• Tidak ada hasil yang ditemukan

Henk Ngantung, Gubernur DKI yang Tersisih

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Henk Ngantung, Gubernur DKI yang Tersisih"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Henk Ngantung, Gubernur DKI yang Tersisih

Komentar ChanCT:

Sungguh prihatin dan sangat menyedihkan membaca pemberitaan Henk Ngantung ini. Tentu bukan saja tidak banyak orang bisa ingat dengan nama Henk Ngantung, tapi lebih banyak orang tidak mengetahui bahwa dibalik nama Henk Ngantung, ternyata seorang berdarah Tionghoa yang pernah menjadi Gubernur DKI Jakarta, lebih-banyak lagi orang yang tidak memperhatikan dan peduli pada seorang mantan Gubernur DKI-Jakarta bisa tinggal di rumah begitu kecilnya di sebuah Gang, hanya karena tersisihkan oleh perbedaan politik saja. Tanpa melihat dan menghargai jasa-jasa yang telah disumbangkan pada negara dan bangsa semasa hidupnya!

Sudah seharusnya pemberitaan mantan Gubernur Henk Ngantung demikian ini, bisa menjadi perhatian lebih banyak orang dan khususnya menggugah Pemerintah yang berkuasa untuk memperbaiki kebijakan-kebijakan yang sangat

TIDAK MANUSIAWI yang selama lebih 47 tahun ini masih diberlakukan. Jangan

biarkan berlarut lebih lama, memperlakukan begitu banyak orang-orang tak berdosa, hanya karena dituduh komunis, Soekarnois lalu boleh saja disisihkan sebagai warga klas-kambing, warga yang tidak perlu diperlakukan sebagai manusia yang harus dicintai dan dihormati. Menjadi anak bangsa yang tidak perlu diperhatikan dan dihargai jasa-jasa yang telah dilakukan dan perjuangkan untuk negara dan bangsa.

Ingat, Henk Ngantung ternyata adalah SENIMAN anak bangsa yang membuat "Lambang DKI", sketsa Tugu Tani dan, ... bahkan lambang KOSTRAD yang justru mendapatkan pujian jenderal Soeharto sendiri! Kenapa anak bangsa yang sudah berjasa dicampakkan begitu saja dan juga oleh jenderal Soeharto sendiri? Coba jelaskan dan BUKTIKAN, dimana salah dan dosa yang telah dilakukan Henk Ngantung itu, ...?

Salam, ChanCT

(2)

Henk Ngantung, Gubernur DKI yang Tersisih

Henk dicopot dari jabatannya sebagai Gubernur DKI pada 1965.

Kamis, 9 Agustus 2012, 14:29 Ismoko Widjaya, Luqman Rimadi

Mantan Gubernur DKI Henk Ngantung (VIVAnews/Luqman Rimadi)

VIVAnews - Satu-satunya mantan Gubernur DKI yang non muslim, Henk Ngantung atau

yang bernama lengkap Hendrik Hermanus Joel Ngantung, tidak pernah mengalami tindakan berbau SARA sampai akhir hayatnya. Pada masa orde baru, Henk sempat disingkirkan. Tetapi dia diangkat kembali oleh Gubernur DKI Ali Sadikin.

"Pak Henk juga disenangi oleh yang Islam. Dulu itu tidak ada SARA," kata istri Henk, Evie Mamessa yang ditemui di kediaman, Gang Jambu, Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur, Kamis 9 Agustus 2012,

Evie tidak habis pikir mengapa saat ini sangat gencar isu SARA. Berbeda pada saat Henk menjabat Gubernur DKI pada 27 Agustus 1964 sampai 15 Juli 1965. Henk yang pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI pada 1960-1964 itu juga tidak pilih kasih terhadap warga yang seiman dengan dirinya.

"Selama menjabat, Pak Henk tidak pernah membeda-bedakan dari mana golongannya," kata Evie yang menikah dengan Henk pada tahun 1964 itu. Meski tidak ada serangan isu SARA, Henk jatuh oleh isu lain.

Pria Manado kelahiran Bogor, Jawa Barat pada 1 Maret 1921 itu dituduh terlibat dalam gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Henk dicopot dari jabatannya sebagai Gubernur DKI pada 1965.

"Dikarenakan dia sebagai seniman yang tergabung dalam Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat)," kata Evie. Lekra merupakan lembaga kesenian yang dikaitkan erat dengan

(3)

aktivitas PKI saat itu.

Henk memang bukan birokrat. Dia seorang seniman. Jejaknya terlihat di monumen Tugu Tani. Dialah yang membut sketsanya sebelum bangunan monumen di Jalan Ridwan Rais, Jakarta Pusat, itu berdiri tegak. "Tapi Pak Henk bukan PKI. Pak Henk ikut saja (Lekra)," jelas Evie.

Saat Orde Baru berkuasa, stigma PKI terus melekat kepada Henk. Henk bahkan sempat ditahan tanpa pengadilan.

Sampai pada satu titik, pemerintah provinsi DKI menolak memasang foto Henk di deretan foto gubernur DKI Jakarta. Foto Henk diturunkan. Namun pada masa Ali Sadikin menjabat, foto Henk kembali disejajarkan dengan Gubernur DKI lainnya. "Bang Ali mau Pak Henk sejajar posisinya. Walau Pak Henk pernah dituduh sebagai PKI," ungkap Evie. (umi)

http://us.metro.news.viva.co.id/news/read/343080-kenali-henk-ngantung--gubernur-dki-non-muslim

Kenali Henk Ngantung, Gubernur DKI Non Muslim

Henk diangkat langsung oleh Presiden Soekarno sebagai Gubernur.

Kamis, 9 Agustus 2012, 13:36 Ismoko Widjaya, Luqman Rimadi

VIVAnews - Merebaknya isu SARA dalam pertarungan Pemilukada DKI Jakarta saat ini

dinilai sudah meresahkan. Bahkan Panwaslu sampai turun tangan. Di tengah isu SARA yang terus mengemuka, DKI Jakarta ternyata pernah memiliki seorang Gubernur DKI non muslim. Dia bernama Hendrik Hermanus Joel Ngantung atau biasa dipanggil Henk Ngantung.

Pria Manado kelahiran Bogor, Jawa Barat pada 1 Maret 1921 itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta sejak tanggal 27 Agustus 1964 sampai 15 Juli 1965. Sebelum menjadi Gubernur, Henk menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 1960- 1964 dengan gubernurnya Sumarno.

Menurut istri Henk Ngantung, Evie Mamessa yang ditemui di kediaman, Gang Jambu, Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur, Kamis 9 Agustus 2012, Henk diangkat langsung oleh Presiden Soekarno sebagai Gubernur. Apa alasannya, karena Bung Karno ingin Jakarta menjadi kota yang berbudaya.

Henk bukan terlahir sebagai birokrat. Dia adalah seniman yang hobi melukis dan seorang budayawan yang cukup populer pada masanya. Henk bahkan sempat menorehkan karya

(4)

lewat lukisannya. Dia juga pembuat sketsa Tugu Tani sebelum bangunan monumen di Jalan Ridwan Rais itu berdiri.

Henk menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta pada usia relatif muda, 44 tahun. Meski bukan berasal dari agama mayoritas, Evie dan Henk yang menikah pada tahun 1964 ini tidak pernah merasakan ada tindakan berbau SARA yang dialami. Tidak ada pihak-pihak yang menyerang mereka.

"Pak Henk seorang Kristen diangkat sebagai gubernur. Tapi nggak ada heboh- heboh SARA seperti sekarang ini. Semua tidak ada yang marah karena bukan Islam," kata Evie yang masih terlihat cantik.

