• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis SWOT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Analisis SWOT"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS MANAJEMEN KEPERAWATAN

TUGAS MANAJEMEN KEPERAWATAN

“MAKP

“MAKP

--

ANALISA SWOT”

ANALISA SWOT”

Dosen Pembimbing:

Dosen Pembimbing:

 Nurul Aini S. Kep.,

 Nurul Aini S. Kep., M. Kep.

M. Kep.

Oleh :

Oleh :

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2011

2011

(2)

LANGKAH 1 (PENGUMPULAN DATA) LANGKAH 1 (PENGUMPULAN DATA)

Sebuah ruangan interna di RSUD B akan menerapkan metode asuhan keperawatan profesiona Sebuah ruangan interna di RSUD B akan menerapkan metode asuhan keperawatan profesiona (MAKP). Sebagai persiapan, buatlah analisis SWOT guna menentukan langkah dan strategi (MAKP). Sebagai persiapan, buatlah analisis SWOT guna menentukan langkah dan strategi agar tujuan program dapat tercapai dengan optimal. Adapun gambaran situasinya sebagai agar tujuan program dapat tercapai dengan optimal. Adapun gambaran situasinya sebagai  berikut:

 berikut:

1.

1. Visi, misi dan mottoVisi, misi dan motto VISI :

VISI :

Mampu memberikan pelayanan kesehatan dalam meningkatkan dan menjaga derajat Mampu memberikan pelayanan kesehatan dalam meningkatkan dan menjaga derajat kesehatan bagi masyarakat umu terutama diruang interna wanita sesuai dengan standar  kesehatan bagi masyarakat umu terutama diruang interna wanita sesuai dengan standar   pelayanan yang berlaku.

 pelayanan yang berlaku.

MISI : MISI : 1.

1. Menyelanggarakan pelayanan kesehatan secara profesional dan bermutu, berdayaMenyelanggarakan pelayanan kesehatan secara profesional dan bermutu, berdaya saing kuat serta terjangkau oleh masyarakat umum.

saing kuat serta terjangkau oleh masyarakat umum. 2.

2. Menyelanggarakan pengelolaan pelayanan kesehatan secara mandiri denganMenyelanggarakan pengelolaan pelayanan kesehatan secara mandiri dengan memiliki SDM sarana dan prasarana sesuai dengan perkembangan tekhnologi.

memiliki SDM sarana dan prasarana sesuai dengan perkembangan tekhnologi. 3.

3. Menyelanggarakan manejemen rumah sakit berdasarkan prinsip-prinsip pengelolaanMenyelanggarakan manejemen rumah sakit berdasarkan prinsip-prinsip pengelolaan rumah sakit yang profesional sehingga mampu tumbuh dan berkembang tanpa rumah sakit yang profesional sehingga mampu tumbuh dan berkembang tanpa meninggalkan fungsi sosial rumah sakit.

meninggalkan fungsi sosial rumah sakit.

MOTTO MOTTO

KEPERCAYAAN, KESEHATAN DAN KEPUASAN ANDA ADALAH

KEPERCAYAAN, KESEHATAN DAN KEPUASAN ANDA ADALAH

KEBANGGAN KAMI. KEBANGGAN KAMI.

2.

2. HASIL PENGUMPULAN DATAHASIL PENGUMPULAN DATA 2.1

2.1 Sumber Daya Manusia (M1-Man)Sumber Daya Manusia (M1-Man) I.

I. Struktur organisasiStruktur organisasi

Ruangan interna dipimpin oleh kepala ruangan dan dibantu oleh wakil Ruangan interna dipimpin oleh kepala ruangan dan dibantu oleh wakil kepala ruangan dan 3 ketua tim, dan 8 perawat pelaksana, tata usaha bersama 5 kepala ruangan dan 3 ketua tim, dan 8 perawat pelaksana, tata usaha bersama 5  pos

 pos atau atau yang yang difungsikan difungsikan sebagai sebagai pembantu pembantu perawat perawat serta serta tiga tiga orang orang yangyang  bertugas sebagai cleaning service. Adapun struktur organisasinya adalah :  bertugas sebagai cleaning service. Adapun struktur organisasinya adalah :

(3)

LANGKAH 1 (PENGUMPULAN DATA) LANGKAH 1 (PENGUMPULAN DATA)

Sebuah ruangan interna di RSUD B akan menerapkan metode asuhan keperawatan profesiona Sebuah ruangan interna di RSUD B akan menerapkan metode asuhan keperawatan profesiona (MAKP). Sebagai persiapan, buatlah analisis SWOT guna menentukan langkah dan strategi (MAKP). Sebagai persiapan, buatlah analisis SWOT guna menentukan langkah dan strategi agar tujuan program dapat tercapai dengan optimal. Adapun gambaran situasinya sebagai agar tujuan program dapat tercapai dengan optimal. Adapun gambaran situasinya sebagai  berikut:

 berikut:

1.

1. Visi, misi dan mottoVisi, misi dan motto VISI :

VISI :

Mampu memberikan pelayanan kesehatan dalam meningkatkan dan menjaga derajat Mampu memberikan pelayanan kesehatan dalam meningkatkan dan menjaga derajat kesehatan bagi masyarakat umu terutama diruang interna wanita sesuai dengan standar  kesehatan bagi masyarakat umu terutama diruang interna wanita sesuai dengan standar   pelayanan yang berlaku.

 pelayanan yang berlaku.

MISI : MISI : 1.

1. Menyelanggarakan pelayanan kesehatan secara profesional dan bermutu, berdayaMenyelanggarakan pelayanan kesehatan secara profesional dan bermutu, berdaya saing kuat serta terjangkau oleh masyarakat umum.

saing kuat serta terjangkau oleh masyarakat umum. 2.

2. Menyelanggarakan pengelolaan pelayanan kesehatan secara mandiri denganMenyelanggarakan pengelolaan pelayanan kesehatan secara mandiri dengan memiliki SDM sarana dan prasarana sesuai dengan perkembangan tekhnologi.

memiliki SDM sarana dan prasarana sesuai dengan perkembangan tekhnologi. 3.

3. Menyelanggarakan manejemen rumah sakit berdasarkan prinsip-prinsip pengelolaanMenyelanggarakan manejemen rumah sakit berdasarkan prinsip-prinsip pengelolaan rumah sakit yang profesional sehingga mampu tumbuh dan berkembang tanpa rumah sakit yang profesional sehingga mampu tumbuh dan berkembang tanpa meninggalkan fungsi sosial rumah sakit.

meninggalkan fungsi sosial rumah sakit.

MOTTO MOTTO

KEPERCAYAAN, KESEHATAN DAN KEPUASAN ANDA ADALAH

KEPERCAYAAN, KESEHATAN DAN KEPUASAN ANDA ADALAH

KEBANGGAN KAMI. KEBANGGAN KAMI.

2.

2. HASIL PENGUMPULAN DATAHASIL PENGUMPULAN DATA 2.1

2.1 Sumber Daya Manusia (M1-Man)Sumber Daya Manusia (M1-Man) I.

I. Struktur organisasiStruktur organisasi

Ruangan interna dipimpin oleh kepala ruangan dan dibantu oleh wakil Ruangan interna dipimpin oleh kepala ruangan dan dibantu oleh wakil kepala ruangan dan 3 ketua tim, dan 8 perawat pelaksana, tata usaha bersama 5 kepala ruangan dan 3 ketua tim, dan 8 perawat pelaksana, tata usaha bersama 5  pos

 pos atau atau yang yang difungsikan difungsikan sebagai sebagai pembantu pembantu perawat perawat serta serta tiga tiga orang orang yangyang  bertugas sebagai cleaning service. Adapun struktur organisasinya adalah :  bertugas sebagai cleaning service. Adapun struktur organisasinya adalah :

(4)

Struktur karyawan perawatan di ruang interna. Struktur karyawan perawatan di ruang interna.

1.

1. Jumlah tenaga di ruang interna wanita rumah sakit YJumlah tenaga di ruang interna wanita rumah sakit Y a.

a. KEPERAWATANKEPERAWATAN

 No

 No Kualifikasi Kualifikasi Jumlah Jumlah Masa Kerja Masa Kerja JenisJenis 1.

1. S1 S1 Keperawatan Keperawatan 2 2 5 5 tahun: tahun: 1 1 orangorang 3 tahun: 1 orang 3 tahun: 1 orang PNS PNS PNS PNS 2.

2. D3 D3 Keperawatan Keperawatan 4 4 < < 5 5 tahun: tahun: 2 2 orangorang 5-10 tahun: 1 orang 5-10 tahun: 1 orang 4 bulan: 1 orang 4 bulan: 1 orang PNS PNS PNS PNS Honorer  Honorer  3.

3. SPK SPK 7 7 >25 >25 tahun: tahun: 7 7 orang orang PNSPNS 4.

4. Mahasiswa Mahasiswa PSIK PSIK 10 10 1 1 bulan: bulan: 10orang10orang

b.

b.  NON-KEPERAWATAN NON-KEPERAWATAN

 No

 No Kualifikasi Kualifikasi Jumlah Jumlah JenisJenis 1.

1. Tata Tata usaha usaha 1 1 orang orang PNSPNS 2.

2. Cleaning service Cleaning service 3 3 orang orang Honorer Honorer  3.

3. Ahli gizi Ahli gizi 2 2 orang orang PNSPNS 4.

4. POS POS 5 5 orang orang bervariasibervariasi Katim 3 Katim 3 Katim 2 Katim 2 Katim 1 Katim 1 Tata Usaha Tata Usaha Wakil Karu Wakil Karu Perawat 3 Perawat 3 Kepala

KepalaRuanganRuangan

Perawat

(5)

2. Tingkat Ketergantungan Pasien Dan Kebutuhan Tenaga Perawat Tingkat ketergantungan Jumlahkebutuhan tenaga

Tingkat ktg Jml pasien PAGI SORE MALAM

Minimal 12 12x0,17=2,04 12x0,14=1,68 12x0,07=0,84 Parsial 5 5x0,27=1,35 5x0,15= 0,75 5x0,10= 0,5 Total 3 3x0,36= 1,08 3x0,36= 1,08 3x0,2= 0,6 Jumlah 20 4,47 4 3,51 4 1,94 2

Total tenaga perawat Pagi : 4 orang Sore : 4 orang Malam : 2 orang + 10 orang           

Jumlah tenaga perawat lepas perhari : 3 orang Jadi jumlah perawat yang di butuhkan:

10 orang + 2 orang structural (kepala ruangan, wakil kepala ruangan) + 3 orang lepas dinas = 15 orang

3. BOR pasien

Berdasarkan hasil pengkajian, didapatkan gambaran kapasitas tempat tidur  ruang interna, yaitu 25 tempat tidur dengan rincian sebagai berikut:

 NO Shift Kelas II Kelas III BOR 

1. Pagi 4 bed (2 kosong) 21 bed (3 kosong) 20/25x100=80% 2. Sore 4 bed (2 kosong) 21 bed (3 kosong) 20/25x100=80% 3. Malam 4 bed (2 kosong) 21 bed (3 kosong) 20/25x100=80%

Pengumpulan data dalam hal ketenangan di ruangan interna dilakukan melalui observasi dan wawancara secara langsung dengan perawat ruangan maupun melalui kuesioner. Berdasarkan hasil angket maupun kuesioner di

(6)

ruangan dengan responden adalah perawat ruangan, didapat data bahwa: 69,2%  perawat puas dengan struktur organisasi yang telah ada di ruangan, 65%  perawat menyatakan bahwha pembagian tugas di ruangan secara structural sudah baik namun dalam pelaksanaanya masih belum jelas. Hasil wawancara dengan kepala ruangan menyatakan bahwa 60% kerja perawat di ruangan sudah cukup baik namun 54% perawat masih berlatar pendidikan SPK. Setelah diberikan kuisioner didapatkan data bahwa ternyata 60% perawat membutuhkan kesempatan dan beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan mengikuti seminar tentang pelatihan keperawatan.kepala ruangan  juga menyatakan bahwa R.S telah memberikan kebijakan kepada perawat untuk 

mendapat beasiswa dan kesempatan untuk kuliah maupun seminar pelatihan  perawat. Namun disisi lain menurut kepala ruangan, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan tentang profesionalisme perawat mengingat tuntunan masyarakat akan kesehatan semakin meningkat, masyarakat juga membutuhkan  pelayanan baik, dan R.S mempunyai kebijakan untuk menerima pasien

ASKESKIN dan member kesempatan perawat asing untukmasuk ke R.S.

Berdasarkan hasil observasi, didapatkan data bahwa ruangan interna wanita dipimpin oleh kepala ruangan dan dibantu oleh wakil kepala ruangan dan 3 ketua tim, dan 8 perawat pelaksana, tata usaha bersama 5 POS atau yang di fungsikan sebagai pembantu perawat serta tiga orang yang bertugas sebagai cleaning service. 60% pasien di ruang interna wanita dengan tingkat ketergantungan minimal 25% denagn tingkat ketergantungan parsial dan 15% dengan tingkat ketergantungan total. Jumlah tenaga lepas dinas perhari di ruangan adalah 3 dan totaldan total jumlah perawat adalah 13 orang dengan 2 orang berpendidikan S1, 4 orang DIII dan 7 orang SPK yang di bagi mrnjadi 3 shift kerja yakni, shift pagi (07.00-15.00), shift sore (15.00-23.00), dan shift malam (23.00-06.30). perawat mendapatkan kesempatan untuk mengambil cuti 1x dalam seminggu. Sedangkan berdasarkan hasil perhitungan, BOR pasien di ruangan adalah 80%.

2.2 Sarana dan perasarana (M2- Material) 1. Lokasi dan denah

Lokasi penerapan proses menejerial keperawatan ini di lakukan di ruang interna dengan uraian denah sebagai berikut :

(7)

Sebelah utara berbatasan dengan ruang bedah Sebelah selatan berbatasan dengan ruang saraf  Sebelah Barat merupakan arah belakang ruangan

Sebelah timur merupakan arah pintu masuk ke dalam ruangan 2. Peralatan dan fasilitas

a. Fasilitas untuk pasien

 NO Nama barang Jumlah Kondisi ideal Usulan 1. Tempat tidur 25 bed Cukup 1:1

-2. Meja pasien 25 buah baik 1:1

-3. Kipas angin 7 buah Cukup baik 4/ ruangan Perlu di kurangi 4. Kursi roda 3 buah Cukup baik 2-3/ruangan

-5. Branchart 2 buah Cukup abik 1 peruanagn Perlu di kurangi 6. Jam diding 2 buah Baik 2 peruangan

-7. timbangan 1 buah baik 1 peruangan -8. Kamar mandi

& WC

4 buah Cukup baik Kelas 2= 1:2 Kelas 3= 1:5

Perlu di tambah 1 kamar mandi 9. Dapur 1 buah Cukup baik 1 peruangan

-10. Wastafel 2 buah baik 2 peruangan

- b. Fasilitas untuk petugas kesehatan

 Ruang kepala ruangan menjadi atu dengan ruang pertemuan perawat  Kamar mandi perawat atau WC ada Satu.

 Ruang staf dokter ada di sebelah barat nursing station

  Nursing station berada di tengah ruangan di sebelah ruang staf dokter  dan ruang pasien kelas 2

 Gudang berada di sebelah selatan ruang ganti

(8)

c. Fasilitas dan bahan kesehatan yang ada di ruang interna

 NO Nama barang jumlah kondisi ideal usulan 1. stetoskop 5 buah baik 2 peruangan Di kurangi

2. Hb meter 2 buah baik 2 peruangan

-3. urometer 2 buah baik 2peruangan

-4. Lemari es 1 buah baik 1 peruangan

-5. comstenlist 4 buah baik 3 peruangan Di kurangi 6. Tabung o2 5 buah baik 2 peruangan Di kurangi 7. senter 2 buah baik 2 peruangan Di kurangi 8. Bak injekdi 8 buah baik 2 peruangan Di kurangi 9. Ember sampah pasien 3 buah baik 1:1 Di tambah 22 10. Papan tulis 2 buah baik 1 peruangan Di kurangi 11. Lemari kaca 2 buah baik 1 peruangan Di kurangi 12. Lemari besi 1 buah baik 1 peruangan

-13. Tensi meter 5 buah baik 2 peruangan Di kurangi 14. Pinset anatomis 10 bauh baik 2 peruangan Di kurangi 15. Piset crurugis 10 buah baik 2 peruang Di kurangi 16. Gunting mikrotomi 10 buah baik 2 peruangan Dikurangi 17. Gunting perban 3 bauh baik 2 peruangan Di kurangi 18. bengkok 10 buah Baik 2 peruangan Dikuarangi 19. Korentang dan tempat 5 bauh baik 2 peruangan Di kurangi

20. suction 2 buah baik 2 peruangan

-21. telfon 1 buah baik 1 peruangan

-22. komputer 1 set baik 1 peruangan

-23. Alat pemadam kebakaran

1 buah baik 1 peruangan

-24. Lemari obat 1 buah baik 2 peruangan -25. Lampu darurat 2 buah baik 2 peruangan

-26. Spuit glisering 1 buah baik 2 peruangan Di tambabah satu 27. Kereta obat 4 buah baik 1 peruangan Di kurangi

28. Standart baskom 5 bauh baik 2 peruangan Di kurangi 29. Standart infus 10 buah Baik 1:1 Di tambah 15

(9)

30 Ambu beg 1 buah baik 1/ ruangan

-31. Kursi lipat 10 bauh 2 rusak 5/ ruangan Di kurangi 32. Mono meter lengkap 2 buah baik 2 peruangan

-33. Standart O2 1 bauh baik 2 peruangan Di tambah 1 34. Thermometer 5 bauah 1 buah 5 peruangan Di tambah1

3. Administrasi lengkap a. Buku injeksi  b. Buku observasi

c. Lembar dokumentasi

d. Buku observasi suhu dan nadi e. Buku timbang terima

Sarana dan prasarana diruang rawat inap interna wanita RSUD Y cukup baik. Fasilitas  penunjang seperti 4 kamar mandi, 1 tempat parker, dan 1 kantin kondisinya cukup baik. Tetapi idealnya kamar mandi kelas 2= 1:2 dan klas 3= 1:5,1 tempat parker / ruangan, 1 kantin / ruangan , sehingga perlu ditambah 1 kamar mandi. Ventilasi udara terdapat 10  jendela kondisinya cukup baik. Setiap pagi dan sore ruangan dibersihkan oleh petugas

cleaning service dan kondisi ruangan cukup tenang. Jumlah tabung O2 ada 5 buah, perlu dikurangi 3, sebab idealnya ada 2 /ruangan. Semua perawat ruangan mampu menggunakanya dengan baik. Kondisi administrasi penunjang cukup baik, yang terdiri dari : 1 buah buku injeksi, 1 buah buku observasi, 20 lembar dokumentasi, 1 buah buku observasi suhu dan nadi, dan 1 buah buku timbang terima. Nurse station ada 1 di ruangan, biasanya di gunakan sebagai ruang pertemuan perawat, kadang-kadang perawat mengobrol dan menggosip di nurse station. Tempat ruang karu tersendiri disebelah ruang staff dokter sebaiknya dipindah jadi 1 dengan nurse station sebab idealnya ruang karu  jadi 1 dengan nurse station.

2.3.Metode Asuhan Keperawatan (M3-Method) a. Penerapan MAKP

Dari hasil wawancara dan angket tentang model asuhan keperawatan yang digunakan saat ini didapatkan bahwa model asuhan keperawatan yang digunakan tim. 11 dari 13 perawat (84,6%) menyatakan mengerti atau memahami model yang

(10)

digunakan. 100% menyatakan cocok dengan model yang ada. Model yang digunakan sesuai dengan visi dan misi ruangan.

Dari hasil wawancara dan angket dan observasi serta dari data sekunder  tentang efektifitas dan efisiensi model asuhan keperawatan saat ini didapatkan bahwa dengan menggunakan model yang sekarang ini digunakan rata-rata pasien rawat inap 7-14 hari. Perawat mengatakan bahwa kepercayaan pasien tidak ada penurunan ini dilihat darui banyaknya jumlah pasien rujukan dari puskesmas maupun klinik-klinik  lain. 9 dari 11 perawat (81,8%) menyatakan bahwa model yang digunakan saat ini tidak terlalu membebani kerja. Masalah pembiayaan terpusat langsung, jadi bisa dikatakan tergantung dari alokasi anggaran yang dissediakan rumah sakit untuk tiap-tiap ruangan. Kritikan yang diterima oleh ruangan terkait dengan masalah kurangnya sumber daya tenaga yang ada jadi pelayanan kurang optimal.

Data yang diperoleh dari pengkajian tentang mekannisme pelaksanaan model asuhan keperawatan didapatkan bahwa 7 dari 11 perawat 63,6% mengatakan bahwa komunikasi antar profesi terlakasana cukup baik. Sedangkan rencana askep antar sift  berkelanjutan. Hal ini didukaung dengan data dokumentasi. Semua perawat mengatakan bahwa pernah mendapat teguran dari ketua tim tentang kinerja yang telah dilakukan. Hanya saja teguran tersebut berupa masukan-masukan. 8 dari 11 perawat (72,7%) mengatakan bahwa merasa telah melakukan tugasnya sesuai dengan standart yang tel;ah ditetapkan.

Adapun data yang telah diperoleh dari pengkajian tentang tanggungjawab dan  pembagian tugas didapatkan bahwa 8 dari 11 perawat (72,7%) mengatakan bahwa 6 dari 11 perawat (54,5%) mengatakan bahwa mendapat job yang kadang-kadang tidak   berbeda dengan lulusan akademik yang berbeda tingkatan. 5 dari 11 perawat

(45,45%) menvberikan jawaban yang kurang sesuai dengan metode tim yang telah digunakan. 6 dari 11 perawat (54,5%) mengatakan bahwa kurang mengetahui kebutuhan kepererawatan keseluruhan pasien yang sedang dialami.

 b. Timbang Terima

Timbang terima dilakukan dua kali dalam sehari, yaitu pada pergantian sift malam ke pagi (07.00) dan pagi ke sore (14.00). Selalu diikkuti oleh semua perawat yang telah dan akan dinasa, tetapi dari kuesioner yang telah dibagikan, diperoleh data, 100% perawat menyatakan, pelaksanaan timbang terima kadang-kadang tepat waktu dengan alasan 7 perawat (63,63%) mengatakan anggota tim belum lengkap, 4 perawat

(11)

(36,36%) mengatakan data belum disalin. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh kepala ruangan. Untuk hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam timbang terima, semua perawat dapat menyebutkan dengan benar & menyiapkan hal-hal yang akan dibutuhkan dalam timban g terima, meliputi catatan perkembangan kondisi pasien, buku timbang terima, dll. Sedangkan untuk hal-hal yang perlu disampaikan selama timbang terima, dari 11  perawat han ya 5 perawat (45,45%) yang mencanntumkan agar lebih efisien mereka langsung menggunakan diagnosa dokter. Dalam setiap timbang terima selalu ada klarifikasi langsung, tanya jawab dan validitas terhadap semua hal yang ditimabang terimakan.

100% perawat mengetahui hal-hal prinsip tentang teknik penyampaian timbang terima ketika didepan pasien yang meliputi: penggunaan volum suara yang cukup sehingga tidak mengganggu pasien di sebelahnya, sesuatu yang dianggap rahasia disampaikan dengan bahasa medis,dll. Selalu ada interaksi dengan pasien saat timbang terima berlangsung, minimal menanyakan apa yang di rasakan pasien saat ini, semalam bis atidur atau tidak, dll. Lama timbang terima bervariasi tergantung kondisi pasien, semakin banyak yang akan dilaporkan, semakin lama waktunya, menurut hasil kuesioner, biasanya tidak lebih dari lima menit untuk tiap pasien.

