• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Puskesmas Terbaik Di Kota Tanjung Balai Dengan Menggunakan Metode Analytical Network Procces

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Puskesmas Terbaik Di Kota Tanjung Balai Dengan Menggunakan Metode Analytical Network Procces"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Puskesmas Terbaik Di Kota

Tanjung Balai Dengan Menggunakan Metode Analytical Network

Procces

M. Affandi Dwyan

Teknik Informatika, STMIK Budi Darma. Medan, Indonesia

Email:[email protected]

Abstrak

Penghargaan yang diberikan oleh dinas kesehatan kepada puskesmas terbaiknya dapat mendorong setiap puskesmas untuk selalu memberikan kinerja yang terbaik untuk masyarakat dalam melaksanakan tugas dan kewajibanya. Pengambilan keputusan untuk menentukan puskesmas terbaik dapat dilakukan dinas kesehatan dengan cara menilai kinerja yang telah dilakukan oleh puskesmas dalam jangka waktu tertentu. Penilaian kinerja puskesmas di kota tanjung balai dipengaruhi oleh beberapa kriteria yaitu. Peralatan medis, Integritas staff, Komunikasi, Stock obat. Sistem pendukung keputusan pemilihan puskesmas terbaik menggunan metode Analytical Network Process (ANP), dimana proses pengambilan keputusan dilakukan dengan menilai alternatif pilihan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Perhitungan dari metode ANP memberikan hasil yaitu urutan tingkat kepentingan kriteria dan rekomendasi puskesmas terbaik, dimana urutan kriteria yang paling penting dimulai dari Peralatan medis, Integritas staff, Komunikasi, Stock obat.

Kata Kunci: SPK, Puskesmas, Terbaik, ANP

I. PENDAHULUAN

Dinas kesehatan adalah unsur pelaksana pemerintah dalam bidang kesehatan yang dipimpin oleh seorang kepala dinas yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada kepala daerah melalui sekertaris daerah.

Puskesmas (Pusat Kesehatan masyarakat) adalah unit pelaksana teknis dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan disuatu wilayah kerja[1].

Puskesmas yaitu suatu unit pelaksanaan

fungsional yang berfungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan, pusat pembinaan peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan tingkat pertama yang menyelenggarakan kegiatannya secara menyeluruh,

terpadu yang berkesinambungan pada suatu

masyarakat yang bertempat tinggal dalam suatu wilayah tertentu.

Tetapi ada juga pegawai puskesmas yang kurang baik dalam hal mengerjakan pekerjaannya, misalnya pegawai kurang baik dalam melayani masyarakat, suka berkeluyuran atau diwaktu jam kerja pegawai malah pergi dari puskesmas, dan sering datang telat.

Salah satu solusi permasalahan tersebut adalah membuat program pemilihan puskesmas terbaik dengan

menggunakan algoritma (ANP) yang menjadi

puskesmas percontohan. Puskesmas-puskesmas yang terpilih pada akhirnya diproyeksikan menjadi acuan dan laboratorium bagi puskesmas-puskesmas lain dalam melayani masyarakat, manajemen puskesmas, dan peran serta pegawai.

Analytical Network Process (ANP) adalah teori matimatis yang memugkinkan seorang pengambilan keputusan menghadapi factor-faktor yang saling berhubungan dependence serta umpan balik feedback

secara sistematis, metode ini merupakan pendekatan baru metode kualitatif yang merupakan perkembangan lanjut dari metode terdahulu yakni Analytical Hierachy Process (AHP) [2].

ANP merupakan pendekatan baru dalam proses pengambilan keputusan yang memberikan kerangka

kerja umum dalam memperlakukan

keputusan-keputusan tanpa membuat asumsi-asumsi tentang independensi elemen-elemen pada level yang lebih tinggi dari elemen-elemen pada level yang paling rendah dan tentang independensi elemen-elemen dalam suatu level.

