I ISSSSNN :: 22008877--55004455 S Scciieennttiiaa,,VVooll..11,,NNoo..11,,22001111;;hhaallaammaann11––5588IISSSSNN::22008877--55004455 S SeekkoollaahhTTiinnggggiiFFaarrmmaassiiIInnddoonneessiiaa((SSTTIIFFII))PPeerriinnttiissPPaaddaanngg
Volume 4, Nomor 2, Agustus 2014
ISSN : 2087-5045
S
S
C
C
I
I
E
E
N
N
T
T
I
I
A
A
J
J
U
U
R
R
N
N
A
A
L
L
F
F
A
A
R
R
M
M
A
A
S
S
I
I
D
D
A
A
N
N
K
K
E
E
S
S
E
E
H
H
A
A
T
T
A
A
N
N
T TEERRBBIITTDDUUAAKKAALLIISSEETTAAHHUUNN S SEETTIIAAPPBBUULLAANNFFEEBBRRUUAARRIIDDAANNAAGGUUSSTTUUSSD
D
E
E
W
W
A
A
N
N
R
R
E
E
D
D
A
A
K
K
S
S
I
I
Penanggung Jawab :Prof. H. Syahriar Harun, Apt
Pemimpin Umum :
DR.H.M. Husni Mukhtar,MS, DEA, Apt
Re daktur Pelaksana :
Verawati, M.Farm, Apt Eka Fitrianda, M.Farm, Apt
Sekre tariat :
Afdhil Arel, S.Farm, Apt Khairul
De wan Penyunting :
Prof.H. Syahriar Harun, Apt
Prof.DR.H. Amri Bakhtiar,MS,DESS, Apt Prof.DR.H. Almahdy, MS, Apt
DR.H.M. Husni Mukhtar, MS, DEA, Apt DR. H. Yufri Aldi, MSi, Apt
Drs. B.A. Martinus, MSi Hj. Fifi Harmely, M.Farm, Apt Farida Rahim, M.Farm, Apt Revi Yenti, M.Si, Apt Verawati, M.Farm, Apt Ria Afrianti, M.Farm, Apt Eka Fitrianda, M.Farm, Apt Mimi Aria, M.Farm, Apt Dira, MSc, Apt
Penerbit :
Sekolah Tinggi Farmasi Indone sia (STIFI) Pe rintis Padang ISSN : 2087-5045
Alamat Re daksi/Tata Usaha : STIFI Pe rintis Padang
Jl. Adine goro Km. 17 Simp. Kalumpang Lubuk Buaya Padang Te lp. (0751)482171, Fax. (0751)484522
e -mail : [email protected] we bsite : www.stifi-padang.ac.id
ISSN : 2087-5045 SALAM REDAKSI
Scientia edisi Agustus 2014 ini diisi oleh penelitian bioaktivitas tumbuhan obat. T umbuhan obat merupakan sumber daya alam yang terdistribusi luas sehingga mudah diperoleh dan sangat cocok digunakan untuk penyakit -penyakit kronis dan degeneratif. Namun perbedaan lingkungan tempat tumbuh, iklim dan cuaca menyebabkan adanya variasi komponen Fitokimia baik dari segi kualitatif maupun kuantitatif hal ini berakibat kepada bioktivitas tumbuhan obat dari spesies yang sama bisa menjadi berbeda.
Oleh kerena itu sangat dibutuhkan standarisasi obat tradisional dimulai dari proses pengumpulan tumbuhan, pembuatan ekstrak hingga pengolahannya menjadi sediaan obat. Kedepan masih sangat terbuka luas kesempatan bagi obat tradisional berkualitas untuk dapat disejajarkan dari obat sintent ik.
Semoga kehadiran jurnal Scientia ini dapat memperkaya khazanah keilmuan para pembaca sekalian serta memberikan kontribusi dalam perkembangan ilmu kefarmasian dan kesehatan.
Padang, Agustus 2014 Salam Sehat
ISSN : 2087-5045 Halaman 46 - 84
D
D
A
A
F
F
T
T
A
A
R
R
I
I
S
S
I
I
UJI EFEK TERA TO GEN ANTI NYAMUK BAKAR YANG MENGANDUNG 46-50
TRANSFLU THRIN TERHADAP FETUS MENC IT PU TIH
Almahdy A, Dachriyanus, Maryorie Rosa
UJI AKTIVITAS ANTID IABETES TIP E II EKS TRAK ETANO L SISA 51-54
PENYULINGAN KULIT BATANG KAYU MANIS DENGAN INDUKSI LEMA K TERHADAP MENC IT PU TIH JANTAN
Ria Afrianti, M. Husni Mukhtar, Allen Baksir
PROSES PENY EMBUHAN LUKA BAKAR PADA MENC IT PU TIH JANTAN 55-59
MENGGUNAKAN MEMBRAN PEMBALU T DARI PA TI BENG KUANG
(Pachyrrhizus erosus (L) Urban)
Yufri Aldi, Dedi Nofiandi, Elya Sari
FO RMULASI GEL MINYAK NILA M DAN UJI DAYA HAMBATNYA 60-65
TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus
Widyastuti, Farizal
UJI AKTIVITAS ANTIHIP ERURIS EMIA EKS TRAK ETANO L KULIT 66-70
BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L.) DAN BUAH ASAM GELUGUR (Garcinia atroviridis Griff. e x. T. Ande rs.) SEC ARA IN VITRO
Dira, Eka Fitrianda, Novita Sari
UJI EFEK AN TIHIP ERGLIKEMIA EKSTRA K ETANO L DAUN 71-74
LIDAH BUAYA (Aloe vera (L.) We bb )TERHADAP MENC IT PUTIH JANTAN YANG DI INDUKSI DEKSAMETASO N
Mimi Aria, Husni Mukhtar, Ike Mulianti
PERBANDINGAN KADAR FENO LAT TO TAL DAN AKTIVITAS 75-80
ANTIO KSIDAN PADA EKSTRA K DAUN TEH (Camellia sinensis [L.] O. K.)
DARI KAYU ARO DENGAN PRO DUK TEH HITA MNYA YANG TELAH BER EDAR
B.A. Martinus, Afdhil Arel, Adi Gusman
PENGARUH PEMB ERIAN MINU MAN ISO TO NIK TERHADAP W AKTU 81-84
PEMU LIHAN PADA ATLET TA EKWO NDO DOJANG UNIVERSITAS NEG ERI PADANG
ISSN : 2087-5045 46
UJI EFEK TERATOGEN ANTI NYAMUK BAKAR YANG
MENGANDUNG TRANSFLUTHRI N TERHADAP FETUS
MENCI T PUTI H
Almahdy A, Dachriyanus, Maryorie Rosa Fakultas Farmasi, Universitas Andalas, Padang
ABSTRACT
T eratogenic test of anti-mosquito coils containing transfluthrin has been conducted on fetus of laboratory mice. Pregnant mice had been given anti-mosquito exposure by inhalation of anti-mosquito coils smoke during the period of organogenesis which begins from the sixth to the fifteenth day of pregnancy. Laparactomy was conducted on the eighteenth day of pregnancy, then two-thirds of the fetus is immersed in a solution of red-alizarin and the remaining in Bouin's solution. The results showed that the fetus with two times of exposure to anti-mosquito coils smoke leads to resorption tread and slower fetal growth. At three times of exposure, showing slower fetal growth, fatality when the laparactomi was conducted, haemorrhage and anencephaly. At four times of t he exposure can cause slower fetal growth, fatality on laparactomy and haemorrhage. Exposure to anti-mosquito coils smoke can also lead to reducing weight of the mice and fetus significantly.
Keywords : m osquito coil, d-allethrin, teratogen, m ice
PENDAHULUAN
Kejadian penyakit yang disebabkan oleh nyamuk semakin meningkat, termasuk di Indonesia yang mempunyai iklim tropis, karena daerah beriklim tropis merupakan tempat yang cocok untuk nyamuk berkembang biak. Usaha-usaha yang telah dilakukan masyarakat untuk penanggulangan nyamuk tersebut salah satunya yaitu dengan pemakaian obat anti nyamuk, yang tentunya mengandung insektisida beberapa senyawa kimia. Beberapa produk pestisida rumah tangga juga tersedia untuk mengendalikan hama yang mengganggu di rumah, misalnya lalat dan nyamuk (Lu, 1995). Insektisida merupakan salah satu golongan dari pestisida, dimana pestisida adalah bagian dari zat toksik (Hayes, 2001).
Salah satu kandungan obat anti nyamuk adalah transfluthrin. Bahan kimia ini golongan pyretroid yang merupakan bagian dari insektisida organik sintetik (Triharso, 1994). Analog sintetis dari insektisida alami phyretrum
yang berasal dari bunga tanaman Chrysantenim cinerariafolium yang diketahui dapat menyebabkan immobilisasi pada serangga dengan meracuni sistem saraf (Okine, 2004).
Untuk melihat tingkat keamanan penggunaan obat nyamuk bakar ini terutama pada manusia dan wanita usia subur, maka penelitian ini dicobakan pada mencit. Masa kehamilan merupakan saat yang rawan bagi wanita terhadap pengaruh lingkungan. T idak hanya bagi ibu tapi juga keselamatan fetus yang dikandungnya, terutama tahap organogenesis karena pada tahap itu sel-sel fetus sedang aktif berpoliferasi (Robert, 1971). Frekuensi pemakaian senyawa kimia yang berulang dapat menyebabkan akumulasi pada janin sementara janin belum mempunyai sistem metabolisme yang berfungsi secara sempurna (Manson, 1986).
