• Tidak ada hasil yang ditemukan

Team project 2017 Dony Pratidana S. Hum Bima Agus Setyawan S. IIP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Team project 2017 Dony Pratidana S. Hum Bima Agus Setyawan S. IIP"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

         

Hak cipta dan penggunaan kembali:

Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menggubah,

memperbaiki, dan membuat ciptaan turunan bukan untuk

kepentingan komersial, selama anda mencantumkan nama

penulis dan melisensikan ciptaan turunan dengan syarat

yang serupa dengan ciptaan asli.

Copyright and reuse:

This license lets you remix, tweak, and build upon work

non-commercially, as long as you credit the origin creator

and license it on your new creations under the identical

terms.

(2)

PENGARUH KEPUTUSAN INVESTASI, KEPUTUSAN

PENDANAAN, KEBIJAKAN DIVIDEN, DAN PROFITABILITAS

TERHADAP NILAI PERUSAHAAN

(Studi pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia periode 2011-2013)

SKRIPSI

Diajukan guna Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (S.E.)

Valerina 12130210021

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS MULTIMEDIA NUSANTARA

TANGERANG

(3)

PENGESAHAN SKRIPSI

PENGARUH KEPUTUSAN INVESTASI, KEPUTUSAN

PENDANAAN, KEBIJAKAN DIVIDEN, DAN PROFITABILITAS

TERHADAP NILAI PERUSAHAAN

(Studi pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di

Bursa Efek Indonesia periode 2011-2013)

Oleh

Nama : Valerina NIM : 12130210021 Fakultas : Ekonomi Program Studi : Akuntansi

Telah diujikan pada tanggal 4 Februari 2016, dan dinyatakan lulus

dengan susunan penguji sebagai berikut Ketua Sidang Penguji

Rosita Suryaningsih, S.E., M.M. Meiriska Febrianti, S.E., Ak., M.E., B.K.P., C.A. Pembimbing

\

Chermian Eforis, S.E., MBA. Mengetahui,

Ketua Program Studi Akuntansi

(4)

HALAMAN PERNYATAAN

Dengan ini saya:

Nama : Valerina NIM : 12130210021 Program Studi : Akuntansi

Menyatakan bahwa saya telah menyelesaikan skripsi dengan judul “Pengaruh Keputusan Investasi, Keputusan Pendanaan, Kebijakan Dividen, dan Profitabilitas terhadap Nilai Perusahan”. Skripsi ini merupakan hasil kerja saya sendiri, dan saya tidak melakukan plagiat. Seluruh kutipan dari karya ilmiah dan buku yang digunakan pada penelitian ini telah dicantumkan sumbernya di Daftar Pustaka.

Jika dikemudian hari terbukti ditemukan terdapat penyimpangan dalam proses pembuatan skripsi ini, saya bersedia menerima konsekuensi dinyatakan tidak lulus.

Tangerang, 4 Februari 2016

(5)

“If you can dream

it,

(6)
(7)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bukti empiris mengenai pengaruh keputusan investasi, keputusan pendanaan, kebijakan dividen dan profitabilitas terhadap nilai perusahaan. Nilai perusahaan penting untuk diketahui oleh pemegang saham dan perusahaan karena mengindikasikan kinerja keuangan dari perusahaan.

Sampel dalam penelitian ini dipilih menggunakan metode purposive sampling dan data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini dianalisa dengan menggunakan metode regresi linier berganda. Sampel dalam penelitian ini adalah 21 perusahan sektor industri dasar dan kimia, sektor aneka industri, dan sektor industri brang konsumsi yang terdaftar di BEI berturut-turut periode 2011-2013, menerbitan laporan keuangan yang berakhir pada 31 Desember, menggunakan mata uang Rupiah, membagikan dividen tunai berturut-turut pada periode pelaporan, tidak melakukan

share split dan mengalami pertumbuhan aset selama periode 2011-2013.

Hasil penelitan ini adalah (1) keputusan investasi berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan (2) keputusan pendanaan berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan (3) kebijakan dividen berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan (4) profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan, dan (5) keputusan investasi, keputusan pendanaan, kebijakan dividen, dan profitabilitas secara simultan berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.

Kata kunci: keputusan investasi, keputusan pendanaan, kebijakan dividen, profitabilitas, nilai perusahaan.

(8)

ABSTRACT

The objective of this research is to obtain empirical evidence about the effect of investment decisions, financing decisions, dividend policy, and profitability toward the value of the company. The value of company is important to known by shareholders and company because it indicates the financial performance of company.

Sample in this research was selected by using purposive sampling method and the secondary data used in this research was analyzed by using multiple regression method. The samples in this research were 21 firm has been registered as basic industry and chemicals, miscellaneous industry, and consumer goods industry in BEI for the year 2011-2013 consecutively, published their financial reports ended in December 31, distribute cash dividends consecutively, did not do share split, and asset growth during 2011-2013.

Results of this research was (1) investment decision significantly effect on the value of the company (2) financing decision significantly effect on the value of the company (3) dividend policy significantly effect on the value of the company (4) profitability significantly effect on the value of the company (5) investment decisions, financing decisions, dividend policy, and profitability simultaneously significantly effect on the value of company.

Keywords: investment decisions, financing decisions, dividend policy, and profitability, the value of company.

(9)

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat, dan kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “PENGARUH KEPUTUSAN INVESTASI, KEPUTUSAN PENDANAAN, KEBIJAKAN DIVIDEN, DAN PROFITABILITAS TERHADAP NILAI PERUSAHAAN” tepat pada waktunya. Skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana (S.E).

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan bimbingan dan pengarahan yang diberikan oleh berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Tuhan Yang Maha Esa atas Rahmat dan Kasih-Nya yang begitu besar sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kerja magang ini.

2. Kepada orang tua dan keluarga yang selalu memberikan dukungan moral maupun materi sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini.

3. Ibu Chermian Eforis, S.E., MBA. selaku dosen pembimbing yang selalu memberikan arahan, nasihat, dukungan, dan kesabaran selama proses pembuatan skripsi ini.

4. Ibu Dra. Ratnawati Kurnia, Ak., M.Si., C.P.A., C.A., selaku Ketua Program Studi Akuntansi Universitas Multimedia Nusantara yang telah memberikan arahan dan motivasi kepada penulis untuk meneyelesaikan skripsi ini.

(10)

5. Sahabat di kampus; Hansen Viriya, Viola Tanjung, Cynthia Iskandar, Fiola Christaria, Michelle Kosasih, dan Laurensia Martanta yang telah memberikan dukungan selama penyusunan skripsi.

6. Teman terdekat penulis yang memberikan dukungan; Wulan Lestari, Angelina, Sharon, Ignatia Jessica, Maria Jeanne, dan Viani Saputra.

7. Keluarga besar HIMTARA dan teman-teman Akuntansi UMN angkatan 2012 yang selalu mendukung dan memberikan semangat kepada penulis.

8. Seluruh pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung dalam pelaksanaan kerja magang dan penyelesaian skripsi.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, masih terdapat banyak kekurangan dan kelemahan yang disebabkan oleh keterbatasan penulis. Untuk itu dengan segala kerendahan hati, penulis bersedia menerima kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak. Selain itu, penulis juga berharap laporan magang ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan pihak-pihak yang membutuhkan.

Akhir kata, kepada semua pihak yang telah membantu terwujudnya skripsi ini, semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan berkat dan karunia-Nya. Amin.

Tangerang, 4 Februari 2016

(11)

DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN TIDAK MELAKUKAN PLAGIAT

Abstrak ... i

Kata Pengantar ... ii

Daftar Isi ... v

Daftar Tabel ... viii

Daftar Gambar ... ix BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Batasan Masalah ... 12 1.3 Rumusan Masalah ... 13 1.4 Tujuan Penelitian ... 13 1.5 Manfaat Penelitian ... 14 1.6 Sistematika Penulisan ... 15

BAB II TELAAH LITERATUR ... 17

2.1 Teori Sinyal (Signalling Theory) ... 17

2.2 Teori Keagenan (Agency Theory) ... 18

2.3 Trade-off Theory ... 19

2.4 Nilai Perusahaan ... 20

(12)

2.6 Keputusan Pendanaan ... 27

2.7 Kebijakan Dividen ... 29

2.8 Profitabilitas ... 35

BAB III METODE PENELITIAN ... 40

3.1 Gambaran Umum Objek Penelitian ... 40

3.2 Metode Penelitian ... 41

3.3 Variabel Penelitian ... 41

3.3.1 Variabel Dependen ... 41

3.3.2 Variabel Independen ... 42

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 46

3.5 Teknik Pengambilan Sampel ... 46

3.6 Teknik Analisis Data ... 47

3.6.1 Statistik Deskriptif ... 47

3.6.2 Metode Analisis Data ... 48

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ... 54

4.1 Objek Penelitian ... 55

4.2 Analisis dan Pembahasan ... 57

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 71

5.1 Simpulan ... 71

5.2 Keterbatasan ... 74

5.3 Saran ... 75

(13)

DAFTAR LAMPIRAN ... 80 LAMPIRAN

(14)

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Rincian Pengambilan Sampel Penelitian ... 55

Tabel 4.2 Jumlah Sampel Perusahaan ... 57

Tabel 4.3 Hasil Statistik Deskriptif ... 58

Tabel 4.4 Hasil Uji Normalitas ... 60

Tabel 4.5 Hasil Uji Multikolonieritas ... 61

Tabel 4.6 Hasil Uji Autokorelasi ... 62

Tabel 4.7 Hasil Uji Koefisien Determinasi ... 64

Tabel 4.8 Hasil Uji Statistik F ... 65

(15)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Model Penelitian ... 39 Gambar 4.1 Hasil Uji Heterokedastisitas ... 63

         

(16)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada tahun 2015, Indonesia menghadapi AFTA (Asean Free Trade Area), dimana tujuan AFTA adalah meningkatkan daya saing ekonomi negara ASEAN dan menarik investor asing serta meningkatkan perdagangan antarnegara ASEAN. Dampak dari AFTA adalah negara-negara di ASEAN semakin mudah untuk melakukan perdagangan dan investasi di negara ASEAN lainnya. Bagi produsen, permintaan barang yang diproduksi dapat meningkat dengan adanya AFTA. Hal ini menguntungkan bagi negara ASEAN untuk meningkatkan produksi dengan menghasilkan produk yang berkualitas sehingga perusahaan dapat menghasilkan keuntungan dari penjualan produk antar negara ASEAN.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Bursa Efek Indonesia, jumlah perusahaan yang terdaftar dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yaitu pada tahun 2014 sebanyak 494 perusahaan dan pada pertengahan tahun 2015 sebanyak 514 perusahaan. Perusahaan terbagi dalam tiga sektor industri yang diklasifikasikan sebagai sektor primer, sekunder, dan tersier yang digolongkan sesuai kegiatan ekonomi masing-masing perusahaan yang terdaftar. Perusahaan yang tergolong sektor sekunder, salah satunya adalah industri manufaktur. Berdasarkan Badan Pusat

(17)

Stastistik, pertumbuhan produksi industri manufaktur triwulan II tahun 2015 naik sebesar 5,44 persen terhadap triwulan II tahun 2014. Sementara, pertumbuhan produksi industri manufaktur triwulan II tahun 2015 juga mengalami kenaikan sebesar 2,34 persen terhadap triwulan I tahun 2015.

Melihat banyaknya sektor industri manufaktur saat ini, telah menciptakan persaingan antar perusahaan. Untuk memperoleh modal, persiapan terus dilakukan oleh perusahaan untuk meningkatkan daya saing di pasar modal Indonesia. Salah satu cara untuk meningkatkan daya saing di pasar modal Indonesia yaitu dengan meningkatkan kinerja keuangan suatu perusahaan. Adanya peningkatan kinerja keuangan perusahaan maka keinginan investor untuk melakukan investasi perusahaan akan meningkat. Investasi berupa dana dari investor akan diolah untuk kegiatan operasional perusahaan yang dapat menghasilkan keuntungan sehingga menarik investor lain untuk menanamkan modal. Hal ini meningkatkan permintaan saham perusahaan sehingga harga saham menjadi lebih tinggi yang dapat meningkatkan nilai perusahaan.

Dalam melihat nilai perusahaan, investor tidak dapat dipisahkan dari informasi berupa laporan keuangan yang dikeluarkan oleh perusahaan. Investor akan melakukan berbagai analisis melalui laporan keuangan perusahaan terkait dengan keputusan untuk menanamkan modalnya. Nilai perusahaan menggambarkan kondisi tertentu yang telah dicapai oleh suatu perusahaan sebagai gambaran kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan sejak perusahaan didirikan hingga saat ini (Raharja, 2012). Nilai perusahaan dapat diukur dengan beberapa proksi diantaranya Price to

(18)

Book Value Ratio, dan Tobins Q. Penelitian Brigham dan Houston (2001) dalam

Raharja (2012) mengukur nilai perusahaan dengan proksi Price to Book Value Ratio yang menggambarkan nilai yang diberikan pasar kepada manajemen dan organisasi perusahaan sebagai sebuah perusahaan yang terus tumbuh. Sudiyatno dan Puspitasari (2010) mengukur kinerja perusahaan menggunakan Tobins Q yang dihasilkan dari penjumlahan nilai pasar saham dan nilai pasar utang dibandingkan dengan nilai seluruh modal yang ditempatkan dalam aset produksi.

Proksi yang digunakan pada penelitian ini adalah Price to Book Value (PBV) yang menggambarkan perbandingan harga saham terhadap nilai buku perusahaan. Nilai perusahaan yang diproksikan dengan rasio PBV menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menciptakan nilai perusahaan terhadap jumlah modal yang diinvestasikan. Nilai perusahaan mencerminkan seberapa besar perusahaan dapat memberikan keuntungan bagi investor. Keuntungan bagi investor yang didapat berupa capital gain dari peningkatan harga saham perusahaan. Oleh karena itu, semakin tinggi PBV maka akan menarik investor untuk menanamkan modal pada perusahaan.

Mahendra, Artini, dan Suarjaya (2012) menyatakan bahwa nilai perusahaan dapat memberikan kemakmuran pemegang saham secara maksimum apabila harga saham meningkat. Proksi PBV digunakan dalam mengukur nilai perusahaan karena persepsi investor tehadap perusahaan sering dikaitkan dengan kinerja keuangan perusahaan melalui perbandingan harga saham terhadap nilai buku perusahaan.

(19)

Salah satu faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan adalah keputusan investasi. Keputusan investasi merupakan keputusan yang diambil oleh manajemen perusahaan dalam mengalokasikan dana ke bentuk investasi yang dapat mendatangkan keuntungan di masa mendatang. Peningkatan investasi diharapkan dapat menumbuhkan perusahaan sehingga keuntungan yang dihasilkan bertambah dan meningkatkan kepercayaan investor untuk menanamkan modal pada perusahaan sehingga harga saham perusahaan akan meningkat. Kenaikan harga saham perusahaan yang melebihi nilai buku saham perusahaan akan menyebabkan rasio

PBV meningkat, sehingga nilai perusahaan juga akan meningkat.

Rakhimsyah dan Gunawan (2011), Rohman (2012), Muid (2012), Sari (2013), dan Sartini dan Purbawangsa (2014) mendapati hasil bahwa keputusan investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini mengindikasikan bahwa meningkatnya investasi yang dilakukan oleh perusahaan, maka akan berpengaruh pada meningkatnya nilai perusahaan.

Keputusan investasi dapat diukur dengan menggunakan beberapa proksi yaitu

Ratio Capital Expenditure to Book Value of Asset (CPA/BVA) dan Price Earning Ratio (PER). Penelitian Raharja (2012) menyatakan CPA/BVA dihitung melalui

pertumbuhan aset tahun ini dikurangi dengan aset tahun sebelumnya dibandingkan dengan total aset tahun sebelumnya. Sedangkan Rohman (2012) mengukur keputusan investasi dengan proksi PER yang menunjukkan perbandingan antara closing price dengan laba per lembar saham. Closing price merupakan harga penawaran terakhir dalam perdagangan saham harian.

(20)

Alat ukur yang digunakan untuk mengukur keputusan investasi dalam penelitian ini adalah Ratio Capital Expenditure to Book Value of Asset (CPA/BVA) karena proksi CPA/BVA menggambarkan peningkatan total aset dari tahun sebelumnya hingga tahun ini. Proksi ini merupakan perbandingan antara aset tahun ini dikurangi dengan aset tahun sebelumnya dibagi dengan total aset tahun sebelumnya. Proksi CPA/BVA menunjukkan bahwa peningkatan investasi berkaitan dengan nilai perusahaan yang dikonversi melalui pertumbuhan aset yang dimiliki.

Raharja (2012) menemukan bahwa keputusan investasi dengan proksi

CPA/BVA berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini

menandakan bahwa pengeluaran modal untuk melakukan penambahan investasi berupa aset yang digunakan untuk operasional perusahaan mampu meningkatkan nilai perusahaan, karena memberikan sinyal positif kepada investor tentang pertumbuhan perusahaan di masa depan.

