2 - 1
B
B
a
a
b
b
2
2
PROFIL SANITASI SAAT INI
2.1
Gambaran Wilayah
2.1.1 Lingkup Administrasi
Kabupaten Pidie berada pada bagian utara Provinsi Aceh dengan letak geografis berada pada 04°39’35,88” – 05°34’08,34” LU dan 95°44’35,37” – 96°28’41,58” BT. Batas-batas wilayah ditentukan berdasarkan aspek administrasi mencakup wilayah daratan seluas 318.444,77 Ha, yang terdiri dari 23 kecamatan, 94 kemukiman dan 731 gampong, wilayah laut kewenangan sejauh 4 mil sejauh garis pangkal seluas 39.845,37 Ha, wilayah udara di atas daratan dan laut kewenangan, serta termasuk ruang di dalam bumi di bawah wilayah daratan dan laut kewenangan, dengan batas-batas wilayah Kabupaten Pidie, meliputi:
Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kabupaten Pidie Jaya,
Bireuen, Aceh Tengah dan Aceh Barat;
Sebelah Barat : Berbatasan dengan Aceh Besar dan Aceh Jaya;
Sebelah Utara : Berbatasan dengan Selat Malaka, Kabupaten
Pidie Jaya dan Bireuen; dan
Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kabupaten Aceh Barat, Aceh Tengah, Aceh Jaya dan Aceh Besar;
Dari posisi tersebut, wilayah ini membuka ke arah Selat Malaka dimana 6 kecamatan dari 23 kecamatan yang ada memiliki garis pantai menghadap ke Selat Malaka tersebut. Kecamatan yang menghadap ke Selat Malaka adalah Kecamatan Muara Tiga, Batee, Pidie, Kota Sigli, Simpang Tiga, dan Kembang Tanjong. Wilayah Kabupaten Pidie memiliki akses langsung ke
2
2
Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Pidie Jaya,Kabupaten Bireuen, dan Kabupaten Aceh Barat.
Letak geografis Kabupaten Pidie dapat dilihat pada Gambar 2.1. Sedangkan luas wilayah administrasi dan luas wilayah terbangunan di Kabupaten Pidie dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut.
Tabel 2.1
Luas Wilayah Masing-Masing Kecamatan dalam Kabupaten Pidie
No. Kecamatan
Jumlah Luas Wilayah
Kemukiman Gampong
Administrasi Terbangun
(Ha) % terhadap total
administrasi (Ha) % terhadap luas administrasi 1 Batee 4 28 4.610,83 1,45 1.608 34,87 2 Delima 4 44 2.499,11 0,78 1.403 56,14 3 Geumpang 1 6 65.707,16 20,63 3.226 4,91 4 Glumpang Baro 4 21 1.211,89 0,38 727 59,98 5 Glumpang Tiga 4 34 5.483,92 1,72 1.542 28,12 6 Grong-grong 2 15 777,34 0,24 457 58,82 7 Indrajaya 5 49 2.540,90 0,80 454 17,87 8 Kembang Tanjong 6 45 2.886,63 0,91 1.651 57,19 9 Keumala 2 18 4.929,57 1,55 452 9,17 10 Kota Sigli 0 15 655,64 0,21 512 78,05 11 Mane 1 4 67.503,58 21,20 1.454 2,15 12 Mila 3 20 3.531,96 1,11 517 14,64 13 Muara Tiga 3 18 16.002,68 5,03 1.997 12,48 14 Mutiara 4 29 1.674,90 0,53 629 37,55 15 Mutiara Timur 7 48 3.124,39 0,98 1.701 54,45 16 Padang Tiji 6 64 25.758,61 8,09 2.198 8,53 17 Peukan Baro 6 48 1.729,06 0,54 606 35,05 18 Pidie 8 64 2.609,45 0,82 1.358 52,05 19 Sakti 7 49 3.852,20 1,21 1.860 48,29 20 Simpang Tiga 7 52 2.486,44 0,78 1.512 60,82 21 Tangse 4 28 78.658,02 24,70 921 1,17 22 Tiro/Truseb 4 19 17.468,66 5,49 2.439 13,96 23 Titeue 2 13 2.741,83 0,86 457 16,67 Jumlah 94 731 318.444,77 100,00 29.681 9,32
GAMBAR 2.1 PETA ADMINISTRASI
2 - 4
2.1.2 Kondisi Fisik Dasar
2.1.2.1 Topografi (Ketinggian)
Berdasarkan kelas ketinggian, Kabupaten Pidie didominasi oleh kelas ketinggian 100 – 500 mdpl sebesar 23,86%, sementara kelas ketinggian yang rendah sebesar 3,68% berada pada ketinggian 0 – 25 mdpl. Adapun ketinggian masing-masing kecamatan dapat dilihat pada Tabel 2.2 dan Gambar 2.2.
Tabel 2.2
Ketinggian Tiap Kecamatan di Kabupaten Pidie Tahun 2014 No. Kecamatan Ketinggian (mdpl)
0 - 3 3 - 25 25 - 100 100 - 500 500 - 1000 1000 - 1500 1 Geumpang 19,42 114,43 159,62 167,73 2 Mane 37,73 264,54 243,90 270,53 3 Glumpang Tiga 25,40 29,51 2,28 4 Glumpang Baro 13,56 9,23 1,12 5 Mutiara 22,57 7,54 6 Mutiara Timur 29,27 29,51 7,19 1,22 7 Tiro/Truseb 21,61 32,59 58,24 8,23 1,23 8 Tangse 59,69 198,53 269,33 284,15 9 Keumala 29,37 14,98 8,57 0,29 10 Titeue 25,92 16,46 5,95 0,37 11 Sakti 23,47 9,80 7,03 12 Mila 13,57 6,15 5,28 13 Padang Tiji 15,03 169,97 45,96 10,64 14 Delima 10,48 25,56 7,28 15 Grong-grong 8,38 22,83 1,97 16 Indrajaya 2,50 20,50 17 Peukan Baro 12,07 4,93 18 Kembang Tanjong 18,87 7,13 19 Simpang Tiga 20,45 4,55 20 Kota Sigli 5,90 21 Pidie 27,67 5,33 22 Batee 25,26 29,42 8,20 9,04 2,48 23 Muara Tiga 15,43 16,65 13,36 7,64 7,62 Jumlah 113,58 286,91 522,98 736,48 703,41 723,64 Rata-Rata 18,93 15,94 29,05 49,10 78,16 180,91
GAMBAR 2.2 PETA TOPOGRAFI
2 - 6
2.1.2.2 Hidrologi
Sungai dan cekungan air tanah merupakan salah satu sumber daya air yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang berbagai kegiatan seperti pertanian, industri, rumah tangga dan lain sebagainya. Sungai yang ada di Kabupaten Pidie keseluruhannya berhulu di dataran tinggi Bukit Barisan dan bermuara ke Selat Malaka dengan pola aliran berbentuk sub-paralel pada wilayah yang terbentuk pada lereng dari suatu jalur pegunungan, seperti DAS Krueng Baro dan Krueng Tiro.
1. Daerah Aliran Sungai (DAS)
Arah dan pola aliran sungai yang terdapat dan melintasi wilayah Aceh dapat dikelompokkan atas 2 pola utama, yaitu:
- Sungai-sungai yang mengalir ke Samudera Hindia atau ke arah
barat;
- Sungai-sungai yang mengalir ke Selat Malaka atau ke arah timur.
DAS yang terdapat di Kabupaten Pidie, meliputi: Krueng Batee, Krueng Baro, Krueng Laweueng, Krueng Biheue, Krueng Seuleunggoh, Krueng Reubee, Krueng Putu dan Krueng Tiro. Adapun Daerah Aliran Sungai di Kabupaten Pidie dijelaskan lebih rinci pada Tabel 2.3 dan Gambar 2.3.
Tabel 2.3
Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kabupaten Pidie
No. DAS Luas (Ha) Prosentase (%)
1. Krueng Batee 69,15 4,54 2. Krueng Baro 483,40 31,71 3. Krueng Laweueng 13,30 0,87 4. Krueng Seuleunggoh 153,60 10,08 5. Krueng Biheue 31,06 2,04 6. Krueng Tiro 377,54 24,77 7. Krueng Teunom 396,44 26,00 Jumlah 1.524,49 100.00
GAMBAR 2.3
PETA DAERAH ALIRAN SUNGAI
2 - 8
2. Wilayah Sungai (WS)
Kabupaten Pidie dilintasi oleh Wilayah Sungai Aceh – Meureudu dan Teunom – Lambeuso. WS Aceh – Meureudu terdiri dari enam DAS, antara lain Krueng Batee, Krueng Baro, Krueng Laweueng, Krueng Biheue, Krueng Seuleunggoh, dan Krueng Tiro. Keenam DAS tersebut memiliki luas 1.128,05 Ha. Sedangkan WS Teunom – Lambeuso terdiri dari DAS Krueng Teunom seluas 396,44 Ha.
