• Tidak ada hasil yang ditemukan

I. PENDAHULUAN. perdagangan multilateral dalam bentuk organisasi perdagangan dunia atau World

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "I. PENDAHULUAN. perdagangan multilateral dalam bentuk organisasi perdagangan dunia atau World"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia adalah salah satu negara yang menjadi anggota forum kerjasama perdagangan multilateral dalam bentuk organisasi perdagangan dunia atau World

Trade Organization (WTO). Dalam forum WTO ini, perjanjian kerjasama

perdagangan dalam berbagai bidang disepakati dan salah satunya adalah bidang pertanian. Perundingan bidang pertanian di dalam forum WTO berlangsung secara perlahan-lahan dan terjadwal karena beragamnya latar belakang tingkat perekonomian, tahapan pembangunan pertanian dan ekonomi negara-negara anggotanya. Atas dasar keberagaman itu, hasil negoisasi dan perundingan bidang pertanian dalam Uruguay Round (UR) atau Putaran Uruguay (PU), yaitu General

Agreement on Tariff and Trade tahun 1994 (GATT 1994), disepakati sebagai

tahap awal perjanjian, sehingga perlu diperbaiki dan disempurnakan.

Bagi negara berkembang termasuk Indonesia, perjanjian berlaku sepuluh tahun ke depan sejak mulai berlakunya GATT 1994 (1 Januari 1995 sampai dengan 31 Desember 2005) dan perundingan untuk mencapai kesepakatan baru dalam perjanjian bidang pertanian dimulai kembali lima tahun ke depan sejak mulai berlakunya GATT 1994. Dengan demikian perundingan untuk menyempurnakan perjanjian bidang pertanian atau Agreement on Agriculture (AoA) WTO, dimulai kembali Januari 2000. Dalam masa perundingan antara Januari 2000 hingga Desember 2005, seperti terinci pada Tabel 1, diharapkan akan menghasilkan kesepakatan baru dalam AoA WTO. Kesepakatan yang dihasilkan tersebut dalam perundingan akan digunakan untuk menyempurnakan

(2)

perjanjian khusus bidang pertanian yang sebelumnya merupakan salah satu bagian dari perjanjian GATT 1994.

Tabel 1. Waktu Pelaksanaan dan Hasil Perundingan Agreement on Agriculture pada Forum World Trade Organization, Periode Januari 2000 - Desember 2005

Waktu Pelaksanaan Kegiatan dan Hasil Perundingan

1 Januari 2000 Dimulai perundingan babak baru bidang pertanian dan diharapkan batas akhir perundingan adalah 31 Desember 2005 14 November 2001

Konferensi Tingkat Menteri (KTM) IV WTO Doha Qatar, Deklarasi Menteri untuk memulai Doha Development Agenda

(DDA) atau Doha Round (DR)

14 – 20 November 2002 Perundingan Sesi Khusus Komite Pertanian, penyampaian Proposal dan Modalitas dari Negara-Negara Anggota

12 Februari 2003

Draf pertama modalitas dari Harbinson (Harbinson Texts). Draf pertama bahan perundingan yang diusulkan oleh tim juru runding negara berkembang yang dimotori oleh negara-negara maju.

24 – 28 Februari 2003

Perundingan Sesi Khusus Komite Pertanian, dengan mempertimbangkan draf pertama modalitas untuk membangun komitmen lebih lanjut dan penetapan modalitas sebagai dasar untuk penyusunan jadwal draf yang lebih komprehensif

31 Maret 2003 Batas waktu penyusunan formula dan modalitas lainnya sebagai komitmen negara-negara anggota

10 – 14 September 2003

KTM V di Cancun Meksiko, pembahasan draf komprehensif komitmen negara dan melihat kembali modalitas dan komitmen perundingan yang masih tersisa (stock taking). Perundingan gagal mencapai kesepakatan

Januari – Desember 2004

Pertemuan Sesi Khusus Komite Pertanian di Genev agar dicapai kesepakatan pada Desember 2005. Menghasilkan July Frame

Work 2004 yang dijadikan dasar untuk membuat modalitas

perjanjian dan dirundingkan pada KTM VI di Hong Kong, China

13-18 Desember 2005

KTM VI di Hongkong China, belum mencapai kesepakatan dan perundingan dilanjutkan kembali. July Frame Work 2004 desepakati sebagai draf deklarasi menteri (Draft Ministerial

Declaration) sebagai bahan perundingan selanjutnya.

Sumber : WTO dalam berbagai publikasi selama tahun 2000 – 2009

Perundingan untuk bidang pertanian yang dilanjutkan kembali mulai Januari tahun 2000 tersebut, dilakukan dengan tujuan mengurangi lebih lanjut proteksi dan meningkatkan dukungan terhadap bidang pertanian. Agenda perundingan dilaksanakan di Doha, Qatar, sehingga proses perundingan di bidang pertanian ini disebut Doha Agenda. Proses perundingan bidang pertanian

(3)

selanjutnya berdasarkan Doha Agenda dalam forum WTO dirundingkan dalam

Committee on Agriculture (CoA) WTO di Jenewa, Swiss.

Dalam periode Januari 2000-Desember 2005, perundingan perjanjian bidang pertanian pada forum WTO menunjukkan tiga perkembangan yang sangat penting. Pertama, pada pertemuan Konferensi Tingkat Menteri (KTM) IV WTO di Doha, Qatar pada tanggal 14 November 2001 dihasilkan sebuah deklarasi yang disebut dengan Doha Development Agenda (DDA) dan tahapan perundingan selanjutnya disebut Doha Round (DR). Kedua, pada pertemuan KTM V WTO di Cancun, Mexico pada tanggal 10-14 September 2003 gagal dicapai kesepakatan. Kegagalan ini meningkatkan kesadaran negara-negara anggota WTO mengenai pentingnya penerapan DDA dan juga kesadaran bahwa selama sepuluh tahun sejak berlakunya GATT 1994, belum banyak terjadi perubahan dalam AoA. Ketiga, pada pertemuan KTM VI WTO di Hong Kong pada tanggal 13-18 Desember 2005 juga tidak dicapai kesepakatan menyeluruh, namun diperoleh satu hasil penting yaitu July Framework 2004 (Kerangka Kerja Juli 1994), berhasil ditetapkan sebagai Ministerial Declaration Draft (draf deklarasi menteri), setelah sebelumnya menjadi keputusan General Council (GC) atau Majelis Umum (MU) WTO pada tanggal 1 Agustus 1994. July Framework 2004 inilah yang dijadikan dasar oleh negara-negara anggota WTO untuk membuat modalitas perjanjian dalam melakukan perundingan selanjutnya.

Dalam Ministerial Declaration Draft, KTM VI WTO tercatat lima hal yang dapat dianggap sangat penting. Pertama, para peserta sidang masih tetap sepakat untuk mendukung deklarasi dan keputusan yang telah dihasilkan di Doha tahun 2001, dan juga keputusan GC WTO pada tanggal 1 Agustus 2004 mengenai

(4)

July Framework 2004. Kedua, para peserta sidang juga berusaha menyelesaikan

sepenuhnya DDA dan mentuntaskannya mulai tahun 2006 di Doha. Hal ini menjadikan perundingan yang rencananya diakhiri Desember 2005, menjadi dibuka kembali dengan batas akhir yang belum ditentukan. Ketiga, para peserta sidang juga menekankan mengenai betapa pentingnya dimensi rural development (pembangunan perdesaan), livelihood security (ketahanan sumber penghidupan) dan food security (ketahanan pangan) dalam setiap aspek DDA dan semuanya bertekad kembali untuk membuat setiap aspek DDA menjadi kenyataan bagi semua anggota WTO. Keempat, setiap aspek DDA tersebut harus tercakup dalam setiap hasil perundingan tentang akses pasar (market access), bantuan domestik (domestic supports), subsidi ekspor (export subsidies), penyusunan aturan perjanjian dan isu-isu khusus yang berkaitan dengan pembangunan. Kelima, khusus bagi negara-negara berkembang dalam Ministerial Declaration

Draft secara tegas disebutkan bahwa :

“…. Developing country Members will have the flexibility to

self-designate an appropriate number of tariff lines as Special Products guided by indicators based on the criteria of food security, livelihood security, and rural development. Developing country Members will also have the right to have recourse to a Special Safeguard Mechanism based on import quantity and price triggers, with precise arrangements to be further defined. Special Products and the Special Safeguard Mechanism shall be an integral part of the modalities and the outcome of negotiations in agriculture” (WT/MIN (05)/W/3/Rev.2, Page 2: paragraph no.7, WTO,

2005).

Dalam tahapan perundingan selanjutnya, sejak awal tahun 2006 hingga pertengahan tahun 2010, perundingan mengenai Special Safeguard Mechanism

(5)

(SSM) belum juga selesai, karena belum adanya kesepakatan antara negara-negara berkembang yang bergabung dalam kelompok Government 33 (G-33) dengan kelompok negara-negara maju mengenai rumusan SSM dan metode pembuktiannya. Pembuktian ini digunakan untuk menunjukkan bahwa telah terjadi banjir impor (import surge) pada komoditas pertanian tertentu yang melanda salah satu atau beberapa negara anggota WTO. Indonesia adalah salah satu negara berkembang (sebagai koordinator G-33), di mana pertanian tidak hanya memiliki peranan penting dalam perekonomian nasional, namun juga mengalami net import komoditas pangan. Oleh karena itu, keberhasilan dalam memperjuangkan SSM dan menerapkannya untuk memberikan perlindungan kepada petani dan produsen pangan olahan menjadi suatu kebutuhan. Dengan demikian, perumusan SSM dan metodologi pembuktian terjadinya banjir impor menjadi sangat penting.

