Kondisi Lingkungan (Faktor Fisika-Kimia) Sungai Lama Tuha Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Kondisi Lingkungan (Faktor Fisika-Kimia) Sungai Lama Tuha Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya

Amirunnas*

Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala Darussalam, Banda Aceh.

M Ali Sarong2,Ismul Huda3

Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala Darussalam, Banda Aceh.

*email: amirunnasbio@gmail.com

Abstrak

Sungai merupakan salah satu habitat makhluk hidup untuk kelangsungan kehidupan. Sungai sebagai habitat makhluk hidup memiliki kondisi lingkungan yang berbeda-beda. Kondisi lingkungan Sungai Lama Tuha Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya belum di ketahui tentang faktor Fisika-Kimia di sungai tersebut, maka diperlukan adanya pengkajian melalui kegiatan penelitian yang bertujuan untuk (1) mengetahui kondisi lingkungan dasar perairan Sungai Lama Tuha Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya. Penelitian dilakukan pada bulan Juni 2017 di Sungai Lama Tuha Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh

Barat Daya. Penelitian dilakukan dengan menggunakan teknik Purposive Sampling.

Lokasi penelitian dibagi menjadi 5 stasiun. Kondisi lingkungan dianalisis secara deskriptif. Komponen lingkungan terdiri dari suhu air yang berkisar antara 27°C-29°C. pH air berkisar anatara 7.2-8.2, pH substrat berkisar antara 6.7-7.2, Salinitas air berkisar antara 4‰-17‰, dan kecerahan air pada stasiun penelitian yaitu berkisar antara 0.4 meter-0.6 meter. Kesimpulan yang diperoleh yaitu kondisi lingkungan perairan memiliki pH air basa, pH substrat dengan kisaran asam lemah sampai basa lemah, suhu air yang relatif stabil pada setiap stasiun, kecerahan air yang relatif merata dan salinitas payau.

Kata kunci:Suhu, pH, Salinitas, Sungai.

Pendahuluan

Sungai merupakan salah satu habitat makhluk hidup untuk kelangsungan kehidupan. Air sungai memiliki jumlah kadar garam yang berbeda-beda. Jumlah kadar garam yang terdapat pada suatu perairan disebut salinitas. Berdasarkan salinitas suatu air maka sungai sebagai habitat hewan dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu perairan tawar dan perairan payau. Perairan tawar memiliki salinitas yang berkisar antara 0–0,5‰, sedangkan perairan payau yaitu berkisar antara 0,5–30‰.

Banyak terdapat sungai dengan perairan tawar maupun payau di Indonesia, salah satunya di Provinsi Aceh. Sungai dengan perairan tawar disebut juga dengan Kawasan perairan

(2)

tawar, sedangkan sungai dengan perairan payau termasuk kedalam kawasan pesisir. Menurut Sarong et al(2009:82) Provinsi Aceh terdapat kawasan pesisir yaitu terbentang mulai dari Kabupaten Aceh Tamiang di kawasan Timur, Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh, di kawasan Utara dan berakhir di Kabupaten Aceh Singkil di kawasan Selatan. Sungai Lama Tuha merupakan salah satu sungai yang terdapat di pesisir Provinsi Aceh. Sungai ini tepatnya terletak di Gampong Lama Tuha Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya.

Suin (1989) dalam(Sitorus, 2008:76) menyatakan bahwa hal yang sangat menentukan hewan hidup disuatu habitat perairan yaitu faktor fisika dan kimia yang hampir merata pada suatu habitat serta tersedianya makanan bagi hewan tersebut.Faktor fisika-kimia tersebut yaitu pH, suhu dan salinitas adalah faktor penting dalam suatu perairan untuk kelangsungan makhluk hidup akuatik.

Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa belum terdapat data tentang faktor Fisika-Kimia dikawasan Sungai Lama Tuha Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya,sehingga perlu dikaji secara spesifik. Tujuan Penelitian yaitu untuk mengetahui kondisi lingkungan dasar perairan Sungai Lama Tuha Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya.

Metode Penelitian

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Sungai Lama Tuha, Kecamatan Kuala Batee, Kabupaten Aceh Barat Daya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2017.

Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik Purposive Sampling yaitu pemilihan lokasi sampling dilakukan berdasarkan tujuan tertentu. Kegiatan sampling dan pengolahan data dilakukan dengan cara: Menentukan lokasi dan stasiun penelitian. Lokasi Penelitian dibagi menjadi 5 stasiun. Stasiun I merupakan anak cabang Sungai Lama Tuha yang bermuara ke Samudra Hindia, stasiun II adalah anak cabang Sungai Lama Tuha ke Gampong Keude Baro, stasiun III adalah kawasan aliran Sungai Lama Tuha, stasiun IV adalah bagian awal Sungai Lama Tuha dan stasiun V adalah anak cabang sungai ke areal perkebunan sawit.

Masing-masing stasiun dibagi menjadi 2 substasiun. Pada masing-masing substasiun, ditentukan tempat peletakan plot kuadran 3 meter x 3 meter. Penempatan kuadran dilakukan searah tepi sungai. Masing-masing substasiun diletakkan 4 plot yang terdiri dari 2 plot dibagian kiri dan 2 plot dibagian kanan. Total plot pada masing-masing stasiun berjumlah 8 plot. Pengukuran faktor lingkungan dilakukan dengan mengukur parameter Fisika-Kimia, meliputi; suhu air (ºC), pH air (kisaran 1-14), pH substrat (kisaran 1-14), salinitas (‰), kecerahan air (meter), dan jenis substrat dasar perairan. Seluruh hasil pengukuran dan pengamatan yang diperoleh, selanjutnya dimasukkan kedalam tabel pengamatan.

Teknik Analisis Data

Kondisi lingkungan Sungai Lama Tuha dianalisis secara deskriptif yang memberikan gambaran sesuai kondisi dilapangan.

(3)

Tabel 1. Hasil Pengukuran Parameter Fisika-Kimia. Komponen Kondisi Masing-Masing Stasiun

I II III IV V Suhu Air (ºC) 28-29 28-29 28-29 27-28 28-29 pH Air 7,6-7,7 7,7 7,5-76 7,8-8,2 7,2-7,8 pH Substrat 7,0 6,8-7,2 7,0 7,0 6,7-6,8 Salinitas (‰) 15-17 15 5-8 4-5 15 Kecerahan Air 0,4-0,5 0,4-0,6 0,4-0,6 0,4-0,6 0,4

Pengukuran kondisi lingkungan perairan Sungai Lama Tuha Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya meliputi pH, suhu, salinitas dan Intensitas cahaya.Pengukuran tersebut dilakukan pada pagi hari (9.00-11.00 WIBB).

Faktor fisika-kimia seperti pH, suhu dan salinitas adalah faktor penting dalam suatu perairan untuk kelangsungan makrozoobentos (Yeanny, 2007:41).

Derajat keasaman (pH)

Derajat keasaman (pH) yang diukur meliputi pH air dan pH substrat. pH air sungai Lama Tuha berkisar antara 7,2-8,2. Hasil pengukuran pH air menunjukkan bahwa kawasan sungai Lama Tuha bersifat basa dengan nilai pH diatas 7. pH substrat pada lokasi penelitian yaitu berkisar antara 6,7-7,2. Hasil pengukuran pH substrat menunjukkan pH substrat berada pada kisaran asam lemah dan basa lemah. Keadaan pH yang tidak terlalu basa dan tidak pula terlalu asam ini menyebabkan makhluk hidup tetap hidup, hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Hatauruk (2009:38) bahwa nilai pH yang ideal bagi kehidupan organisme air yaitu antara netral sampai sedikit basa. Kondisi perairan yang sangat asam maupun sangat basa akan menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme organisme.

Suhu

Suhu air pada kawasan penelitian ini berkisar antara 27°C-29°C. menurut Karwati (2002) bahwa kisaran suhu yang menunjang kehidupan organisme perairan di daerah tropis yaitu antara 26ºC -30ºC. Sehingga suhu di kawasan tersebut dapat menunjang kehidupan makhluk hidup akuatik.

Salinitas

Salinitas di Sungai Lama Tuha berada pada kisaran antara 4‰-17‰. Salinitas sangat mempengaruhi organisme dalam berkembang biak. Nilai salinitas di sungai Lama Tuha sangat bervariasi disebabkan adanya pasang surut. Hal lain yang menyebabkan perbedaan salinitas adalah jarak pengambilan data yang berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Reid (2011:21) bahwa salinitas perairan berubah-ubah akibat bertambah atau berkurangnya molekul-molekul air. Satuan untuk mengukur salinitas air adalah satuan gram per kilogram (ppt) atau permil (‰). Nilai salinitas air untuk perairan tawar yaitu berkisar antara 0–0,5 ppt, perairan payau yaitu berkisar antara 0,5–30 ppt (Salinitas air payau) dan salinitas perairan laut yaitu lebih dari 30 ppt (Johnson & Allen, 2012:16), sehingga salinitas pada Sungai Lama Tuha termasuk salinitas air payau.

(4)

Kecerahan Air

Kecerahan air atau kekeruhan air pada stasiun penelitian di Sungai Lama Tuha berkisar antara 0,4 meter-0,6 meter. Nilai kecerahan tersebut menunjukkan bahwa Sungai Lama Tuha memiliki kecerahan air yang relatif merata. Hal ini sangat berpengaruh dengan kedalaman suatu perairan dan materi organik dan anorganik yang tersuspensi. Rahman (2009:16) menyatakan bahwa kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat didalam air. Kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi (misalnya lumpur dan pasir halus).

Tabel 2. Jenis Substrat pada Setiap Stasiun

Stasiun Fraksa Substrat

I Pasir

II Campuran lempung, lumpur dan pasir III Campuran lempung, lumpur dan pasir IV Campuran lempung, lumpur dan pasir V Campuran lempung, lumpur dan pasir

Jenis substrat di Sungai Lama Tuha memiliki dua jenis fraksa substrat yaitu (1) pasir atau (2) campuran lempung, lumpur dan pasir. Substrat penyusun pada stasiun I adalah pasir sedangkan stasiun II, III, IV dan V tekstur substrat terdiri atas campuran lumpur, liat dan pasir. Substrat berlumpur tersebut merupakan substrat yang berserasah. Hamidy (2002) dalam

Agustini (2016) menyatakan bahwa serasah yang berasal dari ranting, daun, dan buah tumbuhan yang jatuh dan telah mengalami dekomposisi, dimana proses tersebut sebagai bagian dari proses biologis untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Sedangkan hasil dari proses dekomposisi akan menjadi sumber makanan bagi Bivalvia, Crustaceae, Zooplankton, Annelida dan lain-lain. Jenissubstrat sangat menentukan komposisi hewan akuatik. Substrat itu sendiri didefinisikan sebagai campuran dari fraksi lumpur, pasir dan liat dalam tanah. Seberadaan substrat yang memiliki makanan menyebabkan substrat tersebut dapat ditempati oleh hewan-hewan tertentu. Hal ini sejalan dengan pendapat Sitorus (2008:76) menyatakan bahwa hal yang sangat menentukan hewan hidup disuatu habitat perairan yaitu faktor fisika dan kimia yang hampir merata pada suatu habitat serta tersedianya makanan bagi hewan tersebut.

Simpulan dan Saran

Kondisi lingkungan perairan Sungai Lama Tuha memiliki pH air basa, pH substrat dengan kisaran asam lemah sampai basa lemah, suhu air yang relatif stabil, kecerahan air yang relatif merata dan salinitas payau.

Kondisi lingkungan perairan Sungai Lama Tuha Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya perlu di jaga dengan baik oleh masyarakat dan pemerintah agar tidak tercemari oleh berbagai aktifitas di sekitar sungai tersebut.

(5)

penulisan artikel ini dengan judulKondisi Lingkungan (Faktor Fisika-Kimia) Sungai Lama Tuha Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya.

Terselesaikannya artikel ini tentunya tidak lepas dari dorongan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ismul Huda, M.Si dan Bapak Prof. Dr. M. Ali S, M.Si sebagai dosen pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktunya, memberikan arahan dan mengarahkan penulis.

Daftar Pustaka

Agustini, N. T. (2016). Asosiasi Ekostruktur Kerang Lokan (Geloina Erosa Solander, 1786) Dan Mangrove Di Pesisir Kahyapu Pulau Enggano Provinsi Bengkulu. Tesis.Bogor: Bogor Agricultral University (IPB).

Hutauruk, E. L. (2009). Studi Keanekaragaman Echinodermata Di Kawasan Perairan Pulau Rubiah Nanggroe Aceh Darussalam.Skripsi. Bogor: Bogor Agricultral University (IPB). Johnson, W. S., & Allen, D. M. (2012). Zooplankton of the Atlantic and Gulf Coasts: a Guide to

Their Identification and Ecology. Maryland: JHU Press.

Karwati, N. (2002). Struktur Komunitas Gastropoda Dan Bivalvia pada Ekosistem Mangrove dan Padang Lamun di Gugus Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Skripsi. Bogor: Bogor Agricultral University (IPB).

Rahman, F. A. (2009). Struktur Komunitas Makrozoobentos di Perairan Estuaria Sungai Brantas (Sungai Porong dan Wonokromo), Jawa Timur.Skripsi. Bogor: Bogor Agricultral University (IPB).

Reid, C. (2011). Terumbu Karang dan Perubahan Iklim: Panduan Pendidikan dan

Pembangunan Kesadartahuan. Queensland: The University of Queensland.

Sarong, M. A., Huda, I., Wardiatno, Y., & Haji, A. G. (2009). Kondisi Vegetasi dan Kerang.

Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan.19(2): 82–89.

Sitorus, D. B. (2008). Keanekaragaman dan Distribusi Bivalvia Serta Kaitannya dengan Faktor Fisik–Kimia di Perairan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang.Tesis. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Yeanny, M. S. (2007). Keanekaragaman Makrozoobentos di Muara Sungai Belawan. Jurnal Biologi Sumatra. 2(2): 37-41.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :