PRESENTASI KASUS
ILMU KEDOKTERAN JIWA DAN PERILAKU
Pembimbing : dr. Mikael Bharja Sp.KJ
Penyaji : Satyadharma Michael Winata 2010-061-022
Marcella Aprilia L 2010-061-150
Tanggal Pemeriksaan : 30 April 2012
I. Identitas Pasien
Nama : Tn. Gunawan
Tempat Tanggal Lahir : 1962
Umur : 50 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : KS. Tubun
Tingkat Pendidikan Terakhir : SD
Kebangsaan : Indonesia
Suku :
Agama : Islam
Status Perkawinan : Duda (cerai)
Status Dalam Keluarga : Anak ketiga dari tiga bersaudara
: Jumlah saudara laki-laki satu orang. satu orang saudara laki-laki meninggal waktu kecil,
Status dan Jenis Pekerjaan : tidak bekerja
Ayah : Toko listrik
Ibu : Ibu Rumah Tangga Tingkat Pendidikan Orangtua : Ayah :
I. II. RIWAYAT PSIKIATRIK
1. Autoanamnesis: 30 April 2012, Di Rumah Sakit Jiwa dan Saraf Darmasakti. 2. Alloanamnesis: dr. Yuli selaku dokter yang merawat
Auto Anamnesis
Pasien pertama kali menggunakan putau pada umur 11 tahun karena dibohongi bahwa obat tersebut dapat menghilangkan sakit kepala oleh tetangganya. Di sekitar rumah pasien banyak pengguna maupun bandar. Pada awalnya putaw dipakai dengan cara diminum sebanyak 1 paket (0,1 gr). Setelah mencoba putaw, ternyata pasien merasa nikmat dan meneruskan memakai putau setiap hari.
Saat itu 8 paket berharga Rp. 10.000,-. Di sekolah, pasien dan teman-temannya juga menggunakan putaw untuk bersenang-senang. Di rumah, saudara kandung penderita (kakak tertua) juga menggunakan putaw dengan cara yang sama. Pasien meneruskan pemakaian putaw hingga tahun 1999 (pasien berusia 19 tahun) karena pasien dimasukkan ke pesantren oleh orang tua. Selama di pesantren pasien bersih dari putaw, namun kehendak untuk mengkonsumsi putaw tidak pernah hilang. Pada tahun 2001, begitu keluar dari pesantren, pasien mulai meminum alkohol, namun belum meneruskan pemakaian putaw. Minum-minum dilakukan bersama teman-teman dengan mencampur vodka dan bir, jumlah yang diminum ± 10 gelas sehari, bila sedang ingin mabuk, pasien akan minum sampai mabuk. Pasien tidak mengalami kesulitan keuangan karena saat minum-minum dilakukan dengan mengumpulkan uang bersama teman-temannya. Pasien juga terkadang meminum inex 1 pil, bila ingin begadang, tapi frekuensinya hanya ±1 kali sebulan. Pada tahun 2001, pasien menikah untuk pertama kalinya, dan pernikahan tersebut membuahkan 1 orang anak pada tahun 2002. Setelah menikah, pasien tetap minum alkohol, namun tidak mengkonsumsi putaw. Pada tahun 2004, pasien mengalami masalah dengan istrinya. Pasien dengan istri pasien berpisah karena istri tidak ingin ikut pasien merantau ke Jakarta. Masalah ini membuat pasien stress dan mengkonsumsi putaw diselingi alkohol. Setelah mengkonsumsi pasien tidak dapat berhenti, karena bila berhenti, pasien akan mengalami nyeri pada seluruh tubuh, mual, muntah, BAB cair, dan lemas. Saat itu, pasien menggunakan 2 – 3 paket per hari (0,4 gr). Pada tahun 2007 pasien tertangkap polisi saat razia lalu lintas. Saat itu
pasien baru mengkonsumsi putaw dan mengendarai motor. Saat diberhentikan pada razia lalu lintas, pasien secara tidak sadar menyerahkan dompetnya yang berisi paket putaw yang baru dibeli pada polisi. Pasien kemudian ditangkap dan mendekam di penjara selama 2 tahun. Dalam penjara, pasien masih tetap dapat mendapatkan putaw dari transaksi di penjara. Namun akhirnya berhenti karena kehabisan uang. Pasien berhenti dari putaw hingga tahun 2009, kemudian pasien keluar penjara dan menikah lagi dengan istri kedua. 3 bulan sebelum masuk rumah sakit, pasien stress kembali karena istri pasien hamil anggur dan harus dioperasi. Stress yang dialami pasien ialah karena pasien mengkhawatirkan keselamatan istri dari operasi dan kegagalan menimang anak. Karena stress tersebut, pasien tidak mampu lagi menahan keinginan yang kuat untuk mengkonsumsi putaw lagi. Akhirnya pasien mengkonsumsi putau dengan dosis ¾ - 1 gram. Setelah konsumsi pertama, pasien juga tidak dapat berhenti lagi karena bila berhenti, pasien akan mengalami gejala sakaw (withdrawal). Karena itu, pasien memakai putaw secara rutin. Selang 1 bulan, pasien tertangkap menggunakan putaw oleh istri, kemudian dibawa berobat ke RSJ Grogol untuk mendapat terapi kodein. Lama kelamaan, kodein tidak cukup untuk mengatasi gejala sakaw. Kemudian tiga belas hari lalu, pasien dibawa untuk dirawat di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta. Alasan pasien dibawa adalah karena pasien ingin berubah karena telah lelah menjalani hidup sebagai pemakai putaw dan kesepakatan yang telah dibuat dengan istri pasien untuk berhenti memakai putaw. Di RSKO, pasien kemudian minta diterapi dengan suboxone. Terapi dijalani dengan baik selama di RSKO, namun pasien belum pulang karena ibu pasien belum dapat menerima pasien dalam rumah.
Riwayat Pemakaian Zat Psikoaktif
No. Jenis Zat Alkohol Tembakau Opioid Ganja Kokain Amfetamin Halusinogen Hipnotik
1. Sejak umur - 11 th 11 th 17 th - 17 - -
2. Cara Penggunaan - Hisap Iv hisap - hisap - - 3. Frekuensi pemakaian dan kuantitas - 24 btg per hr 0.1 gr/h Sesekali/ tidak rutin - sesekali - - 4. 1 tahun terakhir masih pakai ? - Ya Ya - - - - - 5. I bulan terakhir masih pakai? - Ya Ya - - - - -
No. Jenis Zat Alkohol Tembakau Opioid Ganja Kokain Amfetamin Halusinogen Hipnotik
6 Bila satu bulan terakhir masih pakai, berapa hari
yang lalu? - Hari saat diperiksa 3 hari yang lalu - - - - - 7. Alasan pertama kali memakai - pergaulan (diajak teman) dibohongi (diajak teman) Pengganti putaw - Pengganti putaw - - 8. Alasan biasa memakai - Tidak tahan dengan sugesti Senang-senang, sosialisasi - - Tidak tahan dengan sugesti - - 9. Alasan tidak menggunakan lagi - - - Lebih enak menggunak an putaw - Lebih enak menggunak an putaw - -
Riwayat Kehidupan Seksual
Tidak pernah melakukan seks diluar pernikahan
Riwayat Menggunakan Jarum Suntik
Menggunakan jarum suntik sejak tahun 1995 dan riwayat bertukar jarum suntik +.
Riwayat Berhubungan Dengan Hukum
Pasien pernah tertangkap pada tahun 2010 saat sedang menggunakan di lapangan dekat rumah. Pasien masuk tahanan selama 10 bulan.
Riwayat Penyakit Yang Berhubungan Dengan Penggunaan Zat Psikoaktif
Aborsi - Hepatitis B - Perdarahan otak -
Abses - Hepatitis C - Pneumonia -
Bronkhitis - HIV/AIDS + Sarkoma -
Aborsi - Hepatitis B - Perdarahan otak -
Endokarditis - Kanker hati - Sepsis -
Fraktur + Kanker paru - Sifilis -
Gangguan menstruasi - Kencing nanah - Sirosis hepatis -
Gastritis - Luka tusuk - Stroke -
Gegar otak - Muntah darah - TBC paru +
Stressos Psikososial
Masalah dengan :
3. Orang tua :
Hubungan dengan ibu kurang baik
4. Saudara :
Hubungan dengan kakak serta adiknya baik. Paling dekat dengan kakak kedua
5. Istri
Hubungan dengan istri baik :
6. Teman :
Banyak teman pasien merupakan pemakai dan pengedar zat psikoaktif sehingga sering mempengaruhi pasien untuk kembali menggunakan zat psikoaktif.
7. Pekerjaan :
Pasien sedang bekerja sebagai tukang ojek.
8. Keuangan :
Penghasilan mandiri,.
Riwayat Gangguan Psikiatrik
Insomnia + Fobia -
Insomnia + Fobia -
Anxietas - ADHD -
Skizofrenia - PTSD -
Hasil Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Tekanan darah : 120/80 mmHg Nadi : 84x/menit Pernafasan : 20x/menit Suhu : 36,8 oC Tinggi badan : 178 cm Berat badan : 50 kg
Bentuk badan : Atletis
Kepala dan wajah : Konjungtiva ananemis dan sklera anikterik Sistem Kardiovaskular
➔ Inspeksi : Ictus kordis tidak terlihat
➔ Palpasi : Ictus kordis teraba di linea midclavicularis sinistra setingi ICS V ➔ Perkusi
1. Batas kanan : Linea sternalis kanan ICS IV 2. Batas kiri : Linea midclavicularis kiri ICS V 3. Batas atas : ICS III Linea midclavicula sinistra
➔ Auskultasi : Bunyi jantung I dan II Normal ; Murmur - ; Gallop -
Sistem Respiratorius
➔ Inspeksi : Simetris dalam keadaan statis dan dinamis ➔ Palpasi : Stem fremitus kanan = kiri
➔ Perkusi : Sonor pada kedua lapangan paru
Sistem Gastrointestinal
➔ Inspeksi : Datar
➔ Palpasi : Supel. Nyeri tekan/nyeri tekan lepas : - Hepar tidak teraba
Lien tidak teraba
➔ Perkusi : Timpani pada keempat kuadran abdomen Sistem Urogenital
➔ BAK : Normal
➔ Nyeri berkemih : -
Kulit : tidak ditemukan needle track dan tatoo Kelainan khusus : tidak ada
Hasil Pemeriksaan Psikiatrik
Penampilan :Sikap & perilaku baik, cara berpakaian rapi, tampak tenang
Perilaku dan aktivitas psikomotor : Baik
Sikap terhadap pemeriksa : Kooperatif dan ramah
Pembicaraan : Spontan
: Tidak ada gangguan berbahasa
Mood : Euthym
Afek : Euthym
Keserasian : Serasi dan perasaan pasien dapat dirasakan Gangguan persepsi
Halusinasi : -
Ilusi : -
Arus pikiran
Produktivitas : Cukup
Kontinuitas : Tidak terganggu Isi pikiran
Waham : - Usaha bunuh diri : - Sensorium, kognitif
Kesadaran : Compos mentis
Orientasi waktu : Baik tempat : Baik orang : Baik situasi : Baik Daya ingat
Recent memory : Baik Immediate memory : Baik Remote memory : Baik Konsentrasi, perhatian : Baik
Pikiran abstrak : Baik
Pengendalian impuls : Baik
Insight : Baik (derajat VI)
Judgement : Baik
Taraf dapat dipercaya : Dapat dipercaya
Hasil Pemeriksaan Laboratorium
25-05-11: Hb :13,2 gr/dL (12,5-16) Ht : 41% Leukosit : 5900 /µL (5000-10.000) Trombosit : 226rb/ µL (150-400) Eritrosit : 4,11 jt/ µL (4,5-5,5) SGOT : 24 U/L (<38) SGPT : 17 U/L (<41) GDS : 90 HBsAg : (-) Anti HCV : (+)
Hasil Pemeriksaan Urinalisis Opiat (+)
Hasil Evaluasi Sosial
-
Riwayat Perawatan/Pengobatan/Rehabilitasi Sebelumnya
Pernah menjalani detoksifikasi : 10 kali Pernah menjalani rawat jalan : - Pernah menjalani rawat inap : - Pernah menjalani detoksifikasi cepat : - Pernah menjalani rehabilitasi : 6 kali Apakah pernah menjalani program rumatan
1. Metadone : - 2. Bufenorfin : - 3. Naltrekson : -
4. Codein : Tanggal 2 Februari 2011 di RSJ Grogol, dengan dosis 120 mg/hari.
Resume
Pasien laki-laki berusia 31 tahun datang atas kemauan sendiri dalam keadaan withdrawal opiat dan ingin mengikuti terapi detoksifikasi dengan suboxone®.
Riwayat penggunaan zat
Ineks, Alkohol: belum sempat digunakan lagi Putaw, 1 g/hr per oral.
Rokok, 20 batang /hr. Masih mengkonsumsi rokok selama di RSKO. Efek
Positif:
Pikiran menjadi lebih tenang. Mudah tidur.
Hubungan dengan keluarga menjadi buruk
Usaha mengatasi ketergantungan
Memulai terapi detoksifikasi dengan kodein di RSJ Grogol
Melanjutkan terapi detoksifikasi di RSKO dengan Suboxone ® dengan dosis 1 x 4 mg
Riwayat penyakit: Pemeriksaan fisik
Tidak terdapat needle track dan jaringan parut di tubuh pasien. Lain-lain dalam batas normal
Diagnosis
Axis I : F11.21 Gangguan mental & perilaku akibat penggunaan opioid dgn sindrom ketergantungan, kini abstinent tetapi dalam lingkungan terlindungi.
Axis II : Tidak ada diagnosis Axis III : Tidak ada diagnosis
Axis IV : Masalah dengan primary support group (keluarga) dan ekonomi
Axis V : 90 – 81 (gejala minimal, berfungsi baik, cukup puas, tidak lebih dari masalah harian biasa).
Prognosis
Quo ad vitam : bonam Quo ad functionam : bonam
Quo ad sanationam : Dubia ad malam
Penatalaksanaan
-Luften ® 25 mg x 1 p.o.
Saran Pemeriksaan