Berbeda dengan Analytical Hierarchy Process

(AHP), ANP dapat menggunakan jaringan tanpa harus menetapkan level seperti pada hierarki yang digunakan dalam AHP, konsep utama dalam ANP adalah

influence, pengaruh, sementara, konsep utama dalam AHP adalah preference, preferensi, AHP dengan asumsi-asumsi dependensinya tentang cluster dan

elemen merupakan kasus khusus dari ANP

(Ascarya,)[3].

Sistem pendukung keputusan (SPK) adalah bagian dari sistem informasi berbasis komputer termasuk

sistem berbasis pengetahuan atau manajemen

pengetahuan yang dipakai untuk mendukung

pengambilan keputusan dalam suatu organisasi atau perusahaan. Menurut Moore dan Chang, SPK dapat digambarkan sebagai sistem yang berkemampuan mendukung analisis ad hoc data, dan pemodelan keputusan berorientasi keputusan, orientasi perencanaan masa depan, dan digunakan pada saat-saat yang tidak biasa[4].

Sehingga puskesmas-puskesmas tersebut setiap saat harus siap dikunjungi dan diteliti baik oleh puskesmas-puskesmas kota Tanjung Balai, suatu masalah tersebut menggunakan yaitu sebuah system pendukung keputusan, system ini digunakan sebagai proses untuk mendapatkan keputusan lebih cepat dan akurat.

II. TEORITIS

(2)

Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System) adalah suatu sistem yang memiliki kemampuan dalam pemecahan masalah/komunikasi untuk kondisi masalah yang terstruktur maupun tidak terstruktur yang mempunyai peran dalam membantu pemecahan masalah dan tidak satupun yang mengetahui bagaimana keputusan yang seharusnya dibuat.

Sistem Pendukung Keputusan (SPK) memiliki tujuan memberikan prediksi, menyediakan informasi serta

mengarahkan pengguna informasi agar mampu

melakukan pengambilan keputusan dengan lebih efektif.

Aplikasi Sistem Pendukung Keputusan (SPK)

menggunakan CBIS (Computer Based Information System) yang fleksibel, interaktif, dan dapat diadaptasi, yang dikembangkan untuk mendukung solusi atas masalah manajemen spesifik yang tidak terstruktur.

Aplikasi DSS menggunakan data, memberikan

antarmuka pengguna yang mudah dan dapat

menggabungkan pemikiran pengambil keputusan [5].

2.2 Kelompok Nelayan

Menurut departemen kesehatan, puskesmas merupakan kesatuan organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat dengan peran serta aktif masyarakat dan menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, dengan biaya yangd apat dipikul oleh pemerintah dan masyarakat luas guna mencapai derajat kesehatan yang optimal, tanpa mengabaikan mutu pelayanan pada perorangaan.

Menurut departemen kesehatan, puskesmas adalah unut

pelaksana teknis dinas kabupaten/kota yang

bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehaatan disuatu wilayah kerja.[6].

2.3 Analitycal Network Procces (ANP)

Analytical network proses (ANP) adalah teori umum pengukuran relatif yang digunakan untuk menurunkan rasio prioritas komposit dari skala rasio individu yang mencerminkan pengukuran relatif dari pengaruh elemen-elemen yang saling berinteraksi berkenaan dengan criteria control (Saaty,).

Analytical network process (ANP) merupakan pendekatan baru metode kualitatif. Diperkenalkan professor Thomas Saaty pakar riset dari Pittsburgh University, dimaksudkan untuk menggantikan metode Analytic Hierarchy Process (AHP). Kelebihan ANP dari

metodologi yang lain adalah kemampuannya

melakukkan pengukuran dan sintesis sejumlah factor-faktor dalam hierarki atau jaringan. Tidak ada metodologi lain yang mempunyai fasilitas sintesis seperti metodologi ANP. ANP merupakan pendekatan baru dalam proses pengambilan keputusan yang

memberikan kerangka kerja umum dalam

memperlakukan keputusan-keputusan tanpa membuat asumsi-asumsi tentang independensi elemen-elemen pada level yang lebih tinggi dari elemen-elemen pada level yang paling rendah dan tentang independensi

elemen-elemen dalam suatu level. Berbeda dengan Analytical Hierarchy Process (AHP), ANP dapat menggunakan jaringan tanpa harus menetapkan level seperti pada hierarki yang digunakan dalam aaaaaAHP, konsep utama dalam ANP adalah influence, pengaruh, sementara, konsep utama dalam AHP adalah preference, preferensi, AHP dengan asumsi-asumsi dependensinya tentang cluster dan elemen merupakan kasus khusus dari ANP (Ascarya,) [7].

