• Tidak ada hasil yang ditemukan

THE PICTURE OF KUTAI NATIONAL PARK (Management Policy in Anthropological Perspective) 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "THE PICTURE OF KUTAI NATIONAL PARK (Management Policy in Anthropological Perspective) 1"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Code : 18.6.2

THE PICTURE OF KUTAI NATIONAL PARK

(

Management Policy in Anthropological Perspective

)

1

Dr. Pawennari Hijjang, M.A.

2

2Staf pengajar pada Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin

Abstract

Conflict of interest relating to forest sector indicates that forest is not physical medium, but also social, cultural, economical and political media. In this metter, forest can become basis for explaining social, cultural, economical and political phenomena which in “National Park”.

Referring to the above reason, this article will explain how the Kutai National Park is discussed bay different sides and how the implication of this talk about the appearance of the conflict of interest and the change of meaning of the Kutai National Park.

The fight for gaining access to forest and land resources in the Kutai National Park is the main motive energing the social and interest conflict, either the political interest or the economical interest which is framed by one policy. This conflict takes place not only among the people living inside and surroundings the Kutai National Park in the one side and the Kutai National Park itself in the other side. So, this conflict implicated the emergence of discource through the land tenure and management inside the Kutai National Park area as a part of the fighting efforts which automatically is colonization inside the Kutai National Park.

PENDAHULUAN

Beberapa tahun belakangan ini, isu lingkungan (terutama sektor kehutanan) menyita hampir sebagian besar pemerhati lingkungan, praktisi kehutanan, media massa, dan tidak ketinggalan ilmuwan sosial termasuk antropolog. Ini terjadi karena kualitas sumberdaya hutan mengalami krisis secara nasional maupun global akibat tindakan dan perilaku manusia1. Pada sisi lain, isu ini mengemuka karena semakin meningkatnya berbagai konflik sosial akibat benturan kepentingan terhadap akses sumberdaya hutan, baik kepentingan ekologi, ekonomi, terlebih kepentingan politik.

1

John Barry, 1999. Environment and Social Theory. London : Routledge, hal: 7-8; lihat juga Scott Lash & John Urry, 1994. Economies of Sign & Space. London : Sage Publications, hal: 293-305.

(2)

Sektor kehutanan menjadi fokus perhatian secara universal, selain sebagai sumber pemasukan kas negara (devisa negara)2, juga menjadi tempat bergantungnya sebagian besar komunitas lokal (orang sering menyebutnya masyarakat asli) yang tidak hanya tersebar di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara di dunia. Di samping itu, juga merupakan tempat perkembangbiakan spesies hewan dan tumbuhan yang dilindungi3. Akibat adanya krisis sumberdaya hutan tersebut, maka sektor ekologi, ekonomi dan sosialbudaya juga di ambang krisis. Di samping pemasukan kas negara merosot, budaya komunitas lokal terancam punahnya spesies hewan dan tumbuhan yang dilindungi.

Bagi para antropolog, kasus tersebut merupakan hal yang umum karena krisis lingkungan dan konflik sosial seputar sumberdaya hutan4, bisa ditemukan di mana-mana. Misalnya di Pulau Yamdena Kepulauan Tanimbar sekitar tahun 1992-1993, di Way Abar Lampung sekitar tahun 1991, di Desa Sungapa Pulau Samosir dari tahun 1987 dan memuncak pada tahun 1993 hingga kini, konflik warga Desa Dusun pulau Bengkulu dengan PT. Maju Jaya Timber sebagai pemegang HPH, konflik masyarakat setempat dengan Balai Taman Nasional Lore Lindu tahun 1997/19985, konflik antara Suku Moi di Irian Jaya dengan PT. Intipura Timber CO sebagai pemegang HPH tahun 19926 dan beberapa konflik lainnya yang terjadi di area konservasi atau hutan lindung7, termasuk di Taman Nasional Kutai Kalimantan Timur (Arifin, 2003:2).

