commit to user 6 BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Kosmetika a. Definisi Kosmetika
Kosmetika berasal dari bahasa Yunani kosmein yang berarti “berhias”. Bahan yang digunakan untuk mempercantik diri ini pada awalnya diramu dari bahan alami yang terdapat di alam sekitar. Saat ini kosmetika diproduksi oleh manusia tidak hanya dari bahan alami tetapi juga bahan buatan. Cabang ilmu yang mempelajari kosmetika disebut “kosmetologi”, yaitu ilmu yang berhubungan dengan pembuatan, penyimpanan, aplikasi penggunaan, efek, dan efek samping kosmetika (Wasitaatmadja, 1997).
Definisi kosmetika adalah bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan pada bagian luar tubuh manusia (epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ genital bagian luar) atau gigi dan mukosa mulut terutama untuk membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan dan atau memperbaiki bau badan, atau melindungi atau memelihara tubuh pada kondisi baik (Ditjen POM RI, 2003).
Tujuan penggunaan kosmetika adalah untuk kebersihan pribadi, meningkatkan daya tarik melalui make-up, meningkatkan rasa percaya
commit to user
diri, melindungi kulit dan rambut dari kerusakan sinar UV, polusi dan faktor lingkungan yang lain (Tranggono dan Fatma, 2007).
b. Persyaratan Kosmetika
Kosmetika yang diproduksi dan atau diedarkan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1) Menggunakan bahan yang memenuhi standar dan persyaratan mutu serta persyaratan lain yang ditetapkan.
2) Diproduksi dengan menggunakan cara pembuatan kosmetik yang baik.
3) Terdaftar pada dan mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Ditjen POM RI, 2003).
Pada penandaan produk kosmetika sekurang-kurangnya memuat : 1) Nama kosmetika.
2) Kegunaan.
3) Cara penggunaan. 4) Komposisi.
Adapun ketentuan dalam penulisan komposisi yaitu :
a) Menggunakan nama bahan kosmetika sesuai dengan nama
International Nomenclature of Cosmetic Ingredients (INCI),
kecuali untuk bahan kosmetika yang belum ada nama INCI, dapat menggunakan nama lain sesuai referensi yang berlaku secara internasional.
commit to user
b) Menggunakan nama genus dan spesies untuk bahan yang berasal dari tumbuhan atau ekstrak tumbuhan.
c) Diurutkan mulai dari kadar terbesar sampai kadar terkecil, kecuali bahan dengan kadar kurang dari 1% boleh ditulis tidak berurutan. d) Bahan pewarna dapat ditulis tidak berurutan setelah bahan lain
dengan menggunakan nomor Indeks Pewarna (Colour Index/CI) atau nama bahan pewarna untuk yang tidak mempunyai CI. e) Bahan pewangi atau bahan aromatis dapat menggunakan kata
"parfum", “perfume”, “fragrance”, “aroma” atau “flavor”.
f) Bahan pewarna yang digunakan dalam satu seri kosmetika dekoratif dapat mencantumkan kata “dapat mengandung”, “may
contain” atau “+/-“ pada penandaannya.
5) Nama dan negara produsen.
6) Nama dan alamat lengkap pemohon notifikasi. 7) Nomor bets.
8) Ukuran, isi, atau berat bersih. 9) Tanggal kadaluwarsa.
10) Peringatan/perhatian dan keterangan lain (Ditjen POM RI, 2010). c. Penggolongan Kosmetika
Penggolongan kosmetik menurut kegunaannya bagi kulit yaitu : 1) Kosmetik perawatan kulit (skin-care cosmetics)
Jenis ini digunakan untuk merawat kebersihan dan kesehatan kulit. Termasuk di dalamnya :
commit to user
a) Kosmetik untuk membersihkan kulit (cleanser) : sabun, cleansing
cream, cleansing milk, dan penyegar kulit (freshener).
b) Kosmetik untuk melembabkan kulit (moisturizer), misalnya
moisturizing cream, night cream.
c) Kosmetik pelindung kulit, misalnya sunscreen cream dan
sunscreen foundation, sun block cream/ lotion.
d) Kosmetik untuk menipiskan atau mempelas kulit (peeling), misalnya scrub cream yang berisi butiran-butiran halus yang berfungsi sebagai pengampelas (abrasiver).