Dalam setiap rapat dan konsultasi teknis yang diadakan oleh Tim Penanganan untuk Perundingan Perdagangan Internasional Bidang Pertanian (Tim P3I TAN), delegasi Indonesia memerlukan dukungan berupa data dasar (data

base), metodologi, hasil analisis, dan hasil kajian yang memadai, namun hingga

saat ini penelitian dan kajian mengenai SSM masih sangat terbatas. Hal ini mengakibatkan Delegasi Republik Indonesia (DELRI) dan Perwakilan Tetap Republik Indonesia (PTRI) untuk WTO di Jenewa sering mengalami kesulitan untuk memberikan argumentasi yang meyakinkan di dalam forum WTO. Dalam rapat yang diadakan pada bulan November 2006 misalnya, Ketua PTRI di Jenewa menyampaikan bahwa kelemahan yang sama umumnya juga dialami oleh negara berkembang lainnya. Indonesia sangat memerlukan suatu kajian yang

(6)

komprehensif mengenai SSM dan metodologi pembuktian mengenai terjadinya banjir impor sebagai bahan modalitas (proposal) perundingan berikutnya.

1.2. Perumusan Masalah

Liberalisasi dan reformasi perdagangan yang ditandai salah satunya adalah dengan penurunan tarif impor di sektor pertanian yang dilakukan dalam rangka penerapan perjanjian WTO, telah mendorong terjadinya ketidakstabilan harga, penurunan harga impor dan serbuan produk impor yang mengancam tidak saja industri pertanian, tetapi juga lapangan kerja, dan pembangunan pedesaan. Penurunan tarif menyebabkan hambatan perdagangan menjadi berkurang dan harga impor yang lebih rendah memberikan tekanan terhadap harga domestik. Tekanan ini menyebabkan penurunan harga konsumen domestik dan selanjutnya akan menekan harga produsen. Penurunan harga internasional dan harga impor yang menjadi lebih murah juga menyebabkan volume impor meningkat secara tiba-tiba dan dalam jumlah yang melebihi rata-rata trendnya. Hal ini tentunya berpengaruh buruk terhadap produksi dalam negeri, pembangunan ekonomi, penyediaan lapangan kerja, dan usaha pengentasan kemiskinan khususnya bagi negara-negara berkembang.

Hasil penelitian FAO (2005) menunjukkan bahwa dalam periode 1984 -2000, telah terjadi peristiwa banjir impor yang cukup beragam di banyak negara berkembang baik di wilayah Asia, Afrika maupun Amerika Latin terhadap berbagai jenis komoditas dan atau produk yang dihasilkan di negara berkembang, seperti terlihat pada Tabel 2. Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa komoditas dan atau produk yang paling banyak mengalami banjir impor adalah daging dan minyak nabati. Adapun negara yang paling banyak mengalami banjir

(7)

impor adalah Nigeria, Malawi dan Philipina. Di samping FAO, Oxfarm (2002a; 2002b), Action Aid (2002), juga melaporkan bahwa negara Jamaica kebanjiran impor daging ayam, Kenya diserbu oleh produk susu, Senegal terkena banjir impor pasta tomat, dan Haiti kebanjiran impor beras. Dalam laporan FAO (2005), juga disebutkan bahwa dalam periode 1984 - 2000 telah terjadi banjir impor terhadap sepertiga produk pertanian negara berkembang. Adanya berbagai dampak negatif liberalisasi perdagangan akibat penerapan perjanjian WTO, mendorong negara-negara berkembang memperjuangkan sebuah perlindungan khusus yang lebih efektif dan efisien dibandingkan perjanjian sebelumnya.

Tabel 2. Jumlah Kejadian Banjir Impor Berdasarkan Jenis Komoditas di Beberapa Negara Wilayah Asia, Afrika, dan Amerika Latin, Tahun 1984 – 2000

(Jumlah Kasus)

Negara Beras Jagung Minyak Nabati Daging Sapi Daging Ayam Susu Bangladesh 6 9 7 5 2 3 Philipina 9 7 9 12 14 5 Haiti 2 4 7 4 8 5 RepDominik a - 0 3 8 6 3 Honduras 5 0 8 6 11 3 Jamaica 4 3 9 3 3 1 Peru 4 4 4 4 9 6 Kenya 3 5 7 4 5 4 Madagaskar 5 7 5 3 5 5 Malawi 3 9 7 5 10 12 Nigeria 7 9 8 5 5 6 Uganda 4 8 11 4 2 1 Zambia 2 4 4 8 5 6

Catatan : Banjir impor didefinisikan sebagai deviasi impor positif sebesar 20 persen dalam jumlah setiap komoditas atau negara dengan 5 tahun moving average

Sumber : FAO (2005)

Sebelum adanya usulan SSM yang merupakan tindak lanjut dari July

Framework 2004, produk pertanian telah diupayakan untuk mendapatkan

perlindungan khusus dari dampak negatif liberalisasi perdagangan. Perlindungan khusus tersebut adalah Special Safeguards (SSG) yang tercantum dalam Pasal 5 (berisi 9 ayat) AoA WTO. Dalam Schedule of Commitment (SoC) tercantum jenis-jenis produk yang berhak mendapatkan SSG. Di luar produk tersebut suatu

(8)

negara dapat juga melakukan perlindungan sementara, namun harus tunduk pada ketentuan yang tercantum dalam Artikel XIX GATT 1994 dan Agreement on

Safeguard (AoS).

