Desentralisasi atau
Resentralisasi ?
Arah Politik Pemerintahan UU NO 23/2014
Oleh: Ari Darmastuti
1Pengantar
Pengelolaan pemerintahan daerah di Indonesia telah mengalami pasang surut sejarah yang panjang, dimulai sejak awal kemerdekaan (Undang-Undang nomor 22/1948) sampai saat ini (Undang-Undang nomor 23/2014), dengan berbagai sifat pengaturan yang berbeda-beda. Perbedaan sifat pengaturan pemerintahan daerah tersebut sangat tergantung pada arah politik pemerintahan yang dibentuk, yaitu arah yang ingin memberi keleluasaan gerak kepada unit pemerintahan di tingkat bawah atau justru pengelolaan pemerintahan sentralistis dan seragam pada tingkat bawah. Masalah arah politik pengaturan pemerintahan daerah ini telah menjadi pokok pangkal “keributan” yang tidak ada habisnya dalam sejarah otonomi daerah di Indonesia.
Secara alamiah pemerintah daerah tentu menginginkan wewenang dan sumberdaya yang cukup untuk dapat melaksanakan fungsi-fungsi yang mesti diembannya, tetapi pemerintah pusat secara alamiah memliki kecenderungan untuk memiliki kewenangan yang agar dapat leluasa melaksanakan keinginan strategis untuk kepentingan bangsa. Dalam beberapa diskusi dan debat akademik yang penulis hadiri dan ikuti, keinginan pemerintah pusat untuk memiliki kewenangan cukup tersebut khususnya dinilai lebih didorong oleh apa yang oleh Nordholt dan Klinken dinyatakan bahwa reformasi di Indonesia telah menyebabkan runtuhnya otoritarianisme digantikan pemerintahan demokratis, tetapi juga telah mengakibatkan hilangnya ketertiban digantikan ketidaktertiban . Dengan alasan 2 bahwa otonomi daerah telah menghasilkan “raja-raja kecil di daerah” serta munculnya ketidakpatuhan kabupaten/kota terhadap pemerintah pusat dan pemerintah provinsi, kelihatannya undang-undang terbaru tentang pemerintahan
Ketua Program Studi dan dosen Magister Ilmu Pemerintahan, FISIP, Universitas Lampung 1
Henk Schulte Nordhold dan Geryy van Klynken. Renegotiating Boundaries: Local Politics 2
daerah meletakkan kembali dasar-dasar sentralisme dalam pengaturan tentang pemerintahan daerah di Indonesia.
Paper pendek ini merupakan analisis singkat dan kritis tentang arah politik pemerintahan di Indonesia versi Undang-Undang nomor 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah. Secara khusus paper ini menyoroti beberapa aspek penting dalam pertimbangan filosofis, dalam konsep serta beberapa pasal kritis dalam batang tubuh UU terbaru. Paper diakhiri dengan simpulan pendek serta solusi yang mungkin diambil guna perbaikan substansi pengaturan pemerintahan di Indonesia di masa yang akan datang.
Hilangnya Semangat Otonomi dalam UU 23/2014
Penulis mencatat bahwa semangat otonomi daerah telah hilang dalam pertimbangan filosofis munculnya Undang-Undang nomor 23/4014. Dalam dasar pertimbangan Undang-Undang, prinsip otonomi daerah (nyata dan bertanggung-jawab versi UU 5/1974 maupun otonomi luas versi UU 22/1999) tidak disebutkan atau hilang dalam pertimbangan UU. Karena prinsip otonomi sama sekali tidak disebut dalam pertimbangan UU, maka penyebutan Daerah Otonom menjadi tidak memiliki dasar filosofis karena otonomi daerah bukan prinsip yang menjadi dasar pengaturan pemerintahan daerah. Pernyataan bahwa urusan konkurenlah yang menjadi dasar hak otonomi daerah tidaklah kuat karena bukan urusan yang menentukan otonomi, tetapi jenis otonomi daerahlah yang menjadi dasar apakah daerah memiliki wewenang yang sungguh otonom atau tidak. Apalagi urusan konkuren sendiri sudah ditentukan dengan rinci dalam UU, hal ini semakin memberi indikasi kuat tentang arah dihilangkannya otonomi daerah dalam UU ini.
Hilangnya semangat otonomi dalam Undang-Undang nomor 23/2014 sangat mengherankan karena setelah sentralisme model orde baru dinilai gagal menyelesaikan isu ketidakadilan antara Timur dan Barat, antara Jawa dan luar
Jawa, maka otonomi luas di tingkat kabupaten/kota dinilai lebih sesuai dengan tuntutan keadilan pembangunan. Peletakan kewenangan besar di tingkat Pusat dan provinsi justru membuat model pemerintahan daerah semakin jauh dari idealisme memberikan pelayanan yang lebih dekat kepada masyarakat. Bagaimana kabupaten/kota akan dapat memberikan pelayanan jika sumberdaya dikuasai Pusat dan Daerah? Hilangnya otonomi di tingkat kabupaten/kota juga akan memberi potensi besar terhadap gagalnya pengelolaan pemerintahan desa karena kabupaten/kota tidak akan memiliki sumberdaya memadai untuk bisa mengkoordinir dan melaksanakan fungsinya secara memadai untuk mengawasi pelaksanaan UU Desa.
Selain hilangnya semangat otonomi dalam pengaturan pemerintahan daerah dalam UU ini, penulis mencatat aspek lain yang cukup ganjil dari dasar penggantian UU 32/2004. Dalam dasar pertimbangan disebutkan bahwa UU nomor 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah dinilai tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan, ketatanegaraan, dan tuntutan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Perlu dikemukakan bahwa belum pernah ada debat akademis yang serus tentang kelemahan UU 32/2004, khususnya menyangkut prinsip otonomi daerah di Indonesia. Satu-satunya hal yang menjadi debat publik yang cukup serius adalah diperlukannya secara tegas pemisahan pengaturan pemerintahan daerah, pemerintahan desa dan Pilkada. Terlihat UU 23/2014 justru menguatkan keinginan politik kelompok tertentu di parlemen yang ingin menguasai proses pilkada agar hasilnya seragam dengan kehendak koalisi di DPR. Dengan keyakinan bahwa koalisi tertentu akan menguasai pilkada maka kemudian kemudian terjadi rekayasa lebih lanjut untuk mengatur agar sistim pemerintahan daerah kembali mengarah ke sentralisasi dengan melemahkan azas otonomi daerah yang luas menjadi azas otonomi terbatas.
Hilangnya semangat otonomi bukan hanya bahwa otonomi daerah tidak disebutkan dalam dasar pertimbangan, tetapi juga dalam ketentuan umum Pasal 1 (12) yang mengemukakakn konsepsi Daerah Otononom sebagai “kesatuan masyarakat hukum
yang...berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan
kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi
masyarakat dalam sistim NKRI.” Terdapat perubahan cukup signifikan dari mengatur dan mengurus urusan rumah-tangganya sendiri menjadi mengatur dan mengurus urusan pemerintahan. Hal ini menunjukkan bahwa daerah kehilangan independensi “rumah tangga” dan aspek kekuasaan dalam rumah tangga, menjadi sebatas “urusan pemerintahan”. Daerah otonom bukan unit otonom lagi (baik provinsi maupun kabupaten/kota) tetapi menjadi sekedar berwenang mengatur urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat.
Hilangnya semangat otonomi juga terlihat lebih lanjut dalam pengaturan tentang azas. Azas otonomi tidak disebutkan sama sekali; dan dalam ketentuan tentang azas, yang ada hanyalah azas penyelenggaraan urusan pemerintahan (pasal 5 ayat (4)). Dalam pasal ini disebutkan dengan jelas bahwa penyelenggaraan Urusan Pemerintahan dilaksanakan dengan azas Desentralisasi, Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Sebagaimana diketahui bahwa Undang-Undang ini telah mengatur dengan rigid apa saja Urusan Pemerintahan konkuren yang dilaksanakan bersama antara Pemerintah Pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota. Penyebutan 5 (lima) urusan strategis nasional (agama, hukum, luarnegri, pertahanan keamanan dan keuangan) sebagai urusan “absolut” justru menjadi dasar bagi “kecurigaan” penulis bahwa kemudian istilah strategis digunakan sebagai argumen bagi penguasaan sumberdaya yang selama ini telah diserahkan kepada daerah untuk pembiayaan pelaksanaan urusan otonomi.
Ketentuan lain yang cukup membingungkan dalam pengaturan pemerintahan daerah dalam Undang-Undang ini adalah bahwa untuk melaksanakan pemerintahan daerah, Pemerintah Pusat menetapkan kebijakan sebagai dasar dalam menyelenggarakan Urusan Pemerintahan. Dalam penjelasan pasal tentang hal ini, kebijakan disebutkan bahwa yang dimaksud kebijakan adalah pedoman penyelenggaraan urusan konkuren baik yang untuk kewenangan Pemerintah Pusat maupun Daerah. Meski demikian, tidak jelas apa yang dimaksud sebagai pedoman
tersebut karena tidak disebutkan lebih lanjut, apakah berupa Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, peraturan Menteri, atau yang lainnya. Dalam Undang-Undang sebelumnya hal ini disebutkan dengan jelas. Ketidakjelasan justru dapat menimbulkan spekulasi yang merugikan untuk kepastian pengaturan hubungan kewenangan dan keuangan antara Pusat dan daerah.
“Skenario” lebih lanjut bagi hilangnya semangat otonomi daerah dalam Undang-Undang ini adalah ketentuan dalam Pembagian urusan antara Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah. Dalam Undang-Undang disebutkan terdapat tiga jenis urusan, yaitu absolut, konkuren dan pemerintahan umum. Dalam ketentuan tentang apa yang menjadi urusan Pemerintahan Pusat, provinsi dan kabupaten, maka jelas daerah akan kehilangan kontrol sama sekali atas sumberdaya yang berada dalam posisi “lintas daerah”. Semua sumberdaya atau masalah yang bersifat “lintas daerah” menjadi kewenangan sepenuhnya tingkat pemerintahan di atasnya. Sepintas pengaturan seperti ini terlihat ideal. Tetapi pada periode sebelumnya dan saat ini, daerah justru sering diminta pertanggung-jawaban dan dinilai tidak bertanggung-jawab terhadap masalah yang sebenarnya bukan kewenangannya, tetapi terjadi di daerahnya. Hal ini merupakan konsekuensi dari kondisi yang menunjukkan bahwa tidak ada urusan yang sama sekali tidak menyangkut kabupaten/kota atau provinsi karena daerahlah yang menjadi lokasi dari setiap urusan dan masalah. Menghilangkan sama sekali daerah di tingkat bawah dalam urusan yang bersifat lintas daerah justru akan menghiangkan semangat kebersamaan dalam penyelesaian urusan yang membutuhkan koordinasi vertikal.
Hal yang paling kontroversial dalam pengaturan Undang-Undang ini yang menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan sentralisme adalah pengaturan urusan bidang kehutanan, kelautan dan energi dan sumberdaya mineral. Ketiga urusan ini dibagi menjadi urusan Pusat dan Provinsi (Pasal 14 UU 23/2014). Pengaturan seperti ini bertentangan dengan prinsip pengaturan urusan sebelumnya yang menyatakan bahwa sumberdaya dan masalah yang diurus Pusat dan Provinsi
adalah urusan yang bersifat lintas provinsi atau lintas kabupaten. Prinsip urusan pemerintahan itu dianulir sendiri oleh pembuat Undang-Undang dalam ketentuan Pasal 14. Bagaimana dengan sumberdaya kelautan, perikanan dan energi dan sumberdaya mineral yang hanya ada dalam satu kabupaten? Bagaimana dengan hak masyarakat kabupaten/kota bersangkutan?
“Penyeragaman urusan” pemerintahan daerah eperti formula yang digariskan dalam Undang-Undang ini juga tidak sesuai dengan kemampuan daerah yang secara nyata berbeda satu dengan lainnya. Riset penulis menunjukkan bahwa kemampuan daerah untuk melaksanakan fungsi lintas sektor dalam satu wilayah provinsi sangat berbeda satu sama lain . Untuk itu dibutuhkan formula pengaturan 3 urusan yang lebih mengakomodir perbedaan kemampuan antar daerah, bukan formula yang seragam.
Penutup
Osborne dan Gaebler menyatakan bahwa pemerintah harus mampu melaksanakan 4 10 prinsip entrepreneurial spirit. Sementara itu World Bank dalam Laporan 5
Pembangunan tahun 1997 menyatakan bahwa pemerintah memiliki fungsi-fungsi:
(1) meletakkan dasar-dasar hukum; (2) melakukan investasi di bidang pelayanan sosial dan infrastruktur; (3) mengadakan kebijakan yang kukuh; (4) melindungi yang lemah; (5) melindungi lingkungan hidup. Sedangkan J.E. Anderson , 1989, 6 menyatakan bahwa fungsi pemerintah ada 7 (tujuh) yaitu: ( 1) menyediakan
Ari Darmastuti. 2014. Local Autonomy and Inter-Sector Performance Based Government in Lampung 3
Province. Journal of Government and Politics. Volume 5 Number 2 August 2014
David Osborne dan Ted Gaebler. 1992. Reinventing Government. Addison-Wesley Publishing Co 4
World Bank. Laporan Pembangunan 1997. 5
Budi Setiyono. 2005. Birokrasi dalam Perspektif Politik dan Administrasi. Semarang: Pusat Kajian 6
infrastruktur sosial; (2) menyediakan barang dan jasa kolektif; (3) menyelesaikan konflik antar anggota masyarakat; (4) menjaga iklim persaingan; (5) melindungi lingkungan hidup; (6) menyediakan akses minimum kepada individu terhadap barang dan jasa; (7) menstabilkan ekonomi.
Bagaimana pemerintah akan dapat melaksanakan semua fungsi dan kewajibannya? Jawabannya jelas, bahwa pemerintah harus memiliki sumberdaya yang memadai untuk itu. Ketika suatu daerah, dalam Undang-Undang lebih tepatnya kabupaten/ kota, kehilangan kewenangan atas sumberdaya, maka jelas bahwa daerah tidak akan dapat melaksanakan semua fungsi dan kewajibannya. Sungguh ironis bahwa pembuat Undang-Undang menghilangkan semangat otonomi daerah dan keadilan pembangunan, suatu langkah mundur dari semangat reformasi.
Daftar Pustaka
Anderson. J. E. 1989.
Darmastuti, Ari. 2014. Local Autonomy and Inter-sector Performance Based Governance in Lampung Province. Journal of Government and Politics. Volume 5 Number 2, August 2014.
Nordhold, Henk Schulte, dan Geryy van Klynken. 2007. Renegotiating
Boundaries: Local Politics in Post Suharto Indonesia. Leiden: KTILV Press.
Osborne, David dan Ted Gaebler. 1992. Reinventing Government. Addison-Wesley Publishing Co
Setiyono, Budi. 2005. Birokrasi dalam Perspektif Politik dan Administrasi. Semarang: Pusat Kajian Otonomi Daerah dan Kebijakan Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro
PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH DALAM PERSPEKTIF UU No. 23 TAHUN 2014 ) 7
Oleh Syarief Makhya ) 8
UU No.23 Tahun 20149) tentang Pemerintahan Daerah secara resmi diberlakukan sejak Bulan Oktober 2014, menggantikan UU 32 tahun 2004. Sejak disyahkan UU No.23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah nyaris UU ini tidak banyak dikritisi atau dibicarakan oleh para praktisi dan akademisi pemerintahan tentang hal-hal yang baru dalam praktek berpemerintahan, seakan-akan tidak ada yang baru atau bahkan nyaris tidak ada isu yang layak untuk diperbicangkan.
Jika ditilik dari latar belakang munculnya UU Pemda yang baru ini, maka sebenaranya lahirnya UU tersebut bukan produk dari problem penyelenggaraan pemerintahan yang mendasar, karena tidak ada isu subtanstif di era UU No.32/ 2004 yang mencuat untuk diperbincangkan, tetapi lebih disebabkan alasan ketidaksesuaian UU Nomor 32 Tahun 2004 dengan perkembangan keadaan, ketatanegaraan, dan tuntutan penyelenggaraan pemerintahan daerah.
UU No.5/1974 bisa bertahan selama 25 tahun, UU No.22/1999 efektifnya hanya berjalan 3 tahun, dan UU 32/2004 hanya berlangsung selama 10 tahun untuk kemudian diganti dengan UU 23/2014. Perubahan tersebut cenderung akibat dari
) Disampaikan Pada Semnas tentang UU Pemerintahan Daerah : Solusi atau Masalah Baru, yang
7
diselenggarakkan, Lab Politik Lokal dan Otda Jur ilmu Pemerintahan, Pascasarjana MIP FISIP Unila dan APAKSI Korwil Lampung, Kamis 30 April 2015 di Universitas Lampung.
) Pengajar Program Pascasarjana Magister Ilmu Pemerintahan (MIP) FISIP Universitas Lampung
8
) UU No.23 Tahun 2014, ada perubahan yaitu dengan dikeluarkannya UU No.2 Tahun 2015 tentang Penetapan
9
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No. 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah menjadi UU. Dalam UU No.2 tahun 2015 hanya Pasal 101 dan pasal 154
dinamika perubahan politik yang terjadi di pemerintah Pusat. Jadi, secara hipotesis UU No.23/2014 juga bukan produk perubahan UU pemda yang final, potensi untuk berubah juga terbuka lebar tergantung pada dinamika dan tarik menarik kepentingan politik di pemerintah pusat. Artinya, Indonesia sesunggunya belum memiliki model ideal dalam mengatur proses penyelenggaraan pemerintahan di Daerah untuk kepentingan jangka panjang.
Visi pemerintahan yang ingin dibangun dalam UU No.23 tahun 2014, yaitu dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah ditujukan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat, melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah. Sementara, prinsip yang dibangun dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yaitu demokrasi, pemerataan, keadilan dan kekhasan daerah dalam sistem NKRI (lihat konsideran UU No.23/2014).
Namun, pertanyaan yang layak untuk diajukan, apakah visi tersebut bisa diwujudkan? Sebagian jawaban atas pertanyaan ini secara normatif akan bisa dilihat dari subtansi UU No.23/2014, apakah bisa menjawab dan memberikan solusi terhadap problem implementasi otonomi daerah sekarang ini, atau justru menimbulkan persoalan baru?
Telaah UU No. 23 Tahun 2014
Secara umum UU No. 23 Tahun2014 yang terdiri atas 411 pasal, jika dibandingan dengan tiga UU sebelumnya (UU No.5 Tahun 1974, UU No.22 tahun 1999 dan UU No. 32 tahun 2004), UU ini jauh lebih komprehensif, rinci dan ada terobosan baru dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Dalam tulisan ini sebagian dari potret penyelenggaraan pemerintahan daerah, akan ditelaah dari (a) Relasi Kekuasaan Kepala Daerah dengan DPRD, (b) Distribusi Kewenangan, (c) Kebijakan Perencanaan Pembangunan, (d) inovasi daerah (e) Akses Publik, (e) Pemerintahan umum.
(a) Relasi Kekuasaan
Jika dipertanyakan lembaga mana yang memiliki kewenangan untuk mengontrol proses penyelenggaraan pemerintahan daerah? Jawabannya secara konstitutional adalah DPRD. Namun, bagaimana meletakan fungsi pengawasan ini dalam konstruksi penyelenggaraan pemerintahan. Dalam UU No. 23 Tahun 2014 tidak ada perubahan yang berarti atau hampir sama dengan kontruksi yang diatur dalam UU No.32 Tahun 2004 yaitu Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah terdiri atas kepala daerah dan DPRD dibantu perangkat daerah. Implikasi dari kontruski penyelenggaraan seperti tersebut yaitu fenomena kekuasaan menjadi terintegratif. DPRD diletakan sebagai mitranya pemerintah daerah, sehingga model yang dikembangkan adalah hubungan kerjasama, mengurangi konflik dan mengedepankan legitimasi formal. Akibatnya, fungsi kontrol DPRD terhadap jalannya pemerintah tereduksi dan tidak efektif.
(b) Distribusi Kewenangan
Dalam UU no 23 tahun 2014, urusan pemerintahan dibagi atas urusan absolut yang diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat, urusan pemerintahan umum, dan Urusan pemerintahan konkuren yang dibagi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Urusan pemerintahan absolut adalah Urusan Pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah Pusat. Urusan pemerintahan konkuren adalah Urusan Pemerintahan yang dibagi antara Pemerintah Pusat dan Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota. Urusan pemerintahan umum adalah Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Presiden sebagai kepala pemerintahan.
Untuk urusan konkuren atau urusan pemerintahan yang dibagi antara Pemerintah Pusat dan Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota dibagi menjadi urusan pemerintahan wajib dan urusan pemerintahan pilihan. Urusan Pemerintahan Wajib adalah Urusan Pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh semua Daerah. Sedangkan Urusan Pemerintahan Pilihan adalah Urusan Pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh Daerah sesuai dengan potensi
yang dimiliki Daerah. Urusan pemerintah wajib yang diselenggaraan oleh pemerintah daerah terbagi menjadi Urusan Pemerintahan yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar dan Urusan Pemerintahan yang tidak berkaitan dengan Pelayanan Dasar.
Esensi dari penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur berdasarkan distribusi kewenangan tersebut adalah untuk merealisasikan fungsi – fungsi pemerintahan di bidang pelayanan publik, pembangunan dan pemberdayaan, dan keamanan,. Pelaksanaan fungsi itu membutuhkan kejelasan kewenangan yang memadai dan dukungan anggaran yang maksimal. Oleh karena itu, pada tataran implementasinya distribusi kewenangan membawa konsekuensi tidak hanya menyangkut sumber pendanaannya tetapi juga terkait dengan sumber pemasukan bagi pendapatan daerah. Penyerahan kewenangan yang tidak menghasilkan sumber PAD, maka harus dibebankan pada pemerintah daerah yang menjadi tanggunjawabnya melalui pendanaan APBD, sebaliknya kewenangan yang mempunyai dampak terhadap sumber pendapatan PAD akan memberi kontribusi bagi peningkatan APBD.
Hasil penelitian yang dilakukan DPD RI (2011:36) urusan yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan rakyat yaitu sektor pertambangan, perikanan, pertanian, perkebuhan, kehutanan dan parawisata. Dalam UU No.23 Tahun 2014, beberapa urusan tersebut yang selama ini dikelola oleh Kabupaten/Kota seperti pertambangan, pendidikan menengah, dan kehutanan sekarang menjadi urusan Pemerintah Provinsi. Pengambilalihan kewenangan tersebut akan memberi dampak yang tidak menguntungkan bagi pemerintah kabupaten/kota seperti berkurangannya PAD.
Keberadaan pemerintah Provinsi, seharusnya lebih diarahkan pada peran, koordinasi, fasilitatif, insentif dan pemberdayaan bukan melakukan peran secara langsung khususnya dalam pemberian pelayanan publik dan pembangunan, kecuali yang sifatnya lintas Kabupaten/Kota; karena pelayanan
publik sebagian besar berada di kabupaten/kota, maka kabupaten/kota dibutuhkan kewenangan strategis dan sumber anggaraan yang memadai.
Distribusi kewenangan harus dipertimbangkan aspek kelayakan implementasinya dan dampaknya serta memberi jaminan untuk bisa berfungsinya penyelenggaraan pemerintahan secara optimal; Isu pokoknya yang harus dikedepankan adalah persoalan distribusi alokasi sumber daya. Persoalan ini lah yang sebenarnya menjadi sumber konflik kepentingan.
Sebagai pendukung alasan tersebut yaitu anggaran sekarang ini hampir 70 % ada di Pusat, dan 30 % di Daerah. Distribusi anggaran pusat ke daerah 10 dilakukan melalaui DAU, DBH dan DAK. Secara teknis pembagian distribusi itu tidak dilakukan dalam sistem manajemen yang transparan dan adil, akses untuk memperoleh dana tersebut, harus dilakukan melalui loby atau memiliki akses dengan pejabat di pemerintah pusat.
Dari aspek manajemen pemerintahan, penyelenggaraan pemerintahan bukan hanya sebatas pada tercapainya efisiensi atau efektivitas pemerintahan, tetapi juga harus mengedepankan aspek pemerataan pembangunan. Oleh karena itu penumpukan anggaran di Pusat dan distribusi anggarannya harus dievaluasi dan diarahkan pada pencapaian pemerataan pembangunan.
(c) Kebijakan Perencanaan Pembangunan,
Dalam UU No. 23 Tahun 2014, kebijakan ini diatur dalam Pembangunan Daerah (Bab X). Kebijakan perencanaan pembangunan yang diatur dalam Bab X UU 23/2014 tersebut, merupakan bentuk penyempurnaan dari kebijakan yang diatur dalam UU 32/2004. Dalam bab ini, perencanaan disusun secara sistematis, dalam RPJPD, RPJMD, RKPD. Dalam dokumen perencanaan tersebut
) Data ini bersumber dari Surat Bupati Aceh Tengah Kepada Presiden tentang Masukan UU No.23 tahun 10
khususnya RPJMD harus merupakan penjabaran visi, misi, dan program kepala daerah. Ini menunjukkan bahwa isu kepentingan publik dipersepsikan oleh kepentingan politik yang bersifat personal. Pengalaman sejauh ini, pengaruh kepentingan kepala daerah sangat dominan dalam mengimplementasikan kebijakan perencanaan pembangunan dan seringkali kesinambungannya tidak terjaga serta juga bertolak belakang dengan kepentungan publik yang dipersepsikan oleh masyarakat luas (kepentingan publik yang pluralistik).
(d)UU 23 Tahun 2014, memberi naunsa baru yaitu yaitu adanya pasal khusus yang mengatur tentang inovasi daerah (Bab XXI, Pasal 386 sd 390). Dengan adanya ketentuan ini, maka setiap daerah bisa melakukan terobosan kebijakan sesuai dengan inovasi yang dikembangkan di daerahnya; daerah bisa melakukan inisiatif untuk membuat kebijakan yang inovatif, tanpa harus menunggu persetujuan atau restu dari pemerintah pusat. Ketentuan ini adalah wujud dari kebijakan desentralisasi a simetris. Dengan adanya ketentuan pasal ini, maka tidak ada alasan bagai pejabat di daerah untuk melakukan inisiatif untuk menjalankan sebuah perubahan di daerahnya serta tidak perlu khawatir terjerat dalam masalah hukum.
(e) Akses Publik
Hampir sama dengan UU 32/2004, UU Pemerintahan Daerah yang baru pun membuka akses publik dalam proses penyelenggaraan pemerintahan. Regulasi akses publik dalam UU 23 Tahun 2014, diatur dalam Bab XIV tentang partisipasi masyarakat dan Bab XXI tentang Informasi Pemerintahan Daerah. Adanya Partisipasi publik dan Informasi Publik menegaskan bahwa pemerintah harus memberi ruang bagi publik dalam proses pembuatan kebijakan, mengontrol dan mengevaluasi kebijakan, serta pemerintah dituntut untuk terbuka, sehingga informasi harus bisa diakses oleh publik.
Namun, ketentuan peranserta publik dan keterbukaan informasi publik cenderung hanya kebijakan simbolik yang tidak memiliki kekuatan memaksa, sehingga praktis tidak terimplementasikan secara optimal, karena masih kuatnya dominasi peran pemerintah.
e. Pemerintahan Umum
UU ini juga sebagian mengembalikan warisan UU No.5/1974 dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, seperti pembentukan Forkominda, memperkuat peran gubernur dalam kapasitas sebagai kepala wilayah (pasal 91-94), dan memfungsionalisasikan kembali urusan pemerintahan umum oleh Kecamatan (pasal 225)
Penguatan Gubernur sebagai Pusat harus diterjemahkan sebagai bentuk intervensi positif yaitu memberi jaminan untuk kepentingan (a) terlaksananya urusan pemerintahan umum (b) memfasilitasi dan mendistribusi sumberdaya secara adil bagi kepetingan kabupaten/kota; (c) berperan aktif dan terlibat dalam proses pemecahan masalah yang dihadapi kabupaten/kota.
Simpulan
Efektif tidaknya penyelenggaraan pemerintahan prinsipnya ditentukan oleh sistem dan kapasitas kepemimpinan kepala daerah. UU 23/2014, adalah sebuah sistem untuk mengatur penyelenggaraan pemerintahan. Dalam prakteknya implementasi UU Pemda sebagaimana terjadi selama ini, ada problem implementasi yaitu ada subtansi regulasi yang hanya sebatas` simbolik dan tidak bisa terimplementasikan karena faktor lemahnya kekuatan pemaksa dan terjadi perebutan kepentingan dikalangan elit politik dan pemerintahan yang tidak bisa dikontrol serta terbatasnya sumber anggaran.
UU No. 23 Tahun 2014, yang ingin membangun pemerintahan yang demokratis, secara hipotesis sulit untuk diwujudkan karena pengelolaan kekuasaan tidak diatur secara tepat yaitu bagaimana agar penyelenggaraan pemerintahan itu bisa dikontrol secara efektif. Sementara isu pokok yang terkait dengan distribusi alokasi sumber daya, sebagai isu pokok untuk penyelenggaraan pelayanan publik dan pembangunan di daerah, masih belum diatur untuk menjamin pemerataan dan keadilan pembangunan di daerah-daerah terutama yang berada di luar Jawa.
DAFTAR PUSTAKA
DPD.RI. 2011. Desain Pola Hubungan Kewenangan Kabupaten/Kota dengan
Provinsi, Sekertariat Jendral DPD RI. Jakarta
UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2014:
PEMERINTAHAN DAERAH YANG EFEKTIF-EFISIEN DAN RESENTRALISASI Hertanto
Pengajar Jurusan Ilmu Pemerintahan dan Magister Ilmu Pemerintahan FISIP UNILA
PENDAHULUAN
Undang-undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, yang telah dirubah oleh UU No. 9 tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah, merupakan UU yang ketiga pada pemerintahan periode reformasi. Sebelumnya ada UU No. 22 tahun 1999 dan UU No. 32 tahun 2004.
Selama kurun 1999-2014 itu, praktik desentralisasi dan otonomi daerah di era Reformasi sudah berjalan selama satu dasawarsa lebih. Setelah tiga dekade sebelumnya terbiasa diatur dan diperintah dari pusat (Jakarta), kini, daerah memiliki kewenangan jauh lebih besar. Banyak hal sudah terjadi. Beberapa kepala daerah bekerja secara kreatif dan banyak melakukan inovasi kebijakan. Mereka mampu menerbitkan kemakmuran di daerah masing-masing. Namun, cukup banyak juga kepala daerah yang kurang atau bahkan tidak berhasil menyejahterakan rakyatnya. Mereka justru terperangkap dalam pusaran kekuasaan. Pusat-pusat kekuasaan yang telah menyebar memang menghadirkan sejumlah komplikasi. Di antaranya, hubungan birokrasi dan pembagian wewenang pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta kompetensi sumber daya manusia yang tidak sama antara satu daerah dengan daerah lain. Kekuasaan yang berhimpun di tangan elite yang dipilih secara langsung juga memunculkan masalah tersendiri. Dinamika politik lokal itu bagaikan pisau bermata dua: menguntungkan bila elite politik berpihak sepenuhnya pada kepentingan publik dan mencederai rakyat kalau mereka membangun "kartel" dengan lebih mengutamakan kepentingan kelompok (Prisma, Juli 2010: 74).
Sehingga, tujuan desentralisasi dan otonomi daerah untuk meningkatkan layanan publik dan kesejahteraan rakyat, merupakan dua persoalan yang hingga sekarang masih terlihat sangat mahal kendati daerah sudah diberi kewenangan cukup besar.
UU Nomor 23 tahun 2014 dilahirkan dari latar persoalan-persoalan di atas. Untuk itu, menurut mantan Mendagri Gamawan Fauzi diperlukan adanya paradigma kewenangan daerah yang efektif dan efisien (Prisma, Juli 2010: 74). Ini yang antara lain memunculkan Pasal 14 ayat (1), dimana “penyelenggaraan urusan pemerintahan bidang kehutanan, kelautan, serta energi dan sumber daya mineral dibagi antara pemerintah pusat dan daerah provinsi”.
Ada dua dua sudut pandang yang hampir sama dari segi praktek pemerintahan yang berjalan dan seting kebijakan desentralisasi dan otonomi yang diterapkan. Dua-duanya, beranggapan karena berbagai pertimbangan, maka kebijakan sentralisasi kerap menjadi pilihan utama dalam mengatasi masalah hubungan pusat dan daerah di Indonesia.
Pemerintahan yang Efektif dan Efisien
Menurut Gamawan Fauzi (2010: 75), desentralisasi dalam negara kesatuan diberikan oleh pusat kepada daerah. Bila empunya wewenang minta pertanggungjawaban, maka daerah yang diberi mandat seharusnya bertanggung jawab. Tetapi terkadang seorang bupati diundang oleh gubernur (sebagai wakil pemerintah pusat) tidak mau datang. Bupati merasa itu sebagai haknya. Padahal, dia hanya menerima kewenangan yang telah diberikan.
Dengan demikian, menurut Gamawan, ke depan pola seperti ini akan dirubah. Jadi, penyerahan kewenangan tidak lagi berprinsip "luas, nyata, dan bertanggung
dan efisien bila diurus oleh pemerintah pusat atau provinsi atau kabupaten-kota. Jadi, kriterianya tidak lagi "luas, nyata, dan bertanggung jawab", tetapi efektif dan efisien. Hal strategis apa yang harus tetap dipegang pusat dan tidak diserahkan ke daerah.
Pandangan ini mewakili argumentasi pemerintah pusat yang mendesain berlakunya undang-undang tentang pemerintahan daerah saat ini.
Resentralisasi
Menurut beberapa pakar yang mewakili kalangan masyarakat, akar persoalan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia adalah, pertama, relasi kekuasaan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah di Indonesia lebih cenderung mengarah ke kutub sentralisasi daripada desentralisasi (Hidayat 2010: 17). Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 pada tingkat minimal mencoba menggeser pendulum sentralisasi ke kutub desentralisasi, namun UU No. 32/2004 justru cenderung mengembalikannya ke posisi semula (sentralisasi). Salah satu penyebab gerak balik pendulum desentralisasi tersebut adalah karena konsep desentralisasi yang diterapkan sejak awal kemerdekaan relatif tidak mengakomodasi perspektif desentralisasi politik (kewenangan) tetapi lebih berkiblat pada perspektif desentralisasi administrasi (urusan). Pada tingkat "pernyataan", sering dikemukakan bahwa kebijakan desentralisasi di Indonesia bertujuan untuk mempercepat proses demokratisasi di tingkat lokal, namun pada tingkat "kenyataan" wewenang yang diserahkan kepada daerah sangat dibatasi, dan kontrol pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah juga sangat ketat.
Kedua, realitas implementasi desentralisasi dan otonomi daerah juga menggambarkan fokus perhatian agenda reformasi yang berlangsung selama sepuluh tahun pertama (1999-2009) lebih banyak dicurahkan pada upaya memperbaiki dan membangun institusi negara (state institutional reform). Sementara upaya untuk membangun dan memperkuat kapasitas negara relatif belum mendapat perhatian yang memadai. Akibatnya, "kehadiran" negara dalam praktik kehidupan sehari-hari menjadi samar-samar atau bahkan "absen". Reformasi desentralisasi dan otonomi daerah yang berlangsung sepuluh tahun terakhir juga sebagai bagian dari state institutional reform minus state capacity. Karena itu, kehadiran desentralisasi dan otonomi daerah terlihat "sangat nyata" dalam bentuk institusi, tetapi "tidak kentara" dalam fungsi. Desentralisasi dan otonomi daerah juga "sangat nyata" hadir dengan kemasan demokrasi, namun "roh" yang terkandung di dalamnya masih sangat bernuansa sentralisasi (Hidayat 2010: 18).
Ketiga, ada tiga problematik sehubungan dengan berlakunya UU No. 32 Tahun 2004 sebagai pengganti UU No. 22 Tahun 1999, yakni problem konstitusi, problem komitmen pemangku kepentingan, dan problem inkonsistensi kebijakan (Haris 2014: 198). Problem konstitusi terkait dengan amanat Pasal 18 (baru), Pasal 18A dan Pasal 18B UUD 1945 yang menjadi dasar penerbitan UU No. 32/2004 yang membuka peluang penafsiran yang lebar bagi penyusun UU (DPR dan pemerintah) tentang ruang lingkup agenda desentralisasi dan otonomi daerah. Sehingga prinsip
pemerintahan daerah (Pemda dan DPRD), hubungan pemerintah pusat dan pemerintahan daerah, dan hubungan antarpemerintahan daerah (propinsi-kabupaten/kota dan sebaliknya) cenderung "mundur kembali" dibandingkan UU No. 22/1999.
Adapun, problem komitmen pemangku kepentingan terkait dengan sikap pemerintah pusat, DPR, dan parpol, yang tidak punya komitmen terhadap agenda desentralisasi dan otonomi daerah. Sedangkan problem inkonsistensi kebijakan terkait dengan persoalan lembaga regulator, format regulasi, dan ruang lingkup kebijakan otonomi daerah. Lembaga regulator berkaitan dengan wacana urgensi keterlibatan DPD-sebagai wakil-wakil Daerah—dalam penyusunan regulasi otonomi daerah. Otoritas regulator berkenaan dengan batas-batas yang boleh dan tidak boleh diubah dalam regulasi otonomi daerah apabila telah ada grand design yang jelas mengenai arah agenda desentralisasi dan otonomi daerah. Format regulasi berkaitan dengan wacana perlunya penyatuan (kompilasi) antara UU tentang Pemerintahan Daerah dan UU tentang Perimbangan Keuangan Pusat-Daerah, serta di sisi lain pemisahan pengaturan kebijakan otonomi daerah dan pemilihan kepala daerah (Pilkada). Sementara itu, ruang lingkup regulasi berhubungan dengan cakupan kewenangan pemerintah di satu pihak, dan kewenangan pemerintahan daerah di pihak lain (Haris 2012: 204).
Keempat, desain otonomi lokal yang pada dasarnya bukan merupakan isu teknis pemerintahan melainkan indikasi dari persaingan sengit antara kepentingan-kepentingan yang bersaing memperebutkan sumber daya material yang konkret
(Hadiz 2005: 241). Jakarta jelas punya kepentingan tersendiri dalam mempertahankan kendali atas potensi lokal - paling tidak sebanyak mungkin - sambil berusaha menyeimbangkan hal ini terhadap aspirasi untuk mendapatkan otonomi yang lebih luas. Di lain pihak, elite-elite lokal ingin mendapatkan kendali langsung atas potensi yang sama untuk kepentingan mereka sendiri, dengan secara tipikal menyebut-nyebut ketidakadilan yang terjadi pada masa lalu yang memungkinkan Jakarta untuk mengeksploitasi kekayaan dengan merugikan pihak lokal. Belum lagi masalah ketidakmerataan kemakmuran di berbagai daerah di Indonesia. Oleh karena itu persaingan utamanya adalah tentang penguasaan sumber-sumber daya, meskipun hal ini diutarakan atas nama harga-diri lokal, atau identitas etnik atau kedaerahan versus persatuan nasional. Sumber daya yang diperebutkan bervariasi dari satu daerah ke daerah lain. Oleh karena itu desentralisasi pada akhirnya bukan hanya masalah perhitungan teknis saja, tetapi lebih mendasar lagi yaitu masalah persaingan kekuasaan. Suatu perjuangan konkret memperebutkan kekuasaan dan sumber daya di antara kepentingan-kepentingan yang berbeda di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten. Termasuk di dalamnya kepentingan-kepentingan predatoris yang dipupuk di bawah Orde Baru tetap muncul dalam persaingan ini (Hadiz 2005: 206).
PENUTUP
Penyelenggaraan pemerintahan daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah dengan
daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan daerah perlu ditingkatkan dengan lebih memperhatikan aspek-aspek hubungan antara pemerintah pusat dengan daerah dan antardaerah, potensi dan keanekaragaman daerah, serta peluang dan tantangan persaingan global dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara (Konsideran UU No. 23 tahun 2014).
Berdasarkan pengalaman hubungan pusat dengan daerah, selalu diwarnai trend naik-turun dan bergesernya pendulung kekuasaan dari sentralisasi kepada desentralisasi, dan sebaliknya. Bila terjadi masalah antara pusat dan daerah, kebijakan yang diambil oleh pusat kerapkali melakukan resentralisasi. Karena ada kekhawatiran daerah punya ‘kekuatan’ yang tidak bisa dikendalikan oleh pusat atau mengarah kepada desintegrasi NKRI. Sejarah desentralisasi di Indonesia senantiasa ditandai oleh prasangka tersebut (Wignjosoebroto 2010: 61). Sebenarnya, periode Reformasi merupakan pembalikan sentralisasi Orde Baru ke arah desentralisasi yang membawa harapan besar bagi tumbuhnya era otonomi daerah (Haris 2012; Hidayat 2010).
Oleh karena itu, apa pun perbedaan ancangan konseptual dan asumsi paradigmatik di antara pihak-pihak yang berkompeten, dalam persoalan desentralisasi, seharusnya sama-sama bertolak dari sebuah kebijakan bahwa kekuasaan dalam tata pemerintahan yang terlalu terpusat tidaklah menguntungkan. Berdasarkan pertimbangan itu, perlu diupayakan berkurangnya kekuasaan pusat di satu sisi dan bertambahnya kewenangan daerah di sisi lain. Semua pihak harus lebih
mengedepankan kepentingan dan peran sentral masyarakat yang memiliki kebebasan serta menyadari hak-hak konstitusionalnya sebagai warga suatu negara demokratis.
PUSTAKA PENDUKUNG
Fauzi, Gamawan. 2010. “Paradigma Kewenangan Daerah yang Efektif dan Efisien”.
Prisma, Volume 29, Nomor 3, Juli. Hlm. 74-83.
Hadiz, Vedi R. 2005. “Desentralisasi dan Demokrasi di Indonesia: Sebuah Kritik terhadap Perspektif Neo-Institusionalis”. Dalam Dinamika Kekuasaan
Ekonomi Politik Indonesia Pasca-Soeharto. Jakarta: LP3ES. Hlm. 272-304.
Haris, Syamsuddin. 2014. “Desentralisasi Asimetris, Problem atau Solusi?”. Dalam
Masalah-masalah Demokrasi & Kebangsaan Era Reformasi. Jakarta: Pustaka
Obor. Hlm. 191-218.
Hidayat, Syarif. 2010. “Mengurai Peristiwa-Merentas Karsa: Refleksi Satu Dasa Reformasi Desentralisasi dan Otonomi Daerah”. Prisma, Volume 29, Nomor 3, Juli. Hlm. 3-22.
Wignjosoebroto, Soetandyo. 2010. “Satu Abad Desentralisasi di Indonesia”. Prisma, Volume 29, Nomor 3, Juli. Hlm. 58-69.
Dokumen
RI, Undang-undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
RI, undang Nomor 9 tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah.
Kritik dan Saran Untuk Perbaikan UU 23 tahun 2014
Oleh: Budi Kurniawan
UU 23 tahun 2014 lahir dari adanya keresahan akan dampak negatif yang ditimbulkan UU no 32 tahun 2004. Ada beberapa masalah yang disorot sebagai kelamahan UU lama yang ditulis oleh sang arsitek, yakni DIRJEN Otda Kemendagri, Djohermansyah Djohan di Kompas (25 April 2015) beberapa waktu yang lalu. Pertama dan yang paling penting adalah lemahnya fungsi gubernur dan pemerintah pusat dalam mengontrol pemerintah kabupaten dan kota. Dalam banyak kasus, gubernur sebagai kepanjangan pemerintah pusat di daerah gagal mencegah abuse
of power dari pemerintah kota dan kabupaten terutama dalam masalah
pertambangan, kelautan dan kehutanan. Dampak negatifnya adalah kerusakan lingkungan yang parah akibat eksploitasi pemerintah kabupaten dan kota dalam rangka meningkatakan pendapatan daerah. Muncul raja-raja kecil di daerah yang tanpa bisa dikontrol gubernur dan pemerintah pusat ini, dalam banyak kasus tidak bisa berkoordinasi dengan gubernur yang biasannya dikarenakan perbedaan latar belakang politik. Dan di sisi yang lain gubernur berada pada posisi menggantung tanpa bisa berpijak. Kedua, maraknya daerah pemekaran yang kebablasan. Ketiga, ada kewenangan yang tumpang tindih.
Selain itu dalam naskah akademiknya (2011: 13-16), Kementrian dalam negeri merasa perlu melakukan revisi terhadap UU ini dikarenakan adanya overhead cost akibat otonomi daerah yang berimbas pada naiknya anggaran kepagawaian. Overhead cost ini dianggap membebani anggaran daerah yang tidak sedikit mengorbankan sektor vital lainnya yang lebih layak untuk diprioritaskan seperti infrastruktur, pendidikan dan kesehatan. Dampak –dampak negatif inilah menurut pemerintah pusat yang menjadi latar belakang mengapa UU 32 tahun 2004 perlu direvisi. Tulisan ini akan membahas beberapa catatan kritis penulis terhadap UU ini dan bagaimana solusi yang dapat ditawarkan untuk menjawab permasalahan otonomi daerah.
Proses Pembuatan Kebijakan yang Tidak Demokratis
UU ini dalam proses policy making-nya pun tidak melibatkan banyak aktor di luar negara. Penulis sendiri yang bekerja di kampus tidak pernah diajak untuk
membahas UU yang penting ini. Daerah pun apalagi, kabupaten dan kota yang menjadi objek kebijakan ini gelisah justru ketika UU ini telah disahkan dan berdampak bagi mereka.
Ada asymmetric information diantara anak bangsa yang berkepentingan akan UU ini. UU yang lebih menyorot perhatian publik adalah UU pilkada langsung atau tidak langsung. Televisi dan Koran yang basisnya di Jakarta dan umumnya dimiliki tokoh politik nasional lebih mengcover UU ini ketimbang UU pemda karena memang berkaitan dengan kepentingan elite politik Jakarta. Sehingga perdebatan di ruang publik lebih didominasi Jakarta ketimbang daerah di saat TV nasional yang mendominasi rumah kita lebih bias Jakarta. Implikasinya adalah perdebatan dan pembahasan UU ini kurang, dan akhirnya UU ini lolos tanpa ada perdebatan yang berarti di ruang publik.
Kesalahan Paradigma
Kesalahan fatal dalam UU ini adalah masih terkungkungnya paradigma hierarkis ketimbang network atau jaringan. Jakarta masih beranggapan bahwa pengawasan itu harus hirarkis padahal kenyataannya paradigma ini sudah usang dan ditinggalkan dalam paradigma manajemen publik atau pemerintahan. Jika kita lihat tulisan Dirjen Otda di Kompas, jelas bahwa di benak perancang UU ini yang mengawasi pemerintahan daerah adalah kekuasaan hirarkis diatasnya yakni
Gubernur dan Pemerintah Pusat. Dalam UU ini paradigma ini bisa dilihat dari pasal 91, UU 23/2014 tentang fungsi pengawasan Gubernur.
Padahal dalam paradigma network atau istilah lain democratic governance, justru seharusnya pemerintahan itu harus meninggalkan paradigma hierarkis dan beralih ke hubungan yang harizontal. Bahkan dalam pidato guru besarnya, mensekneg, Prof Pratikno menegaskan(2009) bahwa; “Struktur pemerintahan pun mengalami perubahan yang cukup signifikan. Karakter struktur kelembagaan pemerintahan yang sebelumnya bersifat hierarkis bergeser menjadi lebih horisontal dengan aktor yang semakin banyak”. Anehnya disaat paradigma pemerintahan saat ini di dunia meninggalkan paradigma hierarkis dan lebih horizontal (Owen Hughes,2011),(Guy B Peters, 2011:63), UU ini masih mengusung paradigma yang usang ini.
Dalam struktur pemerintahan yang horizontal (atau dalam banyak literatur diistilahkan governance ) justru pengawasan itu seharusnya dilakukan oleh aktor di luar kelembagaan negara, yang dalam istilah studi pemerintahan dikenal dengan istilah networks. Ini artinya penguatan networks seperti masyarakat sipil agar mereka lebih berdaya dalam mengawasi pemerintahan justru yang harus lebih ditingkatkan dan difokuskan. Pakar pemerintahan, Rhodes ( 2007: 1246) misalnya
malah mengatakan bahwa governance itu sebenarnya maknanya adalah model pemerintahan melalui networks. Ini artinya paham bahwa pemerintahan hanya proses hierarkis di dalam institusi negara sebagaimana paradigma UU ini adalah sesuatu yang tidak tepat dan tidak sejalan dengan dinamika pemerintahan saat ini yang lebih demokratis dan melibatkan banyak aktor.
Betulkah overhead Cost ?
Jika dikatakan bahwa otonomi daerah selama ini overhead cost, maka fakta di lapangan justru otonomi daerah telah memajukan ekonomi daerah ditengah fakta memang terjadi overhead cost. Banyaknya jumlah uang yang beredar di daerah telah menciptakan multiplier effect yang berdampak positif bagi daerah. Misalnya Pembangunan perkantoran telah menciptakan tata ruang baru yang memberi space bagi pedagang-pedagang kecil. Lapangan kerja baru pun dibuka dan memberi dampak bagi naiknya income penduduk lokal.
Memang harus diakui komponen terbanyak dari pengeluaran APBD di banyak daerah adalah dalam sektor belanja pemerintah khususnya belanja pegawai dan tentu saja pembangunan perkantoran bagi daerah otonom baru. Namun itu biasanya terjadi di tahap awal pembentukan daerah baru. Ini adalah sebuah kewajaran jika beban belanja pemerintah DOB berlebih, namun seiring waktu akan dikurangi. Solusinya bukanlah dengan mengurangi kewenangan namun lebih fokus kepada bagaimana daerah di dorong untuk membuat politik anggaran yang sehat.
Namun, tidak semua daerah gagal dalam kebijakan anggarannya, dan ini sangat tergantung dari kualitas kepala daerah ketimbang sistem otonomi daerahnya. Data dari Indonesia Governance Index 2014 misalnya mencatat ada daerah yang berhasil secara efektif mengurangi belanja pegawai dan lebih berpihak kepada sektor yang lainnya yang lebih penting seperti Kabupaten Siak Riau. Siak membuktikan bahwa tidak selamanya desentalisasi menciptakan overhead cost.
Hal ini sekali lagi ditegaskan bahwa bukan sistem desentralisasinya yang bermasalah tetapi lebih ke kualitas kepemimpinan daerah. Bicara tentang kualitas kepemimpinan daerah akhirnya kembali ke masalah kepartaian. Artinya tetap saja dapur masalah itu diproduksi oleh sistem kepartaian kita yang belum mampu menghasilkan kepemimpinan daerah yang berkualitas.
Solusi yang Tambal Sulam
Sayangnya solusi yang ditawarkan pemerintah pusat adalah fokus pada pengambil-alihan wewenang ketimbang peningkatan pengawasan. Pusat melihat masalahnya adalah pada daerah yakni pemerintah kabupaten dan kota yang dianggap terlampau melimpah kewenangannya. Sehingga pemikiran tambal sulam kembali terjadi. Menurut pusat, "Jika daerah gagal dan melakukan penyimpangan maka ambil alih wewenang dan kembalikan ke pusat melalui perpanjangan tangan mereka di daerah yakni gubernur".
Namun, pada kenyataannya tidak semua daerah dikatakan gagal dalam menyelaraskan antara eksploitasi alam dan kelestarian lingkungan hidup. Masih ada daerah yang bisa dikatakan maju dengan memanfaatkan kekayaan alamnya secara bijak sekaligus melestarikan lingkungan hidup. Namun memang harus diakui jujur bahwa eklorasi pertambangan dan kehutanan telah menyumbang banyak kerusakan lingkungan dan menyumbang banyak kepala daerah masuk penjara karena kasus suap.
daerah dikeruk dan dibawa Jakarta sehingga ouputnya lebih banyak dirasakan Jakarta, dengan otonomi daerah telah banyak daerah maju dan berkembang pesat ekonominya sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonominya. Dengan lahirnya UU ini ditakutkan potensi daerah malah dimatikan, kabupaten dan kota bisa kehilangan modal penting bagi pembangunan mereka.
Jika ada kekurangan seharusnya pemerintah tidak mencabut kewenangan tetapi meningkatkan pengawasan. Salah satunya dengan peningkatan partisipasi masyarakat dalam pemerintahan. Adagium power tends to corrupt akan berlaku dimana saja ada kewenangan itu berada. Oleh karena itulah perlu fokus ke pengawasan dengan melibatkan masyarakat atau aktor-aktor di luar negara. Dahulu ketika orde baru dengan sentralismenya, penyimpangan terjadi di pusat. Dampak ketimpangan pusat dan daearah, Jawa dan luar Jawa masih kita rasakan hingga saat ini. Seiring dengan tuntutan demokrasi, otonomi daerahpun diberlakukan dengan UU 22 tahun 1999 dan 32 tahun 2004. Titik tekan otonomi daerah berada di pemerintah kabupaten dan kota. Bisa kita katakan penyimpangan kekuasaan meluas hingga ke daerah. Namun dengan mengambilalih kewenangan kota dan kabupaten melalui UU yang baru ini, bisa saja terjadi kemungkinan penyimpangan terhadap kekuasaan akan terjangkit ke Provinsi. Sehingga kemudian hari tidak menutup peluang akan ada revisi kembali bahkan sentralisasi jika pola pikir tambal sulam masih ada di benak pengambil kebijakan.
Solusi Bagi Perbaikan: Perlunya Desentalisasi Yang menjamin terciptanya Inclusive institution
Perdebatan tentang apa sebaiknya model pemerintahan daerah kita saat ini tidak akan selesai jika tidak ada kontrak sosial baru diantara berbagai pemangku kepentingan terutama daerah tentang bagaimana seharusnya sistem pemerintahan daerah ini. Ini artinya NKRI bukanlah harga mati. Negara Kesatuan perlu segera di bahas kembali diantara anak bangsa ini. Founding fathers kita seperti Hatta dan Tan Malaka misalnya lebih memilih federasi ketimbang kesatuan. Namun kerena intervensi militer dan rezim orde baru perdebatan tentang apakah kesatuan atau federasi menjadi taboo untuk dibahas.
Alternatif lain di luar federasi atau sentralisme kesatuan adalah apa yang digagas teman-teman UGM dengan asymmetric decentralization di dalam bingkai negara kesatuan. Model ini ( walau sebagian sudah diakomodir di UU 23/2014) bahkan telah menjadi program di nawacita Presiden Jokowi. Kuatnya pengaruh UGM terhadap Jokowi terlihat dari diadopisnya model ini dalam nawacita. Artinya ada kemungkinan besar UU ini akan direvisi jika merujuk ke nawacita. UU ini sendiri adalah produk pemerintahan SBY yang didominasi intelektual IPDN sehingga bisa dimaklumi jika model pemerintahannya dalam UU ini masih kental dengan paradigma lama orde baru yang sentralistis. Karena sudah kita maklumi IPDN cenderung serius dalam mencetak pamong ketimbang pengembangan keilmuan yang tempatnya di Universitas.
Namun yang paling penting apakah kita mengadopsi model sentralisme orde baru, atau federasi ataupun asymmetric decentralization adalah memastikan bahwa sistem pemerintahan daerah kita bisa mampu melakukan perbaikan bagi institusi
dalam pembangunan dan menciptakan kesejahteraan disinyalir banyak disebabkan oleh faktor tidak mampunya negara beralih dari sistem extractive institution ke inclusive institution dari institusi politik dan ekonominya seperti yang dikemukakan pengarang buku best seller “Why Nation Fail”, Robinson dan Acemoglu, (2012:144-145). Berikut penjelasan theory of Instituions yang diolah dari slide kuliah umum Robinson dan Acemoglu di LSE tanggal 8 Juni 2012:
Dua pakar ekonomi-politik ini menawarkan sistem desentralisasi karena menjamin sistem politik yang pluralistik sebagai ciri inclusive institution. Namun dalam banyak kasus desentralisasi di banyak negara justu menjadi pemicu lemahnya penegakan dan keteraturan hukum dan sentralisasi justru lebih bisa memastikan.
Oleh sebab itu perlu ada konsensus utama di bangsa ini tujuan kita jelas kesejahteraan, namun cara nya mana yang efektif sesuai dengan konteks Indonesia, desentarlisasi atau sentralisasi. Yang jelas yang diutamakan adalah
bagaimana sistem pemerintahan daerah kita mampu meningkatkan partisipasi politik masyarat secara adil tanpa diskriminasi dan tanpa menguntungkan elite tertentu. Inilah yang disebut political inclusive institution itu. Wallahu a’lam
Referensi
Acemoglu, D & Robinson, J.A 2012 “Why nation fail: the origin of power, prosperity and poverty”, Crown Publisher, New York
________________________, 2011 ‘ Why nation fail: the origin of power, prosperity and poverty, Slide in Morishma Lecture, LSE June 8, 2011, London
Djohermansyah, D 2015 “Kado Hari Otonomi” Kompas, 25 April 2015
Hughes, O 2003, ‘Public management in developing countries’ Public
management And Administration, 3rd edn, Palgrave, Basingstoke, pp.218-27
Kemendagri, 2011, Naskah Akademik RUU tentang Pemerintahan Daerah, Jakarta
Kemitraan, 2014 “Menata Indonesia dari Daerah” Kemitraan, Jakarta
Peters, G. B,2011, Governance as political theory, Critical Political Studies, Vol. 5 No. 1 pp. 63-72
Pratikno, 2009 “Rekonsolidasi Reformasi Indonesia: Kontribusi Studi Politik dan Pemerintahan dalam Menopang Demokrasi dan Pemerintahan Efektif” Pidato guru besar UGM, Yogyakarta
Rhodes, R.A.W, 2007, Understanding governance: Ten years on, Organization Studies , Vol. 28, No. 8, pp. 1243-126
NAWACITA DAN DESENTRALISASI ASIMETRIS:
SEKEDAR JANJI ATAU SOLUSI SERIUS MENGATASI PROBLEMATIKA
OTONOMI DAERAH DI INDONESIA
11Makalah/policy paper disampaikan dalam Prosiding dan pada acara Seminar Nasional UU
11
Pemerintahan Daerah Baru: Desentralisasi atau Resentralisasi? Diselenggarakan Magister Ilmu Pemerintahan dan Lab. Politik Lokal dan Otonomi Daerah JIP FISIP Universitas
OLEH SYAFARUDIN, M.A. 12
Pergantian Presiden dan DPR, seperti biasa, diikuti episode gonta-ganti Undang-undang. Celakanya dengan perubahan kebijakan tidak serta merta problematika penataan otonomi daerah di Indonesia mereda bahkan muncul persoalan atau kerumitan baru. Sejatinya persoalan otonomi daerah sejak era orde lama tidaklah mudah alias memang sangat kompleks . 13
Begitu juga saat terbitnya UU Pemerintahan Daerah No. 23 Tahun 2014 di ujung Pemerintahan Presiden SBY sebagai revisi terhadap UU 32 Tahun 2004. UU Pemerintahan Daerah yang belum genap setahun itu kemudian pada era Presiden Jokowi diamandemen menjadi UU No.2 Tahun 2015. Revisi UU tersebut di tahun 2015 ini hanya memuat perubahan dalam fungsi DPRD namun tidak menyentuh subtansi lain yang signifikan.
Kedua UU ini yakni UU 23/2014 dan revisinya UU No 2/ 2015 cenderung berpotensi (bahkan ada pihak yang mengabarkan kepada penulis sudah menimbulkan masalah baru ) jika dibandingkan dengan UU Pemerintahan daerah yang telah 14 berlaku dan dijalankan sebelumnya sejak tahun 1999 dan 2004, yakni UU No. 22/1999 dan UU No. 32 Tahun 2004.
Penulis adalah Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung, korespondensi
12
email: [email protected]
Tak heran rekan akademisi seperti Prof. Pratikno pernah mencatatnya dalam label 13
“Desentralisasi, Pilihan yang Tidak Pernah Final”, Abdul Gaffar Karim melukiskan dalam tulisan “Bangunan Goyah di atas Fondasi bermasalah: Otonomi Daerah di Indonesia; dalam buku “Kompleksitas Persoalan Otonomi Daerah di Indonesia”, Abdul Gaffar Karim (editor), cetakan ke-2, 2006, JIP UGM dan Pustaka Pelajar Yogyakarta.
Di daerah yang kaya hasil tambang ada kabar bupati ngambek dan ngancam mundur dari 14
jabatan Bupati karena kewenangan perizinan tambang yang semula domain/kewenangan Bupati kini harus ditarik menjadi kewenangan Gubernur selaku kepala daerah yang sekaligus
Bila lebih jauh kita rentangkan sejarah maka terlihat bahwa persoalan klasik yang terus berulang sejak diberlakukan UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan Daerah pada era orde baru sampai dengan UU 2/2015 tentang Pemerintahan Daerah salah satunya adalah menata format ideal hubungan antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan dengan pemerintah kabupaten/kota terkait pelaksanaan pembagian/perimbangan wewenang dan keuangan atau/bagi hasil masing-masing dalam bingkai negara kesatuan (Unitarian). Diikuti persoalan/ pertanyaan berulang yang lain, misalnya seputar pertanyaan apa kontribusi finansial pemerintah pusat sekarang dalam pemekaran daerah dan kerjasama antardaerah, termasuk yang senantiasa berulang ditanyakan daerah adalah pola perimbangan keuangan pusat dan daerah dan atau antar daerah; yang seperti apa yang ingin didorong pemerintahan baru sekarang ini.
Masih ingat dalam lintasan memori kita bahwa UU 22/1999 dan UU 32/2004 yang lahir dalam era reformasi semangatnya sama yakni mengutamakan desentralisasi berbasis di kabupaten/kota sebagai lokus otonomi daerah. Pilihan desentralisasi ini dimaklumi sebagai obat penawar atau koreksi terhadap praktek keliru era pemerintahan orde baru yang mengedepankan asas sentralisasi, penghisapan daerah , dan uniformitas yang sudah berlangsung cukup lama 25 tahun (1974-1999).
Celakanya, praktek otonomi daerah era reformasi yang baru berjalan belia atau berusia 10-11 tahun ini sudah dirubah kembali dengan 4(empat) nuansa kontroversi dan paradoksal sebagai berikut:
(1) keinginan Resentralisasi berbasis di Provinsi dengan berbagai alasan dan hasil evaluasi dan ini masih bisa diperdebatkan; Bila UU 32/2004 masih memberikan kewenangan/perizinan cukup bagi pemerintah kabupaten/kota di sektor kelautan, kehutanan, dan pertambangan; maka pada UU Pemerintahan Daerah 23/2014 dan UU 2/2015 terlihat dominannya kewenangan pemerintah
provinsi ketimbang Pemerintah Kabupaten/kota dalam sektor kelautan, kehutanan, dan pertambangan.
(2) menerapkan Desentralisasi Simetris yang berujung uniformitas dan sudah lama format tersebut (bersama format “desentralisasi asimetris terpaksa berlaku”) dikritik para pakar ; 15
(3)Presiden, Mendagri, dan Staf Kemendagri cenderung lamban merespon dan mencari solusi terhadap persoalan otonomi daerah yang muncul belakangan ini ; 16
(4) Dalam kebingungan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten membuat pola hubungan kewenangan yang harmonis. Saya mencatat dan sekaligus menggarisbawahi bahwa Pemerintah pusat atau pembantu Presiden beserta Parpol pendukung pemerintahan sekarang selain lamban juga bingung dan cenderung lupa
Lihat A.A.GN Ari Dwipayana, Menata Desentralisasi Indonesia, Makalah, Jurusan
15
Ilmu Politik dan Pemerintahan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2011, hlm. 1-2. Ari mencatat banyak kerancuan, pelaksanaan politik hukum desentralisasi dan otonomi daerah 13 tahun terakhir terkait hubungan pusat – daerah secara komprehensif, serta dipertanyakan komitmennya untuk peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah. Lihat juga Laporan Penelitian Prof. Pratikno, dkk, Desentralisasi Asimetris di Indonesia: Praktek dan Proyeksi, Jurusan Politik dan Pemerintahan,
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2010. Dalam laporan bahkan disebutkan bahwa pemerintah pusat selama ini tidak memiliki desain desentralisasi asimetris untuk diterapkan di daerah. Kalaupun desain itu ada, lebih disebabkan oleh tuntutan dari daerah tertentu akibat munculnya berbagai permasalahan dan ancaman disintegrasi.hal.138.
Misalnya, tatkala kewenangan Gubernur/pemerintah provinsi diperbesar dalam sektor 16
kehutanan, pertambangan, dan kelautan di daerah; kenapa hal ini masih digantung pusat atau belum dikeluarkannya PP (peraturan pemerintah) sebagai petunjuk pelaksanaannya. Begitu juga tatkala pemerintah kabupaten ingin melakukan pemekaran daerah dengan tahapan manajemen transisi 3 tahun sebagai daerah kabupaten persiapan. kenapa masih digantung atau belum dikeluarkannya PP (peraturan pemerintah) tentang tatacara pemekaran daerah
menerjamahkan janji Nawacita (sembilan agenda prioritas) yang memuat Desentralisasi Asimetris yang sudah dijadikan bahan kampanye politik presiden dan partai politik pengusung sejak tahun lalu. Padahal bila janji Nawacita--yang memuat desentralisai asimetris, membangun tata kelola pemerintahan yang efektif, dan revolusi mental —yang juga sebagai bentuk kontrak sosial dan kontrak 17 politik itu dipahami dan dilaksanakan dalam regulasi dan aksi yang segera maka persoalan otonomi daerah yang kompleks diyakini banyak pihak bisa cepat diurai untuk mencapai visi Indonesia hebat.
Desentraliasi Asimetris: Alasan Penerapan, Urgensi, Implikasi Diharapkan, dan Optimisme Pakar
Dalam negara kesatuan Indonesia, sebagaimana kita ketahui penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah kombinasi beberapa sistem dimana selain menggunakan sistem sentralisasi, dikenal juga penerapan sistem desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas pembantuan.
Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah pusat kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah pusat kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. Tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah pusat kepada daerah dan/atau desa, bisa juga tugas dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa
Lihat poin 2 Nawacita Jokowi-JK “ Kami akan membuat pemerintah selalu hadir dengan 17
membangun tata kelola pemerintahan yang bersih efektif, demokratis dan terpercaya’. Poin 3 Nawacita “Kami akan membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara kesatuan dengan sub poin prioritas (1) desentralisasi asimetris; (2) pemerataan pembangunan antar wilayah terutama desa, kawasan timur
Indonesia dan kawasan perbatasan.(3) penataan daerah otonomi baru untuk kesejahteraan rakyat; poin 8 Nawacita “Kami akan melakukan revolusi karakter bangsa”.
serta dari pemerintah kabupaten kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu.
Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sedangkan Daerah otonom adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sistem Desentralisasi ini secara teoritis terbagi 2 yakni Desentralisasi Simetris (format penyelenggaraan pemda yang sama untuk tiap wilayah, provinsi dan atau kabupen/kota) dan Desentralisasi Asimetris (format penyelenggaraan pemda yang tidak sama/berbeda untuk tiap wilayah, provinsi dan atau kabupen/kota).
Desentralisasi Asimetris (assymmetric decentralization) bukan konsep asing di Indonesia karena sudah diterapkan dengan alasan politik, sejarah dan budaya (political, history and cultural driven) misalnya dalam bentuk daerah otonomi khusus (Papua, Aceh), daerah khusus (Jakarta) dan daerah Istimewa (Yogyakarta).
Desentralisasi Asimetris dalam Nawacita yang saya pahami adalah konsep menarik karena tawaran penerapan otonomi daerah yang berbeda tiap wilayah/ kawasan atau provinsi/kabupaten/kota bukan karena alasan politis sejarah atau budaya semata; tapi lebih jauh karena melihat perbedaan kapasitas pemerintahan local (local goverment capacity driven) dan didorong pula setelah melihat kenyataan perbedaan karakter wilayah, potensi sumber daya alam dan manusia di Indonesia.
Bila kita cermati substansi Nawacita jelas bahwa implikasi penerapan Desentraliasi Asimetris secara praksis selain bertujuan (1) mewujudkan tata kelola pemerintahan yang efektif; sekaligus (2) strategi pemerintah membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dan (3) strategi cerdas pemerataan pembangunan antarwilayah terutama desa, kawasan timur Indonesia dan kawasan perbatasan serta (4) sebagai bagian strategi penataan daerah otonomi baru (DOB) untuk kesejahteraan rakyat.
Optimisme bahwa penerapan desentralisasi asimetris akan menjadi obat baru dalam penataan daerah otonomi di Indonesia muncul sejak lama dari kalangan peneliti dan akademisi diantaranya:
❖“Inti desentralisasi asimetris adalah terbukanya ruang gerak implementasi dan kreativitas provinsi dalam pelaksanaan pemerintahan di luar ketentuan umum dan khusus. Mengapa provinsi? Ini karena level kabupaten dan kota sudah cukup terakomodasi dalam perundangan pemerintahan selama ini.
Dalam hal ini, desentralisasi asimetris dapat menjadi terobosan akan kebuntuan mekanisme forma dimana pengaturan asimetris itu diterapkan”. ( Prof. M. Mas’ud Said, Ph.D. Dewan Pakar Mayarakat
Ilmu Pemerintahan Indonesia dalam artikel “Perlu Desentralisasi Asimetris dalam .Negara Kesatuan”. Jurnal Borneo Administrator Vol. 6 No. 2, 2010).
❖“Desentralisasi asimetris di Indonesia merupakan sebuah keberlanjutan sejarah yang telah dimulai dari masa kolonial dan ditegaskan dalam tiga konstitusi yang pernah berlaku di Indonesia. Dasar dari desentralisasi asimetris tersebut dapat dirujuk dalam konstitusi sebagai kesatuan hukum tertinggi. Desentralisasi asimetris menyangkut urusan yang fundamental terkait pola hubungan pusat
dan daerah menyangkut disain kewenangan,kelembagaan, finansial dan kontrol yang berbeda”.
(Bayu Dardias Kurniadi, Staf pengajar di Jurusan Politik dan
Pemerintahan, Fisipol UGM. Ketua Tim Kajian “Evaluasi Desentralisasi
Asimetris yang Mensejahterakan: Pengalaman Aceh dan Papua”,
kerjasama Yayasan TIFA dan JPP Fisipol UGM tahun 2012).
❖ “Argumentasi tentang pentingnya pengembangan desentralisasi asimetris di Indonesia didasarkan pada argumentasi sebagai berikut, 1) Desain asimetris dirancang untuk menjawab persoalan lokal/daerah dengan menggunakan kapasitas governability sebagai tolok ukur utama; 2) Desain asimetris dirancang untuk menjawab tantangan globalisasi; 3) Desain asimetris harus diletakkan di atas prinsip kebineka-an sosio-kultural Indonesia; 4) Asimetris tidak hanya menjangkau masalah2 lokal, juga kebutuhan nasional”
(Kotan Y. Stefanus,, Staf Pengajar Pascasarjana FH Undana, 2012)
Catatan Penutup
(1) Meski tujuan dan implikasi yang diharapkan baik dan muncul optimisme dari berbagai pihak , Saya kira kita perlu juga memperhatikan tiga saran dari pakar politik lokal dan otonomi daerah yang lebih seni or yakni “bahwa Pengaturan asimetris desentralisasi 18 karena faktor capacity driven ini harus memperhatikan (a) memiliki jangka waktu dalam pelaksanaannya, bisa temporer dan bisa permanen; (b) bentuk pengaturan asimetris formatnya bisa finansial atau fungsional; dan (c) skope pengaturan asimetris bervariasi, tergantung di level pemerintah yang mana pengaturan asimetris itu diterapkan”.
Cornelis Lay dan Josep Riwu Kaho. Modul kuliah Politik Desentralisasi. JPP FISIP 18
(2) Pelaksanaan revolusi mental atau perubahan dari kerja lambat menjadi cepat, minta dilayani menjadi melayani, tertutup menjadi terbuka, mobilisasi menjadi partisipatif nampaknya perlu mulai dilakukan oleh pemerintah pusat sendiri terutama jajaran kemendagri. Sudah saatnya rancangan kebijakan tindaklanjut dari UU Pemda dikonsultasikan ke publik, diseminarkan bersama asosiasi pemda di kampus, hal ini tentu sesuai semangat Nawacita yang mengutamakan partisipasi publik.Semoga Nawacita dan Desentralisasi Asimetris bukan sekedar janji tapi solusi nyata mengatasi problematika otonomi daerah di Indonesia.***