Taman Nasional Kutai (TNK), beberapa tahun belakangan ini semakin sering dibicarakan dan menjadi perdebatan tersendiri. Hal ini bukan hanya disebabkan oleh kondisi fisik hutan TNK yang mengalami krisis, tetapi juga disebabkan oleh munculnya berbagai konflik sosial atau konflik kepentingan di dalam kawasan tersebut. Akibat lebih lanjut dari gejala munculnya konflik tersebut8, TNK tidak hanya menjadi perdebatan tentang sumberdaya hutan semata, akan tetapi justru menjadi perdebatan politik.

2

Menurut laporan Bank Dunia tahun 2000, pemerintah Indonesia pada tahun 1998, mendapat pemasukan dari sektor kehutanan sekitar 20% dari total pemasukan negara, atau sekitar US$ 8,5 milyar (lihat J. Lych & E. Harwell, 2002:116).

3

Jhamtani (penerjemah), 1993. Menuju Kepunahan Keragaman Dunia dan Umat Manusia. Jakarta : Konphalindo, hal: 1-5.

4

lihat C. Victor Barber, dkk, 1999. Menyelamatkan Sisa Hutan di Indonesia dan Amerika Serikat. Jakarta : YOI, hal: 45-105.

5

B. Y. Laban, 1999. Prospek dan Kontribusi Taman Nasional Lore Lindu terhadap Pembangunan Bagian Timur Indonesia di Manado, 24-27 Agustus 1997. Hal. 1-6.

6

Sangaji dalam Soetrisno, 1995. Menuju Masyarakat Partisipatif. Yogyakarta: Kanisius, hal. 112.

7

Hasil kajian J. Lych & E. Harwell (2002:91-96) terhadap kebijakan Kehutanan di Indonesia, menemukan adanya konflik antara komunitas lokal dengan pihak taman nasional, misalnya di Taman Lindu (Sulawesi Tengah).

8

Adhief Mulyadi, 1999. Menggali keinginan, merangkai kesepakatan. Makalah yang disampaikan pada Lokakarya Taman Nasional Kutai di Samarinda. 28-29 April 1999, hal: 1-8.

(3)

TINJAUAN LITERATUR

Kajian antropologi tentang kebijakan sudah berlangsung sejak tahun 1940-an di Irlandia Utara, dan perkembangannya kemudian terjadi pada tahun 1980-an9. Sebaliknya di Amerika Serikat, mulai sekitar tahun 1930-an dan 1940-an10. Orientasi kajiannya bukan hanya ditujukan pada managemen dan buruh industri, tetapi juga kepada pembuat kebijakan pembangunan, komunitas sekitar industri dan problema lingkungan yang dihasilkan oleh industri. Beberapa tahun kemudian, konsep dan teknik penelitian yang bersifat antropologis dikembangkan melalui pendidikan dengan maksud untuk menganalisa struktur industri,

organisasi, relasi, proses, konsekuensi, dan implikasi kebijakan 11 . Hal yang sama

dikemukakan oleh Hoben (1982)12, bahwa keterlibatan antropolog dalam kebijakan publik dimulai sejak tahun 1940-an meskipun belum sepenuhnya terlibat. Memasuki tahun 1970-an keterlibatan penuh para ahli antropologi dalam kajian kebijakan sudah mulai nampak terutama dalam sektor pembangunan dan proses pengambilan keputusan.

Berbagai tulisan berikut yang menunjukkan perkembangan kajian kebijakan dimaksud, dari berbargai perspektif ilmu, tak terkecuali ilmu antropologi. Sederet nama yang disebutkan oleh Barlett (1980), misalnya kajian mengenai “Kebijakan pemerintah dan sejarah politik” sebagai suatu komponen untuk mmemahami produksi kopi di Puerto Rico oleh Wolf (1956), “Dayaguna pemaksaan penerapan kebijakan pertanian” di Tanzania oleh McHenry (1973), dan “Efek kebijakan pertanian oleh pemerintah dalam produktivitas kerjasama pertanian” di Romania oleh Argyres (1978). Demikian halnya Hinshaw (Annual Review of Anthropology 1980, Vol. 9) juga menyebut beberapa nama, diantaranya Mead (1979) melihat bagaimana kontribusi ahli-ahli antropologi dalam kebijakan nasional di Amerika Serikat selama dan setelah PD II, Wolcott, dkk (1979) melihat bagaimana administrasi pendidikan umum didekati secara antropologis, Sanday (1976) menganalisis pengaruh formulasi kebijakan pendidikan mengenai nilai di Amerika. Berbagai tulisan lainnya yang mencoba menjelaskan bagaimana hubungan antara antropologi dengan kebijakan, baik secara aplikatif atau

9

lihat Hasting Donnan & Graham McFarlane, 1997. Anthropology & Policy Research. The View from Northern

Ireland dalam Chris Shore & Susan Wright (ed), Anthropology of Policy. Critical Perspectives on Governance & Power. London: Routledge, 1997:261-281.

10

Perhatian para antropolog terhadap kebijakan bersamaan dengan munculnya perhatian para antropolog industri dan

terbentuknya komunitas antropologi yang mengkaji masalah industri (industrial anthropology) atau mereka yang lebih

berorientasi pada antropologi terapan (applied anthropology) yang dipelopori oleh Chapple, Arensberg, Gardner, dan

Richardson. Penjelasan lebih lanjut, periksa Annual Review of Anthropology, Vol. 10, tahun 1981:347.

11

lihat Carol S. Holzberg & Maureen J. Giovannini. Anthropology & Industry : Reappraisal & New Direction dalam Annual Review Vo. 10, 1981:349.

12

(4)

kaitannya dengan pembangunan oleh Hinshaw (1980) dan Hoben (1982), dimana keduanya lebih menyoroti hubungan antropologi dengan isu kebijakan atau bagaimana para ahli antropologi memiliki peranan yang cukup besar dalam proses pembangunan. Baik pembangunan dalam sektor organisasi, pembuatan keputusan politik, birokrasi maupun masalah administrasi. Holzberg & Giovannini (1981) lebih menyoroti bagaimana peranan antropologi dalam pembangunan sektor ekonomi dan oleh Chambers (1985) yang lebih menyoroti bagaimana peranan antropologi dalam pembangunan berbagai sektor kehidupan masyarakat, baik itu masalah kesehatan gizi, pertanian, pengembangan sumberdaya manusia, maupun pembangunan komunitas desa.

POTRET TAMAN NASIONAL KUTAI

Letak Geografis

Secara geografis wilayah Taman Nasional Kutai dan sekitarnya berada di antara garis katulistiwa 116o 58’48” – 117o 35’29” Bujur Timur dan 0o 7’57” – 0o 33’53” Lintang Utara dengan luas seluruhnya 198.604 ha atau panjang membentang dari pantai (selat Makassar) hingga daratan (ke arah timur) ± 65 Km dan lebar ± 40 Km. Jarak dari ibu kota Propinsi Kalimantan Timur (Samarinda) ± 25 Km arah selatan Kota Sangatta (ibu kota Kabupaten Kutai Timur). Secara fisiografis permukaan tanahnya bergelombang ringan sampai berat dan dibagian barat dan utara berbukit-bukit sampai dengan bergunung-gunung dengan ketinggian 0 – 400 meter di atas permukaan laut. Sedangkan curah hujan rata-rata setiap tahun sebesar 1.997 mm/tahun sampai 2.222 mm/tahun. Semakin ke barat curah hujan semakin tinggi mengikuti ketinggian wilayah tersebut (Arifin, 2003:21).

Adapun tata letak Taman Nasional Kutai berdasarkan rencana kebijaksanaan pembangunan wilayah Kalimantan Timur berbatasan dengan 3 (tiga) wilayah pengembangan terpadu (WPT) dan tujuh WPT Kabupaten Kutai (sebelum pemekaran tahun 1999), antara lain : 1) Wilayah pengembangan terpadu (WPT) Tenggarong dan sekitarnya, termasuk di dalamnya yang berbatasan dengan TNK, di sebelah Barat adalah Kecamatan Muara Kaman dan Kecamatan Muara Bengkal; 2) Wilayah pengembangan terpadu (WPT) Bontang, Muara Badak dan sekitarnya, di mana sebagian wilayah TNK masuk dalam wilayah Kotib Bontang yang berada di sebelah Selatan TNK; 3) Wilayah pengembangan terpadu (WPT) Sangkulirang, Muara Wahau dan sekitarnya, termasuk di dalamnya Kecamatan Sanggatta (sekarang menjadi ibu

(5)

kota Kabupaten Kutai Timur yang dimekarkan dari Kabupaten Kutai tahun 1999) di sebelah Utara Taman Nasional Kutai (Arifin, 2003:21-22).

Berdasarkan kebijakan pembangunan sektor perekonomian wilayah propinsi Kalimantan Timur, kawasan Taman Nasional Kutai di samping diapit oleh Kabupaten Kutai Timur dan Kotamadya Bontang yang lagi gencar-gencarnya mengadakan pembangunan dalam berbagai sektor juga dikelilingi 8 (delapan) perusahaan besar (membentuk organisasi Mitra TNK pada tahun 1995) yang bergerak dalam berbagai sektor, antara lain : 1) PT. Kaltim Prima Coal; 2) PT. Badak NGL Co; 3) PT. Indomico Mandiri; 4) HTI Surya Hutani Raya; 5) Pertamina Sangatta; 6) PT. Kiani Lestari; 7) PT. Pupuk Kaltim; 8) PT. Porodisa dan beberapa perusahaan kecil.

Di samping keberadaan beberapa perusahaan dimaksud, juga terdapat jalan poros Bontang-Sangatta (jalan trans Kalimantan) sepanjang ± 65 Km yang membelas dua kawasan Taman Nasional Kutai.

Kondisi geografis seperti ini, secara langsung atua tidak sedikitnya memberikan kontribusi terhadap meningkatnya arus mobilitas masyarakat dan tinggal di dalam kawasan Taman Nasional Kutai. Terutama dengan pembangunan jaringan listrik dan pengaspalan jalan poros Bontang-Sangatta, sering dijadikan alasan warga yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan Taman Nasional Kutai, terutama warga Desa Teluk Pandan untuk membangun rumah dan membuka lahan perkebunan di sepanjang jalan tersebut. Terlebih lagi, secara ekonomi lebih menguntungkan. Jika membuka lahan perkebunan dan perkampungan di sepanjang jalan tersebut, mereka dengan mudah menjual hasil perkebunan ke Pasar Bontang, atau mudah mendapatkan transportasi jika mereka ingin ke Samarinda, Bontang atau Sangatta. Demikian halnya semakin maraknya pembukaan tanah kapling di sepanjang jalan tersebut, karena nilai ekonomi tanah lebih tinggi ketika sarana jalan dan penerangan sudah dibangun.

Isu Penguasaan Lahan

Kebakaran hutan di dalam kawasan TNK sejak tahun 1997/1998 banyak dikhawatirkan oleh pihak BTNK dan berbagai pemerhati lingkungan (LSM Lingkungan), baik lokal, nasional dan internasional. Hal ini disebabkan oleh karena kebakaran hutan dalam kawasan TNK menghanguskan sebagian besar kawasan hutan di dalamnya, dan memunculkan berbagai

(6)

spekulan tanah yang disebut kolonisasi 13 terhadap kawasan tersebut yang notabene merupakan milik warga Desa Teluk Pandan yang mayoritas suku Bugis-Makassar dan mengklaim bahwa desa mereka bukan wilayah TNK, sebaliknya TNK yang masuk dalam wilayah desanya. Karena itu mereka merasa berhak membangun rumah, berkebun dan berladang. Bahkan area bekas kebakaran sepanjang jalan poros Bontang-Sangatta dijadikan tanah kapling. Warga desa Teluk Pandan dan warga tiga desa yang lain, status hukumnya semakin jelas ketika desanya diakui sebagai desa definitif oleh pemerintah pusat dan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur. Selain itu kawasan TNK tidak diatur oleh hukum adat, maka penyelesaian masalah di dalamnya tidak berdasarkan hukum adat, tapi hukum formal. Hal ini yang mereka jadikan alasan untuk tetap tinggal di desanya masing-masing. Alasan lainnya adalah, pertama: jauh sebelum dikukuhkan menjadi Taman Nasional Kutai warga yang ada sekarang sudah tinggal menetap secara turun-temurun di dalam kawasan tersebut.

Kedua: adanya usulan Pemda Kutai Timur kepada Gubernur dan Departemen Kehutanan

untuk melepaskan sekitar 15.000 ha kawasan TNK (termasuk di dalamnya 4 desa definitif) untuk dijadikan kawasan pengembangan kota dan sektor agrobisnis, di mana Desa Teluk Pandan menjadi desa piliham utama (Arifin, 2003:48).

Oleh sebab itu, sejak pasca kebakaran hutan di dalam kawasan TNK, keberadaan TNK kembali marak dibicarakan. Baik lewat media massa, terlebih dalam setiap seminar atau lokakarya yang bertemakan lingkungan. Kebakaran dan kerusakan hutan serta satwa yang dilindungi, penjarahan, perambahan, pengkaplingan lahan di dalam kawasan TNK, protes berbagai LSM (lokal, nasional dan internasional) terhadap kerusakan kawasan TNK, perusakan sarana dan prasarana TNK oleh warga, penegakan hukum hingga penyelesaian konflik kepentingan di TNK menjadi tajuk utama dan berita dalam koran-koran tersebut. Tak ketinggalan Kaltim Post, tanggal 19, 28 dan 30 Januari 2000 memuat berita tentang

adanya ancaman LSM Internasional, yaitu “European Wildlife Presservation Coalition

(EWPC) yang berkedudukan di Belanda untuk memboikot hasil bumi Kaltim (batubara, migas, pupuk dan kayu) jika pemerintah daerah tidak segera mengambil langkah-langkah penyelamatan hutan TNK dari kegiatan perambahan liar.

13

Istilah kolonisasi yang saya maksudkan di sini tidak serupa dengan kolonisasi Belanda terhadap Indonesia pada

jaman penjajahan, akan tetapi saya artikan bahwa sebuah kawasan/ruang yang dianggap tak bertuan diklaim sebagai hak milik. Gejala inilah yang menjadi isu/motif lahirnya konflik kepentingan dalam TNK antara masyarakat (etnis Bugis-Makassar sebagai aktor kolonisasi) yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan ini dengan pihak BTNK dan beberapa komunitas pemerhati lingkungan (LSM lokal, nasional dan internasional).

(7)

Baik operasi pengamanan maupun protes LSM tersebut merupakan bentuk dari sebuah perlawanan terhadap pemerintah daerah Kutai Timur dan masyarakat yang tinggal di dalam

TNK, terutama Desa Teluk Pandan atas kolonisasi sebagian kawasan tersebut. Upaya

perlawanan pihak BTNK ini dilakukan sebagai bentuk pembenaran atas klaim bahwa TNK merupakan kawasan yang harus dilindungi dari aktivitas manusia. Oleh karena itu, mereka mengharapkan agar aktivitas dalam kawasan TNK yang dianggap ilegal dan mengancam kelestarian biodiversity (misalnya mencuri, menduduki, menjarah dan mengkapling lahan) harus dicegah, kalau perlu dihukum (Arifin, 2003:49).

Adanya upaya operasi pihak kepolisian dan rencana pemboikotan salah satu LSM asing merupakan respon terhadap keberadaan masyarakat dan rusaknya hutan di dalam kawasan TNK setelah terjadinya kebakaran hutan tahun 1997/1998. Meskipun ada ancaman dari berbagai pihak, termasuk dari LSM dan pihak keamanan (Jagawana, Tentara dan Polisi), semua itu tidak mempengaruhi aktivitas mereka dalam TNK. Bahkan masyarakat yang tinggal di dalam kawasan TNK (terutama di Desa Teluk Pandan) justru mereka membangun rumah-rumah semi permanen dan permanen, membuka kebun baru, dan lahan tanah kapling.

Isu Ekologi

Secara umum, perdebatan tentang perlindungan keanekaragaman hayati (biodiversity) tidak terlepas dari semakin besarnya kekhawatiran masyarakat dunia terhadap meningkatnya krisis lingkungan (environmental crisis) yang mulai marak sekitar tahun 1960-1970-an akibat dieksploitasi secara berlebihan14. Kekhawatiran itu kemudian menjadi momentum atas kepentingan publik dan politik tertentu (politik lingkungan) sehingga lahir gerakan-gerakan cinta lingkungan, peringatan global akan hilangnya biodiversity, hingga munculnya

peringatan “Hari Bumi” (Erath Day) pada tahun 1970 (Boulding, 1966 ditulis Barry,

1999:27). Hal yang sama adalah diadakannya konferensi internasional tentang lingkungan hidup manusia yang diselenggarakan di Stockholm Swedia tahun 1982, dan diadakannya konferensi tingkat tinggi mengenai lingkungan dan pembangunan (KTT-Bumi) di Rio de Jeneiro Brasil tahun 1992 (lihat Warren, 1992; Kompas, 31 Oktober 2002, hal: 4-5) serta

14

Krisis lingkungan akibat eksploitasi dan adanya upaya perlindungan (pelestarian), sangat terkait dengan adanya pandangan secara teoritis tentang perbedaan pandangan hubungan antara manusia dan lingkungan atau munculnya berbagai pandangan yang berbeda secara radikal dalam melihat hubungan manusia dan lingkungan, yaitu dari

pandangan orientalisme lingkungan dan paternalisme lingkungan, yang kemudian dianalogikan orientalisme

lingkungan adalah eksploitatif, dan paternalisme lingkungan sebagai prorektif (penjelasan rinci tentang pandangan

tersebut, lihat Gisli Palsson, 1996. Human Environmental Relation Orientalism, Paternalism and Communalism dalam Philippe Descoba and Gisli Palsson (ed), 1996 Nature and Society. Anthroplogical Perspectives. London : Routledge, hal: 63-81).

(8)

tahun 1992 di Nairobi Kenya diadakan konferensi internasional konservasi biodiversity

(Warren, 1992). Atas dasar ini pula Bappenas sebagai salah satu lembaga yang sangat berkompeten membuat kebijakan pembangunan nasional juga membuat semacam rencana aksi yang terkait dengan perlindungan keanekaragaman hayati di Indonesia pada tahun 1993, yaitu BAPI (Biodiversity Action Plan Indonesia).

Perlindungan berbagai satwa dan tumbuhan dari kepunahan merupakan salah satu tujuan utama dibentuknya taman nasional diseluruh dunia, tak terkecuali Taman Nasional Kutai yang terbentuk berdasarkan ratifikasi dengan PBB (United Nations Biodiversity Convention) mengenai perlindungan biodiversity15, selain perjanjian dengan Ramsar Convention dan CITES. Itulah sebabnya, mengapa semua taman nasional, tak terkecuali Taman Nasional Kutai diproteksi dari berbagai aktivitas manusia yang memungkinkan terganggunya ekosistem yang dilindungi. Ekosistem yang dimaksudkan adalah ekosistem asli, terutama flora dan fauna yang dilindungi.

Kawasan ini merupakan kawasan terlarang terutama pada era tertentu (Zona Inti Taman Nasional). Sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pokok Kehutanan (UUPK) No. 5 Tahun 1967 Pasal 33, yaitu : 1) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan Zona Inti Taman Nasional; 2) Perubahan terhadap Zona Inti Taman Nasional sebagaimana dimaksud ayat 1, meliputi mengurangi, menghilangkan fungsi dan luas Zona Inti Taman Nasional, serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli; 3) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsi zona pemanfaatan dan zona lain dari taman nasional (TN), taman hutan raya (THR) dan taman wisata alam (THA). Aturan ini dapat pula kita lihat dalam UPPK No. 41 Tahun 1999.

