i
KECAMATAN BONTOBAHARI
KABUPATEN BULUKUMBA
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
OLEH
ANDI RAHMAWATI HAMZAH 10540 11009 16
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2020
v Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : ANDI RAHMAWATI HAMZAH Stambuk : 10540 11009 16
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Judul : Pengaruh Model Value Clarification Technique (Vct) TerhadapMoralitas Siswa Dalam Pembelajaran Pkn Sdn 167 Kasuso Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba
Dengan ini menyatakan bahwa:
Skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah hasil karya sendiri, bukan hasil jiplakan atau dibuatkan oleh siapapun.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.
Makassar, September 2020
Yang membuat pernyataan
ANDI RAHMAWATI HAMZAH
vi
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
SURAT PERJANJIAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : ANDI RAHMAWATI HAMZAH Stambuk : 10540 11009 16
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:
1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesainya skripsi ini, saya yang menyusunnya sendiri (tidak dibuatkan oleh siapapun).
2. Dalam penyusunan skripsi ini, saya selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pimpinan fakultas. 3. Saya tidak melakukan penjiplakan (plagiat) dalam penyusunan skripsi
ini.
4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2, dan 3 maka saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku. Demikian surat perjanjian ini saya buat dengan sebenarnya dan penuh kesadaran.
Makassar, September 2020 Yang membuat pernyataan
ANDI RAHMAWATI HAMZAH
vii
Pendidikan merupakan perlengkapan paling baik untuk hari
tua
Kegagalan hanya terjadi bila kita menyerah
Masa lalu hanya boleh disesali jika ada
kesalahan-kesalahan, tetapi jadikan penyesalan itu sebagai senjata
untuk masa depan agar tidak terjadi kesalahan lagi
Rencanakan aktivitasmu dan selesaikan rencanamu
BERDOA, USAHA, IKHTIAR
“Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah“
PERSEMBAHAN
Kupersembahkan skripsiku ini untuk kedua orang tuaku,
kakak-kakak ku dan sahabat-sahabatku
viii ABSTRAK
Andi Rahmawati Hamzah . 2020.Pengaruh Model VCT Terhadap Moralitas Siswa Dalam Pembelajaran Pkn SDN 167 Kasuso Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba. Skripsi. Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Andi Sugiati, dan pembimbing II Jumiati Nur.
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dalam membentuk watak serta peradaban bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis, dan bertanggung jawab. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Pengaruh model vct terhadap moralitas siswa dalam pembelajaran Pkn siswa SDN 167 Kasuso Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba.
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen bentuk Pre Test Post Test Design yaitu sebuah eksperimen yang dalam pelaksanaannya hanya melibatkan satu kelas sebagai kelas eksperimen tanpa adanya kelas pembanding (kelas kontrol) yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan model vct terhadap moralitas siswa dalam pembelajaran Pkn SDN 167 Kasuso Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba tahun ajaran 2020/2021. Satuan eksperimen dalam penelitian ini adalah murid Kelas V sebanyak 11 orang.
Atas dasar penelitian yang telah diuraikan, penulis memberikan saran, yaitu hendaknya pemerintah memperhatikan peningkatan mutu dan kualitas pendidikan dengan memberikan sarana dan prasarana yang lebih menunjang prestasi siswa juga meningkatkan mutu pembelajaran.Maka dapat diambil kesimpulan bahwa pengelolaan pembelajaran yang dilakukan guru kelas sangat efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang bermutu.
ix
Alhamdulillahirabbil ‘Alamin puji dan syukur kehadirat Allah swt atas segala limpahan rahmat dan segala nikmat yang selalu tercurahkan kepada penulis, salam dan salawat kepada junjungan Nabi Muhammmad saw, keluarga, sahabat dan seluruh ummat muslim yang tetap istiqomah pada ajarannya. Pada kesempatan ini penulis mendapat nikmat yang luar biasa karena dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai tugas akhir untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Dalam penyusunan sikripsi ini, tidak sedikit mengalami hambatan, akan tetapi atas berkat pertolongan sang Khalik Allah Swt penulis dapat mengatasinya dengan baik. Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan sebagaimana layaknya sebuah karya ilmiah. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritikan dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan skripsi ini.
Ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuannya baik berupa moril maupun materil dalam penyelesaian skripsi ini mulai dari awal sampai selesai. Ucapan terima kasih yang tak terhingga dan
x
teristimewa untuk yang penulis cintai dan mencintai penulis dengan sepenuh hati kepada.
Ayahanda terhormat Hamzah A,Ma.Pd dan Ibunda Ruhiyatun yang telah membesarkan dan mendidik penulis dengan penuh kasih sayang. Harapan dan cita-cita luhur keduanya senantiasa memotivasi penulis untuk berbuat dan menambah ilmu, juga memberikan dorongan moralmaupun material serta doa yang tulus buat Ananda.
Demikian pula penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar besarnya kepada ibu Dr. Andi Sugiati, M.Pd., selaku Pembimbing I, Dra. Jumiati Nur, M.Pd., selaku Pembimbing II yang dengan ikhlas meluangkan waktunya memberikan petunjuk, arahan, dan motivasi kepada penulis.
Tak lupa penulis juga mengucapkan terima kasih kepada bapak Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Erwin Akib, S.Pd., M.Pd., Ph.D., Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar, Aliem Bahri, S.Pd., M.Pd., Ketua Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar, Ernawati, S.Pd, M.Pd., Sekretaris Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar, Bapak dan Ibu Dosen pada Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan bekal dan ilmu pengetahuan selama mengikuti pendidikan.
xi
melakukan penelitian. staf SDN 167 Kasuso. Bapak dan Ibu guru serta sahabat tercinta, serta teman-teman seperjuanganhususnya kelas 16.A terima kasih atas keikhlasan dan kerja samanya selama menggeluti perkuliahan. Pihak-pihak lain yang telah banyak membantu penulis sehingga tugas akhir ini dapat terselesaikan dengan baik.
Dan tiada imbalan yang dapat diberikan oleh penulis, hanya kepada Allah Swt penulis menyerahkan segalanya dan semoga bantuan yang diberikan selama ini bernilai ibadah di sisi-Nya Amin.
Makassar, Agustus 2020
xii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... ii
ABSTRAK……… ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix DAFTAR BAGAN ... x BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 5 C. Tujuan Penelitian ... 5 D. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka ... 7
B. Kerangka Pikir ... 25
C. Hipotesis Penelitian ... 27
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis ... 29
B. Lokasi Dan Waktu Penelitian ... 30
C. Sumber Data ... 30
xiii
H. Teknik Analisis Data……… 34
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin ... 38
B. Hasil Observasi ... 49
C. Angket……….. 43
D. Pembahasan ………. 46
BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 48
B. Saran ... 49 DAFTAR PUSTAKA
xiv DAFTAR TABEL
Tabel 4.1Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin ... 39
Tabel 4.2 Hasil rekapitulasi lembar observasi ... 40
Tabel 4.3 Distribusi frekuensi observasi siswa ... 42
Tabel4.4 Lembar observasi siswa ... 42
Tabel 4.5 Angket perkembangan moral siswa ... 43
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan sangat penting bagi suatu bangsa atau negara karena pada dasarnya pendidikan adalah awal dari perubahan menuju hal yang lebih baik.Mutu pendidikan sangat menentukan majunya suatu negara dan generasi yang diciptakan. Mundurnya pendidikan akan membawa dampak yang sangat besar, sehingga perlu adanya inovasi dan kreativitas dari para pendidik sebagai suatu komponen yang ada dalam pendidikan dan juga sebagai bagian yang terlibat langsung. Tujuan pendidikan nasiaonal Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3 tentang sistem Pendidikan Nasional berikut :
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Badan Standar Nasional Pendidikan (2006) mengemukakan bahwa “tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut”. Dalam hal ini berarti proses pendidikan berujung pada pembentukan sikap,pengembangan kecerdasan atau intelektual serta pengembangan keterampilan siswa sesuai kemampuan dan kebutuhan. Ketiga aspek ini (sikap,
kecerdasan dan keterampilan) adalah arah dan tujuan pendidikan yang harus diupayakan.
Pendidikan menjadi salah satu aspek yang sangat penting dalam kehidupan, karena melalui pendidikan seseorang yang awalnya tidak tahu menjadi tahu, tidak paham menjadi paham, tidak bisa menjadi bisa. Selain itu, pendidikan juga menentukan kulitas seseorang.
Jenjang pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikanyang paling fundamental dalam pemberian konsep pengetahuan.Pendidikankhususnya pada Sekolah Dasar sangat menentukan langkah seseorang dalammelanjutkan jenjang pendidikannya.Pendidikan di Sekolah Dasar memilikibeberapa mata pelajaran yang sangat penting bagi kehidupan manusiadikemudian hari. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan salah satumata pelajaran yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat dancenderung pada pendidikan afektif yang berhubungan langsung dengan sikapseseorang khususnya anak-anak yang banyak dipengaruhi oleh lingkungan,baik itu lingkungan keluarga, sekolah, maupun lingkungan temanbermainnya.
Sesuai dengan PP Nomor 32 Tahun 2013 penjelasan pasal 77 J ayat (1)tentang struktur kurikulum ditegaskan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air dalam konteks nilai dan moral Pancasila, kecerdasan berkonstitusi UUD Negara Republik Indonesia 1945, nilai dan semangat Bhineka Tunggal Ika, serta komitmen NKRI.
3
Pada pasal 5 UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) yang menyatakan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Pendidikan yang bermutu dan berkualitas menjadi dambaan masyarakat, bangsa dan negara.
Menurut Andi Baso dan Nasrun Hasan (2015:4)Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan adalah “wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya bangsa Indonesia yang diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk perilaku dalam kehidupan sehari-hari baik sebagai individu, anggota masyarakat, warga negara dan mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa”.
Pembelajaran PKn merupakan ilmu yang diperoleh dan dikembangkan berdasarkan terpaanmoral yang mencari jawaban atas pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana gejala-gejala sosial, khususnya yang berkaitan dengan moral serta prilaku manusia. Pendidikan Kewarganegaraan adalah wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya bangsa Indonesia yang diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk perilaku dalam kehidupan sehari-hari siswa baik sebagai individu, masyarakat, warganegara dan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
Pola pembelajaran VCT menurut A. Kosasih Djahiri (1992) dianggap unggul untuk pembelajaran afektif karena: pertama, mampu membina dan mempribadikan (personalisasi) nilai moral. Kedua, mampu mengklarifikasi dan mengungkapkan isi pesan nilai moral yang disampaikan.Ketiga,mampu mengklarifikasi dan menilai kualitas nilai moral diri siswa dan nilai moral dalam
kehidupan nyata. Keempat, mampu mengundang, melibatkan, membina dan mengembangkan potensi diri siswa terutama potensi afektualnya.Kelima, mampu memberikan pengalaman belajar berbagai kehidupan.Keenam, mampu menangkal, meniadakan, mengintervensi berbagai nilai moral baikyang ada dalam sistem nilai dan moral yang ada dalam diri seseorang.Ketujuh, menuntun dan memotivasi hidup layak dan bermoral tinggi.
Pada kegiatan wawancara/Observasi dikelas V SDN 167 Kasuso pada proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di temukan siswa-siswa kelas V pada proses pembelajaran Pedidikan Kewarganegaraan (PKn) kurang menghargai guru dalam pembelajaran yang terkait pada kondisi proses pembelajaran. Beberapa siswa kurang memperhatikan penjelasan guru dan sibuk sendiri. Hanya siswa tertentu yang aktif saat proses pembelajaran berlangsung. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah kurangnya pemanfaatan papan tulis, serta belum optimalnya pemanfaatan media pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi membosankan. Hal ini terlihat ketika siswa kurang antusias dan kurang tertarik pada pembalajaran, sehingga dampaknya kurang aktifnya siswa saat proses pembelajaran. Saat proses tanya jawab berlangsung kebanyakan dari siswa hanya diam dan hanya beberapa siswa tertentu yang berani untuk mengungkapkan pendapatnya.
Berdasarkan uraian tersebut, dalam penelitian ini peneliti mengangkat judul “Pengaruh Model Value Clarification Technique (VCT) Terhadap Moralitas Dalam Pembelajaran Pkn SDN 167 Kasuso Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba.”
5
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas, maka rumusan masalah dalam peneitian ini adalah “Apakah Ada Pengaruh Penggunaan Model VCT Terhadap Moralitas Siswa Dalam Pembelajaran PKn SDN 167 Kasuso Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba.”?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah “untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penggunaan model VCT terhadap moralitas siswa dalam pembelajaran PKn SDN167 Kasuso Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba?”.
D. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan tentang moral.
b. Manfaat Praktis 1) Bagi Sekolah
Sebagai bahan referensi dalam upaya pembenahan dan meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar mengajar
2) Bagi Guru
Dapat mengetahui penggunaan metode pembelajaran yang dapat menimbulkan perhatian dan motivasi siswa dan dapat memperbaiki serta meningkatkan sistem pembelajaran khususnya Pkn.
7 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Pustaka
1. Penelitian Relevan
Fairizah Haris Dan Ganes Gunansyah (2013), “Penerapan Model Pembelajaran VCT (Value Clarification Technique) untuk meningkatkan kesadaran nilai menghargai jasa para pahlawan pada siswa sekolah dasar” Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran VCT dapat meningkatkan kesadaran nilai menghargai jasa pahlawan serta semakin banyak siswa yang mencapai skor ketuntasan minimal yang ditentukan.
Jandut Gregorius (2011) “Penerapan Model Pembelajaran VCT Modifikasi Sebagai Upaya Membina Kesadaran Nilai pada siswa dalam pembelajaran Pkn kelas V SDN Sumur Welut 3 Surabaya”
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model VCT modifikasi pada mata pelajaran Pkn SD, guru dapat membantu siswa mengidentifikasi nilai dan mengklarifikasi sikap diri dengan baik oleh siswa karena menyenangkan dan berhasil leih baik dalam penilaian skala sikap dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional.
Endah Wahyuningsih (2006) “Penggunaan Model VCT Game Role Playing dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Pkn di sekolah”
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran VCT Game Role Playing dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yaitu siswa termotivasi untuk mengikuti pelajaran yang melibatkan potensi efektifnya untuk merasakan suatu kejadian dalam peristiwa yang disesuaikan dengan materi pelajaran.
Pembelajaran VCT berbantuan Media Gambar terhadap Nilai Karakter Siswa kelas V SD Gugus V Tajun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai karakter siswa pada kelas V antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan metode VCT berbantuan media gambar dengan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan metode pembelajaran konvensional.
2. Model VCT (value clarificationtechnique)
a. Pengertian model VCT (value clarification technique)
Menurut Toyibin dan Djahiri yang dikutip oleh Chotimah dalam Rahayudhi dkk (2013:4) menyatakan bahwa “VCT berasal dari kata Value Clarification dan Technique.Kata Value berarti nilai yang berasal dari kata Vlure (bahasa latin), yang artinya baik atau kuat. Sedangkan arti Clarification Technique adalah teknik mengklarifikasi (memperjelas, mengungkapkan, memperinci) nilai”.
Menurut Sanjaya dalam Anggarini dkk (2013: 4)menyatakan bahwa “model Pembelajaran dengan cara mengklarifikasi nilai value clarification technique merupakan pengajaran untuk membentuk siswa
9
dalam mencari dan menentukan suatu nilai yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalan melalui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri siswa”.
Menurut Djahiri dalam Wahyuni dkk (2014: 3) menyatakan bahwa“VCT dimaksudkan untuk melatih dan membina siswa tentang bagaimana cara menilai, mengambil keputusan terhadap suatu nilai umum untuk kemudian dilaksanakannya sebagai warga masyarakat”
Menurut Taniredja dalam Rahayudhi dkk (2013: 4) menyatakan bahwa“model pembelajaran VCT yaitu model pembelajaran yang memungkinkan partisipasi aktif siswa, dapat mengarahkan pembelajaran pada tujuan dan memungkinkan terjadinya proses internalisasi nilai moral melalui cara-cara yang rasional, komunikatif, dan edukatif sehingga siswa dapat menjunjung tinggi nilai yang dianutnya secara kukuh dalam kehidupan sehari-hari”.
Rahayudhi, dkk(2013: 4) menyatakan bahwa “Value Clarification Technique atau teknik mengklarifikasi nilai (TMN) adalah suatu nama atau label dari suatu model pendekatan dan strategi belajar mengajar khusus untuk pendidikan nilai dan moral”.
b. Kelebihan dan keunggulan model VCT (value clarification technique)
Pola pembelajaran VCT menurut Djahiri dalam Winataputra dkk (2008: 5.45) “dianggap unggul untuk pembelajaran afektif karena: pertama, mampu membina dan mempribadikan (personalisasi) nilai
moral. Kedua, mampu mengklarifikasi dan mengungkapkan isi pesan nilai moral yang disampaikan.Ketiga, mampu mengklarifikasi dan menilai kualitas nilai moral diri siswa dan nilai moral dalam kehidupan nyata.Keempat, mampu mengundang, melibatkan, membina dan mengembangkan potensi diri siswa terutama potensi afektualnya.Kelima, mampu memberikan pengalaman belajar berbagai kehidupan.Keenam, mampu menangkal, meniadakan, mengintervensi berbagai nilai moral baik yang ada dalam sistem nilai dan moral yang ada dalam diri seseorang.Ketujuh,menuntun dan memotivasi hidup layak dan bermoral tinggi”.
Menurut Taniredja dkk dalam Nandari dkk (2013: 3) “keunggulan dari model VCT ini model ini mampu mengungkapkan isi pesan materi yang disampaikan melalui pemahaman nilai moral dalam kehidupan nyata”.
Sanjaya dalam Nandari dkk (2013: 3) mengemukakan bahwa “VCT akan membantu siswa dalam mencari dan menentukan suatu nilai yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalan melalui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri siswa”.
Wahyuni,dkk(2014: 3) menyatakan bahwa “keunggulan teknik VCT yaitu Pertama, mampu membina dan menanamkan nilai dan moral pada ranah internal slide. Kedua,mampu mengklarifikasi atau menggali dan mengungkapkan isi pesan materi yang disampaikan selanjutnya akan memudahkan bagi guru untuk menyampaikan makna, pesan nilai, dan
11
norma. Ketiga, mampu mengklarifikasi dan menilai kualitas nilai moral dari siswa, melihat nilai yang ada pada orang lain dan memahami nilai moral yang ada dalam kehidupan nyata. Keempat,mampu mengundang, melibatkan, membina, dan mengembangkan potensi diri siswa terutama mengembangkan potensi sikap. Kelima, mampu memberikan sejumlah pengalaman belajar dari berbagai kehidupan.Keenam,mampu menangkal, meniadakan, mengintervensi dan memadukanberbagai nilai moral dalam sistem nilai dan moral yang ada dalam diri seseorang”.
c. Langkah-langkah model VCT (value clarification technique)
Menurut Djahiri dalam Winataputra dkk (2008: 5.45) Model pembelajaran VCT meliputi:
1) Metode percontohan 2) Analisis nilai
3) VCT daftar/Matriks yang meliputi a) Daftar baik-buruk
b) Daftar tingkat urutan c) Daftar skala prioritas 4) Daftar gejala kontinum 5) Daftar penilaian diri
6) Daftar membaca fikiran orang lain tentang diri kita 7) Perisai kepribadian diri
8) VCT dengan kartu keyakinan 9) VCT melalui teknik wawancara
10) Teknik yurisprudensi; dan 11) Teknik inkuiri nilai.
Menurut Winata dalam Rahayudhi dkk (2012: 4) Langkah-langkah(Sintaks) Model VCTdimulai dari:
1) Pelontran media/stimulus
Aplikasinya dimulai dengan pelontaran media/stimulus pada siswa yang berisi konflik nilai moral yang membingungkan dan dapat melabilkan keseimbangan proses kognitif siswa.
2) Memilih(choosing)
Kemudian siswa terlibat untuk menyelidiki problema tersebut dengan cara diskusi dan memilih cara penyelesaian problema tersebut bersama dengan teman kelompok (memilih/choosing).
3) Menghargai (prizing)
Setelah itu guru mengkondisikan siswa agar mereka bisa merasakan atau meyakini nilai yang dipilih dengan menyusun laporan hasil diskusi.(Menghargai/prizing).
4) Bertindak (acting)
Selanjutnya, setelah siswa yakin atas plihan nilainya yang dituangkan dalam laporan, siswa diminta untuk menyajikan nilai pilihannya di depan kelas (Berbuat/acting)
5) Penekanan nilai
Setelah itu guru memberikan penekanan nilai pada nilai pilihan siswa agar siswa tidak memilih nilai yang salah.
13
6) Refleksi, Kegiatan selanjutnya adalah siswa merefleksi diri. 7) Kesimpulan, dan menyimpulkanpembelajaran.
3. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn)
a. Pengertian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Rumiati (2008:25) menjelaskan “PKN (N) adalah Pendidikan Kewargaan Negara, sedangkan PKn (n) adalah Pendidikan Kewarganegaraan merupakan terjemahan civic.
Kaelan dan Achmad Zubaidi (2010:1) “ Pendidikan Kewarganegaraan sebenarnya dilakukan dan dikembangkan diseluruh dunia, meskipun dengan berbagai macam istilah atau nama. Mata kuliah tersebut sering disebut sebagai civic education, citizenship education, dan bahkan ada menyebutkan sebagai democracy education. Mata kuliah ini memiliki peran yang sangat strategis dalam mempersiapkan warga negara yang cerdas, bertanggung jawab dan keadaban”.
Menurut Amin (2009: 1.31) “Pendidikan Kewarganegaraan diartikan sebagai usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar pada masa yang akan datang dapat menjadi patriot, patriotisme sebagai pembela tanah air, bangsa dan negara”.
Menurut Andi Baso dan Nasrun Hasan (2015: 4).“Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan adalah wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai luhur dan adat istiadat, moral yang berakar pada budaya bangsa Indonesia yang diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk dan kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan antara warga
negara perilaku dalam kehidupan sehari-hari para mahasiswa PGSD baik bagi individu, anggota masyarakat, warga negara, dan makhluk ciptaan Tuhan yang Maha Esa.
Wahab, dkk. (2007: i) menyatakan bahwa“Mata kuliah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) merupakan program pendidikan yang memiliki misi untuk mengembangkan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya dan keyakinan bangsa Indonesia yang memungkinkan dapat diwujudkan dalam perilaku dalam kehidupan sehari-hari”.
“Kewarga Negaraan Merupakan terjemahan dari Civicsyang merupakan mata pelajaran sosial yang bertujuan membina dan mengembangkan anak didik agar menjadi warga negara yang baik (good citizen)”.Somantri (Wahab dkk 2007:1.4).
Dalam kurikulum Dikdas (Depdikbud 1994) yang juga merupakan penjelasan pasal 39 ayat (2) UU No.2 tahun 1994: “Pendidikan Kewarganegaraan merupakan usaha untuk membekali siswa dan kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan antara warga negara dengan negara serta pendidikan pendahuluan bela negara agar menjadi warga negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara”. (Wahab dkk 2007:1.6)
Wahab, dkk. mengemukakan bahwa “PPKn merupakan mata pelajaran yang bersifat multidimensional, yang merupakan pendidikan nilai dan pendidikan moral, pendidikan sosial, dan masalah pendidikan
15
politik.materi PPKn adalah konsep-konsep nilai Pancasila dan UUD 45 beserta dinamika perwujudan dalam kehidupan masyarakat Negara Indonesia.PPKn dapat dikatakan sebagai program pembelajaran nilai dan moral Pancasila dan UUD 45 yang bermuara pada terbentuknya watak Pancasila dan UUD 45 dalam diri peserta didik.Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang digunakan sebagai wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya bangsa Indonesia.Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yaitu membekali siswa dengan budi pekerti, pengetahuan dan kemampuan dasar berkaitan dengan hubungan antara warga negara dengan negara serta pendidikan pendahuluan bela negara agar menjadi warga negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara”. (2007: 1.19,1.22,2.5)
Menurut Depdiknas dalam Wahyuni dkk (2014: 2) bahwa “Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945”.
b. Tujuan Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan
Menurut Amin (2009: 1.38) bahwa“pendidikan ini diselenggarakan untuk membekali para mahasiswa selaku calon
pemimpin dimasa depan dengan kesadaran bela negara serta kemampuan berpikir secara komprehensif integral dalam rangka ketahanan Nasional”.
Andi Baso dan Nasrun Hasan mengemukakan bahwa “tujuan PPKn menurut kurikulum tahun 1994,tujuannya adalah meningkatkan pengetahuan dan pengembangankemampuan memahami, menghayati, dan meyakini nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman perilaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sehingga menjadi warga negara yang bertanggung jawab dan dapat diandalkan serta memberi bekal kemampuan untuk belajar lebih lanjut. Tujuan dan fungsi PPKn misi pentingyang diembannya adalah sebagai, pendidikan nilai dan moral Pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945, pendidikan politik, Pendidikan Kewarganegaraan”. (2015: 14,16)
Menurut Permendiknas dalam Rahayudhi dkk (2013: 2) bahwa“Pendidikan Kewarganegaraan memiliki tujuan tentang Standar Isi untukSatuan Pendidikan Dasar dan Menengahyaitu untuk meningkatkan kesadaran danwawasan peserta didik akan status, hakdan kewajibannya dalam kehidupanbermasyarakat, berbangsa, dan bernegaraserta peningkatan kualitas dirinya sebagaimanusia”.
Rahayudhi, dkk.(2013: 3) mengemukakan bahwa “tujuan akhir pembelajaran PKn adalah agar siswa bisa bertingkahlaku sesuai dengan Pancasila, namun aspek kognitif siswa juga sangat perlu untuk ditingkatkan”.
17
Wahab, dkk. (2007: 1.7) menyatakan bahwa “tujuan dan lingkup PPKn di SD adalah pemahaman dan pengalaman serta penerapan konsep, nilai, moral, norma Pancasila dan hak dan kewajiban warga negara untuk kepentingan kehidupan sehari-hari dan dasar pendidikan di SLTP”.
Winataputra (2008: 1.20) menyatakan bahwa “tujuan Pendidkan Kewarganegaraan adalah partisipasi yang penuh nalar dan tanggung jawab dalam kehidupan politik dari warga negara yang taat kepada nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar demokrasi konstitusional Indonesia”.
Wahab, dkk.menyatakan bahwa “tujuannya yaitu “menanamkan sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari yang didasarkan kepada nilai-nilai Pancasila baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat dan memberikan bekal kemampuan untuk mengikuti kemampuan di SLTP.tujuan PPKn yaitu membina nilai-nilai moral dalam diri anak didik” (2007: 2.6,7,6)
Depdiknas dalam Wahyuni dkk (2014: 2) menyatakan bahwa “tujuan pembelajaran PKn adalah untuk memberikan kompetensi sebagai berikut: a) Berpikir kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu Kewarganegaraan, b) Berpartisipasi secara cerdas dan tanggung jawab, serta bertindak secara sadar dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, c) Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat di Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain, d) Berinteraksi
dengan bangsa-bangsa lain dalam peraturan dunia secara langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi”.
Depdikbud dalam Wahab dkk. (2007: 2.10) menyatakan bahwa“tujuan PPKn SD adalah menanamkan sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari,yang didasarkan kepada nilai-nilai Pancasila baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat,dan memberi bekal kemampuan untuk mengikuti pendidikan di SLTP”.
c. Ruang Lingkup Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan (PPKn)
Mata pelajaran PKn memiliki klasifikasi materi yang dirangkum dalam ruang lingkup pembelajaran. Ruang lingkup pada materi mata pelajaran PKn sesuai Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, meliputi
1) Persatuan dan kesatuan bangsa 2) Norma, hukum dan peraturan 3) Hak asasi manusia
4) Kebutuhan warga negara 5) Konstitusi negara
6) Kekuasaan dan politik 7) Pancasila
8) Globalisasi
Berdasarkan uraian diatas, dapat dijelaskan bahwa materi pembelajaran pada mata pelajaran PKn terangkum dalam ruang lingkup
19
mata pelajaran PKn yang terdiri dari beberapa aspek, meliputi ruang lingkup kesatuan dan kesatuan bangsa, ruang lingkup norma, hukum dan peraturan, ruang lingkup HAM (Hak Asasi Manusia), ruang lingkup kebutuhan dan konstitusi negara,ruang lingkup kekuasaan dan politik, ruang lingkup Pancasila serta ruang lingkup globalisasi.
Andi Baso dan Nasrun Hasan menyatakan bahwa“ruang lingkup materi pelajaran PPKn meliputi nilai moral Pancasila adalah nilai moral dan norma Pancasila yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.Ruang lingkup itu meliputi juga kehidupan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Ruang lingkup PPKn tersebut mencakup spectrum yang dalam kerangka pengamalan nilai-nilai moral Pancasila dalam berbagai segi kehidupan baik sebagai individu, anggota keluarga, masyarakat, dan warga negara.Walaupun hal itu mengcakup spectrum, kehidupan yang luas namun pada prinsipnya PPKn diarahkan pada terbentuknya warga negara yang baik yaitu warga negara yang patuh terhadap negara dan pemerintah memahami dengan baik hak-hak dan kewajiban-kewajibannnya serta senantiasa memupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa”. (2015: 17)
Wahab, dkk.(2007: 1.7) menyatakan bahwa“lingkupnya adalah pemahaman dan pengamalan serta penerapan konsep, nilai, moral, norma Pancasila dan hak dan kewajiban warga negara untuk kepentingan
kehidupan sehari-hari dan dasar pendidikan di SLTP.Nilai moral dan norma bangsa Indonesia serta perilaku yang diharapkan terwujud dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sebagaimana dimaksud dalam pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila”. (2007: 1.7,2.10)
Menurut Depdikbud dalam Wahab dkk. (2007: 7.6) menyatakan bahwa“kehidupan ideologi politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan di Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945”.Sedangkan luas liputan, kedalaman dan tingkat kesukaran materi pelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan belajar murid pada satuan pendidikan yang bersangkutan sebagaimana tercantum dalam program pengajaran.
d. Dasar Hukum Kewarganegaraan Indonesia
Kewarganegaraan berkaitan dengan identitas nasional suatu individu di dalam bangsanya.Sebelum mencapai kemerdekaannya, Indonesia telah melewati berbagai rintangan berat melalui pencapaian-pencapaian para pemuda Indonesia yang rela berkorban demi bangsa dan Negara.
Hukum kewarganegaraan, dilandasi oleh sikap nasionalisme yang menjadi dasar maksud pembuatannya. Apabila seorang individu tinggal dalam suatu Negara, bagaimana pandangannya terhadap Negara itu, dan apakah individu itu hendak berpartisipasi
21
Berikut ini akan dijelaskan berbagai dasar hokum kewarganegaraan Indonesia yang perlu diperhatikan oleh kita sebagai warga Negara yang baik. Pembukaan UUD 1945 pada alinea kedua dan keempat, yang mencantumkan cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia setelah merebut kemerdekaannya.Pasal 27 ayat 1 mengenai kesamaan kedudukan semua warga Negara di mata hokum.Pasal 27 ayat 3 tentang hak dan kewajiban seluruh warga Negara untuk berupaya membela negaranya.
4. Moral
a. Pengertian Moral
Wahab, dkk.(2007: 1.6) menyatakan bahwa“penjelasan pasal 39 ayat (2) UU Nomor 2 tahun 1989 berbunyi Pendidikan Pancasila mengarahkan perhatian pada moral yang diharapkan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari,yaitu perilaku yang memancarkan iman dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam masyarakat yang terdiri dari berbagai golongan agama, perilaku yang bersifat kemanusiaan yang adil dan beradab, perilaku yang mendukung persatuan bangsa dalam masyarakat yang beraneka ragam kebudayaan dan golongan sehingga perbedaan pemikiran, pendapat, ataupun kepentingan di atas melalui musyawarah dan mufakat, serta perilaku yang mendukung upaya untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.
Menurut Graham dalam Wahab dkk. (2007: 3.5) menyatakan bahwa“moral berasal dari bahasa Latin mores yang artinya rules of conducts atau aturan perilaku yang berlaku dalam masyarakat”.
Wahab, dkk.(2007: 3.6) menyatakan bahwa“moral adalah prinsip baik dan buruk sedang moralita adalah kualitas perkembangan baik dan buruk yang dimiliki individu.Moral/moralita adalah tuntutan penampilan kebaikan yang dimiliki individu sebagai moralita yang sayangnya tercermin dalam penalaran, sikap, dan perilaku.Kemampuan dasar terkait moral adalah kesediaan siswa untuk memenuhi tuntutan perilaku sesuai dengan suatu konsep dan nilai”. (2007: 3.6,3.65)
Menurut L. Kohlberg, “pada usia 9 tahun anak berada pada tahap perkembangan prekonventional, anak mulai peka terhadap berbagai aturan yang berlatar belakang budaya dan terhadap penilaian baik buruk, benar salah, namun anak tersebut mengartikannya dari sudut sebab akibat fisik suatu tindakan atau dari sudut enak tidaknya akibat tersebut”. Atmaka (Wahab dkk 2007:7.3)
Zuriah (2007: 22) Menyatakan bahwa “pendidikan moral adalah suatu program pendidikan (sekolah dan luar sekolah) yang mengorganisasikan dan menyederhanakan sumber-sumber moral yang disajikan dengan memperhatikan pertimbangan psikologis untuk tujuan pendidikan”.
b. Perkembangan Moral
Perkembangan moral adalah perubahan penalaran, perasaan, dan prilaku menurut aturan atau kebiasaan mengenai hal-hal yang seharusnya dilakukan seseorang ketika berinteraksi dengan orang lain.
23
Perkembangan moral sangat berpengaruh terhadap lingkungan sehingga pada masa anak-anak ini, orang tua dan lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkembangan moral anak, baik untuk kedepannya dan begitupun sebaliknya. Jika si anak sejak kecil hanya menerima perlakuan yang negative maka si anak akan berkembang tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh orang tuanya. Perkembangan moral pada anak dapat berlangsung melalui beberapa cara, yaitu :
1. Pendidikan langsung
Pada cara pendidikan langsung dapat melalui penanaman pengertian tentang tingkah laku yang benar dan salah
2. Identifikasi
Pada cara identifikasi dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasi atau meniru penampilan atau tingkah laku seseorang yang diidolakan seperti orang tua, kiai, dan lain-lain.
c. Kecerdasan Moral
Lickona (2008:65) mengemukakan ada enam nilai moral dalam kecerdasan moral, yaitu :
1. Hati nurani
Hati nurani memiliki dua sisi: sisi kognitif yaitu pengetahuan tentang apa yang baik serta menuntun kita dalam menentukan hal yang benar dan sisi emosional yaitu merasa wajib melakukan apa
yang baik dan benar. Jika nurani merasa wajib untuk berbuat sesuatu, maka ia akan merasa bersalah jika tidak melakukannya. 2.Harga diri
Harga diri adalah kemampuan merasa bermartabat karena memiliki kebaikan atau nilai luhur.Harga diri yang tinggi pada diri seseorang tidak menjamin karakter yang baik pada seseorang tersebut.Sangat mungkin adanya keinginan seseorang untuk memiliki harga diri yang didasarkan atas hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan karaakter baik seperti harta, tampilan bagus, popularitas.
3. Empati
Empati adalah kemampuan mengenali atau merasakan keadaan yang tengah dialami oleh orang lain. Ibarat kata empati memungkinkan kita keluar dari kulit kita dan masuk ke dalam kulit orang lain.
4. Cinta kebaikan
Cinta kebaikan memiliki definisi yaitu bentuk tertinggi dari karakter yang mencakup ketertarikan sejati atau tulus pada kebaikan.Ketika orang mencintai kebaikan, mereka mendapatkan rasa senang dalam melakukan kebaikan.
5. Kontrol diri
Kontrol diri adalah emosi yang dapat menenggelamkan penalaran.Kontrol diri dapat membantu kita bermoral bahkan
25
ketika kita tidak ingin bermoral, ketika sedang marah pada sesuatu.
6. Rasa hormat
Rasa hormat memiliki pengertian menghargai orang lain dengan berlaku baik dan sopan. Kebajikan ini mengarahkan anak memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin orang lain memperlakukan dirinya, sehingga mencegah anak bertindak kasar, tidak adil, bertindak memusuhi. Jika anak terbiasa bersikap hormat terhadap orang lain, Ia akan memperhatikan hak-hak serta perasaan orang lain, akibatnya ia juga akan menghormati dirinya sendiri.
B. Kerangka Pikir
Sikap demokratis pada mata pelajaran PKn dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu yang mempengaruhi adalah penerapan model pembelajaran yang digunakan oleh guru. Penggunaan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa maupun materi pelajaran dapat membantu guru dan siswa mampu meningkatkan nilai moral sesuai tujuan pembelajaran yang direncanakan.
Selama ini model pembelajaran PKn yang diterapkan kurang efektif yakni guru dalam mengajar masih cenderung menggunakan model yang tidak sesuai dengan pembelajaran sehingga pemahaman siswa tidak optimal. Oleh karena itu dalam pembelajaran guru hendaknya menerapkan model yang sesuai dengan
pembelajarannya sehingga siswa dapat mengembangkan pemahamannya serta dapat mengaplikasikan sikap demokratis dalam kehidupan sehari-hari.
Penggunaan model VCT pada pembelajaran PKn dilakukan pada aspek pembinaan moral. Model pembelajaran VCT merupakan model pembelajaran yang menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar lebih diwarnai student centered daripada teacher centered. Sebagian besar waktu proses belajar mengajar. Sebagain besar waktu proses belajar mengajar berlangsung dengan berbasis pada aktivitas siswa. Dengan demikian proses belajar dan pembelajaran mengintegrasikan aktivitas moral, dengan model pembelajaran VCT diharapkan siswa dapat memahami nilai demokrasi dan pada akhirnya dapat bersikap demokratis .
27
Berikut ini adalah bagan yang mengambarkan kerangka pikir yang melandasi pelaksanaan penelitian.
Gambar 2.1 Alur Kerangka Pikir
C. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka pikir yang telah dipaparkan diatas maka hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:“Terdapat pengaruh yang signifikan antara Pengaruh Model Value Clarification Technique (VCT) dengan Moralalitas siswa dalam Pembelajaran PKn SDN 167Kasuso Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba“.
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)
Kegiatan Proses Belajar Mengajar
Sesudah Menggunakan Model Value Clarification Technique
Sebelum Menggunakan Model Value Clarification Technique
Terciptanya Moralitas
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Peneliti dalam menulis penelitian ini berdasarkan masalah-masalah yang ditemukan dengan jelas saat dilakukannya observasi dan wawancara pada tahun 2020. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen menurut Sukardi (2005: 179) adalah“metode sistematis guna membangun hubungan yang mengandung fenomena sebab akibat”.Penelitian iniakan menguji keefektifan suatu perlakuan tertentu terhadap hal lain dalam keadaan yang dikendalikan. Penelitian ini ialah penelitian populasi maka desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian One Group Pretest Postest Design.
Gambar. 2 Intact – group – Comparison (Sugiono 2017 : 74 -75 ) Keterangan: X = Perlakuan
Q1= Hasil pengukuran setengah kelompok yang diberi perlakuan
Q2= Hasil pengukuran setengah kelompok yang tidak diberi
perlakuan
Q1 X Q2
75
B. Lokasi Dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di kelas V SDN 167 Kasuso Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba. Alasan memilih lokasi ini yaitu lebih dekat dengan tempat tinggal dan mudah dijangkau.Selain itu, karena ingin menerapkan suatu model pembelajaran yang membantu peserta didik mencari maupun menentukan nilai yang dianggap baik untuk mengatasi sutau permasalahan.
2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Mei pada tahun 2020
C. Sumber Data 1. Data Primer
Data Primer adalah sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber aslinya yang berupa wawancara , jajak pendapat dari individu atau kelompok(orang) maupun hasil observasi dari suatu obyek, kejadian atau hasil pengujian(benda)
2. Data Sekunder
Data Sekunder adalah sumber data penelitian yang diperoleh melalui media perantara atau secara tidak langsung yang berupa buku, catatan, bukti yang telah ada, atau arsip baik yang dipublikasikan maupun yang tidak dipublikasikan secara umum
D. Pupulasi dan Sampel 1. Pupulasi
Populasi adalah “daerah generalisasi yang terdiri dari obyek/subyek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk diteliti dan ditarik kesimpulannya” (Sugiyono, 2015).Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas I sampai dengan kelas VISDN Kasuso.Berdasarkan hasil yang diperoleh dari papan potensi yang terdapat pada tahun 2019-2020 (semester genap) diperoleh jumlah keseluruhan murid adalah 123 murid. Adapun potensi sebahai berikut:
Tabel 1.1 Keadaan Populasi
Kelas
Siswa Jumlah
Laki-Laki Perempuan
1 15 orang 10 orang 25 orang
II 8 orang 12 orang 20 orang
III 12 orang 12 orang 24 orang
IV 4 orang 12 orang 16 orang
V 6 orang 5 orang 11 orang
VI 7 orang 20 orang 27 orang
Jumlah 123 orang
Sumber 1.1 Sekolah V SDN 167 Kasuso tahun ajaran 2019/2020
2. Sampel
Menurut Sugiyono (2015: 118) mengemukakan bahwa “sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh polpulasi tersebut”. Pemilihan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling. Menurut Sugiyono (2015: 124) mengemukakan bahwa “teknik purposive sampling merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu”.
77
penelitian ini adalah siswa Kelas VSDN 167 Kasuso, yang jumlahnya 11 orang siswa, laki-laki 6 orang dan perempuan 5 orang yang aktif dan terdaftar pada semester genap tahun ajaran 2019-2020 dengan sasaran utamapengaruh penggunaan model VCT terhadap Moralitas siswa dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan SDN 167 Kasuso.
Adapun alasan penulis memilih kelas V, adalah motivasi siswa dan hasil belajar siswa yang belum memuaskan sehingga diperlukan penggunaan serta perhatian khusus.
Adapun tabel potensi kelas V sebagai berikut: Tabel 1.2 Sampel
No
Kelas
Jenis Kelamin Jumlah
Laki-Laki Wanita
1. V 6 orang 5 orang 11 orang
Sumber 1.2 Sekolah V SDN 167 Kasuso tahun ajaran 2019/2020 E. Definisi Operasional
1. VCT ( Value Clarifirification Tehnique )
VCT (Value Clarification Tehnique) adalah suatu model yang mengutamakan nilai moral yang ada dalam diri siswa sehingga siswa dapat menetukan suatu nilai yang dianggap baik atau buruk.
Dengan model VCT (Value Clarification Tehnique) guru dapat mengarahkan siswa untuk lebih menghargai orang-orang yang ada di sekalilingnya baik itu dilingkungan sekolah, keluarga serta masyarakat.
2. Moral
Moral merupakan suatu sikap yang harus dimiliki oleh setiap individu sehingga dapat membentuk perilaku yang baik, serta
menumbuhkan kesadaran, empati serta kebiasaan yang sesuai dengan aturan yang berlaku dalam lingkup sekolah, keluraga, serta masyarakat. F.InstrumenPenelitian
Sugiyono (2017:103) menyatakan instrumen penelitian ialah “suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun social yang diamati. Jadi dalam pengambilan data tentang apa yang akan diamati memerlukan alat ukur”.
1. Lembar/Pedoman Observasi
Sugiyono (2017:227) mengemukakan observasi atau pengamatan merupakan“suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang berlangsung. Sesuai dengan penelitian ini akan mengamati proses pembelajaran berlangsung. Adapun kegiatan yang diamati berkaitan dengan perkembangan nilai moral siswa. Jenis observasi yang digunakan ialah participant observation sehingga peneliti ikut terlibat langsung dengan kegiatan yang sedang diamati”.
2. Alat/Lembar Dokumentasi
Satori dan Komariah (2011: 149) menjelaskan dokumentasi merupakan “pengumpulan dokumen dan data-data yang diperlukan dalam permasalahan penelitian lalu ditelaah secara intens sehingga dapat
79
mendukung dan menambah kepercayaan dan pembuktian suatu kejadian. Data yang diperoleh dari dokumentasi tersebut dijadikan sebagai penguat dari data-data yang diperoleh dengan teknik lainnya”. Dalam penelitian ini yang akan didokumentasikan ialah berkaitan dengan proses pembelajaran PKn, serta gejala-gejala perilaku siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Dokumentasi ini akan sangat mendukung data lainnya.
3. Kuesioner
Kuesioner merupakan suatu teknik pengumpulan informasi yang memungkinkan analis mempelajari sikap- sikap, keyakinan, perilaku, dan karakteristik beberapa orang utama di dalam organisasi yang bisa terpengaruh oleh system yang diajukan oleh system yang sudah ada.
G.Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi
Observasi yaitu teknik pengumpulan data dengan cara peneliti melakukan pengamatan secara langsung (dalam kelas). Dalam hal ini, peneliti melakukan pengamatan secara langsung untuk mengetahui aktivitas belajar murid kelas V SDN 167 Kasuso.
2. Dokumentasi
Mengumpulkan data- data yang diperlukan terhadap permasalahan yang terjadi di SDN 167 Kasuso. Kemudian penelitian yang akan didokumentasikan ialah berkaitan dengan moralitas (karakter) siswa kelas V SDN 167 Kasuso
3. Kuesioner
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah menyebarkan kuesioner, yaitu daftar berisi pertanyaan- pertanyaan penelitian yang harus dijawab oleh responden yaitu kelas V SDN 167 Kasuso
H.Tehnik Analisis Data
Analisis data deskriptif ialah statistic yang digunakan menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksdu membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum”(Sugiyono,2017:147-148).“Adapun dalam statistic deskriptif penyajian data dalam bentuk table, grafik, diagram lingkaran, perhitungan modus, median, mean (pengukuran tendensisentral), perhitungan desil, persentil,perhitungan penyebaran data melalui perhitungan rata-rata dan standar deviasi, perhitungan presentase” (Sugiyono,2017:208).
1. Analisis Data Statistik
Merupakan statistik yangdigunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul selama proses penelitian dan bersifat kuantitatif.Adapun langkah-langkah dalam penyusunan melalui analisis ini adalah sebagai berikut:
a) Rata-rata (Mean)
̅ = ∑ (Arif Tiro, 2008: 120) b) Persentase (%) nilai rata-rata
81
Keterangan :
P = Angka persentase
f = frekuensi yang dicari persentasenya N= Banyaknya sampel responden.
Dalam analisis ini peneliti menetapkan tingkat kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran sesuai dengan prosedur yang dicanangkan oleh Depdikbud (2013)(Sumber Anwar 2012:29) yaitu:
Tabel 3.1. Tingkat Penguasaan Materi Tingkat Penguasaan (%) Kategori Hasil Belajar 0 – 54 55 – 64 65 – 79 80 – 89 90 – 100 Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi1
2. Analisis Statistik Inferensial
Sugiyono (2016:209), menyatakan bahwa “statistik inferensial adalah teknik statistik yang digunakan untuk menganalis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi”.
Dalam penggunaan statistik inferensial ini peneliti menggunakan teknik statistik t (uji t).Dengan tahapan sebagai berikut :
Langkah-langkah dalam pengujian hipotesis adalah sebagai berikut : 1. Mencari harga “Md” dengan menggunakan rumus:
Md= ∑ Keterangan:
Md = mean dari perbedaan pretest dengan posttest = jumlah dari gain (posttest – pretest)
N = subjek pada sampel.
2. Mencari harga “ ∑ ” dengan menggunakan rumus: ∑ = ∑ (∑ )
Keterangan :
∑ = Jumlah kuadrat deviasi
= jumlah dari gain (post test – pre test) N = subjek pada sampel.
3. Mentukan harga t Hitung dengan menggunakan rumus:
t =
√∑
( )
Keterangan :
T = Perbedaan dua mean
Md = mean dari perbedaan pretest dan posttest ∑ = Jumlah kuadrat deviasi
83
N = subjek pada sampel
4. Menentukan aturan pengambilan keputusan atau kriteria yang signifikan. Kaidah pengujian signifikan :
Jika t Hitung> t Tabel maka H o ditolak dan H 1 diterima, model Value
Clarification Tehnique (VCT) terhadap pengembangan nilai moraldalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) siswa kelas V SDN 167 Kasuso Kecamatan Bontobahari kabupaten Bulukumba
Jika t Hitung< t Tabel maka H o ditolak, berarti model Value Clarification
Tehnique (VCT) terhadap pengembangan nilai moral dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) siswa kelas V SDN 167 Kasuso Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba.
5. Mencari t Tabel dengan menggunakan table distribusi t dengan taraf
signifikan α = 0,05 dan db = N – 1 Keterangan:
db = Derajat kebebasan tertentu ditentukan dengan N-1
6. Membuat kesimpulan apakah penggunaan model Value Clarification Tehnique (VCT) terhadap pengembangan nilai moral dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) siswa kelas V SDN 167 Kasuso Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Dan Jenis Kelamin
Karakteristik responden digunakan untuk mengetahui keragaman responden berdasarkan nama responden, jenis kelamin, dan umur. Hal tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai kondisi dari responden dan kaitannya dengan masalah dan tujuan penelitian tersebut.
Tabel 4.1
No Nama Responden Jenis Kelamin Umur
1. A P S P 11 tahun 2. A S L 11 tahun 3. D A S P 11 tahun 4. E F P 11 tahun 5. P A L 11 tahun 6. P P 11 tahun 7. R L 11 tahun 8. R S L 11 tahun 9. R A P L 11 tahun 10. R E L 11 tahun 11. T I P 11 tahun
Berdasarkan karakteristik nama responden, jenis kelamin, dan umur pada tabel 4.1 tersebut, terlihat bahwa responden laki-laki sebanyak 6 orang, sedangkan responden perempuan sebanyak 5 orang. Jadi total keseluruhan responden sebanyak 11 orang, dengan rata-rata umur 11 tahun.
85
B. Hasil Observasi
Lembar observasi dalam penelitian ini digunakan untuk mengamati pelaksanaan pembelajaran menggunakan metode VCT.Lembar observasi terdiri dari beberapa pernyataan. Skor maksimal dari observasi adalah 20 dan skor minimalnya adalah 0.Penilaian dilakukan dengan memberikan tanda centang pada kolom yang tersedia dengan ketentuan jawaban terlaksana dengan sangan baik mendapat skor 4, terlaksana denganbaik mendapat skor3, terlaksana dengan cukup baik mendapat skor 2 dan terlaksana dengan kurang baik mendapat skor 1.
Laki-laki Perempuan Jumlah
6 5 11 55% 45% 100%
Chart Title
Jumlah PresentaseDari pengamatan observer, maka didapatkan hasil sebagai berikut: Tabel 4.2 Hasil Rekapitulasi Lembar Observasi
N (jumlah siswa) 11
Tertinggi 18
Terendah 13
Jumlah skor 173
Rata-rata 15,7
Berdasarkan tabel 4.4 tersebut dapat dilihat bahwa skor lembar observasi memperoleh skor tertinggi 18 dan skor terendah 13 dengan jumlah skor 173 diperoleh rata-rata 15,7. Skor yang diberikan pengamat terhadap pembelajaran menggunakan metode VCT hampir mendekati skor maksimal.Perkembangan dan kecerdasan moral siswa dapat terlihat dari interaksi siswa saat pembelajaran menggunakan metode VCT berlangsung Hal ini dapat diambil kesimpulan bahwa pembelajaran menggunakan metode VCT yang dilakukan sudah berjalan sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran menggunakan metode VCT.
Perkembangan dan kecerdasan moral siswa dapat terlihat ketika siswa lebih memperhatikan penjelasan guru dan menulis yang relevan, ikut aktif dalam mengikuti diskusidengan kelompoknya dan memberikan masukan yang mengarah pada jawaban, tugas dikerjakan dan jawaban benar semua, bertanya sesuai dengan materi dan tingkat kesulitan tinggi dan mempresentasikan pendapatnya dengan baik,dapat menjawab pertanyaan kelompok lain secara memuaskan dan tepat waktu. Distribusi frekuensi skor lembar observasiyang diperoleh siswa disajikan dengan
87
jumlah kelas interval yang dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
K = 1+ 3,3 log N K = 1+ 3,3 log11 K = 1 + 3,3(1,04) K = 1 + 3,43 K = 4,43
Jumlah kelas interval adalah 4,43 dibulatkan menjadi 4, sedangkan untuk menentukan panjang kelas interval adalah dengan membagi rentan dengan jumlah interval kelas sebagai berikut :
R = 18 - 13 = 5
P = rentan/ jumlah kelas interval
P = 5 / 4 P = 1,25
Panjang kelas interval dibulatkan menjadi 2.Dibawah ini adalah tabel distribusi frekuensi observasi siswa.
Tabel 4.3 Ditribusi Frekuensi Observasi Siswa Interval Frekuensi 11 – 12 0 13 – 14 3 15 – 16 4 17 – 18 4 19 – 20 0 Jumlah 11
Tabel distribusi frekuensi hasil observasidi atas menunjukkan bahwa tidak ada siswa yang memperoleh skor pada interval 11 – 12, 3 siswa yang memperoleh skor pada interval 13 -14, 4 siswa yang memperolehskor pada interval 15 – 16 dan 4 siswa yang memperoleh skor pada interval 17 – 18, tidak ada siswa yang memperoleh skor pada interval 19 – 20 yang disajikan pada diagram berikut:
Lembar Observasi Siswa Tabel 4.4 Sampel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 1 4 3 3 3 4 4 3 4 3 4 4 2 2 3 3 4 2 2 4 3 3 2 4 3 3 2 2 3 4 3 3 4 3 4 3 4 2 4 4 2 4 2 3 4 2 3 4 5 2 3 4 2 4 3 3 2 4 4 3 Y 13 15 16 14 18 14 16 17 15 17 18 Y2 169 225 256 196 324 196 256 289 225 289 324
89
C. ANGKET
Angket Perkembangan Moral Siswa Tabel 4.5 Sampel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 1. 3 3 3 2 3 3 1 3 4 3 3 2. 3 3 3 2 4 4 3 2 3 3 3 3. 3 3 3 2 4 4 3 2 4 3 3 4. 3 3 3 2 4 4 3 3 4 3 3 5. 3 3 3 2 4 4 4 2 4 3 3 6. 4 4 3 2 4 4 4 1 4 4 4 7. 3 4 3 2 4 4 2 3 3 3 3 8. 3 4 3 2 3 4 2 2 3 3 3 9. 3 3 3 3 3 3 3 2 4 3 3 10 3 3 3 3 3 3 2 2 4 3 3 11. 3 4 3 3 4 4 2 3 4 3 3 12. 3 3 4 2 3 4 2 2 4 3 3 13. 4 3 3 2 3 4 2 2 4 4 4 14. 3 4 3 2 3 4 2 2 3 3 3 15. 3 3 3 2 3 2 1 1 4 2 3 16. 3 3 3 2 3 3 3 3 4 3 3 17. 3 3 3 2 3 4 2 2 4 3 3 18. 3 3 3 2 3 4 3 3 4 3 3 19. 3 3 4 2 3 3 1 2 4 3 3 20. 3 4 4 3 4 4 2 1 3 3 3 X 62 66 63 44 68 73 47 43 75 61 62 X2 3844 4356 3969 1936 4624 5329 2209 1849 5625 3721 3844
Uji Realibilitas Perkembangan Moral Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha N of Items .765 21
Angket Kecerdasan Moral Siswa Tabel 4.6 Sampel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 1 3 2 3 2 2 1 1 4 2 3 4 2 3 2 2 2 2 1 2 3 2 3 4 3 3 2 3 2 3 1 1 4 3 3 3 4 2 2 3 3 2 1 1 4 4 3 4 5 3 2 3 2 3 1 1 4 2 3 3 6 2 3 3 4 4 1 1 3 4 3 3 7 3 4 3 4 2 1 1 3 4 3 2 8 3 2 2 2 2 1 1 3 3 3 4 9 3 2 3 2 2 1 1 3 2 3 4 10 3 2 2 2 4 2 1 4 2 3 4 Y 28 23 27 25 26 11 11 35 28 30 35 Y2 784 529 729 625 676 121 121 1225 784 900 1225
Uji Realibilitas Kecerdasan Moral Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .783 11 Uji Normalitas Perkembangan_Moral Tests of Normality Jenis_Kelamin Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic Df Sig. Perkembangan_Moral Laki-Laki .198 6 .200* .924 6 .533
Perempuan .346 5 .051 .868 5 .258 a. Lilliefors Significance Correction
91
Kecerdasan_Moral
Tests of Normality
Jenis_Kelamin
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic Df Sig. Kecerdasan_Moral Laki-Laki .213 6 .200* .926 6 .549
Perempuan .291 5 .193 .900 5 .413 a. Lilliefors Significance Correction
*. This is a lower bound of the true significance.
Uji Homogenitas
Test of Homogeneity of Variances
Levene Statistic df1 df2 Sig. Perkembangan_Moral .665 1 9 .436 Kecerdasan_Moral .001 1 9 .979
ANOVA
Sum of Squares df Mean Square F Sig. Perkembangan_ Moral Between Groups 1.745 1 1.745 .013 .912 Within Groups 1222.800 9 135.867 Total 1224.545 10 Kecerdasan_Mo ral Between Groups .245 1 .245 .003 .955 Within Groups 642.300 9 71.367 Total 642.545 10
Uji Linearitas ANOVA Table Sum of Squares df Mean Square F Sig. Perkembangan_ Moral * Kecerdasan_Mo ral
Between Groups (Combined) 621.545 7 88.792 .442 .832 Linearity 13.592 1 13.592 .068 .812 Deviation from Linearity 607.953 6 101.326 .504 .782 Within Groups 603.000 3 201.000
Total 1224.545 10
D. Pembahasan
Hasil deskripsi observasi pengamatan siswa memperoleh skor tertinggi 18 dan skor terendah 13 dengan jumlah skor 173 diperoleh dengan rata-rata 15,7. Skor yang diperoleh terhadap pembelajaran VCT hamper mendekati skor maksimal.Perkembangan dan kecerdasan moral siswa dapat terlihat ketika siswa lebih memperhatikan penjelasan guru dan menulis yang relevan, ikut aktif dalam mengikuti diskusi dengan kelompoknya dan memberikan masukan yang mengarah pada jawaban, tugas dikerjakan dan jawaban benar semua, bertanya sesuai dengan materi dan tingkat kesulitan tinggi dan mempresentasikan pendapatnya dengan baik, dapat menjawab pertanyaan kelompok lain secara memuaskan dan tepat waktu.Tabel distribusi frekuensi hasil observasi menunjukkan bahwa tidak ada siswa yang memperoleh skor pada interval 11 – 12, 3 siswa yang
93
memperoleh skor pada interval 13 -14, 4 siswa yangmemperolehskor pada interval 15 – 16 dan 4 siswa yang memperoleh skor pada interval 17 – 18.Maka pembelajaran menggunakan model VCT sudah berjalan sesuai dengan langka-langkah pembelajaran menggunakan model VCT.
Deskripsi uji vadilitas perkembangan moral semua nilai yang diperoleh oleh reponden signifikan atau valid. Karena semua responden memiliki nilai kurang dari 0,05. Karena jika lebih dari 0,05 maka dapat dikatakan tidak valid. Maka uji reabilitas perkembangan moral cronbach alfa atau nilai yaitu sebesar 765, sedangkan N of item atau jumlah dari item atu pertanyaan yaitu 21
Deskripsi uji vadilitas kecerdasan moral semua nilai yang diperoleh oleh responden valid. Karena semua responden memiliki nilai kurang dari 0,05.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Setelah penulis menjelaskan dan menguraikan secara detail beberapa permasalahan tentang “Pengaruh Model Value Clarificaion Tehnique (VCT) terhadap Moralitas Siswa Kelas V SDN 167Kasuso, Kecamatan Bontobahari kabupaten Bulukumba”.
maka dapat diambil kesimpulan bahwa pengelolaan pembelajaran yang dilakukan guru kelas sangat efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang bermutu.
1. Pengelolaan yang dilakukan oleh para guru kelas sangat membantu dalam kegiatan pembelajaran, disamping itu dapat mempermudah manajemen pengelolaan kelas.
2. para guru di tuntut memiliki kecermatan dalam memilah-milah strategi pengajaran dengan menerapkan metode yang tepat sebagai perangkat yang dapat di gunakan untuk mempermudah penyampaian pelajaran yang disampailkan. Serta Keterampilan juga sangat menunjang dalam proses pembelajaran yang dilakukan para guru kelas, karena keterampilan sangat berpengaruh pada setiap pelajaran yang di sampaikan oleh para guru kelas. Maka guru kelas di tuntut untuk memiliki keterampilan pengajaran yang sesuai kebutuhan agar dapat tercapai tujuan pembelajaran yang diinginkan secara maksimal.
95
B. Saran
Atas dasar hasil penelitian yang telah diuraikan selanjutnya penulis akan memberikan saran-saran sebagai berikut :
1. Hendaknya pemerintah memperhatikan peningkatan mutu dan kualitas pendidikan dengan memberikan sarana dan prasarana yang lebih menunjang prestasi siswa juga meningkatkan mutu pembelajaran.
2. Penulis berharap kepada para pengajar SDN167Kasuso Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba lebih giat dalam mengembangkan potensi siswa melalui peningkatan kualitas pengajaran.
3. Para guru dan staf hendaknya senantiasa piawai dalam bersikap, karena hal tersebut merupakan bagian dari pengajaran juga sekaligus pengelolaan sikap yang dapat di contoh siswa-siswi.