• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. satunya dikelola oleh sektor pertambangan. Sektor pertambangan memiliki

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. satunya dikelola oleh sektor pertambangan. Sektor pertambangan memiliki"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

A. Latar Belakang Penelitian

Sumber daya alam yang tidak dapat terbaharui di Indonesia salah satunya dikelola oleh sektor pertambangan. Sektor pertambangan memiliki peran penting bagi perekonomian Indonesia karena sebagai penyedia sumber daya energi yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan perekonomian dan penopang pembangunan. Pandu Sjahrir Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI, 2016) menyatakan bahwa Indonesia berpotensi mengalami krisis Batu Bara di periode tahun 2035 karena cadangan Batu Bara yang tersimpan di perut bumi mencapai 8 miliar ton sementara konsumsi domestik membutuhkan 170 juta ton Batu Bara setiap tahun.

Pada semester 2 tahun 2009 sampai awal tahun 2011, harga batu bara global mengalami rebound tajam. Badan Pusat Statistik (2017), mengumumkan bahwa terdapat penurunan volume produksi batu bara yang drastis dari tahun 2012 ke 2013 dan 2014 ke 2015. Penurunan aktivitas ekonomi global telah menurunkan permintaan batubara, sehingga menyebabkan penurunan tajam harga batu bara dari awal tahun 2011 sampai tengah 2016.

(2)

Tabel Statistik

Volume Produksi Pertambangan Bahan Galian (M3) Jenis Bahan

Galian 2011 Volume Produksi Pertambangan Bahan Galian (M3) 2012 2013 2014 2015 Pasir 252,746,435 309,448,774 261,691,048 302,439,255 373,022,443 Batu 83,668,562 89,590,918 84,113,959 104,276,218 54,413,501 Andesit 5,980,898 15,614,556 15,726,758 13,864,769 7,294,371 Kerikil 18,460,348 16,436,700 30,091,653 37,508,536 18,728,619 Batu Kapur 12,391,563 5,067,234 7,835,405 13,317,839 23,969,459 Pasir Kwarsa 1,145,262 1,217,808 1,828,492 2,446,715 2,944,465 Marmer 865,409 678,610 754,696 707,163 529,368 Tanah Liat 5,643,143 9,867,236 8,545,141 7,729,717 3,476,204 Tanah 40,036,033 19,105,218 21,730,810 27,335,816 23,236,082 Batu Lain 19,457,199 7,784,140 15,007,423 12,332,312 5,683,802 Batu Apung 169,338 105,732 433,010 689,208 433,706 Feldspar 676,504 285,745 588,685 566,979 464,105 Trass 402,909 2,589,600 726,189 2,267,872 347,280 Kaolin 254,592 239,724 284,583 706,297 262,707 Zeolite 114,098 130,592 116,600 102,000 92,250 Sumber : Badan Pusat Statistik (2017)

Dalam laporan keuangan tahunan yang dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia (2017) ditemukan sebanyak 7 perusahaan pertambangan batu bara mengalami penurunan profitabilitasnya mulai dari tahun 2011 hingga 2015. PT Resource Alam Indonesia Tbk yang tergabung di Bursa Efek Indonesia sejak tahun 1991 mengalami penurunan profitabilitasnya selama lima tahun berturut-turut terhitung pada tahun 2011 hingga 2015. Sedangkan PT Baramulti Suksesserana Tbk mengalami kenaikan pada tahun 2012 tetapi hingga 3 tahun berikutnya mengalami penurunan profitabilitas yang cukup signifikan.

(3)

Tingginya permintaan dan kompleksnya regulasi yang diterapkan oleh pemerintah dan pengelolaan pertambangan batu bara, menjadikan sektor ini tidak bisa digerakkan hanya oleh pelaku skala mikro. Banyaknya perusahaan yang berada di sektor pertambangan batu bara di Indonesia menyebabkan persaingan bisnis diantara perusahaan yang semakin ketat. Inovasi teknologi dan persaingan yang ketat memaksa perusahaan untuk mengubah cara dalam menjalankan bisnisnya sehingga mengacu perubahan yang dapat terus menerut memiliki daya saing dan memiliki konsep untuk going concern (Widarsono, n.d).

Kelangsungan hidup perusahaan dipengaruhi banyak hal, antara lain profitabilitas itu sendiri. Menurut Brigham dan Houston (2010), Profitabilitas adalah hasil akhir dari sejumlah kebijakan dan keputusan yang dilakukan oleh perusahaan. Sedangkan menurut Kasmir (2014), profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan.

Martha (2013) menjelaskan kinerja keuangan suatu perusahaan merupakan salah satu aspek yang fundamental mengenai kondisi keuangan perusahaan yang dapat dilakukan berdasarkan analisis rasio keuangan dalam satu masa periode keuangan seperti Return On Assets (ROA). Return On Assets (ROA) adalah salah satu indikator keberhasilan perusahaan untuk menghasilkan laba sehingga semakin tinggi profitabilitas maka semakin tinggi kemampuan untuk menghasilkan laba bagi perusahaan (Rachmawati, 2012).

(4)

Dalam sistem akuntansi tradisional modal tidak tercatat dapat dijelaskan sebagai ekuitas berbasis pengetahuan yang mendukung aset berbasis pengetahuan perusahaan (Ulum, 2016). Pengetahuan bisnis ini biasa disebut intellectual capital disingkat menjadi IC. Istilah intellectual assets, intellectual capital dan intangible assets seringkali digunakan secara bergantian (Ali et al, 2010).

Selama ini, perusahaan lebih mengkonsentrasikan aktivitas manajemennya pada aset berwujud dan keuangan (Bellora dan Guenther, 2013), namun belakangan perhatian mereka mulai meluas ke masalah aset tak berwujud seperti human capital dan innovatioan capital (OECD, 2010). Menurut Ulum (2016), ketika perusahaan bicara tentang pelaporan intellectual capital, mereka sesungguhnya mengekspresikan ketertarikan mereka dalam mengendalikan dan mengelola perusahaan.

Di Indonesia, secara implisit intellectual capital telah diakui dan dibahas dalam Pernyataan Standar Akuntasi Keuangan (PSAK) 19 (revisi 2010) tentang aset tak berwujud yang merupakan adopsi dari International Accounting Standard (IAS) 38 tentang intangible asset. Di dalam standar tersebut, intellectual capital tidak disebut secara eksplisit, namun komponen-komponen Intellectual Capital dijabarkan bagaimana perlakuan akuntansinya. PSAK 19 (revisi 2010) menyebutkan bahwa aset tak berwujud diakui jika dan hanya jika (Ikatan Akuntansi Indonesia, 2012): 1) Kemungkinan besar perusahaan akan memperoleh manfaat ekonomi masa depan dari aset tersebut. 2) biaya perolehan aset tersebut dapat diukur secara

(5)

handal. Persyaratan ini sulit dipenuhi, sehingga sampai saat ini Intellectual Capital belum dapat dilaporlan dalam laporan keuangan perusahaan.

Terbatasnya ketentuan standar akuntansi tentang intellectual capital mendorong para ahli untuk membuat model pengukuran dan pelaporan intellectual capital. Salah satu model yang sangat popular di berbagai negara adalah (Value Added Intellectual Capital Coefficient – VAICTM) yang dikembangkan oleh Public (2000). VAICTM tidak mengukur secara langsung intellectual capital perusahaan, tetapi ia mengukur dampak dari pengelolaan intellectual capital (Ulum, 2016).

Dong dan Su (2010), menjelaskan bahwa salah satu keputusan keuangan yang penting bagi perusahaan adalah manajemen modal kerja yang tujuan utama dari manajemen modal kerja adalah memberikan dukungan yang memadai terhadap jalannya bisnis perusahaan. Manajemen modal kerja adalah kegiatan yang mencakup semua fungsi manajemen atas aktiva lancar dan kewajiban jangka pendek perusahaan (Sawir, 2014).

Besarnya modal kerja sebuah perusahaan berhubungan dengan berbagai aktivitas operasional dan financial. Tanpa modal kerja yang cukup aktivitas bisnis perusahaan dapat terancam (Sawir, 2014). Ia melanjutkan, perusahaan yang mampu memenuhi segala kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi digolongkan sebagai perusahaan tersebut “likuid”. Sebaliknya bila perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban financial yang harus segera dipenuhi maka perusahaan tersebut dikatakan “illikuid”.

(6)

Menurut Brigham & Houston (2010), likuiditas suatu perusahaan mencerminkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancarnya. Aktiva lancar perusahaan merupakan tolak ukuran yang paling kasar yang menunjukkan adanya dana likuid yang segera menjadi kas dan tersedia untuk membayar kewajiban (Sawir, 2014).

Kecukupan modal kerja dapat dievaluasi dengan cara mengukur aktivitas bisnis terhadap kelebihan aktiva lancar atas kewajiban lancarnya yaitu dengan menggunakan perhitungan Working Capital Turnover (WCTO). Jika Working Capital Turnover tinggi mengidikasikan likuiditas yang rendah untuk mendukung operasional, sedangkan apabila Working Capital Turnover rendah, maka menunjukkan likuiditas yang tinggi (Sawir, 2014).

Menurut Afriyanti (2011), Current Ratio (CR) digunakan untuk mengetahui seberapa besar modal kerja yang dialokasikan oleh operasi perusahaan. Semakin tinggi current ratio menunjukkan kelebihan aktiva lancar yang menganggur maka tidak baik bagi profitabilitas perusahaan karena aktiva lancar menghasilkan return yang lebih rendah dibandingkan dengan aktiva tetap (Hanafi & Halim, 2014). Current ratio yang rendah merupakan indikasi bahwa perusahaan mungkin tidak dapat membayar tagihan-tagihan pada masa mendatang. Current ratio yang tinggi mengindikasikan jumlah aktiva lancar yang berlebihan.

(7)

Hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Martha Kartika dan Saarce Elsye Hatane (2013), Ellyn Octavianty dan Defi Jumadil Syahputra (2015), I Gusti Ayu Nyoman Budiasih (2015) dan Resky Amelia Syafitri dan Seto Sulaksono Adi Wibowo (2016), tidak dikemukakan adanya konsistensi hasil penelitian yang menguji pengaruh Intellectual Capital, Working Capital Turnover dan Current Ratio, sehingga perlu diadakan penelitian lanjutan. Berikut ini research gap dari kelima variabel independen yang mempengaruhi ROA dalam beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh Martha Kartika dan Saarce Elsye Hatane (2013) menggunakan 22 perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan periode pelaporan selama 2007 sampai dengan 2011 menemukan Value Added Human Capital tidak berpengaruh terhadap profitabilitas, sedangkan Structural Capital Value Added dan Value Added Capital Employee berpengaruh positif signifikan terhadap profitabilias. Penelitian yang dilakukan oleh I Gusti Ayu Nyoman Budiasih (2015) menggunakan seluruh bank di Bursa Efek Indonesia dengan periode pelaporan selama 2011 sampai dengan 2013 menemukan bahwa intellectual capital berpengaruh positif terhadap profitabilitas.

Hasil penelitian Ellyn Octavianty dan Defi Jumadil Syahputra (2015) menggunakan perusahaan sub sektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan periode pelaporan selama 2009 sampai dengan 2013 menemukan bahwa Working Capital Turnover tidak berpengaruh terhadap Return On Asset, sedangkan Current Ratio berpengaruh terhadap Return

(8)

On Asset. Hasil penelitian Resky Amelia Syafitri dan Seto Sulaksono Adi Wibowo (2016) menggunakan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan periode pelaporan selama 2010 sampai dengan 2014 menemukan bahwa Working Capital Turnover berpengaruh signifikan positif terhadap profitabilitas.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti termotivasi untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Intellectual Capital, Working Capital Turnover dan Current Ratio Terhadap Profitabilitas (Studi Kasus pada Perusahaan Pertambangan Sub Sektor Batu Bara yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2011-2015”.

B. Rumusan Masalah Penelitian

Intellectual Capital (IC) sulit untuk disampaikan kepada pihak luar perusahaan sebab belum adanya standar akuntansi untuk menentapkan pelaporan Intellectual Capital (IC) perusahaan (Yuniasih, dkk., 2010). Pada umumnya kalangan bisnis belum dapat menyimpulkan sesungguhnya nilai lebih perusahaan. Sedangkan Perusahaan yang tidak dapat memperhitungkan tingkat Working Capital (WC) yang memuaskan, maka perusahaan kemungkinan mengalami in-solvency (tidak mampu memenuhi kewajiban jatuh tempo) dan bahkan mungkin terpaksa harus dilikuidasi.

