Perancangan Jaringan Distribusi LPG 3 Kg di Malang, Jawa Timur
Yudi Eka Sari, Joniarto Parung, dan Indri Hapsari Jurusan Teknik Industri, Universitas Surabaya Raya Kalirungkut, Surabaya 60293, Indonesia
E-mail: [email protected]
Abstrak
Program konversi minyak tanah ke Liquefied Petroleum Gas (LPG) telah dilakukan sejak tahun 2007 dan masih terus berjalan. Sistem distribusi yang digunakan dalam pendistribusian LPG 3 kg selama ini adalah sistem distribusi terbuka tanpa adanya quantity control. Hal ini memunculkan penyalahgunaan LPG 3 kg bersubsidi. Untuk mengatasinya, pemerintah mencanangkan program perubahan sistem dari sistem distribusi terbuka menjadi sistem distribusi tertutup. Metode yang digunakan adalah optimasi jarak dan sesuai kebutuhan dengan menggunakan integer programming dengan bantuan software Lingo. Dari hasil running Lingo,didapatkan rantai jaringan distribusi mulai dari SPBE/SPPBE, penyalur dan desa yang didistribusi. Jumlah LPG 3 kg yang didistribusikan adalah 78.400 tabung per hari. Lead time pendistribusian LPG dari depot ke SPBE/SPPBE adalah dua hari sehingga dibutuhkan safety stock sebanyak 156.800 tabung. Anggaran subsidi per tahun adalah Rp 432.138.179.558.602 dengan efisiensi anggaran sebesar 10,7%. Rancangan distribusi dibentuk bedasarkan kondisi ideal dengan total jarak yang ditempuh adalah 7.436,65 km. Untuk mencegah timbulnya gejolak dan kelangkaan di masyarakat maka perlu adanya langkah penanggulangan, yaitu dengan membuat sistem informasi manajemen hingga tingkat konsumen. Masyarakat yang berhak dan usaha mikro sesuai yang ditetapkan pemerintah diberi Kartu Kendali yang harus dibawa saat konsumen membeli LPG 3 kg.
Kata kunci: sistem distribusi tertutup, subsidi, dan LPG 3 kg Abstract
The conversion program from kerosen to Liquefied Petroleum Gas (LPG) has been implemented since 2007 and it’s still ongoing. Distribution system that used in the LPG 3 kgs distribution is an open distribution system with no quantity control. This is led to manipulation of the subsidized. To solve this problem, the government has launched a program to change the distribution system from open distribution to closed distribution. The method has a purpose to optimize distance using integer programming. The result was the chain of distribution networks, from SPBE / SPPBE to dealers and subsidize villages. LPG 3 kgs was distributed 78.400 tubes a day. Lead time distribution from depot to SPBE / SPPBE is about two days and the safety stock is 156.800 tubes. The subsidy budget in a year is Rp. 432.138.179.558.602. The efficiency of budget is 10,7%. The design consider ideal conditions. Total distance of the distribution system is 7.436,65 miles. To prevent the demand fluctuation and scarcity in the community, the prevention is by developing information management system from top to bottom. The government will give the Control Card for the middle-low community and Micro Enterprises for buying LPG 3 kgs.
Keywords: closed distribution system, subsidies, and LPG 3 kg 1. Pendahuluan
Program konversi minyak tanah ke Liquefied Petroleum Gas (LPG) telah dilakukan sejak tahun 2007 dan terus berjalan. Sebagian besar wilayah di Indonesia masih menggunakan sistem distribusi terbuka. Distribusi dari depot menuju SPBE/SPPBE masih belum dikendalikan. SPBE/SPPBE dapat dengan leluasa memesan LPG ke depot sesuai dengan kebutuhan mereka dan distribusi ke penyalur serta sub penyalur juga atas dasar kesepakatan tanpa ada quantity control. Hal ini memunculkan penyalahgunaan LPG 3 kg bersubsidi. Padahal dengan semakin besar jumlah LPG 3
kg yang didistribusikan, maka semakin besar beban subsidi untuk LPG 3 kg. Hal ini menyebabkan pembengkakan anggaran APBN untuk subsidi LPG 3 kg yang secara tidak langsung akan mengakibatkan APBN sulit dijalankan dan mengancam keseimbangan fiskal. Untuk mengatasi penyalahgunaan yang terjadi, pemerintah mencanangkan program perubahan sistem dari sistem distribusi terbuka menjadi sistem distribusi tertutup untuk LPG 3 kg. Malang adalah satu kota di Jawa Timur yang menjadi proyek pencontohan pemerintah dalam penerapan sistem distribusi tertutup ini.
Dengan diterapkannya sistem distribusi tertutup, maka perlu dibuat jaringan distribusi dari SPBE/SPPBE menuju masing-masing penyalur serta area distribusi menuju masing-masing penyalur. Jumlah tabung yang didistribusikan oleh masing-masing SPBE/SPPBE dan penyalur harus ditentukan sesuai dengan kebutuhan, serta jumlah safety stock untuk masing-masing SPBE/SPPBE perlu ditentukan agar tingkat kepastian ketersediaan LPG 3 kg yang tinggi dapat tercapai.
2. Kajian Literatur
Supply chain didefinisikan sebagai kegiatan yang meliputi semua aktivitas yang berkaitan dengan aliran dan transformasi produk dari bahan mentah menjadi produk jadi pada konsumen akhir, begitu juga dengan aliran informasinya. Sedangkan Supply Chain Management adalah integrasi dari aktivitas-aktivitas tersebut untuk mendapatkan competitive advantages dalam jangka panjang [1]. Supply chain sendiri tidak hanya berorientasi pada aktivitas-aktivitas internal perusahaan saja, tetapi untuk dapat bisa menghadirkan sebuah produk kepada konsumen seperti pada definisi diatas, maka dibutuhkan juga sebuah manajemen yang menyangkut dengan pihak eksternal Pertamina seperti rekanan atau mitra kerja lainnya yang berkaitan dengan aktivitas Pertamina. Koordinasi dan kolaborasi dari antar anggota dalam sebuah supply chain, mulai dari pemasok, pabrik, pusat distribusi, hingga retailer, sangat diperlukan untuk dapat menempatkan LPG 3 kg yang tepat pada waktu dan lokasi yang tepat dan dalam kondisi yang diinginkan sehingga dapat memberikan hasil yang maksimal bagi Pertamina.Untuk itu, ada beberapa aliran penting yang harus dikelola dengan baik oleh Pertamina dalam sebuah sistem rantai pasok [2] :
1. Aliran barang yang mengalir dari hulu (upstream) ke hilir (downstream) atau dengan kata lain aliran barang dari pemasok menuju ke pabrik dan kemudian menuju ke konsumen akhir. Contohnya adalah bahan baku yang dikirim supplier ke pabrik dan dari pabrik hingga ke konsumen akhir setelah barang itu selesai diproduksi.
2. Aliran uang dan sejenisnya yang mengalir dari hilir ke hulu.
3. Aliran informasi yang bisa mengalir dari hulu ke hilir maupun dari hilir ke hulu. Contohnya adalah informasi tentang persediaan produk yang ada pada retailer-retailer.
Aliran barang membutuhkan transportasi sebagai sebuah aktivitas membawa atau memindahkan sesuatu dari satu tempat ke tempat lainnya [3]. Aktivitas tersebut muncul karena adanya kebutuhan manusia akan sesuatu yang tidak bisa mereka dapatkan secara langsung dari sekeliling mereka. Secara umum, fungsi transportasi pada dasarnya adalah mengantarkan produk dari lokasi produk tersebut diproduksi sampai di mana mereka akan digunakan [2]. Tidak berhenti sampai disitu, kegiatan transportasi menjadi semakin dinamis dan berkembang seiring meningkatnya teknologi dan kebutuhan manusia yang tidak lagi hanya membutuhkan suatu barang tetapi juga kualitas layanan lebih dari sebuah aktivitas transportasi barang seperti ketepatan waktu, kondisi barang yang baik, dan sebagainya. Dalam perkembangannya sebagai salah satu bagian dari sebuah sistem supply chain, aktivitas distribusi dan transportasi merupakan salah satu aktivitas kunci untuk mewujudkan sistem rantai pasok yang optimal. Sekarang, usaha distribusi dan transportasi ini bukan hanya sekedar sebagai sebuah aktivitas memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain atau dari satu orang ke orang lain, tetapi lebih ke arah menciptakan suatu aktivitas dimana perpindahan barang tersebut dapat menghasilkan nilai tambah bagi barang itu sendiri maupun pihak-pihak yang terkait.
Untuk menciptakan sistem distribusi dan transportasi yang baik, maka diperlukan pengambilan keputusan yang dapat mendukung sistem distribusi yang efektif. Metode distribusi yang dapat dipilih oleh suatu perusahaan bisnis untuk memaksimalkan laba adalah strategi distribusi intensif yang menempatkan produk dagangannya pada banyak retailer atau pengecer serta distributor di berbagai tempat, strategi distribusi selektif yang menyalurkan produk barang atau jasa pada daerah pemasaran tertentu dengan memilih beberapa distributor atau pengecer saja pada suatu daerah, dan
strategi distribusi eksklusif yang memberikan hak distribusi suatu produk pada satu dua distributor atau pengecer saja pada suatu area daerah.