Sesuai dengan July Framework 2004, Indonesia harus mengoptimalkan pemanfaatan fleksibilitas yang diperoleh oleh negara-negara berkembang yaitu SSM. Fleksibilitas SSM ini seharusnya dapat berlaku bagi seluruh komoditas pertanian dan hasil-hasil olahannya, yaitu produk-produk yang apabila terjadi banjir impor akan memberikan dampak negatif bagi produsen dalam negeri dari produk hasil pertanian dan hasil olahannya tersebut.

Beras, jagung, dan kedele merupakan komoditas pangan utama Indonesia yang tidak hanya memiliki kontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), penyerapan tenaga kerja, luas areal pengusahaan, dan pemenuhan kebutuhan konsumsi pangan, tetapi juga memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap impor. Berdasarkan data pada Tabel 3, diketahui bahwa komoditas beras, jagung, dan kedele memiliki peranan yang sangat penting dalam perekonomian, ketahanan pangan, dan pembangunan pedesaan di Indonesia. Oleh karena itu, komoditas beras, jagung, dan kedele merupakan komoditas yang perlu memperoleh perlakuan khusus agar terhindar dari dampak negatif banjir impor. Hal ini menjadi bahan pertimbangan bahwa komoditas pangan utama yang dijadikan kasus untuk diteliti adalah beras, jagung, dan kedele.

Ancaman banjir impor terhadap komoditas beras, jagung, dan kedele ditunjukkan oleh hasil penelitian Sawit et al. (2006) dimana dalam periode 1996 – 2005, beras mengalami frekuensi banjir impor empat kali, jagung tiga kali dan kedele tiga kali, dengan presentase tingkat gejolak masing-masing sangat tinggi

(9)

yaitu untuk beras pernah mencapai 84 persen, jagung pernah mencapai 72 persen, dan kedele pernah mencapai 39 persen. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi banjir impor terhadap komoditas beras, jagung, dan kedele, sebagai dampak negatif dari liberalisasi perdagangan yang dijalankan oleh Indonesia sebagai salah satu negara berkembang yang menjadi anggota WTO.

Tabel 3. Rata-rata Kontribusi Komoditas Pangan Utama Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Indonesia, Tahun 2005 – 2009

(%)

Jenis Peranan Terhadap Beras Jagung Kedele

Kacang Tanah Ubi Kayu Tanaman Pangan Lainnya Total PDB Pertanian 27.45 7.54 1.27 1.13 3.89 4.62 Penyerapan Tenaga Kerja

Pertanian 28.02 9.96 2.97 2.78 2.55 3.32 Total Areal Pertanian 25.40 8.26 1.22 0.59 2.67 1.28 Unit Usaha Mikro, Kecil

dan Rumah Tangga

94.74 73.73 74.33 74.95 44.78 76.23 Total Konsumsi Pangan

Nasional 97.18 74.16 26.74 93.65 89.13 37.54 Partisipasi Konsumsi Penduduk 95.35 23.04 45.33 36.62 35.85 25.74 Pemenuhan Kebutuhan Konsumsi Kalori 48.56 1.50 2.54 0.77 2.15 15.05 Pemenuhan Kebutuhan Konsumsi Protein 35.12 20.01 5.79 0.75 0.25 9.63 Tingkat Ketergantungan Impor 2.82 25.84 73.26 6.35 10.87 62.46 Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS), Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Badan Bimas

Ketahanan Pangan (diolah)

Penurunan tarif impor beras, jagung, dan kedele dapat menyebabkan penurunan harga domestik ditunjukkan oleh Gambar 1, Gambar 2 dan Gambar 3. Berdasarkan Gambar 1, penurunan tarif impor beras yang dilakukan pada tahun 1995 telah mendorong penurunan harga impor, harga konsumen, dan harga produsen. Dalam periode 1995 - 1996, sekalipun tarif impor beras telah diturunkan, harga impor, dan harga domestik belum begitu tampak tajam penurunannya, bahkan volume impor dan harga meningkat pada masa krisis tahun

(10)

1997 – 1998. Namun demikian sejak tahun 1999-2007, harga domestik komoditas beras cenderung mengalami penurunan seiring dengan menurunnya tarif impor. Dapat dilihat juga bahwa dalam periode tersebut perubahan tarif impor berpengaruh terhadap perubahan volume impor, yaitu volume impor cenderung meningkat dan harga impor dan harga domestik cenderung menurun pada saat tarif impor diturunkan, dan sebaliknya volume impor cenderung menurun. Sementara itu, dalam waktu bersamaan harga impor dan harga domestik cenderung meningkat pada saat tarif impor dinaikkan. Berbeda dengan periode sebelumnya, peningkatan harga sejak tahun 2007, dan selama tahun 2008 - 2009 adalah akibat dari kondisi krisis keuangan global dan meningkatnya harga pangan dunia akibat pengembangan bio fuel.

Catatan : Harga impor, harga konsumen dan harga produsen adalah harga riil 2007 = 100. Sumber : Departemen Perdagangan dan BPS (diolah)

Gambar 1. Perkembangan Tarif Impor, Volume Impor, Harga Impor, Harga Konsumen, dan Harga Produsen Komoditas Beras Indonesia, Periode September 1994 - Oktober 2009

0.00 100.00 200.00 300.00 400.00 500.00 600.00 700.00 800.00 0.00 1 000.00 2 000.00 3 000.00 4 000.00 5 000.00 6 000.00 7 000.00 8 000.00 9 000.00 10 000.00 1 9 9 4 M 9 1 9 9 5 M 9 1 9 9 6 M 9 1 9 9 7 M 9 1 9 9 8 M 9 1 9 9 9 M 9 2 0 0 0 M 9 2 0 0 1 M 9 2 0 0 2 M 9 2 0 0 3 M 9 2 0 0 4 M 9 2 0 0 5 M 9 2 0 0 6 M 9 2 0 0 7 M 9 2 0 0 8 M 9 2 0 0 9 M 9 T a rif Im p o r (Rp per K g ) H a rg a ( Rp per K g ) da n Vo lum e (T o n) Bulan Harga Konsumen Harga Impor Volume Impor (x 100)

(11)

Catatan : Harga impor, harga konsumen dan harga produsen adalah harga riil 2007 = 100. Sumber : Departemen Perdagangan dan BPS (diolah)

Gambar 2. Perkembangan Tarif Impor, Volume Impor, Harga Impor, Harga Konsumen, dan Harga Produsen Komoditas Jagung Indonesia, Periode September 1994 - Oktober 2009

Gambar 2, menunjukkan penurunan tarif impor jagung yang dilakukan pada tahun 1995 telah mendorong juga terjadinya penurunan harga impor, harga konsumen, dan harga produsen serta peningkatan volume impor. Sedikit berbeda dengan beras, mengingat tarif impor jagung sudah relatif rendah, maka tekanan terhadap harga domestik lebih ditunjukkan oleh pengaruh volume impor, jika dibandingkan pengaruh harga impor. Namun demikian kejadian tersebut tetap berhubungan erat dengan perubahan tarif impor. Dapat dilihat juga bahwa kecuali pada masa krisis tahun 1997 - 1998 dan 2008, peningkatan volume impor dan juga penurunan tarif impor menyebabkan penurunan harga impor dan harga domestik, baik harga konsumen maupun harga produsen.

Gambar 3, menunjukkan penurunan tarif impor kedele yang dilakukan sejak tahun 1995 hingga seterusnya, juga telah mendorong terjadinya penurunan

0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 0.00 1 000.00 2 000.00 3 000.00 4 000.00 5 000.00 6 000.00 7 000.00 T a rif Im po r (P er sen) H a rg a ( Rp per K g ) da n Vo lum e (T o n) Bulan Harga Konsumen Harga Impor

(12)

harga impor, harga konsumen, dan harga produsen serta peningkatan volume impor. Dapat dilihat bahwa kecuali pada masa krisis 1997 - 1998 dan 2008, penurunan tarif impor diiringi dengan peningkatan volume impor kedele, dan penurunan tarif juga menyebabkan penurunan pada harga impor dan harga domestik, baik harga konsumen maupun harga produsen.

Catatan : Harga impor, harga konsumen dan harga produsen adalah harga riil 2007 = 100. Sumber : Departemen Perdagangan dan BPS (diolah)

Gambar 3. Perkembangan Tarif Impor, Volume Impor, Harga Impor, Harga Konsumen, dan Harga Produsen Komoditas Kedele Indonesia, Periode September 1994 - Oktober 2009.

Upaya untuk memberikan perlindungan khusus bagi komoditas pertanian secara umum dan khususnya terhadap komoditas beras, jagung, dan kedele dari dampak negatif liberalisasi selama ini telah dilakukan. Indonesia sebagai koordinator G-33, beserta anggotanya, berupaya keras memperjuangkan agar formula SSG dirubah menjadi SSM dalam forum WTO. Namun demikian perjuangan tersebut hingga saat ini masih belum berhasil. Rumusan formula SSM

0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00 40.00 0.00 2 000.00 4 000.00 6 000.00 8 000.00 10 000.00 12 000.00 14 000.00 16 000.00 Ta rif Im po r (P er se n) H a rg a (R p pe r K g ) da n V o lum e (To n) Bulan Harga Konsumen Harga Impor Volume Impor (x 100)

(13)

dan metode pembuktian bahwa telah terjadi banjir impor pada komoditas pertanian tertentu yang melanda salah satu atau beberapa negara anggota WTO, yang dirumuskan dan diusulkan oleh Indonesia dan negara berkembang lainnya yang tergabung dalam kelompok G-33 dinilai lemah oleh negara-negara maju. Kelemahan muncul dari penggunaan metodologi penentuan banjir impor yang menggunakan Moving Average (MA). Metode ini digunakan oleh FAO (2005) dan Sawit et al. (2006) dalam membuktikan banjir impor dan merumuskan formula SSM.

