DISAMPAIKAN PADA:
SEMINAR NASIONAL ISLAM DAN DEMOKRASI
Pengembangan Model Demokrasi Berketuhanan Yang Maha Esa
DISELENGGARAKAN OLEH
PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM AS-SYAFI’IYAH
JAKARTA, 25-26 JULI 2017
ISLAM DAN DEMOKRASI :
Melihat Pengalaman Negara Turki
Oleh:
2
Islam dan Demokrasi:
Melihat Pengalaman Negara Turki
*Oleh : M. Hamdan Basyar
** PengantarReferendum rakyat Turki terhadap amendemen Konstitusi pada 16 April 2017, telah menandai perubahan mendasar sistem politik Turki, dari sistem parlementer menjadi sistem presidensiil. Hasil resmi referendum yang diumumkan oleh Dewan Pemilihan Tinggi (Yüksek
Seçim Kurulu – YSK) pada 27 April 2017 menunjukkan bahwa yang setuju perubahan
berjumlah 51,41 %, sedangkan yang menolak perubahan berjumlah 48,59 %.1 Ada 18 point
perubahan yang diusulkan pada referendum waktu itu. Hasil tersebut akan diberlakukan mulai November 2019. Satu hal yang tidak berubah sejak Turki berdiri adalah mereka menyatakan dirinya sebagai negara demokrasi yang sekular.2
Negara Turki yang berdiri pada tahun 1923 itu memang sekular. Negara itu terbentuk dari sisa wilayah Dinasti Usmaniyah (Ottoman Empire). Pendiri Turki, Mustafa Kemal Attaturk, adalah pemimpin gerakan nasionalis Turki yang menginginkan „Turki adalah Turki‟. Kekalahan Dinasti Usmaniyah dalam Perang Dunia I dimanfaatkan oleh Kemal Attaturk untuk mendirikan negara Turki modern. Dia berusaha menghilangkan berbagai hal yang berkaitan dengan Dinasti Usmaniyah, terutama, lambang keislaman. Pemakaian torbus dilarang. Adzan atau shalat dilarang menggunakan bahasa Arab. Attaturk ingin menghapus berbagai hal non-Turki. Dia mau mengubah negara Turki yang berbeda dengan dinasti sebelumnya. Sistem negara sekular dipilih untuk menggantikan sistem Islami.
Sebagai seorang presiden, Attaturk melakukan serangkaian reformasi kehidupan bermasyarakat di Turki. Dia melakukan sekularisasi dan industrialisasi, untuk menuju negara modern. Di bawah kepemimpinannya, Turki mengadopsi nilai sosial yang lebih luas, hukum formal, dan melakukan reformasi politik. Sejak saat itu, di Turki terjadi pemerintahan demokratis.
Untuk membedakan dengan kekuasaan sebelumnya, Attaturk meninggalkan identitas
Khilafah Usmaniyah yang Islam. Hal itu diwujudkan dengan melakukan sekularisasi dan
westernisasi serta membatasi dan mengontrol peran agama dan lembaga keagamaan. Partai Rakyat Republik (Cumhuriyet Halk Partisi - CHP), yang didirikan oleh Attaturk, menjadi
* Tulisan untuk Seminar Nasional dengan tema “Islam dan Demokrasi: Mencari Model Demokrasi
Berketuhanan Yang Maha Esa”, diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Universitas Islam As-Syafi‟iyah, Jakarta, 25 Juli 2017. Sebagian bahan tulisan diambil dari buku penulis yang berjudul Pertarungan dalam
Berdemokrasi: Politik di Mesir, Turki, dan Israel (Jakarta: UI Press, 2015).
** Peneliti Utama pada Pusat Penelitian Politik, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI);
Dosen Program Studi Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia (PSTTI-UI).
1
Lihat, antara lain, http://aa.com.tr/en/turkey/-turkey-official-referendum-results-announced-/806935. Diakses pada 7 Juli 2017.
2 Dalam Konstitusi Turki, pasal 2 disebutkan: “The Republic of Turkey is a democratic, secular and
social state governed by rule of law, within the notions of public peace, national solidarity and justice, respecting human rights, loyal to the nationalism of Atatürk, and based on the fundamental tenets set forth in the preamble.” Lihat Türkiye Büyük Millet Meclisi, Constitution of the Republic of Turkey dalam
3
partai tunggal yang memerintah Turki sampai tahun 1945, ketika sistem kepartaian berubah menjadi multi partai. Dalam sistem multi partai itu, berbagai aspirasi politik bermunculan melalui partai politik. Tahun 1950 menjadi titik sejarah Turki dengan menerapkan sistem multi partai dalam pemilu. Pada tahun itu, Partai Demokrat, partai oposisi, memenangkan pemilu.
Sebagai negara yang menganut demokrasi, maka pemerintahan Turki seringkali mengalami perubahan. Beberapa kali kalangan Kemalis menguasai pemerintahan di bawah partai CHP. Partai yang cenderung kepada Islam juga pernah berkuasa, sebagaimana ditunjukkan oleh kemenangan Partai Refah pada pemilu 24 Desember 1995. Di bawah kepemimpinan Necmettin Erbakan, partai Refah memerintah Turki. Tetapi, Refah tidak lama berkuasa, karena kemudian diturunkan paksa oleh kalangan militer. Dalam perkembangan berikutnya, pada tahun 2002, Partai Keadilan dan Pembangunan (Adalet ve Kalkìnma Partisi
- AKP), pimpinan Recep Tayyip Erdogan, memenangkan pemilu parlemen Turki.3
Kemenangan AKP dalam pemilu itu, terjadi pada waktu ketika Turki memulai lagi perundingan secara serius untuk menjadi anggota penuh Uni Eropa pada awal 2003. Sejak saat itu, Erdogan melakukan reformasi di bidang politik, ekonomi, sosial, dan hukum, dengan dalih untuk memenuhi standar sistem kehidupan Eropa, sebagai syarat menjadi anggota penuh Uni Eropa. Erdogan sangat cerdik memainkan kartu Uni Eropa dalam menghadapi pertarungan melawan militer Turki.
Tulisan ini akan membahas kehidupan demokrasi Turki yang dikaitkan dengan agama Islam. Pembahasan ingin menjawab bagaimana masyarakat Muslim Turki yang mayoritas itu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ajaran Kemalisme
Mustafa Kemal Attaturk mengubah tatanan kehidupan yang ada di Turki. Dia mengadakan serangkaian reformasi radikal yang bertujuan untuk mengubah Turki menjadi negara sekular. Para pendukung gerakan Kemal Attaturk berusaha membatasi peran agama hanya sebagai sistem kepercayaan pribadi yang terpisah dari ruang publik. Ideologi baru ini dimplementasikan melalui serangkaian kebijakan dan hukum antara tahun 1922 dan 1935. Pada tahun 1924, Attaturk melakukan penghapuskan sistem kekhalifahan, penutupan sekolah Islam tradisional (madrasah), dan pembubaran pengadilan agama. Kemudian, pada tahun 1925, rezim itu mulai membubarkan sejumlah tarikat, melarang pemakaian tutup kepala khas Dinasti Usmaniyah (fez dan turban) bagi laki-laki, menghalangi perempuan untuk memakai kerudung dan mengganti kalender Islam dengan kalendar Gregorian sebagai satu-satunya kalender resmi di Turki. Pada tahun 1926, Turki mengadopsi Hukum Sipil berdasarkan model Swiss dan Hukum Kriminal model Italia. Dengan adopsi hukum itu, maka hukum negara tidak lagi menggunakan hukum syariah Islam. Pada tahun 1928, penghapusan Islam sebagai agama negara dari Konstitusi yang berarti deklarasi Turki sebagai negara sekular. Pada tahun yang sama, Turki mengadopsi alfabet Latin dalam penulisan bahasa mereka. Pada tahun 1934, diundangkan aturan keharusan adanya nama keluarga dan Mustafa Kemal sendiri diberikan nama keluarga “Attaturk” (Bapak Turki). Tahun 1935 ditetapkan enam prinsip, yaitu: republicanism, nationalism, populism, secularism, reformism (or revolutionism), and
3
Setelah Partai Refah dibubarkan, para pendukungnya membuat Fezilat Party.Tetapi partai itupun akhirnya dibubarkan. Maka, pada tahun 2001, kalangan “muda” mendirikan AKP, sedangkan kalangan “tua” mendirikan Saadat Party.
4
statism.4 Kemudian, pada tahun 1936, keenam prinsip tersebut dimasukkan ke dalam Konstitusi Turki.5 Prinsip ajaran itu dikenal dengan sebutan “Kemalisme”.
Dalam faham Attaturk, sekularisme itu adalah kekuasaan negara didesain dapat mengontrol agama, tidak sekedar memasukkan agama ke dalam ranah pribadi dan menyingkirkannya dari ruang publik. Faham itu, tentunya, berbeda dengan yang terjadi di dunia Barat. Langkah penting yang dilakukan oleh Attaturk adalah dengan mengontrol ulama dan tarikat sufi melalui berbagai cara. Misalnya, Attaturk menetapkan undang-undang mengenai penyatuan sistem pendidikan keagamaan dan pendidikan umum. Aturan itu menjadi landasan hukum bagi penutupan seluruh madrasah dan pelimpahan seluruh urusan pendidikan pada kekuasaan kementerian pendidikan. Pemakaian tradisional (fez dan turban) yang biasa dikenakan ulama, dilarang oleh aturan Attaturk. Mereka juga tidak boleh lagi menggunakan gelar yang melambangkan otoritas keagamaan, seperti “alim” atau “syeikh”. Bersamaan dengan pengadopsian alfabet Latin, maka ada pelarangan pengajaran Bahasa Arab dan Persia. Berbagai hal tersebut dimaksudkan untuk menghancurkan hubungan kultural antara Dinasti Usmaniyah dengan Turki modern.
Attaturk sengaja melakukan hal itu untuk mendegradasi peran ulama dalam masyarakat Turki. Ulama didorong untuk tidak lagi memainkan peran yang signifikan dalam masyarakat. Ulama dan perannya, seakan dianggap sebagai peninggalan masa lalu yang dapat menghambat kemajuan masyarakat Turki modern. Ulama hanya dapat berperan secara terbatas di masjid dan lembaga keagamaan. Lembaga itu pun dikontrol oleh negara, sehingga independensi ulama menjadi lumpuh. Ulama sebagai kaum intelektual lama digantikan oleh kaum intelektual baru yang membangun negara dengan budaya Turki secara sekular. Ada upaya yang berusaha memutuskan hubungan keilmuan masa lalu dengan masa modern. Misalnya, Institut Sejarah Turki mulai menulis sejarah baru Turki dan Institut Bahasa Turki membentuk ulang bahasa Turki.6
Terlihat dengan jelas, reformasi Attaturk dilakukan dengan paksaan, tanpa mempedulikan tanggapan masyarakat. Usaha Kemal Attaturk untuk mensekularkan Turki lebih dimotivasi oleh pragmatisme dan keinginan untuk menghilangkan model negara Dinasti Usmaniyah. Penghapusan simbol-simbol lama itu merupakan langkah yang penting bagi Turki, agar mereka dapat menjadi negeri yang independen dari hegemoni dan campur tangan Barat. Attaturk menganggap reformasi yang dilakukannya sebagai upaya untuk melindungi Islam, untuk memisahkan agama yang suci dari politik yang kotor. Pendukung Attaturk beranggapan bahwa pengadopsian norma dan lembaga modern memang mengharuskan dikorbankannya beberapa pemahaman agama tradisional. Dengan keyakinan tersebut, mereka memaksa masyarakat Turki menjadi masyarakat yang sekular.
Posisi Mustafa Kemal sebagai “bapak” bangsa Turki, setelah kemenangannya dalam perang kemerdekaan, digunakan untuk mempromosikan dirinya sebagai sosok yang suci, pemurah dan sangat berkuasa. Berbagai kritik yang ditujukan pada gerakan reformasi Kemal dianggap sebagai gangguan bagi perkembangan negara. Para pengkritik dan kekuatan oposisi dibungkam, dan bahkan ada yang diasingkan, agar tidak mengganggu kebijakan yang dibuat oleh Attaturk.
4
Lihat Prof. Dr. Türkkaya ATAÖV, “The Principles of Kemalism”, dalam The Turkish Yearbook, 1980-1981, VOL. XX.
5 Lihat, antara lain, Dankwart A. Rustow, “Political Parties in Turkey: An Overview”, dalam Metin
Heper dan Jacob M. Landau (Eds.), Political Parties and Democracy in Turkey (London: I.B. Tauris & Co Ltd., 1991), hlm. 13.
6 Geoffrey Lewis, The Turkish Language Reform: A Catastrophic Success (Oxford: Oxford University
5
Pada waktu itu, penghapusan sistem khalifah menjadi isu reformasi yang kontroversial. Ada kelompok yang ingin mempertahankan khalifah, hanya sebagai simbolik saja, tanpa mempunyai kekuasaan politik yang berarti. Tokoh gerakan nasionalis Turki, seperti Ziya Gökalp, mendukung pemisahan antara kesultanan dan kekhalifahan, dan berusaha agar khalifah tidak memiliki peran dalam politik nasional. Khalifah hanya dianggap sebagai pemimpin spiritual komunitas Muslim global yang mungkin posisinya setara dengan Paus dalam kalangan Katholik. Tetapi, Mustafa Kemal Attaturk justru berpendapat bahwa keberadaan khalifah yang menjadi peninggalan sejarah seperti itu, akan menjadi ancaman bagi kedaulatan nasional republik Turki. Menurutnya, sistem khalifah harus dihapuskan untuk menghilangkan kaitan dengan masa lalu. Dan akhirnya penghapusan sistem khalifah itu terjadi pada tahun 1924.
Demokratisasi ala Kemalis
Sebagai pendiri Turki modern, Mustafa Kemal Attaturk berusaha membuat negara itu sebagai sebuah negara demokrasi. Pada awal kekuasaannya, Turki terlihat masih belum begitu demokratis. Tetapi Attaturk tidak mau berhadapan dengan kelompok yang berseberangan alias tidak ada partai oposisi. Oleh karena itu, politik Attaturk lebih mengarah pada kekuasaan tunggal, yakni hanya berorientasi pada ajaran Mustafa Kemal Attaturk atau biasa disebut sebagai „Kemalis‟.
Konstitusi Turki tahun 1924, menyebutkan bahwa kekuasaan politik berada di tangan Majelis Tinggi Nasional. Majelis ini merupakan wakil sah kedaulatan bangsa Turki. Pada Maret 1925, Turki mengeluarkan undang-undang yang berkaitan dengan pemeliharaan ketertiban. UU ini telah mengakibatkan tidak adanya partai oposisi. Saat itu, partai yang berkuasa adalah „Partai Rakyat Republik‟ (Cumhuriyet Halk Partisi - CHP). Partai itu telah memonopoli kekuasaan politik di Turki. Apalagi, kemudian pada tahun 1931 secara resmi Turki bersistem satu partai. Dengan demikian, partai oposisi dianggap ilegal. Kondisi tersebut berjalan sampai tahun 1945.7
Dengan sistem kepartaian tersebut, maka berbagai sidang yang dilakukan di Majelis Nasional, hanya bersifat formalitas saja. Semuanya sudah diatur sebelum persidangan. Dengan demikian, pada waktu itu sebenarnya tidak ada demokrasi. Sebelum berlakunya sistem partai tunggal tersebut, Attaturk pernah berusaha mengadopsi keinginan pihak oposisi dengan memberikan mereka kesempatan untuk eksis, tetapi kemudian tampaknya Kemal Attaturk merasa terganggu dengan keberadaan kaum oposisi. Dalam tahun 1930, Attaturk mengizinkan berdirinya sebuah partai oposisi yang loyal, sebagai penyaluran suara yang tidak puas terhadap penguasa dan sekaligus mendorong CHP untuk bersemangat mendekati masyarakat.
Menyambut keterbukaan penyaluran aspirasi masyarakat, Ali Fethi Okyar mendirikan sebuah partai yang bernama „Partai Republik Liberal‟ (Serbest Cumhuriyet Firkasi – SCF). Partai itu membuat manifesto politik yang berisi 11 pokok tentang kebijakan perekonomian liberal dan penanaman modal asing serta kebebasan berbicara dan pemilihan umum langsung. SCF melanjutkan manifesto Partai Republik Progresif pada tahun 1924. Partai baru tersebut disambut dengan antusias oleh masyarakat Turki.
Antusias itu ditunjukkan juga dalam pemilu pada Oktober 1930. Sebagai partai baru, SCF dapat memperoleh 30 dari 512 kursi. Meskipun perolehan kursi SCF hanya minoritas, tetapi CHP sebagai partai yang berkuasa merasa terancam. Selain itu, SCF juga menuduh partai yang berkuasa telah melakukan banyak penyelewengan dan kecurangan pada perhitungan suara dalam pemilu. Selanjutnya, konflik antara dua partai itu tidak dapat dihindari. SCF akhirnya dibubarkan pada tanggal 16 November 1930. Dengan pengalaman
6
tersebut, Attaturk tidak mau lagi melakukan eksperimen politik dengan memperkenankan adanya partai oposisi. Secara resmi, Turki memberlakukan sistem satu partai pada tahun 1931.
Dengan sistem partai tunggal, Attaturk lebih leluasa melakukan eksplorasi politiknya. Musyawarah dibatasi, bahkan dalam persidangan partai di parlemen. Fungsi persidangan parlemen hanya meratifikasi dan mensahkan keputusan-keputusan kabinet. Pemilu anggota parlemen yang dilakukan empat tahun sekali hanya berfungsi seremonial saja. Daftar calon anggota parlemen disusun oleh Ketua Partai CHP, Ketua Pelaksana, dan Sekretaris Jenderal. Daftar itu kemudian diratifikasi oleh kongres partai tersebut dan sama sekali tidak terdapat peluang bagi warga negara untuk menjadi wakil di parlemen atas inisiatif sendiri. Untuk memberikan sedikit ruang berdemokrasi, Kemal Attaturk menyediakan 30 kursi dalam pemilu 1931, dan 16 kursi dalam pemilu 1935 bagi kalangan independen. Tetapi, kursi itu tidak sepenuhnya terisi, karena banyak masyarakat yang tidak mau mendukung.
Dalam kehidupan sehari-hari, Mustafa Kemal Attaturk yang menjabat sebagai
Presiden Turki mengontrol sepenuhnya partai politik dan parlemen. Dalam
perkembangannya, ada ketegangan antara Presiden dan Perdana Menteri yang dijabat oleh Ismet Inonu. Kedua petinggi negara Turki itu seringkali berbeda pendapat. Sehari setelah kematian Kemal Attaturk, 10 November 1938, Majelis Nasional memilih Ismet Inonu sebagai Presiden kedua Turki.
Kepemimpinan Ismet Inonu tidak banyak disukai oleh masyarakat. Oleh karena itu, untuk menarik perhatian masyarakat, maka pada 19 Mei 1945, Inonu menjanjikan politik Turki menjadi lebih demokratis. Pada 7 Juni 1945, beberapa tokoh Turki mengajukan memorandum kepada partai di parlemen. Mereka menuntut agar Konstitusi Turki diimplementasikan sepenuhnya dan demokrasi ditegakkan.8 Tetapi, usulan tersebut ditolak oleh partai yang berkuasa. Pada 25 Mei 1945, pemilu umum lokal diadakan di Istanbul. Saat itu, untuk pertama kalinya pemerintah mengizinkan adanya pilihan bebas di antara berbagai calon anggota legislatif dari CHP.
Dalam perkembangan politik Turki berikutnya, ada berbagai usaha yang mengarah ke sistem multi partai. Bermula pada Juli 1945, seorang industrialis terkemuka di Istanbul, Nuri Demirag, mendirikan partai oposisi „Partai Pembangunan Nasional‟ (Milli Kalkinma Partisi – MKP). Partai ini secara resmi terdaftar pada 5 September 1945. Kemudian berdiri „Partai Demokrat‟ (Demokrat Parti – DP) yang secara resmi terdaftar pada 7 Januari 1946. DP didirikan oleh empat orang anggota Parlemen yang berasal dari CHP. Mereka adalah Celal Bayar, anggota parlemen yang mewakili wilayah Izmir dan mantan Perdana Menteri pada masa Presiden Attaturk; Adnan Menderes, anggota parlemen yang mewakili wilayah Aydin; Fuad Koprulu, anggota parlemen yang mewakili wilayah Kars dan seorang profesor yang terkenal di bidang sejarah dan sastra; dan Refik Koraltan, anggota parlemen yang mewakili wilayah Icel.9
Berdirinya DP tidak terlepas dari ketidakpuasan Menderes dan kawan-kawan di dalam CHP. Pada tanggal 7 Juni 1945, mereka mengajukan usulan kepada faksi CHP di parlemen, dengan judul “Proposal for Changes in the Party By-laws and in Some Laws”. Akan tetapi dalam pembahasan pada 12 Juni 1945, usulan tersebut ditolak oleh anggota parlemen lainnya. Akibatnya, mereka mendirikan partai politik sendiri untuk menampung aspirasinya.
8 Dalam Konstitusi Turki disebutkan bahwa negara itu menganut sistem demokrasi yang memberikan
ruang politik bagi seluruh masyarakat.
9
Lihat, antara lain, Ali Yasar Saribay, “The Democratic Party, 1946-1960”, dalam Metin Heper and Jacob M. Landau (Eds.), Political Parties and Democracy in Turkey (London: I.B. Tauris & Co Ltd., 1991), hlm. 191.
7
Menghadapi gerakan oposisi yang mulai bermunculan, CHP melakukan kongres luar biasa pada bulan Mei 1946. Kongres tersebut memutuskan adanya langkah liberalisasi. Mereka menyetujui adanya pemilu langsung dan jabatan ketua partai yang permanen dihapuskan.Gelar Milli Sef (pimpinan nasional) juga dihapuskan. Ismet Inonu sebagai Ketua CHP dipilih kembali. Kemudian, pada kongres CHP, November 1947, mereka menyetujui adanya kebebasan berusaha dan memutuskan untuk mencabut pasal 17 undang-undang distribusi tanah.
Transisi politik terus bergulir di Turki. Klimaks periode transisi terjadi dengan dilaksanakannya pemilu tanggal 14 Mei 1950. Pemilu kali itu sudah menggunakan sistem multi partai. Hasilnya menunjukkan bahwa Partai Demokrat memenangkan 53,3% suara (4.242.833 suara dari total suara 7.953.055). Mereka memperoleh 408 kursi (83,5% dari total kursi 487). Sedangkan CHP mendapatkan 39,7% suara atau 69 kursi (14,4% dari total kursi). Sisa kursi diperoleh Partai Nasional (1 kursi) dan Independen (9 kursi).10 Dengan hasil tersebut, pimpinan dan pendiri DP, yakni Adnan Menderes, menjadi Perdana Menteri Turki. Menderes menjadi PM sampai tahun 1960, ketika pihak militer Turki melakukan kudeta di sana dan menguasai pemerintahan Turki.
Suara Partai Demokrat meningkat pada pemilu berikutnya, 2 Mei 1954. Pada waktu itu, DP memperoleh 58,4% suara (503 kursi di parlemen). Sedangkan CHP memperoleh 35,1% suara (31 kursi parlemen).11 Pemilu tahun 1954 merupakan keberhasilan bagi Menderes, pendiri Partai Demokrat. Tetapi pada tahun berikutnya, penurunan ekonomi secara perlahan mengikis dukungan pada Partai Demokrat. Bahkan pada Desember 1955, DP mengalami perpecahan yang melahirkan partai baru, yaitu Partai Kebebasan. Dalam perkembangannya, partai baru tersebut kemudian menjadi partai oposisi terbesar dalam Majelis Nasional.
Pada pemilu berikutnya, tahun 1957, dukungan masyarakat terhadap Partai Demokrat mengalami penurunan. Tetapi, partai itu masih dapat dukungan mayoritas dari warga pedesaan. Perkembangan politik Turki semakin eksplosif. Pada bulan Desember 1957, ada sembilan perwira angkatan darat yang ditangkap, karena dianggap berkomplot ingin menggulingkan pemerintah. Secara terbuka, penangkapan tersebut baru diumumkan pada tanggal 16 Januari 1958. Partai Demokrat tidak percaya kepada angkatan bersenjata, karena para perwiranya dianggap masih memiliki hubungan dekat dengan rezim lama, yakni Ismet Inonu.
Tampaknya, kalangan militer Turki sudah semakin gerah dengan tingkah laku politikus yang cenderung bebas. Maka, pada 27 Mei 1960, militer melakukan kudeta, dengan alasan untuk mempertahankan ideologi Kemalis Attaturk. Sebuah pernyataan kudeta dibacakan oleh Kolonel Alpaslan Turkes melalui radio pemerintah Turki pada pagi hari pukul 03.00, waktu setempat. Mereka mengumumkan bahwa kekuasaan berada di tangan Komite Persatuan Nasional (KPN) yang dipimpin Jenderal Cemal Gursel. Pada hari setelah kudeta, Gursel diangkat menjadi Kepala Negara merangkap Perdana Menteri serta Menteri Pertahanan. Dengan kewenangan ini, maka Gursel mempunyai kekuasaan yang lebih absolut, dibandingkan dengan kekuasaan yang pernah dimiliki oleh Kemal Attaturk.
Setelah kudeta militer tahun 1960, kalangan militer berusaha melakukan demokratisasi dengan adanya pemilu pada Oktober 1965. Tetapi untuk kali yang kedua, militer melakukan kudeta pada tahun 1971. Untuk beberapa saat, politik Turki di bawah kekuasaan militer. Kemudian mereka kembali menyerahkan kepada kekuasaan sipil setelah pemilu berikutnya. Kalangan politik berusaha merebut kekuasaan melalui pemilu multi partai. Ada sedikit ruang bergerak bagi mereka untuk mengekspresikan aspirasi politiknya.
10Ibid., hlm 121-122.
8
Dalam perkembangannya, untuk ketiga kalinya, militer kembali melakukan kudeta, pada 12 September 1980.
Kalangan militer membubarkan parlemen dan kabinet. Mereka juga mengumumkan bahwa bahwa imunitas para anggota Majelis Nasional telah berakhir. Kemudian, militer membentuk Majelis yang beranggotakan 160 orang. Dalam persidangan tanggal 23 Oktober 1981, Majelis yang diketuai oleh Profesor Orhan Aldikacti itu menghasilkan sebuah draf kebijakan politik baru Turki. Draft itu menjelaskan bahwa pusat kekuasaan di tangan eksekutif dan menambah kekuasaan presiden serta dewan keamanan nasional.
Secara berangsur, politik Turki diarahkan menuju demokrasi yang memungkinkan berbagai kalangan untuk terlibat di dalamnya. Dalam rangkaian kebebasan berpolitik tersebut, pada tahun 1980-an, partai Islam mulai berkembang di Turki. Akhirnya, dalam pemilu tahun 1995, „Partai Sejahtera‟ (Refah Partisi – RP) memenangkan persaingan politik di Turki. Pimpinan Partai Refah, Necmettin Erbakan, dilantik menjadi Perdana Menteri. Kemenangan Refah dan Erbakan disambut dengan penuh kegembiraan dan harapan oleh rakyat Turki.
Refah tidak pernah mengklaim sebagai partai Islam militan dan fundamentalis. Refah juga bukan “Partai Islam” yang hanya menggunakan jargon-jargon keislaman dan kemanusiaan. Secara resmi, jargon politik yang dikampanyekan Partai Refah adalah mengutamakan keadilan sosial, tradisi, dan etika, juga menolak westernisasi. Walau demikian, Refah juga menyatakan diri ingin memperjuangkan Islam yang sesuai dengan karakteristik rakyat Turki. Sebenarnya, Refah dapat disebut sebagai partai moderat yang menjunjung nilai demokrasi dan pluralisme.
Akan tetapi, tampaknya militer Turki tidak begitu rela bila negara sekular tersebut dipimpin oleh partai politik yang berkecenderungan pada suatu kelompok agama. Maka, untuk keempat kalinya, militer Turki kembali melakukan kudeta pada tahun 1997, dengan cara yang “lunak”. Peristiwa kudeta itu biasa disebut sebagai “soft coup”.12
Partai Refah kemudian dilarang, karena dianggap terlalu memperjuangkan Islam. Kalangan militer sebagai “penjaga sekularisme” di Turki merasa perlu turun tangan untuk menyelamatkan ajaran Kemalisme Attaturk.
Kalangan militer memperoleh “keistimewaan” berdasarkan Konstitusi hasil referendum 7 November 1982. Mereka dapat membubarkan pemerintahan, demi menjaga sekularisme di Turki. Konstitusi Turki 1982 adalah rancangan para jenderal pelaku kudeta militer tahun 1980. Konstitusi itu memberi payung politik dan hukum bagi militer Turki untuk menguasai semua lembaga negara. Konstitusi ini memberi kekebalan hukum kepada pelaku kudeta. Tetapi, kemudian kekebalan hukum yang dimiliki militer pelaku kudeta, dihapuskan dalam amandemen Konstitusi 2010.
Walaupun militer sudah tidak mempunyai kekebalan hukum, tetapi masih ada usaha kudeta militer terhadap Pemerintahan Turki yang sah pada 15 Juli 2016. Kudeta militer tersebut gagal. Ada perlawanan dari Pemerintah dan rakyat Turki. Para pelaku kudeta ditangkap dan dihukum. Otak pelaku kudeta adalah bekas Komandan Angkatan Udara dan anggota Dewan Militer Agung, Jenderal Akin Öztürk. Dia ditahan bersama para pelaku kudeta lainnya.13
12 Lihat, antara lain, M. Hakan Yavuz, Secularism and Muslim Democracy in Turkey (New York:
Cambridge University Press, 2009), hlm. 64-65.
13 Lihat, antara lain,
9 Aktor Demokrasi dan Kiprah Muslim Turki
Penganut Attaturk yang biasa disebut sebagai “Kemalis” itu memperoleh dukungan penuh dari militer Turki. Kalangan militer memperoleh “keistimewaan” berdasarkan Konstitusi hasil referendum 7 November 1982. Tidak dapat dipungkiri, kelompok militer adalah salah satu aktor politik penting di Turki. Cukup lama kelompok itu mengatur kehidupan politik Turki. Akan tetapi referendum Konstitusi 2010 menghilangkan “keistimewaan” kalangan militer.
Pada tahun 2010, Konstitusi Turki direferendum, dengan 57,88% rakyat Turki menyatakan persetujuannya. Amandemen konstitusi tersebut terdiri dari 26 butir. Di antaranya berisi penambahan artikel pada konstitusi, yang memungkinkan tawar-menawar kolektif untuk pekerja sektor publik, juga penguatan posisi perempuan di lapangan kerja. Yang paling utama adalah perubahan sistem peradilan di Turki, yakni ada pembatasan kekuasaan pengadilan militer dan penghapusan kekebalan hukum para pemimpin di pemerintahan kudeta tahun 1980. Amandemen Konstitusi menjamin persamaan gender dan perlindungan anak-anak, orang tua, serta orang cacat.
Akan tetapi tokoh oposisi dari Partai Rakyat Republik (CHP), Berhan Simsek, mengatakan bahwa amandemen itu merusak tatanan sekular yang sudah dibangun di Turki sejak tahun 1923. Menurutnya, konstitusi hasil amandemen 2010 memberikan terlalu banyak wewenang kepada Perdana Menteri di peradilan. Simsek juga mengatakan bahwa dengan amandemen ini, maka perdana menteri menjadi sultan modern. Dia menyebutnya racun yang dibalut dengan coklat. “Ini malah akan menjadikan semua cabang pemerintahan berada dalam satu tangan. Berarti Turki akan dikuasai oleh satu orang, seperti Saddam Husein, atau Hitler.”14
Dalam amandemen Konstitusi 2010, terlihat bagaimana peran partai politik yang pro-Kemalis dan partai politik yang ingin melakukan perubahan. Kelompok pro-Kemalis yang didukung oleh militer berusaha mempertahankan “keistimewaan” militer sebagai penjaga sekularisme Kemal. Sementara itu, ada aktor politik lain yang berusaha melakukan reformasi politik. Mereka itulah kelompok yang menurut Asef Bayat disebut sebagai “post-Islamis.”15
Di Turki, kelompok post-Islamis itu dapat dilihat pada Partai Keadilan dan Pembangunan (Adalet ve Kalkinma Partisi - AKP). Partai yang didirikan pada tahun 2001 itu,
menang dalam pemilu 2002, 2007, 2011, dan 2015.16 AKP dapat dikatakan telah mengalami
transformasi dari partai Refah yang “Islamis”. Para pemimpin AKP yang berasal dari “kader-kader” partai Refah telah melakukan transformasi politik dengan tidak lagi menggunakan
14Lihat http://dunia.vivanews.com/news/read/177302-turki-amandemen-sistem-peradilan
15 Apa yang disebut sebagai “post-Islamisme” oleh Asef Bayat mencakup sejumlah fenomena politik di
berbagai belahan dunia Islam, mulai dari gerakan reformasi di Iran pada akhir 1990-an di bawah Mullah Muhammad Khatami (ia dikenal karena gagasannya yang masyhur tentang “dialog peradaban” [hiwar
al-hadarat]), hingga ke fenomena partai-partai “tengah” seperti PKS di Indonesia, AKP di Turki, Ennahda di
Tunisia, Partai Keadilan dan Pembangunan di Maroko, dan Partai Tengah (Hizb al-Wasat) di Mesir. Ciri utama gerakan post-Islamisme adalah kecenderungan mereka yang pragmatis, realistis, bersedia untuk kompromi dengan realitas politik yang tidak sepenuhnya ideal dan sesuai dengan skema ideologis murni yang mereka yakini dan bayangkan. Post-Islamisme sama sekali tidak sekular, bahkan tetap menunjukkan sentimen negatif kepada setiap bentuk ekspresi sekularisme, tetapi dia juga menolak teokrasi dan penerapan platform ideologis-keagamaan, seperti hukum syariah, secara kaku dalam kenyataan politik sehari-hari. Lihat Ulil Abshar-Abdalla, “Revolusi Post-Islamis di Dunia Islam,” dalam http://islamlib.com/id/artikel/revolusi-post-islamis-di-dunia-islam.
16 Pada tahun 2015, ada dua pemilu parlemen Turki. Pada pemilu 7 Juni 2015, AKP tidak berhasil
memperoleh kursi mayoritas. Untuk membentuk pemerintahan, diperlukan koalisi dengan partai. Akan tetapi koalisi mengalami deadlock dan tidak berhasil membentuk pemerintahan. Kemudian Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, menetapkan pemilu dini pada 1 November 2015. Hasil pemilu November 2015, AKP memperoleh kursi mayoritas dan dapat membentuk pemerintahan sendiri.
10
jargon “Islamis”. Ini tentu berbeda dengan Partai Saadet yang masih mengikuti pendahulunya, yakni Partai Refah. Dan, ternyata AKP berhasil menarik perhatian pemilih di Turki. Kemenangan AKP dalam tiga kali pemilu terakhir menunjukkan partai politik “post-Islamis” lebih dipilih ketimbang partai politik ““post-Islamis”.
Sudah barang tentu, kelompok “Islamis” maupun “post-Islamis” tidak dapat diabaikan sebagai aktor politik di Turki. Mereka melakukan perjuangan untuk tetap eksis di tengah sekularisme yang terus dikembangkan oleh kaum Kemalis. Bila dilihat mulai munculnya Turki modern, maka gerakan Islam di Turki dapat dikelompokkan ke dalam empat masa.17
Pertama, „gerakan Islam spiritual‟ (a spiritual ethical Islamic movement). Gerakan ini
berusaha untuk menemukan keimanan dan keislaman, sebagai sumber norma kehidupan keseharian. Secara hati-hati, mereka berusaha melakukan dan menunjukkan identitas komunal sebagai seorang muslim. Gerakan ini berjalan sekitar seperempat abad (1925-1950).
Kedua, „gerakan Islam budaya‟ (a cultural Islamic movement). Gerakan ini menyadari Islam
sebagai bentuk suatu peradaban dan mereka mencari pengaruh secara budaya dan sosial. Gerakan ini berjalan sekitar 20 tahun (1950-1970). Ketiga, „gerakan Islam politik‟ (a political
Islamic movement). Gerakan ini berusaha mencapai kekuasaan politik, baik dengan cara
meningkatkan posisi tawar mereka secara ekonomi, maupun mentrasformasikan diri mereka ke dalam lembaga politik negara. Gerakan itu dilakukan sejak tahun 1970 sampai sekarang.
