• Tidak ada hasil yang ditemukan

VERBA BERARGUMEN KHUSUS DALAM BAHASA INDONESIA Verba with Special Argument in Indonesian Language Deni Karsana Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah J

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "VERBA BERARGUMEN KHUSUS DALAM BAHASA INDONESIA Verba with Special Argument in Indonesian Language Deni Karsana Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah J"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

VERBA BERARGUMEN KHUSUS

DALAM BAHASA INDONESIA

Verba with Special Argument in Indonesian Language Deni Karsana

Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah

Jalan Untad I Bumi Roviga, Tondo, Kecamatan Mantikulore Palu, Sulawesi tengah 94118

Email: [email protected] Abstract

The unity of the element sentence is important. The good sentence structure has complete elements, especially the two elements that are subject and predicate. The predicate is mostly constructed by Verbs. This fact made Verbs have the important function in a sentence. The method applied in this research are qualitative descriptive. The result shows that there is special argument of Verbs in Indonesian.

Kata kunci: verbs, argument, special

Abstrak

Kelengkapan unsur sebuah kalimat menjadi hal yang penting. Struktur kalimat yang baik tentunya mengandung unsur yang lengkap, terutama memenuhi dua hal, yaitu subjek dan predikat. Verba atau yang lebih dikenal dengan kata kerja, mempunyai kedudukan yang sangat penting di dalam sebuah kalimat. Verba menjadi pengisi yang utama dalam predikat. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam bahasa Indonesia terdapat verba yang memiliki argumen khusus.

Kata kunci: verba, argumen, khusus 1. Pendahuluan

Mengulik bahasa, khususnya kalimat dalam ragam bahasa tulis tak terhindarkan dengan fungsi yang mengisinya. Fungsi dalam kalimat, seperti yang diketahui adalah berupa subjek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan.Selanjutnya pengisi subjek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan adalah berupa kata dan frasa. Kemudian kata yang mengisi fungsi-fungsi dalam kalimat tersebut mempunyai kelas tersendiri. Salah satu kelas kata yang mengisi fungsi predikat adalah berkelas kata verba (kerja).

Verba adalah kelas kata yang dalam bahasa Indonesia ditandai dengan kemungkinan untuk diawali dengan kata tidak dan tidak mungkin diawali dengan kata, seperti sangat, lebih dsb.; misalnya datang, naik, bekerja, dsb. Dalam beberapa bahasa lain, verba mempunyai ciri morfologis seperti ciri kala, aspek, persona atau jumlah. Sebagian besar verba mewakili unsur semantik perbuatan, keadaan, atau proses (Kridalaksana, 1982: 1976).

Alwi (2003:87) memberikan batasan dan ciri verba. Menurutnya, ciri-ciri verba dapat diketahui dengan mengamati (1)

(2)

perilaku semantic, (2) perilaku sintaksis, dan (3) bentuk morfologisnya. Namun, secara umum verba dapat diidentifikasi dan dibedakan dari kelas kata lain, terutama dari adjektiva, karena ciri-ciri berikut:

a. Verba memiliki fungsi utama sebagai predikat atau sebagai inti predikat dalam kalimat walaupun dapat juga mempunyai fungsi lain. Contoh:

(1) Pencuri itu lari.

(2) Mereka sedang belajar di kamar. (3) Bom itu seharusnya tidak meledak. (4) Orang asing itu tidak akan suka

masakan Indonesia.

Bagian yang dicetak miring pada kalimat-kalmat di atas adalah predikat, yaitu bagian yang menjadi pengikat bagian lain dari kalimat itu. Dalam sedang belajar, tidak meledak, dan tidak akan suka. Verba belajar, meledak, dan suka berfungsi sebagai inti predikat.

b. Verba mengandung makna inheren perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas.

c. Verba, khususnya yang bermakna keadaan, tidak diberi prefiks ter- yang berarti paling. Verba seperti mati atau suka, misalnya tidak dapat diubah menjadi *termati atau *tersuka.

d. Pada umumnya verba tidak dapat bergabung dengan kata-kata yang menyatakan makna kesangatan. Tidak ada bentuk *agak belajar, *sangat belajar, dan *bekerja sekali, meskipun ada bentuk seperti sangat berbahaya,

agak mengecewakan, dan

mengharapkan sekali.

Setakat dengan topik tulisan, yaitu verba yang memiliki argumen khusus pada bahasa Indonesia, pada tulisan ini akan dibahas mengenai pembentukan dan jenis

argumen yang mendampinginya. Penelitian mengenai verba dalam bahasa Indonesia banyak dibahas para ahli, tetapi yang membahas verba beserta argumen khusus, sepengetahuan penulis belum ada yang melakukan. Krismantari (1994) membahas verba dari perspektif lain, yaitu tentang verba dengan valensi (sudut sintaksis) yang lebih mementingkan bentuk semantiknya. Kaitannya dengan itu, penelitian ini akan mem bahas verba yang memiliki argumen khusus dalam bahasa Indonesia, terutama dari aspek pembentukan dan jenis argumen yang mendampinginya.

2. Metode

Metode yang digunakan pada tulisan ini adalah metode deskriptif kualitatif. Metode deksriptif adalah metode penelitian yang dilakukan semata-mata hanya berdasarkan pada fakta yang ada atau fenomena yang memang secara empiris hidup pada penutur-penuturnya sehingga yang dihasilkan atau yang dicatat berupa perian bahasa yang biasa dikatakan sifatnya, seperti potret, paparan seperti adanya. Perian deskriptif tidak mempertimbangkan benar salahnya penggunaan bahasa oleh penutur-penuturnya, hal itu merupakan cirinya yang utama (Sudaryanto, 1986:62).

Subroto (2007:10) mengatakan bahwa penelitian linguistik pada umumnya dilakukan menurut model penelitian kualitatif. Sekalipun beberapa aspek yang termasuk penelitian bahasa dapat atau lebih dilakukan menurut model penelitian kualitatif, tetapi pada umumnya penelitian terhadap segi-segi tertentu bahasa dalam rangka menemukan pola-pola atau kaidah yang bersifat mengatur di dalam bahasa

(3)

Siti Fatinah: Fonologi Bahasa Muna: Kajian Transformasi Generatif

147 lebih tepat dilakukan menurut model

kualitatif. Lebih lanjut dikatakan olehnya bahwa penelitian linguistik pada umumnya juga termasuk penelitian deskriptif. Sebagaimana telah disingggung dalam uraian di atas bahwa tujuan utama penelitian bahasa adalah menemukan sistem (sistem fonotaktis, sistem fonologi, sistem morfologi, sistem penjenisan kata, sistem fraseologi, sistem semantik), menemukan satuan-satuan lingual beserta identitasnya.

3. Kerangka Teori

Berbicara mengenai verba dalam bahasa Indonesia, banyak para ahli bahasa yang mengkajinya, antara lain Sudaryanto, Kridalaksana, dan Kaswanti. Menurut Sudaryanto (1983:6), verba merupakan unsur sentral dalam bahasa. Sebagai unsur sentral, verba menentukan adanya berbagai konstituen yang harus ada di dalam konstruksi bahasa serta perubahannya. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa verba juga merupakan unsur sentra dalam konstruksi kalimat. Segala perubahan dan bentuk kalimat ditentukan oleh verba.

Unsur sentral dalam sebuah proposisi terletak pada predikator yang diisi oleh verba. Menurut Kridalaksana (1982: 175), sebagai unsur sentral, verba bervalensi dengan berbagai unsur yang ada di sekitarnya. Valensi adalah hubungan antara verba dan unsur-unsurnya. Hubungan itu mencakup ketransitifan dan penguasan verba atas argumen-argumen di sekitarnya.

Menurut Kaswanti (1989:2—3), valensi bersumber pada verba. Valensi adalah seperangkat relasi yang menggantung dari berbagai unsur pembentuk konstruksi yang bersumber

pada verba. Relasi-relasi itu akan terungkap dalam wujud peran. Pengertian valensi yang lebih umum dikemukakan oleh Sudaryanto (1983: 329) yang membatasi valensi sebagai daya gabung antara verba dan nomina yang ada dalam konstruksi tersebut.

Menurut Krismantari (1994: 39) dalam bahasa Indonesia ditemukan 268 verba yang bervalensi dengan nomina khusus. Selanjutnya, verba yang bervalensi nomina khusus dalam bahasa Indonesia dibagi atas lima belas jenis, yaitu (1) verba yang bervalensi dengan nomina alat transportasi, (2) verba yang bervalensi dengan nomina bagian badan, (3) verba yang bervalensi dengan nomina benang, (4) verba yang bervalensi dengan nomina yang berbentuk khusus, (5) verba yang bervalensi dengan nomina cair, (6) verba yang bervalensi dengan nomina gas, (7) verba yang bervalensi dengan nomina yang hewani, (8) verba yang bervalensi dengan nomina insani, (9) verba yang bervalensi dengan nomina keuangan, (10) verba yang bervalensi dengan nomina yang menyatakan kondisi tidak sehat, (11) verba yang bervalensi dengan nomina makanan, (12) verba yang bervalensi dengan nomina suara, (13) verba yang bervalensi dengan nomina tanah, (14) verba yang bervalensi dengan nomina tanaman, dan (15) verba yang bervalensi dengan kata-kata tertentu.

Selanjutnya, Kridalaksana (192: 14) mengatakan bahwa argumen adalah nomina atau frase nominal yang besama-sama predikator membentuk proposisi. Contoh:

(4)

Proposisi

Predikator argumen 1 argumen 2 Berbicara mengenai argument terkait dengan fungsi semantik. Selanjutnya, Kridalaksana (2002: 59) menyatakan bahwa fungsi semantik menyangkut pula interaksi di antara satu unsur dengan unsur lain. Artinya, suatu gramatika dikatakan berfungsi tertentu bila ada fungsi yang lain. Jadi, secara lahiriah fungsi gramatikal ini diwujudkan dalam kontruksi. Interaksi semantik di antara satuan-satuan gramatikal dapat dirumuskan sebagai hubungan di antara predikator dengan argumen dalam suatu proposisi.

Selanjutnya, Kridalaksana juga menyatakan predikator mencakup makna, seperti: (1) perbuatan, (2) cara, (3) proses, (4) posisi, (5) relasi, (6) lokasi, (7) arah, (8) keadaan, (9) kuantitas, (10) kualitas, atau (11) identitas. Secara lebih konkret berupa verba, adjektiva, adverbia, preposisi, numeralia, atau zero (Ø)

Kridalaksana juga menambahkan bahwa argumen merupakan benda atau yang dibendakan, dan secara konkret berkategori nomina atau pronomina. Hubungan di antara tiap argumen dan predikator itu disebut peran.

Dalam hal ini, predikator berupa verba. yang memiliki argument dan dapat diketahui salah satunya berupa verba transitif. Verba transitif adalah verba yang memiliki objek berupa nomina. Selanjutnya, dalam pola urutan, kategori kata yang mengisi argument dapat berupa subjek, objek, dan pelengkap. Subjek dilambangkan dengan N1 yang dibedakan dengan objek dan pelengkap. Objek yang

dilambangkan dengan N2. Pelengkap dilambangkan dengan N3.

