M a j e l i s G u r u B e s a r
I n s t i t u t T e k n o l o g i B a n d u n g
Pidato Ilmiah Guru Besar
Institut Teknologi Bandung
25 Juni 2010
Balai Pertemuan Ilmiah ITB
Majelis Guru Besar
Institut Teknologi Bandung
KONTRIBUSI SEISMOLOGI
PADA RISET DAN MITIGASI
BENCANA GEMPA DAN TSUNAMI
Majelis Guru Besar Institut Teknologi Bandung
Pidato Ilmiah Guru Besar
Institut Teknologi Bandung
25 Juni 2010
Profesor Nanang T. Puspito
KONTRIBUSI SEISMOLOGI
PADA RISET DAN MITIGASI
BENCANA GEMPA DAN TSUNAMI
KONTRIBUSI SEISMOLOGI PADA RISET DAN MITIGASI BENCANA GEMPA DAN TSUNAMI
Disampaikan pada sidang terbuka Majelis Guru Besar ITB, tanggal 25 Juni 2010.
Judul:
KONTRIBUSI SEISMOLOGI PADA RISET DAN MITIGASI BENCANA GEMPA DAN TSUNAMI
Disunting oleh Nanang T. Puspito Hak Cipta ada pada penulis
Data katalog dalam terbitan
Bandung: Majelis Guru Besar ITB, 2010 vi+74 h., 17,5 x 25 cm
1. Seismologi 1. Nanang T. Puspito
ISBN 978-602-8468-18-3
Hak Cipta dilindungi undang-undang.
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara elektronik maupun mekanik, termasuk memfotokopi, merekam atau dengan menggunakan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin tertulis dari Penulis.
UNDANG-UNDANG NOMOR 19 TAHUN 2002 TENTANG HAK CIPTA
1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama
dan/atau denda paling banyak
2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama
dan/atau denda paling banyak
7 (tujuh)
tahun Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
5
(lima) tahun Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Nanang T. Puspito
KATA PENGANTAR
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya Penulis sampaikan kepada Majelis Guru Besar Institut Teknologi Bandung yang telah memberikan kesempatan kepada Penulis untuk menyampaikan Naskah Pidato Ilmiah ini di hadapan Sidang Pleno yang terhormat.
Pidato Ilmiah berjudul
ini merupakan bentuk pertanggungjawaban akademik Penulis sebagai seorang Profesor atau Guru Besar baru dalam bidang Seismologi. Pidato Ilmiah ini terdiri dari tiga bagian utama, yaitu (1) Seismologi, Gempa dan Tsunami, (2) Kontribusi Pada Riset Tsunami, dan (3) Kontribusi Pada Mitigasi Bencana.
Pidato Ilmiah ini Penulis persembahkan untuk kedua orangtua, Ayahanda Sukarman dan Mendiang Ibunda Kusmijarsi; istri tercinta, Nining; serta anak-anak tersayang Tyas, Andini dan Hana.
Semoga Pidato Ilmiah ini dapat memberikan sedikit sumbangan pemikiran pada upaya riset dan mitigasi bencana gempa dan tsunami di Indonesia.
Bandung, 25 Juni 2010.
“Kontribusi Seismologi Pada Riset dan Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami”
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... vii
1. SEISMOLOGI, GEMPA DAN TSUNAMI ... 1
1.1. Pendahuluan ... 1
1.2. Seismologi ... 4
1.3. Tsunami ... 9
2. KONTRIBUSI PADA RISET TSUNAMI ... 12
2.1. Riset Tsunami ... 12
2.2. Gempa Pembangkit Tsunami ... 13
2.3. Penjalaran Gelombang Tsunami ... 21
2.4. Sistem Peringatan Dini Tsunami ... 37
3. KONTRIBUSI PADA MITIGASI BENCANA ... 45
3.1. Pentingnya Mitigasi ... 45
3.2. Riset dan Pendidikan ... 47
3.3. Penutup ... 50
UCAPAN TERIMA KASIH ... 50
DAFTAR PUSTAKA ... 53
REKAMAN KARYA ILMIAH (PUBLIKASI) ... 60
KONTRIBUSI SEISMOLOGI PADA RISET DAN MITIGASI
BENCANA GEMPA DAN TSUNAMI
1. SEISMOLOGI, GEMPA DAN TSUNAMI 1.1 Pendahuluan
Terjadinya serangkaian bencana gempa dan tsunami pada tahun-tahun terakhir ini (Aceh 26 Desember 2004, Nias 28 Maret 2005, Yogyakarta 27 Mei 2006, Pangandaran 17 Juli 2006, Bengkulu 12 September 2007, Padang 30 September 2009) semakin menegaskan bahwa kita hidup di wilayah yang memang rawan bencana gempa dan tsunami. Data statistik menunjukkan bahwa di Kepulauan Indonesia setiap dua-tiga tahun sekali terjadi gempa yang menyebabkan bencana tsunami (Puspito, 2002).
Beberapa contoh bencana tsunami yang disebabkan oleh gempa antara lain adalah tsunami di Laut Banda 17 Februari 1674, Sumatera Barat 10 Februari 1797, Sumbawa 29 Desember 1820, Bengkulu 24 November 1833, Sumatera Barat 16 Februari 1861, Sumba 19 Agustus 1977, Flores 12 Desember 1992, Biak 17 Februari 1996, dan Aceh 26 Desember 2004.
Bencana gempa dan tsunami yang terjadi setidaknya telah meng-akibatkan: (1) hilangnya ratusan ribu jiwa manusia, (2) kerugian materi ratusan trilyun rupiah, (3) rusaknya sarana, prasarana, infrastruktur dan
fasilitas kehidupan, (4) rusaknya lingkungan hidup, serta (5) dampak sosial dan psikologis pada jutaan orang korban. Gambar 1 menunjukkan sebagian contoh kerusakan akibat tsunami yang disebabkan oleh gempa di Aceh 26 Desember 2004 dan di Pangandaran 17 Juli 2006.
Gambar 1: Kerusakan akibat tsunami yang disebabkan oleh gempa.
(a) Aceh 26 Desember 2004
(b) Pangandaran 17 Juli 2006
Rawannya Kepulauan Indonesia terhadap bencana gempa dan tsunami disebabkan karena wilayah ini mempunyai tatanan tektonik yang sangat kompleks (Gambar 2). Konvergensi antar Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, Lempeng Carolina, dan Lempeng Laut Filipina menghasilkan zona-zona tektonik aktif yang mempunyai karakteristik berbeda-beda (Puspito dan Shimazaki, 1995).
Gambar 2: Tektonik dan kegempaan Kepulauan Indonesia
Bencana gempa dan tsunami dapat dipastikan selalu mengancam wilayah Kepulauan Indonesia. Oleh karena itu upaya mitigasi harus dilakukan dengan baik dan benar. Upaya tersebut memerlukan adanya dukungan riset, pengembangan, dan inovasi bidang ilmu Seismologi dan berbagai disiplin ilmu terkait lainnya.
1.2 Seismologi
Seismologi, berasal dari bahasa Yunani yang berarti gempa dan yang berarti ilmu, pada dasarnya adalah ilmu yang mempelajari gempa. Cakupan bidang Seismologi antara lain meliputi studi tentang: (1) sumber gempa, (2) pengamatan gempa, (3) penjalaran gelombang seismik, (4) struktur interior bumi, (5) tektonik, (6) geodinamika, (7) prediksi gempa, (8) tsunami, dan (9) dampak gempa dan upaya mitigasinya.
Tonggak sejarah perkembangan Seismologi dapat dituliskan sebagai berikut (Afnimar, 2009). Dimulai tahun 1660 ketika Hooke merumuskan Hukum Hooke, kemudian tahun 1821 - 1822 Navier dan Stokes mengem-bangkan teori elastisitas, dan tahun 1830 Poisson menemukan dua jenis gelombang seismik, yaitu gelombang P dan S. Penemuan seismograf modern pada tahun 1880 oleh John Milne dan peningkatan jumlah stasiun gempa pada tahun 1900-an membuat studi Seismologi semakin intensif. Tahun 1910 H.F. Reid mengusulkan teori bingkai elastik
yang menjelaskan teori sumber seismik, kemudian tahun 1935 C. Richter memperkenalkan ukuran energi gempa yang disebut magnitudo, dan tahun 1940 Jeffrey dan Bulen mempublikasikan tabel waktu tempuh dari penjalaran berbagai fasa gelombang seismik.
Perkembangan komputer tahun 1960-an dan penemuan seismograf digital tahun 1970-an telah membuat Seismologi berkembang dengan pesat, antara lain studi tentang struktur interior bumi dengan diperkenal-kannya teknik pencitraan tomografi seismik oleh Aki dan Lee (1976).
seismos logos
(elastic rebound theory)
Sejak saat itu struktur interior bumi di berbagai tempat termasuk Kepulauan Indonesia, baik lokal, regional maupun global, telah berhasil dicitrakan dengan baik.
Struktur interior bumi Kepulauan Indonesia pertama kali dicitrakan oleh Fukao dkk (1992), Puspito dkk (1993), dan Widiyantoro dan van der Hilst (1996) yang kemudian dikembangkan oleh Widiyantoro dkk (2000). Hasil pencitraan telah berhasil memperbaharui pemahaman kita tentang tektonik dan geodinamika Kepulauan Indonesia. Gambar 3 menunjukkan citra tomografi seismik di Zona Tumbukan Laut Maluku (ZTLM) pada kedalaman 200 – 250 km dan penampang memotong ZTLM dalam arah barat-timur sampai kedalaman 1.200 km (Puspito dkk, 1993).
Gambar 3a: Tomogram seismik pada kedalaman 200 – 250 km
LAYER 5 (200 - 250 KM) HIGH -2 +2 (%) LOW 15N 10N 5N 0 N 5 S
Gambar 3.b: Penampang tomogram seismik memotong ZTLM
Dari studi tomografi seismik tersebut diperoleh gambaran tentang kompleksitas penunjaman di ZTLM. Terlihat adanya dua yang menunjam, satu ke arah timur sampai kedalaman sekitar 400 km dan satu lainnya menunjam ke arah barat menembus mantel bagian bawah. Bahkan diindikasikan adanya ( yang sudah tidak aktif) pada mantel bagian bawah. Pada saat itu, diketahuinya adanya yang menunjam sampai mantel bawah dan adanya merupakan hal baru dan telah memperbaharui pemahaman kita tentang geodinamika.
Salah satu tantangan terberat dalam Seismologi adalah studi prediksi gempa yang sampai saat ini belum membuahkan hasil yang memuaskan (Geller dkk, 1997). Walaupun demikian usaha ke arah prediksi gempa tetap dilakukan, termasuk di Indonesia, dengan mengamati prekursor (tanda-tanda awal) sebelum terjadinya gempa. Prekursor tersebut
slab slab
slab
remnant slab slab
slab remnant slab
biasanya berupa perubahan parameter fisis di litosfer dan atmosfer. Misalnya adanya perubahan arus listrik ( ) di litosfer diteliti oleh Varotsos dan Alexopoulus (1984), adanya perubahan sinyal elektro-magnetik diteliti oleh Hayakawa dan Fujinawa (1994), dan perubahan TEC ( ) di ionosfer diteliti oleh Liu dkk (2001).
Studi prekursor gempa di Indonesia antara lain dipelopori oleh Mogi dkk (2000), Widarto (2006) dan Saroso dkk (2009). Salah satu yang dilakukan adalah dengan mengamati perubahan TEC di ionosfer (Gambar 4, Puspito dkk, 2007). Studi tersebut menemukan adanya anomali TEC di ionosfer di atas enam stasiun pengamatan di Sumatera pada saat lima hari sebelum terjadinya gempa Aceh 26 Desember 2004.
SES, Seismic Electric Signal
total electron content
Gambar 4.a Lokasi gempa dan stasiun
B SNG HLM B' 0 KM 1200 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000 1100 +2% -2%
Gambar 4.b Anomali TEC di Stasiun Air Bangis, 21 Desember 2004
Terkait dengan tsunami, studi seismologi lebih ditekankan pada upaya mempelajari karakteristik gempa yang menyebabkan tsunami. Studi ini dimulai antara lain ketika Iida (1958) dan Abe (1973) mengiden-tifikasi karakteristik gempa pembangkit tsunami ( ) di Kepulauan Jepang berdasarkan kedalaman, magnitudo, dan mekanisme fokus gempanya. Kemudian Kanamori (1972) memperkenal-kan jenis gempa pembangkit tsunami yang lain yang dinamamemperkenal-kan
. Comer (1980) merumuskan hubungan antara tinggi gelombang tsunami dengan magnitudo gempa, Abe (1983) memperkenal-kan besaran magnitudo tsunami Mt yang dihubungmemperkenal-kan dengan magnitudo gempa Mw, Kanamori dan Given (1983) mengevaluasi potensi terjadinya tsunami dari analisis seismogram, sedangkan Satake dan
tsunamigenic earthquake
tsunami earthquake
Tanioka (1999) meneliti karakteristik sumber gempa pembangkit tsunami di zona subduksi.
Tsunami, berasal dari bahasa Jepang yang artinya pelabuhan dan yang berarti gelombang, adalah gelombang laut yang terjadi akibat deformasi dasar laut secara tiba-tiba. Deformasi tersebut bisa diakibatkan oleh gempa, letusan gunungapi, atau longsoran yang terjadi di dasar laut.
Tsunami bisa mempunyai panjang gelombang lebih dari 200 km dengan kecepatan penjalaran melebihi 700 km/jam di laut dengan kedalaman sekitar 4.000 meter. Kecepatan tersebut berkurang menjadi sekitar 30 km/jam di laut dengan kedalaman 10 meter. Tinggi gelombang tsunami saat mendekati pantai akan mengalami perbesaran. Tinggi tsunami yang di sumbernya hanya sekitar 1 – 2 meter, saat mendekati pantai dapat mencapai puluhan meter. Pada saat mencapai pantai gelombang tsunami akan pecah dan terus merayap ke daratan . Gambar 5 menunjukkan parameter gelombang tsunami.
Jarak horizontal rayapan tsunami ke daratan (disebut inundasi) sangat ditentukan oleh morfologi pantai. Pada pantai dengan morfologi terjal tsunami tidak akan jauh mencapai daratan, sedangkan di pantai yang landai tsunami dapat menerjang sampai ratusan meter masuk ke daratan. Contohnya pada kasus tsunami Aceh 26 Desember 2004, tsunami masuk ke daratan Banda Aceh sampai sekitar 3,5 kilometer.
1.3 Tsunami
tsu nami
Gambar 5. Parameter gelombang tsunami
Tsunami dapat dibangkitkan oleh tiga sumber utama, yaitu: (1) gempa, (2) letusan gunungapi, dan (3) longsoran yang terjadi di dasar laut. Dari ketiga sumber tersebut, gempa merupakan penyebab utama terjadinya tsunami. Kompilasi data tsunami menunjukkan bahwa lebih dari 85 persen tsunami di dunia disebabkan oleh gempa (Iida, 1983), sedangkan di Kepulauan Indonesia 90 persen tsunami dibangkitkan oleh gempa (Latief dkk, 2000).
Berdasarkan luas area yang terkena dampak serta jarak antara lokasi sumber dengan pantai, tsunami dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu: (1) tsunami lokal ( atau ), dan (2) tsunami global ( atau ). Tsunami lokal adalah tsunami yang dampaknya bersifat lokal terbatas pada area tertentu saja dan jarak antara sumber dengan pantai relatif dekat. Sedangkan tsunami
local tsunami near-field tsunami global tsunami far-field tsunami
global adalah tsunami yang dampaknya meluas sampai skala global dan lintas benua. Biasanya jarak antara sumber dengan pantai terjauh yang terkena dampak dapat mencapai ribuan kilometer. Gambar 6 menunjukkan klasifikasi tsunami lokal dan tsunami global.
(b) Tsunami global (a) Tsunami lokal
Gambar 6: Klasifikasi tsunami lokal dan tsunami global
Contoh tsunami lokal antara lain adalah tsunami Flores 12 Desember 1992, Banyuwangi 3 Juni 1994, Biak 17 Februari 1996 dan Pangandaran 17 Juli 2006. Pada kasus tsunami lokal waktu tempuh penjalaran gelombang tsunami dari sumber ke pantai terdekat yang terkena dampak biasanya singkat sekitar 10 – 50 menit. Sebagian besar tsunami yang terjadi di Kepulauan Indonesia adalah jenis tsunami lokal.
Contoh tsunami global antara lain adalah tsunami Chili 1960 yang menerjang sampai Kepulauan Jepang, Alaska, Hawai dan Selandia Baru yang jaraknya ribuan kilometer dari sumber tsunami. Contoh lain adalah
tsunami Aceh 2004 yang dampaknya meluas sampai Thailand, Myanmar, pantai timur India dan pantai timur Afrika. Pada kasus tsunami global waktu tempuh penjalaran gelombang tsunami dari sumber ke pantai terjauh yang terkena dampak dapat mencapai beberapa jam.
Riset tsunami secara garis besar mencakup tiga bidang utama, yaitu: (1) riset tentang sumber pembangkit tsunami, (2) riset tentang penjalaran gelombang tsunami, dan (3) riset tentang interaksi gelombang tsunami dengan pantai dan dampaknya. Riset tsunami memerlukan keterlibatan berbagai disiplin ilmu terkait, antara lain Seismologi, Oseanografi, Geologi dan Teknik Sipil.
Pada dasarnya riset tsunami di Indonesia baru dimulai dengan serius sejak terjadinya bencana tsunami Flores 12 Desember 1992 yang menyebabkan sekitar 2.100 korban jiwa. Perkenalan Penulis dengan tsunami dimulai ketika membantu Prof. Y. Tsuji dari University of Tokyo membuat kuesioner survei dalam bahasa Indonesia untuk keperluan survei tsunami Flores 1992. Ketertarikan pada tsunami semakin bertambah ketika Penulis ikut melakukan survei tsunami Banyuwangi 1994 dan Biak 1996, pada saat tsunami belum banyak ditengok oleh para peneliti Indonesia.
2. KONTRIBUSI PADA RISET TSUNAMI 2.1 Riset Tsunami
Pada bagian ini akan dipaparkan ringkasan dari beberapa riset yang Penulis lakukan tentang sumber pembangkit tsunami dan penjalaran gelombang tsunami. Pada bagian ini juga akan dipaparkan ringkasan kontribusi Penulis pada proses penyusunan cetak biru pembangunan sistem peringatan dini tsunami ( ) di Indonesia.
Kepulauan Indonesia telah berulang kali diterjang tsunami yang dibangkitkan oleh gempa. Walaupun demikian karakteristik gempa pembangkit tsunami di wilayah ini belum dipahami dengan baik. Padahal informasi tentang karakteristik gempa pembangkit tsunami diperlukan sebagai masukan untuk pembuatan zonasi daerah rawan tsunami dan operasionalisasi sistem peringatan dini tsunami. Pada bagian ini akan ditampilkan karakteristik gempa pembangkit tsunami di Kepulauan Indonesia berdasarkan kompilasi data historis kejadian tsunami (Latief, dkk, 2000; Puspito, 2007a; 2009).
Kompilasi data historis kejadian tsunami di Kepulauan Indonesia telah dilakukan oleh beberapa peneliti (Ismail, 1989; Latief dkk, 2000; Puspito, 2007a; 2009). Sementara untuk wilayah Pasifik dan sekitarnya kompilasi telah dilakukan secara intensif antara lain oleh Soloviev dan Go
tsunami early warning system
2.2 Gempa Pembangkit Tsunami
(1969), Iida (1983) dan Gusiakov (2004). Kompilasi data dari berbagai sumber menunjukkan bahwa dari tahun 1600 s/d 2007 di Kepulauan Indonesia tercatat ada 184 tsunami yang dibangkitkan oleh gempa. Gambar 7 menunjukkan sebaran dari lokasi sebagian pusat gempa yang membangkitkan tsunami cukup signifikan.
Pusat gempa pembangkit tsunami di Kepulauan Indonesia tersebar hampir di seluruh zona tektonik aktif yang ada. Terlihat bahwa sebagian besar terletak di zona subduksi Sunda, zona subduksi Banda, zona subduksi Carolina, zona subduksi Filipina, zona tumbukan Laut Maluku, selat Makassar, dan zona sungkup-busur belakang Sunda (
).
Sunda back-arc thrusting zone
Gambar 7: Sebaran sebagian pusat pembangkit tsunami
Sebaran pusat gempa pembangkit tsunami di sepanjang koordinat bujurnya (Gambar 8) menunjukkan bahwa sekitar 67% tsunami terjadi di sebelah timur garis 120 BT, sering disebut sebagai wilayah timur Indonesia, yang mempunyai tatanan tektonik sangat kompleks bila dibandingkan dengan wilayah di sebelah baratnya. Tingginya frekuensi kejadian tsunami di wilayah timur Indonesia setara dengan tingginya frekuensi terjadinya gempa di wilayah tersebut.
° 9 5 3 8 32 3 4 4 4 28 0 5 10 15 20 25 30 35 40 90-95 95-100 100-105 105-110 110-115 115-120 120-125 125-130 130-135 135-140 Longitude (East) P e rcen ta g e (% )
Gambar 8: Sebaran lokasi tsunami sepanjang Bujur Timur
Iida (1958) mengemukakan bahwa di Kepulauan Jepang gempa yang berpotensi untuk membangkitkan tsunami adalah gempa yang mempunyai magnitudo Ms minimum 6,3. Data di Kepulauan Indonesia menunjukkan bahwa magnitudo Ms = 5,8 9,0 dan magnitudo Mw = 5,8 -9,3. Sebaran data magnitudo Ms ditampilkan pada Gambar 9 dan
8 12 25 26 15 12 2 3 9 22 29 20 10 1 0 5 10 15 20 25 30 35 5.6 - 6.0 6.1 - 6.5 6.6 - 7.0 7.1 - 7.5 7.6 - 8.0 8.1 - 8.5 = 8.6 Earthquake Magnitude (Ms) P e rcen ta g e (% )
Gambar 9: Sebaran data magnitudo Ms
magnitudo Mw pada Gambar 10. Data untuk wilayah Pasifik dan sekitarnya juga ditampilkan sebagai pembanding. Dalam Gambar 9 dan 10 histogram warna hitam menunjukkan data Kepulauan Indonesia, sedangkan histogram yang diarsir menunjukkan data Pasifik dan sekitarnya.
Terlihat bahwa sekitar 92% tsunami di Kepulauan Indonesia dibangkitkan oleh gempa dengan magnitudo Ms > 6,0 dan 55% dengan magnitudo Ms > 7,0 (Gambar 9). Sedangkan Gambar 10 menunjukkan bahwa 97% tsunami dibangkitkan oleh gempa dengan magnitudo Mw > 6,0 dan 79% dengan magnitudo Mw > 7,0. Perbandingan dengan data Pasifik menunjukkan bahwa gempa-gempa dengan magnitudo kecil sampai sedang (Ms < 7,0) di Kepulauan Indonesia lebih banyak membangkitkan tsunami (45%) dibandingkan dengan di Pasifik (34%).
3 3 15 34 27 13 5 2 5 12 30 35 10 6 0 5 10 15 20 25 30 35 40 5.6 - 6.0 6.1 - 6.5 6.6 - 7.0 7.1 - 7.5 7.6 - 8.0 8.1 - 8.5 = 8.6 Earthquake Magnitude (Mw) P e rc e n ta g e (% )
Gambar 10: Sebaran data magnitudo Mw
24 46 16 9 5 24 44 19 8 2 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 0 - 20 21 - 40 41 - 60 61 - 80 81 - 100 Earthquake Depth (km) Pe rc e n ta g e (% )
Gambar 11: Sebaran data kedalaman pusat gempa
Sebaran data kedalaman pusat gempa pembangkit tsunami (Gambar 11) menunjukkan bahwa sekitar 86% tsunami di Kepulauan Indonesia
(histogram warna hitam) dibangkitkan oleh gempa dangkal dengan kedalaman pusat gempa 60 km. Hal ini menunjukkan kemiripan dengan data kedalaman pusat gempa pembangkit tsunami di wilayah Pasifik (bagian yang diarsir).
Iida (1983) menunjukkan bahwa gempa-gempa pembangkit tsunami di wilayah Pasifik didominasi oleh gempa dengan mekanisme fokus tipe sesar naik. Gambar 12 menunjukkan solusi CMT ( ) gempa pembangkit tsunami dari tahun 1977 s/d 2009 (Harvard University, 2009). Terlihat dari Gambar 12 bahwa dalam periode tersebut terkumpul 23 solusi CMT dengan rincian 17 (74%) gempa tipe sesar naik, 4 (16%) gempa tipe sesar geser, dan 2 (8%) gempa tipe sesar normal.
£
centroid moment tensor
Hubungan antara Besaran Gempa dan Besaran Tsunami
Dalam kasus yang ideal seringkali diasumsikan bahwa besarnya tsunami yang terjadi setara dengan besarnya magnitudo gempa yang membangkitkannya. Magnitudo gempa yang paling relevan digunakan untuk menyatakan besarnya gempa adalah magnitudo momen Mw (Kanamori, 1977). Sedangkan parameter tsunami yang biasanya digunakan untuk menyatakan besarnya tsunami adalah tinggi
maksimum (Hmax). Hubungan empiris antara magnitudo Mw dengan tinggi maksimum Hmax ditampilkan pada Gambar 13. Pada gambar tersebut data tsunami Pasifik juga ditampilkan sebagai pembanding.
run-up
run-up
Gambar 12: CMT gempa pembangkit tsunami, 1977 s/d 2009.
Hmax = 0.0064 e0.84 Mw Hmax = 0.0005 x e1.36 Mw 0 5 10 15 20 25 30 35 40 6 6.5 7 7.5 8 8.5 9 9.5 Earthquake Magnitude (Mw) M a x im u m run-up (H m a x )
Gambar 13 memperlihatkan bahwa sebaran data cenderung acak walaupun ada kecenderungan bahwa semakin besar harga magnitudo Mw semakin besar pula harga maksimum. Hubungan antara Mw dan Hmax untuk data Kepulauan Indonesia dapat dinyatakan dengan garis eksponensial dengan persamaan Hmax = 0,0064 e (garis tebal). Garis tersebut terletak di atas garis hubungan Mw dan Hmax untuk data Pasifik yang dinyatakan dengan persamaan eksponensial Hmax = 0,0005 e (garis tipis). Hal ini menandakan bahwa untuk besaran magnitudo Mw yang sama, gempa yang terjadi di Kepulauan Indonesia dapat menghasilkan tsunami dengan maksimum yang lebih besar dibandingkan dengan gempa di wilayah Pasifik dan sekitarnya.
Pusat gempa pembangkit tsunami di Kepulauan Indonesia tidak hanya terletak di sepanjang zona subduksi saja seperti yang ditunjukkan oleh Iida (1958). Disamping terletak di sepanjang zona subduksi Sunda-Banda-Pasifik-Laut Filipina, juga terletak di zona tumbukan Laut Maluku, Selat Makassar, dan zona sungkup-busur belakang Sunda.
Secara umum untuk besaran magnitudo Mw yang sama, gempa di Kepulauan Indonesia dapat menghasilkan tsunami dengan tinggi maksimum yang lebih besar bila dibandingkan dengan gempa di wilayah Pasifik. Hal ini mengindikasikan bahwa di Kepulauan Indonesia mungkin cukup banyak terjadi tsunami yang dibangkitkan oleh gempa jenis
run-up run-up 0,84 Mw 1,36 Mw Diskusi tsunami earthquake tsunami earthquake rupture tsunami earthquake tsunamigenic earthquake
seperti tsunami Banyuwangi 3 Juni 1994 dan tsunami Pangandaran 17 Juli 2006.
Kanamori (1972) merumuskan karakteristik
sebagai berikut: (1) mempunyai durasi gelombang seismik yang panjang, (2) mempunyai kecepatan (pecahnya litosfer di bidang sesar) yang rendah, (3) menghasilkan getaran tanah yang lemah, dan (4) membangkit-kan gelombang tsunami yang jauh lebih besar bila dibandingmembangkit-kan dengan yang diperkirakan dari besarnya magnitudo gempa.
Keberadaan gempa-gempa jenis di Kepulauan Indonesia dan karakteristiknya sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut. Demikian juga karakteristik umum di Kepulauan Indonesia masih perlu dipelajari lebih mendalam.
Studi pemodelan numerik penjalaran gelombang tsunami, sering disebut dengan pemodelan tsunami atau simulasi tsunami, dimulai sejak akhir tahun 1960-an (Aida, 1969; Hwang, 1970). Kemudian pada awal tahun 1990-an studi pemodelan tsunami dikembangkan secara intensif oleh beberapa peneliti Jepang (Shuto dkk, 1990; Imamura dkk, 1993; Satake, 1995). Beberapa peneliti Indonesia (Hidayat dkk, 1995; Diposaptono dkk, 1996; Latief dan Imamura, 1998) juga telah melakukan riset pemodelan tsunami secara intensif sejak pertengahan tahun 1990-an.
Pemodelan tsunami pada dasarnya adalah pemodelan numerik untuk memperkirakan sebaran tinggi gelombang tsunami terhadap ruang dan waktu. Informasi penting dari hasil pemodelan tsunami adalah perkiraan tinggi tsunami di pantai serta waktu tempuh penjalaran gelombang tsunami dari sumber tsunami ke pantai. Pemodelan tsunami penting antara lain untuk keperluan pembuatan zonasi daerah rawan tsunami dan operasionalisasi sistem peringatan dini tsunami.
Pemodelan dilakukan dengan mengasumsikan bahwa tsunami dibangkitkan oleh gempa. Pemodelan membutuhkan dua input utama, yaitu: (1) parameter sesar dari gempa, dan (2) data batimetri dasar laut. Parameter sesar (panjang, lebar, , kedalaman pusat gempa) diperlukan untuk menghitung besarnya deformasi vertikal dasar laut yang kemudian diasumsikan menggerakkan massa air laut di atasnya menjadi tsunami. Besarnya deformasi dasar laut akibat gempa dihitung dengan menerapkan berbagai metoda yang antara lain dikembangkan oleh Mashinha dan Symlie (1971).
Gelombang tsunami diasumsikan sebagai gelombang perairan dangkal ( ) dimana kecepatan perambatan gelombang-nya bergantung pada kedalaman dasar laut. Persamaan dasar yang digunakan adalah persamaan kontinuitas dan persamaan pengatur. Penyelesaian persamaan secara numerik dilakukan dengan mengguna-kan metoda beda hingga (Imamura dkk, 1995; IOC, 1997).
(travel time)
strike, dip, slip
shallow water wave
Leap Frog Staggered
Pada bagian berikut ini akan dipaparkan ringkasan riset pemodelan tsunami yang telah Penulis lakukan (Puspito dan Gunawan, 2005, 2007; Gunawan dan Puspito, 2006; Puspito dan Indrastuti, 2007) untuk kasus tsunami Aceh 26 Desember 2004 dan tsunami Pangandaran 17 Juli 2006.
Gempa besar yang terjadi di dekat Pulau Simeuleu, Nangroe Aceh Darussalam pada tanggal 26 Desember 2004 pukul 07:58:53 WIB (magnitudo Mw = 9,3; episenter 95,95 BT, 3,05 LU; kedalaman 20 km) telah menjadi perhatian dunia. Gempa tersebut menimbulkan bencana tsunami dahsyat dengan tinggi tsunami maksimum mencapai sekitar 34 m di pantai barat Aceh (Tsuji dkk, 2005). Gelombang tsunami menerjang pantai-pantai di sekeliling Samudra Hindia dan menyebabkan lebih dari 220 ribu orang meninggal di Indonesia, Srilangka, India, Thailand, Malaysia, Myanmar, dan beberapa negara di Afrika.
Gempa Aceh 2004 tercatat sebagai gempa terbesar kedua setelah gempa Chili tahun 1960 (magnitudo Mw = 9,5) yang juga menimbulkan tsunami dahsyat. Gempa tersebut merupakan gempa tipe yang berdasarkan solusi CMT mempunyai mekanisme fokus tipe sesar naik dengan = 329 , = 8 , dan = 110 (Harvard University, 2004). Gempa Aceh 2004 diikuti oleh ratusan gempa susulan yang lokasinya tersebar dari posisi 3 LU di sekitar Pulau Simeuleu ke utara sampai posisi 14 LU di utara Kepulauan Andaman (Gambar 14). Pada Gambar 14 juga
Pemodelan Tsunami Aceh 26 Desember 2004
° °
° ° °
° °
megathrust
ditampilkan beberapa solusi CMT dari beberapa gempa susulan.
(b) Solusi CMT (a) Sebaran pusat gempa
Gambar 14: Sebaran pusat gempa dan solusi CMT
Beberapa peneliti (Ammon dkk, 2005; Lay dkk, 2005) memperkirakan panjang gempa Aceh 2004 sekitar 1.200 - 1.300 km. Hal ini juga sesuai dengan sebaran pusat gempa susulan (Gambar 14). GFZ Potsdam (2004) memodelkan gempa Aceh 2004 mempunyai luas 1.350 km x 150 km yang terbagi menjadi 6 segmen dengan maksimum 15 m. Model dari GFZ Potsdam inilah yang kemudian dijadikan sebagai model sumber gempa pembangkit tsunami dalam pemodelan tsunami Aceh 2004.
rupture area
rupture area
slip
Luas daerah pemodelan yang dipilih adalah 40 x 40 (sekitar 4.440 km x 4.440 km) yang dibatasi oleh koordinat 70 BT - 110 BT dan 15 LS - 25 LU. Daerah pemodelan dibagi menjadi blok-blok kecil dengan ukuran 2’x 2’ (sekitar 3,7 km x 3,7 km) dengan jumlah blok masing-masing 1.200 buah dalam arah timur-barat dan utara-selatan. Data batimetri diperoleh dari ETOPO2 (NOAA, 2005). Simulasi tsunami dilakukan selama 300 menit dengan t = 1,5 detik.
Simulasi tsunami ditampilkan secara untuk waktu-waktu tertentu, yaitu 15, 30, 45, 60, 75, 90 dan 120 menit setelah terjadinya gempa (Gambar 15). Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gelombang tsunami diperkirakan mencapai pantai barat Sumatera bagian utara 15 – 25 menit, pantai utara Sumatera bagian utara 20 – 30 menit, Kepulauan Nicobar 5 – 10 menit, Kepulauan Andaman 10 – 15 menit, pantai selatan Myanmar 60 – 70 menit, pantai barat Thailand 90 – 100 menit, dan pantai timur India dan Srilanka 120 – 150 menit setelah terjadinya gempa. Hasil pemodelan ini tidak terlalu berbeda jauh dengan hasil survei lapangan yang dilaporkan oleh Satgas ITB (2005) dan studi Lay dkk (2005).
° °
° ° ° °
D
(b) Simulasi saat t = 15 menit (f) Simulasi saat t = 75 menit (a) Model awal (e) Simulasi saat t = 60 menit
(d) Simulasi saat t = 45 menit (h) Simulasi saat t = 120 menit (c) Simulasi saat t = 30 menit (g) Simulasi saat t = 90 menit
Untuk mengetahui tingkat kelayakan, hasil pemodelan dibandingkan dengan data pengamatan yang terekam pada stasiun pasut. Data pasut yang tersedia adalah data pasut di Belawan. Gambar 16 menunjukkan perbandingan antara data (garis tipis) dan hasil pemodelan (garis tebal). Untuk membandingkan secara kuantitatif dilakukan analisis berdasarkan nilai E ( ) dan koefisien korelasinya. Diperoleh
bahwa nilai E = 0,10 m dan koefisien korelasi = 0,70. Berdasarkan
besarnya nilai E dan koefisien korelasi dapat disimpulkan bahwa hasil
pemodelan tsunami cukup dapat dipertanggungjawabkan.
RMS
RMS
RMS
root mean square error
Gambar 16: Perbandingan data dan hasil pemodelan di Belawan
pantai utara mencapai 11 m (Gambar 17). Hasil pengamatan menunjuk-kan adanya perbedaan dengan hasil pemodelan yang menunjukmenunjuk-kan bahwa tinggi tsunami maksimum di pantai barat Sumatera bagian utara adalah 24 m sedangkan di pantai utara mencapai 15 m (Gambar 18).
Sebuah tim survei internasional yang dipimpin oleh Prof. Y. Tsuji dari University of Tokyo (Tsuji dkk, 2005) melaporkan bahwa tinggi tsunami maksimum di pantai barat Sumatera bagian utara mencapai 34 m dan di
Aceh Aceh
30 m 30 m
Hmax= 24 m
Hmax=15 m
Gambar 17: Tinggi tsunami hasil pengukuran
Pemodelan Tsunami Pangandaran 17 Juli 2006
Tsunami Pangandaran 17 Juli 2006 dibangkitkan oleh gempa dengan magnitudo Mw = 7,7, Ms = 7,2; episenter 107,32 BT, 9,22 LS; dan kedalaman sekitar 10 – 30 km (USGS, 2006). Tsunami menerjang pantai selatan Pulau Jawa bagian barat dan tengah yang menyebabkan lebih dari 600 orang meninggal dan sekitar 55.000 orang kehilangan tempat tinggal.
Gempa tersebut terletak pada zona Subduksi Sunda di selatan Pulau Jawa yang dikategorikan sebagai wilayah rawan tsunami (Puspito, 2004). Dari tahun 1800 s/d 2006 setidaknya terjadi 11 tsunami merusak di Pulau Jawa dan sekitarnya. Gambar 19 menunjukkan lokasi pusat tsunami Pangandaran 17 Juli 2006, lokasi pusat-pusat tsunami merusak dan sebaran pusat gempa dangkal dengan magnitudo M = 4,0 dari tahun 1981 s/d 2000.
° °
Beberapa peneliti (Ammon dkk, 2006; Fuji dan Satake, 2006) menyatakan bahwa tsunami Pangandaran 17 Juli 2006 dibangkitkan oleh gempa jenis . Beberapa survei (Tim Survei ITB, 2006; Kongko dkk, 2006; Tsuji dkk, 2006) menunjukkan bahwa getaran gempa tidak terlalu dirasakan oleh penduduk di sepanjang pantai dan tinggi tsunami maksimum bervariasi antara 2 – 7,5 meter. Laporan survei tersebut memperkuat indikasi bahwa tsunami Pangandaran 17 Juli 2006 dibangkitkan oleh gempa jenis . Gempa semacam ini mirip dengan gempa yang membangkitkan tsunami Banyuwangi 3 Juni 1994 (Tsuji dkk, 1995; Puspito dkk, 1998; Polet dan Kanamori, 2000).
Model sumber gempa ditentukan sebagai berikut. Dimensi sesar diperkirakan berdasarkan sebaran pusat gempa, yaitu panjang 200 km dan lebar 70 km. Mekanisme fokus gempa diambil dari Yagi (2006) yaitu tipe sesar naik dengan sudut = 297 , = 10 dan = 91 dengan kedalaman pusat gempa 10 km. Besarnya dislokasi sebesar 1,9 m dihitung berdasarkan persamaan yang menghubungkan antara momen seismik, rigiditas litosfer, panjang sesar, lebar sesar, dan dislokasi.
Luas daerah pemodelan adalah 12 x 7 yang dibatasi oleh koordinat 104 BT - 116 BT dan 5 LS - 12 LS. Daerah pemodelan dibagi menjadi blok-blok kecil dengan ukuran 1’ x 1’ (sekitar 1,85 km x 1,85 km). Dengan demikian jumlah blok dalam arah timur-barat sebanyak 720 buah dan dalam arah utara-selatansebanyak 420 buah. Data batimetri diperoleh dari ETOPO2 (NOAA, 2005). Simulasi tsunami dilakukan selama 120 menit dengan t = 1,5 detik.
tsunami earthquake
tsunami earthquake
strike ° dip ° rake °
° °
° ° ° °
D
Untuk memperoleh gambaran penjalaran tsunami terhadap ruang dan waktu, simulasi tsunami digambarkan secara untuk waktu-waktu tertentu, yaitu 10, 20, 30 dan 40 menit setelah terjadinya gempa (Gambar 20). Tinggi tsunami dan waktu tempuh penjalaran gelombang tsunami dari sumber ke pantai dihitung di 23 titik penghitungan yang terdapat di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa. Gambar 21 menunjukkan tinggi tsunami di Cilacap. Garis tebal menunjukkan hasil pemodelan dan garis tipis data pengamatan di stasiun pasut Cilacap.
Hasil pemodelan (Gambar 20 dan 21) menunjukkan bahwa gelombang tsunami yang menjalar ke arah pantai Pulau Jawa didahului oleh bagian lembah gelombang (elevasi negatif) baru kemudian disusul oleh bagian puncak gelombang (elevasi positif). Dalam waktu 120 menit setidaknya ada 5 puncak gelombang tsunami yang sampai ke daratan (Gambar 21). Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan penduduk yang melihat bahwa air laut surut beberapa menit sebelum gelombang tsunami menerjang daratan dan puncak gelombang datang 2 – 3 kali ke daratan (Tim Survei ITB, 2006; Kongko dkk, 2006; Tsuji dkk, 2006).
Hasil pemodelan juga menunjukkan bahwa waktu tiba puncak gelombang tsunami di pantai Jawa bagian barat 25 – 60 menit, di pantai Jawa bagian tengah dan timur 40 – 70 menit, dan di pantai Bali 80 – 90 menit setelah terjadinya gempa. Hasil pemodelan ini tidak jauh berbeda dengan yang diperoleh dari wawancara dengan penduduk (Tim Survei ITB, 2006; Kongko dkk, 2006; Tsuji dkk, 2006).
snapshot
time-series
(a) Simulasi saat t = 10 menit
(c) Simulasi saat t = 30 menit
(d) Simulasi saat t = 40 menit
Gambar 20: Simulasi tsunami Pangandaran 17 Juli 2006
Tinggi maksimum tsunami hasil pemodelan bervariasi antara 0,05 – 2,80 meter di pantai Jawa bagian barat, 0,10 – 2,75 meter di pantai Jawa bagian tengah dan timur, dan 0,10 – 0,15 meter di pantai Bali. Hasil pemodelan ini lebih rendah dibandingkan hasil pengukuran di lapangan, yaitu di pantai Pangandaran berkisar 4,5 – 7,5 meter, di pantai Kebumen sekitar 5 – 6 meter, dan di pantai Parangtritis sekitar 2 – 3 meter.
Perbandingan antara hasil pemodelan dengan data pengamatan di stasiun pasut Cilacap (Gambar 21) menunjukkan adanya kesesuaian pola, sedangkan tinggi tsunaminya sedikit berbeda. Hasil perbandingan kuantitatif diperoleh bahwa nilai E = 0,18 m dan koefisien korelasi = 0,63.
Berdasarkan besarnya nilai E dan koefisien korelasi dapat disimpulkan
bahwa hasil pemodelan tsunami cukup baik dan dapat dipertanggung-jawabkan.
RMS
RMS
Diskusi
Perbedaan antara hasil pemodelan dengan data pengamatan tentu tidak bisa dihindari. Perbedaan tersebut antara lain disebabkan karena:
1. Dalam pemodelan diasumsikan bahwa faktor gesekan dasar laut dapat diabaikan. Pada kenyataannya faktor ini menjadi signifikan dan harus diperhitungkan, khususnya untuk pemodelan di dekat pantai.
2. Dalam pemodelan diasumsikan bahwa pada bidang sesar tidak terdapat heterogenitas sehingga besarnya dislokasi dianggap sama di seluruh bidang sesar. Pada kenyataannya heterogenitas pada bidang sesar cukup tinggi.
3. Dalam pemodelan diasumsikan bahwa efek dinamik gerak pensesaran (kecepatan dan ) juga diabaikan sehingga dislokasi di seluruh bidang sesar dianggap terjadi pada waktu yang bersamaan. Pada kenyataannya dislokasi pada bidang sesar tidak terjadi pada waktu yang bersamaan.
4. Dalam pemodelan digunakan data batimetri global karena terbatas-nya ketersediaan data batimetri lokal.
Mengacu pada keterbatasan di atas, untuk selanjutnya perlu dilakukan riset pemodelan tsunami dengan mengurangi keterbatasan-keterbatasan tersebut. Disamping itu, jika selama ini yang dilakukan adalah memodelkan gelombang tsunami berdasarkan masukan data sumber gempa, maka ke depan sangat menarik untuk melakukan riset pemodelan sumber gempa berdasarkan masukan data tsunami.
rupture rising time
2.4 Sistem Peringatan Dini Tsunami
Tsunami Aceh 2004 telah menarik perhatian dunia. Serangkaian pertemuan internasional diadakan untuk membahas penanganan pasca bencana dan antisipasi terjadinya bencana serupa di kemudian hari. Pertemuan pertama, , di Jakarta tanggal 6 Januari 2004 menghasilkan kesepakatan untuk membangun sistem peringatan dini tsunami (TEWS, ) di wilayah Samudera Hindia dan Asia Tenggara. Pertemuan berikutnya,
, di Kobe tanggal 18 s/d 22 Januari 2005 menghasilkan pembangunan TEWS di Samudera Hindia dan Asia Tenggara.
Berdasarkan kesepakatan-kesepakatan tersebut pemerintah Indonesia memprogramkan pembangunan TEWS di Indonesia (untuk selanjutnya ditulis Ina-TEWS, singkatan dari
) yang pada akhirnya akan dijadikan sebagai bagian integral dari TEWS di Samudera Hindia dan Asia Tenggara. Untuk keperluan tersebut pada tahun 2005 dibentuklah sebuah tim antar institusi di bawah koordinasi Kementrian Riset dan Teknologi yang bertugas merumuskan cetak biru Pembangunan Ina-TEWS.
Sungguh beruntung Penulis mendapat kesempatan terlibat aktif dalam proses perumusan cetak biru Pembangunan Ina-TEWS tersebut. Pada bagian berikut ini akan dipaparkan ringkasan cetak biru Pembangunan Ina-TEWS yang disarikan dari beberapa tulisan Penulis sebelumnya (Sukamdono dkk, 2005; Suhardi dkk, 2005; Puspito, 2007b).
the Tsunami Summit
tsunami early warning system
the World Conference on Disaster Reduction
roadmap
Indonesia tsunami early warning system
Desain Ina-TEWS
Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian sebelumnya (Gambar 6), tsunami di Kepulauan Indonesia sebagian besar adalah tsunami lokal dengan waktu tempuh penjalaran gelombang ke garis pantai terdekat antara 5 – 40 menit. Dengan kata lain waktu yang tersedia untuk mengeluarkan sangat singkat. Oleh karena itu desain Ina-TEWS harus disesuaikan dengan karakteristik jenis tsunami lokal tersebut.
Desain Ina-TEWS dibuat dengan mengacu pada dua konsep TEWS, yaitu: (1) TEWS Jepang yang dikelola oleh JMA ( ), dan (2) TEWS Pasifik yang dikelola oleh PTWC (
). TEWS Jepang dijadikan sebagai rujukan untuk kasus tsunami lokal, sedangkan TEWS Pasifik dijadikan pedoman untuk kasus tsunami global. Desain Ina-TEWS pada dasarnya terdiri dari 4 komponen utama, yaitu: (1) Sistem pemantau gempa, (2) Sistem pemantau muka air laut, (3) Basisdata simulasi tsunami, dan (4) Sistem diseminasi informasi (Gambar 22).
Sistem pemantau gempa didesain terdiri dari 160 buah seismograf jenis dan 500 buah akselerograf. Sistem pemantau muka air laut didesain terdiri dari 120 buah yang ditempatkan di sepanjang pantai dan 15 buah yang ditempatkan di sepanjang zona subduksi. Basisdata simulasi tsunami dibangun untuk tiap pusat regional yang berisikan ratusan atau bahkan ribuan simulasi tsunami, sedangkan
tsunami warning
Japan Meteological Agency Pacific Tsunami Warning Center
broad-band
tide gauge tsunami buoy
sistem diseminasi informasi memanfaatkan beberapa moda, seperti sms, telepon dan jaringan internet.
tsunami warning
Gambar 22: Komponen utama Ina-TEWS
Untuk keperluan operasionalisasi Ina-TEWS didesain terdiri dari 10 pusat regional ( ) dan 1 pusat nasional ( ). Pusat nasional berkedudukan di Jakarta, sedangkan pusat regional berkedu dukan di daerah (Gambar 23). Masing-masing pusat regional dilengkapi dengan sistem pemantau gempa, sistem pemantau muka air laut, basisdata simulasi tsunami dan sistem diseminasi informasi. Pusat-pusat regional tersebut terintegrasi dalam satu sistem dengan pusat nasional. Pusat regional bertanggungjawab untuk mengeluarkan
regional center national center
Gambar 23: Lokasi pusat nasional dan pusat regional
di wilayahnya masing-masing, sedangkan pusat nasional bertanggung jawab untuk tingkat nasional.
-Sistem kerja Ina-TEWS didesain sebagai berikut. -Sistem pemantau gempa diharapkan dapat menentukan parameter gempa (episenter, kedalaman, magnitudo) dalam waktu kurang dari 3 menit setelah terjadinya gempa. Apabila parameter gempa dari gempa yang terjadi memenuhi kriteria gempa pembangkit tsunami yang telah ditetapkan, maka segera dipersiapkan. Perkiraan tinggi tsunami dan waktu tiba tsunami di pantai dicari dari basisdata simulasi tsunami. Dalam waktu kurang dari 5 menit setelah terjadinya gempa,
yang berisikan informasi tentang kemungkinan terjadinya
tsunami warning
tsunami warning
tsunami, perkiraan tinggi tsunami dan waktu tiba tsunami di beberapa tempat, diharapkan sudah dapat disebarkan atau didiseminasikan untuk tingkat regional.
Konfirmasi terjadi tidaknya tsunami diperoleh dari sistem pemantau muka air laut. Apabila ternyata terjadinya tsunami tidak dikonfirmasi maka dibatalkan atau dinyatakan selesai. Sedangkan jika terjadinya tsunami dikonfirmasi maka diteruskan ke tingkat nasional untuk didiseminasikan dalam waktu kurang dari 10 menit sejak terjadinya gempa. didiseminasikan ke suluruh pihak yang berkepentingan ( ), antara lain pemerintah, media massa, dan lembaga-lembaga teknis. Gambar 24 menunjukkan desain urutan waktu proses diseminasi (BMKG, 2006).
tsunami warning
tsunami warning
Tsunami warning stake holder
tsunami warning
Implementasi Ina-TEWS
Operasionalisasi Ina-TEWS berada di bawah pengelolaan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Ina-TEWS telah diresmikan pemanfaatannya oleh Presiden pada tanggal 11 November 2008 di Jakarta. Beberapa uji coba telah dilakukan sebelum peresmian, antara lain uji coba penyampaian melalui sms dan telpon yang dilakukan tanggal 26 Desember 2005 pada acara mengenang 1 tahun bencana tsunami Aceh. Dalam acara tersebut Walikota Padang menerima sms dan telpon dari BMKG yang kemudian langsung ditindak-lanjuti dengan perintah evakuasi kepada masyarakatnya.
Status peralatan Ina-TEWS sampai dengan tahun 2010 ini adalah sebagai berikut (informasi diperoleh dari Pejabat BMKG). Sebanyak 158 buah seismograf dan 120 buah akselerograf sudah terpasang untuk sistem pemantau gempa. Untuk sistem pemantau muka air laut 58 buah
dan 8 buah sudah berfungsi. Sementara itu peralatan GPS permanen yang sudah terpasang berjumlah 18 buah. Dengan kata lain jumlah peralatan Ina-TEWS yang terpasang saat ini belum optimal.
Pada saat ini penentuan semata-mata didasarkan pada analisis parameter gempa. Kriteria gempa pembangkit tsunami yang ditetapkan Ina-TEWS untuk menentukan apakah suatu gempa berpotensi menimbulkan tsunami atau tidak adalah: (1) pusat gempa berada di laut, (2) kedalaman pusat gempa 70 km (sebelumnya 60 km), dan (3) magnitudo M 7.0 (sebelumnya M 6.5). Saat ini dalam waktu kurang dari
tsunami warning tsunami warning tide gauge tsunami buoy tsunami warning £ £ ³ ³
5 menit setelah terjadinya gempa, BMKG sudah berhasil menganalisis apakah suatu gempa mempunyai potensi menimbulkan tsunami atau tidak. Tsunami warning didiseminasikan secara nasional dalam waktu kurang dari 5 menit setelah terjadinya gempa, tanpa melalui jenjang diseminasi di tingkat regional.
Salah satu contoh melalui sms (yang juga ditayangkan oleh beberapa stasiun tv) diterima pada tanggal 24 Oktober 2009 pukul 21:45:39 WIB yang berbunyi:
Info Gempa Mag: 7.3 SR. 24-Okt-09 21:40:46 WIB, Lok:6.23 LS – 130.60 BT (209 km Barat Laut SAUMLAKI - MALUKU), Kedlmn:165 km. Potensi TSUNAMI utk dtrskan pd msyrkt::BMKG.
Pada pukul 22:11:29 WIB diterima sms lanjutan yang berbunyi:
Ancaman Tsunami akibat Gempa Mag: 7.3 SR. 24-Okt-09 21:40:46 WIB, Lok:6.23 LS – 130.60 BT (209 km Barat Laut SAUMLAKI -MALUKU), dinyatakan berakhir:: BMKG.
Hal ini berarti bahwa dengan peralatan yang masih belum optimal, BMKG sudah berhasil mendiseminasikan dalam waktu 4 menit 53 detik setelah gempa terjadi. Sementara itu informasi berakhirnya ancaman tsunami dikeluarkan 1 jam 25 menit 50 detik setelah
.
tsunami warning
tsunami warning
tsunami warning
Diskusi
Kecepatan penyampaian informasi tsunami (dan gempa) dari Ina-TEWS yang dikelola oleh BMKG sudah sangat baik, yaitu kurang dari 5 menit setelah terjadinya gempa. Hal ini merupakan prestasi yang sungguh luar biasa karena sudah dapat dicapai hanya dalam waktu sekitar 2 – 4 tahun setelah pencanangan Pembangunan Ina-TEWS. Hal ini patut mendapatkan apresiasi mengingat bahwa peralatan Ina-TEWS saat ini masih belum optimal.
Saat ini penentuan semata-mata didasarkan pada parameter gempa yang dicocokkan dengan kriteria gempa pembangkit tsunami yang sudah ditetapkan. Mengingat bahwa telah terjadi beberapa kekurang-tepatan pada yang didiseminasikan, kriteria tersebut mungkin masih dapat dikaji lebih lanjut disesuaikan dengan karakteristik dominan dari gempa-gempa pembangkit tsunami di Kepulauan Indonesia.
Selama ini, berdasarkan pada beberapa bencana tsunami yang terjadi, publik selalu mengasosiasikan bahwa tsunami itu mempunyai tinggi gelombang sampai puluhan meter. Padahal secara keilmuan tinggi tsunami itu bisa juga hanya beberapa puluh centimeter. Selama ini cukup banyak yang dibatalkan karena tidak terjadi tsunami yang signifikan, walaupun sebenarnya tsunami terjadi dan tercatat di
meskipun tingginya kecil. Jika pembatalan sering terjadi akibatnya secara perlahan tapi pasti akan dapat menurunkan
tsunami warning
tsunami warning
tsunami warning
tide
gauge tsunami warning
tingkat kepercayaan publik. Untuk itu perlu dirumuskan kembali bagaimana sebaiknya pemilihan bahasa yang tepat dalam
untuk menyatakan bahwa tsunami itu secara keilmuan benar terjadi walaupun tinggi tsunaminya kecil dan tidak mengakibatkan bencana.
Sudah kita ketahui bersama bahwa Kepulauan Indonesia rawan bencana gempa dan tsunami, termasuk berbagai jenis bencana alam lainnya seperti letusan gunungapi, tanah longsor, banjir, dan kekeringan. Apa boleh buat, kita memang dituntut untuk dapat hidup berdampingan secara harmonis dengan berbagai jenis bencana alam tersebut. Oleh karena itu, adalah suatu keharusan bagi kita untuk memiliki sistem penanggulangan bencana alam yang handal.
Upaya penanggulangan bencana alam harus didasarkan pada konsep manajemen bencana ( ) yang baik. Manajemen bencana biasanya merupakan suatu siklus kegiatan yang mencakup tahapan sebagai berikut: (1) Pencegahan ( ), (2) Mitigasi ( ), (3) Kesiapsiagaan ( ), (4) Tanggap darurat ( ), (5) Pemulihan ( ), dan (6) Pembangunan ( ). Tahap (1), (2) dan (3) dilakukan pada saat sebelum bencana terjadi, sedangkan tahap (4), (5) dan (6) dilakukan setelah bencana. Gambar 25 menunjukkan siklus
tsunami warning
disaster management
prevention mitigation preparedness emergency response
recovery development
3. KONTRIBUSI PADA MITIGASI BENCANA 3.1 Pentingnya Mitigasi
kegiatan manajemen bencana.
Saat ini sudah saatnya upaya penanggulangan bencana alam juga difokuskan pada tahapan sebelum bencana, tidak hanya pada tahapan setelah bencana saja. Artinya kita tidak hanya sibuk setelah bencana terjadi, tetapi juga mempersiapkan diri dengan baik sebelum bencana terjadi. Oleh karena itu dalam konteks inilah upaya mitigasi bencana semestinya mendapatkan perhatian lebih.
Mengacu pada UU Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, mitigasi dapat diartikan sebagai serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun
Gambar 25: Siklus manajemen bencana
penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Pada dasarnya program mitigasi yang baik antara lain memerlukan adanya: (a) sistem pemantauan dan peringatan dini, (b) sistem informasi dan diseminasi, (c) peta-peta hazard (ancaman/bahaya dari bencana), (d) infratruktur, sarana dan prasarana yang disesuaikan dengan jenis hazard-nya, (e) tingkat pengetahuan, kepedulian serta kesiapan seluruh pemangku kepentingan, dan (f) peraturan-peraturan tentang penanggulangan bencana.
UU Nomor 24 tahun 2007 menyatakan bahwa penanggulangan bencana alam merupakan tanggungjawab seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun masyarakat. Dalam UU tersebut diisyaratkan bahwa mitigasi bencana alam harus ditunjang oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang handal, kegiatan pendidikan dan pelatihan. Oleh karena itu, sebagai seorang ilmuwan Seismologi, Penulis bertekad untuk terus terlibat aktif dalam upaya mitigasi bencana alam, khususnya bencana gempa dan tsunami, melalui kegiatan riset dan pendidikan, baik secara kelembagaan maupun individu.
Didasarkan pada pengalaman melakukan riset-riset sebelumnya dan pada kebutuhan pengembangan riset gempa dan tsunami di Indonesia, pada tahun-tahun mendatang Penulis akan memfokuskan diri untuk
3.2 Riset dan Pendidikan
Sebelum bencana Setelah bencana
Bencana
(3)
Kesiapsiagaan Tanggap Darurat(4)
(2)
Mitigasi Pemulihan(5)
(1)
melakukan riset pada beberapa topik sebagai berikut:
1. Karakterisasi gempa-gempa pembangkit tsunami yang terjadi di Kepulauan Indonesia.
2. Pemodelan sumber gempa berdasarkan data tsunami. 3. Studi prekursor gempa sebagai upaya awal prediksi gempa. 4. Pemanfaatan Ina-TEWS untuk .
Topik pertama diharapkan dapat membantu penentuan kriteria gempa pembangkit tsunami yang tepat untuk operasionalisasi Ina-TEWS sedangkan topik kedua diharapkan dapat memperkuat pemahaman tentang sumber gempa pembangkit tsunami. Sementara itu topik ketiga dapat dijadikan sebagai modal awal untuk riset prediksi gempa, sedangkan topik keempat merupakan suatu tantangan besar yang jika berhasil dilakukan dapat memperkuat upaya mitigasi bencana gempa di Indonesia.
Tentu saja dalam melaksanakan riset tersebut Penulis akan menjalin kerjasama dengan berbagai ilmuwan, baik dari dalam maupun luar negeri. Sebagian dari topik riset tersebut juga sudah mendapatkan komitmen kerjasama dan pendanaan. Pengembangan riset tersebut tentu saja tidak bisa dilepaskan dari aspek pengembangan pendidikan karena dalam pelaksanaanya melibatkan para mahasiswa. Bahkan sebagian dari topik riset tersebut sudah dijadikan topik disertasi mahasiswa Program Doktor Sains Kebumian ITB.
Dalam bidang pendidikan selama ini Penulis telah berpengalaman
earthquake early warning
mengajar beberapa mata kuliah yang terkait dengan bencana alam, baik pada program Sarjana maupun Magister di ITB. Mata kuliah tersebut antara lain adalah: (1) Mitigasi Bencana (2008 - sekarang), (2) Manajemen Bencana Kebumian (2008 sekarang), (3) Mitigasi Bencana Alam (2003 -2008), (4) Bencana Alam Kebumian (2003 - -2008), (5) Prediksi dan Mitigasi Bencana Kegempaan (1998 - 2003), dan (6) Tsunami (1998 - 2003). Pada tahun-tahun mendatang Penulis akan memperkaya dan memperbaiki materi perkuliahan tersebut berdasarkan pada hasil-hasil riset yang jika dimungkinkan akan dituangkan dalam bentuk buku ajar tentang bencana alam.
Selama ini Penulis sudah banyak terlibat dalam kegiatan edukasi publik ( ) tentang bencana alam, baik dilakukan secara kelembagaan maupun individu. Kegiatan edukasi publik yang selama ini Penulis lakukan antara lain berupa ceramah, pelatihan, seminar, , pendampingan, dan penulisan artikel di media cetak tentang masalah bencana alam. Kegiatan yang sudah Penulis jalankan sejak lama tersebut merupakan bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kepedulian, kesiapan dan kapasitas masyarakat tentang bencana alam. Pada tahun-tahun mendatang Penulis bertekad untuk terus terlibat aktif dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut secara lebih terstruktur.
Upaya penanggulangan bencana alam tentu memerlukan adanya dukungan sumber daya manusia yang handal. Oleh karena itu program
public education
pengembangan sumber daya manusia di bidang penanggulangan bencana alam perlu dipertimbangkan dengan serius. Dalam konteks ini Penulis berpendapat bahwa ITB mempunyai potensi yang sangat besar untuk menjadi pusat keunggulan di bidang studi bencana alam, baik untuk tingkat regional maupun dunia. Oleh karena itu Penulis berpendapat bahwa tidaklah berlebihan jika ITB mendirikan suatu program pendidikan formal di tingkat pascasarjana yang mempelajari bencana alam dari berbagai aspeknya yang bersifat lintas disiplin ilmu.
Ada pepatah Jepang yang berbunyi “
” yang artinya kurang lebih adalah “bencana itu datang pada saat kita sudah melupakannya”. Perilaku bencana alam itu mirip seperti pencuri, yang datang secara tiba-tiba pada saat kita sedang lengah. Oleh karena itu kita dituntut untuk harus selalu berada dalam keadaan siap menghadapi datangnya bencana alam. Maka sudah semestinyalah upaya mitigasi bencana harus dijalankan oleh seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun masyarakat, secara serius, terus menerus dan tidak bosan-bosan walaupun mungkin saja bencananya tidak datang-datang.
Pertama-tama Penulis panjatkan Puji Syukur kepada Tuhan Yang
3.3 Penutup
UCAPAN TERIMA KASIH
higai ga wasureru toki ni yatte kuru
²
Maha Esa atas karuniaNya sehingga Penulis memperoleh kepercayaan memangku jabatan akademik Profesor atau Guru Besar dalam bidang Seismologi terhitung tanggal 1 Januari 2010.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya Penulis tujukan kepada: (1) kedua orang tua, Ayahanda Sukarman dan mendiang Ibunda Kusmijarsi, yang telah mendidik dan membesarkan dengan penuh kasih sayang, (2) istri tercinta, Nining, serta anak-anak tersayang, Tyas, Andini dan Hana, yang telah memberikan cinta, kasih, kedamaian dan kehangatan dalam keluarga; (3) adik satu-satunya, Andik, yang telah banyak memberikan semangat, dan (4) kedua mertua, Bapak Slamet Budiono dan Ibu Chalimah, atas doa restu yang diberikan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada para Guru dan Dosen di: (1) TK Pius Kraksaan (1965-1966), (2) SDK Pius Kraksaan (1967-1971), (3) SDN Semampir Kraksaan (1972), (4) SMPN Kraksaan (1973-1975), (5) SMAN Probolinggo (1976-1979), (6) ITB (1979-1984), (7) Hirosaki University (1988-1990), dan (8) University of Tokyo (1990-1993) yang telah mendidik Penulis saat menempuh pendidikan formal.
Penulis sangat berhutang budi kepada para dosen pembimbing, yaitu: Drs. Arjuno Brojonegoro M.Sc dan Drs. Untoro Wibowo M.Si (pembimbing Tugas Akhir Sarjana, ITB), Prof. Tamao Sato (pembimbing Tesis Master, Hirosaki University) dan Prof. Kunihiko Shimazaki (pembimbing Disertasi Doktor, University of Tokyo). Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Prof. Yoshinobu Tsuji (University of
Tokyo) dan Prof. Fumihiko Imamura (Tohoku University) yang telah mengenalkan studi Tsunami.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada: (1) Prof. Djoko Santoso, Prof. Sri Widiyantoro, Prof. Safwan Hadi dan Prof. Amrinsyah Nasution, selaku Promotor atau pemberi rekomendasi untuk menjadi Guru Besar, (2) Dekan FTTM ITB Prof. Sudarto Notosiswoyo dan Staf, yang telah memperjuangkan Penulis menjadi Guru Besar, (3) Prof. Widyo Nugroho SULASDI, atas diskusi-diskusi bermakna dan dorongan semangat yang diberikan, (4) Dr. Djedi S. Widarto, Dr. Hendra Grandis dan Dr. Afnimar, atas berbagai tukar pikiran yang dilakukan, (5) Para mahasiswa dan mantan mahasiswa bimbingan yang banyak membantu dalam melakukan riset, dan (6) Para kolega di Kementrian Riset dan Teknologi serta BMKG atas kesempatan yang diberikan untuk terlibat dalam pembuatan cetak biru Pembangunan Ina-TEWS.
Akhirnya ucapan terima kasih Penulis tujukan kepada: (1) seluruh kolega dan staf non-akademik di KK Geofisika Global, Prodi Teknik Geofisika, dan ex Departemen Geofisika dan Meteorologi; (2) seluruh staf Kantor WRMA ITB periode 2005 – 2010; dan (3) semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu; atas segala dukungan dan bantuan yang telah diberikan, baik langsung maupun tidak langsung.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkati kita semua.
DAFTAR PUSTAKA
Abe, K., 1973. Tsunami and Mechanism of Great Earthquakes. , vol 7, 141-153.
Abe, K., 1983. A New Scale of Tsunami Magnitude Mt. (in
; edited by K. Iida and T. Iwasaki, Terra Publisher. Tokyo).
Afnimar, 2009. Seismologi. Edisi Pertama, Penerbit ITB.
Aida, I., 1969. Numerical Experiments for the Tsunami Propagation – the 1964 Niigata Tsunami and the 1968 Tokachi Tsunami.
.
Aki, K. and W.H.K. Lee, 1976. Determination of Three-dimensional Velocity Anomalies under a Seismic Array using the first P Arrival Times from Local Earthquakes: A Homogeneous Initial Model.
, 81, 4381-4399.
Ammon, C.J., C. Ji, H.K. Thio, D. Robinson, S. Ni, V. Hjorleifsdottir, H. Kanamori, T. Lay, S. Das, D. Helberger, G. Ichinose, J. Polet and D. Wald, 2005. Rupture Process of the 2004 Sumatra-Andaman Earthquake. Science, Vol. 308, pp. 1133-1139.
Ammon, C. J., H. Kanamori, T. Lay, and A. A. Velasco, 2006. The 17 July 2006 Java Tsunami Earthquake. , 33, L24308, doi:10.1029/2006GL028005.
BMKG, 2006. Progress Report of Indonesian TWS Seismic Monitoring System. Coordination Meeting on Evaluation of TWS Seismic Monitoring, Jakarta, 31 Mei – 1 Juni 2006
Comer, R.P., 1980. Tsunami Height and Earthquake Magnitude: Theoretical Basis of an Emperical Relation. ,
Physics of the Earth and Planetary Interior
Tsunamis: Their Science and Engineering
Bulletin of Earthquake Research Institute, University of Tokyo, 47, 673-700
Journal Geophysics Research
Geophysics Research Letter
7, 445-448.
Diposaptono, S., B. Ontowiryo and G.S. Prasetya, 1996. Physical and Mathematical Modeling for Tsunami.
, Jakarta.
Fujii, Y. and K. Satake, 2006. Source of the July 2006 West Java Tsunami Estimated from Tide Gauge Records. , 33, L24317, doi:10.1029/2006GL028049.
Fukao, Y., M. Obayashi, H. Inoue and M. Nenbai, 1992. Subducting Slabs Stagnant in the Mantle Transition Zone. , 97, 4809-4822.
Geller, R.J., D.D. Jackson, Y.Y. Kagan and F. Mulargia, 1997. Earthquake cannot be Predicted. , 275, 1616-1617.
GFZ Potsdam, 2004. http://gfz-postdam.de/news/recent/archive/ 20041226/Tsunami Modeling/ModelDescription/content-en.html Gunawan, I dan N.T. Puspito, 2005. Pemodelan Tsunami Aceh 26
Desember 2004 Berdasarkan Model Sumber Gempa Yamanaka. , Surabaya, Nov. 2005
Gusiakov, V.K., 2004. Historical Tsunami Database for the Pacific, 47 B.C – 2004 A.D. Tsunami Laboratory, ICMMG SD RAS, Novosibirsk, Russia. (CD-Rom)
Harvard Univ., 2004. Harvard CMT catalogue. http://www.globalcmt.org/ Harvard Univ., 2009. Harvard CMT catalogue. http://www.globalcmt.org/ Hayakawa, M. and Y. Fujinawa (Editors), 1994. Electromagnetic
Phenomena Related to Earthquake Prediction. Terra Scientific Publication Company, Tokyo, pp. 667.
Hidayat, D., J.S. Barker and K. Satake, 1995. Modeling of the Seismic
Proc. of Int. Workshop on Tsunami Modeling and Its Application for Coastal Zone Development
Geophysics Research Letter
Journal Geophysics Research
Science
Proceeding JCS2005 HAGI-IAGI-PERHAPI
Source and Tsunami Generation of the December 12, 1992 Flores Island, Indonesia, Earthquake. , 144, 537-554.
Hwang, L. and D. Divoky, 1970. Tsunami Generation. , 75, 6802-6817.
IOC (Intergovernmental Oceanographic Commission), 1997. IUGG/IOC Time Project: Numerical Method of Tsunami Simulation with Leap-Frog Scheme. UNESCO.
Iida, K., 1958. Magnitude and Energy of Earthquakes Accompanied by Tsunami and Tsunami Energy.
, 6, 101-112.
Iida, K., 1983. Some Remarks on the Occurrence of Tsunamigenic Earthquakes around the Pacific. (in
; edited by K. Iida and T. Iwasaki, Terra Publisher. Tokyo). Imamura, F., N. Shuto, S. Ide, Y. Yoshida and K. Abe, 1993. Estimate of the
Tsunami Source of the 1992 Nicaraguan Earthquake from Tsunami Data. , 20, 1515-1518.
Imamura, F., E. Gica, T. Takahashi and N. Shuto, 1995. Flores Tsunami: Interpretation of Tsunami Phenomena in Northeastern Flores Island and Damage at Babi Island. , 144, 555-568. Ismail, S., 1989. Tsunami di Indonesia. Laporan, Badan Meteorologi dan
Geofisika.
Kanamori, H., 1972. Mechanism of Tsunami Earthquake. , vol. 6, 346-359.
Kanamori, H., 1977. Energy Release in Great Earthquakes. , 82, 2981-2987.
Pure and Applied Geophysics
Journal Geophysics Research
Journal of Earth Sciences, Nagoya University
Tsunamis: Their Science and Engineering
Geophysics Research Letter
Pure and Applied Geophysics
Physics of the Earth and Planetary Interior
Journal Geophysical Research
Kanamori, H. and J.W. Given, 1983. Use of Long-Period Seismic Waves for Rapid Evaluation of Tsunami Potential of Large Earthquakes. (in ; edited by K. Iida and T. Iwasaki, Terra Publisher. Tokyo).
Kongko, W., dkk., 2006. Rapid Survey on the 17 July 2006 Java Tsunami. Laporan survei, BPDP-BPPT dan ITS.
Latief, H. and F. Imamura, 1998. Numerical Simulation of the 1994 East Java Tsunami, Indonesia.
Latief, H., N.T. Puspito and F. Imamura, 2000. Tsunami Catalog and Zones in Indonesia. , vol. 22, 1, 25-43.
Lay, T., H. Kanamori, C.J. Ammon, M. Nettles, S.N. Ward, R.C. Aster, S.L. Beck, S.L. Bilek, M.R. Brudzinski, R. Butler, H.R. DeShon, G. Ekstrom, K. Satake and S. Sipkin, 2005. The Great Sumatra-Andaman Earthquake of 26 December 2004. , Vol. 308, pp. 1127-1133 Liu, J.Y., Y.I. Chen, Y.J. Chuo and H.F. Tsai, 2001. Variations of Ionospheric
Total Electron Content during the Chi-Chi Earthquake. , 28, 1381-1386.
Mansinha, L. and D.E. Symlie, 1971. The Displacement Field of Inclined Faults. , 61: no 45, 1433-1440
Mogi, T., Y. Tanaka, D.S. Widarto, E.M. Arsadi, N.T. Puspito, T. Nagao, W. Kanda and S. Uyeda, 2000. Geoelectric Potential Difference Monitoring in Southern Sumatra, Indonesia – Coseismic Change.
, Vol.52 (4), pp. 245-252
NOAA, 2005. http://ngdc.noaa.gov/mgg/global/global.html
Tsunamis: Their Science and Engineering
Proceedings of the 11 Congress of the IAHR-APD, Yogyakarta.
Journal of Natural Disaster Science
Science
Geophysics Research Letter
Bulletin of the Seismological Society of America
Earth, Planets and Space
th
Puspito, N.T., 2004. Tsunami Zoning for Southern-coast of Java. , Yogyakarta, Oktober 2004
Puspito, N.T., 2002. Tsunami and Earthquake Activity in Indonesia.
, Kamchatsky, Rusia, September 2002
Puspito, N.T., 2007a. Karakteristik Gempa Pembangkit Tsunami di Kepulauan Indonesia dan sekitarnya. , Departemen Kelautan dan Perikanan, vol.3, 2, 49-65.
Puspito, N.T., 2007b. Sistem Peringatan Dini Tsunami di Indonesia. (dalam buku Tsunami Aceh, Editor: T.A. Sanny)
Puspito, N.T., 2009. Statistical Data of Tsunamigenic Earthquakes in the
Indonesian Region. ,
Bukittinggi, November, 2009
Puspito, N.T., Y. Yamanaka, T. Miyatake, K. Hirahara and K. Shimazaki, 1993. Mantle Structure and Seismotectonics of the Sunda and Banda arcs, Indonesia. , Vol. 220.
Puspito, N.T. and K. Shimazaki, 1995. Mantle Structure and Seismotectonics of the Sunda and Banda arcs, Indonesia.
, 251, 215-228.
Puspito, N.T., A. Y. Abietto, and S. Hadi, 1998. Tsunamigenic Earthquake and Tsunami Earthquake in Indonesia. , Yogyakarta.
Puspito, N.T and I. Gunawan, 2005. Tsunami Sources in the Sumatra region, Indonesia and Simulation of the 26 December, 2004 Aceh Tsunami. , paper no. 459, vol. 42, no. 4, December 2005, 111 – 125.
Prosiding PIT HAGI
Proceedings of the International Workshop on Local Tsunami Warning and Mitigation
Jurnal Segara
Proc. of Int. Symposium on Earthq. Precursor
Tectonophysics
Tectonophysics
Prosiding PIT-HAGI ke-23
Puspito, N.T. and I. Gunawan, 2006. Comparison of Two Earthquake Sources for the 26 December 2004 Aceh Tsunami.
, Vol.38B, No.1.
Puspito, N.T. dan N. Indrastuti, 2007. Pemodelan Tsunami Jawa Barat 17 Juli 2006 Berdasarkan Beberapa Model Sumber Gempa.
, HAGI, Edisi 2007 No. 1, 10-21.
Puspito, N.T., P. Barus dan D.S. Widarto, 2007. Anomali Total Electron Content (TEC) di Ionosfer Sumatera dan Hubungannya dengan Gempa Besar Aceh 26 Desember 2004. , HAGI, Edisi 2007, No.2.
Polet, J. and H. Kanamori, 2000. Shallow Subduction Zone Earthquakes and Their Tsunamigenic Potential. , 42, 684 – 702.
Saroso, S., K. Hattori, H. Ishikawa, Y. Ida, R. Shirogane, M. Hayakawa, K. Yumoto, K. Shiokawa and M. Nishihashi, 2009. ULF Geomagnetic Anomalous Changes Possibly Associated with 2004-2005 Sumatra Earthquakes. , 34, issues 6-7, 343-349. Satake, K., 1995. Linear and Non-linear Computations of the 1992
Nicaragua Earthquake Tsunami. , 144, 455-470.
Satake, K. and Y. Tanioka, 1999. Sources of Tsunami dan Tsunamigenic Earthquakes in Subduction Zone. , 154 (3-4), 467-468
Satgas ITB, 2005. Laporan Survei Lapangan Gempa dan Tsunami Aceh 2004. LPPM ITB.
Shuto, N., C. Goto and F. Imamura, 1990. Numerical Simulation as a Means
Proc. ITB on Eng. Science
Jurnal Geofisika
Jurnal Geofisika
Geophysical Journal International
Physics and Chemistry of the Earth
Pure and Applied Geophysics
Pure and Applied Geophysics
of Warning for Near-field Tsunami. , 33, 2, 173-193.
Soloviev, S.L. and C.N. Go, 1969. Catalog of Tsunamis in the Pacific. , 1-83.
Suhardi, I., N.T. Puspito dan S.Y. Warsono (Editor), 2005. Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia. Buku peringatan satu tahun bencana tsunami Aceh, Kementrian Riset dan Teknologi.
Sukamdono, P., N.T. Puspito and M. Rasyid (Editor), 2005. Grand-Scenario of Indonesian Tsunami Early Warning System. Buku Cetak Biru Pembangunan Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia, Kementrian Riset dan Teknologi.
Tim Survei ITB, 2006. Survei singkat bencana tsunami Pangandaran 2006. Laporan survei, LPPM ITB.
Tsuji, Y., F. Imamura, H. Matsutomi, C.E. Synolaskis, N.T. Puspito, Jumadi, S. Harada, S.S. Han, K. Arai and B. Cook, 1995. Field Sruvey of the East Java Earthquake and Tsunami of June 3, 1994.
, Vol. 144, No. 3/4.
Tsuji, Y., et al., 2005. Field Survey of the 2004 Indian Ocean Tsunami. http://eri.u-tokyo.ac.jp/namegaya/surveylog/eindex.html
Tsuji, Y., et al., 2006. Field Survey of the Tsunami Inundated Heights due to the Java Tsunami (2006/07/17) along the Coast on Indian Ocean in Jawa Island. http://www.eri.u-tokyo.ac.jp/ tsunami/ javasurvey/ index_e.htm
USGS, 2006. The 17 July 2006 Java, Indonesia Earthquake. http:// neic.usgs.gov/neis/eq_depot/2006/eq_060717_qgaf/neic_qgaf_q.html Varotsos, P. and K. Alexopoulos, 1984. Physical Properties of the Variations
Coastal Engineering in Japan
Academy Nauka
Pure and Applied Geophysics
of the Eelectric Field of the Earth Preceding Earthquake. , 110, 73-98.
Widarto, D.S., 2006. Lithospheric Seismo-Electromagnetic Phenomena in the Great Sumatran Fault Zone, Indonesia: A Review.
, Chiba.
Widiyantoro, S. and R.D. van der Hilst, 1996. Structure and Evolution of Lithospheric Slab beneath the Sunda Arc, Indonesia. , 271, 1566-1570.
Widiyantoro, S., A. Gorbatov, B.L.N. Kennet and Y. Fukao, 2000. Improving Global Shear-wave Travel-time Tomography using Three-dimensional Ray Tracing and Iterative Inversion.
, 141, 747-758.
1 Koulakov, M., G. Bohm, B.G. Luehr, A. Manzanares, Fauzi, M.A. Purbawinata, , A. Ratdomopurbo, K. Kopp, W. Rabbel and E. Shevkunova (2007): “P and S Velocity structure of the crust and the upper mantle beneath central Java from local tomography inversion”. J. Geophys. Res., Vol. 112, B08310.
2 Sangara, I.W., , E. Kertapati and Hendarto (2006): “Survey of Geo-technical Engineering Aspects of the December 2004 Great Sumatra Earthquake and Indian Ocean Tsunami and the March 2005 Nias-Simeulue Earthquake”. Earthquake Spectra, Special Issue III, Vol.22, pp. S495-S509
Tectonophysics
Proceedings of the Japan Seismo-Electromagnetic Research Group’s Meeting
Science
Geophysical Journal International
REKAMAN KARYA ILMIAH (PUBLIKASI) Pada Jurnal Internasional:
N.T. Puspito
N.T. Puspito
3 and I. Gunawan (2005): “Tsunami Sources in the Sumatra region, Indonesia and Simulation of the 26 December 2004 Aceh Tsunami”. J. Earthq. Technology, Vol.42, No.4, pp. 111-125
4 Latief, H., and F. Imamura (2000): “Tsunami Catalog and Zones in Indonesia”. J. Natural Disaster Sci., vol. 22, 1, 25-43.
5 Mogi, T., Y. Tanaka, D.S. Widarto, E.M. Arsadi, , T. Nagao, W. Kanda, and S. Uyeda (2000): “Geoelectric Potential Difference Monitoring in Southern Sumatra, Indonesia – Coseismic Change”. Earth, Planets and Space, Vol.52 (4), pp. 245-252
6 Sato, T., and K. Tanaka (1997): “Vp/Vs Ratios of the Crust in Northern Tohoku, Honshu, Japan”. Science Reports of the Hirosaki University, Vol. 44, No. 2.
7 Tsuji, Y., F. Imamura, H. Matsutomi, C.E. Synolaskis, , Jumadi, S. Harada, S.S. Han, K. Arai and B. Cook (1995): “Field Sruvey of the East Java Earthquake and Tsunami of June 3, 1994”. Pure and Applied Geophysics, Vol. 144, No. 3/4.
8 , and K. Shimazaki (1995): “Mantle Structure and Seismotectonics of the Sunda and Banda arcs, Indonesia”. Tectonophysics, 251, 215-228.
9 , Y. Yamanaka, T. Miyatake, K. Hirahara and K. Shimazaki (1993): “Mantle Structure and Seismotectonics of the Sunda and Banda arcs, Indonesia”. Tectonophysics, Vol. 220.
1 , P. Barus dan D.S. Widarto (2007): ”Anomali Total Electron Content (TEC) di Ionosfer Sumatera dan Hubungannya
N.T. Puspito N.T. Puspito N.T. Puspito N.T. Puspito N.T. Puspito Puspito, N.T. Puspito, N.T.
Pada Jurnal Nasional: Puspito, N.T.