• Tidak ada hasil yang ditemukan

Vol. 7, No. 4, September 2019

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Vol. 7, No. 4, September 2019"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

463

Penyelenggaraan Workshop Oleh Pengawas Sekolah Guna

Meningkatkan Kompetensi Guru dalam Meyusun Butir Soal Ujian

Akhir Semester Di SMA Binaan Kota Lhokseumawe Tahun 2019

Rohana

Pengawas SMA Kota Lhokseumawe Email : [email protected]

ABSTRAK

Penelitian tindakan sekolah ini bertujuan untuk mengetahui mengetahui penyelenggaraan workshop oleh pengawas guna meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun butir soal ujian akhir semester di SMA binaan Kota Lhokseumawe tahun 2019. Penelitian ini dilaksanakan di SMA binaan kota Lhokseumawe pada semester genap mulai bulan Januari sampai dengan bulan april tahun 2019. Subjek penelitian ini adalah sebanyak 8 orang guru dari 2 sekolah. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan sekolah yang dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap observasi dan tahap refleksi. Data penelitian diperoleh dari hasil observasi menyusun butir soal ujian akhir semester di SMA binaan Kota Lhokseumawe melalui penyelenggaraan workshop oleh pengawas. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian tindakan sekolah ini adalah deskriptif kualitatif menggunakan rumus persentase. Hasil penelitian menunjukkan pada siklus I kompetensi guru dalam menyusun butir soal ujian akhir semester persentase keberhasilan guru masih < 85% untuk setiap indikator keberhasilan baik kompetensi guru dalam menyusun butir soal bentuk uraian, kompetensi guru dalam menyusun butir soal bentuk pilihan ganda, kompetensi guru dalam menyusun butir soal bentuk perbuatan dan kompetensi guru dalam menyusun butir soal bentuk non-tes. Sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan yang signifikan menjadi 100%. Sehingga dapat disimpulkan melalui penyelenggaraan workshop oleh pengawas dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun butir soal ujian akhir semester di SMA binaan Kota Lhokseumawe tahun 2019.

Kata kunci: Workshop, Kompetensi Guru, Butir Soal

PENDAHULUAN

Melakukan evaluasi hasil belajar merupakan kompetensi pada dimensi paedagogik, evaluasi hasil belajar dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran yang telah dirancang oleh guru. Untuk melakukan evaluasi hasil belajar, seorang guru dituntut kompeten menentukan cara-cara evaluasi, mulai dari pendekatannya, penyusunan alat evaluasi dan cara pengolahan data, serta mempergunakan

hasil evaluasi untuk tindak lanjut pembelajaran. Menurut Ambarita dan Pangaribuan

(2)

464

tetapi juga mengevaluasi keberhasilan guru dalam pembelajaran dan melalui hal ini dapat terbangun interaksi antara guru dengan siswa dan dengan orang tua. Kegagalan dan pembelajaran dapat bersumber dari guru yang bertindak sebagai aktor dalam pembelajaran.

Guru merupakan ujung tombak pendidikan yang bersentuhan langsung dengan siswa. Guru adalah sebuah profesi yang dalam melaksanakan tugasnya dituntut untuk bertindak secara profesional. Menjadi seorang guru wajib memiliki kompetensi-kompetensi tertentu untuk dapat melaksanakan tugas secara profesional. Salah satu kompetensi guru sebagai tenaga pendidik adalah harus memiliki kemampuan dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran. Evaluasi atau penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan instrumen tes maupun non tes. UU RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Bab I pasal 1 menyatakan bahwa “tugas utama guru sebagai pendidik profesional adalah mendidik, mengajar, membimbing, melatih, menilai dan mengevaluasi siswa pada pendidikan anak usia dini, pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah”. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa “Evaluasi hasil belajar dilakukan dengan penilaian hasil belajar yang bertujuan untuk memantau proses, kemajuan dan perbaikan hasil belajar serta untuk menilai pencapaian kompetensi siswa, sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar dan untuk memperbaiki proses pembelajaran”.