Selain keputusan investasi, faktor lain yang mempengaruhi nilai perusahaan adalah keputusan pendanaan. Keputusan pendanaan adalah keputusan yang dibuat manajemen perusahaan atas sumber dana yang akan digunakan untuk operasional perusahaan. Sumber pendanaan dalam perusahaan dapat diperoleh dari internal berupa laba ditahan dan dari eksternal perusahaan berupa utang atau penerbitan saham baru. Laba ditahan merupakan sebagian atau keseluruhan laba yang diperoleh perusahaan yang tidak dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen. Jumlah laba yang tidak dibagi ini dapat digunakan oleh perusahaan untuk menambah

(21)

modal perusahaan. Sedangkan utang merupakan kewajiban yang harus dibayarkan perusahaan kepada pihak lain.

Investor yang ingin menanamkan modal akan memperhitungkan return yang akan diperoleh setelah berinvestasi. Salah satu cara untuk mengetahui return, investor dapat melihat dari utang yang dimiliki oleh perusahaan. Penggunaan utang dapat mengurangi pembayaran pajak sehingga biaya modal perusahaan berkurang dan laba yang dihasilkan akan meningkat. Sartini dan Purbawangsa (2014), Sukirni (2012), Rohman (2012), dan Setiani (2013) mengukur perbandingan antara utang dan ekuitas serta menemukan bahwa keputusan pendanaan berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini menanandakan komposisi utang lebih tinggi dibandingkan ekuitas dapat meningkatkan nilai perusahaan. Sementara Raharja (2012), Muid (2012), dan Sari (2013) juga mengukur perbandingan antara utang dan ekuitas serta menemukan bahwa keputusan pendanaan tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini disebabkan investor cenderung menghindari perusahaan yang memiliki jumlah utang yang tinggi karena memiliki tingkat risiko yang tinggi.

Keputusan pendanaan dapat diukur dengan menggunakan beberapa proksi yaitu Debt to Equity Ratio (DER) dan Debt to Asset Ratio (DAR). Menurut Raharja (2012) DER menunjukkan perbandingan antara pembiayaan dan pendanaan melalui utang dengan pendanaan melalui ekuitas. Sedangkan Susanto (2011) mengemukakan bahwa DAR menunjukkan seberapa besar perusahaan membiayai operasi perusahaan menggunakan aset yang didanai oleh utang perusahaan.

(22)

Keputusan pendanaan pada penelitian ini menggunakan proksi DER yang menggambarkan perbandingan total utang dengan total ekuitas. Semakin tinggi DER menunjukkan bahwa penggunaan utang dalam pendanaan lebih tinggi dibanding ekuitasnya. Penggunaan utang dapat mengurangi pembayaran pajak sehingga laba akan lebih besar dan nilai perusahaan dapat meningkat, tetapi penggunaan utang hanya akan meningkatkan nilai perusahaan sampai pada suatu titik optimal. Penggunaan utang yang berlebihan dan melewati batas akan menurunkan nilai perusahaan karena kenaikan keuntungan yang diperoleh dari penggunaan utang tidak sebanding dengan kewajiban utang bunga yang harus dibayarkan. Dengan adanya penggunaan utang pada struktur modal untuk kegiatan operasional dan investasi perusahaan, akan mempercepat pertumbuhan perusahaan dan hal ini membuat investor tertarik untuk membeli saham pada perusahaan sehingga harga saham perusahaan akan meningkat. Kenaikan harga saham perusahaan melebihi nilai buku saham perusahaan akan menyebabkan rasio PBV meningkat sehingga nilai perusahaan juga akan meningkat. DER digunakan sebagai proksi keputusan pendanaan karena mengukur penggunaan utang dan ekuitas perusahaan sehingga dapat mengetahui struktur permodalan perusahaan antara proporsi utang dan ekuitas.

Rohman (2012) melakukan penelitian terkait keputusan pendanaan dengan proksi DER berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini menandakan bahwa investor cenderung melihat penggunaan utang perusahaan terhadap ekuitas yang dimiliki perusahaan.

(23)

Faktor lainnya yang mempengaruhi nilai perusahaan adalah kebijakan dividen. Kebijakan dividen merupakan kebijakan perusahaan dalam mengambil keputusan untuk membagikan laba sebagai dividen atau menginvestasikan kembali sebagai modal dalam perusahaan. Dividen merupakan pembagian laba kepada pemegang saham berdasarkan banyaknya saham yang dimiliki oleh pemegang saham yang melakukan investasi terhadap perusahaan. Pembagian dividen merupakan salah satu alasan bagi investor untuk menanamkan investasi dalam suatu perusahaan.

Kebijakan dividen terkait dengan seberapa besar keuntungan yang akan diperoleh investor berupa dividen yang dapat menentukan kesejahteraan pemegang saham. Semakin besar dividen yang dibagikan oleh perusahaan kepada investor dari laba yang dihasilkan maka investor akan lebih tertarik untuk menginvestasikan dana pada perusahaan. Bertambahnya investor yang mengivestasikan dananya pada perusahaan maka harga saham akan meningkat, dan dengan meningkatnya harga saham tersebut maka nilai perusahaan akan meningkat.

Artini (2011), Raharja (2012), Muid (2012), dan Sari (2013) mendapati hasil bahwa kebijakan dividen berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini menunjukan bahwa apabila perusahaan merencanakan untuk membagikan labanya kepada para pemegang saham dalam bentuk dividen daripada menahannya dalam bentuk capital gain maka investor akan lebih tertarik menginvestasikan dananya pada perusahaan yang membagi labanya secara konsisten. Sedangkan penelitian Sukirni (2012) mendapati hasil kebijakan dividen berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Sementara penelitian yang

(24)

dilakukan Rohman (2012) dan Mardiyati, Ahmad, dan Putri (2012) menyatakan terdapat pengaruh negatif dan tidak signifikan antara kebijakan dividen dan nilai perusahaan.

Kebijakan dividen pada penelitian ini diukur dengan menggunakan proksi

Dividend Payout Ratio (DPR) melalui perbandingan jumlah dividen per lembar

saham dengan keuntungan yang didapatkan. DPR menggambarkan tingkat dividen yang dibagikan oleh perusahaan kepada investor dari laba yang dihasilkan. Semakin tinggi DPR maka tingkat kemampuan perusahaan dalam membagikan dividen kepada pemegang saham semakin tinggi. Hal ini akan membuat investor lebih sejahtera sehingga akan menarik investor untuk berinvestasi pada perusahaan tersebut. Hal ini akan meningkatkan permintaan saham dan nilai saham juga akan meningkat. Peningkatan nilai saham yang melebihi nilai buku saham perusahaan akan menaikkan

PBV sehingga nilai perusahaan juga akan meningkat.

DPR menggambarkan seluruh keuntungan yang diperoleh pemegang saham

dimana mengukur persentase laba yang dibayarkan pemegang saham dalam bentuk kas (Raharja, 2012). Raharja (2012), Muid (2012), dan Sari (2013) menyatakan bahwa DPR berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini menandakan semakin besar dividen yang dibagikan kepada pemegang saham maka perusahaan akan dianggap semakin baik dan pada akhirnya nilai perusahaan akan meningkat. Sementara Rakhimsyah dan Gunawan (2011) dan Rohman (2012) menemukan bahwa kebijakan dividen berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.

(25)

Selain keputusan investasi, keputusan pendanaan, dan kebijakan dividen, profitabilitas merupakan faktor lainnya yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan. Profitabilitas merupakan kemampuan yang dicapai oleh perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang diterima. Perusahaan yang memiliki tingkat profitabilitas yang tinggi menunjukkan prospek perusahaan yang baik. Semakin tinggi profitabilitas menandakan bahwa perusahaan dapat mengembalikan return terhadap pemegang saham sehingga investor lebih tertarik untuk menginvestasikan dananya kepada perusahaan. Mardiyati, Ahmad, dan Putri (2012), Wulandari (2013), Nurhayati (2013), serta Mindra dan Erawati (2014) menemukan bahwa profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.

Profitabilitas dapat diukur dengan menggunakan beberapa proksi yaitu Return

on Equity (ROE), Return on Asset (ROA), dan Net Profit Margin (NPM). Berdasarkan

penelitian Dewi dan Wirajaya (2012), profitabilitas dengan proksi ROE menunjukkan seberapa besar kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih untuk pengembalian ekuitas terhadap pemegang saham. Sementara Mulyawati, Lestari, dan Nurleli (2015) menyatakan bahwa ROA merupakan kemampuan dalam menghasilkan laba dengan menggunakan total aset yang dimiliki perusahaan setelah disesuaikan dengan biaya-biaya untuk mendanai aset sedangkan NPM menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih pada tingkat penjualan tertentu.

Profitabilitas dalam penelitian ini diproksikan dengan Return on Asset (ROA) karena menggambarkan tingkat keuntungan bersih yang mampu diraih perusahaan pada saat menjalankan operasinya melalui aset yang dimiliki perusahaan (Mahendra,

(26)

Artini, dan Suarjaya, 2012). Semakin besar ROA menunjukkan semakin efektif suatu perusahaan dalam menggunakan aset untuk menghasilkan laba. Hal ini menunjukkan kinerja perusahaan tinggi, sehingga investor akan tertarik untuk berinvestasi pada perusahaan tersebut. Perusahaan yang mampu menghasilkan laba menandakan bahwa perusahaan mampu untuk membagikan dividen kepada investor. Semakin banyak investor yang berinvestasi maka permintaan saham akan meningkat dan nilai saham akan meningkat. Kenaikan harga saham melebihi nilai buku saham suatu perusahaan akan meningkatkan PBV. Kenaikan PBV menunjukkan nilai perusahaan meningkat.

Wulandari (2013) dan Mulyawati, dkk (2015) mendapati hasil bahwa profitabilitas dengan proksi ROA memiliki pengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat keuntungan yang dihasilkan melalui penggunaan aset perusahaan memiliki pengaruh terhadap nilai perusahaan.

Perbedaan dari penelitian sebelumnya yang diambil dari penelitian Raharja (2012) berjudul pengaruh keputusan investasi, keputusan pendanaan, dan kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan dengan penelitian yang direplikasi adalah sebagai berikut:

1. Penambahan variabel independen yaitu profitabilitas mengacu pada penelitian Wulandari (2013).

2. Perubahan periode pengambilan sampel yang diuji yaitu tahun 2011-2013, berbeda dengan penelitian sebelumnya yang melakukan pengujian terhadap data yang diambil dari tahun 2007-2010.

(27)

judul “PENGARUH KEPUTUSAN INVESTASI, KEPUTUSAN PENDANAAN,

KEBIJAKAN DIVIDEN, DAN PROFITABILITAS TERHADAP NILAI PERUSAHAAN (Studi pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2013)”

1.2 Batasan Masalah

Pembatasan masalah bertujuan untuk mempersempit ruang lingkup dalam suatu penelitian. Pembatasan masalah dan ruang lingkup penelitian ini adalah:

1. Analisis menggunakan nilai perusahaan yang diproksikan dengan Price to Book

Value sebagai variabel dependen dan keputusan investasi yang diproksikan

dengan Ratio Capital Expenditure to Book Value of Asset, keputusan pendanaan yang diproksikan dengan Debt to Equity Ratio, kebijakan dividen yang diproksikan dengan Dividend Payout Ratio, dan profitabilitas yang diproksikan dengan Return on Asset sebagai variabel independen.

2. Bidang usaha perusahaan yang diteliti adalah perusahaan manufaktur di sektor indutsri dasar dan kimia, sektor aneka industri, dan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

3. Jangka waktu penelitian yang dilakukan adalah selama 3 tahun dari tahun 2011- 2013.

(28)

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah keputusan investasi berpengaruh terhadap nilai perusahaan? 2. Apakah keputusan pendanaan berpengaruh terhadap nilai perusahaan? 3. Apakah kebijakan dividen berpengaruh terhadap nilai perusahaan? 4. Apakah profitabilitas berpengaruh terhadap nilai perusahaan?

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah disajikan maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh keputusan investasi terhadap nilai perusahaan.

2. Memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh keputusan pendanaan terhadap nilai perusahaan.

3. Memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan.

4. Memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan.

(29)

1.5 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang baik, diantaranya: 1. Bagi investor

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan pertimbangan dalam mengambil keputusan untuk berinvestasi pada perusahaan manufaktur.

2. Bagi manajemen perusahaan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi manajemen perusahaan dan digunakan sebagai alat untuk mengetahui kemajuan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

3. Bagi peneliti selanjutnya

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan referensi dan sumber informasi dalam melakukan penelitian selanjutnya.

4. Bagi peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan ilmu dan pengetahuan mengenai pengaruh keputusan investasi, keputusan pendanaan, kebijakan dividen, dan profitabilitas terhadap nilai perusahaan.

(30)

1.6 Sistematika Penulisan

Agar memperoleh gambaran yang cukup jelas mengenai pembahasan penelitian ini, maka disusunlah sistematika penulisan, sebagai berikut.

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini terdiri dari Latar Belakang, Batasan Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, dan Sistematika Penelitian.

BAB II TELAAH LITERATUR

Bab ini terdiri dari pembahasan secara rinci terkait dengan keputusan investasi, keputusan pendanaan, kebijakan dividen, dan profitabilitas dari berbagai Jurnal, Penelitian Terdahulu, Perumusan Hipotesis yang akan diuji, dan Model Penelitian.

BAB III METODE PENELITIAN

Bab ini terdiri atas Gambaran Umum Objek Penelitian, Metode Penelitian, Variabel Penelitian, Teknik Pengumpulan Data, Teknik Pengambilan Sampel, dan Teknik Analisis Data yang digunakan untuk pengujian hipotesis.

(31)

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

Bab ini terdiri atas deskripsi penelitian berdasarkan data yang dikumpulkan, pengujian dan analisis hipotesis, serta pembahasan hasil penelitian

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

Bab ini terdiri atas simpulan, keterbatasan, dan saran yang didasarkan pada penelitian yang telah dilakukan.

                             

(32)

BAB II

TELAAH LITERATUR

2.1 Teori Sinyal (Signalling Theory)

Teori sinyal mengemukakan tentang bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Saputri dan Margaretha (2014) menyatakan bahwa sinyal adalah suatu tindakan yang diambil oleh manajemen perusahaan yang memberikan petunjuk bagi investor tentang bagaimana manajemen memandang prospek perusahaan. Sinyal dapat berupa informasi yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih baik daripada perusahaan lain.

Menurut Wolk, dkk., (2000) dalam Hadiprajitno (2014), teori sinyal menjelaskan bahwa perusahaan mempunyai dorongan untuk memberikan informasi laporan keuangan pada pihak eksternal. Dorongan perusahaan untuk memberikan informasi karena terdapat asimetri informasi antara perusahaan dan pihak luar (investor dan kreditur) karena perusahaan mengetahui lebih banyak informasi dibandingkan pihak luar. Kurangnya informasi bagi pihak luar mengenai perusahaan menyebabkan mereka melindungi diri dengan memberikan harga yang rendah untuk perusahaan.

Perusahaan dapat meningkatkan nilai perusahaan dengan mengurangi informasi asimetri. Salah satu cara untuk mengurangi informasi asimetri adalah dengan memberikan sinyal pada pihak luar, salah satunya berupa informasi keuangan

(33)

yang dapat dipercaya sehingga mengurangi ketidakpastian mengenai prospek perusahaan yang akan datang.

2.2 Teori Keagenan (Agency Theory)

Teori agensi dikemukakan oleh Michael C. Jensen dan William H. Meckling pada tahun 1976 dalam Sukirni (2012) menjelaskan bahwa manajemen merupakan agen dari pemegang saham, sebagai pemilik perusahaan. Hadiprajitno (2014) mengungkapkan bahwa hubungan keagenan merupakan suatu kontrak antara agent (manajer) dengan principal (investor).

Teori ini menyatakan bahwa agent berwenang untuk mengelola kekayaan investor sedangkan principal mempunyai harapan akan memperoleh keuntungan dengan bertambahnya kekayaan dan kemakmuran investor. Terjadinya konflik antara manajer dan investor karena kemungkinan manajer bertindak tidak sesuai dengan kepentingan investor. Konflik antara principal dan agent dapat dikurangi dengan mensejajarkan kepentingan antara principal dan agent. Kehadiran kepemilikan saham oleh manajerial dapat digunakan untuk mengurangi agency cost yang berpotensi timbul, karena dengan memiliki saham perusahaan diharapkan manajer merasakan manfaat langsung dari setiap keputusan yang diambilnya. Biaya agensi menurut Mayangsari (2001) dalam Joni dan Lina (2010) adalah biaya-biaya yang berhubungan dengan pengawasan manajemen untuk meyakinkan bahwa manajemen bertindak

(34)

konsisten sesuai dengan perjanjian kontraktual perusahaan dengan kreditur dan pemegang saham.

Penggunaan utang perusahaan untuk investasi dapat dianggap sebagai salah satu cara dalam mengurangi konflik antara pemegang saham dan manajer terkait free

cash flow. Manajer cenderung untuk menahan penggunaan kas sedangkan investor

cenderung ingin menggunakan kas untuk investasi dengan harapan mendapatkan pengembalian modal investasi yang lebih besar. Jika perusahaan menggunakan utang maka manajer dipaksa untuk mengeluarkan kas dari perusahan untuk membayar bunga (Mardiyati, dkk., 2012).

