• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEDOMAN TEKNIS P2P

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEDOMAN TEKNIS P2P"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

PEDOMAN TEKNIS

PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN

PENYAKIT MENULAR

(P2M)

DINAS KESEHATAN KABUPATEN NGAWI

PUSKESMAS JOGOROGO

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga Puskesmas Jogorogo dapat menyusun pedoman teknis Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) dengan baik dan benar.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada pedoman teknis ini. Oleh karena itu Puskesmas Jogorogo mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat membangun Puskesmas JogorogoKritik konstruktif dari pembaca sangat Puskesmas Jogorogoharapkan untuk penyempurnaan pedoman teknis selanjutnya.

Akhir kata semoga pedoman teknis ini dapat memberikan manfaat bagi kita sekalian.

Jogorogo, Pebruari 2017

(3)

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... 1 KATA PENGANTAR... 2 DAFTAR ISI ... 3 BAB I PENDAHULUAN...4 1.1. Latar Belakang... 4 1.3. Tujuan... 6

BAB II Igambaran umum Program P2P UPT Puskesmas Jogorogo 7 2.1. Definisi Puskesmas ... 7

2.2. Macam-macam dan Penularan Penyakit Menular... 7

2.3. Program Pemberantasan Penyakit Menular di Puskesmas... 10

2.4. Implementasi Pemberantasan Penyakit Menular Pada Puskesmas... 20

BAB III Kebijakan Program P2 UPT Puskesmas Jogorogo 23

3.1. Arah Kebijakan... 23

3.2. Strategi Kebijakan... 23

3.3 Sasaran... 23

3.4 Langkah-langkah Kebijakan... 24

3.5 Uraian dan Rincian Kebijakan P2P... 24

3.6 Kemitraan... 25

BAB IV PENUTUP... 26

4.1 Kesimpulan... 26

4.2 Saran... 27

(4)

BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang

Untuk menciptakan bangsa yang memiliki kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat dibutuhkan kerjasama masyarakat dalam menciptakan pembangunan kesehatan. Pembangunan kesehatan di Indonesia berfungsi untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat sehingga setiap orang dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Pembangunan kesehatan di Indonesia masih perlu pembenahan yang terkonsentrasi guna mewujudkan pembangunan kesehatan yang memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat kesehatan masyarakat Indonesia yang optimal. Di sini, peran masyarakat dan perangkat-perangkat kesehatan memiliki peran yang sangat penting, salah satu perangkat kesehatan tersebut adalah Puskesmas. Puskesmas merupakan sebuah institusi pelayanan kesehatan yang berbasiskan masyarakat yang ikut berperan sebagai perangkat pembangunan kesehatan milik pemerintah. Upaya kesehatan puskesmas meliputi upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan. Di sini, puskesmas difungsikan sebagai ujung tombak penentu kinerja Kabupaten atau kota untuk mewujudkan masyarakat yang sehat di wilayah kerjanya karena Puskermas merupakan sarana pelayanan kesehatan dasar yang paling dekat dengan masyarakat. Puskesmas juga merupakan ujung tombak penyelenggaraan UKM maupun UKP di srata pertama pelayanan kesehatan, dan merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan sebagian tugas pembangunan kesehatan di Kabupaten atau Kota.

Untuk mencapai tujuan yang diinginkan digunakan nilai-nilai strategi ke depan adalah sebagai berikut:

1. Profesional 2. Empati 3. Sopan 4. Optimal 5. Nyaman

(5)

6. Amanah

Dengan Motto : “ Pelayananku adalah ibadahku ” Serta Budaya Kerja kami : “ 4 K ”

KERJA KERAS, KERJA CERDAS, KERJA IKHLAS, KERJA TUNTAS Sedangkan Visi pembangunan kesehatan Puskesmas Jogorogo adalah ” Terwujudnya Masyarakat Kecamatan Jogorogo yang Sehat, Mandiri dan Berkeadilan ” Kemandirian kesehatan masyarakat disini adalah gambaran Masyarakat Kecamatan Jogorogo dimasa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan, yakni masyarakat yang hidup dalam lingkungan dengan perilaku sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta berperan aktif di dalam setiap upaya kesehatan agar memiliki derajat kesehatan yang setinggi tingginya.

Di dalam pembangunan kesehatan, Indonesia memiliki masalah kesehatan yang cukup kompleks, dibuktikan dengan meningkatnya kasus penyakit menular, banyaknya jumlah kematian yang terjadi, serta meningkatnya penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, didukung dengan perolehan Indonesia dengan peringkat 4 sedunia untuk kasus tuberculosis, selain itu Indonesia juga memperoleh peringkat 1 untuk penularan HIV tercepat. Hal ini merupakan masalah kesehatan yang sangat membutuhkan perhatian dan pembenahan. Namun dalam pembenahan dan pembangunan kesehatan tidaklah mudah karena dipersulit dengan adanya keterbatasan sumber daya manusia baik dalam aspek kualitas maupun kuantitas. Dengan adanya Puskesmas sebagai upaya keperawatan kesehatan masyarakat yang terdiri dari upaya wajib dan upaya pengembangan, diharapkan pemberian pelayanan kesehatannya dapat mencegah dan memberantas penyakit menular melalui upaya wajibnya yaitu P2M.

