BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Undang-undang Republik Indonesia nomor 25 tahun 2000 tentang program
pembangunan nasional (Propenas) tahun 2000 - 2004 menyatakan arah kebijakan
pembangunan pendidikan menurut GBHN 1999-2004 dalam kegiatan pokok
pemerataan pendidikan adalah (1) meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan di
SLTP; (2) memberikan subsidi pendidikan bagi sekolah swasta agar sekolah-sekolah
swasta mampu menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas dan memberikan
layanan pendidikan yang dapat dijangkau masyarakat luas; (3) menerapkan alternatif
layanan pendidikan, khususnya bagi masyarakat kurang beruntung (masyarakat miskin,
berpindah-pindah, terisolasi, terasing, minoritas, dan didaerah bermasalah) serta SLTP
terbuka; (4) melaksanakan revitalisasi serta penggabungan sekolah-sekolah agar
tercapai efisiensi dan efektivitas sekolah yang didukung dengan fasilitas yang memadai;
(5) memberikan beasiswa bagi siswa berprestasi dan atau dari keluarga yang tidak
mampu dengan mempertimbangkan peserta didik perempuan secara proporsional; (6)
melakukan pemerataan jangkauan pendidikan prasekolah melalui peningkatan
partisipasi masyarakat dalam menyediakan kemudahan, bantuan dan penghargaan oleh
pemerintah.Peranserta perguruan swasta dalam rangka menyukseskan program pelaksanaan
Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 tahun diharapkan dapat meningkatkan jumlah siswa
dari 1.989.800 pada akhir Pelita V menjadi 2.526.900 pada akhir Pelita VI atau
2
itu sendiri merupakan salah satu program prioritas Departemen Pendidikan Nasional dalam Repelita VI sejalan dengan program prioritas lainnya meliputi peningkatan mutu setiap jenis dan jenjang pendidikan, pendidikan dan penguasaan IPTEK, keterkaitan dan
kesepadanan {link and match).
Dari data perkembangan SLTP swasta seluruh Indonesia dari tahun 1990/1991 sampai dengan 1994/1995 dinyatakan bahwa telah terjadi penurunan jumlah siswa yang dibarengi dengan penurunan jumlah sekolah pada tahun 1990/1991 dan 1991/1992 serta angka kritis terjadi pada tahun 1992/1993 dengan jumlah sekolah sebanyak 10.233 sekolah dan jumlah siswa sebanyak 1.853.372 orang yang semula pada tahun 1990/1991 berjumlah 13.790 sekolah dengan siswa berjumlah 2.240.226 orang. Pada tahun 1993/1994 terjadi kenaikan lagi menjadi 10.469 sekolah dan jumlah siswa 1.986.800 orang. Walaupun terjadi kenaikan jumlah sekolah (pembukaan sekolah baru), namun
masih ada SLTP swasta yang tutup. Pada tahun 1994/1995 jumlah SLTP swasta
meningkat lagi dan perlu dipertahankan terus kenaikannya, untuk memenuhi program
pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 tahun.
Pada umumnya tutupnya SLTP swasta disebabkan jumlah siswa yang tinggal sedikit. Salah satu penyebabnya adalah keadaan ekonomi orangtua siswa yang masih
lemah. Kita ketahui bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam menyekolahkan anaknya dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain faktor geografis dan faktor ekonomi. Kendala geografis yang umumnya dihadapi, yaitu jarak antara tempat tinggal
siswa dengan sekolah cukup jauh, sangat berpengaruh terhadap tingkat kehadiran siswa, phisik dan psikis siswa dalam proses belajar mengajar dikelas. Namun kendala geografis ini dapat diatasi antara lain melalui SLTP Terbuka dan Program Kejar Paket
3
yang dekat. Karena ekonomi keluarga yang tidak mencukupi kebutuhan minimal sehari-hari, menyebabkan anak usia sekolah tidak dapat meneruskan belajarnya hingga tamat,
apalagi untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Dalam mengantisipasi keadaan
ini, pemerintah sedang menggalakan program seperti orangtua asuh, anak angkat dan
beasiswa baik yang dilakukan perorangan maupun yang diselenggarakan oleh berbagai
instansi pemerintah dan swasta.
