• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAYA BAHASA RETORIS PASANGAN PRABOWO-SANDIAGA DALAM DEBAT PRESIDEN PUTARAN SATU DAN DUA: PERSPEKTIF PRAGMATIK SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GAYA BAHASA RETORIS PASANGAN PRABOWO-SANDIAGA DALAM DEBAT PRESIDEN PUTARAN SATU DAN DUA: PERSPEKTIF PRAGMATIK SKRIPSI"

Copied!
241
0
0

Teks penuh

(1)

i

GAYA BAHASA RETORIS PASANGAN PRABOWO-SANDIAGA DALAM DEBAT PRESIDEN PUTARAN SATU DAN DUA:

PERSPEKTIF PRAGMATIK

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Disusun oleh: Julia Krisdayani

161224015

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2020

(2)

iv MOTO

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku’’

(Filipi 4:13)

“Sesuatu akan terlihat tidak mungkin sampai semuanya selesai”

(Nelson mandela)

(3)

v

Halaman Persembahan

Segala puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatNya yang tidak berkesudahan bagi saya, sehingga dapat menyelesaikan

tugas akhir ini. Karya ini saya persembahkan bagi:

Kedua orang tua tercinta, Bapak Libu dan Ibu Nani Sumarni yang selalu mendoakan saya, memberi semangat, serta memberi dukungan berupa moril

maupun materi dari awal hingga penyelesaian tugas akhir ini.

Kakak saya Natalia Desi Sumarni yang selalu memotivasi saya dalam segala hal serta tidak pernah lelah untuk mendengarkan keluh dan kesah saya.

Sahabat saya Rini Hartawati, Angela Merici Ahut, Seravina Wanti Ladang. Terima kasih karena selalu membantu saya, saling menyemangati dalam mengerjakan skripsi. Terima kasih pula atas suka dan dukanya selama ini.

Teman-teman Flokajog terima kasih atas dukungan dan bantuan kalian semua. Semoga persahabatan ini tetap terjalin dengan baik.

Teman-teman dari Badachin terima kasih atas bantuan selama di Yogyakarta. Semoga kita semua bisa dipertemukan kembali pada waktu yang telah Tuhan

(4)

viii ABSTRAK

Krisdayani, Julia. 2020. Gaya Bahasa Retoris Pasangan Prabowo-Sandiaga dalam Debat Presiden Putaran Satu dan Dua: Perspektif Pragmatik. Skripsi. Yogyakarta: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma

Penelitian ini membahas tentang gaya bahasa retoris pasangan Prabowo-Sandiaga dalam debat presiden putaran satu dan dua: perspektif pragmatik. Tujuan penelitian ini yaitu, (1) mengetahui wujud gaya bahasa retoris yang digunakan oleh Prabowo-Sandiaga dalam debat calon presiden dan wakil putaran satu dan dua, (2) mengetahui makna gaya bahasa perspektif pragmatik yang digunakan oleh Prabowo dan Sandiaga, dan (3) mengetahui fungsi dalam gaya bahasa yang digunakan oleh Prabowo dan Sandiaga.

Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan metode deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah video debat presiden dan wakil presiden pada putaran satu dan dua. Penelitian ini menggunakan teknik catat dan metode simak. Langkah awal dalam penelitian ini adalah peneliti mengunduh video melalui youtube. Kemudian menyimak gaya bahasa retoris yang digunakan oleh pasangan Prabowo dan Sandiaga. Setelah itu, mencatat gaya bahasa retoris apa saja yang digunakan oleh Prabowo dan Sandiaga dalam debat putaran satu dan dua tersebut. Frasa dan kalimat yang dicurigai mengandung gaya bahasa retoris dicatat dalam beberapa lembar catatan.

Hasil dari penelitian ini yaitu, (1) terdapat tiga belas jenis gaya bahasa retoris yang digunakan oleh Prabowo dan Sandiaga dalam video debat presiden putaran satu dan dua. Rincian gaya bahasa retoris tersebut sebagai berikut. a) Polisindeton, b) perifrasis, c) anostrof, d) eufamismus, e) asindeton, f) elipsis, g) asonansi, h) apofasis, i) aliterasi, j) pleonasme dan tautologi, k) eroteisis, l) histeron porteron, m) koreksio. (2) Terdapat enam makna pragmatik yaitu, a) memberikan pujian, b) menjelaskan sesuatu, c) mengutarakan pembelaan, d) menyatakan sesuatu, e) memperbaiki kata yang awalnya salah agar dapat di mengerti, f) menentang perkataan lawan. (3) Pada penelitian ini, peneliti memperoleh delapan fungsi. Kedelapan fungsi tersebut meliputi a) menghubungkan kata agar mudah dipahami, b) membuat kata yang diucapkan terdengar lebih sopan, c) membuat penjedaan pada kata yang diungkapkan, d) memberikan pesan kepada pendengar, e) menunjukan kepedulian terhadap orang lain, f) menunjukan ketegasan, g) membuat orang merasa senang, h) menyinggung sesama.

(5)

ix ABSTRACT

Krisdayani, Julia. 2020. Prabowo-Sandiaga's Rhetorical Language Style in Presidential Round One and Two Debates: Pragmatic Perspective. Thesis. Yogyakarta: Indonesian Language and Literature Education, Faculty of Teacher Training and Education, Sanata Dharma University

This study discusses the Prabowo-Sandiaga pair's rhetorical style in the first and second round of the presidential debates: pragmatic perspective. The purpose of this study are, (1) knowing the form of rhetorical language used by Prabowo-Sandiaga in debates of presidential and vice presidential rounds one and two, (2) knowing the meaning of pragmatic perspective style of language used by Prabowo and Sandiaga, and (3) know the functions in the style of language used by Prabowo and Sandiaga.

This type of research is qualitative with descriptive methods. The data source in this study is a video of the president and vice president debates in rounds one and two. This research uses the note taking technique and the listening method. The initial step in this research is the researchers download videos via YouTube. Then listen to the rhetorical style used by the couple Prabowo and Sandiaga. After that, note what rhetorical language is used by the pairs of candidates for president and vice president in the first and second round debates. Suspected phrases and sentences containing rhetorical language are recorded on several sheets of notes.

The results of this study are (1) There are thirteen types of rhetorical language styles used by Prabowo and Sandiaga in the video rounds of presidential debates one and two. The details of the rhetorical style are as follows. a) Polysindetone, b) perifrasis, c) anostrophe, d) euphism, e) acindone, f) ellipsis, g) asonance, h) apophasis, i) alliteration, j) pleonasm and tautology, k) erotysis, l) hysterone porteron , m) correction. (2) There are six pragmatic meanings namely, a) giving praise, b) explaining something, c) expressing a defense, d) stating something, e) correcting the words that were originally wrong so that they can be understood ', f) opposing the words of the opponent. (3) In this study, researchers obtained eight functions. The eight functions include a) connecting words to make them easier to understand, b) making the spoken word sound more polite, c) making pauses on the word expressed, d) gives the message to the listener, e) show concern for others , f) to show assertiveness, g) praise others, h) offend others.

(6)

xiii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

PERNYATAAN PUBLIKASI KARYA ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Identifikasi Masalah ... 3 1.3 Rumusan Masalah ... 3 1.4 Tujuan Penelitian ... 4 1.5 Manfaat Penelitian ... 4 1.6 Batasan Istilah ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8

2.1 Kajian Terdahulu yang Relevan ... 8

2.2 Kajian Teori ... 10

(7)

xiv

2.2.2 Konteks ... 13

2.2.3 Konteks Pragmatik ... 16

2.2.4 Majas ... 17

2.2.5 Gaya Bahasa ... 19

2.2.6 Gaya Bahasa Retoris ... 21

2.2.6.1 Aliterasi ... 21

2.2.6.2 Asonansi ... 22

2.2.6.3 Anostrof atau Inversi ... 22

2.2.6.4 Apofasis atau Preterisio ... 23

2.2.6.5 Apostrop ... 23 2.2.6.6 Asindeton ... 24 2.2.6.7 Polisindenton ... 25 2.2.6.8 Kiasmus ... 25 2.2.6.9 Elipsis ... 26 2.2.6.10 Eufemismus ... 27 2.2.6.11 Litotes ... 27 2.2.6.12 Histeron Porteron ... 28