Salah satu faktor yang banyak berpengaruh tetapi tidak disadari penggunaannya adalah paparan asap anti nyamuk bakar selama berjam-jam saat tidur. Apabila asap tersebut terhisap oleh wanita hamil, kemungkinan besar akan mempengaruhi kondisi fetus atau perkembangan embrio, sehingga dapat menimbulkan kelainan kongenital baik berupa kelainan bentuk luar maupun kelainan fungsional yang terlihat setelah masa kehidupan yang lama.
Beberapa insektisida telah diketahui dapat menyebabkan pengaruh buruk pada kelahiran
ISSN : 2087-5045 47
atau penyimpangan dari perkembangan yang normal. Berdasarkan latar belakang di atas, maka perlu dilakukan uji teratogenis yaitu suatu pengamatan terhadap kemungkinan terjadinya kelainan kongenital atau kelainan fungsi organ yang bersifat permanen akibat penggunaan dan paparan asap obat nyamuk bakar sebagai insektisida pada masa pertumbuhan dan perkembangan organ fetus.
METO DA PEN ELITIAN Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah kaca objek, cover glass, alat – alat bedah, handheld digital m icroscope, jarum oral, timbangan analitik, timbangan hewan, kandang mencit, gelas ukur, spatel, pipet tetes, corong kertas tisu, mikroskop, wadah perendam fetus, batang pengaduk,
lumpang alu, kaca arloji, sudip, pinset, kamera, wadah pewarnaan. Sedangkan bahan yang digunakan antara lain anti nyamuk bakar X yang mengandung bahan aktif transfluthrin, Larutan Bouin’s (formaldehid 14%, asam pikrat jenuh, asam asetat glasial), larutan alizarin merah (KOH 1% dan alizarin merah 6 mg/L) dan aquadest.
He wan Pe rcobaan
Hewan percobaan yang digunakan adalah mencit putih betina, dengan umur lebih kurang dua bulan dengan berat badan berkisar antara 25-30 gram, sehat, memiliki daur estrus yang teraturyaitu 4-5 hari. Beberapa ekor mencit jantan berumur lebih kurang tiga bulan, sehat dan berat lebih kurang 30 gram (Almahdy, 2007).
Pemaparan Anti Nyamuk Bakar
Tabe l 1. Kelompok Pemaparan Anti Nyamuk Bakar
Kelompok Perlakuan
Jumlah
Hewan Pemaparan Anti Nyamuk Keterangan
P0 5 - -
P1 5 2 jam pada hari ke-6 1x
P2 5 2 jam pada hari ke-6 dan ke-9 2x
P3 5 2 jam pada hari ke-6, 9, dan 12 3x P4 5 2 jam pada hari ke-6, 9, 12, dan 15 4x
Pengawinan He wan Percobaan
Pada masa estrus hewan dikawinkan dengan perbandingan jantan dan betina 1: 4. Mencit jantan dimasukkan ke kandang mencit betina pada pukul empat sore dan dipisahkan lagi besok paginya. Pada pagi harinya dilakukan pemeriksaan sumbat vagina. Sumbat vagina menandakan mencit telah mengalami kopulasi dan berada hari kehamilan ke nol. Mencit yang telah hamil dipisahkan dan yang belum kawin dicampur kembali dengan mencit jantan (Almahdy, 2004).
Urutan kegiatan penelitian ini adalah sebagai berikut :
Analisa Data
Data hasil penelitian ini dianalisa secara statistik menggunakan analisis variasi (ANOVA) satu arah meliputi berat badan induk
mencit, jumlah fetus, berat badan dan panjang badan fetus. Analisa lanjut digunakan metode uji jarak berganda Duncan untuk hasil yang bermakna. Pengamatan jenis cacat, jumlah fetus yang cacat, dan pengamatan hasil fiksasi dengan larutan alizarin merah serta larutan bouin’s dianalisa secara deskriptif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini menggunakan sediaan uji anti nyamuk bakar (X) yang mengandung transfluthrin 0,03%. T ransfluthrin merupakan salah satu insektisida golongan pyretroid yaitu analog sintetis dari insektisida alami phyretrum
yang berasal dari bunga tanaman Chrysantenim cinerariafolium yang diketahui dapat
ISSN : 2087-5045 48
menyebabkan immobilisasi pada serangga dengan meracuni sistem saraf (Okine, 2004). Anti nyamuk bakar akan mengeluarkan asap yang mengandung beberapa gas seperti karbondioksida (CO2), karbonmonoksida (CO),
nitrogen oksida, amoniak, metana, dan partikel lain yang dapat membahayakan kesehatan manusia (Liu et al., 2003).
Pemaparan anti nyamuk bakar dilakukan mulai pada hari 6 dan berakhir pada hari ke-15 kehamilan secara inhalasi, karena pada masa ini fetus berada pada periode organogenesis, dimana fetus sangat rentan terhadap senyawa teratogenik. Pada periode organogenesis, mulai terbentuk organ-organ dari embrio seperti mata, otak, jantung, rangka, urogenital, dan sebagainya. Periode ini disebut periode kritis kehamilan (Harbinson, 2001). Pada hari ke-1 sampai hari ke-5 kehamilan, tidak diberikan inhalasi anti nyamuk bakar karena pada saat itu terdapat sifat totipotensi pada janin yang dapat memperbaiki jaringan yang rusak. Pada hari ke-16 dan seterusnya, senyawa teratogen tidak menyebabkan cacat morfologis, tetapi mengakibatkan kelainan fungsional yang tidak dapat dideteksi segera setelah kelahiran (Lu, 1995).
Mencit yang telah hamil mengalami paparan anti nyamuk bakar secara inhalasi setiap tiga hari sekali, dimulai pada hari ke- 6 sampai ke- 15 kehamilan. Presentasi peningkatan berat badan induk mencit dari masing – masing kelompok perlakuan yaitu kelompok kontrol 49,89%; kelompok 1 kali pemaparan 46,27%; kelompok 2 kali pemaparan 45,58%; kelompok 3 kali pemaparan 43,50%; kelompok 4 kali pemaparan 39,94%
Jumlah fetus masing – masing kelompok perlakuan yaitu kelompok kontrol 47 ekor; kelompok 1 kali pemaparan 44 ekor; kelompok 2 kali pemaparan 48 ekor; kelompok 3 kali pemaparan 48 ekor; kelompok 4 kali pemaparan 47 ekor. Sedangkan berat badan fetus mencit masing – masing kelompok perlakuan yaitu kelompok kontrol 0,93 g; kelompok 1 kali pemaparan 0,80 g; kelompok 2 kali pemaparan 0,83 g; kelompok 3 kali pemaparan 0,89 g; kelompok 4 kali pemaparan 0,66 g. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dinyatakan bahwa pemberian paparan anti nyamuk bakar mempengaruhi berat badan induk dan berat badan rata – rata fetus secara bermakna.
Pada tiap kelompok uji pengamatan pada larutan merah alizarin tidak ditemukannya kelainan pertulangan dan pengamatan dengan larutan bouin’s tidak memperlihatkan kelainan pada langit – langit, telinga, kelopak mata, jari – jari, kaki, ekor, kelopak mata.
Dari hasil pengamatan, Pada kelompok 2 kali pemaparan anti nyamuk bakar ditemukannya 2 tapak resorpsi dan 1 fetus lambat pertumbuhan. Pada kelompok 3 kali pemaparan anti nyamuk bakar ditemukannya fetus anencephaly 1, fetus mati 1, fetus mengalami penggumpalan darah dan fetus lambat pertumbuhan 1. Salah satu penyebab anencephaly adalah hipertermia. Kenaikan suhu tubuh dapat menandakan adanya gangguan metabolic. Suhu tinggi selama trimester pertama kehamilan bisa menyebabkan kelainan pada bayinya seperti anencephaly. Pada kelompok 4 kali pemaparan anti nyamuk bakar ditemukannya fetus yang mati saat dilaparaktomi 1, fetus yang mengalami lambat pertumbuhan sebanyak 3 ekor dan juga ditemukannya fetus yang mengalami trombus
Gambar 2. Foto fetus setel ah laparaktomi; A. Fetus lambat pertumbuhan d an mengal ami penggumpalan darah C; B. Fetus normal;
A B
A B
ISSN : 2087-5045 49 Gambar 3. Fetus mengalami anencepaly: A.
Se belum direndam dalam larutan Bouin’s : B. setelah direndam.
Gambar fetus setelah
Kelainan perkembangan fetus dapat diseba bkan masuknya zat teratogen ke dalam tubuh induk hamil yang bertepatan dengan periode organogenesis. Penelitian ini membuktikan bahwa asap obat nyamuk bakar bersifat teratogenik karena dapat menyebabkan abnormalitas fetus.
Kelainan morfologi tidak terjadi pada semua fetus dalam satu kelompok bahkan dalam satu induk yang sama. Hal ini disebabkan karena adanya kerentanan genetik antar individu walaupun berasal dari induk yang sama (Harbinson, 2001). Komposisi bahan kimia yang berbeda diduga akan menyebabkan komposisi gas dan partikel asap juga bervariasi sehingga menimbulkan dampak yang berbeda terhadap partikel darah. Adanya karbonmonoksida dalam darah dapat mengakibatkan denaturasi hemoglobin dan menurunkan persediaan oksigen untuk jarian seluruh tubuh. Karbonmonoksida menggantikan tempat oksigen dan mempercepat arteosklerosis (pengapuran/penabalan dinding pembuluh darah). Hal ini mengakibatkan peningkatan viskositas darah sehingga mempermudah penggumpalan darah (T andra, 2003).. Fetus normal dan fetus yang mengaT apak resospsi disebabkan karena pengaruh pemakaian anti nyamuk bakar pada masa organogenesis yang mengakibatkan kurangnya oksigen dan mengakibatkan embrio tidak berkembang. Pada masa ini tidak terdapat lagi sifat totipotensi sehingga tidak dapat memperbaiki kerusakan pada jaringan dan tidak terjadi perkembangan selanjutnya. Lambat petumbuhan pada fetus diduga dise babkan adanya faktor kerentanan individu dari fetus tersebut terhadap senyawa teratogen yaitu anti nyamuk bakar (Lu, 1995)
Pada jurnal “ Content of transfluthrin in indoor air during the use of electro vaporizers” disebutkan bahwa kandungan zat aktif transfluthrin pada udara akan menghilang setelah 18 – 24 jam pemakaiannya dihentikan. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan zat aktif transfluthrin hanya terdapat selama penggunaannya berlangsung dan akan hilang setelah penggunaannya dihentikan. Meskipun
pada berbagai jenis pestisida yang telah diteliti pada umumnya meninggalkan residu tetapi tidak pada transfluthrin yang diteliti pada penelitian ini. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kecacatan yang terjadi pada janin belum tentu diseba bkan oleh kandungan transfluthrin saja, tetapi kemungkinan dapat juga dise babkan oleh faktor-faktor lain yang mungkin lebih mempengaruhi seperti adanya kandungan CO yang terhirup dan juga peningkatan temperatur udara dilingkungan dari hasil pembakaran anti nyamuk yang menyebabkan induk mencit mengalami hipertermi.
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemaparan anti nyamuk bakar yang mengandung transflutrhin pada induk mencit putih selama masa kehamilan dapat menyebabkan kelainan pada fetus mencit putih dan penurunan berat badan induk mencit.
DAFTAR PUSTAKA
Almahdy ., (2004). Uji Aktivitas T eratogenitas Ekstrak Etanol Daun Inggu (Ruta graveolens Linn.) pada Mencit Putih.
Jurnal Sains dan Teknologi Farm asi. 82-87.
Almahdy., Arifin, H., Delvita, V. (2007). Pengaruh Pemberian Vitamin C terhadap Fetus pada Mencit Diabetes. Jurnal Sains dan Teknologi Farm asi. 12(1). 32-40. Almahdy. (2010). Pengaruh Ekstrak Gambir
(Uncaria gambier Roxb.) terhadap Fetus dari Mencit Hamil yang Diinduksi Alkohol, Majalah Farmasi Indonesia. 21(2). 115-120.
Almahdy., Marusin, N., Fitri, H. (2011). Uji Aktivitas Vitamin A t erhadap Efek T eratogen Warfarin pada Fetus Mencit Putih, disampaikan pada Prosiding Seminar Nasional Biologi Dept. Biologi FMIPA USU. Medan: USU Press.
Harbinson, R. D. (2001). T he Basic Science of Poison in Cassaret and Doull’s
ISSN : 2087-5045 50
Toxicology. New York: Macmillan Publishing Co. Inc.
Hayes, A. Wallace. (2001). Principles and Methods of Toxicology. (Edisi Keempat). USA: T aylor & Francis Routledge.
Liu, W., Zhang, J., Hashim, J.H., Jalaludin, J., Hashim, Z., & Goldstein, B.D. (2003). “ Mosquito Coil Emissions and Health Implications”. Environm ent Health Perspective, 111(2), 1454-1460.
Lu, F.C. (1995). Basic Toxicology (Edisi kedua). Penerjemah: E. Nugroho. Chicago :University of Chicago Press.
Marjuki, M. I. (2009). Daya bunuh beberapa obat nyamuk bakar terhadap kematian nyamuk Anopheles aconitus. (skripsi). Surakarta : Fakultas farmasi UMS.
Manson, J.M. (1986). The Basic Science of Poisons in Casarett and Doull’s Toxicology. New York : MC Millan Publishing Co.
Okine, L.K.N., Nyarko, A.K., Armah, G.E., Awumbila, B., O wusu, K., Setsoavia, S., Ofosuhene, M. ( 2004). Adverse Effects of Mosquito Coil Smoke on Lung, Liver and Certain Drug Metabilishing Enzymes in Male Wistar Albino Rats, Ghana Medical Journal, 38(3), 89-95.
Roberts, S.J. (1971). Veterinary Obstetrict and Genital Diseases (Therioge- nology). Ithaca. New York.
Triharso. (1994). Dasar - Dasar Perlindungan Tanaman. Yogyakarta: Fakultas pertanian UGM.
ISSN : 2087-5045 51
UJI AKTIVI TAS ANTIDIABETES TIPE II EKSTRAK ETANOL SISA
PENYULINGAN KULI T BATANG KAYU MANIS DENGAN INDUKSI
LEMAK TERHADAP MENCI T PUTI H JANTAN
Ria Afrianti1, M. Husni Mukhtar2, Allen Baksir1
1
Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Perintis
2
Fak. Farmasi Universitas Andalas
ABSTRAC T
The antidiabetic effect type II extract etanol of destilation residu stem bark Cinnam omum burm ani
(Ness)BL to male white mice has been studied, wich induction with lipid with use method of oral glucose test. Extract given by oral with dose 100 mg/kg Bodyweight, 300 mg/kg Bodyweight, 1000 mg/kg Bodyweight, and glibenclamid with dose 0,65 mg/kg Bodyweight as comparison, measuring blood glucose execute day to 0,14, 15,18 and 21 with use instrument the blood glukosa reader (terumo®).The result analysis statistic use test analysis variant and test at show that extract etanol of residu stem bark
Cinnamom um burmanii (Ness) BL in decrease blood glucose mice be significant.
Keywords : antidiabetic, Cinnam omum burmani (Ness)BL
PENDAHULUAN
Diabetes mellitus merupakan masalah kesehatan yang banyak menarik perhatian karena angka prevalensi yang bertambah setiap tahunnya, terutama berkembang seperti di Indonesia. Jumlah penderita diabetes mellitus minimal 2,5 juta pada tahun 1994, tahun 2000 menjadi 4 juta dan tahun 2010 diperkirakan minimal terdapat 5 juta penderita. Diabetes mellitus (DM) merupakan gangguan metabolisme glukosa yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah dan berhubungan dengan komplikasi akut maupun kronik (Setiawan , 2007).
Kasus dia betes yang paling banyak dijumpai adalah diabetes mellitus tipe II yang mempunyai latar belakang kelainan berupa resistensi insulin pada pasien diabetes mellitus tipe II, pengobatannya dengan perencanaan makanan (diet), oleh karena itu diabet es mellitus merupakan penyakit degeneratif yang memerlukan penanganan yang tepat dan serius (Mahdi , 2008).
Salah satu tanaman yang diketahui dapat digunakan untuk pengobatan diabetes adalah kulit kayu batang manis Cinnam omum burmanii
(Ness ex BI),biasanya tanaman ini ditambahkan sebagai rempah-rempah untuk menambah cita
rasa dalam makanan dan memberikan aroma yang enak dan segar (Gunawan, 2004). Berdasarkan pengalaman tradisional kulit batang kayu manis dapat berkhasiat sebagai : obat pelega perut, obat sariawan, karminatif, diabetes, diaforetik, anti reumatik, menurunkan nafsu makan, anti diare, dan obat batuk (Supratmi, 2006). Kulit batang kayu manis mengandung minyak atsiri 1–3 % dengan komponen utama adalah sinamaldehid (60–70%) serta polyfenol, eugenol, damar, lendir, dan kalsium oksalat selain minyak atsiri kulit batang kayu manis juga mengandung Saponin, Flavonoid dan T anin (Rismunandar, 2001 dan Kartasapoetra , 1992).
Pada penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli sebelumnya telah dilakukan pengujian aktifitas anti diabetes yang diinduksi dengan lemak menggunakan sampel murni kulit batang kayu manis (Ade, 2009 ). Pada penelitian ini digunakan metoda yang sama dengan menggunakan sampel yang berbeda yaitu sisa penyulingan kulit batang kayu manis, diperoleh dari PT. Forestrade Indonesia–Lubuk Minturun Padang, yang mana penyulingannya dengan menggunakan air sebagai pelarut untuk mendapatkan minyak atsiri, sehingga sisa dari penyulingan kulit batang kayu manis tersebut dibuang dan tidak digunakan. Oleh karena itu
ISSN : 2087-5045 52
peneliti mencoba untuk melakukan pengujian terhadap sisa penyulingan tersebut, sisa penyulingan diekstraksi menggunakan etanol 96 %, ekstrak yang diperoleh dilakukan pengujian aktifitas antidiabetes tipe II pada mencit putih jantan.
METO DE P EN ELITIAN Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah Seperangkat alat destilasi vakum dan rotary epavorator, spatel, kapas, pinset, corong, penangas air, timbangan analitik, vial, jarum oral, timbangan hewan, kandang hewan, mortir dan stamfer, gunt ing, krus, alat suntik, krus porselen, alat pengukur glukosa darah Blood Glukosa Reader(Terumo®).
Bahan-bahan yang digunakan adalah ekstrak sisa penyulingan kulit batang kayu manis, aquadest, margarine (Blueband), Na. CMC 0,5 %, glibenklamid, etanol 96 %, makanan standar pellet.