Secara kuantitatif maupun kualitatif, guru-guru sekolah swasta masih sangat kurang memadai. Data statistik sekolah swasta tahun 1994/1995 menunjukkan jumlah guru pada SLTP swasta seluruh Indonesia terdiri dari guru Pegawai Negeri
Sipil/Departemen Pendidikan Nasional (PNS-DPK) sebanyak 25.717 orang, guru tetap
yayasan (GTY) sebanyak 50.896 orang dan guru tidak tetap (GTT) sebanyak 84.613 orang. Bila kita perhatikan ratio ketiga jenis guru tersebut, jumlah GTT jauh lebih
tinggi. Keadaan seperti ini dalam jangka waktu panjang akan merugikan sekolah swasta,
karena sering terjadi pergantian GTT sehingga mempengaruhi keadaan proses belajar
mengajar, yang pada akhimya akan berpengaruh terhadap kualitas lulusan.
Secara kualitatif, masih ada guru sekolah swasta mengajar bidang studi yang tidak sesuai dengan kewenangan dan kemampuannya. Disamping itu masih terdapat pula gum-guru (khususnya didaerah) yang memiliki latar belakang tingkat pendidikan yang tidak kualifaid untuk mengajar di SLTP. Hal ini pada akhimya akan juga
berpengaruh terhadap kualitas lulusan sekolah yang bersangkutan. Kekurangan guru
pada sekolah swasta menjadi perhatian serius instansi pembina sekolah swasta antara lain Direktorat Sekolah Swasta, apalagi dengan adanya kebijaksanaan pembatasan bantuan guru PNS-DPK bagi sekolah swasta. Oleh karena itu Direktorat Sekolah Swasta terus berupaya lebih mendorong Perguruan swasta agar lebih mandiri dan lebih
meningkatkan kualitasnya. Sebagai gambaran bahan perbandingan penyelenggaraan SLTP swasta dengan SLTP Negeri dilingkungan Kantor Wilayah Depdiknas Propinsi
Jawa barat, dapat ditunjukkan pada:
Tabel 1.1
Jumlah Sekolah, Jumlah Rombel, Dan Jumlah Siswa
No Nama
Sekolah Rombel Siswa
Negeri Swasta Jlh. Negeri Swasta Jlh. Negeri Swasta Jlh.
1 Kab. Serang 55 42 97 817 283 1100 36707 11849 48556
2 Kab. Lebak 44 7 51 545 49 594 21952 1007 22959
3 Kab. Pandeglang 40 5 45 434 41 475 19330 580 19910
4 Kab. Tangerang 52 176 228 1160 727 1887 53501 60285 113786
5 Kab. Bogor 57 214 271 920 2209 3129 46664 66748 U3412
6 Kod. Bogor 17 68 85 337 681 1018 15546 21434 36980 7 Kab.Sukabumi 51 44 95 688 388 1076 32079 9685 41764 8 Kod. Sukabumi 15 17 32 213 113 326 9438 2760 12198 9 Kab, Cianjur 52 31 83 761 171 932 35052 6522 41574 10 Kab. Bandung 77 173 250 1806 1238 3044 84582 53663 138245 11 Kod. Bandung 51 164 215 1182 1198 2380 53480 52381 105861 12 Kab. Sumedang 56 14 70 700 94 794 29399 3865 32264 13 Kab. Garut 62 44 106 673 153 826 29601 7749 37350 14 Kab. Tasikmalaya 79 38 117 1193 6603 7796 49686 5756 56442 15 Kab. Ciamis 79 12 91 1166 42 1208 47018 1446 48464 16 Kab. Kuningan 48 12 60 796 41 837 33589 1372 34961 17 Kab. Majalengka 52 4 56 772 40 812 31991 417 32408 18 Kab. Cirebon 45 50 95 876 369 1245 40722 14153 54875 19 Kod. Cirebon 18 23 41 788 125 913 10541 4307 14848 20 Kab. Indramavu 52 50 102 792 243 1035 34981 8591 43572 21 Kab. Purwakarta 26 5 31 415 31 446 20967 1115 22082 £.1. Kab. Subang 40 26 66 818 106 924 36409 3732 40141 23 Kab. Karawang 41 24 65 936 148 1084 41100 5838 46938 24 Kab. Bekasi 51 101 152 1391 9732 11123 63103 30498 93601 Jumlah 1160 1344 2504 18488 24785 45004 877438 376743 1254191
Sumber: Dokumentasi Bidang Pendidikan Menengah Umum (2000).
