DAFTAR ISI... HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI... KATA PENGANTAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... x DAFTAR GAMBAR ... xi ABSTRAK ... xiii ABSTRACT ... xiv BAB I PENDAHULUAN 1.1LatarBelakang ... 1 1.2RumusanMasalah ... 5 1.3BatasanMasalah ... 5 1.4TujuanPenelitian ... 5 1.5ManfaatPenelitian ... 5 1.6SistematikaPenulisan ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1KajianPustaka ... 8

2.2LandasanTeori ... 11

2.3KerangkaKonseptual ... 16

(2)

2.3.2 Konsep Desentralisasi, Otonomi Daerah, dan Pemekaran

Daerah ... 22

2.3.2.1Konsep Desentrlisasi... 22

2.3.2.2 Konsep Otonomi Daerah ... 24

2.3.2.3 Konsep Pemekaran Daerah... 25

2.4KerangkaPemikiran ... 28

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1JenisPenelitian ... 30

3.2Sumber Data ... 30

2.2.1Jenis Data... 30

2.2.2Sumber Data Sekunder ... 31

3.3Unit Analisis ... 31 3.4TeknikPenentuanInforman ... 32 3.5TeknikPengumpulanData ... 33 3.6TeknikAnalisisData ... 34 3.7TeknikPenyajianData ... 36 BAB IV PEMBAHASAN 4.1 GambaranUmumObyek/SubyekPenelitian ...………... 37 4.1.1 Geografi ……… . 37 4.1.2 Penduduk ……… 40 4.1.3 Pemerintahan... 43 4.2 HasilTemuanDanAnalisa... 44 4.2.1 PemekaranKabupatenNiasUtara... 44 4.2.2 DinamikaPemekaranKabupatenNiasUtara... 47 4.2.4 KonflikKepentinganElit... 50 4.2.3 Faktor-FaktorKegagalanOtonomi Daerah... 54

(3)

4.2.3.1 SumberDayaManusia(SDM)... 54 4.2.3.2 SumberDayaAlam (SDA)... 60 4.2.3.3 Infrastruktur... 65 4.3 HasilTemuanPenelitian... 70 BAB V PENUTUP 5.1Simpulan ... 74 5.2Saran ... 75 DAFTAR PUSTAKA ... 77 LAMPIRAN

(4)

ABSTRAK

Pemekaran daerah adalah pengembangan dari satu daerah otonom menjadi dua atau lebih daerah otonom. Kabupaten Nias Utara adalah salah satu daerah yang dimekarkan pada Tahun 2008 dari Kabupaten Nias. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh elit terhadap kegagalan otonomi daerah di Kabupaten Nias Utara. Teori yang digunakan adalah teori elit menurut Gaetano Mosca dan Pareto. Metode Penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data penelitian dengan observasi, wawancara mendalam dan dokumen. Hasil penelitian ini menemukan bahwa pemekaran Kabupaten Nias Utara didasari atas konsensus elit. Alasan utama Kabupaten Nias Utara dimekarkan pada tahun 2008 dikarenakan terjadinya kesenjangan ekonomi dan kesenjangan pembangunan serta letak geografi wilayah Kabupaten Nias Utara yang cukup jauh dari pusat-pusat pemerintahan sehingga kesejahteraan masyarakat pun tidak tercapai. Keterlibatan elit dalam pemekaran Kabupaten Nias Utara sangat terasa, baik elit politik, elit birokrasi maupun elit daerah atau tokoh-tokoh daerah karena didalam perjuangan tersebut terdapat dinamika politik. Namun Setelah 9 (Sembilan) Tahun pemekaran Kabupaten Nias Utara, dampak dari pemekaran tersebut tidak dirasakan oleh masayarakat Kabupaten Nias Utara melainkan pemekaran Kabupaten Nias Utara mengalami kegagalan. Faktor yang menyebabkan kegagalan pemekaran daerah Kabupaten Nias Utara diantaranya Sumber Daya Manusia (SDA), ketidakmampuan pemerintah daerah mengelola potensi Sumber Daya Alam (SDM) dan kegagalan pembangunan infrastruktur. Penulis menganalisis bahwa actor Kegagalan pemekaran Kabupaten Nias Utara terjadi dikarenankan Pemekaran Kabupaten Nias Utara dipaksakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan yaitu elit-elit atau tokoh-tokoh masyarakat Kabupaten Nias Utara.

(5)

ABSTRACT

Area expansion is the development of an autonomous region into two or more autonomous regions. North Nias is one of the districts that was expanded from Nias in 2008. The purpose of this research is the influance of elites on the failure of regional autonomy in North Nias. The theory that was used is the elite theory according to Gaetano Mosca and Pareto. The methods of this research is descriptive qualitative. The data collection techniques in this research are observation, in-depth interviews and documents. The results of this study found that the expansion of North Nias was based on elite consensus. The main reason for North Nias was expanded in 2008 was due to the economic and development gap and the geographical location of North Nias that is quite far from the central government so that the welfare of the community was not achieved. The involvement of the elite in the expansion of North Nias is felt, whether the political elite, the elite bureaucracy as well as the regional elite or regional figures because there is political dynamics in that fight. However, after nine years of expansion in North Nias, the impact of the expansion was not felt by the people of North Nias, but turns out the expansion of Nias Utara was unsuccessful. There are some factors that caused the failure of North Nias’ expansion such as Human Resources, the inability of local governments to manage the potency of Natural Resources and the failure of infrastructure development. The author analyzed that the failure factors of the North Nias’ expansion occurred because the North Nias’ expansion was forced by the stakeholders which are the elites or community leaders of North Nias.

(6)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pulau Nias adalah salah satu kepulauan yang terletak di sebelah Barat pulau Sumatera Indonesia. Dan secara administratif berada dalam wilayah Provinsi Sumatera Utara. Pulau Nias yang sebelumnya hanya terdapat satu kabupaten, ketika dimekarkan menjadi empat kabupaten dan satu kota, yaitu Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Utara, dan Kota Gunungsitoli. Kabupaten Nias Selatan merupakan kabupaten pemekaran pertama yang status otonomnya diperoleh pada tahun 2003 sedangkan Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Utara dan Kota Gunungsitoli memperoleh status otonomnya pada Tahun 2008.

Setelah pemekaran terjadi, Kepulauan Nias kini menjadi 4 kabupaten dan 1 kota, atau 5 daerah administratif. Namun setelah beberapa tahun dimekarkan,

(7)

Kepulauan Nias tidak mendapatkan kesejahteraan, ini berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 131 Tahun 2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015-2019 Presiden menetapkan 122 Daerah yang dikategorikan menjadi daerah tertinggal. Di Provinsi Sumatera Utara terdapat empat daerah yang termasuk daerah tertinggal, dan keempat-empatnya berasal dari Kepulauan Nias yaitu Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Utara, dan Kabupaten Nias Barat. Peraturan Presiden (Perpres) memberikan defenisi tentang daerah tertinggal adalah daerah kabupaten dengan wilayah dan masyarakat yang kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala nasional. Suatu daerah ditetapkan sebagai daerah tertinggal berdasarkan kriteria perekonomian masyarakat, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, kemampuan keuangan daerah, aksesibilitas, serta karakteristik daerah.

Dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 131 Tahun 2015 Tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015-2019 seolah menjadi malapetaka bagi Pemerintah Daerah dan masyarakat di Kepulauan Nias. Karena menunjukkan bahwa di Kepualauan Nias telah terjadi kegagalan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah. Kesejahteraan masyarakat yang menjadi tujuan utama dalam pemekaran telah gagal dilaksanakan oleh pemangku kepentingan yang ada dimasing-masing kabupaten/kota terbukti dengan dikelaurnya Keputusan Presiden Nomor 131 Tahun 2015 Tentang Penetapan Daerah Tertinggal. Perjuangan pembentukan kabupaten/kota pada tahun 2008, memang bukanlah perjuangan yang mudah. Keterlibatan semua pihak dalam pembentukan kabupaten/kota di kepulauan Nias menjadi kunci

(8)

keberhasilan otonomi daerah. Keterlibatan elit-elit politik baik ditingkat daerah, provinsi maupun pusat sangat menentukan berhasilnya pemekaran di Kepulauan Nias. Adapun elit-elit politik tersebut diantaranya Firman Jaya Daeli (Anggota DPR-RI Fraksi PDIP Perjuang Periode 1999-2004), Yasona H Laoli (Anggota DPR-DPR-RI Fraksi PDIP Perjuangan Peridode 2004-2009 dan 2009-2014), Binahati Baeha ( Bupati Nias 2001-2006 dan 2006-2011), Firman Harefa ( Ketua Yayasan BNKP ), Jend (purn). Mayjen Kristian Zebua, Baziduhu Zebua (Ketua BPP Kabupaten Nias Utara) dan elit-elit lainnya baik yang berdomisili di Kepualauan Nias maupun diluar Kepulauan Nias sehingga akhirnya pada tanggal 29 Oktober 2008 Sidang Paripurna DPR-RI dapat mengesahkan pembentukan daerah otonom baru di Kepualaun Nias.

Keberhasilan Sidang Paripurna DPR-RI dalam mengesahkan pembentukan daerah otonom baru di Kepulauan Nias telah membuktikkan bahwa perjuangan pemekaran daerah memiliki korelasi positif dengan kuat tidaknya pengaruh kepentingan politik dalam daerah yang ingin dimekarkan. Memang dalam prakteknya pemekaran menjadi daya tarik bagi setiap masyarakat daerah yang merasa memenuhi unsur-unsur yang disyaratkan walaupun terkadang dipaksakan. Hal itu menjadi dilema bagi pemerintah dan DPR pusat untuk menyetujui usulan dari berbagai daerah untuk dimekarkan.

Kegagalan otonomi daerah di Kepualaun Nias yang dianggap gagal tidak mengherankan, karena dalam perjuangan pemekaran tersebut terkesan dipaksakan oleh kepentingan-kepentingan politik. Pemekaran yang terjadi justru mengakibatkan

(9)

masyarakat semakin jauh dari kesejahteraan salah satunya di Kabupaten Nias Utara. Kabupaten Nias Utara adalah kabupaten dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terendah di Provinsi Sumatera Utara, dengan 29,28 persen atau 38.950 orang digolongkan dalam keadaan miskin. Sehingga tingkat pengangguran pun semakin meningkat dari tahun ke tahun misalnya pada tahun 2014 hanya terdapat 2,71 persen dan di tahun 2015 naik begitu cepat menjadi 4,02 persen (BPS :2015).

Kondisi daerah pemekaran di Kepulauan Nias saat ini memang sangat memprihatikan, kesejahteraan masyarakat belum tercapai, sumber daya alam yang masih belum dikelola dengan baik, pembangunan infrastruktur yang masih belum merata, dan masih banyak hal-hal lainnya yang belum tercapai. Akan tetapi yang lebih menarik perhatian penulis adalah para tokoh-tokoh perjuangan yang dulu terlibat dalam Badan Persiapan Pemekaran (BPP) kini menjabat pemimpin-pemimpin daerah di Kepulauan Nias yaitu diantaranya Ir.Lakhomizaro Zebua yang saat ini menjabat Walikota Gunungsitoli, Ingati M. Nazara yang saat ini menjadi Bupati Nias Utara dan masih banyak tokoh-tokoh lainnya . Seharusnya dengan keterlibatan tokoh-tokoh tersebut dan ikut memperjuangkan otonomi daerah dapat berbuat semaksimal mungkin untuk menjamin meningkatnya kesejahteraan masyarakat karena tokoh-tokoh tersebut yang secara langsung terlibat dalam perjuangan pemekaran bukan dengan kondisi saat ini yang dapat dikatakan tidak terjadinya perubahan apapun melainkan terkesannya hanya untuk membagi-bagi kekuasaan di masing-masing daerah otonom baru di kepulauan Nias.

(10)

Selanjutanya berdasarkan fakta diatas dapat kita simpulkan bahwa setelah terjadinya pemekaran di Kepualaun Nias tidak membawa dampak yang signifikan apapun terhadap kesejahteraan masyarakat, melainkan telah terjadinya kegagalan otonomi daerah itu sendiri. Banyak faktor kegagalan yang terjadi diantaranya, pemekaran yang di Kepualaun Nias terkesan dipaksakan oleh elit-elit politik walaupun pembentukan daerah belum siap diterapkan dengan keterbatasan-keterbatasan yang ada. Sehingga penulis ingin mengetahui lebih mendalam tentang penyebab dan faktor kegagalan tersebut. Maka penulis akan melakukan penelitian dengan judul “ Pengaruh Elit Terhadap Kegagalan Otonomi Daerah Pemekaran di Kabupaten Nias Utara.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di awal tulisan, maka dapat dirumuskan sebuah permasalahan tentang bagaimana pengaruh elit terhadap kegagalan otonomi daerah di Kabupaten Nias Utara ?

1.3 Batasan Masalah

Penelitian ini difokuskan untuk mengetahui pengaruh elit terhadap kegagalan otonomi daerah di Kabupaten Nias Utara. Adapun batasan masalah untuk mengetahui pengaruh elit terhadap kegagalan otomi daerah tersebut adalah alasan utama pemekaran Kabupaten Nias Utara, Dinamika yang terjadi dalam pemekaran , konflik elit dan kegagalan pemerintah daerah dalam mengelola SDM, SDA, dan Infrakstruktur.

(11)

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh elit terhadap kegagalan otonomi daerah di Kabupaten Nias Utara.

1.5 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini dapat diuraikan menjadi 2 yaitu, manfaat praktis dan manfaat teoritis.

1.5.1 Manfaat Praktis

Memberikan pemahaman lebih mendetail dan terperinci kepada setiap pembaca mengenai pengaruh elit terhadap kegagalan otonomi daerah di Kabupaten Nias Utara.

1.5.2 Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan mampu menjadi kajian ilmiah mengenai pengaruh elit terhadap kegagalan otonomi daerah di Kabupaten Nias Utara.

1.6 Sistematika Penulisan BAB I. PENDAHULUAN

Terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

(12)

Terdiri dari telaah melalui penelitian sebelumnya dan berhubungan dengan penelitian yang hendak dilakukan. Keterkaitan antar konsep sebagai kerangka konseptual untuk menjelaskan permasalahan yang diteliti.

BAB III. METODE PENELITIAN

Terdiri dari jenis penelitian, sumber data, unit analisis, teknik penentuan informan, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, teknik penyajian data, dan keterbatasan penelitian.

BAB IV. PEMBAHASAN

Pada bagian ini penulis akan menjelaskan pengaruh elit terhadap kegagalan otonomi daerah di Kabupaten Nias Utara. Proses perjuangan pemekaran, dan dinamika pemekaran yang terjadi juga merupakan bagian yang akan dijelaskan penulis pada bagian ini.

BAB V. PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian maka ditarik kesimpulan sebagai rangkaian singkat melalui fakta dan data yang telah dikumpulkan serta saran yang diberikan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :