• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan rumah sakit dewasa ini semakin cepat. Tingginya pertumbuhan rumah sakit (RS) dan tenaga medis di Indonesia belum diimbangi dengan layanan dan kualitas prima. Pertumbuhan rumah sakit dan tenaga medis di Indonesia mengalami kemajuan, Namun tidak diimbangi dengan tingkat kompetisi yang kuat maupun kompetisi kualitas. Dalam lima tahun terakhir, terjadi pertumbuhan rumah sakit yang sejalan dengan pertumbuhan ekonomi makro Indonesia. Hal ini terlihat dari jumlah rumah sakit publik sebesar 38%, dan pertumbuhan rumah sakit swasta 79%.Sementara itu, pertumbuhan dokter 34%, dokter gigi 60%, perawat 35%, dan bidan 47%. Rasio tenaga perawat sendiri sudah di atas harapan (Ali, et al., 2005).

Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat telah merambah ke berbagai sektor termasuk kesehatan. Meskipun dunia kesehatan (dan medis) merupakan bidang yang bersifat information-intensive, akan tetapi adopsi teknologi informasi relatif tertinggal. Sebagai contoh, ketika transaksi finansial secara elektronik sudah menjadi salah satu prosedur standar dalam dunia perbankan, sebagian besar rumah sakit di Indonesia baru dalam tahap perencanaan pengembangan billing system. Meskipun rumah sakit dikenal sebagai organisasi yang padat modal-padat karya, tetapi investasi teknologi informasi masih merupakan bagian kecil. Di Amerika Serikat, negara yang relatif maju baik dari sisi anggaran kesehatan maupun teknologi informasinya, rumah sakit rata-rata hanya menginvestasi 2% untuk teknologi informasi (Firdaus et al., 2011).

Di sisi yang lain, masyarakat menyadari bahwa teknologi informasi merupakan salah satu tool penting dalam peradaban manusia untuk mengatasi (sebagian) masalah derasnya arus informasi. Teknologi informasi (dan komunikasi) saat ini adalah bagian penting dalam manajemen informasi. Di

(2)

dunia medis, dengan perkembangan pengetahuan yang begitu cepat, tenaga kesehatan akan cepat tertinggal jika tidak memanfaatkan berbagai tools untuk mengupdate perkembangan terbaru. Selain memiliki potensi dalam filter data dan mengolah menjadi informasi, teknologi informasi mampu menyimpannya dengan jumlah kapasitas jauh lebih banyak dari cara-cara manual. Konvergensi dengan teknologi komunikasi juga memungkinkan data kesehatan dishare secara mudah dan cepat. Disamping itu, teknologi memiliki karakteristik perkembangan yang sangat cepat (Firdaus et al., 2011). Secara umum masyarakat mengenal produk teknologi informasi dalam bentuk perangkat keras, perangkat lunak dan infrastruktur. Perangkat keras meliputi perangkat input (keyboard, monitor, touch screen, scanner, mike, camera digital, perekam video, barcode reader, maupun alat digitasi lain dari bentuk analog ke digital). Perangkat keras ini bertujuan untuk menerima masukan data/informasi ke dalam bentuk digital agar dapat diolah melalui perangkat komputer. Selanjutnya, terdapat perangkat keras pemroses lebih dikenal sebagai CPU (central procesing unit) dan memori komputer. Perangkat keras ini berfungsi untuk mengolah serta mengelola sistem komputer dengan dikendalikan oleh sistem operasi komputer. Selain itu, terdapat juga perangkat keras penyimpan data baik yang bersifat tetap (hard disk) maupun portabel (removable disk). Perangkat keras berikutnya adalah perangkat output yang menampilkan hasil olahan komputer kepada pengguna melalui monitor, printer, speaker, LCD maupun bentuk respon lainnya (Nugroho, 2008).

Selanjutnya dalam perangkat lunak dibedakan sistem operasi (misalnya Windows, Linux atau Mac) yang bertugas untuk mengelola hidup matinya komputer, menghubungkan media input dan output serta mengendalikan berbagai perangkat lunak aplikasi maupun utility di komputer. Sedangkan perangkat aplikasi adalah program praktis yang digunakan untuk membantu pelaksanaan tugas yang spesifik seperti menulis, membuat lembar kerja, membuat presentasi, mengelola database dan lain sebagainya. Selain itu terdapat juga program utility yang membantu sistem operasi dalam

(3)

pengelolaan fungsi tertentu seperti manajemen memori, keamanan komputer dan lain-lain (Nugroho, 2008).

Salah satu tantangan besar dalam penerapan teknologi informasi dan komunikasi di rumah sakit adalah penerapan rekam medis berbasis komputer. Dalam laporan resminya, Institute of Medicine mencatat bahwa hingga saat ini masih sedikit bukti yang menunjukkan keberhasilan penerapan rekam medis berbasis komputer secara utuh, komprehensif dan dapat dijadikan data model bagi rumah sakit lainnya. Pengertian rekam medis berbasis komputer bervariasi, akan tetapi, secara prinsip adalah penggunaan database untuk mencatat semua data medis, demografis serta setiap event dalam manajemen pasien di rumah sakit. Rekam medis berbasis komputer akan menghimpun berbagai data klinis pasien baik yang berasal dari hasil pemeriksaan dokter, digitasi dari alat diagnosis (EKG, radiologi, dan lain-lain), konversi hasil pemeriksaan laboratorium maupun interpretasi klinis. Rekam medis berbasis komputer yang lengkap biasanya disertai dengan fasilitas sistem pendukung keputusan (SPK) yang memungkinkan pemberian alert, reminder, bantuan diagnosis maupun terapi agar dokter maupun klinisi agar dapat mematuhi protocol klinik yang telah ditetapkan sebelumnya. Salah satu aspek penting dalam pelayanan kesehatan yang menggunakan pendekatan rujukan (referral system) adalah continuity of care. Dalam konsep ini, pelayanan kesehatan di tingkat primer memiliki tingkat konektivitas yang tinggi dengan tingkat rujukan di atasnya.Salah satu syaratnya adalah adanya komunikasi data medis secara mudah dan efektif. Data tersebut kemudian dapat diakses oleh dokter atau rumah sakit setelah diotorisasi oleh pasien. Teknologi ini merupakan salah satu model aplikasi telemedicine yang tidak berjalan secara real time (Purba, 2007).

Penerapan sistem informasi yang diharapkan oleh suatu organisasi adalah bahwa sistem informasi tersebut yang paling penting adalah berjalan dengan sukses. Akan tetapi yang dimaksud dengan kesuksesan suatu sistem informasi serta bagaimana membuat sistem informasi tersebut menjadi

(4)

sukses, maka perlu adanya identifikasi faktor yang menyebabkan kesuksesan sistem informasi tersebut (Jogiyanto, 2007).

Rumah Sakit juga merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang tak lepas dari teknologi informasi, oleh karena itu agar pelayanan yang diberikan kepada masyarakat pengguna jasa layanan dapat terjangkau dengan layanan yang prima maka diperlukan perangkat teknologi yang tepat guna. Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta merupakan salah satu rumah sakit yang sudah menerapkan teknologi informasi dalam pelayanan kepada pasien sejak tahun 2007 pengembangan sistem informasi yang pertama adalah sistem informasi billing system. Sistem informasi billing system menjadi penting bagi rumah sakit karena sistem ini digunakan untuk memperlancar pelaksanaan dalam kegiatan pengolahan data yang berkaitan dengan tagihan dan pembiayaan rumah sakit. Sistem billing ini juga digunakan sebagai media untuk menunjang keberhasilan sistem akuntansi dan manajemen serta meningkatkan keakuratan pelaporan keuangan serta mengurangi peluang kecurangan dalam administrasi pembayaran. Melalui sistem informasi billing ini rumah sakit dapat memperoleh informasi jumlah pasien yang ditangani oleh rumah sakit, pendapatan yang diterima serta laporan tunggakan pembiayaan rumah sakit.

Dalam perjalanannya pengoperasian sistem billing ini memiliki kendala, seperti jumlah komputer yang terbatas menyebabkan kurang efisien dalam pelayanan dengan jumlah pasien rawat jalan yang mencapai 350 setiap hari. Server yang ada tidak dapat menjangkau sistem sehingga proses transaksi elektronik yang ada menjadi terhambat, seperti proses memasukkan dan pengambilan data dari sistem, selain itu adanya eror sistem yang diakibatkan oleh virus dan jaringan menyebabkan pelayanan kembali kesistem manual. Proses memasukkan data terkait dengan pelayanan terkadang tidak dimasukkan sehingga petugas penetapan biaya harus menginput ulang dan mengonfirmasi ulang dengan bagian bangsal yang berdampak pada masalah verifikasi akhir yang pada akhirnya akan menghambar proses klain asuransi.

(5)

Hasil kinerja sistem informasi dalam hal pelayanan pasien rata-rata pasien dapat dilayani dengan baik oleh sistem sekitar 94%. Perbedaan format laporan antara di rumah sakit dengan Dinas Kesehatan juga menyebabkan tertundanya pengiriman pelaporan dikarenakan petugas harus bekerja dua kali untuk menyamakan format laporan antara rumah sakit dengan Dinas kesehatan. Akibatnya, dari keterlambatan pelaporan menyebabkan terhambatnya proses manajemen pengambilan keputusan oleh jajaran direksi dan dari pihak Dinas kesehatan menganggap bahwa rumah sakit yang terlambat mengumpulkan laporan dianggap belum mengumpulkan, Sehingga rumah sakit akan dirugikan atas hal itu.

Data dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menyebutkan bahwa hasil pengiriman laporan STP rawat jalan tahun 2013 dari Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta memperlihatkan bahwa 66,6% pelaporan mengalami keterlambatan. Selain itu juga pelaporan pasien yang dikirimkan ke dinas kesehatan pada setiap bulannya (Sumartono, 2013).

Informasi yang dihasilkan oleh sistem informasi manajemen selain berupa pelaporan baik internal maupun eksternal adalah grafik Barber Johnson, grafik ini sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk perbandingan, alat bantu analisis, alat bantu penyajian data, alat bantu pengambilan keputusan dan alat bantu untuk mengecek kebenaran pelaporan, akan tetapi informasi yang dihasilkan tersebut tidak dimanfaatkan secara maksimal dikarenakan para jajaran manajerial kurang familiar terhadap grafik Barber Johnson tersebut, sehingga aktifitas pengambilan keputusan dilakukan dengan membuat peramalan-peramalan keputusan.

Meskipun sistem informasi yang ada dirumah sakit sudah terintegrasi akan tetapi dalam hal informasi antara bagian admisi dengan bangsal terkait dengan penetapan biaya pasien yang akan pulang masih dilakukan secara manual yaitu menggunakan telepon. Hal ini menyebabkan pasien harus menunggu lama untuk menunggu lama bagi pasien yang telah menjalani rawat inap yang akan melakukan pembayaran dikarenakan ketidaklengkapan pengisian sistem billing yang menyebabkan tidak akuratnya informasi yang

(6)

dihasilkan oleh sistem. Jika tidak ditangani secara benar akan berdampak pada menurunnya kepuasan pasien yang dimasa yang akan datang dapat mengancam keberlangsungan kegiatan dirumah sakit. Dengan latar belakang demikian peneliti tertarik untuk mengambil judul “Evaluasi Kualitas Billing System di Rumah Sakit Umum PKU Muhammadiyah Yogyakarta.”

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi kualitas billing system di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini dapat dibedakan menjadi: 1. Tujuan Umum

Untuk Mengetahui kualitas billing system di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui pengaruh antara kualitas sistem terhadap penggunaan sistem informasi.

b. Untuk mengetahui pengaruh antara kualitas sistem terhadap kepuasan penggunaan sistem informasi.

c. Untuk mengetahui pengaruh antara kualitas informasi terhadap penggunaan sistem informasi.

d. Untuk mengetahui pengaruh antara kualitas informasi terhadap kepuasan pengguna sistem informasi

e. Untuk mengetahui pengaruh antara kualitas pelayanan terhadap penggunaan sistem informasi.

f. Untuk mengetahui pengaruh antara kualitas pelayanan terhadap kepuasan pengguna sistem informasi.

g. Untuk mengetahui pengaruh antara kepuasan pengguna terhadap penggunaan sistem informasi.

(7)

h. Untuk mengetahui pengaruh antara penggunaan terhadap kepuasan pengguna.

i. Untuk mengetui pengaruh antara penggunaan terhadap keuntungan bersih organisasi.

j. Untuk mengetahui pengaruh antara kepuasan pengguna terhadap keuntungan bersih organisasi.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah: 1. Manfaat Praktis

a. Penelitian ini dapat memberikan umpan balik kepada rumah sakit dalam rangka pengembangan sistem informasi billing system.

b. Meningkatkan kualitas pelayanan bagian billing dirumah sakit. c. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas dari pelayanan billing system

di rumah sakit.

d. Meningkatkan kepuasan customer Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

2. Manfaat Teoritis

Sebagai referensi penelitian lain terkait dengan sistem informasi pada khususnya tentang pengembangan model kesuksesan sistem informasi billing system.

E. Keaslian Peneliatian

1. Penelitian Rai, et al., (2002) dengan judul Assesing the Validity of IS Success Models: An Empirical Test and Theoretical Analysis. Tujuan penelitian ini adalahuntuk menilai secara empiris dan teoritis DeLone dan McLean (1992) dan Seddon (1997) keberhasilan model sistem informasi kuasi-sukarela dalam konteks penggunaan, persamaan dalam penelitian ini dengan peneliti adalah sama-sama menguji kesuksesan sistem informasi menggunakan model DeLone dan McLean, alat ukur dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan kuesioner terstruktur, jenis penelitian

(8)

deskriptif kuantitatif desain penelitian dan analisis data menggunakan SEM. Perbedaan pada penelitian ini adalah jumlah variabel yang di teliti yaitu 5 variabel, sedangkan peneliti menggunakan jumlah variabel 6, objek penelitian ini adalah sistem informasi mahasiswa yang terintegrasi sedangkan dalam penelitian ini meneliti sistem informasi billing system. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan hasil uji empiris model DeLone dan McLean (1992) yakni, kualitas informasi berpengaruh signifikan terhadap penggunaan dan kepuasan pemakai, kepuasan pemakai berpengaruh signifikan terhadap penggunaan tapi tidak sebaliknya.

2. Penelitian Petter, et al., (2008) dengan judul Measuring Information Systems Success: Models, Dimensions, Measures, and Interrelationships. Persamaan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah sama-sama meneliti topik keberhasilan serta ekstensi dan tes model DeLone dan McLean, menggunakan 6 dimensi model sukses D&M. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah jenis penelitian deskriptif kualitatif, dan menggunakan teknik kajian literatur terhadap 180 makalah tentang keberhasilan sistem. hasil penelitian menunjukkan bahwa literatur ini menganalisis kesuksesan sistem informasi ditingkat individu dan organisasi, dan menunjukkan bahwa model kesuksesan yang diterapkan sama baiknya antara yang diterapkan untuk individu maupun organisasi. 3. Penelitian Bossen, et al., (2013) dengan judul penelitian Evaluation of a

