II. LANDASAN TEORI
A. Usaha Kecil
Dalam perekonomian Indonesia, sektor usaha kecil memegang peranan yang sangat penting, terutama bila dikaitkan dengan jumlah tenaga kerja yang mampu diserap oleh usaha kecil. Selain memiliki arti strategis bagi pembangunan, usaha kecil juga merupakan upaya untuk memeratakan hasil-hasil pembangunan. Di sektor-sektor penting dalam perekonomian Indonesia, usaha kecil mendominasi kegiatan usaha, misalnya di sektor pertanian lebih dari 99% kegiatan usaha dilakukan oleh pengusaha kecil. Di sektor perdagangan lebih dari 98% , di sektor transportasi lebih dari 99%.
Usaha kecil (UK) merupakan sebutan yang diringkas dari Usaha Skala Kecil (USK) sebagai terjemahan dari istilah Small Scale Enterprise (SSE) yang mempunyai banyak pengertian, baik dalam makna konsep teoritis maupun sebagai konsep strategis kebijakan pembangunan. Industri kecil di Indonesia merupakan bagian penting dari sistem perekonomian nasional, karena berperan untuk mempercepat pemerataan pertumbuhan ekonomi melalui misi penyediaan lapangan usaha dan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat dan ikut berperan dalam meningkatkan perolehan devisa, serta memperkokoh struktur industri nasional (Hubeis, 1997).
Menurut surat edaran Bank Indonesia No 26/I/UKK tanggal 29 Mei 1993 perihal Kredit Usaha Kecil (KUK), UK adalah usaha yang memiliki total aset maksimum Rp. 600 juta (enam ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan rumah yang ditempati. Berdasarkan UU No. 9/1995 tentang UK, yang dimaksud dengan UK adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dalam memenuhi kriteria kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan. UK yang dimaksud di sini adalah meliputi juga usaha kecil informal dan usaha kecil tradisional. Adapun UK informal adalah berbagai usaha yang belum terdaftar, belum tercatat dan belum berbadan hukum, antara lain petani penggarap, industri rumah tangga, pedagang asongan, pedagang keliling, dan pedagang kaki lima. Sedangkan UK tradisional adalah usaha yang
menggunakan alat produksi sederhana yang telah digunakan secara turun temurun, dan atau berkaitan dengan seni dan budaya (Anoraga, 2005).
1. Karakterisitik UK
Secara umum sektor UK memiliki ciri-ciri berikut :
a. Sistem pembukuan yang relatif sederhana dan cenderung tidak mengikuti kaidah administrasi pembukuan standar. Kadangkala pembukuan tidak up to date, sehingga sulit untuk menilai kinerja usahanya
b. Margin usaha yang cenderung tipis mengingat persaingan yang sangat tinggi
c. Modal terbatas
d. Pengalaman manajerial dalam mengelola perusahaan masih sangat terbatas
e. Skala ekonomi yang terlalu kecil, sehingga sulit mengharapkan untuk mampu menekan biaya mencapai titik efisiensi jangka panjang.
f. Kemampuan pemasaran dan negosiasi, serta diversifikasi pasar sangat terbatas.
g. Kemampuan untuk memperoleh sumber dana dari pasar modal rendah, mengingat keterbatasan dalam sistem administrasinya. Untuk mendapatkan dana di pasar modal, sebuah perusahaan harus mengikuti sistem administrasi standar dan harus transparan
Karakterisik yang dimiliki oleh UK menyiratkan adanya kelemahan-kelemahan yang sifatnya potensial terhadap timbulnya masalah. Hal ini menyebabkan berbagai masalah internal, terutama yang berkaitan dengan pendanaan atau modal usaha.
2. Permasalahan yang Dihadapi Usaha Kecil
Selama ini telah banyak usaha yang dilakukan oleh pemerintah untuk membantu perkembangan UK melalui berbagai macam program pengembangan atau pembinaan UK. Namun demikian, perkembangan UK hingga saat ini berjalan sangat lamban. Sebagai contoh industri manufaktur, tingkat produktivitas industri kecil dan industri rumah tangga
terhadap pembentukan total nilai tambah di sektor tersebut atau Produk Domestik Bruto (PDB) masih relatif rendah dibandingkan dengan industri menengah dan besar. Permasalahan yang dihadapi UK disebabkan hal berikut :
a. Managerial skill
Kekurangmampuan pengusaha kecil untuk menentukan pola manajemen yang sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan usahanya.
b. Pemasaran
Permasalahan UK pada bidang pemasaran terfokus pada tiga hal yaitu permasalahan persaingan pasar dan produk, akses terhadap informasi pasar dan kelembagaan pendukung usaha kecil. Permasalahan tersebut dapat diatasi apabila terjadi keseimbangan antara upaya perbaikan internal maupun eksternal.
c. Kemitraan
Kemitraan mengacu pada pengertian bekerjasama antar pengusaha dengan tingkatan yang berbeda, yaitu antara pengusaha kecil dengan pengusaha besar. Istilah kemitraan sendiri mengandung arti bahwa meskipun tingkatannya berbeda, hubungan yang terjadi merupakan hubungan yang setara (sebagai mitra) bukan bentuk hubungan yang merupakan manifestasi hubungan patron-klien.
d. SDM
Permasalahan UK yang menyangkut SDM terkait dengan struktur organisasi dan pembagian kerja, masalah tenaga kerja dan kemampuan manajerial pengusaha.
e. Keuangan
Pengusaha kecil umumnya belum mampu melakukan pemisahan manajemen keuangan perusahaan dan rumah tangga. Kondisi ini mengakibatkan pengusaha kecil sulit melakukan perhitungan-perhitungan hasil kegiatan usaha secara akurat dan akhirnya akan menghambat proses pembentukan modal usaha untuk menunjang pengembangan usaha.
Dalam memperoleh progam SMK, kelompok pembudidaya ikan mendapat pembinaan dan pelatihan dari DKP. Pelatihan yang dilaksanakan berorientasi untuk pengembangan kelompok, yaitu meningkatkan kemampuan manajerial anggota kelompok yang meliputi kewirausahaan bagi pemula, marinepreneurship dan kecerdasan wirausaha, strategi bisnis dan pemasaran, jaringan dan kemitraan bisnis, studi kelayakan usaha, manajemen kelompok dan pelaporan keuangan.
3. Upaya Pengembangan UK
UU no. 9/1995 tentang UK pasal 14 merumuskan bahwa ”pemerintah, dunia usaha dan masyarakat melakukan pembinaan dan pengembangan UK dalam bidang : produksi dan pengolahan; pemasaran; sumberdaya manusia (SDM); dan teknologi”
Syaukat (2002) mengatakan bahwa pengembangan usaha kecil, menengah dan koperasi (UKMK) tergantung pada beberapa faktor, antara lain :
a. Kemampuan UKMK dijadikan kekuatan utama pengembangan ekonomi berbasis lokal yang mengandalkan endogenous resources di Kota/Kabupaten.
b. Kemampuan UKMK dalam peningkatan produktivitas, efisiensi dan daya saing.
c. Menghasilkan produk yang bermutu dan berorientasi pasar (domestik maupun ekspor).
d. Berbasis bahan baku domestik. e. Substitusi impor.
Syaukat (2002) mengatakan bahwa langkah-langkah operasional pengembangan UKMK adalah :
a. Tahap pertama :
1) Penumbuhan iklim usaha kondusif.
3) Kebijakan ekonomi yang memberikan peluang bagi UKMK untuk mengurangi beban biaya yang tidak berhubungan dengan proses produksi.
4) Kebijakan penumbuhan kemitraan dengan prinsip saling memerlukan, memperkuat dan saling menguntungkan.
b. Tahap kedua :
1) Dukungan penguatan.
2) Peningkatan mutu SDM UKMK. 3) Peningkatan penguasaan teknologi. 4) Peningkatan penguasaan informasi. 5) Peningkatan penguasaan modal. 6) Peningkatan penguasaan pasar. 7) Perbaikan organisasi dan manajemen. 8) Pencadangan tempat usaha.
9) Pencadangan bidang-bidang usaha.
Menurut Haryadi (1998), ada lima aspek yang berkaitan erat dengan perkembangan UK, yaitu aspek pemasaran, produksi, ketenagakerjaan, kewirausahaan dan akses kepada pelayanan. Dalam hal ini pemasaran, tujuan dan orientasi pasar penting bagi perkembangan suatu usaha. Tujuan dan orientasi pasar akan menentukan pilihan-pilihan strategi adaptasi yang akan diambil dalam mengatasi kendala-kendala yang akan dihadapi, khususnya yang berkaitan dengan struktur pasar bahan baku produk.
Pengembangan UK menurut Haryadi (1998) adalah :
1. Menciptakan iklim yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya UK.
2. Mewujudkan UK menjadi usaha yang efisien, sehat dan memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi, sehingga mampu menjadi kekuatan ekonomi rakyat dan dapat memberikan sumbangan yang besar bagi pembangunan ekonomi nasional.
3. Mendorong UK agar dapat berperan maksimal dalam penyerapan tenaga kerja dan sumber pendapatan. Menciptakan bentuk-bentuk
kerjasama yang dapat memperkuat kedudukan UK dalam kompetisi di tingkat nasional maupun internasional.
Hal ini menunjukkan bahwa peran pemerintah sangat penting untuk meniciptakan iklim kondusif bagi perkembangan UK, sehingga perkembangan UK pada akhirnya akan meningkatkan perekonomian nasional.
4. Manajemen dalam usaha kecil
Manajemen merupakan seni yang dapat dipergunakan atau diterapkan dalam penyelenggaraan kegiatan apapun, karena dalam setiap kegiatan akan terdapat unsur perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan (Hubeis, 2007). Atas dasar hal tersebut, maka praktek-praktek manajemen dapat dilakukan di berbagai bidang ataupun fungsi yang ada dalam suatu usaha. Fungsi manajemen dalam industri kecil sama dengan ilustrasi pada umumnya, yang dijabarkan sebagai berikut:
a. Perencanaan (Planning) adalah perhitungan dan penentuan tentang apa yang akan dijelaskan di dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu dari suatu organisasi atau perusahaan, dimana, bilamana, oleh siapa dan bagaimana tata cara yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.
b. Pengorganisasian (Organizing) adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk memikirkan, memperhitungkan dan menyediakan segala sesuatunya, untuk membuka suatu kemungkinan, agar rencana yang telah ditentukan sebelumnya dapat dilaksanakan dengan baik
c. Pelaksanaan (Actuating) adalah fungsi manajemen yang merupakan penggabungan dari beberapa fungsi manajemen lain. Dalam praktek, fungsi actuating dilaksanakan dalam bentuk lima subfungsi manajemen yaitu komunikasi, kepemimpinan, pengarahan atau penjelasan, memotivasi dan penyediaan sarana dan kemudahan.
d. Pengawasan (Controlling) adalah keseluruhan kegiatan yang membandingkan atau mengukur apa yang sedang atau sudah dilaksanakan dengan kriteria, standar atau rencana-rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.
Sarana atau alat manajemen untuk mencapai tujuan adalah lima M, yaitu (a) man, (b) money, (c) material, (d) methods dan (e) market.
5. Kegagalan dan Keberhasilan UK
Menurut Griffin dan Ebert (2006) berdasarkan survei terhadap UK di Amerika, 63% dari bisnis baru tidak akan merayakan ulang tahun keenamnya. Dalam hal ini, ada 4 faktor umum yang mempengaruhi kegagalan UK, yaitu :
a. Manajerial yang tidak kompeten b. Kurang memberi perhatian c. Sistem kontrol yang lemah d. Kurangnya modal
Sedangkan yang mempengaruhi keberhasilan UK meliputi 4 faktor dasar yaitu :
a. Kerja keras, motivasi dan dedikasi
b. Permintaan pasar akan produk atau jasa yang disediakan c. Kompetensi manajerial
d. Keberuntungan.
Kenyataan yang terjadi seperti di atas sungguh merupakan hal kontras, dimana mencapai keberhasilan memerlukan suatu usaha yang selain secara ilmiah dapat dipelajari dan dilaksanakan, ternyata juga memerlukan suatu dasar lain, yaitu keberuntungan, yang tidak setiap orang dapat memperolehnya.
B. Kelompok
Suatu kelompok didefinisikan sebagai suatu kumpulan dari dua orang atau lebih individu, yang saling berinteraksi satu sama lain, sama-sama bergabung untuk mencapai suatu tujuan tertentu (Sofyandi dan Barni, 2007). Schein (1979) mengatakan bahwa kelompok yang mempunyai ikatan psikologis adalah sejumlah orang yang saling berhubungan, saling memperhatikan dan menerima kenyataan sebagai suatu kelompok. Senada dengan defiinisi di atas, menurut Duncan, suatu kelompok terdiri dari dua
orang atau lebih yang berinteraksi untuk mencapai tujuan bersama, interaksi tersebut bersifat relatif tetap dan mempunyai struktur tertentu.
1. Kemandirian Kelompok
Kemandirian kelompok akan terbentuk secara baik bila kegiatan pertemuan rutin kelompok dilakukan dengan tingkat kehadiran yang tinggi dari anggota dan setiap permasalahan serta pencapaian tujuan efisiensi aspek usaha yang dikembangkan dilakukan dalam suatu pengelolaan organisasi kelompok. Kemandirian kelompok juga ditunjukkan dengan adanya AD/RT kelompok yang akan selalu disepakati untuk tujuan kebersamaan. Kelompok Pembudidaya ikan Mekar Jaya telah menunjukkan kemandirian kelompok yang sangat bagus, dengan melakukan pertemuan rutin kelompok.
2. Profil Kelompok
Profil kelompok merupakan suatu pendekatan yang baik untuk menilai eksistensi kelompok secara nyata. Kondisi umum dan khusus dari kelompok, aktifitas budidaya, fasilitas sarana dan prasarana, produksi yang dihasilkan dan aspek pemasaran, serta pengelolaan keuangan kelompok akan tergambarkan secara jelas. Profil kelompok dalam bentuk sederhana adalah sama dengan berdirinya koperasi, yaitu adanya AD/RT kelompok dan pengembangan dari AD/RT kelompok dapat memberikan informasi detail dari setiap kegiatan usaha kelompok. Profil kelompok akan menjadi kekuatan kelompok dalam mengakses pasar dan permodalan dari lembaga keuangan formal.
3. Catatan Dalam Pembukuan Kelompok
Catatan dalam pembukuan keuangan kelompok merupakan catatan pengelolaan keuangan yang terkait dengan aliran keuangan kelompok, baik modal, harta, piutang dan catatan pemberian dan pengembalian dana SMK yang dipinjamkan kepada anggota, serta catatan dalam rekening kelompok di Bank. Catatan pembukuan keuangan kelompok akan menjadi sangat penting dalam mendukung data pengelolaan keuangan kelompok
secara benar, sehingga akan menjadi penentu dalam upaya memperoleh akses ke perbankan formal.
C. Lembaga Pembiayaan Skala Mikro
Lembaga Pembiayaan memiliki arti yang sangat strategis dalam upaya untuk pengembangan usaha yang akan atau sedang dilakukan, terutama dalam penyediaan modal investasi dan modal kerja, mulai dari sektor hulu sampai hilir. Lembaga pembiayaan yang ada saat ini secara umum masih belum menyentuh pada kegiatan usaha masyarakat dengan nilai investasi rendah. Penyaluran kredit kepada UK dianggap sebagai usaha berisiko tinggi, karena UK tidak memiliki aset yang cukup dapat diandalkan sebagai agunan guna memperoleh pembiayaan usahanya.
Bila aksesibilitas pembiayaan tidak diberikan bagi para pelaku UK yang tidak memiliki aset, kesenjangan akan terus berlangsung dan tujuan esensial untuk mengentaskan kemiskinan dan mendorong perkembangan ekonomi lokal tidak akan memiliki solusi yang baik. Upaya-upaya yang dilakukan untuk memberikan layanan pembiayaan bagi masyarakat dengan skala UK adalah terbentuknya lembaga keuangan mikro yang menggunakan pendekatan Grameen Bank.
1. Grameen Bank
Pendekatan Grameen Bank yang dilakukan oleh Muhammad Yunus, seorang profesor Ekonomi dari Universitas Chittagong, Bangladesh adalah dengan melaksanakan program kredit kepada masyarakat miskin akibat dari rasa kepeduliannya yang tinggi terhadap orang-orang miskin. Landasan pemikiran Yunus untuk memilih kredit sebagai pilihan aksi adalah membebaskan orang dari kesengsaraan akibat kemiskinan yang parah. Salah satu masalah besar yang dihadapi kaum miskin adalah modal. Sistem perbankan dan lembaga keuangan formal yang ada telah menetapkan syarat yang tidak memungkinkan masyarakat bawah untuk memperoleh modal dari lembaga keuangan tersebut (DKP, 2004 c).
Pendekatan kredit bagi masyarakat miskin yang dilakukan oleh Yunus merupakan salah satu upaya dalam pengentasan kemiskinan. Pemikiran dan kepedulian ini selanjutnya dituangkan dalam program riset aksi di desa Jobra, Bangladesh antara tahun 1976 – 1979. Pada tahun 1979 dilakukan replikasi di desa Tangail dengan dukungan Bank Sentral Bangladesh. Sukses replikasi ini diikuti dengan program perluasan ke daerah-daerah lain di Bangladesh. Saat ini Grameen Bank telah menjadi lembaga keuangan pedesaan terbesar di Bangladesh. Selain pinjaman umum, program pinjaman yang ditawarkan telah berkembang menjadi beberapa jenis pinjaman seperti pinjaman musiman, pinjaman untuk perusahaan umum, pinjaman untuk perumahan dasar, pinjaman kesehatan, dan pinjaman pendidikan. Kisah sukses Grameen Bank telah menjadi lembaga keuangan pedesaan terbesar di Bangladesh.
2. Mikro Mitra Mina
Mikro Mitra Mina merupakan lembaga keuangan mikro yang melayani aktifitas simpan pinjam berskala kecil menggunakan pendekatan Grameen Bank bagi kelompok miskin di wilayah pesisir, guna membiayai kegiatan ekonomi pokok maupun tambahan dan mengembangkan budidaya menabung, dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan dan mengembangkan kemandirian usaha. Skim ini mengintegrasikan simpanan atau tabungan (wajb dan sukarela) sebagai suatu komponen yang tidak terpisahkan dengan aktifitas pinjam. Komponen tabungan dirasakan semakin penting dalam pengelolaan keuangan dan usaha, serta dalam rangka pembentukan dan pemupukan modal guna meningkatkan kemandirian usaha. Sebagai sebuah alternatif, skim ini diharapkan dapat menghilangkan ketergantungan masyarakat pesisir terhadap para pelepas uang (informal money lenders) yang banyak beroperasi di wilayah pesisir (DKP, 2004 c).
3. Skim Modal Kerja
Skim modal kerja DKP adalah program penyediaan kredit modal yang terintegrasi dengan peningkatan kapasitas manajemen pembudidaya ikan untuk mengangkat potensi pembudidaya ikan skala rumah tangga dan UKM berbasis pada kelompok, agar kelompok dapat meningkatkan produksi, baik mutu maupun kuantitas. Selain memberikan pinjaman permodalan, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan pembudidaya ikan dengan pendampingan dan pelatihan (DKP, 2004 a).
D. Deskripsi Umum UKM Perikanan
UKM disebut sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia dan UKM identik dengan membangun Indonesia karena ada sekitar 80 juta orang Indonesia yang bekerja di sektor ini. Dengan kata lain, membangun UKM sama dengan membangun sumber penghidupan yang saat ini dinikmati oleh 80 juta lebih orang Indonesia. Untuk UK, selama tahun 2000-2003 sebesar 86% bergerak di bidang pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan. Sementara hanya 9% pengusaha menengah yang bergerak di lapangan usaha ini. Sisanya, pengusaha besar yang kehidupannya tergantung jatuh bangunnya sektor usaha kecil dan menengah, sehingga UK menjadi sasaran pembangunan nasional (Anoraga, 2005).
Kemampuan UKM dalam menyerap tenaga kerja dan mengurangi kemiskinan telah terbukti di berbagai negara. Oleh karena itu, komitmen yang sungguh-sungguh dari pemerintah Indonesia untuk mengembangkan UKM harus ditindaklanjuti dengan implementasi dari civitas akademika dan dunia bisnis. Bermacam kebijakan sedang dilakukan pemerintah untuk memberdayakan kembali potensi ekonomi di tingkat petani dan UKM di segala bidang. Cadangan dana disediakan dengan harapan petani dan UKM kembali bergairah untuk meningkatkan produksi di bidang usahanya masing-masing.
Di bidang perikanan darat, komoditas budidaya ikan nila dan udang galah merupakan komoditas yang paling menjanjikan untuk tujuan di atas
dengan berbagai alasan, antara lain harganya paling tinggi diantara komoditas ikan konsumsi air tawar, pasar domestik yang masih jauh dari kejenuhan, lahan/kolam petani ikan untuk usaha budidaya yang banyak terlantar dan satu hal lagi yang harus digaris bawahi, Indonesia mempunyai kekayaan keanekaragaman hayati yang bernilai untuk strain udang galah, mulai dari peraian di Sumatera, Jawa, Kalimantan sampai Sulawesi. Persoalannya adalah petani dan UKM perikanan masih mempunyai kendala di bidang teknis budidaya dan manajemen usaha yang perlu mendapat perhatian lembaga penelitian dan pengembangan (litbang) dan dinas terkait. Komunikasi lintas sektoral dirasakan sangat perlu untuk menjembatani permasalahan yang ada di petani dan UKM dengan menyajikan hasil penelitian yang mampu menyelesaikan masalah tersebut. Selanjutnya, bila kesuksesan di tingkat produksi tercapai, asosiasi petani udang galah tingkat nasional sangat dibutuhkan untuk menggalang jaringan kerja para petani, sehingga kelanggengan usaha yang menguntungkan dapat tercapai (DKP, 2006a).
E. Deskripsi Usaha Budidaya Ikan Nila
Merebaknya kasus pembalakan liar kayu - kayu di hutan menyisakan bencana alam dan pengangguran akibat berkurangnya kesempatan kerja. Begitu pula dengan industri pertambangan yang telah habis sumbernya maka akan menambah pula angka pengangguran. Dari pembicaraan dengan berbagai pihak di wilayah yang mempunyai potensi perairan umum cukup besar seperti Kalimantan dan Sumatera, budidaya perikanan diharapkan dapat menjadi katup penyelamat. Budidaya ikan relatif cepat menghasilkan, teknologinya mudah dikuasai dan pasar dalam negeri masih terbuka luas. Namun demikian untuk mewujudkan gagasan tersebut perlu dukungan yang simultan dari berbagai pihak, sehingga manfaatnya dapat cepat dirasakan
Dalam laporan terbarunya The State of World Aquaculture 2006, (FAO, 2006) menyatakan bahwa 45,5 juta ton (43%) ikan yang dikonsumsi berasal dari budidaya. Angka tersebut telah menunjukkan lompatan yang luar biasa dibandingkan dengan kondisi tahun 1980 yang hanya 9%. Produksi dunia ikan hasil budidaya dan ikan hasil tangkapan di laut serta perairan
umum adalah sekitar 95 juta ton per tahun, dimana 60 % dikonsumsi manusia (FAO, 2006).
Meskipun saat ini sumbangan ikan hasil tangkapan masih relatif tinggi, tetapi hasil penangkapan telah berada pada level yang jenuh dan diperkirakan akan begitu seterusnya. Untuk memenuhi kebutuhan ikan sebagaimana tingkat konsumsi seperti saat ini di tahun 2030, diperlukan sekitar 40 juta ton dari hasil budidaya.
Seperti dikatakan di atas, permintaan terhadap ikan akan terus naik sejalan dengan meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan. Meskipun saat ini sumbangan ikan hasil tangkapan masih relatif tinggi, tetapi hasil penangkapan telah berada pada level yang jenuh dan diperkirakan akan begitu seterusnya. Walaupun dalam faktanya perikanan tangkap masih memberikan kontribusi yang cukup tinggi pada sektor perikanan, namun di sisi lain FAO pada tahun 2002 menyatakan bahwa produksi perikanan tangkap dunia cenderung mengalami penurunan akibat eksploitasi dan menurunnya sumber daya ikan di laut. Untuk memenuhi kebutuhan ikan tingkat konsumsi seperti saat ini di tahun 2030, diperlukan sekitar 40 juta ton dari hasil budidaya. Akuakultur mempunyai kecenderungan peningkatan yang cukup signifikan dan salah satu pilihan untuk memenuhi kebutuhan ikan di masa mendatang adalah melalui budidaya. Hanya saja bagaimana dapat mewujudkan hal itu dengan baik (Warta Budidaya, 2005).
Budidaya ikan dapat mengisi kesenjangan permintaan dengan pasokan. Tetapi di sisi lain juga terdapat beberapa kekuatan yang mungkin dapat membelokkan produksi ke arah yang sebaliknya sehingga tidak memungkinkan industri budidaya tumbuh secara besar-besaran untuk memenuhi besarnya permintaan di masa mendatang. Salah satu kendalanya adalah kurangnya investasi modal di kalangan pembudidaya dan terbatasnya lahan, serta ketersediaan air bersih yang digunakan dalam usaha budidaya. Meningkatnya biaya energi, dampak lingkungan dan sederet pertanyaan lain yang terkait dengan keamanan produk memerlukan perhatian seksama. Tanpa dukungan penuh dari pemerintah untuk pengembangan industri budidaya,
maka rasanya akan sulit untuk dapat memenuhi secara kontinu permintaan ikan pada 25 tahun mendatang (Deptan, 1999).
Perikanan Budidaya merupakan bagian dari sektor kelautan dan perikanan mempunyai arti penting dalam memberikan kontribusinya. Akuakultur juga mampu menciptakan peluang usaha dan penyerapan tenaga kerja. Hal ini dapat dilihat bahwa akuakultur dapat dilakukan di setiap lapisan masyarakat mulai dari pedesaan sampai dengan perkotaan; mempunyai karakteristik usaha yang cepat menghasilkan (quick yielding) dengan margin keuntungan yang cukup besar, mempunyai cakupan usaha yang luas, sehingga dapat memacu pembangunan industri hulu maupun hilir (seperti pabrik pakan, hatchery (pembenihan), industri jaring, industri pengolahan, cold storage, pabrik es, dan sebagainya); dapat mengatasi kemiskinan penduduk; tersedianya teknologi terapan dan merupakan sumber protein yang dapat memacu peningkatan gizi masyarakat guna pemenuhan protein hewani dalam rangka ketahanan pangan nasional (DKP, 2006a).
Untuk pengembangan akuakultur ke depan, dapat dilakukan melalui program peningkatan produksi ikan untuk ekspor dan kebutuhan domestik, dengan kegiatan pokok intesifikasi, ekstensifikasi, diversifikasi dan rehabilitasi. Sedangkan pemanfaatan potensi akuakultur bagi pengembangan ekonomi nasional, kebijakan yang akan ditempuh adalah melalui pengembangan kawasan budidaya dan komoditas unggulan. Dengan tujuan untuk mendorong penerapan manajemen hamparan dalam mencapai skala ekonomi, mencegah penyebaran penyakit dan memperoleh efisiensi dalam penggunaan air, melalui azas kebersamaan ekonomi antar pembudidaya.
Komoditas Nila merupakan jenis yang mudah dibudidayakan, baik di kolam, karamba, keramba jaring apung, maupun sawah, selain mampu memenuhi kebutuhan lokal. Nila merupakan komoditas ekspor yang semakin hari semakin meningkat permintaannya. Akan tetapi budidaya komoditas ini menghadapi kendala dalam pengadaan induknya. Untuk itu, pemerintah telah berupaya dengan mengembangkan Program intensifikasi budidaya (INBUD) Nila dan BUPEDES, desiminasi teknologi, dan pengembangan Nila, sertifikasi benih dan pengembangan Balai Benih Ikan Sentral/Lokal (DKP, 2006a).