Justru karena sifatnya yang dianggap mengayomi warga Jakarta dan tidak membeda- bedakan, Henk menjadi sangat dihormati oleh umat agama mayoritas. "Malah salah satu ustadz bilang pernah mau ajak Pak Henk masuk Islam karena sifat baiknya," kata Evie. Henk meninggal pada usia 71 tahun pada 12 Desember 1991. Dia meninggal karena sakit di matanya yang tak kunjung sembuh. Dia juga menderita sakit jantung yang berkepanjangan. (umi)

Istri Mantan Gubernur DKI Tinggal di Gang

Selepas jadi Gubernur DKI, Henk dan istrinya tinggal di gang sempit.

Kamis, 9 Agustus 2012, 15:53 Ismoko Widjaya, Luqman Rimadi

Evie Mamessa dan foto suaminya mantan Gubernur DKI Henk Ngantung. (VIVAnews/Luqman Rimadi) 

VIVAnews - Henk Ngantung atau Hendrik Hermanus Joel Ngantung, mantan Gubernur DKI yang non-muslim itu kini sudah tiada. Pria Kristiani yang tidak pernah diserang isu SARA

(5)

saat menjabat Gubernur DKI itu tidak pernah membeda-bedakan golongan.

Kini, keluarga Henk Ngantung hidup sebatang kara. Tidak ada perhatian serius dari pemerintah provinsi DKI. Pemerintah provinsi yang pernah dipimpinnya pada 27 Agustus 1964 sampai 15 Juli 1965.

Setelah dicopot dan pensiun dari kursi Gubernur DKI, Henk dan istrinya, Evie Mamessa, pindah ke sebuah rumah yang kurang layak untuk sekaliber mantan gubernur Ibukota negara. Keluarga dengan dua putri dan dua putra itu tinggal di dalam gang sempit. Gang selebar satu buah sepeda motor. Rumahnya tampak seperti bangunan lama dan belum ada sentuhan renovasi.

"Kami tidak punya harta apa-apa. Untuk air saja setiap jam harus mati. Tidak ada yang memperhatikan saya," kata Evie, istri Henk saat ditemui di kediamannya, Gang Jambu, Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur, Kamis 9 Agustus 2012.

Luas rumah Henk memang sekitar 1.400 meter persegi. Tapi sebagian besar itu adalah halaman atau pekarangan. Rumah cokelat yang dihuni Evie tidak terlalu besar. Wanita yang dinikahi Henk pada 1964 itu hanya menempati kamar berukuran 3x2 meter.

"Untuk hidup sehari-hari saya hanya mengandalkan pensiun yang sebesar Rp830 ribu. Uang pensiun saya dapat itu baru sejak 1980. Sebelum itu, tidak ada uang apapun yang saya terima dari Pemda," kata wanita berkacamata ini.

Henk melepas jabatan gubernur pada 1965 karena dituduh terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI). Dia tidak pernah mendapat dana pensiun selama sekitar 15 tahun. Henk tidak pernah menerima surat tanda terima kasih dari pemerintah setempat. Tidak ada penghargaan atau sejenisnya yang mampir ke rumah. Tidak seperti mantan gubernur lainnya yang mendapat jatah rumah, Evie dan Henk tidak mendapat fasilitas itu.

"Saya harap, biarpun terlambat, datanglah gubernur ke rumah saya. Malu sebenarnya, kok mantan gubernur tinggal di gang. Tidak punya rumah," ujar Evie.

Evie mengaku kerap mendapat bantuan dari berbagai pihak. Bahkan ada perusahaan yang berniat menyokong biaya hidup. Tapi Evie tolak. "Saya hanya butuh dari Pemda," ujar dia. Keempat anak Evie-Henk kini sudah hidup terpisah dengan keluarganya masing-masing. Yang semakin miris, Evie juga tidak pernah ditengok oleh anak-anaknya. Keempat anaknya sempat kesulitan sekolah karena label PKI yang melekat pada sang ayah.

