• Tidak ada hasil yang ditemukan

Key words: Food consumption pattern, social economic of the family, the growth of new kid in school.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Key words: Food consumption pattern, social economic of the family, the growth of new kid in school."

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

HUBUNGAN POLA KONSUMSI PANGAN DAN STATUS SOSIAL EKONOMI KELUARGA DENGAN PERTUMBUHAN ANAK BARU MASUK SEKOLAH DI SD NEGERI NO.142442

KOTA PADANGSIDIMPUAN 2014

Ade Irma Harahap1 : Evawany Y Aritonang2 : Jumirah3

1

Program Sarjana Kesehatan Masyarakat FKM USU

2

Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat FKM USU Medan, 2015, Indonesia

Email : [email protected] ABSTRACT

The phase of school age is the most important in the next physical formation of kid. Physical qualities reflected from physical growth. Physical growth change will certainly seemed at the time of kid entered the age of school.

The purpose of the research is to know the corelation between the food consumption patterns and social economic of the family with the growth of new kid entered the age of school in elementary school padangsidimpuan no.142442. The type of research is descriptive using a cross sectional design. The population is all students in the first class of elementary school padang sidimpuan no.142442 . The sample as many as 54 of students taken with the technique of proportional sample. Data about the consumption of food obtained through interviews directly to students who assisted by their mothers. Data of the height of kid measured with microtoise. The growth of new kid entered school based with z-score height by age. Furthermore, to prove the hypothesis the chi-square test is used.

The research showed 51,9 percent had height with short category, 40,7 percent normal and 7,4 percent kids were tall category. The analysis bivariat with chi-square test showing that there are significan relationship between the level of family income(p = 0,037), kinds of food (p = 0,038), the level of energy suffiency (p = 0,027) and the level of zinc suffiency (p = 0,044) with the growth of the new kid enter the school. There was not correlation with the variable of the level of mother’s educational, the level of mother’s occupation, the level of vitamin A sufficiency, the level of iodium sufficiency, the level of calcium sufficiency and the level of iron sufficiency with the growth of the new kid entered the school.

It is hoped the mothers provide multiform food being for kids. Additionally, mothers should be pay attention to the level of nutrient sufficiency that will be consumed for a kid. Key words: Food consumption pattern, social economic of the family, the growth of new kid

in school.

Pendahuluan

Masa usia sekolah merupakan masa terpenting dalam pembentukan fisik anak selanjutnya. Oleh karena itu anak usia sekolah perlu mendapat perhatian

secara seksama, pembinaan dan

pengawasan yang sedini mungkin agar menghasilkan kualitas fisik, mental dan sosial yang baik. Kualitas fisik dapat

tercermin dari pertumbuhan fisik,

perubahan pertumbuhan fisik akan jelas

tampak pada saat anak memasuki usia sekolah, dimana pertumbuhan fisik usia sekolah merupakan refleksi keadaan gizi pada masa bayi dan balita.

Salah satu indikator gizi untuk menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah ukuran pertumbuhan fisik yang dapat dilakukan melalui pengukuran

Tinggi Badan Anak Baru Sekolah

(TBABS). TBABS dapat merupakan salah satu indikator status gizi dan kesehatan

(2)

2

masyarakat suatu daerah, yang erat pula

hubungannya dengan tingkat sosial

ekonomi masyarakat di daerah yang bersangkutan (Desmita, 2005).

Stunting merupakan keadaan tubuh yang pendek dan sangat pendek sehingga melampaui defisit -2 SD di bawah median panjang atau tinggi badan. Pada keadaan

stunting, tinggi badan anak tidak

memenuhi tinggi badan normal menurut umurnya. Anak yang pendek berkaitan erat dengan kondisi yang terjadi dalam waktu yang lama seperti kemiskinan, perilaku hidup bersih dan sehat yang kurang, kesehatan lingkungan yang kurang baik, pola asuh yang kurang baik dan rendahnya tingkat pendidikan. Oleh karena itu

masalah balita pendek merupakan

cerminan dari keadaan sosial ekonomi masyarakat. Karena masalah gizi pendek

diakibatkan oleh keadaan yang

berlangsung lama, maka ciri masalah gizi yang ditunjukkan oleh anak pendek adalah masalah gizi yang sifatnya kronis (Depkes 2009).