III. ANALISA DAN PEMBAHASAN

Analytical Network Process (ANP) adalah teori

matimatis yang memugkinkan seorang pengambilan keputusan menghadapi factor-faktor yang saling berhubungan dependence serta umpan balik feedback

secara sistematis, metode ini merupakan pendekatan baru metode kualitatif yang merupakan perkembangan lanjut dari metode terdahulu yakni Analytical Hierachy Process.

1. Membuat Matriks Perbandingan Berpasangan

Menyusun matriks perbandingan berpasangan

merupakan salah satu bagian yang penting dan perlu ketelitian didalamnya. Pada bagian ini akan ditentukan skala kepentingan suatu elemen terhadap elemen lainnya. Langkah pertama dalam menyusun perbandingan berpasangan, yaitu membandingkan dalam bentuk berpasangan seluruh untuk setiap sub sistem hirarki. Perbandingan tersebut kemudian ditransformasikan dalam bentuk matriks untuk maksud analisis numerik, yaitu matriks n x n.

Berdasarkan tabel dibawah ini kita dapat

menentukan skala perbandingan antar elemen dalam proses pengambilan keputusan.

Tabel 1. Penilaian perbandingan berpasangan

Tinkat K Defenisi Keterangan

1 Sama penting Kedua elemen mempunyai

pengaruh yang sama

3 Sedikit Lebih

Penting

Pengalaman dan penilaian sedikit memihak pada satu elemen dibandingkan pasangannya

5 Lebih

Penting

Pengalaman dan penilaian dengan kuat memihak pada satu elemen dibandingkan pasangannya

7 Sangat

Penting

Satu elemen sangat disukai dan secara praktis dominasi terlihat

9 Mutlak

Penting

Satu elemen terbukti mutlak lebih disukai dibandingkan dengan pasangannya

2,4,6,8 Nilai Tengah Ketika diperlukan sebuah

kompromi Kebalikan 𝑎𝑖𝑗= 1 𝑎

𝑖𝑗 ⁄

(3)

Sistem pendukung keputusan (SPK) pemilihan puskesmas terbaik ini dapat dirancang dari beberapa pengumpulan data sebagai berikut.

2. Data Pembuatan Sistem

Data yang dibutuhkan untuk pembuatan system ini adalah sebagai berikut :

a. Login

Data-data user yang memiliki akses penuh dalam system

b. Data Alternatif (puskesmas)

Menjelaskan tentang data-data puskesmas,

seperti id-puskesmas, nama, alamat. c. Data Kriteria 1) Peralatan medis 2) Integritas staff 3) Komunikasi 4) Stock obat d. Data Subkriteria

1) Kualitas peralatan medis 2) Kuantitas peralatan medis 3) Disiplin

4) Tanggung jawab

5) Kerjasama tim

6) Komunikasi dengan pasien

7) Pemasukan obat

8) Pengeluaran obat e. Data Penilaian Alternatif

Daya penilaian alternatif merupakan nama-nama puskesmas yang dipilih sebagai sampel yang digunakan dalam menentukan perangkingan puskesmas untuk pemilihan puskesmas terbaik. Contoh data alternative yang digunakan dalam laporan itu yaitu A : puskesmas datuk bandar, B : puskesmas kampong baru, dan C : puskesmas tualang raso yang dinilai secara umum dari masing-masing criteria.