Pada tabel di atas, menunjukkan bahwa secara keseluruhan baik dari segi jumlah sekolah, jumlah rombongan belajar, maupun dari segi siswa semuanya menampakkan bahwa yang terbanyak adalah pada sekolah swasta dengan rasio seperti dibawah ini:
Tabel 1.2
Rasio SLTP Negeri dan Swasta
No. Aspek 1994/1995 1995/1996 1996/1997 1997/1998
1 Murid : Sekolah 988 1 1065 : 1 1073 1 1125 1
2 Murid : Guru 37 1 32: i 43 1 43 1
3 Guru : Sekolah 51 1 53 : 1 55 1 53 1
4 Murid : Rom Bel 86 1 83: 1 73 1 85 1
5 Pengawas : Sekolah 28 1 27: 1 25 1 28 1
6 Pengawas: Guru 268: 1 260: 1 264: 1 267 1
Secara kuantitas Pemerintah mengharapkan bahwa tingS
minimal bangsa Indonesia sampai tingkat SLTP. Keberhasilan
sembilan tahun tidak dapat terpisahkan dari keberhasilan pelaksanaan Wajar Dikdas 6 tahun yang sudah dianggap berhasil hal ini terbukti dengan Angka
Partisipasi Kasar (APK), maupun Angka Partisipasi Murni (APM) Jawa Barat.
Adapun gambaran nyata kualifikasi berdasarkan keberhasilan hal tersebut dapat
ditunjukkan pada tabel berikut.
Tabel 1.3
Perkembangan Angka Partisipasi Kasar (APK) SLTP
No. Tahun Pelajarart Jumlah Penduduk
Usia 13- 15 Tahun SLTP Jumlah Persentase 1 1993/1994 2602463 1277809 49.10 2 1994/1995 2677827 1380420 51.55 3 1995/1996 2750481 1533943 55.77 4 1996/1997 2789027 1665886 59.73 5 1997/1998 2726988 1767361 64.81
Sumbei': Dokumentasi Bidang Pendidikaia Menengah 1Jmum (2000)
Pada tabel di atas, menunjukkan bahwa perkembangan angka partisipasi kasar SLTP dari tahun ketahun terlihat adanya peningkatan, meskipun peningkatan tersebut tidak terlalu besar, namun menunjukkan adanya kemajuan. Begitu pula
terhadap perkembangan angka partisipasi mumi seperti dibawah ini:
Tabel 1.4
Perkembangan Angka Partisipasi Mumi (APM) SLTP
No. Tahun Pelajaran Jumlah Penduduk
Usia 13-15 Tahun SLTP Jumlah Persentase 1 1993/1994 2602483 906705 34.84 2 1994/1995 2677827 954913 35.66 -> 1995/1996 2750481 1042982 37.92 4 1996/1997 2789027 1385031 49.66 5 1997/1998 2726988 1487845 54.56
Permasalahan atau pertanyaan adalah apakah keberhasilan dari segi
kuantitas tersebut sudah diimbangi dengan peningkatan mutu dalam arti luas,
sementara ini ada citra yang tumbuh pada masyarakat bahwa besaran angka Nilai Ebtanas Mumi (NEM) sebagai indikator pengukuran kualitas hasil didik. Padahal itu hanya salah satu indikator dari sekian banyak standar indikator mutu, itu pun
apabila sistem pengelolaan "NEM" dilaksanakan dengan baik dan benar. Masalah
yang dihadapi dalam mutu pendidikan tingkat SLTP antara lain terjadinya
kesenjangan kualitas peserta didik diantara sekolah. Hal ini terbukti dengantimbulnya istilah "sekolah favorit", "SLTP Unggul", atau juga sekolah pinggiran
dan perkotaan. Dilain pihak kesenjangan kualitas juga terjadi setelah siswa SLTP memasuki jenjang sekolah yang lebih tinggi (SMU). Yang menjadi pertanyaan adalah dimanakah letak kelemahan peningkatan mutu pendidikan. Banyak faktoryang mempengaruhi terhadap rendahnya mutu pendidikan tersebut antara lain
Pertama: Sumber Daya Manusia (gum) yang belum memenuhi kebutuhan baik kuantitas maupun kualitas. Hal ini terbukti bahwa Jawa Barat masih kekurangan guru sebanyak 53.186 orang, sedangkan secara kualitatif kenyataan menunjukkan bahwa belum seluruh gum memenuhi syarat untuk mengajar. Kedua: Kurikulum yang belum sesuai dengan tuntutan kebutuhan masih bersifat sentralistik (penyeragaman) sehingga akan mengarah pada berfikir indoktrinier, sedangkanpengembangan yang bersifat lokal masih belum dikembangkan secara maksimal.