Faktor yang berperan dalam

menentukan status kesehatan seseorang

yang berimplikasi pada kondisi

pertumbuhan adalah tingkat sosial

ekonomi yang terdiri dari pendapatan keluarga, pendidikan dan pekerjaan orang

tua serta budaya dan lain-lain

(Notoatmodjo, 2007). Menurut

Soejtiningsih (2004) pekerjaan atau

pendapatan keluarga, pendidikan orang

tua, jumlah saudara, serta budaya

mempunyai pengaruh terhadap

pertumbuhan dan perkembangan anak. Salah satu ukuran standar ekonomi keluarga adalah tingkat pendapatan total yang diterima keluarga atau jumlah

pengeluaran totalnya, meliputi

pengeluaran atas pangan dan non pangan (Suhardjo, 2003).

Beberapa faktor yang

mempengaruhi pertumbuhan fisik anak adalah faktor genetis, faktor makanan dan keadaan status sosial ekonomi keluarga. Faktor genetik dikaitkan dengan adanya kemiripan anak-anak dengan orangtuanya

dalam hal bentuk tubuh,proporsi tubuh dan kecepatan perkembangan. Faktor makanan

berhubungan dengan keseimbangan

konsumsi gizi dengan kecukupan gizi dan pola konsumsi pangan anak tersebut.

Beberapa faktor gizi yang juga

berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi badan yaitu kalori, protein, Iodium dan zat gizi mikro seperti vitamin A, zink (zn). Pola konsumsi pangan adalah susunan jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu dan faktor sosial ekonomi keluarga meliputi pendidikan, pekerjaan serta pendapatan (Baliwati, 2004).

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2010 untuk daerah Sumatera Utara, prevalensi anak yang pendek pada anak umur 6-12 tahun sebesar 43,2% yang terdiri dari 20,6%

sangat pendek dan 22,6% pendek.

Sedangkan hasil RISKESDAS tahun 2013, prevalensi anak yang pendek pada umur 5-12 tahun sebesar 40% yang terdiri dari 19,9% sangat pendek dan 20,1%pendek.

Berdasarkan survei pendahuluan

di SD Negeri No.142442 kota

Padangsidimpuan. Survei yang dilakukan kepada 15 murid sebagai data awal menunjukkan 9 orang anak di kategorikan pendek, 2 orang anak tinggi dan 4 orang anak yang tinggi badannya normal, dan rata – rata pekerjaan orangtua murid adalah wiraswasta dan bertani serta rata – rata pendidikan terakhir orangtua siswa adalah SMA, sedangkan untuk penghasilan keluarga ± Rp.1.500.000 perbulan. Maka dengan ini penulis ingin mengetahui hubungan konsumsi pangan dan status

sosial ekonomi keluarga dengan

pertumbuhan anak baru masuk sekolah di

SD Negeri NO.142442 Kota

Padangsidimpuan Tahun 2014. Untuk mengetahui hubungan pola konsumsi pangan dan status sosial ekonomi keluarga dengan pertumbuhan anak baru masuk sekolah dasar di SD Negeri NO.142442 Kota Padangsidimpuan Tahun 2014.

(3)

3

Metode Penelitian

Jenis penelitian ini adalah bersifat

deskriptif yaitu menggambarkan

hubungan pola konsumsi pangan dan

status ekonomi keluarga dengan

pertumbuhan anak baru masuk sekolah dasar sekaligus menganalisa hubungan

variabel-variabel yang diteliti.

Desain/rancangan penelitian yang

digunakan adalah studi potong lintang (cross sectional).

Penelitian di SD Negeri No.142442 Kota padangsidimpuan ini dilaksanakan pada bulan oktober 2014 sampai dengan desember 2014. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh murid kelas satu SD

Negeri No.1424442 Kota

Padangsidimpuan yang berjumlah 115

siswa. Teknik pengambilan sampel

menggunakan proporsional sampel

sebanyak 54 siswa.

