BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini akan diuraikan berbagai temuan selama melakukan penelitian yang dianalisis menggunakan metode kuantitatif . Pembahasan ini sebagai jawaban atas permasalahan – permasalahan yang telah dihipotesiskan pada bab I.
A. Karakteristik Responden
Profil responden adalah para guru yang mengajar pada sekolah terpilih sebagai populasi, yang dapat dideskripsikan sebagai berikut :
1. Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Gambar 4. Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Sumber : Data Primer (2015)
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa, komposisi responden didonimasi oleh perempuan dengan menempati 63% atau hampir 200% dari laki – laki yang hanya 37%
2. Profil Responden Berdasarkan Usia
Gambar 5. Profil Responden Berdasarkan Usia Sumber : Data Primer (2015)
Berdasarkan kelompok usia, responden pada penelitian ini hampir memiliki jumlah yang sama, artinya bahwa responden untuk profesi guru merata dalam berbagai kelompok usia.
3. Profil Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Gambar 6. Profil Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Sumber : Data Primer (2015)
Penggolongan responden berdarakan tingkat pendidikan, ternyata didominasi pada tingkat pendidikan sarjana, sekalipun ada sebagian kecil memiliki tingkat pendidikan pasca sarjana.
4. Profil Responden Berdasarkan Lama Mengajar
Gambar 7. Profil Responden Berdasarkan Lama Mengajar Sumber : Data Primer (2015)
Berdasarkan lama atau jangka waktu bekerja sebagai guru, secara umum sudah memiliki pengalaman bekerja selama lebih dari 5 tahun, sedangkan jangka yanag berpengalaman kurang dari satu tahun hanya 18 responden (17%) dibandingkan 80 responden (83%) yang memiliki pengalaman di atas 5 tahun
5. Profil Responden Berdasarkan Keterkaitan Cita – cita Profesi
Gambar 8. Profil Responden Berdasarkan Kesesuaian Cita – cita Sumber : Data Primer (2015)
Tinjauan dari cita – cita dengan pilihan profesi yang sekarang dijalani, 80 responden atau 83% sudah memiliki kesesuaian, sehingga 18 responden atau 17% yang tidak sesuai dengan cita – citanya.
6. Profil Responden Berdasarkan Kesesuaian Harapan Tempat Kerja
Gambar 9. Profil Responden Berdasarkan Kesesuaian Harapan Tempat Kerja
Berdasarkan kesesuaian pilihan tempat kerja, ternyata hanya 41,5% yang belum sesuai keinginan, sehingga selebihnya sudah merupakan pilihan tempat kerja yang sesuai dengan yang diharapkan.
B. Hasil Analisis Deskriptif
Data yang digunakan untuk mendeskripsikan hasil penelitian ini adalah Organization Citizenship Behavior (Y), Kecerdasan Emosi (X1), Kompetensi Komunikasi (X2) dan Person Organization Fit (X3). Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner yang selanjutnya diolah menggunakan statistik deskriptif, yang terdiri dari mean, median, modus, standar deviasi, skor minimum dan sekor maksimum.
1. Organization Citizenship Behavior (OCB)
Untuk variabel organization citizenship behavior , nilai mean, median, modus, satandar deviasi, skor maksimum dan skor minimum dapat disajikan pada tabel 12 berikut ini :
Tabel 17. Deskripsi Data Variabel Organization Citizenship Behavior (Y) N 80 Mean 92,725 Median 91,000 Modus 80 Standar Deviasi 10,775 Skor Minimum 46,000 Skor Maksimum 110,000
Pada tabel 12 tersebut dapat diketahui bahwa untuk variabel organization citizenship behavior dengan responden 80 memiliki mean sebesar 92,725 sementara itu, mediannya sebesar 91, modus 80, standar deviasi 10,775 dengan skor minimum 46 dan skor maksimum sebesar 110.
Sebagai pedoman untuk mengetahui variabel organization citizenship behavior secara keseluruhan digunakan pedoman interpretasi dengan merujuk pada 5 interval seperti tertera pada tabel 13. Pedoman disusun berdasarkan skor pernyataan terendah sampai skor pernyataan tertinggi. Skor terendah = 22 (22 x 1) menunjukkan bahwa semua jawaban atas 22 item pernyataan OCB adalah 1 atau sangat tidak setuju, sedangkan skor tertinggi = 110 (22 x 5) mengindikasikan bahwa semua jawaban atas 22 item pernyataan OCB adalah 5 atau sangat setuju.
Tabel 18. Pedoman Interpretasi dan Distribusi Frekuensi Variabel Organization Citizenship Behavior
No. Interpretasi Interval Distribusi Interval
Frekuensi F % Kategori
1 22 – 43 46-58 1 1.25 Sangat Tidak Setuju
2 44 – 65 59-71 0 0.00 Tidak Setuju
3 66 – 87 72-84 15 18.75 Netral
4 80 – 109 85-97 34 42.50 Setuju
5 110 - 131 98-111 30 37.50 Sangat Setuju
Nilai mean untuk variabel OCB sebesar 92,725, hasil ini bila merujuk pada pedoman interpretasi secara umum variabel OCB dipersepsikan guru sebagai kategori setuju karena nilai mean tersebut berada pada interval 80 - 109., selanjutnya berdasarkan distribusi frekuensi ada 42,5 % guru memberikan persepsi setuju atas OCB , dan hanya 1,24 % guru memberikan persepsi sangat tidak setuju terhadap variabel OCB
2. Kecerdasan Emosi
Variabel kecerdasan emosi (X1), nilai mean, median, modus, satandar deviasi, skor maksimum dan skor minimum dapat disajikan pada tabel 14 berikut ini :
Tabel 19. Deskripsi Data Variabel Kecerdasan Emosi (X1)
N 80 Mean 139,050 Median 138,500 Modus 130 Standar Deviasi 13,506 Skor Minimum 104,000 Skor Maksimum 163,000
Sumber : Data Primer (2015)
Pada tabel 14 tersebut dapat diketahui bahwa untuk variabel kecerdasa emosi dengan responden 80 memiliki mean sebesar 139,050 sementara itu, mediannya sebesar 138,5 modus 130, standar deviasi 13,506 dengan skor minimum 104 dan skor maksimum sebesar 163.
Sebagai pedoman untuk mengetahui variabel kecerdasan emosi secara keseluruhan digunakan pedoman interpretasi dengan merujuk
pada 5 interval seperti tertera pada tabel 15. Pedoman disusun berdasarkan skor pernyataan terendah sampai skor pernyataan tertinggi. Skor terendah = 33 (33 x 1) menunjukkan bahwa semua jawaban atas 33 item pernyataan kecerdasan emosi adalah 1 atau sangat tidak setuju, sedangkan skor tertinggi = 165 (33 x 5) mengindikasikan bahwa semua jawaban atas 33 item pernyataan kecerdasan emosi adalah 5 atau sangat setuju.
Tabel 20. Pedoman Interpretasi dan Distribusi Frekuensi Variabel Kecerdasan Emosi
No. Interpretasi Interval Distribusi Interval
Frekuensi F % Kategori
1 33 - 65 104 – 115 2 6.67 Sangat Tidak Setuju 2 66 - 98 116 – 127 10 13.33 Tidak Setuju 3 99 - 131 128 – 139 33 20.00 Netral 4 132 - 164 140 – 151 16 26.67 Setuju
5 165 - 197 152 – 163 19 33.33 Sangat Setuju
Sumber : Data Primer (2015)
Nilai mean untuk variabel kecerdasan emosi sebesar 139,50 dibulatkan menjadi 140, hasil ini bila merujuk pada pedoman interpretasi secara umum variabel kecerdasan emosi dipersepsikan guru sebagai kategori setuju karena nilai mean tersebut berada pada interval 140 - 151, selanjutnya berdasarkan distribusi frekuensi ada 26,67 % guru memberikan persepsi setuju atas kecerdasan emosi , dan hanya 6,67 % guru memberikan persepsi sangat tidak setuju terhadap variabel kecerdasan emosi
3. Kompetensi Komunikasi
Variabel kompetensi komunikasi (X2), nilai mean, median, modus, satandar deviasi, skor maksimum dan skor minimum dapat disajikan pada tabel 16 berikut ini :
Tabel 21. Deskripsi Data Variabel Kompetensi Komunikasi (X2)
N 80 Mean 80,275 Median 80,000 Modus 80 Standar Deviasi 8,585 Skor Minimum 60,000 Skor Maksimum 97,000
Sumber : Data Primer (2015)
Pada tabel 16 tersebut dapat diketahui bahwa untuk variabel kompetensi komunikasi dengan responden 80 memiliki mean sebesar 80,275 sementara itu, mediannya sebesar 80 modus 80, standar deviasi 8,585 dengan skor minimum 60 dan skor maksimum sebesar 97.
Sebagai pedoman untuk mengetahui variabel kompetensi komunikasi secara keseluruhan digunakan pedoman interpretasi dengan merujuk pada 5 interval seperti tertera pada tabel 17. Pedoman disusun berdasarkan skor pernyataan terendah sampai skor pernyataan tertinggi. Skor terendah = 20 (20 x 1) menunjukkan bahwa semua jawaban 20 item pernyataan kompetensi komunikasi adalah 1 atau sangat tidak setuju, sedangkan skor tertinggi = 100 (20 x 5) mengindikasikan bahwa semua jawaban atas 20 item pernyataan kompetensi komunikasi adalah 5 atau sangat setuju.
Tabel 22. Pedoman Interpretasi dan Distribusi Frekuensi Variabel Kompetensi Komunikasi
No Interpretasi Interval Distribusi Interval
Frekuensi F % Kategori
1 20 - 39 60 - 67 4 5.00 Sangat Tidak Setuju 2 40 - 59 68 - 75 18 22.50 Tidak Setuju 3 60 - 79 76 - 83 32 40.00 Netral
4 80 - 99 84 -91 17 21.25 Setuju
5 100 - 119 92 - 99 9 11.25 Sangat Setuju
Sumber : Data Primer (2015)
Nilai mean untuk variabel kompetensi komunikasi sebesar 80,275 hasil ini bila merujuk pada pedoman interpretasi secara umum variabel kompetensi komunikasi dipersepsikan guru sebagai kategori netral karena nilai mean tersebut berada pada interval 76 - 83, selanjutnya berdasarkan distribusi frekuensi ada 40% guru memberikan persepsi netral dan 21,25% memberikan persepsi setuju atas kompetensi komunikasi, dan hanya 5% guru memberikan persepsi sangat tidak setuju terhadap variabel kompetensi komunikasi.
4. Person Organization Fit
Variabel Person Organization Fit (X3), nilai mean, median, modus, satandar deviasi, skor maksimum dan skor minimum dapat disajikan pada tabel 18 berikut ini :
Tabel 23. Deskripsi Data Variabel Person Organization Fit (X3) N 80 Mean 46,06 Median 46,00 Modus 42 Standar Deviasi 5,593 Skor Minimum 34 Skor Maksimum 61
Sumber : Data Primer (2015)
Pada tabel 18 tersebut dapat diketahui bahwa untuk variabel person organization fit dengan responden 80 memiliki mean sebesar 46,06 sementara itu, mediannya sebesar 46 modus 42, standar deviasi 5,593 dengan skor minimum 34 dan skor maksimum sebesar 61.
Sebagai pedoman untuk mengetahui variabel kompetensi komunikasi secara keseluruhan digunakan pedoman interpretasi dengan merujuk pada 5 interval seperti tertera pada tabel 19 Pedoman disusun berdasarkan skor pernyataan terendah sampai skor pernyataan tertinggi. Skor terendah = 13 (13 x 1) menunjukkan bahwa semua jawaban atas 13 item pernyataan person organization fit adalah 1 atau sangat tidak setuju, sedangkan skor tertinggi = 65 (13 x 5) mengindikasikan bahwa semua jawaban atas 13 item pernyataan person organization fit adalah 5 atau sangat setuju.
Tabel 24. Pedoman Interpretasi dan Distribusi Frekuensi Variabel Person Organization Fit
Interval Interpretasi
Interval Distribusi
Frekuensi F % Kategori
13 - 25 34 – 40 15 18.75 Sangat Tidak Setuju 26 - 38 41 – 46 29 36.25 Tidak Setuju
52 - 64 53 – 58 9 11.25 Setuju
65 - 77 59 – 64 2 2.50 Sangat Setuju
Sumber : Data Primer (2015)
Nilai mean untuk variabel kompetensi komunikasi sebesar 46,06 (dibulatkan menjadi 47) hasil ini bila merujuk pada pedoman interpretasi secara umum variabel person organization fit dipersepsikan guru sebagai kategori netral karena nilai mean tersebut berada pada interval 47 - 52, selanjutnya berdasarkan distribusi frekuensi ada 31,25% guru memberikan persepsi netral dan 11,25% memberikan persepsi setuju atas person organization fit , dan 18,75 % guru memberikan persepsi sangat tidak setuju terhadap variabel person organization fit.
5. Perolehan Nilai Mean Masing – masing variabel
Dari hasil analisis deskriptif masing – masing variabel dapat dipaparkan nilai mean masing – masing variabel pada tabel – 20 berikut :
Tabel 25: Rekapitulasi Skor Minimal, Maksimal, Mean, Modus, Median dan Standar Deviasi Pada Masing – Masing Variabel
No Variabel Min Max Mean Mo dus dian Me Std 1 Organization Citizenship Behavior (Y) 46 110 92,73 80 91 10,78 2 Kecerdasan Emosi (X1) 104 163 139,05 130 138,5 13,51 3 Kompetensi Komunikasi (X2) 60 97 80,28 80 80 8,59 4 Person Organization Fit (X3) 34 61 46,06 42 46 5,59
C. Hasil Pengujian Instrumen Penelitian 1. Hasil Uji Validitas
Validitas menunjukkan sejauh mana pengukur itu mengukur apa yang ingin diukur. Metode yang digunakan pada pengujian validitas instrumen menggunakan pendekatan korelasi product moment dengan ketentuan kevalidan instrumen apabila nilai r > nilai r tabel pada N = 80.
Selanjutnya akan dijelaskan mengenai hasil perhitungan validitas dan reliabilitasnya sebagai berikut :
Tabel 26. Hasil Uji Validitas Kecerdasan Emosi (X1) Dimensi Item Nilai pada
Keputusan : Apabila maka dikatakan valid Self Awareness 1 0,598 0,220 Valid 2 0,630 Valid 3 0,538 Valid 4 0,708 Valid 5 0,619 Valid 6 0,792 Valid 7 0,716 Valid Social Awareness 8 0,638 Valid 9 0,780 Valid 10 0,220 Tidak valid 11 Tidak valid 12 0,435 Valid 13 0,573 Valid 14 0,786 Valid 15 0,723 Valid 16 0,735 Valid Self Manage-ment 17 0,738 0,220 Valid 18 0,819 Valid 19 0,515 Valid 20 0,545 Valid 21 0,634 Valid 22 0,558 Valid
23 0,765 Valid 24 0,752 Valid 25 0,775 Valid Social Skill 26 0,813 0,220 Valid 27 0,743 Valid 28 0,656 Valid 29 0,669 Valid 30 0,770 Valid 31 0,739 Valid 32 0,721 Valid 33 0,654 Valid
Sumber : Data Primer (2015)
Pada Tabel 20 dapat dilihat bahwa semua nilai , kecuali hasil dari butir pertanyaan ke 10 dan 11 dari indikator Social Awarness, variabel Kecerdasan Emosi. Kesimpulannya, butir-butir pertanyaan pada variabel Kecerdasan Emosi (X1) valid, kecuali pada butir pertanyaan ke 10 dan butir pertanyaan ke 11.
Tabel 27. Hasil Uji Validitas Kompetensi Komunikasi (X2) Dimensi Item Nilai pada
Keputusan : Apabila maka dikatakan valid Motivasi Komunikasi 1 0,557 0,220 Valid 2 0,556 Valid 3 0,637 Valid 4 0,606 Valid 5 0537 Valid 6 0,470 Valid 7 0,579 Valid Pengetahuan Komunikasi 8 0,425 0,220 Valid 9 0,464 Valid 10 0,382 Valid 11 0,676 Valid 12 0,550 Valid 13 0,570 Valid
14 0,722 Valid 15 0,689 Valid Ketrampilan Komunikasi 16 0,518 0,220 Valid 17 0,389 Valid 18 0,548 Valid 19 0,607 Valid 20 0,335 Valid
Sumber : Data Primer (2015)
Pada Tabel 22. menunjukkan bahwa dari 20 pernyataan untuk variabel Kompetensi Komunikasi (X2), yang disebarkan kepada responden tidak terdapat pernyataan soal yang tidak valid.
Tabel 28. Hasil Uji Validitas Person Organization Fit (X3) Dimensi Item Nilai pada
Keputusan : Apabila maka dikatakan valid Kesesuaian nilai (value congruence) 1 0,598 0,220 Valid 2 0,630 Valid 3 0, Valid Kesesuaian tujuan (goal congruence) 4 0,722 0,220 Valid 5 0,275 Valid 6 0,407 Valid Pemenuhan kebutuhan karyawan (employee need fulfillment) 7 0,698 0,220 Valid 8 0,610 Valid 9 0,616 Valid 10 0,141 Tidak valid Kesesuaian karakteristik kultur-kepribadian (culture personality congruence) 11 0,671 0,220 Valid 12 0,679 Valid 13 0,752 Valid
Sumber : Data Primer (2015)
Pada Tabel 23 dapat dilihat bahwa semua nilai , kecuali hasil dari butir pertanyaan 10 , dimana . Kesimpulannya, butir-butir pertanyaan pada variabel Person Organization Fit (X3) valid, kecuali pada butir pertanyaan ke 10.
Tabel 29. Hasil Uji Validitas Organization Citizenship Behavior (Y) Dimensi Item Nilai pada
Keputusan : Apabila maka dikatakan valid Altruism 1 0,646 0,220 Valid 2 0,654 Valid 3 0,669 Valid 4 0,772 Valid Courtesy 5 0,728 0,220 Valid 6 0,714 Valid 7 0,719 Valid 8 0,743 Valid Civic Virtue 9 0,802 0,220 Valid 10 0,262 Valid 11 0,606 Valid 12 0,552 Valid 13 0,810 Valid 14 0,832 Valid Conscientiousness 15 0,838 0,220 Valid 16 0,699 Valid 17 0,686 Valid 18 0,689 Valid 19 0,809 Valid Sportsmanship 20 0,721 0,220 Valid 21 0,767 Valid 22 0,795 Valid
Pada Tabel 24 menunjukkan bahwa dari 22 pernyataan untuk variabel Organization Citizenship Behavior (Y),yang disebarkan kepada responden seluruhnya adalah valid.
2. Hasil Uji Reliabilitas
Suatu instrumen kuisioner dikatakan reliabel bila memberikan hasil score yang konsisten pada setiap pengukuran. Metode pengujian reliabilitas instrumen menggunakan rumus korelasi Alpha Cronbach, dengan ketentuan nilai Alpha Cronbach > 0,7. Hasil pengujian instrumen dirangkum dalam Tabel 25 berikut ini
Tabel 30. Reliability Analysis-Scale (Alpha)
Variabel Cronbach Alpha Alpha Ktiris Keterangan Kecerdasan Emosi (X1) 0,940 0,70 Reliabel Kompetensi Komunikasi
(X2) 0,749 0,70 Reliabel
Person Organizational Fit
(X3) 0,750 0,70 Reliabel
Organization Citizenship
Behavior (Y) 0,950 0,70
Reliabel Sumber : Data Primer (2015)
Berdasarkan tabel 24 dapat dilihat bahwa variabel (X1, X2 X3, dan Y) masing-masing memiliki nilai Alpha Cronbach = (0,954; 0,893;
0,793; dan 0,952) dimana nilai tersebut lebih besar dari 0,70. Jadi kesimpulannya seluruh variabel adalah reliabel.
D. Hasil Uji Hipotesis
Hasil uji hipotesis menggunakan teknik analisis regresi linier sederhana dan regresi linier berganda, sebelumnya dilakukan uji asumsi klasik.
E. Hasil Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik setelah disederhanakan ada 4, yaitu multikolinieritas, autokorelasi, heteroskedastisitas dan normalitas.
1. Multikolinieritas menggunakan VIF dan Tolerance.
2. Heteroskedastisitas menggunakan Scatter Plot ZPRED dan ZRESID. 3. Normalitas menggunakan Normal PP-Plot.
Berikut adalah hasil untuk uji asumsi klasik dengan menggunakan SPSS 22 :
1. Uji Multikolinieritas
Hasil uji multikolinieritas dapat dilihat pada tabel Coefficientsa dua
Tabel 31. Hasil Uji Multikolinieritas Model Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 (Constant) Kecerdasan Emosi ,502 1,991 Komitmen Komunikasi ,528 1,895 PO Fit ,789 1,267
Sumber: Data Primer (2015)
Nilai VIF berturut-turut untuk variabel Kecerdasan Emosi, Komitmen Komunikasi dan PO Fit adalah (1,991; 1,895; 1,267), sedangkan Tolerance-nya (0,502; 0,528; 0,789). Karena nilai VIF dari kedua variabel tidak ada yang lebih besar dari 10, maka dapat dikatakan tidak terjadi multikolinieritas pada ketiga variabel bebas tersebut.
2.Uji Heteroskedastisitas
Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan membuat Scatterplot (alur sebaran) antara residual dan nilai prediksi dari variabel
terikat yang telah distandarisasi. Hasil uji heteroskedastisitas dapat dilihat pada gambar Scatterplot, seperti pada gambar di bawah ini :
Gambar 10. Hasil Uji Heteroskedastisitas
Dari gambar di atas terlihat bahwa sebaran titik tidak membentuk suatu pola/alur tertentu, sehingga dapat disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas atau dengan kata lain terjadi homoskedastisitas.
Sctterplot
Asumsi klasik tentang heteroskedastisitas dalam model ini terpenuhi, yaitu terbebas dari heteroskedastisitas.
3. Uji Normalitas
Hasil uji normalitas dapat dilihat dari gambar Normal P-P Plot di bawah ini. Asumsi normalitas yang dimaksud dalam asumsi klasik pendekatan OLS adalah (data) residual yang dibentuk model regresi linier terdistribusi normal, bukan variabel bebas ataupun variabel terikatnya. Kriteria sebuah (data) residual terdistribusi normal atau tidak dengan pendekatan Normal P-P Plot dapat dilakukan dengan melihat sebaran titik-titik yang ada pada gambar. Apabila sebaran titik-titik tersebut mendekati atau rapat pada garis lurus (diagonal) maka dikatakan bahwa (data) residual terdistribusi normal, namun apabila sebaran titik-titik tersebut menjauhi garis maka tidak terdistribusi normal.
Sebaran titik-titik dari gambar Normal P-P Plot di atas relatif mendekati garis lurus, sehingga dapat disimpulkan bahwa (data) residual terdistribusi normal. Hasil ini sejalan dengan asumsi klasik dari regresi linier dengan pendekatan OLS.
Gambar 11. Hasil Uji Normalitas Sumber: Data Primer (2015)
F. Hasil Pengujian Regresi
1. Hasil Uji Regresi Linier Sederhana a. Uji Koefisien Regresi (Uji t)
Uji t dalam regresi linier berganda dimaksudkan untuk menguji apakah parameter (koefisien regresi dan konstanta) yang diduga untuk mengestimasi persamaan/model regres linier berganda sudah merupakan parameter yang tepat atau belum. Maksud tepat disini adalah parameter tersebut mampu menjelaskan perilaku variabel bebas dalam mempengaruhi variabel terikatnya.
Hasil pengujian dapat dilihat pada tabel Coefficientsa seperti pada
gambar 10 .
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual Dependent Variable: Organizational Citizenship Behavior
Tabel 32. Hasil Uji Koefisien Regresi
Sumber: Data Primer (2015) 1) Untuk
a) Menentukan Hipotesis
: Variabel independen ( ) tidak berpengaruh positif terhadap variabel dependen ( ).
: Variabel independen ( ) berpengaruh positif terhadap variabel dependen ( ). b) Tingkat signifikansi
c) Statistik Uji dengan Univariate t-Test
Dengan (banyaknya responden)
Pada tabel coefficients dari hasil output SPSS 22 di atas, didapatkan
d) Wilayah kritik
ditolak jika . Dari Tabel Distribusi t
dapat dilihat bahwa nilai , sehingga
e) Kesimpulan
Karena nilai , maka
diterima sehingga variabel , yaitu kecerdasan emosi berpengaruh positif terhadap variabel OCB.
2) Untuk
a) Menentukan Hipotesis
: Variabel independen ( ) tidak berpengaruh positif terhadap variabel dependen ( ).
: Variabel independen ( ) berpengaruh positif terhadap variabel dependen ( ).
b) Tingkat signifikansi
Dengan (banyaknya responden)
Pada tabel coefficients dari hasil output SPSS 22 di atas, didapatkan
d) Wilayah kritik
ditolak jika . Dari Tabel Distribusi t
dapat dilihat bahwa nilai , sehingga
e) Kesimpulan
Karena nilai , maka
diterima sehingga variabel , yaitu komitmen komunikasi berpengaruh positif terhadap variabel OCB.
3) Untuk
a) Menentukan Hipotesis
: Variabel independen ( ) tidak berpengaruh positif terhadap variabel dependen ( ).
: Variabel independen ( ) berpengaruh positif terhadap variabel dependen ( ). b) Tingkat signifikansi
Dengan (banyaknya responden)
Pada tabel coefficients dari hasil output SPSS 22 di atas, didapatkan
d) Wilayah kritik
ditolak jika . Dari Tabel Distribusi t
dapat dilihat bahwa nilai , sehingga
e) Kesimpulan
Karena nilai , maka H1
diterima sehingga variabel , yaitu PO Fit berpengaruh positif terhadap variabel OCB
2.Model Regresi Linier Berganda
Untuk menguji data yang ada, terlebih dahulu merumuskan definisi variabel-variabel sebagai berikut :
a. Variabel Terikat (Variabel Respon)
b. Variabel Bebas (Variabel Prediktor) : Kecerdasan Emosi : Kompetensi Komunikasi
: PO Fit
Model regresi berdasarkan variabel-variabel tersebut dapat ditulis sebagai berikut :
Uji F yang juga dikenal dengan Uji Anova, yaitu uji untuk melihat bagaimanakah pengaruh semua variabel bebasnya secara bersama-sama terhadap variabel terikatnya atau untuk menguji apakah model regresi yang kita buat baik/signifikan atau tidak baik/non signifikan. Hal tersebut dapat terlihat pada Tabel 28.
Tabel 33. Hasil Uji Anova
Dengan
, maka nilai
Uji Statistik
: Variabel independen tidak berpengaruh positif terhadap variabel dependen ( ).
: Minimal ada satu variabel independen berpengaruh positif terhadap variabel dependen ( ).
2) Tingkat signifikansi 3) Statistik Uji dengan Uji F
Pada tabel ANOVA dari hasil output SPSS 22 di atas, didapatkan dan
4) Wilayah kritik
H1diterimajika dan Dari Tabel
Distribusi t dapat dilihat bahwa nilai , sehingga dan
5) Kesimpulan
Karena nilai dan
, maka H1 diterima sehingga paling sedikit
ada satu variabel independen ( ) berpengaruh positif terhadap variabel dependen ( ) OCB
G. Pembahasan
Berdasarkan hasil uji analisis regresi linier sederhana dan regresi linier berganda, dapat diketahui bahwa :
1.Pengarug kecerdasan emosi terhadap OCB.
Kecerdasan emosi yang diungkapkan oleh Goleman (2009), menjelaskan bahwa kecerdasan emosi adalah :
a. Kemampuan seseorang untuk mengenali emosi pribadinya sehingga tahu kelebihan dan kekurangnnya;
b. Kemampuan sesorang untuk mengelola emosi tersebut;
c. Kemampuan seseorang untuk memotivasi dan memberikan dorongan untuk maju kepada diri sendiri;
d. Kemampuan seseorang untuk mengenal emosi dan kepribadian orang lain;
e. Kemampuan seseorang untuk membina hubungan dengan pihak lain secara baik.
Dari ungkapan Goleman tersebut, maka dapat dikatakan bahwa orang yang kecerdasan emosinya tinggi akan lebih mudah untuk mengenali emosi sendiri dan emosi orang lain serta membina hubungan yang baik, dengan demikian akan lebih mudah untuk membantu pekerjaan orang lain di luar pekerjaannya
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh yang siginifikan dan positif antara variabel Kecerdasan Emosi terhadap variabel organization citizenship behavior, artinya semakin tinggi tingkat kecerdasan emosi akan semakin pula berkontribusi terhadap OCB, begitu juga sebaliknya, semakin rendah tingkat kecerdasan emosi maka akan semakin rendah dalam berkontribusi terhadap pembentukan OCB. Hasil
tersebut dapat sejalan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Sumiyarsih (2012).
Dari hasil Uji T dapat diketahui bahwa ada pengaruh Kecerdasan Emosi terhadap organization citizenship behavior yaitu: nilai , maka ditolak sehingga variabel , yaitu kecerdasan emosi berpengaruh positif terhadap variabel , yaitu
Organization Citizenship Behavior
2. Pengaruh kompetensi komunikasi terhadap OCB.
Kompetensi komunikasi dalam organisasi melibatkan pengetahuan atas organisasi dan komunikasi, kemampuan untuk menjalankan perilaku terampil, dan motivasi seseorang untuk berkinerja secara kompeten.
Dalam konteks kontribusinya terhadap organisasi tentunya semakin tinggi kompetensi komunikasi akan semakin memberikan kontribusi yang positif terhadap pencapaian tujuan organisasi,
Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan dan positif antara variabel Kompetensi Komunikasi terhadap variabel organization citizenship behavior, artinya Kompetensi komunikasi semakin tinggi maka akan membentuk OCB juga semakin tinggi, begitu juga sebaliknya tingkat kompetensi komunikasi yang rendah akan berkontribusi rendah terhadap terbentuknya OCB.
Dari hasil uji T diketahui ada pengaruh Kompetensi Komunikasi terhadap organization citizenship behavior (OCB) yaitu: nilai
, maka ditolak sehingga variabel , yaitu kompetensi komunikasi berpengaruh positif terhadap variabel , yaitu Oranization Citizenship Behavior.
3. Pengaruh PO-Fit terhadap OCB.
Kristof (1996) dalam Darmi (2010:43) menjelaskan bahwa Person organization Fit secara umum didefinisikan sebagai kesesuaian antara nilai-nilai organisasi dengan nilai-nilai individu. Lebih rinci dijelaskan oleh Donald dan Sanjay (2007:43) bahwa person organization fit adalah adanya kesesuaian/kecocokan antara individu dengan organisasi, setidaknya ada kesungguhan untuk memenuhi kebutuhan pihak lain, atau mereka memiliki karakteristik dasar yang serupa. Dalam melakukan perekrutan karyawan, perusahaan sering menggunakan pendekatan kesesuaian antara individu dengan pekerjaan yang ditawarkan (person-job fit). Beberapa peneliti berpendapat bahwa individu dan organisasi saling tertarik manakala terdapat kesesuaian antara satu dengan yang lain, hal ini sangat berpengaruh terhadap organisasi dalam merekrut karyawan dan juga sikap karyawan untuk memilih pekerjaan tersebut.
Dari uraian tersebut, semestinya semakin erat kesesuaian antara individu terhadap organisasi akan semakin memberikan pengaruh positif terhadap jalannya organisasi.
Dalam konteks penelitian ini memberikan hasil terdapat pengaruh yang signifikan dan positif antara variabel person organization fit terhadap
variabel organization citizenship behavior, Artinya semakin tinggi person organization fit maka akan semakin besar berkontribusi untuk membentuk OCB, begitu juga sebaliknya semakin rendah tingkat person organization fit maka akan semakin kecil tingkat kontribusinya dalam pembentukan OCB.
Dari hasil Uji T diketahui ada pengaruh variabel Person Organization Fit terhadap Organization Citizenship Behavior yaitu :
nilai , maka ditolak sehingga variabel
, yaitu Person Organization Fit berpengaruh positif terhadap variabel , yaitu Organization Citizenship Behavior
4. Pengaruh kecerdasan emosi, kompetensi komunikasi, Po-Fit terhadap OCB.
Dalam uraian di atas telah dibuktikan secara empirik bahwa kecerdasan emosi, kompetensi komunikasi maupun person organization fit ketiganya memiliki pengaruh yang signifikan dan positif terhadap pembentukan organization citizenship behavior.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa ketiganya akan memberikan pengaruh, terhadap pembentukan organization citizenship behavior.
Hasil penelitian ini telah menjelaskan secara empiric bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dan positif antara variabel Kecerdasan Emosi, variabel Kompetensi Komunikasi dan variabel person organization fit terhadap variabel organization citizenship behavior,
minimal salah satu atau lebih akan mempengaruhi tingkat pembentukan OCB.
Ada pengaruh Kecerdasan Emosi, Kompetensi Komunikasi dan Person Organization Fit terhadap Organization Citizenship Behavior , dari hipotesis tersebut menghasilkan jawaban
Dari hasil perhitungan persamaan garis regresi yang positif mengindikasikan bahwa terdapat hubungan yang positif antara variabel kecerdasan emosi (X1), Komitmen Komunikasi (X2), dan PO Fit (X3) terhadap variabel OCB (Y).
Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda dengan menggunakan SPSS 22 versi 22, diperoleh persamaan regresi linier berganda sebagai berikut:
Persamaan garis regresi yang positif ini mengindikasikan bahwa terdapat hubungan yang positif antara variabel kecerdasan emosi (X1), Komitmen Komunikasi (X2), dan PO Fit (X3) terhadap variabel OCB (Y).