• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Indonesia Sosial Sains

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Indonesia Sosial Sains"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

APLIKASI BUNGA BANK MENURUT TEORI DOUBLE MOVEMENT FAZLUR RAHMAN DALAM KAJIAN HUKUM ISLAM KONTEMPORER

Neni Hardiati dan Sofian Al Hakim

Program Studi magister Hukum Ekonomi Syariah, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Indonesia

Email: [email protected], [email protected] Artikel info

Artikel history: Diterima: 26 Desember 2020

Diterima dalam bentuk revisi 12 Januari 2021 Diterima dalam bentuk revisi 18 Januari 2021

Keywords:

double movement theory; fazlur rahman; bank interest law

Kata kunci:

teori double movement; fazlur rahman; hukum bunga bank

Abstract: This research aims at the Basic Law used by Fazlur

Rahman on usury comes from the Qur'an and hadith, but he does not equate interest and usury which has no evidence in the Qur'an and the hadith he wrote about flowers bank. He only reflects from a moral and ethical point of view, without looking at the present day without looking from the formal legal in Islamic law. using descriptive qualitative research methods with a normative juridical approach using library studies. So that with this method can be explored philosophical values in the development of the Islamic economy in the legal status of bank interest. As a result of his research, Rahman concluded that an economic sistem can actually be devised by eliminating bank interest, but the state of society Until his opinion the law on bank interest is weak and can not be used as a reference because it does not comply with the principles of the Qur'an and hadith.

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hukum dasar riba yang bersumber dari Alquran dan Sunnah yang digunakan oleh Fazlur Rahman, namun ia tidak menyamakan bunga dan riba dengan Alquran dan kitab suci. Argumen pelatihan tidak membantu, dia memperdebatkan minat. bank. Terlepas dari era saat ini, hukum formal dalam Syariah Islam tidak mencerminkan moralitas dan nilai-nilai moralnya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan metode yuridis normatif, sehingga metode tersebut dapat menggali nilai filosofis dalam perkembangan ekonomi Islam dalam status hukum kepentingan bank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ekonomi sebenarnya dapat diatur dengan menghilangkan bunga bank, namun kondisi sosial tidak memungkinkan adanya pembatalan bunga bank. Hal ini membuat pandangannya tentang hukum bunga bank lemah dan

http://jiss.publikasiindonesia.id/

Vol. 2 No. 1 Januari 2021

(2)

tidak bisa dijadikan acuan karena tidak sesuai dengan prinsip Alquran dan Hadist.

Coresponden author: Email: [email protected]

artikel dengan akses terbuka dibawah lisensi CC BY

Pendahuluan

Pesatnya pertumbuhan bank menjadi salah satu jembatan bagi masyarakat sebagai perantara kegiatan keuangan. Saat ini semakin banyak pembahasan tentang bunga bank dan riba. Salah satu penyebabnya adalah adanya pandangan yang mengkaji kehalalan dan dampak merugikan dari bunga bank. Dalam Al-Qur'an dan Sunnah, jelas terlihat bahwa rentenir adalah Haram, bahkan para ulama tidak memperdebatkannya. Sementara itu, para ulama dan pemikir ekonomi masih berdebat. Permasalahan yang masih perlu diselesaikan adalah pengertian rentenir yang dihadapi oleh bank. Di satu sisi manfaatnya termasuk lintah darat, namun di sisi lain dalam rangka meningkatkan perekonomian muslim, keberadaan bank sangat dibutuhkan, dan perekonomian muslim masih di bawah garis kemiskinan serta perkembangan ekonomi yang lambat. (Goleman et al., 2019). Larangan rentenir tidak hanya Islam, tapi Yahudi dan Nasrani juga melarang kegiatan berdasarkan rentenir. Di dalam Alquran tidak ada penyebutan kata bunga, melainkan aktivitas yang sama dengan riba. Dilihat dari periode sejarah saat ini, terlihat jelas bahwa rentenir adalah Haram, terutama dalam Al-Qur'an disebutkan sebanyak 8 kali (delapan kali) dalam 4 (empat) huruf yaitu QS Al-Baqarah: 275-279, Ali -Imran: 130, Ni-Nisa 160-161 dan Ar-Rum: 39. Dalam dunia Islam, tafsir kitab suci tentang riba dalam Alquran kontroversial, sedangkan umat Islam memiliki perbedaan pendapat. Kontroversi seputar bunga bank tidak terlepas dari larangan riba, terlepas dari apakah bunga bank termasuk dalam kategori riba. Oleh karena itu, agar memiliki pemahaman yang lengkap dan komprehensif mengenai interpretasi bunga bank, masalah riba harus diangkat karena keduanya sangat erat kaitannya (Arifin & Salahuddin, 2019). Keputusan Majelis Ulama Indonesia Nomor 1 Fatwa (Fatwa) tahun 2004 mengatur tentang larangan bunga bank di Indonesia, termasuk perbankan, asuransi, pasar modal, pegadaian, koperasi, lembaga keuangan lainnya dan kegiatan yang dilakukan oleh perorangan. . Melalui fatwa tersebut, bunga bank tersebut haram yang berdampak positif bagi perbankan syariah. Fatwa tersebut diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat khususnya umat Islam beralih ke Bank Syariah (Afdi, 2015). Bagi suatu negara, bank dapat dikatakan sebagai penggerak perekonomian, karena bank memegang peranan penting dalam kegiatan perekonomian. Bank juga menjadi alternatif, sehingga dapat melindungi harta benda dari kemungkinan perampokan, banjir, kebakaran, dan gangguan lain yang tidak dapat menjamin keamanan. Dalam perekonomian modern, tampaknya semakin banyak dunia perbankan yang didirikan melalui sistem suku bunga yang hampir tidak bisa dihindari, apalagi menghilangkannya. Bank saat ini merupakan kekuatan ekonomi masyarakat modern (Setiawan,

(3)

2019). Kontroversi tentang bunga bank dan riba membutuhkan pemahaman yang mendalam tentang seluk beluk dampak sistem bunga terhadap perekonomian dan membaca tanda dan arahan riba dalam Alquran dan Hadis. Islam sangat jelas melarang segala bentuk riba, hal ini dikarenakan Islam ingin menegakkan sistem ekonomi di mana segala bentuk eksploitasi dapat ditiadakan secara bertahap untuk menciptakan pemerataan pendapatan antar sesama. Pandangan lain adalah bahwa dari perspektif nilai-nilai dan Islam, sulitnya memahami sistem kepentingan tidak diperbolehkan, yang akan berdampak pada keadilan ekonomi dan sosial serta pendapatan dan kesejahteraan yang adil. Hal ini karena dalam prakteknya bank seolah telah mencapai kesepakatan dimana hubungan antara suku bunga dan suku bunga biasanya berfluktuasi (naik turun) yang bermuara pada kegiatan perekonomian yang tidak sehat dan tidak stabil. Itu dimanifestasikan dalam kondisi sosial bentuk. Para sarjana percaya bahwa perbankan biasa sama dengan perbankan yang dilarang. Ulama lain bersikap toleran karena beberapa hal, antara lain karena bunga bank merupakan salah satu faktor pendorong lancarnya peredaran uang antar masyarakat, dan keuntungan yang diperoleh dikembalikan kepada masyarakat (Widryaningsih, 2005). Yang lain percaya bahwa rentenir dilarang oleh Islam dalam Alquran dan Sunnah, yang berbeda dengan bunga bank. Dalam hal ini, sebagian masyarakat masih meyakini bahwa bunga bank bukanlah bagian dari riba yang dilarang oleh Islam (Djuwaini, 2015). Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu dikaji, salah satunya adalah hukum bunga bank. Belakangan ini, beberapa akademisi sangat ingin memperhatikan perkembangan masyarakat modern karena mereka memfasilitasi kemampuan untuk melakukan transaksi dalam sistem perbankan saat ini (Rivai & Arifin, 2010). Alasan mengapa Islam melarang bunga atas bunga pinjaman adalah karena perilaku ini selalu menyebabkan penderitaan bagi peminjam.

Pembahasan riba dalam ranah pemikiran Islam selalu menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan ulama, baik pada periode klasik, periode abad pertengahan maupun periode modern. Alasan terjadinya perbedaan pendapat ini, terutama di zaman modern ini, karena pemikiran dan pendapat para ulama tentang hukum bunga bank masih belum bersatu. Dalam hal ini, menurut ulama dan Yusuf Al-Qardhawi (Yusuf Al-Qardhawi), bahwa semua pokok pinjaman yang dipersyaratkan sebelumnya adalah riba, dan hukumnya haram. Oleh karena itu, menurut mereka, bunga bank sebelumnya dimasukkan ke dalam persyaratan tambahan, karena wanprestasi yang tercantum dalam Alquran sama dengan wanprestasi yang tercantum dalam Alquran, yaitu bertambahnya aset yang dipinjam dari pokok. Oleh karena itu, tradisi tekstual dalam pemikiran hukum klasik perlu dilengkapi dalam konteks menjawab dan menjawab pertanyaan yang kompleks. Fazlur Rahman (Fazlur Ra hman) adalah salah satu pembaharu Islam yang lahir di Pakistan. Ia memberikan cara memahami Alquran, yaitu teori gerakan ganda gerakan ganda, yang gerakan pertama Ini terdiri dari dua langkah dan pada dasarnya menjelaskan tiga metode menafsirkan Alquran. Yakni sejarah, latar belakang dan metode sosiologis. Gerakan kedua adalah upaya merumuskan prinsip, nilai dan tujuan Alquran, prinsip, nilai dan tujuan ini telah diterapkan pada kasus faktual kontemporer gerakan pertama (Damsyik, 2013). Rahman berharap melalui teorinya ada keterkaitan antara dialog yang terkandung dalam Alquran, yakni wahyu ketuhanan di satu sisi sakral dan di sisi lain menodai sejarah manusia. Kedua unsur inilah yang

(4)

menjadi tema sentral Rahman Masalahnya terletak pada pembahasan kedua belah pihak, agar nilai wahyu senantiasa sejalan dengan sejarah umat manusia. Atas dasar itu, Rahman menyingkirkan metodologi yang dikemukakan Alfisisme Klasik yang lebih literal.Menurutnya, ia perlu mengalokasikan ilmu-ilmu pelengkap yang bercirikan alam dan sosial agar tidak terjadi interpretasi. salah paham. Rahman memiliki gagasan paragraf yang berusaha menghindari makna dogma intelektual dan batasan budaya yang sempit. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana pandangan Fazrul Rahman dikemukakan dalam konteks perkembangan metodologi hukum Islam, dan mengusulkan untuk mendalami hukum Islam baru, yaitu bagaimana mengimplementasikan Faz dalam memahami teks Alquran. Teori gerakan dua arah Ruhr Rahman, khususnya dalam menjelaskan kepentingan bank melalui teori gerakan dua arah (Budiarti, 2017). Dalam peta pemikiran Islam, sesuai kebutuhan Zaza yang dilandasi oleh prinsip-prinsip hukum Islam yang kokoh, keberadaan Fazlur Rahman merupakan salah satu jawaban yang komprehensif dan konsisten terhadap hukum Islam (Hamzawi, 2016). Dalam perkembangan pemikiran hukum Islam, ijtihad dan ushul fiqh adalah dua istilah yang berkaitan erat. Kedua istilah ini juga berkaitan erat dengan bagaimana teks menjadi produk umum di masyarakat (Santoso, 2016). Menurut penulis, kepentingan bank tidak perlu diperdebatkan kedepannya, karena keberadaan bank syariah dengan bank syariah dengan slogan No lintah darat sudah menjadi solusi bagi umat Islam saat ini. Kesehatan bank syariah ini secara umum mencerminkan nilai yang baik, bahkan bank syariah di Indonesia semakin eksis (Usman, 2014).

Berdasarkan pertanyaan di atas, penulis mencoba untuk menguraikan kepentingan bank dengan salah satu pandangan Islam modernis, yaitu Fazlur Rahman (Fazlur Rahman). Fazlur Rahman (Fazlur Ra hman) mengusulkan metode baru untuk memahami gagasan perlunya Alquran, dimulai dengan pemahamannya tentang empat prinsip dasar (Alquran, Santo Anna , Kajian Sejarah Perkembangan "Ittihad" dan "Ima"), yang ia gambarkan dalam bukunya "Metodologi Islam dalam Sejarah" (1965). Pandangan Fazlur Rahman selalu diilhami oleh perjuangannya mereformasi Islam (hukum), yang kemudian membawanya mengedepankan agenda yang lebih penting, yaitu Peragaan kembali interpretasi Alquran.

Pembahsan riba bukanlah hal yang baru karena riba telah diperbincangkan sejak awal masa Islam hinggga sekarang.

1) Janna Dini Hardina [2018], melakukan penelitian yang berjudul “Bunga Bank Konvensional Menurut Pandangan Abdullah Saeed”. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Abdullah Saeed memandang bahwa pinjaman dengan sistem bunga tidak menyebabkan ketidakadilan, maka pinjaman tersebut dibolehkan. Saeed melihat bahwa riba di zaman jahiliyah berbeda dengan mekanisme sistem bunga dalam perbankan konvensional saat ini, apalagi sampai pada terjadinya penindasan dan penganiyaan yang dilakukan oleh kreditur kepada debitur. Dilihat dari relevansi sosial ekonomi, budaya ekonomi dan ekonomi serta politik ekonomi mengenai bunga bank jika dihubungkan dengan pemikiran Abdullah Saeed di Indonesia saat ini yaitu sangatlah berkaitan. Karena bunga bank memiliki dampak positif bagi bank konvensional maupun para nasabah yang sudah menanamkan modalnya. Dari sistem bunga ini, tidak hanya salah satu pihak saja

(5)

yang diuntungkan, tetapi kedua belah pihak. Selain itu, transaksi pinjam meminjam dalam sistem perbankan juga dilakukan secara jelas, terbuka dan dilindungi oleh undang-undang. Jadi, kegiatan perbankan di Indonesia sekarang ini sangatlah berkaitan sekali dengan pemikiran Abdullah Saeed tersebut, dan tidak ada pihak yang dirugikan dari sistem bunga bank ini.

2) Siti Mu’alifah [2018], pada penelitiannya dengan judul “Studi Komparatif Pemikiran Muhammad Syafi’i Antonio dan Abdulah saeed tentang Riba”, penelitian ini lahir karena ada perbedaan pemikiran diantara dua tokoh tersebut, yaitu Muhamad Syafi’i Antonio memiliki pendapat bahwa riba adalah haram dan dilarang. Sementara Abdul Saeed mempunyai pendapat bahwa riba yang dilarang yaitu riba pra Islam [riba jahiliyah], dalam penelitian menyimpulkan bahwa jenis tambahan apapun menurut Syafi’i Antonio haram terlebih dalam pinjaman. Sedangkan menurut Abdulah Saeed bahwa riba yang diharamkan itu yang pada masa pra Islam. Sementara mengenai bunga bank menurut Syafi’i Antonio memiliki pendapat kalua bunga bank itu sama dengan riba karena kurang menyeluruh mengenai pemahaman tentang bung bank jika diartikan dalam keadaan darurat dan berlipat ganda. Namun Abdul Saeed membolehkan bunga asal tidak ada kezaliman didalamnya.

Damsyik (2013) Menyelenggarakan penelitian bertajuk “Reinterpretasi Sumber Hukum Islam: Kajian Pemikiran Fazrul Rahman”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, menurut Rahman, dua dimensi hukum Islam yang diperbolehkan, yaitu karakteristik dan konteks dalil hukum dan fenomena hukum (waqi'at) masing-masing secara jelas tercipta antara hukum dan realitas hukum pidana. Gap atau perbedaan, oleh karena itu Rahman dan “ijtihad” -nya (ijtihad) meyakini bahwa pandangan dan tafsir (reinterpretasi) dari sumber-sumber hukum Islam perlu diubah. Rahman membedakan antara Islam historis dan Islam normatif. Dalam alkitab dan hadits para nabi, Islam normatif adalah Islam yang diunggulkan, sedangkan Muslim memahami dan mempraktikkan Islam historis. Rahman biasanya menyebut Islam historis ini sebagai tradisi Islam atau tradisi Muslim yang memungkinkan kebangkitan kembali. Kajian tersebut juga membahas tentang kepentingan rentenir dan perbankan.Rahman menilai larangan lintah darat dalam Alquran sangat erat kaitannya dengan pemeliharaan kesejahteraan masyarakat. Namun berawal dari larangan ini, dalam fiqih Islam Abad Pertengahan ditetapkan bahwa segala bentuk bunga adalah riba dan hukumnya adalah Haran. Selama ini, meski peran bank dalam konteks "ekonomi pembangunan" telah banyak berubah di dunia modern, sebagian besar umat Islam masih memegang pandangan ini.

Metode Penelitian

Dalam penelitian ini digunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dan metode yuridis normatif dengan menggunakan penelitian kepustakaan. Oleh karena itu, melalui metode ini dapat digali nilai filosofis dalam perkembangan ekonomi Islam yang berstatus hukum kepentingan bank. Mengumpulkan data atau sumber yang berkaitan dengan topik yang diangkat dalam penelitian. Langkah-langkah yang dilakukan oleh penelitian kepustakaan adalah mereduksi data berupa penyuntingan dan ringkasan sehingga diperoleh data pokok terkait sifat artikel, penyajian

(6)

data, penarikan kesimpulan, verifikasi dan telaah data yang diperoleh, sehingga diperoleh hasil yang benar yang diperoleh darinya. Berbagai sumber, seperti terbitan berkala, buku dokumen, internet dan perpustakaan, dll (Sugiyono, 2015). Penelitian kepustakaan yang dilakukan penulis melalui pencarian berbagai bahan tertulis baik itu buku, arsip, majalah, artikel dan jurnal, maupun dokumen yang berkaitan dengan masalah penelitian. Dalam melakukan tinjauan pustaka ini, kegiatan pembantu meliputi mencari, membaca dan memeriksa pendapat ahli dan bahan pustaka yang memuat teori-teori yang relevan. Menurut teori gerak ganda Fazlur Rahman, dengan mengumpulkan dan menganalisis buku, karya ilmiah, dan makalah terkait (seperti

makalah dan jurnal) yang berkaitan dengan kepentingan bank (Gunawan, 2013).