. Pembahasan

Sebagaimana dijelaskan dalam permasalahan, verba berargumen khusus adalah verba yang mempunyai keterkaitan hubungan makna dengan argumen secara khusus. Kehadiran argumen yang berupa nomina tersebut tidak dapat digantikan oleh nomina lain. Misalnya, verba memicingkan hanya mempunyai keterkaitan pasangan dengan kata mata yang menjadi objeknya, verba menundukkan hanya mempunyai keterkaitan pasangan dengan kata kepala yang menjadi objeknya, dan verba mengernyitkan hanya mempunyai keterkaitan pasangan dengan kata dahi yang menjadi objeknya. Berikut contoh pemakaiannya dalam kalimat.

(1)Ali memicingkan mata. (2) Jun menundukkan kepala. (3) Anak itu mengeryitkan dahi.

Ketiga kalimat tersebut secara strukturnya dapat dikatakan berpola subjek, predikat, objek (SPO). Subjek pada kalimat pertama adalah Ali, subjek pada kalimat kedua adalah Jun, dan subjek pada kalimat ketiga adalah anak itu. Predikat pada kalimat pertama adalah memicingkan, predikat pada kalimat kedua adalah menundukkan, dan predikat pada kalimat ketiga adalah mengeryitkan. Adapun objeknya pada ketiga kalimat tersebut adalah mata (kalimat pertama), kepala (kalimat kedua), dan dahi (kalimat ketiga). Dalam hal ini, hubungan dalam proposisi dapat digambarkan sebagai berikut.

(5)

Bagan proposisi kalimat 1. Proposisi

Predikator argumen 1 argumen 2 Perbuatan pelaku sasaran Verba Nomina 1 nomina 2 Memicingkan Ali mata Bagan proposisi kalimat 2.

Proposisi

Predikator argumen 1 argumen 2 Perbuatan pelaku sasaran Verba Nomina 1 nomina 2 menundukkan Jun kepala Bagan proposisi kalimat 3.

Proposisi 1

Predikator argumen 1 argumen 2

Perbuatan pelaku sasaran Proposisi 2

Pokok ciri

Verba nomina 1 demons nomina 2 mengeryitkan anak itu dahi Dari data di atas, hubungan antara

verba dengan nomina, khususnya hubungan predikator dengan argumen-argumennya, dapat dijelaskan sebagai berikut. Argumen 2 merupakan sasaran

dari tindakan atau perbuatan yang dinyatakan predikator yang dilakukan oleh pelaku (argumen 1), hubungan antara predikator sangat erat dengan argument 2 dibandingkan dengan hubungan predikator

(6)

dengan argument 1. Oleh karena itu, secara fungsi sintaksis, argumen 1 merupakan subjek dari kalimat tersebut, yang hubungannnya tidak terlalu erat, berbeda dengan argumen 2 yang merupakan objek, yang kehadirannya ditentukan oleh predikator yang berupa verba dan verba yang mengisinya adalah verba transitif. Akan tetapi, dalam hal kaitannya dengan fungsi semantik, jika hubungan antara predikator dan argumen 2 memiliki hubungan makna khusus, tentu saja slot argumen 2 tidak dapat digantikan

atau diisi oleh bentuk nomina lain karena harus ada keterkaitan makna yang dikandung oleh predikator yang berupa verba tersebut. Hal itu dapat dilihat pada contoh berikut.

(4) Bapak menjewer telinga anak itu. (5) Ayam itu mengerami telurnya.

Secara strukturnya, kalimat 4 tersebut berpola S-P-O. Demikian pula, secara struktur kalimat 5 tersebut berpola S-P-O. Dalam hal ini, hubungan dalam proposisi dapat digambarkan sebagai berikut.

Bagan proposisi kalimat 4

Proposisi 1

Predikator argumen 1 argumen 2 Perbuatan pelaku sasaran

Proposisi 2

Pokok milik ciri

Verba nomina 1 nomina 2 nomina3 demonstrat menjewer Bapak telinga anak itu Bagan proposisi kalimat 5

Proposisi 1

Predikator argumen 1 argumen 2

Perbuatan pelaku sasaran Proposisi 2

Pokok ciri pokok milik Verba nomina 1 demons nomina 2 pronomina mengerami ayam itu telur nya

(7)

Verba jewer mempunyai makna, yaitu menarik daun telinnga (KBBI, 2008: 583). Pada kalimat 4, predikator menjewer berasal dari kata jewer yang diubah menjadi verba transistif menjewer yang memerukan kehadiran objek (argumen 2). Adapun argument 2 yang merupakan sasaran dari tindakan jewer tadi adalah telinga. Hal ini disebabkan kegiatan menjewer hanya bisa dilakukan kepada anggota tubuh manusia yang bernama telinga.

Verba eram mempunyai makna, yaitu duduk mendekam untuk memanaskan telur agar menetas (tt ayam, burung) (KBBI, 2008: 379). Dalam kalimat 5, predikator mengerami berasal dari verba dasar eram yang diubah menjadi verba transitif mengerami memerlukan kehadiran objek (argument 2). Argumen 2 yang merupakan sasaran dari tindakan eram adalah telur. Hal itu disebabkan ayam/burung memiliki sifat

mengerami benda yang harus

ditetaskannya, yakni telur. Untuk menetaskan telur perlu upaya mengerami.

Karena objeknya atau argumen 2 berupa nomina khusus, yaitu verba yang bervalensi dengan nomina tertentu, verba tersebut tidak dapat didampingi oleh nomina lain, selain nomina khusus atau sejenisnya tersebut.

Selain argumen yang mengisi fungsi objek dengan predikatornya berupa verba transitif yang memiliki hubungan khusus, ada pula argumen yang berupa subjek dan pelengkap yang memiliki hubungan khusus. Hal itu dapat dilihat posisinya dalam bagan berikut.

(6) Hujan sebentar lagi akan mengguyur kota.

(7) Mulutnya komat-kamit seperti dukun. (8) Mandi sambil bersimbur-simburan

air.

(9) Laki-laki itu bersimbah darah.

