7 Lathif Thariqat Naqsyabandiyah

23 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

KAJIAN AMALAN THARIQAT AN-NAQSYABANDI

Amalan ini di dasari dengan jalan memelihara keluar masuknya nafas, supaya hati tidak lupa kepada Allah Swt, agar senantiasa tetap akan hadirnya Allah Swt pada masuk dan keluarnya nafas, dalam menarik dan menghembuskan nafasnya, hendaklah selalu ingat serta hadir bersama Allah Swt di dalam hati sanubari, ingat kepada Allah saat keluar masuknya nafas guna memudahkan jalan dekat kepada Allah Swt dan di ridhaiNya.

Kajian ini sangat berguna untuk jalan atau membuat seorang anak manusia (hamba) supaya dapat mengontrol dirinya agar jangan sampai lupa kepada Allah Swt, di samping dengan ibadah fardhu (wajib) yang di lakukan sebagai sifat penghambaan dan pengabdian terhadap Allah Swt, amalan ini jika di lakukan dengan rutin (istiqamah) dapat menjaga seorang hamba dari sifat lalai atau lupa kepada Allah Swt yang di sebabkan oleh bisikan syetan pada jalan – jalan atau pintu masuk yang halus daripada manusia, jadi inilah upaya untuk jalan menuju kepada Allah Swt yang Maha Agung dan Maha Suci.

Penerapan dalam kesehariannya salah satunya menjaga jika ia (salik) berjalan, mestilah selalu menundukkan kepalanya, kalau tidak dapat di khawatirkan membuat hati bimbang dan ragu, maka dari tu kita harus memelihara hati.

Terjadinya perpindahan sifat – sifat kemanusiaan yang kotor dan rendah, kepada sifat – sifat kemalaikatan yang bersih dan suci lagi penuh dengan ketaqwaan, karena itu wajiblah kita mengontrol hati, agar dalam hati kita tidak ada rasa cinta kepada makhluk selain dari Allah Swt, setiap salik harus selalu menghadirkan hati kepada Allah Swt dalam segala hal keadaan, baik di suasana sunyi maupun di tengah keramaian dunia.

Suluk dalam hal ini terbagi dari 2 (dua) bagian, yakni ; Khalwat Lahir, yaitu orang yang sunyi di tengah keramaian, dan Khalwat Bathin, yaitu orang yang suluk senantiasa musyahadah kepada Allah Swt dan menyaksikan rahasia – rahasia Allah Swt, walaupun berada di tengah keramaian, dalam arti kata berkekalan dzikir (ingat) kepada Allah Swt, baik dzikir izmu zat dengan membaca Allah…Allah…Allah maupun dengan dzikir napi istbat menyebut La ilahaa illallah, sampai yang di sebut itu terlihat di dalam dzikir yang hadir dan datang.

Di luar suluk yang resmi, seorang salik harus memelihara hatinya dari kemasukan sesuatu yang dapat menggoda dan mengganggunya sedapat mungkin di dalam kesadarannya yang jernih, jika terjadi yang demikian walaupun hanya sebentar dapat menjadi masaalah besar, hal ini tidak boleh terjadi dalam ajaran ibadah cara thariqat.

Tawajjuh atau pemusatan perhatian sepenuhnya pada musyahadah yang menyaksikan keindahan kebesaran dan kemuliaan Allah Swt terhadap Nur Zat Ahdiyah, cahaya yang maha esa dengan tiada seumpama dengan apapun juga dan tanpa di sertai dengan kata – kata, hal ini dapat di capai oleh seorang hamba dalam menjalani ibadah cara suluk setelah dia mengalami fana dan baqo yang sempurna

Pelajaran dalam ajaran ini ada mempunyai beberapa tingkatan yang di sesuaikan dengan tahap kebersihan jiwa dan hasil daripada pengamalan dzikirnya terhadap Allah Swt, dengan di bimbing oleh seorang guru mursyid tentunya pada pembelajaran ini, semakin dekat seorang hamba dengan khalikNya, maka semakin naik

(2)

pulalah tahapan tingkatan kajiannya dalam memperdalam ajaran dzikir ini, tingkatan dari ajaran dzikir ini terdiri sebagai berikut :

1. LATIFATUL QALBIY

Berhubungan dengan jantung jasmani, kira – kira dua jari di bawah susu kiri, dzikirnya sekurang – kurangnya 5000 dalam sehari semalam, ini wilayahnya Nabi Adam As, cahayanya kuning dan berasal dari tanah, angin dan api.

Wilayah ini tempatnya sifat buruk pada manusia, yakni ; hawa nafsu, Syetan dan Dunia, jika seorang hamba lkhlas dzikirnya pada wilayah ini, maka hilanglah itu daripadanya dan paling tidak berkurang, jadi sifat yang buruk pada wilayah ini jika di dzikirkan terus menerus, maka dapatlah menjelma atau masuklah sifat yang baik dan berakhlak, yaitu ; Iman, Islam, Tauhid dan Ma‘rifat.

Uraian latifah ini adalah merupakan sentral daripada ruhaniah manusia, wilayah ini merupakan induk dari latifah – latifah lainnya, yaitu hati sanubari manusia itu sendiri. Madzmumahnya adalah hawa nafsu yang buruk itu mengikut kepada kehendak iblis dan syetan, cinta dunia, kafir dan syirik bertempatkan pada wilayah ini.

Madzmudahnya ialah Iman, Islam, Tauhid dan Ma‘rifat serta sifat – sifat malaikat, melalui dzikir pada latifatul qalbiy menjelmalah sifat madzmudah tadi kedalamnya, justru inilah di tuntut seorang hamba supaya rajin – rajin membersihkan wilayah ini dengan dzikrullah.

Jika seorang hamba betul – betul ikhlas dan rajin berdzikir pada wilayah ini dan beristiqamah, maka insya Allah Swt terbukalah rahasia gaib alam jabarud dan alam malakud dengan izin dan kehendakNya, dia mendapatkan ilham dan karunia daripadaNya, dan itu ini di katakan sunah dan thariqat Nabi Adam As.

Puncaknya adalah fana pada Af‘al Allah Swt, munculnya mati tabi‘i, mati yang di maksudkan di sini adalah matinya hawa nafsu dan hiduplah hati sanubari.

Mati Tabi‘i artinya perasaan lahiriah orang yang berdzikir menjadi hilang, fana pendengaran dan penglihatan lahiriahnya, sehingga tidak berfungsi lagi, yang berfungsi adalah pendengaran dan penglihatan bathinnya yang memancar dari lubuk hatinya, sehingga terdengar dan terlihat adalah lapzul jalalah, dalam keadaan demikian akal dan pikiran tidak berjalan lagi, tetapi hanyalah ilham dari Allah Swt yang merupakan nur illahi itulah yang terbit dari orang yang berdzikir, sehingga hatinya muhadharoh hadir bersama Allah Swt.

Mati Tabi‘i juga merupakan lompatan dari pintu fana yang pertama, oleh sebab di terimanya dzikir seorang hamba oleh Allah Swt, dan ini merupakan hasil dari mujahadahnya dan merupakan rahmat dan karunia dari Allah Swt, juga merupakan fanafillah di mana gerak dan diam tidak ada kecuali dari Allah Swt.

2. LATIFATUL RUH

Berhubungan dengan rabu jasmani dua jari di bawah susu kanan, dzikirnya sekurang – kurangnya 1000 kali dalam sehari semalam, ini adalah wilayahnya Nabi Ibrahim As dan bercahaya merah, maqam ini berasal dari api.

Maqam ini adalah tempatnya sifat madzmumah yaitu tamak, rakus dan bakhil, jika ikhlas dzikirnya maka masuklah dan berganti dengan sifat madzmudah, yaitu Khana‘ah dalam arti memadai ianya akan apa ada adanya.

(3)

Sifat buruk ini seperti, loba, tamak, rakus dan bakhil adalah salah satu sifat yang tidak di sukai oleh Allah Swt dan RasulNya, sifat bathiniah yang buruk seperti ini tidak ubahnya seperti binatang yang suka menurut akan hawa nafsunya, jadi dengan rajinnya mengobati sifat ini dengan dzikir pada maqam tersebut di atas adalah dapat berganti sifas yang di sukai Allah Swt dan RasulNya, seperti merasa selalu bersyukur dan menerima apa adanya yang telah di tetapkan oleh Allah Swt, usaha untuk merubah sifat ini adalah dengan cara yang wajar melalui dzikir kepada Allah Swt dengan seperti cara yang di ajarkan oleh Thariqat An- Naqsyabandi.

Puncaknya pada dzikir adalah maqam fanafil asma dan mati ma‘nawi, artinya semua sifat keinsanan manusia telah lebur dan lenyap di liputi oleh sifat ketuhanan yang di namakan dengan fanafisifattillah, sifat yang baharu dan sifat yang kekurangan pada diri seseorang yang berdzikir jadi lenyap atau fana, yang tinggal hanyalah sifat tuhan yang maha sempurna dan azali.

Pendengaran dan penglihatan lahir menjadi hilang lenyap, yang tinggal hanyalah pendengaran bathin dan penglihatan bathin yang memancarkan nur illahi, yang terbit dari dalam hati yang dapat memancarkan ilham dari Allah Swt, mati ma‘nawi ini merupakan pintu fana yang kedua dan di terima oleh seseorang berdzikir, ini merupakan hasil mujahadahnya dan merupakan rahmat dan karunia dari Allah Swt jika ikhlas dzikirnya.

3. LATHIFATUL SIRRI

Berhubungan dengan hati jasmani kira – kira dua jari di atas susu kiri, dzikirnya dalam sehari semalam sekurang – kurangnya 1000 kali, ini wilayahnya Nabi Musa As dan bercahaya putih asalnya dari angin, maqam ini tempatnya sifat madzmumah pada manusia, yaitu pemarah, pembengis, emosi tinggi dan penaik darah dan pendendam, jadi kita harus berdzikir di tempat ini jika ingin menghilangkan sifat buruk tersebut dari bathin kita, jika ikhlas dzikirnya pada tempat ini maka akan bergantilah sifat buruk tadi menjadi sifat yang terpuji, seperti pengasih, penyayang, baik budi bahasa dan pekertinya.

Sifat ini di katakan seperti sifat binatang buas yang suka berbuat onar, kekejaman, penganiayaan, penindasan, permusuhan dan pendzaliman sesama, dan sebagai madzmudahnya adalah manakala lenyap sifat buruk di atas dan berganti dengan sifat kesempurnaan, terutama rahman dan rahim, ini di katakan adalah sunah dan thariqatnya Nabi Musa As.

Puncaknya pada maqam ini adalah fanafisifattisubutiah dan mati sirri, mati sirri artinya segala sifat keinsanan menjadi lenyap dan berganti fana, demikian juga dengan alam yang wujud ini menjadi lenyap dan di telan oleh alam ghaib, alam malakul yang penuh dengan nur illahi, mendapat karunia mati sirri ini adalah bergelimang baqa finurillah, yaitu nur af‘al Allah Swt, nur asma Allah Swt, nur zat Allah Swt dan nurron ‗ala nurrin, cahaya di atas cahaya Allah Swt, di mana Allah Swt memberikan karunia itu kepada siapa saja yang dia kehendaki.

1. LATHIFATUL KHAFI

Berhubungan dengan limpa jasmani kira – kira dua jari di atas susu kanan, berdzikir pada maqam ini dalam sehari semalam sekurang – kurangnya 1000 kali, ini adalah wilayahnya Nabi Isa As dengan bercahayakan hitam dan berasal dari air.

(4)

Ini adalah tempatnya sifat madzmumah pada manusia, seperti busuk hati, munafik, pendusta, mungkir janji, penghianat dan tidak dapat di percaya, nah jika ikhlas dzikir pada tempat ini maka hilanglah sifat yang demikian dan berganti dengan sifat yang terpuji, seperti ridha dan syukur, madzmumahnya lathifatul khafi ini di katakan dengan sifat syetaniah yang menimbulkan was – was, cemburu, dusta dan sebagainya yang sejenis, dan mahmudahnya adalah sifat syukur dan ridha serta sabar dan tawakkal, ini di katakan dengan sunahnya Nabi Isa As.

Puncaknya adalah fana fissifatis salbiyah dan mati hissi, mati hissi artinya segala sifat keinsanan yang baharu menjadi lenyap atau fana dan yang tinggal hanyalah sifat tuhan yang qadim azali, ada tingkat ini tanjakan bathin seorang yang berdzikir telah mencapai tingkat tertinggi, yaitu tingkat ma‘rifat, pada tingkat ini orang yang berdzikir telah mengalami keadaan yang tidak pernah di lihat oleh mata zahir, tidak opernah di dengar telinga zahir dan tidak pernah terlintas dalam hati sanubari manusia dan tidak mungkin pula bisa di sifati oleh sifat manusia kecuali yang telah di karuniakan oleh Allah Swt dengan seperti pada jalan tersebut di atas.

5. LATHIFATUL AKHFA

Berhubungan dengan empedu jasmani kira – kira di tengah dada, dzikirnya sekurang – kurangnya dalam sehari semalam adalah 1000 kali, ini merupakan wilayahnya Nabi Muhammad Saw dan bercahaya hijau serta berasal dari tanah, tempat sifat takbur, ria, ujub dan suma‘ah, ini harus kita hilangkan dengan berdzikir pada maqam ini agar dapat berganti dengan sifat tawadduk, ikhlas, sabar dan tawakkal kepada Allah Swt.

Sifat segala keakuan seperti sombong, takbur, ria, loba, ujub dan tamak serta bersikap akulah yang terpandai, akulah yang terkaya, akulah yang tergagah, tercantik dan lain sebagainya, maqam ini juga di katakan dengan sifat rububiyah atau rabbaniyah dan hanya pantas bagi Allah Swt, sebab dialah yang pada hakikatnya yang memiliki, mengatur alam semesta ini, sifat baik pada maqam di dapatkan jika berdzikir dengan ikhlas adalah khusyu‘, tawadduk, tawakkal dan ikhlas sebenar ikhlas, selalu tafakkur akan keagungan Allah Swt dan ini di katakan dengan sunahnya dan thariqatnya Nabi Muhammad Saw, puncaknya adalah fana fidzzat, almuhallakah.

6. LATHIFATUL NAFSUN NATIKAH

Berhubungan dengan otak jasmani terletak di tengah – tengah dahi, berdzikir pada maqam ini dalam sehari semalam adalah sebanyak 1000 kali sekurang – kurangnya, ini adalah wilayahnya Nabi Nuh As dan bercahaya biru serta tempat sifat buruk pada manusia yaitu khayal dan angan – angan, oleh karena itu kikislah sifat tersebut dengan berdzikir secara ikhlas pada tempat ini, agar berganti dengan sifat muthma‘innah, yaitu sifat dan nafsu yang tenang.

Buruknya pada tempat ini adalah selalu panjang angan – angan, banyak khayal dan selalu merencanakan selalu yang jahat untuk memuaskan hawa nafsu, sifat baiknya adalah nafsu muthma‘innah yaitu sifat yang sakinah, aman, tenteram serta berpikiran yang tenang, ini di katakan dengan sunah thariqatnya Nabi Nuh As, puncaknya adalah mati hissi.

(5)

7. LATHIFATUL KULLU JASAD

Berhubungan dengan selurh badan atau jasad zahir, berdzikir pada maqam ini dalam sehari semalam sekurang – kurangnya 11.000 kali, ini adalah tempatnya sifat buruk manusia, yaitu jahil dan lalai, seseorang yang dzikirnya ikhlas pada tempat ini dapat menimbulkan ilmu dan amal yang di ridhai oleh Allah Swt.

Dzikir ini di sebut juga dengan dzikir sultan aulia Allah Swt, artinya raja sekalian dzikir dan di jalankan melalui seluruh badan, tulang belulang, kulit, urat dan daging di luar maupun di dalam, di tempat ini dzikir Allah…Allah…Allah pada penjuru anggota badan beserta ruas dari ujung rambut sampai ujung kaki hingga tembus keluar yakni bulu roma pada sekujur tubuh atau badan, agar dapat menghilangkan sifat malas dan lalai beribadah kepada Allah Swt.

Untuk menghantam seluruh sifat malas dan lalai tersebut haruslah di laksanakan dengan sepenuh hati yang ikhlas, menurut kajian pengamal ajaran cara ibadah tasawwuf bahwa iblis dan syetan bisa masuk melalui dan menetap pada seluruh bagian tubuh, karena itu perlu di getar dengan dzikirullah sehingga dzikirullah menetap di tempat itu dengan sendirinya dan tentu saja tidak ada lagi jalan iblis atau syetan untuk dapat memasuki tubuh zahir dan merasuk kedalam bathin manusia untuk membisikkan segala perbuatan jahat yang tercela di hadapan Allah Swt.

Sifat yang masuk pada maqam ini setelah dzikir tersebut adalah ilmu dan amal yang di ridhai oleh Allah Swt, dia berilmu sesuai dengan qur‘an dan syari‘at serta sunnah Rasul Saw, hakikat cahaya pada maqam ini adalah nuurus samawi dan di katakan dengan sunah dan thariqatnya orang alim dan ma‘rifat kepada Allah Swt, puncak pada dzikir ini adalah mati hissi yang perupakan pokok dan mendasari dzikir – dzikir yang lain di atasnya, karena itu para pengamal ajaran ini harus mengkhatamkannya sekurang – kurangnya 11.000 sehari semalam.

Dzikir lathaif inilah merupakan senjata paling ampuh untuk mengusir dan membasmi sifat madzmumah yang ada pada 7 (tujuh) lathaif tadi, segala sifat madzmumah atau sifat buruk ini di tunggangi oleh iblis dan syetan.

WUKUF

Wukuf ini menurut ajaran Syeikh Muhammad Bukhari Baha‘uddin Naqsyabandi, pertama – tama di dasari dengan 3 (tiga) tahapan, yaitu ;

1. Wukuf Samani;

Artinya : Kontrol yang di lakukan oleh seorang salik terhadap ingat atau tidaknya dia kepada Allah Swt sekurang – kurangnya dua atau tiga jam, jika dia ternyata dalam keadaan ingat kepada Allah Swt dalam pada waktu tersebut, ia harus bersyukur kepada Allah Swt, jika ternyata dia tidak ingat kepada Allah Swt, ia harus banyak – banyak melakukan taubat kepada Allah Swt dan usahakan dengan sekeras mungkin supaya kembali ingat kepada Allah Swt.

(6)

Artinya : senantiasa memelihara bilangan ganjil dan menyelesaikan dzikir napi istbat pada setiap dzikir tersebut di akhiri, jangan di akhiri dengan bilangan yang genap, tetapi mestilah bilangan yang ganjil, seperti ; 3, 5 atau 7 dan seterusnya.

3. Wukuf Qalby;

Artinya : Keadaan hati seorang yang suluk, selalu hadir kepada Allah Swt, pikiran yang ada terlebih dahulu di hilangkan dari perasaan, kemudian sekalian panca indera yang lima tawajjuh dengan mata hati yang hakiki untuk menyelami ma‘rifat kepada Allah swt, tidak ada luang sedikitpun di dalam hati selain kasih Allah

Dzikir wukuf menghadirkan seluruh lathaif dan seluruh anggota badan serta ruas – ruasnya di hadirkan kepada zat yang tanpa rupa dan bentuk, penghadiran tanpa menyertakan Dzikir ismu zat, tapi hadir di haribaan zat yang di namai Allah, yaitu Allah Swt. Dzikir wukuf adalah Dzikir diam dengan semata – mata mengingat Allah, yaitu mengingat zat Allah yang bersifat dengan segala sifat sempurna dan suci atau jauh dari segala sefat kekurangan, segala sifat kesempurnaan hanya di miliki oleh Allah Swt, jadi sifat kekurangan adalah milik kita dan untuk meningkatkan sifat yang kurang sempurna itu menjadi lebih sempurna, maka inilah yang kita harapkan rahmat dan ridha Allah Swt. Dzikir wukuf ini di rangkaikan setelah selesai melaksanakan Dzikir ismu zat atau Dzikir lathaif atau Dzikir napi istbat, Dzikir wukuf ini di laksanakan dalam rangka menutup Dzikir yang lain sebelumnya.

PENGERTIAN MARKOBAH

Dzikir markobah ialah berkekalannya seorang hamba, ingat bahwa dirinya senantiasa di monitor oleh Allah Swt dalam seluruh tingkah lakunya.

Markobah artinya saling mengawasi, saling mengintai dan saling memperhatikan, dalam kajian tasawwuf atau thariqat, markobah dalam pengertian bahasa tersebut, yaitu terjadinya sesuatu antara hamba dengan khalikNya. Tingkatan kajian Markobah ini dalam ajaran ibadah cara Thariqat Naqsyabandi ada 6 (enam) yang akan di beri penjelasan secara umum berikut ini, kajian markobah ini di dasari dengan firman Allah Swt dalam Al-Qur‘an dan As-Sunnah sebagai berikut :

“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang).” Al-Qur‟an Surah Asy-Syu‟ara Ayat 218.

“Dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang - orang yang sujud.”Al-Qur‟an Surah Asy-Syu‟ara Ayat 219.

“Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.”Al-Qur‟an Surah Ali Imran Ayat 5.

“Dan adalah Allah Maha mengawasi segala sesuatu.” Qur‟an Surah Al-Ahzab Ayat 52

(7)

“Apakah Tuhan yang menjaga Setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)?”. Ar-Ra‟d Ayat 33.

“Tidaklah Dia mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?”. Al-„Alaq Ayat 14.

“Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. An-Nisa‘ Ayat 1

“Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya‖.

Al-Bayyinah Ayat 8

Rasulullah Saw bersabda : “Hendaklah engkau menyembah kepada Allah Swt

seolah engkau melihat Allah dan jika engkau tidak dapat melihat melihat Allah Swt, maka sesungguhnya Allah Swt melihat akan kamu”. Hadist riwayat Muslim.

Dari Abu Ya'la yaitu Syaddad bin Aus Ra, dari Nabi Saw, sabdanya : "Orang yang cerdik -berakal ialah orang yang memperhitungkan keadaan dirinya dan suka beramal untuk mencari bekal sesudah matinya, sedangkan orang yang lemah ialah orang yang dirinya selalu mengikuti hawa nafsunya dan mengharap - harapkan kemurahan atas Allah, yakni mengharap - harapkan kebahagiaan dan pengampunan di akhirat, tanpa beramal shalih." Di riwayatkan oleh Imam Tirmidzi.

Dari Anas Ra katanya : "Sesungguhnya engkau semua pasti melakukan berbagai amalan -yang di remehkannya sebab di anggap dosa kecil - kecil saja, yang amalan - amalan itu adalah lebih halus - lebih kecil menurut pandangan matamu daripada sehelai rambut. Tetapi kita semua di zaman Rasulullah Saw menganggapnya termasuk golongan dosa - dosa yang merusakkan, menyebabkan kecelakaan dan kesengsaraan." Di riwayatkan oleh Imam Bukhari.

Dari ayat dan hadist tersebut di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa markobah berarti mawas diri seorang hamba terhadap khaliknya bahwasanya Allah Swt mengawasi, mengintai dan memperhatikan setiap niat dan amalan hambanya, sebaliknya seorang hamba harus mawas diri terhadap hati, niat dan amal yang dia kerjakan untuk melaksanakan perintah Allah Swt dan meninggalkan laranganNya.

Seorang hamba harus melaksanakan perhitungan terhadap dirinya sendiri tentang apa yang telah di laksanakannya di masa yang telah lalu atau lampau dan karena itu harus bertekad merumuskan yang baik dan meningkatkannya di masa mendatang semata – mata karena Allah Swt serta mengharapkan ridha Allah Swt.

Markobah juga mengevaluasi sehabis beramal guna memperbaiki dan meningkatkan amalan – amalan yang akan datang yang menyangkut dalam pelaksanaan istighfar dan taubat serta terhadap dosa – dosa yang telah terlanjur di laksanakan pada masa lampau dengan perasaan menyesal dan takut terulang lagi, begitu juga orang yang belum mengukuhkan rasa takutnya kepada Allah Swt.

Mawas dirinya terhadap Allah Swt dapat membukakan atau mencapai kasyaf (terbuka tabir antara hamba dengan tuhannya) dan syahadah (menyaksikan) akan

(8)

keutamaan dan hikmah, markobah dari seseorang hamba terlihat bahwa dia selalu dalam keadaan ridha dan ingin meningkatkan amal – amal shalehnya.

Bentuk pelaksanaan Dzikir markobah di rangkaikan dengan akan selesainya atau ada hasil daripada Dzikir sebelumnya, seperti ; Dzikir lathaif dan napi istbat.

1. DZIKIR MARKOBATUL „ITHLAQ

Dzikir Markobatul ‗Ithlaq adalah di mana seseorang berDzikir dan ingat kepada zat Allah Swt bahwa Allah Swt mengetahui keadaan – keadaanya, maka Allah Swt melihat perbuatan – perbuatannya dan Allah Swt mendengar perkataan – perkataannya.

2. DZIKIR MARKOBAH AHDIYAH AF‟AL

Berkekalannya seorang hamba bertawajjuh serta memandang zat Allah Swt yang bersifat dengan segala sifat yang sempurna serta suci bersih dari segala sifat kekurangan. Dzikir ini di mana seorang hamba berDzikir dan ingat kepada zat Allah Swt, bahwa Allah Swt maha pencipta dan maha suci dan mengerjakan segala sesuatu yang dia kehendaki.

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu". As-Shaffaat Ayat 96.

“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.”Huud Ayat 107.

3. DZIKIR MARKOBAH MA‟IYAH

Markobah Ma‘iyah adalah berkekalannya seorang hamba yang bertawajjuh serta memandang kepada Allah Swt, yang mengintai di mana saja hamba itu berada, sesuai dengan firman Allah Swt sebagai berikut :

“Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada, dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.”Al-Qur‟an Surah Al-Hadid Ayat 4.

4. DZIKIR MARKOBAH „AGHRABIYAH

Dalam kajian Thariqat Naqsyabandi, para salik di ajarkan Tahlil Lisan sebelum di ajarkankan Dzikir Markobah ‗Aghrabiyah, menurut Syeikh Sulaiman Zuhdi, Dzikir Markobah ‗Aghrabiyah adalah berkekalannya seorang hamba yang bertawajjuh serta memandang betapa dekatnya Allah Swt dengan hambaNya, yaitu sesuai dengan firman Allah Swt dalam Al-Qur‘an :

“Dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”Al-Qur‟an Surah Qaaf Ayat 16.

(9)

Pengertian dzikir ini adalah berkekalannya seorang hamba yang bertawajjuh, serta memandang kepada Allah yang maha esa, dan zatNya yang bergantung kepadaNya segala sesuatu dan lagi iaNya berdiri sendiri.

Dzikir ini di mana seseorang hamba yang berdzikir dan dan ingat kepada zat Allah Swt, tiada sekutu bagiNya, tiada zat yang maha esa kecuali Allah Swt itu sendiri, segala sesuatu itu tergantung kepada Allah Swt.

“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” Al-Qur‟an Surah Al-Ikhlas Ayat 2.

6. DZIKIR MARKOBATUZZ ZALISH SHARFI WAL BAHTI

Dzikir Markobatuzz Zalish Sharfi Wal Bahti adalah berkekalannya seorang hamba yang bertawajjuh serta memandang kepada Zat Allah Swt yang merupakan sumber timbulnya kesempurnaan kenabian, kerasulan dan ‗ulul azmi, juga dzikir ini di mana seseorang yang berdzikir dan ingat kepada Allah Swt, bahwa Allah Swt Maha Suci, Allah Swt sajalah yang menentukan dan mentasharuffkan segala sesuatu, Allah Swt menetapkan kenabian, kerasulan, ‗ulul azmi dan lain – lain sebagainya. Firman Allah Swt :

"Demikianlah, Allah berbuat apa yang di kehendaki-Nya". Al-Qur‟an Surah Ali Imran Ayat 40.

“Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” Al-Qur‟an Surah Al-Hajj Ayat 14.

Dalam kehidupan kita sehari – hari di luar kegiatan suluk, kajian ini sangat penting di terapkan untuk menjaga daripada nur (cahaya) keimanan hati kita kepada Allah Swt, agar senantiasa mendapatkan ketetapan (istiqomah) dalam menetapkan ingat kepada Allah Swt. hal ini terdiri dari 8 (delapan) perkara, yaitu :

1. Hush dar dam artinya : Menjaga napas secara sadar dan di sengaja.

Dalam setiap tarikan nafas yang naik turun kita senantiasa berpikir akan kebesaran Allah Swt, hamba yang cerdas dan bijak harus selalu mengontrol napasnya terhadap kelalaian, dalam keadaan hal menarik dan melepaskan nafas tersebut, dengan itulah selalu menjaga hatinya senantiasa hanya tertuju kepada Allah Swt.

Kita harus selalu menjaga napas dengan ingat berkekalan kepada Allah Swt, sebab tiap tarikan dan hembusan napas yang demikian itu adalah akan hidup dan menyambung dengan Allah Swt, tiap tarikan dan hembusan napas dengan kelalaian adalah akan mati dan terputus hubungan dengan Allah Swt, ajaran ini di bangun atas teori dasar napas, jadi suatu keharusan bagi semuanya untuk menjaga napasnya pada waktu menarik dan menghembuskan, selalu menjaga napasnya dalam lingkungan ingat kepadaNYA di antara menarik dan menghembuskan napas sepanjang hidupnya.

Nama Allah Swt terdiri dari empat huruf : Alif, Lam, Lam dan Ha, dalam pengertian ini di nyatakan bahwa zat Allah Swt yang sempurna di katakan pada huruf terakhir yakni "Ha", huruf ini mewakili dialah yang maha ghaib dan sempurna.

(10)

Lam adalah untuk (tacrif) menyatakan identitas yang di cari, sedangkan Lam yang kedua adalah untuk mubalagha (penekanan) yang di cari, hal ini identik dengan dzikir napi istbat

Seharusnya hal di ketahui oleh kita semua, bahwa menjaga napas dari kelalaian ingat adalah suatu pekerjaan yang susah bagi seseorang, sehingga kita harus melakukan hal itu dengan cara selalu mencari ampunan (istighfar), karena mencari ampunan akan membersihkan dan mensucikan diri kita dan akan menimbulkan keyakinan bahwa sesungguhnya Allah Swt yang memang nyata berada di mana - mana.

2. Nazar bar qadam artinya : Mengintip dalam setiap langkah kemanapun.

Ini artinya bahwa kita dalam berjalan di kehidupan ini hendaknya pandangan mata hanya tertuju kepada obyek (fokus), yaitu keridhaan Allah Swt. Kemanapun arah kakinya hendak dia tempatkan atau langkahkan, maka pandangan mata kita hendaknya tertuju kesitu pula.

Jangan melemparkan pandangan kesana kemari, seperti melihat kekiri atau kekanan atau kedepan, agar pandangan yang satu tidak menutupi hatinya, karena timbulnya hijab (dinding), kebanyakan di sebabkan pada hati yang liar (tidak tetap), selama melangkah dalam perjalanan tersebut, karena berbagai macam keinginan yang tercetak di dalam pikiran kita senantiasa di bisikkan oleh syetan dengan tiada henti - hentinya, berbagai macam gambaran dan khayalan itu, akan menjadi tabir yang akan menutup hati.

Hati yang telah di bersihkan melalui dzikir terus menerus, akan menjadi cermin untuk penglihatan mata hati, maka dengan itulah kita di perintahkan untuk merendahkan pandangannya agar supaya tidak di serbu oleh anak panah syetan.

Merendahkan dan menafikan pandangan juga merupakan tanda kerendahan hati, orang yang bangga dan sombong, tidak akan pernah melihat akan tujuan mereka, tetapi bila selalu melihat ke arah perjalanannya dengan fokus dan mantap hanya kepada Allah Swt, maka gerak menuju arah tujuannya akan tercapai dengan kehendakNya insya Allah Swt.

Jika ini sudah tercapai, maka kita secara otomatis tidak akan melihat kemana - mana kecuali hanya kepada Tuhan, laksana seseorang yang ingin sampai ke tujuannya dengan cepat, demikian juga seseorang yang menuju Allah Swt bergerak dengan cepat, tidak melihat ke kanan atau ke kirinya, tidak berbilang – bilang dalam beribadah, tetapi selalu dan selalu terus menerus, tidak juga mudah terkagum – kagum akan apa yang di jumpainya, tidak melihat kepada keinginan duniawi, tetapi hanya melihat kepada Allah Swt.

Pandangan mendahului langkah, dan langkah mengikuti

pandangan....Ingatlah!!!!!!!!!!, untuk perjalanan yang meningkat keatas (mi‘raj) ini, atau ke maqam yang lebih tinggi, di mulai dengan pandangan yang satu, di ikuti dengan langkah, apabila langkah mencapai level tinggi dari pandangan, maka pandangan akan naik lagi ke tingkat berikutnya, atas itulah langkah juga mengikuti secara bergilir.

Pandangan akan di angkat ke tempat yang lebih tinggi lagi, dan langkah akan mengikutinya secara bergilir, dan begitu seterusnya sampai pandangan mencapai tingkat kesempurnaan, ke arah itulah langkah akan di tarik dan di lakukan.

(11)

Pahamilah..."Bila langkah mengikuti pandangan, maka kita telah mencapai tingkat kesiapan dalam mendekati langkah yang lurus dan benar, maka langkah yang lurus dan benar itu di sebut juga sebagai awal atau pertama dari semua langkah lainnya".

3. Syafar dar watan, artinya : Perjalanan kembali (pulang) dalam arti kata ―Hijrah.‖

Maknanya adalah kita selalu mengupayakan dalam kehidupan ini adalah berjalan atau hijrah, dari dunia yang penuh dengan hawa, nafsu dan syahwat ini, menuju kepada dunia ibadah.

Rasulullah Saw mengatakan : "Saya akan mengunjungi Tuhanku dari satu maqam ke maqam yang lebih baik (tinggi) dan dari satu daerah ke daerah yang lebih tinggi". Artinya kita harus berjalan untuk kembali dari keinginan hal terlarang kepada keinginan untuk Allah Swt.” Di uraikan lagi adalah sebagai berikut :

a. Perjalanan Luar

Artinya : Berjalan atau hijrah, dari satu tempat ketempat yang lain guna menambah suatu ilmu dan amal (hijrah dari kebodohan kepada berilmu pengetahuan

“tentang ibadah”), untuk lebih meningkatkan dan mendekatkan kita kepada Allah Swt, guna mengangkat cara ibadah kita, dari yang kurang baik kepada yang lebih baik, mengingat dalam ibadah banyak terselip hal – hal yang dapat mengugurkan amal ibadah.

b. Perjalanan Dalam

Artinya : Untuk kemantapan dalam melakukan perjalanan luar di atas, dalam perjalanan luar terdapat banyak sekali kesukaran yang berkemungkinan takkan sanggup di tanggung oleh kita, di khawatirkan malah akan jatuh kepada tindakan terlarang, ini di sebabkan karena masih banyak kendala dalam tata cara ibadahnya dalam praktek secara langsung, oleh karena itu alngkah baiknya jika dalam hijrah yang di atas tadi, maka sebaiknya di laksanakan ibadah rutin (istiqamah) kepada Allah Swt tanpa mohon akan rahmat dan karuniaNya, karena dalam mencari ilmu untuk beramal sangat besar faedahnya di sisi Allah Swt.

Jika dua hal di atas dapat kita laksanakan dengan baik, dan meninggalkan perilaku akhlaq yang buruk, tentu akan dapat meningkat kepada akhlaq yang lebih tinggi, menguasai akan semua keinginan dunia dari hatinya dan menafikannya dengan hanya untuk keperluan sekedarnya (qana‘ah), maka kita akan di angkat oleh Allah Swt dari keadaan yang tidak bersih kepada keadaan bersih dan suci.

Apabila telah di sucikan olehNya hati kita, maka membuatnya jernih seperti air, transparan bak kaca, mengkilap seperti cermin, di perlihatkan kebenaran dari semua hal dalam kehidupannya sehari - hari, dalam hatinya akan muncul semua hal yang di perlukan untuk kehidupannya dan untuk mereka yang berada di sekelilingnya.

(12)

Khalwat artinya menyendiri secara sendirian, artinya tampak dari luar bersama - sama dengan manusia di sekelilingnya, sementara secara bathin, atau dalam hatinya senantiasa selalu ingat dan bersama Allah Swt. Terdapat juga dua kategori ―khalwat‖, yakni ;

Khalwat ini ada dua macam :

1. Khalwat pada suatu tempat yang tidak ada orang lain selain dari orang - orang yang khalwat, berkonsentrasi hati dengan dzikir kepada Allah Swt, dengan tujuan untuk mencapai kebenaran Allah Swt menjadi nyata kebesaranNYA (Tajalli).

2. Khalwat yang merasa sendiri di antara keramaian (dalam lingkungan manusia atau masyarakat), di sini kita hendaknya selalu hadir dengan Allah Swt, sambil secara zahirnya berada di tengah - tengah keramaian tersebut, sementara di dalamnya selalu dzikir sir (tersembunyi) dalam hati sanubari, meskipun kita masuk dalam kancah keramaian manusia, usahakan selalu mengekalkan ingat kepada Allah Swt, dalam keadaan ini adalah posisi yang tertinggi pada apa yang di namakan khalwat atau suluk, hal ini adalah benar dan lurus, sesuai dengan yang tersebut dalam Al-Qur'an "Orang - orang yang tak dapat di alihkan perhatinnya dari mengingat Allah oleh bisnis maupun keuntungan".

Khalwat utama seorang penganut ajaran Thariqat adalah kesendirian dalam keramaian, mereka bersama Allah Swt dan sekaligus bersama manusia, seperti kata Rasulullah Saw : "Saya memiliki dua sisi, satu muka menghadap Al - Khaliq muka lainnya menghadap ciptaan (makhluq)".

Penganut ajaran Thariqat, selalu menekankan kebaikan akan berjama‘ah, bermajelis (berkumpul) dalam berdzikir, Thariqat kita adalah persahabatan (kebersamaan), dan adalah suatu kebaikan berada dalam kebersamaan.

Kesempurnaan bukan pada peragaan kekuatan karomah, tapi kesempurnaan adalah duduk bersama orang ramai (banyak), menjual dan membeli, menikah dan mempunyai anak, namun tak pernah meninggalkan kehadiran Allah Swt dalam sekejap pun.

5. Yad kard, artinya : Dzikir yang paling utama di tuju (lakukan).

Kita hendaknya melakukan dzikir dengan penolakan dan penerimaan, pada lidahnya senantiasa dzikir kepada Allah Swt sampai mencapai keadaan muraqabah, keadaan itu akan di capai pada tiap hari dengan ucapan : Allah…Allah…Allah atau la

ilaha illallah pada lidah di sertai hati (syir), minimal antara 5,000 dan 11,000 kali, yang akan mewakili (meliputi) semua asma dan sifatNya, membuang dari hatinya segala unsur yang akan mengotori dan membuat hatinya berkarat.

Kita senantiasa hendaknya mengulang dzikir ini dalam setiap tarikan dan hembusan napas, menghirup dan meniup, selalu membuatnya mencapai dan memukul hati, arti dari dzikir ini adalah membawa sasaran kita hanya satu - satunya kepada Allah Swt, dan tidak ada sasaran lain lagi bagi kita, hanya satu Allah Swt yang Maha Esa.

(13)

Keadaan ini, di mana yang melakukan dzikir dengan sampai kepada pengertian ungkapan Rasulullah Saw, "Illahi anta maqsudi wa ridhaka matlubi" artinya : Ya Allah, hanya engkaulah yang kumaksud dan keridhoan engkaulah yang kutuju".

Munajat ini adalah dasar dan tujuan utama bagi ajaran Thariqat Naqsyabandiah, akan menambah kesadaran dan pengakuan kita tentang Ke-Esa-an Allah Swt, sampai kita mencapai keadaan di mana keberadaan semua ciptaan (makhluq) lenyap dari pandangan mata, semua yang kita lihat, kemanapun kita memandang, adalah Allah Swt.

Kita melakukan dzikir macam ini, agar supaya menerangkan hati akan rahasia yang maha satu (Al - Ahad), dan untuk membuka diri kepada kenyataan (tajalli) Allah Swt, bagi salik yang pemula, tidak boleh meninggalkan dzikir ini bila dia tidak mendapatkan hasil atau kekuatan itu muncul dalam hatinya, harus tetap melaksanakan dzikir ini, karena Rasulullah Saw telah mengatakan : "Barang siapa meniru suatu golongan orang, dan akan menjadi bagian dari golongan itu".