(9)

Berdasarkan masalah-masalah yang timbul, maka research question dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Apakah terdapat pengaruh Value Added Human Capital (VAHU) terhadap profitabilitas?

2. Apakah terdapat pengaruh Value Added Capital Employed (VACA) terhadap profitabilitas?

3. Apakah terdapat pengaruh Structural Capital Value Added (STVA) terhadap profitabilitas?

4. Apakah terdapat pengaruh Working Capital Turnover (WCTO) terhadap profitabilitas?

5. Apakah terdapat pengaruh Current Ratio (CR) terhadap profitabilitas?

C. Tujuan dan Kontribusi Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Terkait dengan pengaruh Intellectual Capital, Working Capital Turnover dan Current Ratio terhadap Profitabilitas Perusahaan, maka penelitian ini mempunyai beberapa tujuan sebagai berikut:

1. Menganalisis pengaruh Value Added Human Capital (VAHU) terhadap profitabilitas.

2. Menganalisis pengaruh Value Added Capital Employed (VACA) terhadap profitabilitas.

3. Menganalisis pengaruh Structural Capital Value Added (STVA) terhadap profitabilitas.

(10)

4. Menganalisis pengaruh Working Capital Turnover Ratio (WCTO) terhadap profitabilitas.

5. Menganalisis pengaruh Current Ratio (CR) terhadap profitabilitas.

2. Kontribusi Penelitian

Sesuai dengan tujuan penelitan, maka kontribusi yang dapat diharapkan dari penelitian ini adalah:

1) Kontribusi Praktik atau Kebijakan

1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti empiris mengenai pengaruh Intellectual Capital, Working Capital Turnover dan Current Ratio terhadap profitabilitas perusahaan pertambangan sub sektor Batu Bara yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2011-2015.

2. Untuk praktisi manajemen perusahaan, analisis laporan keuangan, investor, kreditur, hasil penelitian akan memberikan deskripsi/gambaran tentang faktor-faktor profitabilitas yang berpengaruh terhadap Intellectual Capital, Working Capital Turnover dan Current Ratio terhadap profitabilitas perusahaan pertambangan sub sektor baru bara pada pelaporan keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2011-2015 sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat dan bermanfaat.

(11)

2) Kontribusi Akademik

Untuk akademisi, penelitian ini akan memberikan arah studi tentang konsep rasio keuangan terutama pada profitabilitas, Intellectual Capital, Working Capital Turnover dan Current Ratio.

Gambar

Tabel Statistik

Referensi

Dokumen terkait

“Pengaruh Working Capital Turnover, Current Ratio dan Debt To Total Asset Terhadap Return On Investment Pada Perusahaan Industri Barang Konsumsi Yang Terdaftar di Daftar

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran, menambah wawasan pengetahuan dan memberikan bukti empiris dari penelitian-penelitian sebelumnya mengenai

Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam memberikan informasi dan bukti empiris mengenai pengaruh penggunaan teknologi dan otomatisasi sistem

Diharapkan melalui penelitian ini dapat memberikan bukti mengenai pengaruh Return On Asset (ROA) dan Return On Equity (ROE) terhadap dividend payout ratio pada

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bukti empiris mengenai pengaruh current ratio, debt ratio, debt to equity ratio, inventory turnover, dan total asset

Bagi ilmu pengetahuan, penelitian ini diharapkan mampu memberikan bukti empiris mengenai ada atau tidaknya pengaruh kinerja keuangan perusahaan (current ratio, net

Adakah pengaruh variabel Current Ratio (CR), Inventory Turnover (ITO), Debt to Equity Ratio (DER), Return On Equity (ROE), Total Asset Turnover (TATO), dan Net Profit

4.4 Implikasi Manajerial Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan mengenai pengaruh working capital turnover WCTO, receivable turnover RTO, inventory turnover ITO, dan current