Zainal Arifin (2012: 2) mengemukakan bahwa “Evaluasi merupakan salah satu komponen penting dan tahap yang harus ditempuh oleh guru untuk mengetahui keefektifan pembelajaran”. Menurut Anas Sudijono (2011:62) “penilaian hasil belajar dilakukan dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester dan ulangan kenaikan kelas”. Salah satu alat yang digunakan sebagai sarana untuk penilaian hasil belajar adalah tes. Tes yang dilaksanakan akan memiliki arti jika terdiri dari butir-butir soal yang mempu menguji tujuan yang penting dan mewakili seluruh bahan yang diujikan secara representative. Evaluasi hasil belajar yang baik menggunakan instrumen tes yang bermutu untuk dapat membantu guru meningkatkan kualitas pembelajaran dan memberikan informasi dengan tepat tentang siswa yang belum atau yang sudah mencapai tujuan pembelajaran.

Tes yang berkualitas menurut Suharsimi Arikunto (2013:72) harus “memiliki persyaratan yaitu validitas, reliabilitas, objektivitas, kepraktisan, dan ekonomis. Tes dikatakan valid jika tes tersebut dapat memberikan informasi yang sesuai dan dapat digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Tes dikatakan reliabel jika tes tersebut selalu memberikan hasil yang sama pada waktu atau kesempatan yang berbeda. Tes dikatakan objektif jika dalam pelaksanaannya, tidak ada faktor subjektif yang mempengaruhi, terutama dalam sistem scoring. Tes dikatakan ekonomis jika tes tersebut tidak membutuhkan banyak biaya, tenaga, dan waktu”. Suharsimi Arikunto (2012: 222) mengatakan bahwa “soal yang baik ialah soal yang memiliki tingkat kesukaran yang seimbang”. Maksudnya adalah soal yang digunakan tidak terlalu mudah atau tidak pula terlalu sukar. Soal yang terlalu mudah dikerjakan oleh siswa tidak dapat merangsang siswa untuk mempertinggi usahanya dalam menjawab. Begitu pula sebaliknya bila soal terlalu sulit maka akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba memecahkannya.

(3)

465 Peneliti merupakan seorang pengawas sekolah khususnya membina guru bahasa Indonesia yang bertugas di sekolah binaan yang berada di kota Lhoseumawe. Peneliti memiliki 2 sekolah binaan yang berada di Kota Lhokseumawe yaitu SMA Negeri 4 Lhokseumawe dan SMA Negeri 6 Lhokseumawe. Hasil observasi menunjukkan bahwa terdapat guru-guru yang belum mampu dalam menyusun butir soal ujian akhir semester. Seharusnya dalam pembuatan soal yang akan dijadikan sebagai alat instrument penilaian kepada siswa haruslah dilakuakan dengan baik dan benar melalui tahapan pengujian tingkat kualitas soal, sehingga soal tersebut dapat dikatakan soal memiliki kualitas yang baik atau perlu direvisi. Namun, sangat disayangkan akibat kekurangan waktu yang dapat digunakan guru dikarenakan lamanya proses untuk guru menyususn butir soal, maka proses analisis uji soal yang akan diberikan kepada siswa belum terlaksana secara baik. Oleh karena itu, soal yang diperoleh siswa belum mampu dikatakan merupakan soal yang baik. Dalam pembuatan butir soal ujian akhir semester guru-guru juga masih memiliki kesulitan dikarenakan belum mempunyai buku pedoman cara penyusunan butir soal ujian sehingga guru tidak memiliki pengetahuan tentang cara menyusun butir soal ujian yang baik.

Meningkatkan kompetensi guru menyusun butir soal ujian akhir semester merupakan tugas dan fungsi pengawas pengawas sekolah sebagai penjamin mutu pendidikan. Menurut Sudjana (2012:41) pengawas sekolah satuan pendidikan memiliki enam dimensi kompetensi yaitu: (1) dimensi kepribadian, (2) dimensi sosial, (3) dimensi supervisi manajerial, (4) dimensi supervisi akademik, (5) dimensi evaluasi pendidikan, dan (6) dimensi penelitian pendidikan. Pengawas sekolah wajib memberikan bantuan profesional salah satunya berupa penyelenggaraan workshop untuk mengatasi kelemahan-kelemahan yang di hadapi oleh guru dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran.