Pelaporan timbsng terima dicatat terima dicatat dalam buku khusus yang akan ditandatangani oleh perawat yang melaporkan, perawat yang menewrima laporan dan kepala ruangan. Setelah pelaksanaan timbang terima, kepala ruangan mengadakan diskusi singkat untuk mengetahui sekaligus mengevaluasi kesiapan siftbselanjutnya. Kemudian timabang terima akan ditutup oleh kepala ruangan. Adapun hambatan yang dikeluhkan perawat adalah 4 perawat (36,36%) mengaku kesulitan dalam mendokumentasikan laporan timbang terima 3 perawat (75%) mengeluhkan tentang  proses pendokumentasian yang kurang sistematis dan efisien, 1 perawat (25%) menjawab lebih suka menulis data pada secarik kertas, sedangkan 5 perawat lainya (45,45%) menyatakan, hambatan dalam timbang terima adalah ketidakdisiplinan. 2  perawat lainya (18,18%) menyatakan, dokumentasi masih terbatas sehingga rencana

tindakan belum spesifik.

c. Ronde Keperawatan

Dari hasil wawancara dengan kepala ruangan, pelaksanaan ronde keperawatan di ruang interna wanita belum optimal (dari 81,8% perawat ruangan dan karu), hali ini dikarenakan jumlah pasien yang lebih banyak dari jumlah perawat. Dan hanya 81,8%

(12)

 perawat ang tahu tentang ronde keperawatan. Tim yang dibentuk dalam pelaksanaan ronde keperawatan cukup mampu dalam melaksanakan tuigasnya. Hal ini dikarenakan 81,8% perwata ruangan mau dan ingin berubah dalam pelaksaaan ronde yang lebih optimal. Tim yang dibentuk berkisar3-4 orang atau perawat yang dipimpin oleh karu. Topik dan kasus yang dibahas dalam ronde keperawatn sesuia dengan masalah yang ada diruangan dan yang lebih memerlukan perhatian khusus, misalnya gangren. Pelatihan dan diskusi yang berkaitan dengan masalah yang terjadi di ruangan telah dilaksanakan tetapi hanya dilaksanakan oleh sebagian perawat sekitar 54,5%. Hal ini dikarenakan kegiatan ruangan yang cukup padat sehingga kesempatan yang ada hanya terbatas.

Dari hasil observasi, ronde keperawatan dilaksananakan dan diikuti hampir  72,7% perawat ruangan dan 50% dari keluarga pasien yang terlibat. Ronde dilaksanakan sekitar 15-30 menit sekitar pukul 09.00 dan dibuka oleh karu.

d. Pengelolaan Logistik dan obat

Data yang diperoleh tentang pengadaan sentralisasi obat adala h semua perawat mengemukakan jawaban mengerti tentang sentralisasi obat. Di ruangan tersebut sudah ada sentralisasi obat. Ini bias dilihat adanya ruangan khusus obat. Sedangkan  pelaksanan sentralisasi obat belum optimal. Penugasan SO didapatkan data 8 dari 11  pearawat (72,7%) memberi jawaban pernah mengurusi sentralisasi obat. Dan selama ini format yang ada masih obat oral dan injeksi. Dan yang lain tercampur pada salah satu dari keduanya

Adapun data tentang alur penerimaan obat yang didapat obat yang diperoleh dari keluarga langsung dibawa ke ruang SO. Dan selama ini belum ada format  persetujuan sentralisasi obat untuk pasien.

Data tentang cara penyimpanan obat meliputi adanya ruangan khusus obat sedangkan alat

 – 

alat kesehatan hanya sebagian ada dengan jumlah terbats. Selama ini obat

 – 

obatan bagi pasien sendiri dengan etiket kepemilikan. Akan tetapi proses keluar masuknya tidak didokumentasikan. Dan semua perawat mengatakan bahwa selalu memberi etiket kepemilikan pada obat

 – 

obat yang ada.

Ada pun data yang diperoleh tentang cara penyiapan obat menunjukan bahwa 8 dari 11 perawat (72,7%) memberi jawaban bahwa tidak menginformasikan jumlah kepemilikan sisa obat yang belum diberikan. Dan format yang ada hanya obat oral dan injeksi selain itu tidak ada.

(13)

e. Discharge Planning

Dari hasil observasi yang dilakukan, discharge planning sudah dilaksanakan, akan tetapi hanya dilaksanakan oleh sebagian perawat dan hanya dilaksakan saat  pasien akan pulang dan isinya hanya penjelasan tentang penyakit yang diderita pasien dan cara mengatasi penyakitnya jika kambuh. Dalam melakukan discharge planning  perawat tidak pernah memberikan brosur maupun leaflet pada pasi en, sehingga pasien

kadang lupa tentang penjelasan yang sudah diberikan oleh para perawat.

Dari hasil angket yang sudah disebarkan dan wawancara yang sudah dilakukan  pada perawat diruangan, didapatkan didapatkan hasil bahwa 8 perawat (72,7%) mengatakan sudah memahami discharge planning dan sisanya belum memahami apa sebenarnya discharge planning yang benar, kemudian hanya 6 perawat (54,5%) yang  bersedia melakukan discharge planning dan 8 perawat (72,7%) mengatakan bahwa discharge planning hanya dilakukan saat pasien akan pulang. Kemudian 7 perawat (63,6%) mengatakan bahwa mereka pernah diberi tugas untuk melakukan discharge  planning akan tetapi perintah untuk melakukan discharge planning hanya dilakukan  berupa perintah lisan oleh kepala ruangan. Dari 7 perawat (63,6%) mengatakan mereka melakukan discharge planning dengan hanya menggunakan medial lisan, yaitu hanya berbicara dengan pasien dan keluarga pasien.sedangkan bahasa yang digunakan oleh perawat tersebut kebanyakan adalah bahasa Indonesia dalam memberikan discharge planning dan sisanya menggunakan bahasa jawa dalam memberikan discharge planning. Kemudian ada 8 perawat (72,7%) mengatakan  bahwa mereka tidakpernah melakukan pendokumentasiaan setelah melakukan

discharge planning.sedangkan dari hasil wawancara dengan kepala ruangan,didapatkan bahwa memang selama ini tidak diberikan brousur maupun reaflet saat melakukan discharge planning dan juga tidak disediakan anggaran khusus dalam  pelaksanaan discharge planning.

f. Supervisi

Dari observasi yang dilakukan mahaiswa PSIK saat melakukan praktek  manajemen keperawatan didapatkan data bahwa kelengkapan supervisi di ruangan  belum memenuhi standart yang telah di tetapkan. Saat supervisi injeksi IV dengan kepala ruangan tidak tersedia alas untuk injeksi IV dan sebagaian perawat mengabaikan persiapan yang harus dilakukan pada pasien.sedangkan format untuk  supervisi ruangan masih belum baku serta di ruangan hanya terdapat format supervisi

(14)

untuk injeksi IV. Di ruangan interna wanita, supervisi dilakukan setiap bulan oleh kepala ruangan.Kepala ruangan secara langsung melakukan supervisi kepada ketua tim dan ketua tim secara melakukan supervisi kepada perawat pelaksana. Kemudian melaporkan hasil supervisi perawat pelaksana kepada kepala ruangan dan hasil ini di  jadikan dokumentasi untuk ruangan.

Dari wawancara dan angket dengan kepala beserta perawat ruangan didapatkan data bahwa 8 (62%) orang pearawat telah memahami tentang supervisi dan 4 (31%) orang perawat telah mendapatkan pelatihan dan sosialisasi tentang supervisi.

Mengingat perlunya perhatian ekstra untuk ruangan, maka kepala ruangan menyampaikan hasil penilaian dari supervisi kepada perawat secara fair sesuai dengan hasil yang di dapat. Sedangkan untuk feedback sebagaian perawat mengeluhkan kurang puas.dan untuk pemecahan masalahdari hasil supervisi belum dilaksanakan secara optimal. Dari angket yang diberikan mahasiswa didapatkan 7 orang perawat menyatakan kurang mempunyai motivasi untuk berubah.

g. Dokumentasi

Dari observasi yang dilakukan, model dokumentasi kepaerawatan yang digunakan di ruang interna wanita adalah model dokumentasi POR. Dokumentasi kepearawatan yang dilakukan meliputi pengkajian menggunakan sistem Head To Toe dan ROS, Serta diagnosa keperawatan sampai dengan evaluasi menggunakan SOAP.