Penelitian Sawit et al. (2006) dengan menggunakan metode MA telah menghasilkan tiga temuan berkaitan dengan terjadinya banjir impor bagi komoditas beras, jagung dan kedele. Pertama, dalam periode 1996 – 2005 telah terjadi banjir impor empat kali untuk beras, masing-masing tiga kali untuk jagung dan kedele, dengan persentase tingkat gejolak yang tergolong sangat tinggi, jika dibandingkan negara-negara lain. Tingginya tingkat gejolak dapat dilihat dari persentase jatuhnya harga. Kedua, jatuhnya harga dapat dianalisis dengan dua pendekatan yaitu dengan 36 bulan MA dan rataan harga 36 bulan terakhir dengan hasil untuk kedua cara tersebut tidak banyak berbeda. Ketiga, telah terjadi frekuensi jatuhnya harga beras 45 kali, jagung 55 kali, dan kedele 13 kali dengan persentase masing-masing beras hingga 38.3 persen, jagung hingga 57.3 persen dan kedele 21.3 persen. Berdasarkan tiga hasil analisis di atas, dapat dilihat bahwa Indonesia telah mengalami dampak negatif dari banjir impor untuk beras, jagung, dan kedele. Hingga saat ini, hasil penelitian Sawit et al. (2006) merupakan salah satu rujukan dari sangat terbatasnya penelitian mengenai pembuktian banjir impor dan perumusan SSM.

(14)

Dalam rapat Tim P3I TAN pada bulan Januari 2007, PTRI dan DELRI menyampaikan bahwa metode MA belum bisa diterima pada forum WTO karena dinilai lemah dalam membuktikan banjir impor. Berdasarkan pertimbangan itu, dalam merumuskan SSM, masih diperlukan metode alternatif yang dinilai relatif lebih mampu untuk meyakinkan negara-negara anggota WTO bahwa telah terjadi banjir impor untuk komoditas tertentu dan berdasarkan bukti tersebut, komoditas yang mengalami banjir impor layak untuk mendapatkan perlakukan SSM. Hingga saat ini, Indonesia belum memiliki kajian yang relatif memadai dalam rangka pemberlakuan SSM apabila terjadi banjir impor, di luar penggunaan metode MA. Oleh karena itu, kajian dengan menggunakan metode yang berbeda dalam upaya pemanfaatan fleksibilitas SSM bagi produk-produk pertanian dan hasil olahannya yang selama ini memiliki tingkat ketergantungan yang cukup tinggi terhadap impor menjadi sangat penting untuk dilakukan.

Seperti yang tercantum dalam AoA WTO, July Framework 2004, penelitian Sawit et al. (2006), dan modalitas atau proposal perundingan G-33 tentang SSM, di dalam rumusan SSM akan memuat kandungan volume trigger (besaran volume yang menjadi pemicu terjadinya serbuan impor), price trigger (besaran harga yang menjadi pemicu terjadinya serbuan impor), remedy (besaran tambahan tarif untuk membatasi tingkat harga dan volume tertentu yang menjadi pemicu banjir impor tersebut harus diberlakukan), dan product coverage (cakupan produk dari turunan komoditas yang perlu ditambahkan tarifnya). Forum WTO nampaknya menghendaki dan FAO expert meeting on imports surge methodology tahun 2005 menyarankan bahwa seluruh faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya banjir impor baik faktor eksternal seperti perubahan harga internasional

(15)

atau harga dunia dan harga impor serta internal atau faktor domestik seperti perubahan tarif impor, kebijakan nilai tukar, kondisi pasar persaingan atau monopilistik, situasi konsumsi dan produksi, serta kondisi infrastruktur yang dapat mempengaruhi transmisi harga internasional ke pasar domestik dianalisis pengaruhnya dalam rangka menentukan terjadinya banjir impor dan aspek-aspek yang terkadung dalam rumusan SSM. Selama ini, metode MA tidak mampu menjelaskan interaksi antar berbagai faktor tersebut, karena analisisnya terpisah antara satu faktor dengan yang lainnya. Penelitian ini menggunakan metode lain selain MA untuk menjawab permasalahan umum dalam penelitian ini yaitu bagaimana rumusan SSM untuk melindungi produk pangan utama Indonesia khususnya beras, jagung, dan kedele dari dampak negatif liberalisasi khususnya banjir impor, dengan permasalahan khusus yang diteliti adalah:

1. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi terjadinya banjir impor komoditas beras, jagung dan kedele di Indonesia?

