• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar III.1 Bagan alir penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Gambar III.1 Bagan alir penelitian"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Bab III Metode Penelitian

Penelitian ini terdiri atas sintesis dan karakterisasi. Keseluruhan kegiatan sintesis dan karakterisasi digambarkan dalam bentuk bagan alir pada Gambar III.1.

SINTESIS Tahap 1 FeCl2.4H2O C14H10N2 (pq) K3[Cr(C2O4)3].3H2O Tahap 2 [Fe(pq)3]Cl2.H2O [Fe(pq)3](ClO4)2 [Fe(pq)3](BF4)2 [Fe(pq)2(dmf)2](BPh4)2 Kompleks besi(II) [Fe(NH2trz)3]Cl2.3H2O [Fe(NH2trz)3](ClO4)2 [Fe(NH2trz)3](BF4)2.H2O Kompleks oksalat [TBA][MnCr(C2O4)3] Tahap 3 Senyawa baru : y [Fe(NH2trz)3][Cl][MnCr(C2O4)3].6H2O y [Fe(NH2trz)3][ClO4][MnCr(C2O4)3].4H2O y [Fe(pq)2(H2O)2][Cl][MnCr(C2O4)3].4H2O y [Fe(pq)2(H2O)2][ClO4][MnCr(C2O4)3].4H2O KARAKTERISASI

Penentuan Rumus Kimia y Spektroskopi serapan atom y Analisis unsur C, H, N y Termogravimetri y Konduktometri

Penetapan Struktur

y Spektroskopi inframerah y Difraksi sinar-X serbuk

Pengukuran Sifat Magnetik y Suseptibilitas magnetik

dengan variasi temperatur

(2)

III.1 Bahan dan Alat

Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah H2C2O4.2H2O (asam

oksalat dihidrat), K2C2O4.H2O (kalium oksalat monohidrat), K2Cr2O7 (kalium

dikromat), FeCl3.6H2O (besi(III) klorida heksahidrat), serbuk Fe,

Fe(SO4)2.7H2O (besi(II) sulfat heptahidrat), C6H4NO2CHO (2-nitrobenzaldehida),

C5H4NCOCH3 (2-asetilpiridin), [N(C4H9)4]Br (tetrabutilamonium bromida),

K3[Cr(C2O4)3].3H2O (kalium tris(oksalato)kromat(III) trihidrat), FeCl2.4H2O

(besi(II) klorida tetrahidrat), Fe(ClO4)2.6H2O (besi(II) perklorat heksahidrat),

Fe(BF4)2.6H2O (besi(II) tetrafluoroborat heksahidrat), Na[B(C6H5)4] (natrium

tetrafenilborat), C2H2N3NH2 (4-amino-1,2,4-triazol = NH2trz), C14H10N2

(2-(2’-piridil)kuinolin = pq), [Fe(NH2trz)3]Cl2.3H2O (tris(4-amino-1,2,4-triazol)besi(II)

klorida trihidrat), [Fe(NH2trz)3](ClO4)2 (tris(4-amino-1,2,4-triazol)besi(II)

perklorat), [Fe(pq)3]Cl2.H2O (tris(2,(2’-piridil)kuinolin)besi(II) klorida

monohidrat), [Fe(pq)3](ClO4)2 (tris(4-amino-1,2,4-triazol)besi(II) perklorat),

Mn(NO3)2.4H2O (mangan(II) nitrat tetrahidrat), MnSO4.H2O (mangan(II) sulfat

monohidrat), Fe(NH4)2(SO4)2.6H2O (amonium besi(II) sulfat heksahidrat), KCl

(kalium klorida), CH3OH (metil alkohol), C2H5OH (etil alkohol), CH3COCH3

(aseton), (C2H5)2O (dietil eter), HCON(CH3)2 (N,N-dimetilformamida = dmf),

(CH3)2SO (dimetil sulfoksida = dmso), H2O (akuades), HCl (asam klorida) 10

M, HNO3 (asam nitrat) 14 M dan H2SO4 (asam sulfat) 18 M. Semua bahan yang

digunakan memiliki kualitas pro analisis (p.a) dan diperoleh secara komersial, kecuali senyawa-senyawa K3[Cr(C2O4)3].3H2O, FeCl2.4H2O, C14H10N2,

[Fe(NH2trz)3]Cl2.3H2O, [Fe(NH2trz)3](ClO4)2, [Fe(pq)3]Cl2.H2O dan

[Fe(pq)3](ClO4)2 merupakan hasil sintesis sendiri.

Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini meliputi alat untuk keperluan sintesis dan karakterisasi. Alat untuk keperluan sintesis meliputi seperangkat alat dari gelas, alat suntik (syringe), corong buchner, batangan magnetik, tabung berisi gas nitrogen, pompa vakum, neraca analitis dan pemanas berpengaduk magnetik (hot plate magnetic stirrer).

(3)

Instrumen karakterisasi meliputi:

• Neraca kerentanan magnet (MSB = Magnetic Susceptibility Balance) merek Sherwood Scientific Ltd., dan konduktometer merek Hanna Instruments HI8819N di Laboratorium Kimia Anorganik ITB.

• Spektrofotometer serapan atom (AAS = Atomic Absorpsion Spectroscopy) merek Shimadzu AA8801S di Laboratorium Kimia Universitas Padjadjaran (UNPAD).

• Spektrometer CHNS model Fison EA 1108 di Laboratorium Kimia, Fakulti Sains dan Teknologi Pangan, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).

• Termogravimetri analiser (TGA = Termogravimetric Analysis) model Pyris 1 merek Perkin Elmer di Departemen of Chemical Engineering, University of Technology of PETRONAS, Malaysia.

• Magnetometer MPMS-7 di Stratingh Institute of Chemistry and Chemical Engineering, University of Groningen, The Netherlands dan Universidad de Valencia, Instituto de Ciencia Molecular Edificio de Institutos.

• Spektrofotometer inframerah merek Shimadzu FTIR-8400 di Laboratorium Pendidikan Kimia FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.

• Difraktometer model Bruker D8 di Solid State Chemistry Department, University of Groningen The Netherlands, Difraktometer Shimadzu S6000 di Australian National Beamline Facility (ANBF), Jepang dan Difraktometer Bruker APEX di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).

III.2 Prosedur Kerja

III.2.1 Sintesis

Sebagaimana disajikan pada Gambar III.1, sintesis meliputi senyawa garam besi(II) klorida, ligan pq, kompleks kalium tris(oksalato)kromium(III), kompleks besi(II) dengan ligan NH2trz dan pq, kompleks

mangan(II)-kromium(III) oksalat dan senyawa baru hasil penggabungan kompleks besi(II) dengan kompleks mangan(II)-kromium(III) oksalat.

(4)

III.2.1.1 Kompleks K3[Cr(C2O4)3].3H2O

Sintesis kompleks K3[Cr(C2O4)3].3H2O dilakukan dengan mengikuti metode yang

telah dipublikasikan (http://238 ab.Ch.iup.edu/wool cock/CH 116 Lec/expf4.htm) dengan prosedur sebagai berikut:

Ke dalam gelas kimia 100 mL yang berisi 5,51 gram H2C2O4.2H2O ditambahkan

10 mL akuades sambil diaduk selama 5 menit. Kemudian ditambahkan 1,81 gram K2Cr2O7 sambil diaduk secara kuat hingga terbentuk gelembung-gelembung gas

seperti mendidih. Setelah reaksi mereda, ke dalam larutan ditambahkan 2,12 gram K2C2O4.H2O sambil diaduk dan dipanaskan hingga semua padatan larut dan

volume larutan tersisa setengahnya. Selanjutnya gelas kimia berisi larutan tersebut didinginkan dalam wadah berisi es dan ke dalamnya ditambahkan 10 mL etanol absolut sambil diaduk hingga terbentuk endapan. Setelah didiamkan selama 30 menit, endapan yang terbentuk disaring degnan menggunakan corong buchner dan dicuci dengan 3 X 5 mL etanol 50% diikuti 10 mL etanol absolut. Selanjutnya endapan dikeringkan di udara terbuka dan ditimbang.

