A. Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu target dalam upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) dan tujuan pembangunan kesehatan, peningkatan pelayanan kesehatan ibu diprioritaskan yaitu dengan menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI). Data World Health Organisation (WHO) menunjukkan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) hingga saat ini masih kurang dari 1% per tahun, sekitar 98-99% kematian maternal terjadi di negara berkembang, sedangkan di negara maju hanya sekitar 1-2% (Manuaba
et al, 2007).
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia sebesar 359/100.000 kelahiran hidup, sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB) 32/1000 kelahiran hidup (Kemenkes RI, 2014). Angka Kematian Ibu di provinsi Riau pada tahun 2012 mencapai 24 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi 32 per 1.000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Provinsi Riau, 2014). Sedangkan AKI di kabupaten Kuantan Singingi pada tahun 2015 sebanyak 12 orang per 100.000 kelahiran hidup dan AKB 104 per 1000 kelahiran hidup. AKI di Unit Pelaksana Teknik Dinas (UPTD) Kesehatan Kari pada tahun 2015 sebanyak 3 orang, sedangkan AKB untuk di wilayah UPTD Kesehatan Kari tidak ada (Profil Kesehatan Kabupaten Kuantan Singingi, 2015). Penyebab kematian ibu di Indonesia terbanyak disebabkan oleh komplikasi obstetrik (Trias) (90%)
yaitu perdarahan (30,77%), preeklampsia dan eklamsia (25,18%), lain-lain (11,55%) sedangkan penyebab kematian bayi baru lahir 0-6 hari di Indonesia adalah gangguan nafas 36,9%, Prematuritas 32,4%, Sepsis 12%, Hipotermi 6,8%, kelainan darah/ikterus 6,6% (Depkes RI, 2009).
Upaya Pemerintah untuk mempercepat penurunan kematian ibu dan bayi melalui peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku ibu dan keluarga. Dengan peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku ini diharapkan kesadaran terhadap pentingnya kesehatan selama kehamilan menjadi meningkat. Program yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan untuk mendukung langkah tersebut adalah Kelas Ibu Hamil (Kemenkes RI, 2011). Kegiatan kelas ibu hamil menggunakan metode pembelajaran salah satunya dengan pembahasan materi Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Penggunaan Buku KIA diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan KIA serta gizi sehingga salah satu tujuan pembangunan nasional yaitu penurunan AKI dan AKB dapat tercapai. (Kemenkes RI, 2011).
Kelas ibu hamil merupakan sarana untuk belajar tentang kesehatan bagi ibu hamil, dalam bentuk tatap muka dalam kelompok yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu mengenai kehamilan, perawatan kehamilan, persalianan, perawatan nifas, perawatan bayi baru lahir, mitos, penyakit menular dan akte kelahiran. Kelas Ibu Hamil adalah kelompok belajar ibu-ibu hamil dengan umur kehamilan antara 20 minggu sampai dengan 32 minggu (menjelang persalinan) dengan jumlah peserta maksimal 10 orang (Kemenkes RI, 2011).
Kelas ibu hamil menggunakan metode partisipatif interaktif yang disertai dengan praktik seperti ceramah, tanya jawab, peragaan serta curah pendapat diharapkan mampu mengoptimalkan peningkatan pengetahuan dan sikap ibu hamil untuk mempersiapkan calon orangtua dalam menjalani masa kehamilan, persalinan, perawatan bayi baru lahir dan pola asuh sebagai orang tua (Fletcher et al., 2004; Croydon, 2006; Kemenkes RI, 2011). Program kelas ibu hamil ini sangatlah bermanfaat, sejalan dengan hasil penelitian Yanti (2013) yang mengevaluasi program kelas ibu hamil serta penelitian Purwarini (2012) juga menunjukkan bahwa pemberian intervensi berupa kelas ibu hamil mampu meningkatkan sikap persalinan dan kehamilan, pengetahuan persalinan dan kehamilan pada ibu hamil. Begitu pula penelitian Hastuti et al. (2011) selain efektif meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan dan juga meningkatkan empat kali kunjungan Antenatal Care (ANC). Selain itu kelas ibu hamil juga membantu ibu memilih keputusan terhadap kesehatannya. Banyaknya manfaat program kelas ibu hamil sangatlah penting untuk dilakukan oleh ibu hamil secara berkesinambungan (Kemenkes RI, 2011).
Pelaksanaan program kelas ibu hamil dilakukan minimal sebulan sekali, hal ini bertujuan agar kesehatan ibu selama hamil, bersalin, nifas, termasuk kesehatan bayi yang baru dilahirkannya dan kebutuhan akan KB pasca persalinan dapat terdeteksi secara dini sehingga dapat mencegah terjadinya tanda bahaya pada kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir dan pada akhirnya berdampak pada penurunan AKI dan AKB (Kemenkes RI, 2011).
Kabupaten Kuantan Singingi memiliki 25 Unit Pelaksana Teknis Terpadu (UPTD) Kesehatan yang terdiri dari 229 desa, dari 229 desa hanya 108 desa yang melaksanakan program kelas ibu hamil. Jumlah ibu hamil di Kabupaten Kuantan Singingi pada tahun 2015 adalah 6.963 orang, dari 6.963 ibu hamil, yang melakukan kunjungan kelas ibu hamil hanya 4.212 orang (60,5%). UPTD Kesehatan Kari merupakan salah satu UPTD kesehatan di Kabupaten Kuantan Singingi yang telah melaksanakan program kegiatan kelas ibu hamil di wilayahnya. Menurut penuturan bidan UPTD Kesehatan Kari, bahwa pelaksanaan kelas ibu hamil memang telah dijalankan di masing-masing desa yang terdiri dari 11 desa. Akan tetapi masih banyak ibu hamil di wilayah kerja UPTD Kesehatan Kari yang belum memanfaatkan fasilitas kelas ibu hamil ini secara optimal. Berikut data ibu hamil yang melaksanakan kelas ibu hamil di UPTD Kesehatan Kari pada bulan Januari-Desember 2015 yang dapat dilihat pada tabel 1.1 berikut ini:
Tabel 1.1 Jumlah ibu hamil di UPTD Kesehatan Kari Kabupaten Kuantan Singingi Bulan Januari-Desember 2015
No Nama desa Jumlah ibu hamil
Ibu hamil yang memanfaatkan kelas ibu hamil
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
Desa Badar Alai Desa Jake Desa Koto Kari Desa Pintu Godang Desa Pulau Kedundung Desa Pulau Aro Desa Pulau Godang Desa Simpang Tiga Desa Sito Rajo Desa Sungai Jering Desa Pulau Banjar
27 Orang 62 Orang 54 Orang 52 Orang 23 Orang 30 Orang 47 Orang 49 Orang 44 Orang 84 Orang 21 Orang 7 Orang 43 Orang 23 Orang 18 Orang 8 Orang 11 Orang 23 Orang 19 Orang 21 Orang 35 Orang 9 Orang
Total 489 Orang 217 Orang
Berdasarkan tabel 1.1 dapat diketahui bahwa sebanyak 489 orang ibu hamil yang berada di UPTD Kesehatan Kari Kabupaten Kuantan Singingi hanya 217 (44%) orang yang memanfaatkan kelas ibu hamil, hal ini berarti program pemerintah dalam rangka menurunkan AKI dan AKB melalui program kelas ibu hamil belum berjalan secara optimal.
Studi pendahuluan yang peneliti lakukan terhadap 10 responden ibu hamil, didapatkan hasil sebanyak 7 (70%) ibu hamil tidak mengikuti kelas ibu hamil dan sebanyak 3 (30%) ibu hamil mengikuti kelas ibu hamil. Karakteristik pendidikan dari 7 responden yang tidak mengikuti kelas ibu hamil, yaitu 5 responden memiliki latar belakang pendidikan dasar dan 2 responden memiliki latar belakang pendidikan menengah. Sebanyak 4 tidak didukung oleh suami dan 3 mendapatkan dukungan suami. Pengetahuan yang baik, pendidikan yang tinggi akan mempengaruhi ibu hamil dalam mengikuti kelas ibu hamil, sebaliknya ibu hamil yang berpengetahuan rendah dan pendidikan yang rendah akan mempengaruhi ibu hamil dalam mengikuti kelas ibu hamil. Ibu hamil yang mendapatkan dukungan dari suami akan lebih semangat untuk mengikuti kelas ibu hamil dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak didukung oleh suami. Peran suami sangat berpengaruh kepada ibu hamil dalam mengikuti kelas ibu hamil.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fawzia (2013) tentang faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan program kelas ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Gladak Pakem Kabupaten Jember menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pemanfaatan program kelas ibu hamil dengan usia ibu hamil,
tingkat pendidikan, pekerjaan, penghasilan keluarga, pengetahuan tentang informasi pelayanan program kelas ibu hamil, ketersediaan sarana dan prasarana pelayanan program kelas ibu hamil yang ada, keterjangkauan, jumlah tenaga kesehatan yang tersedia, dan persepsi ibu hamil terhadap pelayanan program kelas ibu hamil.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Septiani (2013) tentang pengetahuan, sikap ibu hamil dan dukungan suami dengan keikutsertaan ibu hamil dalam kelas ibu hamil di Puskesmas Kota Metro Lampung menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dan dukungan suami dengan keikutsertaan ibu hamil dalam kelas ibu hamil, didapatkan hasil dengan mengguanakan uji statistik Chi Square untuk variabel pengetahuan nilai P value = 0,010, dan dukungan suami dengan nilai P value = 0,000, artinya semakin baik pengetahuan ibu hamil dan semakin didukung oleh suami maka ibu hamil akan mengikuti kelas ibu hamil.
Berdasarkan latar belakang dan hasil survei di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Faktor-faktor yang
Berhubungan Dengan Pemanfaatan Kelas Ibu Hamil Di UPTD Kesehatan Kari Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2016.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah :
a. Apakah faktor pengetahuan ibu hamil tentang kelas ibu hamil berhubungan dengan pemanfaat kelas ibu hamil di UPTD Kesehatan Kari Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2016?
b. Apakah faktor paritas ibu hamil berhubungan dengan pemanfaatan kelas ibu hamil di UPTD Kesehatan Kari Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2016?
c. Apakah faktor dukungan suami berhubungan dengan pemanfaatan kelas ibu hamil di UPTD Kesehatan Kari Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2016?
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pelaksanaan pemanfaatan kelas ibu hamil di UPTD Kesehatan Kari Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2015.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penelitian ini adalah:
a. Mengetahui distribusi frekuensi pengetahuan ibu hamil tentang pemanfaatan kelas ibu hamil di UPTD Kesehatan Kari Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2016
b. Mengetahui distribusi frekuensi paritas ibu hamil di UPTD Kesehatan Kari Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2016
c. Mengetahui distribusi frekuensi dukungan suami di UPTD Kesehatan Kari Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2016
d. Mengetahui distribusi frekuensi pemanfaatan kelas ibu hamil di UPTD Kesehatan Kari Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2016
e. Menganalisa hubungan pengetahuan ibu hamil dengan pemanfaatan kelas ibu hamil di UPTD Kesehatan Kari Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2016
f. Menganalisa hubungan paritas ibu hamil dengan pemanfaatan kelas ibu hamil di UPTD Kesehatan Kari Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2016
g. Menganalisa hubungan dukungan suami dengan pemanfaatan kelas ibu hamil di UPTD Kesehatan Kari Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2016
D. Manfaat Penelitian 1. Aspek Teoritis
Bagi institusi pendidikan kesehatan dapat dimanfaatkan sebagai bahan masukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan bagi peneliti selanjutnya dengan jenis penelitian yang berbeda.
2. Aspek Praktis
Dapat digunakan oleh Puskesmas terutama bagi penanggung jawab program KIA dalam meningkatkan pemanfaatan kelas ibu hamil di UPTD Kesehatan Kari Kabupaten Kuantan Singingi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Pustaka 1. Konsep Ibu Hamil
a. Definisi kehamilan
Kehamilan adalah suatu keadaan yang istimewa bagi seorang wanita sebagai calon ibu, karena pada masa kehamilan akan terjadi perubahan fisik yang mempengaruhi kehidupannya. Pola makan dan hidup sehat dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim ibu (Kristiyanasari, 2010).
Kehamilan adalah mulai dari ovulasi sampai partus lamanya 280 hari (40 minggu) dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu) (Rukiyah dkk, 2009).
2. Kelas Ibu Hamil
a. Definisi kelas ibu hamil
Kegiatan kelas ibu hamil merupakan sarana untuk belajar kelompok tentang kesehatan bagi ibu hamil, dalam bentuk tatap muka yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan ibu-ibu mengenai kehamilan, persalinan, perawatan nifas dan perawatan bayi baru lahir, melalui praktik dengan menggunakan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) ( Depkes, 2009).
Sedangkan menurut Kemenkes RI (2011), Kelas ibu hamil merupakan sarana untuk belajar bersama tentang kesehatan bagi ibu hamil, dalam bentuk tatap muka dalam kelompok yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu mengenai kehamilan, persalinan, nifas, KB pasca persalinan, pencegahan komplikasi, perawatan bayi baru lahir dan aktifitas fisik/senam ibu hamil.
b. Tujuan Kelas Ibu Hamil
Menurut Depkes RI (2009) Tujuan kelas ibu hamil terbagi atas 2 yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
1) Tujuan Umum
Meningkatkan pengetahuan, merubah sikap dan perilaku ibu agar memahami tentang kehamilan, perubahan tubuh dan keluhan selama kehamilan, perawatan kehamilan, persalinan, perawatan nifas, perawatan bayi, mitos/ kepercayaan/adat istiadat setempat, penyakit menular dan akte kelahiran
2) Tujuan Khusus
(a) Terjadinya interaksi dan berbagi pengalaman antar peserta, antar ibu hamil, dengan petugas kesehatan tentang kehamilan, perubahan tubuh dan keluhan selama kehamilan, perawatan kehamilan, persalinan, perawatan nifas, perawatan bayi, mitos/kepercayaan/adat istiadat setempat, penyakit menular dan akte kelahiran.
(b) Meningkatkan pemahaman, sikap dan perilaku ibu hamil tentang kehamilan, perubahan tubuh dan keluhan selama kehamilan.
(c) Meningkatkan pemahaman, sikap dan perilaku ibu hamil tentang persalinan.
(d) Meningkatkan pemahaman, sikap dan perilaku ibu hamil tentang perawatan nifas.
(e) Meningkatkan pemahaman, sikap dan perilaku ibu hamil tentang perawatan bayi baru lahir.
(f) Meningkatkan pemahaman, sikap dan perilaku ibu hamil tentang mitos/kepercayaan/adat istiadat setempat yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak..
(g) Meningkatkan pemahaman sikap dan perilaku ibu hamil tentang penyakit menular.
(h) Meningkatkan pemahaman sikap dan perilaku ibu hamil tentang akte kelahiran.
c. Keuntungan Kelas Ibu Hamil
Menurut Depkes RI (2009) keuntungan kelas ibu hamil antara lain: 1) Materi diberikan secara menyeluruh dan terencana sesuai dengan
pedoman kelas ibu hamil yang memuat mengenai kehamilan, perawatan kehamilan, persalinan, perawatan nifas, perawatan bayi baru lahir, mitos, penyakit menular seksual dan akte kelahiran.
2) Penyampaian materi lebih komprehensif karena ada persiapan petugas sebelum penyajian.
3) Dapat mendatangkan tenaga ahli untuk memberikan penjelasan mengenai topik tertentu.
4) Waktu pemberian materi lebih efektif karena pola penyajian materi berstrukur dengan baik.
5) Ada interaksi antara petugas kesehatan dengan ibu hamil pada saat pembahasan materi dilaksanakan.
6) Dilaksanakan secara berkala dan berkesinambungan.
7) Dilakukan evaluasi terhadap petugas kesehatan dan ibu hamil dalam memberikan penyajian materi sehingga dapat meningkatkan kualitas sistem pembelajaran.
d. Sasaran Kelas Ibu Hamil
Peserta kelas ibu hamil sebaiknya ibu hamil pada umur kehamilan 20 s/d 32 minggu, karena pada umur kehamilan ini kondisi ibu sudah kuat. Jumlah peserta kelas ibu hamil maksimal 10 orang setiap kelas, jika diperlukan suami/keluarga diikut sertakan (Depkes RI, 2009). e. Langkah-langkah Pendidikan di Kelas ibu Hamil
Dalam memberikan pendidikan pada ibu hamil tersebut dilakukan langkah-langkah dari mulai persiapan sampai pelaksanaan pembelajaran kelas ibu hamil Depkes RI (2009), antara lain sebagai berikut :
1) Melakukan identifikasi terhadap ibu hamil yang ada di wilayah kerja untuk mengetahui berapa jumlah ibu hamil, umur kehamilannya dan menentukan jumlah peserta setiap kelas ibu hamil.
2) Mempersiapkan tempat dan sarana pelaksanaan kelas ibu hamil, misalnya di puskesmas/polindes, kantor desa/balai pertemuan, poyandu/di rumah salah satu warga masyarakat.
3) Mempersiapkan materi, alat bantu penyuluhan dan jadwal pelaksanaan kelas ibu hamil serta mempelajari materi yang akan disampaikan.
4) Persiapan peserta kelas ibu hamil, mengundang ibu hamil dengan umur kehamilan antara 5 sampai dengan 8 bulan.
5) Siapkan tim pelaksana kelas ibu hamil yaitu siapa saja fasilitatornya dan nara sumber jika diperlukan.
6) Membuat rencana pelaksana kegiatan.
7) Akhir pertemuan dilakukan senam ibu hamil sebagai kegiatan materi ekstra.
8) Menentukan waktu pertemuan yang disesuaikan dengan kesiapan ibu-ibu, bisa dilakukan pada pagi hari atau sore hari dengan lama waktu pertemuan 120 menit dan senam 30 menit.
f. Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil
Penyelenggaraan kelas Ibu Hamil dapat dilaksanakan oleh Pemerintah, Swasta LSM dan Masyarakat:
kelas ibu hamil dikembangkan sesuai dengan fungsi dan peran pada masing-masing level yaitu : Provinsi, Kabupaten dan Puskesmas. a) Provinsi :
(1) Menyiapkan tenaga pelatih
(2) Mendukung pelaksanaan kelas ibu hamil (sarana dan prasarana)
(3) Monitoring dan evaluasi. b) Kabupaten :
(1) Menyiapkan tenaga fasilitator kelas ibu hamil
(2) Bertanggung jawab atas terlaksananya kelas ibu hamil (dana, sarana dan prasarana)
(3) Monitoring dan evaluasi. c) Puskesmas :
(1) Kepala Puskesmas sebagai penanggung jawab dan mengkoordinir pelaksanaan kelas ibu hamil di wilayah kerjanya.
(2) Bidan/tenaga kesehatan bertanggung jawab dalam pelaksanaan kelas ibu hamil (identifikasi calon peserta, koordinasi dengan stake holder, fasilitasi pertemuan, monitoring, evaluasi dan pelaporan)
2) Fasilitator dan Nara Sumber
Fasilitator kelas ibu hamil adalah bidan atau petugas kesehatan yang telah mendapat pelatihan fasilitator kelas ibu hamil (atau
melalui on the job training) dan setelah itu diperbolehkan untuk melaksanakan fasilitasi kelas ibu hamil.
Dalam pelaksanaan kelas ibu hamil fasilitator dapat meminta bantuan nara sumber untuk menyampaikan materi bidang tertentu. Nara sumber adalah tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian di bidang tertentu untuk mendukung kelas ibu hamil.
3) Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana yang diperlukan untuk melaksanakan kelas ibu hamil adalah :
a) Ruang belajar untuk kapasitas 10 orang peserta kira-kira ukuran 4 m x 5 m, dengan ventilasi dan pencahayaan yang cukup
b) Alat tulis menulis (papan tulis, kertas, spidol, bolpoin) jika ada Buku KIA
c) Lembar Balik kelas ibu hamil
d) Buku pedoman pelaksanaan kelas ibu hamil e) Buku pegangan fasilitator
f) Alat peraga (KB kit, food model, boneka, metode kangguru, dll) jika ada
g) Tikar/karpet (matras) h) Bantal, kursi (jika ada)
i) Buku senam hamil/CD senam hamil (jika ada)
Idealnya kelengkapan sarana dan prasarana seperti tersebut di atas, namun apabila tidak ada ruangan khusus, di manapun
tempatnya bisa dilaksanakan sesuai kesepakatan antara ibu hamil dan fasilitator. Sedangkan kegiatan lainnya seperti senam hamil hanya merupakan materi tambahan bukan yang utama.
4) Persiapan pelaksanaan kelas ibu hamil
Beberapa tahapan yang dilakukan untuk melaksanakan kelas ibu hamil :
a) Pelatihan bagi pelatih
Pelatihan bagi pelatih (TOT) Pelatihan bagi pelatih dipersiapkan untuk melatih bagi para fasilitator di tempat pelaksanaan kelas ibu, baik di tingkat kabupaten, kecamatan sampai ke desa. Peserta TOT adalah bidan atau petugas kesehatan yang sudah mengikuti sosialisasi tentang Buku KIA dan mengikuti pelatihan fasilitator. Kegiatan TOT bertujuan untuk mencetak para fasilitator dan selanjutnya fasilitator akan mampu melaksanakan serta mengembangkan pelaksanaan kelas ibu hamil. Pelatihan bagi pelatih dilakukan secara berjenjang dari tingkat provinsi ke tingkat Kabupaten/Kota.
b) Pelatihan bagi fasilitator
Pelatihan fasilitator dipersiapkan untuk melaksanakan kelas ibu hamil. Fasilitator kelas ibu hamil adalah bidan atau petugas kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan fasilitator kelas ibu hamil atau on the job training. Bagi bidan atau petugas kesehatan ini, boleh melaksanakan pengembangan kelas ibu hamil di
wilayah kerjanya. Untuk mencapai hasil yang optimal dalam memfasilitasi kelas ibu hamil, fasilitator hendaknya menguasai materi yang akan disajikan baik materi medis maupun non medis. Beberapa materi non medis berikut akan membantu Kemampuan fasilitator dalam pelaksanaan kelas ibu hamil diantaranya :
(1) Komunikasi interaktif (2) Presentasi yang baik
(3) Menciptakan suasana yang kondusif
(4) Penjelasan materi, lihat pegangan fasilitator
c) Sosialisasi kelas ibu hamil pada Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan Stakeholder Sosialisasi kelas ibu hamil pada tokoh agama, tokoh masyarakat dan stakeholder sebelum kelas ibu hamil dilaksanakan sangat penting. Melalui kegiatan sosialisasi ini diharapkan semua unsur masyarakat dapat memberikan respon dan dukungan sehingga kelas ibu hamil dapat dikembangkan dan berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Materi sosialisasi antara lain :
(1) Buku KIA
(2) Apa itu kelas ibu hamil
(3) Tujuan Pelaksanaan kelas ibu hamil (4) Manfaat kelas ibu hamil
(5) Peran Tokoh agama, Tokoh masyarakat dan stakeholder dalam mendukung pelaksanaan kelas ibu hamil. Peran apa
saja yang dapat dilakukan oleh tokoh masyarakat, tokoh agama dan stakeholder untuk mendukung pelaksanaan kelas ibu hamil, misalnya memotivasi ibu hamil dan keluarganya agar mau mengikuti kelas ibu hamil, memberikan informasi tentang kelas ibu hamil pada masyarakat khususnya keluarga ibu hamil atau memberikan dukungan fasilitas bagi kelas ibu hamil dan lain-lain.
5) Persiapan pelaksanaan kelas ibu hamil
Hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum pelaksanaan kelas ibu hamil :
a) Melakukan identifikasi/mendaftar semua ibu hamil yang ada di wilayah kerja. Ini dimaksudkan untuk mengetahui berapa jumlah ibu hamil dan umur kehamilannya sehingga dapat menentukan jumlah peserta setiap kelas ibu hamil dan berapa kelas yang akan dikembangkan dalam kurun waktu tertentu misalnya, selama satu tahun.
b) Mempersiapkan tempat dan sarana pelaksanaan kelas ibu hamil, misalnya tempat di Puskesmas atau Polindes, Kantor Desa/Balai Pertemuan, Posyandu atau di rumah salah seorang warga masyarakat. Sarana belajar menggunakan, tikar/karpet, bantal dan lain-lain jika tersedia.
c) Mempersiapkan materi, alat bantu penyuluhan dan jadwal pelaksanaan kelas ibu hamil serta mempelajari materi yang akan
disampaikan.
d) Persiapan peserta kelas ibu hamil, mengundang ibu hamil umur kehamilan antara 4 sampai 36 minggu.
e) Siapkan tim pelaksana kelas ibu hamil yaitu siapa saja fasilitatornya dan nara sumber jika diperlukan.
6) Pelaksanaan kelas ibu hamil
Pelaksanaan pertemuan kelas ibu hamil dilakukan sesuai dengan kesepakatan antara bidan/petugas kesehatan dengan peserta/ibu hamil, dengan tahapan pelaksanaan.
7) Monitoring, evaluasi dan pelaporan
Untuk memantau perkembangan dan dampak pelaksanaan kelas ibu hamil perlu dilakukan monitoring dan evaluasi secara berkala dan berkesinambungan. Seluruh pelaksanaan kegiatan kelas ibu hamil dibuatkan pelaporan dan didokumentasikan.
3. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Kelas Ibu Hamil
a. Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu pengindraan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek (Notoatmodjo, 2010). Dalam hal ini pengetahuan ibu hamil tentang pemanfaatan kelas ibu hamil yang diperoleh melalui penginderaan
terhadap objek tertentu.
Menurut Husada (2013), pengetahuan merupakan pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan lain sebagainya). Sementara itu menurut Nursalam (2013), pengetahuan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya adalah umur dan pendidikan, dimana semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin mudah menerima informasi, sehingga semakin banyak pula pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang kurang dapat menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai yang diperkenalkan dan semakin muda usia seseorang semakin sedikit pengalaman yang dimiliki, namun sebaliknya semakin tinggi tingkat umur seseorang pengalaman yang didapat semakin lebih banyak.
Tingkat Pengetahuan.
Menurut Notoatmodjo (2010), pengetahuan dibagi 6 tingkatan yaitu: 1) Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengikat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengikat kembali (recall) suatu yang spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
2) Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat
menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
3) Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi lain.
4) Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitanya satu sama lain. 5) Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk ke seluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulir dari formulasi-formulasi yang ada.
6) Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
Menurut Notoatmojo 2010 pengukuran pengetahuan adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara langsung (wawancara) atau melalui pertanyaan-pertanyaan tertulis atau angket.
Pengukuran Menurut Arikunto (2010) dapat dikategorikan menjadi 2 yaitu :
1) Pengetahuan tinggi : hasil persentase ≥ 75%
2) Pengetahuan rendah : hasil persentase < 75%
Hasil Penelitian yang dilakukan oleh Fawzia (2013) tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan program kelas ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Gladak Pakem Kabupaten Jember didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan ibu dengan pemanfaatan kelas ibu hamil. Artinya semakin baik pengetahuan ibu hamil maka akan semakin memanfaatakan kelas ibu hamil, sebaliknya apabila pengetahuan kurang tentang pemanfaatan kelas ibu hamil maka ibu hamil cenderung untuk tidak memanfaatkan kelas ibu hamil.
Penelitian yang dilakukan oleh Ratifah (2013) tentang hubungan pengetahuan ibu hamil tentang kelas ibu hamil dengan motivasi mengikuti kelas ibu hamil di Puskesmas 2 Mandiraja Kabupaten Banjarnegara diperoleh hasil terdapat hubungan pengetahuan ibu hamil secara statistik dengan uji chi square dengan motivasi mengikuti kelas ibu hamil. Dapat disimpulkan bahwa semakin baik pengetahuan ibu hamil tentang kelas ibu hamil maka akan memanfaatkan kelas ibu hamil.
b. Paritas
Menurut Manuaba (2007), paritas adalah wanita yang pernah melahirkan dan dibagi menjadi beberapa istilah :
1) Nulipara yaitu wanita yang melahirkan, tetapi anaknya tidak pernah hidup ketika lahir
2) Primipara yaitu wanita yang telah melahirkan sebanyak satu kali 3) Multipara yaitu wanita yang telah pernah melahirkan anak hidup
beberapa kali, dimana persalinan tersebut tidak lebih dari lima kali 4) Grandemultipara yaitu wanita yang telah melahirkan janin aterm
lebih dari lima kali.
Sedangkan menurut Winkjosastro (2005) Sueheilif Paritas adalah status seorang wanita sehubungan dengan jumlah anak yang pernah dilahirkannya. Ibu yang pertama kali hamil merupakan hal yang sangat baru sehingga termotivasi dalam memeriksakan kehamilannya ketenaga kesehatan dan lebih memanfaatkan kelas ibu hamil. Sebaliknya ibu yang sudah pernah melahirkan lebih dari tiga orang mempunyai anggapan bahwa ibu sudah berpengalaman sehingga tidak termotivasi untuk memanfaatkan kelas ibu hamil.
Menurut Notoatmodjo (2010), paritas dapat dikategorikan menjadi 1) Berisiko, jika jumlah anak ≥ 3 orang
2) Tidak berisiko, jika jumlah anak < 3 orang
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ismayanti (2014) tentang hubungan karakteristik ibu hamil dengan keikutsertaan pada kelas ibu
hamil di wilayah kerja Puskesmas Kramatwatu, diperoleh hasil terdapat hubungan antara paritas ibu hamil yang multipara dengan pemanfaatan kelas ibu hamil dengan menggunakan uji statistik Chi Square dengan nilai P value = 0,000. Artinya semakin banyak jumlah anak yang dimiliki ibu hamil maka ibu hamil cenderung tidak memanfaatkan kelas ibu hamil.
Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Kristiyanti (2015) tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kelengkapan mengikuti kelas ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kedungwuni I Kabupaten Pekalongan, diperoleh hasil terdapat hubungan antara paritas multipara dengan kelengkapan mengikuti kelas ibu hamil dengan menggunakan uji statistik Chi Square dengan nilai P value = 0,014, artinya semakin banyak jumlah anak yang dimiliki ibu hamil maka ibu hamil cenderung tidak memanfaatkan kelas ibu hamil. Nilai RP = 43,213 artinya ibu hamil dengan paritas multipara lebih berisiko untuk tidak memanfaatkan kelas ibu hamil dibandingkan dengan ibu hamil yang paritas primipara.
c. Dukungan suami
Peran suami dalam kelas ibu hamil sangat diperlukan tidak hanya dalam bentuk memberikan informasi tentang kelas ibu hamil, mengantar ibu hamil ke tempat pelaksanaan atau pemenuhan materi yang mendukung dalam kelas ibu hamil. Dalam kelas ibu hamil suami
seharusnya dapat ikut serta dalam kelas ibu hamil yang diadakan seperti yang tertulis dalam buku pedoman pelaksanaan kelas ibu hamil.
Di Indonesia suami dalam keluarga mempunyai peran yang dominan terutama untuk mengambil keputusan dalam hal apapun termasuk dalam kesehatan reproduksi. Kurangnya kesadaran pria dalam hal kesehatan reproduksi, tidak terjadi begitu saja salah satunya disebabkan faktor budaya yang menempatkan pria sebagai pemegang kekuasaan dalam pengambilan keputusan, dan menganggap wanita atau istri adalah pendamping sehingga seorang wanita tidak dapat menentukan keinginannya sendiri.
Dalam konteks kesehatan reproduksi suami merupakan teman untuk mencapai kesehatan yang lebih baik. Dukungan dan peran suami dalam masa kehamilan terbukti bermanfaat misalnya meningkatkan kesiapan ibu hamil menghadapi persalinan, hingga meningkatkan keberhasilan proses menyusui (Turan, 2011).
Dukungan (motivasi) atau dukungan suami berperan sangat besar dalam menentukan status kesehatan ibu. Jika suami mengharapkan adanya kehamilan, maka memperlihatkan dukungannya dalam berbagai hal akan mempengaruhi ibu menjadi lebih percaya diri, lebih bahagia, menunjukkan kesiapan dan lebih kuat secara mental untuk menghadapi segala hal kehamilan, persalinan dan masa nifas. Keterlibatan anggota keluarga atau orang terdekat dapat membantu terjadinya perubahan
untuk berperilaku ke arah hidup sehat dan mampu meningkatkan kesadaran untuk berubah (Sarafino & Smith, 2014).
Menurut Hidayat (2009) dukungan suami dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1) Mendukung 2) Tidak mendukung
Dalam penelitian Mullany, et al. (2007) dan Fatimah (2009) juga memiliki pendapat yang serupa bahwa dukungan dari keluarga terutama suami dalam mengikuti kelas ibu hamil sangat berpengaruh besar pada ibu hamil. Masyarakat yang kurang pengetahuan tentang kelas ibu hamil cenderung tidak mendukung kegiatan kelas ibu hamil dan masyarakat masih menganggap kelas ibu hamil itu merupakan pekerjaan orang kesehatan saja, sehingga hal tersebut akan mempengaruhi partisipasi ibu dalam kegiatan kelas ibu hamil.
Hasil dari beberapa penelitian tersebut juga sesuai dengan konsep yang dinyatakan oleh Mullany, et al. (2007) bahwa keluarga atau orang terdekat merupakan perantara yang efektif dan mampu memberikan kemudahan seseorang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Karena keluarga terutama suami juga memiliki peran dalam menentukan keputusan untuk memelihara kesehatan para anggota keluarganya. Dukungan dari suami dan hubungan yang baik dapat memberikan kontribusi penting pada kesehatan ibu. Dukungan sosial yang dibutuhkan adalah berupa dukungan secara emosional yang mendasari
tindakan. Hal tersebut akan membuat orang merasa diperhatikan, dicintai, dimuliakan dan dihargai.
Menurut Sayem et al., (2011) bahwa dukungan secara psikologis yang diterima seseorang meliputi; informasi, nasehat verbal dan non verbal, bantuannyata berupa kehadiran mereka sehingga berpengaruh terhadap emosional. Dukungan sosial dapat berpengaruh terhadap penilaian individu dalam memandang seberapa berat suatu peristiwa yang terjadi dalam hidupnya, kemudian dapat mempengaruhi pilihan dalam upaya penanggulangan, serta dukungan sosial juga dapat berdampak langsung terhadap perilaku kesehatan. Ibu lebih mudah terpengaruh untuk melakukan perilaku kesehatan yang positif manakala mereka mendapat dukungan yang memadai dibandingkan suami (Montigny et al., 2006).
Hal ini dibuktikan penelitian Nursito (2007), bahwa partisipasi suami kemungkinan empat kali lebih besar terhadap kepatuhan ibu memeriksakan kehamilannya dibandingkan dengan suami yang tidak berpartisipasi. Beberapa penelitian tentang dukungan sosial suami antara lain hasil penelitian Elsenbruch et al. (2007); Spoozak et al. (2010); Liu et al. (2013) menyebutkan bahwa dukungan sosial suami sangat berhubungan positif dengan kesehatan mental dan fisik ibu selama menjalani masa kehamilan dan persalinan. Hasil penelitian Kungwimba et al. (2013) dan Negron et al. (2014) menunjukkan bahwa dukungan sosial juga berperan penting selama masa nifas ibu dan penelitian
Feldman et al. (2000) menunjukkan dukungan sosial berpengaruh terhadap perawatan bayinya. Jadi dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial adalah segala bentuk tindakan dan ucapan yang bersifat membantu dengan melibatkan emosi, informasi, instrumentasi dan appresiasi (penilaian positif) pada individu dalam menghadapi masalahnya.
Dukungan suami yang dimaksud dalam penelitian ini adalah dukungan psikologis yang diberikan suami terhadap istri baik secara fisik maupun psikis di mana suami ada pada saat dibutuhkan dan dapat memberikan bantuan secara psikologis baik berupa motivasi, perhatian, penerimaan atau dengan cara mencurahkan segenap hati, perasaan dan pikiran dengan jujur sesuai harapan ibu untuk lebih dicintai, diperhatikan dan dihargai. Pendekatan baru dalam meningkatkan dukungan suami terhadap ibu adalah mengikutsertakan mereka dalam setiap program upaya peningkatan kehadiran ibu. Pada kenyataannya pria/suami merupakan partner yang potensial untuk mencapai tingkat kesehatan yang lebih baik. Minimal satu kali pertemuan ibu hamil didampingi suami/keluarga. Hal ini dimaksudkan agar kesehatan ibu selama hamil, bersalin, nifas, termasuk kesehatan bayi yang baru dilahirkan dan kebutuhan akan KB pasca persalinan menjadi perhatian dan tanggung jawab seluruh keluarga (Kemenkes RI, 2011; Kemenkes RI, 2013).
Salah satu peran serta suami dalam kehadiran ibu melakukan kelas ibu hamil yaitu dengan memberikan motivasi kepada ibu berupa dukungan secara psikologis dan dukungan nyata terhadap ibu agar
dapat berpartisipasi dalam program kelas ibu hamil (Mullany et al., 2007; Redshaw & Henderson, 2013).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Septiani (2013) tentang pengetahuan, sikap ibu hamil dan dukungan suami dengan keikutsertaan ibu hamil dalam kelas ibu hamil di Puskesmas Kota Metro Lampung, didapatkan hasil terdapat hubungan antara dukungan suami dengan keikutsertaan ibu hamil dalam kelas ibu hamil. Artinya ibu hamil yang diberikan dukungan oleh suami lebih memanfaatkan kelas ibu hamil dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak mendapatkan dukungan oleh suami. Dapat disimpulkan ibu hamil yang diberikan dukungan suami akan lebih termotivasi dalam memanfatkan kelas ibu hamil dan peran suami sangat berperan penting terhadap ibu hamil dalam memanfaatkan kelas ibu hamil.
d. Pekerjaan
Pekerjaan adalah sesuatu yang dilakukan oleh manusia untuk tujuan tertentu, yang dilakukan dengan cara yang baik dan benar. Hasil dari pekerjaan yang diperoleh untuk memenuhi kebutuhan hidup. Penelitian oleh Burhaini (2013) tentang faktor determinan pemanfaatan kelas ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Pampang Kecamatan Panakukang Kota Makassar, menyatakan bahwa ada hubungan pekerjaan ibu hamil terhadap pemanfaatan kelas ibu hamil. Penelitian Masnaria (2011) tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan kelas ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Concong
Luar Kecamatan Concong Luar Kabupaten Indragiri Hilir, perempuan yang bekerja lebih memanfatkan kelas ibu hamil dibandingkan ibu rumah tangga dan ibu yang tidak bekerja. Ibu yang bekerja disektor formal memiliki akses yang lebih baik terhadap informasi kesehatan, informasi didapatkan dari teman di tempat bekerja maupun dari media seperti dari koran, majalah.
Selain itu ibu yang bekerja secara formal akan mempunyai penghasilan sendiri dan menambah penghasilan keluarga sehingga dari segi ekonomi akan mapan dan mampu menggunakan fasilitas kesehatan dan memanfaatkan fasilitas kesehatan dengan baik. Tetapi di sisi lain ibu hamil yang bekerja mereka kurang memiliki waktu untuk memeriksakan kehamilannya di Puskesmas ataupun Rumah Sakit mereka lebih cenderung memeriksakan ke dokter. Ibu hamil yang mempunyai pekerjaan akan memanfaatkan kelas ibu hamil.
e. Pendidikan
Pendidikan merupakan proses pemberdayaan peserta didik sebagai subjek dan objek dalam membangun kehidupan yang lebih baik. Pendidikan juga merupakan proses sadar dan sistematis di sekolah, keluarga dan masyarakat untuk menyampaikan suatu maksud dari suatu konsep yang sudah ditetapkan. Tujuan pendidikan diharapkan agar individu mempunyai kemampuan dan keterampilan secara mandiri untuk meningkatkan taraf hidup lahir batin dan meningkatkan perannya secara pribadi.
Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk memengaruhi orang lain baik individu, kelompok atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. Dari batasan ini tersirat unsur- unsur pendidikan
yakni: a) “input” adalah sasaran pendidikan, b) proces
(
upaya yang direncanakan untuk memengaruhi orang lain), c) “output” (melakukanapa yang diharapkan atau perilaku) (Widyastuti, dkk 2010).
Pendidikan yang tinggi dipandang perlu bagi kaum wanita, karena dengan tingkat pendidikan yang tinggi mereka dapat meningkatkan taraf hidup, mampu membuat keputusan menyangkut masalah kesehatan mereka sendiri. Semakin tinggi pendidikan seorang wanita, maka semakin mampu mandiri dalam mengambil keputusan menyangkut diri mereka sendiri (Widyastuti, dkk 2010). Ibu hamil yang berpendidikan tinggi lebih memanfaatkan kelas ibu hamil dibandingkan dengan ibu hamil yang berpendidikan rendah.
Menurut Nursalam (2013) pendidikan dapat dibagi menjadi: 1) Pendidikan Tinggi : Perguruan tinggi
2) Pendidikan Menengah: SMA dan SMP 3) Pendidikan rendah: SD dan tidak sekolah
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fawzia (2013) didapatkan hasil terdapat hubungan yang bermakna antara pendidikan ibu hamil dengan pemanfaatan kelas ibu hamil, artinya semakin tinggi pendidikan ibu hamil maka akan semakin memanfaatkan kelas ibu hamil,
sebaliknya apabila ibu hamil berpendidikan rendah maka akan cenderung tidak memanfaatkan kelas ibu hamil.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Utami (2012) tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan kelas ibu hamil di Wilayah Kelurahan Tengah, Kramatjati Jakarta Timur diperoleh hasil terdapat hubungan antara pendidikan ibu hamil dengan pemanfaatan kelas ibu hamil di Wilayah Kelurahan Tengah.
4. Penelitian Terkait
a. Penelitian yang dilakukan oleh Masnaria (2011) berjudul “Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan kelas ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Concong Luar Kecamatan Concong Luar Kabupaten Indragiri Hilir. Desain penelitian ini bersifat Analitik Kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional. Adapun Sampel pada penelitian ini adalah 74 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan pengetahuan ibu hamil terhadap pemanfaatan kelas ibu hamili. Kaitannya dengan penelitian ini adalah sama-sama ingin mengetahui hubungan pengetahuan dengan pemanfaatan kelas ibu hamil. Tetapi tempat, waktu penelitian dan dengan jumlah sampel yang berbeda. b. Penelitian yang dilakukan oleh Fawzia (2014) yang berjudul “Faktor
yang berhubungan dengan pemanfaatan program kelas ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Gladak Pakem Kabupaten Jember. Desain penelitian ini adalah Analitik Kuantitatif dengan pendekatan Cross
penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pendidikan, pengetahuan, pekerjaan, paritas dan dukungan suami dengan pemanfaatan kelas ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Gladak Pakem Kabupaten Jember tahun 2014. Kaitannya dengan penelitian ini sama-sama ingin mengetahui adanya hubungan pengetahuan dan dukungan suami dengan pemanfaatan kelas ibu hamil. Tetapi dengan judul, variabel, tempat, waktu, dan jumlah sampel yang berbeda
B. Kerangka Teori
Berdasarkan tinjauan teori tentang pemanfaatan kelas ibu hamil yang telah dibahas sebelumnya, peneliti merangkumnya dalam kerangka teori berikut ini.
Sumber: Riyanto, 2011
keterangan: Diteliti
Tidak Diteliti
Skema 2.1 Kerangka Teori
Faktor internal: - Pengetahuan - Paritas
Pemanfaatan kelas ibu hamil di UPTD Kesehatan Kari Kabupaten Kuantan Singingi - Pendidikan - Pekerjaan - Faktor Eksternal - Dukungan keluarga/suami
C. Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah suatu uraian dan visualisasi hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya, atau antara variabel yang satu dengan variabel yang lain dari masalah yang ingin diteliti (Notoatmodjo, 2010). Adapun kerangka konsep dalam penelitian ini adalah:
Variabel Independen Variabel Dependen
Skema 2.2 Kerangka Konsep Penelitian
D. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
1. Terdapat hubungan pengetahuan ibu hamil dengan pemanfaatan kelas ibu hamil
2. Terdapat hubungan paritas ibu hamil dengan pemanfaatan kelas ibu hamil 3. Terdapat hubungan dukungan suami dengan pemanfaatan kelas ibu hamil
1. Pengetahuan 2. Paritas
3. Dukungan Suami
Pemanfaatan Kelas Ibu Hamil
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik dengan rancangan crossectional, karena pengukuran variabel independen (pengetahuan, paritas dan dukungan suami) dengan variabel dependen (Pemanfaatan kelas ibu hamil) dilakukan sekali saja dan pada saat yang bersamaan. Subjek penelitian adalah ibu hamil yang berkunjung ke UPTD Kari Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2016.
1. Rancangan Penelitian
Secara sistematis, rancangan penelitian dapat dilihat dalam skema 3.1.
Skema 3.1 Rancangan Penelitian (Hidayat 2010)
Wilayah kerja UPTD Kesehatan Kari
Menentukan subjek penelitian (ibu hamil yang usia kehamilannya
≥32 minggu di UPTD Kesehatan Kari Melakukan pengamatan/ pengukuran secara bersamaan dalam sekali waktu Hasil pengamatan/ pengukuran Hasil analisis Menentukan perilaku
pemanfaatan kelas ibu hamil atau tidak Menentukan faktor yang mempengaruhi pemanfaatan kelas ibu hamil:
1. Pengetahuan. 2. Paritas
3. Dukungan suami
2. Alur Penelitian
Secara sistematis, rancangan penelitian dapat dilihat dalam skema 3.2.
Skema 3.2 Alur Penelitian
3. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian yang akan peneliti lakukan meliputi:
a. Mengajukan permohonan surat izin pengambilan data kepada bagian Program Studi D IV Kebidanan yang di setujui oleh Ketua STIKes Tuanku Tambusai Riau
b. Selanjutnya memasukkan surat izin pengambilan data tersebut ke UPTD Kesehatan Kari Kabupaten Kuantan Singingi
c. Melakukan studi pendahuluan di UPTD Kesehatan Kari Kabupaten Kuantan Singingi
UPTD Kesehatan Kari
Ibu hamil yang usia kehamilannya ≥32 minggu yang berada di UPTD Kesehatan Kari sebanyak 489 orang
Pengolahan Data
Analisa Data
Hasil Analisa
Pemanfaatan kelas ibu hamil Pengetahuan ibu hamil
Paritas ibu hamil Dukungan Suami
d. Melakukan seminar proposal.
e. Setelah mendapatkan persetujuan untuk diteliti, kemudian mengajukan surat izin penelitian ke UPTD Kesehatan Kari
f. Selanjutnya peneliti melakukan penelitian di UPTD Kesehatan Kari g. Menjelaskan prosedur penelitian pada responden yang akan diteliti h. Meminta responden untuk menandatangani surat persetujuan
menjadi responden penelitian
i. Meminta pada responden untuk mengisi kuesioner penelitian j. Mengolah data hasil penelitian
4. Variabel Penelitian
Variabel-variabel yang akan diteliti pada penelitian ini adalah:
a. Variabel independen yaitu pengetahuan, paritas dan dukungan suami b. Variabel dependen adalah Pemanfaatan kelas ibu hamil
B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi
Penelitian ini dilakukan di UPTD Kesehatan Kari Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2016.
2. Waktu Penelitian
C. Populasi Dan Sampel 1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang usia kehamilannya ≥ 32 minggu yang berada di UPTD Kari Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2016, yang berjumlah 489 orang.
2. Sampel
a. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian ibu hamil yang berkunjung ke UPTD Kari Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2016 yang berjumlah 56 orang ibu hamil.
b. Teknik pengambilan sampel
Teknik pengambilan sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik Accidental Sampling, yaitu sampel yang kebetulan ada pada saat peneliti melakukan penelitian.
c. Kriteria Penelitian
1) Kriteria inklusi
a) Ibu hamil yang berada di UPTD Kari Kabupaten Kuantan Singingi
b) Ibu yang bisa membaca dan menulis c) Ibu yang bersedia menjadi responden
2) Kriteria eksklusi
a) Ibu hamil yang tidak datang ke UPTD Kari Kabupaten Kuantan Singingi pada saat peneliti melakukan penelitian
D. Etika Penelitian
Masalah etika penelitian merupakan masalah yang sangat penting dalam penelitian, mengingat penelitian ini berhubungan langsung dengan manusia maka etika penelitian harus diperhatikan. Masalah etika yang harus diperhatikan antara lain sebagai berikut :
1. Informed Consent (persetujuan)
Informed consent merupakan lembar persetujuan yang diberikan peneliti
kepada responden. Pada penelitian ini informed consent diberikan secara verbal dimana peneliti memberikan informasi secara lengkap tentang tujuan penelitian yang akan dilakukan dan meminta persetujuan untuk menjadi responden dalam penelitian. Responden mempunyai hak untuk menyetujui atau bersedia menjadi responden dan mempunyai hak untuk menolak menjadi responden. Setelah responden menyetujui untuk menjadi responden kemudian peneliti memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden, lembar persetujuan atau informed consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan.
2. Anonimity (tanpa nama)
Untuk menjaga kerahasiaan identitas objek peneliti tidak akan mencantumkan identitas objek pada lembar pengumpulan data, cukup memberikan nomor kode pada masing-masing lembar tersebut.
3. Confidentiality (kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi yang diberikan objek dijamin oleh peneliti disajikan atau dilaporkan sebagai hasil riset (Hidayat, 2012).
E. Alat Pengumpulan Data 1. Cara Pengumpulan data
Setelah mendapatkan izin dari Kepala UPTD Kesehatan Kari maka peneliti mengadakan pendekatan kepada seluruh responden untuk pengambilan data. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner sebagai subyek penelitian tanpa diberi nama tetapi diberi kode khusus. Hasil penelitian kuesioner akan diinformasikan dalam bentuk persentase dan narasi.
2. Instrumen Penelitian
Instrumen adalah suatu alat yang akan digunakan untuk mengumpulkan data (Notoatmodjo, 2010). Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Kuesioner dalam penelitian ini terdiri dari:
a) Kuesioner pengetahuan, yang berjumlah 10 pertanyaan dalam bentuk
b) Kuesioner dukungan suami, yang berjumlah 10 pertanyaan pendapat dalam bentuk Check List.
c) Kuesioner pemanfaatan kelas ibu hamil yang berjumlah 2 pernyataan bentuk Check List.
F. Uji Validitas & Reliabilitas 1. Uji Validitas
Uji validitas yang akan peneliti gunakan adalah dengan menggunakan rumus korelasi pearson produck moment.
Keterangan : R : Koefisien X : Skor pertanyaan Y : Skor total
N : Jumlah kuesioner
xy : skor pertanyaan dikali skor total
Peneliti juga akan melakukan uji validitas dengan bantuan SPSS. Setelah diperoleh nilai r, kemudian hasilnya dikonstitusikan dengan nilai r tabel, jika r hitung ≥ r tabel, maka pertanyaan dinyatakan valid.
2. Uji Reliabilitas
Uji validitas yang akan peneliti gunakan adalah dengan menggunakan rumus alpha cronbach.
Keterangan
r : Reliabilitas yang dicari : Varians total
n : Jumlah responden
Peneliti juga akan melakukan uji reliabilitas dengan bantuan SPSS. Setelah diperoleh nilai r, kemudian hasilnya dikonstitusikan dengan nilai r tabel dengan taraf kepercayaan 95% (α = 0,05), jika r hitung ≥ r tabel, maka pertanyaan dinyatakan reliabel. Pada kuesioner yang dilakukan, hanya akan dilakukan pengukuran sekali saja (one shot). pengujian realibiltas dimulai dengan uji validitas terlebih dahulu. Jika pertanyaan tidak valid, maka pertanyaan tersebut dibuang. Pertanyaan-pertanyaan yang sudah valid kemudian baru secara bersama-sama diukur realibilitasnya.
Untuk mengetahui realibilitas dilakukan dengan cara melakukan uji
Crombach Alpha; keputusan uji:
a. Bila Crombach Alpha ≥ 0,6 artinya variabel reliable b. Bila Crombach Alpha ≤ 0,6 artinya variabel tidak reliable
G. Prosedur Pengumpulan Data
Untuk keperluan analisa data, peneliti memerlukan sejumlah data pendukung yang berasal dari dalam dan luar lapangan. Untuk itu peneliti menggunakan dua macam cara pengumpulan data, yaitu sebagai berikut:
1. Data Primer
Data primer terdiri dari karakteristik responden yang meliputi pengetahuan, paritas dan dukungan suami responden. Pengumpulan data primer diperoleh melalui wawancara langsung kepada responden dengan menggunakan kuesioner.
2. Data Sekunder
Data diperoleh melalui pengumpulan atau pengolahan data yang bersifat studi dokumentasi berupa penelaah terhadap dokumen pribadi, resmi kelembagaan, referansi-referensi yang memiliki relevansi dengan fokus permasalahan penelitian (Iskandar, 2010)
H. Definisi Operasional
Definisi operasional dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 3.1 berikut ini:
Tabel 3.1 Defenisi Operasional NO Variabel Defenisi operasional Alat ukur Skala
Ukur Hasil ukur I Variabel Independen Pengetahuan ibu hamil
Segala sesuatu yang diketahui ibu hamil tentang definisi kelas ibu hamil, tujuan kelas ibu hamil dan manfaat kelas ibu hamil
Kuesioner Ordinal 1. Tinggi jika responden
mampu menjawab 8-10
pertanyaan dengan benar > 75%
0.Rendah jika responden mampu menjawab < 8 pertanyaan dengan benar < 75%
(Arikunto, 2010) Paritas ibu
hamil
Jumlah anak yang pernah dilahirkan oleh ibu hamil
Kuesioner Nominal 2. Primipara: jumlah anak 1 1. Multipara: jumlah anak 2-5 0. Grande multipara : jumlah
anak > 5 Dukungan
suami
Dukungan / support yang diberikan suami
kepada ibu hamil
dalam mengikuti kelas ibu hamil
Kuesioner Ordinal 1. Mendukung: jika ≥ nilai mean = 30,8
0. Tidak mendukung: jika < nilai mean= 30,8 II Variabel Dependen Pemanfaatan kelas ibu hamil
Ibu hamil yang
mengikuti kelas ibu hamil minimal 4 kali selama kehamilan
Kuesioner Nominal 1. Ya: jika ibu hamil
mengikuti kelas ibu hamil ≥ 4 kali
0. Tidak: jika ibu hamil tidak lengkap mengikuti kelas ibu hamil yaitu < 4 kali
I. Pengolahan Data
Pengolahan data pada penelitian ini dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut :
1. Editing Data
Lembar kuesioner yang telah terisi terlebih dahulu akan dilakukan
editing untuk mengecek kelengkapan data baik identitas pengisi
maupun kelengkapan lembar kuesioner berdasarkan pengisian lembar kuesioner. Kelengkapan pengisian akan dilakukan di tempat pengumpulan data, sehingga apabila terdapat ketidaksesuaian dapat segera dilengkapi.
2. Coding Data
Coding adalah usaha mengklasifikasikan jawaban atau hasil-hasil yang
ada menurut macamnya. Klasifikasi dilakukan dengan cara menandai masing-masing dengan kode berupa angka, kemudian dimasukkan dalam lembar kuesioner.
3. Entry Data
Entry data merupakan suatu proses memasukkan data ke dalam
komputer dengan pengolahan data Statistical Program For Social Sains
(SPSS) 17.0 for windows system. 4. Cleaning
Memeriksa kembali data yang telah dimasukkan ke dalam komputer untuk memastikan bahwa data tersebut bersih dari kesalahan.
5. Tabulating Data
Tabulating data merupakan kegiatan mengelompokkan dan menggolongkan data sesuai dengan variabel bebas dan terikat yang diteliti ke dalam tabel-tabel sehingga diperoleh frekuensi dari masing-masing kelompok pertanyaan dari setiap alternatif jawaban yang tersedia.
J. Analisa Data
Analisa data dilakukan menggunakan bantuan program yang disesuaikan, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Analisis Univariat
Analisa univariat digunakan untuk mengetahui distribusi frekuensi dari variabel terikat yaitu pengetahuan, paritas, dukungan suami dan pemanfaatan kelas ibu hamil.
Untuk skala pengetahuan pada penelitian ini, peneliti mengkategorikan sebagai berikut:
a. Tinggi : apabila responden menjawab 8-10 pertanyaan > 75% b. Rendah : apabila responden menjawab < 8 pertanyaan < 75%
Keterangan :
P = Persentase yang dicari F = Jumlah jawaban yang benar N = Jumlah soal
%
100
x
N
F
P
2. Analisis Bivariat
Analisis Bivariat digunakan untuk menguji hubungan antara pengetahuan, pendidikan dan dukungan suami dengan pemanfaatan kelas ibu hamil di UPTD Kesehatan Kari Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2016. Dalam menganalisa data secara bivariat, pengujian data dilakukan dengan menggunakan uji statistik chi-square untuk menganalisa pengetahuan, paritas dan dukungan suami dengan pemanfaatan kelas ibu hamil. Taraf signifikansi yang diinginkan adalah 95% (α = 0,05). Pedoman dalam menerima hipotesis: apabila
nilai probabilitas (p) < 0,05 maka H0 ditolak, apabila (p) > 0,05 maka
H0 gagal ditolak untuk masing-masing hipotesis. Prosedur uji yang
digunakan yaitu dengan menggunakan Rumus chi-square :
Keterangan ; x² = Uji Chi Square O = Frekuensi observasi
E = Frekuensi yang diharapkan (Hidayat, 2012)
Jika chi-square tidak dapat digunakan maka peneliti akan menggunakan alternatif lain yaitu dengan menggunakan rumus Fisher
Exact.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan kelas ibu hamil di UPTD Kesehatan Kari Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2016. Pengumpulan data pada penelitian ini dimulai dari tanggal 16 - 28 Mei 2016, dengan jumlah responden sebanyak 56 orang. Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian setiap variabel melalui analisis deskriptif dan analitik.
A. Analisa Univariat
Analisis univariat pada penelitian ini dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dari variabel yang diteliti, diantaranya pengetahuan, dukungan suami, paritas dan pemanfaatan kelas ibu hamil. Masing-masing distribusi frekuensi pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.1 : Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan, Dukungan Suami, Paritas dan Pemanfaatan Kelas Ibu Hamil di UPTD Kesehatan Kari Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2016
No Karakteristik Jumlah N % 1 Pengetahuan 1. Tinggi 0. Rendah Total 21 35 56 37,5 62,5 100 2 Dukungan Suami 1. Mendukung 0. Tidak mendukung Total 25 31 56 44,6 55,4 100 3 Paritas 2. Primipara 1. Multi Para Total 13 43 56 23,2 76,8 100
4 Pemanfaatan Kelas Ibu Hamil
1. Ya 0. Tidak Total 24 32 56 42,9 57,1 100
Sumber : Penyebaran Kuesioner
Dari tabel 4.1 dapat diketahui dari 56 ibu hamil, 35 ibu hamil (62,5%) berada pada kategori pengetahuan rendah, 31 ibu hamil (55,4%) berada pada kategori suami yang tidak mendukung, 43 ibu hamil (76,8%) berada pada kategori paritas multipara, dan 32 ibu hamil (57,1%) tidak memanfaatkan kelas ibu hamil.
B. Analisa Bivariat
Analisis bivariat pada penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan variabel yang diteliti, diantaranya pengetahuan, dukungan suami dan paritas dengan pemanfaatan kelas ibu hamil. Masing-masing analisisnya pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.2 : Hubungan Pengetahuan Dengan Pemanfaatan Kelas Ibu Hamil Di UPTD Kesehatan Kari Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2016
Pengetahuan
Pemanfaatan Kelas Ibu
Hamil Jumlah P value RP Ya Tidak N % N % N % 0,000 17,000 1. Tinggi 17 81 4 19 21 100 0. Rendah 7 20 28 80 35 100 Jumlah 24 42,9 32 57,1 56 100
Ket : Hasil Penelitian dilakukan dengan uji statistik Chi Square
RP : Resiko pervalen
Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui dari 21 ibu hamil yang berpengatahuan tinggi tentang kelas ibu hamil, terdapat 4 ibu hamil (19%) yang tidak memanfaatkan kelas ibu hamil, sedangkan dari 35 ibu hamil yang memiliki kategori pengetahuan rendah tentang kelas ibu hamil masih terdapat 7 ibu hamil (20%) yang memanfaatkan kelas ibu hamil. Terdapat hubungan
antara pengetahuan ibu hamil tentang kelas ibu hamil dengan pemanfaatan kelas ibu hamil, hal ini dibuktikan dengan nilai p value = 0,000 (< 0,05). Nilai RP sebesar 17,000 artinya, ibu hamil yang berpengetahuan rendah lebih berisiko 17 kali untuk tidak memanfaatkan kelas ibu hamil dibandingkan dengan ibu hamil yang berpengetahuan tinggi.
Tabel 4.3 : Hubungan Dukungan Suami Dengan Pemanfaatan Kelas Ibu Hamil Di UPTD Kesehatan Kari Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2016
Dukungan Suami
Pemanfaatan Kelas Ibu
Hamil Jumlah P value RP Ya Tidak N % N % N % 0,000 49,000 1. Mendukung 21 84 4 16 25 100 0. Tidak Mendukung 3 9,7 28 90,3 31 100 Jumlah 24 42,9 32 57,1 56 100
Ket : Hasil Penelitian dilakukan dengan uji statistik Chi Square
RP : Resiko pervalen
Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui dari 25 ibu hamil yang mendapatkan dukungan suami, terdapat 4 ibu hamil (16%) yang tidak memanfaatkan kelas ibu hamil, sedangkan dari 31 ibu hamil yang memiliki kategori tidak mendapatkan dukungan dari suami, masih terdapat 3 orang ibu hamil (9,7%) yang memanfaatkan kelas ibu hamil. Terdapat hubungan antara dukungan suami dengan pemanfaatan kelas ibu hamil, hal ini dibuktikan dengan nilai p value = 0,000 (< 0,05). Nilai RP sebesar 49,000 artinya, ibu hamil yang tidak mendapatkan dukungan suami lebih berisiko 49 kali untuk tidak memanfaatkan kelas ibu hamil dibandingkan dengan ibu hamil yang mendapatkan dukungan suami.
Tabel 4.4 : Hubungan Paritas Dengan Pemanfaatan Kelas Ibu Hamil Di UPTD Kesehatan Kari Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2016
Paritas
Pemanfaatan Kelas Ibu
Hamil Jumlah P value RP Ya Tidak N % N % N % 0,001 12,692 2. Primipara 11 84,6 2 15,4 13 100 1. Multipara 13 30,2 30 69,8 43 100 Jumlah 24 42,9 32 57,1 56 100
Ket : Hasil Penelitian dilakukan dengan uji statistik Chi Square
RP : Resiko pervalen
Berdasarkan tabel 4.4 dapat diketahui dari 13 ibu hamil yang memiliki paritas primipara, terdapat 2 ibu hamil (15,4%) yang tidak memanfaatkan kelas ibu hamil, sedangkan dari 43 ibu hamil yang memiliki kategori paritas multipara masih terdapat 13 ibu hamil (30,2%) yang memanfaatkan kelas ibu hamil. Terdapat hubungan antara paritas ibu hamil dengan pemanfaatan kelas ibu hamil, hal ini dibuktikan dengan nilai p value = 0,001 (< 0,05). Nilai RP sebesar 12,692 artinya, ibu hamil yang paritas multipara lebih berisiko 12 kali untuk tidak memanfaatkan kelas ibu hamil dibandingkan dengan ibu hamil yang paritas primipara.
BAB V
PEMBAHASAN
A. Analisa Bivariat
Sesuai dengan tujuan penelitian dan hipotesis yang didasari oleh landasan teori, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penegtahuan, dukungan suami dan paritas mempunyai hubungan yang sangat bermakna secara statistik dengan pemanfaatan kelas ibu hamil di UPTD Kesehatan Kari Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2016. Pembahasan dalam penelitian ini bertujuan untuk menginterpretasikan data hasil penelitian yaitu sebagai berikut:
1. Hubungan Pengetahuan Ibu Hamil Dengan Pemanfaatan Kelas Ibu Hamil di UPTD Kesehatan Kari Kabupaten KuantanSingingi Tahun 2016
Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa dari 21 ibu hamil yang memiliki pengetahuan tinggi tentang pemanfaatan kelas ibu hamil terdapat 4 ibu hamil (19%) yang tidak memanfaatkan kelas ibu hamil, sedangkan dari 35 ibu hamil yang memiliki kategori pengetahuan rendah tentang pemanfaatan kelas ibu hamil masih terdapat 7 ibu hamil (20%) yang memanfaatkan kelas ibu hamil. Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan uji chi square dan tingkat kepercayaan 95% didapatkan nilai p value = 0,000, artinya terdapat hubungan antara pengetahuan ibu hamil tentang pemanfaatan kelas ibu hamil dengan pemanfaatan kelas ibu hamil. Nilai RP = 17,000
artinya, ibu hamil yang berpengetahuan rendah lebih berisiko 17 kali untuk tidak memanfaatkan kelas ibu hamil dibandingkan dengan ibu hamil yang berpengetahuan tinggi.
Menurut asumsi peneliti, 4 ibu hamil yang berpengetahuan tinggi dan tidak memanfaatkan kelas ibu hamil dikarenakan 3 diantaranya memiliki paritas multipara sedangkan 1 ibu hamil tidak mendapatkan dukungan dari suami untuk melaksanakan kegiatan kelas ibu hamil. Sehingga hal ini yang menjadi alasan mengapa ibu hamil tidak memanfaatkan kelas ibu hamil. Banyaknya jumlah anak yang dimiliki oleh ibu hamil sehingga ibu hamil merasa sangat kerepotan untuk mengurusi anaknya dan tidak memiliki banyak waktu untuk mengikuti kelas ibu hamil ditambah lagi ibu hamil tidak mendapatkan dukungan dari suami, karena suami beranggapan bahwa kelas ibu hamil hanya akan membuang waktu saja, hal ini menjadi penambah alasan untuk ibu hamil tidak memanfaatkan kelas ibu hamil.
Sedangkan 7 ibu hamil yang berpengetahuan rendah akan tetapi memanfaatkan kelas ibu hamil hal ini dikarenakan 3 ibu hamil mendapatkan dukungan suami dan memiliki paritas primipara, 2 ibu hamil mendapatkan dukungan dari suami dan 2 ibu hamil memiliki paritas primipara. Dukungan suami merupakan motivasi bagi ibu hamil untuk memanfaatkan kelas ibu hamil dan jumlah anak yang sedikit membuat ibu hamil lebih banyak waktu untuk mengikuti kelas ibu hamil.
Kurangnya pengetahuan masyarakat khususnya ibu hamil dan keluarga membuat kurangnya partisipasi ibu hamil terhadap penyuluhan disaat posyandu dan kurangnya minat ibu hamil terhadap informasi tentang pentingnya kelas ibu hamil. Selain itu, hal ini disebabkan karena memang ketidaktahuan ibu hamil tentang kelas ibu hamil. Berdasarkan hasil wawancara kepada ibu hamil menyatakan bahwa, mereka memang belum pernah mendapatkan informasi tentang kelas ibu hamil, baik dari petugas kesehatan maupun dari media massa dan elektronik.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fawzia (2013) tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan program kelas ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Gladak Pakem Kabupaten Jember didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan ibu hamil dengan pemanfaatan kelas ibu hamil. Artinya semakin baik pengetahuan ibu hamil maka akan semakin memanfaatakan kelas ibu hamil, sebaliknya apabila pengetahuan kurang tentang pemanfaatan kelas ibu hamil maka ibu hamil cenderung untuk tidak memanfaatkan kelas ibu hamil.
Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Ratifah (2013) tentang hubungan pengetahuan ibu hamil tentang kelas ibu hamil dengan motivasi mengikuti kelas ibu hamil Di Puskesmas 2 Mandiraja Kabupaten Banjarnegara diperoleh hasil terdapat hubungan pengetahuan ibu hamil secara statistik dengan uji chi square dengan motivasi mengikuti kelas