Makna Baz Ghast adalah kembali kepada Allah Swt, dengan menunjukkan kepasrahan diri yang sempurna dan tunduk kepada kehendakNYA, dan kerendahan diri ini akan sempurna dengan menyampaikan semua pujian kepadaNYA, itulah alasan Rasulullah Saw menyebutkan dalam doanya : "Ma dzakarnaka aqqa dzikrika ya madzkar" artinya : "Kami tidak mengingat engkau sebagaimana seharusnya engkau di ingat, Ya Allah".

Kita tidak akan dapat datang kepada hadhirat Allah Swt dalam dzikir, dan tidak dapat mengungkapkan Rahasia dan Sifat Allah Swt dalam dzikir, bila tidak melaksanakan dzikir itu dengan dukungan Allah Swt dan tanpa Allah Swt, mengingat hal ini balik jua faedahnya akan diri kita sendiri, singkatnya, kita tidak dapat melakukan dzikir oleh atau dengan sendirinya, tanpa mengetahui bahwa Allah Swt adalah justru yang sedang melakukan dzikir melalui diri hambaNYA.

7. Nighah dast, artinya : Perhatikan (instropeksi) diri dan sekitarnya.

Senantiasa membuat suatu pandangan, artinya kita hendaknya mengendalikan hati dan melindunginya dengan cara mencegah masuknya pikiran buruk, kecenderungan akan hal - hal yang buruk, akan menghalangi hati dari Allah Swt dan akan menjadi hijab (dinding) antara hamba dengan tuhannya, bagi seseorang yang dapat melindungi hatinya dari kecenderungan buruk selama lima menit saja adalah merupakan sebuah hasil dan karunia yang besar dariNya jua.

Untuk ini saja dia sudah akan di akui sebagai seorang yang sampai, ajaran sufi atau tasawwuf, adalah sebuah kekuatan untuk melindungi hati dari pemikiran buruk, dan menjaganya dari kecenderungan rendah, barang siapa berhasil dengan di atas, dia tentu akan mengerti hatinya dan memancar cahaya akalnya, yang tentu akan menimbulkan pikiran untuk selalu ingat akan kebesaran Allah Swt atas alam semesta ini, dan barang siapa yang mengerti akan hatinya, tentu akan mengenali Tuhannya. Rasulullah Saw mengatakan : "Barang siapa mengenal dirinya sendiri, niscaya akan mengenal Tuhannya".

(14)

Membaca dzikir, tentu akan melindungi hatinya, dalam tiap hembusan napas tanpa meninggalkan ingat Allah Swt, ini adalah karunia yang sangat besar di berikanNya kepada seseorang hamba, hendaknya kita mempertahankan hati, supaya selalu berada dan dekat dengan Allah Swt, ini akan membuat kita menyadari dan merasakan Cahaya (nur) dari Allah Sw, kita harus membuang tiga dari empat bentuk pikiran yang terasa, yakni :

 Pikiran egois;

 Pikiran jahat, dan

 Pikiran malaikat, sambil mempertahankan dan membenarkan, kita justru hanya boleh membentuk pikiran keempat, yaitu;

 Pikiran kebenaran, artinya suatu keyakinan, hal ini akan membimbing kita menuju ketingkat tinggi dari kesempurnaan, dengan membuang semua khayalan dan hanya mengambil kebenaran, bahwa yang benar adalah Esanya Allah Swt.

MAQAM MUSYAHADAH

Dzikir dalam maqam musyahadah aialah seseorang berdzikir seolah – olah dalam tahap berpandang – pandangan dengan Allah Swt, di mana seorang hamba atau salik telah dapat konsep tiada hijab antara dirinya dengan Allah Swt.

Dzikir maqam musyahadah ini di rangkaikan dengan dzikir lathaif, Allah Swt yang melihat kamu ketika kamu berdiri shalat dan Allah Swt melihat pula kamu pada perubahan gerak badanmu (jasmani) di antara orang – orang yang sujud.

MAQAM MUKASYAFAH

Dzikir maqam mukasyafah adalah seseorang yang berdzikir di mana seolah – olah terbuka rahasia ketuhanan baginya, bila berdzikir maqam mukasyafah ini di laksanakan dengan baik, sempurna dan ikhlas, maka seorang hamba akan tahkik, maka dia akan memperoleh hakikat kasyaf dan rahasiaNya.

Dan seseorang hamba tidak akan menghendaki menempuh jalan itu kecuali bila dia di kehendaki Allah Swt, sesungguhnya Allah Swt Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, dialah Allah Swt yang hidupnya kekal dan tiada tuhan melainkan Allah Swt, maka sembahlah Allah Swt dengan menunaikan ibadah kepada Allah Swt, segala puja dan puji bagi Allah Swt Rahmat sekalian alam.

MAQAM MUKABALAH

Dzikir dalam maqam mukabalah adalah seseorang hamba berdzikir dalam tahap rohaninya berhadap – hadapan dengan zat Allah Swt yang Wajibul „Ujud, dzikir ini di rangkaikan dengan dzikir lathaif dan hanya kepunyaan Allah Swt barat dan timur, maka kemanapun muka kamu berhadap, maka di situlah wajah Allah Swt.

MAQAM MUKAFAHAH

Berdzikir dalam maqam mukafahah ini, seseorang hamba dalam dzikir kepada Allah Swt, di mana tahap ruhaniahnya berkasih sayang dengan Allah Swt, dzikir ini dengan semata – mata mengingat zat Allah Swt yang Maha Pengasih lagi Maha

(15)

Penyayang, kecintaan dari yang selainNya sudah hilang sama sekali, hanya tinggal kecintaan (muhibbah) kepada Allah Swt, dzikir ini di rangkaikan dengan dzikir ismu zat, lathaif dan napi istbat serta dzikir wukuf, adapun orang – orang yang sebenarnya beriman adalah sangat cintanya kepada Allah Swt.

MAQAM FANAFILLAH

Dzikir dalam maqam fanafillah ini adalah seseorang hamba berdzikir dalam tahap telah lenyap dan lebur rasa keinsanannya kedalam rasa ketuhanan, dia telah fana kedalam baqo Allah Swt, seorang hamba yang telah melaksanakan perjuangan (riyadhah) serta mujahadah dan telah melepaskan dirinya dari belenggu hawa nafsu, sehingga ingatannya kepada alam maujud ini telah hilang lenyap sama sekali dan dia lebur kedalam kebaqoan Allah Swt, maka dia telah fanafillah, sesuai dengan firman Allah Swt dalam Al-Qur‘an :

„“Semua yang ada di bumi itu akan binasa.” Al-Qur‟an Surah Ar-Rahman Ayat 26.

“Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” Al-Qur‟an Surah Ar-Rahman Ayat 27.

MAQAM BAQOBILLAH

Maqam baqobillah adalah seseorang yang berdzikir telah mencapai tahap dzikir, di mana kehadiran hati bersama Allah Swt semata – mata, artinya dengan fananya segala sesuatu termasuk dengan dirinya, maka yang tinggal baqo hanyalah zat Allah Swt, seorang hamba pada ketika itu telah lebur dan fana dalam kebaqoan Allah Swt. Sebagaimana pada firman Allah Swt dalam Al-Qur‘an Surah Ar-Rahman Ayat 27.

Para sufi mengatakan, “Fananya dalam kebaqoan Allah Swt, dan lenyapnya

dalam kehadiran Allah Swt.”

Para guru sufi atau tasawwuf berkata : "Siapa yang ingin sampai kaji ibadahnya sesuai dengan kehendak Allah Swt, dia haruslah mengalami sekurang - kurangnya" :

Mati hakiki 4 kali; Fana 4 kali; Tajalli 4 kali.

Adapun mati tersebut terbagi dalam beberapa macam, yaitu : Mati Thabi'i;

Mati Ma'nawi; Mati Syuri; Mati Hissi.

Macam - macam Fana :

Fana' Fi 'Af''al; Fana' Fi Asma;

(16)

Fana' Fi Sifat; Fana' Fi Dzat.

مار كلااو للا ج لاوذ ك بر هجو ىق ب يو نا ف اهي لاع نم ل ك Artinya : "Setiap orang fana atasnya dan tetaplah wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemulyaan".

Macam - macam Tajalli :

Tajalli Af'alullah; Tajalli Asmaullah; Tajalli Sifatullah;

Tajalli Dzatullah bizdzauqi.

Keseluruhan maqamat atau lathaif dalam pelajaran kajian agama islam menurut cara sufiyah di atas adalah yang di cantumkan hanya berupa yang ilmu di ilmukan, bukan pengungkapan yang bersifat rahasia daripada hasil ibadah melalui cara tersebut, dan pelajatan ini hanya di sampaikan secara umum, mengenai tata cara pelaksanaannya adalah semestinya melalui guru pembimbing yang mursyid dalam hal ini, guna untuk mandapat penjelasan dan pemahaman yang jelas agar tidak terjadi penyimpangan dan salah langkah yang malah menimbulkan syirik dan kesesatan

(17)

 Home  About

 Download Artikel

Tarekat Naqsyabandiyah

April 17, 2007 at 2:32 am 211 komentar

Naqsyabandiyah merupakan salah satu tarekat sufi yang paling luas penyebaran nya, dan terdapat banyak di wilayah Asia Muslim (meskipun sedikit di antara orang-orang Arab) serta Turki,

Bosnia-Herzegovina, dan wilayah Volga Ural. Bermula di Bukhara pada akhir abad ke-14, Naqsyabandiyah mulai menyebar ke daerah-daerah tetangga dunia Muslim dalam waktu seratus tahun. Perluasannya mendapat dorongan baru dengan munculnya cabang Mujaddidiyah, dinamai menurut nama Syekh Ahmad Sirhindi Mujaddidi Alf-i Tsani (―Pembaru Milenium kedua‖, w. 1624). Pada akhir abad ke-18, nama ini hampir sinonim dengan tarekat tersebut di seluruh Asia Selatan, wilayah Utsmaniyah, dan sebagian besar Asia Tengah. Ciri yang menonjol dari Tarekat Naqsyabandiyah adalah diikutinya syari‘at secara ketat, keseriusan dalam beribadah menyebabkan penolakan terhadap musik dan tari, serta lebih

mengutamakan berdzikir dalam hati, dan kecenderungannya semakin kuat ke arah keterlibatan dalam politik (meskipun tidak konsisten).

