• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI PROVINSI BENGKULU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI PROVINSI BENGKULU"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

 NTP Provinsi Bengkulu bulan Februari 2016 tercatat sebesar 92,03. Angka ini lebih rendah dari NTP bulan Januari 2016 sebesar 92,09 atau turun sebesar 0,07 persen. Sementara nilai tukar usaha pertanian tercatat 100,55 atau turun sebesar 0,38 persen bila dibandingkan dengan bulan Januari 2016 yang tercatat sebesar 100,94

 Perubahan NTP untuk masing-masing sub sektor adalah sebagai berikut : subsektor tanaman pangan (NTPP) 100,71 (naik 0,32 persen) NTP subsektor hortikultura (NTPH) 105,05 (naik 1,43 persen), NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTPR) 78,63 (turun 0,99 persen), NTP subsektor peternakan (NTPT) 108,93 (turun 0,04 persen) dan NTP subsektor perikanan/nelayan (NTN) 97,02 (naik 0,49 persen). NTP subsektor perikanan tangkap (NTNT) 100,80 (turun 0,43 persen) dan NTP subsektor perikanan budidaya (NTNB) 95,61 (naik 0,87 persen).

 Penurunan nilai tukar usaha pertanian (NTUP), terjadi pada subsektor tanaman pangan, subsektor tanaman perkebunan rakyat, subsektor peternakan dan subektor perikanan tangkap. Perubahan NTUP masing-masing subsektor sebagai berikut: tanaman pangan (-0,12 persen), hortikultura (1,35 persen), tanaman perkebunan rakyat (-1,37 persen), peternakan (-0,19 persen), perikanan (0,14 persen), perikanan budidaya (0,42 persen) dan perikanan tangkap (-0,58 persen).

Pada bulan Februari 2016, terjadi deflasi daerah perdesaan sebesar - 0,002 persen. Hal ini karena terjadi penurunan indeks pada beberapa kelompok. Perubahan indeks pada masing-masing kelompok sebagai berikut: bahan makanan (-0,30 persen), makanan jadi (0,74 persen), perumahan (-0,19 persen), sandang (0,10 persen), kesehatan (0,34 persen), pendidikan rekreasi & olah raga (0,52 persen) dan transportasi & komunikasi (-0,20 persen).

No.14/03/17/Th.X, 1 Maret 2016

P

ERKEMBANGAN

N

ILAI

T

UKAR

P

ETANI

P

ROVINSI

B

ENGKULU

Bulan Februari 2016 Nilai Tukar Petani Provinsi Bengkulu 92,03

Nilai Tukar Petani (NTP) yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani (dalam persentase) merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of

trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.

Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.

Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan di Provinsi Bengkulu NTP pada bulan Februari 2016 sebesar 92,03 yang mengalami penurunan sebesar 0,07 persen dibanding bulan Januari 2016 yaitu sebesar 92,09. Hal ini disebabkan indeks harga hasil produksi pertanian yang diterima petani tidak mengalami perubahan sementara indeks harga yang dibayar petani mengalami peningkatan. Indeks harga yang diterima petani tidak mengalami perubahan yaitu dari 112,63 pada Januari maupun pada

(2)

Februari 2016. Sementara indeks harga yang dibayar petani berupa barang dan jasa baik untuk dikonsumsi rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian naik sebesar 0,07 persen yaitu dari 122,30 pada Januari 2016 menjadi 122,39 pada Februari 2016.

Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) mengalami penurunan sebesar 0,38 persen yaitu dari 100,94 pada Januari 2016 menjadi 100,55 pada Februari 2016. Hal ini karena indeks harga yang diterima petani tidak mengalami perubahan sedangkan indeks yang dibayarkan petani untuk biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) mengalami kenaikan sebesar 0,39 persen.

Bila NTP Februari 2016 dibandingkan dengan NTP Januari 2016 subsektor yang mengalami penurunan indeks adalah subsektor tanaman perkebunan rakyat, subsektor peternakan, dan subsektor perikanan tangkap. Perubahan pada masing-masing subsektor adalah sebagai berikut: subsektor tanaman pangan (NTPP) 100,71 (naik 0,32 persen) NTP subsektor hortikultura (NTPH) 105,05 (naik 1,43 persen), NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTPR) 78,63 (turun 0,99 persen), NTP subsektor peternakan (NTPT) 108,93 (turun 0,04 persen) dan NTP subsektor perikanan (NTN) 97,02 (naik 0,49 persen). NTP subsektor perikanan tangkap (NTNT) 100,80 (turun 0,43 persen) dan NTP subsektor perikanan budidaya (NTNB) 95,61 (naik 0,87 persen).

Untuk nilai tukar usaha pertanian (NTUP), terjadi penurunan indeks pada subsektor tanaman pangan, subsektor tanaman perkebunan rakyat, subsektor peternakan dan subektor perikanan tangkap. Perubahan NTUP masing-masing subsektor sebagai berikut: tanaman pangan (-0,12 persen), hortikultura (1,35 persen), tanaman perkebunan rakyat (-1,37 persen), peternakan (-0,19 persen), perikanan (0,14 persen), perikanan budidaya (0,42 persen) dan perikanan tangkap (-0,58 persen).

Tabel 1.

Nilai Tukar Petani dan Nilai Tukar Usaha Pertanian Provinsi Bengkulu Per Subsektor Bulan Februari 2016

(2012=100)

Subsektor

Bulan Persentase

Januari 2016 Februari 2016 Perubahan

(1) (2) (3) (4)

1. Tanaman Pangan

c. Nilai Tukar Petani (NTPP) 100.39 100.71 0.32

d. Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUPP) 111.37 111.23 (0.12)

2. Hortikultura

c. Nilai Tukar Petani (NTPH) 103.57 105.05 1.43

d. Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUPH) 114.49 116.04 1.35

3. Tanaman Perkebunan Rakyat

c. Nilai Tukar Petani (NTPR) 79.41 78.63 (0.99)

d. Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUPR) 87.28 86.08 (1.37)

4. Peternakan

c. Nilai Tukar Petani (NTPT) 108.98 108.93 (0.04)

d. Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUPT) 115.46 115.24 (0.19)

5. Perikanan

c. Nilai Tukar Nelayan (NTN) 96.54 97.02 0.49

d. Nilai Tukar Usaha Nelayan (NTUN) 105.31 105.46 0.14

5.1. Perikanan Tangkap

c. Nilai Tukar Nelayan (NTN) 101.24 100.80 (0.43)

d. Nilai Tukar Usaha Nelayan (NTUNT) 107.73 107.11 (0.58)

5.2. Perikanan Budidaya

c. Nilai Tukar Nelayan (NTN) 94.79 95.61 0.87

d. Nilai Tukar Usaha Nelayan (NTUNB) 104.37 104.82 0.42

Sektor Pertanian

c. Nilai Tukar Petani (NTP) 92.09 92.03 (0.07)

(3)

Gambar 1.

Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Provinsi Bengkulu Februari 2015 – Februari 2016 (2012=100)

1. Indeks Harga yang Diterima Petani (It)

Pada bulan Februari 2016 indeks harga yang diterima petani (It) tidak mengalami perubahan dibanding Januari 2016, yaitu 112,63. Perubahan pada masing-masing subsektor adalah sebagai berikut: tanaman pangan (0,39 persen), hortikultura (1,50 persen), tanaman perkebunan rakyat (-0,92 persen), peternakan (0,07 persen) dan perikanan (0,47 persen), perikanan tangkap (-0,50 persen) dan perikanan budidaya (0,86 persen).

2. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib)

Melalui indeks harga yang dibayar petani (Ib) dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan, khususnya petani yang merupakan bagian terbesar masyarakat perdesaan, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian.

Pada Februari 2016 indeks harga yang dibayar (Ib) petani dilaporkan mengalami peningkatan sebesar 0,07 persen dibanding bulan Januari 2016, yaitu dari 122,30 menjadi 122,39. Perubahan Ib pada masing-masing subsektor adalah sebagai berikut ; tanaman pangan (0,07 persen), hortikultura (0,06 persen), perkebunan (0,07 persen), peternakan (0,11 persen), perikanan (-0,02 persen), perikanan tangkap (-0,07 persen) dan perikanan budidaya (-0,004 persen).