3. Kawasan Rawan Banjir
Secara umum Kabupaten Pidie merupakan salah satu daerah yang sangat rawan terjadinya berbagai bencana alam, seperti banjir, tanah longsor, puting beliung, letusan gunung berapi, gempa bumi bahkan tsunami. Kondisi ini harus menjadi pertimbangan penting untuk setiap perencanaan pembangunan, sehingga pembangunan di Kabupaten Pidie sejalan dengan program-program mitigasi bencana. Matriks Tingkat Bahaya/Kebencanaan Kabupaten Pidie diperlihatkan pada Tabel 2.4. Banjir adalah peristiwa terbenamnya daratan yang biasanya kering oleh air dalam suatu waktu tertentu. Banjir merupakan salah satu bencana yang sangat berdampak secara langsung terhadap sektor sanitasi dan pada umumnya disebabkan oleh air sungai yang meluap ke lingkungan sekitarnya akibat curah hujan yang tinggi. Banjir bandang adalah banjir di daerah permukaan rendah yang terjadi akibat hujan yang turun terus menerus dan muncul secara tiba-tiba, dan terjadi saat penjenuhan air terhadap tanah di wilayah tersebut berlangsung dengan sangat cepat. Air yang tergenang lalu berkumpul di daerah-daerah dengan permukaan rendah dan mengalir dengan cepat ke daerah yang lebih rendah. Penyebab banjir adalah:
1. Banyaknya daerah resapan yang berubah fungsi menjadi bangunan;
2. Saluran air yang tidak berfungsi optimal;
3. Air laut ketika terjadi pasang;
4. Tanah kurang dapat menahan air;
9
Berdasarkan kompilasi yang dilakukan TDMRC terhadap 4 data banjiryang dimiliki yaitu data dari Land System Bakosurtanal, hasil permodelan
banjir dengan SOBEK dari Sea Defence Consultant, data kejadian banjir
dari Balai Wilayah Sungai Sumatera I dan hasil survey banjir yang dilakukan oleh TDMRC, area genangan banjir Kabupaten Pidie berada di Kecamatan Mane, Kecamatan Geulumpang Tiga, Kecamatan Tiro/Truseb, Kecamatan Titeu, Kecamatan Keumala, Kecamatan Mutiara Timur, Kecamatan Tangse, Kecamatan Sakti, Kecamatan Geulumpang Baro, Kecamatan Mutiara, Kecamatan Mila, Kecamatan Kembang Tanjong, Kecamatan Indrajaya, Kecamatan Peukan Baro, Kecamatan Simpang Tiga, Kecamatan Delima, Kecamatan Grong-Grong, Kecamatan Pidie, Kecamatan Kota Sigli, Kecamatan Padang Tiji, Kecamatan Batee, dan Kecamatan Muara Tiga.
Tabel 2.4
Matriks Tingkat Bahaya/Kebencanaan Kabupaten Pidie
No. Jenis Bencana Bahaya Luas
Dominan % Luas Bahaya Dominan Indeks Bahaya Tingkat Bahaya 1 Banjir 40.940,82 51,60 0,664 Sedang
2 Cuaca Ekstrim 51.612,48 65,05 0,720 Tinggi
3 Gelombang Ekstrim&Abrasi 0,598 Sedang
4 Gempa Bumi 78.913,17 99,46 0,674 Tinggi
5 Kebakaran Hutan/Lahan 35.157,00 44,31 0,657 Sedang
6 Kekeringan 73.692,00 92,87 0,648 Sedang
7 Letusan Gunung Api 89,55 0,11 0,333 Rendah
8 Tanah Longsor 0,709 Tinggi
9 Tsunami 6,03 0,01 0,833 Tinggi
10
2.1.3 Kondisi Kependudukan
2.1.3.1 Jumlah dan Kepadatan
Jumlah penduduk Kabupaten Pidie pada tahun 2015 sebesar 404.944 jiwa dengan luas area terbangun 29.681 Ha. Tingkat kepadatan penduduk terbesar terdapat di Kecamatan Indrajaya sebesar 53 jiwa/Ha dan terendah di Kecamatan Geumpang sebesar 2 jiwa/Ha. Perbedaan kepadatan penduduk antar wilayah yang signifikan dilatarbelakangi oleh kondisi wilayah, lokasi serta tingkat kemudahan pencapaian/aksesibilitas yang sangat berbeda. Data Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Pidie tahun 2015 disajikan pada Tabel 2.5.
Tabel 2.5
Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Pidie Tahun 2015 No. Kecamatan Jumlah Penduduk (jiwa) Luas Area Terbangun (Ha) Kepadatan Penduduk (jiwa/Ha) 1 Kec. Batee 19.547 1.608 12 2 Kec. Delima 19.595 1.403 14 3 Kec. Geumpang 7.283 3.226 2
4 Kec. Glumpang Baro 9.704 727 13
5 Kec. Glumpang Tiga 18.342 1.542 12
6 Kec. Grong-Grong 6.504 457 14
7 Kec. Indrajaya 23.906 454 53
8 Kec. Kembang Tanjong 20.238 1.651 12
9 Kec. Keumala 9.367 452 21
10 Kec. Kota Sigli 19.948 512 39
11 Kec. Mane 7.999 1.454 6
12 Kec. Mila 9.691 517 19
13 Kec. Muara Tiga 18.504 1.997 9
14 Kec. Mutiara 19.231 629 31
15 Kec. Mutiara Timur 32.478 1.701 19
16 Kec. Padang Tiji 20.702 2.198 9
17 Kec. Peukan Baro 19.182 606 32
11
19 Kec. Sakti 19.650 1.860 11
20 Kec. Simpang Tiga 21.255 1.512 14
21 Kec. Tangse 24.818 921 27
22 Kec. Tiro/Truseb 7.465 2.439 3
23 Kec. Titeu 7.183 457 16
Jumlah 404.944 29.681 14
Sumber : Hasil Analisis Pokja Sanitasi Kabupaten Pidie, 2015
2.1.3.2 Proyeksi Pertumbuhan Penduduk
Proyeksi jumlah penduduk Kabupaten Pidie sampai akhir tahun perencanaan 2020 dilakukan dengan memproyeksikan jumlah penduduk setiap kecamatan dengan menggunakan rumus proyeksi penduduk geometris agar diperoleh hasil yang lebih akurat. Setiap kecamatan memiliki karakteristik pertumbuhan penduduk yang berbeda seiring dengan perkembangan wilayah tersebut. Diperkirakan jumlah penduduk Kabupaten Pidie pada tahun 2020 mencapai 415.558 jiwa. Data Proyeksi Jumlah Penduduk Kabupaten Pidie Tahun 2015 – 2020 disajikan pada Tabel 2.6.
Tabel 2.6
Proyeksi Jumlah Penduduk Kabupaten Pidie Tahun 2015 – 2020 No. Kecamatan Proyeksi Jumlah Penduduk (Jiwa)
2015 2016 2017 2018 2019 2020 I Wilayah Perdesaan 290.935 292.578 294.230 295.892 297.564 299.244
1 Kec. Batee 19.547 19.658 19.770 19.883 19.996 20.110 2 Kec. Delima 19.595 19.685 19.776 19.867 19.958 20.050 3 Kec. Geumpang 7.283 7.323 7.363 7.404 7.445 7.485 4 Kec. Glumpang Baro 9.704 9.770 9.836 9.903 9.971 10.038 5 Kec. Glumpang Tiga 18.342 18.450 18.559 18.669 18.779 18.890 6 Kec. Grong-Grong 6.504 6.538 6.573 6.608 6.643 6.678 7 Kec. Indra Jaya 23.906 24.057 24.208 24.361 24.514 24.669 8 Kec. Kembang Tanjong 20.238 20.363 20.490 20.617 20.745 20.873 9 Kec. Keumala 9.367 9.416 9.465 9.514 9.563 9.613
12
10 Kec. Mane 7.999 8.045 8.090 8.137 8.183 8.230 11 Kec. Mila 9.691 9.741 9.792 9.843 9.894 9.946 12 Kec. Muara Tiga 18.504 18.589 18.675 18.761 18.847 18.934 13 Kec. Padang Tiji 20.702 20.801 20.901 21.002 21.102 21.204 14 Kec. Peukan Baro 19.182 19.293 19.405 19.518 19.631 19.745 15 Kec. Sakti 19.650 19.762 19.875 19.988 20.102 20.216 16 Kec. Simpang Tiga 21.255 21.383 21.511 21.640 21.770 21.900 17 Kec. Tangse 24.818 24.959 25.102 25.245 25.389 25.533 18 Kec. Tiro/Truseb 7.465 7.514 7.562 7.612 7.661 7.711 19 Kec. Titeu 7.183 7.230 7.277 7.324 7.372 7.420
II Wilayah Perkotaan 114.009 114.662 115.320 115.981 116.645 117.314
1 Kec. Kota Sigli 19.948 20.070 20.192 20.315 20.439 20.564 2 Kec. Mutiara 19.231 19.352 19.474 19.597 19.720 19.844 3 Kec. Mutiara Timur 32.478 32.660 32.843 33.027 33.212 33.398 4 Kec. Pidie 42.352 42.581 42.811 43.042 43.274 43.508
Jumlah 404.944 407.240 409.550 411.873 414.209 416.558
Sumber: Hasil Analisis Pokja Sanitasi Kabupaten Pidie, Tahun 2015
2.1.3.3 Jumlah Penduduk Miskin
Kabupaten Pidie merupakan salah satu kabupaten dengan tingkat kemiskinan penduduk yang tinggi dan tersebar di seluruh kecamatan. Besarnya jumlah penduduk miskin tersebut serta sanitasi yang tidak memadai sangat mempengaruhi kualitas kesehatan dan lingkungan. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Pidie berupaya mensinergikan program pengentasan kemiskinan dengan upaya-upaya peningkatan layanan sektor sanitasi bagi masyarakat. Data penduduk miskin Kabupaten Pidie Tahun 2012 disajikan pada Tabel 2.7.