Format pengkajian sudah ada dan dapat memudahkan perawat dalam  pengkajian dan pengisiannya. Sistem pendokumentasiaanya. Sistem  pendokumentasiaanya masih dilakukan secara manual ( belum ada komputerisasi). Catatan keprawatan berisikan jawaban terhadap nasihat dokter & tindakan mandiri  perawat, tetapi belum semua tindakan didokumentasikan. Dari hasil angket yang sudah disebarkan didapat 8 perawat(72,7%) mengatakan mengerti cara pengisian format dokumetasi yang digunakan ruangan dengan benar & tepat. Namun pelatihan  pelatihan tentang cara pendokumentasian keperawatan yang benar masih terus

diadakan.

Dokumentasi Asuhan keperawatan tidak dilaksanakan segera setelah pasien masuk atau terjadi masalah keperawatan, tetapi kadang kadangdilengkapi saat mau  pulang atau apabila keaadan memungkinkan. Dan dar hasil angket didapatkan 6  perawat (54,5%) mengatakan melakukan dokumentasi segera setelah melakukan

(15)

tindakan. Catatan perkembangan pasien kurang berkesinambungan danb kurang lengkap, serta respon dari pasien kurang terpantau dalam lembar evaluasi. Dari 20 rekam medis pasien yang ada hanya 12 rrekam medis yang ditulis lengkap dan tepat waktu

Sedangkan untuk efisiensi dan efektifitas model pendokumentasian dapat dilihat dari hasil angket yang menyebutkan bahwa 6 perawat (54,5%) mengatakan model dokumentasi yang digunakan menyita banyak waktu, tetapi ada 8 perawat (72,7%) mengatakan format yang digunakan sangat membantu dalam melakukan  pengkajian pasien.

(16)

LANGKAH 2 (ANALISA DATA / SWOT) N

O

ANALISA “SWOT” BOBOT RATING BOBOT X RATING

1. M1(Man)

A. I nternal F aktor (IF AS) 

STRENGHT a. Jenis ketenagaan S1 keperawatan : 2 D3 keperawatan : 4 SPK : 7 Mahasiswa PSIK : 10 Tata Usaha : 1 Cleanning Service : 3 Ahli gizi : 2 POS : 5 0,3 3 0,9 S-W= 3,45-1,45= 2

 b. Struktur organisasi sudah baik 0,25 4 1 c. Pembagian tugas di ruangan

secara struktural sudah baik 

0,25 3 0,75

d. Kinerja perawat di ruangan sudah baik 

0,2 4 0,8

TOTAL 1 3,45

WEAKNES

a. Pelaksanaan pembagian tugas belum jelas

0,3 3 0,9

 b. Sebagian besar perawat masih berlatar pendidikan SPK 

0,2 2 0,4

c. Perawat merasa

membutuhkan kesempatan dan beasiswa untuk 

melanjutkan ke jenjang  pendidikan yang lebih tinggi

0,5 3 0,15

TOTAL 1 1,45

B. Ekternal F aktor (EF AS) 

OPPORTUNITY

a. Adanya kebijakan RS untuk   perawat mendapatkan

 beasiswa dan kesempatan untuk kuliah maupun seminar   pelatihan keperawatan

0,45 4 1,8 O-T=

3,45-2,55=

1,1

 b. Adanya mahasiswa PSIK  yang sedang praktek 

0,15 3 0,45

c. Adanya kebijakan pemerintah tentang profesionalisasi

 perawat

0,2 4 0,8

d. Perawat mendapatkan

kesempatan untuk mengambil cuti 1 x dalam seminggu

(17)

TOTAL 1 3,65

THREATENED

a. Tuntutan masyarakat tentang  perawatan yang profesional

0,55 3 1,65

 b. Kebijakan memberi

kesempatan perawat asing untuk masuk RS

0,45 2 0,9

TOTAL 1 2,55

2 M2 (Material)

A. I nternal F aktor (IF AS)  STRENGHT

a. Sarana dan prasarana diruang rawat inap interna sudah cukup  baik.

0,2 4 0,8 S-W=

3,0-2,3=

0,7

 b. Setiap pagi dan sore ruangan dibersihkan oleh petugas cleaning service dan kondisi ruangan cukup tenang.

0,1 3 0,3

c. Semua perawat mampu menggunakan fasilitas dan  bahan kesehatan yang ada

dengan baik.

0,1 3 0,3

d. Kondisi administrasi penunjang cukup baik 

0,1 2 0,2

e. Fasilitas untuk pasien seperti tempat tidur, meja pasien, kipas angin, kursi roda, branchart,  jam dinding, timbangan, dapur,

wastafel dapat mencakup kebutuhan pasien dan kondisinya cukup baik 

0,1 4 0,4

f.  Nursing station berada di

tengah ruangan disebelah ruang staf dokter dan ruang pasien kelas 2

0,1 2 0,2

g. Terdapat 10 ventilasi udara dengan kondisi cukup baik 

0,1 2 0,2

h. Fasilitas dan bahan kesehatan yang ada diruang interna kondisinya baik kecuali ambubag dan manometer O2

0,1 4 0,4 i. Terdapat administrasi  penunjang. 0,1 2 0,2 TOTAL 1 3,0 WEAKNES

a. Ruang karu tersendiri di sebelah ruang staf dokter, idealnya jadi satu dengan nurse station

(18)

 b.  Nurse station hanya ada satu 0,1 3 0,3 c. Fasilitas Kamar mandi dan

WC untuk pasien perlu ditambah 1 kamar mandi

0,25 2 0,5

d. Kamar mandi untuk perawat hanya ada 1

0,1 2 0,2

e. Fasilitas dan bahan

kesehatan yang ada di ruang interna: ember sampah  pasien, lampu darurat,

standart baskom, manometer  O2 lengkap standart O2 dan thermometer perlu ditambah

0,2 3 0,6

TOTAL 1 2,3

B. Ekternal F aktor (EF AS) 

OPPORTUNITY

a. Fasilitas untuk pasien: kipas angin dan brancart perlu di kurangi

0,4 3 1,2 O-T= 3,6-3= 0,6  b. Fasilitas dan bahan

kesehatan yang ada di ruang interna perlu

dikurangi kecuali ember  sampah pasien, lampu darurat, standart baskom, manometer O2 lengkap standart O2 0,6 4 2,4 TOTAL 1 3,6 THREATENED a. Kadang-kadang perawat mengobrol dan menggosip di nurse station

1 3 3

TOTAL 1 3

3 M3 (METHOD) MAKP

A. I nternal F aktor (I F AS) 

STRENGHT

a. RS memiliki visi, misi, dan motto sebagai acuan

melaksanakan kegiatan  pelayanan

0,1 2 0,2 S-W=

2,9

 – 

2,5 = 0,4  b. Sebagian besar perawat

menyatakan mengerti/ memahami model asuhan keperawatan yang di gunakan dan tidak terlalu membebani kerja

0,2 4 0,8

c. MAKP yang di gunakan TIM sesuai dengan visi missi

(19)

ruangan

d. MAKP yang digunakan sudah efektif dan efisien

0,1 3 0,3

e. Tidak ada penurunan

kepercayaan pasien rujukan dari puskesmas dan klinik  lain

0,1 2 0,2

f. Komunikasi antar profesi terlaksana cukup baik 

0,1 2 0,2

g. Rencana askep antar shif   berkelanjutan didukung

dengan adanya data dokumentasi

0,2 3 0,6

h. Sebagian besar perawat telah melaksanakan tugasnya sesuai standar yang telah di tetapkan

0,1 4 0,4

TOTAL 1 2,9

WEAKNES

a. Kurangnya sumber daya yang ada jadi pelayanan kurang optimal

0,3 2 0,6

 b. Ketidakseuaian job dis dengan lulusan akademik  yang berbeda tingkatannya.

0,5 3 1,5

c. Sebagian kecil perawat kurang mengetahui

kebutuhan perawatan pasien yang sedang di alami

0,2 2 0,4

TOTAL 1 2,5

B. Ekternal F aktor (EF AS) 

OPPORTUNITY

a. Masalah pembiayaan terpusat langsung.

0,6 3 1,8 O

 – 

T =

3

 – 

2 =1  b. Adanya teguran dari ketua

TIM tentang kinerja yang telah dilaksanakan berupa masukan-masukan

0,4 3 1,2

TOTAL 1 3

THREATENED

a. Makin tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan di buktikan

dengan kritikan yang di terima oleh ruangan.

1 2 2

TOTAL 1 2

TIMBANG TERIMA

A. I nternal F aktor (I F AS) 

(20)

a. Timbang terima dipimpin langsung oleh kepala ruangan

0,2 2 0,4 S

 – 

W = 2,5

 – 

2,3 = 0,2  b. Adanya laporan jaga setiap

shif 

0,1 3 0,3

c. Adanya kesiapan perawat dalam melakukan timbang terima

0,1 3 0,3

d. Seluruh perawat mengetahui  prinsip tentang penyampaian

timbang terima

0,2 2 0,4

e. adanya interaksi dengan  pasien saat timbang terima

0,2 3 0,6

f. durasi timbang terima

 berfarisai tergantung kondisi  pasien

0,1 2 0,2

g. timbang terima di catat dalam buku khusus

0,1 3 0,3

TOTAL 1 2,5

WEAKNESS

a. Timbang terima dilakukan 2 kali sehari

0,4 2 0,8

 b. Isi timbang terima belum terdokumentasikan dengan  baik 

0,3 2 0,6

c. Masih banyak timbang terima tentang masalah medis

0,3 3 0,9

TOTAL 1 2,3

B. Ekstern al F aktor (E F AS)  OPPORTUNITY

a. Adanya interaksi dan

klarifikasi tentang timbang terima yang dilakukan

0,6 3 1,8 O

 – 

T = 3,0

 – 

3,5 = -0,5  b. kepala ruangan mengadakan

diskusi setelah timbang terima untuk evaluasi

0,4 3 1,2

TOTAL 1 3,0

THREATENED

a. Perawat mengaku kesulitan dalam mendokumentasikan laporan timbang terima

0,3 4 1,2

 b. Pendokumentasian masih terbatas sehingga rencana tindakan belum spesifik 

0,5 3 1,5

c. Pelaksanaan timbang terima tidak sesuai dengan jadwal

0,2 4 0,8

TOTAL 1 2,2

(21)

A. I nternal F aktor (I F AS)  STRENGHT

a. Sebagian besar perawat tahu tentang ronde keperawatan

0,3 2 0,6 S-W

=2,4-4 = - 1,6  b. TIM yang di bentuk dalam

 pelaksanaan ronde

keperawatan mampu dalam melaksanakan tugasnya

0,2 3 0,6

c. Adanya kemauan perawat untuk berubah

0,3 2 0,6

d. Topik dan kasus yang di  bahas dalam keperawatan

sesuai dengan masalah yang ada di ruangan

0,2 2 0,6

TOTAL 1 2,4

WEAKNESS

a. Pelaksanaan ronde

keperawatan di ruang interna  belum optimal

0,6 4 2,4

 b. Jumlah tenaga perawat tidak  seimbang dengan jumlah  pasien

0,4 4 1,6

TOTAL 1 4

B. Ekstern al F aktor (EF AS)  OPPORTUNITY

a. TIM yang di bentuk berkisar  3-4 perawat dalam yang dipimpin oleh karu

0,3 3 0,9 O-T=

2,3-2= 0,3  b. Pelatihan dan diskusi terkait

dengan masalah yang terjadi di ruangan telah dilaksanakan

0,7 2 1,4

TOTAL 1 2,3

THREATENED

a. Adanya tuntutan yang lebih tinggi dari masyarakat untuk  mendapatkan pelatanan yang lebih profesional

1 2 2

TOTAL 1 2

PENGELOLAAN LOGISTIK DAN OBAT A. I nternal F aktor (I F AS) 

STRENGHT

a. Semua perawat memahami tentang sentralisasi obat

0,3 3 0,9 S

 – 

W =

2,8

 – 

2,9 = -0,1  b. Adanya ruangan khusus obat 0,15 3 0,45

c. Adanya kemauan perawat dalam melakukan sentralisasi obat

0,25 2 0,75

d. Semua perawat selalu

memberi etiket kepemilikan

(22)

tentang cara penyimpanan obat-obat yang ada

TOTAL 1 2,8

WEAKNESS

a. Pelaksanaan sentralisasi obat  belum optimal

0,1 4 0,4

 b. Format sentralisasi obat yang ada masih obat oral dan

injeksi

0,1 2 0,2

c. Belum ada format

 persetujuan sentralisasi obat untuk pasien

0,25 4 1,0

d. Proses pendokumentasian keluar masuknya obat kurang optimal

0,1 4 0,4

e. Perawat tidak 

menginformasikan jumlah kepemilikan sisa obat yang  belum diberikan

0,35 2 0,7

f. Keterbatasan sebagian  jumlah alat-alat kesehatan.

0,1 2 0,2

TOTAL 1 2,9

B. Ekster nal faktor(EF AS)  OPPORTUNITY

a. alur penerimaan obat yang didapat dari keluarga langsung dibawa ke ruang SO. 1 3 3 O

 – 

T = 3

 – 

2 = 1 TOTAL 1 3 THREATENED

a. resiko tuntutan pasien karena sebagaian perawat tidak  menginformasikan jumlah sisa kepemilikan obat

1 2 2

TOTAL 1 2

DISCHARGE PLANNING A. internal f aktor (I F AS)  STRENGHT

a. adanya kemauan

memberikan discharge  planing pada pasien

0,3 2 0,6 S

 – 

W =2

 – 

3,45 = -1,45  b. sebagian perawat sudah

memahami discharge planing

0,7 2 1,4

TOTAL 1 2

WEAKNESS

a. Discharge planning sudah dilaksanakan akan tetapi hanya dilaksanakan sebagian  perawat

(23)

 b. Discharge planing

dilaksanakan saat pasien akan pulang dan isinya hanya  penjelasan tentang penyakit

yang di derita psien dan vara mengatsi penyakitnya jika sembuh

0,15 3 0,45

c. Tidak tersedianya leaflet dan  brosur saat melakukan

discharge planing

0,15 4 0,6

d. Pemberian discharge planing hanya secara lisan sehingga  pasien sering lupa tentang  penjelasan yang di berikan

0,1 4 0,4

e. Bahasa discharge planing hanya kebanyakan bahasa indonesia

0,2 3 0,4

f. Perawat tidak pernah melakukan

 pendokumentasian setelah discharge planing

0,2 4 0,8

TOTAL 1 3,45

B. Ekster nal f aktor (E F AS)  OPPORTUNITY

a. Tidak disediakan anggaran khusus dalam pelaksanaan discharge planing 1 2 2 O

 – 

T = 1-1 =1 TOTAL 1 2 THREATENED

a. Adanya tuntutan masyarakat yang lebih tinggi dalam menerima pendidikan kesehatan

1 1 1

SUPERVISI

A. Internal Faktor (EFAS) STRENGHT

a. Kepala ruangan menyampaikan hasil  penilaian dari supervisi

secara fair 

0,3 2 0,6 S-W=

2,4-2,3 = 0,1

 b. Kepala ruangan mendukung dan melaksanakan supervisi

0,4 3 1,2

c. Hasil pelaksanaan supervisi telah di dokumentasikan dengan jelas

0,3 2 0,6

TOTAL 1 2,4

WEAKNESS

a. Mahasiswa PSIK yang sedang melakukan praktik 

(24)

MANKEP belum

memenuhi standar yg telah ditetapkan

 b. Belum mempunyai format yang baku dalam

 pelaksanaan supervisi

0,35 2 0,7

c. Perawat masih belum

mempunyai motivasi untuk   berubah

0,35 2 0,7

TOTAL 1 2,3

B. Eksternal Faktor (EFAS) OPPORTUNITY

a. Adanya mahasiswa Fakultas Keperawatan yang praktik  manajemen keperawatan

0,4 2 0,8 O-T =

2,6-2,3= 0,3  b. Adanya reward dalam

 bentuk pelatihan dan sosialisasi tentang supervisi  bagi yang melaksanakan  pekerjaan dengan baik 

0,3 3 0,9

c. Adanya interaksi yg dilakukan oleh kepala ruangan dengan perawat  berupa wawancara dan

angket

0,3 3 0,9

TOTAL 1 2,6

THREATENED

a. Adanya feed back yang

kurang baik yang

dikeluhkan oleh perawat

0,3 3 0,9

 b. Persiapan injeksi yang dilakukan oleh kepala ruangan masih belum optimal

0,7 2 1,4

TOTAL 1 2,3

DOKUMENTASI

A. I nternal F aktor (IF AS)  STRENGHT

a. Sudah ada format model dokumentasi keperawatan

0,3 3 0,9 S-W=

2,4-2,9=--0,5  b. Sistem yang di gunakan

dalam model asuhan

keperawatan sudah

menggunakan ROS dan SOAP

0,1 2 0,2

c. Sebagian besar perawat mengerti cara mengisi format  pendokumentasian secara  benar dan tepat

(25)

d. Pendokumentasian segera dilaksanakan setelah melakukan tindakan

0,1 3 0,3

e. Sebagian rekam medis pasien ditulis dengan lengkap dan tepat waktu

0,15 2 0,3

f. Perawat mengatakan format yang diguankan sangat membantu dalam melakukan  pengkajian pada pasien

0,2 2 0,4

TOTAL 1 2,4

WEAKNESS

a. Dalam catatan keperawatan tindakan belum semua di dokumentasikan

0,1 4 0,4

 b. Pendokumentasian tidak  dilaksanakan segera setelah  pasien masuk 

0,2 3 0,6

c. Catatan perkembangan psien kurang berkesinambungan dan kurang lengkap

0,2 3 0,6

d. Respon pasien kurang terpantau dalam lembar  evaluasi

0,3 3 0,9

e. Perawat mengatakan model dokumentasi yang di gunakan menambah beban kerja perawata dan menyita  banyak waktu

0,2 2 0,4

TOTAL 1 2,9

B. Ekster nal F aktor (EF AS)  OPPORTUNITY

a. Pelatihan tentang cara  pendokumantsian

keperawatan yang benar  masih terus diadakan

1 2 2 O-T

=2-1 =1

TOTAL 1 2

THREATENED

a. Adanya tuntutan masyarakat untuk mendapatkan  pelayanan yang baik dengan adanya pendokumentasian yang tepat

1 1 1

(26)

LANGKAH 3 (DIAGRAM LAYANG ANALISIS SWOT PENGKAJIAN)

Keterangan :

(TT) = Timbang Terima

(MAKP) = Model Asuhan Keperawatan Profesional (SV) = Supervisi

(SO) = Sentralisasi Obat (RK) = Ronde Keperawatan

(DK) = Dokumentasi Keperawatan (SP) = Sarana dan Prasarana

(DP) = Discharge Planning  (SDM) = Sumber Daya Manusia

-0,5 0,5 1 1,5 2 2 -1,5 -1 -05 1 0,5 -1,5 1,5 2 -1 -2 W T O S (0,2 ; -0,5) (0,4 ; 1) (-0,1 ; 1) (-1,6 ; 0,3) (-0,5 ; 1) (0,1 ; 0,3) (0,7 ; 0,6) (-1, 45 ; 1) (2 ;1,1)

(27)

LANGKAH 4 (IDENTIFIKASI MASALAH) a. Identifikasi Masalah

Setelah dilakukan analisis situasi dengan menggunakan pendekatan SWOT maka kelompok dapat merumuskan masalah sebagai berikut :

1. Pada M1 pembagian struktur organisasi sudah baik namun untuk pelaksanaan  pembagian tugas belum jelas.

2. Pada M2 ruang karu tersendiri di sebelah ruang staf dokter, idealnya jadi satu dengan nurse station.

3. MAKP yang digunakan sudah efektif dan efisien namun kurangnya sumber daya tenaga yang ada sehingga mengakibatkan pelayanan kurang optimal.

4. Seluruh perawat mengetahui tentang teknik penyampaian timbang terima namun materi timbang terima belum terfokus pada masalah keperawatan.

5. Sebagian perawat tahu tentang ronde keperawatan dan TIM yang dibentuk dalam ronde keperawatan mampu dalam melaksanakan tugasnya namun pelaksanaan ronde di ruang interna belum optimal karena jumlah pasien dan perawat tidak seimbang. 6. Semua perawat memahami tentang sentralisasi obat namun pelaksanaan sentralisasi

obat belum optimal.

7. Sebagian besar perawat sudah memahami discharge planning namun hanya sebagian yang melaksanakannya dan belum didokumentasikan.

8. Supervisi sudah berjalan dan hasil pelaksanaannya telah didokumentasikan dengan  baik namun belum ada format supervisi.

9. Sistem pendokumentasian sudah dilakukan memakai model SOR dan sebagian besar   perawat mengerti cara mengisinya namun seluruh tindakan belum semua

(28)

b. Prioritas Masalah

Masalah Skor Analisis Swot Prioritas

IFAS EFAS Ronde Keperawatan -1,6 0,3 1 Discharge Planning -1,4 1 2 Timbang Terima 0,2 -0,5 3 Supervisi 0,1 0,3 4 Dokumentasi -0,5 1 5

Pengelolaan Logistik dan Obat

-0,1 1 6

M2 0,7 0,6 7

MAKP 0,4 1 8

M1 2 1,1 9

Berdasarkan rumusan masalah diatas 3 masalah teratas : ronde keperawatan, discharge  planning dan timbang terima, maka kelompok mengangkat prioritas masalah yang akan

diselesaikan yaitu discharge planning dengan alasan:

a. Dari hasil observasi yang dilakukan, discharge planning hanya dilaksanakan oleh sebagian perawat dan hanya dilaksakan saat pasien akan pulang dan isinya hanya  penjelasan tentang penyakit yang diderita pasien dan cara mengatasi penyakitnya jika

kambuh.

 b. Dalam melakukan discharge planning perawat tidak pernah memberikan brosur maupun leaflet pada pasien, sehingga pasien kadang lupa tentang penjelasan yang sudah diberikan oleh para perawat.

c. Dari hasil angket yang sudah disebarkan dan wawancara yang sudah dilakukan pada  perawat diruangan, didapatkan sebagian kecil perawat belum memahami apa sebenarnya

discharge planning yang benar, dan hanya sedikit perawat yang melakukan discharge  planning.

d. Delapan perawat (72,7%) mengatakan bahwa discharge planning hanya dilakukan saat  pasien akan pulang. Kemudian 7 perawat (63,6%) mengatakan bahwa mereka pernah

(29)

diberi tugas untuk melakukan discharge planning akan tetapi perintah untuk melakukan discharge planning hanya dilakukan berupa perintah lisan oleh kepala ruangan.

e. Dari 7 perawat (63,6%) mengatakan mereka melakukan discharge planning dengan hanya menggunakan medial lisan, yaitu hanya berbicara dengan pasien dan keluarga pasien, sedangkan bahasa yang digunakan oleh perawat tersebut kebanyakan adalah bahasa Indonesia dalam memberikan discharge planning dan sisanya menggunakan bahasa jawa dalam memberikan discharge planning.

f. Kemudian ada 8 perawat (72,7%) mengatakan bahwa mereka tidak pernah melakukan  pendokumentasiaan setelah melakukan discharge planning, sedangkan dari hasil

wawancara dengan kepala ruangan, didapatkan bahwa memang selama ini tidak diberikan  brousur maupun leaflet saat melakukan discharge planning dan juga tidak disediakan

anggaran khusus dalam pelaksanaan discharge planning.