He wan Pe rcobaan
Mencit putih jantan yang berumur 2 – 3 bulan dengan berat badan 20 - 30 gram.
Pengambilan Ampas Sisa Penyulingan kulit batang kayu manis.
Sampel diambil dari pabrik PT . Forestrade Indonesia – Lubuk Minturun.
Pembuatan Ekstrak Etanol Sisa Penyulingan kulit batang kayu manis
Ditimbang 2 kg sampel kemudian dimaserasi dengan etanol 96% sampai seluruh sampel terendam, biarkan selama 5 hari didalam botol maserasi yang berwarna gelap sambil sesekali diaduk lalu disaring dan didapatkan filtratnya. Ampas dimaserasi kembali, lakukan sampai 3 kali. Lalu filtrat yang didapat di uapkan secara vakum dengan rotary evaporator
(Depkes RI, 1979).
Dosis yang digunakan
Perlakuan dengan pemberian sediaan uji digunakan dosis 100, 300, 1000 mg/kg BB dan glibenklamid sebagai pembanding dengan dosis 0,65 mg/kg BB
Uji Efek Anti Diabe tes Ekstrak Etanol Sisa Penyulingan Kulit Batang Kayu Manis
1. Disiapkan 6 kelompok mencit yang setiap kelompok terdiri dari 5 ekor mencit, yaitu : a. Kelompok I sebagai kontrol negatif diberi
makanan pellet 5 g/ekor mencit
b. Kelompok II sebagai kontrol positif diberi makanan pellet dan mentega 5 g/ekor mencit dengan perbandingan (1:1) c. Kelompok III, IV, V diberi makanan
pellet dan mentega 5 g/ekor mencit dengan perbandingan (1:1), merupakan kelompok mencit diabetes yang diberi sediaan uji dengan dosis 100, 300 dan 1000 mg/kg BB secara oral.
d. Kelompok VI diberi makanan pellet dan mentega 5 g/ekor mencit dengan perbandingan (1:1) sebagai kelompok pembanding yang diberi glibenclamid dengan dosis 0.65 mg/kg BB secara oral 2. a. Pada kelompok II, III, IV, V, VI diberi
makanan pelet dan mentega 5 g/ekor mencit (1:1) setiap hari sampai hari ke - 21.
b. Pada hari ke 14, 15 , 18, dan 21 dilakukan pemberian sediaan uji pada kelompok III, IV dan V, dengan dosis 100, 300 dan 1000 mg/kgBB, sedangkan kelompok VI diberikan glibenklamid seba gai pembanding dengan dosis 0,65 mg/kgBB setelah penimbangan berat badan.
c. Penimbangan berat badan mencit dilakukan pada hari 7, 14, 15, 16, 17, 18 ,19, 20 dan 21 sebelum pemberian makanan (pellet) dan mentega d. Lakukan pengukuran kadar glukosa
normal mencit dengan mengunakan alat blood glukosa reader, dengan cara : 3. Oleskan kapas yang telah di basahi dengan
alkohol ke ekor mencit kemudian ekornya ditoreh dengan menggunakan pisau silet sampai darah mencit keluar dari ujung ekor. 4. Pasang strip test pada alat blood glukosa
reader, lalu pada daerah ekor mencit yang ditoreh tempelkan strip test. T unggu 10 detik dan amati kadar glukosa darah yang terbaca pada layar monitor.
Analisa Data
Data perubahan kadar glukosa darah yang diperoleh , diolah secara statistik memakai analisa variable (Anova) dua arah dan
ISSN : 2087-5045 53
dilanjutkan uji wilayah Duncan.(Hanafiah, 2005 dan Supranto, 2000)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Ekstrak kental yang diperoleh dari 2 g ampas penyulingan kulit kayu manis adalah 14,03 g (0,7 %). Ekstrak dibuat menjadi 3 variasi dosis yaitu 100 mg/kgBB, 300 mg/kg BB, 1000 mg/kgBB, yang didapat dari rumus thomson, kemudian dibuat dalam bentuk sediaan berupa suspensi dengan NaCMC 0,5 % sehingga dihasilkan campuran yang homogen.
Pada penelitian ini digunakan lemak sebagai penginduksi, dimana lemak disebut juga lipid, merupakan zat yang kaya energi, sehingga pemberian lemak yang berlebihan dapat mempengaruhi kenaikan berat badan atau kita kenal juga dengan obesitas (Smaolin, 1997). Obesitas dapat memacu terjadinya penyakit diabetes mellitus atau lebih dikenal dengan kencing manis. Penyakit ini ditandai dengan gejala-gejala khas yang sering dirasakan adalah rasa haus berlebihan, pengeluaran urin yang berlebihan dan makan yang berlebihan. (Jhon, 1997 dan Guyton, 1998).
Pengamatan dilakukan pada hari ke 14, 15, 18 dan 21 dengan tujuan unt uk melihat pengaruh lamanya pemberian ekstrak sisa penyulingan kulit batang kayu manis terhadap glukosa darah mencit selama 7 hari. Mencit percobaan yang telah diaklimatisai selama satu minggu, ditimbang berat badannya satu persatu
dan diukur kadar glukosa darah normal. Kadar glukosa darah puasa normal jika kecil dari 90 mg/dl, sedangkan kadar glukosa darah puasa diabetes jika besar sama dengan 110 mg/dl. (Widowati, 2005). Untuk melihat efek penurunan kadar glukosa darah dari ekstrak sisa penyulingan kulit batang kayu manis terlebih dahulu mencit diinduksi dengan makanan kaya lemak selama 2 minggu yang masing-masingnya 5 gr/hari/ekor mencit. Setelah dua minggu terjadi peningkatan kadar glukosa darah dan berat badan.
Pengukuran kadar glukosa darah mencit dilakukan dengan menggunakan alat Blood Glukosa Reader. Keuntungan menggunakan alat ini karena kerjanya sederhana dan membutuhkan sedikit darah (1 – 2 tetes) dan dapat mengukur kadar glukosa darah dengan cepat dan tepat antara 20-600 mg/dL (Wade, 1986).
Dari hasil penelitian semua kelompok mencit yang diberi ekstrak sisa penyulingan kulit batang kayu manis selama 7 hari berturut -turut mengalami penurunan kadar glukosa darah yang bermakna pada P<0,05 (terlihat pada tabel I). Pemberian glibenklamid sebagai pembanding juga memperlihatkan penurunan kadar glukosa darah mencit. Hal ini bisa terjadi karena secara umum obat-obatan hiperglikemia bekerja melalui beberapa cara antara lain merangsang sekresi insulin dari sel beta pankreas, mengurangi resistensi insulin atau memperbaiki aktivitas reseptor tersebut terhadap insulin (Soemarji, 2004).
Tabe l 1. Kadar glukosa darah rata – rata mencit putih jantan setelah pemberian sediaan uji.
Kelompok Kadar glukosa darah mencit rata-rata (mg/dl) pada hari ke-
0 14 15 18 21 I (Kontrol Negati f) 88,6±2,70 94,6±5,50 101,4±6,95 104,6±7,89 107,6±6,98 II (Kontrol Positif ) 96±7,11 118±1,58 123,2±3,11 130±4,06 136,4±5,18 III (Dosis 100 mg/kg BB) 89,8±7,19 115±5,38 113,4±3,78 109,4±4,28 102,6±4,56 IV (Dosis 300 mg/kg BB) 98,4±1,52 114,6±8,79 107,2±10,21 102,6±7,50 96,4±6,91 V (Dosis 1000 mg/kgBB) 98±5,05 115±3,81 105,2±4,32 98±2,92 92±7,38 VI (Glibenklamid) 101,8±5,07 118,8±5,12 102,4±3,91 98,6±4,67 93,4±5,18
Dari hasil analisa variasi dua arah diperoleh bahwa perlakuan mempengaruhi kadar glukosa darah mencit putih jantan secara nyata (*P<0.05). Untuk melihat lebih jauh pengaruh
masing-masing faktor terhadap kadar glukosa darah mencit dilakukan uji berjarak Duncan, terlihat perbedaan antara kelompok dosis 1, 2, 3, 4, 5 tidak berbeda nyata kecuali pada
ISSN : 2087-5045 54
kelompok 6 sangat berbeda. Sedangkan hasil perhitungan statistik terhadap berat badan mencit terlihat bahwa penurunan berat badan mencit setiap kelompok yang diberi ekstrak etanol sisa penyulingan kulit batang kayu manis dosis 100 mg/kgBB, 300 mg/kgBB, 1000 mg/kgBB dan pembanding glibenklamid 0,65 mg/kgBB tidak mengalami penurunan berat badan secara berbeda nyata dan waktu juga tidak mempengaruhi penurunan berat badan secara berbeda nyata. Hal ini disebabkan karena perbedaan berat badan rata-rata mencit tidak berbeda jauh.
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di ambil kesimpulan bahwa pada dosis 1000 mg/kgBB ekstrak etanol sisa penyulingan kulit batang kayu manis menunjukkan penurunan kadar glukosa darah sangat berbeda nyata diambil dari perhitungan statistik, dibandingkan kelompok ekstrak dosis 100, 300 mg/kg BB dan kelompok pembanding glibenklamid dosis 0,65 mg/kgBB.
DAFTAR PUSTAKA
Ade T.P.2009, Uji efek anti Diabetes Melitus TIpe II Ekstrak Etanol kayu Manis Cinnamom um burmanii(Nees ex BI)
Terhadap Mencit Putih Jantan, Skripsi S1 sekolah T inggi Ilmu Farmasi Indonesia.Padang .