13
Tabel 2.7
Data Penduduk Miskin Kabupaten Pidie Tahun 2012
No. Kecamatan
Jumlah
KK KK Miskin Penduduk Miskin
1 Kec. Batee 6.034 4.333 15.758
2 Kec. Delima 5.449 4.195 14.754
3 Kec. Geumpang 1.821 929 1.801
4 Kec. Glumpang Baro 2.770 1.396 5.031
5 Kec. Glumpang Tiga 4.860 3.186 7.619
6 Kec. Grong-Grong 1.859 1.510 3.039
7 Kec. Indra Jaya 6.907 5.352 22.502
8 Kec. Kembang Tanjong 5.709 4.390 14.316
9 Kec. Keumala 2.506 1.845 6.522
10 Kec. Kota Sigli 5.249 2.707 8.588
11 Kec. Mane 2.003 1.381 5.436
12 Kec. Mila 3.125 1.179 4.086
13 Kec. Muara Tiga 4.848 3.856 15.006
14 Kec. Mutiara 5.237 2.945 13.430
15 Kec. Mutiara Timur 8.583 3.571 14.862
16 Kec. Padang Tiji 5.727 4.378 15.847
17 Kec. Peukan Baro 4.882 2.344 7.476
18 Kec. Pidie 10.761 9.729 38.680
19 Kec. Sakti 5.523 2.511 7.230
20 Kec. Simpang Tiga 5.943 4.416 16.151
21 Kec. Tangse 7.344 4.312 10.279
22 Kec. Tiro/Truseb 1.971 1.427 5.561
23 Kec. Titeu 1.642 855 2.702
Jumlah 110.753 72.747 256.676
Sumber: Buku Data Miskin Bappeda Kab. Pidie, Tahun 2012
2.1.4 Wilayah Kajian Strategi Sanitasi Kabupaten
Kajian pemutakhiran SSK dilakukan meliputi seluruh kecamatan dalam wilayah administrasi Kabupaten Pidie. Cakupan wilayah kajian pemutakhiran Strategi Sanitasi Kabupaten Pidie diperlihatkan pada Gambar 2.4.
GAMBAR 2.4
2 - 15
2.1.5Kebijakan Penataan Ruang Wilayah
Penataan ruang wilayah Kabupaten Pidie diatur dengan Qanun No. 5 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pidie Tahun 2014 – 2034. Kebijakan penataan ruang wilayah Kabupaten Pidie merupakan arah tindakan yang harus ditetapkan untuk mencapai tujuan penataan ruang wilayah Kabupaten Pidie. Kebijakan penataan ruang wilayah Kabupaten Pidie dirumuskan berdasarkan:
tujuan penataan ruang wilayah Kabupaten Pidie;
karakteristik wilayah Kabupaten Pidie;
kapasitas sumber daya wilayah Kabupaten Pidie dalam mewujudkan
tujuan penataan ruangnya; dan
ketentuan peraturan perundang-undangan terkait.
Untuk mewujudkan tujuan penataan ruang wilayah Kabupaten Pidie, maka kebijakan penataan ruang, meliputi:
a. pemantapan sistem pusat-pusat pelayanan dikembangkan dengan
penetapan pusat-pusat layanan dan pembagian fungsi kawasan;
b. pencapaian peningkatan akses serta peningkatan pelayanan jaringan
prasarana ke seluruh wilayah kabupaten;
c. pencapaian pemantapan dan pengendalian kawasan lindung;
d. pengembangan lahan pertanian lahan basah;
e. pengembangan wisata potensial ramah lingkungan dan ramah
budaya;
f. penataan lahan perkebunan dan lahan hutan;
g. pengembangan pemanfaatan potensi perikanan dan kelautan sesuai
potensi lestari;
h. pengembangan kegiatan peternakan; dan
i. pengembangan kegiatan sektor industri dan perdagangan yang sesuai
dengan potensi alam dan sumber daya manusia.
RTRW Kabupaten Pidie diantaranya memuat tentang rencana sistem jaringan prasarana sanitasi meliputi jaringan prasarana lingkungan, mencakup prasarana pengelolaan lingkungan yang terdiri atas sistem
16
persampahan, sistem jaringan air minum, sistem jaringan pengelolaan airlimbah, sistem jaringan drainase yang disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan di Kabupaten Pidie.
2.1.5.1 Rencana Sistem Jaringan Persampahan
Sistem persampahan di Kabupaten Pidie umumnya masih menggunakan sistem tradisional mengingat kondisi masyarakat belum sepenuhnya siap dengan sistem modern. Sehingga pelayanan persampahan sistem modern baru menjangkau wilayah perkotaan, khususnya Kota Sigli dan sekitarnya. Selain itu wilayah berkembang di sepanjang jalan arteri primer dimasa mendatang harus terlayani, terutama di pusat kegiatan masyarakat seperti pasar dan perumahan.
Rencana sistem jaringan persampahan di Kabupaten Pidie meliputi:
a. Lokasi Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) meliputi :
1. Blok Bengkel Kecamatan Kota Sigli sebanyak 2 (dua) unit;
2. Pasar Kota Bakti Kecamatan Sakti sebanyak 1 (satu) unit;
3. Beureunuen Kecamatan Mutiara sebanyak 1 (satu) unit;
4. Lhok Kuala Kecamatan Geumpang sebanyak 1 (satu) unit;
5. Mane Kecamatan Mane sebanyak 1 (satu) unit;
6. Glp. Minyeuk Kec. Glumpang Tiga sebanyak 1 (satu) unit;
7. Cot Glumpang Kecamatan Glp. Baro sebanyak 1 (satu) unit;
8. Bandar Mutiara Kec. Mutiara Timur sebanyak 1 (satu) unit;
9. Keude Tangse Kecamatan Tangse sebanyak 1 (satu) unit;
10.Gampong Jijiem Kecamatan Keumala sebanyak 1 (satu) unit;
11.Keude Simpang Kecamatan Titeue sebanyak 1 (satu) unit;
12.Padang Tiji Kecamatan Padang Tiji sebanyak 1 (satu) unit;
13.Reubee Kecamatan Delima sebanyak 1 (satu) unit;
14.Grong Grong Kecamatan Grong Grong sebanyak 1 (satu) unit;
15.Caleue Kecamatan Indrajaya sebanyak 1 (satu) unit;
16.Batee Kecamatan Batee sebanyak 1 (satu) unit; dan
17.Lhok Igeuh Kecamatan Tiro/Trusep sebanyak 1 (satu) unit;
17
19.Gampong Tanjong Kecamatan Kembang Tanjong sebanyak 1 (satu)
unit;
20.Bunien Kecamatan Simpang Tiga sebanyak 1 (satu) unit;
21.Dua Paya Kecamatan Peukan Baro sebanyak 1 (satu) unit;
22.Lampoh Lada Kecamatan Pidie sebanyak 1 (satu) unit; dan
23.Teungku Dilaweueng Kecamatan Muara Tiga sebanyak 1 (satu)
unit.
b. Lokasi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) terdiri atas :
1. Cot Padang Nila Kecamatan Padang Tiji; dan
2. Cot Kreh Kecamatan Keumala.
a) Pengembangan tekonologi komposing sampah organik dan
sistem Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali),
dan Recycle (mendaur ulang) atau 3R lainnya sesuai kawasan
permukiman;
b) Pengelolaan sampah dengan Sanitary landfill;
c) Tempat Penampungan Sementara ditempatkan pada pusat
kegiatan masyarakat meliputi:
1) pasar;
2) permukiman;
3) perkantoran; dan
4) fasilitas sosial lainnya.
d) Melakukan koordinasi antar lembaga pemerintah, masyarakat,
dan dunia usaha agar terpadu dalam pengelolaan sampah. Untuk jelasnya mengenai rencana pengelolaan persampahan Kabupaten Pidie dapat dilihat pada Gambar 2.5.