Ketiga: fasilitas (sarana prasarana) yang belum memadai, hal ini terbukti dengan
kerusakan gedung SLTP di Jawa Barat yang mencapai 51 %, Keempat: Danapengelolaan pendidikan yang belum mencukupi kebutuhan, disamping itu masih
terdapat faktor-faktor lain diantaranya akuntabilitas dan partisipasi masyarakat
masih rendah. Hambatan-hambatan tersebut apabila dalam pemecahannya hanya
memprioritaskan besaran anggaran dari pemerintah, sangat mustahil dalam waktu
yang relatif singkat dapat terlaksana, hal ini dapat dilihat dalam realisasi anggaran beberapa tahun silam sampai dengan tahun anggaran 2000 sbb:
(a) Rehabilitasi bangunan sekolah yang setiap tahunnya hanya berkisar 4 - 6 % maka rehabilitasi bam selesai dalam jangka waktu 10 sampai dengan 15 tahun; (b) Adanya perbaikan peningkatan anggaran dana operasional, tapi hal ini jangan terlalu diharapkan mengingat kondisi keuangan negara yang dalam keadaan
krisis;
Keadaan SLTP swasta pada saat ini sangat bervariasi, mulai dari yang terbaik (lebih baik dari SLTP Negeri) sampai sangat memprihatinkan. Yang terbanyak dijumpai justru ada dalam kondisi sangat memprihatinkan. Secara Nasional jumlah SLTP swasta mengalami kemunduran. Dan 2,1 juta siswa tahun 1991 menjadi 1,9 juta siswa pada tahun 1993. Begitu juga jumlah sekolah SLTP swasta menumn tajarn dari 13.710 sekolah menjadi 10.505 sekolah pada periode
yang sama. Berdasarkan data dari Balitbang yang tertuang dalam Memorandum of Understanding antara Directorate General ofPrimary dan Secondary Education (DGPSE) dan Bank Pembangunan Asia/Asian Development Bank (ADB) dalam
halaman lima tentang keadaan dan permasalahan umum SLTP swasta di Jawa Barat ditemukan beberapa hal diantaranya: (1) Jumlah sekolah menunjukkan berkurang; (2) Jumlah siswa menumn; (3) Banyak memiliki gum tidak tetap; (4)
orangtua siswa; (5) Manajemen kepala sekolah lemah, banyak stikua
tenaga tidak tetap; (6) Kemampuan mengajar gum iemah; p
penyelenggara sekolah tidak memiliki cukup misi dan visi pendidikan.
B. Gambaran Umum Bagian Proyek Peningkatan SLTP swasta 1. Bidang Garapan Proyek
Bidang garapan proyek didasarkan pada SLTP swasta di Lima (5) Propinsi
termasuk Jawa barat, Jawa Timur, Lampung, Kalimantan Selatan dan SulawesiSelatan. Masing-masing Propinsi dipilih berdasarkan kepada rendahnya angka
rata-rata pemmat kepada SLTP swasta dan keberadaan jumlah SLTP swasta yangsangat besar. Komponen dan sub komponen secara total diimplementasikan pada
sebelas kabupaten di Lima (5) propinsi. Untuk meningkatkan kepentingan tersebut
maka proyek SLIP swasta mengarahkan bantuannya kepada anak-anak yang
miskin dan pesantren, yang kegiatannya berada dibawah sub komponen seperti:
pelatihan kemampuan dan metodologi guru, pelatihan tenaga perpustakaan,
pemberian gum bantu, pemberian beasiswa, pemberian pinjaman sepeda, subsidi
rehabilitasi perpustakaan, dan subsidi rehabilitasi laboratonum IPA. Sedangkan komponennya akan menyangkut pengembangan staf, bantuan pada siswa, dan fasilitas pendidikan di lima propinsi. Proyek SLTP swasta ini akan menjadi model2. Target Proyek Peningkatan SLTP Swasta di 5 (lima) Propinsi Tabel 1.5
Target Proyek Peningkatan SLTP Swasta di Lima Propinsi
No Kegiatan Jabar Jatim Lampung Kalsel Sulsel Jumlah
1 Sekolah Sasaran 337 198 266 44 177 1.022 2 Pelatihan guru 3.018 1.716 2.168 335 1.363 8.600 3 Pemberian Guru Bantu
Sementara 561 379 419 74 307 1.740
4 Pemberian Beasiswa 36.702 20.517 17.427 3.357 11.997 90.000 5 Pemberian Pinj. Sepeda 800 400 350 100 350 2000 6 Rehabilitasi Perpustakaan 141 83 94 16 67 401 7 Rehabilitasi
Laboratorium 196 117 145 24 99 581
Sumber: Dokumentasi ADB 1995
Berdasarkan sumber dari dokumentasi ADB 1995 dalam Project Administration
Memorandum, dinyatakan bahwa target selumh kegiatan proyek yang terbesar
adalah dilimpahkan kepada proyek Jawa Barat.
3. Target Proyek Peningkatan SLTP swasta Jawa Barat
Tabel 1.6
Target Proyek Peningkatan SLTP Swasta Jawa Barat
No Program 96/97 97/98 98/99 99/00 00/01 Realisasi Keseluruhan Pelatihan auru 1017 1659 2676 3018 Tipe A 1017 1017 1235 Tipe B 468 468 580 Tipe C 297 297 308 Tipe D 515 515 515 Tipe E 379 379 380
Guru Bantu Sementara 3J 109 121 260 561
2 Dati II 20 87 87 194 383 IDT 6 9 22 37 125 Ponpes 4 13 12 29 53 Pemberian Beasiswa 6041 7850 34063 47954 36702 3 Dati II IDT Ponpes 3684 1717 640 3685 2967 1198 18278 11750 4035 25646 16434 5873 4 Piniaman Sepeda 800 800 800
Rehabilitasi & Perpustakaan
a. perpustakaan 40 50 50 140 141 Dati II 0 41 39 60 80 77 IDT 22 9 9 40 40 5 Ponpes 19 0 2 21 24 b. Laboratorium 65 48 83 196 196 Dati II 4 43 75 55 122 121 IDT 45 0 4 49 47 Ponpes 16 5 4 25 28 Pelatihan Tug.Perpustakaan 171 171 6 Dati II IDT Ponpes 105 41 25 105 41 25 186
Pada tabel di atas, menunjukkan bahwa pelaksanaan kegia$
dilakukan oleh proyek Jawa Barat tidak lepas dari adanya target keseli
telah ditetapkan oleh proyek pusat, namun pada kenyataannya pelaksanaan kegiatan di Jawa Barat banyak mengalami hambatan dalam mencapai jumlah target keseluruhan tersebut, hal ini disebabkan karena adanya sumber daya
manusia yang terbatas dan kurang memadai, kriteria sasaran terlalu tinggi, serta
manajemen proyek yang mengalami beberapa pergantian pimpinan.
4. Sumber Dana
Sumber dana pemberian bantuan bagi SLTP swasta di 5 (lima) Propinsi rintisan proyek berasal dari Loan ADB No 1359-INO melalui bagian proyek peningkatan SLTP swasta daerah dengan perbandingan 5 % berasal dari dana A.DB dan 95% berasal dari APBN Mumi, sedangkan sumber subsidi bagi imbal swadaya dalam katagori spesial program (Asisstance Scheme for facilities Improvement) dengan perbandingan dana 15% dari ADB dan 85% dari APBN
K/tiiT-ni uQtiit r*alal^eQt>Qatir»\ra rn^lqtiii ral/aninrr V/Viiione
5. A!ur Pemberian bantuan
Pertama; ditingkat pusat direktur sekolah swasta membentuk tim pemberian bantuan yang terdiri atas bagian keuangan Setditjen Dikdasmen dan BMPS tingkat pusat. Kedua; ditingkat wilayah Kepala Kantor Depdikbud membentuk Tim pelaksana pemberian bantuan yang terdiri dari bagian keuangan,
BMPS tingkat propinsi. Ketiga; ditingkat sekolah kepala sekolah membentuk panitia kecil yang terdiri dari kepala sekolah, seorang pengurus yayasan dan
11
kepada Kepala Kantor Wilayah Depdikbud melalui pengelola bagian proyek peningkatan SLTP swasta daerah (PPIU) dengan tembusan Kepala Kandep Dikbud setempat. Kelima; Kepala Kantor Wilayah Depdikbud setelah menerima usulan calon penerima bantuan dari pengelola bagian proyek peningkatan SLTP
swasta daerah melanjutkan usulan kepada Direktur sekolah swasta. Keenam;
Direktur sekolah swasta menyetujui nama sekolah dan jumlah calon penerima bantuan yang diusulkan Kepala Kantor Wilayah Depdikbud. Berdasarkan
persetujuan Direktur Sekolah swasta, Kepala Kantor Wilayah menetapkan nama
sekolah melalui surat keputusan. Ketujuh; Surat Keputusan diberikan kepada sekolah dengan tembusan Kepala Kandep/Kanin Dikbud Kodya/Kabupaten setempat. Terakhir Pemimpin bagian Proyek Peningkatan SLTP swasta Daerah melaporkan pelaksanaan pemberian bantuan kepada Direktur Sekolah swasta
Pusat Jakarta (CPIU).