2) Kosmetik riasan (dekoratif atau make-up)
Jenis ini diperlukan untuk merias dan menutup cacat pada kulit sehingga menghasilkan penampilan yang lebih menarik serta menimbulkan efek psikologis yang baik, seperti percaya diri. Contohnya bedak, lipstik, perona pipi, perona mata, dan krim bibir (Tranggono dan Fatma, 2007).
d. Lipstik
Lipstik merupakan kosmetika dekoratif perias bibir yang dikemas dalam bentuk batang padat (roll up), terbentuk dari komponen utama berupa minyak, lilin, dan lemak. Sediaan ini memberikan penampilan yang menarik dengan menambahkan warna yang dapat mempertajam bibir sehingga kulit bibir terlihat lebih sehat (Paye dkk., 2006).
commit to user 1) Lilin
Misalnya carnauba wax, paraffin waxes, spermaceti, dan ceresine. Komponen lilin berperan pada kekerasan lipstik.
2) Minyak
Fase minyak dalam lipstik dipilih terutama berdasarkan kemampuannya dalam melarutkan zat-zat pewarna. Misalnya minyak castrol, tetrahydrofurfuril alcohol, dan fatty acid
alkylolamides.
3) Lemak
Misalnya krim kakao, minyak tumbuhan yang sudah dihidrogenasi,
cetyl alcohol, oleyil alcohol, dan lanolin.
4) Acetoglycerides
Digunakan untuk memperbaiki sifat thoxotropik batang lipstik. Meskipun temperatur berfluktuasi, kepadatan lipstik tetap konstan. 5) Surfaktan
Biasanya ditambahkan dalam pembuatan lipstik untuk memudahkan pembasahan dispers partikel-partikel pigmen warna yang padat. 6) Zat-zat pewarna
7) Antioksidan 8) Bahan pengawet
Bahan pengawet (fragrance) atau lebih tepat bahan pemberi rasa segar (flavoring) harus mampu menutupi rasa bau dan rasa kurang sedap dari lemak-lemak dalam lipstik (Wasitaatmadja, 1997).
commit to user Persyaratan lipstik antara lain : 1) Melapisi bibir secara mencukupi.
2) Dapat bertahan di bibir selama mungkin.
3) Cukup melekat di bibir, tapi tidak sampai lengket. 4) Tidak mengiritasi atau menimbulkan alergi pada bibir. 5) Melembabkan bibir.
6) Memberikan warna yang merata pada bibir.
7) Penampilannya harus menarik, baik warna maupun bentuknya. 8) Permukaannya mulus, tidak bopeng atau berbintik-bintik, atau
memperlihatkan hal lain yang tidak menarik (Paye dkk., 2006). 2. Bahan Pewarna Kosmetika
Bahan pewarna kosmetika adalah bahan atau campuran bahan yang digunakan untuk memberi dan atau memperbaiki warna pada kosmetik (Ditjen POM RI, 2008).
Penggolongan zat warna untuk kosmetika dekoratif yaitu : 1) Zat warna alam yang larut
Dampak zat warna alam ini pada kulit lebih baik daripada zat warna sintetik. Tetapi kekuatan pewarnaannya relatif lemah, tidak tahan cahaya dan relatif mahal. Misalnya alkalain, zat warna merah yang diekstraksi dari kulit akar alkana (Radix alcannae), klorofil daun-daun hijau, dan carotene zat warna kuning.
2) Zat warna sintetik yang larut
commit to user
a) Intensitas harus kuat, sehingga dalam jumlah sedikit sudah dapat memberikan warna.
b) Harus bisa larut dalam air, alkohol, minyak, atau salah satunya. c) Sifat yang berhubungan dengan pH, di antaranya ada beberapa zat
warna hanya larut dalam pH asam, lainnya hanya dalam pH alkalis. Beberapa memberi warna pada pH tertentu atau tidak stabil dalam pH tertentu.
d) Kelekatan pada kulit atau rambut. e) Tidak toksik.
3) Pigmen alam
Pigmen alam adalah pigmen warna pada tanah yang memang terdapat secara alamiah, misalnya aluminium silikat. Zat warna ini murni sama sekali tidak berbahaya.
4) Pigmen-pigmen sintetik
Pigmen sintetik warna putih didapat dari zinc oxide dan titanium
oxide. Pigmen sintetik warna biru didapat dari senyawa cobalt.
Banyak pigmen sintetik yang dilarang penggunaannya karena toksis, misalnya cadmium sulfide dan prussian blue.
5) Lakes alam dan sintetik
Lakes dibuat dengan cara mempresipitasikan satu atau lebih zat warna yang larut air dalam satu atau lebih substrat yang tidak larut dan mengikatnya sedemikian rupa sehingga produk akhirnya
commit to user
menjadi bahan pewarna yang hampir tidak larut dalam air, minyak, atau pelarut lain (Tranggono dan Fatma, 2007).
Pewarna sintetik harus melalui berbagai prosedur pengujian sebelum dapat digunakan. Dalam pembuatannya pewarna sintetik menggunakan pereaksi tertentu misalnya asam sulfat atau asam nitrat sehingga risiko kontaminasi cukup tinggi. Pengujian yang dilakukan meliputi uji kimia, biokimia, toksikologi, dan analisis media terhadap zat warna (Winarno, 1992).
Beberapa zat warna sintetik yang dilarang penggunaannya pada obat, makanan, dan kosmetika menurut lampiran Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Nomor 00386/C/SK/II/90 disajikan pada Tabel I.
Tabel I. Zat Warna Sintetik Berbahaya
(Ditjen POM RI, 1990). 3. Rhodamin B
Rhodamin B merupakan zat warna golongan xanthenes dyes bersifat basa, yang terbuat dari meta-dietilaminophenol dan ftalik anhidrat, yaitu suatu bahan yang tidak bisa dimakan serta sangat berfluoresensi (Budavari, 1996).
No. Nama Bahan Pewarna Nomor Indeks Warna
1. Jingga K1 (C.I. Pigmen Orange 5, D&C Orange No. 17)
12075 2. Merah K3 (C.I. Pigmen Red 53, D&C Red
No. 8)
15585 3. Merah K4 (C.I. Pigmen Red 53:1, D&C Red
No. 9)
15585 : 1 4. Merah K10 (Rhodamin B, C.I. Food Red 15,
D&C Red No. 19)
45170
commit to user
Gambar 1. Struktur Kimia Rhodamin B (Budavari, 1996)
Nama umum : Rumus Bangun Rhodamin B
Nama kimia : N-[9-(carboxyphenyl)-6-(diethylamino)-3H-xanten-3-ylidene]-N- ethylethanaminium chlorida
Nama lazim : Tetraethylrhodamine; D&C Red No.19; Rhodamine B
chlorida; C.I. Basic Violet 10; C.I. 45170
Golongan : Amina, aromatis, hidroksil Rumus kimia : C28H31ClN2O3
Berat molekul : 479,01
Titik lebur : 329 F (165 0C)
Pemerian : Bentuk padat, kristal atau serbuk hablur hijau atau serbuk ungu kemerahan, tidak berbau.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air menghasilkan larutan merah kebiruan dan berfluoresensi kuat jika diencerkan. Larut dalam alkohol dan eter, sukar larut dalam asam encer dan dalam larutan alkali.
Nilai LD50 : a. Mencit
commit to user b. Tikus
Intraperitonial : 112 mg/kg BB; Intravena : 89 mg/kg BB
Penggunaan : Sebagai pewarna untuk sutra, katun, wol, nilon, kertas, tinta, sabun, pewarna kayu, bulu, dan pewarna untuk keramik Cina, merupakan suatu reagen untuk antimoni, bismuth, kobalt, niobium, emas, mangan, merkuri, molibdenum, tantalum, thallium, tungsten, dan noda biologi (Ditjen POM RI, 2011b).
Beberapa senyawa dalam struktur kimia rhodamin B berpotensi menjadi radikal bebas di dalam tubuh dan mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan antara antioksidan dengan komponen ROS (reactive
oxygen species), sehingga memicu timbulnya beberapa penyakit
degeneratif (Maryanti dkk., 2014).
Senyawa klorin (Cl) dan alkilating (CH3-CH3) memiliki reaktivitas yang tinggi untuk mencapai kestabilan dalam tubuh dengan cara berikatan dengan senyawa-senyawa di dalam tubuh, misalnya berikatan dengan protein, lemak dan DNA yang memicu genotoksik (Fessenden dan Fessenden, 1986).