Departeman Kesehatan Republik Indonesia.1979, Farmakope Indonesia, Edisi III, Jakarta.
Guna wan, D., Mulyani, S.2004, Ilmu Obat Alam (Farm akognosi) Jilid I. Penebar Swadaya, Jakarta.
Guyton, W.1998 ,“Fungsi Endokrin Pankreas dan Pengaturan Metabolism e Karbohidrat”,Diterjemahkan oleh A.Dharma dan P.Lukmanto, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Ed XVII, Jakarta. Hanafiah, K.A.2005, Rancangan Percobaan,
Teori dan Aplikasi, Edisi III, PT Grapindon Persada, Jakarta.
Jhon, H.1997, Horm on Pangkreas dan Obat-Obatan Antidiabetes , Farmakologi Dasar
dan Klinik, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Kartasapoetra, G.1992, Budidaya Tanaman Berkhasiat Obat, Rineka Cipta, Jakarta. Mahdi.2008, Analisis Interaksi Obat
Antidiabetik Oral. Jurnal Farmasi Indonesia.
Rismunandar, Paimin, Farry, B.2001, Kayu Manis Budidaya dan Pengelolaannya, Penebar Swa daya, Jakarta.
Setiawan.2007, Distribusi Penggunaan Antidiabetik Oral di Rum ah Sakit , Jurnal Farmasi Indonesia. Universitas Farmasi Purwokerto.
Soemarji, A.2004, “Penentuan Kadar Glukosa Darah Mencit Secara Tepat”, Untuk Diterapkan Dalam Pemisahan Antdiabetes In Vivo” Acta Pharmasetical Indonesia, Vol. XXIX.
Smaolin, L.A., M.B Grovenor.1997, Nutrition Science and Application, Edisi 2, Soundres College, New York.
Supranto, J.2000, Teori dan Aplikasi, Statistik, Edisi VI, 14, Jakarta.
Supratmi.2006, Efektifitas Ekstrak Kulit Batang Kulit Kayu Manis Sebagai Obat , Jurnal Ilmiah Farmasi. Universitas Islam Indonesia Yogjakarta.
Wade, A., Weller P.1986, “Pharmasetical Exicipients”, Edisi 2, The Pharmaceutical Press, London.
Widiowati, L., Kusuma.2005, “Pengaruh Ekstrak Biji Klabet Terhadap Gam baran Kerusakan Sel Beta Pankreas Pada Tikus NIDDM”, Majalah Medika No. 10,hal 18 -21.
ISSN : 2087-5045 55
PROSES PENYEMBUHAN LUKA BAKAR PADA MENCI T PUTIH
JANTAN MENGGUNAKAN MEMBRAN PEMBALUT DARI PATI
BENGKUANG
(
Pachyrrhizus erosus (L) Urban)
Yufri Aldi1, De di Nofiandi2 dan Elya Sari2
1
Fakultas Farm asi Universitas Andalas
2
Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Perintis Padang
ABSTRAC T
Study of the effect of varying the concentration of the absorption propilenglicol membrane wound dressing yam starch in the healing process of burns on white mice. T he concentration of propilenglicol are used 20%, 30%, 40% of the total analyzed poliblen. Parameter of analysis are organoleptic, membrane thickness, pH,absorption test , antibacterial activity and pharmacological activity. The reasults sh ow that concentrations propilenglicol effect was not significantly different in membrane thickness formula 1 and formula 2, but significantly different from the formula 3, the absorption test formula 3 have the better absorption of the formula 1 and formula 2. in the healing process of burn, healing percentages were not significantly different in each formula, but significantly different from controls.
Keywords : Yam bean, plasticizer, m embrane wound dressing, burns
PENDAHULUAN
Pembalut luka (wound dressing) berfungsi untuk menutupi atau melindungi jaringan baru, menyerap cairan yang keluar dari luka/nanah, mengurangi rasa sakit dan juga diharapkan dapat mempercepat proses penyembuhan luka. Pembalut luka primer yang kontak langsung dengan luka saat ini pada umumnya berbahan dasar karbohidrat antara lain kitoson dan alginat. Dari bahan tersebut akan dihasilkan produk pembalut luka yang berdaya serap tinggi, mudah digunakan/dilepaskan, melindungi terhadap serangan bakteri, dan menutupi luka (Mutia, 2011).
Bengkuang (Pachyrrhizus erosus (L) Urban) merupakan sumber daya alam yang memiliki prospek pengembangan yang sangat luas. Oleh karena itu dilakukan pengolahan bengkuang yang bertujuan memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia menjadi produk yang mempunyai nilai tambah yang tinggi (Alina, 2006). Pati bengkuang telah digunakan dalam berbagai bentuk sediaan, seperti dalam bentuk bedak dingin, masker, pelembab, lotion, dan bath gel (Kusnandar, 2010).
Berdasarkan uraian diatas, mendorong peneliti untuk melakukan penelitian terhadap
membran pembalut luka dari bahan pati bengkuang dengan memvariasikan konsentrasi propilenglikol.
METO DA PEN ELITIAN Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah oven, autoklaf, erlemeyer, cawan petri, kapas, ose, tabung reaksi, spatel, mikrometer, kaca arloji, beaker glass, magnetik stirer, gelas ukur, timbangan analitik, pinset, kasa, plester, desikator, krus porselein, buret, pipet tetes, dan kaca arloji.
Bahan–bahan yang digunakan adalah neomisin sulfat, pati bengkuang, polivinil alkohol, propilenglikol, nipagin, nipasol, air suling, Staphylococcus aureus, mencit putih jantan, NaCl fisiologis, nutrient agar (NA), Mueller-Hilton agar, alkohol 70%, H2SO4 2 N,
fenolftalein 0.1 %, larutan iodium dan NaOH 0,1 N.
Pembuatan pati bengkuang
Umbi bengkuang (Pachyrrhizus erozus
(L) Urban) diambil di daerah Kecamatan Koto T angah, Padang. 3 kg umbi bengkuang yang
ISSN : 2087-5045 56
telah dikupas dan dibersihkn, dipotong kecil, diblender diperas dan disaring, sehingga diperoleh sari bengkuang. Sari bengkuang diendapkan. Endapan yang diperoleh dikeringkan, digerus dan diayak. Sehingga diperoleh pati bengkuang.
Pembuatan membran pembalut luka
Tabe l 1. Formula Membran Pembalut Luka No Nama Zat F1 F2 F3 1 Neomisin sulfat(gr) 0,5 0,5 0,5 2 Pati Bengkuang(gr) 4 4 4 3 Polivinil Alkohol(gr) 2 2 2 4 Propilenglikol(gr) 1,2 1,8 2,4 5 Nipagin(gr) 0,05 0,05 0,05 6 Nipasol (gr) 0,1 0,1 0,1 7 Aquades ad(ml) 100 100 100
Proses pembuatan m em bran yang di lakukan pada penelitian ini mengunakan m etode tuang. Pati bengkuang, polivinil alkohol (PVA), propilenglikol, nipagin, nipasol serta neomisin sulfat ditambahkan air suling yang tersedia dalam beaker glass, kemudian diaduk dengan batang pengaduk dan dipanaskan sambil diaduk dengan m agnetik stirrer . Suhu yang digunakan waktu pemanasan adalah 70ᵒC selama 40 menit , Kemudian tuangkan pada cetakan membran modifikasi dan biarkan kering selama 3 hari pada suhu kamar. Membran yang sudah mengering dilepaskan dari cetakan. Kemudian dilakukan evaluasi terhadap m em bran pem balut luka (Anwar, 2012)
Evaluasi membran pembalut luka a. Peme riksaan Organole ptis
Pemeriksaan organoleptis meliputi pengamatan bentuk, warna, bau dan rasa dari membran yang dihasilkan (DepKes RI, 1995).
b. Peme riksaan pH
Pengukuran pH dilakukan dengan cara 1 gr membran diencerkan dengan air suling hingga 10 ml. elektroda dicelupkan dalam wadah tersebut, biarkan jarum bergerak sampai posisi konstan. Angka yang ditunjukan pHmeter merupakan nilai pH tersebut (Martin, 1993 dan DepKes RI, 1995).
c. Ke te balan membran
Ketebalan membran diukur pada 5 titik berbeda menggunakan mikrometer kemudian dihitung nilai rata-ratanya (Krochta, 1994).
d. Uji Daya Se rap
Membran di potong dengan ukuran 2×2 cm, kemudian ditimbang beratnya sebagai berat awal ( Wt). Lalu membran di rendam dalam 5 ml NaCl fisiologis selama 1, 10, 20, 30 menit. Setelah di rendam permukaan membran dikeringkan dengan tisu kertas dan di timbang beratnya sebagai berat akhir
(Wf) (Lachman, 1994).
Rumus :
×
%e . Uji aktivitas antibakte ri membran pembalut luka pati bengkuang
Medium Mueller-Hilton Agar (MHA) yang telah dicairkan dimasukan dalam cawan petri steril sebanyak 10 ml dan dibiarkan memadat (base layer). Setelah itu dibuat “seed layer” untuk bakteri uji dengan cara mencampur 5 ml medium MHA dengan 1 ml suspensi bakteri Staphylococcus aureus, dihomogenkan lalu dituang di atas base layer dan dibiarkan memadat. Sediaan uji yang telah dibentuk seperti paper disc diletakkan diatas media kemudian diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. Diamati dan diukur zona hambatnya (Fatmawati, 2009).
f. Uji e fektifitas membran pembalut luka bakar pada he wan pe rcobaan
Hewan dikelompokkan menjadi 5 kelompok, masing-masing terdiri dari 5 ekor, yaitu; kelompok kontrol (tidak mengandung neomisin sulfat ), kelompok F1, kelompok F2, kelompok F3 dan kelompok membran pembanding (Daryantulle®). Setiap formula mengandung neomisin sulfat 0,5%.