Sejarah

Kebanyakan orang Naqsyabandiyah Mujaddidiyah dalam dua abad ini menelusuri keturunan awal mereka melalui Ghulam Ali (Syekh Abdullah Dihlavi [m. 1824]), karena pada awal abad ke-19 India adalah pusat organisasi dan intelektual utama dari tarekat ini. Khanaqah (pondok) milik Ghulam Ali di Delhi menarik pengikut tidak hanya dari seluruh India, tetapi juga dari Timur Tengah dan Asia Tengah. Hingga kini Khanaqah masih tetap (pernah mengalami masa tidak aktif akibat perampasan Delhi oleh orang Inggris pada tahun 1857). Namun fungsi Pan-Islami-nya sebagian besar diwarisi oleh para wakil dan pengganti Ghulam Ali yang menetap di tempat-tempat lain di Dunia Muslim. Yang terpenting adalah para syekh yang tinggal di Makkah dan Madinah: kedua kota suci ini menyebarkan Tarekat

Naqsyabandiyah di banyak tanah Muslim sampai terjadinya penaklukan Hijaz oleh kaum Wahabiyah pada 1925, yang mengakibatkan dilarangnya seluruh aktivitas sufi. Demikianlah, Muhammad Jan Al-Makki (w. 1852), wakil Ghulam Ali di Makkah, menerima banyak peziarah Turki dan Basykir, yang

kemudian mendirikan cabang-cabang baru Naqsyabandiyah di kampung halamannya. Pengganti Ghulam Ali yang pertama di Khanaqah Delhi, Abi Sa‘id, melewatkan beberapa waktu di Hijaz untuk menerima pengikut baru. Anak dan pengganti Abu Sa‘id, Syekh Ahmad Sa‘id, memilih tinggal di Madinah setelah suatu peristiwa besar pada tahun 1857, memindahkan arah

Naqsyahbandiyah India ke Hijaz untuk sementara. Ketiga putra Ahmad Sa‘id sama-sama memperoleh warisannya: dua orang pergi ke Mekkah dan menarik pengikut dari India serta Turki di sana. Sementara yang ketiga, Muhammad Mazhhar, tetap di Madinah dan mengelola pengikut yang terdiri dari ulama dan pengikut dari India, Turki Daghestan, Kazan, dan Asia Tengah. Namun, yang paling penting dari pengikut Muhammad Mazhhar adalah seorang Arab, Muhammad Salih al-Zawawi dan murid-muridnya yang tidak merasakan kebencian, yang umumnya ditujukan kepada Ulama Pribumi terhadap orang-orang non Arab dalam masyarakat mereka.

Sebagai guru fiqih Syafi‘i, dia memiliki akses khusus terhadap orang-orang Indonesia dan orang-orang Melayu yang berkumpul di Hijaz, serta berkat al-Zawawi dan murid-muridnyalah Naqsyabandiyah dikenal secara serius di Asia Tenggara. Di Pontianak di pantai barat Kalimantan, masih terdapat berbagai jejak garis Naqsyabandiyah yang terpancar dari Hijaz ini.

(18)

Dorongan yang membawa Naqsyabandiyah ke zaman modern berasal dari pengganti Ghulam Ali yang lainnya. Maulana Khalid al-Bagdhadi (w. 1827). Beliau mempunyai peranan yang penting di dalam perkembangan tarekat ini sehinga keturunan dari para pengikutnya dikenal sebagai kaum Khalidiyah, dan dia kadang-kadang dipandang sebagai ―Pemburu‖ (Mujaddid) Islam pada abad ke-13, sebagaimana Srihindi dipandang sebagai pemburu Milenium kedua. Khalidiyah tidak terlalu berbeda dengan para leluhurnya Mujaddidiyah. Yang baru adalah usaha Maulana Khalid untuk menciptakan tarekat yang terpusat dan disiplin, terfokus pada dirinya pribadi, dengan cara ibadah yang disebut Rabithah

(―petautan‖) atau konsentrasi pada citra Maulana Khalid sebelum berdzikir. Usaha ini selanjutnya terkait dengan sikap politik, aktivitas, yang bertujuan untuk mengamankan supremasi syari‘at dalam masyarakat Muslim dan menolak agresi Eropa. Setelah kematian Maulana Khalid, tidak ada kepemimpinan yang terpusat, tetapi sikap politik yang mendasari upaya tersebut tetap hidup.

Lahir di Distrik Syahrazur di Kurdistan Selatan pata 1776, Maulana Khalid melewatkan waktu sekitar satu tahun bersama Ghulam Ali di Delhi sebelum kembali ke kampung halamannya pada 1881 dengan ―wewenang lengkap dan mutlak‖ sebagai wakilnya. Sebelum meninggalkan Delhi, Maulana Khalid memberi tahu gurunya bahwa tujuan utamanya adalah untuk ―mencari dunia ini demi agama‖, dari tiga tempat tinggalnya setelah itu Sulaimaniyah, Bagdad dan Damaskus, beliau mendirikan jaringan 116 wakil, yang masing-masing dengan tanggung jawab yang jelas batas geografisnya. Murid-muridnya mencakup tidak hanya anggota-anggota hierarki agama pemerintahan ―Utsmaniyah‖, tetapi juga sejumlah gubernur provinsi dan tokoh militer yang sangat penting dalam memajukan wibawa Khalidiyah adalah wakil kedua Maulana Khalid di Istambul, Abdul al-Wahhab al-Susi, yang merekrut Makkizada Musthafa Asim, syekh al-Islam masa itu ke dalam tarekat ini. Usaha untuk meraih pengaruh atas kebijakan Utsmaniyah yang disiratkan oleh berbagai upaya ini tidak pernah benar-benar berhasil. Namun, terjadi semacam penyejajaran antara Khalidiyah dengan negara Utsmaniyah pada masa pemeritahan Abdulhamid II, yang berteman dengan Khalidiyah terkemuka di Istambul, Ahmed Ziyauddin Gumushanevi (w. 1893). Kepentingan Gumushanevi jauh mentransendenkan yang politis: tulisannya yang dimiliki banyak mengenai sufisme pada umumnya dan Naqsyabandiyah pada khususnya, mewakili puncak sastra sufi Utsmaniyah besar yang terakhir. Sebaliknya, Adbulhamid sangat ditentang oleh Syekh Naqsyabandiyah yang menonjol lainnya, Muhamad As‘ad dari Ibril wilayah Irak Utara.

Pengaruh Maulana Khalid mungkin paling nampak di kampung halamannya, Kurdistan. Cabang

Naqsyabandiyah yang beliau perkenalkan di sana sepenuhnya memudarkan pengaruh ―Qadiriyah‖, yang sebelumnya merupakan tarekat paling menonjol di wilayah Kurdistan, dan memunculkan sejumlah keluarga sebagai pemimpin turunan tarekat itu, serta memegang kepemimpinan dalam urusan negara Kurdistan. Hubungan keturunan Naqsyabandiyah dengan separatisme Kurdistan, dan kemudian nasionalisme, pertama kali terlihat dalam pemberontakan besar Kurdistan 1880 yang dipimpim oleh Ubaidillah dari Syamdinan, yang berhasil membebaskan diri, untuk sementara, sebagian besar orang Kurdistan Iran dari kendali Iran. Keluarga Barzani juga mampu mendominasi ungkapan nasionalisme Irak selama beberapa puluh tahun melalui wibawa Naqsabandiyah yang diwarisinya.

Khalidiyah juga mengakar dengan cepat dan tepat di Daghestan, wilayah pegunungan yang terletak di pertemuan Kaukasus dan Rusia Selatan.

Wilayah ini pertama kali diperkenalkan dengan Naqsyabandiyah pada akhir abad ke-18, tetapi

kedatangan Khalidiyah yang membuat wilayah itu menjadi daerah Naqsyabandi semasa hidup Maulana Khalid. Penekanan ganda Khalidiyah di Daghestan adalah penggantian hukum-kebiasaan (cotumary law) non Islam menjadi syari‘at dan perlawanan terhadap pemerintah Rusia. Pemimpin Naqsyabandiyah pertama untuk orang Daghestan adalah Ghazi Muhammad, yang meninggal dibunuh oleh orang Rusia pada 1832, dan penggantinya dua tahun kemudian mengalami nasib yang sama. Sebaliknya Syamil, yang kemudian mengambil kepemimpinan gerakan itu, mampu menahan Rusia hingga 159, salah satu perlawanan Muslim terhadap imperialisme Eropa yang terlama dan terkenal. Pengaruh Naqsyabandiyah di Daghestan ternyata sulit dicabut; kaum Naqsyabandiyah aktif dalam pemberontakan 1877 oleh Daghestan dan Chechenia yang berjaya pada rentang waktu antara runtuhnya tsar Rusia dan pembentukan pemerintahan Soviet.

(19)

Wilayah populasi Muslim lain yang diperintah oleh Rusia yang ternyata menerima Khalidiyah adalah Volga-Ural (sekarang Tatarstan dan Baskira).

Wakil Maulana Khalid di Makkah, Abdullah Makki (Erzincani), menerima seorang murid dari Kazan, Fatsullah Menavusi; namun, yang pengaruhnya terbukti menentukan adalah pengikut Ghumushaveni asal Basykar, Syekh Zainullah Rasulev dari Troisk. Semula Rasulev adalah pengikut garis mujaddidiyah yang pergi ke Bukhara, kemudian mengalihkan kesetiaanya kepada Gumushaveni setelah berkunjung ke Istambul pada 1870. Ketika kembali, dia mempropagandakan Khalidiyah sehingga membangkitkan permusuhan dari para pesaingnya dan menimbulkan kecurigaan dari pihak berwenang Rusia; hal ini mengakibatkan Rasulev dipenjara dan diasingkan. Kemudian bebas lagi pada 1881 dia memperkukuh dan memperkuat pengikutnya sehingga ratusan murid berada di bawah pengaruhnya; mereka tidak hanya tersebar diwilayah Volga-Ural, tetapi juga di Kazakhstan dan Siberia. Tatkala kematian tiba pada 1917, dia disebut sebagai ―raja spiritual rakyatnya‖, dan setelah kematiannya wibawa Rasulev tetap terus bergaung sampai pada periode Soviet: tiga kepala Direktorat Spiritual untuk kaum Muslim Rusia Eropa dan Siberia yang berfungsi di bawah pengawasan Soviet adalah murid-murid Rasulev.