Kalimat (6) dan (7) merupakan contoh verba berargumen khusus, yang argumen khusus menduduki fungsi subjek. Kalimat (8) dan (9) merupakan contoh verba berargumen khusus, yang argumen khususnya menduduki fungsi pelengkap. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat posisinya dalam table berikut.

(6) Hujan sebentar lagi akan mengguyur Kota.

S Ket P O

Ni V N2

argumen 1 predikator argumen 2

pelaku tindakan sasaran

alam noninsani

(7) Mulutnya komat-kamit seperti dukun.

S P Ket

N1 V N2

argumen 1 predikator argumen 2

Pelaku tindakan sasaran

bagian tubuh Insani

(8)

S P Pel

N1 V FN/N2 & N3

argumen 1 predikator argumen 2

Pelaku tindakan penyerta

alam

((9) Laki-laki Itu bersimbah Darah

S P Pel

N1 Dem V N2

argumen1 predikator argumen 2

Pelaku tindakan penyerta

Insane bagian tubuh

Berbicara mengenai verba yang memerlukan objek atau verba transitif, dapat diketahui hubungan keterikatan antara predikat dengan objek. Keterikatan ini merupakan valensi. Keterikatan inilah juga yang menggambarkan hubungan antara predikator dengan argument 2. Telah disinggung di atas, bahwa verba yang bervalensi nomina khusus dalam bahasa Indonesia dibagi dalam 15 jenis, yaitu (1) verba yang bervalensi dengan nomina alat transportasi, (2) verba yang bervalensi dengan nomina bagian badan, (3) verba yang bervalensi dengan nomina benang, (4) verba yang bervalensi dengan nomina yang berbentuk khusus, (5) verba yang bervalensi dengan nomina cair, (6) verba yang bervalensi dengan nomina gas, (7) verba yang bervalensi dengan nomina yang hewani, (8) verba yang bervalensi dengan nomina insani, (9) verba yang bervalensi dengan nomina keuangan, (10) verba yang bervalensi dengan nomina yang menyatakan kondisi tidak sehat, (11) verba yang bervalensi dengan nomina makanan, (12) verba yang bervalensi dengan nomina suara, (13) verba yang bervalensi dengan nomina tanah, (14) verba yang bervalensi dengan nomina

tanaman, dan (15) verba yang bervalensi dengan kata-kata tertentu. Berikut uraiannya masing-masing.

4.1 Verba yang Bervalensi dengan Nomina Alat Transportasi

Dalam bahasa Indonesia ditemukan sejumlah verba yang bervalensi dengan nomina alat transportasi. Jumlah verba yang bervalensi dengan nomina alat transportasi tidak banyak. Contoh: bercadik, berplombir, mencarter, dan memarkir. Verba bercadik mempunyai valensi dengan nomina alat transportasi, khususnya alat transportasi di air (laut). Sebagaimana diketahui bahwa nomina yang bercadik adalah perahu, sampan, dan kapal layar. Hanya alat transportasi air saja yang menggunakan cadik.Verba bercadik berasal dari kata dasar cadik. Cadik adalah bambu atau kayu ringan yang dipasang di kiri kanan perahu, berbentuk seperti sayap, sebagai alat pengatur keseimbangan agar perahu tidak mudah terbalik; katir. Bercadik berarti ada cadiknya (katirnya); memakai cadik (katir): kapal layar itu bercadik sehingga tidak mudah oleng (KBBI, 2008: 234).

(9)

Multilingual, Volume XI, No.2, Tahun 2012

206 Verba berplombir mempunyai

valensi khusus dengan nomina alat transportasi, khususnya alat transportasi darat, seperti motor, mobil, bus, dan truk. Verba berplombir berasal dari kata dasar plombir. Menurut KBBI (2008: 1086), plombir adalah materai dari timah yang dipakai sebagai tanda sudah membayar pajak kendaraan.

Verba mencarter mempunyai valensi khusus dengan nomina alat transportasi, khususnya alat transportasi yang bisa dicarter, seperti ojek, angkot, taksi dan bus. Verba mencarter berasal dari kata dasar carter. Dalam KBBI (2008: 246) dinyatakan carter berarti sewa. Mencarter artinya memesan, menyewa sesuatu (mobil dsb) untuk dipergunakan secara pribadi dalam jangka waktu menurut kebutuhan.

Verba memarkir mempunyai valensi khusus dengan nomina alat transportasi, khususnya alat transportasi darat, seperti: sepeda, motor, mobil, truk, dsb. Verba memarkir berasal dari kosa kata dasar parkir. Menurut KBBI (2008: 1023) parkir adalah ragam cakapan dari kata memarkir, adalah menghentikan atau menaruh (kendaraan bermotor) untuk beberapa saat di tempat yang sudah disediakan.

4.2 Verba yang Bervalensi dengan Nomina bagian Badan

Dalam bahasa Indonesia ditemukan sejumlah verba yang bervalensi dengan nomina bagian badan. Contoh: memborgol, menjambak, membuncitkan, dan mendebarkan.Verba memborgol mempunyai valensi dengan nomina bagian badan, khususnya tangan. Verba memborgol berasal dari kata dasar borgol. Menurut KBBI (2008: 208) borgol adalah belenggu tangan terbuat dari besi,

berbentuk bulat, dapat ditutup dan dibuka dengan memakai kunci. Memborgol adalah membelenggu (tangan) dengan borgol.

Verba menjambak mempunyai valensi dengan nomina bagian badan, khususnya rambut. Verba menjambak berasal dari kata dasar jambak. Dalam KBBI (2008: 562) dinyatakan bahwa kata menjambak berarti merenggut (rambut).

Verba membuncitkan mempunyai valensi dengan nomina bagian badan, khususnya perut. Verba membuncitkan berasal dari kata dasar buncit. Dalam KBBI (2008: 222) dinyatakan bahwa kata buncit berarti besar perut; gendut. Membuncit adalah menjadi buncit.