LANGKAH 5 (RENCANA STRATEGI)

No Problem Tujuan Kegiatan Indikator

Keberhasilan PJ 1. M1-M an  Sumber  Daya Manusia Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM Mengusulkan : 1. Penambahan pegawai  baru. 2. Peningkatan jenjang  pendidikan pegawai lebih tinggi.

3. Pelatihan tentang ilmu keperawatan yang terbaru kepada perawat secara periodik 

4. Mengurangi beban kerja  perawat yang bukan

tugas perawat

1. Rasio kecukupan antara perawat dan  pasien menurut tingkat ketergantungan  pasien terpenuhi minimal 80%. 2. Peningkatan jenjang  pendidikan dan tercapai: Sarjana keperawatan 10% pertahun.

3. Peningkatan skill dan  pengetahuan tentang

keperawatan 30%  pertahun

4. Beban kerja perawat sesuai dengan

tugasnya

Kepala Ruangan

(30)

2. M2-Material  Sarana dan Pra sarana Sarana dan  prasarana untuk tindakan  perawatan sudah tersedia dan keadaannya masih baik  Mengusulkan :

1. Perawatan sarana dan  prasarana secara  berkala dan lebih

intensif.

2. Melaporkan jumlah dan keadaan inventaris saat timbang terima (dengan  penanggung jawab

tersendiri/tidak harus  perawat).

3. Pengaturan ruangan untuk karu dengan nurse station diatur  seideal mungkin

4. Pengurangan inventaris yang berlebihan

1. Adanya perawatan sarana dan prasarana secara berkala (setiap 6 bulan).

2. Mengetahui jumlah dan keadaan

inventaris pada setiap timbang terima.

3. Koordinasi antara karu dan perawat lebih efektif 

4. Mengurangi beban kerja perawat dalam  perawatan dan sterilisasi Kepala Ruangan 3. M3 –  M ethode  MAKP Mampu meningkatkan  penerapan MAKP  primary  Nursing   pemula. 1. Mendiskusikan setiap hambatan yang dalam  penerapan model  primary nursing. 2. Merencanakan kebutuhan tenaga  perawat. 3. Melakukan pembagian  peran perawat dan

menentukan diskripsi tugas dan tanggung  jawab perawat sesuai

tingkat pendidikannya. 4. Pemberian pelatihan

tentang cara pemenuhan kebutuhan pasien

1. Agar apabila ada hambatan dapat segera diselsaikan 2. Terjadi keseimbangan antara jumlah  perawat dalam memenuhi kebutuhan pasien 3. Adanya kesesuaian

 job dis pada  perawat dengan tingkat pendidikan yang berbeda 4. Peningkatan  pemahaman  perawat tentang cara pemenuhan kebutuhan pasien. Kepala Ruangan

(31)

4. Supervisi Mampu menerapkan supervisi keperawatan dengan benar. 1. Memotivasi perawat unuk berubah 2. Mengusulkan untuk  membuat format yang  baku dalam pelaksanaan

supervisi. 3. Mengusulkan

 pemecahan masalah yang optimal dari hasil supervisi

1. Pemberian reward kepada perawat sesuai dengan hasil yang didapat dari hasil penilaian supervisi.

2. Menyusun format yang baku untuk   pelaksanaan supervisi

agar hasil supervisi lebih jelas.

3. Pemecahan masalah dari hasil supervisi optimal dan perawat  puas terhadap hasil

supervisi Kepala Ruangan 5. Discharge  planning   Discharge  planning  dilaksanakan secara optimal dan terdokumen-tasi dengan  baik. 1. Mengusulkan agar   perawat mengikuti  pelatihan discharge  planning. 2. Menyusun materi discharge planning 3. Menentukan jadwal  pelaksanaan discharge  planning. 4. Mensosialisasikan  pelaksanaan discharge  planning . 5. Mengusulkan untuk   pembuatan leaflet dan  brosur untuk discharge  planning.

6. Mengusulkan untuk   pendokumentasian

rutin setelah discharge  planning

1. Peningkatan skill dan pemahaman tentang discharge  planning.

2. Setiap klien mulai masuk sampai  pulang sudah mendapatkan discharge planning  dengan menyertakan kartu discharge planning . 3. Peningkatan  pemahaman dan  pengetahuan klien tentang penyakit yang diderita dan cara mengatasinya. 4. Pendokumentasian

discharge planning secara rutin dapat dilaksanakan secara opitmal Perawat Primer  6. Ronde Keperawat an Ronde keperawatan terlaksana dengan optimal dan teratur. 1. Menyusun proposal kegiatan ronde keperawatan (strategi dan materi). 2. Menyusun materi kegiatan ronde keperawatan 3. Melaksanakan ronde keperawatan. 4. Mensosialisasikan

1. Setiap kasus dan topic yang dibahas dalam ronde

keperawatan sesuai dengan masalah yang ada di ruangan dan kasus yang memerlukan  perhatian khusus. 2. Ronde minimal Perawat Primer 

(32)

kegiatan ronde keperawatan dilakukan 1x dalam 1 bulan. 7. Timbang Terima Timbang terima dilakukan secara optimal dan terdokumen-tasi. 1. Menentukan  penanggung jawab timbang terima untuk  tiap-tiap shift.

2. Menyusun dan membuat format

timbang terima pasien serta petunjuk teknis  pengisiannya. 3. Melaksanakan timbang terima. 4. Mengusulkan untuk  mencantumkan masalah keperawatan 1. Timbang terima dilakukan di nurse  station dan di pasien. 2. Isi timbang terima

tentang masalah keperawatan yang sudah dan belum teratasi. 3. Timbang terima terdokumen-tasi dengan baik. 4. Pelaksanaan timbang terima dilaksanakan 3x sehari setiap  pergantian shift.

5. Setiap timbang terima diharapkan tiap  perawat mencantumkan masalah keperawatan. Perawat Primer  8. Pengelolaa n logistic dan Obat Sentralisasi obat dilaksanakan secara optimal. 1. Menentukan  penanggung jawab Sentralisasi obat. 2. Melaksanakan

sentralisasi obat klien  bekerja sama dengan  perawat, dokter dan  bagian farmasi. 3. Mendokumentasi-kan hasil pelaksanaaan  pengelolaan sentralisasi obat. 4. Membuat format  pencatatan sentralisasi obat. 5. Mengusulkan perawat untuk  menginformasikan kepemilikan sisa obat yang belum diberikan.

1. Seluruh obat pasien sudah tersentralisasi dengan baik.

2. Ada format

 pemberian obat dan serah terima obat. 3. Pelaksanaan  pendokumentasian  pengelolaan sentralisasi obat secara optimal. 4. Adanyainformed  consent. Perawat Primer 

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, melalui observasi yang disebarkan melalui angket, wawancara yang dilakukan melalui pelatihan pembelajaran daring melalui zoom dalam

penomoran RM pasien oleh petugas perawat di resume medis pasien pulang diketahui petugas perawat belum memahami prosedur penomoran pasien. b) Berdasarkan dari hasil wawancara

Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu perawat diruang IRD, perawat mengatakan pengkajian resiko jatuh skala morse dilaksanakan pada saat pasien masuk

Berdasarkan analisis dan interpretasi data dari angket dan wawancara yang telah disebarkan kepada 15 responden, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kesulitan guru bahasa

Berdasarkan hasil survey dari 10 orang perawat didapatkan hasil bahwa terdapat kemungkinan perawat mendapatkan beban kerja yang tinggi, yaitu 30% mengatakan terlalu banyak pekerjaan

Hal ini senada dengan hasil wawancara siswa yang mengatakan bahwa dengan memahami bahasa Arab, dapat lebih mudah belajar khat dan juga memahami tulisan-tulisan teks bahasa Arab.8 Dari

Pada hasil wawancara, angket, dan dokumentasi didapatkan hasil penelitian proses pembelajaran daring pada masa pandemi Covid-19 di SDN 01 Karangtengah sudah terlaksana dengan baik,

Dokumen ini membahas tentang peran pelayanan dalam manajemen kesehatan di ruang rawat