Workshop atau lokakarya merupakan salah satu metode yang dapat ditempuh

pengawas dalam melakukan supervisi manajerial. Metode ini tentunya bersifat kelompok dan dapat melibatkan beberapa kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan/atau perwakilan komite sekolah. Penyelenggaraan disesuaikan dengan tujuan atau urgensinya, dan dapat diselenggarakan bersama dengan pengawas maupun kepala sekolah atau organisasi sejenis lainnya (Depdiknaas, 2008:21). Kegiatan workshop merupakan kegiatan yang sering dilakukan oleh berbagai kalangan dan meliputi berbagai bidang. Workshop yang dilakukan dalam dunia pendidikan adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengembangkan kesanggupan berfikir dan bekerja bersama-sama secara kelompok ataupun bersifat perseorangan untuk membahas dan memecahkan segala permasalahan yang ada baik mengenai masalah-masalah yang bersifat teoritis maupun yang bersifat raktis dengan tujuan untuk dapat meningkatkan kualitas kompetensi pedagogik guru sehingga dapat menyelesaikannya sesuai tugas masing-masing (Purwanto, 2008:105). Workshop dilakukan untuk menghasilkan guru yang memiliki kemampuan berfikir yang baik dalam kgiatan pembelajaran. Whorkshop dapat dilakukan misalnya dalam kegiatan menyusun kurikulum, analisis kurikulum, pengembangan silabus, penulisan RPP, dan sebagainya. (Danim, 2013:33) Berdasarkan uraian di atas, peneliti beranggapan bahwa untuk meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun butir soal perlu diadakan workshop

(4)

466

melalui penelitian sekolah untuk sekolah binaan peneliti di Kota Lhokseumawe guna meningkatkan kompetensi para guru dalam menyusun butir soal ujian akhir semester.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan sekolah. Tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus meliputi perencanaan atau pelaksanaan observasi dan refleksi. Penelitian ini tempat peneliti bertugas yaitu di SMA binaan yang berada di Kota Lhokseumawe pada tahun 2019 yaitu: SMA 4 Lhokseumawe dan SMA 6 Lhokseumawe. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap pada tahun 2019, yaitu pada bulan Januari sampai dengan April 2019. Subjek penelitian adalah guru-guru binaan peneliti yang berada di sekolah binaan Kota Lhokseumawe, yaitu guru mata pelajaran Bahasa Indonesia yang berjumlah 8 orang guru.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Siklus I

Tahap perencanaan

Pada tahap ini peneliti merencanakan segala kegiatan yang akan dilakukan dalam penelitian ini. Peneliti membutuhkan waktu perencanaan selama kurang lebih 2 minggu sampai tercapainya penyelenggaraan workshop.

Tahap pelaksanaan

Pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnya.

Tahap observasi

Kegiatan ini berlangsung kurang lebih dua minggu lamanya. Hasil penilaian penyusunan butir soal ujian akhir semester yang dilakukan guru dapat dilihat pada tabel-tabel di bawah ini. Untuk tabel-tabel yang pertama merupaan hasil penilaian terhadap penyusunan butir soal bentuk uraian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1 Hasil Penilaian Penyusunan Butir Soal Bentuk Uraian Siklus I No Kode Guru Jumlah Persen % Kriteria

1 Guru 1 51 78,46 Baik 2 Guru 2 48 73,85 Cukup 3 Guru 3 50 76,92 Baik 4 Guru 4 48 73,85 Cukup 5 Guru 5 50 76,92 Baik 6 Guru 6 48 73,85 Cukup 7 Guru 7 50 76,92 Baik 8 Guru 8 50 76,92 Baik

Persentase Keberhasilan Guru 62,5%

Dari tabel di atas, diketahui seluruh guru belum ada yang mendapat kriteria sangat baik. Kemudian jumlah guru mendapat kriteria baik adalah sebanyak 5 orang guru atau 62,5%. Sedangkan guru yang mendapat kriteria cukup adalah sebanyak 3 orang guru atau 37,5%. Kebanyakan para guru masih memiliki kekurangan pada soal sesuai dengan aspek.

(5)