Verba mendebarkan mempunyai valensi dengan nomina bagian badan, khususnya jantung atau nadi. Verba mendebarkan berasal dari kata dasar debar. Dalam KBBI (2008: 301) dinyatakan bahwa kata debar, mendebarkan berarti menyebabkan jantung (nadi dsb) berdebar-debar.

4.3 Verba yang Bervalensi dengan Nomina Benang

Dalam bahasa Indonesia ditemukan sejumlah verba yang bervalensi dengan nomina benang Contoh: menggelas, menerau, dan menggantih. Verba menggelas mempunyai valensi dengan nomina benang. Verba menggelas berasal dari kata dasar gelas. Dalam KBBI (2008: 429) dinyatakan bahwa kata menggelas berarti melapis benang layang-layang dengan gelasan.

Verba menerau mempunyai valensi dengan nomina benang. Verba menerau berasal dari kata dasar terau. Dalam KBBI (2008: 1449) dinyatakan bahwa kata

(10)

menerau berarti mengambil benang dari gelendong, dipasang lagi di buluh peleting.

Verba menggantih mempunyai valensi dengan nomina benang. Verba menggantih berasal dari kata dasar gantih. Dalam KBBI (2008: 415) dinyatakan bahwa kata menggantih berarti memintal benang (dengan rahat).

4.4 Verba yang Bervalensi dengan Nomina yang Berbentuk Khusus

Dalam bahasa Indonesia terdapat sejumlah verba yang bervalensi dengan nomina yang berbentuk khusus. Contoh: menjimpit, menjinjing, mengempit, dan menenteng. Verba menjimpit valensi dengan nomina yang berbentuk khusus, seperti beras. Verba menjimpit berasal dari kata dasar jimpit. Dalam KBBI (2008: 584) dinyatakan bahwa kata menjimpit berarti mengambil dengan ujung telunjuk dan ibu jari; menjumput.

Verba menjinjing mempunyai valensi dengan nomina yang berbentuk khusus, seperti tas. Verba menjinjing berasal dari kata dasar jinjing. Dalam KBBI (2008: 585) dinyatakan bahwa kata menjinjing berarti membawa sesuatu dengan posisi tangan ke bawah dan tidak terlalu berat memegangnya.

Verba mengempit mempunyai valensi dengan nomina yang berbentuk khusus, seperti tas. Verba mengempit berasal dari kata dasar kempit. Dalam KBBI (2008: 664) dinyatakan bahwa kata mengempit berarti membawa dengan menjepit di antara lengan dan badan. Verba menenteng mempunyai valensi dengan nomina yang berbentuk khusus, seperti tas, kantung belanjaan. Verba menenteng berasal dari kata dasar tenteng.

Dalam KBBI (2008: 1443) dinyatakan bahwa kata menenteng adalah membawa dengan tangan sebelah, menjinjing.

4.5 Verba yang Bervalensi dengan Nomina Cair

Dalam bahasa Indonesia ditemukan sejumlah verba yang bervalensi dengan nomina cair. Contoh: mengucur, mengguyurkan, memercikan, dan meneteskan. Verba mengucur mempunyai valensi dengan nomina cair, seperti darah. Verba mengucur berasal dari kata dasar kucur yang berarti pancur. Dalam KBBI (2008: 749) dinyatakan bahwa pengertian kata mengucur adalah memancur.

Verba mengguyurkan mempunyai valensi dengan nomina cair, seperti air. Verba mengguyurkan berasal dari kata guyur yang berart sirami. Dalam KBBI (2008: 470) dinyatakan bahwa kata mengguyurkan berarti mencurahkan pada. Verba memercikan mempunyai valensi dengan nomina cair, seperti air. Verba memercikan berasal dari kata dasar percik yang berarti titik-tik air yang berhamburan; recik-recik; renjis. Dalam KBBI (2008: 1053) dinyatakan bahwa kata memercikan berarti merenjiskan (menyemburkan) air dsb kepada.

Verba meneteskan mempunyai valensi dengan nomina cair, seperti air, darah, tinta dsb. Verba meneteskan berasal dari kata dasar tetes yang berarti benda cair yang jatuh menitik karena berat. Dalam KBBI (2008: 1458) dinyatakan bahwa kata meneteskan adalah menitikkan (air dsb).

4.6 Verba yang Bervalensi dengan Nomina Gas

(11)

Multilingual, Volume XI, No.2, Tahun 2012

208 Dalam bahasa Indonesia ditemukan

sejumlah verba yang bervalensi dengan nomina gas. Contoh: berkelun, mengepulkan, bersiru, dan berkesiuran. Verba berkelun mempunyai valensi dengan nomina gas, seperti asap. Verba berkelun berasal dari kata dasar kelun yang berarti kepul. Dalam KBBI (2008: 660) dinyatakan bahwa kata berkelun berarti berkepul.

Verba mengepulkan mempunyai valensi dengan nomina gas, seperti asap. Verba mengepulkan berasal dari kata dasar kepul yang berarti gumpalan asap (awan) yang tampak tebal. Dalam KBBI (2008: 667) dinyatakan bahwa kata mengepulkan berarti mengeluarkan asap berkepul-kepul.

Verba bersiru mempunyai valensi dengan nomina gas, seperti asap, angin. Verba bersiru berasal dari kata dasar siru. Dalam KBBI (2008: 1318) dinyatakan bahwa kata bersiru berarti berubah atau beralih (berbalik) arah.

Verba berkesiuran mempunyai valensi dengan nomina gas, seperti angin. Verba berkesiuran berasal dari kata dasar siur yang berarti desing. Dalam KBBI (2008:1323) dinyatakan bahwa kata berkesiuran berarti mendesing-desing (tentang angin).

4.7 Verba yang Bervalensi dengan Nomina Hewani

Dalam bahasa Indonesia ditemukan sejumlah verba yang bervalensi dengan nomina hewani. Contoh: mematuk, beternak, angon, dan menyeser. Verba mematuk mempunyai valensi dengan nomina hewani, khususnya unggas, seperti ayam, itik, dan sebagainya. Verba mematuk berasal dari kata dasar patuk yang berarti catuk; cotok; pagut (dengan

paruh). Dalam KBBI (2008: 1031) dinyatakan bahwa kata mematuk berarti mencatuk, mencotok; memagut (dng paruh).

Verba beternak mempunyai valensi dengan nomina hewani, khusunya binatang yang dipelihara dan dikembangbiakkan. Verba beternak berasal dari kata dasar ternak yang berarti binatang yang dipiara (lembu, kuda, kambing, dan sebagainya). Dalam KBBI (2008: 1451 )dinyatakan bahwa kata beternak adalah memelihara dan mengembangbiakan binatang.

Verba angon mempunyai valensi dengan nomina hewani, khususnya binatang yang dapat digembala. Dalam KBBI (2008: 70), verba angon atau mengangon berarti menggembala. Mengembala merupakan pekerjaan membawa binatang ke padang rumput (tempat mereka makan rumput).

Verba menyeser mempunyai valensi dengan nomina hewani, khususnya ikan. Verba menyeser berasal dari kata dasar seser yang berarti alat untuk menangkap ikan seperti sauk-sauk yang dibuat dari anyaman bamboo. Dalam KBBI (2008: 1293) inyatakan bahwa kata dmenyeser adalah menangkap ikan dengan seser. 4.8 Verba yang Bervalensi dengan Nomina Insani

Dalam bahasa Indonesia ditemukan sejumlah verba yang bervalensi dengan nomina insani. Contoh: meminang, mengkhitankan, mengadopsi, dan menikahi. Verba meminang mempunyai valensi dengan nomina insan. Verba meminang berasal dari kata dasar pinang. Dalam KBBI (2008:1075) dinyatakan bahwa kata meminang berarti meminta

(12)

seorang perempuan untuk dijadikan istri; melamar.

Verba mengkhitankan mempunyai valensi dengan nomina insan. Verba mengkhitankan berasal dari kata dasar khitan yang berarti sunat. Dalam KBBI (2008: 693) dinyatakan bahwa kata mengkhitankan berarti memotong kulup anak dan sebagainya (biasanya dengan pertolongan dokter atau dukun); menyelenggarakan upacara mengkhitan anak; menyunatkan.

Verba mengadopsi mempunyai valensi dengan nomina insan. Verba mengadopsi berasal dari kata dasar adopsi yang berarti pengangkatan anak orang lain sebagai anak sendiri. Dalam KBBI (2008: 11) dinyatakan bahwa kata mengadopsi berarti mengambil (mengangkat) anak orang lain secara sah menjadi anak sendiri. Verba menikahi mempunyai valensi dengan nomina insan. Verba menikahi berasal dari kata dasar nikah yang berarti ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hokum dan ajaran agama. Dalam KBBI (2008:962) dinyatakan bahwa kata menikah berarti melakukan nikah; kawin. 4.9 Verba yang Bervalensi dengan Nomina Keuangan

Dalam bahasa Indonesia ditemukan sejumlah verba yang bervalensi dengan nomina keuangan. Contoh: menganggar, membiayakan, membungakan, dan mendevaluasikan. Verba menganggar mempunyai valensi dengan nomina keuangan. Verba mengganggar berasal dari kata dasar anggar yang berarti kira-kira; lebih kurang. Dalam KBBI (2008:63) dinyatakan bahwa kata menganggar berati

memperhitungkan (belanja, biaya); memperkirakan.

Verba membiayakan mempunyai valensi dengan nomina keuangan. Verba membiayakan berasal dari kata dasar biaya yang berarti uang yang dikeluarkan untuk mengadakan (mendirikan, melakukan dan sebagainya) sesuatu; ongkos; belanja; pengeluaran. Dalam KBBI (2008: 187) dinyatakan bahwa kata membiayakan berarti menggunakan uang (harta) untuk sesuatu; membelanjakan.

Verba membungakan mempunyai valensi dengan nomina keuangan. Verba membungakan berasal dari kata dasa bunga yang berarti imbalan jasa untuk penggunaan uang atau modal yang dibayar pada waktu tertentu berdasarkan ketentuan atau kesepakatan, umumnya dinyatakan sebagai persentase dari modal pokok. Dalam KBBI (2008: 223) diartikan meminjamkan uang dengan memperoleh bunga (rente).

Verba mendevaluasikan mempunyai valensi dengan nomina keuangan. Verba mendevaluasikan berasal dari kata dasar devaluasi yang berarti penurunan nilai uang yang dilakukan dengan sengaja terhadap uang luar negeri atau terhadap emas. Dalam KBBI (2008:322), kata mendevaluasikan berarti menurunkan nilai uang (terhadap uang luar negeri atau terhadap emas).

4.10 Verba yang Bervalensi dengan Nomina yang Menyatakan Kondisi Tidak Sehat

Dalam bahasa Indonesia ditemukan sejumlah verba yang bervalensi dengan nomina yang menyatakan kondisi tidak sehat. Contoh: mengidap, menjangkitkan, mengocong, dan mengotopsi. Verba

(13)

Multilingual, Volume XI, No.2, Tahun 2012

210 mengidap mempunyai valensi dengan

nomina yang menyatakan kondisi tidak sehat. Verba mengidap berasal dari kata dasar idap yang berarti menderita sakit lama, selalu sakit-sakit. Dalam KBBI (2008:516) dinyatakan bahwa kata mengidap berarti menderita sakit lama, selalu sakit-sakit.