2.3 Trade-off Theory

Trade off theory diungkapkan oleh Myers (2001) dalam Dewi dan Wirajaya

(2013) menyatakan bahwa dalam menentukan struktur modal yang optimal terdapat penggunaan ekuitas dan utang yang optimal. Trade-off theory dapat menentukan target rasio utang yang optimal pada perusahaan. Rasio utang yang optimal ditentukan berdasarkan perimbangan antara manfaat yang diperoleh perusahaan melalui penggunaan utang serta biaya kebangkrutan perusahaan. Penggunaan utang menyebabkan perusahaan memperoleh manfaat pajak, sedangkan biaya kebangkrutan merupakan biaya administrasi, biaya hukum, biaya keagenan, dan biaya pengawasan untuk mencegah perusahaan mengalami kebangkrutan (Siregar, 2005 dalam Joni dan Lina, 2010).

(35)

Salah satu cara untuk meningkatkan nilai perusahaan adalah dengan melakukan pengelolaan komposisi modal perusahaan dan keputusan manajer keuangan dalam memilih sumber pendanaan yang akan mempengaruhi harga saham perusahaan. Hal ini berarti perusahaan dapat menggunakan komposisi utang dan ekuitas yang optimal sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan (Joni dan Lina, 2010). Trade off theory memiliki kelemahan yaitu mengasumsikan bahwa seluruh informasi yang diperoleh investor dan manajemen memiliki porsi yang sama (symetric information). Hal ini tidak dapat diterima oleh investor karena sulit untuk mendapatkan informasi dengan porsi yang sama dengan manajemen. Hal ini menghambat kemampuan perusahaan untuk melakukan penambahan dana karena informasi yang diperoleh investor cenderung terbatas sehingga perusahaan hanya dapat mengandalkan penerbitan saham baru (Sukirni, 2012).

2.4 Nilai Perusahaan

Menurut Sukirni (2012), nilai perusahaan merupakan kondisi tertentu yang telah dicapai oleh suatu perusahaan sebagai gambaran dari kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan setelah melalui suatu proses kegiatan selama beberapa tahun, yaitu sejak perusahaan tersebut didirikan sampai dengan saat ini. Purbawangsa dan Sartini (2014) mengungkapkan bahwa nilai perusahaan mempengaruhi persepsi investor mengenai perusahaan karena nilai perusahaan dianggap mencerminkan kinerja perusahaan.

(36)

Mindra dan Erawati (2014) mengatakan nilai perusahaan merupakan suatu gambaran sejauh mana perusahaan diakui oleh publik. Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia memungkinkan masyarakat dan manajemen mengetahui nilai perusahan yang tercermin pada kekuatan tawar-menawar saham, apabila perusahaan diperkirakan sebagai perusahaan yang mempunyai prospek yang bagus dimasa yang akan datang, nilai saham akan menjadi semakin tinggi. Sebaliknya, apabila perusahaan dinilai kurang mempunyai prospek maka harga saham menjadi lemah.

Budiati (2013) berpendapat bahwa nilai perusahaan tercermin dari harga saham, khususnya untuk perusahaan yang memperdagangkan sahamnya kepada publik. Apabila nilai perusahaan baik, yaitu mempunyai kinerja dan prospek yang bagus, maka investor pasti bersedia membayar lebih untuk membeli sahamnya. Setiani (2013) mengungkapkan bahwa nilai perusahaan merupakan hal yang penting bagi manajer dan investor. Bagi manajer, nilai perusahaan merupakan suatu tolak ukur atas prestasi kerja yang telah dicapainya. Jika manajer mampu meningkatkan nilai perusahaan maka menunjukkan kinerja yang baik bagi perusahaan serta dapat meningkatkan kemakmuran bagi pemegang saham, sedangkan bagi investor akan tertarik untuk berinvestasi apabila memiliki suatu pandangan yang baik terhadap perusahaan dan hal ini membuat harga saham mengalami peningkatan. Nilai perusahaan yang semakin tinggi, akan berdampak terhadap peningkatan kemakmuran yang dicapai para pemegang saham (Sartini dan Purbawangsa, 2014).

Rakhimsyah dan Gunawan (2011) berpendapat bahwa optimalisasi nilai perusahaan merupakan tujuan utama dari perusahaan yang dapat dicapai melalui

(37)

pelaksanaan fungsi manajemen keuangan, dimana satu keputusan keuangan yang diambil akan mempengaruhi keputusan keuangan lainnya dan berdampak pada nilai perusahaan. Manajemen keuangan terkait keputusan penting yang diambil perusahaan, antara lain keputusan investasi, keputusan pendanaan, dan kebijakan dividen. Kombinasi yang optimal atas ketiganya akan memaksimumkan nilai perusahaan yang akan meningkatkan kemakmuran kekayaan pemegang saham.

Penelitian Prasetyorini (2013) dan Mahendra, dkk (2012) mengukur nilai perusahaan menggunakan Tobins Q dihitung melalui rasio nilai pasar saham perusahaan ditambah dengan utang lalu membandingkan dengan total aset perusahaan. Tobins Q merupakan indikator untuk mengukur kinerja perusahaan yang menunjukkan suatu proforma manajemen dalam mengelola aset perusahaan (Sudiyatno dan Puspitasari, 2010). Raharja (2012), Mindra dan Erawati (2014) mengukur nilai perusahaan menggunakan Price to Book Value Ratio (PBV) yang menunjukkan rasio untuk mengukur kinerja harga pasar saham terhadap nilai bukunya. PBV berfungsi untuk mengidentifikasi saham mana yang harganya wajar, terlalu rendah (Undervalued) dan terlalu tinggi (Overvalued).

Price to book value (PBV) ratio adalah suatu rasio yang sering digunakan

untuk menentukan nilai perusahaan dan mengambil keputusan investasi dengan cara membandingkan harga pasar saham dengan nilai buku perusahaan (Budiati, 2013). Menurut Budiati (2013), PBV menunjukan seberapa jauh perusahaan mampu menciptakan nilai terhadap jumlah modal yang diinvestasikan. Perusahaan yang berjalan baik umumnya mempunyai PBV diatas satu, yang menunjukkan nilai pasar

(38)

saham lebih besar dari nilai buku perusahaan. Semakin tinggi nilai PBV menunjukkan nilai perusahaan semakin baik. Sebaliknya, apabila PBV dibawah satu mencerminkan nilai perusahaan tidak baik sehingga persepsi investor terhadap perusahaan juga tidak baik, karena dengan nilai PBV dibawah satu menggambarkan harga jual perusahaan lebih rendah dibandingkan nilai buku perusahaan.

Menurut Brigham dan Houston (2001) dalam Raharja (2012) PBV mengukur nilai yang diberikan pasar kepada manajemen dan organisasi perusahaan sebagai sebuah perusahaan yang terus tumbuh. Price to Book Value merupakan perbandingan antara harga saham terhadap nilai buku. Harga pasar saham (Current Price/Market

Price) merupakan suatu cerminan penilaian investor secara keseluruhan atas setiap

ekuitas yang dimiliki (Setiani, 2013). Nilai buku per lembar saham menggambarkan besarnya ekuitas yang dimiliki oleh setiap pemegang saham biasa pada net asset perusahaan dari kepemilikkan satu lembar saham (Weygandt, dkk, 2013). IAI (2014) menyatakan bahwa ekuitas adalah hak residual atas aset perusahaan setelah dikurangi semua liabilitas. Kieso, et al. (2014) menyatakan bahwa ekuitas perusahaan umumnya dibagi ke dalam 6 bagian:

1. Share Capital: par atau stated value dari saham yang diterbitkan. Termasuk di dalamnya saham biasa dan saham preferen.

2. Share premium: Kelebihan dari jumlah yang dibayarkan atas par atau stated value. 3. Retained Earnungs: Penghasilan perusahaan yang tidak didistribusikan.

4. Accumulated Other Comprehensive Income: Jumlah agregat dari item pendapatan komprehensif lainnya.

(39)

5. Treasury Shares: Jumlah saham biasa yang dibeli kembali.

6. Non- Controlling Interest (Minority Interest): Bagian ekuitas perusahaan anak yang tidak dimiliki oleh perusahaan pelapor.

2.5 Keputusan Investasi

Investasi merupakan tindakan untuk menanamkan dana yang dimiliki saat ini ke dalam bentuk aset lancar maupun aset tetap dengan harapan untuk memperoleh keuntungan di masa mendatang (Salim dan Moeljadi, 2001 dalam Sartini dan Purbawangsa, 2014). Setiani (2012) mengungkapkan bahwa keputusan investasi merupakan keputusan yang menyangkut untuk menanamkan modal dimasa sekarang untuk mendapatkan keuntungan di masa depan. Tujuan dilakukannya keputusan investasi adalah mendapatkan laba yang besar dengan risiko yang dapat dikelola dengan harapan dapat mengoptimalkan nilai perusahaan (Rohman, 2012).