467 Kemudian kekurangan lainnya adalah materi yang ditanyakan sesuai dengan kompetensi (urgensi, relevasi, kontinyuitas, keterpakaian sehari-hari tinggi). Guru terlihat belum mengaitkan soal dengan kehidupan sehari-hari, sehingga siswa terkadang kesulitan memahami pertanyaan guru. guru juga memiliki kekurangan dalam kategori ada pedoman penskorannya Masih banyak guru yang belum membuat pedoman penskoran, hanya memberi nilai berdasarkan asumsi guru saja. Kemudian dalam penggunaan tabel, gambar, grafik, peta,atau yang sejenisnya disajikan dengan jelas dan terbaca, kebanyakan guru belum menggunakannya dengan jelas hanya sekedar untuk ditampilkan. Guru juga melakukan kekurangan dengan tidak menggunakan kata/ungkapan yang menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian, sehingga siswa masih ada yang salah dalam menafsirkan soal. Dikarenakan masih banyaknya terjadi kekurangan, masih diperlukannya perbaikan dalam menyusun butir soal bentuk uraian. Penilaian selanjutnya adalah untuk mengetahui kompetensi guru dalam menyusun butir soal bentuk pilihan ganda. Peneliti memberikan penilaian menggunakan lembar penilaian yang telah disiapkan. Hasil penilaian kompetensi guru dalam menyusun butir soal bentuk pilihan ganda dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2 Hasil Penilaian Penyusunan Butir Soal Bentuk Pilihan Ganda Siklus I No Kode Guru Jumlah Persen % Kriteria

1 Guru 1 69 76,7 Baik 2 Guru 2 67 74,4 Cukup 3 Guru 3 69 76,7 Baik 4 Guru 4 66 73,3 Cukup 5 Guru 5 69 76,7 Baik 6 Guru 6 66 73,3 Cukup 7 Guru 7 69 76,7 Baik 8 Guru 8 69 76,7 Baik

Persentase Keberhasilan Guru 62,5%

Berdasarkan tabel di atas diketahui jumlah guru yang berada pada kriteria baik adalah sebanyak 5 orang guru atau 62,5%. Sedangkan yang mendapat kriteria cukup adalah sebanyak 3 orang guru atau 37,5%. Kebanyakan para guru memiliki kekurangan pada materi yang ditanyakan sesuai dengan kompetensi (urgensi, relevasi, kontinyuitas, keterpakaian sehari-hari tinggi). Kemudian guru juga memiliki kekurangan pada rumusan pokok soal dan pilihan jawaban merupakan pernyataan yang diperlukan saja, masih ada guru yang membuat soal dengan pernyataan yang agak keluar dari tujuan soal tersebut. Kekurangan lain terdapat pada pokok soal tidak memberi petunjuk kunci jawaban, pada aspek ini ada sebagian guru dalam membuat soal pilihan ganda soal mengarah pada jawaban yang benar. Guru juga masih membuat kekurangan pada aspek pokok soal bebas dan pernyataan yang bersifat negatif ganda, dikarenakan masih ada jawaban dari soal tersebut yang memungkinkan siswa menjawab dengan dua jawaban yang mendekati jawaban yang benar.

Selanjutnya kekurangan juga terjadi pada aspek panjang pilihan jawaban relatif sama, dikarenakan masih ada jawaban pada soal pilihan ganda yang tidak sama panjang kalimatnya. Pada aspek pilihan jawaban tidak menggunakan pernyataan "semua jawaban

(6)

468

di atas salah/benar" dan sejenisnya, guru masih memakai kata-kata "semua jawaban di atas salah/benar" dan sejenisnya. Kemudian pada aspek pilihan jawaban yang berbentuk angka /waktu disusun berdasarkan urutan besar kecilnya angka atau kronologisnya, disini guru belum sepenuhnya mengurutkan jawaban dengan bentuk angka/waktu berdasarkan urutan terkecil atau tebesar, guru cenderung membuat jawaban angka secara acak. Pada aspek butir soal tidak bergantung pada jawaban soal sebelumnya, masih ada guru yang membuat soal pilihan ganda yang menghubungkan jawaban tersebut pada jawaban soal sebelumnya. Dan pada aspek menggunakan bahasa yang komunikatif, guru masih memiliki kesulitan, dilihat dari soal yang telah disusun masih kurang sempurna dalam penggunaan bahasa yang komunikatif. Sehingga dalam menyusun butir soal pilihan ganda masih perlu perbaikan. Penilaian juga dilakukan untuk mengetahui kompetensi guru dalam menyusun butir soal bentuk tes perbuatan. Peneliti memberikan penilaian menggunakan lembar penilaian yang telah disiapkan. Hasil penilaian kompetensi guru dalam menyusun butir soal bentuk tes perbuatan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 3 Hasil Penilaian Penyusunan Butir Soal Bentuk Tes Perbuatan Siklus I No Kode Guru Jumlah Persen % Kriteria

1 Guru 1 53 81,54 Baik 2 Guru 2 51 78,46 Baik 3 Guru 3 52 80 Baik 4 Guru 4 48 73,85 Cukup 5 Guru 5 52 80 Baik 6 Guru 6 48 73,85 Cukup 7 Guru 7 51 78,46 Baik 8 Guru 8 53 81,54 Baik

Persentase Keberhasilan Guru 75%

Berdasarkan tabel di atas diketahui jumlah guru yang berada pada kriteria baik adalah sebanyak 6 orang guru atau 75%. Sedangkan yang mendapat kriteria cukup adalah sebanyak 2 orang guru atau 25%. Kekurangan yang masih dilakuan guru yaitu dalam aspek materi sesuai dengan tuntutan kompetensi (Urgensi, relevansi, kontinyuitas, keterpakaian sehari-hari tinggi), guru dalam membuat soal masih ada yang belum kontinyu atau sejalan antara soal yang satu dengan soal selanjutnya. Guru juga memiliki kekurangan dalam aspek ada pedoman penskorannya, masih ada guru yang malas dalam membuat pedoman penskoran.

Selanjutnya guru juga memiliki kekurangan dalam aspek tabel, peta, gambar, grafik, atau sejenisnya disajikan dengan jelas dan terbaca, masih ada guru yang belum sepenuhnya tepat dalam menggunakan gambar, grafik atau sejenisnya. Sehingga soal tes perbuatan yang telah disusun guru masih perlu disempurnakan lagi. Penilaian juga dilakukan untuk mengetahui kompetensi guru dalam menyusun butir soal bentuk non-tes. Peneliti memberikan penilaian menggunakan lembar penilaian yang telah disiapkan. Hasil penilaian kompetensi guru dalam menyusun butir soal bentuk non-tes dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

(7)

469 Tabel 4 Hasil Penilaian Penyusunan Butir Soal Bentuk Non-Tes Siklus I

No Kode Guru Jumlah Persen % Kriteria

1 Guru 1 56 74,67 Cukup 2 Guru 2 57 76 Baik 3 Guru 3 57 76 Baik 4 Guru 4 57 76 Baik 5 Guru 5 56 74,67 Cukup 6 Guru 6 58 77,33 Baik 7 Guru 7 56 74,67 Cukup 8 Guru 8 58 77,33 Baik

Persentase Keberhasilan Guru 62,5%

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa jumlah guru yang berada pada kriteria baik sebanyak 5 orang guru atau 62,5%, sedangkan yang berada pada kriteria cukupsebanyak 3 orang guru atau 37,5%. Para guru mesih memiliki kekurangan pada aspek aspek yang diukur pada setiap pernyataan sudah sesuai dengan tuntutan dalam kisi-kisi (misal untuk tes sikap: aspek koginisi, afeksi, atau konasinya dan pernyataan positif atau negatifnya). Guru juga memiliki kekurangan pada aspek kalimatnya bebas dari pernyataan yang tidak relevan objek yang dipersoalkan atau kalimatnya merupakan pernyataan yang diperlukan saja. Selanjutnya guru memiliki kekurangan pada aspek kalimatnya bebas dari pernyataan yang mengacu pada masa lalu. Guru juga masih memiliki kekurangan dalam aspek kalimatnya bebas dari pernyatan yang tidak pasti seperti semua, selalu, kadang-kadang, tidak satupun, tidak pernah. Guru cenderung masih menggunakan kata-kata tersebut. Kekurangan lainnya terdapat pada aspek jangan banyak menggunakan kata hanya, sekedar, semata-mata gunakan seperlunya. Sehingga dalam membuat butir soal bentuk non-tes masih perlu disempurnakan lagi.

Tahap refleksi

Pada tahap ini peneliti melakukan evaluasi terhadap hasil penilaian yang telah dilaksanakan. Peneliti menganalisis hasil yang didapat dan temuan pada saat melakukan pengamatan. Selanjutnya peneliti merefleksikan segala bentuk kekurangan dalam pelaksanaan siklus I. Berdasarkan pelaksanaan siklus I diketahui bahwasanya terdapat beberapa kekurangan guru dalam menyusun butir soal, diantaranya terdapat guru-guru yang belum serius dalam mengikuti workshop, sehingga hasil kerja para guru kurang memuaskan. Kekurangan lainnya adalah terdapat beberapa guru yang belum memahmi secara keseluruhan bagaimana penyusunan butir soal ujian akhir semester secara baik dan benar. Mengatasi kekurangan-kekurangan ini, peneliti perlu mengadakan beberapa perbaikan yang harus diperbaiki pada siklus berikutnya.

1) Peneliti harus lebih menegaskan pokok-pokok atau aspek-aspek yang masih diperlukan penyempurnaan dalam menyusun butir soal ujian akhir semester.

2) Memberikan motivasi kepada guru dalam menyusun butir soal ujian akhir semester. 3) Mengadakan pendekatan kepada para guru, sehingga guru memiliki rasa percaya diri

(8)

470

Siklus II

Tahap perencanaan

Pada tahap perencanaan siklus II ini, perencanaan yang dibuat peneliti adalah menyusun dan menerapkan perbaikan yang terdapat pada siklus sebelumnya. Persiapan penyelenggaraan workshop ini berlangsung kurang lebih 2 minggu lamanya.

Tahap pelaksanaan

Pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnya.

Tahap observasi

Pengamatan atas hasil kerja guru dilakukan setelah penyelenggaraan workshop selesai. Pengamatan ini memakan waktu kurang lebih 2 minggu lamanya. Hasil penilaian penyusunan butir soal ujian akhir semester yang dilakukan guru selengkapnya dapat dilihat pada tabel-tabel di bawah ini. Untuk tabel yang pertama merupaan hasil penilaian terhadap penyusunan butir soal bentuk uraian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 5 Hasil Penilaian Penyusunan Butir Soal Bentuk Uraian Siklus II No Kode Guru Jumlah Persen % Kriteria

1 Guru 1 61 93,85 Sangat Baik

2 Guru 2 55 84,62 Baik

3 Guru 3 59 90,77 Sangat Baik

4 Guru 4 55 84,62 Baik

5 Guru 5 58 89,23 Sangat Baik

6 Guru 6 56 86,15 Sangat Baik

7 Guru 7 55 84,62 Baik

8 Guru 8 56 86,15 Sangat Baik

Persentase Keberhasilan Guru 100%

Dari tabel di atas diketahui seluruh guru telah berada pada kriteria baik dan sangat baik. Guru yang mendapat kriteria sangat baik adalah sebanyak 5 orang guru atau 62,5% dan selebihnya mendapat kriteria baik atau 37,5%. Berdasarkan tabel juga diketahui persentase kompetensi guru menyusun butir soal ujian akhir semester mengalami peningkatan. Peningkatan ini sangat signifikan, terutama dilihat dari beberapa aspek. Seperti aspek ada petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal, aspek materi yang ditanyakan sesuai dengan kompetensi (urgensi, relevasi, kontinyuitas, keterpakaian sehari-hari tinggi), dan aspek ada pedoman penskorannya Kemudian aspek-aspek pengamatan yang belum sempurna pada siklus sebelumnya. Pada siklus ini telah mengalami peningkatan. Penilaian selanjutnya adalah untuk mengetahui kompetensi guru dalam menyusun butir soal bentuk pilihan ganda. Peneliti memberikan penilaian menggunakan lembar penilaian yang telah diselesaikan guru. Selanjutnya peneliti memberikan komentar dan penilaian. Hasil penilaian kompetensi guru dalam menyusun butir soal bentuk pilihan ganda dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

(9)