3. Data Nilai Kepentingan Matriks Perbandingan Berpasangan Antara Kriteria

Matriks perbandingan criteria menggunakan skala intensitas kepentingan ANP dengan memperhatikan hubungan pengaruh atau ketergantungan antara keriteria, Data nilai kepentingan perbandingan berpasangan antara criteria yang saling berhubungan dalam pembuatan system pemilihan puskesmas terbaik dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 2. Perbandingan tingkat kepentingan kriteria terhadap peralatan medis

Kriteria Nilai kepentingan

Integritas Alternatif Sedikit lebih penting

Tabel 3. Perbandingan tingkat kepentingan kriteria terhadap integritas

Kriteria Nilai kepentingan

Peralatan medis

Komuni kasi

Antara sedikit lebih penting & Lebih penting

Peralatan medis

Stock

obat Sama penting

Peralatan medis

Alternat if

Antara sedikit lebih penting & Lebih penting

Komunika si

Stock obat

Antara sedikit lebih penting & Lebih penting

Komunika si

Alternat if

Antara sedikit lebih penting & Lebih penting

Stock obat Alternat

if Sama penting

Tabel 4. Perbandingan tingkat kepentingan kriteria terhadap komunikasi

Kriteria Nilai kepentingan

Integritas Stock

obat Sedikit lebih penting

Integritas Alternatif Sama penting Komunikasi Alternatif Sama penting

Tabel 5. Perbandingan tingkat kepentingan kriteria terhadap stock obat

Kriteria Nilai kepentingan

Integritas Komunikasi Sedikit lebih penting

Integritas Alternatif Antara sedikit lebih

penting dan lebih penting

Komunikasi Alternatif Sama penting

4. Data Nilai Kepentingan Matriks Perbandingan Berpasangan Antara Subkriteria.

Tabel 6. perbandingan tingkat kepentingan kriteria terhadap peralatan medis

Elemen Nilai kepentingan

Kualitas peralatan medis Kuantitas peralatan medis

Sedikit lebih penting Kualitas

Tabel 7. perbandingan tingkat kepentingan kriteria terhadap integritas staff

Elemen Nilai kepentingan

Disiplin Tanggung

jawab

Sedikit lebih penting

Tanggung jawab

Tabel 8. perbandingan tingkat kepentingan kriteria terhadap komunikasi

Elemen Nilai kepentingan

Kerjasa ma tim

Komunika si dengan pasien

Antara sedikit lebih penting dan lebih penting komunikasi dengan pasien

Tabel 9. perbandingan tingkat kepentingan kriteria terhadap stock obat

Elemen Nilai kepentingan

Pemasukan Obat

Pengelu aran Obat

Antara sedikit lebih penting dan lebih penting

5. Mendefinisikan masalah Dan Menentukan Kriteria Dan Subkriteria

Langkah awal dalam metode ANP adalah

mengidentifikasikan tujuan dari masalah. Pada kasus ini, masalah yang akan dipecahkan dan tujuan yang

ingin dicapai adalah menentukan pemilihan

puskesmas terbaik dari beberapa alternative puskesmas dengan menilai criteria yang ada. Pada kasus ini terdapat 4 (empat) criteria yaitu peralatan

(4)

medis, integritas staff, komunikasi, stock obat dan alternatif. Tiap criteria memiliki subkriteria, dapat dilihat pada tabel 2.

6. Membuat Struktur Network

Struktur network berfungsi untuk menentukan pengaruh atau saling ketergantungan antara criteria maupun antara subkriteria. Dalam pemilihan puskesmas terbaik terdapat 4 (empat) criteria, yaitu : a. Kriteria peralatan medis (C1) dikelompokkan

kedalam 2 sub kategori yang meliputi kualitas peralatan medis (E11) dan kuantitas peralatan medis (E12).

b. Kriteria integritas staff (C2) dikelompokkan kedalam 2 sub kategori yang meliputi disiplin (E21) dan tanggung jawab (E22).

c. Kriteria komunikasi (C3) dikelompokkan

kedalam 2 sub kategori yang meliputi kerjasama tim (E31) dan komunikasi dengan pasien (E32). d. Kriteria stock obat (C4) dikelompokkan kedalam

2 sub kategori yang meliputi pemasukkan obat (E41) dan pengeluaran obat (E42).

e. Kriteria alternative, terdiri dari si A, si B, dan si C. Pada penelitian ini hanya mengambil 3 sampel alternatif pemilihan puskesmas terbaik yaitu si A, si B, dan si C.