Untuk dapat merancang sistem distribusi yang optimal, diperlukan Operational Research yang dapat menentukan arah tindakan terbaik (optimal) dari sebuah masalah penentuan keputusan dengan adanya sumber daya yang terbatas, dengan merancang model matematis yang digunakan untuk mewakili masalah. Linear programming menggunakan model matematis untuk mendeskripsikan suatu masalah. Model linear programming terdiri dari tiga elemen dasar, yaitu variabel keputusan yang ingin dicari nilainya, fungsi tujuan yang ingin dicapai, dan batasan yang harus dipenuhi yang terdiri dari dua jenis batasan yaitu functions constraint dan non negativity constraint. Dalam linear programming, fungsi tujuan semua batasan harus bersifat linear. Asumsi yang digunakan dalam linear programming adalah proportionality, additivity, divisibility, dan deterministic [4].
Asumsi divisibility dalam linear programming tidak selalu dapat diterapkan karena pada kasus-kasus tertentu, misalnya menentukan jumlah operator, jumlah mesin yang digunakan, jumlah produk jadi yang dihasilkan, jumlah gulungan roll yang terpakai, harus didapatkan hasil berupa bilangan yang bulat. Oleh sebab itu, muncul teori baru yaitu integer linear programming yang biasanya disebut integer programming. Integer programming merupakan model yang digunakan untuk menyelesaikan masalah yang mewajibkan variabel keputusan memiliki nilai yang bersifat integer. Integer programming dapat dibedakan menjadi tiga [4], yaitu :
1. Mixed Integer Programming
Mixed integer programming merupakan model yang memiliki variabel keputusan bernilai integer dan beberapa tidak bernilai integer. Contoh variabel keputusan yang harus bernilai integer yaitu jumlah produk yang harus diproduksi dan contoh produk yang tidak harus bernilai integer adalah jumlah jam kerja yang terpakai.
2. Pure Integer Programming
Pure integer programming merupakan model yang semua variabel keputusannya bernilai integer. 3. Binary Integer Programming
Binary integer programming merupakan model yang memiliki nilai variabel keputusan yang bernilai 0 jika tidak dan 1 jika ya.
Metode yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan dalam model integer programming ada dua macam, yaitu
1. Metode Branch and Bound
Metode Branch and Bound terdiri dari tiga langkah dasar yaitu branching, bounding, dan fathoming. Untuk penggunaan langkah-langkah tersebut pada mixed integer programming dapat dijabarkan sebagai berikut :
Branching
Branching merupakan langkah untuk membagi masalah menjadi sub masalah yang lebih kecil dengan membulatkan variabel keputusan ke atas dan ke bawah untuk menjadi integer.
Bounding
Untuk setiap sub masalah yang terbentuk, nilai bound diperoleh dengan menggunakan metode simpleks dan hasilnya dibulatkan ke bawah agar optimal.
Fathoming
Untuk tiap sub masalah dilakukan tiga tes fathoming dengan uji :
Uji 1 : nilai bound < Z*, dimana Z* merupakan nilai Z yang telah optimal dan feasible saat itu.
Uji 2 : tidak ada solusi yang feasible.
Uji 3 : solusi optimal dari linear programming bersifat integer.
Metode Branch and Bound akan dihentikan jika tidak ada sub masalah yang tersisa. Z* yang sudah ada pada saat itu menjadi solusi optimal, jika masih terdapat sub masalah yang tersisa, maka iterasi dilanjutkan.
2. Metode Cutting Plane
Konsep dari metode cutting plane adalah mengurangi daerah feasible dari penyelesaian linear programming tanpa menghilangkan solusi yang feasible dari masalah integer programming tersebut. Metode cutting plane digunakan untuk mempercepat metode branch and bound dalam mencari solusi optimal. Prosedur pelaksanaan metode cutting plane :
b. Menemukan grup variabel dengan persyaratan :
Constraint akan dilanggar jika setiap variabel dalam kelompok bernilai 1 dan sisanya bernilai 0.
c. Constraint akan dipenuhi jika nilai semua variabel yang bernilai 1 diubah menjadi 0.
d. Hasil cutting plane akan terbentuk dengan mendenotasikan N sebagai jumlah variabel dalam grup.
Analisis sensitivitas sering disebut juga analisis pasca optimal yaitu analisis yang bertujuan untuk mengetahui sampai sejauh mana parameter-parameter dalam model linear programming, yaitu koefisien fungsi tujuan dan nilai dari ruas kanan suatu kendala, dapat berubah tetapi tanpa harus mempengaruhi perubahan dari hasil atau penyelesaian optimal. Informasi perubahan pada parameter sangat penting untuk dapat mengetahui parameter mana yang lebih utama diperhatikan dalam mengestimasi nilainya dan memilih solusi yang terbaik dari sebagian besar nilai yang mungkin ada.
3. Metodologi
Identifikasi permasalahan melalui pengamatan, wawancara dengan pihak PT. Pertamina, SPBE/SPPBE dan penyalur adalah langkah awal penelitian. Selanjutnya dilakukan kajian pustaka untuk mengetahui penelitian-penelitian terkait yang pernah dilakukan oleh peneliti terdahulu untuk kemudian dijadikan referensi untuk menetapkan gap penelitian dan panduan perancangan pengembangan model. Hasil pengembangan diaplikasikan dalam studi kasus distribusi LPG 3 kg di Malang.
Pengembangan model akan dilakukan dengan formulasi optimasi jarak. Model alternatif pertama dibuat berdasarkan ketentuan dari pemerintah. Sedangkan model alternatif kedua dibuat dengan memperhatikan realisasi distribusi masing SPBE/SPPBE dan penyalur. Pada masing-masing model alternatif dilakukan tiga kali optimasi. Yang pertama adalah optimasi jarak dari SPBE/SPPBE ke desa, yang kedua adalah optimasi jarak dari SPBE/SPPBE ke penyalur, dan yang terakhir adalah optimasi jarak dari penyalur ke desa. Penyelesaian model akan akan menggunakan pendekatan integer programming dengan bantuan software LINGO dengan input data berasal dari data PT. Pertamina.
Setelah dilakukan pengumpulan data, langkah selanjutnya adalah mengolah data tersebut dan kemudian dilakukan analisis atas hasil dari pengolahan data tersebut serta mencari pemecahan masalahnya. Adapun langkah-langkah pengolahan data dan analisis hasil sebagai berikut:
a. Menentukan rantai distribusi dari SPBE-Penyalur-desa/kelurahan yang akan didistribusi berdasarkan ketentuan pemerintah dengan mengoptimasi jarak dan sesuai kebutuhan (untuk alternatif pertama).
b. Menentukan jumlah LPG 3 kg yang akan distribusikan oleh masing-masing SPBE/SPPBE dan penyalur (untuk alternatif pertama).
c. Menentukan rantai distribusi dari SPBE-Penyalur-desa/kelurahan yang akan didistribusi dengan menyesuaikan kepentingan pihak pengusaha/pebisnis (SPBE/SPPBE dan penyalur) dengan mengoptimasi jarak dan sesuai kebutuhan (untuk alternatif kedua).
d. Menentukan jumlah LPG 3 kg yang akan distribusikan oleh masing-masing SPBE/SPPBE dan penyalur (untuk alternatif kedua).
e. Menentukan safety stock masing-masing SPBE/SPPBE untuk alternatif pertama dan kedua. f. Melakukan studi kasus perbandingan jarak awal dengan hasil alternatif kedua.
g. Menganalisis hasil rancangan jaringan distribusi alternatif pertama dan kedua.
h. Menentukan anggaran APBN untuk subsidi LPG 3 kg berdasarkan hasil dari alternatif pertama dan kedua.
i. Membandingkan anggaran APBN untuk subsidi LPG 3 kg historis (November 2011-April 2012) dengan hasil alternatif pertama dan kedua.
Gambar 1. FlowChart Model Distribusi LPG
4. Hasil dan pembahasan
Proses distribusi sangat berhubungan erat dengan biaya transportasi dimana biaya transportasi ini akan dibuat seminimum mungkin. Armada yang digunakan untuk distribusi LPG 3 kg dari SPBE/SPPBE sama, yaitu menggunakan truk. Sehingga faktor yang menyebabkan tinggi rendahnya biaya transportasi ada pada jarak tempuh. Jarak yang semakin jauh akan membutuhkan bahan bakar yang lebih banyak sehingga biaya bahan bakar untuk transportasi akan semakin tinggi. Kondisi idealnya adalah suatu daerah akan mendapat distribusi LPG 3 kg dari SPBE/SPPBE terdekat dan melalui penyalur terdekat. Akan tetapi hal ini belum tentu dapat diterima semua pelaku distribusi LPG 3 kg karena ada kepentingan bisnis di dalamnya. Oleh sebab itu, rancangan jaringan distribusi untuk sistem distribusi tertutup ini dibuat berdasarkan ketentuan dari pemerintah. Ketentuan tersebut yaitu batasan alokasi untuk masing-masing SPBE/SPPBE dan jumlah minimum tabung LPG 3 kg yang harus dimiliki masing-masing penyalur.Peraturan dari pemerintah menyebutkan bahwa untuk penyalur LPG 3 kg, ex penyalur minyak tanah harus memiliki minimal satu truk yang berisi 560 tabung LPG 3 kg. Semua penyalur di Malang merupakan ex penyalur minyak tanah sehingga masing-masing penyalur memiliki minimal 560 tabung LPG 3 kg. Langkah pertama untuk membuat rancangan jaringan distribusi adalah optimasi jarak SPBE/SPPBE ke desa. Optimasi ini digunakan untuk menentukan desa/kelurahan mana yang akan didistribusi oleh masing-masing SPBE/SPPBE dengan jarak yang optimal. Setiap desa hanya akan mendapatkandistribusi LPG 3 kg dari satu SPBE/SPPBE. Hal ini bertujuan agar distribusi LPG 3 kg lebih mudah dikontrol. Optimasi jarak ini akan didapatkan dengan bantuan software Lingo.
Keterangan :
s = index untuk SPPBE (1, 2,…n)
d = index untuk desa/kelurahan (1, 2, …m) Kd = kebutuhan desa d
Jsd = jarak antara SPBE/SPPBE ke desa/kelurahan As = alokasi SPBE/SPPBE s
Asd = volume yang dikirim dari SPBE/SPPBE s ke desa/kelurahan d Bsd = 1 bila SPBE/SPPBE s melayani desa/kelurahan d dan 0 jika tidak Fungsi tujuan :
Min.
(1) Batasan :
1. Pengiriman dari SPBE/SPPBE tidak melebihi alokasi SPBE/SPPBE
n s sd sd m d B J 1 1d (2) 2. Jumlah yang dikirim SPBE/SPPBE ke masing-masing desa/kelurahan sama dengan kebutuhan
desa/kelurahan
s,d (3) 3. Setiap desa/kelurahan hanya dilayanioleh satu SPBE/SPPBE
s (4) 4. Menunjukkan variabel biner
s,d (5) 5. Menunjukkan variabel non-negative dan integer
s,d (6) Pengambilan LPG 3 kg dari SPBE/SPPBE menggunakan truk yang berkapasitas 560 tabung. Setiap kali truk mengambil LPG 3 kg di SPBE/SPPBE harus dimuat penuh. Oleh sebab itu LPG 3 kg yang akan didistribusikan tidak bisa tepat sesuai dengan kebutuhan. Jumlah minimum tabung LPG 3 kg yang akan didistribusikan adalah 140 truk (78.400 tabung) per hari. Selisih antara jumlah yang akan didistribusikan dengan total kebutuhan disebut kelebihan distribusi. Total kelebihan dapat dipangkas hingga kurang dari satu truk dengan mengiterasi hasil awal software Lingo. Iterasi dilakukan dengan cara membatasi alokasi untuk SPBE/SPPBE yang jumlah kelebihannya tinggi. Alokasi setiap SPBE/SPPBE yang jumlah kelebihannya tinggi akan dikurangi satu truk dan kemudian dioptimasikan kembali dengan software Lingo. Total jarak yang semakin jauh akan membuat biaya transportasi semakin tinggi. Oleh sebab itu biaya transportasi perlu diperhatikan selain biaya kelebihan distribusi. Untuk biaya transportasi diasumsikan truk membutuhkan bahan bakar 1 liter/km dan harga bahan bakar adalah Rp 4.500 per liter. Sedangkan untuk biaya kelebihan dihitung berdasarkan besaran subsidi LPG 3 kg.
Rumus untuk subsidi LPG 3 kg :
Subsidi = (((1+bm)*CpA+fc)*Er/1000+md-Pb/(1+tn)) Keterangan :
CpA = CpAramaco = harga patokan untuk LPG ($US/MT) = $US 826,65/MT bm = bea masuk import = 1,88%
fc = biayaangkutanlaut yang besarnya = $US 68,64/MT Er = kurs rupiah (satuan Rp) = Rp 9.000
md = marjin distribusi yang besarnya = Rp 1.750/kg
Pb = harga LPG 3 kg bersubsidi (satuan Rp/tabung) = Rp 12.750/tabung tn = pajak pertambahan nilai (10 %)
Besaran subsidi LPG 3 kg :
Subsidi = (((1+1,88%)*826,65+68,64)*9000/1000+1750-12750/(1+10%)) = Rp 6.083,848 /kg
= Rp 18.251,545/tabung
Tabel 1. Total biaya masing-masing iterasi
Iterasi Biaya Transportasi (Rp) Biaya Kelebihan (Rp) Total Biaya (Rp)
0 Rp 33.495.525 Rp 11.352.461 Rp 44.847.986
1 Rp 33.495.525 Rp 21.573.326 Rp 55.068.851
2 Rp 33.464.925 Rp 1.131.596 Rp 34.596.521
Hasil ketiga iterasi dapat dilihat bahwa total biaya yang terendah adalah hasil dari iterasi 2. Maka hasil dari iterasi 2 inilah yang akan digunakan. Alokasi baru hasil iterasi 2 untuk masing-masing SPBE/SPPBE dapat dilihat pada Tabel 2.
S m d d sdK A B
1 d sd sd B K A 1 1
n s sd B } 1 , 0 { sd B integer dan 0 sd ATabel 2. Alokasi Masing-Masing SPBE/SPPBE Hasil Iterasi 2
No SPBE/SPPBE Alokasi per Hari (tabung)
1 Solusindo Innovative 11.200
2 Geha Inti Citra 12.880
3 Patra Trading Malang 15.120
4 Agam Seulawah Jaya 11.760
5 Zatalini Cipta Persada 10.080
6 Trien Gasmiku 61.60
7 Riau Mas Nusantara 11.200
Total 78.400
Setelah mengetahui SPBE/SPPBE dan daerah yang didistribusi, langkah selanjutnya adalah menentukan penyalur mana yang akan mengambil LPG 3 kg di masing-masing SPBE/SPPBE dengan jarak yang optimal. Hal ini bertujuan agar jarak pengambilan LPG 3 kg dari SPBE/SPPBE ke penyalur optimal sehingga biaya transportasi akan lebih efisien.Optimasi jarak ini akan didapatkan dengan bantuan software Lingo.
Keterangan:
s = index untuk SPPBE (1, 2,…n)
p = index untuk penyalur (1, 2, …m) Dp = jumlah minimum distribusi penyalur Jsp = jarak antara SPBE/SPPBE ke penyalur As = alokasi SPBE/SPPBE s
Asp = volume yang dikirim dari SPBE/SPPBE s ke penyalur p Fungsi tujuan :
Min.
(7) Batasan:
1. Pengiriman dari SPBE/SPPBE tidak melebihi alokasi SPBE/SPPBE
p (8)
2. Jumlah yang diambil penyalur dari SPBE/SPPBE lebih atau sama dengan jumlah minimum distribusi penyalur
s (9)
3. Menunjukkan variabel non-negative dan integer
s,p (10) Berikut ini adalah hasil optimasi jarak SPBE/SPPBE ke penyalur :
Tabel 3. Rantai SPBE/SPPBE-Penyalur
SPBE/SPPBE Penyalur Alokasi per hari (tabung)
PT. Ilham Berkah Jaya 8.960
UD. Sumber Alam Rasyid 560
PT. Sumber Jaya Elpiji 560
CV. Bantar Jaya 560
Solusindo Innovative
PT. Sinar Wahana Surya Mandiri 560
PT. Mulya Sri Rejeki 560
PT. Herdiyanto Soedirman Group 560
PT. Alim Raya 560
PT. Cakra Niaga Abadi 560
PT. Sari Bumi Mulia 10.080
Geha Inti Citra
PT. Whisnu Karya Bakti 560
n s sp sp m d A J 1 1 S m p sp A A
1 p n s sp D A
1 integer dan 0 sp ASPBE/SPPBE Penyalur Alokasi per hari (tabung)
PT. Setia Timoer 560
PT. Seulawah Inong 560
PT. Gunawan Migas 560
PT. Permata Putra 560
PT. Dwi Tunggal Jaya Migas 560
Puskopat "A"DAM V/BRW 560
PT. Aman Damai Sejahtera 560
PT. Damai Indah Sentosa 560
PT. Budikarsa Adiwidjaya Migas 9.520
PT. Trijaya Abadi Sentausa 560
Patra Trading Malang
PT. Galaxi Energy Pratama 560
PT. Catalog Indah Warna 560
Agam Seulawah Jaya
PT. Wargo Warisono Waris Wargosuko 11.200
PT. Ilham Berkah Jaya 8.960
PT. Marhamah Migas Utama 560
Zatalini Cipta Persada
PT. Sumber Makmur Jaya Lestari 560
CV. Putra Abadi 4.480
PT. Sutopo Putra 560
Trien Gasmiku
UD. Aminuddin 560
Riau Mas Nusantara PT. Semangat Baru Jaya 11.200
Penyalur dan desa dari hasil optimasi jarak SPBE/SPPBE ke penyalur dan dari hasil optimasi jarak SPBE/SPPBE ke penyalur akan dikelompokan berdasarkan SPBE/SPPBE yang mendistribusi. Kemudian dicari jarak tempuh dari penyalur ke desa/kelurahan dan dilakukan optimasi jarak penyalur ke desa. Optimasi ini akan didapatkan dengan bantuan software Lingo.
Keterangan:
p = index untuk penyalur (1, 2,…n) d = index untuk desa/kelurahan (1, 2, …m) Kd = kebutuhan desa d
Jpd = jarak antara penyalur ke desa/kelurahan Ap = alokasi penyalur
Apd = volume yang dikirim dari penyalur p ke desa/kelurahan d Bpd = 1 bila penyalur melayani desa/kelurahan d dan 0 jika tidak Fungsi tujuan :
Min.
(11) Batasan:
1. Pengiriman dari penyalur tidak melebihi alokasi penyalur
d (12)
2. Jumlah yang dikirim penyalur ke masing-masing desa/kelurahan sama dengan kebutuhan desa/kelurahan
p,d (13) 3. Setiap desa/kelurahan hanya dilayani oleh satu penyalur
p (14)
4. Menunjukkan variabel biner
p,d (15) 5. Menunjukkan variabel non-negative dan integer
p,d (16)
n p pd pd m d B J 1 1 1 1
n p pd B p m d d pdK A B
1 d pd pd B K A } 1 , 0 { pd B integer dan 0 pd ADari hasil softwareLingoakan didapatkan rantai penyalur ke desa/kelurahan untuk masing-masing SPBE/SPPBE. Salah satu hasil software Lingo dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Rantai Penyalur ke Desa/Kelurahan untuk SPBE Solusindo Innovative
Penyalur Kecamatan Kelurahan/Desa Alokasi per hari
(tabung)
Bantur Pringgodani 167
Sukonolo 105
Bululawang
Wandan Puro 170
Donomulyo Sumber Roto 202
Arjosari 186 Arjowinangun 369 Kalirejo 108 Kalipare Sukowilangun 154 Ardirejo 110 Cempoko Mulyo 203 Curungrejo 131 Dilem 171 Jatirejoyoso 167 Mojosari 87 Ngadilangkung 121 Panggung Rejo 186 Sukoraharjo 144 Kepanjen Talangagung 195 Jambuwer 140 Jati Kerto 215 Karang Rejo 153 PT. Ilham Berkah Jaya Kromengan Kromengan 214 Ngadirejo 104 Paniwen 89 Slorok 143 Balesari 146 Kesamben 118 Kranggan 144 Maguan 81 Ngajum 273 Ngasem 165 Ngajum Palaan 87 Genengan 221 Glanggang 142 Jati Sari 123 Karang Duren 187 Karang Pandan 146 Kebon Agung 391 Pakis Aji 195 Permanu 137 Sutojayan 140 Pakisaji Wadung 102 Jati Guwi 209 Karang Kates 237 Sambi Gede 129 Senggreng 185 Sumber Pucung Ternyang 148
Penyalur Kecamatan Kelurahan/Desa Alokasi per hari (tabung) Medalan Wangi 194 Wagir Sumber Suko 182 Bangelan 114 Kebobang 282 Kluwut 109 Plandi 122 Wonosari Plaosan 180 Gondo Wangi 174 Pandan Rejo 142 Petung Sewu 109
UD. Sumber Alam Rasyid Wagir Sukodadi 112 Ngajum Babadan 185 Sumber Dem 107 Sumber Tempu 113 PT. Sumber Jaya Elpiji Wonosari Wonosari 153
Ngajum Banjar Sari 85
Ngebruk 158 CV. Bantar Jaya Sumberpucung Sumber Pucung 313 Kepanjen Kepanjen 405 PT. Sinar Wahana
Surya Mandiri Pakisaji Wonokerso 122
Secara singkat hasil perancangan dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Hasil perancangan
Kriteria Hasil
Total jumlah LPG 3 kg yang didistribusikan 78.400 tabung per hari
Total jumlah safety stock 156.800 tabung
Rancangan jaringan distribusi Sesuai dengan ketentuan pemerintah
Alokasi LPG 3 kg yang didistribusikan masing-masing
SPBE/SPPBE dan penyalur Dapat dilihat pada Tabel 5.7 dan Tabel 5.8
Jumlah safety stock masing-masing SPBE/SPPBE Dapat dilihat pada Tabel 5.28
Jarak tempuh 7.436,65 km
Biaya transportasi Rp33.464.925
Dengan sistem distribusi tertutup, jumlah LPG 3 kg yang didistribusikan akan lebih terkontrol sehingga akan mempermudah perancangan anggaran APBN. Subsidi untuk setiap tabung LPG 3 kg adalah Rp18.251.545. Jumlah tabung LPG 3 kg yang akan didistribusikan dan safety stock untuk kedua alternatif sama, yaitu 78.400 tabung dan 156.800 tabung.
Total anggaran subsidi per tahun :
Subsidi = Subsidi tabung LPG 3 kg per tahun + subsidi safety stock = Rp 429.276.337.309.869 + Rp 2.861.842.248.732 = Rp 432.138.179.558.602
Anggaran subsidi dari realisasi distribusi dihitung dengan menggunakan asumsi yang sama dengan asumsi untuk menghitung anggaran APBN rancangan jaringan distribusi. Berikut ini anggaran APBN dari realisasi distribusi :
Tabel 6. Anggaran APBN dari Realisasi Distribusi
Bulan Total Distribusi (tabung) Anggaran APBN
November 2011 2.153.610 Rp39.306.709.728 Desember 2011 2.279.000 Rp41.595.270.949 Januari 2012 2.199.680 Rp40.147.558.404 Februari2012 2.145.720 Rp39.162.705.038 Maret 2012 2.279.800 Rp41.609.872.185 April 2012 2.111.680 Rp38.541.422.448 Total Rp240.363.538.752
Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa besar anggaran APBN hasil rancangan sebesar Rp 35.773.028.109.156 per bulan lebih kecil dibandingkan dengan anggaran APBN realisasi distribusi November 2011-April 2012. Jika dibandingkan dalam kurun waktu 6 bulan, dapat dilihat adanya efisiensi anggaran sebesar 10,7%. Hal ini menunjukan bahwa dengan sistem distribusi tertutup anggaran APBN untuk subsidi LPG 3 kg dapat ditekan.
Dengan sistem distribusi tertutup maka jumlah LPG 3 kg yang didistribusikan ke masyarakat akan menurun karena jumlah LPG 3 kg yang didistribusikan disesuaikan dengan jumlah kebutuhan. Menurunnya jumlah LPG 3 kg yang didistribusikan ini akan menimbulkan gejolak di masyarakat. Masyarakat akan berebut untuk membeli LPG 3 kg sehingga akan menimbulkan ancaman kelangkaan. Ancaman kelangkaan ini akan semakin memuncak apabila terjadi aksi pembeliaan besar-besaran dan praktek penimbunan. Untuk mencegah hal tersebut terjadi maka perlu adanya langkah penanggulangan. Langkah penanggulangan tersebut adalah dengan membuat sistem informasi manajemen hingga tingkat konsumen. Setiap konsumen akan dibagikan Kartu Kendali secara gratis. Kartu Kendali ini hanya bisa didapatkan oleh masyarakat yang berhak dan usaha mikro sesuai yang ditetapkan oleh pemerintah. Kartu Kendali harus dibawa setiap kali konsumen membeli LPG 3 kg bersubsidi dan pembelian hanya bisa dilakukan di tempat yang sudah ditentukan.
5. Kesimpulan
Rancangan distribusi memberikan hasil jumlah distribusi LPG 3 kg adalah 78.400 tabung per hari dan safety stock sebanyak 156.800 tabung. Dengan subsidi untuk setiap tabung LPG 3 kg sebesar Rp18.251.545, maka didapatkan anggaran APBN untuk subsidi LPG 3 kg sebesar Rp 429.276.337.309.869 per tahun dan Rp 2.861.842.248.732 untuk subsidi safety stock. Sehingga didapatkan total anggaran subsidi per tahun sebesar Rp 432.138.179.558.602. Total anggaran subsidi LPG 3 kg dari hasil rancangan lebih kecil dibandingkan dengan anggaran APBN realisasi distribusi historis dengan efisiensi anggaran sebesar 10,7%.
6. Daftar Rujukan
[1] Ballou, R.H. (2004) Business Logistics / Supply Chain Management, USA: Pearson Education Inc, pp. 5.
[2] Pujawan, I N. (2005) Supply Chain Management: Edisi 1, Surabaya: Guna Widya, pp. 5. [3] Kamaluddin, R. (1987) Ekonomi Transportasi, Jakarta: Ghalia Indonesia.
[4] Hillier, F.S. dan Lieberman, G.J. (2005) Introduction to Operations Research Eight Edition Jilid II, Yogyakarta: Andi.