Untuk mendapatkan senyawa K3[Cr(C2O4)3].3H2O dengan tingkat kemurnian

yang tinggi, maka endapan hasil sintesis selanjutnya direkristalisasi dengan prosedur sebagai berikut: Kira-kira 5,23–5,34 gram K3[Cr(C2O4)3].3H2O hasil

sintesis dilarutkan dalam 20 mL akuades di dalam gelas kimia 50 mL. Kemudian ke dalam larutan ditambahkan 15 mL etanol absolut tetes demi tetes melalui dinding gelas kimia dan didiamkan selama kurang lebih 2 jam. Kristal yang terbentuk disaring dan dicuci dengan 5 mL etanol 50% diikuti 5 mL etanol absolut. Selanjutnya kristal dikeringkan di udara terbuka dan ditimbang.

III.2.1.2 Garam FeCl2.4H2O

Ke dalam gelas kimia 100 mL yang berisi 10 mL etanol absolut ditambahkan 5,25 gram FeCl3.6H2O sambil diaduk hingga larut. Kemudian ditambahkan 2,51 gram

serbuk Fe dan 3 mL HCl pekat sambil dipanaskan dan diaduk hingga larutan yang semula berwarna kuning kecoklatan menjadi bening. Selanjutnya dalam keadaan panas larutan disaring, filtratnya ditampung dalam labu berisi eter yang disimpan dalam pendingin es. Serbuk yang terbentuk dalam labu berisi eter disaring

(5)

menggunakan corong buchner dibawah aliran gas N2 hingga kering kemudian

ditimbang. Serbuk FeCl2.4H2O yang telah kering disimpan di dalam botol dan

ditimbang kemudian ditempatkan dalam desikator vakum berisi desikan P2O5.

III.2.1.3 Ligan 2,(2’-piridil)kuinolin (pq = C14H10N2 )

Sintesis ligan pq dilakukan dengan mengikuti metode yang digunakan oleh Harris dan rekan kerjanya (Harris dkk., 1972). Prosedur sintesis ligan pq ini didahului oleh sintesis salah satu reaktannya yaitu senyawa C6H4NH2CHO

(2-aminobenzaldehida) dengan prosedur sebagai berikut: Ke dalam labu dasar bulat volume 500 mL dimasukkan 52,51 gram FeSO4.7H2O, 87,50 mL H2O dan 0,25

mL HCl 10 M sambil diaduk hingga semua padatan larut. Kemudian ditambahkan 3,05 gram C6H5NO2CHO (2-nitrobenzaldehida). Campuran

direfluks sambil tetap diaduk. Pada saat temperatur campuran mencapai 90 °C ke dalamnya ditambahkan 12,50 mL NH4OH 10 M diikuti 5 mL setiap selang waktu

2 menit hingga 3 kali penambahan (3 X 5 mL). Sepuluh menit setelah penambahan bagian terakhir NH4OH, susunan alat refluks (a) dihubungkan

dengan susunan alat destilasi (b) seperti ditunjukkan pada Gambar III.2.

Gambar III.2 Susunan alat refluks dan destilasi uap pada proses sintesis senyawa C7H7NO (2-aminobenzaldehida)

a

b

b

(6)

Destilat ditampung dalam 2 fraksi, destilat fraksi-1 ditampung mulai tetesan pertama hingga menit ke-15. Selanjutnya destilat ke-2 ditampung hingga proses destilasi tidak menghasilkan lagi destilat. Destilat fraksi-1 dijenuhkan dengan kira-kira 1,5–2,5 gram NaCl padat kemudian diaduk pada suhu 5 °C hingga terbentuk kristal 2-aminobenzaldehida berwarna kuning muda. Kristal yang terbentuk disaring dan dikeringkan, filtratnya ditampung dan ditambahkan ke dalam destilat fraksi-2. Campuran destilat fraksi-2 dan filtrat dari fraksi-1 dijenuhkan dengan kira-kira 2,5–5,0 gram NaCl padat. Kemudian diekstraksi degnan 50 mL eter. Ekstraksi degnan eter dilakukan 2 kali, lalu ekstraknya dikeringkan dengan kira-kira 2,5–3,5 gram Na2SO4 anhidrat. Selanjutnya ekstrak

didestilasi vakum hingga semua eter habis dan yang tersisa padatan berwarna kuning 2-aminobenzaldehida. Semua padatan 2-aminobenzaldehida digunakan untuk sintesis ligan 2,(2’-piridil)kuinolin.

Sintesis ligan 2-(2’-piridil)quinolin dilakukan melalui proses berikut ini: Di dalam gelas kimia 100 mL dilarutkan sebanyak 0,98–1,21 gram 2-aminobenzaldehida dalam pelarut etanol dan di dalam gelas kimia 100 mL yang lainnya dilarutkan senyawa 2-asetilpiridin dengan jumlah dan pelarut yang sama. Kemudian kedua larutan dicampurkan dalam labu dasar bulat 100 mL disertai penambahan larutan NaOH 1M sebanyak 2 mL. Selanjutnya campuran direfluks sambil diaduk hingga mendidih selama 1 jam. Dalam keadaan panas ke dalam campuran ditambahkan karbon aktif kira-kira 1 gram sambil diaduk kemudian didiamkan selama kurang lebih 5 menit. Selanjutnya campuran disaring, filtratnya ditampung di dalam gelas kimia 1 liter. Kemudian ke dalam filtrat tersebut ditambahkan kira-kira 1 liter air panas bertemperatur sekitar 70–80 °C dan dibiarkan selama semalam. Kristal berbentuk jarum dan berwarna putih mengkilap yang terbentuk pada dinding dan dasar gelas kimia disaring dengan menggunakan corong buchner, dikeringkan dan ditimbang.

(7)

III.2.1.4 Kompleks Besi(II) dengan Ligan NH2trz

Di dalam labu 50 mL berisi batangan magnetik ditimbang 0,21 gram FeCl2.4H2O kemudian secepat mungkin labu tersebut ditutup dengan rubber

septum dan ke dalamnya dialirkan gas N2 dan 3 mL metanol yang telah

dideoksigenasi. Di dalam labu yang lainnya ditimbang 0,28 gram ligan NH2trz

dan dilarutkan dalam 7 mL metanol. Selanjutnya larutan ligan ditambahkan ke dalam labu berisi larutan FeCl2.4H2O dengan menggunakan alat suntik.

Campuran diaduk di atas pemanas berpengaduk magnetik, endapan yang terbentuk disaring dengan menggunakan kaca masir dan dikeringkan dalam desikator vakum yang berisi desikan P2O5 kemudian ditimbang. Prosedur sintesis

yang sama dilakukan tetapi dengan menggunakan senyawa 0,36 gram Fe(ClO4)2.6H2O dan 0,34 gram Fe(BF4)2.6H2O sebagai sumber besi(II).

III.2.1.5 Kompleks Besi (II) dengan Ligan pq

Di dalam labu 50 mL ditimbang 0,21 gram FeCl2.4H2O kemudian labu tersebut

ditutup dengan rubber septum dan ke dalamnya dialirkan gas N2. Selanjutnya ke

dalam labu tersebut ditambahkan 3 mL metanol yang telah dideoksigenasi menggunakan jarum suntik. Di dalam labu lainnya ditimbang 1,02 gram ligan pq dan dilarutkan dalam 10 mL metanol yang telah dideoksigenasi. Selanjutnya larutan ligan ditambahkan ke dalam labu yang berisi larutan FeCl2.4H2O dengan

menggunakan jarum suntik. Campuran diaduk di atas pemanas berpengaduk magnetik dan endapan yang terbentuk disaring menggunakan kaca masir, lalu dikeringkan dalam desikator vakum yang berisi desikan P2O5 kemudian

ditimbang. Prosedur sintesis yang sama dilakukan, tetapi dengan menggunakan senyawa 0,36 gram Fe(ClO4)2.6H2O dan 0,34 gram Fe(BF4)2.6H2O sebagai

sumber besi(II).

Sintesis kompleks besi(II) dengan ligan pq juga dilakukan dengan menggunakan anion [BPh4]-. Prosedurnya sebagai berikut: 0,21 gram FeCl2.4H2O dilarutkan

(8)

10 mL metanol diikuti larutan 0,75 gram Na(BPh4) dalam 10 mL dmf. Reaksi

dibiarkan berlangsung pada temperatur ruang selama 24 jam. Kristal yang terbentuk disaring, dicuci dengan metanol dan dmf kemudian dikeringkan di dalam desikator yang berisi desikan P2O5, selanjutnya ditimbang.