Senyawa quinone dalam struktur kimia rhodamin B juga dapat berpotensi radikal dengan membentuk ROS melalui mekanisme metabolisme aerob dalam mitokondria (Madeo, 2013).
commit to user
Efek berbahaya yang ditimbulkan rhodamin B terhadap kesehatan tubuh merupakan efek kronik yang diawali dengan stres oksidatif sehingga menimbulkan kerusakan beberapa organ dan gangguan fisiologis tubuh. Kerusakan organ yang ditimbulkan di antaranya adalah kerusakan hati dan ginjal, gangguan produksi hormon dan kerusakan DNA. Stres oksidatif yang terjadi secara terus menerus dapat memicu timbulnya kanker (Brantom, 2005).
Efek toksik rhodamin B terhadap ginjal menimbulkan kerusakan berupa penyempitan ruang bowman pada glomerulus, hipertropi, nekrosis dan serosis tubulus. Dosis dan lama pemejanan berpengaruh nyata terhadap persentase kerusakan glomerulus (Mayori dkk., 2013).
Gangguan hormonal yang ditimbulkan rhodamin B mengganggu siklus ovarium yang kemudian akan mengganggu siklus estrus. Hasil penelitian Febrina (2013) menyimpulkan bahwa pada dosis 150 ppm, 300 ppm dan 600 ppm rhodamin B berpengaruh signifikan dapat memperlambat panjang siklus estrus pada mencit betina dewasa.
4. Metode Analisis Bahan Pewarna Kosmetika
Identifikasi bahan pewarna yang dilarang dalam kosmetika seperti rhodamin B dapat dilakukan dengan teknik Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Prinsip analisis adalah bahan pewarna berbahaya diekstraksi dengan cara tertentu dan selanjutnya dilakukan identifikasi secara kualitatif (Ditjen POM RI, 2011a).
commit to user
Analisis bahan pewarna tambahan rhodamin B secara kuantitatif dapat dilakukan secara Spektrofotometri UV-Visibel (Horwitz, 2005).
Metode isolasi zat warna dalam suatu sampel kosmetika dapat dilakukan dengan dua metode yaitu :
1) Menggunakan wol bebas lemak
Benang wol putih dibebaskan lemaknya dengan cara dicuci beberapa kali menggunakan deterjen, kemudian dididihkan dengan amonia, dikeringkan, lalu dikocok dengan eter. Benang wol putih bebas lemak akan menyerap zat warna dalam larutan sampel setelah dilakukan penambahan asam klorida 4 N. Selanjutnya zat warna dalm benang wol dilepaskan kembali dengan pendidihan menggunakan amonia.
2) Ekstraksi cair-cair
Filtrat hasil maserasi sampel diuapkan untuk menghilangkan pelarut, selanjutnya dibasakan dengan natrium hidroksida 10% dan dikocok dengan eter. Dicuci dengan air suling sehingga menjadi basa encer, zat warna larut dalam lapisan eter. Lapisan eter dipisahkan dan ditambahkan suatu asam (Satiadarma, 1985).
5. Metode Ekstraksi
Proses ekstraksi untuk definisi pemisahan kimia merupakan cara memisahkan zat terlarut melalui dua buah pelarut yang dapat melarutkan zat tersebut namun kedua pelarut ini tidak dapat saling melarutkan. Sampel berada dalam kontak dengan ekstraktan sehingga pemisahan molekul zat terlarut terjadi karena perbedaan kelarutan dalam kedua jenis pelarut.
commit to user
Dengan demikian pemisahan kimia terjadi secara alami dalam dua pelarut cair-cair. Macam-macam proses ekstraksi antara lain :
1) Ekstraksi “Batch” (Ekstraksi tunggal)
Biasanya metode ini dilakukan dengan mengocok zat terlarut dalam pelarut air dan pelarut organik di dalam corong pemisah, kemudian fase organik dipisahkan dengan fase air.
2) Ekstraksi Berulang-ulang
Ekstraksi berulang dapat dilakukan dengan cara membagi salah satu pelarut menjadi beberapa bagian dan kemudian ekstraksi dilakukan berurutan dengan cara yang sama. Jumlah pelarut yang digunakan pada akhirnya sama.
3) Ekstraksi Kontinu
Prinsip ini mengandalkan aliran terus menerus dari pelarut untuk mengambil zat tertentu dengan cara mirip distilasi. Pelarut yang sudah membawa zat tertentu akan diuapkan kembali dan setelah terkondensasi akan kembali melakukan ekstraksi sebagai pelarut yang baru.
4) Metode “Counter Current” Craig
Metode pemisahan Craig ini sangat berguna untuk memisahkan campuran senyawa-senyawa secara fisik sangat sulit untuk melakukan pemisahan (Wonorahardjo, 2012).
commit to user 6. Kromatografi Lapis Tipis
Kromatografi adalah metode pemisahan secara fisika yang mana komponen-komponen yang akan dipisahkan terbagi di antara dua fase, yang satu adalah fase diam, sementara yang lain adalah fase gerak yang bergerak pada arah tertentu (Gandjar dan Rohman, 2012).
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan metode pemisahan fisikokimia. Lapisan yang memisahkan, yang terdiri atas bahan yang berbutir-butir (fase diam) ditempatkan pada penyangga berupa plat gelas, logam, atau lapisan yang cocok. Campuran yang dipisahkan berupa larutan ditotolkan berupa bercak atau pita (awal). Setelah plat atau lapisan diletakkan dalam bejana tertutup rapat yang berisi larutan pengembang yang cocok (fase gerak), pemisahan terjadi selama perambatan atau pengembangan (Stahl, 1985).
Kromatografi lapis tipis merupakan kromatografi planar dengan beberapa keuntungan yaitu :
1) Kromatografi lapis tipis banyak digunakan untuk tujuan analisis. 2) Identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan dengan pereaksi
warna, fluoresensi, atau dengan radiasi menggunakan sinar ultraviolet.
3) Ketepatan penentuan kadar akan lebih baik karena komponen yang akan ditentukan merupakan bercak yang tidak bergerak.
commit to user
5) Dapat dilakukan elusi secara menaik (ascending), menurun (descending), atau elusi dua dimensi (Gandjar dan Rohman, 2007).
Sifat penting dari fase diam adalah besar partikel dan homogenitasnya. Besar partikel yang biasa digunakan adalah 1-25 mikron (Sastrohamidjojo, 1991).
Cara pemilihan fase gerak sistem KLT :
1) Fase gerak harus memiliki kemurnian yang tinggi.
2) Daya elusi fase gerak diatur sedemikian rupa sehingga harga Rf terletak antara 0,2 – 0,8 untuk memaksimalkan pemisahan.
3) Untuk pemisahan dengan fase diam polar seperti silika gel, polaritas fase gerak akan menentukan kecepatan elusi yang berarti juga menentukan nilai Rf.
6) Solut-solut ionik dan solut-solut polar lebih baik digunakan campuran pelarut sebagai fase geraknya, seperti campuran air dan metanol dengan perbandingan tertentu (Gandjar dan Rohman, 2007).
Penjenuhan bejana dapat dilakukan dengan cara melapisi dinding bagian dalam bejana dengan kertas saring. Bagian bawah kertas saring tersebut harus tercelup dalam cairan pengembang (Ditjen POM RI, 2000).
Cuplikan ditotolkan sebagai bercak bulat atau garis 1,5-2,0 cm dari tepi bawah. Bercak sebaiknya berukuran seragam dan mempunyai diameter 3-6 mm. Penotolan dapat dilakukan dengan mikropipet atau dengan “microsyringe” (Sudjadi, 1986).
commit to user
Visualisasi dimaksudkan untuk melihat komponen penyusun yang terpisah setelah proses pengembangan. Visualisasi dapat dikerjakan dengan beberapa cara. Misalnya dengan menggunakan uap iodium, sinar ultraviolet khususnya bila digunakan adsorben yang mengandung fosfor. Cara lain yaitu dengan charring atau dengan penyemprotan menggunakan reagensia tertentu (Adnan, 1997).