3. NTP/NTUP Subsektor

a. Subsektor Tanaman Pangan (NTPP)

Pada bulan Februari 2016 nilai tukar petani untuk subsektor tanaman pangan (NTPP) naik sebesar 0,32 persen dan nilai tukar usaha pertanian tanaman pangan (NTUPP) mengalami penurunan sebesar 0,12 persen. Hal ini terjadi karena kenaikan indeks harga yang diterima petani naik sebesar 0,39 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani naik sebesar yaitu 0,07 persen. Sedangkan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal naik sebesar 0,51 persen.

Naiknya It terjadi karena naiknya indeks harga yang diterima petani padi dan palawija masing-masing sebesar 0,43 persen dan 0,23 persen. Naiknya indeks yang dibayar (Ib) disebabkan oleh naiknya indeks indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) sebesar 0,51 persen, sementara indeks konsumsi rumah tangga turun sebesar 0,01 persen.

95,67 96,24 94,32 97,27 96,78 93,15 92,51 92,48 93,69 93,44 92,96 92,09 92,03 101,94 102,08 99,98 101,92 101,28 100,52 100,34 99,92 101,22 101,34 101,60 100,94 100,55 90 92 94 96 98 100 102 104 106

Feb'15 Mar April Mei Juni Juli Agust Sept Okt Nov Des Jan'16 Feb

NTUP

NTP NTP

(4)

b.

Subsektor Hortikultura (NTPH)

Pada bulan Februari 2016, nilai tukar petani subsektor hortikultura naik sebesar 1,43 persen dan nilai tukar usaha pertanian subsektor hortikultura juga naik sebesar 1,35 persen. Hal ini terjadi karena kenaikan indeks harga yang diterima petani (1,50 persen) sedangkan indeks yang dibayar petani naik (0,06 persen). Indeks biaya produksi dan penambahan barang modal naik sebesar 0,15 persen. Naiknya It terjadi karena indeks sub kelompok sayur-sayuran naik sebesar 1,81 persen, sub kelompok tanaman obat naik sebesar 1,50 persen sedangkan sub kelompok buah-buahan turun sebesar 1,64 persen.

c.

Subsektor Perkebunan Rakyat (NTPR)

Pada bulan Februari 2016, nilai tukar petani tanaman perkebunan rakyat turun sebesar 0,99 persen. Hal ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani turun sebesar 0,92 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani naik sebesar 0,07 persen. Nilai tukar usaha pertanian juga turun sebesar 1,37 persen dengan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal yang naik sebesar 0,46 persen.

d. Subsektor Peternakan (NTPT)

Pada bulan Februari 2016, nilai tukar petani sub sektor peternakan mengalami penurunan sebesar 0,04 persen. Hal ini terjadi karena indeks yang diterima petani naik (0,07 persen) dan indeks yang dibayar petani naik (0,11 persen). Nilai tukar usaha peternakan juga turun sebesar 0,19 persen dengan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal naik sebesar 0,26 persen.

Turunnya indeks harga yang diterima petani (It) terjadi karena indeks sub kelompok ternak besar, sub kelompok unggas mengalami penurunan indeks. Sub kelompok ternak besar turun sebesar 0,12 persen, sub kelompok ternak kecil naik 0,17 persen, sub kelompok hasil ternak naik sebesar 1,30 persen dan sub kelompok unggas turun sebesar 0,09 persen. Naiknya indeks harga yang dibayar petani (Ib) disebabkan oleh peningkatan indeks BPPBM sebesar 0,26 persen sedangkan indeks konsumsi rumah tangga turun sebesar 0,06 persen

c. Subsektor Perikanan ( NTN)

Pada bulan Februari 2016, nilai tukar petani sub sektor perikanan naik sebesar 0,49 persen dan nilai tukar usaha perikanan juga naik sebesar 0,14 persen. Hal ini terjadi karena indeks yang diterima naik sebesar 0,47 persen dengan indeks yang dibayar turun sebesar 0,02 persen dan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal naik sebesarru 0,34 persen.