Data primer diperoleh melalui wawancara langsung kepada ibu murid dan hasil pengukuran antropometri yaitu tinggi badan anak baru masuk sekolah. Data primer tersebut terdiri dari tinggi badan anak, jenis makananan yang dikonsumsi anak, frekuensi makan anak, jumlah zat gizi yang didapat dari makanan, tingkat pendidikan ibu, status pekerjaan

ibu, tingkat pendapatan keluarga.

Sedangkan data sekunder meliputi data jumlah anak yang bersekolah di SD Negeri No.142442 kota Padangsidimpuan, beserta nama dan alamat anak tersebut yang diperoleh dari kepala sekolah.

Hasil dan Pembahasan

Tingkat Pendidikan Ibu Dengan Pertumbuhan Anak. Berdasarkan tabel dibawah ini,

dapat diketahui bahwa ibu yang memiliki tingkat pengetahuan SD lebih banyak

memiliki anak kategori pendek yaitu

sebesar 9 siswa (16,6%).

Tabel 1 Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu dengan Pertumbuhan Anak Baru Masuk

Sekolah di SD Negeri No.142442 Kota Padangsidimpuan

Tingkat pendidikan Ibu TB/U

Total

P Value Pendek Normal Tinggi

n % n % n % n % 0,189 1. SD 2. SMP 3. SMA 4. PT 9 75,0 8 47,0 8 47,0 3 37,5 1 8,3 8 47,0 9 53,0 4 50,0 2 16,7 1 6,0 0 0 1 12,5 12 100 17 100 17 100 8 100

Hasil uji chi square menunjukkan

tidak ada hubungan antara tingkat

pendidikan ibu dengan pertumbuhan tinggi badan anak baru masuk sekolah. Hasil

penelitian ini sejalan dengan hasil

penelitian yang dilakukan oleh yunida (2005) yang menyatakan tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu dengan status gizi anak.

Status Pekerjaan ibu dengan Pertumbuhan Anak Berdasarkan tabel dibawah ini,

lebih banyak ibu dengan status pekerjaan

ibu tidak bekerja memiliki anak kategori pendek yaitu sebanyak 18 siswa (33,3%).

Tabel 2 Hubungan Status Pekerjaan ibu Dengan Pertumbuhan Anak Baru Masuk Sekolah

di SD Negeri No.142442 Kota Padangsidimpuan status pekerjaan

ibu

TB/U P

Value

Pendek Normal Tinggi Total

n % n % n % n % 0,074 1. Bekerja 2. Tdk bekerja 10 18 37,0 66,5 15 7 55,5 26,0 2 2 7,5 7,5 27 27 100 100

(4)

4

Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan p sebesar 0,074 yang memiliki arti p > α, sehingga status pekerjaan ibu tidak berhubungan dengan tinggi badan anak baru masuk sekolah. Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Devi

(2013) yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pekerjaan ibu dengan status gizi anak (BB/U, TB/U dan BB/TB) di TK Salono Pontianak 2013.

Tingkat Pendapatan Keluarga Dengan Pertumbuhan Anak Berdasarkan tabel dibawah ini,

dapat diketahui lebih banyak responden dengan tingkat pendapatan keluarga tinggi

memiliki anak kategori pendek yaitu 16 siswa (29,7%) dan normal sebanyak 19 siswa (35,1%).

Tabel 3 Hubungan Tingkat Pendapatan Keluarga Dengan Pertumbuhan Anak Baru

Masuk Sekolah di SD Negeri No.142442 Kota Padangsidimpuan

tingkat pendapatan keluarga

TB/U p

value Pendek Normal Tinggi Total

n % n % n % n % 0,037 1. Rendah 2. Tinggi 12 16 66,6 44,4 3 19 16,7 52,8 3 1 16,7 2,8 18 36 100 100

Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan p sebesar 0,037 yang memiliki arti p < α, sehingga tingkat pendapatan

keluarga berhubungan dengan tinggi badan anak baru masuk sekolah.

Hubungan jenis makanan dengan pertumbuhan anak Berdasarkan tabel dibawah ini,

dapat diketahui lebih banyak anak

mengonsumsi jenis makanan tidak

beragam dan memiliki tinggi badan

kategori pendek sebanyak 25

siswa(46,3%).

Tabel 4 Hubungan Jenis Makan dengan Pertumbuhan Anak Baru Masuk Sekolah di SD

Negeri No.142442 Kota Padangsidimpuan

Jenis makanan

TB/U P

Value Pendek Normal Tinggi Total

n % n % n % n % 0,038 1. Beragam 2. Tdk beragam 3 25 33,3 55,5 4 18 44,4 40,8 2 2 22,3 4,5 9 45 100 100

Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan p sebesar 0,038 yang memiliki arti p < α, artinya bahwa jenis makan

berhubungan dengan tinggi badan anak

baru masuk sekolah.

Hubungan jumlah zat gizi dengan pertumbuhan anak Tingkat kecukupan enrgi dengan pertumbuhan

Berdasarkan tabel dibawah ini, dapat diketahui sebagian besar anak tingkat kecukupan energi defisit dengan tinggi

badan kategori pendek yaitu sebanyak 24

siswa (44,4%).

Tabel 5 Hubungan Tingkat Kecukupan Energi Pertumbuhan Anak Baru Masuk Sekolah di SD Negeri No.142442 Kota Padangsidimpuan

tingkat

kecukupan energi

TB/U P

Value Pendek Normal Tinggi Total

n % n % n % n % 0,027 1.baik 2. kurang 3. sedang 4. defisit 1 2 1 24 50,0 66,7 7,7 66,7 1 1 11 9 50,0 33,3 84,6 23,0 0 0 1 3 0 0 7,7 8,3 2 3 12 36 100 100 100 100

(5)

5

Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan p sebesar 0,027 yang memiliki arti p < α, sehingga energi berhubungan dengan tinggi badan anak baru masuk sekolah. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Nanik

(2005) yang dilakukan pada anak sekolah dasar menyatakan bahwa ada hubungan masukan energi terhadap TB/U anak sekolah dasar, dikarenakan

rendahnya masukan kalori/ energi.

Kecukupan protein dengan

pertumbuhan

Berdasarkan tabel dibawah ini, dapat diketahui lebih banyak siswa dengan tingkat kecukupan protein baik memiliki

tinggi badan kategori pendek sebanyak 13 siswa (24,0).

Tabel 6 Hubungan Hubungan Tingkat Kecukupan Protein Dengan Pertumbuhan Anak Baru Masuk Sekolah di SD Negeri No.142442 Kota Padangsidimpuan

tingkat kecukupan protein

TB/U P

Value

Pendek Normal Tinggi Total

n % n % n % n % 0,390 1.baik 2. kurang 3. sedang 4. defisit 13 7 7 24 43,3 70,0 63,6 33,3 14 3 4 1 46,7 30,0 36,4 33,3 3 0 0 1 10,0 0 0 33,4 30 10 11 26 100 100 100 100

Berdasarkan hasil uji statistik

didapatkan p sebesar 0,390 yang

memiliki arti p > α, sehingga protein tidak berhubungan dengan tingkat tinggi

badan anak baru masuk sekolah.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian Rahayuningtias (2012) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara asupan protein dengan status gizi lebih.

Kecukupan Vitamin A dengan pertumbuhan Berdasarkan tabel dibawah, dapat diketahui lebih banyak tingkat kecukupan Vitamin A anak kurang baik memiliki

tinggi badan pendek sebanyak 20 siswa (37,0%).

Tabel 7 Hubungan Hubungan Tingkat Kecukupan Vitamin A Dengan Pertumbuhan Anak Baru Masuk Sekolah di SD Negeri No.142442 Kota Padangsidimpuan

tingkat kecukupan Vitamin A

TB/U P

Value Pendek Normal Tinggi Total

n % n % n % n % 0,239 1.krg baik 2. baik 20 8 60,6 38,0 11 10 33,4 47,7 2 3 6,0 14,3 33 21 100 100

Berdasarkan hasil uji statistik

didapatkan p sebesar 0,239 yang

memiliki arti p > α, sehingga vitamin A tidak berhubungan dengan tingkat tinggi badan anak baru masuk sekolah. Hasil

penelitian sejalan dengan penelitian Muchlisa (2013) yang dilakukan kepada remaja putri menyatakan ada hubungan yang signifikan antara asupan vitamin A dengan status gizi remaja putri.