Akhirnya, Khalidiyah memastikan pula penanaman pengaruh Naqsyabandiyah secara permanen di dunia Melayu Indonesia. Abdullah Makki mempunyai murid dari Sumatera yaitu Ismail Minangkabawi. Setelah lama menetap di Makkah, Minangkabawi menetap di Penyengat wilayah kepulauan Riau. Di sana, ia memperoleh kesetiaan dari keluarga pemerintahan, yang sudah mulai diperkenalkan pada

Naqsyabandiyah oleh Duta-duta pemerintah yang dikirim dari Madinah oleh Muhammad Mazhhar. Dia juga pergi ke Melayu hingga Kedah, mempropagandakan Khalidiyah ke mana pun ia pergi. Namun usahanya merupakan rintisan, dan digantikan oleh kegiatan dua Khalidiyah yang tinggal di Makkah yaitu Khalil Hamdi Pasya dan Syekh Sulaiman Zuhdi. Kenyataan bahwa kedua orang ini adalah pesaing, saling menuduh bahwa yang lainnya adalah menyimpang dari prinsip Naqsyabandiyah, menyiratkan betapa dunia Melayu Indonesia menjadi sumber pengikut yang kaya untuk Naqsyabandiyah. Dalam jangka panjang, Sulaiman Zuhdi lebih berhasil dari pada pesaingya, hingga Jabal Abi Qubais di Makkah, tempat dia tinggal, dipandang sebagai sumber seluruh Tarekat Naqsyabandiyah di Asia Tenggara. Di antara murid ini banyak yang mendirikan Khalidiyah di berbagai tempat di Sumatera, Jawa dan Sulawesi, yang paling penting adalah Abdil Wahab Rokan (w. 1926). Beliau dikirim dari Makkah pada tahun 1868 dengan misi untuk menyebarkan Khalidiyah di seluruh Sumatera, dari Aceh sampai Palembang — misi yang beliau dilaksanakan dengan sukses besar adalah dari pesantrennya di Bab Al-Salam, Lengkat-Tinggal menetap selama tiga tahun di Johor, dan memungkinkan dia untuk memperluas pengaruhnya lebih jauh ke Semenanjung Malaya.

Praktik Naqsyabandiyah di Dunia Melayu Indonesia sejak dini sangat berbeda dengan adanya ritual yang disebut dengan suluk, yakni menyendiri dengan jangka waktu yang berbeda-beda dan sebagian diiringi dengan puasa. Asal usul praktik ini sangat berbeda dengan tradisi Naqsyabandiyah yang tidak diketahui. Putusnya hubungan dengan Makkah akibat penaklukan Hijaz oleh kaum Wahabiyah makin menambah ciri khas bagi kaum Naqsyabandiyah di Melayu Indonesia.

Peran Politik

Tidak semua perkembangan formatik yang berkenaan dengan Naqsyabandiyah berkaitan dengan Ghulam Ali Dihlavi dan keturunannya. Salah satu keturunan dari Ahmad Sirhindi didirikan di Syur Bazar di pinggiran Kabul pada pertengahan abad ke-19, dan para anggota cabang ini memainkan peranan penting dalam urusan negara Afghanistan hingga pembentukan negara pasca Komunis pertama pada tahun 1991. Di tempat lain di Asia Tengah, Naqsyabandiyah dari berbagai keturunan menonjol dalam perlawanannya terhapap Rusia dan sesudahnya. Dengan demikian pertahanan Goktepe oleh para Turkmen Akhel-Tekke diarahkan oleh seorang pengikut Naqysabandiyah, yaitu Muhammad Ali Ihsan (Dukchi Ikhsan). Naqsyabandiyah juga memimpin pemberontakan melawan pemerintah Cina di Xinjing pada tahun 1863 dan 1864 dan di Shannxi serta Gunsu antara 1862 dan 1873.

Ciri khas yang ditunjukan oleh kelompok Naqyabandiyah ini sering digambarkan dalam negara modern, terutama di Turki. Namun, di Turkli perlawanan Naqsyabandiyah terhadap sekulerisme selalu bersifat pasif (kecuali pemberontakan Sa‘id). Penggambaran peristiwa Menemen 1931 sebagai konspirasi

(20)

Naqsyabandiyah yang menyebabkan Syekh Muhammad As‘ad (Mehmed Esad) dihukum mati secara adil, sekarang diragukan.

Sejumlah pemimpin Naqsyabandiyah menjadi orang penting sebagai guru spiritual dan intelektual: Mahmud Sami Ramazanoglu (w. 1984), pengganti Syekh Muhammad As‘ad. Mehmed Zahid Kotku (w.1980), keturunan spiritual dari Gumushanevi bersama penggantinya Esad Gosan (sampai sekarang masih hidup) dan Resit Erol (w. 1994). Kegiatan mengajar para syekh ini beserta syekh lainnya secara alamiah memiliki pengaruh politik, namun cenderung mengarah pada pengintegrasian Naqsyabandiyah ke dalam struktur Republik Turki, dan bukan penolakan terhadap struktur tersebut. Penting dicatat bahwa beberapa pemimpin Naqsyabandiyah hadir secara menonjol di pemakaman Presiden Turki, Turgut Ozal pada 1993.

Kaum Naqsyabandiyah dalam jumlah dan kekuatan intelektualnya, tidak dapat digambarkan secara seragam dalam Dunia Islam sekarang ini.

Pengaruh mereka mungkin paling kuat di Turki dan wilayah Kurdistan, dan yang paling lemah adalah di Pakistan. Pada masa pemerintahan Soviet, pengaruh Naqsyabandiyah sangat terasa pada gerakan ―Islam bawah tahan‖ di Kaukasus Asia Tengah. Namun, pada akhirnya pemerintahan Soviet tidak diikuti perkembangan Naqsyabandiyah di permukaan.

Berbagai Ritual dan Teknik Spiritual Naqsyabandiyah

Seperti tarekat-tarekat yang lain, Tarekat Naqsyabandiyah itu pun mempunyai sejumlah tata-cara peribadatan, teknik spiritual dan ritual tersendiri. Memang dapat juga dikatakan bahwa Tarekat

Naqsyabandiyah terdiri atas ibadah, teknik dan ritual, sebab demikianlah makna asal dari istilah thariqah, ―jalan‖ atau ―marga‖. Hanya saja kemudian istilah itu pun mengacu kepada perkumpulan orang-orang yang mengamalkan ―jalan‖ tadi.

Naqsyabandiyah, sebagai tarekat terorganisasi, punya sejarah dalam rentangan masa hampir enam abad, dan penyebaran yang secara geografis meliputi tiga benua. Maka tidaklah mengherankan apabila warna dan tata cara Naqsyabandiyah menunjukkan aneka variasi mengikuti masa dan tempat

tumbuhnya. Adaptasi terjadi karena keadaan memang berubah, dan guru-guru yang berbeda telah memberikan penekanan pada aspek yang berbeda dari asas yang sama, serta para pembaharu

menghapuskan pola pikir tertentu atau amalan-amalan tertentu dan memperkenalkan sesuatu yang lain. Dalam membaca pembahasan mengenai berbagai pikiran dasar dan ritual berikut, hendaknya selalu diingat bahwa dalam pengamalannya sehari-hari variasinya tidak sedikit.

Asas-asas

Penganut Naqsyabandiyah mengenal sebelas asas Thariqah. Delapan dari asas itu dirumuskan oleh ‗Abd al-Khaliq Ghuzdawani, sedangkan sisanya adalah penambahan oleh Baha‘ al-Din Naqsyaband. Asas-asas ini disebutkan satu per satu dalam banyak risalah, termasuk dalam dua kitab pegangan utama para penganut Khalidiyah, Jami al-‘Ushul Fi al-‘Auliya. Kitab karya Ahmad Dhiya‘ al-Din Gumusykhanawi itu dibawa pulang dari Makkah oleh tidak sedikit jamaah haji Indonesia pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Kitab yang satu lagi, yaitu Tanwir al-Qulub oleh Muhammad Amin al-Kurdi dicetak ulang di Singapura dan di Surabaya, dan masih dipakai secara luas. Uraian dalam karya-karya ini sebagian besar mirip dengan uraian Taj al-Din Zakarya (―Kakek‖ spiritual dari Yusuf Makassar) sebagaimana dikutip Trimingham. Masing-masing asas dikenal dengan namanya dalam bahasa Parsi (bahasa para Khwajagan dan kebanyakan penganut Naqsyabandiyah India).

Asas-asasnya „Abd al-Khaliq adalah:

1. Hush dar dam: ―sadar sewaktu bernafas‖. Suatu latihan konsentrasi: sufi yang bersangkutan haruslah sadar setiap menarik nafas, menghembuskan nafas, dan ketika berhenti sebentar di antara keduanya. Perhatian pada nafas dalam keadaan sadar akan Allah, memberikan kekuatan

(21)

spiritual dan membawa orang lebih hampir kepada Allah; lupa atau kurang perhatian berarti kematian spiritual dan membawa orang jauh dari Allah (al-Kurdi).

2. Nazar bar qadam: ―menjaga langkah‖. Sewaktu berjalan, sang murid haruslah menjaga langkah-langkahnya, sewaktu duduk memandang lurus ke depan, demikianlah agar supaya tujuan-tujuan (ruhani)-nya tidak dikacaukan oleh segala hal di sekelilingnya yang tidak relevan.

3. Safar dar watan: ―melakukan perjalanan di tanah kelahirannya‖. Melakukan perjalanan batin, yakni meninggalkan segala bentuk ketidaksempurnaannya sebagai manusia menuju kesadaran akan hakikatnya sebagai makhluk yang mulia. [Atau, dengan penafsiran lain: suatu perjalanan fisik, melintasi sekian negeri, untuk mencari mursyid yang sejati, kepada siapa seseorang sepenuhnya pasrah dan dialah yang akan menjadi perantaranya dengan Allah

(Gumusykhanawi)].

4. Khalwat dar anjuman: ―sepi di tengah keramaian‖. Berbagai pengarang memberikan bermacam tafsiran, beberapa dekat pada konsep ―innerweltliche Askese‖ dalam sosiologi agama Max Weber. Khalwat bermakna menyepinya seorang pertapa, anjuman dapat berarti perkumpulan tertentu. Beberapa orang mengartikan asas ini sebagai ―menyibukkan diri dengan terus menerus membaca dzikir tanpa memperhatikan hal-hal lainnya bahkan sewaktu berada di tengah

keramaian orang‖; yang lain mengartikan sebagai perintah untuk turut serta secara aktif dalam kehidupan bermasyarakat sementara pada waktu yang sama hatinya tetap terpaut kepada Allah saja dan selalu wara‘. Keterlibatan banyak kaum Naqsyabandiyah secara aktif dalam politik dilegitimasikan (dan mungkin dirangsang) dengan mengacu kepada asas ini.