Verba menjangkitkan mempunyai valensi dengan nomina yang menyatakan kondisi tidak sehat. Verba menjangkitkan, berasal dari kata dasar jangkit yang berarti berjangkit. Dalam KBBI (2008: 565) dinyatakan bahwa kata menjangkitkan berarti menularkan (tentang penyakit).

Verba mengocong mempunyai valensi dengan nomina yang menyatakan kondisi tidak sehat. Verba mengocong, berasal dari kata dasar kocong yang berarti kain putih penutup kepala mayat (atau orang yang digantung) atau bungkusan yang panjang (diikat sebelah atau dua belah ujungnya). Dalam KBBI (2008: 711), kata mengocong berarti membungkus (mayat dsb).

Verba mengotopsi mempunyai valensi dengan nomina yang menyatakan kondisi tidak sehat. Verba mengotopsi berasal dari kata dasar otopsi (autopsi) pemeriksaan tubuh mayat dengan jalan pembedahan untuk mengetahui penyebab kematian, penyakit, dsb; bedah mayat. Dalam KBBI (2008:102) dinyatakan bahwa kata mengotopsi berarti melakukan autopsi.

4.11Verba yang Bervalensi dengan Nomina Makanan

Dalam bahasa Indonesia ditemukan sejumlah verba yang bervalensi dengan nomina makanan. Contoh: menggado, menumis, mengukus, dan menggoreng.

Verba menggado mempunyai valensi dengan nomina makanan. Verba menggado, berasal dari kata dasar gado yang berarti makan lauk-pauk tanpa nasi atau meratah. Dalam KBBI (2008: 403), kata menggado berarti memakan lauk pauk begitu saja (tentang daging, dsb) tidak dengan nasi; meratah.

Verba menumis mempunyai valensi dengan nomina makanan. Verba menumis, berasal dari kata dasar tumis yang berarti masakan (dari sayuran) yang digoreng dengan sedikit minyak. Dalam KBBI (2008: 1499), kata menumis berarti memasak (membuat) tumis.

Verba mengukus mempunyai valensi dengan nomina makanan. Verba mengukus, berasal dari kata dasar kukus yang berarti uap (asap air panas) di sekitar dan di atas titik didih air; air dalam bentuk uap. Dalam KBBI (2008: 752) dinyatakan bahwa kata mengukus berarti memasak (menanak dan sebagainya) dengan uap air yang mendidih, ia memanaskan barang cair (seperti air tapai) hingga menguap dan uapnya didinginkan sehingga menjadi cair kembali.

Verba menggoreng mempunyai valensi dengan nomina makanan. Verba menggoreng berasal dari kata dasar goreng yang berarti masak dengan minyak. Dalam KBBI (2008: 459) dinyatakan bahwa kata menggoreng berarti memasak kering-kering di wajan (kuali) dengan minyak.

4.12Verba yang Bervalensi dengan Nomina Suara

Dalam bahasa Indonesia ditemukan sejumlah verba yang bervalensi dengan nomina suara. Contoh: mengalunkan, mendendangkan, dan bergema. Verba

(14)

mengalunkan mempunyai valensi dengan nomina suara. Verba mengalunkan berasal dari kata dasar alun yang berarti gelombang yang memanjang dan bergulung-gulung, biasanya lebih kecil daripada ombak, tetapi lebih daripada riak. Dalam KBBI (2008: 45), kata mengalunkan berarti menyanyikan.

Verba mendendangkan mempunyai valensi dengan nomina suara. verba mendendangkan berasal dari kata dasar dendang yang berarti nyanyian ungkapan rasa senang , gembira. Dalam KBBI (2008: 311) dinyatakan bahwa kata mendendangkan berarti menyanyikan (untuk menyenangkan).

Verba bergema mempunyai valensi dengan nomina suara verba bergema berasal dari kata dasar gema yang berarti bunyi atau suara yang memantul; kumandang; gaung. Dalam KBBI (2008: 435), kata bergema berarti ada gemanya, bergaung, berkumandang.

4.13Verba yang Bervalensi dengan Nomina Tanah

Dalam bahasa Indonesia ditemukan sejumlah verba yang bervalensi dengan nomina tanah. Contoh: menggaru, mereklamasi, meluku, dan mencangkuli. Verba menggaru mempunyai valensi dengan nomina tanah. Verba menggaru berasal dari kata dasar garu berarti alat pertanian, bentuknya seperti sisir yang berfungsi meratakan atanh bajakan; penggaruk. Dalam KBBI (2008: 419), kata menggaruk berarti menyisir (meratakan) sawah yang sudah dibajak dengan garu; menggaruk.

Verba mereklamasi mempunyai valensi dengan nomina tanah. Verba mereklamasi berasal dari kata dasar

reklamasi berarti usaha memperluas tanah (pertanian) dengan memanfaatkan daerah yang semula tidak berguna (misal dengan cara menguruk daerah rawa-rawa). Dalam KBBI (2008: 1158) dinyatakan bahwa kata mereklamasi berarti membuka tanah untuk digarap (misal menjadi persawahan).

Verba meluku mempunyai valensi dengan nomina tanah. Verba meluku berasal dari kata dasar luku berarti bajak; tenggala. Dalam KBBI (2008: 846), kata meluku berarti membajak (sawah); menenggala.

Verba mencangkuli mempunyai valensi dengan nomina tanah. Verba mencangkuli berasal dari kata dasar cangkul berarti alat untuk menggali dan mengaduk tanah, dibuat dari lempeng besi dan diberi tangkai panjang untuk pegangan, pacul. Dalam KBBI (2008: 242 ) dinyatakan bahwa kata mencangkuli berarti mencangkul berkali-kali.

4.14 Verba yang Bervalensi dengan Nomina Tanaman

Dalam bahasa Indonesia ditemukan sejumlah verba yang bervalensi dengan nomina tanaman. Contoh: menyabit, meranggas, berkecambah, dan melayuk.