6. Evaluasi dan pelaporan
Pemberian bantuan akan dimonitor pelaksanaannya dan dievaluasi
dampaknya terhadap peningkatan mutu SLTP swasta oleh tim yang ditunjuk oleh
Direktorat Sekolah swasta melalui Benefit Monitoring dan Evaluasi Proyek.
Semua pertanggungjawaban dana yang telah digunakan untuk bantuan dengan diketahui oleh Kepala Kanwil Depdikbud dilaporkan oleh bagian Proyek Peningkatan SLTP swasta daerah (PPIU) kepada Bagian Proyek Peningkatan SLTP swasta Pusat Jakarta (CPUI). Semua laporan dana bantuan dari setiap PPIU
dilaporkan oleh CPIU ke ADB dengan diketahui oleh Direktur Sekolah swasta,
12
C. Permasalahan Penelitian
Bertolak dari telaahan konseptual dan empiris dalam uraian latar belakang, maka penelitian ini akan memfokuskan pada rumusan sebagai berikut:
"Seberapa Jauh Tingkat Efektivitas Implementasi Pemanfaatan Dana Bantuan Bank Pembangunan Asia (ADB) dalam Peningkatan Mutu SLTP swasta?"
Untuk menjabarkan rumusan masalah diatas maka dirumuskan pertanyaan
penelitian sebagai berikut:
(1) Bagaimana pola perencanaan pemanfaatan dana bantuan dalam peningkatan
mutu SLTP swasta?
(a) Apa yang menjadi landasan kebijakan dari pemanfaatan dana bantuan? (b) Bagaimana prosedur pemanfaatan dana bantuan dilaksanakan?
(c) Bagaimana sasaran umum dan khusus pemanfaatan dana bantuan
dilaksanakan?
(2) Bagaimana pola pelaksanaan pemanfaatan dana bantuan dalam peningkatan
mutu SLTP swasta?
(a) Bagaimana cara dana bantuan dimanfaatkan dalam pengembangan staf?
(b) Manfaat apa yang terkandung didalam bantuan siswa?
(c) Bantuan apa yang bisa dimanfaatkan dari fasilitas pendidikan?
(3) Faktor apa saja yang mendukung dan menghambat pemanfaatan dana bantuan
dalam peningkatan mutu SLTP swasta?
(4) Peluang dan tantangan apa saja yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan
13
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran seberapa jauh tingkat Implementasi Efektivitas Pemanfaatan Dana Bank Pembangunan Asia (ADB) dalam Peningkatan Mutu SLTP Swasta. Berdasarkan tujuan tersebut, maka tujuan
pokok yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah:
(1) Mendeskripsikan pola perencanaan pemanfaatan dana bantuan Bank
Pembangunan Asia (ADB) dalam peningkatan mutu SLTP swasta;
(2) Mendeskripsikan pola pelaksanaan pemanfaatan dana bantuan Bank
Pembangunan Asia (ADB) dalam peningkatan mutu SLTP swasta;
(3) Mengidentifikasi faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pemanfaatan dana bantuan Bank Pembangunan Asia (ADB) dalam
peningkatan mutu SLTP swasta;
(4) Mengidentifikasi keunggulan dan kelemahan dari pemanfaatan dana bantuan
dalam peningkatan mutu SLTP swasta
2. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat:
(1) Sebagai masukan terhadap pemerintah khususnya yang berkaitan dengan pendidikan pada masyarakat di SLTP swasta dalam kaitannya dengan pemanfaatan Dana Bank Pembangunan Asia (ADB) yang efektif dan efisien;
(2) Sebagai salah satu mjukan dalam pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan yang berhubungan dengan SLTP swasta serta pemanfaatan dana
14
(3) Dapat digunakan secara praktis dilapangan pendidikan, khususnya sebagai
model alternatif untuk wilayah atau kabupaten lain yang karakteristiknya sama
dengan keadaan di Propinsi;
(4) Menjadi bahan pertimbangan bagi para penerima bantuan tentang pengelolaan pemanfaatan bantuan dalam program pengembangan staf, bantuan pada siswa,
fasilitas pendidikan secara tepat, efektif dan efisien.