Kriteria diatas disusun menjadi network pada gambar dibawah ini.

Gambar 1. struktur network pemilihan puskesmas terbaik.

7. Membuat Matriks Perbandingan Berpasangan

Kriteria Dan Menguji Konsistensi Ratio

Matriks perbandingan berpasangan criteria ini berfungsi untuk mendapatkan nilai eigen dan melihat konsistensi rasio perbandingan (CR), dimana syarat CR ≤ 0.1. Nilai perbandingan ini diperoleh dari pengambilan keputusan.

Tabel 10. Matriks perbandingan berpasangan kriteria

C1 C2 C3 C4 ALT C1 0 0,34 0 0 0,29 C2 0,57 0 0,45 0,54 0,38 C3 0 0,28 0 0,21 0,21 C4 0 0,22 0,22 0 0,11 ALT 0,25 0,16 0,31 0,24 0

8. Membuat Matriks Perbandingan Berpasangan

Subkriteria Dan Menguji Konsistemsi Ratio

Matriks perbandingan berpasangan subkriteria ini berfungsi untuk mendapatkan nilai eigen dan melihat konsistensi rasio perbandingan (CR), dimana syarat CR ≤ 0.1. Nilai perbandingan antar subkriteria yang saling berhubungan dapat dilihat dari tabel berikut ini. Dapat dicari nilai matriks perbandingan berpasangan subkriteria peralatan medis terhadap kualitas peralatan medis dan kuantitas peralatan medis yang terdapat pada tabel dibawah ini.

Tabel 11. Matriks berpasangan kualitas peralatan medis terhadap integritas staaff

E21 E22

E21 1 3

E22 0,33 1

Dari matriks perbandingan di atas, maka dapat dihitung nilai eigen vector, lamda maksimum, indeks konsistensi (CI) dan indeks ratio (CR). Nilai

eigen vector diperoleh dari baris pertama dibagi dengan jumlah nilai pada kolom pertama ditambah baris kedua yang dibagi dengan jumlah nilai kolom kedua dan seterusnya dibagi dengan jumlah subkriteria yang dibandingkan terdapat pada persamaan

Jumlah pada kolom pertama: 1 + 0,33 = 1,33 Jumlah pada kolom pertama: 3 + 1 = 4

Eigen Vector untuk baris pertama: 1

1,33 ⁄ +3 4

2 = 0,75

Eigen Vector untuk baris pertama:

0,33 1,33 ⁄ + 1 4

2 = 0,25

Tabel 12. Nilai eigen vector terhadap matriks perbandingan berpasangan subkriteria kualitas peralatan

medis terhadap integritas staff

E21 E22 eVector

E21 1 3 0,75 E22 0,33 1 0,25 Jumlah 1,33 4 1 Λmaks : (1,33 x 0,75) + (4 x 0,25) = 2 CI : 2−2 2−1= 0 CR : 0 / 0 = 0

Nilai konsisten karena CR ≤ 0.1. Jika nilai CR > 0.1 maka tidak konsisten Nilai konsisten karena CR ≤ 0.1. Jika nilai CR > 0.1 maka tidak konsisten atau tidak memenuhi syarat maka matriks keputusannya harus diulang hingga nilai CR konsisten atau memenuhi syarat konsisten.

9. Menentukkan Nilai Alternatif Terhadap Kriteria Dan Subkriteria

Setelah memperoleh nilai yang konsisten pada kriteria dan subkriteria selanjutnya menentukan nilai

perbandingan antar alternatif untuk setiap

(5)

terbaik, maka setiap puskesmas diberikan penilaian terhadap kriteria-kriteria yang ada. Langkah-langkah penyelesaian alternatif sama dengan langkah penyelesaian pada kriteria dan subkriteria.