Keempat, „gerakan Islam sosial-ekonomi‟ (a socioecomic Islamic movement). Gerakan itu
menekankan pada peran pasar, asosiasi, dan lingkungan publik, sebagai jalan untuk mentransformasikan masyarakat Islam. Gerakan ini sudah berjalan sejak tahun 1983.
Terlihat ada gradasi perjuangan kiprah umat Muslim Turki, dari kegiatan spiritual kesufian sampai gerakan sosial-ekonomi-politik. Hal itu menunjukkan adanya usaha yang terus menerus dari kalangan Muslim untuk menunjukkan eksistensinya, di tengah gelombang sekularisasi yang diajarkan oleh Kemal Attaturk.
Kelompok “Islamis” seringkali dikaitkan dengan Partai Refah yang memenangkan pemilu parlemen pada tahun 1995 dan Necmettin Erbakan menjadi Perdana Menteri Turki. Tetapi kemudian, pada 21 Mei 1997, Partai Refah diajukan ke Mahkamah Konstitusi dengan tuduhan melanggar sekularisasi di Turki. Akhirnya, pada 16 Januari 1998, secara resmi Refah dilarang hidup di Turki. Sebagai antisipasi pelarangan terhadap partai Refah, Erbakan mendirikan partai baru yang bernama „Partai Kebajikan‟ (Fazilet Partisi – FP), pada 1997. Partai inipun kemudian dilarang oleh Mahkamah Konstitusi pada tahun 2001.Erbakan juga dilarang dalam kehidupan berpolitik.
Pasca pelarangan FP, partai politik “pro-Islam” terpecah menjadi dua kelompok, yaitu „Partai Kemakmuran‟ (Saadet Partisi – SP) pimpinan Recai Kutan,18
dan „Partai Keadilan dan Pembangunan‟ (Adalet ve Kalkìnma Partisi – AKP), pimpinan Recep Tayyip Erdogan. SP meneruskan cita-cita Partai Orde Nasional (MNP) untuk memperjuangkan keislaman di Turki. SP dapat disebutkan sebagai penerus partai “Islamis” yang menginginkan masyarakat Turki lebih dapat mengamalkan ajaran agamanya. Sedangkan AKP lebih mengarahkan programnya ke masalah globalisasi.
Setelah kemenangan AKP dalam pemilu November 2002, dengan memperoleh 34,28% suara nasional atau 363 kursi parlemen, maka SP kehilangan dukungan kalangan bawah. Dalam perpolitikan Turki, AKP terus berkibar. Partai itu tersebut memenangkan pertarungan dalam pemilu parlemen pada 22 Juli 2007, 12 Juni 2011, dan 1 November 2015.
17 Lihat M. Hakan Yavuz, Islamic Political Identity in Turkey (New York: Oxford University Press,
2003), hlm. 9
18Pada kenyataannya, yang memimpin Partai Kemakmuran (SP) adalah pemimpin di belakang layar,
11
Keberhasilan AKP tidak terlepas dari usaha dan kepribadian pendirinya, yaitu Recep Tayyip Erdogan. Sebelumnya, Erdogan bergabung pada Partai Refah pimpinan Erbakan.
Kemenangan AKP juga tidak dapat dipisahkan dari aktor politik lain. Mereka adalah para pengusaha muslim yang berkiprah dalam masyarakat Turki. Mereka lebih berperan, setelah ada kebijakan ekonomi neo-liberal Turgut Ozal.19 Dia mengubah ekonomi Turki dengan memberi jalan swastanisasi banyak sektor negara. Dia melakukan liberalisasi ekonomi Turki yang tadinya banyak dikuasai oleh negara. Dengan cara seperti ini, para “borjuasi” berskala kecil dapat dengan leluasa bergerak di bidang ekonomi. Mereka itu adalah para pedagang keliling, pedagang kecil, kontraktor kecil, pemilik restoran, industrialis kecil, pemilik pabrik tekstil, dan pemilik pabrik pengolah makanan. Sektor ekonomi ini tidak menginginkan adanya intervensi negara di bidang ekonomi, karenanya mereka mendukung liberalisasi ekonomi. Mereka juga menggunakan simbol dan etika Islam yang berguna sebagai senjata untuk menggerakkan opini publik melawan negara dalam bidang ekonomi dan untuk melawan para industrialis besar yang telah lama menikmati patronase dari negara.20
Kebijakan ekonomi neo-liberal Ozal telah mengubah kelompok Islam di Turki. Kelompok Nurcu, misalnya, bertransformasi dan memberikan justifikasi teologis bagi mereka yang bergerak di bidang ekonomi. Beribadah tidak hanya dilakukan di masjid, tetapi juga di bidang ekonomi. Pemimpin Nurcu mendorong pengikutnya untuk terlibat dalam aktivitas niaga dan perdagangan, dari pada menjadi pegawai negeri.21
Masyarakat Muslim di berbagai wilayah Turki berubah menjadi kelompok “borjuasi baru Muslim”. Mereka inilah yang oleh Hakan Yavus disebut sebagai “Macan Anatolia” (Anadolu kaplanlari). Ada tiga hal utama “Macan Anatolia”, yaitu: 1) mereka konservatif secara agama dan sosial, liberal secara ekonomi, berorientasi pada swasta, 2) mereka dapat menghasilkan modal awal melalui jaringan keluarga dan jaringan agama, sehingga lebih mudah untuk mengakumulasi modal, dan 3) mereka sangat kritis terhadap intervensi negara terhadap ekonomi.22
Untuk memperkuat posisi mereka secara politik, para borjuasi muslim membentuk asosiasi bisnis yang disebut MUSIAD (Müstakil Sanayici ve İşadamları Derneği). MUSIAD itu berarti Asosiasi Pengusahadan Industrialis Independen Turki. Organisasi ini didirikan pada tahun 1990, dengan sifat non-pemerintah, non-profit, dan berbasis sukarela. Saat ini, MUSIAD memiliki 3.150 anggota senior dan 1.750 anggota muda yang mewakili lebih dari 15.000 perusahaan. Total investasi anggota MUSIAD adalah 5 miliar dolar AS. Mereka memberikan kontribusi 17 miliar dolar AS untuk pendapatan ekspor Turki serta mempekerjakan 1.200.000 tenaga kerja. MUSIAD memiliki 31 kantor cabang di seluruh Turki dan 94 kontak kerjasama di 44 negara. Selanjutnya, MUSIAD memberikan kontribusi 15% dari PDB Turki.23
Huruf “M” dalam MUSIAD kepanjangan dari Müstakil yang berarti independen. Walaupun demikian, sebagian orang mengasosiakannya dengan kata Muslim. Memang, MUSIAD mempunyai kedekatan dengan partai politik yang berbasis Islam. MUSIAD pernah dekat Rartai Refah, ketika partai itu berjaya. Waktu itu, MUSIAD lebih cenderung berniaga dengan dunia Islam. Mereka juga berorientasi ke Eropa. Tampaknya hal itu sejalan dengan orientasi bisnis pemerintahan Partai Refah. Kini, mereka dekat dengan AKP yang tengah
19
Turgut Özal adalah pimpinan Partai Tanah Air (Anavatan Partisi), Perdana Menteri Turki (1983-1989), dan Presiden Turki ke-8 (1989-1993). Ia adalah tokoh politik dari Kurdi.
20Lihat M. Hakan Yavuz, Islamic Political Identity in Turkey (New York: Oxford University Press, 2003), hlm
89.
21
Ibid., hlm. 142.
22Ibid., hlm. 94.
12
berkuasa di Turki. MUSIAD mengalami suatu perubahan pandangan terhadap Eropa. Hal itu berkaitan dengan orientasi politik AKP yang ingin dekat dengan Eropa, agar Turki dapat masuk ke dalam Uni Eropa.24
Dengan demikian, aktor politik di Turki yang cukup berperan adalah partai politik penganut ajaran Kemalis yang didukung oleh militer. Belakangan, peran mereka digantikan oleh kaum “post-Islamis” yang didukung oleh “borjuis muslim”. Perjuangan mereka cukup panjang dan berjalan secara gradual, dari spiritual sampai masuk ke dunia politik.
Mengkaji gerakan Islam spiritual sampai gerakan politik di Turki tidak akan terlepas dari gerakan “Sufi Naqshabandiyyah”. Gerakan sufi tersebut sudah ada di berbagai Negara Islam, termasuk di Indonesia, sejak lama. Naqshabandiyyah Turki dapat dikaitkan dengan Maulana Halid, seorang mujaddid Naqshabandiyyah di sana. Pengikutnya disebut dengan istilah “Halidi”. Pada masa Dinasti Usmaniyyah (1820-an), kaum Halidi ini pernah mengusulkan kepada kesultanan untuk mereformasi kehidupan masyarakat dengan menggunakan syariat Islam sebagai pedoman. Tetapi, kemudian mereka dikalahkan oleh pembaruan Dinasti Usmaniyah yang berorientasi ke dunia Barat. Pembaruan itu disebut sebagai „Tanzimat‟ yang berjalan antara tahun 1839-1876.
Kaum Naqshabandiyyah menentang reformasi ala Barat (Tanzimat), karena dianggap tidak „Islami‟. Dalam perkembangannya, terjadi persaingan antara kaum sufi dan pendukung reformasi yang sering disebut sebagai “Usmaniyyah Muda” (Young Ottomans). Selanjutnya, terjadi pemberontakan terorganisir yang dipimpin oleh Syekh Ahmad dari wilayah Sulaemaniyah,25 melawan reformasi Tanzimat (1859). Usaha tersebut gagal dan kaum Naqshabandiyyah menjadi tertuduh.26
Pada tahun 1860-an, kaum Naqshabandiyyah Halidi tidak begitu bebas bergerak. Mereka baru terlihat kembali di kancah politik Usmaniyyah, ketika terjadi perang antara Rusia dan Turki (1877-1878). Pada waktu itu, banyak syekh Naqshabandiyyah yang secara sukarela menjadi tentara, untuk perang membela Dinasti Usmaniyyah. Selain itu, ada tokoh Naqshabandiyyah Halidi, yaitu Ahmad Ziyaeddin, yang terkenal dengan sebutan Gumushanevi. Pada masa perang Rusia-Turki, dia melakukan berbagai usaha untuk penguatan terhadap masyarakat Turki, sekaligus sebagai reaksi terhadap reformasi tanzimat ala Usmaniyyah Muda. Gumushanevi mendirikan bank dan memberikan pinjaman kepada pada pengikutnya. Dia juga membangun empat perpustakaan, yang salah satunya ada di Kota Istanbul. Dengan inovasi pendidikan, dia ingin meningkatkan mutu para pengikut Naqshabandiyyah. Substansi dari pendidikan Gumushanevi adalah memahami Islam secara menyeluruh dengan bersandar pada interpretasi teks yang benar dan nasehat para tokoh sufi. Kombinasi antara teks dan pendapat Guru tersebut akan membimbing para pengikut Gumushanevi ke dalam struktur sosial yang kuat.
Ketika rezim Republik Turki berdiri, yang menjadi pemimpin Naqshabandiyyah Halidi adalah Bediuzzaman Said Nursi. Dia adalah produk dari pendidikan Halidi. Said Nursi pada tahun 1909 terlibat dalam pemberontakan militer melawan penguasa Usmaniyyah. Dia kemudian diasingkan ke Anatolia. Setelah tahun 1910 dia diampuni dan selanjutnya berkolaborasi dengan kelompok „Turki Muda‟, dengan menggunakan Islam sebagai senjata melawan imperialisme dan kolonialisme. Pada Perang Dunia I, Nursi dipenjara oleh Rusia.
24
Perubahan orientasi MUSIAD terhadap Eropa dapat dilihat, antara lain, pada Dilek Yankaya, “The Europeanization of MÜSİAD: Political opportunism, Economic Europeanization, Islamic Euroscepticism,” dalam European Journal of Turkish Studies, 9 (2009).
25Wilayah Sulaemaniyah adalah provinsi tempat tinggal kaum Halidi Naqshabandiyyah. 26
Lihat antara lain, Serif Mardin, “The Nakshibendi Order of Turkey”, dalam Martin E. Marty dan R. Scott Appleby (Eds.), Fundamendalisms and the State: Remaking Polities, Economies, and Militance (Chicago: The University of Chicago Press, 1993), hlm. 213.
13
Pada tahun 1925, Nursi dituduh terlibat dalam dalam pemberontakan kelompok Kurdi, melawan pemerintahan sekular Attaturk yang baru berdiri. Pemberontakan itu sendiri dipimpin oleh Syekh Said Palu, salah seorang tokoh Naqshabandiyyah. Tetapi, Nursi diputus bebas dan diasingkan ke wilayah pegunungan di Turki barat.
Di pengasingan itu, Said Nursi membangun jaringan pengikut Naqshabandiyyah. Mereka adalah para tokoh dan pedagang lokal. Gerakan kemudian menyebar di kalangan para petani kelas menengah.Tulisan-tulisan Said Nursi yang dikumpulkan dalam Risale-I Nur (Tulisan-tulisan Nursi), disebarkan secara rahasia, untuk memperkuat jaringan di kalangan pengikutnya. Nursi dipenjara beberapa kali, karena kegiatannya yang menentang sekularisasi Kemal Attaturk.27 Said Nursi meninggal dunia pada tahun 1960 dan para pengikutnya biasa disebut “Nurcu”.
Selama Said Nursi masih hidup, gerakan mereka lebih memperlihatkan kegiatan spiritual dan sosial keagamaan. Strategi itu untuk mengurangi tekanan dari penguasa sekular yang mencurigai kelompok keagamaan dalam kegiatan politik praktis. Penguasa sekular khawatir bila kelompok tersebut dibiarkan, maka sistem sekular yang dibangun oleh Attaturk akan mengalami ancaman.
Pada tahun 1970-an, kaum Nurcu mengubah strategi. Mereka mulai bermain politik praktis. Partai politik pertama yang dianggap dekat dengan kalangan kaum Nurcu adalah Partai Orde Nasional (Milli Nizam Partisi – MNP). Mereka memiliki program politik nasional yang dikenal dengan sebutan Milli Gorus (Pandangan Nasional). Partai yang didirikan pada tahun 1970 tersebut kemudian dilarang oleh Mahkamah Konstitusi, 1971, setelah terjadi kudeta militer. Walaupun demikian, Milli Gorus dari kaum Nurcu terus berjalan. Artinya, mereka akan berusaha meneruskan perjuangannya melalui partai politik. Kemudian, ketika Partai Penyelamat Nasional (Milli Selamet Partisi – MSP) didirikan pada 1972, kaum Nurcu ikut mendukungnya. Pada pemilu tahun 1973, MSP memperoleh 11,8% suara nasional atau 10,6% kursi parlemen. Suara perolehan mereka turun pada pemilu berikutnya, 1977. Mereka hanya mendapatkan 8,5% suara nasional atau 5,5% kursi di parlemen.28
Belakangan, Nurcu mengubah pandangan politiknya dan tidak lagi mendukung MSP, karena dianggap tidak sesuai dengan harapan kaum Nurcu. Mereka keluar dari MSP, ketika partai itu berkoalisi dengan pemerintah. Mereka protes terhadap aturan yang memberikan amnesti kepada semua narapidana, menurut pasal 141 dan 142 undang-undang pidana. Faksi Nurcu dalam MSP menginterpretasikan, amnesti itu sebagai konsesi terhadap narapidana kelompok komunis, menurut undang-undang darurat militer, pasca kudeta 1971.29 Setelah keluar dari parlemen, kelompok Nurcu mendukung partai tengah-kanan, yakni Partai Keadilan (Adalet Partisi – AP).
Tokoh berpengaruh dalam Partai Penyelamat Nasional (MSP) adalah mereka yang mempunyai afiliasi dengan Naqshabandiyyah. Tokoh tersebut adalah Necmettin Erbakan yang menjadi pimpinan partai; Korkut Ozal yang menjabat Menteri Pertanian dalam berbagai pemerintahan koalisi antara tahun 1973 dan 1983; Abdulkadir Paksu yang menjabat Menteri Perburuhan; dan Salih Ozcan yang menjadi anggota parlemen.
Pada tahun 1980-an, generasi baru Nurcu mendukung partai lain, yaitu Partai Jalur Kebenaran (Dogru Yol Partisi – DYP). Kemudian, pada pertengahan 1980-an, kelompok Nurcu dianggap dekat dengan Partai Tanah Air (Anavatan Partisi – ANAP). ANAP dipimpin
27Ibid., hlm. 218. 28
Lihat Yildis Atasoy, Turkey, Islamists and Democracy: Transition and Globalization in a Muslim
State (London: I.B. Tauris & Co. Ltd, 2005), hlm. 123-124.
14
oleh Turgut Ozal yang waktu itu menjabat sebagai Presiden Turki. Kedekatan itu dilihat dari keberadaan saudara Presiden Ozal dalam kelompok Nurcu.
Pada tahun 1990, Nurcu terpecah menjadi empat kelompok. Pertama, kelompok yang menerbitkan Yeni Nesil (Generasi Baru) menjadi Yeni Asya (Asia Baru). Kedua, kelompok „pembangkang‟ di Izmir, pimpinan Fethullah Gullen yang dikabarkan mempunyai hubungan dengan pihak intel dari penguasa. Ketiga, kelompok muda „intelektual‟ Nurcu, pimpinan Mehmed Metiner, yang sampai tahun 1989 menerbitkan publikasi secara periodik, dengan judul Girisim. Keempat, kelompok „puritan‟, yang menekankan penyelamatan keaslian ajaran Said Nursi, dengan menggunakan tulisan Arab. Kelompok terakhir ini, tentunya, dianggap ilegal oleh penguasa Turki modern.30
Tidak begitu jelas dari kelompok Nurcu mana, yang akhirnya „melahirkan‟ Partai Refah. Partai ini dianggap dekat dengan kalangan Islam dan ingin memperjuangkan Islam yang sesuai dengan karakteristik masyarakat Turki. Bila ditelusuri lebih seksama,sebenarnya Refah dapat disebut sebagai partai moderat yang menjunjung nilai demokrasi dan pluralisme. Mengapa demikian? Karena Partai Refah mengutamakan adanya suatu keadilan sosial, tradisi, dan etika dalam masyarakat Turki. Selain itu, Refah juga menolak westernisasi.
Pada Januari 1990, tampak ada tanda-tanda keretakan antara pemimpin Partai Refah dan kelompok Naqshabandiyyah. Hal itu terlihat dari kutipan tulisan berikut:
Throughout history Muslims have followed the pious, righteous and devout. They obeyed true Islamic scholars [i.e. Nakshibendi] and pledged their allegiance to them. They worked under their orders and followed the path they showed to them. Thus they attained happiness in both worlds. The true caliphs of mankind are the blessed adepts and shaykhs joined in spirit with God; they are not oppressive and despotic politicians. How many faithful, just and intelligent government officials, commanders, ministers, even sultans pledged their allegiance to them, kissed their hands, requested their prayers, carried out their order, took them as their guides, and performed services to them?31
Dalam beberapa bulan kemudian, Naqshabandiyyah secara gradual ikut masuk ke dunia politik praktis, dengan memberikan berbagai saran kepada Partai Refah. Dalam jurnal “Islam” yang diterbitkan oleh Naqshabandiyyah, banyak disebutkan tema-tema persaudaraan dan kebersamaan. Bahkan pada Juni 1990, jurnal “Islam” meluncurkan satu tulisan yang berjudul “The Importance and Place of Politics in Islam.” Beberapa kutipan berikut menunjukkan bagaimana pentingnya keterlibatan Islam dalam dunia politik.
Muslims are responsible for conforming to the religious ordinaces and commands in social-political matters just as much as they are in matters of worship and piety.... They cannot remain disinterested, uninformed, ineffective, careless, detached and passive. If they do, they will be held responsible.... Religion is a whole, one cannot fulfill some parts and turn one’s back on others.... Political organization...is necessary because if governing by means of democracy and votes falls into the hands of the opposition, this can lead [to] the Muslims’ most natural rights being violated.32
30 Serif Mardin, “The Nakshibendi Order of Turkey”, dalam Martin E. Marty dan R. Scott Appleby
(Eds.), Fundamendalisms and the State:…., hlm. 219-220.
31
Lihat Halil Necatioglu, “The Undisputable Value and Superiority of Islamic Scholars,” in Islam, no. 77, January 1990, p. 6, yang dikutip dari Ibid., hlm. 227.
15
Bila memperhatikan isi jurnal “Islam”, maka akan dijumpai seluruh isinya mengarah pada konsep „syuro‟, suatu konsep „demokrasi‟ dalam politik Islam. Tetapi, dalam perkembangannya keretakan hubungan antara kaum Naqshabandiyyah dengan Partai Refah semakin nyata pada Juli 1990. Hal itu terlihat dalam wawancara dengan tokoh Naqshabandiyyah yang dimuat dalam “Islam”, dengan judul “A Political Party and Us.”33
Tarik ulur kepentingan kaum Nurcu dan partai politik selalu terjadi di Turki. Partai Refah terus berjuang untuk merebut suara masyarakat Turki. Akhirnya pada pemilu 1995, mereka dapat memperoleh suara yang banyak dan Erbakan menjadi Perdana Menteri Turki. Tetapi, pada 21 Mei 1997, Partai Refah diajukan ke Mahkamah Konstitusi dengan tuduhan melanggar sekularisasi di Turki. Akhirnya, pada 16 Januari 1998, secara resmi Refah dilarang hidup di Turki. Sebagai antisipasi pelarangan terhadap partai Refah, Erbakan mendirikan partai baru yang bernama „Partai Kebajikan‟ (Fazilet Partisi – FP), pada 1997. Partai inipun kemudian dilarang oleh Mahkamah Konstitusi pada tahun 2001. Necmettin Erbakan juga dilarang dalam kehidupan berpolitik.
Setelah pelarangan FP, maka partai politik “pro-Islam” terpecah menjadi dua kelompok, yaitu „Partai Kemakmuran‟ (Saadet Partisi – SP) pimpinan Recai Kutan,34
dan „Partai Keadilan dan Pembangunan‟ (Adalet ve Kalkìnma Partisi – AKP), pimpinan Recep Tayyip Erdogan. SP meneruskan cita-cita Partai Orde Nasional (MNP) untuk memperjuangkan keislaman di Turki. Sedangkan AKP lebih mengarahkan programnya ke masalah globalisasi. Setelah kemenangan AKP dalam pemilu November 2002, dengan memperoleh 35% suara nasional atau 365 kursi parlemen, maka SP kehilangan dukungan kalangan bawah.
Dalam perpolitikan Turki, AKP terus berkibar. Pada pemilu 22 Juli 2007, AKP memperoleh 46,58% suara nasional atau 341 kursi parlemen. Kemudian pada pemilu 12 Juni 2011, AKP memperoleh 49,90% suara nasional atau 326 kursi parlemen. Selanjutnya, pada pemilu 1 November 2015, AKP mendapatkan 49,30% suara nasional atau 313 kursi parlemen. Keberhasilan AKP tidak terlepas dari usaha dan kepribadian pendirinya, yaitu Recep Tayyip Erdogan.
Karir politik Erdogan cukup cemerlang, karena dia sangat dekat dengan masyarakat kalangan bawah. Dia juga biasa bersama-sama rakyat melaksanakan pekerjaan kalangan bawah. Pada tahun 1994, Erdogan terpilih jadi Wali Kota Istanbul, sebuah kota bersejarah dan metropolitan. Selama menjadi Walikota, Erdogan menegakkan hukum yang adil dan dengan berani banyak membuat kebijakan yang pro-rakyat. Erdogan sama sekali tidak risih memakai seragam pekerja dan bersama-sama rakyatnya melakukan pembersihan jalan. Erdogan pun turun sendiri membagikan kursi-kursi roda pada rakyatnya yang memerlukan.
Semua itu dilakukannya dengan sungguh-sunggh, bukan sekedar formalitas. Kehidupan keluarganya pun tidak dapat dikatakan mewah. Ketika Erdogan menganjurkan kesederhanaan, maka dia dan keluarganya menjalani hidup dengan kesederhanaan pula. Erdogan, melalui AKP, ingin membangun kekuatan Islam, dengan diawali dari perjuangan bersama-sama masyarakat dari bawah, baru kemudian menuju dakwah ke atas.
Bila di dalam negeri, Erdogan lebih mendekati masyarakat kalangan bawah, maka di dunia internasional, Erdogan justru menggandeng dan memperkuat lobi dengan Uni Eropa.35 Strategi ini, sekaligus untuk menekan kekuatan sekularis dan militer Turki.
33 Lihat Serif Mardin, “The Nakshibendi Order of Turkey”, dalam dalam Martin E. Marty dan R. Scott
Appleby (Eds.), Fundamendalisms and the State:..., hlm. 228.
34Pada kenyataannya, yang memimpin Partai Kemakmuran (SP) adalah pemimpin di belakang layar,
yaitu Necmettin Erbakan.
35Erdogan terus berusaha mendekati Uni Eropa (UE), agar Turki diterima menjadi anggota UE.
16
Selain berkiprah di bidang politik, kaum Nurcu juga secara aktif terlibat dalam pendidikan. Salah satu tokoh Nurcu yang bergerak di bidang ini adalah Fethullah Gulen. Nur
evleri adalah berbagai asrama mahasiswa yang berafiliasi dengan Nurcu cemaati. Tempat itu
di bawah kekuasaan dan kepemimpinan Gulen. Mutevellis (pengurus komunitas), Abiler (saudara laki-laki), dan Ablalar (saudara perempuan) menjalankan aktivitas cemaat pada level paling bawah. Tidak ada catatan berapa jumlah mereka, tetapi cemaat telah menyebar ke seluruh Turki. Hal itu ditandai dengan meningkatnya jumlah pengawas kegiatan cemaat.
Mereka yang dapat bergabung dalam mutevellis adalah yang sudah mendapatkan tingkatan tinggi dalam cemaat. Mereka terpilih dari mahasiswa Risale-I Nur yang yang paling berdedikasi dan telah mendapatkan pendidikan lanjutan dari tingkatan lebih tinggi, yang disebut Nur talebesi. Pendidikan mereka berdasarkan Al Qur‟an dan sunnah Rasul, sebagaimana telah dibukukan dalam Risale-I Nur karya Said Nursi dan buku-buku tulisan Fethullah Gulen. Secara periodik, dalam mutevellis diadakan ujian lisan dan tertulis. Abiler dan ablalar menempati posisi yang lebih rendah dalam hirarki cemaat. Mereka mempunyai pengetahuan yang lebih terbatas dibandingkan mutevellis.36
Nur evleri adalah apartemen untuk mahasiswa atau mahasiswi yang bangunannya
terpisah. Setiap flat dihuni oleh tujuh mahasiswa/mahasiswi yang dekat dengan kampusnya.
Abiler bertanggungjawab terhadap mahasiswa di bawah asuhannya, sedangkan ablalar
mengurusi mahasiswi. Mutevellis menghubungkan mahasiswa dengan kelompok bisnis muslim untuk mendapatkan beasiswa. Secara umum, mutevellis laki-laki mengumpulkan dana dari pebisnis muslim, sedangkan mutevellis perempuan mengadakan bazar dan penggalangan dana. Dalam bazar, biasanya para ibu menjual makanan buatan sendiri atau menjual kerajian tangan. Dalam sebulan, hasil penggalangan dana dapat mencapai 25.000 dollar AS.37
Dana yang berhasil dikumpulkan oleh para mutevellisi diserahkan kepada
abiler/ablalar untuk didistribusikan kepada para mahasiswa di bawah asuhannya, sebagai
beasiswa dan kebutuhan lainnya.38 Dengan cara seperti itu, maka mahasiswa mempunyai kepedulian terhadap mahasiswa lainnya yang kekurangan dana pendidikan. Mereka juga peduli terhadap lingkungan tempat tinggal mereka.
Di nur evleri juga kadang diadakan dersanes.39 Kelompok Fethullah Gulen mengadakan dersanes secara gratis atau pun bayaran yang sangat murah. Mereka dibimbing oleh abiler dan ablalar. Selain dibimbing pelajaran untuk tes ke universitas, mereka juga diberikan pelajaran keislaman. Dapat dikatakan, bahwa fungsi nur evleri adalah untuk mencetak kader terdidik yang tidak meninggalkan ajaran Islam. Hal itu terlihat dengan
“mengistimewakan” militer di Turki menghambat keanggotaannya di UE. Selain itu, masalah hubungan Turki dan Cyprus yang tidak harmonis, ikut menambah hambatan itu. Negara yang ingin menjadi anggota UE harus mengikuti kriteria yang telah dibuat. Kriteria keanggotaan itu, harus memenuhi norma dan nilai politik yang dianut UE, yaitu: “stability of institutions guaranteeing democracy, the rule of law, human rights and respect for
and protection of minorities; a functioning market economy, as well as the capacity to cope with competitive pressure and market forces within the Union.” Lihat “Conclusions of the European Council,” (Copenhagen,
Denmark, June 1993). Mengenai perkembangan negosiasi keanggotaan Turki di UE dapat dilihat, antara lain, pada Vincent Morelli, “European Union Enlargement: A Status Report on Turkey‟s Accession Negotiations” (Congressional Research Service, September 9, 2011).
36 Lihat Yildis Atasoy, Turkey, Islamists and Democracy:…., hlm. 158. 37Ibid.
38Pada tahun 1996, ketika berkunjung ke Istanbul dan Ankara, penulis memperoleh informasi bahwa
mahasiswa yang tinggal di Nur evleri tidak dipungut biaya. Mereka juga dapat makan gratis di sana. Kuliah juga tidak membayar. Selain itu, mereka mendapatkan beasiswa sebesar 50 dollar AS per bulan sebagai uang saku.
17
adanya ceramah keagamaan dan diskusi di bawah bimbingan abiler/ablalar. Mereka juga membaca tulisan Said Nursi, yakni Risale-I Nur dan tulisan Fethullah Gulen. Para mahasiswa di nur evleri selalu diingatkan untuk melaksanakan shalat lima waktu dan mendorong kehidupan mereka sesuai dengan norma-norma yang diajarkan oleh Islam.40
Sejak kudeta militer yang gagal, 15 Juli 2016, kelompok Gulen dilarang hidup di Turki. Kelompok itu dianggap terlibat dalam kudeta tersebut. Mereka juga dituduh oleh Pemerintahan Erdogan sebagai teroris yang membahayakan rakyat Turki.
Penutup
Kehidupan perpolitikan di Turki pernah mengalami perubahan. Mereka pernah menganut partai tunggal. Mereka cukup lama memberlakukan multi partai dalam sistem demokrasi parlementer. Kini, mereka ingin berubah menjadi sistem demokrasi presidensiil. Akan tetapi, ada satu hal yang tidak berubah sejak Turki berdiri sampai saat ini, yaitu mereka menyatakan dirinya sebagai negara demokrasi yang sekular. Dalam Konstitusi Turki pasal 2 tertulis penegasan itu.
Mustafa Kemal Attaturk menerapkan demokrasi sekular dengan menetapkan enam prinsip, yaitu: republicanism, nationalism, populism, secularism, reformism (or
revolutionism), and statism. Keenam prinsip tersebut dimasukkan ke dalam Konstitusi Turki.
Prinsip ajaran itu dikenal dengan sebutan “Kemalisme”. Dalam faham Attaturk, sekularisme itu adalah kekuasaan negara didesain dapat mengontrol agama, tidak sekedar memasukkan agama ke dalam ranah pribadi dan menyingkirkannya dari ruang publik.
Dalam kondisi seperti itu, masyarakat Muslim Turki berkiprah sesuai dengan keadaan. Kiprah Muslim di Turki dapat dikelompokkan ke dalam empat masa gerakan.
Pertama, „gerakan Islam spiritual‟ (a spiritual ethical Islamic movement). Gerakan ini
berusaha untuk menemukan keimanan dan keislaman, sebagai sumber norma kehidupan keseharian. Secara hati-hati, mereka berusaha melakukan dan menunjukkan identitas komunal sebagai seorang muslim. Gerakan ini berjalan sekitar seperempat abad (1925-1950).
Kedua, „gerakan Islam budaya‟ (a cultural Islamic movement). Gerakan ini menyadari Islam
sebagai bentuk suatu peradaban dan mereka mencari pengaruh secara budaya dan sosial. Gerakan ini berjalan sekitar 20 tahun (1950-1970). Ketiga, „gerakan Islam politik‟ (a political
Islamic movement). Gerakan ini berusaha mencapai kekuasaan politik, baik dengan cara
meningkatkan posisi tawar mereka secara ekonomi, maupun mentrasformasikan diri mereka ke dalam lembaga politik negara. Gerakan itu dilakukan sejak tahun 1970 sampai sekarang.
Keempat, „gerakan Islam sosial-ekonomi‟ (a socioecomic Islamic movement). Gerakan itu
menekankan pada peran pasar, asosiasi, dan lingkungan publik, sebagai jalan untuk mentransformasikan masyarakat Islam. Gerakan ini sudah berjalan sejak tahun 1983.
Terlihat ada gradasi perjuangan kiprah umat Muslim Turki, dari kegiatan spiritual kesufian sampai gerakan sosial-ekonomi-politik. Hal itu menunjukkan adanya usaha yang terus menerus dari kalangan Muslim untuk menunjukkan eksistensinya, di tengah gelombang sekularisasi yang diajarkan oleh Kemal Attaturk.
Daftar Bacaan
Abshar-Abdalla, Ulil. “Revolusi Post-Islamis di Dunia Islam,” dalam
http://islamlib.com/id/artikel/revolusi-post-islamis-di-dunia-islam.
40 Pendidikan cara Gulen tersebut diajarkan ke berbagai negara lain, termasuk di Indonesia. Di Jakarta,
misalnya, ada Fethullah Gulen Chair di Universitas Islam Negeri, Syarif Hidayatullah. Bekerjasama dengan Universitas Indonesia dan UIN Jakarta, Fethullah Gulen Chair pernah mengadakan International Fethullah
18
ATAÖV, Türkkaya. “The Principles of Kemalism”, dalam The Turkish Yearbook, 1980-1981, VOL. XX.
Atasoy, Yildis. Turkey, Islamists and Democracy: Transition and Globalization in a Muslim
State (London: I.B. Tauris & Co. Ltd, 2005).
Basyar, M. Hamdan. Pertarungan dalam Berdemokrasi: Politik di Mesir, Turki, dan Israel (Jakarta: UI Press, 2015).
Islam (June 1990).
Lewis, Geoffrey. The Turkish Language Reform: A Catastrophic Success (Oxford: Oxford University Press, 2002).
Mardin, Serif. “The Nakshibendi Order of Turkey”, dalam Martin E. Marty dan R. Scott Appleby (Eds.), Fundamendalisms and the State: Remaking Polities, Economies, and
Militance (Chicago: The University of Chicago Press, 1993).
Morelli, Vincent., “European Union Enlargement: A Status Report on Turkey‟s Accession Negotiations” (Congressional Research Service, September 9, 2011).
Rustow, Dankwart A. “Political Parties in Turkey: An Overview”, dalam Metin Heper dan Jacob M. Landau (Eds.), Political Parties and Democracy in Turkey (London: I.B. Tauris & Co Ltd., 1991).
Saribay, Ali Yasar. “The Democratic Party, 1946-1960”, dalam Metin Heper and Jacob M. Landau (Eds.), Political Parties and Democracy in Turkey (London: I.B. Tauris & Co Ltd., 1991).
Türkiye Büyük Millet Meclisi, Constitution of the Republic of Turkey dalam https://global.tbmm.gov.tr/docs/constitution_en.pdf. Diakses pada 7 Juli 2017.
Yankaya, Dilek. “The Europeanization of MÜSİAD: Political opportunism, Economic Europeanization, Islamic Euroscepticism,” dalam European Journal of Turkish
Studies, 9 (2009).
Yavuz, M. Hakan. Islamic Political Identity in Turkey (New York: Oxford University Press, 2003).
Yavuz, M. Hakan. Secularism and Muslim Democracy in Turkey (New York: Cambridge University Press, 2009).
Zurcher, Erik J. Sejarah Modern Turki (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003).
http://aa.com.tr/en/turkey/-turkey-official-referendum-results-announced-/806935. Diakses pada 7 Juli 2017.
http://dunia.vivanews.com/news/read/177302-turki-amandemen-sistem-peradilan http://www.musiad.org.tr/
https://m.tempo.co/read/news/2016/07/18/117788383/otak-pelaku-kudeta-turki-ditahan. Diakses pada 18 Juli 2016.