Bulu pada ba gian punggung hewan dirontokkan dengan menggunakan krim perontok bulu. Ba gian punggung yang telah dirontokkan bulunya dibersihkan dengan alkohol 70%, selanjutnya luka bakar dibuat dengan menggunakan lingkaran logam berdiameter 1,5 cm yang dipanaskan dalam air panas hingga suhu 85
° C
selama 15 menit. Logam panasISSN : 2087-5045 57
tersebut ditempelkan pada bagian punggung mencit yang telah dirontokan bulunya selama 20 detik, timbul luka berbentuk lingkaran dipunggung mencit. Luka yang terbentuk kemudian dioleskan suspensi bakteri
Staphylococcus aureus dengan kapas pada seluruh permukaan luka, kemudian luka ditutupi dengan kain kasa dan diplester (Jewezt, 2012).
Setelah 24 jam terinfeksi, luka bakar dibersihkan dengan NaCl fisiologis kemudian ditutupi dengan membran pembalut luka pati bengkuang berdasarkan masing-masing kelompok, setelah itu ditutupi dengan kain kasa dan diplester. Selanjutnya membran yang baru di tempelkan lagi seperti prosedur diatas setiap satu hari selama 21 hari. Lakukan pengamatan pada luas daerah luka yang sembuh pada hari ke-7, ke-14, ke-21 (Mutia, 2011).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penggunaan pati memiliki ket erbatasan apabila diaplikasikan dalam bentuk sediaan seperti film atau membran karena menghasilkan sediaan yang rapuh dalam kondisi kering dan kemampuan menyerap air yang tinggi untuk itu perlu penambahan bahan yang dapat memperbaiki sifat pati tersebut. Dalam penelitian ini menggunakan propilenglikol sebagai plasticizer. T ujuan penambahan
plasticizer yaitu untuk menurunkan kekakuan dan meningkatkan fleksibilitas sediaan. Kombinasi antara propilenglikol dengan PVA akan menghasilkan sediaan yang lebih lebih kompatibel (terlihat dari film yang dihasilkan transparan dengan permukaan yang relatif rata). Pemilihan penambahan PVA pada formula dapat mempercepat proses pengeringan, dan memberikan kontak yang baik dengan kulit. Pada formula ditambahkan nipagin dan nipasol hal ini bertujuan untuk mencegah pertumbuhan jamur selama pengeringan sediaan.
Konsentrasi penambahan plasticizer pada penelitiaan ini adalah 20%,30%,40% dari polimer. Pemilihan konsentrasi ini berdasarkan uji pendahuluan yang telah dilakukan bahwa pada konsentrasi besar dari 40% maka membran yang terbentuk akan mengkerut dan susah diangkat dari cetakan membran. . Apabila konsentrasi propilenglikol yang digunakan kecil
dari 20% membran yang dihasilkan mudah patah dan kaku.
Hasil pemeriksaan organoleptis dari membran F1, membran yang terbentuk tapi susah diangkat dari cetakan. Hal ini disebabkan karena kecilnya konsentrasi propilenglikol yang digunakan sebagai plasticizer karena plasticizer merupakan komponen yang sangat berperan dalam pembentukan membran untuk menghindari lengketnya membran pada cetakan dan tidak robek pada saat dilepas. Warnanya yang dihasilkan coklat muda, bau khas , dan berasa agak manis.
Hasil pemeriksaan organoleptis F2 dan F3 diperoleh membran yang utuh, warna coklat muda, bau khas, rasa agak manis, serta semakin mudah untuk dikeluarkan dari cetakan.
Plasticizer dapat meningkatkan elastisit as dari membran. Peningkatan konsentrasi propilenglikol menyebabkan ketebalan lapisan membran semakin meningkat dan lebih fleksibilitas.
Pada pemeriksaan pH membran tanpa neomisin sulfat diperoleh hasil pH 7,38 – 7,39 sedangkan membran F1 6,39, F2 6,20 dan F3 6,10. Terjadinya penurunan pH pada Formula diseba bkan adanya kandungan neomisin sulfat yang memiliki pH 6,7. pH membran yang diperoleh sudah sesuai dengan pH fisiologis kulit yaitu 4,2 – 6,5 (Wasitaatmadja, 1997).
Ketebalan membran pada F3 memiliki perbedaan yang signifikan (p<0,05) dibandingkan dengan F2 dan F1 artinya F3 lebih tebal dibandingkan dengan F2 dan F1 ini diseba bkan besarnya konsentrasi propilenglikol pada F3, semakin besar konsentrasi propilenglikol maka semakin tebal sediaan membran yang dihasilkan.
Tabe l 2. Hasil pengukuran ketebalan membran pembalut luka
Formula Rata-ra ta Ketebalan (cm)
F1 0,1272a ± 0,0121 F2 0,1300a ± 0,0082 F3 0,1360b ± 0,0091
Ketebalan membrane merupakan sifat fisik yang akan mempengaruhi daya serap, dimana semakin tebal membran maka daya serapnya semakin besar terlihat pada T abel III uji daya serap diba wah ini, dimana F3 pada menit ke 20, 30 memiliki daya serap yang lebih baik dari pada F1 dan F2.
ISSN : 2087-5045 58 Tabe l 3. Hasil pengukuran uji daya serap membran pembalut luka
Menit ke F1(%) F2 (%) F3 (% 1 68,14b ± 10,00 85,53c ± 18,59 42,00a ± 8,31 5 156,72b ± 17,21 156,9b ± 24,58 109,55a ± 21,63 10 191,09a ± 6,52 192,13a ± 12,25 173,48a ± 69,55 20 210,89a ± 3,88 234,99b ± 13,09 242,88b ± 11,71 30 224,84a ± 4,20 239,93ab ± 14,04 257,24b ± 10,21
Aktivitas antibakteri dari membran dapat dilihat pada tabel III, dimana secara statistik tidak ada perbedaan bermakna antara F1, F2 dan F3, artinya bahwa semua formula memiliki daya hambat yang sama terhadap bakteri.
Tabe l 4. Aktifitas antibakteri membran pembalut luka
Kelompok Diameter daya
hambat (mm) Keterangan
Kontrol 0,00a ± 0,00 Resisten Formula 1 19,91b ± 0,0224 Sensitif Formula 2 19,92b ± 0,0274 Sensitif Formula 3 19,92b ± 0,0274 Sensitif
Dari hasil uji statistik persentase penyembuhan luka tidak ada perbedaan secara bermakna antara semua formula dengan pembanding mencit, namun berbeda nyata dengan kontrol.
Tabe l 5. Persentase penyembuhan luka bakar pada putih jantan.
Kelompok Persen penyembuhan pada hari ke 7 Persen penyembuhan pada hari ke 14 Persen penyembuhan pada hari ke 21 Kontrol negatif 5,19a ± 7,11 57,11a ± 3,89 100 ± 0,00 F1 31,41b ± 91,67 72,52b ± 8,87 100 ± 0,00 F2 31,41b ± 91,67 72,52b ± 8,87 100 ± 0,00 F3 39,78b ± 11,56 79,03b ± 7,59 100 ± 0,00 Pembanding 29,38b ± 6,19 71,39b ± 7,23 100 ± 0,00 KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Variasi konsentrasi propilenglikol pada membran pembalut luka pati bengkuang memberikan daya serap yang lebih besar. 2. Proses penyembuhan luka bakar pada mencit
putih yang di induksi dengan logam panas menggunakan 3 variasi Formula hasilnya tidak berbeda (P>0,05).
DAFTAR PUSTAKA
Alina W, Ersa CB, Fitrianti D, Apriyanti dan Lestari R, 2006, Industri Makanan Dan Minuman Berbasis Bengkuang,
Kumpulan Makalah PKMP PIMNAS XIX
, Universitas Muhamadiyah Malang. Anwar E, 2012, Eksipien Dalam Sediaan
Farm asi Karakteristik dan Aplikasi,
Penerbit Dian Rakyat, Jakarta
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995, Farm akope Indonesia, Edisi IV, Dirjen POM, Jakarta.
Fatmawati A, Mufidah, Sartini dan Halilintar VD, 2009, Aktifitas Antibakteri Krim Ekstrak Daun Kakurang (Stacytarpheta
ISSN : 2087-5045 59 Jam aicensis (L) Vahl) Terhadap
Stapylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginods secara in vitro, Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 13 No. 3, hal 71-75.
Jawetz E, Melnick JL dan Adelberg EA, 2012.
Mikrobiologi Kedokteran edisi 25.Jakarta :EGC Penerbit Buku Kedokteran
Krochta JM, EA Baldwin, and MO Nisperos-Carriedo., 1994, Edible Coating and Film to Improve Food Quality, T echnomic Publishing Company, New York, NY. Kusnandar F, 2010, Kim ia Pangan Komponen
Makro, Dian Rakyat, Jakarta.
Lachman L, Lieberman and JL Kaning, 1994,
Teori dan Praktek Farm asi Industri II, Edisi 3, alih bahasa oleh S.Suyami, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta. Mutia T , Eriningsih R dan Safitri R, 2011,
Membran Alginat Sebagai Pembalut Luka Prim er dan Media Penyam paian Obat Topikal Untuk Luka Yang Terinfeksi,
Jurnal Riset Industri Vo.V, No.2,2011, Hal 161-174.
Wasiatmadja SM., 1997, Penuntun Ilm u Kosm etik Medik, Universitas Indonesia, Jakarta.
ISSN : 2087-5045 60
FORMULASI GEL MI NYAK NILAM DAN UJI DAYA HAMBATNYA
TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus
Widyastuti, Farizal
Akadem i Farmasi Imam Bonjol Bukittinggi
ABSTRAC T
A study on antibacterial activity of gel formulation of patchouli oil has been carried out towards
Staphylococcus aureus. Seven different concentrations of patchouli oil 5–35% were formulated as gel using 3% HPMC as a bases. Several evaluation were examined on the gel formulation including organoleptic examination, homogeneous, pH test, skin irritation test, stability test and spreadability. While antibacterial activity test of the obtained formulation was tested on MHA medium. Antibacterial activity was testes by using difution method. T he result showed that patchouli oil was successfully formulated and physically stable in gel form. The antibacterial effect test showed that FVI (patchouli oil 30%) demonstrated the strongest activity with 12,372 ± 0,395 mm diameter of inhibition towards
Staphylococcus aureus. Antibacterial activity patchaouli oil at concentration 30% was higher than the gel form at the same concentration with 14,708 ± 0,859 mm diameter of inhibition.
Ke ywords : m inyak nilam , patchouli oil, gel, HPMC
PENDAHULUAN
Minyak nilam, sekitar 90% produksi dunia berasal dari penyulingan di Indonesia. Minyak nilam pada bidang farmasi digunakan untuk obat antiradang, antimikroba, antiserangga, antidepresi dan untuk aromaterapi (Mangun et.al, 2012). Komponen kimia penyusun minyak nilam terdiri dari dua golongan yaitu golongan hidrokarbon yang berupa senyawa seskuiterpen, berjumlah sekitar 40–45% dari berat minyak dan golongan hidrokarbon beroksigen yang berjumlah sekitar 52–57% dari berat minyak (Guenther, 1990). Komponen-komponen kimia penyusun minyak nilam yang mempunyai persentase terbesar
adalah patchouli alcohol (32,60%), Δ-guaiene
(23,07%), α-guaiene (15,91%), seychellene
(6,95%) dan α-patchoulene (5,47%) Minyak nilam dengan fraksi yang memiliki titik didih tinggi (Patchouli Alkohol) memiliki kemampuan sebagai antibakteri (Aisyah et.al, 2008). Kandungan minyak nilam tertinggi terdapat pada bagian daun yaitu 4–5%. Minyak nilam menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap
Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Candida albicans, Aspergillus niger dan
Microsporum gypseum (Ulfa, 2008).
Pengembangan formulasi minyak nilam sebagai obat antibakteri pada kulit dapat dibuat dalam bentuk sediaan setengah padat seperti gel. Salah satu zat pembentuk gel tersebut turunan selulosa seperti hidroksipropilmetilselulosa (HPMC) (Anonim, 1994 & Lachman et.al, 1994). Minyak nilam yang telah disuling selama ini masih bertujuan untuk ekspor, belum ada sediaan atau pengolahan lebih lanjut dari minyak nilam tersebut. Aktivitas minyak nilam sebagai antimikroba dapat mengurangi penyakit pada kulit, sehingga dapat dibuat sediaan setengah padat seperti gel.
METO DA PEN ELITIAN Alat dan Bahan
T imbangan, neraca analitik, alat destilasi, beaker glas, gelas ukur, batang pengaduk, spatel, termostat, corong, spatel, wadah gel, deck glass, pH meter, termometer, piknometer, ose steril, kapas, kasa steril, aluminium foil, tabung reaksi, lemari aseptis, autoclave, inkubator, cawan petri, pipet mikro, jangka sorong.
Daun nilam, minyak nilam, Natrium sulfat, HPMC, propilenglikol, metil paraben, propil paraben, air suling, biakan bakteri
ISSN : 2087-5045 61 Staphylococcus aureus, NaCl fisiologis, media
Nutrient Agar dan Mueller Hinton Agar.
Cara Ke rja
Isolasi Minyak Nilam
Daun nilam yang telah dikeringanginkan dimasukkan ke dalam alat destilasi, tambahkan air suling dan dilakukan penyulingan dengan metode uap air. Minyak atsiri yang keluar
ditampung dan diberi Natrium sulfat untuk menghilangkan sisa air. Minyak nilam yang didapat dilakukan pengujian organoleptis, kelarutan dan bobot jenis.
Pembuatan Se diaan Gel
Formula sediaan gel dibuat dengan komposisi sebagai berikut:
Tabe l 1. Formula Gel Minyak Nilam
No. Nama Zat Formula
I II III IV V VI VII 1. Minyak Nilam 5 10 15 20 25 30 35 2. HPMC 3 3 3 3 3 3 3 3. Propilenglikol 10 10 10 10 10 10 10 4. Metil Paraben 0,15 0,15 0,15 0,15 0,15 0,15 0,15 5. Propel Paraben 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 6. Air suling ad 100 100 100 100 100 100 100
Se diaan dibuat dengan cara 40 ml air suling didihkan dan dimasukkan metil paraben dan propil paraben sambil diaduk hingga larut. HPMC sebanyak 3 gram dimasukkan ke dalam larutan diatas. T ermostat diturunkan suhunya dan sediaan dibiarkan selama 5 menit sambil diaduk. Sediaan diturunkan dari termostat, aduk hingga dingin. Minyak atsiri dicampur dengan propilenglikol dan ditambahkan kedalam sedikit demi sedikit ke dalam basis gel sambil diaduk homogen. Sisa air suling ditambahkan hingga diperoleh bobot yang cukup sambil dia duk homogen.
Evaluasi Se diaan Gel
Evaluasi sediaan gel meliputi warna dan bau dilakukan secara visual, homogenitas, pengaruh perubahan suhu, pemeriksaan pH dan pemeriksaan daya sebar.
Pengujian Aktivitas Antibakte ri Gel Minyak Nilam
Cawan petri yang telah disterilkan diletakkan beberapa silinder dengan diameter 6 mm. Suspensi bakteri sebanyak 0,5 mL ditambahkan kedalam media MHA sebanyak 15 mL, selanjutnya dimasukkan kedalam cawan petri. Setelah media memadat, silinder diangkat, sehingga membentuk lubang pada media. Se diaan gel minyak nilam diletakkan didalam lubang. Diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC. Hasil diamati ada tidaknya daerah
hambatan yang jernih disekeliling lubang dan diukur diameternya.
Analisis Data
Analisis data yang didapat menggunakan Uji Anova satu arah dengan taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan Uji Student’s Newman Keuls (SNK) jika ada perbedaan yang signifikan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Daun nilam yang telah dikeringkan tersebut selanjutnya dilakukan penyulingan dengan cara penyulingan dengan uap langsung. Metode penyulingan ini dipilih karena mempunyai beberapa keuntungan diantaranya uap air yang dihasilkan selalu dalam kondisi jernih sehingga dapat dilihat batas antara air dan minyak yang dihasilkan. Selain itu, suhu yang dihasilkan tidak terlalu panas sehingga tingkat kegosongan minyak lebih terkendali. Namun, cara ini juga memiliki suatu kelemahan, yaitu tekanan uap yang dihasilkan relatif rendah sehingga belum dapat menghasilkan minyak dengan waktu yang cepat (Mangun, et.al, 2012).
Dari hasil penyulingan tersebut didapatkan rendemen minyak nilam yang dihasilkan berkisar 0,77%. Teknik penyulingan minyak nilam mempengaruhi hasil yang didapatkan. Yuliana (2003) telah melalukan
ISSN : 2087-5045 62
isolasi minyak nilam dengan teknik destilasi, ekstraksi dan fermentasi. Rendemen minyak nilam dari daun kering yang diperoleh dengan menggunakan teknik destilasi sebanyak 0,73%, teknik ekstraksi sebanyak 3,56% dan teknik fermentasi sebanyak 6,22%. Proses destilasi yang dilakukan pada daun nilam dapat mengakibatkan kehilangan minyak atsiri karena terjadi penguapan.
Pemeriksaan organoleptis dari minyak nilam hasil penyulingan didapatkan berupa cairan kental berwarna kuning kecoklatan dengan bau khas minyak nilam. Hal ini berbeda dengan minyak nilam yang dihasilkan oleh penyulingan yang dilakukan masyarakat Pasaman, dimana warnanya coklat kemerahan. Perbedaan warna minyak nilam kemungkinan karena masyarakat Pasaman menyuling tanaman nilam dengan menggunakan alat yang sederhana yaitu banyak memakai drum bekas (Saputra, 2009).
Minyak nilam yang dihasilkan larut dengan alkohol 90% pada suhu 23oC. hal ini sesuai dengan syarat mutu minyak nilam yang tertera dalam SNI Minyak Nilam. Untuk pemeriksaan bobot jenis didapatkan hasil 0,98322 dan pada minyak nilam hasil penyulingan masyarakat di dapatkan bobot jenis 0,99037. Pemeriksaan dilakukan pada suhu
23oC. Menurut SNI Minyak Nilam, bobot jenis minyak nilam berkisar 0,950 – 0,975 pada pengukuran suhu 25oC. Perbedaan hasil bobot jenis kemungkinan disebabkan oleh perbedaan pada suhu pengukuran.
Formula sediaan minyak nilam dibuat dalam bentuk gel. Dasar gel yang digunakan berbentuk setengah padat, bening transparan dan berbau khas. Hasil pemeriksaan dasar gel menunjukkan bahwa gel homogen, tidak memisah karena perubahan suhu, tidak mengiritasi kulit, mempunyai pH 7,10 dan daya sebar sebesar 24,936 ± 1,357 cm2 pada beban 5 g dan setelah disimpan selama 8 minggu daya sebar menurun menjadi 19,386 ± 1,186 cm2 . Hal ini menunjukkan bahwa dasar gel dapat digunakan untuk pemakaian pada kulit.
Hasil pemeriksaan pada semua formula dengan perbedaan konsentrasi minyak nilam menunjukkan bentuk setengah padat, warna kuning muda, bau khas minyak nilam, homogen, tidak memisah dengan perubahan suhu dan tidak mengiritasi kulit. Warna kuning muda diseba bkan karena minyak nilam tidak larut dalam air sehingga tidak tercampur dalam bentuk terlarut tetapi dalam bentuk partikel halus terbagi rata dalam sediaan gel. Dengan adanya minyak nilam maka gel yang dihasilkan tidak lagi transparan.
Tabe l 2. Evaluasi Gel Minyak Nilam
No. Pemeriksaan
Formula
BS FI FII FIII FIV FV FVI FVII
1. Pemerian Bentuk Warna Bau sp sp sp sp sp sp sp sp bng km km km km km km km tb bkn bkn bkn bkn bkn bkn bkn 2. Homogenitas hmg hmg hmg hmg hmg hmg hmg hmg
3. Pengaruh perubah an suhu tm tm tm tm tm tm tm tm
4. Uji iritasi kulit ti ti ti ti ti ti ti ti
5. pH 6,80 5,47 5,05 4,91 4,81 4,71 4,61 6,21 6. Daya Sebar (cm2) Awal Beban 5 g 3,28 2,03 2,11 1,93 1,77 1,77 1,47 1,07 19,39 6,47 7,93 6,01 4,91 4,04 4,28 3,04 Keterangan:
sp = setengah padat hmg = homogenitas km = kuning muda tm = tidak memisah bkn = bau khas nilam ti = tidak mengiritasi bng = bening transparan tb = tidak berbau
ISSN : 2087-5045 63
pH gel mengalami penurunan dengan adanya minyak nilam. Hal ini dapat terjadi karena sebagian besar minyak atsiri merupakan asam lemah atau netral (Guenther, 1990). T erdapat perbedaan harga pH dari masing-masing formula, dimana dengan kenaikan konsentrasi minyak nilam maka terjadi penurunan pH sediaan. pH juga mengalami penurunan setelah sediaan disimpan selama 8 minggu. T etapi harga pH masih memenuhi persyaratan, persyaratan sediaan untuk kulit mempunyai pH antara 4,5 – 6,5.
Pada pengujian daya sebar juga terjadi perubahan, dimana semakin besar konsentrasi minyak nilam, maka daya sebar gel semakin menurun. Demikian juga pada penyimpanan sediaan selama 8 minggu juga terjadi penurunan besarnya daya sebar. Hal ini kemungkinan diseba bkan karena pengaruh polimer yang digunakan sebagai bahan dasar gel yang akan mengalami swelling sehingga menyerap sebagian air yang ada dalam gel. Daya se bar gel yang baik berkisar antara 5 – 7 cm2 (Garg et.al, 2002). Dengan melihat hasil yang didapat maka FIV, FV dan FVI memenuhi persyaratan daya sebar gel. Setelah dilakukan penyimpanan, maka FI dan FIII yang memenuhi persyaratan daya sebar gel. Dari penelitian yang dilakukan didapatkan daya sebar gel akan menurun dengan penambahan konsentrasi minyak nilam. Hal ini berarti semakin besar konsentrasi minyak nilam maka gel yang dihasilkan semakin kental.
Pada pengujian aktivitas antibakteri minyak nilam pada konsentrasi 30% terhadap
bakteri Staphylococcus aureus yang dilakukan oleh Dzakwan (2012) didapatkan diameter daerah hambatan sebesar 18,30 mm dan yang dilakukan oleh Das et.al, (2011) pada konsentrasi 30% sebesar 14,53 ± 0,37, sedangkan pada penelitian yang dilakukan juga pada konsentrasi 30% didapatkan daerah hambat sebesar 14,708 ± 0,859 mm. Hal ini kemungkinan disebabkan karena perbedaan kandungan patchouli alcohol dari masing-masing tanaman nilam dengan daerah yang berbeda (Mangun et.al, 2012). Pengujian aktivitas antibakteri gel terhadap bakteri
Staphylococcus aureus dengan konsentrasi minyak nilam 5–35% secara keseluruhan menunjukkan aktivitas antibakteri. Dasar gel tidak menunjukkan aktivitas antibakteri karena tidak menghasilkan daerah bening. Pada penelitian ini peningkatan konsentrasi minyak nilam dalam sediaan sampai dengan 30% menunjukkan peningkatan diameter hambatan, tetapi pada konsentrasi 35% menunjukkan penurunan diameter daerah hambat. Hal ini kemungkinan disebabkan karena pada konsentrasi minyak nilam yang tinggi menyebabkan gel menjadi lebih kental yang ditunjukkan oleh ukuran daya sebar yang lebih kecil dibandingkan konsentrasi 30%, sehingga kemungkinan proses difusi zat aktif untuk menghambat pertumbuhan bakteri menjadi menurun.
Tabe l 3. Diameter Daerah Hambat
Formula A (mm) B (mm) C (mm) D (mm) FI 10,398 ± 0,814 10,202 ± 1,031 9,628 ± 1,079 9,570 ± 0,555 FII 10,866 ± 0,512 11,202 ± 1,169 9,516 ± 0,405 10,418 ± 0,934 FIII 11,084 ± 0,417 10,824 ± 0,294 9,850 ± 0,439 11,002 ± 0,693 FIV 11,484 ± 0,381 11,092 ± 0,428 11,092 ± 0,627 10,652 ± 0,710 FV 12,214 ± 0,619 11,722 ± 0,571 13,382 ± 1,529 11,408 ± 1,298 FVI 12,372 ± 0,395 11,942 ± 0,432 14,708 ± 0,859 15,034 ± 0,685 FVII 12,164 ± 0,690 11,382 ± 1,018 14,620 ± 0,661 14,752 ± 0,502 Keterangan:
A = Gel Minyak Nilam Hasil Penyulingan
B = Gel Minyak Nilam Hasil Penyulingan Masyarakat C = Minyak Nilam Hasil Penyulingan
ISSN : 2087-5045 64 Gambar 1. Uji Daya Hambat Minyak Nilam
dan Gel Minyak Nilam Dalam Berbagai Konsentrasi terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Dengan melakukan uji statistik terhadap minyak nilam dan sediaan gel dengan konsentrasi yang sama dengan menggunakan metoda analisa varian (anova) dan dilanjutkan dengan uji SNK, maka didapatkan pada konsentrasi 30% terdapat perbedaan yang bermakna antara diameter daerah hambat minyak nilam dengan sediaan gelnya (p<0,05). Diameter daerah hambat minyak nilam lebih besar daripada diameter daerah hambat gel minyak nilam. Apabila dibandingkan secara statistik minyak nilam hasil penelitian dengan minyak nilam yang dihasilkan oleh masyarakat
Pasaman, maka tidak terdapat perbedaan yang bermakna. Perbedaan diameter daerah hambat antara minyak nilam dengan gel minyak nilam dapat diambil kesimpulan bahwa diameter daerah hambat yang didapat dipengaruhi oleh pelepasan zat aktif dari basis gel.
KESIMPULAN
Dasar gel dan gel minyak nilam setelah dilakukan penyimpanan selama 8 minggu tidak mengalami perubahan bentuk, warna, bau, homogenitas, pengaruh perubahan suhu dan tidak mengiritasi kulit. pH mengalami penurunan dengan konsentrasi minyak nilam yang ditingkatkan dan penyimpanan. Daya sebar mengalami penurunan dengan pertambahan konsentrasi minyak nilam dan penyimpanan. Diameter daerah hambat gel minyak nilam dipengaruhi oleh pelepasan zat aktif dari dasar gel, konsentrasi minyak nilam dan daya sebar. Diameter daerah hambat gel minyak nilam yang terbesar diberikan oleh Formula VI (30% minyak nilam) sebesar 12,372 ± 0,395 mm.
DAFTAR PUSTAKA
Aisyah, Y., P. Hastuti, H. Sastrohamidjojo & C. Hidayat, 2008, Komposisi Kimia dan Sifat Antibakteri Minyak Nilam (Pogostem on cablin), Majalah Farmasi Indonesia 19 (3), 151 – 156
Anonim, 1994, The Pharmaceutical Codex, 12th ed, The Pharmaceutical Press, London. Anonim, 2006, SNI 06-2385-2006 Minyak
Nilam, Standar Nasional Indonesia, Jakarta.
Das, K., N.K. Gupta & N. Sekeroglu, 2011, Studies on Comparative Antimicrobial Potensial of Cultivated Patchouli Oil and Marketed Eucalyptus Oil, International Journal of Natural and Engineering Sciences 5 (3), 1 – 7.
Dzakwan, M., 2012, Uji Aktivitas Antibakteri Minyak Atsiri Daun Nilam (Pogostemon cablin, Benth) Terhadap Staphylococcus aureus dan Eschericia coli, Jurnal Biom edika, Volume 01, Nomor 02. Garg, A., D. Aggarwal, S. Garg & A.K. Singla,