III.2.1.6 Senyawa [TBA][MnCr(ox)3]

Sintesis senyawa [TBA][MnCr(ox)3] dilakukan menurut metode yang yang telah

dipublikasikan (Pellaux, et al., 1997) dengan prosedur sebagai berikut: Sebanyak 2,44 gram K3[Cr(ox)3].3H2O dimasukkan ke dalam gelas kimia 50 mL kemudian

dilarutkan dengan 10 mL air. Ke dalam larutan tersebut ditambahkan 1,26 gram Mn(NO3)2.4H2O yang telah dilarutkan dengan 4 mL air sambil diaduk. Setelah

itu pada larutan tersebut ditambahkan larutan 1,61 gram [N(C4H9)4]Br dalam

6 mL air sambil diaduk. Endapan yang terbentuk disaring dengan corong buchner kemudian dikeringkan dalam udara terbuka dan ditimbang.

III.2.1.7 Senyawa [Fe(NH2trz)3][Cl][MnCr(ox)3].6H2O

Sebanyak 0,49 gram K3[Cr(C2O4)3].3H2O dilarutkan dalam 6 mL air-metanol 2:1.

Kemudian ke dalam larutan tersebut ditambahkan larutan 0,26 gram Mn(NO3)2.4H2O dalam 3 mL air-metanol 2:1 sambil diaduk. Kemudian ke

dalam campuran larutan tersebut ditambahkan larutan 0,44 gram [Fe(NH2trz)3]Cl2.3H2O dalam 15 mL air-metanol 1:2 sambil tetap diaduk. Reaksi

ketiga larutan dibiarkan berlangsung selama 2 jam pada temperatur ruang. Endapan berwarna ungu-keabu-abuan yang terbentuk disaring dengan menggunakan kaca masir, lalu dikeringkan dalam desikator vakum yang berisi desikan P2O5 kemudian ditimbang.

III.2.1.8 Senyawa [Fe(NH2trz)3][ClO4][MnCr(ox)3].4H2O

Sintesis senyawa ini dilakukan dengan cara yang sama seperti sintesis kompleks [Fe(NH2trz)3][Cl][MnCr(C2O4)3].6H2O (III.2.1.7) tetapi dengan menggunakan

(9)

III.2.1.9 Senyawa [Fe(pq)2][Cl][MnCr(ox)3].6H2O

Sintesis senyawa ini dilakukan dengan cara yang sama seperti sintesis kompleks [Fe(NH2trz)3][Cl][MnCr(C2O4)3].6H2O (III.2.1.7) tetapi dengan menggunakan

0,77 gram [Fe(pq)3]Cl2.H2O.

III.2.1.10 Senyawa [Fe(pq)2][ClO4][MnCr(ox)3].6H2O

Sintesis senyawa ini dilakukan dengan cara yang sama seperti sintesis kompleks [Fe(NH2trz)3][Cl][MnCr(C2O4)3].6H2O (III.2.1.7) tetapi dengan menggunakan

0,87 gram [Fe(pq)3](ClO4)2.

III.2.2 Karakterisasi

Karakterisasi meliputi penentuan kadar ion logam kalium(I), kromium(III), mangan(II), besi(II), unsur C, H, N, pengukuran suseptibilitas magnetik, uji spektroskopi inframerah dan difraksi sinar-X serbuk.

III.2.2.1 Penentuan Kadar Ion Logam

Penyiapan Larutan Standar

Larutan standar kalium 100 ppm dibuat dengan cara sebagai berikut: Sebanyak 0,19 gram KCl dilarutkan dalam akuades dan 7 mL HNO3 14 M di dalam labu

takar 1000 mL hingga tanda batas. Kemudian dibuat larutan standar kalium 1, 2, 3, 4 dan 5 ppm, dengan cara pengenceran berturut-turut 1, 2, 3, 4 dan 5 mL larutan standar 100 ppm di dalam masing-masing labu takar 100 mL hingga tanda batas.