E. Premis
Untuk mengukur dampak pemanfaatan dana bantuan terhadap peningkatan
mutu SLTP swasta maka dipandang perlu diajukan beberapa asumsi bahwa: (1) Manfaat langsung dari setiap pengeluaran biaya pendidikan akan berdampak
positif dan signifikan jika digunakan untuk keperluan yang langsung berhubungan dengan pelaksanaan proses belajar mengajar, seperti bahan dan alat-alat pelajaran, sarana kelas, dan bangunan sekolah (Mauren Woodhall, 1970, hal 14). Lebih jauh dikatakan oleh Woodhall bahwa refleksi dari manfaat biaya dapat dilihat dan ketepatan waktu dan kemampuan yang diperoleh siswa dalam menyelesaikan studi. Untuk mengetahui manfaat langsung dari biaya, peneliti menggunakan analisis keefektivan biaya keluaran pendidikan. Keefektivan biaya juga berkaitan dengan persoalan bagaimana dana seharusnya dialokasikan secara tepat untuk keperluan pendidikan.
(Manuel Zymelmen, 1973). Konsep tersebut didukung oleh hasil studi Bank
Dunia (1993) dibeberapa negara berkembang yaitu di Indonesia, Hungaria, Trinidad, Tabago, dan Venezuela bahwa biaya memberikan efek positif
15
terhadap proses belajar mengajar yang digunakan untuk meningkatkan
pengetahuan guru, pengadaan buku pelajaran dan bahan-bahan pengajaran; (2) Peningkatan mutu pendidikan mempakan fungsi dari sejumlah faktor input,
proses, dan konteks. Biaya pendidikan yang dipergunakan untuk menyediakan perangkat input akan memberikan dampak terhadap mutu melalui fungsi alokasi yang tepat, adil (equitable) dan pendayagunaan secara efisien (Bank
Dunia, 1995);
(3) Pendidikan diperhitungkan sebagai faktor penentu keberhasilan seseorang, baik secara sosial maupun ekonomis. Nilai pendidikan bempa aset moral adalah bentuk kemampuan, kecakapan, keterampilan yang diperoleh melalui pendidikan dipandang sebagai suatu investasi. Pandangan ini diarahkan atas premis human capital (sumber daya manusia sebagai unsur modal).
Berdasarkan premis tersebut besarnya nilai biaya yang dipergunakan untuk
pendidikan dipandang sebagai investasi yang ditanam dalam pendidikan perlu memperhitungkan nilai manfaat (benefit) atau keuntungan dimasa yang akan
datang. (Theodore W. Schultz: Cohn, 1979);
(4) Pemberian bantuan kepada sekolah swasta ditujukan untuk membantu
meningkatkan peran serta dan tanggungjawab masyarakat dalam ikut serta
menyelenggarakan pendidikan nasional, mendorong terwujudnya
penyelenggaraan sekolah swasta secara mandiri, serta meningkatkan mutu
16
F. Kerangka Pikir Penelitian
Paradigma memiliki pengertian sebagai suatu model dalam teori ilmu
pengetahuan dan kerangka pikir. Paradigma dalam penelitian merujuk pada kerangka berfikir yang didasarkan pada posisi masalah untuk mengarahkan
penelitian.
Kerangka pikir mempakan cara berpikir peneliti dalam memahami realitas objek yang akan diteliti. Aspek objek yang diteliti sangat ditentukan oleh konsep dasar pemikiran peneliti dalam memberikan kerangka pemikiran yang akan dimmuskan. Kerangka berpikir inilah yang akan menjadi pijakan bagi peneliti untuk menjelaskan aspek-aspek dari efektivitas pemanfaatan dana bantuan bank
pembangunan asia (ADB) dalam peningkatan mutu SLTP swasta.
Pemanfaatan Dana Bantuan ADB yang bergerak dibidang layanan
pendidikan dilakukan melalui pembinaan dan pengembangan keefektifan bantuan yang ditugaskan pada kantor wilayah (Kanwil). Sebagai unit pelaksana teknis yang ditugaskan melakukan pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia yang berkaitan dengan layanan pendidikan maka strateginya kantor wilayah
bemsaha mewujudkan peningkatan mutu pendidikan sekolah kedalam
perencanaan, pelaksanaan serta pemberdayaan kegiatan secara efektif.