Hasil dan Pembahasan A. Deskripsi

1. Biografi dan Teori Double Movement Fazlur Rahman a. Biografi

Fazlur Rahman (Fazlur Rahman) lahir di Pakistan pada tahun 1919, ia berkembang dan tumbuh dari pendidikan tradisional, seperti halnya penduduk Muslim Pakistan. Dalam pendidikannya, ia rutin mempelajari ilmu Islam di sekolah-sekolah agama. Setelah menyelesaikan studi menengahnya, ia melanjutkan pendidikannya di Departemen Kajian Oriental di Universitas Punjab. Ia kemudian berhasil memperoleh gelar master dalam Sastra Arab pada tahun 1942 (Abdullah, M. Amin, 2002). Ia memiliki latar belakang pendidikan Islam tradisional, namun sikap kritisnya membuatnya berbeda dengan teman-teman lainnya. Sikap kritisnya mencerminkan ketidakpuasannya terhadap sistem pembelajaran tradisional, sehingga ia memutuskan untuk terus belajar dari Barat, yaitu kuliah di Universitas Oxford di Inggris. Karena itu, keputusannya merupakan awal dari posisi yang kontroversial. Dalam karya-karyanya merefleksikan kata-kata kunci dalam mengejar metode berpikirnya, yaitu metode kritis historis [metode kritis historis [dan metode hermeneutika].

b. Teori Double Movement

Rahman memiliki teori gerakan ganda dalam menjelaskan sumber hukum dalam Alquran yaitu (gerakan ganda). Hal ini membuat dua unsur dalam Alquran saling terkait, yaitu sebagai wahyu ketuhanan dan kodrat manusia lainnya. Dengan cara ini, dimungkinkan untuk berdialog dengan nilai-nilai pewahyuan yang senantiasa hidup selaras dengan perkembangan zaman. Langkah pertama adalah memahami pentingnya peristiwa wahyu dalam Alquran sepanjang sejarah. Memahami sejarah ayat-ayat dalam konteks normatif akan menghasilkan konsep moral dan terminologi khusus hukum, kemudian langkah kedua adalah mencoba menggunakan prinsip dan nilai sistematis dalam tafsir hari ini untuk memahami masalahnya. (Hamzawi, 2016).

1. Pengertian Riba

Secara umum, rentenir adalah ekstra. Oleh karena itu yang bertambah dan bertambah disebut riba. Dalam KBBI, riba berarti "pemberi pinjaman uang: riba, bunga mata uang, dan sewa. Namun, Sayyid Sabiq." (Said, 2020) Anggaplah rentenir itu ekstra (al-ziyadah). Peningkatan ini berarti peningkatan dari modal kecil atau besar. Pengertian riba Syria adalah

(7)

peningkatan yang dibutuhkan individu dalam kegiatan perdagangan, yaitu uang yang diperoleh dari berbagai barang piutang, barang tersebut dapat berupa perhiasan, sembako, buah-buahan dan tanaman yang dapat ditukar dengan berbagai cara. bentuk.

Para sarjana memiliki pandangan berbeda saat menjelaskan rentenir. Perbedaan ini lebih dipengaruhi oleh pemahaman masing-masing sarjana tentang pengalaman rentenir dalam kehidupan mereka. Menurut terminologi, rentenir mengacu pada kelebihan pembayaran tanpa kompensasi atau kompensasi, yang diperlukan oleh salah satu dari dua orang untuk melakukan transaksi, baik tambahan itu berasal dari dirinya sendiri maupun dari luar, dalam bentuk hadiah. Prinsip utama rentenir adalah pertumbuhan. Menurut prinsip riba, riba berarti menambah aset utama tanpa adanya transaksi bisnis yang sebenarnya (Efa Rodiah Nur, 2015). Menurut Ibn Qudamah, riba merupakan tambahan pada komoditas atau objek perdagangan tertentu. Kemudian Ibn Kathir Rahimallahu berkata. Muhammad Arifin Badri.

Ketika Allah menurunkan hujan ke bumi, bumi akan bergerak dengan menanam tanaman, dan tanah yang mati (tandus) menjadi aktif, dan batangnya akan naik ke atas tanah. Setelah hujan, Allah menumbuhkan berbagai bentuk dan jenis buah-buahan, tumbuhan, tumbuhan dengan berbagai warna, rasa, aroma, bentuk dan kegunaan.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan dari sudut pandang para ahli bahwa riba merupakan pelengkap yang tidak masuk akal untuk penggunaan modal tanpa usaha yang sebenarnya (Said, 2020).

2. Jenis Riba

Jenis riba dalam (Ikhlas et al., 2018), Secara garis besar, riba dibagi menjadi dua kategori yaitu riba hutang dan kredit serta riba jual beli. Riba piutang dibagi menjadi riba garde dan riba jahiliyah. Pada saat yang sama, riba yang digunakan untuk berdagang dibagi menjadi Riba Fadhl dan Riba Nasi'ah.

a. Riba akibat utang piutang:

1) Riba qardh adalah riba yang terjadi ketika transaksi utang-piutang yang tidak memenuhi kriteria untung muncul bersama resiko (alghunmu bil ghurmi) dan hasil usaha muncul bersama biaya (al-kharaj bidh dhaman). Transaksi semacam ini berarti mengandung pertukaran kewajiban menanggung beban hanya karena berjalannya waktu.

2) Riba jahiliyah adalah kelebihan yang terjadi dikarenakan utang yang dibayar melebihi pokok utangnya, karena debitur terlambat membayar sesuai dengan waktu yang telah disepakati.

b. Riba akibat jual beli:

1) Riba fadhl adalah riba karena pertukaran barang sesama jenis, tetapi jumlahnya tidak seimbang.

2) Riba nasi‟ah adalah pertukaran barang sejenis dan jumlahnya dilebihkan karena melibatkan jangka waktu. Adapun yang dimakasud dengan barang ribawi adalah:

a) Emas dan perak, baik dalam bentuk uang maupun dalam bentuk lainnya.

b) Bahan makanan pokok seperti beras, gandum, jagung serta bahan makanan tamabahan seperti lauk-pauk, sayur-sayuran dan buah-buahan.

(8)

1. Pengertian Bunga Bank

Sebagaimana diungkapkan dalam kamus, istilah bunga adalah konversi bunga, yang berarti "bunga adalah biaya pinjaman finansial, biasanya persentase dari jumlah pinjaman". Bunga bergantung pada pinjaman mata uang, biasanya dinyatakan sebagai persentase dari mata uang yang dipinjam. Definisi bunga dalam praktik kredit tidak dijelaskan dengan jelas. Swasono berpendapat bahwa istilah bunga sering disebut dengan istilah "capital lease" yang sebenarnya lebih tepat daripada bunga. Dalam hal ini bunga adalah harga mata uang, baik yang dibayarkan oleh bank kepada masyarakat pemilik dana / mata uang, maupun kepada pengguna dana. Biaya yang dikenakan. Dalam menentukan harga mata uang (bunga), seperti halnya badan / unit usaha lainnya, bank akan terlebih dahulu mempertimbangkan biaya komoditas / mata uang tersebut, atau biasa disebut dengan biaya mata uang di lingkungan perbankan. Para ahli memiliki pendapat berbeda ketika memutuskan apakah bunga termasuk lintah darat atau sama dengan lintah darat. Jika bunganya rentenir, maka hukumnya adalah Harlan. Sebaliknya, jika bunganya bukan riba, maka umat Islam boleh mengizinkan hukum atau hukum Merck (Kalsum, 2014).

Kebanyakan praktisi dalam industri perbankan tradisional percaya bahwa lintah darat bukanlah bunga, tetapi bunga, dan bunga berlipat ganda atau jumlahnya terlalu besar. Pada saat yang sama, lintah darat mengacu pada tingkat bunga pinjaman konsumen yang terlalu tinggi. Terkait bunga bank dan mata uang, Lajnah Bahtsul Masa'il Nahdhatul Ulama (LBMNU) menetapkan bahwa hukum tentang bank dan bunga adalah hukum yang haram. Ada tiga pendapat berbeda tentang masalah ini. Pertama, Haram karena termasuk utang berbasis usia; kedua, legal karena tidak ada syarat penandatanganan kontrak. Ketiga, syubhat, karena para ahli hukum memiliki pendapat yang berbeda tentang hal ini. Konferensi Fatwa di seluruh dunia juga memberikan kontribusi hukum terhadap masalah riba dan kepentingan yang berlaku di dunia ekonomi saat ini. OKI (Organization of Islamic Conference) telah memutuskan bahwa praktik penggunaan perbankan berbasis bunga tidak sesuai dengan hukum Islam, sehingga perlu dibentuk lembaga keuangan (bank) yang beroperasi sesuai dengan hukum Islam (Hafnizal, 2017).

Dewan Ekumenis Mesir memutuskan bahwa bunga bank adalah metode kasar yang dilarang. Fazlur Rahman (Fazlur Ra hman), Muhammad As'ad (Muhammad As'ad), Sa'id alNajjar dan Abdul Munam Kaum modernis seperti Abdul Mun'im al-Namir cenderung menekankan larangan riba dalam akhlak dan menumbangkan bentuk hukum riba sebagaimana dijelaskan dalam hukum Islam. Lebih kuat menafsirkan bunga sebagai lintah darat, karena lintah darat itu sendiri berarti tambahan, dan bunga adalah kenaikan pokok. Terlepas dari perdebatan ini, sebagian besar Muslim di dunia saat ini menafsirkan bunga bank sebagai riba. Para ahli ekonomi Barat mengemukakan teori teoritis untuk melegitimasi riba (rentenir), karena pada awal Abad Pertengahan, Gereja Katolik telah melarang masyarakat Eropa untuk mempraktikkan riba. Namun, karena kemajuan perdagangan Eropa dan meningkatnya pengaruh hukum Romawi (melegitimasi bunga) (awalnya dia mengatakan bahwa ini berarti: memberikan kompensasi atas keterlambatan pembayaran hutang memiliki arti yang lebih sempit daripada lintah darat), dan pengaruh gereja melemah Jadi para ahli ekonomi Eropa menggunakan bunga (dalam bahasa

(9)

Indonesia diterjemahkan sebagai: "bunga", bukan kata "usary" yang dilarang oleh gereja, tetapi secara ekonomi, arti kedua kata ini tidak berbeda (Bohari & Syarifuddin, 2020).

1. Riba dan Bunga Bank menurut Fazlur Rahman

Pemikiran Fazlur Rahman membahas larangan bunga bank. Menelusuri sejarah pelarangan riba pada masa Rasulullah mengaku bahwa karyanya tidak bermaksud mempersoalkan larangan riba. Intinya bukan melarang riba, tapi melarang riba. Di Pakistan, masalah riba dan bunga bank menjadi isu yang kontroversial, terutama pada tahun 1962, ketika pemerintah Pakistan mengajukan anggaran kepada Majelis Nasional, namun ditolak karena dianggap inkonstitusional dan dianggap non-Islam. Pemerintah meminta Fazlur Rahman, yang saat itu dianggap ahli, mengkaji hal-hal terkait.

Berdasarkan hasil penelitiannya, Rahman menyimpulkan bahwa sistem ekonomi sebenarnya dapat dikembangkan dengan menghilangkan bunga bank, namun kondisi sosial Pakistan saat itu tidak memungkinkan konstruksi idealis tersebut. Rahman mengatakan selama masyarakat Pakistan belum dibangun kembali sesuai dengan model Islam, pelarangan bunga bank merupakan langkah “bunuh diri” yang bertujuan untuk mencapai kesejahteraan ekonomi rakyat dan sistem keuangan Negara (Rahman, 1984)

Secara kronologis, kitab suci yang membahas riba adalah QS. Ar-rum 30:39 artinya: “Ada juga riba (tambahan) yang kamu berikan untuk menambah harta riba (manusia), maka riba tidak akan menambah wawasan Allah. Dan memberimu dalam bentuk zakat berarti Untuk mendapatkan kebahagiaan Allah, maka (orang yang melakukan ini) adalah orang yang menggandakan (pahala mereka) ". Menurut Rahman, kitab ini muncul sekitar tahun keempat atau kelima setelah tulisan tangan Muhammad (615 M), dan karena itu termasuk dalam kitab Makkiyah awal. . Ayat ini jelas kontras dengan riba dan Tianyizuo. Yang tersirat dalam ayat ini adalah sifat rentenir yang diekspresikan sebagai mud a'afah, yang tercermin dalam istilah mudiffin yang berlaku bagi orang yang membayar pajak zakat.

Praktik riba mengacu pada sistem yang membayar akun dengan memberikan lebih banyak piutang kepada hutang jika terjadi gagal bayar. Namun, masyarakat Arab saat itu tidak sepenuhnya menghentikan praktik lintah darat, bahkan di kalangan sahabat Nabi pun, praktik ini terus berlanjut hingga Nabi pindah ke Madinah. Kondisi seperti ini akhirnya menjadi ayat yang lebih jelas melarang riba. Ayat-ayat Alquran berarti: Oh, mereka yang beriman, jangan makan memperbanyak riba, jangan takut kepada Allah, sehingga Anda bisa mendapatkan keberuntungan. Bagi Fazlur Rahman (Fazlur Rahman), ketika membongkar kitab suci, larangan riba harus dipahami dalam konteks umum masyarakat Arab. Saat itu, sekelompok orang sedang tertekan secara ekonomi, sehingga menjadi korban eksploitasi oleh orang kaya yang meminjam uang. Dengan kata lain, cita-cita moral kitab suci adalah melarang eksploitasi ekonomi yang lemah, selama bank tidak mengenakan bunga ganda situasi ini bisa membenarkan.

2. Kajian Hukum Islam terhadap Bunga Bank [Menurut Fatwa Majelis Ulama Indonesia [MUI]

Menurut Keputusan Fatwa Nomor 1 MUI Tahun 2004 tentang Bunga, kegiatan mencari uang saat ini sudah sesuai dengan standar riba yang ada pada zaman Nabi Muhammad (Riba

(10)

Nasi'ah). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegiatan pembungaan ini berupa riba dan hukumnya haram. Bank, pasar modal, pegadaian, koperasi, dan lembaga keuangan lainnya, serta perseorangan jelas dilarang menggunakan kegiatan bunga. Karena itu, kesimpulan bisa diambil. Riba pinjaman mengandung unsur memeras yang lemah untuk orang lain. Jika ada uraian, jika si kaya akan menambah kekayaan, si miskin akan tetap miskin. Menurut Profesor A. Manane (Hafnizal, 2017), masih banyak yang menyamakan bunga dengan jual beli padahal itu sangat berbeda. Perbedaan bunga dan jual beli, yaitu:

a. Pengambilan resiko ini membedakan antara jual beli dan bunga. Bagi jual beli normal ialah dasar yang yang di perbolehkan Islam, sementara bunga tetap dan tidak turun naik seperti laba. b. Jika modal di belanjakan dalam suatu perdagangan mendapatkan keuntungan, ini merupakan hasil inisiatif, usaha dan efisiensi yang terkandung dalam bunga hanya tanpa usaha.

c. Perdagangan ialah kegiatan aktif yang menghasilkan manfaat setelah bekerja dengan kesusahan maupun keterampilan yang bisa membuka lapangan kerja dan menumbuhkan ekonomi. sedangkan bunga hanya meningkatkan krisis dan riskan terhadap resiko gejolak moneter.

2. Analisis Teoritis

Istilah riba pertama kali diketahui berdasarkan wahyu yang diturunkan pada masa awal risalah kenabian Muhammad di Mekkah, kemungkinan besar pada tahun IV atau V Hijriah (614/615), atau mungkin dikenal pada awal-awal hijriah. Catatan ini berdasarkan fakta internal Al Qur‟an. Disebutkan:

ٓٓاَنَو

ٓ

مُتۡيَتاَء

ٓ

وِّن

ٓ

اٗبِّر

ٓ

ٓ

ْ

اَيُبۡ َيَِّل

ٓ

ِٓٓف

ٓ

ِٓلََٰوۡن

َ

أ

ٓ

ٓ ِساَّلنٱ

ٓ

ٓ َلَف

ٓ

ٓ

ْ

ايُبۡرَي

ٓ

َٓدنِع

ٓ

ٓهَِّللٱ

ٓ

ٓٓاَنَو

ٓ

مُتۡيَتاَء

ٓ

وِّن

ٓ

ٓ ةَٰي

َكَز

ٓ

َٓنوُديِرُت

ٓ

َٓهۡجَو

ٓ

ِٓ َّللٱ

ٓ

َٓكِئَٰٓ

َلْوُأَف

ٓ

ُٓمُو

ٓ

َٓنيُفِع ۡضُه

ۡ

لٱ

ٓ

( ٩٣ )

ٓ

Artinya: “dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah, maka yang berbuat demikian itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).” (Q.S Ar rum: 39)

Fazlur Rahman (Fazlur Rahman) di sini mengingat pernyataan Alquran, bahwa setiap harta yang dikeluarkan untuk kepentingan masyarakat akan dibayar dua kali oleh Allah. Setelah Nabi Muhammad pindah ke Madinah, Islam mulai mendominasi, dan kemudian setelah pelarangan Kaukasia, ia menulis surat-surat Madagaskar yaitu:

ِٓلۡفُتٓۡمُك

َّلَعَلَٓ َّللٱْٓايُقَّتٱَوٓهٗةَفَعَٰ َضُّنٓاٗفََٰع ۡضَأْٓآَٰيَبِّرلٱْٓايُلُكۡأَتٓ َلَْٓايُنَناَءَٓويِ َّلَّٱٓاَىُّيَأَٰٓ َي

نيُحُ

( ٠٩١ )

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman jangalah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”

(Q.S Al-Imron: 130)

Ada dua jenis riba: nasiah dan fadhl. Riba nasiah adalah pembayaran tambahan yang diminta oleh pemberi pinjaman. Riba fadhl adalah menukar produk dengan produk sejenis, tetapi jumlahnya lebih banyak, karena orang yang menukarkan permintaan ini, seperti emas dengan emas, beras dengan beras, dll. Riba yang disebutkan dalam ayat ini merupakan pengganda Roba

(11)

yang berlaku di masyarakat Arab di zaman kebodohan. Fazlur Rahman (Fazlur Ra hman) mengklasifikasikan larangan rentenir dalam Alquran sebagai huruf Ali Aliran. Surat Ar Ruum itu pendahuluan, kalau kita rangking huruf Al Baqarah menurut abjad, maka hurufnya ada di bagian akhir. Fazlur Ra hman menyimpulkan:

1. Riba dalam Islam datang dengan memakai sistem yang prinsipnya berlipat ganda

2. Karena berlipat ganda dalam prinsipnya, al-Qur‟an menolak untuk mengakui riba sebagai bisnis transaksi

3. Mengizinkan untung secara komersial, al qur‟an mendukung spirit koperasi (kerja sama) sebagai lawan hutang secara berlebihan.

Fazlur Rahman (Fazlur Rahman) juga menawarkan solusi dari segi moral, yaitu dengan saling membantu sesama umat Islam dalam bentuk ajaran Islam, riba dapat dihilangkan. Hal ini hanya bisa dilakukan jika pemerintah dan masyarakat bekerja sama untuk mencapai ekonomi riba dan bebas bunga, karena jika tidak ada solusi untuk menghilangkan bunga bank maka bunga bank akan meningkat dan berlipat ganda. Fazlur Rahman (Fazlur Rahman) mengatakan bahwa Alquran memerintahkan umat Islam untuk membelanjakan lebih banyak kekayaan di jalan Allah, oleh karena itu, mereka "harus dipuji kepada Allah, yang akan dibayar berlipat ganda". Jangan meminjam uang dengan cara yang salah.

Fazlur Rahman (Fazlur Ra hman) meyakini bahwa riba dalam Alquran itu berlipat ganda, yang bermula dari puisi Ali Imron yang menitikberatkan pada moralitas manusia. Wacana rentenir dalam Hadis juga tertuang dalam hadis rentenir itu sendiri, yang juga kontradiktif dan kontradiktif sendiri, seperti Fazlur Rahman Bukhari, Muslim, Nasa'i, Darimi, Ibnu Majah dan Ahmad bin Hambal. Merepresentasikan kontradiksi dalam hadits, hadits-hadits yang tercatat melalui berbagai rantai distribusi tersebut melaporkan bahwa riba dalam hutang dagang atau yang lebih ditekankan ungkapan dari bukhari bukanlah riba, kecuali hutang dagang atau catatan muslim. Selain itu, tidak ada riba jika membayar di tempat. Tetapi pada saat yang sama dengan Sahih Bukhari, umat Islam dan lainnya dalam Sunnah juga memasukkan budaya lain.

Artinya: Dari Abu Sa'id Al Khudri dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Emas ditukar dengan emas, perak ditukar dengan perak, gandum ditukar dengan gandum, jewawut ditukar dengan jewawut, kurma ditukar dengan kurma, garam ditukar dengan garam, (tidak mengapa) jika sama takarannya dan langsung serah terima (tunai). Barangsiapa melebihkan atau lebih, maka ia telah melakukan praktek riba, baik yang mengambil atau yang memberi." (HR Muslim). Riba dijelaskan dalam hadits tersebut, dikenal dengan Riba Fadl (Riba Berlebihan). Bentuk opini bertentangan dinyatakan dalam hadits seperti disinyalir oleh bukhari

(12)

riba dalam hutang piutang atau yang lebih tegas dari Bhukari tidak ada riba kecuali pada hutang piutang atau kata-kata yang direkam oleh Muslim tidak ada riba ketika pembayaran dilakukan di tempat.

Contoh lain dari kontradiksi yang ditemukan dalam materi Hadits tentang rentenir melibatkan penjualan hewan. Malik melapor kepada Ali di Muwatha 'bahwa dia menjual satu unta sebagai kredit dan mendapatkannya dengan imbalan dua puluh unta. Dalam Hadis, tidak ada masalah menukar satu unta dengan dua unta. Bertentangan dengan pandangan yang dianut oleh tradisi periode sebelumnya (seperti Malik dan lain-lain).

Artinya: “Dari Jabri bin Abdullah bahwa Nabi pernah berkata kepadanya bahwa dalam transaksi kredit itu tidak diperbolehkan untuk mengambil dua hewan untuk satu hewan. Namun jika transaksi dari tangan ke tangan hal itu tidak bermasalah (HR At Tirmidzi)”.

Pada akhirnya penulis menyimpulkan bahwa bunga rentenir adalah dua hal yang berbeda, karena Alquran dan Sunnah melarang riba, sedangkan bunga diperbolehkan karena tidak ada pungli terhadap masyarakat. Kepentingan itu sendiri terkandung dalam ekonomi modern, yang memiliki posisi penting dalam mekanisme harga. Hukum dasar yang dia gunakan memang Alquran dan Sunnah, jadi dia melarang riba. Namun, meski memiliki target terhadap maslahah mursalah, tidak ada larangan bunga bank. Penulis tidak sependapat dengan dia yang hanya memandang bunga bank dari sudut pandang moralitas manusia, tetapi dia tidak melihat hikmah mengurangi ayat riba seiring dengan berkembangnya sistem bunga saat ini.

Dalam pandangan penulis, moralitas tidak bisa menjadi rule of law, karena moralitas harus sesuai dengan Alquran dan Hadits. Pada saat yang sama, pandangannya tentang bunga berbeda dengan ayat Alquran dan Sunnah yang menyatakan bahwa membelai sebenarnya tidak merugikan kepentingan bank. Oleh karena itu, pendapat hukumnya tentang bunga bank lemah dan tidak dapat dijadikan acuan karena tidak sesuai dengan prinsip Alquran dan Sunnah.

Kesimpulan

Menurut Fazlur Rahman (Fazlur Ra hman), minat terhadap teori gerakan ganda berbeda dengan riba, dan pemerintah harus menekankannya dalam kegiatannya. Namun demikian, meskipun demikian, ia tetap meyakini bahwa riba haram dan tidak menyetujui bunga bank sebagai haram, namun ia tidak menolak untuk menghapuskan bunga bank, karena kalaupun ada kekurangan yang harus dihilangkan, bunga bank dapat membantu pertumbuhan ekonomi. Ia juga meyakini, jika warga dan pemerintah bersatu dan bekerja sama untuk membangun ekonomi, yang dapat menurunkan bunga bank ke titik terendah atau bahkan nol, maka bunga bank bisa dihilangkan. Dari segi moral, Fazlur Rahman (Fazlur Rahman) juga memberikan solusi yang

(13)

dapat menghilangkan riba dengan saling membantu dalam bentuk zakat. Namun, pemerintah dan warga negara harus turun tangan untuk mewujudkan ekonomi tanpa riba dan bunga.

Fazlur Rahman (Fazlur Rahman) menggunakan hukum dasar tentang riba dari Alquran dan Sunnah, tetapi dia tidak setara dengan bunga dan riba, dalam Alquran dan apa yang dia sebutkan tentang bunga bank Tidak ada dalil dalam hadits. Terlepas dari era saat ini, terlepas dari hukum formal dalam hukum Islam, ia hanya merefleksikan moral dan etika. Namun, ia meyakini bahwa hukum Syariah Islam harus selalu mengikuti perkembangan zaman. Oleh karena itu, menurut sudut pandang penulis, Alquran dan Hadis zaman harus diikuti, bukan Hadis dan Alquran zaman. Alasan mengapa penulis tidak setuju dengan sudut pandangnya adalah karena sudut pandangnya lemah, dan karena tidak ada argumen yang sama dengan Alquran dan Hadis, itu tidak bisa menjadi argumen hukum. Apalagi menurut pandangan penulis, karena adanya bank anti tebusan yaitu bank syariah, hal ini menjadi perdebatan mengenai status hukum kepentingan bank (termasuk riba), apakah halal atau Falun, hal ini masih menjadi perdebatan.

(14)

Bibliografi

Abdullah, M. Amin, P. D. H. M. (2002). Teori Ushul Fiqh Kontemporer. Djogjakarta: Ar-Ruzz Press.

Afdi, M. (2015). Analisis Kinerja Perbankan Syariah Paska Fatwa MUI tentang Keharaman Bunga. 65613.

Arifin, Z., & Salahuddin, M. (2019). Penegakan Hukum Ekonomi Syariah dalam Pergeseran Paradigma Akad Perbankan dan Peran Kesejahteraan Publik. 19(1).

Bohari, A. D., & Syarifuddin. (2020). Comparative thought Ian A Fazlur Rahman and M. Syafii Antonio About Bunga Bank. Jurnal Ekonomi Syariah Indonesia, X(1), 62–68.

Budiarti. (2017). Studi Metode Ijtihad Double Movement Fazlur Rahman Terhadap Pembaruan Hukum Islam. Zawiyah Jurnal Pemikiran Islam.

Damsyik, D. (2013). Reinterpretasi Sumber Hukum Islam : Al-’Adalah, XI(17), 224. http://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/adalah/article/view/263/431

Djuwaini, D. (2015). Fiqh Muamalah,. Pustaka Belajar.

Efa Rodiah Nur. (2015). Riba dan Gharar: Suatu Tinjauan Hukum dan Etika dalam Transaski Bisnis Modern. AL-‘ADALAH, Vol. XII,.

Goleman et al., 2019. (2019). Bunga Bank persspekrif Fazlurrahman dan Wahbah Az-Zuhaili. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–1699.

Gunawan, I. (2013). Kualitatif Imam Gunawan. Pendidikan, 143. http://fip.um.ac.id/wp-content/uploads/2015/12/3_Metpen-Kualitatif.pdf

Hafnizal, V. M. (2017). Bunga Bank (Riba) dalam Pandangan Hukum Islam. At-Tasyri’, 9(1), 47–60.

Hamzawi, A. (2016). Elastisitas Hukum Islam; Kajian Teori Double Movement Fazlur Rahman. INOVATIF: Jurnal Penelitian Pendidikan, Agama Dan Kebudayaan.

Ikhlas, M., Luqman, R., Abdullah, H., Fahimah, N., Razif, M., & Meerangani, K. A. (2018). Hadith Riba Dalam Kitab ’Umdah Al-Ahkam: Analisis Perspektif Fiqh. Jurnal ’Ulwan ’Ulwan’s Journal Jilid, 1, 11–19.

Kalsum, U. (2014). dan para ekonom muslim. Ada perbedaan pendapat di antara. 7(2), 67–83. U Kalsum - Al-’Adl, 2014 - ejournal.iainkendari.ac.id

(15)

Rivai, V., & Arifin, A. (2010). Islamic Banking: Sebuah teori, konsep, dan aplikasi. PT Bumi Aksar.

Said, R. A. R. (2020). Konsep Al- Qur ’ An Tentang Riba Oleh : Rukman Abdul Rahman Said Keywords : Riba , Perspec tif of the Qur ’ an Pendahuluan Al- Qur ’ an adalah kitab suci umat Islam , meraka percaya kepadanya dengan segala konsekuensi logisnya : berpikir , berbuat , dan t. Al-Asas, V(15–16).

Santoso, L. (2016). Nomenklatur Dinamika Pemikiran Hukum Islam. Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman, 11(1), 67–92. https://doi.org/10.21274/epis.2016.11.1.67-92

Setiawan, M. H. (2019). Keistimewaan Fiqh Muamalah /Sistem Ekonomi Islam dengan Sistem Ekonomi Lainnya. 2(Desember), 78–98. www.ejournal.annadwahkualatungkal.ac.id P a g e %7C 78

Sugiyono. (2015). Metode penelitian pendidikan. In Jakarta : mitra wacana merdeka (pp. 286– 288).

Usman, S. S. (2014). Bunga Bank Dalam Perspektif Hukum Islam. Tahkim, X(1), 19–35.

Widryaningsih. (2005). Bab ii tinjauan umum tentang riba dan bunga bank. Konsep Bunga Dan Riba, 12–36.

Referensi

Dokumen terkait

Kebutuhan akan Pengolahan Data dan Informasi tersebut pun semakin tinggi dengan adanya kebutuhan dari pasien untuk mendapatkan Informasi yang cepat dan tepat..

Pada bagian ini dikembangkan suatu sistem matematika yang terdiri dari satu himpunan tak kosong dengan dua operasi biner yang disebut dengan ring (Khusniyah,

2.Memanaskan filtrate dengan methanol dan 2 ml asam sulfat pekat tercium aroma bau metil salisilat (Depkes RI,1979) 3.Asam Benzoat H2SO4+Sublimasi 1.Senyawa benzoate

Gambar 4 menunjukkan bahwa pada daerah merah (620-750 nm) keteraturan pita reflektans dari buah warna hijau, hijau ke putihan, dan putih kekuningan mengalami

Perlakuan strangulasi pada batang utama dan kontrol tidak menghasilkan tunas generatif sehingga tidak ada primordial bunga yang muncul, sedangkan pada perlakuan

Hal ini dibuktikan dari tingkat depresi pada subjek 1 dan 2 pada saat baseline kedua lebih rendah daripada tingkat depresi pada saat baseline awal, sehingga membuktikan bahwa

Pada penelitian ini dilakukan analisis kadar protein, lemak, bioaktif protein, kadar asam lemak dan kadar asam amino.Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa susu kuda

Menurut para ulama, makna kedua hadits ini bukan berarti semua perkara yang baru adalah urusan agama tergolong bid‟ah, karena mungkin ada perkara baru dalam