Comprehensive EHR Based on the Delone and McLean Model for is success: Approach, results, and success factors. Tujuan penelitian ini adalahmengevaluasi pemanfaatan EHR pada rumah sakit di Denmark. Persamaan dengan penelitian ini adalah sama-sama mengevaluasi keberhasilan sistem informasi dengan pendekatan model deLone dan McLean setelah sistem informasi diimplementasikan. Perbedaannya dengan peneliti adalah teknik pengambilan data dan instrumen penelitian menggunakan kuesioner terstruktur dan panduan wawancara semi terstruktur, dan indept interview. Sedangkan peneliti hanya menggunakan kuesioner, desain penelitian peneliti menggunakan rancangan cross

(9)

sectional.Jenis penelitian dalam penelitian Bossen, et al menggunakan mixed methode sedangkan jenis penelitian yang digunakan peneliti menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian secara keseluruhan staf memiliki pengalaman positif dengan EHR dan kehandalan operasional, waktu respon, login dan dukungan kinerja diterima. Sekretaris medis menemukan dalam penggunaan modul administrasi pasien rumit dan dokter menemukan pembentukan gambaran data profesional yang menantang. Ada tuntutan untuk perbaikan dan fungsionalitas lainnya, serta EHR untuk dapat diintegrasikan dengan database dan sistem lain.

4. Penelitian Makokha & Ochieng, (2014) dengan judul penelitian Assessing the Success of ICTs from a User Perspective: Case Study of Coffee research Foundation, Kenya. Penelitian ini digunakan untuk memvalidasi aplikasi sistem informasi dengan menggunakan model sukses DeLone dan McLean dan mengevaluasi kesuksesan sistem ERP dari perspektif pengguna. Persamaan dalam penelitian ini dengan peneliti adalah sama-sama mengukur kesusksesan sistem informasi dengan pendekatan DeLone dan McLean dari perspektif pengguna sistem, perbedaan dengan peneliti adalah jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan mixed methods, sedangkan peneliti menggunakan rancangan cross sectional. Instrumen penelitian dengan kuesioner dan panduan wawancara yang digunakan untuk FGD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model keberhasilan DeLone dan McLean yang diperbaharui berlaku sebagai model yang berguna untuk studi tertentu. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kualitas sistem, kualitas informasi dan kualitas layanan berdiri sebagai penentu penting tentang bagaimana teknologi informasi dan sistem komunikasi dapat berguna untuk meningkatkan kinerja organisasi.

Referensi

Dokumen terkait

Di bidang geografi, khususnya dalam Sistem Informasi Geografi, penentuan lokasi baru untuk sarana fasilitas pelayanan kesehatan berupa Puskesmas merupakan salah satu terapan yang

Pihak eksternal tersebut memiliki ketergantungan yang besar atas pelaporan keuangan yang disajikan oleh manajer, karena pada dasarnya pihak eksternal tersebut tidak

a. Sistem Informasi Debitur memberikan dampak yang sangat positif didalam pemberian pembiayaan modal kerja di BNI Syariah Cabang Banjarmasin karena Sistem Informasi Debitur

Penerapan Sistem Informasi Manajemen Pada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Dalam Peningkatan Akuntabilitas dan Mutu Pengelolaan Zakat, Infaq dan Sedekah Metode Kualitatif

Mendeskripsikan dan menganalisis situasi lingkungan internal dan eksternal unit pelayanan pasien Askes dan Jamkesmas RSUBS, yang dapat memberikan gambaran kepada Direksi RS

Pada tahapan ini peneliti menganalisis proses yang terjadi secara khusus berupa aliran informasi dari pengguna ke dalam sistem informasi manajemen keuangan dan

Dengan demikian sistem pengendalian manajemen bertujuan untuk mngarahkan operasi, dimana tindakan tersebut dapat berupa koreksi atas kekurangan serta penyesuaian aktivitas

F a k t o r eksternal yang berasal dari lingkungan dan faktor internal yang berasal dari diri masing- masing peserta didik berada dalam situasi dan kondisi yang berbeda-beda menjadi