Rumusan strategi tersebut mempakan landasan utama dalam
mengoperasionalkan segenap kebijakan kantor wilayah kepada sekolah dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pemanfaatan dana bantuan pemerintah. Produk pengembangan sumber daya manusia melalui
17
memanfaatkan bantuan yang ada yang telah diterima oleh sekolah sekaligus
meningkatkan kualitas individu dan sekolah menuju kepada kemandirian.
Manakala hal tersebut dilaksanakan secara berkelanjutan tentu saja akan memberikan kontribusi yang baik terhadap peningkatan mutu pendidikan SLTP swasta.
Adapun berbagai komponen yang mempengaruhi proses pemanfaatan dana
bantuan dalam peningkatan mutu SLTP swasta adalah:
(1) Raw Input (Masukan Siswa)
Sebagian besar SLTP swasta memperoleh peserta didik dilihat dari apek akademik, peserta didik dibawah standar SLTP Negeri, implikasinya calon
yang tidak dapat diterima di SLTP Negeri sebagian besar ditampung oleh
SLTP swasta;
(2) Instrumental Input (Tenaga Kependidikan dan Sarana Prasarana)
Secara empiris sebagian besar (80%) sekolah swasta memanfaatkan sisa waktu para gum yang mengajar disekolah Negeri. Konsekuensinya pelaksanaan
proses belajar mengajar yang dilaksanakan oleh gum yang bersangkutan sudah
mengalami tingkat kelelahan tinggi, dan rasio relevansi yang kurang memadai.Sarana dan Prasarana belajar, khususnya yang berkaitan dengan kelengkapan a!at praktek laboratorium, perpustakaan dan media pendidikan sangat terbatas;
(3) Proses
Implikasi dari kondisi siswa, tenaga kependidikan serta sarana dan prasarana yang bervariasi, maka pembelajaran di SLTP swasta dapat diduga hanya sebagian kecil saja yang telah sesuai dengan harapan orangtua dan masyarakat;
18
(4) Hasil
Hanya sebagian kecil lulusan SLTP swasta yang dapat memasuki SMUN berkualitas, sedangkan sebagian besar lagi ada kecenderungan memasuki SLTA swasta, atau tidak melanjutkan sama sekali ke pendidikan yang lebih
tinggi; (5) Lingkungan
Budaya dan kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan SLTP Negeri masih dominan, dengan asumsi dari segi kualitas lebih baik, sumbangan pembiayaan pendidikan lebih murah, sehingga SLTP swasta belum menjadi
perhatian dan kepercayaan sebagian besar masyarakat.
Dari ke lima faktor yang dikemukakan, memberikan dampak terhadap percepatan peningkatan kualitas. Dimana perkembangan tersebut terjadi karena adanya perubahan yang berkaitan dengan faktor sosial, ekonomi, budaya, teknologi dan informasi. Implikasi terhadap penyelenggaraan SLTP swasta adalah bagaimana mengoptimalkan layanan pendidikan sesuai dengan tuntutan internal
dan ekstemal. Suatu harapan besar dari masyarakat terhadap pelayanan
pendidikan yang diberikan adalah memenuhi kepuasan dalam proses dan hasil
serta dirasakan manfaatnya oleh lingkungan sebagai konsumen, sebagai nilai sosial dan ekonomi. Dengan demikian sekolah yang mampu mengembangkan
kemandiriannya akan memperoleh kepercayaan besar dari masyarakat dimasa
yang akan datang.
Menyadari pentingnya melakukan analisis sistem dalam pemanfaatan dana
19
dapat dijadikan masukan untuk mengidentifikasi kondisi objektiftentang relevansi
dan efisiensi layanan pendidikan. Implikasinya hasil dari evaluasi dan analisis sistem dalam layanan pendidikan melalui pemanfaatan dana bantuan akan berfungsi sebagai umpan balik bagi sekolah dan lembaga penyelanggara kepada arah pemmusan strategi pengembangan sumber daya manusia yang bermanfaat.
Paradigma penelitian dapat ditunjukan pada gambar 1 berikut ini:
I
EFEKTIVITAS PEMANFAATAN DANA BANTUAN
BANK PEMBANGUNAN ASIA (ADB) DALAM
PENINGKATAN MUTU SLTP SWASTA
ADB
KANWIL DAN PPIU
STRATEGI PEMANFAATAN DANA SLTP SWASTA PROSES PEMANFAATAN DANA HASIL PEMANFAATAN DANA Feed Back ALTERNATIF STRATEGI PEMANFAATAN DANA BANTUAN
DIMASA YANG AKAN DATANG
T
SWOT