(6)

1.2.1 Sebagai pedoman teknis penyusunan, penilaian, pengkajian dalam melaksanakan kegiatan pencegahan, pemberantasan serta penanggulangan penyakit.

1.2.2 Menurunkan angka kesakitan, kematian dan Kecacatan akibat penyakit menular dan tidak menular

1.3 TUJUAN KHUSUS.

1.3.1 Meningkatkan kemampuan pencegahan, pemberantasan serta penanggulangan penyakit.

1.3.2 Melaksanakan investigasi, penilaian cepat terhadap kejadian dan mengidentifikasi daerah resiko penyebaran kasus KLB

1.3.3 Meningkatkan kerja sama lintas program dan lintas sektoral secara baik.

(7)

BAB II

GAMBARAN UMUM PROGRAM P2P UPT PUSKESMAS JOGOROGO 2.1. Definisi Puskesmas

Definisi Puskesmas dalam KEPMENKES RI Nomor 279/MENKES/SK/IV/2006, Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. Puskemas merupakan ujung tombak penyelenggaraan UKM maupun UKP di strata pertama pelayanan kesehatan, dan merupakan unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehtana Kabupaten/Kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan sebagian tugas pembangunan kesehatan di Kabupaten/Kota. Upaya kesehatan yang dilakukan oleh Puskesmas ini meliputi upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan. Upaya kesehatan wajib terdiri dari Promosi kesehatan, Kesehatan lingkungan, KIA/KB, P2M, Gizi dan Pengobatan.

2.2. Macam-macam dan Penularan Penyakit Menular 2.2.1. Penularan langsung dari manusia ke manusia

Ini dapat terjadi karena tetesan-tetesan halus yang terhambur dari batuk, berludah, atau bersin, misalnya tuberkulose ; bersentuh (persetubuhan), misalnya pada penyakit kelamin.

2.2.2. Penularan tidak langsung

A.Dengan perantara benda atau barang yang kotor (ada kumannya), biasanya air, makanan dan susu segar. Sebagai contoh adalah perjalanan najis ke mulut. Manusia makan bahan makanan dan minum air yang telah dikotori dengan kuman penyebab penyakit. Penyakit-penyakit yang ditularkan dengan cara ini antara lain ialah kolera dan disentri.

(8)

B.Dengan perantara serangga atau gigitan binatang. Orang digigit serangga atau binatang yang membawa kuman penyakit dalam saluran pencernaannya atau dalam ludahnya. Sebagai contoh: Malaria, Filariasis, Dengue demam berdarah dan Rabies.

2.2.3. Jika diketahui cara bagaimana penyakit itu menular, maka dapat dijalankan usaha-usaha yang jitu untuk menghilangkan sumber infeksi, dan memutuskan rantai penularan penyakit. Dengan demikian Puskesmas dapat banyak sekali mengurangi kejadian (incidence) penyakit menular.Didalam pembatasan penyakit sering dipakai istilah wabah dan kejadian luar biasa (KLB) yang artinya sebagai berikut :

A. Wabah

Wabah adalah suatu peningkatan kejadian kesakitan/kematian yang telah meluas secara cepat baik jumlah kasus maupun luas daerah terjangkit.

B. Kejadian Luar Biasa

Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah Timbulnya suatu kejadian kesakitan/kematian dan atau meningkatnya suatu kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu kelompok penduduk dalam kurun waktu tertentu.Kriteria KLB (kriteria kerja) antara lain:

1) Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada/tidak dikenal di suatu daerah

2) Adanya peningkatan kejadian kesakitan/kematian yang dua kali atau lebih dibandingkan dengan jumlah kesakitan/kematian yang biasa terjadi pada kurun waktu sebelumnya (jam, hari, minggu) tergantung dari jenis penyakitnya. 3) Adanya peningkatan kejadian kesakitan terus menerus selama 3 kurun waktu

(jam, hari, minggu) berturut-turut menurut jenis penyakitnya

4) Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikkan dua kali lipatatau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya

5) Angka rata-rata per bulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan dua kalilipat atau lebih dibanding dengan angka rata-rata perbulan dari tahun sebelumnya

6) Case Fatality Rate (CFR) dari suatu penyakit dalam suatu kurun waktu tertentumenunjukkan kenaikan 50% atau lebih, dibanding dengan CFR dari periode sebelumnya

(9)

7) Proposional Rate (PR) penderita baru dari suatu periode tertentumenunjukkan kenaikan dua kali atau lebih periode yang sama dalam kurunwaktu/tahun sebelumnya.

8) Beberapa penyakit khusus: kolera, DBD/DSS: Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya (pada daerah endemis), terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode 4 minggusebelumnya daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit yangbersangkutan.

C. Penyakit-penyakit menular yang dilaporkan

Penyakit-penyakit menular yang dilaporkan adalah penyakit-penyakit yang memerlukan kewaspadaan ketat yaitu penyakit-penyakit wabah atau yang berpotensi wabah/atau yang dapat menimbulkan kejadian luar biasa (KLB)

Penyakit-penyakit menular dikelompokkan sebagai berikut:

1) Penyakit karantina atau penyakit wabah penting: Kholera Poliomylitis, Pes, Difteri.

2) Penyakit potensial wabah/KLB yang menjalar dalam waktu cepat atau mempunyai mortalitas tinggi, dan memerlukan tindakan segera: DHF, Campak, Rabies, Diare, Pertusis.

3) Penyakit potensial wabah/KLB lainnya dan beberapa penyakit penting: Malaria, Hepatitis, Enchephalitis, Frambosia, Typhus Abdominalis,Tetanus, Influenza, Meningitis, Tetanus Neonatorum, Antrax, Keracunan.

4) Penyakit-penyakit menular yang tidak berpotensi wabah, tetapi diprogramkan, di tingkat kecamatan dilaporkan secara bulanan melalui RR terpadu Puskesmas ke kabupaten, dan seterusnya. Penyakit-penyakit tersebut meliputi: Cacing, Lepra, Tuberculosa, Syphilis, Gonorhoea dan filariasis, dan lain-lain.

Dari penyakit-penyakit diatas, pada keadaan tidak ada wabah secara rutin hanya yang termasuk kelompok 1 dan kelompok 2 yang perlu dilaporkan secara mingguan, sementaara bagi penyakit kelompok 3 dan 4 secara rutin dilaporkan bulanan.

2.3. Program Pemberantasan Penyakit Menular di Puskesmas

Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menular merupakan program pelayanan kesehatan Puskesmas untuk mencegah dan mengendalikan penular penyakit menular/infeksi (misalnya TB, DBD, Kusta dll). Tujuan dari program P2M ini yaitu untuk menurunkan angka kesakitan, kematian, dan kecacatan akibat penyakit menular.Prioritas penyakit menular yang akan ditanggulangi adalah

(10)

Malaria, demam berdarah dengue, diare, polio, filaria, kusta tuberkulosis paru, HIV/AIDS, pneumonia, dan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Uraian tugas umum untuk koordinator unit pencegahan dan pemberantasan penyakit menular yaitu menyusun perencanaan dan evaluasi kegiatan di unit p2m, mengkoordinir dan berperan aktif terhadap kegiatan di unitnya, dan kut serta aktif mencegah dan mengawasi terjadinya peningkatan kasus penyakit menular serta menindaklanjuti terjadinya KLB. Banyak sekali upaya yang dilakukan oleh puskesmas untuk memberantas penyakit menular, setelah puskemas bekerja, kinerja p2m puskesmas langsung dilaporkan kepada kepala dinas kesehatan daerah tingkat II.

2.3.1. Ruang Lingkup Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular A. Surveilans epidemiologi B. Imunisasi C. TBC D. Malaria E. Kusta F. DBD G. Penanggulangan KLB H. ISPA/Pnemonia I. Filariasis J. AFP K. Diare

L. Rabies/Gigitan Hewan Penular Rabies (HPR) M. Kesehatan Matra (Haji dan P. Bencana) N. Frambusia

O. Leptospirosis P. HIV/AIDS

Q. Penyakit tidak menular (DM, hipertensi, dll). 2.3.2. Kegiatan Pokok P2M

Secara umum, untuk pemberantasan penyakit menular, puskesmas memiliki tugas-tugas yang terbagi dalam lima hal. Terdapat banyak sekali macam penyakit menular, berikut ini jenis penyakit menular yang bersumber data dari puskesmas berdasarkan KEPMENKES RI NOMOR 1479/MENKES/SK/X/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Terpadu:

NO. Penyakit NO. Penyakit 1. Kolera 14. Malaria Klinis

(11)

2. Diare 15. Malaria Vivax 3. Diare berdarah 16. Malaria falsifarum 4. Tifus perut klinis 17. Malaria mix

5. TBC paru BTA (+) 18. Demam berdarah dengue 6. Tersangka TBC paru 19. Demam dengue

7. Kusta PB 20. Pneumonia 8. Kusta MB 21. Sifilis 9. Campak 22. Gonrrhea 10. Difteri 23. Frambusia 11. Batuk rejan 24. Filariasis 12. Tetanus 25. Influensa 13. Hepatitis klinis

Kegiatan pokok pemberantasan penyakit menular oleh puskesmas terdiri dari pencegahan dan penanggulangan faktor risiko, peningkatan imunisasi, penemuan dan tatalaksana penderita, Peningkatan surveilens epidemiologi dan penanggulangan wabah, serta Peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit.

A. Pencegahan dan Penanggulangan Faktor Risiko

Selain pasien yang telah terinfeksi penyakit menular, masyarakat yang memiliki risiko tinggi juga perlu diperhatikan, karena masyarakat yang memiliki risiko tinggi bisa memiliki risiko kapan saja terkena penyakit menular. Pencegahan dan penanggulangan faktor risiko terdiri atas:

1) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan perundang-undangan,dan kebijakan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko dan diseminasinya

2) Menyiapkan materi dan menyusun rencana kebutuhan untuk pencegahan dan penanggulangan faktor resiko

3) Menyediakan kebutuhan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko sebagai stimulam

4) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan juklak/juknis/pedoman pencegahandan penanggulangan faktor risiko

5) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melakukanpencegahan dan penanggulangan faktor risiko

6) Melakukan bimbingan, pemantauan dan evaluasi kegiatan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko

7) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dankonsultasi teknis pencegahan dan penanggulangan faktor risiko

(12)

8) Melakukan kajian program pencegahan dan penanggulangan faktor risiko 9) Membina dan mengembangkan UPT dalam pencegahn dan penanggulangan

faktor risiko.

10) Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan pencegahan dan pemberantasan penyakit.

B. Peningkatan imunisasi

Imunisasi sangat penting untuk mencegah dan melindungi seseorang terjangkit penyakit menular, ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh puskesmas dalam hal peningkatan imunisasi yaitu:

1) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan perundang-undangan,dan kebijakan peningkatan imunisasi, dan diseminasinya

2) Menyiapkan materi dan menyusun perencanaan kebutuhan peningkatanimunisasi

3) Menyediakan kebutuhan peningkatan imunisasi sebagai stimulan yang ditujukanterutama untuk masyarakat miskin dan kawasan khusus sesuai dengan skalaprioritas

4) Menyiapkan materi dan menyusun rancagan juklak juklak/juknis/protap programimunisasi

5) Menyiapkan dan mendistribusikan sarana dan prasarana imunisasi

6) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melaksanakanprogram imunisasi

7) Melakukan bimbingan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan imunisasi

8) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dankonsultasi teknis peningkatan imunisasi

9) Melakukan kajian upaya peningkatan imunisasi

10)Membina dan mengembangkan UPT dalam upaya peningkatan imunisasi

11)Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan imunisasi

C. Penemuan dan tatalaksana penderita

Selain kunjungan penderita ke puskesmas, puskesmas harus berperan aktif dalam penemuan dan kunjungan terhadap penderita. Penemuan dan tatalaksana penderita terdiri atas upaya bimbingan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan penemuan dan tatalaksana penderita, serta meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melaksanakan program penemuan dan tatalaksana penderita. Di dalam upaya penemuan dan tatalaksana penderita dibutuhkan kerjasama antara masyarakat dan puskesmas untuk saling bekerjasama sehingga dapat memabangun status kesehatan pada masyarakat yang optimal dengan pemberantasan penyakit menular,sebagai contoh seperti kasus TBC yang membutuhkan peran penting puskesmas. Apabila pasien berhenti dalam masa

(13)

pengobatan akibat halangan tertentu atau lalainya pasien dalam kunjungan ke puskesmas untuk kontrol, maka puskesmas harus aktif mengunjungi rumah penderita, sebab apabila pasien tersebut berhenti minum obat, maka upaya pemberantasan TBC dikatakan gagal dan pasien harus mengulang tahap pengobatan mulai dari awal. Serta apabila pasien terus-terusan memberhentikan pengobatan di tengah-tangah masa pengobatan, maka akan terjadi resistensi dan hal ini dapat menyebabkan kemungkinan penyebaran penyakit semakin besar. Itulah sebabnya, puskesmas terdekat harus mengunjungi rumah pasien agar dapat menjangkau pasien dan menyukseskan upaya p2m. Kegiatan pokok dalam upaya ini yaitu:

1) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan perundangundangan,dan kebijakan penemuan dan tatalaksana penderita dan diseminasinya

2) Menyiapkan materi dan menyusun perencanaan kebutuhan penemuan dan tatalaksana penderita

3) Menyediakan kebutuhan penemuan dan tatalaksana penderita sebagai stimulan

4) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan juklak/juknis/pedoman program penemuan dan tatalaksana penderita

5) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melaksanakanprogram penemuan dan tatalaksana penderita

6) Melakukan bimbingan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan penemuan dan tatalaksana penderita

7) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dankonsultasi teknis penemuan dan tatalaksana penderita

8) Melakukan kajian upaya penemuan dan tatalaksana penderita

9) Membina dan mengembangkan UPT dalam upaya penemuan dan tatalaksana penderita

10)Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan penemuan dantatalaksana penderita.

D. Peningkatan surveilans epidemiologi dan penanggulangan wabah

Surveilans epidemilogi penyakit menular juga merupakan salah satu upaya pemberantasan penyakit menular yang penting, karena dengan surveilans epidemiologi penyakit menular, puskesmas dapat mengetahui penyebaran dan hubungannya dengan faktor risiko, surveilans epidemiologi ini dapat mendukung

UKM UPT Puskesmas Jogorogo Page 13

(14)

pemberantasan penyakit menular dari data yang didapat oleh puskesmas itu sendiri. Kegiatan pokok:

1) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan perundang-undangan,dan kebijakan peningkatan surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah dan diseminasinya

2) Menyiapkan materi dan menyusun perencanaan kebutuhan peningkatansurveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah

3) Menyediakan kebutuhan peningkatan surveilans epidemiologi danpenanggulangan KLB/wabah sebagai stimulan

4) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan juklak/juknis/pedoman programsurveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah

5) Meningkatkan sistem kewaspadaan dini dan menanggulangi KLB/Wabah, termasuk dampak bencana

6) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melaksanakanprogram surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah

7) Melakukan bimbingan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan surveilansepidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah

8) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dankonsultasi teknis peningkatan surveilans epidemiologi dan penanggulanganKLB/wabah

9) Melakukan kajian upaya peningkatan surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah

10)Membina dan mengembangkan UPT dalam upaya peningkatan surveilansepidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah

11)Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan surveilansepidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah.

Surveilans merupakan kegiatan analisissecara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalahkesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinyapeningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatantersebut, agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektifdan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan danpenyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program. Jadi, surveilans epidemiologi penyakit menular merupakan kegiatan analisis secara sistematis dan terus-menerus terhadao penyakit menular yang terjadi di suatu wilayah tertentu agar dapat melakukan tindakan penanggulangaan penyakit

(15)

menular secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara programkesehatan.Tujuan surveilans epidemiologi penyakit menular yaitu:

1) Terkumpulnya data kesakitan, data laboratorium dan data KLB

penyakit menular di Puskesmas sebagai sumber data Surveilans Terpadu Penyakit Menular.

2) Terdistribusikannya data kesakitan, data laboratorium serta data KLB penyakit menular kepada unit surveilans DinasKesehatan Kabupaten/Kota, unit surveilans Dinas Kesehatan Propinsidan unit surveilans Direktorat Jenderal Pemberantasan PenyakitMenular

3) Terlaksananya pengolahan dan penyajian data penyakit menular dalam bentuktabel, grafik, peta dan analisis epidemiologi lebih lanjut oleh Unitsurveilans Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Dinas KesehatanPropinsi dan Ditjen PPM &PL Depkes

4) Terdistribusinya hasil pengolahan dan penyajian data penyakit menular besertahasil analisis epidemiologi lebih lanjut dan rekomendasi kepadaprogram terkait di Puskesmas,Kabupaten/Kota, Propinsi, Nasional, pusat-pusat riset, pusat-pusatkajian dan perguruan tinggi serta sektor terkait lainnya

Di dalam KEPMENKES RI NOMOR 1479/MENKES/SK/X/2003tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Terpadu, dinyatakan bahwa prioritas surveilans penyakit yang perlu dikembangkan adalah penyakit yangdapat dicegah dengan imunisasi, penyakit yang potensial menimbulkanwabah atau kejadian luar biasa, penyakit menular dan keracunan, demamberdarah dan demam berdarah dengue, malaria, penyakit-penyakit zoonosisantara lain antraks, rabies, leptospirosis, filariasis serta tuberkulosis, diare, tipus perut, kecacingan dan penyakit perut lainnya, kusta, frambusia,penyakit HIV/AIDS, penyakit menular seksual, pneumonia, termasuk penyakitpneumonia akut berat (severe acute respiratory syndrome), hipertensi, strokedan penyakit jantung koroner, diabetes mellitus, neoplasma, penyakit paruobstuksi menahun, gangguan mental dan gangguan kesehatan akibatkecelakaan.Salah satu ruang lingkup penyelenggaran surveilans terpadu penyakit yaitu surveilans terpadu penyakit bersumber data Puskesmas, jenis penyakit menular yang termasuk di dalam surveilans terpadu penyakit berbasis

(16)

puskesmas meliputi kolera, tifus perut klinis, TBC paru BTA (+), tersangka TBC paru, kusta PB, Kusta MB, campak, difteri, batuk rejan, tetanus, hepatitis klinis, malaria klinis, malaria vivax, malaria falsifarum, malaria mix, demam berdarah dengue, pneumonia, sifilis, gonorrhoe, frambusia, filariasis, dan influenza. Data-data surveilans terpadu penyakit didapatkan dari Data-data harian pelayanan yang disusun dalam sistem perekaman data puskesmas. Masing-masing unit surveilans di Puskemas memiliki peran khusus dalam penyelenggaraan Surveilans Terpadu Penyakit Peran tersebut diformulasikan sebagai kegiatanteknis surveilans yang saling mempengaruhi kinerja antara yang satu denganunit surveilans yang lain dalam jejaring surveilans. Peran puskesmas dalam STP penyakit menular yaitu:

1) Pengumpulan dan pengolahan data

Unit surveilans puskesmas Unit surveilans Puskesmas mengumpulkan dan mengolah dataSTP Puskesmas harian bersumber dari register rawat jalan & register rawat inap di Puskesmas dan Puskesmas Pembantu, tidak

termasuk data dari unit pelayanan bukan puskesmas dan kaderkesehatan. Pengumpulan dan pengolahan data tersebutdimanfaatkan untuk bahan analisis dan rekomendasi tindak lanjutserta distribusi data.

2) Analisis serta Rekomendasi Tindak Lanjut

Unit surveilans Puskesmas melaksanakan analisis bulanan terhadap penyakit potensial KLB di daerahnya dalam bentuk tabelmenurut desa/kelurahan dan grafik kecenderungan penyakitmingguan, kemudian menginformasikan hasilnya kepada KepalaPuskesmas, sebagai pelaksanaan pemantauan wilayah setempat(PWS) atau sistem kewaspadaan dini penyakit potensial KLB diPuskesmas. Apabila ditemukan adanya kecenderunganpeningkatan jumlah penderita penyakit potensial KLB tertentu. maka Kepala Puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi dan menginformasikan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Unit surveilans Puskesmas melaksanakan analisis tahunan perkembangan penyakit dan menghubungkannya dengan faktor risiko, perubahan lingkungan, serta perencanaan dan keberhasilan program. Puskesmas memanfaatkan hasilnya sebagai bahan profil tahunan, bahan perencanaan Puskesmas, informasi program dan sektor terkait serta Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

3) Umpan Balik

(17)

Unit surveilans Puskesmas mengirim umpan balik bulanan absensi laporan dan permintaan perbaikan data ke Puskesmas Pembantu di daerah kerjanya. 4) Laporan

Setiap minggu, Puskesmas mengirim data PWS penyakit potensialKLB ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Setiap bulan, puskesmas mengirim data STP Puskesmas ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan jenis penyakit dan variabelnya.

E. Peningkatan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit

Setelah upaya-upaya yang telah dijelaskan di atas tadi, Puskesmas juga memiliki upaya untuk meningkatkan komunikasi, informasi, dan Edukasi untuk oencegan dan pemberantasan penyakit menular di suatu wilayah kerjanya. Upaya ini bisa dilakukan dengan pengembangan media promosi kesehatan dan teknologi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE); pengembangan upaya kesehatan bersumber masyarakat, (seperti pos pelayanan terpadu, pondokbersalin desa, usaha kesehatan sekolah dan generasi muda, Saka Bhakti Husada; serta peningkatan pendidikan kesehatan kepada masyarakat. Media promosi kesehatan terhadap masyarakat perlu ditingkatkan terutama promosi tentang penyakit menular, cara penularan dan cara pencegahan agar masyarakat bisa mengerti secara luas apa saja penyakit menular itu, bagaimana cara mencegahnya dan bagaimana cara mengobatinya. Selain itu puskesmas juga bertugas untuk mengajak masyarakat berperan aktif dalam pengembangan upaya kesehatan misalnya pos pelayanan terpadu dan usaha kesehatan lain. Selain promosi kesehatan, komunikasi dan informasi seputar penyakit menular untuk masyarakat juga merupakan upaya puskesmas dalam pemberantasan penyakit menular. Informasi yang diberikan terhadap puskesmas seperti penyuluhan harus dibuat semenarik mungkin agar masyarakat tertarik terhadap acara yang diadakan. Semisal, penyuluhan HIV/AIDS pada siswa SMP/SMA untuk pencegahan penyakit menular seksual pada kalangan muda yang sekarang sedang marak terjadi. Banyak siswa SMP yang masih belum mengerti apa itu penyakit HIV/AIDS dan bagaimana cara penularannya sehingga di Indonesia penyebaran HIV/AIDS sangatlah cepat. Selain pemberian informasi, pembentukan karakter dan moral terhadap kalangan muda juga sangat penting untuk membentuk moral dan karakter yang baik sebagai dasar pembentukan negara untuk berkembang.

(18)

Meskipun moral merupakan faktor tidak langsung terhadap penyebaran penyakit menular terutama penyakit menular melalui hubungan seksual, namun pembentukan moral sangat penting diberikan kepada generasi muda untuk tujuan pencegahan penularan penyakit menular hubungan seksual. Selain itu, pembentukan moral dan karakter bisa mendukung pembangunan negara yang berimbas kepada tingkat dan status kesehatan bangsa. Upaya selain promosi yaitu pemberdayaan masyarakat melalui pos kesehatan pada puskesmas yang bersumberdayakan masyarakat. Pos kesehatan ini tetap dikelola oleh puskesmas meskipun yang melaksanakan orang-orang yang ingin berpartisipasi di dalamnya dengan dibimbing oleh dokter atau bidan setempat. Dengan adanya pos kesehatan yang bersumberdayakan masyarakat, maka secara otomatis pengetahuan masyakarakat akan bertambah. Kegiatan pokok dari peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit yaitu:

1) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan perundang-undangan,dan kebijakan peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahandan pemberantasan penyakit dan diseminasinya

2) Menyiapkan materi dan menyusun perencanaan kebutuhan peningkatankomunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit

3) Menyediakan kebutuhan peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE)pencegahan dan pemberantasan penyakit sebagai stimulan

4) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan juklak/juknis/pedoman programkomunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasanpenyakit

5) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melaksanakanprogram komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit

6) Melakukan bimbingan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan komunikasi informasidan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit

7) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dankonsultasi teknis peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE)pencegahan dan pemberantasan penyakit

8) Melakukan kajian upaya peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE)pencegahan dan pemberantasan penyakit

(19)

9) Membina dan mengembangkan UPT dalam upaya peningkatan komunikasiinformasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit

10) Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan komunikasiinformasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit.

2.4. Implementasi Pemberantasan Penyakit Menular Pada Puskesmas 2.4.1. Sifilis

Penyakit kelamin menular yang disebabkan oleh Treponema palillidum,penularan terutama melalui hubungan kelamin.

A. Ciri khas:

1) Masa inkubasi mulai 10 hari-4bulan

2) Mula ditandai dengan permulaan biasanya di kemaluan,kedua: ruam menyeluruh dikulit dan selaput lendir,masa terpendam/laten yang lama 3) Kelainan di kulit,tulang,ssp,dan sistem peredaran darah

B. Tujuan: menurunkan kesakitan serendah mungkin dan mencegah terjadinya penyebaran kecacatan akibat penyakit.

C. Kegiatan:

1) Pengamatan epidemiologi dan tindakan pemberantasan 2) Penyuluhan kesehatan

2.4.2. Demam berdarah(dengue haemorrhagic fever=DHF)

suatu penyakit menular yangdisebabkan oleh virus dengan dan ditularkan melalui nyamuk aedes aegepti,terutamamenyerang anak-anak dan dapat menyebabkan kematian

A. Tanda tanda dan gejala:

1) Hari ke1: timbul panas mendadak(suhu badan 38-40),badan lemah dan lesu 2) Hari ke2:petechie pada kulit,muka,lengan,paha

3) Kadang terjadi perdarahan hidung

4) Hari ke4-7 Bila keadaan parah penderita gelisah,keringat banyak,ujung ujung kakidan tangan dingin

5) Trombocytopenia (100.000/mm atau kurang)

B. Tujuan: mengusahakan penurunan angka kematian dan insidensi demam berdarah serendah mungkin

C. Kegiatan:

1) Pengamatan Epidemiologi dan tindakan pemberantasan 2) Surveilance epidemilogi

3) Surveilance vektor 4) Pemberantasan vektor

5) Pertolongan terhadap penderita

6) Penyuluhan dan pengarahn masyarakat untuk PSN

UKM UPT Puskesmas Jogorogo Page 19

(20)

7) Pelaporan penderita dan pelaporan kegiatan 2.4.3. TB paru

Penyakit menular yang bersifat menahunoleh kuman Mycobacterium tubercolosis,penyakit ini menyerang paru paru.

A. Ciri khas:

1) Biasanya ditemukan melalui pemeriksaan tubekculine test(hal yang penting bagi anakdibawah 5 tahun) dan dengan sinar tembusan x

2) Tingkat lanjut ditemukan mycobacterium dalam dahak,gejala klinis: batuk,terkadangdarah dalam dahak,demam,BB menurun

3) Mengganas pada bayi dan anak kecil

B. Tujuan: mengurangi kesakitan tuberculosisparu serendah mungkin dan mencegah penyebaran penyakit dengan BTA positif

C. Kegiatan:

1) Pengamatan epidemiologi dan tindakan pemberantasan

2) Penderita TB paru yang ditemukan baik pada kunjungan dalam gedung maupun luargedung puskesmas harus dicatat dan dialporkan

3) Penderita tersangka TB paru yang berumur 15 tahun ke atas harus diperiksa dahaknyasebanyak tiga kali berturut- turutal

4) Bila dalam dahaknya ditemukan BTA,berikan penjelasan tentang pengobatanyangharus dijalani.

5) Penyuluhan kesehatan

6) Vaksinasi B.C.G dengan sasaran - Anak anak:3-14 tahun

- Anak anak:6-7 tahun(usia masuk sekolah) - Anak anak: 13- 14 tahun(usia keluar SD)

(21)

BAB III

KEBIJAKAN PROGRAM P2P UPT PUSKESMAS JOGOROGO 3.1 ARAH KEBIJAKAN

3.1.1 Meningkatkan mutu sumber daya manusia dengan pendekatan secara sehat yang memberikan prioritas pada upaya peningkatan kesehatan pencegahan, pemberantasan, penyembuhan dan rehabilitasi.

3.1.2 Meningkatkan dan memelihara mutu lembaga dan pelayanan kesehatan melalui pemberdayaan sumber daya manusia secara berkelanjutan dan sarana prasarana dalam bidang medis termasuk ketersediaan alat yang dapat di jangkau oleh masyarakat.

3.2 STRATEGI KEBIJAKAN.

3.2.1 Desentralisasi kebijakan dan kegiatan pemantapan pelayanan kesehatan

3.2.2 Peningkatan peranmasyarakat termasuk dunia usaha dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

3.2.3 Pemberdayaan masyarakat termasuk pemberdayaan perempuan keluarga dan individu.

3.2.4 Penguatan kelembagaan termasuk peningkatan koordinasi antar sektor, lembaga dan masyarakat.

3.3 SASARAN

Sasaran P2P meliputi ;

3.3.1 Pengendalian Penyakit menular langsung (P2ML) yaitu program TB Paru, Program Kusta, Program Frambusia, Program ISPA, Program HIV-AIDS dan PMS, Program Diare.

3.3.2 Pengendalian penyakit bersumber binatang (P2B2) yaitu program Malaria, Program DBD, Program Filariasis dan Program Rabies. 3.3.3 Surveilans epidemiologi kesehatan matra yaitu, Kesehatan Haji dan

Pengendalian Penyakit tidak menular.

3.3.4 Program imunisasi yaitu, persentasi bayi usia 0-11 bulan yang mendapat imunisasi lengkap, persentase UCI Desa, persentase bayi usia 0-11 bulan yang mendapat imunisasi campak lengkap dan persentasi anak usia sekolah yang mendapat imunisasi Campak. 3.4 LANGKAH-LANGKAH KEBIJAKAN.

(22)

3.4.1 Melakukan bimbingan, advokasi dan fasilitasi masyarakat tingkat Kecamatan dan Desa melalui swadaya masyarakat dan pihak terkait guna mengatasi masalah pencegahan dan pemberantasan penyakit baik penyakit menular maupun tidak menular dan kejadian luar biasa wabah.

3.4.2 Melakukan peningkatan dan pemantapan jaringan kerja antar puskesmas, Kecamatan dan Desa dalam rangka sharing data dan informasi peningkatan sumber daya masyarakat yang sehat.

3.4.3 Kajian masalah epidemiologi dan analisis dampak kesehatan lingkungan untuk melaksanakan tindakan yang tepat dalam pemberantasan dan penanggulangan penyakit secara menyeluruh. 3.4.4 Menyusun skala prioritas bersama untuk menetapkan upaya

pemberantasan penyakit menuju sasaran dan target yang diharapkan.

3.5 URAIAN DAN RINCIAN KEGIATAN P2P. 3.5.1 Uraian

- Menyediakan bahan perencanaan dan program P2P..

- Melaksanakan koordinasi pelaksanaan dan pelayanan bidang pencegahan dan pemberantasan penyakit (P2P).

- Melaksanakan fasilitas teknis bidang P2P - Menyediakan bahan pelaporan bidang P2P.

3.5.2 Rincian Kegiatan P2P

- Menghimpun, mengolah dan menganalisa data program salah satu jenis penyakit.

- Menghimpun, mengolah dan menganalisa serta merencanakan kebutuhan obat-obatan dan membuat perencanaan kegiatan program tahunan.

- Menyiapkan bahan rencana renstra program P2P.

- Melakukan koordinasi dengan Labkesda (Laboraturium Kesehatan Daerah), lintas program, lintas sektor dan LSM untuk mendukung program P2P.

3.6 KEMITRAAN.

3.6.1 Penggalangan Kemitraan Lintas Sektor Tingkat Kecamatan dan DesaOptimalisasi pembangunan berwawasan kesehatan yang mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan di wilayah

(23)

kecamatanJogorogo, menuntut adanya penggalangan kemitraan lintas sektor dan segenap potensi yang ada di Kecamatan. Untuk mendukung langkah ini akan dilakukan upaya sosialisasi masalah kesehatan dan melibatkan sektor lain untuk mengenal masalah P2P yang ada serta melibatkan mereka dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian kegiatan program kesehatan.

3.6.2 Pemberdayaan Masyarakat dan Swastaharus berperan aktif sebagai subyek pembangunan kesehatan Peran aktif tersebut dimulai dari tahap perencanaan kesehatan mulai dari tingkat Lingkungan, Desa/Kelurahan dan Kecamatan,

3.6.3 sehingga semua kegiatan program kesehatan mencerminkan kebutuhan nyata masyarakat, kelompok potensial masyarakat secara optimal.Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan pemberdayaan masyarakat agar mereka mampu secara mandiri menjamin terpenuhinya kebutuhan kesehatan dan kesinambungan pelayanan kesehatan.

(24)

BAB IV PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Dari Paparan evaluasi program prioritas P2P Puskesmas Kecamatan Jogorogo,ada beberapa masalah kesehatan yang perlu dukungan dari berbagai pihak menurut Undang-Undang No 36 tahun 2009 tentang kesehatan menyatakan bahwa kesehatan merupakan hak asasi setiap orang dan salah satu unsur kesehatan yang harus di wujudkan sesuai dengan cita-cita Bangsa Indonesia.

Epidemiologi adalah kegiatan pengamatan P2P secara sistimatis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah kesehatan serta kondisi yang mempengaruhi resiko terjadinya penyakit menular dan tidak menular agar dapat melakukan tindakan pencegahan dan pemberantasan penyakit serta dapat melakukan penaggulangan secara efektif dan efisien. Program ini kurang berjalan dikarenakan antara lain ;

 Kesadaran masyarakat yang sangat rendah tentang kebersihan lingkungan dan kebersihan diri individu.

 Kesadaran masyarakat untuk melakukan kontak dengan petugas kesehatan masih kurang

 Partisipasi antara lintas program dan lintas sekltoral kurang berjalan baik.

4.2 SARAN

 Program pencegahan dan pemberantasan penyakit harus lebih menitik beratkan pada daerah – daerah atau Ddesa – desa yang bersumber penyebaran penyakit.

 Perlu adanya informasi kesehatan yang lebih jelas dan sering.

 Perlu adaya tenaga kesehatan yang terampil, profesional dan fasilitas kesehatan yang memadai.

(25)

Dengan adanya program kerja P2P kami sangat mengharapkan keterlibatan aparat desa, lintas sektor untuk bersama-sama menggerakan masyarakat sebagai alternatif pemecahan masalah salah satu langkah kedepan akan lebih di tingkatkan koordinasi baik Lintas Program, Lintas Sektor, PKK dan Tokoh Masyarakat serta pihak yang terkait.

Demikian pedoman ini kami buat untuk di pergunakan sebagaimana mestinya.

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh dosis inokulum dan lama fermentasi dengan kapang Lentinus edodes terhadap perubahan bahan kering, protein kasar dan retensi nitrogen kulit buah

Produk yang dihasilkan dari penelitian pengembangan ini adalah Perangkat Bahan Ajar Matematika berbasis Karakter di kelas 4 yang berada pada kategori Baik dan

11 Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah nilai yang diperoleh siswa dari aspek kognitif setelah pembelajaran berlangsung dengan menggunakan media pembelajaran

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian dosis urea berbeda pada kultur skala laboratorium memiliki perbedaan yang nyata terhadap pertumbuhan (kepadatan

KARTU INVENTARIS BARANG (KIB) E ASET TETAP

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui variabel pelatihan, pengalaman kerja dan kinerja menjadi variabel pembeda tenaga kasir laki-laki dengan tenaga kasir

Dari litologi yang dijumpai mulai dari aluvial, koluvium, metasedimen dan batuan terobosan yang terdiri dari granit dan granodiorit, maka dapat diharapkan zona mineralisasi terjadi

galli pada ayam periode starter menyebabkan terjadi degenerasi dan nekrosa pada sel-sel epitel vili maupun kripta usus halus, dan pada kelompok infeksi berat derajat kerusakannya