GAMBAR 2.5
2 - 19
2.1.5.2 Rencana Sistem Jaringan Air Minum
Guna memenuhi kebutuhan air bersih untuk domestik maupun komersial di Kabupaten Pidie, maka akan dikembangkan sistem jaringan air minum di Kabupaten Pidie meliputi:
a. Instalasi Pengolahan Air Jabal Gafur I di Gampong U Gadeng
Kecamatan Keumala bersumber dari Bendung Keumala dengan kapasitas produksi 20 l/dt, dengan cakupan layanan meliputi wilayah Kecamatan Mila, Indrajaya dan Kota Sigli;
b. Instalasi Pengolahan Air Jabal Gafur II di Gampong Pulo Tanjong
Kecamatan Mila bersumber dari Krueng Baro dengan kapasitas produksi 20 l/dt, dengan cakupan layanan meliputi wilayah Kecamatan Kota Sigli;
c. Instalasi Pengolahan Air Lampeunteut – Garot di Gampong Keubang
Kecamatan Indrajaya bersumber dari Krueng Baro dengan kapasitas produksi 20 l/dt, dengan cakupan layanan meliputi wilayah Kecamatan Kota Sigli;
d. Instalasi Pengolahan Air Beureunuen I di Gampong Baro Yaman
Kecamatan Mutiara bersumber dari Krueng Tiro dengan kapasitas produksi 20 l/dt, dengan cakupan layanan meliputi wilayah Kota Beureuneun dan Blang Paseh;
e. Instalasi Pengolahan Air Beureunuen II di Pasar Hewan Baro Yaman
Kecamatan Mutiara bersumber dari Krueng Tiro dengan kapasitas produksi 10 l/dt, dengan cakupan layanan meliputi wilayah Kecamatan Mutiara;
f. Instalasi Pengolahan Air Kembang Tanjong di Gampong Puuk
Kecamatan Kembang Tanjong bersumber dari Krueng Tiro dengan kapasitas produksi 5 l/dt, dengan cakupan layanan meliputi wilayah Kecamatan Kembang Tanjong dan Simpang Tiga;
g. Instalasi Pengolahan Air Teupin Raya - Batee di Gampong Teupin
Raya Kecamatan Batee bersumber dari Krueng Batee dengan kapasitas produksi 10 l/dt, dengan cakupan layanan meliputi wilayah Kecamatan Batee;
20
h. Instalasi Pengolahan Air Keumala di Gampong Pako Kecamatan
Keumala bersumber dari Krueng Baro dengan kapasitas produksi 80 l/dt, dengan cakupan layanan meliputi wilayah Kecamatan Kota Sigli dan Beureuneun;
i. Instalasi Pengolahan Air Laweung di Gampong Ingin Jaya
Kecamatan Muara Tiga bersumber dari Krueng Biheu dengan kapasitas produksi 10 l/dt, dengan cakupan layanan meliputi wilayah Kecamatan Muara Tiga; dan
j. Instalasi Pengolahan Air Bersih Tangse di Gampong Krueng Meriam
Kecamatan Tangse bersumber dari Krueng Tangse dengan kapasitas produksi 150 l/dt, dengan cakupan layanan meliputi wilayah Kabupaten Pidie kecuali Kecamatan Mane dan Geumpang;
2.1.5.3 Rencana Sistem Jaringan Pengolahan Air Limbah
Rencana sistem jaringan pengolahan air limbah di Kabupaten Pidie
dapat berupa pemenuhan prasarana septic tank untuk setiap rumah
pada kawasan permukiman perkotaan dan perdesaan serta pengembangan jamban komunal pada kawasan permukiman padat, kumuh dan fasilitas umum.
Rencana sistem pengolahan air limbah di Kabupaten Pidie meliputi:
a. Sistem pembuangan air limbah (sewerage) mencakup sistem
pengolahan air limbah Terpadu (IPLT) terdiri atas :
1. IPLT Padang Nila Desa Tunong Tanjong Kec. Padang Tiji;
2. IPLT Cot Kreh Desa Cot Kreh Kec. Keumala; dan
3. IPLT Sagoe Desa Sagoe Kec. Gelumpang Baro.
b. Pemenuhan prasarana septic tank untuk setiap rumah pada
kawasan permukiman perkotaan dan perdesaan;
c. Pengembangan jamban komunal pada kawasan permukiman padat,
kumuh dan fasilitas umum; dan
d. Penyediaan sarana prasarana pengolahan limbah industri, limbah
medis, limbah berbahaya beracun (B3) secara mandiri pada fasilitas maupun secara terpadu.
21
2.1.5.4 Rencana Sistem Jaringan Drainase
Pengembangan dan peningkatan sistem jaringan drainase di Kabupaten Pidie meliputi saluran drainase sekunder pada kawasan fungsional perdagangan, perkantoran, pariwisata, dan kawasan terbangun lainnya. Rencana sistem jaringan drainase di Kabupaten Pidie meliputi:
a. Pembagian blok drainase, terdiri atas :
1. Blok Drainase Permukiman Perkotaan Kota Sigli meliputi
Gampong Lampoh Krueng, Kuala Pidie, Blok Bengkel, Benteng, Kramat Luar, Kramat Dalam, Pante Teungoh, Blok Sawah, Blang Asan, Gampong Asan, Blang Paseh;
2. Blok Drainase Permukiman Perkotaan Kota Bakti meliputi
Gampong Pasar Kota Bakti, Dayah Kp. Pisang, Meunasah Blang;
3. Blok Drainase Permukiman Perkotaan Beureuneun, meliputi
Gampong Baro Barat Yaman, Mesjid Yaman, Sentosa, Baro Yaman, Mee Teungoh;
4. Blok Drainase Permukiman Perkotaan Tangse meliputi
Gampong Keudeu Tangse, Pulo Mesjid II;
5. Blok Drainase Permukiman Perkotaan Kembang Tanjong,
meliputi Gampong Asan Kumbang, Tanjong, Jurong Balee;
6. Blok Drainase Permukiman Perkotaan Pidie, meliputi Gampong
Lhok Keutapang, Pulo Pisang, Paloh;
7. Blok Drainase Permukiman Perkotaan Lhok Kuala meliputi
Gampong Bangkeh;
8. Blok Drainase Permukiman Perkotaan Indrajaya, meliputi
Gampong Dayah Caleue;
9. Blok Drainase Permukiman Perkotaan Grong-grong meliputi
Gampong Grong-grong;
10.Blok Drainase Permukiman Perkotaan Padang Tiji, meliputi
Gampong Pasar Paloh; dan
11.Blok Drainase Permukiman Perkotaan Muara Tiga, meliputi
22
a) Pengembangan saluran drainase sekunder tersendiri pada
kawasan fungsional perdagangan, perkantoran, pariwisata, dan kawasan terbangun lainnya;
b) Pengembangan saluran drainase tersier pada kawasan
permukiman pada sepanjang sisi jalan raya;
c) Mewajibkan penghijauan, pembuatan sumur resapan dan
biopori pada kawasan terbangun; dan
d) Koordinasi pengelolaan saluran drainase perkotaan.
2.1.5.5 Rencana Sistem Jaringan Prasarana Kabupaten
Sistem jaringan prasarana kabupaten berupa penyediaan prasarana umum dan sosial yang umumnya mengikuti sistem pusat-pusat pelayanan. Pusat pelayanan yang lebih tinggi (contohnya PKL Sigli) tentunya harus memiliki ketersediaan prasarana umum dan sosial yang lebih lengkap dibanding pusat pelayanan yang lebih rendah
(contohnya PPK Mane). Rencana pengembangan prasarana
pemerintahan dan pelayanan umum meliputi:
a. Prasarana pemerintahan dan pelayanan umum terdiri atas:
1. Tingkat kabupaten berada di Perkotaan Kota Sigli;
2. Tingkat kecamatan berada di perkotaan tiap kecamatan; dan
3. Tingkat desa/gampong berada di seluruh kecamatan sesuai
jumlah desa/gampong.
b. Prasarana pendidikan terdiri atas:
1. Sarana pendidikan pasca Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA),
meliputi:
a) Universitas Jabal Ghafur berada di Gampong Glee Gapui
Kecamatan Indrajaya dan Gampong Keuniree Kecamatan Pidie;
b) Komplek Pendidikan Tijue berada di Gampong Lampeudeu
Tunong Kecamatan Pidie; dan
c) Akademi Kebidanan di Gampong Cot Teungoh dan
23
2. Sarana pendidikan se-tingkat SLTA berada di kawasan
perkotaan dan perdesaan;
3. Sarana pendidikan se-tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat
Pertama (SLTP) berada di kawasan perkotaan dan perdesaan;
4. Sarana pendidikan se-tingkat Sekolah Dasar (SD) berada di
kawasan perkotaan dan perdesaan; dan
5. Sarana pendidikan se-tingkat Taman Kanak–Kanak (TK) berada
di kawasan perkotaan dan perdesaan.
c. Prasarana kesehatan terdiri atas:
1. Peningkatan Rumah Sakit tipe B berada di Kawasan Perkotaan
Sigli terletak di Kecamatan Pidie;
2. Peningkatan Rumah Sakit Ibu dan Anak di Kawasan Mutiara
Timur terletak di Kecamatan Mutiara;
3. Puskesmas Rawat Inap meliputi kawasan perkotaan di
Geumpang, Tangse, Sakti, Padang Tiji, Delima, Kembang Tanjong, dan Muara Tiga;
4. Puskesmas meliputi Kecamatan Mane, Gleumpang Tiga,
Gleumpang Baro, Mutiara, Mutiara Timur, Tiro/Truseb, Keumala, Titeue, Mila, Grong-Grong, Indrajaya, Peukan Baro, Simpang Tiga, Kota Sigli, Pidie, Batee, dan Muara Tiga;
5. Puskesmas Pembantu berada di tiap PPL; dan
6. Polindes dan Poskesdes skala pelayanan gampong berada di
seluruh desa/gampong.
d. Prasarana Perdagangan terdiri atas:
1. Sarana perdagangan skala regional berada di Kawasan
Perkotaan Kota Beureunuen di Kecamatan Mutiara Timur;
2. Sarana perdagangan skala Kabupaten berada di Kawasan
Perkotaan Kota Sigli di Kecamatan Kota Sigli;
3. Sarana perdagangan skala kecamatan, meliputi Kawasan
Perkotaan Bakti dan Kawasan Perkotaan Grong-Grong;
a) Kawasan Perkotaan Kota Bakti berada di Gampong Pasar
24
b) Kawasan Perkotaan Grong berada di Gp.
Grong-Grong.