2.2.6.13 Pleonasme dan Tautologi ... 28

2.2.6.14 Perifrasis ... 29

2.2.6.15 Prolepsis atau Antisipasi ... 30

2.2.6.16 Eroteisis atau Pertanyaan Retoris ... 31

(8)

xv

2.2.6.18 Koreksio atau Epanortosis ... 32

2.2.6.19 Hiperbola ... 33

2.2.6.20 Paradoks ... 34

2.2.6.21 Oksimoron ... 34

2.2.6 Debat ... 35

2.2.7 Kerangka Berfikir ... 36

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 39

3.1 Jenis Penelitian ... 39

3.2 Data dan Sumber Data ... 39

3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ... 40

3.4 Metode dan Teknik analisis Data ... 41

3.5 Triangulasi Data ... 42

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 44

4.1 Deskripsi Data ... 44

4.2 Analisis Data ... 46

4.3 Wujud Gaya Bahasa Retoris ... 47

4.1.1.1 Gaya bahasa Retoris Polisindeton ... 47

4.1.1.2 Gaya Bahasa Retoris Perifrasis ... 50

4.1.1.3 Gaya Bahasa Retoris Anostrop ... 52

(9)

xvi

4.1.1.5 Gaya Bahasa Retoris Asindeton ... 55

4.1.1.6 Gaya Bahasa Retoris Elipsis ... 58

4.1.1.7 Gaya Bahasa Retoris Asonansi ... 60

4.1.1.8 Gaya Bahasa Retoris Apofasis ... 62

4.1.1.9 Gaya Bahasa Retoris Aliterasi ... 65

4.1.1.10 Gaya Bahasa Retoris Pleonasme dan Tautologi ... 66

4.1.1.11 Gaya Bahasa Retoris Eroteisis atau Pertanyaan Retoris ... 68

4.1.1.13 Gaya Bahasa Retoris Histeron Porteron ... 71

4.2.2.13 Gaya Bahasa Retoris Koreksio ... 73

4.2.2 Makna Gaya Bahasa Retoris ... 75

4.2.2.1 Makna Pragmatik Memberikan Pujian ... 76

4.2.2.2 Makna Pragmatik Menjelaskan Sesuatu ... 78

4.2.2.3 Makna Pragmatik Mengutarakan Pembelaan ... 79

4.2.2.4 Makna Pragmatik Menyatakan Sesuatu ... 81

4.2.2.5 Makna Pragmatik Memperbaiki Kata ... 82

4.2.2.6 Makna Pragmatik Menentang Perkataan Lawan ... 83

4.2.3 Fungsi Gaya Bahasa Retoris ... 85

4.2.3.1 Fungsi Untuk Menghubungkan Kata ... 86

4.2.3.2 Fungsi Membuat Kata Yang Diucapkan Terdengar Lebih Sopan ... 88

4.2.3.3 Fungsi Untuk Membuat Penjedaan Pada Kata Yang Diungkapkan ... 90

(10)

xvii

4.2.3.5 Fungsi Untuk Menunjukan Kepedulian Terhadap Orang Lain ... 92

4.2.3.6 Fungsi Menunjukan Ketegasan ... 94

4.2.3.7 Fungsi Untuk Membuat Orang Merasa Senang ... 96

4.2.3.8 Fungsi Untuk Menyinggung Sesama ... 98

4.3 Pembahasan ... 99 BAB V PENUTUP ... 106 5.1 Kesimpulan ... 106 5.2 Saran ... 107 DAFTAR PUSTAKA ... 109 LAMPIRAN ... 111

(11)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam ilmu bahasa kita tentu tidak asing lagi mendengar istilah pragmatik. Menurut Heatherington (dalam Tarigan 1986:32) pragmatik menelaah ucapan-ucapan khusus dalam situasi-situasi khusus dan terutama sekali memusatkan perhatian pada aneka ragam cara yang merupakan wadah aneka konteks sosial performansi bahasa dapat mempengaruhi tafsiran atau interpretasi. Pragmatik menelaah bukan saja pengaruh-pengaruh fonem suprasegmental, dialek, dan register, tetapi justru memandang performansi ujaran pertama-tama sebagai suatu kegiatan sosial yang ditata oleh aneka ragam konvensi sosial.

Selain itu, di dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata gaya bahasa atau bahkan kita sendiri juga sering menggunakan gaya bahasa yang sesuai dengan maksud yang ingin kita sampaikan kepada orang lain. Keraf (1981:99), mengemukakan bahwa gaya sebenarnya tidak lain daripada cara mengungkapkan diri sendiri, entah melalui bahasa, tingkah laku, berpakaian dan sebagainya. Itulah sebabnya sebagian besar orang yang melihat sesamanya menggunakan gaya tertentu misalnya dalam bepakaian, dapat menarik perhatian orang yang melihatnya. Dilihat dari segi bahasa, gaya bahasa memungkinkan kita bisa menilai pribadi seseorang. Semakin baik bahasa yang digunakan, maka semakin baik pula penilaian orang terhadapnya. Penggunan gaya bahasa lebih khusus gaya bahasa retoris memiliki pengertian tersendiri. Retoris (Retorika) adalah suatu istilah yang secara tradisional diberikan pada suatu teknik pemakaian

(12)

2

bahasa sebagai seni yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun baik. Jadi, ada dua aspek yang perlu diketahui seseorang dalam retorika, yaitu pengetahuan mengenai bahasa dan penggunaan bahasa dengan baik, dan kedua pengetahuan mengenai objek tertentu yang akan disampaikan dengan bahasa tadi. Oleh karena itu, retorika harus dipelajari oleh mereka yang ingin menggunakan bahasa dengan cara yang sebaik-baiknya untuk tujuan tertentu tadi.

Gaya bahasa yang digunakan oleh setiap orang memiliki maksud dan tujuan yang berbeda. Maksud dan tujuan tersebut tergantung pengguna bahasa menggunakannya. Pada umumnya, gaya bahasa atau bahasa yang digunakan oleh seseorang harus memiliki tiga dasar. Ketiga dasar gaya bahasa tersebut yaitu kejujuran, sopan santun, dan menarik. Suatu gaya bahasa yang digunakan tentunya tidak mengandung bahasa yang tidak enak didengar oleh orang lain.

Berdasarkan beberapa pengertian diatas, kita dapat memahami istilah pragmatik dan gaya bahasa yang sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Selain digunakan dalam percakapan sehari-hari, gaya bahasa termasuk gaya bahasa retoris juga digunakan oleh tokoh politik yang akan menjadi pemimpin negara Indonesia. Gaya bahasa retoris ini digunakan oleh pasangan presiden dan wakil presiden dengan nomor urut 2 yaitu Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Gaya bahasa yang digunakan oleh pasangan nomor urut dua tersebut diutarakan dalam debat Capres dan Cawapres pada putaran pertama yang dilaksanakan pada tanggal 17 Januari 2019, dan putaran kedua yang diselengarakan pada 17 Februari 2019. Gaya bahasa yang digunakan calon presiden dan wakil presiden tersebut akan kita pahami lebih mendalam dalam Skripsi yang berjudul “Gaya Bahasa

(13)

Retoris Pasangan Prabowo-Sandiaga dalam Debat Presiden Putaran Satu dan Dua: Perspektif Pragmatik’’

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis mengidentifikasi beberapa masalah yang akan dijadikan bahan penelitian selanjutnya.

1. Terdapat wujud gaya bahasa retoris pasangan Prabowo-Sandiaga dalam debat presiden putaran satu dan dua: perspektif pragmatik. 2. Terdapat makna gaya bahasa perspektif pragmatik untuk kepentingan

politik terutama dalam debat presiden putaran satu dan dua. 3. Fungsi dalam gaya bahasa yang mengandung maksud tertentu.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti menyusun masalah utama berupa:

1. Apa saja wujud gaya bahasa retoris yang digunakan oleh Prabowo dan Sandiaga dalam debat calon presiden dan wakil putaran satu dan dua? 2. Apa saja makna gaya bahasa perspektif pragmatik yang digunakan

oleh Prabowo dan Sandiaga?

3. Apa saja fungsi dalam gaya bahasa yang digunakan oleh Prabowo dan Sandiaga?

(14)

4

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti menyusun tujuan penelitian sebagai berikut:

1. Mengetahui wujud gaya bahasa retoris yang digunakan oleh Prabowo dan Sandiaga dalam debat calon presiden dan wakil putaran satu dan dua.

2. Mengetahui makna gaya bahasa perspektif pragmatik yang digunakan oleh Prabowo dan Sandiaga.

3. Mengetahui fungsi dalam gaya bahasa yang digunakan oleh Prabowo dan Sandiaga.

1.5 Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman dan menambah pengetahuan tentang kajian pragmatik khususnya mengenai penggunaan gaya bahasa retoris dalam acara tertentu . Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat menambah wawasan dan pegetahuan pembaca tentang gaya bahasa retoris untuk menyampaikan suatu maksud dan tujuan tertentu kepada orang lain.

2. Manfaat Praktis

Manfaat praktis yang diharapkan dari penelitian ini yaitu:

1) Dapat memberikan informasi terbaru bagi para calon guru Bahasa Indonesia mengenai jenis gaya bahasa retoris dan fungsinya.

(15)

2) Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu alternatif bahan pembelajaran untuk memahami tentang gaya bahasa terutama gaya bahasa retoris.

3) Penelitian ini juga diharapkan dapat membantu pembaca memahami makna gaya bahasa retoris yang digunakan oleh Pasangan Prabowo-Sandiaga sebagai calon Presiden dan Wakil Presiden dalam debat presiden putaran satu dan dua.

4) Hasil penelitian ini juga diharapkan mampu memberikan inspirasi pada peneliti lain untuk melakukan penelitian serupa yang lebih mendalam. 1.6 Batasan Istilah

Batasan istilah pada penelitian ini digunakan untuk memperjelas dan menegaskan teori dari beberapa pakar yang ahli di bidangnya, sehingga tidak menimbulkan perbedaan pengertian. Batasan istilah yang akan diperjelas adalah sebagai berikut:

1. Pragmatik

Pragmatik didefinisikan sebagai relasi antara bahasa dan konteks yang merupakan dasar bagi suatu catatan atau laporan pemahaman bahasa, dengan kata lain: telaah mengenai kemampuan pemakai bahasa menghubungkan serta menyerasikan kalimat-kalimat dan konteks secara tepat menurut Levinson (dalam Tarigan 1986:33).

2. Konteks

Konteks situasi tuturan yang dimaksud menunjuk pada aneka macam kemungkinan latar belakang pengetahuan (background

(16)

6

knowledge) yang muncul dan dimiliki bersama-sama baik oleh si penutur maupun oleh mitra tutur, serta aspek-aspek non kebahasaan lainnya yang menyertai, mewadahi, serta melatarbelakangi hadirnya sebuah pertuturan tertentu. Maka dengan mendasarkan pada gagasan bahwa konteks semacam itu dapat disebut juga konteks situasi pertuturan (speech situasional context) Leech, Wijana (dalam Rahardi 2003:18).

3. Konteks Pragmatik

Dalam kaitan dengan pencarian identitas konteks dalam studi pragmatik menegaskan bahwa sesungguhnya bertali-temali erat sekali dengan sesuatu yang berada di luar lingkup kebahasaan (Leech dalam Rahardi, 2017:150).

4. Majas

Majas adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Unsur-unsur kebahasaan antara lain pilihan kata, frasa, kalusa, dan kalimat Menurut Tarigan (dalam Prasetyono, 2011:12)

5. Gaya Bahasa

Gaya atau khususnya gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah syle. Kata syle diturunkan dari kata latin stilus, yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin. Keahlian menggunakan alat ini akan mempengaruhi jelas tidaknya tulisan pada lempengan tadi. Kelak pada waktu penekan dititikberatkan pada keahlian untuk

(17)

menulis indah, maka syle lalu berubah menjadi kemampuan dan keahlian untuk menulis atau mempergunakan kata-kata secara indah. Keraf (2006:112)

6. Gaya Bahasa Retoris

Gaya bahasa retoris termasuk dalam gaya bahasa yang maknanya harus diartikan menurut nilai lahirnya. Sebab itu tidak akan timbul kesulitan untuk memahaminya selama pilihan kata itu tepat. Pada waktu berbicara mengenai fakta ada kecendrungan untuk memepergunakan bahasa menurut arti kata aslinya, dan tidak memasukan sesuatu yang lain selain dari apa yang ada di hadapan kita (Keraf, 1981:114)

7. Debat

Secara kebahasaan, debat merupakan aktivitas menyampaikan dan mempertahankan argumen. Selain itu, debat dapat disimpulkan sebagai kegiatan adu argumenasi antara dua pihak atau lebih (perorangan atau kelompok) dalam berusaha mendiskusikan dan memutuskan masalah serta mengkaji perbedaan (Pratama, dkk, 6:2016).

(18)

8 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kajian Terdahulu yang Relevan

Gaya bahasa merupakan salah satu objek penelitian yang menarik sekaligus diminati oleh beberapa orang. Keraf (2006:112) berpendapat bahwa gaya atau khususnya gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah syle. Kata syle diturunkan dari kata latin stilus, yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin. Keahlian menggunkan alat ini akan mempengaruhi jelas tidaknya tulisan pada lempengan tadi. Kelak pada waktu penekan dititikberatkan pada keahlian untuk menulis indah, maka syle lalu berubah menjadi kemampuan dan keahlian untuk menulis atau mempergunakan kata-kata secara indah. Dalam hal ini peneliti berusaha mencari dan menemukan beberapa penelitian tentang gaya bahasa. Berdasarkan hasil pencarian, peneliti menemukan tiga penelitian yang paling relevan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti. Tiga jenis penelitian yang menurut peneliti paling relavan akan dijelaskan pada penjelasan dibawah ini.

Penelitian yang pertama adalah penelitian yang berjudul Jenis Dan Fungsi Gaya Bahasa Dalam Berita Utama Di Harian Kompas Edidisi Janari-Maret 2010. Penelitian tersebut dilakukan oleh Handayani. K Ermi B tahun 2012. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui jenis dan fungsi gaya bahasa yang terdapat dalam koran harian kompas edisi Januari-Maret. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa penelitian tersebut ada berbagai jenis gaya bahasa. Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat meliputi anti klimaks, repetisi. Berdasarkan

(19)

makna retoris meliputi hiperbol, perifrasis, erotesis, pertanyaan retoris. Berdasarkan makna kiasan meliputi perfonifikasi, metafora, perumpamaan/simile, ironi, sinekdoke metonimia, alusi, epitet. Penelitian yang kedua adalah penelitian yang dilakukan oleh Teresia Fatimah pada tahun 2008. Penelitian tersebut berjudul Jenis-Jenis Lead Dan Gaya Bahasa Dalam Feature Biografi Pada Harian Kompas Terbitan Bulan Januari Tahun 2007. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis lead yang digunakan dalam penulisan feature biografi pada harian kompas terbitan bulan Januari tahun 2007. Selanjtunya, penelitian yang ketiga adalah penelitian yang dilakukan oleh Erika Pratiwi tahun 2016. Penelitian tersebut berjudul Gaya Bahasa Retoris Dan Kiasan Dalam Berita Redaksiana Di Trans 7 Dan Rancangannya Terhadap Pembelajaran Bahasa Indoneasia Di Sekolah Menegah Atas (SMA). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan gaya bahasa retoris dan gaya bahasa kiasan dalam berita redaksiana di Trans 7 serta mendeskripsikan fungsi gaya bahasa retoris dalam berita redaksiana di Trans 7.

Peneliti menganggap bahwa ketiga penelitian di atas relevan dengan penelitian yang akan dilakukan. Persamaan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti terhadap ketiga penelitian tersebut ada pada objek kajiannya yaitu gaya bahasa. Pada penelitian pertama mengkaji Jenis dan Fungsi Gaya Bahasa dalam Berita Utama di Harian Kompas Edidisi Januari-Maret 2010, penelitian kedua yaitu Jenis-Jenis Lead dan Gaya Bahasa dalam Feature Biografi pada Harian Kompas Terbitan Bulan Januari Tahun 2007, dan penelitian yang ketiga adalah Gaya Bahasa Retoris dan Kiasan dalam Berita Redaksiana di Trans 7 dan

(20)

10

Rancangannya Terhadap Pembelajaran Bahasa Indoneasia di Sekolah Menengah Atas (SMA). Perbedaan pada penelitian ini terletak pada subjekenya, sementara itu yang akan di kaji pada penelitian ini yaitu gaya bahasa retoris yang digunakan oleh pasangan Prabowo-Sandiag apada pada acara debat presiden putaran satu dan dua yang bersumber dari youtube.

2.2 Kajian Teori

Dalam kajian teori, peneliti menyajikan berbagai teori yang dapat mendukung penelitian yang akan dilakukan. Peneliti juga membuat penjelasan atau kesimpulan yang sesuai dengan pemahaman peneliti berdasarkan teori- teori yang telah dibahas dan dikemukakan oleh pakar. Guna menjawab fokus penelitian yang peneliti lakukan, maka ada beberpa teori yang dapat memperkuat pemahaman peneliti.

2.2.1 Definisi Pragmatik Pragmatik adalah telaah mengenai “hubungan tanda-tanda dengan para penafsir’’ Moriss (dalam Tarigan 1986:33). Teori Pragmatik menjelaskan alasan atau pemikiran para pembicara dan para penyimak dalam menyusun korelasi dalam suatu konteks sebuah tanda kalimat dengan suatu proposisi (rencana, atau masalah). Dalam hal ini teori pragmatik merupakan bagian dari performansi.

Pragmatik merupakan cabang linguistik yang mempelajari bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dalam situasi tertentu. Pragmatik mempunyai kaitan yang erat dengan semantik. Leech ( dalam Nadar 2009:2) menyebut bahwa semantik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan dua segi ‘dyadic’ seperti pada “apa artinya x?’, sedangkan pragmatik memperlakukan

(21)

makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan tiga segi ‘triadic’, seperti pada “apa maksudmu dengan x?’. Dengan demikian dalam pragmatik makna diberi definisi dalam hubungannya dengan penutur atau pemakai bahasa, sedangkan dalam semantik, makna di definisikan semata-mata sebagai ciri-ciri ungkapan-ungkapan dalam suatu bahasa tertentu, terpisah dari situasi, penutur dan lawan tuturnya ( Nadar 2009:2).

Perbedaan lain ditunjukkan oleh Parker ( dalam Nadar 2009: 3) yang menyebutkan bahwa speaker reference ‘acuan penutur’ masuk dalam kajian pragmatik sedangkan linguistik reference ‘referensi linguistik’ masuk kajian semantik. Sementara itu, seorang linguis Frawly ( dalam Nadar 2009: 3) menegaskan bahwa konteks dan penggunaan yang dikenal dengan nama pragmatik, menentukan makna.

Selain itu, pragmatik merupakan telaah mengenai segala aspek makna yang tidak tercakup dalam teori semantik, atau dengan perkataan lain: memperbincangkan segala aspek makna ucapan yang tidak dapat dijelaskan secara tuntas oleh referensi langsung kepada kondisi-kondisi kebenaran kalimat yang diucapkan.

Menurut Levinson (dalam Tarigan 1986:33) pragmatik juga didefinisikan sebagai relasi antara bahasa dan konteks yang merupakan dasar bagi suatu catatan atau laporan pemahaman bahasa, dengan kata lain: telaah mengenai kemampuan pemakai bahasa menghubungkan serta menyerasikan kalimat-kalimat dan konteks secara tepat.

(22)

12

George (dalam Tarigan 1986:32) mengemukakan bahwa pragmatik (atau semantik behavioral) menelaah keseluruhan perilaku insan, terutama sekali dalam hubungannya dengan tanda-tanda dan lambang-lambang. Pragmatik memusatkan perhatian pada cara insan berperilaku, dalam keseluruhan situasi pemberian tanda dan penerimaan tanda.

Pragmatik menelaah ucapan-ucapan khusus dalam situasi-situasi khusus dan terutama sekali memusatkan perhatian pada aneka ragam cara yang merupakan wadah aneka konteks sosial performansi bahasa dapat memengaruhi tafsiran atau interprestasi. Pragmatik menelaah bukan saja pengaruh-pengaruh fonem suprasegmental, dialek, dan register, tetapi justru memandang performansi ujaran pertama-tama sebagai suatu kegiatan sosial yang ditata oleh aneka ragam konvensi sosial. Para teoritikus pragmatik telah mengidentifikasi adanya tiga jenis prinsip kegiatan ujaran yaitu kekuatan ilokusi (illocutionary force), prinsip-prinsip percakapan (conversational principles), dan presuposisi (presuppositions) Heatherington (dalam Tarigan 1986:32).

Dari pendapat beberapa para ahli di atas, penulis menyimpulkan bahwa pragmatik merupakan suatu cabang ilmu yang berkaitan dengan maksud yang disampaikan atau diungkapkan dari sebuah kata. Dalam menyampaikan suatu kata, penutur seharusnya menyampaikan maksud dengan baik dan benar agar mitratutur dapat memahami maksud dan tujuan dengan baik pula. Akan tetapi, jika penutur mengungkapkan maksud dan tujuan tidak jelas, maka mitratutur akan sulit memahami arti atau maksud yang disampaikan oleh penutur.

(23)

2.2.2 Konteks

Kata konteks dapat diartikan dengan berbagai cara, misalnya kata memasukan aspek-aspek yang ‘sesuai’ atau ‘relavan’ mengenai latar fisik dan sosial sesuatu ucapan. Dalam buku kecil ini kita mengartikan konteks sebagai latar belakang pengetahuan yang diperkirakan dimiliki dan disetujui bersama oleh pihak Pa (pembicara/penulis) dan Pk (penyimak/pembaca) serta yang menunjang interpretasi Pk terhadap apa yang dimaksud Pa dengan suatu ucapan tertentu (Tarigan 1986:35).

Istilah “kontek” didefinisikan oleh Mey ( dalam Nadar 2009: 3) Situasi lingkungan dalam arti luas yang memungkinkan peserta pertuturan untuk dapat berinteraksi, dan membuat ujaran dan dipahami. Definisi yang lain mengenai pragmatik diberikan oleh Parker ( dalam Nadar 2009:3) yang mengatakan bahwa pragmatik adalah kajian tentang bagaimana bahasa digunakan untuk berkomunikasi, dan menegaskan bahwa pragmatik tidak menelaah struktur bahasa secara internal seperti tata bahasa, melainkan secara eksternal. Pentingnya konteks dalam pragmatik ditekankan oleh Wijana ( dalam Nadar 2009: 3) yang menyebutkan bahwa pragmatik mengkaji makna yang terikat konteks, dan oleh Searle dkk ( dalam Nadar 2009: 3) yang menegaskan bahwa pragmatik berkaitan dengan interpretasi suatu ungkapan yang dibuat mengikuti aturan sintaksis tertentu dan cara menginterpretasi ungkapan tersebut tergantung pada kondisi-kondisi khusus penggunaan ungkapan tersebut dalam konteks. Konteks sangat penting dalam kajian pragmatik. Ini didefinisikan oleh Leech ( dalam Nadar 2009: 3) sebagai latar belakang pemahaman yang dimiliki oleh penutur maupun

(24)

14

lawan tutur sehingga lawan tutur dapat membuat interpretasi mengenai apa yang dimaksud oleh penutur pada waktu membuat tuturan tertentu. Dengan demikian konteks adalah hal-hal yang gayut dengan lingkungan fisik dan sosial sebuah tuturan ataupun latar belakang pengetahuan yang sama-sama dimiliki oleh penutur dan lawan tutur dan yang membantu lawan tutur menafsirkan makna tuturan.

Selain itu, ilmu bahasa pragmatik adalah studi ilmu bahasa yang mendasarkan pijakan analisisnya pada konteks situasi tuturan yang ada di dalam masyarakat dan wahana kebudayaan yang mewadahinya. Konteks situasi tuturan yang dimaksud menunjuk pada aneka macam kemungkinan latar belakang pengetahuan (background knowledge) yang muncul dan dimiliki bersama-sama baik oleh si penutur maupun oleh mitra tutur , serta aspek-aspek non kebahasaan lainnya yang menyertai, mewadahi, serta melatarbelakangi hadirnya sebuah pertuturan tertentu. Maka dengan mendasarkan pada gagasan Leech, Wijana (dalam Rahardi 2003:18) dengan tegas menyatakan bahwa konteks semacam itu dapat disebut juga konteks situasi pertuturan (speech situasional context). Leech (dalam Putrayasa, 2014: 1) menjelaskan konteks sebagai aspek-aspek yang berkaitan dengan lingkungan fisik dan sosial sebuah tuturan dan pengetahuan latar belakang yang secara bersama yang dimiliki oleh penutur (P) dan mitra tutur (MT). Konteks situasi merupakan lingkungan langsung yang berada di dalam penggunaan bahasa. Haliday dkk ( dalam Wiratno dkk 2014) mengatakan bahwa konteks situasi mempengaruhi register ( ragam atau gaya ekspresif kebahasaan) yang terdiri atas tiga aspek: field (medan), tenor (pelibat), dan mode ( moda), yang bekerja secara simultan untuk membentuk suatu konfigurasi kontekstual atau konfigurasi

(25)

makna. Konfigurasi ini akan menentukan bentuk ekspresi kebahasaan dan gaya bahasa atau makna keseluruhan sebuah teks, yang pada akhirnya menunjukkan register yang digunakan untuk merealisasikan proses sosial pada teks tersebut. Medan merujuk pada suatu kejadian dengan lingkungannya, yaitu apa yang terjadi, kapan, dimana, dan bagaimana terjadinya. Pelibat merupakan tipe partisipan yang terlibat di dalam kejadian tersebut, yang meliputi status dan peran sosial yang dilakukan oleh partisipan tersebut. Sedangkan moda meliputi dua sub-aspek, yaitu media dan sarana atau saluran. Media ini berkaitan dengan apakah Teks itu disampaikan dengan gaya bahasa lisan atau tulis ( Wiranto dkk 2014).

Konteks dapat diartikan sebagai lingkungan yang dimasuki sebuah kata. Dan sesungguhnya, dalam banyak hal kosa kata diperluas melalui sebuah konteks, baik dengan lisan maupun tertulis. Pengertian kata yang diperoleeh dengan cara tergantung dari ketajamaan orang yang mengamati teks itu, atau bermacam-macam teks lainnya yang juga mengandung kata yang sama (Keraf 1981:56). Konteks dapat membuat perbedaan pengertian yang sangat mencolok. Bahkan kombinasi yang sama dari kata-kata dapat menghasilkan makna yang sangat berbeda dalam lingkungan kontekstual yang berlainan misalnya:

1. Saya bisa membaca. 2. Ia menelan bisa ular itu.

Bila kita sungguh-sungguh waspada dan mengamati dengan seksama, maka konteks itu sendiri bisa memberi kepada kita gagasan yang jelas dari kata-kata yang baru dijumpai itu. Sehingga pada saat kita berjumpa sekali lagi dengan kata

(26)

16

itu dalam konteks yang mirip atau berlainan, kita akan teringat kembali kepada perkiraan makna yang dahulu.

Proses yang terjadi berulang kali itu lambat laun memperbanyak kosa-kata yang tertera dalam ingatan kita. Semuanya bersama-sama membentuk perbendaharaan kata atau kosa kata kita. Kosa kata atau perbendaharaan kata itu tidak lain daripada daftar kata-kata yang segera kita ketahui artinya bila mendengarnya kembali, walaupun jarang atau tidak pernah digunakan lagi dalam percakapan atau tulisan kita sendiri.

2.2.3 Konteks Pragmatik

Untuk memahami maksud dari sebuah wujud kebahasaan yang notabene tidak dilepaskan dari budaya, Leech menegaskan bahwa latar belakang pengetahuan yang sama mutlak harus dimiliki oleh penutur maupun mitra tutur, bahkan oleh pihak lainya yang terlibat dalam pertuturan tersebut. Untuk dapat memiliki kesamaan latar belakang di antara para pelibat perturturan itu, tentu saja diperlukan kesamaan pandangan dan cara pandang tertentu. Selain itu, Putyasaya (2014:8) mengatakan bahwa kita tidak dapat mendapatkan definisi pragmatik yang lengkap bila konteksnya tidak disebutkan.

Dalam kaitan dengan pencarian identitas konteks dalam studi pragmatik menegaskan bahwa sesungguhnya bertali-temali erat sekali dengan sesuatu yang berada di luar lingkup kebahasaan. Leech (dalam Rahardi 2017:150) menyebut-nyebut tentang sesuatu yang sifatnya pemahaman terhadap latar belakang yang sama. Sedangkan Cutting (dalam Rahardi 2017:150) menyebut bahwa konteks mencakup tiga hal, yakni konteks situasi, konteks pengetahuan latar belakang, dan

(27)

kontekstual. Selain itu, kata konteks dapat diartikan dengan berbagai cara, misalnya kata memasukan aspek-aspek yang ‘sesuai’ atau ‘relavan’ mengenai latar fisik dan sosial suatu ucapan. Dalam buku kecil ini kita mengartikan konteks sebagai latar belakang pengetahuan yang diperkirakan dimiliki dan disetujui bersama oleh pihak Pa (pembicara/penulis) dan Pk (penyimak/pembaca) serta yang menunjang interpretasi Pk terhadap apa yang dimaksud Pa dengan suatu ucapan tertentu (Tarigan 1986:35).

Dari pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa konteks pragmatik merupakan makna yang terdapat dalam sebuah kata. Suatu kata yang diucapkan dari mulut penutur dapat jelas dan dipahami oleh mitra tutur bila disampaikan sesuai dengan konteks atau situasi mengenai latar fisik dan sosial sesuatu ucapan pada saat kata itu dilontarkan. Kata yang diucapkan bisa saja berubah makna tergantung dari kata lainnya yang diucapkan sebagai pelengkapnya. Pengunaan suatu kata tidak bisa dipisahkan dari konteks. Hal ini dikarenakan keduanya saling berkaitan satu sama lain.

2.2.4. Majas

Menurut Tarigan (dalam Prasetyono, 2011:12) mengatakan bahwa majas adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Unsur-unsur kebahasaan antara lain pilihan kata, frasa, klusa, dan kalimat. Menurut Keraf (dalam Prasetyono, 2011:12) sebuah majas dikatakan baik jika mengandung tiga dasar, yaitu kejujuran, sopan santun, dan menarik. Senada dengan hal itu Mulyana (dalam Prasetyono, 2011:12) mendefinisikan majas sebagai susunan perkataan yang terjadi karena perasaan

(28)

18

yang timbul atau hidup dalam hati penulis, yang menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati pembaca.

Penggunaan majas banyak dijumpai dalam karya-karya sastra, seperti cerpen, novel, puisi, atau drama. Penulis atau penyair memilih kosakata/diksi atau kata-kata tertentu untuk mengungkapkan suatu maksud, sesuai dengan apa yang dirasakannya. Gaya bahasa yang digunakan saat mengungkapkan perasaannya, baik secara lisan maupun tulisan, dapat menimbulkan reaksi bagi pembaca berupa tanggapan.

Menurut Ratna (2009:164) mengatakan majas (figure of speech) adalah pilihan kata tertentu sesuai dengan maksud penulis atau pembicara dalam rangka memperoleh aspek keindahan. Pada umumnya majas dibedakan menjadi empat macam, yaitu a) majas penegasan, b) perbandingan, c) pertentangan, dan d) majas sindiran. Beberapa jenis majas dibedakan lagi menjadi subjenis lain sesuai dengan cirinya masing-masing.

Seorang pakar lainnya, yaitu Moeliono (dalam Laksana, 2010:18) mengatakan bahwa konsep serta penggolongan majasnya diacu dalam tulisan ini, adalah peneliti pertama yang menggunakan istlah majas sebagai terjemahan dari bahasa Inggris figure of speech. Karya Moeliono tersebut memuat pembahasan mengenai majas secara umum. Oleh Karena itu, dapat dipahami jika belum disajikan uraian yang mendalam dari subkategori majas khususnya subkategori yang dibahas dalam tulisan ini.

Majas adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa khas yang memperlihatkan jika kepribadian penulis (Tarigan dalam Prasetyono, 2011:12),

(29)

sedangkan gaya bahasa adalah cara mengungkapkan bahasa dalam konteks tertentu, oleh orang tertentu, dan untuk tujuan tertentu (Prasetyono, 2011:12). Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa majas dan gaya bahasa memiliki perbedaan baik dari konteks dan tujuannya. Majas sering digunakan dalam puisi, cerpen, drama dan lain-lain. Sedangkan gaya bahasa dapat digunakan dalam konteks tertentu salah satunya debat untuk menggungkapkan tujuan tertentu yang memiliki makna serta maksud khusus. Melalui gaya bahasa yang disampaikan oleh pembicara, lawan bicara dapat memahami arti sebenarnya yang ingin disampaikan tanpa harus bertanya dan meminta penjelasan secara mendalam.

2.2.5. Gaya Bahasa

Keraf (2006:112) berpendapat bahwa gaya atau khususnya gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah syle. Kata syle diturunkan dari kata latin stilus, yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin. Keahlian menggunakan alat ini akan mempengaruhi jelas tidaknya tulisan pada lempengan tadi. Kelak pada waktu penekan dititikberatkan pada keahlian untuk menulis indah, maka syle lalu berubah menjadi kemampuan dan keahlian untuk menulis atau mempergunakan kata-kata secara indah.

Karena perkembangan itu, gaya bahasa atau syle menjadi masalah atau bagian dari diksi atau pilihan kata yang mempersoalkan cocoktidaknya pemakaian kata, frasa atau klausa tertentu untuk menghadapi situasi tertentu. Sebab itu, persoalan gaya bahasa meliputi semua hirarki kebahasaan: pilihan kata secara

(30)

20

individual, frasa, klausa, dan kalimat, bahkan mencakup pula sebuah wacana secara keseluruhan.

Walaupun kata syle berasal dari bahasa latin, orang Yunani sudah mengembangkan sendiri teori-teori mengenai syle itu. Ada dua aliran yang terkenal, yaitu:

a. Aliran Platonik menganggap syle sebagai kualitas suatu ungkapan. Menurut mereka ada ungkapan yang memiliki syle, ada juga yang tidak memiliki syle. b. Aliran Aristoteles menggangap bahwa gaya adalah suatu kualitas yang inheren, yang ada dalam tiap ungkapan.

Dengan demikianm aliran Plato mengatakan bahwa ada karya yang memiliki gaya dan ada karya yang sama sekali tidak memiliki gaya. Sebaliknya aliran Aristoteles mengatakan bahwa semua karya memiliki gaya, tetapi ada karya yang memiliki gaya yang tinggi ada yang rendah, ada yang memiliki gaya yang kuat ada yang lemah, ada yang memiliki gaya yang baik, dan ada juga yang memiliki gaya yang jelek.

Bila kita melihat gaya secara umum, kita dapat mengatakan bahwa gaya adalah cara mengungkapakan diri sendiri, entah melalui bahasa, tingkah laku, berpakaian, dan sebagainya. Gaya bahasa memungkinkan kita dapat menilai pribadi, watak, dan kemampuan seseorang yang mempergunakan bahasa itu. Semakin baik gaya bahasanya, semakin baik pula penilaian orang terhadapnya; semakin buruk gaya bahasa seseorang, semakin buruk pula penilaian diberikan padanya. Syle atau gaya bahasa dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan

(31)

pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (Keraf 2006:113).

2.2.6 Gaya Bahasa Retoris

Gaya bahasa retoris termasuk dalam gaya bahasa yang maknanya harus diartikan menurut nilai lahirnya. Sebab itu tidak akan timbul kesulitan untuk memahaminya selama pilihan kata itu tepat. Pada waktu berbicara mengenai fakta ada kecendrungan untuk memepergunakan bahasa menurut arti kata aslinya, dan tidak memasukan sesuatu yang lain selain dari apa yang ada di hadapan kita. Berikut akan diberikan contoh kalimat yang berisi bahasa biasa dan mengandung kelangsungan makna.

1. Satu kilometer terdiri dari 1.000 meter. 2. Rumah itu terletak 300 meter dari jalan raya. 3. Ia memukul adiknya dengan sebuah tongkat.

Contoh-contoh diatas memperhatikan bahwa bahasa yang dipergunakan adalah bahasa biasa, bahasa yang mengandung unsur-unsur kelansungan makna. Arti yang didukungnya tidak lebih dan tidak kurang dari nilai lahirnya. Tidak ada usaha untuk menyembunyikan sesuatu didalamnya (Keraf 114-115:1981). Berikut ini adalah gaya bahasa retoris.

2.2.6.1 Aliterasi

Aliterasi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama. Aliterasi adalah gaya bahasa yang memanfaatkan kata-kata yang permulaanya sama bunyinya. Aliterasi juga dapat diartikan sebagai pengulangan bunyi konsonan yang sama. Jadi aliterasi adalah gaya bahasa yang mengulang kata pertama yang diulang lagi pada kata berikutnya (Keraf dalam Wicaksono

(32)

22

2014:40). Pendapat lain oleh Tarigan (1985: 197), mengatakan bahwa aliterasi adalah sejenis gaya bahasa yang memanfaatkan purwakanti atau pemakaian kata-kata yang permulaannya sama bunyinya

Aliterasi biasanya dipergunakan dalam puisi, kadang dalam prosa, untuk perhiasan atau untuk penekanan. Dalam aliterasi, gaya bahasa yang digunakan memiliki kemiripan atau persamaan yang teletak pada kata tersebut. Gaya bahasa yang berwujud perulangan tersebut dapat membuat keindahan tersendiri pada kata yang digunakan. Contoh aliterasi adalah:

1. Takut titik lalu tumpah

2. Keras-keras kerak kena air lembut juga 2.2.6.2 Asonansi

Jika dalam aliterasi pengulangan pada perulangan konsonan maka asonansi pengulangan pada vokal baik diawal, tengah, maupun akhir kata secara berurutan dalam baris atau klausa (Wicaksono, 2014:40). Pendapat lain oleh Tarigan (1985: 182), mengatakan bahwa asonansi adalah sejenis gaya bahasa repetisi yang berwujud perulangan vokal yang sama. Biasanya dipakai dalam karya puisi ataupun dalam prosa untuk memperoleh efek penekanan menyelamatkan keindahan.

Dari beberapa pendapat ahli diatas, dapat di simpulkan bahwa asonansi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan bunyi vokal yang sama. Artinya vokal yang digunakan dalam suatu tulisan memiliki kemiripian yang sama dan dapat memberikan efek tertentu. Asonansi biasanya dipergunakan dalam puisi, kadang-kadang juga dipergunakan dalam prosa untuk memperoleh efek penekanan atau sekadar keindahan. Gaya bahasa ini Misalnya:

(33)

1. Ini muka penuh luka siapa punya. 2. Muka mudah mudah muram 2.2.6.3 Anostrof atau Inversi

Inversi adalah gaya bahasa yang merupakan permutasi atau perubahan urutan unsur-unsur konstruksi sintaksis (Ducrot dan Todorov dalam Tarigan 1985:840). Pendapat lain oleh Notosudirjo (1981:180) mengatakan bahwa inversi merupakan pembalikan kalimat. (S/P-P/S). Yaitu predikat di depan subyek, sebab si pembicara ingin mengutamakan predikat dari Subjek. Selain itu, anostrof atau inversi diartikan sebagai pembalikan susunan kata-kata dalam sebuah kalimat berbeda dengan susunan yang biasa (Keraf, 1981:115). Anostrop semacam gaya bahasa retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat. Artinya gaya bahasa tersebut harus dibalik terlebih dahulu agar menjadi inversi tanpa menguarangi arti dari kata tesebut, misalnya:

1. Pergilah ia meninggalkan kami, keheranan kami melihat perangainya.

2. Kupilih warna yang serasi bagi kain kakakku. 2.2.6.4 Apofasis atau Preterisio

Apofasis atau Preterisio adalah sebuah gaya dimana pengarang menegaskan sesuatu tetapi tampaknya menyangkalnya (Keraf, 1981:115). Pendapat lain dari Tarigan (1985:860) mengatakan bahwa apofasis atau preterisio merupakan gaya bahasa yang dipergunakan oleh penulis, pengarang, atau pembicara untuk menegaskan sesuatu tapi tampaknya menyangkalnya. Seorang penulis menuliskan kata untuk dijelaskan kepada orang lain, namun jika orang melihat atau mendengar kata tersebut tampak menentang pendapat atau perkataan orang lain, misalnya:

(34)

24

1. Jika saya tidak menyadari reputasimu dalam kejujuran, maka sebenarnya saya ingin mengatakan bahwa anda pasti membiarkan anda menipu diri anda sendiri.

2.2.6.5 Apostrop

Secara alamiah apostrop berarti ‘penghilangan’. Apostrop adalah sejenis gaya bahasa yang berupa penghilangan amanat dari yang hadir kepada yang tidak hadir. Cara ini lazimnya dipakai oleh orator klasik atau para dukun tradisional. Dalam pidato yang disampaikan kepada sautu massa, sang orator tiba-tiba mengarahkan pembicaraannya langsung kepada sesuatu yang tidak hadir atau kepada yang gaib, misalnya kepada orang yang telah meninggal dunia, yang membuat dia seolah-olah tidak berbicara kepada yang yang hadir (Tarigan,1985: 83). Selain itu, Apostrop dapat diartikan semacam gaya yang berbentuk sebuah amanat dari para hadirin kepada suatu yang tidak hadir. Makna apostrop adalah berpaling atau berputar. Cara ini biasanya dipergunakan oleh orator klasik, dimana secara tiba-tiba ia mengarahkan pembicaraannya langsung kepada sesuatu yang tidak hadir: kepada mereka yang meninggal, atau kepada barang atau objek hayalan atau sesuatu yang abstrak, sehingga tampaknya ia tidak berbicara kepada para hadirin (Keraf, 1981:116). Misalnya:

1. Hai kamu dewa-dewa yang berada disurga, datanglah dan bebaskanlah kami dari belenggu penindasan ini.

2.2.6.6 Asindeton

Asindeton adalah suatu gaya yang bersifat padat dan mampat dimana beberapa kata yang sederajat berurutan, atau klausa-klausa yang sederajat, tidak dihubungkan dengan kata sambung. Bentuk-bentuk itu biasanya dipisahkan saja dengan koma, seperti ucapan terkenal dari Julius Caesar: Veni, vidi, vici. ‘Saya

(35)

datang, saya lihat, saya senang’ (Keraf, 1981:116). Pendapat lain dari Tarigan (1985:142) mengatakan bahwa asindeton adalah gaya bahasa yang berupa acuan padat dan mampat di mana beberapa kata, frase, atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung. Selain itu, Notosudirjo (1981:184) menyebutkan bahwa asindeton menyebutkan perturutan kata-kata tanpa kata sambung. Tujuannya untuk menunjukan keseluruhan kata-kata itu. Bukan sekata demi sekata. Contoh gaya bahasa asindeton misalnya:

1. Dan kesesakan, kepedihan, kesaktian, seribu derita detik-detik penghabisan orang melepaskan nyawa

2.2.6.7 Polisindenton

Polisindenton adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan dari asidenton. Beberapa kata, farasa atau klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain dengan kata-kata sambung (Keraf 2006:131). Kata sambung dapat memperjelas satu kata dengan kata yang lainya. Notosudirjo (1981:184) juga berpendapat bahwa Polinsindeton merupakan pertuturan kata-kata yang banyak menggunakan kata sambung. Tujuanya supaya tampak kelompok demi kelompok. Pendapat lain yang di kemukakan oleh Tarigan (1985:143) mengatakan bahwa polisindeton adalah suatu gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari asindeton. Dalam polinsindeton beberapa kata, frase, atau klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain dengan kata-kata sambung. Contoh gaya bahasa asidenton adalah:

1. Dan ke manakah burung-burung yang gelisah dan tak beruma dan tak menyerah pada gelap dan dingin yang bakal merontokan bulu-bulunya.

(36)

26

2.2.6.8 Kiasmus

Kiasmus adalah semacam acuan atau gaya bahasa yang mengadung dua bagian, baik frasa atau klausa, yang sifatnya berimbang yang dipertentangkan satu sama lain, tetapi susunan frasa atau klausanya itu terbalik bila dibandingkan dengan frasa atau klausa lainnya (Keraf, 1981:116). Jika dipahami, kiasmus artinya gaya bahasa yang terdiri dari dua bagian yang berimbang. Ducrot dan Todorov (dalam Tarigan, 1985:187) mengatakan bahwa Kiasmus adalah gaya bahasa yang berisikan perulangan dan sekaligus pula mendapatkan inversi hubungan antara dua kata dalam satu kalimat. Contoh gaya bahasa kiasmus adalah:

1. Semua kesabaran kami sudah hilang, lenyap sudah ketekunan kami untuk melanjutkan usaha itu.

2.2.6.9 Elipsis

Elipsis adalah sebuah gaya dengan menghilangkan suatu kata atau lebih yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca atau pendengar, sehingga struktur gramatikal atau kalimatnya memenuhi pola yang berlaku ( Keraf, 1981:117). Jika dipahami secara rinci, elipsis merupakan gaya bahasa yang dapat ditafsirkan secara mudah oleh pembaca sehingga memenuhi pola yang berlaku. Pedapat lain dari (Tarigan, 1985:138) mengatakan bahwa elipsis adalah gaya bahasa yang didalamnya dilaksanakan pengangalan atau penghilangan kata atau kata-kata yang memenuhi bentuk kalimat berdasarkan tata bahasa. Contoh gaya bahasa elipsis adalah:

1. Masihkah kau tidak percaya bahwa segi fisik engkau tak apa-apa, badanmu sehat; tetapi psikitis

(37)

2.2.6.10 Eufemismus

Kata eufemismus berasal dari kata Yunani: euphemizein yang berarti mempergunakan kata-kata dengan arti yang baik atau dengan tujuan yang baik’. Sebab itu eufemisme adalah semacam acuan berupa ungkapan-ungkapan yang tidak menyinggung perasaan orang, atau ungkapan-ungkapan yang halus untuk mengantikan acuan-acuan yang mungkin dirasakan menghina, menyinggung perasaan atau mengsugestikan sesuatu yang tidak menyenangkan (Keraf, 1981:117). Jika diartikan eufesmus adalah gaya bahasa yang sangat memperhatikan perasaan orang lain atau penggunaan kata yang halus dalam menyampaikan sesuatu. Selain itu, menurut Tarigan (1985:128) eufemismus ialah ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasakan kasar, yang dianggap merugikan, atau yang tidak menyenangkan. Pendapat lain dari Notosudirjo (1981:178) mengatakan bahwa eufemisme adalah kiasan kesopanan bahasa, yaitu untuk menghaluskan kata-kata yang dirasakan kasar, tak sopan, tak enak didengar atau menyinggung perasaan orang ke dua. Contoh eufemismus adalah:

1. Ayahnya sudah tak ada lagi ditengah-tengah mereka (=mati). 2. Pak! permisi ke belakang sebentar. (=ke wese; kencing). 2.2.6.11 Litotes

Litotes adalah semacam gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri. Sesuatu hal dinyatakan kurang dari keadaan sebenarnya. Atau suatu pikiran dinyatakan dengan menyangkal lawan katanya (Keraf, 1981:119). Dalam litotes, pemilihan kata yang digunakan cendrung menggunakan kata atau gaya bahasa yang merendahkan diri sendiri. Pendapat lain

(38)

28

dari Notosudirjo (1981:178) mengatakan bahwa litotes yaitu mengurangi keadaan diri sendiri, atau merendahkan diri untuk menghormati orang kedua (yang diajak berbicara). Selain itu, Tarigan (1985:58) juga berpendapat bahwa litotes adalah majas yang di dalam pengungkapanya menyatakan sesuatu yang positif dengan bentuk yang negatif atau bentuk yang bertentangan. Contoh kata litofes adalah:

1. Kedudukan saya ini tidak ada artinya sama sekali. 2. Icuk Sugiarto sama sekali bukan pemain jalanan. 2.2.6.12 Histeron Porteron

Dalam tulisan ataupun percakapan, dalam menulis ataupun berbicara, ada kalanya kita membalikan sesuatu yang logis, membalikan sesuatu yang wajar, misalnya menempatkan pada awal peristiwa sesuatu yang sebenarnya terjadi kemudian. Gaya bahasa seperti ini disebut histeron proteron atau hiperbaton (Tarigan, 1985:87). Selain itu histeron porteron dapat diartikan sebagai gaya bahasa yang menyatakan makna kebalikan dari sesuatu yang logis atau dari kenyataan yang ada (Keraf dalam Wicaksono 2014:46). Bila disimpulkan, histeron porteron merupakan gaya bahasa yang membalikan sesuatu yang wajar namun akan sedikit sulit dimengerti oleh orang lain jika tidak memahaminya secara jelas.

1. Jendela ini telah memberi sebuah kamar padamu untuk dapat berteduh dengan tenang.

2. Pidato yang berapi-api pun keluarlah dari mulut orang yang berbicara terbata-bata itu.

2.2.6.13 Pleonasme dan Tautologi

Pada dasarnya pleonasme dan tautologi adalah acuan yang mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang dilakukan. Kelebihan kata itu terjadi karena

(39)

pengulangan gagasan yang sama dengan kata-kata yang berlainan. Tetapi ada pula yang ingin memberikan pengertian yang lebih cermat kepada kedua istilah itu. Pleonasme berasal dari kata pleonazein yang berarti ‘lebih banyak dari yang diperlukan ‘atau ‘berkelimpahan’. Jadi pleonasme adalah semacam gaya yang mempergunakan kata-kata secara berlebihan, sehingga bila salah satunya dihilangkan, artinya tetap utuh. Sebaliknya tautologi adalah perulangan yang tidak perlu dari hal yang sesama dalam kata yang berlebihan. Dengan demikian ada pertemuan antara kedua istilah itu (Keraf, 1981: 120). Pendapat lain dari Notosudirjo (1981:184) mengatakan bahwa tautologi adalah perurutan kata dan sinonimnya. Tujuanya untuk menyatakan arti. Selain itu, Keraf dalam Wicaksono (2014:35) berpendapat bahwa pleonasme adalah semacam acuan yang mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang diperlukan untuk menyatakan satu gagasan atau pikiran. Contoh pleonasme dan tautologi adalah:

1. Saya telah mendengar hal itu dengan telinga saya sendiri.

2. Acara pesta telah meresap menusuk di dalam kehidupan masyarakat.

2.2.6.14 Perifrasis

Perifrasis adalah semacam gaya atau acuan untuk menyatakan maksud secara tidak langsung atau dapat dikatakan suatu cara abstrak untuk mengungkapkan suatu maksud (Keraf, 1981:119). Keraf (dalam Tarigan 1985:31) juga mengatakan bahwa perifrasis adalah sejenis gaya bahasa yang agak mirip dengan pleonasme. Kedua-duanya mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Walaupun begitu terdapat perbedaan yang penting antara keduanya. Pada gaya

(40)

30

bahasa perifrasis, kata-kata yang berlebihan itu pada prinsipnya dapat diganti dengan sebuah kata saja.

Perifrasis bisa juga dikatakan jenis gaya bahasa retoris yang menggunakan kata yang halus dan sopan namun tidak memiliki perbedaan arti dengan kata sebenarnya. Contoh gaya bahasa perifrasis yaitu:

1. Ia telah beristirahat dengan damai (=mati, atau meninggal)

2. Saya menerima segala saran, petuah, petunjuk yang sangat berharga dari Bapak Lurah (=nasihat).

2.2.6.15 Prolepsis atau Antisipasi

Dalam berbicara atau menulis, ada kalanya kita mempergunakan terlebih dahulu satu atau beberapa kata sebelum gagasan ataupun peristiwa yang sebenarnya terjadi. Sebagai contoh, dalam memberikan peristiwa perampokan ataupun pemeriksaan terhadap seorang wanita, sebelum tiba pada peristiwa perampokan itu, maka sang pembicara atau sang penulis sudah mempergunakan kata-kata wanita yang malang itu. Sebenarnya kemalangan itu terjadi kemudian. Gaya bahasa yang seperti ini kita sebut antisipasi atau prolepsi (Tarigan, 1985:33).

Prolepsis atau antisipasi adalah semacam gaya bahasa dimana orang mempergunakan lebih dahulu kata-kata atau sebuah kata sebelum perisiwa atau gagasan yang sebenarnya terjadi. Misalnya dalam mendeskripsikan tentang berlangsungnya sebuah kecelakaan kapal terbang, maka sebelum sampai kepada peristiwa kecelakaan itu sendiri, penulis sudah mempergunakan kata pesawat yang sial itu. Pada halnya kesialan baru terjadi kemudian (Keraf, 1981: 120). Prolepsis atau antisipasi merupakan gaya bahasa retoris yang didepan peristiwa

(41)

ditambahkan kata-kata agar peristiwa yang diceritakan menjadi lebih menarik dengan penambahan kata yang tepat.

1. Pada pagi yang naas itu, ia mengendarai sebuah sedan biru. 2. Mobil yang malang itu ditabrak oleh truk pasir dan jatuh ke

jurang.

2.2.6.16 Eroteisis atau Pertanyaan Retoris

Pertanyaan retoris adalah semacam pertanyaan yang dipergunakan dalam pembicaraan atau penulisan dengan tujuan mencapai efek yang baik dan penekanan yang wajar, dan tidak menghendaki adanya suatu jawaban. Gaya ini biasanya dipergunakan sebagai salah satu alat yang efektif oleh para orator. Dalam pertanyaan retoris terdapat asumsi bahwa hanya ada satu jawaban yang mungkin (Keraf, 1981: 120).

Eroteisis atau pertanyaan retoris juga bisa dikatakan pertanyaan yang diungkapkan untuk sekadar basa-basi dalam menghadiri suatu acara, pertanyaan ini tidak ada orang yang dituju. Itulah yang menyebabkan eroteisis atau pertanyaan retoris tidak membutuhkan jawaban. Pendapat lain dari Tarigan (1985:134) mengatakan bahwa eroteisis adalah sejenis gaya bahasa yang berupa pertanyaan yang dipergunakan dalam tulisan atau pidato yang bertujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menuntut suatu jawaban. Para orator biasanya memanfaatkann gaya bahasa ini sebagai salah satu sarana yang efektif dalam pidatonya. Misalnya:

1. Apakah saya menjadi wali kakak saya?

2. Apakah sudah wajar bila kesalahan atau kegagalan itu ditimpakan seluruhnya kepada para guru?

(42)

32

2.2.6.17 Silepsis dan Zeugma

Zeugma dan silepsis adalah gaya bahasa yang mempergunakan dua kontruksi rapatan dengan cara menghubungkan sebuah kata dengan dua atau lebih kata lain yang pada hakekatnya hanya sebuah saja yang mempunyai hubungan dengan kata yang pertama. Walaupun begitu terdapat perbedaan antara zeugma dan silepsis (Tarigan, 1985:68).

Silepsis dan zeugma gaya bahasa dimana orang mempergunakan sepatah kata dalam hubungan dengan dua kata atau lebih yang disangka sama tetapi sebenarnya tidak. Dalam silepsis, kata yang dipakai itu secara gramatikal benar, tetapi kata tadi diterapkan pada kata yang lain yang sebenarnya mempunyai makna yang lain (Keraf, 1981:121).

Silepsis dan zeugma juga merupakan dua konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata lain yang sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan kata pertama. Kata yang digunakan sebenarnya hanya salah satu saja, sedangkan kata lain yang hanya sebagai pelengkap agar kata tersebut lebih jelas.

1. Ia sudah kehilangan topi dan semangatnya. 2. Anak itu memang rajin dan malas di sekolah. 2.2.6.18 Koreksio atau Epanortosis

Dalam berbicara atau menulis, ada kalanya kita ingin menegaskan sesuatu, tetapi kemudian kita memperbaikinya atau mengoreksinya kembali. Gaya bahasa seperti ini biasa disebut koreksio atau epanortosis. Dengan perkataan lain: koreksio atau epanortosis adalah gaya bahasa yang berwujud mula-mula ingin menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memeriksa dan memperbaiki mana-mana

(43)

yang salah (Tarigan, 1985:34). Selain itu, koreksio atau epanortosis dapat diartikan sebagai suatu gaya yang berwujud, mula-mula menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memperbaikinya (Keraf, 2006:135). Koreksio atau Epanortosis awalnya diungkapan oleh pembicara, namun setelah pembicara atau orang yang berbicara mengetahui kesalahannya, Ia segera memperbaiki dengan kata yang benar dalam waktu yang bersamaan.

Contoh koreksio atau epanortosis sebagai berikut:

1. Sudah empat kali saya mengunjungi daerah itu, ah bukan, sudah lima kali.

2. Pak Tarigan memang orang Bali, ah bukan, orang Batak. 2.2.6.19 Hiperbola

Hiperbola yaitu sepatah kata yang diganti dengan kata lain yang memberikan pengertian lebih hebat daripada kata. Keraf (dalam Wicaksono 2014:32) berpendapat bahwa hiperbola yaitu semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan dan membesar-besarkan suatu hal. Sementara itu, Nurgiyantoro (dalam Wicaksono 2014:32) menyatakan bahwa hiperbola adalah gaya bahasa yang peraturannya bertujuan menekankan maksud dengan sengaja melebih-lebihkan. Hiperbola dapat dikatakan juga sebagai gaya bahasa yang berlebihan atau melebih-lebihkan sesuatu dengan maksud agar orang lain mengetahui bahwa yang ia katakan sungguh benar-benar terjadi. Pendapat lain dari Notosudirjo (1981:177) mengatakan bahwa hiperbola adalah kiasan yang berlebih-lebihan (hiper). Contoh hiperbola yaitu:

1. Kemarahanku sudah menjadi-jadi hinga hampir-hampir meledak aku.

(44)

34

2.2.6.20 Paradoks

Paradoks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang ada dengan fakta-fakta yang ada. Paradoks dapat diartikan sebagai ungkapan yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Dengan demikian, paradoks adalah gaya bahasa yang bertentangan dalam satu kalimat (Keraf dalam Wicaksono 2014:45). Pendapat lain dari Notosudirjo (1981:183) mengatakan bahwa paradoks merupakan perlawanan, yaitu kata yang diucapkan, berlawanan arti dengan yang dimaksudkan. Tujuannya untuk menghaluskan kalimat. Selain itu, paradoks diartikan sebagai suatu pernyataan yang bagaimanapun diartikan selalu berakhir dengan pertentangan (tarigan 1985:77). Contoh paradoks yaitu:

1. Musuh sering merupakan kawan yang akrab 2. Aku kesepian ditengah keramaian.

2.2.6.21 Oksimoron

Wicaksono (2014:46) mengatakan bahwa oksimoron adalah gaya bahasa yang antara bagian-bagiannya menyertakan sesuatu yang bertentangan. Pendapat lain dari Ducrot dan Tododrov (dalam Tarigan, 1985:63) mengatakan bahwa oksimoron adalah oksimorin yaitu sejenis gaya bahasa yang mengandung penegakan atau pendirian suatu hubungan sintaksis, baik koordinasi maupun deternimasi antara dua antonim. Selain itu, oksimoron dapat diartikan sebagai gaya bahasa yang antara bagian-bagiannya menyatakan sesuatu yang bertentangan. Selain itu, oksimoron merupakan suatu acuan yang berusaha untuk menggabungkan kata-kata untuk mencapai efek yang bertentangan.

(45)

Oksimoron juga dapat diartikan mempertentangkan secara berlawanan bagian demi bagian dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan dalam frase atau kalimat yang sama (Keraf dalam Wicaksono 2014:46). Jika diartikan secara terpisah Oksimoron (okys=tajam, moros=gila, tolol) adalah suatu acuan yang berusaha untuk menggabungkan kata-kata untuk mencapai efek yang bertentangan. Jika diartikan Oksimoron adalah kata-kata yang awalnya lembut namun memiliki sambungan yang sangat tajam atau kasar.

1. Keramah-tamahan yang bengis.

2. Olah raga mendaki gunung memang menarik hati walaupun sangat berbahaya.

2.2.7 Debat

Secara kebahasaan, debat merupakan aktivitas menyampaikan dan mempertahankan argumen. Meskipun sering disalahartikan sebagai kegiatan ngotot dan berkeras kepala, debat sebenarnya adalah proses menyusun argumen dari pernyataan yang masuk akal untuk meyakinkan lawan bicaranya agar menerima pendapat yang dilontarkan. Argumen-argumen dalam debat yang berkualitas dengan mengutamakan ide yang logis dan dukungan bukti empiris biasanya disebut sebagai silogisme (Jazeri, dalam Pratama, dkk 6:2016), yang kemudian diistilahkan sebagai silogisme debat, dan pelakunya diistilahkan sebagai debater .

Selain itu, Pratama dkk (6:2016) juga mengatakan bahwa debat dapat disimpulkan sebagai kegiatan adu argumenasi antara dua pihak atau lebih (perorangan atau kelompok) dalam berusaha mendiskusikan dan memutuskan masalah serta mengkaji perbedaan. Secara formal, debat banyak dilakukan dalam

(46)

36

institusi kenegaraan seperti badan legislatif, terutama di negara-negara yang menggunakan sistem oposisi. Dalam hal ini, debat dilakukan mengikuti satu set aturan yang jelas dan hasil debat dapat diperoleh melalui voting atau keputusan pihak-pihak yang memiliki wewenang. Sejak dahulu, negara-negara penganut demokrasi telah menerapkan sistem debat atau musyawarah dalam pengambilan keputusan sebuah kebijakan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) debat diartikan sebagai pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing.

Dari beberapa pendapat ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa debat adalah kegiatan yang dilakukan oleh beberapa orang dengan jumlah tertentu dalam forum terbuka. Kegiatan debat tersebut membahas tentang isu-isu dan beberapa hal yang dianggap oleh pihak tertentu benar namun, dianggap kurang benar oleh pihak yang tidak sependapat. Hal inilah yang dapat menimbulkan beberapa argumentasi serta pertentangan.

2.2.8 Kerangka Berfikir

Bahasa merupakan suatu cara yang sering digunakan oleh orang dalam berkomunikasi dan menyampaikan maksud dan tujuan tertentu kepada orang lain. Bahasa sifatnya lisan dan tulis, namun yang sering kita dengar adalah bahasa lisan. Sedangkan gaya merupakan cara orang menyampaikan bahasanya.

Gaya bahasa yang di kaji dalam penelitian ini adalah gaya bahasa retoris yang terdiri dari 21 jenis gaya bahasa. Gaya bahasa retoris jarang di ketahui oleh pengguna bahasa. Orang-orang lebih mengenal gaya bahasa secara umum dan tidak memahaminya secara mendalam. Padahal, jika kita pahami banyak orang

(47)

sering menggunakan gaya bahasa reoris dan tidak menyadarinya karena belum mengetahui jenis gaya bahasa retoris itu.

Gaya bahasa retoris sangat menarik jika dipahami lebih mendalam, karena dalam gaya bahasa itu terdapat banyak gaya bahasa yang mudah dipahami dan digunakan dalam berkomunikasi dengan orang lain untuk menyampaikan maksud dan tujuan tertentu. Dalam penelitian ini, gaya bahasa retoris akan peneliti temukan dalam ucapan yang di utarakan oleh Prabowo dan Sandiaga dalam debat calon presiden dan wakil Presiden putaran satu dan dua.

Berdasarkan pemikiran di atas diduga bahwa penggunaan gaya bahasa retoris dalam berkomunikasi dapat menghasilakan kata yang baru dan menarik namun mengandung maksud dan tujuan tertentu yang dapat meningkatkan daya tarik dalam berkomunikasi. Adapun skema kerangka berfikir adalah sebagai berikut:

(48)

38

Gambar 2.2.9.1 Kerangka Berfikir

GAYA BAHASA RETORIS PASANGAN PRABOWO-SANDIAGA DALAM DEBAT PRESIDEN PUTARAN SATU DAN DUA:

PERSPEKTIF PRAGMATIK

Gaya Bahasa Retoris Pasangan Prabowo-Sandiaga dalam Debat Presiden Putaran Satu dan Dua: Perspektif Pragmatik

Gaya Bahasa Retoris

Pragmatik

Wujud gaya bahasa retoris

Makna gaya bahasa retoris

Fungsi gaya bahasa retoris

Gambar

Gambar 2.2.9.1  Kerangka Berfikir

Referensi

Dokumen terkait

Instrumen dalam penelitian ini yaitu peneliti sendiri yang merupakan alat pengumpul data utama analisis data dilakukan dengan tahapan: 1 mengidentifikasi dan menginventarisasi

Hubungan antara variabel tipe kepribadian secara langsung terhadap variabel kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan mempunyai nilai original sample (O) pada tabel 4.12.

22 Ramon Sinkiriwang Putrama, Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team Achievement Division (STAD) Dengan Metode Eksperimen Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA

Baca Tulis Qur’an (BTQ) pembelajaran yang diusung untuk mempelajari Al-Qur’an, pembelajaran BTQ terdiri dari pengenalan huruf hijaiyah sampai tahap selanjutnya

Berdasarkan jawaban di atas, maka aturan susunan posisi dapat dinyatakan dalam aturan baris dan lajur (kolom).. Inilah yang dinamakan

Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Palu Nomor 4 Tahun 1996 tentang Retribusi Parkir Kendaraan (Lembaran Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Palu Nomor 6 Seri B Nomor

Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh komunikasi pemasaran, pengalaman, dan kualitas jasa wisata terhadap citra tempat rekreasi air terjun di

Berdasarkan hasil dari penelitian yang dilaksanakan pada PT. Fifatex, bahwa perusahaan tersebut dalam sistem pengendalian intern atas pemrosesan sistem pembelian