Kecukupan Iodium dengan Pertumbuhan Anak Berdasarkan tabel dibawah ini, dapat

diketahui lebih banyak siswa tingkat

kecukupan Iodiumnya kurang baik yaitu

(6)

6

Tabel 8 Hubungan Hubungan Tingkat Kecukupan Iodium Dengan Pertumbuhan Anak Baru Masuk Sekolah di SD Negeri No.142442 Kota Padangsidimpuan

tingkat kecukupan iodium

TB/U P

Value Pendek Normal Tinggi Total

n % n % n % n % 0,658 1.krg baik 2. baik 26 2 53,0 40,0 19 2 38,8 40,0 4 1 8,2 20,0 49 5 100 100

Berdasarkan hasil uji statistik

didapatkan p sebesar 0,658 yang

memiliki arti p > α, sehingga Iodium tidak berhubungan dengan tingkat tinggi badan anak baru masuk sekolah. Hasil

penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Amelia (2013) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan anara asupan Iodium dengan status gizi.

Kecukupan Kalsium dengan Pertumbuhan Anak Berdasarkan tabel dibawah ini,

dapat diketahui lebih banyak siswa tingkat kecukupan Kalsium kurang baik

memiliki tinggi badan pendek yaitu

sebanyak 25 (46,3%).

Tabel 9 Hubungan Hubungan Tingkat Kecukupan Kalsium Dengan Pertumbuhan Anak Baru Masuk Sekolah di SD Negeri No.142442 Kota Padangsidimpuan

tingkat kecukupan kalsium

TB/U P

Value Pendek Normal Tinggi Total

n % n % n % n % 0,795 1.krg baik 2. baik 25 3 52,0 50,0 19 2 39,6 33,3 4 1 8,4 16,7 48 6 100 100

Berdasarkan hasil uji statistik

didapatkan p sebesar 0,795 yang

memiliki arti p > α, sehingga kalsium

tidak berhubungan dengan tingkat tinggi badan anak baru masuk sekolah.

Kecukupan Zat Besi dengan Pertumbuhan Anak Berdasarkan tabel dibawah ini,

dapat diketahui lebih banyak siswa tingkat kecukupan zat besi kurang baik

memiliki tinggi badan pendek yaitu sebanyak 25 siswa (46,3%).

Tabel 10 Hubungan Hubungan Tingkat Kecukupan Zat Besi Dengan Pertumbuhan Anak Baru Masuk Sekolah di SD Negeri No.142442 Kota Padangsidimpuan

tingkat kecukupan zat besi

TB/U P

Value Pendek Normal Tinggi Total

n % n % n % n % 0,795 1.krg baik 2. baik 25 3 51,0 60,0 19 2 38,8 40,0 5 0 10,2 0 49 5 100 100

Berdasarkan hasil uji statistik

didapatkan p sebesar 0,747 yang

memiliki arti p > α, sehingga Zat Besi tidak berhubungan dengan tingkat tinggi badan anak baru masuk sekolah. Hasil

penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Amelia (2013) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan anara asupan Zat Besi dengan status gizi.

(7)

7

Kecukupan Seng Dengan Pertumbuhan Anak Berdasarkan tabel dibawah ini, dapat diketahui bahwa tingkat kecukupan Seng siswa kurang baik memiliki tinggi

badan pendek yaitu sebanyak 17 siswa (31,5%).