Larutan standar kromium 100 ppm dibuat dari senyawa K2Cr2O7 sebanyak 0,29

gram dengan cara yang sama seperti pembuatan larutan standar kalium 100 ppm. Kemudian dibuat larutan standar kromium 3, 5, 7, 9, 11, 13 dan 15 ppm.

(10)

Cara yang sama juga dilakukan pada pembuatan larutan standar mangan 100 ppm dari senyawa MnSO4.4H2O sebanyak 0,41 gram. Kemudian dibuat larutan

standar mangan 2, 4, 6, 8, 10 dan 12 ppm.

Pada pembuatan larutan standar besi 100 ppm dari senyawa Fe(NH4)2(SO4)2.6H2O

sebanyak 0,72 gram, 7 mL asam HNO3 14 M diganti dengan 10 tetes HCl 10 M.

Kemudian dibuat larutan standar besi 2, 4, 6, 8 dan 10 ppm.

Penyiapan Larutan Sampel

Sebanyak 0,10 gram sampel senyawa K3[Cr(C2O4)3].3H2O dilarutkan dalam

akuades dan 1 mL HNO3 14 M di dalam labu takar 100 mL, kemudian 1 dan 5

mL larutan sampel tersebut diencerkan dalam labu takar 100 mL hingga tanda batas. Larutan hasil pengenceran dari 1 mL larutan sampel digunakan untuk analisis kadar kalium sedangkan larutan hasil pengenceran dari 5 mL larutan sampel dianalisis kadar kromiumnya.

Larutan sampel senyawa [TBA][MnCr(ox)3] dibuat dengan cara yang sama

seperti pembuatan larutan sampel K3[Cr(C2O4)3].3H2O tetapi sampel yang

dilarutkan sebanyak 0,12 gram. Cara yang sama juga digunakan untuk pembuatan larutan sampel 0,1 gram [Fe(NH2trz)3]Cl2.3H2O, 0,1 gram [Fe(NH2trz)3](ClO4)2,

0,1 gram [Fe(NH2trz)3](ClO4)2, 0,14 gram [Fe(pq)3]Cl2.H2O, 0,16 gram

[Fe(pq)3](ClO4)2, 0,15 gram [Fe(pq)3](BF4)2, 0,16 gram [Fe(NH2trz)3][Cl]

[MnCr(ox)3].6H2O, 0,17 gram [Fe(NH2trz)3][ClO4][MnCr(ox)3].4H2O, 0,19

gram [Fe(pq)2][Cl][MnCr(ox)3].6H2O dan 0,21 gram [Fe(pq)2][ClO4]

[MnCr(ox)3].6H2O. Sebanyak 5 mL masing-masing larutan sampel diencerkan

di dalam labu takar 100 mL hingga tanda batas. Larutan sampel hasil pengenceran kemudian dianalisis kadar ion logamnya.

Larutan standar kalium 1, 2, 3, 4 dan 5 ppm serta larutan sampel hasil pengenceran yang mengandung ion kalium diukur absorbansnya dengan alat spektrofotometer serapan atom pada λ = 766,5 nm.

(11)

Larutan standar kromium 3, 5, 7, 9, 11, 13 dan 15 ppm serta larutan sampel hasil pengenceran yang mengandung ion kromium diukur absorbansnya pada λ = 357,9 nm.

Larutan standar mangan 2, 4, 6, 8, 10 dan 12 ppm serta larutan sampel hasil pengenceran yang mengandung ion mangan diukur absorbansnya pada λ = 279,5 nm.

Larutan standar besi 2, 4, 6, 8 dan 10 ppm serta larutan sampel hasil pengenceran yang mengandung ion besi diukur absorbansnya pada λ = 248,3 nm.

III.2.2.2 Penentuan Kadar Hidrat dengan Analisis Termogravimetri

Penentuan jumlah air kristal (hidrat) dilakukan menurut metode analisis termogravimetri berupa pengurangan berat dengan variasi temperatur. Sebanyak 2–5 mg sampel ditempatkan dalam wadah platina yang terdapat dalam instrumen TGA. Selanjutnya sampel dipanaskan dari temperatur 30 sampai dengan 500 °C dengan kecepatan kenaikan temperatur 5 °C/menit. Selama proses berlangsung dialirkan gas N2 dengan kecepatan 260 mL/menit.

III.2.2.3 Pengukuran Momen Magnetik (μef) pada Temperatur Ruang

Pengukuran momen magnetik pada temperatur ruang dilakukan dengan menggunakan alat MSB. Alat MSB ditempatkan di atas permukaan datar dan diatur sedemikian rupa sehingga penunjuk permukaan (water-pass) berada tepat ditengah lingkaran penunjuk. Kemudian alat dihidupkan dan dibiarkan selama 10 menit. Selanjutnya alat dikondisikan sedemikian rupa sehingga penunjuk nilai R menampilkan nilai 0. Tabung MSB kosong ditimbang, beratnya dinyatakan sebagai m0 dalam satuan gram. Kemudian tabung tersebut dimasukkan ke dalam

tempat khusus dalam alat MSB dan harga pada penunjuk nilai R dicatat sebagai R0. Selanjutnya tabung MSB diisi kira-kira 0,10–0,15 gram sampel dan ditimbang

(12)

diukur dan dicatat sebagai l biasanya kira-kira 1,5–3,5 cm. Tabung berisi sampel dimasukkan ke dalam alat MSB dan harga pembacaannya dicatat sebagai R1.

Temperatur saat pengukuran dicatat dan dikonversi kedalam satuan Kelvin.

Berdasarkan data hasil pengukuran kemudian dihitung nilai suseptibilitas magnetik masa (χg) menurut persamaan:

C. l. (R1 – R0)

χg = ───────── (III.1)

(m1 – m0)

C adalah konstanta kalibrasi sebesar 1,11/109.

Nilai suseptibilitas masa dikonversi menjadi suseptibilitas molar (χM) menurut

persamaan:

χM = χg x Mr.Senyawa (III.2)

Nilai suseptibilitas molar dikoreksi dengan faktor koreksi diamagnetic (∆) sehingga diperoleh nilai suseptibilitas molar terkoreksi (χM,) sebagai berikut:

χM, = χM - ∆ (III.3)

Kemudian nilai momen magnetik efektif (μeff) dihitung dengan persamaan:

μef = [8 x χM,T]1/2 BM (III.4)

Besarnya fraksi mol spin tinggi dapat ditentukan berdasarkan nilai χM,T maupun

μef menggunakan persamaan:

(χ)T = XHSHS + (1 - XHSLS (Gütlich dan Goodwin, 2004) (III.5)

Berdasarkan hubungan χ terhadap μef yang ditunjukkan pada persamaan (III.4),

persamaan (III.5) dapat ditulis ulang sebagai: (μ2)

T = XHS(μ2HS) + (1 - XHS)(μ2LS) (III.6)

dengan XHS adalah fraksi mol spin tinggi, μHS adalah nilai limit momen

magnetik spin tinggi ditentukan sebesar 5,4 BM dan μLS nilai limit momen

(13)

III.2.2.4 Pengukuran Sifat Magnetik dengan Variasi Temperatur

Pengukuran sifat magnetik dengan perubahan kontinu temperatur dilakukan dengan menggunakan MPMS-7 (Magnetic Properties Measurement System). Kira-kira 5–30 mg sampel dimasukkan ke dalam kapsul gelatin. Kemudian kapsul berisi sampel dimasukkan ke dalam sedotan transparan dengan kedalaman kira-kira 2/3 panjang sedotan. Selanjutnya sedotan tersebut ditempatkan pada stik yang terdapat pada MPMS-7. Proses pengukuran dilakukan dengan metode ZFC (Zero Field Cool) yakni sampel di turunkan temperaturnya dari temperatur ruang ke 5 K tanpa medan magnetik. Pada saat temperatur telah mencapai 5 K, medan magnetik mulai digunakan sebesar 1000 Oe dan proses pengukuran mulai dijalankan dari temperatur 5 K sampai dengan kira-kira 330 K dengan kenaikan temperatur 1–10 K/step.

