• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KEBIJAKAN KEHUTANAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS KEBIJAKAN KEHUTANAN"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL

ANALISIS KEBIJAKAN

KEHUTANAN

Vol. 2 No.2, Juli 2005

Departemen Kehutanan

Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan

Jakarta, Indonesia

(2)

Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan adalah media resmi publikasi ilmiah yang diterbitkan oleh Badan Litbang Kehutanan secara periodik empat bulanan yang mencakup berbagai tulisan hasil penelitian ataupun telaahan mengenai kebijakan kehutanan atau bahan masukan bagi kebijakan kehutanan.

Penanggung jawab (Editorial in chief) : Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan

Dewan Redaksi (Editoral Board) :

Ketua (Chairman), merangkap anggota : Dr. Ir. A. Ngaloken Gintings, MS

Anggota (Members) : 1. Dr. Ir. Djaban Tinambunan, MS

2. Dr. Ir. Sunaryo, M.Sc 3. Dr. Ir. Yeti Rusli, M.Sc 4. Dr. Ir. Agus Setyarso, M.Sc Sekretariat Redaksi (Editorial Secretariat) :

Ketua (Chairman) : Kepala Bidang Pelayanan dan

Evaluasi Penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasi Hutan

Anggota (Members) : 1. Dr. Ir. Pipin Permadi, M.Sc

2. Ina Winarni, S.Hut., M.Si 3. Ir. Nani Cahyani

4. Mahfudz, SE 5. M. Firdaus, S.Sos

Diterbitkan oleh (Published by) :

Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Alamat :

Sub Bagian Data dan Informasi Sekretariat Badan Litbang Kehutanan Gd. Manggala Wanabakti Blok VII Lt. 4 Jl. Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Indonesia 10270

Telepon : (021) 5730111 Fax : (021) 5720189 Website : http://www.forda.org

(3)

JURNAL

ANALISIS KEBIJAKAN

KEHUTANAN

Vol. 2 No. 2, Juli 2005

Departemen Kehutanan

Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Jakarta, Indonesia

(4)

DAFTAR ISI (

CONTENTS

)

PENGGUNAAN ALAT DAN MESIN BESAR-BESAR DALAM PEMBANGUNAN HUTAN : KEUNTUNGAN, KERUGIAN DAN UPAYA MENGOPTIMALKANNYA (The Use of Large Machineries and Equipment in Forest Development : Advantages, Disadvantages and Optimization Efforts)

Djaban Tinambunan dan Yuniawati ... ANALISA KEBIJAKAN SKEMA KREDIT DAN PEMBIAYAAN USAHA TANI HUTAN (An Analysis on Credit Scheme and Funding Policy of Smallholder Private Forests) Hariyatno Dwiprabowo ... ANALISIS KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG : KEMUNGKINAN PENYADAPAN GETAH PINUS DI HUTAN LINDUNG

(Policy Analysis on Protected Forest Management : The Possibilities to Tap Pire Resim in Protection)

Subarudi, Ngaloken Gintings dan Suwardi Sumadiwangsa ... KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT DI TAMAN NASIONAL KUTAI, KALIMANTAN TIMUR

(Diversity of Medicinal Plant Species in Kutai National Park, East Kalimantan) Noorhidayah dan Kade Sidiyasa ... PERMASALAHAN ASPEK HIDROLOGIS HUTAN TUSAM DAN UPAYA

MENGATASINYA

(Problem of Pine Forest Hydrological Aspects and Their Possible Solutions)

Ag. Pudjiharta ... 77 - 87 89 - 100 101 - 113 115 - 128 129 - 144

(5)

(

The Use of Large Machineries and Equipment in Forest Development :

Advantages, Disadvantages and Optimization Efforts)

Oleh / By :

Djaban Tinambunan & Yuniawati

ABSTRACT

Machineries and equipment having power 50 HP or more are categorized as large machineries and equipment. Most of machineries and equipment used in forest development in Indonesia have the power more than 50 HP and, therefore, are belonging to large machineries and equipment group.

The use of large machineries and equipment in forest development in Indonesia has brought many advantages as well as disadvantages. In the future, in optimizing that use, it is necessary to critically analyse various aspect of large machineries and equipment operations such as technical, economic, social, environment, institution and human resources aspects, and then to manage the operations professionally.

Decision makers and practitioners in forestry development are required to master all aspect mentioned above and practice them in real operations in the field so that forest development could be running well with minimum negative impacts.

Keywords : Large machineries and equipment, forest development, advantages, disadvantages and optimization efforts.

ABSTRAK

Alat dan mesin berkekuatan 50 HP atau lebih masuk dalam kategori alat dan mesin besar. Oleh karena sebagian besar alat dan mesin dalam pembangunan hutan (alsinhut) di Indonesia berkekuatan di atas 50 HP maka mereka pun termasuk kategori alat dan mesin yang besar.

Penggunaan alsinhut yang besar-besar telah terbukti memberi banyak keuntungan, namun sekaligus juga membawa banyak kerugian yang sulit untuk diatasi. Oleh karena itu, untuk masa datang, upaya pengoptimalannya perlu diusahakan dengan cara melakukan analisa krisis terhadap berbagai aspek pengoperasian alsinhut besar tersebut seperti aspek-aspek teknis, ekonomi, sosial, lingkungan, kelembagaan dan sumberdaya manusia dan kemudian mengelola pengoperasiannya secara profesional.

Pengambil kebijakan dan pelaksana pembangunan hutan perlu memahami semua aspek pengoptimalan penggunaan alsinhut di atas dan merealisasikannya dalam praktek di lapangan agar pembangunan hutan dapat berjalan baik dengan dampak negatif yang minimal.

(6)

I. PENDAHULUAN

Pembangunan hutan di Indonesia berkembang pesat sejak awal tahun 1970-an. Hal ini terlihat dari laju perkembangan jumlah pengusahaan hutan, luas kawasan hutan yang dikelola dan penyebaran perusahaan ke luar Pulau Jawa yang meningkat drastis.

Dalam pembangunan hutan tersebut, alat dan mesin yang digunakan pun mengalami perubahan drastis dari alat-alat yang tadinya sederhana dan beroperasi secara manual ke penggunaan alat dan mesin pembangunan hutan (alsinhut) modern yang besar-besar. Alsinhut yang besar-besar memang ternyata sangat efektif dalam pembangunan hutan di luar Pulau Jawa yang umumnya prasarananya hampir tidak ada, medannya berat dan hasil hutan (kayu) yang ditangani berukuran besar-besar.

Sejak awal, tampaknya para pelaksana pembangunan hutan hanya memperhitungkan aspek kebaikan alsinhut besar-besar tersebut. Perkembangan kesadaran lingkungan dan hasil penelitian di banyak negara membawa pemahaman baru bahwa alsinhut besar-besar tersebut mempunyai segi keburukan yang serius berupa kerusakan hutan dan lingkungan. Kerusakan yang ditimbulkan mempunyai dampak yang luas dan sulit untuk diperbaiki.

Dalam keadaan alsinhut besar-besar yang sudah banyak tersebar di lapangan dan digunakan dalam pembangunan hutan, sedang kerusakan yang mungkin ditimbulkannya merupakan masalah serius, maka perlu dicarikan jalan tengah berupa pengoptimalan pemanfaatan alsinhut besar-besar tersebut. Dengan demikian pembangunan hutan dapat berjalan secara efektif dan kerusakan yang ditimbulkannya dapat ditekan sekecil mungkin.

Dalam tulisan ini diuraikan secara singkat penggunaan alsinhut besar-besar dalam pembangunan hutan, berbagai kebaikan dan keburukannya serta upaya pengoptimalan pemanfaatannya dengan harapan agar para pengambil kebijakan dan pelaksana dapat memahami permasalahannya secara benar dan mampu mengatasinya sehingga alsinhut yang besar-besar yang telah dan akan ada dapat mendorong pembangunan kehutanana Indonesia dengan sebaik-baiknya.

II. PENGERTIAN ALAT DAN MESIN BESAR DALAM PEMBANGUNAN HUTAN

Mesin yang digunakan dalam pembangunan hutan di Indonesia sejak awal PELITA I terdiri dari berbagai merek, jenis dan tipe. Ukuran mesin biasanya ditentukan berdasarkan tenaganya dalam menggerakkan suatu alat yang disambungkan kepadanya. Dalam pertanian secara umum (termasuk kehutanan), tenaga mesin yang biasanya disebut traktor, digolongkan ke dalam 3 kelas (Soedjatmiko, 1974) yaitu mesin (traktor) kecil (kekuatan < 12 HP), mesin (traktor) sedang (kekuatan 12-50 HP) dan mesin (traktor) besar (tenaga > 50 HP). Mesin-mesin (traktor) yang digunakan dalam pembangunan hutan di Indonesia umumnya bertenaga di atas 50 HP sehingga masuk ketegori mesin besar. Alat-alat yang didesain untuk menyertai mesin-mesin tersebut harus besar juga agar sesuai sehingga gabungan keduanya disebut alsinhut yang besar.

Untuk menyalurkan tenaga mesin-mesin tersebut dalam mengerjakan sesuatu dalam pembangunan hutan, dibuat alat-alat (implement) yang besar-besar juga karena pekerjaan yang ditangani juga berat-berat seperti mendorong tanah, menarik kayu, dan sebagainya. Alat-alat tersebut disambungkan ke mesin-mesin yang besar-besar juga sehingga terbentuk alat dan mesin pembangunan hutan (alsinhut) yang besar-besar.

(7)

Cara menyambung alat ke mesin ada 4 macam (Brainer et al.,1955) yaitu : (1) Trailed implement, yaitu alat yang ditarik melalui satu titik gandeng (single hitch point) dimana berat alat tidak sepenuhnya dibebankan pada mesin; (2) Semi mounted implement, yaitu alat yang digandengkan pada traktor melalui sebatang as (hinge axis ) sehingga memberikan reaksi langsung pada kemudi traktor sedangkan berat alat ketika diangkat tidak sepenuhnya dibebankan pada traktor; (3)Tractor mounted implement, yaitu alat yang digandengkan pada traktor sedemikian rupa dan dikemudikan secara langsung oleh traktor dan pada posisi alat sedang diangkat beratnya sepenuhnya dibebankan pada traktor; dan (4) Self mechanics power, yaitu mesin penggerak merupakan bagian integral dari mesin itu sendiri.

Alsinhut yang biasa digunakan dewasa ini dapat dikemukakan untuk masing-masing tahap sebagai berikut :

1. Untuk penyaradan kayu digunakan mesin (traktor) berantai Komatsu D80 atau Caterpillar D7 atau merek lain sekelas itu. Komatsu D80 mempunyai tenaga 180 HP dan berat 22,7 ton, Caterpillar D7 mempunyai tenaga 225 HP dan berat 20,0 ton, sedang traktor beroda karet Caterpillar 518 mempunyai tenaga 130 HP dan berat 22,7 ton. Mesin-mesin ini di lengkapi alat-alat berupa pisau (dozer blade) di depannya dan penggulung kabel (powered winch) beserta kabelnya di bagian belakangnya untuk mengikat dan menyarad kayu (Anonim, 1988 dan Anonim, tanpa tahun).

2. Untuk memuat dan membongkar kayu digunakan alsinhut seperti Zil crane loader (75 HP), Pay loader Kimco IH (80 HP), Crawler Caterpillar 977 (170 HP), Wheel loader Caterpillar 988 (325 HP) dan berbagai merek lain sekelas dengan itu (Sastrodimedjo et al.,1973; Sastrodimedjo et al.,1977; dan Sianturi dan Tinambunan, 1984).

3. Untuk pengangkutan digunakan truk biasa dengan tenaga antara 65-120 HP dan daya muat 3

antara 8-20 m seperti truk-truk merek Ford Canada STW, Bedford STW, Hino, Nissan dan lain-lain. Sebagian lagi menggunakan truk gandengan berukuran besar dengan tenaga bervariasi

3

dari 80-550 HP dan daya muat antara 20-50 m seperti merek IH Loadstar, Mercedes, Isuzu TWD, Kenworth, Nissan, Berliet, Mack dan lain-lain.

4. Untuk pembuatan jalan hutan biasanya digunakan mesin-mesin yang sekelas dengan mesin pada penyaradan yaitu kelas Komatsu D80 dan Caterpillar D7. Untuk pekerjaan yang lebih berat, sering juga digunakan Caterpillar D8 dengan tenaga 270 HP dan berat 22,2 ton.

Dari informasi di atas, jelaslah bahwa alsinhut yang digunakan di Indonesia termasuk kategori alat dan mesin yang berukuran besar-besar yang harganya tinggi serta biaya pemilikan dan pengoperasiannya (owning and operating costs) persatuan waktu adalah mahal. Oleh karena itu, penggunaan alat dan mesin tersebut harus melalui tahap perencanaan yang matang dan efisiensi waktu dan produktivitas tinggi agar penggunaannya tidak rugi dan gangguan lingkungan yang ditimbulkannya berada pada tingkat minimal.

III. KEUNTUNGAN PENGGUNAAN ALSINHUT BESAR DALAM PEMBANGUNAN HUTAN

Berdasarkan pengamatan perkembangan pembangunan hutan di Indonesia sejak PELITA I sampai sekarang, terlihat beberapa keuntungan (advantages) penggunaan alsinhut besar dalam pembangunan hutan tersebut, antara lain :

(8)

1. Mampu menangani produk (kayu) dalam jumlah besar

Produksi kayu bulat Indonesia sejak PELITA I mencapai jumlah yang sangat besar yang 3

mencapai puncaknya pada tahun 1988/1989 sebesar 28 juta m lebih (Departemen Kehutanan, 1990). Jumlah sebesar itu hanya dapat dicapai berkat penggunaan alsinhut besar-besar dalam operasi pemanenan hutan di luar Pulau Jawa.

2. Proses produksi cepat dan tepat waktu

Angkutan kayu ke industri pengolahan dan ekspor mempunyai jadwal yang ketat dan mencakup volume yang besar. Keadaan seperti itu selama ini dapat dilayani dengan menggunakan alsinhut yang besar-besar.

3. Mampu menangani kayu-kayu yang besar dan panjang

Kayu yang dipanen di hutan alam di luar Pulau Jawa biasanya panjang dan diameternya besar. Untuk menangani itu, mulai dari penyaradan, muat, pengangkutan sampai bongkar muatan digunakan alsinhut yang besar.

4. Mampu menghadapi medan operasi pembangunan hutan berat

Kegiatan pembangunan hutan, terutama di luar Pulau Jawa, di samping medannya berat, prasarananya pada awal PELITA I belum ada. Dengan menggunakan alsinhut besar, operasi pembangunan hutan seperti membuat jalan, gorong-gorong, jembatan dan berbagai bangunan hutan lainnya dapat dilaksanakan sesuai jadwal.

5. Membuka lapangan kerja

Penggunaan alsinhut dalam pembangunan hutan mampu meningkatkan kemampuan membangun tenaga kerja terdidik (skilled labour) untuk mengoperasikan berbagai alsinhut dan alat-alat pendukungnya.

6. Bisnis suku cadang dan bahan pendukung berkembang

Pengoperasian banyak alsinhut membutuhkan banyak suku cadang, bahan bakar, oli dan sebagainya. Kesemuanya itu membuka kesempatan bisnis bagi masyarakat sehingga mampu meningkatkan kemampuan teknis maupun ekonominya.

7. Meningkatkan devisa negara

Berkembangnya penggunaan alsinhut besar sejak PELITA I mampu meningkatkan produk kayu secara drastis untuk diekspor. Untuk itu pemerintah Indonesia mendapat devisa yang besar dari sektor kehutanan.

8. Meningkatkan keterampilan pekerja

Dengan banyaknya alsinhut besar yang digunakan telah terdidik/terlatih benyak tenaga kerja Indonesia yang terampil dalam mengoperasikan, mereparasi dan memelihara alat-alat berat. Potensi ini merupakan modal penting untuk pembangunan di masa datang.

9. Pembukaan wilayah berjalan pesat

Penggunaan alsinhut besar selama ini dalam operasi kehutanan telah membuka daerah-daerah di luar Pulau Jawa yang sebelumnya terisolir akibat tidak adanya prasarana angkutan. Sekarang ini hampir semua daerah di luar Pulau Jawa telah terbuka dan akibatnya kegiatan ekonomi

(9)

berkembang sampai ke pelosok-pelosok.

IV. KERUGIAN PENGGUNAAN ALSINHUT BESAR DALAM PEMBANGUNAN HUTAN

Dalam pembangunan hutan di Indonesia selama ini terlihat bahwa penggunaan alsinhut besar-besar, di samping memberikan keuntungan, juga menimbulkan kerugian (disadvantages) yang besar, antara lain :

1. Biaya produksi tinggi

Alsinhut yang besar mempunyai harga yang mahal, demikian juga biaya pemilikan dan pengoperasiannya tinggi. Memang diharapkan alsinhut yang besar mempunyai produktivitas besar juga untuk mengimbangi biaya tinggi di atas. Akan tetapi kenyataan menunjukkan bahwa biaya produksi alsinhut besar tetap saja tinggi. Sebagai contoh, rata-rata biaya penyaradan

3

dengan kerbau di Jambi adalah Rp 4.400/m -hm (Dulsalam dan Sukadaryati, 2001), sedang 3

penyaradan dengan traktor Caterpillar D7 juga di Jambi adalah Rp 10.000/m -hm (Sukadaryati et al., 2002).

2. Kerusakan tegakan tinggal di hutan sangat tinggi

Pengoperasian alat-alat besar dalam pembangunan hutan menimbulkan kerusakan terhadap tegakan tinggal dengan skala yang cukup besar dan sebagian besar sulit atau tidak mungkin untuk diperbaiki. Hasil penelitian Suhartana (2003) menunjukkan bahwa rata-rata kerusakan tegakan tingggal yang diakibatkan penggunaan alsinhut pada kegiatan penyaradan terkendali berkisar 7,1-19,1% dan konvensional 11,8-40,4%. Thaib (1985) mengatakan kerusakan tegakan tinggal pada sistem traktor bervariasi antara 3,8-50,8% dengan rata-rata 23,9%, sedangkan Dulsalam et al., (1989) mengatakan kerusakan tegakan tinggal akibat penyaradan menggunakan traktor pada kerapatan lebih kecil 150 pohon/ha adalah 16 pohon/ha, untuk kerapatan 150-199 pohon/ha kerusakan tegakan tinggal 28 pohon/ha dan pada kerapatan 200 pohon/ha memiliki kerusakan tegakan tinggal 39 pohon/ha. Dari beberapa hasil penelitian tersebut terlihat bahwa penggunaan traktor dalam penyaradan menimbulkan kerusakan tegakan tinggal yang besar.

3. Luas keterbukaan tanah dan tajuk hutan yang tinggi

Akibat penggunaan alsinhut besar di hutan alam luar Pulau Jawa keterbukaan tanah dan tajuk hutan sangat tinggi. Hal ini tentu mengganggu perkembangan pertumbuhan hutan pasca operasi alsinhut. Hasil penelitian Suhartana (2003) menunjukkan rata-rata keterbukaan tanah 11,2-139,0% pada penyaradan terkendali dan 15,2-57,5% pada penyaradan konvensional. Sedangkan Tinambunan (1998) mengatakan bahwa keterbukaan tanah pada pembuatan jalan

2 2

utama saja berkisar dari 10.000-20.000 m /km dengan nilai rata-rata 19,120 m /km. Dengan asumsi 75% dari 75 HPH di Kalimantan Barat membangun jalan utama masing-masing 5 km/tahun maka penambahan keterbukaan tanah pertahun di provinsi tersebut akan mencapai 537,75 ha/tahun.

4. Erosi tanah hutan tinggi

Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa akibat penggunaan alsinhut besar-besar dalam pembangunan hutan, terjadi erosi tanah hutan dengan tingkatan yang memprihatinkan. Hal tersebut dapat dilihat pada hasil beberapa penelitian antara lain : (1) Idris (1996) melaporkan bahwa penggunaan traktor Caterpillar D7G pada kemiringan jalan sarad antara 0-8%

(10)

3 2 menyebabkan tanah tergeser rata-rata 0,06 m /m panjang jalan sarad atau 0,061 ton/m total erosi. Akibat penggunaan alsinhut untuk pembuatan jalan sarad masa 5 tahun sejak dibuat, erosi adalah 388 ton/ha; (2) Frederiksen (1970) pada tahun 1960-1968 mengemukakan bahwa rata-rata kehilangan sedimen tiap tahun dari areal hutan yang ditebang secara patch-cut dengan pembangunan jalan hutan adalah 30,8 ton/ha, sedangkan di areal tebang habis tanpa pembuatan jalan hutan terjadi sedimentasi sebesar 1,2 ton/ha.

5. Pemadatan tanah hutan yang tinggi

Pemadatan tanah terjadi karena adanya gaya tekan ke tanah dan getaran yang dihasilkan oleh traktor. Roda traktor bergerak di atas lapisan tanah (top soil) dan bekas roda terbentuk. Tanah dapat bergerak sebagian ke arah luar jejak roda dan sebagian lagi terpadatkan di bawah roda. Beberapa hasil penelitian mengenai pemadatan tanah hutan antara lain : (1) Hamzah (1978) dalam Manan (1994) mengatakan bahwa pada jalan sarad yang menggunakan traktor, pada

3

kedalaman 0 cm menghasilkan berat jenis isi tanah yang tinggi yaitu 1,67 gr/cm . Tingginya berat jenis isi tersebut menunjukkan telah terjadi pemadatan tanah yang tinggi pula; (2) Idris (1987) mengemukakan bahwa rata-rata pemadatan tanah sebagai akibat penyaradan dengan traktor

3 berban ulat (crawler) merek Caterpillar D7G berkekuatan 200 HP adalah 1,158 gr/cm ; (3) Rahmawati (2002) melaporkan bahwa bertambahnya lintasan traktor pada jalan sarad

3

mengakibatkan pemadatan tanah meningkat dari semula hanya 0,91 gr/cm menjadi 1,43 3

gr/cm ; dan (4) Retnowati (2004) melaporkan bahwa penyaradan dengan Caterpillar D7G mengakibatkan pemadatan tanah meningkat rata-rata berkisar 0,03-0,33 gr/cc pada kedalaman tanah 0-20 cm. Dari hasil penelitian tersebut jelas terlihat bahwa penggunaan alsinhut besar-besar menimbulkan dampak negatif berupa pemadatan tanah.

6. Pencemaran air sungai tinggi

Penggunaan alsinhut besar-besar terutama untuk kegiatan pembuatan jalan sarad, dapat menyebabkan pencemaran air sungai oleh sisa limbah pemanenan hutan dan peningkatan kandungan lumpur atau sedimentasi sungai. Penelitian Megahan (1977) di Idaho dan Virginia Barat, Amerika Serikat dalam Elias (2002) menunjukkan adanya pengaruh dari kegiatan pemanenan kayu terhadap sedimentasi dan turbiditi pada air sungai. Sedimentasi di Idaho pada DAS kontrol (tidak terganggu) adalah 9,249 ton/tahun/wilayah, DAS terganggu oleh pembangunan dan penyaradan adalah 1.130 ton/tahun/wilayah dan DAS terganggu oleh jalan angkutan kayu adalah 5.500 ton/tahun/wilayah. Sedang turbiditi maksimum di Virginia Barat, diperoleh untuk DAS kontrol adalah 15 ppm, areal dengan tebang pilih dengan limit diameter adalah 5.200 ppm dan untuk areal dengan tebang habis adalah 56.000 ppm.

7. Kecelakaan pekerja banyak

Pekerjaan pemanenan hutan memiliki hubungan yang saling berinteraksi antara manusia, peralatan dan lingkungan. Penggunaan alsinhut besar-besar pada pemanenan hutan sering menyebabkan kecelakaan kerja. Faktor alsinhut yang dirancang sesuai ukuran orang luar negeri yang berukuran besar umumnya posisi instrumen alat kendali tidak sesuai dengan ukuran tubuh pekerja Indonesia yang lebih kecil. Faktor ergonomi dari penggunaan alsinhut ini merupakan penyebab utama kecelakaan kerja karena penggunaan alsinhut tersebut menimbulkan beban kerja yang tinggi. Menurut Idris dan Soenarno (1988) angka frekuensi kecelakaan kerja berkisar antara 95 dan 151 kecelakaan per 1 juta jam kerja/orang/tahun menurut standar ANSI untuk 500 orang tenaga kerja. Sedangkan menurut Priyanto (2000)

(11)

angka kecelakaan kerja yang terjadi pada kegiatan kehutanan di PT. Suka Jaya Makmur pada tahun 1997-1999 cenderung naik, yaitu pada tahun 1997 sebanyak 16 kecelakaan, tahun 1998 sebesar 17 kecelakaan dan tahun 1999 sebesar 22 kecelakaan.

8. Suku cadang tergantung impor

Suku cadang sebagai salah satu faktor pendukung kelancaran operasional alsinhut besar-besar memilliki peranan yang cukup besar, terutama berhubungan dengan biaya pemesanan, biaya penyimpanan, biaya kekurangan maupun sistem yang tepat digunakan untuk mengendalikan persediaan suku cadang. PT. Trakindo Utama sebagai salah satu perusahaan pemasok alat berat kehutanan beserta suku cadang merek Caterpillar yang didatangkan dari Singapura. Banyaknya volume permintaan menyebabkan out stock on hand sehingga perlu dilakukan back order. Sebelum melakukan pemesanaan ke cabang Caterpillar Singapura, maka dilakukan pengecekan terhadap Cabang PT. Trakindo Utama terdekat sehingga waktu tunggu pada suku cadang relatif lama karena tempat pemesanan yang jauh yaitu Jakarta atau cabang PT. Trakindo Utama cabang Singapura (Sugianto, 2003).

9. Penggantian alat sulit

Harga pengadaan alsinhut besar sangat tinggi sehingga pengusaha banyak yang enggan mengganti alat yang sudah tua dengan alat baru. Mereka banyak yang memilih tetap menggunakan alat lama walaupun biaya perbaikan dan pemeliharaan tinggi.

10. Pencurian kayu makin marak

Keberadaan alsinhut besar selama ini telah membuka daerah-daerah di luar Pulau Jawa. Keterbukaan daerahdaerah tersebut karena adanya prasarana angkutan, mempermudah para pencuri hasil hutan (kayu) untuk beroperasi. Hal ini telah menjadi masalah nasional yang sampai saat ini belum bisa diatasi.

V. UPAYA PENGOPTIMALAN PENGGUNAAN ALSINHUT BESAR

Untuk masa datang, penggunaan alsinhut besar-besar dalam pembangunan hutan dituntut untuk memenuhi banyak persyaratan agar dapat diterima dan digunakan dalam praktek, yaitu dari segi teknis memungkinkan untuk diaplikasikan (technically possible), dari segi ekonomi dapat menguntungkan (economically feasible) dan dari segi sosial di terima oleh masyarakat (socially acceptable). Sekitar tiga dekade belakangan ini tuntutan tersebut bertambah, yaitu dari segi lingkungan harus ramah lingkungan (environmentally friendly). Dalam bidang kehutanan di Indonesia masih perlu ditambah segi kelembagaan yang harus mantap dan berwibawa dan segi sumberdaya manusia yang harus maju dan berdisiplin tinggi.

A. Segi Teknis

Peralatan yang digunakan dalam pembangunan hutan harus sesuai dengan ukuran kayu yang ditangani, keadaan lapangan dan tujuan penggunaan kayu. Alat yang terlalu besar akan menimbulkan pemborosan biaya, sedangkan bila terlalu kecil tidak akan mampu menangani kayu. Jenis dan tipe alat yang tidak sesuai dengan kondisi lapangan akan menyulitkan operasi sehingga tidak dapat bekerja dengan baik dan menimbulkan pemborosan dan/atau kerusakan lingkungan. Tujuan penggunaan kayu yang berbeda-beda juga menuntut jenis dan tipe alat yang digunakan agar

(12)

kayu tidak rusak dan nilainya tidak merosot.

Iklim tropis di Indonesia cukup keras terutama karena suhu dan kelembaban yang tinggi dan banyaknya binatang tropis yang mengganggu kelancaran operasi. Alat yang digunakan harus mampu beroperasi pada kondisi seperti itu sehingga tidak banyak biaya untuk perbaikan dan pemeliharaan serta alatnya tidak banyak menganggur.

Masalah kelancaran penyediaan suku cadang mutlak agar operasi tidak sering terganggu. Sebaiknya industri suku cadang dikembangkan di Indonesia. Dari segi kemampuan pelayanan, alat harus mampu melayani seluruh areal hutan yang dipanen dengan mengeluarkan semua kayu yang bernilai ekonomis sehingga tidak ada kayu yang terbuang menjadi limbah (waste).

Dalam hal ukuran, alat-alat pembangunan hutan haruslah sesuai dengan ukuran badan orang Indonesia agar pekerja dapat mengoperasikannya secara optimal, sehat dan tidak menimbulkan kecelakaan. Alat harus mempunyai instrumen pengaman untuk melindungi pekerja dari bahaya dari dalam alat, dari gangguan cuaca buruk dan berbagai obyek di lingkungan kerjanya. Yang juga sangat penting adalah syarat bahwa peralatan harus mudah dioperasikan, mudah diperbaiki dan dipelihara dengan biaya yang wajar.

B. Segi Ekonomi

Dari segi ekonomi, dituntut biaya pengadaan, perbaikan dan pemeliharaan tidak terlalu mahal. Demikian juga biaya bahan bakar dan suku cadang tidak boros, pada saat diperlukan suku cadang cepat ada agar alat tidak menganggur yang dapat menimbulkan biaya tinggi. Pemasangan alat, pembongkaran, pemindahan dari satu tempat operasi ke tempat operasi lain dan pemasangan kembali di tempat baru hendaknya tidak memakan waktu lama dan biaya tinggi.

C. Segi Sosial

Teknologi pembangunan hutan yang digunakan di suatu lokasi operasi haruslah dari jenis dan tipe yang diterima oleh masyarakat sekitar dan bermanfaat bagi mereka. Persyaratan ini sangatlah penting di samping untuk mencegah munculnya gangguan sosial, juga untuk memenuhi rasa keadilan bagi masyarakat untuk ikut berpartisipasi dan menikmati hasil dari suatu kegiatan yang dialkukan di daerah mereka. Untuk masa datang, hal ini makin penting karena masyarakat sudah makin kritis dan berani serta ketersediaan lapangan kerja masih jauh dari cukup.

D. Segi Lingkungan

Secara umum meningkatnya kesadaran mengenai dampak lingkungan dari suatu operasi atau penerapan teknologi sudah terjadi sekitar tiga dekade terakhir. Khusus untuk bidang kehutanan, terutama kegiatan pembangunan hutan, peningkatan kesadaran itu baru terjadi sekitar satu dekade terakhir yang berkembang menjadi satu formulasi dan diberi istilah Reduced Impact Logging (RIL). Inti dari RIL tersebut adalah agar setiap operasi pembangunan hutan harus direncanakan secara intensif dan implementasinya diawasi secara ketat sehingga operasi dapat berjalan efektif dengan tingkat gangguan terhadap tegakan hutan dan tanah hutan serta gangguan lainnya berada pada tingkat minimal (Dykstra, 2001; FAO, 2004). Perencanaan dimaksud di sini termasuk pemilihan jenis dan tipe alat serta perencanaan berbagai aspek terkait operasi pembangunan hutan di lapangan. Terlihat di sini tuntutan akan jenis dan tipe peralatan yang digunakan haruslah yang mempunyai dampak kerusakan terhadap hutan dan tanah yang minimal.

(13)

E. Segi Kelembagaan

Untuk menjamin pemilihan teknologi yang digunakan dan cara pengoperasiannya di lapangan dapat berjalan dengan benar, diperlukan adanya sistem kelembagaan yang jelas wewenangnya menangani masalah teknologi pembangunan hutan. Lembaga inilah yang menetapkan standar-standar dan peraturan perundangan dalam pengadaan, pengoperasian dan lain-lain yang perlu serta memberi sanksi atas pelanggaran yang mungkin terjadi. Lembaga ini jugalah yang terus menerus menegakkan pelaksanaan peraturan perundangan (law enforcement) dalam pembangunan hutan agar kerugian akibat gangguan kerusakan hutan dan tanah hutan, kerugian karena kesalahan penanganan produk dan sebagainya dapat dihindari atau setidaknya diminimalkan.

F. Segi Sumberdaya Manusia

Agar praktek pembangunan hutan di Indonesia berjalan baik, diperlukan kesadaran dan kemauan dari para penentu kebijakan akan pentingnya pelaksanaan pembangunan hutan berjalan dengan baik. Untuk tingkat pelaksana, diperlukan perencana, operator, mekanik, penyelia, manajer dan pimpinan yang ahli di bidangnya. Untuk itu diperlukan lembaga pendidikan dan pelatihan yang secara berkelanjutan membangun dan meningkatkan kemampuan SDM dan menyampaikan teknologi baru yang sesuai kepada yang memerlukan. Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), perlu dikembangkan lembaga kelitbangan yang kuat yang secara terus-menerus mencari perbaikan teknologi yang sudah ada dan melakukan koreksi atas kesalahan yang timbul. Salah satu tuntutan lain lagi adalah disiplin yang tinggi dari semua pihak terkait agar pembangunan hutan berjalan efektif dan efisien serta berkelanjutan.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

Dari uraian berbagai aspek penggunaan alat dan mesin dalam pembangunan hutan di Indonesia, dapat dikemukan beberapa kesimpulan berikut :

1. Pengertian alat dan mesin besar dalam pembangunan hutan (alsinhut) adalah alat dan mesin yang mempunyai tenaga penggerak berkekuatan 50 HP atau lebih. Alsinhut di Indonesia umumnya masuk kategori tersebut.

2. Keuntungan penggunaan alsinhut besar-besar cukup banyak, antara lain : (1) mampu menangani produk (kayu) dalam jumlah besar, (2) proses produksi cepat dan tepat waktu, (3) mampu menangani kayu-kayu yang besar, panjang dan berat, (4) mampu menghadapi medan operasi pembangunan hutan yang berat, (5) membuka lapangan kerja, (6) bisnis suku cadang dan bahan pendukung berkembang, (7) meningkatkan devisa negara, (8) meningkatkan ketrampilan tenaga kerja dan (9) membuka wilayah yang tadinya tertutup.

3. Kerugian penggunaan alsinhut besar-besar juga banyak, antara lain : (1) biaya produksi tinggi, (2) kerusakan tegakan tinggal tinggi, (3) luas keterbukaan tanah dan tajuk hutan tinggi, (4) erosi tanah hutan tinggi, (5) pemadatan tanah hutan tinggi, (6) pencemaran air sungai tinggi, (7) kecelakaan pekerja tinggi, (8) suku cadang tergantung impor, (9) penggantian alat sulit dan (10) pencurian kayu marak.

(14)

4. Upaya mengoptimalkan penggunaan alsinhut besar dapat dilakukan dengan cara memenuhi berbagai tuntutan persyaratan pengoperasian peralatan, antara lain dari segi teknis harus yang memungkinkan untuk dilaksanakan, dari segi ekonomi dapat menguntungkan, dari segi sosial dapat diterima, dari segi lingkungan harus ramah lingkungan, dari segi kelembagaan harus mantap dan berwibawa dan dari segi sumberdaya manusia harus maju dan berdisiplin tinggi. 5. Disarankan agar dalam menggunakan alsinhut besar-besar dalam pembangunan hutan,

semua pihak terkait, baik penentu kebijakan maupun pelaksana, memahami betul semua persyaratan tersebut pada butir 4 dan merealisasikannya dalam praktek pembangunan hutan agar manfaat dari teknologi alsinhut dapat diambil sedang kerugian yang ditimbulkannya dapat diminimalkan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1988. Caterpillar Performance Handbook. Edition 19. Caterpillar Inc. Pearia, Illinois. ---. Komatsu D80 buldoser leaflet. Komatsu Ltd. Tokyo.

Brainer, L.D., R.A.Kepner and D.L. Berger. 1960. Principles Of farm Machinery. John Wiley and Sons, Inc. New York.

Dulsalam, Sukanda dan I. Sumantri. 1989. Kerusakan tegakan tinggal akibat penyaradan dengan traktor pada berbagai tingkat kerapatan tegakan. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 6(6):349-352. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan. Bogor.

Departemen Kehutanan. 1990. Statistik Kehutanan Indonesia 1990/1991. Departemen Kehutanan. Jakarta.

Dulsalam dan Sukadaryati. 2001. Produktivitas dan biaya penyaradan kayu dengan kerbau di Jambi. Buletin Penelitian Hasil Hutan 19(3):147-164. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan. Bogor.

Dykstra, D.P. 2001. Reduced impact logging : concepts and issues. Paper at International Conference on the Application of Reduced Impact Logging to Advance Sustainable Forest Management, held in Kuching, Sarawak, February 26 - March 1, 2001. pp. 1 - 10.

Elias. 2002. Reduced impact logging. Institut Pertanian Bogor Press. Institut Pertanian Bogor. Bogor. FAO. 2004. Reduced Impact Logging in Tropical Forest Mangement. Harvesting and Engineering

Working Paper No. 1. Forestry Department, FAO, Rome.

Frederiksen, P.W. 1970. Erosion and sedimentation following road construction and timber harvest on unstable soils in three small western Oregon watersheds. USDA Forest Service Res. Paper PNW. 104.

Gill, W.R.1959. Soil compaction by traffic. Agriculture Engineering 40(7):392, 400 4001.

Idris, M.M. 1987. Pengaruh penyaradan kayu dengan traktor berban ulat terhadap kerusakan tegakan tinggal, penggeseran serta pemadatan tanah hutan. Tesis Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor. Tidak diterbitkan.

(15)

Idris, M.M. dan Soenarno. 1988. Kecelakaan kerja dalam kegiatan eksploitasi hutan di Kalimantan Tengah. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 5(1):31-36. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan. Bogor.

Idris, M.M. 1996. Dampak penebangan dan penyaradan di hutan produksi terbatas terhadap erosi tanah, keadaan iklim mikro dan permudaan alam. Disertasi Doktor. Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor. Tidak diterbitkan.

Manan, S. 1994. Kerusakan lingkungan akibat pembalakan dan cara-cara menanggulanginya. Paper pada penataran Manajer Logging pada 13-17 Desember 1992 di Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Rahmawati, I. 2002. Pengaruh intensitas penyaradan kayu oleh traktor trehadap kepadatan tanah dan pertumbuhan Acacia mangium dan Paraserianthes falcataria. Skripsi Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Bogor. Tidak diterbitkan.

Retnowati, E. 2004. Dampak kegiatan penyaradan dalam sistem TPTI terhadap sifat-sifat tanah di hutan produksi alam di Kalimantan Timur. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam 1(1):34-44. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. Bogor. Sastrodimedjo, R.S., R.S. Simarmata dan Soewito. 1973. Produktivitas dan biaya peralatan

mekanis pada eksploitasi jenis-jenis meranti di Sumatera. Laporan No. 15. Lembaga Penelitian Hasil Hutan. Bogor.

Soedjatmiko, 1974. Masalah Penggunaan Traktor Dalam Budidaya Pertanian Di Indonesia. Kertas Kerja Dalam Seminar Penerapan Teknologi Madia Pada Industri Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Sastrodimedjo, R.S., J. Thaib, A. Sianturi dan S.R. Simarmata. 1977. Produktivitas dan biaya alat eksploitasi mekanis pada beberapa permasalahan hutan di Maluku. Laporan No. 97. Lembaga Penelitian Hasil Hutan. Bogor.

Sianturi, A. dan D. Tinambunan. 1984. Studi kasus pemuatan kayu bulat di empat perusahaan eksploitasi hutan di Jambi. Laporan No. 170. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. Bogor.

Sukadaryati, Dulsalam dan M. Sinaga. 2002. kerusakan tegakan tinggal, keterbukaan lahan, penggeseran tanah dan biaya pada penyaradan terkendali. Buletin Penelitian Hasil Hutan 20(5):379-399. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. Bogor.

Suhartana, S. 2003. Penyaradan terkendalai untuk meminimasi kerusakan hutan dan biaya di hutan alam. Prosiding Seminar Nasional MAPEKI V di Bogor tanggal 30 agustus 1 September 2002. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. Bogor.

Sugianto, W. 2003. Analisis pengendalian persediaan suku cadang oil filter dan fuel filter traktor D7G dan wheel loader 966C di PT. Trakindo Utama Kantor Cabang Samarinda dan Banjarmasin. Skripsi. Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Bogor. Tidak diterbitkan.

Thaib, J. 1985. Kerusakan tegakan sisa akibat eksploitasi hutan dengan sistem traktor dan high lead. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 2(4):14-18. Pusat penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. Bogor.

(16)

(An Analysis on Credit Scheme And Funding Policy of Smallholder

Private Forests)

Oleh / By : Hariyatno Dwiprabowo

ABSTRACT

Credit scheme aimed to small holders of private-forests or forest farming is a major effort to carry out greening (afforestation) to produce timber and or other forest products, and to conserve land by involving community participation. Ministry of Forestry launched Private Forest Credit Scheme (KUHR) starting in 1997 and had terminated the credit scheme in 1999 due to a potential failure. Nevertheles, in the future such credit scheme should get attention as one of options to support program for forestry sector development. This study is aimed to identify factors contributing to credit scheme failure, funding alternative, and recommend improvement for future credit scheme. Study synthesized various published and unpublished reports, primary and secondary data and information, and group discussion with stakeholders i.e. banks and company involved in partnership with farmers that had been involved in the past credit scheme. Results of study reveal several findings: (1) Credit schemes should be flexibly adapted to region socio-economic conditions; (ii) Farmers' partner should be selectively chosen to ensure credit repayment; (iii) Bank role in credit chenneling should be adapted to the objective of the underlying program, and (iv) In the funding aspect, blend of funds of reforestation fund, national banks, and low rate oversea funding need to be sought.

Keywords : Credit scheme, forest farm, private forest smallholders

ABSTRAK

Kredit usaha tani hutan merupakan suatu upaya untuk melaksanakan penghijauan pada lahan milik berupa kebun kayu dan atau aneka usaha kehutanan lain, disamping untuk tujuan konservasi melalui partisipasi masyarakat. Departemen Kehutanan menyelenggarakan Kredit Usaha Hutan Rakyat (KUHR) yang dimulai sejak tahun 1997. Kredit ini berakhir dengan dihentikannya pemberian kredit pada tahun 1999. Meskipun demikian dimasa mendatang kredit usaha bagi petani tetap perlu mendapat perhatian sebagai salah satu alternatif untuk mendukung program di sektor kehutanan.Tujuan dari kajian ini adalah untuk melihat faktor-faktor penyebab kegagalan kredit hutan rakyat, perbaikannya di masa mendatang, serta sumber pembiayaannya. Kajian bersifat sintesis dari berbagai sumber laporan, data primer dan sekunder, dan forum diskusi dengan pelaku kredit seperti bank dan mitra kelopok tani. Hasil kajian menunjukkan kredit usaha tani dimasa mendatang perlu memperhatikan, antara lain: (i) Pemberian paket kredit perlu disesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi wilayah; (ii) Mitra kelompok tani perlu dipilih secara lebih selektif; (iii) Peranan bank dalam penyaluran kredit perlu dilihat secara lebih proporsional; (iv) Sumber pembiayaan selain berasal dari dana reboisasi, juga berasal dari perbankan nasional, dan sumber dana dari luar negeri.

(17)

I. PENDAHULUAN

Pada prinsipnya berbagai skema kredit usaha tani hutan memiliki tujuan yang sama yaitu memperluas basis partisipasi masyarakat dalam reboisasi dan penghijauan nasional atas dasar kemandirian usaha dengan bantuan kredit dari pemerintah. Dengan demikian peranan pemerintahan yang selama ini dominan didalam memperbaiki lingkungan sekaligus sebagai agen utama dalam produksi barang dan jasa kehutanan dapat semakin dikurangi.

Kredit usaha tani hutan (kayu) merupakan suatu upaya untuk melaksanakan penghijauan berupa kebun kayu dan aneka usaha kehutanan lain di tanah milik rakyat dengan bantuan kredit pinjaman kepada petani. Sebagai realisasi dari gagasan tersebut maka Departemen Kehutanan menyelenggarakan Kredit Usaha Hutan Rakyat (KUHR) dan Kredit Usaha Persuteraan Alam (KUPA), dan Kredit Usaha Konservasi Daerah Aliran Sungai (KUK DAS). Pengembangan hutan rakyat melalui program KUHR dimulai sejak tahun 1997 dan KUK DAS sejak tahun 1996 dengan sumber pendanaan dari Dana Reboisasi Departemen Kehutanan. Pengembangan hutan rakyat dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya kelangkaan pasokan bahan baku industri yang selama ini berasal dari hutan alam. Disamping untuk menunjang kebutuhan bahan baku industri pengolahan kayu juga diharapkan dapat menangani lahan kritis yang ada di luar kawasan hutan, terutama lahan tidur milik masyarakat.

Keterbatasan modal bagi petani untuk mengusahakan lahannya telah mendorong pemerintah untuk menyediakan sarana permodalan berupa KUHR melalui pola kemitraan antara petani/kelompok tani dengan pengusaha (BUMN, BUMS dan Koperasi) sebagaimana tertuang dalam SK Menhutbun No.49/Kpts-II/1997.

Tujuan pemberian kredit hutan rakyat (SK Menhut: 101/kpts-V/1996) adalah :(1) Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, (2) Untuk meningkatkan mutu lingkungan dan (3) Menunjang pemenuhan bahan baku industri (hasil hutan).

Sasaran pelaksanaan KUHR adalah untuk mendanai kegiatan hutan rakyat yang dilaksanakan pada lahan hak milik di luar kawasan hutan dengan status pemanfaatan yang jelas dan lahan usaha II dari Transmigrasi yang direncanakan sebagai hutan rakyat (Trans HR). Sedangkan KUPA (SK Menhutbun No.50/Kpts-II/1997) adalah untuk mendanai kegiatan usaha tani persuteraan alam yang dilaksanakan pada lahan hak milik di luar kawasan hutan dengan status pemanfaatan yang jelas dan lahan usaha II dari Transmigrasi yang direncanakan usaha tani persuteraan alam.

Disamping kedua skema kredit ini terdapat skema kredit lain (KUKDAS) yang pada dasarnya memiliki tujuan yang sama namun diselenggarakan untuk meningkatkan kondisi lahan di DAS. Oleh karena itu KUK DAS diberikan untuk bangunan konservasi/fisik, pengadaan bibit tanaman pangan atau tanaman keras seperi karet dan kopi, pengadaan saprodi atau pengadaan ternak.

Dari aspek kelembagaan pelaku (stakeholders) dalam pelaksanaan kegiatan KUHR dan KUPA dari sisi fungsionil terdiri dari 4 fihak, yaitu : (1) petani dan kelompok tani, (2) mitra usaha, (3) pembina teknis di tingkat nasional, propinsi, kabupaten, dan kecamatan, dan (4) perbankan. Pelaku mempunyai keterkaitan dan sinergisme dalam mekanisme perkreditan baik dari pengajuan kredit, realisasi kredit, pelaksanaan kegiatan usaha, pembinaan teknis, dan pengawasan pelaksanaan kredit dan teknis silvikultur.

Pada umumnya kredit-kredit yang bertujuan untuk penghijauan seperti KUHR, KUKDAS, KUPA, berasal dari Dana Reboisasi yang pada awalnya diperuntukan untuk penghutanan kembali pada kawasan hutan. Namun dalam perkembangannya pemanfaatannya diperluas sehingga mencakup lahan di luar kawasan hutan. Dengan menurunnya produksi kayu bulat dari hutan alam maka penerimaan DR semakin menurun padahal luas kawasan hutan yang rusak sebagai akibat

(18)

deforestasi semakin meningkat. Oleh karena itu perlu dilakukan penajaman prioritas maupun peningkatan efisiensi dalam penggunaan DR di masa mendatang. Upaya lainnya yang diperlukan adalah mencari sumber-sumber pandanaan lain yang tersedia bail di dalam dan luar negeri.

Tujuan kajian kebijakan ini adalah :

· Melakukan penilaian (assessment) atas kredit usaha tani hutan (KUHR);

· Mengkaji sumber pembiayaan kredit;

· Memberikan rekomendasi prekreditan usaha tani hutan.

II. METODOLOGI

Kajian dilakukan berdasarkan metode sintesis kualitatif dari (i) Laporan-laporan kredit usaha tani baik yang dipublikasikan atau tidak dipublikasikan, (ii) Data primer dan sekunder serta informasi lainnya dari lapangan. Data dan informasi diperoleh melalui wawancara dengan petani dan mitra petani, dan pencatatan dari instansi terkait. Di samping bahan-bahan tersebut bahan lain diperoleh dari forum diskusi yang khusus diadakan untuk membahas kredit usaha tani hutan yang melibatkan pihak bank, perusahaan mitra yang memiliki pengalaman bermitra dengan kelompok tani dalam Kredit Usaha Hutan Rakyat dan para peneliti.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Implementasi Kredit

Hasil beberapa evaluasi (Sylviani, 2000; PT Forindo Bangun Konsultan, 1999) terhadap KUHR menunjukkan belum ada data pengembalian kredit di seluruh propinsi untuk hutan rakyat. Hal ini disebabkan KUHR yang mulai dilaksanakan tahun 1997 dan tempo jatuh kredit 10 tahun kemudian sehingga belum dimulai masa pengembalian kreditnya. Waktu jatuh tempo yang paling cepat berdasarkan jadwal pengembalian kredit adalah tahun 2006.

Evaluasi atas implementasi lapangan di Kabupaten Sukabumi menunjukkan beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kegagalan kredit KUHR, yakni : (i) Penerima kredit adalah pengontrak lahan petani atau perantara, (ii) Petani memerlukan biaya yang cukup besar untuk mengurus sertifikat tanah, (3) Kondisi lapangan terutama pada lahan yang mememiliki kecuraman cukup besar memerlukan biaya tambahan untuk terasering, (iv) Beredarnya isyu bahwa kredit tidak perlu dikembalikan.

Evaluasi atas KUK DAS menunjukkan tingkat pengambalian yang bervariasi dengan rata-rata 49.7% berupa pokok dan bunga, yang terendah terjadi di Kabupaten Musi Rawas dengan tingkat pengembalian kredit 23.2%. Penyebab dari kegagalan tersebut dapat dikelompokkan kedalam aspek : (1) Pemasaran hasil, (2) Produksi, dan (3) Administrasi Kredit. Dari sisi pemasaran disebabkan : (i) pemilihan lokasi kurang tepat sehingga menyebabkan biaya transportasi yang tinggi , (ii) pilihan jenis tanaman kayu yang sulit dipasarkan. Dari aspek produksi disebabkan : (i) Tumpang tindih pemanfaatan lahan, dan (ii) kurang berhasilnya panen tanaman pangan dan ternak. Sedangkan dari sisi administrasi (ii) Proses penyaluran dana yang kurang lancar (Sylviani, 2002).

Kredit KUHR pada berbagai lokasi dihentikan penyalurannya mulai tahun 1999 pada berbagai tahap mulai tahap II, III, atau IV. Berdasarkan evaluasi atas data-data peluncuran keredit dan mitra penerima kredit, perusahaan yang menerima kredit terlama adalah PT XIP, Sumsel, dan

(19)

PT BMP di Wonosobo,Jawa Tengah yakni hingga tahap V. Kedua perusahaan ini sama-sama memiliki industri pengolahan kayu dan memiliki pengalaman dalam bidang kehutanan.

Evaluasi atas KUHR yang telah dilaksanakan oleh Departemen Kehutanan yang berujung pada penghentian penyaluran KUHR pada berbagai wilayah tidak didasarkan atas kinerja pengembalian kredit mengingat kredit tersebut belum jatuh tempo. Keputusan penghentian tersebut lebih didasarkan pada prediksi kinerja pengembalian kredit berdasarkan indikator lapangan sebagaimana telah diuraikan di atas.

Secara umum efisiensi dan efektivitas penyaluran kredit Hutan Rakyat masih rendah hal ini disebabkan oleh : (i) ketidaksesuaian dalam pelaksanaan kredit antara yang tertulis dalam SK Menhutbun dengan perjanjian kredit dan penggunaannya, (ii) adanya kesenjangan waktu pencairan kredit yang disebabkan pemindahbukuan kredit yang seharusnya kepada petani diambil alih oleh pengusaha (mitra), (iii) perubahan biaya penggunaan saprodi akibat kenaikan harga, (iv) adanya kegiatan penggunaan kredit selain untuk tanaman pokok kehutanan (seperti ternak), (v) pencairan kredit yang lambat dan peningkatan biaya produksi berpengaruh terhadap jumlah kredit dan efisiensi penggunaannya ( Forindo Bangun Konsultan, 1999). Sedangkan efisiensi dan efektivitas penggunaan dan penyeluran kredit pada sutera alam secara umum lebih baik dibanding pada usaha hutan rakyat, yang ditunjukkan oleh : (i) adanya kesinergetikan antara SK Menhutbun dengan perjanjian kredit dan penggunaannya, (ii) semakin pendeknya kesenjangan waktu pencairan waktu kredit, tidak ada kegiatan yang menyalahi prosedur.

B. Pola Paket Kredit

Model model kredit dalam KUHR terbatas (kaku) kurang memperhatikan kebutuhan riel petani dan kondisi sosial budaya ekonomi masyarakat. Paket kredit yang diberikan untuk petani di P. Jawa dan Luar Jawa cenderung seragam. Padahal terdapat perbedaan dalam kondisi budaya dan luas pemilikan lahan pada kedua wilayah tersebut. Pada umumnya luas pemilikan lahan per keluarga di Luar Jawa (misal: Sumatera Selatan, Jambi) adalah antara 2 5 ha bahkan beberapa petani memiliki lahan dengan luas > 5 ha. Di Jawa luas pemilikan lahan jauh lebih kecil, yakni, antara 0.25 ha 1 ha, sebagian besar berada pada kisaran 0.25 0.50 ha. Kemampuan petani di Luar Jawa untuk mengolah lahan maksimum 1.5 ha/petani, pada umumnya lahan ini dipilih lahan yang paling subur untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sedangkan sisanya adalah lahan tidur yang tidak terawat (berupa semak belukar). Tambahan modal seperti KUHR dimanfaatkan untuk membuka lahan tidur dengan berbagai jenis tanaman (kayu, kelapa sawit, dan karet). Sebaliknya di P. Jawa seluruh lahan digarap dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, tanaman kayu ditanam pada ruang-ruang marginal yang masih tersisa.

Berdasarkan kondisi tersebut, hutan rakyat dengan penanaman kayu yang ekstensif lebih sesuai untuk luar P. Jawa, sedangkan di P. Jawa penanaman kayu dasarnya pohon per pohon. Oleh karena itu paket Aneka Usaha Kehutanan di P.Jawa dapat dikombinasikan dengan sejumlah pohon kayu-kayuan secara terbatas.

C. Kelembagaan

Kelembagaan KUHR (organisasi dan aturannya) bersifat gemuk. Pelaksanaan kegiatan KUHR dan KUPA dari sisi fungsional terdiri dari : (1) petani dan kelompok tani, (2) mitra usaha, (3) pembina teknis di tingkat nasional, propinsi, kabupaten dan kecamatan, dan (4) pihak perbankan. Mekanisme pelaksanaan kegiatan proyek dimulai dari tingkat pusat sampai propinsi dan kabupaten. Berdasarkan hasil evaluasi Forindo Bangun Konsultan (1999) secara umum keterkaitan antar ke-empat pelaku tersebut intensitas peranannya hanya pada saat persiapan proyek. Setelah melewati

(20)

fase ini, mekanisme keterkaitan peran dan fungsi dari keempat pelaku relatif berkurang bahkan cenderung tidak jalan terutama dari aspek pembinaan dan pengawasan terhadap kegiatan penyaluran kredit. Keterlibatan banyak instansi dalam skema KUHR untuk keperluan pembinaan cenderung meningkatkan inefisiensi berupa pemborosan waktu dan dana. Dawson (1996) dikutip dalam Wahyudi dan Sulandari (2000) menggunakan dua indikator dalam evaluasi kinerja kelembagaan yakni efektivitas dan efisiensi. Efektivitas adalah kemampuan kelembagaan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam hal ini dilihat dari ketepatan waktu dan jumlah penyaluran dan pengembalian kredit. Sedangkan efisiensi merupakan rasio dari nilai input dengan nilai output. Suatu sistem kelembagaan dapat disebut efisien jika setiap elemen lembaga tersebut memebrikan kontribusi netto positif terhadap sistem. Secara operasional suatu sistem kelembagaan menjadi tidak efisien jika bertindak sebagai pencari rente belaka.

Hasil evaluasi terhadap pelaku memperlihatkan intensitas peranan stakeholders maksimal hanya pada saat persiapan proyek. Setelah fase ini, keterkaitan peran dan fungsi keempat pelaku berkurang dari aspek pembinaan dan pengawasan terhadap kegiatan penyaluran kredit (PT Forindo Bangun Konsultan, 1999).

Penggunaan bank channeling perlu dievaluasi kembali karena bank penyalur pada KUHR aturan-aturannya bersifat lokal/tidak seragam dari satu propinsi ke propinsi lainnya. Sebaliknya penggunaan bank nasional yang memiliki pengalaman perkreditan untuk usaha kecil lebih memberikan jaminan kelancaran operasional. Akhir-akhir ini muncul gagasan untuk membentuk ”bank hijau” sebagai lembaga keuangan dalam sektor kehuatanan khusunya dalam pembangunan hutan mengingat kegiatan ini memiliki karakteristik yang khusus. Di samping itu peranan bank dapat ditingkatkan menjadi pelaksana sebagaimana penyaluran kredit lainnya sehingga memiliki tanggung jawab lebih besar atas operasi kredit maupun pengembaliannya.

Hal penting lainnya yang berakibat pada kegagalan KUHR adalah sasaran penerima kredit. Penerima kredit (mitra) sebagai pendamping petani ditetapkan badan hukum yang memiliki akses pasar. Kenyataan menunjukkan mitra yang memiliki akses pasar tidak berarti memiliki kemampuan untuk menjual hasil kayu dari petani dengan harga yang layak di pasar karena memiliki posisi tawar yang lemah dibandingkan industri kayu yang menerima. Ketidak jelasan mitra tersebut banyak menimbulkan penyalahgunaan kredit KUHR oleh pihak mitra. Hasil evaluasi atas data realisasi kredit KUHR dari Ditjen RRL (RLPS) menunjukkan bahwa dari seluruh kredit yang telah disalurkan pada berbagai propinsi hanya dua (2) mitra perusahaan saja yang memiliki kinerja baik, yakni, menerima kucuran kredit hingga tahap IV dan V, mitra lainnya dihentikan pada tahap II atau III. Kedua mitra perusahaan (berlokasi di Propinsi Sumatera Selatan dan Propinsi Jawa Tengah) tersebut adalah industri kayu yang hingga kini masih beroperasi dan selama ini menerima pasokan kayu dari hutan rakyat disamping itu memiliki pengalaman kehutanan (membangun hutan rakyat). Kontrak yang dilakukan perusahaan mitra dengan petani yang dilakukan sejak awal, perjanjian penjualan kayu dengan harga pasar, serta perjanjian pembagian keuntungan merupakan cara yang efektif bagi petani.

Peranan Dinas (propinsi dan kabupaten) maupun Intansi terkait lainnya, Kelompok Tani dalam Skema KUHR perlu ditinjau. Menurut Wahyudi dan Wulandari (2000) dalam kasus Sistem Perkreditan Usahatani Tebu, Kepala Desa, KUD, dan Dinas Perkebunan oleh sebagian besar petani dianggap sudah tidak diperlukan lagi. Evaluasi yang dilakukan terhadap perkreditan petani tebu menunjukkan bahwa kredit yang disalurkan kepada pabrik gula (PG) sebagai mitra petani tebu memiliki kinerja yang baik. Demikian pula PIR BUN kelapa sawit dengan bentuk kemitraan Perusahaan Perkebunan dengan petani kebun dengan pola plasma-inti memiliki tingkat pengembalian kredit yang tinggi (75%).

(21)

Skema kredit PIR BUN merupakan skema perkreditan yang berhasil dengan tingkat pengembalian hingga 75%. Kunci keberhasilan ini antara lain disebabkan oleh: (i) Unit Manajemen Usaha yang jelas; (2) Komoditas yang dihasilkan yakni kelapa sawit memiliki keterkaitan pasar yang jelas yakni pabrik-pabrik pengolah CPO.

D. Peranan Bank

Peranan bank selama ini baik di bidang kehutanan (KUHR, KUPA) dan pertanian (PIR-BUN) adalah sebagai bank penyalur (channeling bank). Dalam KUHR bank bertindak sebagai penyalur pinjaman Dana Reboisasi (DR). Sebagai akibat tingginya sukubunga komersial serta jangka pinjaman yang umumnya bersifat jangka pendek, sedangkan usaha hutan tanaman bidang kehutanan berjangka waktu panjang dengan tingkat pengembalian yang relatif rendah membuat pendanaan dalam bidang kehutanan memerlukan pengaturan khusus. Menurut Hasan dari Bank Mandiri (2004) untuk mengatasi hal tersebut diperlukan pengaturan sebagai berikut :

Blended of Funds : Pemerintah menempatkan dana di perbankan dalam bentuk deposito abadi. Bunga deposito dan dana komersial perbankan dicampur dengan proporsi tertentu sehingga diperoleh sumber pendanaan jangka panjang dan berbunga rendah;

Resiko Kredit : Resiko yang muncul akibat pembiayaan ini ditanggung secara proporsional oleh pemerintah dan perbankan sesuai dengan share pembiayaannya;

Equity (self financing) : Nasabah berbentuk badan usaha wajib menyediakan self financing minimal 20% dari total pembiayaan hutan tanaman;

Jaminan kredit: Nasabah disyaratkan untuk menyerahkan jaminan tambahan.

Fasilitas kredit investasi diberikan kepada Kelompok Tani Hutan yang memiliki kerjasama kemitraan dengan industri kehutanan untuk pembangunan hutan tanaman dan atau rehabilitasi lahan kritis menjadi Hutan Rakyat. Kredit Hutan Rakyat diberikan hanya diberikan kepada Kelompok tani yang memiliki kerjasama dengan suatu industri kehutanan atau perusahaan perdagangan hasil hutan. Sedangkan pengelolaan fasilitas kredit dilakukan oleh Industri Kehutanan yang menjadi Mitra Usaha atas nama Kelompok Tani Hutan.

Ditinjau dari aspek perbankan, fungsi bank dalam perkreditan memiliki dua macam bentuk berikut.

1. Fungsi penyaluran (Channeling)

Dalam fungsi ini bank hanya menyalurkan kredit dengan komisi tertentu (komisi dalam penyaluran KUHR adalah sebesar 2%). Bank secara operasional tidak melakukan fungsi pengawasan serta upaya paksa penarikan kredit, penyandang danalah yang melakukan kegiatan-kegiatan tersebut. Sebagian besar atau seluruh resiko kredit ditanggung oleh penyandang dana (pemerintah). Oleh sebab itu sebagai pemberi jaminan (avalis), pemerintah perlu menyimpan dana dalam jumlah yang memadai pada bank pelaksana untuk menanggung resiko kredit macet. Fungsi bank sebagai penyalur sangat sesuai untuk pelaksanaan program-program pemerintah yang tujuannya tidak semata-mata untuk tujuan komersial seperti KUHR pada waktu yang lalu.

2. Fungsi pelaksanaan (Executing)

Dalam fungsi ini, bank pelaksana memiliki tanggung jawab terhadap pengawasan serta pengembalian kredit, dan menanggung sebagian besar resiko atas kredit yang diberikan. Sebagai konsekuensinya sasaran (penerima) kredit perlu memenuhi persyaratan yang ditetapkan fihak bank berdasarkan analisa kredit yang berlaku. Pemerintah dapat menyertakan sebagian dana untuk

(22)

menentukan besarnya kredit dan tingkat suku bunga yang diberikan. Fungsi bank sebagai pelaksana atau executing sesuai untuk program yang memiliki tujuannya dan sasaran ekonomi yang jelas serta secara finansial dapat dipertanggung jawabkan. Dalam kasus pembangunan hutan rakyat perlu lebih dipertegas unit manajamen usaha serta skala ekonominya serta komoditas yang akan dihasilkan dan ketersediaan pasarnya (keterkaitan dengan industri). Dalam konteks ini sudah selayaknya hutan rakyat dikembangkan menjadi sistem agribisnis.

Dalam melaksanakan program pemerintah yang bertujuan bukan semata-mata untuk tujuan ekonomi (komersial) seperti KUHR pada waktu yang lalu, bank cenderung mengambil posisi

channeling untuk menghindarkan resiko (Munandar, 2004).

Menurut Hardjanto (2003) sistem usaha kayu rakyat terdiri empat sub sistem yaitu sub sistem produksi, sub sistem pengolahan, dan sub sistem pemasaran dan sub sistem kelembagaan. Keseluruhan sistem tersebut berpengaruh pada kinerja usaha kayu rakyat yang dirasakan belum optimal. Sistem agro-forest binis yang dikembangkan perlu memperhatikan keempat sub sistem agar bekerja secara optimal.

E. Alternatif Skema Pembiayaan

Pembiayaan untuk kehutanan sangat bervariasi tergantung pada siapa yang membiayai, untuk siapa dan apa yang dibiayai, dan berapa banyak dana yang terlibat. Terdapat mekanisme langsung dan tak langsung, secara individu dan lembaga, dan pinjaman atau hibah. Dari sisi sumber pembiayaan dapat diklasifikasikan kedalam domestik dan luar negeri, publik dan swasta. Terdapat pula kombinasi satu dengan lainnya maupun pembiayaan secara bersama satu sumber dengan lainnya.

1. Pembiayaan dalam negeri

Pemerintah selama ini memegang peranan dengan menerapkan berbagai instrumen untuk memobilisasi dana dari sektor kehutanan seperti royalti, iuran, dan pajak. Pembiayaan kredit hutan rakyat selama ini bersumber dari Dana Reboisasi dari Pemerintah (Departeman Kehutanan) dengan bunga nol persen pada bank pelaksana.

Menurut Repetto dan Sizer (1996) sektor kehutanan sebaiknya membiayai sendiri (self financing) dan barangkali tidak memerlukan sumber lain bagi investasi pengelolaan hutan yang berkelanjutan (INDUFOR, 1999). Jika kebijakan yang diterapkan tepat, dan rente yang potensial secara efektif dikumpulkan dan ditransfer kepada pengelola maupun pemilik hutan, tidak diperlukan sumber pembiayaan lain jika hutan dapat mencapai tingkat produktivitas minimum yang diperlukan. Dalam hal hutan yang dimiliki negara serta pengumpulan pajak dan iuran2 kehutanan, permasalahannya adalah pendapatan pemanfaatan hutan dikumpulkan oleh Menteri Keuangan, dan dana seringkali tidak secara khusus disisihkan untuk reinvestasi atau untuk memulihkan biaya pengelolaan sumber hutan dan konservasi.

Investasi domestik swasta dibatasi oleh tingkat ketersediaan dana baik dari sumber lokal maupun luar. Disamping dana dari industri skala besar maupun menengah, investasi swasta dilakukan oleh petani dan penduduk sekitar hutan, perusahaan skala kecil dimana semua memobilisasi dana dan sumber daya yang lain untuk pengelolaan hutan dan pengolahan hasil hutan.

Investasi oleh masyarakat pedesaan dan organisasinya tidak selalu tercatat dengan baik sehingga peranannya cenderung diabaikan oleh statistik resmi. Chandrasekharan (1996) menunjukkan pengalaman terakhir dalam pembangunan kehutanan menunjukkan apabila sumberdaya penduduk lokal dimobilisasi secara efektif, investasi kehutanan yang sangat produktif

(23)

dan efektif akan terjadi pada biaya yang relatif rendah. Kebijakan yang kondusif untuk memberikan insentif yang terukur (tangible) dan dukungan yang terarah sangat penting untuk mencapai hal tersebut.

Pembiayaan dalam negeri selama ini sangat tergantung pada peranan sektor kehutanan dalam ekonomi nasional, dan prakondisi yang dapat membuat investasi pengelolaan hutan menguntungkan bagi sektor swasta.

2. Official Development Assistance (ODA) a. Sumber-sumber ODA

Terdapat 2 (dua) mekanisme pembiayaan internasional konvensional utama yang telah diterapkan pada masa lalu untuk menyediakan dana bagi sektor kehutanan: official development assistance (ODA), dan investasi sektor swasta. Keduanya mengambil berbagai bentuk dan saluran (channel) dan seringkali saling terkait.

ODA khususnya memberikan support konservasi lingkungan, pembangunan sosial, infra struktur, capacity building, maupun menyediakan bimbingan teknisdan sumber daya lain sebagai katalisator pembangunan. Akhir-akhir ini telah berkembang keinginan untuk mensupport internalisasi eksternalitis global. Dalam kehutanan, isyu lingkungan dan sosial cenderung meningkat prioritasnya. Aliran ODA umumnya berbentuk hutang, hibah atau bantuan teknis. ODA memiliki 2 (dua) saluran utama:

(i) secara bilateral dari agen donor kepada penerima; atau

(ii) secara multilateral melalui badan internasional yang memperoleh sumber dari badan-badan donor dan pasar keuangan internasional.

b. Bank pembangunan multilateral

Bantuan multilateral diberikan oleh bank pembangunan, badan-badan PBB dan organisasi khusus, dan NGO internasional. Diantara bank pembangunan multilateral (MDB), Bank Dunia selama ini merupakan pemberi dana terbesar dan kebijakannya cenderung diikuti oleh badan-badan lain. Kebijakan kehutanannya tahun 1992 telah meninggalkan pendanaan pembalakan hutan tropis primer. Dikarenakan konflik lokal maupun internasional yang berhubungan dengan penggunaan hutan, Bank Dunia dan bank pembangunan wilayah (AfDB, AsDB, dan IDB) telah mengalihkan focus-nya dari yang bersifat murni kehutanan kepada proyek-proyek terintegrasi dimana kehutanan merupakan bagian dari pembangunan pedesaan dan konservasi lingkungan. IFAD juga telah terlibat dalam pendanaan kegiatan-kegiatan kehutanan /penanaman pohon sebagai bagian dari proyek-proyek pertanian.

c. Badan internasional

Bantuan teknis di bidang kehutanan disediakan oleh sejumlah badan-badan PBB seperti FAO, ITTO, ILO, ITC, UNDP, UNEP, UNESCO, UNIDO, WFP dan WHO. Global Environment Facility (GEF) dikelola oleh WB, UNDP dan UNEP sebagai instrumen untuk pembiayaan kehutanan. UNDP adalah saluran pendanaan utama dari PBB untuk pembangunan dan lingkungan melalui alokasi program pemerintah. Tahun 1993 UNDP sebagai tindak lanjut dari UNCED meluncurkan Forestry Capacity Program untuk membantu merumuskan dan mengimplementasikan program kehutanan nasional (NFP). Tahun 1998, UNDP meluncurkan Program on Forest (PROFOR) untuk mempromosikan SFM dan kemitraan sektor publik dan swasta yang terkait pada tingkat negara,

(24)

untuk mensupport mata pencaharian yang lestari (sustainable livelihood).

ITTO memiliki focus pada promosi SFM di hutan-hutan tropis melalui intervensi dalam reforestasi dan pengelolaan hutan, industri kayu dan informasi ekonomi dan market intelligence. Badan ini membiayai proyek melalui Account khusus kemana kontribusi negara donor diberikan, termasuk sektor swasta. Akhir-akhir ini terdapat kecenderungan kejenuhan pendanaan ITTO dari negara donor.

d. Lembaga bantuan non pemerintah

Pembiayaan dari dana OPEC (Organisation for Petroleoum Exporting Countries) muncul akhir-akhir ini, bidang yang terbuka bagi pembiayaan adalah kehutanan dan pertanian. Untuk pembiayaan bidang kehutanan terdapat kegiatan timberland yakni pembelian dan reforestasi tegakan hutan (kayu). Disamping itu pembiayaan terbuka bagi kegiatan farm khususnya proyek peningkatan farm seperti irigasi dan penyiapan lahan, pembelian mesin dan peralatan, ternak, dan fasilitas ternak. Hutan rakyat memiliki peluang untuk dikembangkan pada kegiatan timberland atau

farm.

Besarnya sukubunga pinjaman adalah sebagai berikut: Besarnya pinjaman Suku bunga

1

US$ 5 juta 50 juta LIBOR plus 2% - 2 / % (masih dapat dinegosiasi)4 1

US$ 50 juta 100 juta LIBOR plus 1% - 1 / %2

US$ 100 juta keatas LIBOR plus ¾% - 1% __________________

Sumber : Opecfunds (2004)

Keterangan : LIBOR adalah singkatan dari London InterBank Offered Rates yakni tingkat suku bunga untuk pinjaman jangka pendek yang ditawarkan sekelompok bank di Inggris (London). Libor seringkali dijadikan rujukan tingkat sukubunga pinjaman antar bank. Sebagai contoh, tingkat LIBOR bulan September 2004 untuk jangka 1 tahun adalah 2.4445%.

e.Clean Development Mechanism

Dengan ratifikasi Kyoto Protocol terbuka kemungkinan mendapatkan dana tambahan untuk program penghijauan/hutan rakyat melalui penjualan karbon melalui CDM (Carbon Development Mechanism). Berbagai perusahaan swasta di luar negeri khususnya yang bergerak dalam bidang pembangkitan energi memiliki kewajiban mengurangi emisi karbon yang ditimbulkannya. Meskipun nilai karbon relatif kecil dibandingkan dengan nilai kayunya, tambahan dana ini akan menjadi insentif tambahan dalam pembangunan hutan rakyat. Mekanisme jual beli karbon yang lebih operasional perlu diupayakan guna meningkatkan aksesibilitas perusahaan yang berminat. Dalam progam KUHR di masa mendatang, penghasilan dari penjualan karbon seyogyanya merupakan insentif tambahan bagi perusahaan mitra dan kelompok tani sehingga tidak menjadi bagian dari sistem pembiayaan kredit.

(25)

IV. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan

1. Dalam skema kredit perlu dibedakan kondisi sosial ekonomi wilayah khususnya antara petani di P. Jawa dan Luar Jawa. Untuk petani hutan di P. Jawa kredit agar difokuskan pada aneka usaha kehutanan yang arahnya pemanfaatan lahan petani secara optimal. Sedangkan di Luar Jawa difokuskan pada kayu mengingat masih luasnya lahan milik petani. Oleh karena itu pola atau paket kredit perlu dibuat lebih bervariasi.

2 Kriteria Mitra Kelompok Petani harus lebih jelas untuk menjamin pemanfaatan kredit maupun penjaminan dan pengembaliannya. Oleh karena itu sasaran penerima kredit sebaiknya ditujukan kepada industri pengguna kayu yang telah ada.

3. Kepentingan petani dalam pemanfaatan kredit dan manfaat hasilnya sebaiknya difokuskan pada terms of contract antara Perusahaan mitra dengan Klpk petani berdasarkan azas saling menguntungkan.

4. Untuk keperluan pendanaan perkreditan perlu dibentuk badan khusus di DepHut yang terlepas (independen) dari birokrasi lainnya.

5. Hutan rakyat perlu dikembangkan sebagai sistem agribisnis atau agro-forest bisnis untuk memperluas penerimaan dari perbankan dan lembaga keuangan lainnya. Dalam sistem ini unit manajemen usaha dan skala ekonomi, komoditas, serta keterkaitan dengan pasar (industri) perlu lebih diperjelas.

6. Peranan bank disesuaikan dengan tujuan program pemberian kredit. Untuk program yang semata-mata tidak sepenuhnya bertujuan komersial seperti untuk konservasi maka bank lebih sesuai untuk chanelling, sedangkan untuk program yang berorientasi ekonomi dengan perhitungan kelayakan finansial maka bank dapat berperan sebagai executing agent.

7. Sumber pembiayaan /pendanaan bagi perkreditan sebaiknya campuran dari DR, bank nasional, serta pendanaan dari Luar Negeri. Untuk pendanaan LN pemerintah sebaiknya menarik dana dari OPEC funds yang berbunga cukup rendah, dan sumber dana yang berasal dari penjualan karbon. Dengan demikian tingkat suku bunga kredit yang ditawarkan kepada petani dapat ditekan.

B. Rekomendasi

1. Untuk pembuatan terms of contract antara perusahaan mitra kelompok tani hutan dan implementasinya perlu dilakukan pendampingan oleh instansi pemerintah yang berkompeten atau oleh LSM.

2. Untuk Perubahan hutan rakyat tradisional menjadi suatu sistem agro-forest binis diperlukan diperlukan peningkatan kemampuan SDM, memperkuat kelembagaan yang ada dan mengurangi hambatan-hambatan yang terjadi.

(26)

DAFTAR PUSTAKA

Arifin,T.U. Hassan. 2004. Pendanaan Pembangunan Kehutanan Secara Berkesinambungan. Makalah Utama. Seminar Pembangunan Hutan Tanaman.Bogor, 6 Oktober 2004.Puslitbang Sosial Budaya dan Ekonomi Kehutanan.Bogor.

Costa, P.M., J. Salmi, M.Simula, C. Wilson.1999.Financial Mechanisms for Sustainable Forestry.UNDP/SEED.Helsinki-Oxford.

Darusman,D. 2004. Mengapa Hutan Tanaman Industri Kurang Berkembang. Makalah Tanggapan.Seminar Pembangunan Hutan Tanaman.Bogor, 6 Oktober 2004.Puslitbang Sosial Budaya dan Ekonomi Kehutanan. Bogor.

Forindo Bangun Konsultan.1999.Evaluasi Pelaksanaan Kredit Usaha Hutan Rakyat dan Usahatani Persuteraan Alam. Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Jakarta.

Hardjanto. 2003. Keragaan dan Pengembangan Usaha Kayu Rakyat di Pulau Jawa.Program Pasca Sarjana IPB. Bogor.

Irawanti, S., Sylviani,E.Syahadat, L.Indracahya. 2000. Analisis Efektivitas Skim Kredit Usaha Tani Konservasi dan Hutan Rakyat.Laporan Penelitian. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Kehutanan dan Perkebunan. Bogor.

Munandar, Imam. 2004. Manajer Pemasaran BNI Jakarta.Konsultasi Publik Analisis Kebijakan ”Optimalisasi Skim Pendanaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan”. Bogor, 16 Desember 2004. Opecfunds. 2004. Website www.opecfunds.org. Diakses pada tanggal 1 November 2004.

Sarono, S.2004. Direktur PT Xylo Pratama-Jakarta. Konsultasi Publik Analisis Kebijakan ”Optimalisasi Skim Pendanaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan”, Bogor, 16 Desember 2004. Riyadi, Sugeng. 2004. Pegawai BRI Jakarta.Konsultasi Publik Analisis Kebijakan ”Optimalisasi Skim

Pendanaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan”, Bogor, 16 Desember 2004.

Sylviani dan S.Irawanti. 2000. Pola Pengembangan Hutan Rakyat Melalui Skim Kredit Hutan Rakyat dan Konservasi (Studi Kasus Sumatera Selatan). Info Sosial Ekonomi 1(1): 37-48.Puslit Sosial Ekonomi Kehutanan dan Perkebunan. Bogor.

Wahyudi, A. dan S.Wulandari. 2000. Analisis Sistem Perkreditan Usahatani Tebu.Jurnal Sosial Ekonomi 1(1): 85-99. Puslit Sosial Ekonomi Kehutanan dan Perkebunan. Bogor.

(27)

LAMPIRAN. Bagan Alir Pengajuan dan Penyaluran Kredit Usaha Hutan Rakyat -HR Menteri Kehutanan dan Perkebunan Sekjen Dephutbun Dirjen RRL Kanwil Dep Kehutanan & Perkebunan Bupati Kepala Daerah Tk II RUP-HR RP - HR PKT/Dinas Dinas Kehutanan BPD Pusat Rekomendasi Rekomendasi Usulan Kredit Rekomendasi (Proposal) R – HR RT - HR MITRA USAHA PENGGUNAAN KREDIT OLEH PETANI Petani/Klpk Tani BPD Cabang Akad Kredit

Gambar

Gambar 1.  Pola pikir yang digunakan dalam kajian kebijakan pengelolaan hutan lindung Figure 1
Gambar 2.  Diskusi intensif antara anggota tim pengkajian dengan para pihak Figure 2.     Intensive discussion among researchers with stakeholders
Tabel 1.  Luas sadapan getah pinus pada Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten  dalam 5 tahun terakhir (2000-2004)
Gambar 4.  Penyadapan pinus dengan sistem  kowakan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Jurnal Studi Agama dan Masyarakat Volume 9, Nomor 2, Desember 2015 membangun peradaban yang tidak ada duanya, bahkan Eropa sendiri jauh tertinggal pada zaman

Bapak I Ketut Kodi, SSP., M.Si., dosen jurusan Seni Pedalangan ISI Denpasar, yang banyak meberikan ide menggarap garapan lakon carangan agar lakon carangan tidak

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh dari faktor eksternal seperti inflasi dan tingkat suku bunga ( BI rate ) dan faktor internal seperti jumlah asset kelolaan

Sihombing dan Safarudding (2007) mengemukakan bahwa banyaknya syarat yang diajukan perbankan dalam mengirim remitansi akan mempengaruhi biaya pengiriman remitansi yang

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman genetik keturunan/anakan Shorea leprosula dari populasi hutan alam dan tanaman.. Sampel daun dikumpulkan dari

Metode simulasi merupakan induk dari metode soiodrama, bermain peran ( role playing ), psikodrama, dan permainan. Berdasarkan uraian diatas, dapat dirumuskan

Penentuan status resistensi aedes aegypti dari daerah endemis Demam Berdarah Dengue di kota depok terhadap malathion.. Buletin Penelitian

Tetapi walaupun mereka adalah masyarakat yang kurang mampu, tetapi mereka tetap berjuang hidup dengan membuat jajan pasar sehingga jajan pasar pun tidak akan dilupakan