Tabel 11 Hubungan Hubungan Tingkat Kecukupan Seng Dengan Pertumbuhan Anak Baru Masuk Sekolah di SD Negeri No.142442 Kota Padangsidimpuan

tingkat kecukupan seng

TB/U P

Value

Pendek Normal Tinggi Total

n % n % n % n % 0,044 1.krg baik 2. baik 17 11 60,7 42,3 11 10 39,3 38,5 0 5 0 19,2 28 26 100 100

Berdasarkan hasil uji statistik

didapatkan p sebesar 0,044 yang

memiliki arti p < α, sehingga Seng berhubungan dengan tinggi badan anak baru masuk sekolah. Penelitian ini

seajalan dengan penelitian Nanik (2005) dan Amelia (2013) yang menyatakan bahwa rendahnya asupan seng akan mempengaruhi tinggi badan anak sekolah dasar.

Kesimpulan Dan Saran Kesimpulan

1. Pertumbuhan abak baru masuk sekolah sebagian besar pendek, ini

terjadi disebabkan tidak

beragamnya asupoan zat gizi yang dikonsumsi anak.

2. Tingkat kecukupan energi anak

defisit karena kurangnya

konsumsi makanan sumber energi

seperti nasi. Dan tingktat

kecukupan seng anak kurang

karena kurangnya konsumsi

makanan yang mengandung seng seperti daging, sayuran hijau dan kacang – kacangan.

Saran

1. Diharapkan agar para ibu

menyediakan makanan yang

beraneka ragam untuk anak.

2. Diharapkan agar para ibu

memperhatikan tingkat

kecukupan gizi dalam makanan yang dikonsumsi anak .

Daftar Pustaka

Amelia, R. 2013. Hubungan Asupan Energi Dan Zat Gizi Dengan Status Gizi Santri Putri Yayasan Pondok Pesantren

Hidayatullah Makasar

Sulawesi Selatan Tahun 2013.

Program Studi Ilmu Gizi

Fakultas Kesehatan

Masyarakat. Universitas

Hasanuddin Makassar.

Baliwati Y.F,2004. Pengantar Pangan dan Gizi. Jakarta: Penerbit Swadaya. Depkes RI. 2010. Riset Kesehatan Dasar.

Jakarta

Depkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta

Desmita. 2005. Psikologi Perkembangan.

Bandung: PT. Remaja

Rosdakarya.

Muchlisa. 2013. Hubugan Asupan Zat Gizi Dengan Status Gizi Pada Remaja Putri Di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas

(8)

8 Hasanuddin Makasar Tahun 2013. Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar Nanik, S. 2005. Hubungan Kadar Seng

Serum Dengan Tinggi Badan Anak Sekolah Dasar Penderita GAKY. Jurnal Kedokteran Brawijaya. 1 April 2005.

Suhardjo. 1986. Pangan Gizi dan

Pertanian. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Yunida, E. 2005. Hubungan Status Sosial

Ekonomi Keluarga Dengan

Berat Badan Dan Tinggi Badan Anak Baru Masuk Sekolah Di SD Negeri No.060834 Kota Medan Tahun 2005. Skripsi. Program Studi S1. Fakultas

Kesehatan Masyarakat

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini dilihat dari hasil penelitian yang menyatakan bahwa membaca menurut mahasiswa adalah kegiatan melafalkan lambang tulis yang berupa bacaan, kegiatan membaca

[r]

Hasil penelitian ini diarahkan pada pembinaan kepribadian terhadap manajemen keuangan setiap rumah tangga muslim, pengembangan manajemen keuangan secara Islami,

Pembimbing penulisan skripsi saudara Rudi Wahyudi, NIM: 20402108078, Mahasiswa Jurusan/Program Studi Pendidikan Matematika pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN

Kesaksian Hidup   Pergumulan Berkhotbah Alkitabiah di Era Posmo   Oleh Ayub Wahyono   Zaman sudah berubah. Jemaat kini 

Bisa saja dimulai dari hubungan A ke C yang bersifat pengaduan atau keluhan-keluhan yang dirasakan masyarakat berkaitan dengan pelayanan dalam proses Administrasi

Asupan makanan yang mengandung karbohidrat dan lemak yang tidak terpakai akan disimpan sebagai cadangan makanan di jaringan adiposa, jika tubuh memerlukan energi maka

Musik indie merupakan salah satu jenis musik yang berpengaruh di perkembangan musik Indonesia, di mana musik indie tidak terikat kontrak dengan para pemilik