(6)

http://www.suarapembaruan.com/metropolitan/henk-ngantung-gubernur-dki-non-muslim-yang-mampu-merangkul-semua-pihak/23405

Henk Ngantung, Gubernur DKI Non-Muslim

yang Mampu Merangkul Semua Pihak

Sabtu, 11 Agustus 2012 | 11:09

Henk Ngantung [sindikasi]

[JAKARTA] Meski hanya menjabat periode 27 Agustus 1964 hingga 15 Juli 1965, Henk Ngantung yang lahir 1 Maret 1921 (wafat 1991) merupakan gubernur yang patut dikenang. Setelah empat tahun menjabat sebagai Deputi Gubernur, Henk ditunjuk Presiden Soekarno menggantikan Soemarno yang diangkat sebagai Menteri Dalam Negeri.

Salah satu yang menjadi pertimbangan untuk menunjuk Henk, lantaran Bung Karno ingin membangun Jakarta sebagai Kota Budaya. Henk yang sejak remaja menggeluti dunia kesenian terutama lukisan dianggap mampu menampilkan sisi artistik Ibukota.

"Henk Ngantung merupakan seorang seniman. Bung Karno ketika itu, ingin Jakarta dibangun dengan budaya dan seninya," kata Evie Mamesa sang istri yang dinikahi Henk saat berusia 23 pada 1962.

Ketika ramai berhembus isu negatif mengenai Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) menjelang putaran kedua Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2012 ini, sejarah Henk Ngantung menunjukkan pemimpin Ibukota tidak harus berasal dari agama mayoritas. Tidak ada gonjang-ganjing mengenai keyakinan Henk selama dirinya menjabat baik sebagai gubernur maupun wakil gubernur.

"Pak Henk seorang Kristen, diangkat sebagai gubernur, tapi tidak ada heboh-heboh SARA seperti sekarang ini. Semua tidak ada yang marah karena Pak Henk bukan Islam. Malah salah seorang ustadz, saya lupa namanya, bilang pernah mau ajak Pak Henk masuk Islam

(7)

karena sifatnya yang baik dan mampu merangkul semua pihak," kata wanita kelahiran 12 agustus 1939 itu. [F-5]

Keluarga Mantan Gubernur DKI

Bertahan Hidup dengan Uang Pensiun Rp 830.000

Sabtu, 11 Agustus 2012 | 11:14

[JAKARTA] Rumah itu mungkin mewah pada zamannya, namun kini terlihat tak terurus. Sebuah ruangan yang disebut ruang menerima tamu terkunci rapat. Melongok ke dalamnya melalui kaca, terlihat beberapa kursi yang ditempatkan tak beraturan. Langit-langitnya bolong-bolong di beberapa bagian.

Pemandangan tak jauh berbeda terjadi di ruangan lain yang disebut pemiliknya sebagai kamar tidur. Langit-langit yang bocor coba ditambal dengan plastik. Namun, di beberapa bagian, terlihat bercak bekas rembesan air yang menandakan jika hujan turun airnya tetap menetes membasahi kamar. Selain TV 14 inch, tak ada barang mewah di kamar maupun di rumah itu.

Rumah yang didominasi cat putih itu terletak di sebuah gang sempit bernama Gang Jambu, Jalan Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur. Pemilik rumah ini, Evie Mamesa menuturkan, sejak 1970 atau lebih dari 40 tahun lalu, dia tinggal di rumah itu. Sejak sang suami wafat pada 1991, wanita berusia 73 tahun itu, menetap ditemani tiga anjing peliharaannya di rumah dengan luas lahan 2.440 meter persegi tersebut.

"Hanya ini harta peninggalan suami saya. Ketika saya katakan hidup sederhana, benar-benar sederhana bukan?" katanya saat SP temui di kediamannya beberapa waktu lalu.

Evie mengungkapkan, dia ingin sekali merawat rumah itu, namun tak memiliki uang. Jangankan untuk memperbaiki dan membenahi rumah, untuk hidupnya sehari-hari saja, terkadang dirinya kesulitan. Untuk dapat bertahan hidup, Evie hanya mengandalkan uang pensiun sang suami sebesar Rp 830.000.

Uang sejumlah itu memang tak cukup untuk menyambung hidup zaman sekarang. Jika merasa semakin kepayahan, Evi terpaksa mendatangi Balai Kota Jakarta, bertemu dengan gubernur yang menjabat untuk meminta pertolongan.

(8)

"Untuk bayar listrik dan air saja sudah tidak cukup. Biasanya dibantu sama gubernur. Dari gubernurnya Pak Ali Sadikin, sampai Fauzi Bowo pernah saya datangi," katanya lirih. Demikian sepenggal kehidupan Evi Mamesa, istri mantan Gubernur DKI Jakarta, Hendrik Hermanus Joel Ngantung atau yang biasa disapa Henk Ngantung, gubernur kedua setelah terbentuknya Provinsi DKI Jakarta.

"Dibandingkan dengan mantan gubernur lain, sepertinya hanya saya keluarga mantan gubernur yang hidupnya sangat sederhana," katanya.

Meski hidup sederhana, bahkan nyaris kekurangan, Evie mengaku tak khawatir. Para tetangganya dan anak ketiganya, Kamang Ngantung (44) yang tinggal di daerah Cipayung, selalu siap membantu. Dia hanya merasa sedih, karena tak adanya perhatian dari pemerintah daerah atas jasa sang suami.

Jangankan perhatian berupa rumah mewah, atau bentuk materi lainnya, secarik kertas penghargaan atas jasa sang suami sebagai gubernur sekalipun tak pernah diberikan pemerintah.

Padahal, beberapa monumen penting seperti Tugu Selamat Datang di Bundaran HI, dan lambang Pemprov DKI merupakan buah karya sang suami selama menjabat.

Hanya surat penghargaan dari Komando Strategis Cadangan Angkatan Darat (Kostrad) yang ditandatangani oleh Pangkostrad ketika itu, Mayjen Soeharto satu-satunya penghargaan yang diterima Henk Hantung karena membuat sketsa lambang Kostrad. "Saya tak mengharapkan uluran tangan dari yang lain, yang saya harapkan hanyalah perhatian Pemda," ungkapnya menahan kesedihan. [F-5]

Referensi

Dokumen terkait

Namun lingkungan yang dipengaruhi manusia ini dapat juga menguntungkan spesies tertentu seperti Lophomyrmex sp1 yang hanya ditemukan di perkebunan teh dan taman wisata.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh diazinon (pestisida) terhadap tingkat keberhasilan larva yang terbentuk dan waktu dari setiap tahap perkembangan

Strategi dapat dilaksanakan secara per tahap dari tahun ke tahun terdiri dari pengembangan pasar, pengelolaan usaha secara optimal, meningkatkan kawasan budidaya padi yang

Sedangkan hasil uji anova beda rata-rata konsumsi garam individu pada setiap wilayah tidak menunjukkan beda yang signifikan baik antara wilayah I dengan II dan III maupun antara

Dari kegiatan pengabdian masyakat yang berjudul ”Sosialisasi dan Aplikasi Penggunaan Beberapa Tanaman Pengusir Nyamuk Kepada Masyarakat Kota Padang di Daerah yang

PROSIDING disusun berdasarkan hasil SEMINAR NASIONAL kerjasama Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian UMY dengan Perhepi Komda DIY yang dilaksanakan pada

Motif yang akan dibuat dalam setiap busana wayang adalah hasil analisa setiap karakter atau watak yang terdapat pada tokoh perwayangan.. Tokoh-tokoh yang akan direpresentasikan

•• Memper Memperlebar batang lebar batang kayu (setempat saja), kayu (setempat saja), •• Memper Mempertinggi batang tinggi batang kayu (setempat saja), kayu (setempat saja),