471 Tabel 6 Hasil Penilaian Penyusunan Butir Soal Bentuk Pilihan Ganda Siklus II

No Kode Guru Jumlah Persen % Kriteria

1 Guru 1 84 93,3 Sangat Baik

2 Guru 2 76 84,4 Baik

3 Guru 3 82 91,1 Sangat Baik

4 Guru 4 81 90 Sangat Baik

5 Guru 5 80 88,9 Sangat Baik

6 Guru 6 76 84,4 Baik

7 Guru 7 82 91,1 Sangat Baik

8 Guru 8 83 92,2 Sangat Baik

Persentase Keberhasilan Guru 100%

Tabel di atas menunjukkan bahwa kompetensi guru dalam menyusun butir soal bentuk pilihan ganda mengalami peningkatan dibandingkan dengan sebelumnya. Hal ini terlihat jelas dari kriteria yang didapat guru yaitu baik dan sangat baik. Guru yang mendapatkan kriteria sangat baik sebanyak 6 orang guru atau 75%, sedangkan guru yang memperoleh baik sebanyak 2 orang guru atau 25%. Kemudian juga dapat diketahui untuk aspek panjang pilihan jawaban relatif sama, aspek pilihan jawaban yang berbentuk angka/waktu disusun berdasarkan urutan besar kecilnya angka atau kronologisnya dan aspek butir soal tidak bergantung pada jawaban soal sebelumnya mengalami peningkatan yang menonjol. Pada siklus II ini aspek tersebut telah dilakukan dengan baik, begitu juga dengan aspek-aspek yang lainya. Penilaian selanjutnya dilakukan untuk mengetahui kompetensi guru dalam menyusun butir soal bentuk tes perbuatan yang telah disusun oleh guru sewaktu workshop. Peneliti memberikan penilaian menggunakan lembar penilaian yang telah disiapkan. Hasil penilaian kompetensi guru dalam menyusun butir soal bentuk tes perbuatan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 7 Hasil Penilaian Penyusunan Butir Soal Bentuk Tes Perbuatan Siklus II No Kode Guru Jumlah Persen % Kriteria

1 Guru 1 61 93,85 Sangat Baik

2 Guru 2 57 87,69 Sangat Baik

3 Guru 3 61 93,85 Sangat Baik

4 Guru 4 55 84,62 Baik

5 Guru 5 60 92,31 Sangat Baik

6 Guru 6 58 89,23 Sangat Baik

7 Guru 7 55 84,62 Baik

8 Guru 8 60 92,31 Sangat Baik

Persentase Keberhasilan Guru 100%

Bersadarkan tabel di atas pada siklus II ini kompetensi guru dalam menyusun butir soal bentuk tes perbuatan mengalami peningkatan, kompetensi guru dalam menyusun butir soal bentuk tes perbuatan sudah tidak ada lagi guru yang berada pada kriteria cukup. Guru yang berada pada kategori baik sebanyak 2 orang guru atau 25%, sedangkan guru yang berada pada kriteria sangat baik sebanyak 6 orang guru atau 65%. Diketahui semua aspek mengalami peningkatan. Kemudian pada aspek materi sesuai dengan tuntutan kompetensi

(10)

472

(Urgensi, relevansi, kontinyuitas, keterpakaian sehari-hari tinggi), aspek ada pedoman penskorannya, dan aspek tabel, peta, gambar, grafik, atau sejenisnya disajikan dengan jelas dan terbaca yang memiliki peningkatan yang lebih menonjol jika dibandingkan aspek-aspek lainnya. Penilaian juga dilakukan untuk mengetahui kompetensi guru dalam menyusun butir soal bentuk non-tes. Peneliti memberikan penilaian menggunakan lembar penilaian yang telah disiapkan. Hasil penilaian kompetensi guru dalam menyusun butir soal bentuk non-tes dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 8 Hasil Penilaian Penyusunan Butir Soal Bentuk Non-Tes Siklus II No Kode Guru Jumlah Persen % Kriteria

1 Guru 1 70 93,33 Sangat Baik

2 Guru 2 68 90,67 Sangat Baik

3 Guru 3 68 90,67 Sangat Baik

4 Guru 4 68 90,67 Sangat Baik

5 Guru 5 67 89,33 Sangat Baik

6 Guru 6 68 90,67 Sangat Baik

7 Guru 7 63 84 Baik

8 Guru 8 68 90,67 Sangat Baik

Persentase Keberhasilan Guru 100%

Bersadarkan tabel di atas pada siklus II ini kompetensi guru dalam menyusun butir soal bentuk non-tes mengalami peningkatan jika dibandingkan pada siklus I, kompetensi guru dalam menyusun butir soal bentuk non-tes sudah tidak ada lagi guru yang berada pada kriteria cukup. Guru yang berada pada kategori baik sebanyak 1 orang guru atau 12,5%, sedangkan guru yang berada pada kriteria sangat baik sebanyak 7 orang guru atau 87,5%. Diketahui semua aspek mengalami peningkatan. Kemudian pada aspek kalimatnya bebas dari pernyataan yang tidak relevan objek yang dipersoalkan atau kalimatnya merupakan pernyataan yang diperlukan saja, aspek kalimatnya bebas dari pernyataan yang mengacu pada masa lalu, kalimatnya bebas dari pernyatan yang tidak pasti seperti semua, selalu, kadang-kadang, tidak satupun, tidak pernah dan aspek jangan banyak menggunakan kata hanya, sekedar, semata-mata gunakan seperlunya.