5. Yad kard: ―ingat‖, ―menyebut‖. Terus-menerus mengulangi nama Allah, dzikir tauhid (berisi formula la ilaha illallah), atau formula dzikir lainnya yang diberikan oleh guru seseorang, dalam hati atau dengan lisan. Oleh sebab itu, bagi penganut Naqsyabandiyah, dzikir itu tidak dilakukan sebatas berjamaah ataupun sendirian sehabis shalat, tetapi harus terus-menerus, agar di dalam hati bersemayam kesadaran akan Allah yang permanen.

6. Baz gasyt: ―kembali‖, ‖ memperbarui‖. Demi mengendalikan hati supaya tidak condong kepada hal-hal yang menyimpang (melantur), sang murid harus membaca setelah dzikir tauhid atau ketika berhenti sebentar di antara dua nafas, formula ilahi anta maqsudi wa ridlaka mathlubi (Ya Tuhanku, Engkaulah tempatku memohon dan keridlaan-Mulah yang kuharapkan). Sewaktu mengucapkan dzikir, arti dari kalimat ini haruslah senantiasa berada di hati seseorang, untuk mengarahkan perasaannya yang halus kepada Tuhan semata.

7. Nigah dasyt: ―waspada‖. Yaitu menjaga pikiran dan perasaan terus-menerus sewaktu melakukan dzikir tauhid, untuk mencegah agar pikiran dan perasaan tidak menyimpang dari kesadaran yang tetap akan Tuhan, dan untuk memlihara pikiran dan perilaku seseorang agar sesuai dengan makna kalimat tersebut. Al-Kurdi mengutip seorang guru (anonim): ―Kujaga hatiku selama sepuluh hari; kemudian hatiku menjagaku selama dua puluh tahun.‖

8. Yad dasyt: ―mengingat kembali‖. Penglihatan yang diberkahi: secara langsung menangkap Zat Allah, yang berbeda dari sifat-sifat dan nama-namanya; mengalami bahwa segalanya berasal dari Allah Yang Esa dan beraneka ragam ciptaan terus berlanjut ke tak berhingga. Penglihatan ini ternyata hanya mungkin dalam keadaan jadzbah: itulah derajat ruhani tertinggi yang bisa dicapai.

Asas-asas Tambahan dari Baha al-Din Naqsyabandi:

1. Wuquf-i zamani: ―memeriksa penggunaan waktu seseorang‖. Mengamati secara teratur bagaimana seseorang menghabiskan waktunya. (Al-Kurdi menyarankan agar ini dikerjakan setiap dua atau tiga jam). Jika seseorang secara terus-menerus sadar dan tenggelam dalam dzikir, dan melakukan perbuatan terpuji, hendaklah berterimakasih kepada Allah, jika seseorang tidak ada perhatian atau lupa atau melakukan perbuatan berdosa, hendaklah ia meminta ampun kepada-Nya.

2. Wuquf-i ‗adadi: ―memeriksa hitungan dzikir seseorang‖. Dengan hati-hati beberapa kali

seseorang mengulangi kalimat dzikir (tanpa pikirannya mengembara ke mana-mana). Dzikir itu diucapkan dalam jumlah hitungan ganjil yang telah ditetapkan sebelumnya.

3. Wuquf-I qalbi: ―menjaga hati tetap terkontrol‖. Dengan membayangkan hati seseorang (yang di dalamnya secara batin dzikir ditempatkan) berada di hadirat Allah, maka hati itu tidak sadar akan yang lain kecuali Allah, dan dengan demikian perhatian seseorang secara sempurna selaras

(22)

dengan dzikir dan maknanya. Taj al-Din menganjurkan untuk membayangkan gambar hati dengan nama Allah terukir di atasnya.

Zikir dan Wirid

Teknik dasar Naqsyabandiyah, seperti kebanyakan tarekat lainnya, adalah dzikir yaitu berulang-ulang menyebut nama Tuhan ataupun menyatakan kalimat la ilaha illallah. Tujuan latihan itu ialah untuk mencapai kesadaran akan Tuhan yang lebih langsung dan permanen. Pertama sekali, Tarekat Naqsyabandiyah membedakan dirinya dengan aliran lain dalam hal dzikir yang lazimnya adalah dzikir diam (khafi, ―tersembunyi‖, atau qalbi, ‖ dalam hati‖), sebagai lawan dari dzikir keras (dhahri) yang lebih disukai tarekat-tarekat lain. Kedua, jumlah hitungan dzikir yang mesti diamalkan lebih banyak pada Tarekat Naqsyabandiyah daripada kebanyakan tarekat lain.

Dzikir dapat dilakukan baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri. Banyak penganut Naqsyabandiyah lebih sering melakukan dzikir secara sendiri-sendiri, tetapi mereka yang tinggal dekat seseorang syekh cenderung ikut serta secara teratur dalam pertemuan-pertemuan di mana dilakukan dzikir berjamaah. Di banyak tempat pertemuan semacam itu dilakukan dua kali seminggu, pada malam Jum‘at dan malam Selasa; di tempat lain dilaksanakan tengah hari sekali seminggu atau dalam selang waktu yang lebih lama lagi.

Dua dzikir dasar Naqsyabandiyah, keduanya biasanya diamalkan pada pertemuan yang sama, adalah dzikir ism al-dzat, ―mengingat yang Haqiqi‖ dan dzikir tauhid, ‖ mengingat keesaan‖. Yang duluan terdiri dari pengucapan asma Allah berulang-ulang dalam hati, ribuan kali (dihitung dengan tasbih), sambil memusatkan perhatian kepada Tuhan semata. Dzikir Tauhid (juga dzikir tahlil atau dzikir nafty wa itsbat) terdiri atas bacaan perlahan disertai dengan pengaturan nafas, kalimat la ilaha illa llah, yang dibayangkan seperti menggambar jalan (garis) melalui tubuh. Bunyi la permulaan digambar dari daerah pusar terus ke hati sampai ke ubun-ubun. Bunyi Ilaha turun ke kanan dan berhenti pada ujung bahu kanan. Di situ, kata berikutnya, illa dimulai dengan turun melewati bidang dada, sampai ke jantung, dan ke arah jantung inilah kata Allah di hujamkan dengan sekuat tenaga. Orang membayangkan jantung itu mendenyutkan nama Allah dan membara, memusnahkan segala kotoran.

Variasi lain yang diamalkan oleh para pengikut Naqsyabandiyah yang lebih tinggi tingkatannya adalah dzikir latha‘if. Dengan dzikir ini, orang memusatkan kesadarannya (dan membayangkan nama Allah itu bergetar dan memancarkan panas) berturut-turut pada tujuh titik halus pada tubuh. Titik-titik ini, lathifah (jamak latha‘if), adalah qalb (hati), terletak selebar dua jari di bawah puting susu kiri; ruh (jiwa), selebar dua jari di atas susu kanan; sirr (nurani terdalam), selebar dua jari di atas putting susu kanan; khafi (kedalaman tersembunyi), dua jari di atas puting susu kanan; akhfa (kedalaman paling tersembunyi), di tengah dada; dan nafs nathiqah (akal budi), di otak belahan pertama. Lathifah ketujuh, kull jasad sebetulnya tidak merupakan titik tetapi luasnya meliputi seluruh tubuh. Bila seseorang telah mencapai tingkat dzikir yang sesuai dengan lathifah terakhir ini, seluruh tubuh akan bergetar dalam nama Tuhan. Konsep latha‘if — dibedakan dari teknik dzikir yang didasarkan padanya — bukanlah khas

Naqsyabandiyah saja tetapi terdapat pada berbagai sistem psikologi mistik. Jumlah latha‘if dan nama-namanya bisa berbeda; kebanyakan titik-titik itu disusun berdasarkan kehalusannya dan kaitannya dengan pengembangan spiritual.

Ternyata latha‘if pun persis serupa dengan cakra dalam teori yoga. Memang, titik-titik itu letaknya berbeda pada tubuh, tetapi peranan dalam psikologi dan teknik meditasi seluruhnya sama saja. Asal-usul ketiga macam dzikir ini sukar untuk ditentukan; dua yang pertama seluruhnya sesuai dengan asas-asas yang diletakkan oleh ‗Abd Al-Khaliq Al-Ghujdawani, dan muntik sudah diamalkan sejak pada zamannya, atau bahkan lebih awal. Pengenalan dzikir latha‘if umumnya dalam kepustakaan

Naqsyabandiyah dihubungkan dengan nama Ahmad Sirhindi. Kelihatannya sudah digunakan dalam Tarekat Kubrawiyah sebelumnya; jika ini benar, maka penganut Naqsyabandiyah di Asia Tengah sebetulnya sudah mengenal teknik tersebut sebelum dilegitimasikan oleh Ahmad Sirhindi.

(23)

Pembacaan tidaklah berhenti pada dzikir; pembacaan aurad (Indonesia: wirid), meskipun tidak wajib, sangatlah dianjurkan. Aurad merupakan doa-doa pendek atau formula-formula untuk memuja Tuhan dan atau memuji Nabi Muhammad, dan membacanya dalam hitungan sekian kali pada jam-jam yang sudah ditentukan dipercayai akan memperoleh keajaiban, atau paling tidak secara psikologis akan

mendatangkan manfaat. Seorang murid dapat saja diberikan wirid khusus untuk dirinya sendiri oleh syekhnya, untuk diamalkan secara rahasia (diam-diam) dan tidak boleh diberitahukan kepada orang lain; atau seseorang dapat memakai kumpulan aurad yang sudah diterbitkan. Naqsyabandiyah tidak

mempunyai kumpulan aurad yang unik. Kumpulan-kumpulan yang dibuat kalangan lain bebas saja dipakai; dan kaum Naqsyabandiyah di tempat yang lain dan pada masa yang berbeda memakai aurad yang berbeda-beda. Penganut Naqsyabandiyah di Turki, umpamanya, sering memakai Aurad Al-Fathiyyah, dihimpun oleh Ali Hamadani, seorang sufi yang tidak memiliki persamaan sama sekali dengan kaum Naqsyabandiyah.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :