Untuk informasi lebih lanjut hubungi:
Tim Outlook Jangka Pendek dan Diseminasi Kebijakan
Biro Kebijakan Moneter
Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter
Telepon : +62 61 3818163
+62 21 3818206 (sirkulasi)
Fax.
: +62 21 3452489
: [email protected]
LAPORAN KEBIJAKAN MONETER
BANK INdONEsIA
Laporan Kebijakan Moneter dipublikasikan secara triwulanan oleh Bank Indonesia setelah
Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada bulan Desember, April, Juli, dan Oktober. Selain
dalam rangka memenuhi ketentuan pasal 58 UU Bank Indonesia No. 23 Tahun 1999
sebagaimana telah diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004, laporan ini berfungsi untuk dua
maksud utama, yaitu: (i) sebagai perwujudan nyata dari kerangka kerja antisipatif yang
mendasarkan pada prakiraan ekonomi dan inflasi ke depan dalam perumusan kebijakan
moneter, dan (ii) sebagai media bagi Dewan Gubernur untuk memberikan penjelasan
kepada masyarakat luas mengenai berbagai pertimbangan permasalahan kebijakan yang
melandasi keputusan kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia.
Dewan Gubernur
Darmin Nasution
Gubernur
Hartadi A. Sarwono
Deputi Gubernur
S. Budi Rochadi
Deputi Gubernur
Muliaman D. Hadad
Deputi Gubernur
Ardhayadi Mitroatmodjo
Deputi Gubernur
Budi Mulya
Deputi Gubernur
Halim Alamsyah
Deputi Gubernur
LAPORAN KEBIJAKAN MONETER
TRIwuLAN IV-2010
LAPORAN KEBIJAKAN MONETER
BANK INdONEsIA
strategi Kebijakan Moneter
Prinsip Dasar
Kebijakan moneter dengan ITF menempatkan sasaran inflasi sebagai tujuan utama (overriding objective) dan jangkar nominal (nominal anchor) kebijakan moneter. Dalam hubungan ini, Bank Indonesia menerapkan strategi antisipatif (forward looking) dengan mengarahkan respon kebijakan moneter saat ini untuk pencapaian sasaran inflasi jangka menengah ke depan. Penerapan ITF tidak berarti bahwa kebijakan moneter tidak memperhatikan pertumbuhan ekonomi. Paradigma dasar kebijakan moneter untuk menjaga keseimbangan (striking the optimal balance) antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi tetap dipertahankan, baik dalam penetapan sasaran inflasi maupun respon kebijakan moneter, dengan mengarahkan pada pencapaian inflasi yang rendah dan stabil dalam jangka menengah-panjang.
Sasaran Inflasi
Pemerintah setelah berkoordinasi dengan Bank Indonesia telah menetapkan dan mengumumkan sasaran inflasi IHK setiap tahunnya. Berdasarkan PMK No.143/PMK.011/2010 sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk periode 2010 – 2012, masing-masing sebesar 5,0%, 5,0%, dan 4,5% dengan deviasi ±1%.
Instrumen dan Operasi Moneter
BI Rate adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan diumumkan kepada publik. BI Rate merupakan suku bunga sinyaling dalam rangka mencapai sasaran inflasi jangka menengah panjang, yang diumumkan oleh Bank Indonesia secara periodik untuk jangka waktu tertentu.
Dalam rangka implementasi penyempurnaan kerangka operasional kebijakan moneter, terhitung sejak tanggal 9 Juni 2008 Bank Indonesia melakukan perubahan sasaran operasional dari suku bunga SBI 1 bulan menjadi suku bunga Pasar Uang Antar Bank Overnight (PUAB O/N).
BI Rate diimplementasikan dalam operasi moneter melalui pengelolaan likuiditas (liquidity management) di pasar uang untuk mencapai sasaran operasional kebijakan moneter yang tercermin pada perkembangan suku bunga Pasar Uang Antar Bank Overnight (PUAB O/N). Untuk meningkatkan efektivitas pengendalian likuiditas di pasar, operasi moneter harian dilakukan dengan menggunakan seperangkat instrumen moneter dan koridor suku bunga (standing facilities).
Proses Perumusan Kebijakan
BI Rate ditetapkan oleh Dewan Gubernur melalui mekanisme Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan. Dalam hal terjadi perkembangan di luar prakiraan semula, penetapan stance kebijakan moneter dapat dilakukan sebelum RDG Bulanan melalui RDG mingguan. Perubahan dalam BI Rate pada dasarnya menunjukkan respons kebijakan moneter Bank Indonesia untuk mengarahkan prakiraan inflasi ke depan agar tetap berada dalam lintasan sasaran inflasi yang telah ditetapkan.
Transparansi
Kebijakan moneter dari waktu ke waktu dikomunikasikan melalui media komunikasi yang lazim seperti penjelasan kepada press dan pelaku pasar, website, maupun penerbitan Laporan Kebijakan Moneter (LKM). Transparansi dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman dan sekaligus pembentukan ekspektasi masyarakat atas prakiraan ekonomi dan inflasi ke depan serta respon kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia.
Koordinasi dengan Pemerintah
Untuk koordinasi dalam penetapan sasaran, pemantauan dan pengendalian inflasi, Pemerintah dan Bank Indonesia telah membentuk Tim yang melibatkan pejabat-pejabat dari berbagai instansi terkait. Dalam pelaksanaan tugasnya, Tim membahas dan merekomendasikan kebijakan-kebijakan yang diperlukan baik dari sisi Pemerintah maupun Bank Indonesia untuk mengendalikan tekanan inflasi dalam rangka pencapaian sasaran inflasi yang telah ditetapkkan.
Langkah-langkah Penguatan
Kebijakan Moneter dengan sasaran Akhir Kestabilan Harga
(Inflation Targeting Framework)
Mulai Juli 2005 Bank Indonesia telah mengimplementasikan penguatan kerangka kerja kebijakan moneter konsisten dengan Inflation Targeting Framework (ITF), yang mencakup empat elemen dasar: (1) penggunaan suku bunga BI Rate sebagai policy reference rate, (2) proses perumusan kebijakan moneter yang antisipatif, (3) strategi komunikasi yang lebih transparan, dan (4) penguatan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah. Langkah-langkah dimaksud ditujukan untuk meningkatkan efektivitas dan tata kelola (governance) kebijakan moneter dalam mencapai sasaran akhir kestabilan harga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
LAPORAN KEBIJAKAN MONETER
BANK INdONEsIA
Kata Pengantar
Perekonomian Indonesia di tahun 2010 menunjukkan akselerasi pertumbuhan yang cukup tinggi di tengah ketidakseimbangan pemulihan ekonomi global. Bank Indonesia memperkirakan perekonomian akan
tumbuh sekitar 6.1% pada triwulan IV-2010, sehingga untuk keseluruhan tahun 2010 pertumbuhan akan mencapai sekitar 6%. Untuk tahun 2011 dan 2012, Bank Indonesia optimis pemulihan perekonomian domestik akan semakin kuat, ditopang oleh permintaan dalam negeri yang semakin meningkat dan kinerja investasi yang semakin baik. Perekonomian Indonesia di tahun 2011 diproyeksikan akan tumbuh pada kisaran 6,0-6,5% dan di tahun 2012 sekitar 6,1-6,6%.
Proses pemulihan perekonomian global sepanjang tahun 2010 terus berlanjut dan cenderung melambat memasuki paruh kedua 2010, serta dengan kecepatan yang tidak merata di berbagai kawasan. Pemulihan
perekonomian negara emerging market tercatat lebih baik dibandingkan negara maju, umumnya didukung oleh kinerja eksternal yang terus membaik dan konsumsi domestik yang solid. Sementara itu perekonomian negara maju yang membaik pada paruh pertama 2010 mengalami perlambatan di paruh kedua tahun ini, sebagian disebabkan oleh memudarnya efek stimulus fiskal yang diluncurkan tahun 2009. Selain itu, pertumbuhan perekonomian negara maju juga dihadapkan pada krisis fiskal di sejumlah negara Eropa dan tetap tingginya angka pengangguran di Amerika Serikat. Ketidakseimbangan pertumbuhan ekonomi global ini berdampak pada perbedaan arah kebijakan moneter yang ditempuh berbagai negara. Di satu sisi bank sentral negara maju terus melanjutkan kebijakan akomodatif yang berdampak pada terus meningkatnya likuiditas global. Sementara di sisi lain bank sentral negara emerging market telah melakukan normalisasi kebijakan untuk menahan tekanan inflasi yang meningkat seiring terjadinya pemulihan perekonomian domestik. Kondisi ini berdampak pada penguatan nilai tukar sejumlah negara emerging market, termasuk Indonesia, yang kemudian direspons dengan menggunakan berbagai kombinasi instrumen kebijakan.
Di sisi harga, tahun 2010 diwarnai oleh tekanan inflasi IHK (headline inflation) yang cenderung meningkat terutama bersumber dari kelompok harga-harga makanan yang bergejolak (volatile food). Tingginya tekanan
inflasi dari kelompok bahan makanan ini disebabkan anomali cuaca yang mengakibatkan gangguan distribusi dan produksi. Tekanan inflasi yang bersumber dari kelompok harga-harga yang ditetapkan (administered prices) juga meningkat meskipun terbatas. Kenaikan tarif dasar listrik di bulan Juli 2010 tidak mendorong kenaikan harga komoditas secara signifikan. Tekanan inflasi inti mengalami peningkatan meskipun masih terkendali seiring nilai tukar rupiah yang menguat. Peningkatan inflasi ini berasal dari peningkatan harga komoditas pasar global. Dengan perkembangan tersebut, sampai dengan November 2010 inflasi IHK tercatat sebesar 6,33 (yoy) atau 5,98% (ytd), sementara inflasi
BANK INdONEsIA
inti mencapai 4,31% (yoy) atau 3,89% (ytd).
Di sisi neraca pembayaran, pertumbuhan ekspor yang tetap tinggi serta aliran modal masuk, baik dalam bentuk penanaman modal langsung maupun investasi portofolio yang masih kuat membawa dampak pada peningkatan surplus. Pemulihan ekonomi global yang terus berlangsung terutama di negara-negara
emerging markets telah mendorong kuatnya pertumbuhan ekspor. Peningkatan harga komoditas global juga turut mendorong perbaikan ekpor Indonesia dengan pangsa komoditas berbasis sumber daya alam yang semakin besar. Di sisi lain, peningkatan ekonomi domestik dan apresiasi nilai tukar telah mendorong peningkatan impor yang lebih besar. Sementara itu, pemulihan ekonomi global yang tidak seimbang telah mendorong peningkatan yang besar pada aliran masuk modal asing. Neraca Pembayaran Indonesia pada tahun 2010 mencatat surplus yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Cadangan devisa Indonesia sampai dengan akhir November 2010 tercatat sebesar USD 92,759 miliar atau setara dengan 6,96 bulan impor dan pembayaran ULN pemerintah.
Nilai tukar rupiah menguat secara signifikan di tahun 2010 yang sebagian besar disebabkan derasnya arus modal masuk asing ini didukung oleh dorongan sisi eksternal yang cukup kuat dan juga fundamental domestik yang terus membaik. Faktor eksternal yang mendukung penguatan rupiah antara lain adalah
melimpahnya likuiditas global, kuatnya ekspektasi berlanjutnya kebijakan suku bunga rendah di negara-negara maju dan peluncuran Quantitave Easing Jilid II oleh the Fed. Sementara itu kondisi fundamental yang turut mendukung penguatan rupiah antara lain adalah stabilitas ekonomi makro dan sistem keuangan Indonesia yang terjaga dengan baik serta pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat.
Ke depan, perkembangan ekonomi domestik diperkirakan akan terus membaik yang didukung oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, investasi yang membaik, serta masih solidnya kinerja ekspor seiring dengan masih kuatnya pertumbuhan di negara mitra dagang, terutama di kawasan Asia. Bank
Indonesia menargetkan inflasi di 2011 dan 2012, masing-masing pada kisaran 5%±1% dan 4,5%±1%. Meskipun demikian, perlu tetap diwaspadai beberapa faktor risiko terhadap pencapaian sasaran inflasi tersebut maupun prospek ekonomi makro ke depan, seperti kecenderungan peningkatan permintaan yang lebih cepat dari penawaran, kenaikan harga komoditas internasional, maupun kemungkinan gangguan produksi serta distribusi bahan kebutuhan pokok. Sehubungan dengan itu, Bank Indonesia akan menekankan penerapan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial untuk menghadapi risiko inflasi tersebut, serta masih derasnya arus modal masuk dan tingginya ekses likuiditas domestik.
Berdasarkan asesmen dan prospek ekonomi tersebut, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 3 Desember 2010 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 6,5%. Keputusan tersebut juga
mempertimbangkan bahwa tingkat BI Rate 6,5% masih konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi jangka menengah sebesar 4%±1% dan dipandang masih kondusif untuk menjaga stabilitas keuangan dan mendorong intermediasi perbankan. Evaluasi terhadap kinerja dan prospek perekonomian secara umum mengarah pada kondisi yang lebih baik. Pertumbuhan ekonomi di tahun 2011 dan tahun 2012 diperkirakan akan meningkat dengan sumber pertumbuhan yang semakin berimbang.
Jakarta, 6 Desember 2010
Gubernur Bank Indonesia
LAPORAN KEBIJAKAN MONETER
BANK INdONEsIA
Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan II-2009
daftar Isi
Daftar Isi
1. Tinjauan Umum ... 1
2. Perkembangan Makroekonomi Terkini ... 5
Perkembangan Ekonomi Dunia ... 5
Pertumbuhan Ekonomi ... 8
Neraca Pembayaran Indonesia ... 15
3. Perkembangan dan Kebijakan Moneter Triwulan IV-2010 ... 17
Nilai Tukar Rupiah ... 17
Inflasi ... 19
Kebijakan Moneter ... 21
4. Perekonomian Indonesia ke Depan ... 28
Asumsi dan Skenario yang Digunakan ... 28
Prospek Pertumbuhan Ekonomi ... 28
Prakiraan Inflasi ... 36
Faktor Risiko ... 36
5. Respon Kebijakan Moneter Triwulan IV-2010 ... 38
BANK INdONEsIA
1. Tinjauan Umum
Perekonomian Indonesia di tahun 2010 menunjukkan akselerasi pertumbuhan yang cukup tinggi di tengah ketidakseimbangan pemulihan ekonomi global. Perekonomian
domestik diprakirakan akan dapat tumbuh 6,1% pada triwulan IV-2010 sehingga untuk keseluruhan tahun 2010 perekonomian nasional dapat tumbuh sekitar 6%. Untuk tahun 2011 dan 2012, Bank Indonesia optimis bahwa pemulihan ekonomi domestik akan semakin kuat ditopang oleh peningkatan permintaan domestik dengan kinerja investasi yang semakin baik. Perekonomian Indonesia di tahun 2011 diprakirakan akan tumbuh mencapai kisaran 6,0-6,5% dan pada tahun 2012 menjadi 6,1-6,6%.
Bank Indonesia mencatat bahwa proses pemulihan ekonomi global sepanjang tahun 2010 terus berlanjut meskipun cenderung melambat memasuki paruh kedua 2010 dan dengan kecepatan yang tidak merata di berbagai kawasan. Pemulihan ekonomi
negara-negara emerging markets lebih kuat dibandingkan negara maju, didukung oleh konsumsi domestik yang solid dan kinerja eksternal yang terus membaik. Sementara itu, perekonomian negara maju yang membaik pada paruh pertama 2010, tumbuh melambat di paruh kedua tahun ini seiring memudarnya efek stimulus fiskal yang diluncurkan tahun 2009. Selain itu, pertumbuhan ekonomi negara maju juga dihadapkan pada krisis fiskal pada sejumlah negara Eropa dan tingginya angka pengangguran AS. Ketidakseimbangan pertumbuhan ekonomi ini berdampak pada perbedaan respons kebijakan moneter yang ditempuh. Bank sentral negara maju terus melanjutkan kebijakan akomodatif yang berdampak pada meningkatnya likuiditas global. Sementara itu, bank sentral negara emerging markets melakukan normalisasi kebijakan untuk menahan tekanan inflasi yang meningkat seiring akselerasi pemulihan ekonominya. Kondisi ini berdampak pada penguatan nilai tukar sejumlah negara emerging markets, termasuk Indonesia, yang kemudian direspons dengan menggunakan berbagai kombinasi instrumen kebijakan.
Kinerja pasar keuangan global mengalami rebound setelah keputusan negara-negara maju untuk mempertahankan kebijakan moneter yang akomodatif. Krisis
fiskal yang melanda negara-negara Eropa (PIIGS-Portugal, Ireland, Italy, Greek, Spain) telah menurunkan risk appetite investor global. Hal ini mendorong investor untuk mengalihkan aset yang dinilai berisiko termasuk aset negara-negara emerging markets sehingga menimbulkan tekanan pada pasar keuangan global. Namun demikian, tekanan di pasar keuangan mulai mereda dan berangsur-angsur pulih pada paruh kedua 2010. Sinyal kebijakan moneter negara maju yang mempertahankan suku bunga rendah dan disertai paket stimulus moneter telah mendorong rally pada bursa saham global termasuk di emerging markets.
Dinamika yang terjadi pada perekonomian global sepanjang tahun 2010 telah memberikan pengaruh pada perkembangan ekonomi Indonesia. Pemulihan ekonomi
global yang terus berlanjut khususnya di negara-negara emerging markets dan terjaganya stabilitas perekonomian telah memberikan dampak positif bagi akselerasi pertumbuhan ekonomi domestik. Kebijakan ekonomi makro yang dilakukan telah memberikan kontribusi bagi terpeliharanya keseimbangan internal dan eksternal dalam perekonomian Indonesia.
Hal tersebut menjadi faktor penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi domestik tahun ini ditopang oleh sumber pertumbuhan yang semakin seimbang tercermin pada kuatnya konsumsi dan tingginya permintaan ekspor serta investasi yang membaik. Konsumsi yang meningkat terutama berasal dari konsumsi rumah tangga sementara konsumsi pemerintah masih relatif terbatas seiring penyerapan anggaran yang masih terbatas. Di sisi ekspor, terjadi peningkatan kinerja pada tahun 2010 didukung oleh meningkatnya permintaan eksternal seiring pemulihan ekonomi global khususnya di kawasan Asia. Membaiknya kinerja ekspor juga di dorong oleh peningkatan harga komoditas global. Sementara itu, kinerja investasi juga terus menunjukkan perbaikan didukung oleh membaiknya persepsi pasar, meningkatnya pembiayaan, relatif rendahnya harga barang impor, dan penerapan berbagai kebijakan pemerintah yang mendukung investasi.
Dari sisi penawaran, sektor nontradable dan sektor tradable menunjukkan kinerja yang membaik di tahun 2010. Pertumbuhan sektor tradable terutama berasal dari pulihnya
sektor industri pengolahan yang mencapai tingkat pertumbuhan sebelum krisis keuangan global yakni sekitar 4%. Namun, membaiknya kinerja sektor industri ini tidak diikuti oleh kinerja sektor tradable lainnya. Sektor pertanian tumbuh melambat dipengaruhi produktivitas serta luas lahan yang menurun dengan adanya anomali cuaca. Sementara, sektor pertambangan juga mengalami gangguan yang terkait faktor cuaca. Di sisi nontradable, pertumbuhan terutama berasal dari sektor perdagangan, hotel dan restoran, dan sektor pengangkutan dan komunikasi. Sementara sektor nontradable lainnya cenderung melambat.
Di sisi harga, tahun 2010 diwarnai oleh tekanan inflasi yang cenderung meningkat, yang terutama bersumber dari kelompok volatile foods. Tingginya tekanan inflasi dari
kelompok bahan makanan (volatile food) disebabkan anomali cuaca yang mengakibatkan gangguan distribusi dan produksi. Tekanan inflasi yang bersumber dari kelompok administered prices juga meningkat meskipun terbatas. Kenaikan TDL di bulan Juli tidak mendorong kenaikan harga komoditas secara signifikan. Tekanan inflasi inti mengalami peningkatan meskipun masih terkendali seiring nilai tukar rupiah yang menguat. Peningkatan inflasi ini berasal dari tren peningkatan harga komoditas pasar global. Sementara itu, ekspektasi inflasi juga sempat meningkat dipengaruhi oleh kenaikan pada harga bahan makanan. Dengan perkembangan tersebut, sampai dengan November 2010 inflasi IHK tercatat sebesar 6,33(yoy) atau mencapai 5,98% (ytd), sementara inflasi inti mencapai 4,31%(yoy) atau 3,89%(ytd).
Pemulihan ekonomi Indonesia yang terus membaik selama tahun 2010 tersebut juga terkonfirmasi oleh hasil asesmen perekonomian daerah yang dilakukan Bank Indonesia. Secara umum, perekonomian daerah selama tahun 2010 masih terus
terakselerasi ditopang oleh kuatnya konsumsi, ekspor dan investasi. Wilayah Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan Papua diprakirakan mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi yang bersumber dari membaiknya kinerja perkebunan yang dipengaruhi oleh harga yang membaik. Sementara kinerja sektor pertambangan yang banyak beroperasi di wilayah tersebut diprakirakan masih terbatas akibat anomali cuaca dan gangguan teknis produksi. Di wilayah Jakarta, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Kalimantan diprakirakan masih mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi didukung oleh kinerja industri pengolahan dan
sektor bangunan. Kegiatan investasi bangunan yang tumbuh cukup tinggi terjadi di Jakarta dan di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Di sisi Neraca Pembayaran, pertumbuhan ekspor yang tetap kuat serta aliran modal masuk, baik dalam bentuk PMA maupun portfolio yang masih kuat membawa dampak pada peningkatan surplus Neraca Pembayaran Indonesia. Pemulihan ekonomi
global yang terus berlangsung terutama di negara-negara emerging markets telah mendorong kuatnya pertumbuhan ekspor. Peningkatan harga komoditas global juga turut mendorong perbaikan ekpor Indonesia dengan pangsa komoditas berbasis sumber daya alam (SDA) yang semakin besar. Di sisi lain, peningkatan ekonomi domestik dan apresiasi nilai tukar telah mendorong peningkatan impor yang lebih besar. Sementara itu, pemulihan ekonomi global yang tidak seimbang telah mendorong peningkatan yang besar pada aliran masuk modal asing. Secara keseluruhan, Neraca Pembayaran Indonesia pada tahun 2010 mencatat surplus yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Sejalan dengan perkembangan NPI tersebut, cadangan devisa Indonesia sampai dengan akhir November 2010 tercatat sebesar USD 92,759 miliar atau setara dengan 6,96 bulan impor dan pembayaran ULN pemerintah.
Nilai tukar rupiah menguat secara signifikan di tahun 2010. Penguatan rupiah
didukung oleh faktor fundamental yang solid tercermin pada kinerja neraca transaksi berjalan yang mencatat surplus signifikan. Di samping itu, penguatan rupiah tersebut juga derasnya arus modal masuk asing terkait dengan melimpahnya likuiditas global, kuatnya ekspektasi berlanjutnya kebijakan suku bunga rendah di negara-negara maju dan peluncuran Quantitave Easing tahap II oleh the Fed. Derasnya aliran masuk modal asing juga didorong oleh terjaganya persepsi risiko dan sentimen positif sejalan dengan stabilitas makro dan sistem keuangan yang terkendali, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan sustainabilitas fiskal yang terjaga. Dengan kondisi tersebut, sepanjang tahun 2010 nilai tukar rupiah telah terapresiasi secara rata-rata sebesar 3,7% (ytd) atau menguat 4,3% (p-t-p) dibandingkan tahun 2009. Penguatan tersebut diikuti juga oleh tingkat volatilitas tahunan yang turun menjadi 0,4% dari sebelumnya 0,9%.
Pasar keuangan domestik menunjukkan perkembangan yang terus membaik di tahun 2010 seiring dengan perkembangan perekonomian yang terus terakselerasi. Transmisi
kebijakan moneter juga membaik sebagaimana tercermin pada respons suku bunga pasar uang dan perbankan yang terus menurun, serta ekspansi kredit yang meningkat. Di pasar obligasi, transmisi kebijakan moneter tercermin pada penurunan yield SUN untuk seluruh tenornya. Di pasar saham, indeks harga menunjukkan lonjakan yang membawa IHSG ke level tertinggi sebesar 3.756,9.
Ke depan, perkembangan ekonomi domestik diperkirakan akan terus membaik.
Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2011 diperkirakan terakselerasi dan dapat mencapai kisaran 6,0%-6,5%. Sementara, pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2012 diperkirakan mencapai kisaran 6,1%-6,6%. Pertumbuhan tersebut didukung oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, investasi yang membaik, serta masih solidnya kinerja ekspor seiring dengan masih kuatnya pertumbuhan di negara mitra dagang, terutama di kawasan Asia. Di sisi harga, Bank Indonesia memprakirakan inflasi di 2011 dapat diarahkan pada kisaran sasarannya,
yaitu 5%±1% pada tahun 2011 dan 4,5%±1% pada tahun 2012. Meskipun demikian, perlu tetap diwaspadai beberapa faktor risiko terhadap pencapaian sasaran inflasi tersebut maupun prospek makroekonomi ke depan, seperti masih tingginya ketidakpastian pemulihan ekonomi global, kenaikan harga komoditas internasional, dan derasnya aliran modal asing masuk yang memicu currency war. Dari sisi domestic, risiko tersebut antara lain terkait dengan meningkatnya ekses likuiditas di sektor keuangan dan kemungkinan gangguan produksi serta distribusi bahan kebutuhan pokok. Sehubungan dengan itu, Bank Indonesia akan menekankan penerapan bauran kebijakan moneter dan makroprudensialserta memperkuat koordinasi dengan Pemerintah. Beberapa langkah yang sedang dipersiapkan Bank Indonesia untuk mitigasi dampak negatif dari arus masuk modal asing dan sekaligus memperkuat ketahanan sistem perbankan antara lain terkait dengan pengaturan GWM valas dan vostro account (rekening giro Rupiah yang dimiliki oleh non-residen di bank domestik).
Berdasarkan asesmen dan prospek ekonomi tersebut, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 3 Desember 2010 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 6,5% dengan koridor suku bunga sebesar ±100 bps. Keputusan tersebut juga mempertimbangkan bahwa tingkat BI Rate 6,5% masih konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi jangka menengah dan dipandang masih kondusif untuk menjaga stabilitas keuangan dan mendorong intermediasi perbankan. Evaluasi terhadap kinerja dan prospek perekonomian secara umum mengarah pada kondisi yang lebih baik. Pertumbuhan ekonomi di tahun 2011 dan tahun 2012 diperkirakan akan meningkat dengan sumber pertumbuhan yang semakin berimbang.
2. Perkembangan Makroekonomi
Terkini
Masih berlanjutnya proses pemulihan ekonomi global turut mendukung kinerja perekonomian domestik. Selama triwulan IV 2010, pemulihan ekonomi yang lebih kuat masih ditunjukkan oleh negara emerging markets ditopang oleh konsumsi domestik yang solid dan kinerja eksternal yang membaik. Kondisi tersebut memberikan dampak positif pada perkembangan ekonomi di dalam negeri. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV 2010 diprakirakan meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya didorong oleh membaiknya kinerja investasi, stabilnya konsumsi rumah tangga, serta masih tingginya permintaan eksternal. Kinerja ekspor diperkirakan masih akan tumbuh tinggi searah dengan membaiknya perekonomian global dan dukungan peningkatan harga komoditas. Perkembangan permintaan domestik dan eksternal tersebut menyebabkan masih tingginya impor pada triwulan IV 2010. Di sisi penawaran, sektor-sektor ekonomi yang diprakirakan tumbuh membaik yaitu sektor industri pengolahan, sektor keuangan, sektor pertambangan, dan sektor bangunan, sejalan dengan membaiknya kondisi ekonomi. Di sisi lain, sektor pertanian diprakirakan akan tumbuh melambat terkait dengan telah lewatnya puncak siklus panen padi dan masih adanya gangguan anomali cuaca.
PERKEMBANGAN EKONOMI DUNIA
Pemulihan ekonomi global yang terjadi sepanjang tahun 2010 diprakirakan terus berlanjut, meski dalam laju pemulihan yang tidak merata (multispeed
global recovery). Laju pemulihan yang lebih kuat terjadi pada negara emerging markets dibandingkan dengan negara maju. Pada awal tahun 2010, perekonomian dunia tumbuh cukup tinggi sehingga sempat memberikan optimisme bahwa proses pemulihan ekonomi dunia dapat berjalan lebih cepat dari yang diperkirakan. Namun, krisis fiskal Yunani yang kemudian melebar ke negara PIIGS (Portugal, Ireland, Italy, Greek, Spain) serta masih lemahnya kondisi fundamental negara maju mengakibatkan melambatnya laju pertumbuhan pada triwulan-triwulan berikutnya. Sebaliknya, kondisi pasar keuangan pada awal tahun 2010 justru diwarnai oleh menurunnya risk appetite investor global akibat krisis PIIGS. Hal tersebut mengakibatkan beralihnya investor global dari aset-aset yang dipandang berisiko, termasuk aset emerging markets, ke aset berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS). Selain itu, perbaikan di negara maju seperti AS juga melambat di tengah berbagai permasalahan antara lain masih tingginya tingkat pengangguran. Lebih lambatnya pemulihan ekonomi yang terjadi di negara maju dibandingkan emerging markets mengakibatkan kebijakan negara maju tetap akomodatif dalam upaya memelihara kesinambungan ekonomi. Sementara itu, perekonomian Asia secara umum lebih solid dan sudah mulai menghadapi tekanan inflasi. Hal tersebut menyebabkan respons kebijakan emerging markets (termasuk di Asia) lebih dulu menuju arah normalisasi kebijakan dibandingkan negara maju. Selisih suku bunga kebijakan antara negara maju dan emerging markets tersebut mengakibatkan derasnya aliran modal asing ke negara emerging markets termasuk Indonesia. Akibatnya, nilai tukar
negara emerging markets menguat tajam. Namun, kekhawatiran yang timbul akan dampak tajamnya penguatan nilai tukar terhadap daya saing sebuah negara mengakibatkan negara emerging markets khususnya Asia dan Amerika Latin menggunakan kombinasi berbagai instrumen kebijakan untuk mengelola arus dana asing sekaligus meredam apresiasi nilai mata uangnya.
Pertumbuhan ekonomi AS diprakirakan tetap positif meski lebih lambat dibandingkan dengan prakiraan sebelumnya. Berdasarkan perkembangan terkini, sektor konsumsi AS
melanjutkan tren pemulihan meski dengan laju yang relatif lambat. Membaiknya konsumsi rumah tangga AS masih dibayangi oleh tingginya pengangguran serta aktivitas produksi yang melambat. Pendapatan rumah tangga AS terus meningkat seiring dengan kondisi pasar tenaga kerja yang relatif membaik. Namun, masih tingginya pesimisme akan prospek ekonomi ke depan menyebabkan masyarakat menahan tingkat konsumsi rumah tangga lebih lanjut. Hal tersebut tercermin dari tingginya tingkat tabungan rumah tangga AS. Dari sisi produksi, aktivitas sektor manufaktur relatif melambat sebagaimana terindikasi dari Survei Manajer Pembelian (PMI), produksi industri dan kapasitas utilisasi yang berada pada tren melemah. Selain itu, akumulasi inventori yang masih dalam level normal mengindikasikan bahwa sektor industri AS belum akan mengakselerasi pertumbuhannya selama beberapa waktu ke depan.
Pertumbuhan ekonomi di kawasan Eropa diprakirakan akan melambat pada triwulan IV 2010. Indikasi perlambatan pertumbuhan sudah terjadi sejak triwulan III 2010. Perlambatan
tersebut disebabkan oleh pelaksanaan program austerity measures yang berdampak pada menurunnya konsumsi rumah tangga. Perlambatan ekonomi Eropa terlihat dari melemahnya sektor konsumsi dan produksi. Program penghematan fiskal yang dilakukan oleh pemerintah disertai dengan ketatnya penyaluran kredit oleh perbankan mengakibatkan konsumsi rumah tangga Eropa tertekan. Sementara itu, sektor industri dan kinerja ekspor menunjukkan perlambatan akibat kembali menguatnya nilai tukar Euro. Beberapa indikator penuntun sektor industri seperti Purchasing Manager Index (PMI) dan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan mengindikasikan bahwa momentum pemulihan ekonomi Eropa mulai meredup.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Jepang pada triwulan IV 2010 diprakirakan akan mengalami kontraksi akibat penguatan nilai mata uang Yen yang memberikan beban tambahan terhadap aktivitas ekspor. Indeks produksi selama beberapa bulan
terakhir terkontraksi disertai dengan penurunan utilisasi kapasitas produksi. Di sisi lain, meski mengalami perbaikan, namun konsumsi rumah tangga masih dibayangi tingkat pengangguran yang tinggi. Tingginya ketidakpastian ekonomi ke depan menyebabkan melemahnya keyakinan konsumen sebagaimana terlihat dari survei Economic Watcher dan Tankan.
Di kawasan Asia, pemulihan ekonomi berlangsung cepat dan menjadi motor ekonomi dunia. Kinerja ekspor dan kuatnya permintaan domestik menjadi penopang
utama pertumbuhan ekonomi Asia. Hal tersebut didukung oleh perekonomian China dan India sebagai motor pertumbuhan ekonomi Asia. Namun, memasuki paruh kedua tahun 2010 ekonomi Asia mengalami moderasi sejalan dengan melemahnya kinerja eksternal.
Beberapa faktor penyebab termoderasinya pertumbuhan ekonomi Asia diantaranya adalah menurunnya kinerja ekspor seiring dengan kebijakan China yang berupaya mencegah terjadinya overheating perekonomian dan peralihan fokus kebijakan ekonomi negara tersebut ke permintaan domestik. Meski demikian, perekonomian China masih menjadi tujuan ekspor utama negara-negara kawasan Asia. Selain itu, normalisasi kebijakan moneter yang mulai dilakukan di beberapa negara Asia juga turut memengaruhi akselerasi pertumbuhan ekonomi di kawasan meski permintaan domestik relatif masih solid. Berdasarkan Consensus Forecast November 2010, perekonomian China dan India pada triwulan IV 2010 diprakirakan akan tumbuh masing-masing sebesar 8,7% (yoy) dan 8,4% (yoy).
Pada paruh kedua tahun 2010, harga minyak berada dalam tren yang meningkat.
Rendahnya imbal hasil dalam denominasi dolar AS mendorong investor mengalihkan dananya ke pasar komoditas. Faktor tersebut juga didukung oleh revisi naik permintaan minyak dunia oleh Departemen Energi AS (EIA) serta sentimen musiman peningkatan permintaan minyak akibat musim dingin di negara-negara maju. Sementara itu, harga komoditas dunia (IMF) bulan Oktober juga menunjukkan peningkatan didorong oleh kenaikan harga minyak. Selama Jan-Okt 2010, indeks harga komoditas IMF naik sebesar 25,9% (yoy). Kenaikan indeks total didorong oleh indeks bahan bakar yang tumbuh 28,5% (yoy), sementara indeks non-bahan bakar tumbuh 21,8% (yoy).
Meski mulai meningkat, tekanan inflasi global masih berada pada level yang rendah. Inflasi dunia sampai dengan Oktober 2010 masih berada pada level yang rendah
dan stabil. Tekanan inflasi selama Oktober 2010 berada pada level 3,2% (yoy), meningkat jika dibandingkan inflasi September yang sebesar 3,0% (yoy).
Kinerja pasar keuangan global mengalami rebound setelah keputusan negara-negara maju untuk mempertahankan kebijakan moneter yang akomodatif. Penguatan pasar
keuangan antara lain tercermin dari indeks Morgan Stanley Composite Index (MSCI) World dan indeks persepsi resiko yang berada dalam tren menurun. Keputusan negara-negara maju mempertahankan kebijakan akomodatif serta pemberian stimulus moneter tahap kedua oleh The Fed mampu menjaga sentimen positif di pasar keuangan global. Namun, meningkatnya kekhawatiran terhadap krisis utang di Eropa yang dipicu oleh krisis fiskal di Irlandia menyebabkan risk appetite investor global sempat melemah pada akhir bulan Oktober. Meskipun demikian, respons kebijakan yang dilakukan oleh European Commision (EC) dan IMF mampu meredakan kekhawatiran pelaku pasar sekaligus mencegah contagion effect ke negara-negara lain yang mengalami permasalahan sama.
Bank sentral negara maju masih cenderung mempertahankan kebijakan moneter yang akomodatif, sedangkan bank sentral negara emerging markets dan Amerika Latin melanjutkan normalisasi kebijakan moneternya untuk merespons tekanan inflasi yang meningkat. Selama triwulan IV 2010, sebagian besar bank sentral di negara
maju seperti Eropa, Jepang, dan AS diperkirakan akan mempertahankan kebijakan suku bunga rendah sebagai upaya mendorong pemulihan ekonomi domestik. Di sisi lain, beberapa bank sentral lain seperti bank sentral Australia dan Swedia menaikkan suku bunga acuannya masing-masing sebesar 25bps ke level 4,75% dan 25bps ke level 1,0%, setara dengan suku
bunga ECB sebesar 1,0%. Di emerging markets, beberapa bank sentral mulai menormalisasi kebijakan moneternya disertai dengan kombinasi berbagai instrumen kebijakan untuk meredam apresiasi nilai mata uangnya. Beberapa bank sentral di Asia yang menaikkan suku bunga acuannya diantaranya seperti Korea (+25bps ke level 2,5%), China (+25bps ke level 5,56%) serta India (+25bps repo rate dan reverse repo ke 6,25% dan 5,25%). Sementara di kawasan Amerika Latin, bank sentral Chili menaikkan suku bunga +50bps ke level 3,0%.
PERTUMBUHAN EKONOMI Permintaan Agregat
Pertumbuhan PDB pada triwulan IV 2010 diprakirakan meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Di sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan
laporan terutama ditopang oleh membaiknya kinerja investasi serta masih tingginya konsumsi rumah tangga dan permintaan eksternal. Konsumsi rumah tangga diprakirakan masih tumbuh tinggi sejalan dengan terus membaiknya daya beli masyarakat, masih optimisnya keyakinan konsumen akan kondisi perekonomian, dan kecenderungan penguatan nilai tukar rupiah. Di sisi investasi, membaiknya iklim investasi, kemajuan proyek infrastruktur, menguatnya nilai tukar rupiah, dan dukungan pembiayaan baik dari perbankan, pasar modal maupun aliran dana dari luar negeri mendukung peningkatan investasi pada triwulan IV 2010. Di sisi eksternal, searah dengan masih berlanjutnya pemulihan ekonomi global, kinerja ekspor diperkirakan masih akan tinggi. Lebih lanjut, perkembangan permintaan domestik dan eksternal tersebut menyebabkan masih tingginya impor pada triwulan IV 2010.
Konsumsi rumah tangga pada triwulan IV 2010 diprakirakan masih tumbuh tinggi.
Hal tersebut dikonfirmasi oleh perkembangan indikator penuntun konsumsi rumah tangga yang mengindikasikan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang masih berada dalam fase ekspansif (Grafik 2.1). Menguatnya konsumsi rumah tangga sejalan dengan membaiknya daya beli masyarakat, kredit konsumsi dan pembiayaan yang meningkat terkait dengan relatif rendahnya suku bunga kredit. Selain itu, stabilitas kondisi perekonomian dan kecenderungan apresiasi nilai tukar rupiah juga mendukung masih kuatnya konsumsi rumah tangga. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga terutama ditunjang oleh konsumsi nonmakanan yang meningkat. Konsumsi nonmakanan terindikasi tetap tinggi pada awal triwulan IV 2010
I II III IV I II III IV I II III IV*
Indikator
Tabel 2.1
Pertumbuhan Ekonomi - Sisi Permintaan
* Angka Proyeksi
Total Konsumsi 4.9 5.5 5.5 6.3 6.4 5.9 7.3 6.3 5.4 5.9 6.2 2.5 3.1 4.9 4.8 Konsumsi Swasta 5.0 5.7 5.5 5.3 4.8 5.3 6.0 4.8 4.7 4.0 4.9 3.9 5.0 5.2 5.2 Konsumsi Pemerintah 3.9 3.6 5.3 14.1 16.4 10.4 19.2 17.0 10.3 17.0 15.7 -8.8 -9.0 3.0 2.7 Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto 9.4 13.9 12.2 12.3 9.4 11.9 3.5 2.4 3.2 4.2 3.3 7.9 8.0 8.9 9.3 Ekspor Barang dan Jasa 8.5 13.6 12.4 10.6 2.0 9.5 -18.7 -15.5 -7.8 3.7 -9.7 19.6 14.6 11.3 9.2 Impor Barang dan Jasa 9.0 18.0 16.1 11.1 -3.7 10.0 -24.4 -21.0 -14.7 1.6 -15.0 22.6 17.7 11.0 10.7
PDB 6.3 6.2 6.3 6.2 5.3 6.0 4.5 4.1 4.2 5.4 4.5 5.7 6.2 5.8 6.1
2007 2008 2008 2009 2009 2010
seperti ditunjukkan oleh penjualan mobil dan motor yang masih mencatat penjualan di level tinggi meski sedikit melambat (Grafik 2.2). Perkembangan impor barang konsumsi khususnya konsumsi nonmakanan juga masih tumbuh cukup tinggi Sementara itu, indeks penjualan eceran menunjukkan konsumsi masyarakat relatif stabil. Kinerja konsumsi rumah tangga juga didukung oleh perkembangan subsektor perdagangan besar dan eceran yang terus menunjukkan peningkatan.
Berlanjutnya akselerasi pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan IV 2010 didukung oleh sisi pembiayaan.
Pembiayaan konsumsi rumah tangga yang terus meningkat terutama tercermin dari tingginya pertumbuhan pembiayaan konsumen yang bersumber dari lembaga pembiayaan serta penyaluran kredit konsumsi oleh perbankan yang masih memadai hingga akhir triwulan III 2010. Sementara itu, pada akhir triwulan III 2010, transaksi kartu kredit dan kartu debit terindikasi sedikit menurun akibat pengaruh pasca hari raya Lebaran. Indikasi positif masih kuatnya daya beli masyarakat juga ditunjukkan oleh meningkatnya nilai tukar petani.
Meningkatnya pertumbuhan investasi diprakirakan akan terus berlanjut pada triwulan IV 2010. Peningkatan pertumbuhan
investasi terlihat dari indikator penuntun investasi yang masih menunjukkan fase ekspansi (Grafik 2.3), meningkatnya pertumbuhan impor barang modal, meningkatnya pertumbuhan Foreign Direct Investment (FDI), dan meningkatnya realisasi PMA dan PMDN (Grafik 2.6). Faktor yang mendukung adalah masih kuatnya permintaan domestik dan ekspor. Selain itu, iklim investasi yang membaik, meningkatnya pembiayaan baik yang berasal dari dalam dan luar negeri / dari lembaga keuangan maupun nonkeuangan, persepsi pasar yang membaik, dan menguatnya nilai tukar rupiah juga mendorong peningkatan investasi.
Peningkatan kinerja investasi juga dibarengi oleh perbaikan kualitas investasi. Hal tersebut tercermin dari investasi selama
tahun 2010 yang ditujukan pada barang-barang yang lebih produktif, terutama mesin-mesin. Peningkatan investasi terutama terjadi pada mesin dan alat angkut yang terus menunjukkan perbaikan sejak triwulan IV 2009. Peningkatan tersebut diprakirakan akan berlanjut ke triwulan IV 2010 sebagaimana tercermin dari perkembangan berbagai indikator dini yang dipantau. Impor mesin baik untuk telekomunikasi, transportasi, maupun kegiatan produksi sampai dengan September 2010 mengalami pertumbuhan yang masih relatif tinggi. Sementara itu, pertumbuhan investasi bangunan cenderung stabil. Realisasi investasi baru dan investasi perusahaan yang sudah mendapat ijin
Grafik 2.1
Indikator Penuntun Konsumsi Rumah Tangga
Grafik 2.2
Pertumbuhan Penjualan Mobil dan Motor
��� ����� ���� ���� � � � � � � � � � �� �� �� � � � � � � � � � �� �� �� � � � � � � � � � �� ��������������� ��������������� �� �� �� �� �� ��� ��� ��� ���� ������������� Grafik 2.3
Indikator Penuntun Investasi
���� ���� ���� ���� ����� ����� ����� ����� �� �� �� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� �� ���� ���� ���� ���� ���� ��������������������� ����������������������������������������������� ����������������������������������� ������������������������������� ������������������������������ ���� � �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � ���� ���� �� �� �� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� �� ���� ���� ���� ���� ���� ��������������������������������������������������������� ��������� ���������������������������� �������������������������������������������� ����������������������������� ������������������������������� ������������������������������ � �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� ����
usaha (PMA dan PMDN) juga terus mengalami peningkatan. Sampai dengan triwulan III 2010, realisasi PMA dan PMDN meningkat 33,4% dibandingkan dengan tahun 2009 dan telah mencapai sekitar 93,5% dari target 2010.
Pertumbuhan ekspor pada triwulan IV 2010 diperkirakan masih tumbuh cukup tinggi meski sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Secara keseluruhan tahun, kinerja ekspor
diprakirakan meningkat dibandingkan tahun 2009 disebabkan masih berlanjutnya proses pemulihan ekonomi global dan meningkatnya harga komoditas ekspor. Kenaikan ekspor terjadi baik pada ekspor migas maupun nonmigas. Perlambatan kinerja ekspor pada triwulan IV 2010 dikarenakan antara lain melambatnya pertumbuhan negara mitra dagang utama (USA dan Jepang). Namun, perlambatan pertumbuhan ekspor dapat diredam dengan pertumbuhan negara emerging markets yang masih tumbuh cukup tinggi. Selain itu, struktur ekspor yang lebih didominasi oleh komoditas ekspor berbasis sumber daya alam (SDA) relatif inelastis terhadap perkembangan ekonomi global.
Kinerja impor pada triwulan IV 2010 diprakirakan relatif stabil dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Faktor yang
mendukung stabilnya pertumbuhan impor adalah meningkatnya permintaan dan masih kuatnya nilai tukar rupiah yang mendorong relatif rendahnya harga barang impor. Masih tingginya impor sejalan dengan pergerakan indikator penuntun impor yang masih menunjukkan fase ekspansi (Grafik 2.8) dan masih tingginya pertumbuhan PPN impor. Jika dibandingkan dengan tahun 2009, kinerja impor selama tahun 2010 mengalami peningkatan pada seluruh komponennya terutama pada kelompok impor barang konsumsi. Kenaikan impor barang konsumsi mengkonfirmasi masih tingginya pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Selama periode Jan-Sept 2010, peningkatan impor bahan baku terjadi pada impor komponen dan aksesoris untuk peralatan transportasi, bahan bakar primer, serta komponen dan aksesori untuk barang modal. Sementara itu, peningkatan impor barang modal khususnya terjadi pada impor kendaraan penumpang sedangkan impor barang konsumsi terutama terjadi pada impor barang jadi makanan. Dilihat dari asal negara impornya, peningkatan impor pada tahun 2010 terutama berasal dari negara China dan Jepang.
Operasi Keuangan Pemerintah
Realisasi APBN selama tahun 2010 diperkirakan mencatat penerimaan yang lebih tinggi namun dengan belanja yang
Grafik 2.4 PMTB - Mesin �� ����� �� �� �� �� � � �� ��� ���� � �� ��� �� ���� � �� ��� �� ���� � �� ��� �� ���� � �� ��� �� ���� � �� ��� �� ���� � �� ��� �� ���� � �� ��� �� ���� � �� ��� �� ���� � �� ��� �� ���� � �� ��� ������ ����� ������ ����� ���� ������ ������� ��������� ������������������������������������������ ��������������� ������������������������������������������ ������������������������������������� ��������������� Grafik 2.5 Pertumbuhan Investasi Grafik 2.6
Realisasi PMA dan PMDN (BKPM)
������������ �� �� �� �� �� �� � ��� ��� ��� ��� � �� ��� �� ���� � �� ��� �� ���� � �� ��� �� ���� � �� ���� ������������ ����� ����� ����� ����� ����� ��� ������ ������ ���� ��� ������������������ ���������� �� ��� � �� ��� �� ���� � �� ��� ������ � �� ��� ������ � �� ��� ������ � �� ��� ������ � �� ��� ������ � �� ��� ������ � �� ��� ������ � �� ��� ������ � ������ ������ ������� ����� ����� ����� ����� � ������ ������ �� ������� �� �� � � �� ���������� ������������� ����� �������������� ���
lebih rendah dari targetnya. Tingginya pencapaian penerimaan
dan rendahnya penyerapan belanja terlihat dari masih surplusnya APBN sebesar Rp21,4 triliun sampai dengan Oktober 2010. Kondisi tersebut berlawanan bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2009 yang telah mencapai defisit sebesar Rp42,7 triliun. Namun pada triwulan IV 2010, operasi keuangan Pemerintah diperkirakan mencatat defisit dalam jumlah besar sesuai dengan pola historisnya. Dengan perkembangan tersebut, defisit APBN tahun 2010 diperkirakan hanya mencapai1,0% - 1,2% dari PDB.
Perbaikan perekonomian domestik, keberhasilan program perpajakan, dan perkembangan harga komoditas berdampak pada meningkatnya kinerja penerimaan negara. Dari sektor
perpajakan, sebagian besar komponen penerimaan mencatat perbaikan. Perekonomian domestik yang mulai pulih serta program intensifikasi dan ekstensifikasi perpajakan yang efektif mampu mendorong penerimaan PPh nonmigas. Membaiknya perekonomian domestik juga berpengaruh positif pada tingkat konsumsi dalam negeri yang tercermin pada penerimaan PPN/PPnBM. Perbaikan aktivitas perekonomian juga terjadi di sektor properti dan perdagangan internasional terindikasi dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Bea Masuk dan pajak ekspor yang meningkat. Sementara itu kenaikan yang terjadi pada penerimaan cukai merupakan dampak langsung dari kebijakan kenaikan tarif cukai pada awal tahun 2010. Dari sektor nonpajak, kenaikan sebagian besar harga komoditas dunia berdampak pada meningkatnya kinerja penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Harga komoditas minyak dunia yang meningkat di tahun 2010 menjadi faktor utama pendorong penerimaan PNBP terindikasi dari penerimaan SDA migas yang mencatat kenaikan terbesar.
Penyerapan belanja negara di tahun 2010 lebih rendah jika dibandingkan tahun sebelumnya. Konsumsi pemerintah pada triwulan IV 2010 diprakirakan akan mencapai
2,7% (yoy), lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya namun masih lebih tinggi jika dibandingkan semester I 2010. Kondisi tersebut terutama disebabkan oleh belum optimalnya penyerapan belanja oleh Pemerintah pusat sampai dengan Oktober 2010. Belanja Pegawai, Barang, Modal dan Lain, yang mampu memberikan stimulus secara langsung bagi sektor riil, mencatat penyerapan yang lebih rendah dari tahun lalu. Sementara itu, realisasi Transfer ke Daerah diperkirakan mencapai Rp349,3 triliun atau 101,4% dari target APBNP, atau meningkat dari Rp308,6 triliun (99,8%) di tahun 2009. Alokasi dan waktu penyaluran yang sudah ditetapkan berdasarkan peraturan berdampak pada realisasi Transfer ke daerah yang relatif stabil dan mendekati targetnya.
Grafik 2.7
Total Ekspor, Ekspor Migas dan Non Migas (nilai riil)
�� ����� �� �� �� � ��� ��� ��� ��� ����� �� �� �� �� � ��� ��� � � � � � � � � � �� ���� � � � � � � � � � �� ���� � � � � � � � ���� ���� ���� ����� ��������������� ����������������� � � Grafik 2.8 Indikator Penuntun Impor
������������������������������������������������������� �������������� ����������������������������������������������������� ������������������������������������������������� ������������������������������������������������ ������������������������������������������������ ������������������������� ���������� ������������������������ �� �� �� �� �� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ���� ���� ���� ���� ���� ����� ����� ����� ����� ����� ����� ��� �� ���� �� � ��� �� ���� �� � ��� �� ���� �� � ��� �� ���� �� � ��� �� ���� �� � ��� �� ���� �� � �������������� � ����
Penawaran Agregat
Kinerja sektor usaha pada triwulan IV 2010 masih ditopang oleh pertumbuhan yang tinggi pada sektor nontradable, meskipun sektor tradable khususnya industri pengolahan sudah mulai tumbuh cukup tinggi. Pada sektor tradable, sektor industri
pengolahan merupakan sektor yang paling dominan. Sektor industri pengolahan diperkirakan tumbuh cukup tinggi dan relatif stabil jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya seiring dengan membaiknya kondisi eksternal dan domestik. Pada sektor nontradable, perkembangannya akan lebih diwarnai oleh sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor perdagangan, hotel, dan restoran. Tingginya pertumbuhan di kedua sektor tersebut didukung oleh meningkatnya kegiatan ekonomi masyarakat dan kuatnya daya beli masyarakat.
Sektor industri pengolahan pada triwulan IV 2010 diprakirakan akan tumbuh relatif stabil seiring dengan masih tingginya permintaan baik yang berasal dari domestik maupun eksternal. Pertumbuhan sektor industri terutama didorong oleh subsektor
industri nonmigas yaitu subsektor alat angkut, mesin, dan peralatannya, subsektor kimia, serta subsektor makanan, minuman, dan tembakau. Sementara subsektor industri migas mengalami penurunan. Membaiknya kinerja subsektor makanan, minuman, dan tembakau serta subsektor kimia tercermin dari perkembangan indeks produksi subsektor tersebut. Berdasarkan pola musimannya, penjualan makanan dan minuman akan meningkat pada akhir tahun didorong oleh perayaan hari raya Natal dan Tahun Baru. Impor mesin dan penjualan alat berat terkait investasi sampai dengan September 2010 terlihat masih tumbuh tinggi dan memberikan sinyal yang baik bagi peningkatan kapasitas produksi ke depan. Dari sisi pembiayaan, kredit perbankan yang disalurkan pada sektor industri pengolahan hingga September 2010 tumbuh stabil.
Sektor perdagangan, hotel, dan restoran pada triwulan IV 2010 diprakirakan akan tumbuh relatif stabil. Secara umum, kinerja sektor perdagangan, hotel, dan restoran
masih tumbuh membaik seiring dengan membaiknya perekonomian domestik dan daya beli masyarakat. Masih stabilnya kinerja sektor industri pengolahan serta membaiknya kinerja sektor pertambangan berkontribusi terhadap masih besarnya jumlah barang yang diperdagangkan. Selain itu, indeks penjualan eceran sampai dengan September 2010
I II III IV I II III IV I II III IV
Indikator
Tabel 2.2
Pertumbuhan Ekonomi - Sisi Penawaran
* Angka Proyeksi
Pertanian 3.4 6.4 4.8 3.2 5.1 4.8 5.9 2.9 3.3 4.6 4.1 3.0 3.1 1.8 1.7 Pertambangan dan Penggalian 2.0 -1.6 -0.4 2.3 2.4 0.7 2.6 3.4 6.2 5.2 4.4 3.1 4.0 2.8 3.8 Industri Pengolahan 4.7 4.3 4.2 4.3 1.8 3.7 1.5 1.5 1.3 4.2 2.1 3.7 4.4 4.1 4.0 Listrik, Gas, dan Air Bersih 10.3 12.3 11.8 10.4 9.3 10.9 11.2 15.3 14.5 14.0 13.8 8.2 4.7 3.2 3.5 Bangunan 8.6 8.2 8.3 7.8 5.9 7.5 6.2 6.1 7.7 8.0 7.1 7.1 6.9 6.4 6.5 Perdagangan, Hotel, dan Restoran 8.4 6.7 7.7 7.6 5.5 6.9 0.6 0.0 -0.2 4.2 1.1 9.4 9.7 8.8 8.6 Pengangkutan dan Komunikasi 14.0 18.1 16.6 15.6 16.1 16.6 16.8 17.0 16.4 12.2 15.5 11.9 12.9 13.3 13.6 Keuangan, Persewaan, dan Jasa 8.0 8.3 8.7 8.6 7.4 8.2 6.3 5.3 4.9 3.8 5.0 5.3 6.0 6.3 6.7 Jasa-Jasa 6.6 5.5 6.5 7.0 5.9 6.2 6.7 7.2 6.0 5.7 6.4 4.6 5.3 6.4 6.5 PDB 6.3 6.2 6.3 6.2 5.3 6.0 4.5 4.1 4.2 5.4 4.5 5.7 6.2 5.8 6.1
2007 2008 2008 2009 2009 2010
masih tumbuh cukup tinggi. Aktivitas ekonomi yang meningkat dan relatif masih tingginya impor menjadi faktor pendorong kinerja sektor PHR pada triwulan IV 2010. Pertumbuhan subsektor perdagangan yang masih baik juga diikuti oleh subsektor hotel dan restoran. Hal tersebut terindikasi pada tingkat hunian hotel serta kunjungan wisatawan mancanegara yang masih tumbuh meningkat hingga September 2010. Kinerja subsektor ini diprakirakan akan meningkat pada akhir tahun seiring dengan dimulainya musim libur. Pertumbuhan sektor perdagangan juga didukung oleh perkembangan di sisi pembiayaan dari perbankan yang masih menunjukkan pertumbuhan yang stabil hingga akhir September 2010.
Sektor pertanian pada triwulan IV 2010 diprakirakan akan tumbuh terbatas.
Terbatasnya pertumbuhan sektor ini dipengaruhi oleh melambatnya subsektor tanaman bahan makanan (tabama) seiring dengan telah berlalunya masa puncak siklus panen padi. Selain itu, melambatnya pertumbuhan luas lahan, menurunnya produktivitas, masih berlanjutnya anomali cuaca, serta meningkatnya serangan hama mengonfirmasi perlambatan sektor ini. Ke depan, gangguan cuaca terkait fenomena La Nina masih akan berlangsung hingga awal tahun 2011. Sementara itu, subsektor perkebunan, perikanan, dan kehutanan masih menunjukkan indikasi positif sehingga dapat menahan perlambatan sektor pertanian lebih lanjut. Dari sisi pembiayaan, kredit yang disalurkan kepada sektor pertanian hingga September 2010 masih menunjukkan peningkatan.
Kinerja sektor pertambangan diprakirakan akan tumbuh membaik pada triwulan IV 2010. Perbaikan tersebut didukung oleh kinerja subsektor migas yang terindikasi dari
membaiknya kinerja lifting hingga Oktober 2010 seiring pemulihan produksi salah satu kilang swasta setelah sempat mengalami gangguan. Sementara itu, kinerja subsektor nonmigas relatif stabil yang terindikasi dari produksi komoditas nonmigas sampai dengan September 2010. Indikasi positif terlihat pada ekspor komoditas nonmigas seperti batubara dan timah yang menunjukkan peningkatan pada September 2010. Di sisi pembiayaan, kredit perbankan yang disalurkan kepada sektor pertambangan hingga pertengahan triwulan III 2010 tumbuh melambat, namun pertumbuhan tersebut masih berada di atas rata-rata pertumbuhan sepanjang tahun 2010.
Kinerja sektor pengangkutan dan komunikasi pada triwulan laporan diprakirakan akan tumbuh meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Perkembangan
indikator subsektor pengangkutan menunjukkan arah yang membaik. Sampai dengan akhir September 2010, jumlah penumpang angkutan udara terus menunjukkan peningkatan. Demikian pula dengan angkutan kargo kereta api yang hingga September 2010 mengalami pertumbuhan yang meningkat. Sementara itu, indikator angkutan kargo domestik dari lima pelabuhan utama dan impor alat transportasi menunjukkan perkembangan yang relatif stabil. Perkembangan indikator di subsektor komunikasi berpotensi membaik sebagaimana terindikasi dari pertumbuhan jumlah pelanggan telepon seluler yang mulai memperlihatkan peningkatan pada triwulan III 2010. Sementara itu, meningkatnya penggunaan internet dan komunikasi data hingga akhir triwulan III 2010 merupakan faktor pendorong tumbuh tingginya subsektor ini. Hal tersebut searah dengan semakin gencarnya promosi operator seluler yang menawarkan paket tanpa batas dengan tarif yang makin terjangkau. Pertumbuhan kredit perbankan yang disalurkan ke sektor ini menunjukkan perkembangan yang relatif stabil meskipun masih berada di bawah rata-rata pada tahun 2010.
Pada triwulan IV 2010, sektor bangunan diprakirakan akan tumbuh relatif terbatas.
Kinerja sektor bangunan tumbuh membaik hingga semester I 2010. Namun, pada triwulan III 2010 mulai tumbuh melambat dikarenakan gangguan cuaca sehingga menyebabkan terganggunya proses pembangunan dan masih terbatasnya realisasi pengeluaran Pemerintah. Namun, adanya proyek rekonstruksi pada daerah yang mengalami bencana merupakan faktor positif terhadap kinerja sektor bangunan. Indikator dini sektor bangunan seperti pertumbuhan penjualan semen sampai dengan Oktober 2010 dan impor bahan bangunan sampai dengan Septermber 2010 memperlihatkan tren yang cenderung stabil.
Perekonomian Daerah
Pertumbuhan ekonomi daerah mengonfirmasi perkembangan ekonomi nasional yang meningkat. Wilayah Sumatera dan Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua)
diperkirakan terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi, bersumber dari membaiknya kinerja perkebunan dan pertambangan terutama dipengaruhi oleh peningkatan harga. Sementara itu, ekonomi Jakarta, Jawa, Bali, dan Nusatenggara (Jabalnustra), serta Kalimantan diperkirakan masih dapat tumbuh cukup tinggi terutama dipengaruhi oleh meningkatnya kinerja sektor industri pengolahan dan sektor bangunan.
Dari sisi permintaan, membaiknya kinerja perekonomian daerah secara umum didukung oleh meningkatnya kinerja konsumsi dan investasi. Perkembangan konsumsi
rumah tangga di daerah diprakirakan tetap kuat sejalan dengan membaiknya daya beli dan terjaganya optimisme masyarakat. Indikator daya beli petani (indeks nilai tukar petani/ NTP) di daerah menunjukkan perkembangan yang meningkat di semua wilayah, bahkan pertumbuhan NTP Jabalnustra lebih tinggi dibandingkan dengan posisi yang sama pada tahun 2009 (Grafik 2.9). Peningkatan daya beli petani Sumatera dipengaruhi oleh harga komoditas perkebunan tradable CPO dan karet yang masing-masing meningkat 54,9% (yoy) dan 63,0% (yoy) di pasar internasional (Development Economics Prospects Group - The World Bank, November 2010). Keyakinan konsumen di daerah terpantau masih optimis (hasil Survei Konsumen – BI, Grafik 2.10) seiring dengan kenaikan gaji PNS 2011 dan UMR di beberapa provinsi (Riau, Bekasi, DKI Jakarta, Jateng, Kalsel, dan Sulsel). Investasi di berbagai daerah diprakirakan mengalami peningkatan. Indikasi membaiknya investasi terlihat dari perkembangan indikator dini investasi seperti konsumsi semen, dan impor barang modal yang menunjukkan perbaikan di seluruh wilayah sampai dengan Oktober 2010. Pertumbuhan konsumsi semen menunjukkan peningkatan di Jakarta dan Kalisulampua. Kinerja ekspor daerah diperkirakan membaik seiring dengan berlanjutnya pemulihan ekonomi global dan naiknya harga komoditas. Perbaikan ekspor terutama terjadi di wilayah Sumatera dan Jakarta.
Dari sisi penawaran, sektor pertanian pada triwulan IV 2010 diprakirakan tumbuh relatif moderat. Kinerja sektor pertanian
pada PDRB triwulan III 2010 yang menurun diprakirakan mulai
Grafik 2.9 Nilai Tukar Petani Regional
��� ��� ��� ��� ��� ����� ����� ����� ����� � � � � � � � � � �� �� �� ���� � � � � ����� � � � � �� �������� ����������� ������������� ��������
kembali meningkat pada triwulan laporan. Adanya panen padi irigasi di beberapa sentra produksi menjadi salah satu penopang kinerja subsektor tanaman bahan makanan (tabama). Adapun pertumbuhan sektor industri pengolahan diperkirakan cenderung stabil sejalan dengan masih kuatnya konsumsi dan ekspor. Sementara itu, di Jakarta dan sebagian besar Jawa mengindikasikan kinerja sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran (PHR) yang relatif stabil. Permintaan domestik yang tinggi disertai keyakinan konsumen yang membaik diperkirakan menjadi penopang kinerja sektor PHR secara keseluruhan.
NERACA PEMBAYARAN INDONESIA (NPI)
Masih positifnya kondisi eksternal Indonesia menopang solidnya kinerja neraca pembayaran Indonesia pada triwulan IV 2010. NPI pada triwulan IV 2010 diprakirakan mencatat surplus ditopang oleh neraca transaksi modal dan finansial (TMF) dan neraca transaksi berjalan. Kinerja transaksi berjalan (TB) pada triwulan IV 2010 diprakirakan masih akan mencatat surplus di tengah tingginya impor sejalan dengan kegiatan ekonomi yang semakin baik. Kinerja ekspor masih cukup baik ditopang oleh harga komoditas yang masih berada dalam tren meningkat dan pertumbuhan ekonomi mitra dagang yang masih tumbuh cukup tinggi, terutama di kawasan Asia. Di sisi lain, melimpahnya likuiditas global di tengah ekonomi domestik yang positif memicu derasnya aliran dana asing sehingga surplus TMF diperkirakan meningkat. Selain itu, solidnya kondisi ekonomi domestik sertra imbal hasil investasi rupiah yang menarik turut mendukung kinerja NPI.
Transaksi Berjalan
Kinerja transaksi berjalan diprakirakan masih akan mencatat surplus di tengah tingginya impor sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang membaik. Masih
kuatnya kinerja ekspor ditopang oleh masih tingginya pertumbuhan ekonomi negara mitra dagang, terutama di kawasan Asia dan harga komoditas yang cenderung meningkat. Di sisi lain, membaiknya permintaan domestik dan masih kuatnya kinerja ekspor mendorong tingginya pertumbuhan impor.
Pemulihan ekonomi dunia yang terus berlanjut menopang kinerja ekspor pada triwulan IV 2010, meski nilai tukar rupiah masih mengalami apresiasi. Masih kuatnya
kinerja ekspor terutama didukung oleh pemulihan ekonomi global terutama negara-negara emerging markets seperti Singapura, China, dan India. Peran negara emerging markets sebagai pasar tujuan ekspor semakin menyamai peran negara maju. Hal tersebut sejalan dengan laju pemulihan yang berjalan cepat di negara emerging markets. Pangsa ekspor komoditas primer (SDA) pada tahun 2010 lebih dominan dibandingkan ekspor manufaktur sehingga moderasi ekspansi ekonomi China diperkirakan berdampak terbatas terhadap kinerja ekspor Indonesia ke China. Kinerja ekspor manufaktur tetap tumbuh meski lebih lambat terkait masih rentannya ekonomi negara maju terhadap risiko ketidakpastian prospek
Grafik 2.10
Indeks Keyakinan Konsumen Daerah
��� ��� ��� ��� ��� �� �� �� �� � � � � � � � � � �� �� �� ���� � � � � � ������ � � ��� �������� ����������� ������������� ������ �� �� �������
pemulihan. Kinerja ekspor pada triwulan IV 2010 juga didukung oleh harga komoditas yang masih menunjukkan peningkatan. Perkembangan harga komoditas ekspor Indonesia (IHKEI) yang mulai meningkat pada September diperkirakan masih dapat menopang kinerja ekspor. Peningkatan harga terjadi hampir di semua sektor. Sejalan dengan terakselerasinya kegiatan ekonomi domestik dan di tengah pergerakan kurs rupiah cenderung menguat, impor tumbuh cukup tinggi pada triwulan IV 2010. Selama periode Januari – Oktober 2010, impor berada dalam tren meningkat terutama untuk impor bahan baku dan barang modal. Meski demikian, tingginya impor hingga saat ini diyakini masih mendukung kegiatan domestik. Kuatnya impor juga ditopang oleh ketersediaan pembiayaan. Meningkatnya impor bahan baku sejalan dengan respons sektor industri terhadap meningkatnya permintaan domestik dan ekspor.
Neraca Modal dan Finansial
Transaksi modal dan finansial diprakirakan akan mencatat surplus yang semakin besar. Prakiraan surplus tersebut ditopang oleh persepsi internasional yang positif terhadap
ekonomi domestik di tengah kondisi ekses likuiditas global. Investasi portofolio masih mendominasi komposisi aliran modal asing yang masuk ke perekonomian Indonesia, terutama ke aset rupiah seperti SUN dan SBI.Selain arus modal yang bersifat jangka pendek, arus modal jangka panjang juga cenderung menunjukkan peningkatan ditopang oleh fundamental ekonomi domestik yang membaik, serta persepsi pasar internasional yang positif. Persepsi positif terhadap ekonomi domestik tersebut menjadikan tetap kuatnya risk appetite investor global untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Imbal hasil yang menarik juga memberi insentif masuknya aliran dana asing oleh investor.
Cadangan Devisa
Dengan perkembangan pada transaksi berjalan serta neraca modal dan finansial tersebut di
atas, posisi cadangan devisa sampai dengan akhir November 2010 mencapai 92,76
miliar dolar AS atau setara dengan 6,96 bulan impor dan pembayaran Utang Luar Negeri