Pujianti dan Widanar (2009) dalam Setiani (2012) menyatakan bahwa keputusan investasi menyangkut tindakan yang mengeluarkan dana sekarang dan diharapkan akan mendapatkan arus kas di masa mendatang lebih besar dari dana yang telah dikeluarkan sebelumnya. Suatu perusahaan yang mampu menciptakan keputusan investasi yang tepat, maka aset dari perusahaan akan menghasilkan kinerja yang optimal sehingga memberikan sinyal positif untuk investor yang nantinya akan meningkatkan harga saham perusahaan dan menaikkan nilai perusahaan (Prasetyo, 2011 dalam Setiani, 2013).

(40)

Sari (2013) mengungkapkan bahwa keputusan investasi penting untuk mencapai tujuan perusahaan yang dihasilkan melalui kegiatan investasi perusahaan. Keputusan investasi yang diambil tergantung pada besarnya pengeluaran-pengeluaran yang ditetapkan manajemen di masa yang akan datang dan diharapkan akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar. Hadiprajitno (2014) mengungkapkan dalam teori sinyal mengenai hubungan antara pengeluaran investasi dan juga nilai perusahaan, dimana pengeluaran investasi memberikan sinyal positif kepada investor dan kreditur mengenai pertumbuhan perusahaan dimasa yang akan datang. Prasetyo (2011) dalam Setiani (2013) menyatakan bahwa jika perusahaan mampu menciptakan keputusan investasi yang tepat maka aset perusahaan akan menghasilkan kinerja yang optimal sehingga memberikan sinyal positif bagi investor yang nantinya akan meningkatkan harga saham dan menaikkan nilai perusahan.

Ayuningtias dan Kurnia (2013) menjelaskan bahwa suatu perusahaan dapat melakukan investasi terhadap aset tetap dalam beberapa bentuk, seperti penggantian aset tetap, ekspansi atau perluasan, diversifikasi produk, eksplorasi, penelitian dan pengembangan, dan lain-lain. Beberapa bentuk investasi tersebut merupakan suatu set kesempatan investasi atau Investment Opportunity Set (IOS) yang harus dimanfaatkan oleh perusahaan untuk mengembangkan usaha.

Rohman (2012), dan Rakhimsyah dan Gunawan (2011) mengukur keputusan investasi menggunakan Price Earning Ratio (PER) yang menunjukkan perbandingan antara closing price dengan laba per lembar saham. Closing price merupakan harga penawaran terakhir dalam perdagangan saham harian. Sedangkan Raharja (2012)

(41)

menggunakan Ratio Capital Expenditure to Book Value of Asset (CPA/BVA) sebagai alat ukur keputusan investasi yang menggambarkan peningkatan total aset dari tahun sebelumnya hingga tahun ini. Proksi CPA/BVA merupakan perbandingan antara aset tahun ini dikurangi dengan total aset tahun sebelumnya dibagi dengan total aset tahun sebelumnya. Keputusan investasi dengan alat ukur CPA/BVA menunjukkan bahwa peningkatan investasi berkaitan dengan nilai perusahaan yang dikonversi melalui pertumbuhan aset yang dimiliki.

Sartini dan Purbawangsa (2014), Raharja (2012), dan Rohman (2012) menemukan bahwa keputusan investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan yang mengindikasikan bahwa pengeluaran modal perusahaan sangat penting untuk meningkatkan nilai perusahaan karena memberikan sinyal positif tentang pertumbuhan perusahaan di masa depan. Rakhimsyah dan Gunawan (2011) dan Sari (2013) juga menemukan bahwa keputusan investasi berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Hal ini menandakan bahwa dengan meningkatnya investasi maka akan berpengaruh pada meningkatnya nilai perusahaan. Sedangkan Setiani (2013) menemukan bahwa keputusan investasi berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhdap nilai perusahaan.

Berdasarkan asumsi diatas, maka hipotesis yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:

(42)

2.6 Keputusan Pendanaan

Keputusan pendanaan berkaitan dengan keputusan yang diambil perusahaan dalam mengelola dana untuk membiayai investasi perusahaan dengan harapan menghasilkan keuntungan dimasa depan (Efni, 2012). Keputusan pendanaan mengindikasikan perusahaan untuk membiayai kegiatan operasionalnya. Pada keputusan ini manajer keuangan dituntut untuk mempertimbangkan dan menganalisis kombinasi dari sumber-sumber dana yang ekonomis bagi perusahaan. Setiani (2013) mengatakan bahwa seorang manajer harus mampu untuk mengambil keputusan pendanaan dengan mempertimbangkan komposisi utang dan modal sendiri yang akan digunakan perusahaan. Dengan adanya komposisi yang optimal dari penggunaan utang dan modal sendiri akan dapat mempengaruhi nilai perusahaan.

Raharja (2012) mengungkapkan keputusan pendanaan didefinisikan sebagai keputusan yang menyangkut komposisi pendanaan yang dipilih oleh perusahaan. Peningkatan utang yang digunakan perusahaan diartikan oleh kreditur dan investor mengenai kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban di masa depan. Hal ini akan direspon baik oleh pihak luar mengenai pertumbuhan perusahaan yang meningkat.

Efni, et al. (2012) menyatakan bahwa keputusan pendanaan berkaitan dengan keputusan perusahaan dalam mencari dana untuk membiayai investasi dan menentukan komposisi sumber pendanaan. Pendanaan perusahaan dapat dikelompokkan berdasarkan sumber dananya yaitu pendanaan internal dan pendanaan

(43)

eksternal. Pendanaan internal merupakan pendanaan yang berasal dari dalam perusahaan yaitu laba ditahan, sedangkan pendanaan eksternal yaitu penggunaan utang dan ekuitas.  

Susanto (2011) menggunakan proksi DAR yang menunjukkan seberapa besar perusahaan membiayai operasi perusahaan menggunakan aset yang didanai oleh utang perusahaan. Sementara Raharja (2012) mengukur keputusan pendanaan melalui

Debt to Equity Ratio (DER) yang menunjukkan perbandingan utang dan ekuitas.

Total utang didapatkan dari penjumlahan utang jangka pendek dan utang jangka panjang sedangkan total ekuitas didapatkan dari total aset dikurangi dengan total liabilitas (Weygandt, 2013).

Tingkat Debt to Equity Ratio (DER) yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan lebih melakukan pendanaan melalui utang dibandingkan melalui ekuitas. Apabila penggunaan utang lebih besar maka utang tersebut dapat dijadikan modal untuk membiayai operasional perusahaan dengan tujuan mendapatkan laba yang dapat meningkatkan nilai perusahaan (Rakhimsyah dan Gunawan, 2011).

Perusahaan yang melakukan pendanaan melalui utang dapat meningkatkan nilai perusahaan karena dengan adanya utang maka perusahaan memiliki kewajiban untuk membayar bunga pinjaman, dan dengan adanya bunga pinjaman maka akan mengurangi penghasilan kena pajak sehingga pajak yang dibayarkan lebih kecil dan laba yang dihasilkan akan lebih besar (Budiati, 2013). Investasi yang dihasilkan dari keputusan pendanaan memiliki sinyal yang positif tentang perusahaan di masa yang

(44)

akan mendatang yang akan meningkatkan nilai perusahaan (Rakhimsyah dan Gunawan, 2011).

Penelitian terkait salah satunya dilakukan oleh Rohman (2012), Setiani (2013), Sartini dan Purbawangsa (2014) yang menemukan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara keputusan pendanaan dengan nilai perusahaan. Selain itu, Sukirni (2012) dan Hadiprajitno (2014) juga menemukan hal yang sama bahwa keputusan pendanaan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Sementara, Raharja (2012) mengemukakan bahwa keputusan pendanaan tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap nilai perusahaan. Muid (2012) dan Sari (2013) juga mendapati hasil bahwa keputusan pendanaan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan.

Berdasarkan atas kajian teori, serta hasil dari penelitian-penelitian sebelumnya, maka dirumuskan hipotesis:

Ha2: Keputusan pendanaan berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

2.7 Kebijakan Dividen

Berdasarkan Bursa Efek Indonesia, dividen merupakan pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan dan berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Weygandt, dkk (2013) menjelaskan bahwa dividen merupakan kas atau saham yang dibagikan oleh perusahaan kepada pemegang sahamnya yang berbasis proporsional dengan kepemilikan pemegang saham. Yastini dan Mertha (2015) mengungkapkan

(45)

bahwa kebijakan dividen merupakan pengelolaan laba yang diperoleh perusahaan yang akan dibagikan kepada para pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan untuk membiayai investasi perusahaan di masa mendatang. Kebijakan dividen merupakan keputusan yang sangat penting dalam suatu perusahaan yang melibatkan dua pihak dimana masing-masing memiliki kepentingan yang berbeda, yaitu pemegang saham biasanya menginginkan laba untuk dibagikan dalam bentuk dividen, sedangkan manajer menginginkan laba perusahaan untuk diinvestasikan kembali dalam bentuk laba ditahan (Muid, 2012).

Muid (2012) berpendapat bahwa manajemen memiliki dua alternatif perlakuan terhadap laba setelah pajak yaitu laba tersebut akan diinvestasikan kembali ke perusahaan sebagai laba ditahan atau akan dibagikan kepada para pemegang saham dalam bentuk dividen. Pembagian dividen di satu sisi akan memenuhi harapan investor untuk mendapatkan return sebagai hasil dari investasi, sedangkan di satu sisi pembagian dividen diharapkan tidak mengancam kelangsungan hidup perusahaan dimana laba yang diperoleh perusahaan dapat diinvestasikan kembali dalam bentuk laba ditahan. Kieso, dkk. (2014) menjelaskan tipe-tipe dividen, diantaranya adalah: a. Cash dividend adalah dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham dalam

bentuk tunai (kas). Pembagian dividen berupa kas diputuskan pada rapat umum pemegang saham, dan diberikan kepada pemegang saham yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham.

(46)

b. Property dividend adalah dividen yang diberikan kepada para pemegang saham dalam bentuk barag-barang. Dividen property ini dapat berupa merchandise, real estate, investasi, atau apapun yang disetujui oleh board of director.

c. Liquidating dividend adalah dividen yang dibayarkan kepada para pemegang saham dimana sebagian dari jumlah tersebut dimaksudkan sebagai pembayaran bagian laba sedangkan sebagian lagi dimaksudkan sebagai pengembalian modal yang ditanamkan atau diinvestasikan oleh para pemegang saham ke perusahaan. d. Share dividend adalah dividen yang diberikan kepada para pemegang saham

berupa saham-saham yang dikeluarkan perusahaan itu sendiri.

Syarat-syarat dibagikannya dividen tunai menurut Weygandt, dkk (2013), yaitu:

a. Retained Earnings

Sumber dividen tunai adalah laba ditahan sehingga untuk dapat membagi dividen tunai, tentunya perusahaan harus memiliki saldo laba ditahan yang cukup.

b. Adequate cash

Perusahaan harus memiliki dana kas yang cukup untuk dibagikan dalam bentuk dividen tunai kepada pemegang saham.

c. A declaration of dividends

Rencana pembagian dividen hanya dapat dilakukan jika telah disetujui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Jika RUPS telah menyetujui untuk membagi dividen tunai, maka perusahaan sudah harus mengakui adanya kewajiban dividen tersebut.

(47)

Berdasarkan Bursa Efek Indonesia, pada dasarnya terdapat dua keuntungan yang diperoleh investor dengan membeli atau memiliki saham, antara lain:

1. Dividen

Dividen diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS. Jika seorang pemodal ingin mendapatkan dividen, maka pemodal tersebut harus memegang saham tersebut dalam kurun waktu yang relatif lama yaitu hingga kepemilikan saham tersebut berada dalam periode dimana diakui sebagai pemegang saham yang berhak mendapatkan dividen. Dividen yang dibagikan perusahaan dapat berupa dividen tunai, artinya kepada setiap pemegang saham diberikan dividen berupa uang tunai dalam jumlah rupiah tertentu untuk setiap saham atau dapat pula berupa dividen saham yang berarti kepada setiap pemegang saham diberikan dividen sejumlah saham sehingga jumlah saham yang dimiliki seorang pemodal akan bertambah dengan adanya pembagian dividen saham tersebut.

2. Capital Gain (Loss)

Capital gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual. Capital gain

terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder. Capital

loss merupakan kebalikan dari Capital gain, yaitu suatu kondisi dimana investor

menjual saham lebih rendah dari harga beli.

Ada tiga jenis kebijakan dividen yang digunakan perusahaan (Gitman dan Zutter, 2015):

1. Kebijakan dividen rasio pembayaran konstan (constant payout ratio dividend

(48)

Dividend payout ratio mengindikasikan persentase dari setiap uang yang diterima

yang diberikan oleh perusahaan kepada pemilik saham dalam bentuk kas. Constant

payout ratio dividend policy adalah kebijakan dividen yang membayarkan dividen

berdasarkan persentase tertentu pada setiap periodenya. 2. Kebijakan dividen teratur (regular dividend policy)

Kebijakan dividen ini mendasarkan pada pembayaran dengan jumlah per mata uang yang tetap di setiap periodenya. Sering kali perusahaan yang menggunakan kebijakan dividen ini menaikkan regular dividend-nya setelah kenaikan pendapatan secara berkelanjutan terjadi dalam perusahaan.

3. Kebijakan dividen rendah teratur dan ditambah ekstra (low regular and extra

dividend policy)

Kebijakan ini berdasarkan pada pembayaran dividen teratur yang rendah, dan ditambahkan dengan bonus dividen saat perusahaan mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi daripada periode telah ditentukan. Dengan adanya bonus dividen, perusahaan menghindari pandangan mengenai peningkatan dividen adalah permanen. Kebijakan dividen ini banyak digunakan pada perusahaan yang memiliki banyak pergeseran pendapatan.

Artini (2011), Muid (2012), Raharja (2012), Sari (2013), Sartini dan Purbawangsa (2014) mengukur kebijakan dividen dengan proksi Dividen Payout

Ratio (DPR). Selain itu, Sukirni (2012), Rohman (2012), dan Mardiyati, dkk (2012)

juga mengukur kebijakan dividen dengan proksi DPR. Menurut Ross, dkk., (2012), rasio Dividend Payout Ratio (DPR) merupakan perbandingan antara dividen per

(49)

lembar saham dengan laba per lembar saham (Earning Per Share). Dividen per lembar saham didapatkan dari total dividen dibagi dengan total lembar saham yang beredar sedangkan total lembar saham yang beredar adalah jumlah saham yang telah diterbitkan dan dipegang oleh pemegang saham (Weygandt, et al., 2013).

Earning Per share (EPS) adalah rasio yang digunakan untuk menghitung laba atau

keuntungan bersih yang diperoleh dari selembar saham. EPS dihitung melalui perbandingan antara keuntungan bersih dengan rata-rata lembar saham yang beredar (Weygandt, et al., 2013).

Pembayaran dividen yang semakin meningkat merupakan sinyal positif yang menyatakan bahwa prospek perusahaan semakin baik sehingga investor akan tertarik untuk membeli saham dan nilai perusahaan akan meningkat (Artini, 2011).

Artini (2011) dan Sari (2013) menyatakan kebijakan dividen berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa pembayaran dividen yang semakin meningkat merupakan sinyal positif bahwa prospek perusahaan semakin baik sehingga investor tertarik untuk membeli saham dan nilai perusahaan akan meningkat. Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan Muid (2012) dan Raharja (2012) yang menyatakan kebijakan dividen berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan dimana perusahaan merencanakan untuk membagikan labanya kepada para pemegang saham dalam bentuk dividen daripada menahannya dalam bentuk capital gain maka para investor akan menginvestasikan dananya pada perusahaan yang membagi labanya secara konsisten.

(50)

Sukirni (2012) menyatakan bahwa kebijakan dividen berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan yang berarti tinggi rendahnya dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham tidak berkaitan dengan tinggi rendahnya nilai perusahaan. Sedangkan Rohman (2012) dan Mardiyati,dkk. (2012) mendapati hasil bahwa kebijakan dividen berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan.

Berdasarkan teori dan penelitian tersebut, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Ha3: Kebijakan dividen berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

2.8 Profitabilitas

Weygandt, et al. (2013) menyatakan bahwa rasio profitabilitas mengukur pendapatan atau keberhasilan dari kegiatan operasi perusahaan dalam periode waktu tertentu. Menurut Mindra dan Erawati (2014), profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba pada masa mendatang dan merupakan indikator dari keberhasilan operasi perusahaan. Bagi perusahaan, profitabilitas merupakan ukuran keberhasilan kinerja finansial perusahaan dan sebagai gambaran serta kinerja manajemen dalam mengelola perusahaan (Ayuningtias dan Kurnia, 2013). Sesuai dengan konsep signaling theory, profitabilitas menjadi sinyal bagi manajemen yang menggambarkan prospek perusahaan berdasarkan tingkat profitabilitas yang terbentuk yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan (Wulandari, 2013).