2. a. Berapa besarnya volume trigger dan price trigger SSM untuk komoditas beras, jagung dan kedele?

b. Bagaimana formula remedial tariff SSM untuk komoditas beras, jagung, dan kedele?

c. Jenis produk turunan dari komoditas beras, jagung, dan kedele apa yang perlu mendapatkan perlakuan SSM?

3. Bagaimana rumusan SSM yang mampu memberikan perlindungan bagi komoditas pangan utama Indonesia dari dampak negatif liberalisasi perdagangan khususnya banjir impor?

(16)

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah merumuskan SSM untuk melindungi komoditas pangan utama Indonesia dari dampak negatif liberalisasi khususnya banjir impor, dengan tujuan antaranya :

1. Merumuskan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya banjir impor sehingga dapat ditetapkan sebagai indikator dan kriteria untuk SSM bagi komoditas beras, jagung, dan kedele.

2. Merumuskan besaran volume trigger dan price trigger, formula remedy, dan product coverage dari komoditas beras, jagung, dan kedele yang perlu mendapatkan perlakuan SSM.

3. Merumuskan SSM yang mampu memberikan perlindungan bagi komoditas pangan utama Indonesia dari dampak negatif liberalisasi perdagangan khususnya banjir impor.

1.4. Hasil yang Diharapkan

Penelitian ini diharapkan akan menghasilkan hasil penelitian berupa: 1. Rumusan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya banjir impor

sehingga dapat ditetapkan sebagai indikator dan kriteria untuk SSM bagi komoditas beras, jagung, dan kedele.

2. Rumusan besaran volume trigger dan price trigger, formula remedy, dan

product coverage dari komoditas beras, jagung, dan kedele yang perlu

mendapatkan perlakuan SSM.

3. Rumusan bahan modalitas (proposal kerangka kerja untuk bahan perundingan) bidang pertanian bagi DELRI di dalam forum WTO khususnya dalam hal perubahan dari SSG menjadi SSM.

(17)

1.5. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk:

1. Bahan pertimbangan kepada pemerintah khususnya dalam peningkatan mutu pengambilan keputusan dan kebijakan di Departemen Pertanian dan Departemen Perdagangan yang berkaitan dengan langkah-langkah pengamanan sektor pertanian dalam negeri, peningkatan atau penghapusan bantuan domestik, persaingan ekspor dan pemotongan tarif komoditas dan sektor pertanian Indonesia.

2. Bahan pertimbangan para anggota DELRI di WTO dan tim penyusunan bahan perundingan dan penentu kebijakan mengenai SSM dan modalitas-modalitas perjanjian terkait dengannya pendisiplinan kebijakan persaingan ekspor.

3. Menambah pengetahuan penulis tentang kebijakan pemerintah terkait perdagangan internasional dan penyiapan bahan perundingan pada forum WTO terutama mengenai SSM.

4. Data dan informasi tambahan untuk penelitian yang sejenis pada bidangnya dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

1.6. Ruang Lingkup Penelitian

Fokus dari penelitian ini adalah untuk merumuskan SSM untuk melindungi komoditas pangan utama Indonesia dari dampak negatif liberalisasi khususnya banjir impor. Komoditas pangan utama yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah beras, jagung, dan kedele. SSM memuat kandungan aspek

volume trigger, price trigger, remedy dan product coverage. Banjir impor dapat

(18)

baik di tingkat konsumen maupun di tingkat produsen. Penurunan harga di tingkat konsumen akan menyebabkan peningkatan konsumsi bahan pangan, akan tetapi penurunan harga di tingkat produsen akan menyebabkan penurunan tingkat pendapatan dan kesejahteraan petani. Perumusan SSM secara tepat diharapkan mampu memberikan perlindungan yang memadai kepada produsen dari dampak negatif banjir impor, akan tetapi tidak meningkatkan beban berlebihan bagi konsumen. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis pass-through effect (efek perubahan) harga dan volume impor terhadap produksi, konsumsi dan harga domestik, baik harga di tingkat konsumen dan produsen (petani) di Indonesia. Analisis pass-through effect dilakukan dengan menggunakan hasil analisis

Impulse Response Function dari hasil analisis model time series Structural Vector

Auto Regression (SVAR) sesuai dengan karakteristik data time series yang

berhasil dikumpulkan untuk dianalisis.

1.7. Keterbatasan Penelitian

Luasnya cakupan aspek yang perlu diteliti dihadapkan pada keterbatasan waktu, data dan informasi, maka untuk mencapai tujuan, penelitian ini dilakukan dengan keterbatasan sebagai berikut:

1. Adanya keterbatasan waktu penelitian, penulis tidak menganalisis negara asal impor komoditas pangan, rincian masing jenis produk turunan dari masing-masing komoditas dan juga pengaruh serbuan impor terhadap masing-masing provinsi di Indonesia. Volume dan harga impor yang digunakan dalam penelitian ini merupakan hasil penggabungan volume sesuai dengan volume impor bersih, dan untuk memperoleh sebuah harga

(19)

dilakukan perhitungan berdasarkan nilai rata-rata tertimbang dengan mempertimbangkan volume dari masing-masing negara asal impor.