a. Tahap refleksi

Peneliti melakukan refleksi dengan mengevaluasi hasil pengamatan dan penilaian hasil kerja guru serta menganalisisnya. Berdasarkan hasil penilaian diketahui bahwa kompetensi guru menyusun butir soal ujian akhir semester telah mengalami peningkatan. Terjadinya peningkatan ini membuktikan usaha perbaikan yang dilakukan peneliti berhasil. Kemudian hasil penilaian yang didapat juga telah mencapai indikator keberhasilan penelitian

PENUTUP Simpulan

Berdasarkan hasil pelaksanaan penelitian yang telah dilakukan, diketahui melalui penyelenggaraan workshop oleh pengawas dengan tema kompetensi guru dalam menyusun butir soal ujian akhir semester mengalami peningkatan setiap siklusnya. Peningkatan terlihat disemua indikator keberhasilan penelitian, baik kompetensi guru dalam menyusun butir soal bentuk uraian, kompetensi guru dalam menyusun butir soal

(11)

473 bentuk pilihan ganda, kompetensi guru dalam menyusun butir soal bentuk perbuatan dan kompetensi guru dalam menyusun butir soal bentuk non-tes. Sehingga dapat disimpulkan bahwa melalui penyelenggaraan workshop oleh pengawas dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun butir soal ujian akhir semester di SMA binaan Kota Lhokseumawe tahun 2019.

DAFTAR PUSTAKA

Ambarita, B. dan Pangaribuan W. 2013. Kemampuan Membaca dan Sikap

Profesionalisme Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Arifin, Zainal. 2012. Penenlitian Pendidikan Metode dan Paradigma Baru. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Arikunto, Suharsimi. 2012. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2013. Evaluasi Pendidikan, Edisi Revisi 2. Jakarta: Bumi Aksara. Danim, Sudarwan. 2013. Profesionalisasi dan Etika Profesi Guru. Bandung: Alfabeta. Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005, Tentang

Guru dan Dosen. Jakarta: Depdiknas.

Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005,

tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. 2008. Panduan Pengembangan Materi Pembelajaran dan Standar Sarana dan

Prasarana. Jakarta: BP. Mitra Usaha Indonesia.

Purwanto, M. Ngalim. 2008. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sudjana, Nana. 2012. Penelitian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Gambar

Tabel 1 Hasil Penilaian Penyusunan Butir Soal Bentuk Uraian Siklus I  No Kode Guru Jumlah Persen % Kriteria
Tabel 2 Hasil Penilaian Penyusunan Butir Soal Bentuk Pilihan  Ganda Siklus I  No Kode Guru Jumlah Persen % Kriteria
Tabel 3 Hasil Penilaian Penyusunan Butir Soal Bentuk Tes Perbuatan Siklus I  No Kode Guru Jumlah Persen % Kriteria
Tabel 5 Hasil Penilaian Penyusunan Butir Soal Bentuk Uraian Siklus II  No Kode Guru Jumlah Persen % Kriteria
+3

Referensi

Dokumen terkait

Utara, akan kami melakukan evaluasi dari proses pelaksanaan dan pada temuan- temuan yang kami peroleh selama pengabdian masyarakat, dapat kami simpulkan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) laju pertumbuhan alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian di Kabupaten Tangerang pada tahun 1998-2017 bernilai negatif

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan, maka dapat diperoleh kesimpulan yaitu: (1) Kesadaran merek, asosiasi merek, persepsi kualitas dan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksankan, maka dapat disimpulkan: 1) rata-rata biaya budidaya ikan nila sebesar Rp 211.209.939,41 per siklus. 2) Produksi yang

Berdasarkan Tabel 23, diketahui bahwa hasil analisis faktor yang terdiri atas 13 variabel dan akhirnya terbentuk menjadi 4 faktor inti. Faktor pertama yang terbentuk

Peneliti juga melakukan wawancara pada tiga subyek siswa dari perwakilan kelas, hasil wawancara yang di peroleh bahwa saat pembelajaran berlangsung siswa

Berdasarkan kondisi tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang bertujuan untuk menganalisis hubungan antara umur, masa kerja, kebiasaan merokok, kebiasaan

Pembahasan Pada pembahasan ini dideskripsikan hasil pelaksanaan pembelajaran yang telah dilaksanakan oleh peneliti dengan menerapkan media monopoli edukatif untuk meningkatkan hasil