Tabel 13. Keterangan penilaian puskesmas

Nilai Keterangan

0-5 Tidak Baik

51-69 Cukup

70-84 Baik

85-100 Sangat Baik

Data nilai range yang telah ditetukan, data range tersebut dibuat kedalam skala kepentingan saaty, dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 14. Range perbandingan alternatif

Range Nilai Kepentingan

Sangat baik - sangat baik 1

Sangat baik – baik 3

Sangat baik – cukup 5

Sangat baik – tidak baik 7

Baik – cukup 2

Bik – tidak baik 4

Cukup – tidak baik 2

10.Membuat Unweight Super Matriks

Setelah perhitungan bobot antar subkriteria dengan keriteria, tahap selanjutnya meletakkan bobot

masing-masing subkriteria kedalam sebuah

supermatriks yang dinamakan unweighted

supermatriks. Perletakkannya yaitu terurut

horizontal dari kiri ke kanan menurut kode subkriteria yaitu E11, E12, E21, E22, E31, E32, E41, E42, A, B, C serta vertikal dari atas ke bawah menurut kode subkriteria yaitu E11, E12, E21, E22, E31, E32, E41, E42, A, B, C. Hasil perhitungan

unweighted supermatriks dapat dilihat pada tabel 14.

Tabel 14. Unweight supermatriks

C1 C2 C3 C4 ALT E1 1 E1 2 E2 1 E2 2 E3 1 E3 2 E4 1 E4 2 A B C C1 E1 1 0 0 0,7 5 0,2 5 0 0 0 0 0,3 3 0,3 3 0,3 3 E1 2 0 0 0,7 5 0,2 5 0 0 0 0 0,4 3 0,1 4 0,4 3 C2 E2 1 0,7 5 0,2 5 0 0 0,7 5 0,2 5 0,7 5 0,2 5 0,4 3 0,4 3 0,1 4 E2 2 0,7 5 0,2 5 0 0 0,7 5 0,2 5 0,7 5 0,2 5 0,3 3 0,3 3 0,3 3 C3 E3 1 0 0 0,7 5 0,2 5 0 0 0,7 5 0,2 5 0,2 0,6 0,2 E3 2 0 0 0,7 5 0,2 5 0 0 0,5 0 0,5 0 0,3 3 0,3 3 0,3 3 C4 E4 1 0 0 0,7 5 0,2 5 0,6 7 0,3 3 0 0 0,3 3 0,3 3 0,3 3 E4 2 0 0 0,1 7 0,8 3 0,6 7 0,3 3 0 0 0,6 0,2 0,2 AL T A 0,3 3 0,4 3 0,4 3 0,3 3 0,2 0,3 3 0,3 3 0,6 0 0 0 B 0,3 3 0,1 4 0,4 3 0,3 3 0,6 0,3 3 0,3 3 0,2 0 0 0 C 0,3 3 0,4 3 0,1 4 0,3 3 0,2 0,3 3 0,3 3 0,2 0 0 0

11.Membuat Weight Supermatriks

Supermatriks ini terbentuk dari tiap blok vector prioritas dibobot berdasarkan matriks perbandingan berpasangan antar cluster. Weighted supermatriks diperoleh dengan cara perkalian dengan matriks perbandingan berpasangan cluster pada tabel 4.23.

Tabel 15. Weight supermatriks

C1 C2 C3 C4 ALT E 11 E 12 E 21 E 22 E 31 E 32 E 41 E 42 A B C C1 E 1 1 0 0 0, 18 0, 08 0 0 0 0 0, 1 0, 1 0, 1 E 1 2 0 0 0, 18 0, 08 0 0 0 0 0, 12 0, 4 0, 12 C2 E 2 1 0, 41 0, 14 0 0 0, 34 0, 11 0, 40 0, 13 0, 34 0, 34 0, 11 E 2 2 0, 41 0, 14 0 0 0, 34 0, 11 0, 40 0, 13 0, 26 0, 26 0, 26 C3 E 3 1 0 0 0, 21 0, 07 0 0 0, 18 0, 06 0, 04 0, 13 0, 04 E 3 2 0 0 0, 21 0, 07 0 0 0, 12 0, 12 0, 07 0, 07 0, 07 C4 E 4 1 0 0 0, 16 0, 05 0, 21 0, 10 0 0 0, 04 0, 04 0, 04 E 4 2 0 0 0, 04 0, 18 0, 21 0, 10 0 0 0, 06 0, 02 0, 02 A L T A 0, 08 0, 10 0, 07 0, 05 0, 06 0, 10 0, 08 0, 14 0 0 0 B 0, 08 0, 03 0, 07 0, 05 0, 18 0, 10 0, 08 0, 05 0 0 0 C 0, 08 0, 10 0, 02 0, 05 0, 06 0, 10 0, 08 0, 05 0 0 0

12. Membuat Limit Supermatriks

Tabel 16. Limited supermatriks

C1 C2 C3 C4 ALT E 11 E 12 E 21 E 22 E 31 E 32 E 41 E 42 A B C C 1 E 1 1 0, 05 6 0, 05 6 0, 05 6 0, 05 6 0, 05 6 0, 05 6 0, 05 6 0, 05 6 0, 05 6 0, 05 6 0, 05 6 E 1 2 0, 05 0, 05 0, 05 0, 05 0, 05 0, 05 0, 05 0, 05 0, 05 0, 05 0, 05 C 2 E 2 1 0, 44 2 0, 44 2 0, 44 2 0, 44 2 0, 44 2 0, 44 2 0, 44 2 0, 44 2 0, 44 2 0, 44 2 0, 44 2 E 2 2 0, 44 0, 44 0, 44 0, 44 0, 44 0, 44 0, 44 0, 44 0, 44 0, 44 0, 44 C 3 E 3 1 0, 04 6 0, 04 6 0, 04 6 0, 04 6 0, 04 6 0, 04 6 0, 04 6 0, 04 6 0, 04 6 0, 04 6 0, 04 6 E 3 2 0, 02 4 0, 02 4 0, 02 4 0, 02 4 0, 02 4 0, 02 4 0, 02 4 0, 02 4 0, 02 4 0, 02 4 0, 02 4 C 4 E 4 1 0, 03 2 0, 03 2 0, 03 2 0, 03 2 0, 03 2 0, 03 2 0, 03 2 0, 03 2 0, 03 2 0, 03 2 0, 03 2 E 4 2 0, 02 1 0, 02 1 0, 02 1 0, 02 1 0, 02 1 0, 02 1 0, 02 1 0, 02 1 0, 02 1 0, 02 1 0, 02 1 A L T A 0, 05 6 0, 05 6 0, 05 6 0, 05 6 0, 05 6 0, 05 6 0, 05 6 0, 05 6 0, 05 6 0, 05 6 0, 05 6 B 0, 04 2 0, 04 2 0, 04 2 0, 04 2 0, 04 2 0, 04 2 0, 04 2 0, 04 2 0, 04 2 0, 04 2 0, 04 2 C 0, 04 0 0, 04 0 0, 04 0 0, 04 0 0, 04 0 0, 04 0 0, 04 0 0, 04 0 0, 04 0 0, 04 0 0, 04 0

Berdasarkan hasil pengolahan data ANP yang di tampilkan pada Tabel 4.49, diketahui bahwa Alternatif A : puskesmas datuk bandar memiliki nilai limiting tertinggi diantara Alternatif lainnya yaitu 0,056. Kemudian berturut-turut nilai tertinggi kedua hingga nilai terendah adalah Alternatif B : puskesmas kampong baru dengan nilai 0,042, dan terakhir adalah Alternatif C : puskesmas tualang raso dengan nilai 0,040. Jadi

(6)

puskesmas terbaik adalah pukesmas datuk Bandar dengan nilai limiting tertinggi.

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dari penelitian yang penulis

lakukan mengenai metode ANP untuk proses

pendukung keputusan penentuan puskesmas terbaik yang teah dirancang, penulis dapat menulis kesimpulan sebagai berikut :

1. Penerapan metode ANP akurat digunakan sebagai cara untuk menentukan puskesmas terbaik karena langkah-langkah penyelesaiannya cukup rumit, perhitungan ANP yaitu perbandingan antara tiap criteria dan sub criteria.

2. Dengan adanya aplikasi ini maka pihak dinas kesehatan akan lebih mudah dalam pengambilan keputusan untuk menentukan puskesmas terbaik karena aplikasi ini lebih akurat dibandingkan dengan system yang lama dan penyimpanan data menjadi lebih baik.

REFERENSI

[1] Turban, E., dkk.(2005). “Decision Support systems and Intelligent System Edisi 7 Jilid1”, Andi, Yogyakarta [2] Turban, E. “Decision Support System and Expert

System”, Penerbit Prentice Hall Internasional, United State, 1995

[3] Sprague, Ralph H and Carlson, Eric D. (1982). “Building Effective Decision Support System.” New Jersey

[4] BSD, Oetomo, Perencanaan & Pembangunan Sistem Informasi, Yogyakarta:Andi, 2002

[5] Kusrini. 2007. Konsep dan Aplikasi Sistem Pendukung Keputusan. Penerbit Andi, Yogyakarta

[6] Hermawan, J, 2004. “Analisa Desain dan Pemrograman Obyek dengan UML dan Visual Basic.Net”. Yogyakarta :Andi

[7] Bentley, Lonnie D And Whitten, Jeffrey L. 2007. Systems Analysis and Design for the Global Enterprise, 7 th Edition, International Edition. McGraw-Hill, New York.

[8] Bennett, McRobb, dan Farmer, (2006), Object Oriented System Analysis And Design Using UML, Second edition, McGraw Hill, Berkshire.

[9] Saaty, Rozann W., 2003, Decision Making in Complex Environments The ANP for Decision Making With Dependence and Feedback, Creative Decision Foundation, Pittsburg.

[10] Ascarya. (2005). Analytic Network Process (ANP): Pendekatan Baru Studi Kualitatif, Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan, Bank Indonesia.

[11] Departemen Kesehatan RI. 2009. Pedoman Pelayanan Antenatal di Tingkat Pelayanan Dasar. Jakarta: Depkes RI.

[12] Kemenkes RI, 2011. Promosi kesehatan di daerah bermasalah kesehatan panduan bagi petugas kesehatan di puskesmas, Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan Kemenkes Republik Indonesia. Available at: http://www.depkes.go.id/resources/download/promosi-kesehatan/panduan-promkes-dbk.pdf.

[13] Budi Winarno. 2012. Kebijakan Publik Teori, Proses, dan Studi Kasus. Yogyakarta: CAPS.

Gambar

Tabel 1. Penilaian perbandingan berpasangan   Tinkat K  Defenisi  Keterangan
Tabel 11. Matriks berpasangan kualitas peralatan medis  terhadap integritas staaff
Tabel 13. Keterangan penilaian puskesmas

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai dengan tujuan penelitian ini adalah untuk menguji secara empirik pengaruh pola asuh otoriter orang tua terhadap kecerdasan emosi pada remaja madya, maka

Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku sambungan pracetak dengan sistem takik kombinasi bibir miring-bibir lurus dengan mengetahui nilai Kuat

los pasar, korban mengalami kendala untuk melunasi pembiayaan yang diberikan oleh Tamzis, maka dari itu pihak KSPPS Tamzis Bina Utama memberikan keringanan kepada

Ditinjau dari sistem pengendalian intern, sistem dan prosedur akuntansi kas dilakukan oleh manajemen perusahaan sudah dapat dinyatakan sebagai sistem pengendalian

Melakukan penyusunan instrumen hukum Mahkamah Agung yang berfungsi untuk memberi petunjuk bagi hakim pengadilan tingkat pertama dan banding tentang penanganan perkara banding

dengan judul “Sistem Keamanan Dan Monitoring Rumah Pintar Secara Online Menggunakan Perangkat Mobile - Universitas Komputer Indonesia (2016)” Perancangan aplikasi ini

dengan arah jarum jam. 3) Permainan dimulai pada saat pemain yang mendapat giliran memilih biji yang akan dijalankan pada salah satu dari enam lubang berisi batu

Utz (1993), Bacillus thuringiensis dapat tumbuh pada medium buatan dengan suhu pertumbuhan berkisar antara 15 o C-40 o C, sehingga dapat dikatakan bahwa Bacillus thuringiensis