Nilai Rf dihitung menggunakan perbandingan :
Rf = ……… (1)
Gangguan yang terjadi pada sistem KLT antara lain : 1) Pembentukan ekor
Hal ini disebabkan karena cuplikan terlalu banyak atau pembebanan yang berlebih. Penyebab umum yang lain adalah tidak adanya pengendalian pH yang memadai pada lapisan. pH pada lapisan harus sedemikian rupa sehingga asam berada pada bentuk asam seluruhnya dan basa berada dalam bentuk amina seluruhnya. Jadi, asam harus dikembangkan pada sistem yang asam, dan sebaliknya.
2) Pencampuran pelarut
Jika dua pelarut yang sifatnya sangat berbeda dicampur untuk memperoleh sistem pelarut, sistem ini dapat memisah pada lapisan membentuk dua garis depan pelarut. Kedua daerah hanya pelarut yang sifatnya agak serupa saja yang boleh dicampur.
commit to user 3) Garis depan tidak mendatar
Garis depan pelarut kadang membentuk busur dengan bercak rendah di tengah. Ini umumnya disebabkan oleh ketidakjenuhan bejana atau suhu yang tidak sama pada lapisan. Bejana harus dijenuhkan dengan pelarut, dan harus diusahakan agar tidak ditempatkan di tempat yang beraliran udara (Gritter dkk., 1991).
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi harga Rf, yaitu : 1) Struktur kimia dari senyawa yang dipisahkan.
2) Sifat dari fase diam dan derajat aktifitasnya. 3) Tebal dan kerataan dari lapisan penjerap. 4) Pelarut dan derajat kemurnian fase gerak. 5) Jumlah cuplikan yang digunakan.
6) Teknik percobaan. 7) Suhu.
8) Kesetimbangan.
9) Derajat kejenuhan dari uap dalam bejana pengembangan yang digunakan (Stahl, 1985).
7. Spektrofotometri UV-Visibel
Spektrofotometri adalah pengukuran absorpsi energi cahaya oleh suatu sistem kimia pada panjang gelombang tertentu (Day dan Underwood, 1992).
Radiasi elektromagnetik, yang mana sinar ultraviolet dan sinar tampak merupakan salah satunya dapat dianggap sebagai energi yang
commit to user
merambat dalam bentuk gelombang. Panjang gelombang merupakan jarak linier dari suatu titik pada satu gelombang ke titik yang bersebelahan pada gelombang yang bersebelahan (Gandjar dan Rohman, 2007).
Secara konvensional daerah spektrum dibagi menjadi tiga bagian, yaitu spektrum dekat UV (185–400 nm), cahaya tampak (400–700 nm), dan inframerah (700–1100 nm) (Blaedel dan Meloche, 1963).
Hukum Lambert-Beer menyatakan bahwa intensitas yang diteruskan oleh larutan zat penyerap berbanding lurus dengan tebal dan konsentrasi larutan, serta berbanding terbalik dengan transmitan. Hukum tersebut dituliskan dengan :
A = abc = log ……….. (2) di mana A = absorbansi
a = koefisien eksitasi b = tebal sel (cm)
c = konsentrasi analit (Day dan Underwood, 1992)
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam analisis secara spektroskopi UV-Vis di antaranya :
1) Pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar UV-Vis
Hal ini dilakukan jika senyawa yang dianalisis tidak memiliki serapan pada daerah ultraviolet dan visibel. Cara yang digunakan adalah dengan merubah senyawa tersebut menjadi senyawa lain sehingga memiliki serapan pada daerah tersebut.
commit to user 2) Pemilihan panjang gelombang
Panjang gelombang yang digunakan adalah panjang gelombang yang maksimal. Panjang gelombang maksimal diperoleh dengan membuat kurva hubungan antara absorbansi dengan panjang gelombang dari suatu larutan baku pada konsentrasi tertentu.
3) Waktu operasional (operating time)
Tujuannya adalah untuk mengetahui waktu pengukuran yang stabil. Waktu operasional ditentukan dengan mengukur hubungan antara waktu pengukuran dengan absorbansi larutan.
4) Pembuatan kurva baku
Dibuat seri larutan baku dari zat yang akan dianalisis dengan berbagai konsentrasi. Masing-masing absorbansi larutan dengan berbagai konsentrasi diukur, kemudian dibuat kurva yang merupakan hubungan antara absorbansi (y) dengan konsentrasi (x).
5) Pembacaan absorbansi sampel atau cuplikan
Absorban pada spektrofotometer hendaknya antara 0,2 sampai 0,8 atau 15% sampai 70% jika dibaca sebagai transmitan. Hal ini berdasarkan anggapan bahwa kesalahan pada pembacaan transmitan (T) adalah 0,005 atau 0,5% (Gandjar dan Rohman, 2007).
Komponen-komponen dari spektrofotometer Uv-vis adalah : 1) Sumber lampu
Lampu deuterium digunakan untuk daerah UV pada panjang gelombang dari 190-350 nm, sementara lampu halogen kuarsa atau tungsten
commit to user
digunakan untuk daerah visibel (pada panjang gelombang antara 350-900 nm).
2) Monokromator
Digunakan untuk mendispersikan sinar ke dalam komponen-komponen panjang gelombangnya yang selanjutnya akan dipilih oleh celah (slit). 3) Sel
Sel yang digunakan untuk daerah visibel terbuat dari kaca, sedangkan untuk daerah ultraviolet digunakan sel kuarsa atau kaca silika. Sel tampak dan ultraviolet yang khas mempunyai panjang lintasan 1 cm. 4) Detektor
Peranan detektor adalah memberikan respon terhadap cahaya pada berbagai panjang gelombang.
5) Recorder
Recorder digunakan sebagai perekam absorbansi yang dihasilkan dari pengukuran (Rouessac dan Rouessac, 2007).
commit to user
Kurva hubungan antara konsentrasi analit dengan kuantita yang diukur disebut kurva baku. Hubungan kurva yang benar-benar linier seyogyanya dibuat dari lima titik (Eckschlager, 1972).
Regresi merupakan kurva yang menyatakan hubungan antara dua besaran yang dapat dinyatakan sebagai :
y = bx + a ………. (3)
y = menyatakan absorbansi x = konsentrasi
b = koefisien korelasi (juga menyatakan slope atau kemiringan) a = tetapan regresi dan juga disebut intersep
(Gandjar dan Rohman, 2007).
B. Kerangka Pemikiran
Rhodamin B merupakan pewarna sintetik yang dinyatakan sebagai bahan berbahaya jika digunakan dalam kosmetika menurut Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI nomor 00386/C/SK/90 tahun 1990 dan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 239/Menkes/Per/V/85 tahun 1985.
Brantom (2005) menyatakan, kandungan beberapa senyawa dalam struktur kimia rhodamin B menyebabkan senyawa ini bersifat karsinogen dan genotoksik jika masuk ke dalam organ tubuh. Pada kondisi terakumulasi, rhodamin B dapat menjadi faktor pemicu stres oksidatif. Efek yang ditimbulkan di antaranya gangguan saluran pernafasan, kerusakan degeneratif organ ginjal, kanker hati, dan
commit to user
gangguan produksi hormon. Paparan secara langsung juga dapat menyebabkan iritasi pada kulit.
Penelitian yang dilakukan Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan (YPKK) menyebutkan bahwa kosmetika yang beredar di pasaran masih banyak yang tidak memiliki persyaratan ijin produksi (Syahrida, 2010). Ditambahkan pula, hasil pengawasan post market kosmetika oleh BPOM RI pada tahun 2009-2013 yang menemukan penyalahgunaan bahan pewarna pada kosmetika dekoratif yaitu merah K10 (rhodamin B). Produk yang teridentifikasi tersebut di antaranya merupakan kosmetik impor dan tidak mencantumkan izin edar dari BPOM RI.
Penggunaan bahan pewarna merah K10 (rhodamin B) pada kosmetika dinilai sangat membahayakan konsumen karena dapat memberikan efek yang buruk terhadap kesehatan. Karena sering terjadi penyalahgunaan, maka diperlukan upaya monitoring untuk meningkatkan keamanan melalui identifikasi dan analisis kuantitatif rhodamin B pada sediaan lipstik berwarna merah yang beredar di wilayah Kota Surakarta.
C. Hipotesis
1. Lipstik berwarna merah yang beredar di wilayah Kota Surakarta diduga mengandung rhodamin B.
2. Rhodamin B yang terdapat dalam sediaan lipstik berwarna merah yang beredar di wilayah Kota Surakarta berada dalam jumlah tertentu.