(51)

Rasio profitabilitas adalah ukuran untuk mengetahui seberapa jauh efektivitas manajemen dalam mengelola perusahaannya. Profitabilitas yang tinggi menunjukkan prospek perusahaan baik, sehingga investor akan merespon positif sinyal tersebut dan nilai perusahaan akan meningkat (Ayuningtias dan Kurnia, 2013). Hal tersebut dipahami karena perusahaan yang berhasil membukukan laba yang meningkat, mengindikasikan perusahaan tersebut mempunyai kinerja yang baik sehingga dapat meningkatkan kepercayaan investor dan dapat membuat harga saham perusahaan meningkat.

Gitman dan Zutter (2015), profitabilitas adalah kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba dalam hubungannya dengan tingkat penjualan, total aset ataupun modal sendiri. Menurut Weygandt, et al. (2013), beberapa rasio profitabilitas yang digunakan untuk melakukan penilaian terhadap kinerja perusahaan antara lain adalah: a. Profit margin

Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih pada tingkat penjualan yang dihasilkan perusahaan.

b. Return on Equity (ROE)

Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih untuk pengembalian ekuitas pemegang saham.

c. Earning per share (EPS)

Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih yang diperoleh dari setiap lembar saham biasa yang beredar.

(52)

d. Price Earning Ratio (PER)

Menggambarkan perbandingan harga pasar per lembar saham terhadap laba per lembar saham.

e. Return on Asset (ROA).

Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dengan menggunakan total aset yang dimiliki perusahaan. Kieso, et al. (2014) menyatakan bahwa laba bersih mempresentasikan laba setelah seluruh pendapatan dan beban dalam suatu periode diperhitungkan. Sedangkan aset merupakan sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat peristiwa masa lalu dan manfaat ekonomik di masa depan diharapkan akan diperoleh perusahaan (IAI, 2014).

Dewi dan Wirajaya (2012) menggunakan proksi Return On Equity (ROE) dalam mengukur profitabilitas perusahaan. Sementara Mulyawati, Lestari, dan Nurleli (2015) mengukur profitabilitas dengan proksi Return on Asset dan Net Profit Margin. Wulandari (2013) dan Nurhayati (2013) juga mengukur profitabilitas dengan proksi

Return on Asset (ROA). Pengukuran profitabilitas dengan ROA menunjukkan

kemampuan atas modal yang diinvestasikan dengan aset yang dimiliki untuk menghasilkan laba (Wulandari, 2013). Profitabilitas perusahaan yang tercermin dari nilai ROA yang dimilikinya menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari keseluruhan aset perusahaan. Profitabilitas menunjukkan efisiensi dari kinerja perusahaan, sehingga merupakan tujuan utama setiap perusahaan (Yastini dan Mertha, 2015). Semakin tinggi profitabilitas, maka semakin tinggi return yang diperoleh oleh investor. Hal ini menandakan bahwa

(53)

perusahaan memperoleh laba yang besar maka dikatakan bahwa perusahaan memiliki kinerja yang baik serta dapat meningkatkan nilai perusahaan (Prasetyorini,2013). Selain itu, profitabilitas yang tinggi mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang tinggi bagi pemegang saham. Semakin besar keuntungan yang diperoleh maka semakin besar pula kemampuan perusahaan untuk membayarkan dividennya, dan hal ini akan berpengaruh pada kenaikan nilai perusahaan (Dewi dan Wirajaya, 2013).

Sari (2013) menyatakan bahwa salah satu indikator penting bagi investor dalam menilai prospek perusahaan di masa depan adalah dengan melihat sejauh mana pertumbuhan profitabilitas perusahaan. Berdasarkan hasil penelitian Wulandari (2013), Kusuma, dkk (2013), dan Nurhayati (2013) menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh signifikan positif terhadap nilai perusahaan. Sedangkan Dewi dan Wirajaya (2013), Mulyawati, dkk (2015) juga menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh secara signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini menandakan bahwa apabila profitabilitas semakin meningkat maka nilai perusahaan perusahaan tersebut juga akan meningkat. Berbeda dengan penelitian Yastini dan Mertha (2015) menunjukkan profitabilitas berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan.

Berdasarkan teori yang telah diuraikan, maka dirumuskan hipotesis:

(54)

2.9 Model Penelitian

Model penelitian yang digunakan untuk menguji hipotesis pada penelitian ini adalah sebagai berikut: Gambar 2.1 Model Penelitian                       Keputusan Investasi Keputusan Pendanaan Kebijakan Dividen Profitabilitas Nilai Perusahaan

(55)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

Penelitian ini menganalisis pengaruh keputusan investasi, keputusan pendanaan, kebijakan dividen, dan profitabilitas terhadap nilai perusahaan. Objek penelitian dalam penelitian yang dilakukan adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Laporan keuangan tahunan yang diteliti adalah laporan keuangan yang diterbitkan selama periode 2011-2013 yang telah diaudit oleh auditor independen.

Menurut Horngren, dkk. (2015) perusahaan manufaktur merupakan perusahaan industri yang mengolah komponen bahan baku dan mengkonversikannya menjadi barang jadi. Perusahaan manufaktur yang tedaftar di Bursa Efek Indonesia dibagi menjadi tiga sektor yaitu:

a. Sektor industri dasar dan kimia: semen, keramik, porselen & kaca, logam & sejenisnya, kimia, plastik & kemasan, pakan ternak, kayu & pengelolahannya, pulp & kertas;

b. Sektor aneka industri: otomotif & komponen, tekstil & garment, alas kaki, kabel, elektronika, lainnya;

c. Sektor industri barang konsumsi: makanan & minuman, rokok, farmasi, kosmetik & barang keperluan rumah tangga, peralatan rumah tangga.

(56)

3.2 Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian hubungan sebab akibat (causal study). Desain kausal berguna untuk mengukur hubungan antar variabel penelitian atau berguna untuk menganalisa bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel lain (Sekaran dan Bougie, 2013). Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah nilai perusahaan dipengaruhi oleh keputusan investasi, keputusan pendanaan, kebijakan dividen, dan profitabilitas.

3.3 Variabel Penelitian

Di dalam penelitian ini, terdapat dua variabel, yaitu variabel dependen dan variabel independen yang seluruhnya diukur dengan skala rasio. Menurut Sekaran dan Bougie (2013), variabel dependen merupakan variabel yang menjadi sasaran utama dalam penelitian. Sedangkan variabel independen merupakan variabel yang mempengaruhi dependen baik secara positif maupun negatif.

3.3.1 Variabel Dependen

Penelitian ini menggunakan variabel dependen nilai perusahaan. Nilai perusahaan merupakan nilai suatu perusahaan saat ini dan diharapkan akan menghasilkan keuntungan di masa mendatang. Nilai perusahaan tercermin dari harga saham, khususnya untuk perusahaan yang memperdagangkan sahamnya kepada publik. Apabila nilai perusahaan baik maka perusahaan mempunyai kinerja dan prospek yang

Gambar

Tabel 4.4  Hasil Uji Normalitas
Tabel 4.6  Hasil Uji Autokorelasi
Tabel 4.8  Hasil Uji Statistik F
Tabel 4.9   Hasil Uji Statistik t

Referensi

Dokumen terkait

pengujian hipotesis daya tahan jantung paru (X 1 ) dan daya tahan otot tungkai (X 2 ) terhadap kemampuan tendangan sabit (Y) pada Atlet Putra Pencak Silat UKM Unsyiah

karakteristik manusia dan dalam bidang pendidikan merupakan hasil belajar. Kemampuan afektif merupakan bagian dari hasil belajar dan memiliki peran penting. Keberhasilan

Kertas ini mengkaji corak kemeruapan harga saham sektor ekonomi di Bursa Malaysia, di samping mengenal pasti sektor yang meruap secara berkelangsungan bagi tempoh masa sebelum,

Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui bahwa spesies burung rangkong (Bucerotidae) yang terdapat di pegunungan Gugop Kemukiman Pulo Breuh Selatan Kecamatan Pulo Aceh

1) Dalam Pelaksanaannya Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Riau sudah menjalankan kewenangannya, sebagaimana kewenanganya yang diatur dalam pasal 8 Undang-Undang

Bu nedenle kredi aynı tarihte (14/12/2014) kapatıldığında ilgili ayda tahakkuk eden peşin komisyon tutarı olan 1.268,81 TL ve geri kalan sekiz aya ilişkin itfa edilmemiş

dengan menawarkan sejumlah kemudahan. Ditambah dengan pembeli digital Indonesia diperkirakan mencapai 31,6 juta pembeli pada tahun 2018, angka ini meningkat dari

Dari Gambar 1 tampak baik simulasi pada data suhu udara maupun data kecepatan angin memiliki rataan yang lebih mendekati data setelah menggunakan algoritma Filter