4. Skala perdagangan skala kecamatan berada di kawasan
perkotaan Kecamatan; dan
5. Sarana perdagangan berupa warung dan toko skala pelayanan
lingkungan berada dikawasan perkotaan dan
perdesaan/pergampongan.
e. Prasarana Ruang Terbuka, Taman, dan Lapangan olah raga atau
Rekreasi terdiri atas:
1. Tingkat Kabupaten berada di Kawasan Perkotaan Kota Sigli;
2. Tingkat beberapa kecamatan di Kawasan Perkotaan Beureunuen
dan Perkotaan Bakti;
3. Tingkat kecamatan di kawasan perkotaan kecamatan; dan
4. Tingkat lingkungan disebar ke kawasan perkotaan dan
perdesaan/pergampongan.
f. Prasarana Peribadatan meliputi:
1. Mesjid Kabupaten berada di Kawasan Perkotaan Kota Sigli yaitu
di Gampong Blang Asan;
2. Mesjid kecamatan berada di kawasan perkotaan tiap
kecamatan;
3. Tingkat gampong berada di kawasan perkotaan/ perdesaan; dan
4. Sarana peribadatan lainnya disesuaikan dengan kebutuhan.
g. Penyediaan prasarana mitigasi bencana tsunami, meliputi:
1. penyediaan pemecah gelombang sejajar pantai;
2. penyediaan tempat-tempat perlindungan (shelter) pada daerah
perkampungan nelayan atau tempat-tempat prasarana kelautan dan perikanan kawasan pesisir; dan
3. menerapkan konstruksi bangunan ramah bencana tsunami
atau relokasi permukiman pada kawasan rawan tsunami tinggi.
h. Penyediaan Prasarana Perikanan,meliputi:
25
2. TPI Jeumeurang berada di Gampong Jeumeurang dan Pasi Ie
Leubeu Kecamatan Kembang Tanjong;
3. TPI Cot Jaja berada di Gampong Cot Jaja dan Gigieng
Kecamatan Simpang Tiga;
4. TPI Batee berada di Gampong Neuheun dan Geunteng Barat
Kecamatan Batee; dan
5. PPI Pasi Kuala Peukan Baro di Gampong Pasi Peukan Baro
Kecamatan Kota Sigli.
Untuk lebih jelas mengenai rencana sistem prasarana Kabupaten Pidie dapat dilihat pada Gambar 2.6, dan Peta Rencana Struktur Ruang serta Peta Pola Ruang Kabupaten Pidie dapat dilihat pada Gambar 2.7 dan Gambar 2.8.
GAMBAR 2.6
GAMBAR 2.7
PETA RENCANA STRUKTUR RUANG
GAMBAR 2.8
PETA RENCANA POLA RUANG
2 - 29
2.2
Kemajuan Pelaksanaan Strategi Sanitasi Kabupaten
2.2.1 Air Limbah Domestik
Secara umum pengelolaan air limbah domestik di Kabupaten Pidie
belum terlaksana sebagaimana mestinya. Sebagian besar
rumah/hunian belum memiliki fasilitas Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang memenuhi syarat, air limbah rumah tangga seperti
limpasan air mandi, cuci dan masak (grey water) masih banyak yang
langsung dibuang ke saluran/drainase tanpa pengolahan, bahkan
masih banyaknya masyarakat yang membuang limbah kakus (black
water) ke dalam septick tank yang tidak sesuai dengan standar teknis.
Sistem pembuangan air limbah semestinya dipisahkan dengan sistem pembuangan air hujan, tapi masih dijumpai limbah dari rumah tangga yang dibuang ke dalam sistem pembuangan air hujan sehingga mengakibatkan polusi/pencemaran lingkungan.
Fasilitas instalasi pengolahan limbah merupakan kebutuhan mendasar bagi daerah khususnya untuk penampungan pengolahan akhir limbah di kawasan perkotaan. Kabupaten Pidie sampai saat ini belum maksimal dalam pengolahan limbah baik domestik maupun limbah medis pada pusat-pusat pelayanan masyarakat. Hal ini disebabkan belum adanya tempat penampungan dan pengolahan limbah yang permanen seperti IPAL Komunal dan tangki septic komunal, baik di instansi pemerintah, maupun di kawasan permukiman. Penanganan air limbah di Kabupaten Pidie masih menggunakan sistem pengelolaan
setempat (on-site system),
Sistem pengolahan air limbah setempat (on-site system) adalah sistem
penanganan air limbah domestik yang dilakukan secara
individual/komunal dengan fasilitas dan pelayanan dari satu atau beberapa bangunan, yang pengelolaannya diselesaikan secara setempat
atau di lokasi sumber, seperti: cubluk, tangki septik (septic tank) dan
2 - 30
Sedangkan sistem pengolahan air limbah terpusat (off-site system)
adalah sisem penanganan air limbah domestik melalui jaringan pengumpul yang diteruskan ke Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL). Sistem ini adalah yang terbaik untuk memecahkan masalah sanitasi di daerah padat penduduk dalam jangka waktu lama, tetapi membutuhkan biaya investasi yang tinggi. Sistem ini dibangun berdasarkan standar kualitas yang cukup tinggi dan terdiri atas sambungan rumah, jaringan pipa pengumpul, pipa pembawa, stasiun pompa dan instalasi pengolahan air limbah yang dipusatkan pada satu atau beberapa lokasi saja untuk melayani permukiman di suatu wilayah. Pemerintah Kabupaten Pidie pada tahun 2015 melaksanakan pembangunan IPAL Komunal, MCK Komunal beserta tangki septik. Kabupaten Pidie saat ini juga telah memiliki 1 unit IPLT (Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja) yang dikelola oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan (KKP) Kabupaten Pidie, tarif pengangkutan sesuai dengan jarak tempuh (sesuai dengan Qanun Bupati Pidie No. 27 Tahun 2002 tentang tarif penyedotan tinja). Namun IPLT yang terletak di Gampong Tunong Tanjong Kecamatan Padang Tiji ini belum berfungsi secara optimal karena sarana dan prasarana yang belum memadai, seperti belum adanya kantor operasional, tidak adanya pagar, serta jumlah truck yang membuang tinja ke IPLT hanya berjumlah 2 unit dengan kapasitas 2,5 m³. Kemajuan Pelaksanaan SSK Pengelolaan Air Limbah dapat dilihat pada Tabel 2.8.
Tabel 2.8
Kemajuan Pelaksanaan SSK Pengelolaan Air Limbah
SSK (Periode Sebelumnya) SSK (Saat Ini)
Tujuan Sasaran Data dasar* Status saat ini
(1) (2) (3) (4)
Tertanggulanginya permasalahan air limbah di Kabupaten Pidie pada akhir Tahun 2019.
Tersedia sistem jaringan dan pengelolaan air limbah skala lingkungan/komunitas.
Belum ada sistem jaringan dan pengelolaan air limbah skala lingkungan/ komunitas.
Belum ada sistem jaringan dan pengelolaan air limbah skala lingkungan/ komunitas.
Tersedianya fasilitas tempat
buang air (jamban) sendiri
dirumah tangga dari 30%
menjadi 75% pada tahun 2014.
Fasilitas tempat buang air
(jamban) sendiri dirumah
tangga 30%.
Fasilitas tempat buang air (jamban) sendiri dirumah tangga 52%.
Meningkatkan pemahaman
kepada masyarakat akan tangka septik yang tepat guna.
Masih rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya penggunaan septik tank sesuai standar kesehatan.
Tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya penggunaan septik tank sesuai standar kesehatan masih rendah.
Rumah tangga menggunakan septik tank dari 15 % menjadi 20 % dengan peningkatan sebesar 1 - 2 % per tahun.
Rumah tangga menggunakan tangki septik tank sebanyak 46%.
Penggunaan tangka septik tank sebanyak 72%.
Meningkatnya akses rumah
tangga terhadap fasilitas septik tank komunal.
0% rumah tangga yang
menggunakan septik tank
komunal.
Meningkatnya akses rumah tangga terhadap fasilitas MCK umum.
Rumah tangga yang
menggunakan fasilitas MCK umum 16,5%.
Rumah tangga yang
menggunakan fasilitas MCK
umum 49%.
Berfungsinya Instalasi
Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT)
Belum berfungsinya Instalasi
Pengolahan Lumpur Tinja
(IPLT)
Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) sudah berfungsi.
Bertambahnya kendaraan
penyedot tinja yang dilengkapi dengan vacuum.
Baru tersedia 1 unit truck
penyedot tinja. 2 truck penyedot tinja.
Meningkatnya jumlah
permintaan terhadap sedot tinja. Belum adanya peningkatan permintaan sedot Tinja. Peningkatan permintaan sedot Tinja. Adanya Qanun pengelolaan air
limbah.
Peraturan yang mengatur air limbah belum ada.
Belum ada Qanun pengelolaan air limbah.
Adanya lembaga swasta yang bergerak di bidang pengelolaan air limbah.
Belum adanya partisipasi
lembaga swasta dalam
pengelolaan air limbah.
Belum ada lembaga swasta yang mengelola air limbah.
Adanya rencana strategis
pengelolaan air limbah skala kota.
Belum adanya rencana
strategis pengelolaan air limbah skala kota.
Adanya pengembangan teknologi pengolahan lumpur tinja.
Adanya peningkatan jumlah
investasi untuk sarana dan pengelolaan air limbah.