III.2.2.5 Uji Spektroskopi Inframerah

Pengukuran spektroskopi inframerah dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer inframerah merek Shimadzu FTIR-8400. Pengukuran diawali dengan pembuatan pelet sampel ditambah senyawa KBr, yakni kira-kira 1 mg sampel digabungkan dengan sekitar 10 mg KBr digerus sedemikian rupa hingga kedua padatan bercampur secara sempurna. Kemudian dimasukkan ke dalam

press holder, divakumkan dan ditekan beberapa saat hingga terbentuk pelet.

Selanjutnya pelet tersebut diukur spektranya pada daerah bilangan gelombang 400–4000 cm-1.

III.2.2.6 Uji Difraksi Sinar-X Serbuk

Kira-kira 5–25 mg sampel ditempatkan dengan merata dan termampatkan secara baik pada tempat sampel kemudian diletakkan pada sel (sample holder) dalam alat difraktometer sinar-X. Sampel disinari dengan sinar-X yang dihasilkan dari logam Cu Kα (λ = 1,54 Å). Selama penyinaran sampel dirotasi dengan kecepatan 60 rpm. Data difraksi sinar-X sampel diambil pada rentang sudut difraksi (2θ)

(14)

10–60° dengan interval 0,02°/step dan waktu tiap step kira-kira 2 detik. Difraktogram yang diperoleh berupa grafik intensitas (counts) versus sudut difraksi (2θ).

Puncak-puncak difraksi pada difraktogram setiap senyawa diindeks dalam program CELL-A untuk mendapatkan sistem kristal yang paling sesuai untuk senyawa yang bersangkutan. Tingkat kesesuain sistem kristal ditetapkan berdasarkan nilai R dan R10 dalam satuan persen (%). Nilai R menunjukkan

tingkat kesesuaian berdasarkan keseluruhan puncak difraksi yang diindeks sedangkan nilai R10 menunjukkan tingkat kesesuain berdasarkan 10 puncak

difraksi pertama yang diindeks. Untuk membuktikan atau menguji tingkat kesesuain sistem kristal yang diperoleh dari program CELL-A, selanjutnnya dilakukan penghalusan dengan metode Le Bail dalam program Rietica.

III.2.2.7 Uji Difraksi Sinar-X Kristal Tunggal

Sebuah kristal dengan ukuran 0,08 x 0,05 x 0,03 mm3 untuk [Fe(pq)3](ClO4)2 dan

0,44 x 0,16 x 0,13 mm3 untuk [Fe(pq)2(dmf)2](BPh4)2 dipilih untuk pengukuran

difraksi sinar-X. Data difraksi sinar-X dikoleksi pada sebuah difraktometer Bruker SMART APEX pada temperatur 295(2) K menggunakan teknik ω-scan dengan radiasi Mo Kα ( λ = 0,71073 Å). Data intensitas dikumpulkan pada rentang sudut difraksi kira-kira 1,62–27,49° untuk 14990 refleksi kristal [Fe(pq)3](ClO4)2. Untuk kristal [Fe(pq)2(dmf)2](BPh4)2, data intensitas

dikumpulkan pada sudut difraksi kira-kira 1,62–25,24° untuk 17469 refleksi. Koreksi absorpsi dan polarisasi-Lorentz (Lorentz-polarization) digunakan untuk mereduksi data refleksi. Struktur molekul masing-masing kompleks diselesaikan dan dihaluskan menggunakan program SHELXTL (Sheldrick, 1997). Adapun gambar molekulnya diperoleh menggunakan ORTEP (Sheldrick, 1991).

Gambar

Gambar III.1 Bagan alir penelitian
Gambar III.2 Susunan alat refluks  dan destilasi uap  pada proses sintesis senyawa                        C 7 H 7 NO (2-aminobenzaldehida)

Referensi

Dokumen terkait

Pengadukan semen ionomer kaca tipe 1 tipe I dilakukan pada paper pad dengan perbandingan bubuk dan cairan 1:1 kemudian diaduk dengan teknik angka delapan oleh

Metode Pengumpulan Data Penelitian menggunakan data primer, berupa jawaban hasil penyebaran kuisioner, yaitu sekumpulan pertanyaan yang diajukan pada masyarakat yang datang ke PTSP