Verba menyabit mempunyai valensi dengan nomina tanaman. Verba menyabit berasal dari kata dasar sabit yang berarti alat memotong rumput, padi, dan sebagainya, berupa pisau bergagang, bentuknya melengkung. Dalam KBBI (2008: 1197), kata menyabit adalah memotong (rumput, padi, alang-alang dan sebagainya).

Verba meranggas mempunyai valensi dengan nomina tanaman. Verba meranggas berasal dari kata dasar ranggas

(15)

Multilingual, Volume XI, No.2, Tahun 2012

212 yang berarti tidak berdaun lagi, luruh

(kering)d aunnya. Dalam KBBI (2008:1140) dinyatakan bahwa kata meranggas berarti menjadi ranggas; menjadi kering dan luruh daunnya.

Verba berkecambah mempunyai valensi dengan nomina tanaman, Verba berkecambah berasal dari kata dasar kecambah yang berarti tumbuhan kecil yang baru tumbuh dari biji kacang-kacangan yang disemaikan. Dalam KBBI (2008: 643), kata berkecambah adalah mulai tum buh menjadi kecambah (tentang biji kacang-kacangan).

Verba melayuk mempunyai valensi dengan nomina tanaman. Dalam KBBI (2008:799) dinyatakan bahwa kata melayuk berarti meliuk (melayah) ke kiri kanan (tentang pohon).

4.15Verba yang Bervalensi dengan Kata-kata Tertentu

Dalam bahasa Indonesia ditemukan sejumlah verba yang ber valensi dengan kata-kata tertentu . Contoh: byar pet, afdruk, membredel, dan mendedel.

Verba byar pet mempunyai valensi dengan kata-kata tertentu, khususnya lampu listrik. Verba byar pet mengacu pada kata biarpet., Dalam KBBI (2008:186), kata biarpet berarti menyala dan padam secara berulang-ulang (tentang lampu).

Verba afdruk mempunyai valensi dengan kata-kata tertentu, khususnya film. Verba afdruk berarti hasil mencetak film. Dalam KBBI (2008: 14) dinyatakan bahwa kata mengafdruk berarti mencetak film.

Verba membredel mempunyai valensi dengan kata-kata tertentu, khususnya media cetak, seperti koran dan majalah.. Verba membredel berasal dari kata dasar bredel mengacu pada kata beredel yang berarti tutup; cabut (tentang pers). Dalam KBBI (2008:177), kata memberedel berarti menghentikan penerbitan dan peredaran (suratkabar, majalah, dan sebagainya) secara paksa; memberangus.

Verba mendedel mempunyai valensi dengan kata-kata tertentu, khususnya jahitan dan kelim. Verba mendedel berasal dari kata dasar dedel yang berarti retas (jahitan, kelim, dan sebgainya). Dalam KBBI (2008:302), kata mendedel berarti meretas.

5. Simpulan

Verba yang beragumen khusus dalam bahasa Indonesia, argumennya dapat mengisi objek, subjek, dan pelengkap. Sedangkan fungsi yang diisi oleh verba yang beragumen khusus adalah predikat. Dari sisi letak, fungsi dari argumen khusus yang terletak di sebelah kanan verba adalah fungsi objek dan pelengkap.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdiknas dan Balai Pustaka.

Aritonang, Buha dkk. 2000. Verba dan pemakaiannya dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.

(16)

Kaswanti Purwo, Bambang. 1989. “Tata Bahasa Kasus dan Valensi Verba” dalam majalah PELLBA 2. Yogyakarta: Kanisius.

Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia. ---. 1990. Kelas kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.

---. 2002. Struktur, Kategori dan Fungsi dalam Teori Sintaksis. Jakarta: Universitas Katolik Indonesia Atmajaya.

Krismantari, Bernadeta Widi. 1994. “Verba Bervalensi dengan Nomina Khusus dalam bahasa Indonesia.” Skripsi S1 Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Ramlan, M. 1987. Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis. Yogyakarta: CV karyono.

Subroto, Edi. 2007. Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural. Surakarta: lembaga pengembangan Pendidikan (LPP) dan UPT penerbitan dan Pencetakan UNS (UNS Press).

Sudaryanto. 1983. Predikat Objek dalam Bahasa Indonesia Keselarasan Pola Urutan. Jakarta: Djambatan.

Referensi

Dokumen terkait

Dari perencanaan kebutuhan tersebut dapat digambarkan secara umum sistem yang akan dibuat dengan menggunakan UML, UML yang digunakan adalah UML versi 1.1 dimana

(1) Semua pegawai Perusahaan, termasuk anggota Direksi, dalam kedudukan selaku demikian, yang tidak dibebani tugas penyimpanan uang, surat berharga dan barang-barang

beberapa gejala yang merupakan indikator konsep diri negatif yang banyak muncul pada diri siswa dengan adalah indikator peka terhadap kritik/ mudah marah ketika dikritik,

pembangunan. Kabupaten Probolinggo terletak di lereng gunung-gunung yang membujur dari Barat ke Timur, yakni Pegunungan Tengger, Gunung Lamongan dan Gunung Argopuro.

Survei penelitian Perse dan Dunn (1995) dalam (Severin dan Tankard 2007:362) menyebutkan tentang surveinya mengenai penggunaan komputer adalah untuk berkomunikasi dengan orang

Penelitian terdahulu menggunakan variable independen yaitu praktik TQM dan variable dependen budaya kualitas, daya saing perusahaan dan kinerja perusahaan, sedangkan pada

445/MenKes/Permenkes/1998 adalah sebagai  berikut: “ Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang siap untuk digunakan  pada bagian luar badan (epidermis, rambut,

Berikutan daripada kenyataan-kenyatan di atas ini, kajian ini dilakukan dan satu rekabentuk telah dicadangkan untuk disesuaikan dengan keperluan cara makan dan jenis