Jumlah investasi untuk
pendanaan sanitasi sarana dan pengelolaan air limbah sebesar Rp.2.092.860.000
Jumlah investasi untuk sarana dan pengelolaan air limbah Rp.6.157.118.200.
Jumlah anggaran untuk
operasional dan perawatan
tahunan untuk pengelolaan air limbah terus meningkat sesuai dengan kebutuhan.
Minimnya anggaran untuk
operasional perawatan tahunan dan pengelolaan air limbah.
Minimnya anggaran untuk
operasional perawatan tahunan dan pengelolaan air limbah.
Peningkatan jumlah pendapatan dari layanan pengelolaan air limbah.
Pendapatan dari layanan
pengelolaan air limbah berasal
dari retribusi mobil tinja
sebesar Rp.11.475.000,- per tahun.
Pendapatan dari layanan
pengelolaan air limbah berasal dari retribusi mobil tinja sebesar Rp.50.000.000,- per tahun Sumber : SSK Tahun 2011 dan lampiran APBK Kabupaten Pidie Tahun 2014
2 - 34
2.2.2 Pengelolaan Persampahan
Persampahan di Kabupaten Pidie dikelola oleh Kantor Kebersihan dan Pertamanan (KKP). Dalam menangani persampahan Kabupaten Pidie memiliki Qanun No. 6 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Serta Qanun No. 19 Tahun 2011 tentang retribusi pelayanan kebersihan/persampahan. Pengelolaan sampah di Kabupaten Pidie dilakukan dengan mekanisme :
Pewadahan sampah.
Pengumpulan sampah.
Pengangkutan sampah.
Pembuangan akhir sampah.
Sesuai dengan amanat UU No. 18 Tahun 2008, pemerintah kabupaten/kota bertanggung jawab terhadap penanganan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga. Sampah-sampah ini berasal dari kawasan perumahan (domestik), industri, kawasan komersial, wisata dan fasilitas umum lainnya. Sedangkan penanganan sampah B3 tidak menjadi tanggung jawab pemerintah Kabupaten/Kota. misalnya seperti sampah layanan kesehatan dari Puskesmas dan Rumah Sakit ditangani sendiri oleh Rumah sakit dengan incenerator yang mereka miliki.
Cakupan layanan persampahan di Kabupaten Pidie terus meningkat dimana pada tahun 2015 ini pelayanan pengangkutan sampah melayani 12 Kecamatan. Untuk rumah tangga yang terlayani terjadi peningkatan dari yang sebelumnya 15% menjadi 25%. Sarana armada pengangkutan yang tersedia berjumlah 23 unit, dan Tempat Penampungan sementara (TPS) berjumlah 9 unit. Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias pada tahun 2012 membangun Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) dengan sistem operasi Controlled Landfill yang berlokasi di Cot Padang Nila Gampong Cot Teunong Kecamatan Padang Tiji dengan luas lahan 2,2 Ha dan kapasitas ± 179.000 M3.
Tabel 2.9
Kemajuan Pelaksanaan SSK Pengelolaan Persampahan
SSK (periode sebelumnya) SSK (saat ini)
Tujuan Sasaran Data Dasar* Status saat ini
(1) (2) (3) (4)
Terwujudnya Kabupaten Pidie yang bersih dan
sehat pada
Tahun 2014.
Meningkatnya area
pelayanan pengangkutan sampah.
Area pelayanan pengangkutan sampah melayani 11 Kecamatan.
Area pelayanan pengangkutan sampah melayani 12 Kecamatan.
Rumah tangga terlayani
pengangkutan sampah
dari 15% menjadi 70%.
15% rumah tangga terlayani
pengangkutan sampah. 25% pengangkutan persampahan. rumah tangga terlayani
Terangkutnya jumlah
sampah di tempat-tempat pembuangan sampah.
Jumlah sampah terangkut di 11 Kecamatan 100%. Frekuensi pengambilan sampah sampah dari TPS dan dari rumah kerumah 2 hari 1 kali.
Jumlah sampah terangkut di 12
Kecamatan 100%. Frekuensi
pengambilan sampah sampah dari TPS dan dari rumah ke rumah 1 hari 1 kali. Adanya pendaur ulangan
sampah. Belum ada sarana daur ulang sampah. Tahun 2015 ini telah ada 2 unit sarana daur ulang sampah berupa mesin
penghancur plastik untuk UKM
Pengumpul
Sampah dalam Kab. Pidie (DAK/DAU) seharga Rp.100.000.000, Pengadaan 2 unit mesin pengepress karton/kertas untuk UKM dalam
Kab. Pidie (DAK/DAU) seharga
Sampah dikomposkan. Sampah belum dikomposkan. Tahun 2015 ini sarana komposter
sederhana baru dilakukan untuk
sekolah dalam Kabupaten Pidie
(DAK/DAU) berjumlah 10 unit dengan harga Rp.8.000.000,-
Tersedianya TPS Jumlah TPS 5 Unit. Jumlah TPS 9 Unit.
Tersedianya TPA yang
permanen Jumlah menggunakan sistem TPA 1 controlled unit
landfill. Sarana dan prasarana
TPA kurang memadai.
Sarana dan Prasarana TPA sudah memadai. Hanya saja jalan menuju TPA perlu pengerasan.
Kabupaten Pidie memiliki
fasilitas pengelolaan
persampahan sesuai
standar pelayanan
minimal.
Belum ada Standar Pelayanan Minimal
Belum ada.
Setiap rumah tangga
tersedia wadah terpisah untuk sampah basah dan kering.
Belum tersedia. Belum tersedia.
Semua kawasan, baik
perkotaan maupun
permukiman penduduk
telah tersedia bak/tong tempat sampah.
Masih kurangnya penyediaan bak sampah, baik di pusat pertokoan di kota maupun di
kawasan pemukiman dan
perumahan penduduk.
Sarana untuk bak/tong sampah masih kurang.
Adanya lembaga swasta yang bergerak di bidang pengelolaan sampah.
Tidak ada Sedang diupayakan kerjasama.
Tercapainya masyarakat
yang sadar terhadap
keindahan dan
kebersihan perkotaan
dan permukiman sebesar 90%.
Masih kurangnya kesadaran
masyarakat terhadap keindahan dan kebersihan. Sering didapati perilaku anggota masyarakat yang membuang sampah secara sembarangan, seperti membuang sampah ke dalam saluran air.
Masih kurangnya kesadaran masyarakat terhadap keindahan dan kebersihan.
Sering didapati perilaku anggota
masyarakat yang membuang sampah secara sembarangan, seperti membuang sampah ke dalam saluran air.
Terbebasnya pusat-pusat pasar dan permukiman
penduduk dari
tumpukan-tumpukan sampah.
Meningkatnya volume sampah di pusat pasar pada waktu tertentu
seperti Bulan Ramadhan
(aktivitas pedagang musiman
yang berjualan panganan
berbuka puasa di kaki lima), musim penghujan dan bulan musim buah-buahan.
Meningkatnya volume sampah di pusat pasar pada waktu tertentu seperti Bulan Ramadhan (aktivitas pedagang musiman yang berjualan panganan berbuka puasa di kaki lima), musim penghujan dan bulan musim buah-buahan.
Terlaksananya sosialisasi
kepada masyarakat
tentang hidup bersih dan sehat.
Adanya sosialisasi kepada
masyarakat tentang hidup bersih dan sehat
Tahun 2015 ini dari DINKES, BAPEDAL dan KKP akan meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat tentang hidup bersih dan sehat.
Ketersediaan produk
hukum berkaitan
pengelolaan sampah.
Qanun No. 6 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Serta Qanun No. 19 Tahun 2011
tentang retribusi pelayanan
kebersihan/persampahan
Ketersediaan rencana
strategis pengelolaan
sampah.
Tahun 2014 ini rencana strategis
yang dilakukan adalah
peningkatan pelayanan pengangkutan sampah, pengembangan teknologi persampahan, pengembangan kinerja pengelolaan persampahan, meningkatkan
peran serta masyarakat dalam pengelolaan persampahan.
Tahun 2015 ini rencana strategis yang dilakukan adalah peningkatan pelayanan pengangkutan sampah, pengembangan teknologi persampahan, pengembangan
kinerja pengelolaan persampahan,
meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan persampahan.
Peningkatan jumlah
anggaran untuk
operasional dan
perawatan pengelolaan
sampah.
Jumlah anggaran untuk
operasional dan perawatan
pengelolaan sampah masih
minim.
Jumlah anggaran untuk operasional dan
perawatan pengelolaan sampah
Rp.422.674.000.
Peningkatan jumlah
pendapatan tahunan dari pengelolaan sampah.
Pendapatan tahunan
pengelolaan persampahan
Rp.112.547.000,-
Meningkatnya Pendapatan tahunan
pengelolaan persampahan
Rp.530.183.000,- Sumber : SSK Tahun 2011 dan Lampiran APBK Tahun 2014
2 - 39
2.2.3 Drainase Perkotaan
Kondisi sistem drainase Kabupaten Pidie secara umum masih belum memadai. Berdasarkan hasil survei lapangan, terlihat bahwa tingkat pelayanan sistem drainase kota masih rendah. Kondisi ini dapat dilihat terutama pada kawasan perdagangan dan permukiman penduduk. Disamping itu masih terdapat beberapa daerah yang masih dalam katagori rawan banjir, baik itu yang disebabkan oleh air sungai yang meluap maupun air hujan.
Beberapa faktor penyebab rendahnya tingkat pelayanan sistem drainase Kabupaten Pidie dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
a. Banyaknya drainase yang tersumbat, baik oleh sedimentasi
maupun akibat penumpukan limbah rumah tangga dan sampah;
b. Masih terdapat banyak rumah tangga yang belum memiliki
saluran drainase; dan
c. Telah terjadi kerusakan pada drainase di beberapa kecamatan
yang ada di Kabupaten Pidie.
Sasaran pelayanan sistem drainase Kabupaten Pidie diarahkan pada :
a. Peningkatan sistem drainase dalam rangka mengurangi wilayah
genangan air di wilayah perkotaan;
b. Pengembangan jaringan drainase, sarana prasarana
pendukungnya dan melindungi kawasan permukiman dan strategis perkotaan dari risiko genangan air; dan
c. Menjaga, memelihara dan merawat sistem drainase yang telah
ada.
Selain berfungsi sebagai penyalur air hujan, saluran drainase di beberapa kawasan permukiman di Kota Sigli juga berfungsi sebagai penyalur air bekas mandi, mencuci, dan masak. Air limbah tersebut disalurkan langsung ke saluran-saluran drainase di tepi jalan yang umumnya terbuka.
2 - 40
Peran Serta Masyarakat dan Jender dalam pengelolaan drainaselingkungan di Kabupaten Pidie secara keseluruhan belum maksimal, hal ini terlihat dari perilaku masyarakat terhadap
pemeliharaan sarana drainase lingkungan. Perangkat
gampong/desa diharapkan secara aktif dapat memberikan motivasi dalam melakukan gotong royong di wilayah masing-masing, termasuk membersihkan drainase dari sampah dan sedimen penyebab penyumbatan saluran drainase.
Beberapa perilaku yang salah dari masyarakat yang masih terlihat terhadap sarana drainase adalah sebagai berikut:
a. Masyarakat masih terbiasa membuang limbah rumah tangga
(home industry) tanpa melalui proses pengolahan limbah
terlebih dahulu;
b. Masih ada masyarakat yang membuat sampah di saluran
drainase;
c. Masih ada masyarakat yang Buang Air Besar (BAB) di saluran
drainase; dan
d. Masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap manfaat dan
fungsi drainase yang sesungguhnya.
Secara umum, kondisi dan ketersediaan drainase di Kabupaten Pidie masih belum maksimal. Memperhatikan kondisi sistem drainase di atas, saluran drainase Kabupaten Pidie memiliki permasalahan diantaranya:
a. Pada musim kemarau terjadi aliran yang lambat dengan
kedalaman air di saluran yang kecil sekali, sehingga akan timbul
endapan-endapan dan memberikan kesempatan
berkembangbiaknya vektor penyakit seperti nyamuk, lalat, dan insekta lainnya;
b. Pada musim hujan akan terjadi genangan air (melewati saluran
2 - 41
adanya penumpukan sampah/endapan dari para pedagang danrumah tangga;
c. Kurang terpenuhinya syarat keindahan dan timbulnya bau yang
tidak sedap pada saluran;
d. Apabila saluran tersebut tidak kedap air, maka sebagian air
limbah akan meresap ke dalam tanah sehingga mencemari air tanah;
e. Banyaknya drainase yang tersumbat, baik oleh sedimentasi
maupun akibat penumpukan limbah rumah tangga dan sampah;
f. Telah terjadi kerusakan pada sebagian besar drainase di
Kabupaten Pidie.
Kabupaten Pidie sampai saat ini masih mengalami masalah dibidang drainase, dimana masih kurang optimalnya fungsi saluran drainase. Hal itu ditandai dengan masih terdapatnya daerah ataupun titik banjir di Kabupaten Pidie, khususnya di wilayah perkotaan.
Tabel 2.10
Kemajuan Pelaksanaan SSK Drainase Perkotaan
SSK (periode sebelumnya) SSK (saat ini)
Tujuan Sasaran Data Dasar* Status saat ini
(1) (2) (3) (4)
Terwujudnya Fungsi
drainase permukiman dan perumahan untuk
mengurangi daerah
banjir dan genangan pada tahun 2014
Terwujudnya pembangunan
drainase dalam diameter yang luas dan mencukupi.
Tidak ada Tidak ada
Lancarnya aliran air dalam drainase
Banyaknya drainase yang
tersumbat, baik oleh
sedimentasi maupun akibat penumpukan limbah rumah tangga dan sampah.
Banyaknya drainase yang
tersumbat, baik oleh
sedimentasi maupun akibat penumpukan limbah rumah tangga dan sampah.
Adanya lembaga swasta yang bergerak dibidang pengelolaan drainase.
Belum ada lembaga/pihak
ketiga yang menangani
drainase
Belum ada pihak ketiga/swasta yang membantu pengelolaan drainase
Terlaksananya kegiatan
penyuluhan/kampanye kepada masyarakat.
Masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap manfaat dan fungsi drainase yang sesungguhnya.
Masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap manfaat dan fungsi drainase yang sesungguhnya
Tersedianya produk hukum
berkaitan pengelolaan
drainase di Kabupaten Pidie.
T Tidak ada Tidak ada
Tersedianya rencana strategis
pengelolaan drainase di
Kabupaten Pidie.
Meningkatnya jumlah
investasi untuk pengelolaan drainase.
Jumlah Investasi sebesar
Rp.600.000.000,-
Jumlah Investasi sebesar
Rp.800.000.000,- Peningkatan jumlah anggaran
untuk operasional dan
perawatan tahunan untuk
pengelolaan drainase di
Kabupaten Pidie.
Anggaran operasional dan
perawatan tahunan masih
minim
Anggaran operasional dan
perawatan tahunan masih
minim
2 - 44
2.3
Profil Sanitasi
2.3.1 Air Limbah Domestik
2.3.1.1 Sistem dan Infrastruktur
Berikut ini adalah gambar cakupan akses dan sistem layanan air limbah domestik per kecamatan di Kabupaten Pidie.
Keterangan Gambar: Melalui Proses Tanpa Proses Diagram Sistem Sanitasi : Air Limbah Domestik
Produk Input (A) User Interface (B) Pengumpulan & Penampungan/ Pengolahan Awal (C) Pengangkutan/ Pengaliran (D) (Semi) Pengolahan Akhir Terpusat (E) Daur Ulang dan/atau Pembuangan Akhir S GAMBAR 2.9
Diagram Sistem Sanitasi Air Limbah Domestik
Air Limbah Domestik Black Water Tinja Urine Air Pembersih Air Penggelontor Grey Water Air Cucian dari
dapur
Air Untuk Mandi
Air Cucian Pakaian Tangki Septik (individual / komunal) Truk tinja IPLT Drainase lingkungan Lumpur Lumpur Bidang Resapan Air Tanah Effluent Sungai Pembuangan Air Kamar Mandi dan Pembuangan Air Cucian Pakaian Tempat Cuci Piring dan gelas Leher Angsa Jongkok WC Helicopter
Tabel 2.11
Cakupan Layanan Air Limbah Domestik Saat Ini
No. Nama Kecamatan
Sanitasi Tidak Layak Sanitasi Layak
BABS* (KK)
Sistem Onsite Sistem Offsite
Cubluk***, jamban tidak aman** (KK) Cubluk aman/Jamban keluarga dengan tangki septik aman
(KK)
MCK /Jamban
bersama (KK)
Sistem Berbasis Komunal
Skala Kawasan/ Terpusat MCK Komunal**** (KK) Tangki Septik Komunal 1 > 10 KK (KK) IPAL Komunal (KK) Sambungan Rumah yang berfungsi (KK) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 I Wilayah Perdesaan 1 Kec. Batee 4.887 471 331 72 45 - - - 2 Kec. Delima 4.899 2.938 882 96 84 - - - 3 Kec. Geumpang 1.821 463 45 17 12 - - -
4 Kec. Glumpang Baro 2.426 1.355 520 43 42 - - -
5 Kec. Glumpang Tiga 4.586 3.467 435 83 56 - - -
6 Kec. Grong-Grong 1.626 1.155 62 200 21 - - -
7 Kec. Indra Jaya 5.977 4.326 429 96 91 - - -
8 Kec. Kembang Tanjong 5.060 3.009 960 89 90 - - -
9 Kec. Keumala 2.342 1.141 312 41 41 - - -
10 Kec. Mane 2.000 653 61 15 12 - - -
11 Kec. Mila 2.423 1.619 232 44 42 - - -
12 Kec. Muara Tiga 4.626 2.601 304 59 47 - - -
14 Kec. Peukan Baro 4.796 3.136 348 105 111 - - -
15 Kec. Sakti 4.913 3.249 397 108 110 - - -
16 Kec. Simpang Tiga 5.314 1.095 3.232 86 110 - - -
17 Kec. Tangse 6.205 2.733 399 75 113 - - -
18 Kec. Tiro/Truseb 1.866 1.492 104 38 24 - - -
19 Kec. Titeu 1.796 1.445 93 19 25 - - -
II Wilayah Perkotaan
1 Kec. Kota Sigli 4.987 3.310 816 42 44 - - -
2 Kecamatan Mutiara 4.808 3.023 887 68 65 - - -
3 Kecamatan Mutiara Timur 8.120 4.814 1.736 117 123 - - -
4 Kecamatan Pidie 10.588 4.868 3.943 139 147 - - -
Sumber : Instrumen Profil Sanitasi Kabupaten Pidie Tahun 2015
* Yang termasuk BABS : BAB langsung di kebun, kolam, laut, sungai, sawah/ladang
** Tidak Aman : tangka septik tidak sesuai kriteria SNI atau tidak mempunyai tangka septik sama sekali
*** Cubluk dikatagorikan tidak aman bila dibangun di area dengan kepadatan >50 orang/Ha dan jarak terhadap sumber air bersih yang bukan perpipaan <10 m.
**** MCK Komunal : cakupan layanan 10-200 KK baik dengan tangka septik, biofilter dan dapat dilengkapi dengan biodigister. Termasuk didalamnya toilet bergerak (mobile toilet).
Tabel 2.12
Kondisi Prasarana dan Sarana Pengelolaan Air Limbah Domestik
No. Jenis Satuan Jumlah/Kapasitas Kondisi Keterangan
Berfungsi Tdk Berfungsi
1 2 3 4 5 6 7
SPAL Setempat (Sistem Onsite)
1 Berbasis Komunal
MCK Komunal Unit 1.585 Berfungsi
2 Truk Tinja Unit 2 Berfungsi
3 IPLT* Unit 1 Berfungsi
SPAL Terpusat (Sistem Offsite)
1 Berbasis Komunal
- - - - -
2 IPAL Kawasan/terpusat**
- - - - -
Sumber : Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Pidie Tahun 2015 * IPLT : Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja
GAMBAR 2.10
2 - 49
2.3.1.2 Kelembagaan dan Peraturan
Pemerintah Kabupaten Pidie berperan dalam pengaturan teknis, pelaksanaan layanan pengelolaan, pemeliharaan sarana dan prasarana, pembinaan serta pengawasan dan pengendalian.
Fungsi pengaturan secara teknis, pembinaan, serta pengawasan dalam pengelolaan air limbah domestik saat ini dijalankan oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Kabupaten Pidie yaitu :
a. Tugas umum adalah membantu Bupati menyelenggarakan,
pengkoordinasian dan kebijakan dibidang pengendalian
lingkungan;
b. Merumuskan rencana dan program kerja Badan Pengendalian
Dampak Lingkungan;
c. Merumuskan kebijakan umum dan petunjuk teknis dalam bidang
pengendalian lingkungan;
d. Melaksanakan pedoman dan atau petunjuk teknis dalam bidang
pengendalian lingkungan;
e. Melaksanakan analisis dan pengendalian dampak lingkungan
meliputi AMDAL, RKL/RPL, UKL/UPL dan DPPL;
f. Melaksanakan pengendalian, pencegahan, evaluasi lingkungan
terhadap pencemaran air, udara dan tanah;
g. Melaksanakan perumusan, penyusunan program dan kebijakan
teknis dibidang penanggulangan dan pemulihan lingkungan;
h. Melaksanakan penetapan standarisasi pembakuan mutu
lingkungan;
i. Melaksanakan penyusunan program, pedoman dan kebijakan
teknis di bidang pengawasan.
Pengelolaan air limbah antara lain diatur dalam Peraturan Pemerintah No.16/2005 tentang Pengembangan Sistem Perencanaan Air Minum. Dengan mengacu berbagai referensi lain, sistem pengelolaan air limbah dapat dikelompokkan sebagai berikut:
2 - 50
Sistem setempat, air limbah (black dan grey water) langsung diolah
setempat;
Sistem terpusat, di mana air limbah dialirkan melalui perpipaan ke
instalasi pengolahan air limbah (IPAL);
Hibrida, merupakan modifikasi dari kedua sistem yang ada.
Ada beberapa Peraturan Mengenai Air Limbah, antara lain:
1. Peraturan Pemerintah No.16/2005 tentang Pengembangan Sistem
Perencanaan Air Minum. Dengan mengacu berbagai referensi lain;
2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan
lingkungan dan pelestarian lingkungan;
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1999
tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun;
4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1999
tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan;
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001
tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air;
6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2008
tentang Air Tanah;
7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2011
tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam;
8. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2011
tentang Sungai;
9. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup RI Nomor 112 Tahun 2003
tentang Baku Mutu air Limbah Domestik;
10.Keputusan Menteri Lingkungan Hidup RI Nomor 115 Tahun 2003
2 - 51
11.Peraturan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 1 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan;
12.Peraturan Bupati Nomor 17 Tahun 2008 tentang Tugas Pokok dan
Fungsi Pemangku Jabatan Struktural Pada Dinas Daerah Di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Pidie;
13.Peraturan Bupati Nomor 18 Tahun 2008 tentang Tugas Pokok dan
Fungsi Pemangku Jabatan Struktural Pada Lembaga Teknis Daerah Di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Pidie.
2 - 52
2.3.2 Persampahan
2.3.2.1 Sistem dan Infrastruktur
Keterangan Gambar : Tanpa proses
Melalui Proses
Diagram Sistem Sanitasi : Pengelolaan Persampahan
Produk Input (A) User Interface (B) Pengumpulan Setempat (C) Penampungan Sementara (TPS) (D) Pengangkutan (E) Daur Ulang / Pembuangan Akhir Persampahan Sampah Organik Sampah An-Organik Gambar 2.11
2 - 53
Persampahan per kecamatan di Kabupaten Pidie.Tabel 2.13
Timbulan Sampah Per Kecamatan dalam Kabupaten Pidie
Nama Kecamatan
Jumlah Penduduk Volume Timbulan Sampah Wilayah
Perdesaan Perkotaan Wilayah Total Perdesaan Wilayah Perkotaan Wilayah Total Orang Orang Orang % (M3/hari) % (M3/hari) % (M3/hari)
Kec. Batee 19.457 19.457
Kec. Delima 19.595 19.595
Kec. Geumpang 7.283 7.283
Kec. Glumpang Baro 9.704 9.704
Kec. Glumpang Tiga 18.342 18.342 100 1 100 1
Kec. Grong-Grong 6.504 6.504 100 3 100 3
Kec. Indra Jaya 23.906 23.906 100 3,2 100 3,2
Kec. Mane 7.999 7.999
Kec. Pidie 42.352 42.352 100 1,5 100 1,5
Kec. Kembang Tanjong 20.238 20.238 100 2,2 100 2,2
Kec. Keumala 9.367 9.367
Kota Sigli 19.948 19.948 100 20,5 100 20,5
Kec. Mila 9.691 9.691
Kec. Muara Tiga 18.504 18.504
Kec. Mutiara 19.231 19.231 100 7 100 7
Kec. Mutiara Timur 32.478 32.478 100 4 100 4
Kec. Padang Tiji 20.702 20.702 100 2,2 100 2,2
Kec. Peukan Baro 19.182 19.182 100 0,5 100 0,5
Kec. Sakti 19.650 19.650 100 4 100 4
Kec. Simpang Tiga 21.255 21.255 100 1 100 1
Kec. Tangse 24.818 24.818
Kec. Tiro 7.465 7.465
Kec. Titeu 7.183 7.183
2 - 54
Tabel 2.14
Cakupan Akses dan Sistem Layanan Persampahan Kabupaten Pidie
Nama Kecamatan
3R Volume sampah yang terangkut ke TPA Wilayah
Perdesaan Perkotaan Wilayah Volume Total Perkotaan Wilayah Volume Total
% M3 % M3 % M3 % M3 % M3
Kec. Batee Kec. Delima Kec. Geumpang Kec. Glumpang Baro Kec. Glumpang Tiga Kec. Grong-Grong Kec. Indra Jaya Kec. Mane
Kec. Pidie 100 1,5 100 1,5
Kec. Kembang Tanjong Kec. Keumala
Kota Sigli 100 20,5 100 20,5
Kec. Mila Kec. Muara Tiga
Kec. Mutiara 100 7 100 7
Kec. Mutiara Timur 100 4 100 4
Kec. Padang Tiji Kec. Peukan Baro Kec. Sakti Kec. Simpang Tiga Kec. Tangse Kec. Tiro Kec. Titeu
2 - 55
Kondisi Sarana dan Prasarana Pengelolaan Persampahan Dalam Kabupaten Pidie
No. Prasarana/Sarana Jenis Satuan
Jumlah/ luas total terpakai Kapasitas/ Daya Tampung* Ritasi/ hari Kondisi Ket.
M3 Baik Ringan Rusak Rusak Berat
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Pengumpulan Setempat
- Becak Motor Unit 3 2 Baik
- Tong Sampah Roda Unit 32 Baik
2 Tempat Penampungan Sementara (TPS) Unit 9 Baik
- Bak Sampah (Beton) Unit
- Container Unit 10 Baik
3 Pengangkutan
- Dump Truck Unit 11 - 2 - - - -
- Arm Roll Truck Unit 3 1 Baik
4
TPA Regional
Kontruksi : lahan urug saniter
- Operasional : lahan
urug saniter - Luas total TPA yang
terpakai M2 47.022
- Luas sel Landfill M2 4.910 Baik
- Daya tampung TPA
6 Alat Berat
- Bulldozer Unit 1 Baik
- Excavator Unit 2 Baik
- Beco Unit 1 Baik
- IPL : Sistem
kolam/aerasi
7 Hasil Pemeriksaan lab. (BOD dan COD) : - Efluen di Inlet
- Efluen di Outlet
Sumber : Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Pidie Tahun 2015 IPL : Instalasi Pengolahan Lindi
GAMBAR 2.12