dari instansi Brimob yakni dengan memberikan kebijakan untuk memperoleh pekerjaan sampingan diluar jam dinas kepolisian yang bertujuan untuk membantu menopang kehidupan biaya rumah tangga anggota. Banyak juga solusi yang ditawarkan untuk kasus lain, namun permasalahan ekonomilah yang sering muncul di Brimob Polda Jabar.
Ketiga, Faktor Yang menyebabkan proses mediasi gagal dalam perkara perceraian yakni dengan tidak hadirnya salah satu pihak dalam forum mediasi dikarenakan tidak adanya keinginan dari para pihak untuk menempuh jalur mediasi sebagai upaya mempertahankan keutuhan rumah tangga, disamping itu sikap suami yang sudah memberi talak tiga kepada istri dan sudah siap menerima resiko dan hukuman dari instansi juga memberikan kontribusi atas gagalnya proses mediasi. Sedangkan faktor penghambat proses mediasi dalam perkara perceraian dipengaruhi oleh minimnya sarana dan pra sarana yang dimiliki oleh instansi Brimob baik berupa ruangan khusus mediasi sekaligus tenaga ahli di
94 Irsyad : Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, dan Psikoterapi Islam 08(1) (2020) 77-96 bidangnya sebagai konselor. Selain itu adanya perasaan malu bagi keluarga yang bercerai sehingga tidak terbuka dengan mediator mengenai permasalahannya serta kurangnya perhatian dan antusias para keluarga yang akan bercerai dalam mengikuti proses mediasi tersebut.Adapun faktor pendukung mediasi dipengaruhi oleh adanya Perkap Nomor 9 tahun 2010 yang mengatur perihal nikah, talak, cerai dan rujuk sehingga menghambat terjadinya kasus perceraian yang terjadi di kalangan keluarga Brimob, selain itu juga bagi kedua pihak yang berselisih masih mau mendengar nasihat mediator sangat membantu gagalnya proses perceraian.
Keempat, Hasil pencapaian mediasi sebagai proses konseling keluarga yang dilakukan oleh Mako Satuan Brimob Polda Jawa Barat dalam menanggulangi kasus perceraian dengan menggunakan metode konseling keluarga ini sekitar 80% berhasil rujuk dari seluruh jumlah kasus yang ditangani. Sehingga dari upaya tersebut mediator berhasil mengembalikan pasangan dari keluarga yang bermasalah untuk bersatu kembali serta melanjutkan hubungan pernikahannya dan mendapatkan jalan keluar dari segala sumber permasalahan yang dihadapi. Sedangkan 20% selebihnya tetap melanjutkan proses perceraian sehingga terdapat resiko dan konsekwensi yang besar harus ditanggung oleh masing-masing pihak serta keluarga.
DAFTAR PUSTAKA
Afdal, A. (2015). Pemanfaatan Konseling Keluarga Eksperensial untuk Penyelesaian Kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga. Jurnal EDUCATIO: Jurnal Pendidikan Indonesia, 1(1). https://doi.org/10.29210/1201528
Anggoro. (2010). Mediasi keluarga dan tantangannya bagi mediator, diakses 29 November 2013, dari http://mediator-anggoro.blogspot.com/
2012/03/mediasi-keluarga-dan-tantangannya-bagi_html.
Butsainah, A. (2005). Menyingkap Tabir Perceraian. Jakarta, Pustaka AlSofwa. LAILI, F. M. (2015). Penerapan Konseling Keluarga untuk mengurangi
kecanduan Game online pada siswa kelas VIII SMP Negeri 21
Surabaya. Jurnal BK UNESA, 5(1).
https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/jurnal-bk-unesa/article/view/10396/10144
Lutfi, M. (2008). Dasar-Dasar Bimbingan Dan Penyuluhan (Konseling) Islam, Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Sari, A. (2016). Konseling Keluarga untuk Mencegah Perceraian. Jurnal EDUCATIO: Jurnal Pendidikan Indonesia, 2(1). https://doi.org/ 10.29210/12016253
Siregar, R. (2015). Urgensi konseling keluarga dalam menciptkan keluarga sakinah. HIKMAH: Jurnal Ilmu Dakwah Dan Komunikasi Islam, 2(1), 77-91. http://repo.iain-padangsidimpuan.ac.id/262/1/ Risdawati% 20Siregar. pdf
Irsyad : Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, dan Psikoterapi Islam 08(1) (2020) 77-96 95 Sopyan, Y. (2012). Islam Negara: Transformasi Hukum Perkawinan Islam dalam Hukum
Nasional, Jakarta: Wahana Seseta Intermedia.
Sumarwiyah, S., Zamroni, E., & Hidayati, R. (2015). Solution Focused Brief Counseling (SFBC): Alternatif Pendekatan dalam Konseling Keluarga. Jurnal Konseling GUSJIGANG, 1(2). https://doi.org/10. 24176/jkg.v1i2.409