• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSPEK EKONOMI PEMANFAATAN SUMBERDAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROSPEK EKONOMI PEMANFAATAN SUMBERDAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

PROSPEK EKONOMI PEMANFAATAN SUMBERDAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN

Oleh : Abdullah Munzir*)

*) Dekan Fakultas Perikanan Universitas Bung Hatta &

Peneliti Pusat Kajian Mangrove dan Kawasan Pesisir – Universitas Bung Hatta Padang

ABSTRAK

Arti penting dan nilai ekonomi sumberdaya kelautan dan perikanan bagi pembangunan masyarakat Indonesia dapat dianalisa melalui dua pendekatan. Pertama, pendekatan sosial ekonomi. Dari aspek ini patut dikedepankan bahwa sekitar 60% atau 140 juta penduduk Indonesia berdomisili di wilayah pesisir dengan rataan pertumbuhan 2% per tahun. Kementrian Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) mengungkapkan bahwa sektor kelautan menyumbang 20,06% kepada Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sementara industri kelautan menyerap secara langsung lebih dari 16 juta tenaga kerja (Dahuri, 2001). Kedua, pendekatan ekosistem. Dari sisi ini terlihat bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau 17.508, panjang garis pantai 81.000 km yakni nomor 2 terpanjang di dunia sesudah Kanada, dengan keragaman hayati sumberdaya perikanan laut yang besar. Peneliti Froese, Luna, dan Capuli (1996) mendaftar sebanyak 2.151 jenis ikan laut dan payau yang terdapat di wilayah Indonesia.

Secara geodemografis, wilayah pesisir Indonesia dihuni oleh sebaran komunitas dengan struktur sosial ekonomi yang dicoraki oleh pola pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan tempatan. Dalam konteks pembangunan, satuan-satuan komunitas ini kebanyakan hidup miskin, terbelakang, dan tertindas. Tingkat pendapatan, keterbelakangan, dan ketertindasan mereka lebih rendah dibandingkan kelompok marjinal serupa di daerah perkotaan yang mungkin masih bisa menikmati fasilitas publik. Hal ini ironi dengan kekayaan sumberdaya alam yang ada di hadapan di hadapan mereka.

SUMBERDAYA KELAUTAN TERBARUI DAN SUMBERDAYA PERIKANAN

Sumberdaya kelautan terbarui (renewable resources) meliputi perikanan tangkap dan budidaya perairan terhadap biota laut seperti ikan, udang, kerang mutiara, kepiting, rumput laut dan biota lainnya. Ke dalam jenis sumberdaya ini juga termasuk hutan bakau, padang lamun, dan terumbu karang.

Potensi perikanan tangkap diperkirakan mencapai 6,26 juta ton per tahun dengan

jumlah tangkapan yang aman bagi

kelestarian sumberdaya sebesar 5,007

juta ton atau 80% dari Maximum

Sustainable Yield (MSY). Hingga tahun 2001, daya tangkap baru mencapai sekitar 3,5 juta ton sehingga masih dapat ditingkatkan sebesar 1,5 ton per tahun. Nilai ekonomi dari perikanan tangkap di perairan lautan ini diperkirakan sebesar 15,1 miliyar USD.

Perhitungan terhadap produksi yang dapat dicapai dari luas lahan berbagai usaha budidaya laut, budidaya payau, budidaya air tawar, produksi ikan dari perairan

(2)

umum, mencakup budidaya ikan seperti kakap, kerapu, gobia, budidaya udang, molluska seperti kerang-kerangan, kerang mutiara, tripang, dan jenis biota bernilai ekonomis tinggi lainnya, menunjukkan bahwa nilai produksi kegiatan perikanan ini bersama produksi perikanan laut mencapai 32 milyar USD. Di samping itu potensi industri bioteknologi mencakup

industri bahan baku pangan, industri bahan pakan alami benih ikan dan udang, industri kosmetika, dsb. sebagaimana

dikemukakan oleh kementrian DKP

ditaksir sebesar 40 milyar USD. Potensi

sumberdaya perikanan dan industri

bioteknologi kelautan ini secara

keseluruhan bernilai 72 milyar USD (Tabel 1).

Tabel 1. Perkiraan Umum Nilai Ekonomi Potensi Sumberdaya Perikanan Indonesia

Komoditi Potensi Lestari (ton) Persen Harga*) (US$/ton ) Perkiraan Nilai (US$)

Perbandingan dengan Sasaran Produk Tahun 1999

Volume

(ton) Harga*) Nilai (US$)

Perikanan Laut 1. Tuna/Cakalang 780.040 9,91 8.000 6.240.320.000 295.700 8.000 2.365.600.000 2. Udang 59.272 0,75 14.125 837.217.000 70.000 14.125 988.750.000 3. Demersal 1.429.080 18,2 4.500 6.430.860.000 1.200.000 4.500 5.404.050.000 4. Pelagis Kecil 2.602.800 33,1 600 1.561.680.000 1.801.288 600 1.080.722.800 5. Lainnya 77.632 0,99 450 34.934.400 311.000 450 139.950.000 Jumlah 4.948.8241) 62,9 3.052 15.105.011.400 3.678.888 2.191 9.979.122.800 Marineculture 1. Rumput Laut 482.4002) 6,13 450 217.080.000 705.600 450 317.520.000 2. Ikan dan

Kerang-kerangan 46.000 3) 0,58 5.000 230.000.000 6.840 5.000 34.200.000 3. Mutiara 3 4) 0 120.000.000 1 40.000.000 40.000.000 Jumlah 528.403 6,71 1.073 567.080.000 712.441 1.417 391.720.000 Perairan Umum Jumlah 356.0205) 4,52 3.000 1.068.060.000 408.200 3.000 1.224.600.000 Budidaya Tambak Jumlah 1.000.000 6) 12,7 10.000 10.000.000.000 527.610 10.000 5.276.100.000

Budidaya Air Tawar

Jumlah 1.039.100 5) 13,2 5.000 5.195.500.000 394.672 5.000 1.973.360.000 Total 7.872.347 100 4.057 31.935.651.400 5.313.611 3.316 17.620.302.800 Potensi Bioteknologi Kelautan *) dta - - 40.000.000.000 - - - Total + Bioteknologi - - - 71.935.651.400 - - - Sumber data : 1) KOMNAS KAJIKANLUT (1998) 2) Ditjen Perikanan (1992)

3) dan 6) Ditjen Perikanan yang diolah oleh PKSPL (1999)

Keterangan :

*) : Berdasarkan harga satuan pada PROTEKAN 2003

**) : Nilai tambahnya diasumsikan bernilai sama dengan hasil yang diperoleh USA pada tahun 1994 dta : data tidak tersedia

SUMBERDAYA KELAUTAN TAK TERBARUI

Sumberdaya kelautan non hayati dan bersifat tak terbarui (non-renewable resources) yang utama adalah minyak dan gas bumi. Data Ditjen Migas tahun 1996 memperlihatkan kemampuan Indonesia memproduksi sekitar 1,6 juta barel minyak

dan 8,5 kaki kubik gas bumi per hari. Sebesar 35% produksi minyak dan 27% gas bumi berasal dari penambangan lepas pantai. Total nilai sektor migas yang dihasilkan dari wilayah pesisir dan lautan tahun 1995 mencapai Rp. 5,218 triliun. Selain migas, masih terdapat bauksit, timah, biji besi, fosfor, mangaan dan mineral lainnya.

(3)

SUMBERDAYA ENERGI DAN JASA LINGKUNGAN

Selain sumberdaya di atas, wilayah pesisir dan lautan Indonesia memiliki potensi

pengembangan energi kinetik dari

gelombang, pasang surut (pasut), dan arus. Pemanfaatan energi kinetik dari gelombang dewasa ini dalam penelitian

kerjasama antara BPPT dengan

Norwegia. Beberapa negara di dunia seperti Perancis, Rusia, Cina, Inggeris, Kanada, Korea Selatan, dan Australia adalah merupakan negara yang sudah memanfaatkan energi kinetik dari pasut. Di Indonesia, diidentifikasi dua lokasi yang sangat potensial untuk pemanfaatan energi pasut ini yaitu di wilayah Bagan Siapi-api dan Merauke. Kisaran pasut di kedua wilayah tersebut mencapai 6 meter. Meskipun secara ekonomis diketahui belum menguntungkan, Indonesia memiliki banyak wilayah estuaria yang luas-luas.

Wilayah estuaria merupakan lokasi

potensial untuk mendapatkan energi yang dikonversi dari perbedaan salinitas massa air dengan menggunakan prinsip-prinsip termodinamika.

Jasa lingkungan wilayah pesisir dan lautan dalam konteks pariwisata bahari dan jalur transportasi sangat penting arti dan nilai ekonominya. Sebagai negara tropika, Indonesia memiliki kawasan terumbu karang dan bakau yang eksotis dan potensial untuk pariwisata. Terumbu karang Indonesia memiliki keragaman ikan hias yang besar yaitu sekitar 263 jenis.

Sementara itu Indonesia merupakan

tempat komunitas bakau terluas di dunia, yakni 4,25 juta ha atau 27% dari 15,9 juta ha luas hutan bakau dunia.

SUMBERDAYA PERIKANAN SUMATERA BARAT

Sejauh ini pemanfaatan sumberdaya kelautan yang menonjol di Sumatera Barat adalah kegiatan transportasi, pariwisata,

dan terbesar adalah eksplotasi

sumberdaya perikanan laut. Menurut Statistik Perikanan Provinsi Sumatera

Barat Tahun 2000, total produksi ikan di Sumatera Barat pada tahun 2000 adalah 123.570,80 ton. Produksi ini berasal dari tiga kegiatan utama perikanan yaitu :

- Perikanan tangkap di laut dengan produksi sebesar 95.580,30 ton

- Perikanan tangkap di perairan

umum (danau, rawa, sungai,

telaga) sebesar 7.175,50 ton

- Perikanan budidaya dengan besar produksi 20.815,00 ton.

Dari besar produksi di atas terlihat bahwa perikanan tangkap di laut memberikan kontribusi terbesar yaitu 77% terhadap total produksi perikanan Sumbar, diikuti oleh perikanan tangkap di perairan umum sebesar 6% dan perikanan budidaya

sebesar 17%. Untuk pemanfaatan

ekonomi sumberdaya kelautan dan

perikanan di Sumatera Barat ke depan diperlukan pengkajian dan taksiran yang seksama terhadap potensi sumberdaya perikanan yang bisa dimanfaatkan secara lestari.

KEMISKINAN DAN MASALAH

PEMBANGUNAN DI WILAYAH PESISIR

Secara defenitif, pengertian “masyarakat pesisir“ dapat dipahami sebagai kelompok orang yang tinggal di wilayah pesisir pulau-pulau besar dan kecil. Tipikal yang menonjol dari masyarakat pesisir adalah

ketergantungan hidup terhadap

sumberdaya pesisir dan kelautan terutama

sumberdaya perikanan, tingkat

kesejahteraan dan pendidikan rendah, serta ketiadaan akses pada faktor

produksi dan kesempatan untuk

berkembang. Kemampuan SDM

masyarakat pesisir yang rendah

menyebabkan ketidakmampuan dalam mengelola dan memanfaatkan kekayaan

SDA pesisir dan lautan untuk

meningkatkan taraf hidup mereka.

Penilaian keadaan demikian, maupun

penilaian dengan menggunakan

pendekatan struktural, kultural, dan natural, memperlihatkan kenyataan yang sama. Yaitu masyarakat pesisir khususnya

(4)

para nelayan terperangkap dalam kemiskinan.

Di sisi lain, pembangunan di wilayah pesisir berhadapan dengan beberapa masalah antara lain masalah eksploitasi berlebihan di kawasan tertentu seperti Jawa dan Bali sementara di kawasan Indonesia Timur tingkat pemanfaatan masih di bawah optimum. Pembangunan di wilayah pesisir juga dihadapkan dengan

masalah-masalah pencemaran dan

degradasi kawasan akibat abrasi pantai serta konflik kepentingan penggunaan ruang. Masalah ini berkaitan erat dengan ketiadaan aturan yang jelas tentang penataan ruang dan alokasi sumberdaya di kawasan pesisir dan lautan.

PILIHAN STRATEGI DAN ORIENTASI PEMBANGUNAN

Meskipun sejak Repelita I

diimplementasikan tahun 1968 hingga dicapainya swasembada pangan tahun 1984 pertanian menjadi basis kebijakan pembangunan ekonomi nasional, namun strategi dan orientasi pembangunan sangat kurang menyentuh aspek ekonomi pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan. Orientasi “ke laut dan perikanan“ semakin jauh ketika sektor pertanian tertinggal di belakang kebijakan the ‘great leap forward’ strategy. Yakni strategi lompatan besar yang dilakukan pemerintah untuk membangun industri berteknologi dan berbiaya tinggi seperti industri pesawat terbang dalam obsesi

pembangunan menjadikan Indonesia

sebagai suatu negara industri modern. Oleh karena itu tidak heran bila masyarakat pesisir dan nelayan hingga saat ini menjadi segmen masyarakat yang

terabaikan dan cenderung menjadi

kelompok marjinal dalam pranata sosial ekonomi masyarakat Indonesia. Bahkan menurut Semedi (2001) dalam tulisannya Close to the Stone Far from the Throne. The Story of a Javanese Community, profesi nelayan berada di luar discourse politik Jawa yang lebih berorientasi agraris. Hal ini tampak nyata dalam kebijakan ekonomi pembangunan era Presiden Suharto yang dijuluki media

massa luar negeri beberapa tahun yang lalu sebagai The Last King of Java.

Dilihat dari aspek comparative dan competitive advantage, pilihan strategi

kebijakan pembangunan ekonomi

berbasis sumberdaya, resource-based economic policy, yang berorientasi kepada pendayagunaan sumberdaya kelautan dan perikanan mempunyai prospek sangat strategis bagi pembangunan Indonesia ke depan. Ini dapat menjadi salah satu upaya

pencerahan pembangunan ekonomi

nasional yang saat ini masih berkabut krisis. Masalahnya terletak pada political

will dari pemerintah. Sebagaimana

pemerintahan pasca krisis 1965

memutuskan pilihan kepada strategi kebijakan pembangunan sektor pertanian

terutama dengan mencanangkan

pencapaian swasembada beras. Semua kekuatan sosial ekonomi dan politik kala itu dimobilisasi untuk mendukung pilihan kebijakan. Dari dimensi politik rezim yang berkuasa, pilihan tersebut amat strategis karena memperkuat legitimasi kekuasaan dari masyarakat. Namun dari dimensi

ekonomi khususnya dalam etape

Pembangunan Jangka Panjang II saat ini, pilihan kebijakan demikian amat diskusif. Karena nilai tambah yang diberikan sektor kelautan dan perikanan bisa jauh lebih baik dibanding sektor pertanian. Lagipula, secara de facto, legal authority Indonesia dalam penguasaan wilayah perairannya di forum internasional akan semakin kuat bila pemerintah memobilisasi kekuatan sosial

politik untuk mengamankan dan

mendayagunakan sumberdaya kelautan

dan perikanan untuk pembangunan

(5)

DAFTAR PUSTAKA

DAHURI, Rokhmin. 2001. Kebijakan

Nasional Pengelolaan Wilayah Pesisir. Makalah pada Pelatihan Perencanaan dan Pengelolaan Wilayah Pesisir Secara Terpadu (ICZPM) 8 Oktober 2001 di Jakarta. Kerjasama DKP dan PKSPL IPB. 13 halaman.

FROESE, Rainer; Susan M. LUNA dan Emily C. CAPULI. 1996. Dalam

PAULY, D. dan P.

MARTOSUBROTO. Baseline

Studies of Biodiversity: The Fish Resources of Western Indonesia. Indonesian Directorate General of Fisheries, German Agency for

Technical Cooperation, and

International Center for Living Aquatic Resources Management. 313 halaman.

DINAS PERIKANAN PEMDAPROP

SUMBAR. 2001. Buku Tahunan Statistik Perikanan Tingkat

Gambar

Tabel 1.  Perkiraan Umum Nilai Ekonomi Potensi Sumberdaya Perikanan Indonesia

Referensi

Dokumen terkait