Naiknya It terjadi karena naiknya indeks harga yang diterima pada sub kelompok perikanan budidaya sebesar 0,86 persen sementara pada sub kelompok perikanan budidaya turun sebesar 0,50 persen. Naiknya Ib dikarenakan oleh naiknya indeks BPPBM sebesar 0,34 persen sedangkan indeks konsumsi rumah tangga turun sebesar 0,15 persen.

d. Subsektor Perikanan Kelompok Perikanan Tangkap ( NTNT)

Pada bulan Februari 2016, nilai tukar nelayan tangkap (NTNT) mengalami penurunan indeks yaitu sebesar 0,43 persen dan nilai tukar usaha perikanan tangkap juga mengalami penurunan sebesar 0,58 persen. Hal ini terjadi karena indeks yang diterima nelayan tangkap turun sebesar 0,50 persen sedangkan indeks yang dibayar hanya turun sebesar 0,07 persen dengan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal turun sebesar 0,08 persen.

Turunnya It terjadi karena adanya penurunan indeks harga yang diterima petani pada semua sub kelompok yaitu sub kelompok penangkapan laut sebesar 0,51 persen dan pada sub kelompok perairan

(5)

umum yaitu sebesar 0,23 persen. Turunnya Ib dikarenakan turunnya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,15 persen sedangkan indeks BPPBM naik sebesar 0,08 persen.

Subsektor Perikanan Kelompok Perikanan Budidaya ( NTNB)

Pada bulan Februari 2016, nilai tukar nelayan budidaya (NTNB) naik sebesar 0,87 persen, dan nilai tukar usaha nelayan budidaya (NTUB) juga mengalami peningkatan sebesar 0,42 persen. Hal ini terjadi karena kenaikan indeks yang diterima nelayan budidaya (0,86 persen) sedangkan indeks yang dibayar turun (0,004 persen). Indeks biaya produksi dan penambahan barang modal mengalami kenaikan sebesar 0,44 persen. Turunnya Ib dikarenakan oleh turunnya indeks konsumsi rumahtangga sebesar 0,15 persen sedangkan indeks BPPBM naik sebesar 0,44 persen.

4.

Indek Harga Konsumen Perdesaan

Perubahan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (KRT)/Indeks harga konsumen perdesaan mencerminkan angka Inflasi/Deflasi di wilayah perdesaan. Pada bulan Februari 2016, terjadi deflasi di daerah perdesaan sebesar -0,002 persen. Perubahan indeks kelompok barang dan jasa yang terjadi di perdesaan yaitu: bahan makanan -0,30 persen, makanan jadi 0,74 persen, perumahan -0,19 persen, sandang 0,10 persen, kesehatan 0,34 persen, pendidikan rekreasi & olah raga 0,52 persen dan transportasi & komunikasi -0,20 persen.

Tabel 2.

Persentase Perubahan Indeks Harga Konsumen Perdesaan Februari 2016 (2012=100)

Provinsi Makanan Bahan Makanan Jadi Perumahan Sandang Kesehatan Pendidikan, Rekreasi & Olah raga Transportasi dan Komunikasi Konsumsi Rumah Tangga ( Deflasi) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Bengkulu -0.30 0.74 -0.19 0.10 0.34 0.52 -0.20 -0.002

(6)

Tabel 3.

Indeks yang diterima dan dibayar Petani Per Subsektor dan Perubahannya Bulan Februari 2016 (2012=100)

Kelompok dan Sub kelompok Bulan Persentase

Januari 2016 Februari 2016 Perubahan

(1) (2) (3) (4)

1. Tanaman Pangan

a. Indeks Diterima Petani 124.49 124.98 0.39

- Padi 121.55 122.07 0.43

- Palawija 135.99 136.31 0.23

b. Indeks Dibayar Petani 124.01 124.10 0.07

- Konsumsi Rumah Tangga 126.45 126.44 (0.01)

- BPPBM 111.79 112.36 0.51

2. Hortikultura

a. Indeks Diterima Petani 126.69 128.59 1.50

- Sayur-sayuran 127.37 129.67 1.81

- Buah-buahan 120.35 118.38 (1.64)

- Tanaman Obat 126.10 127.99 1.50

b. Indeks Dibayar Petani 122.33 122.41 0.06

- Konsumsi Rumah Tangga 124.79 124.85 0.05

- BPPBM 110.66 110.82 0.15

3. Tanaman Perkebunan Rakyat

a. Indeks Diterima Petani 97.99 97.10 (0.92)

- Tanaman Perkebunan Rakyat 97.99 97.10 (0.92)

b. Indeks Dibayar Petani 123.40 123.49 0.07

- Konsumsi Rumah Tangga 125.38 125.39 0.01

- BPPBM 112.28 112.79 0.46

4. Peternakan

a. Indeks Diterima Petani 127.28 127.37 0.07

- Ternak Besar 126.78 126.62 (0.12)

- Ternak Kecil 123.56 123.77 0.17

- Unggas 126.33 126.21 (0.09)

- Hasil Ternak 132.83 134.55 1.30

b. Indeks Dibayar Petani 116.80 116.92 0.11

- Konsumsi Rumah Tangga 124.67 124.60 (0.06)

- BPPBM 110.24 110.53 0.26

5. Perikanan

a. Indeks Diterima Petani 116.97 117.52 0.47

- Penangkapan 122.40 121.78 (0.50)

- Budidaya 114.93 115.92 0.86

b. Indeks Dibayar Petani 121.16 121.13 (0.02)

- Konsumsi Rumah Tangga 125.40 125.22 (0.15)

- BPPBM 111.07 111.44 0.34

5.1. Perikanan Tangkap

a. Indeks Diterima Petani 122.40 121.78 (0.50)

- Penangkapan Perairan Umum 104.59 104.34 (0.23)

- Penangkapan Laut 123.16 122.54 (0.51)

b. Indeks Dibayar Petani 120.90 120.82 (0.07)

- Konsumsi Rumah Tangga 125.32 125.13 (0.15)

- BPPBM 113.61 113.70 0.08

5.2. Perikanan Budidaya

a. Indeks Diterima Petani 114.93 115.92 0.86

- Budidaya Air Tawar 114.93 115.92 0.86

b. Indeks Dibayar Petani 121.26 121.25 (0.004)

- Konsumsi Rumah Tangga 125.43 125.25 (0.15)

- BPPBM 110.12 110.60 0.44

Sektor Pertanian 92.09 92.03 (0.07)

a. Indeks Diterima Petani 112.63 112.63 0.00

b. Indeks Dibayar Petani 122.30 122.39 0.07

- Konsumsi Rumah Tangga 125.39 125.39 (0.00)

Referensi

Dokumen terkait

Pengukuran Kinerja pengelolaan keuangan Masyarakat (KKM) adalah untuk mengukur tingkat penguasaan Satlak atas pengelolaan keuangan sesuai dengan ketentuan yang telah

Langkah selanjutnya adalah membuat RAID-1 dengan perintah berikut, dimana device baru bernama /dev/md20, menggunakan mode=1 (mirroring) dimana device pasangannya adalah /dev/sdd1

bahwa dengan adanya kendaraan bermotor yang belum tercantum dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2007 tentang Penghitungan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor

[r]

1) Produk, memiliki produk yang berbeda dari sekolah lainnya yakni kegiatan baca tulis Al-Quran, kegiatan ekstrakurikuler drumband, beladiri, pramuka, futsal, voli, basket. 2)

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, yang dilakukan di SMP Negeri 1 Mentaya Hilir Selatan Kabupaten Kotawaringin Timur, teknik pengumpulan data

Abstrak: Tata rias pengantin di setiap daerah memiliki pakem dan tata cara adat istiadat yang berbeda, seiring berkembangnya zaman, busana pengantin telah

Usia, jenis kelamin dan etnis sangat penting untuk mengkaji klien dengan masalah ginjal atau urinary.. Hipertensi tiba-tiba pada usia >50 tahun perlu dipertibangkan