2. Mengingat tidak tersedianya data produksi dan konsumsi bulanan internasional sesuai dengan negara asal impor, maka harga internasional (world price) dianggap mewakili situasi permintaan dan penawaran internasional atau dunia dari komoditas beras, jagung, dan kedele.

3. Satu-satunya metode analisis yang ditemukan penulis dalam membuktikan terjadinya banjir impor hingga saat ini dan ternyata banyak mendapat bantahan dalam forum WTO adalah MA. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis lain yang dinilai relatif lebih komprehensif yaitu analisis pass-through effect, yang sebelumnya sangat populer untuk mengetahui efek atau pengaruh perubahan harga (harga ekspor, harga impor maupun harga domestik) sebagai akibat perubahan satu persen dalam kurs domestik terhadap kurs asing. Penerapan analisis pass-through

effect dilakukan bukan untuk melihat pengaruh perubahan kurs akan tetapi

untuk melihat pengaruh perubahan harga internasional atau harga dunia terhadap harga impor dan volume impor, serta harga domestik dan produksi domestik untuk membuktikan terjadinya banjir impor. Pendekatan analisis pass-through effect untuk pembuktian banjir impor dan perumusan SSM belum pernah ada sebelumnya.

4. Berdasarkan pertimbangan bahwa sesuai dengan hasil-hasil pertemuan tenaga ahli FAO yang menyarankan menggunakan metode Vector Auto

Regression Analysis (analisis VAR) yang dapat dilihat dari berbagai

(20)

ini digunakan pendekatan analisis pass-through effect harga dunia, harga harga impor dan volume impor terhadap harga domestik untuk membuktikan terjadinya banjir impor dan menyusun kerangka SSM dengan menggunakan model analisis SVAR sesuai dengan karakteristik data time series yang berhasil dikumpulkan untuk dianalisis. Analisis SVAR memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan analisis VAR dan MA, dan penelitian ini dinilai relatif lebih komprehensif. Namun demikian, penelitian ini tetap memliki keterbatasan karena variabel yang dimasukkan dalam analisis jenis dan jumlahnya tetap masih relatif terbatas.

5. Penelitian ini memiliki keterbatasan dalam menggunakan variabel tarif impor karena nilainya sama dalam periode tertentu. Dalam pengolahan data dengan menggunakan SVAR nilai yang sama tersebut menyebabkan

near singular matrix sehingga proses pengolahan data tidak dapat

dilakukan. Oleh karena itu penulis menggunakan pendekatan nilai marjin perdagangan antara harga internanasional pada negara sumber impor di luar negeri dengan harga importir di Indonesia sebagai pengganti nilai tarif impor.

6. Dalam penelitian ini digunakan asumsi bahwa Indonesia merupakan negara yang berada dalam kondisi negara kecil dengan perekonomian terbuka (small open economy country).

Gambar

Tabel 1.  Waktu Pelaksanaan dan Hasil Perundingan Agreement on Agriculture  pada  Forum  World  Trade  Organization,  Periode  Januari  2000  -  Desember 2005
Tabel 3.  Rata-rata  Kontribusi  Komoditas  Pangan  Utama  Sektor  Pertanian  Terhadap Perekonomian Indonesia, Tahun  2005 – 2009
Gambar 1.  Perkembangan  Tarif  Impor,  Volume  Impor,  Harga  Impor,    Harga  Konsumen,  dan  Harga  Produsen  Komoditas  Beras  Indonesia,  Periode September 1994 - Oktober 2009
Gambar 2.  Perkembangan  Tarif  Impor,  Volume  Impor,  Harga  Impor,    Harga  Konsumen,  dan  Harga  Produsen  Komoditas  Jagung  Indonesia,  Periode September 1994 - Oktober 2009
+2

Referensi

Dokumen terkait

Apabila penyetoran retribusi dilakukan di tempat lain yang ditunjuk, hasil penerimaan setoran retribusi harus disetor ke kas Daerah oleh pejabat yang ditunjuk,

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nama-nama panggilan unik remaja di Desa Losari, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas sebanyak 50 data, dengan perincian: Jenis penamaan

Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari pelbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun bahasa asing seperti Sansekerta, Arab, Portugis, Belanda,

31 Tahun 1980 mendefinisikan gelandangan yaitu orang-orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat serta tidak

Triangulasi teknik, berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Peneliti menggunakan

Dari surat dakwaan yang disusun oleh jaksa penuntut umum menunjukkan bahwa pasal 64 KUHP ini relevansinya adalah melihat keterkaitan antara peristiwa tanggal 12 September 1984

apakah citra Kereta Api Prambanan Ekspres dimata Komunitas Pramekers Joglo sudah sesuai dengan citra yang diharapkan perusahaan mengenai Kereta Api Prambanan Ekspres

Usaha Jasa Parawisata SMKN.1. Kamal Raya, Jakarta