Taman Nasional Kutai merupakan salah satu kawasan pelestarian alam16, memiliki ciri-ciri khas tertentu yang dianggap memiliki ekosistem asli17. Ciri-ciri khas yang dimaksudkan adalah kawasan ini memiliki lebih dari 500 spesies pohon , baik sejenis kayu Ulin

15

Kesepakatan ini dibuat pada tanggal 12 Oktober 1982 saat Kongres Taman Nasional III di Bali. Alsan khusus dijadikan Taman Nasional karena kawasan ini merupakan habitat beberapa jenis satwa yang dilindungi, yaitu Orang

Utan (pono pygmeeus) Banteng (Bos Javanicus), dan Badak (Diccerrorhinus sp.) dan binatang lain, termasuk burung

enggang. Hasil kesepakatan ini dituangkan menjadi SK Menteri Pertanian No. 736/Mentan/X/1982.

16

Klasifikasi ini secara jelas disebutkan dalam UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya pasal 1 point 13 dan 14, hal: 5 dan Bab VII pasal 29 hal:16.

17

Asli dalam pengertian disini adalah kawasan tersebut masih utuh (belum terbakar), dan belum ada campur tangan manusia atau tanaman hewan di dalamnya adalah hewan dan tumbuhan setempat, bukan dari daerah/hutan lain.

(9)

(Eusideroxylon), maupun spesies pohon Dipterocarp (Spesies pohon family kayu keruing (diptericarpus cornutus dan meranti (shorea sp.).

Sedangkan menurut Arifin (2003:54) terdapat 73 jenis mamalia Borneo yang sebagian diantaranya terdapat di dalam kawasan ini. Jenis primata misalnya, dapat ditemui 11 jenis di dalam TNK dari 13 jenis yang ada di kepulauan Borneo. Kekhasan lainnya adalah 3% spesies unggas dapat ditemui di TNK dari keseluruhan jenis unggas di dunia dan 80% daris eluruh unggas yang ada di Borneo. Bahkan secara khusus, burung enggang (Buceros rhinoceros) yang menjadi lambang kebanggan dan simbol etnis Dayak, khususnya Etnis Dayak di Kalimantan Timur, 7 dari 8 jenis spesies ini di Borneo dapat ditemukan di dalam TNK. Dari sekian jumlah spesies mamalia dan unggas yang ada 12 mamalia dan 17 unggas merupakan

satwa yang dilindungi karena hampir punah, misalnya orang Utan (Pongo pugmaeus).

Perlindungan satwa langka ini dikuatkan dengan dikeluarkannya SK Menteri Kehutanan No. 301/Kpts-II/1991.

Terkait dengan kondisi TNK sejak kebakaran hutan tahun 1997/1998 hingga sekarang ini semakin parah, terutama diakibatkan oleh kebakaran dan perambahan18 (untuk dijadikan kebun, pemukiman dan tanah kapling), sangat beralasan jika berbagai pihak yang prihatin dengan kondisi tersebut berupaya menyuarakan isu perlindungan kawasan TNK dari para perusak dan perambah. Baik dari kalangan LSM pemerhati lingkungan, pihak BTNK maupun dari pihak pemerintah setempat lewat berbagai sarana.

Misalnya Kompas (13 April 1998, hal 12), menurunkan berita dengan judul “Orang Utan

Korban Kebakaran Hutan Kaltim”. Judul tersebut mengisyaratkan bahwa keberadaan

orang Utan” menarik perhatian tersendiri dibanding yang lainnya, karena “orang utan” menjadi salah satu satwa yang dilindungi. Fenomena ini dapat diartikan bahwa keberadaan orang utan dalam kawasan hutan, utamanya kawasan TNK sangat penting. Bahkan mungkin lebih penting dibanding manusia yang tinggal di dalam kawasan tersebut. Begitu penting keberadaannya sehingga perlakuannya sama dengan manusia yang dirawat ketika sakit.

Termi, Trie dan Billy, adalah tiga dari sekian orang utan yang telah dipersonifikasi sebagai manusia yang lebih memiliki hak untuk tinggal bersama dengan rekan-rekannya di dalam

18

Kebakaran di TNK merusak hutan sekitar 71.099 ha (37%), penjarahan merusak hutan 5.858 ha. Dengan kayu ditebang sekitar 84.000 kubik. Berarti negara dirugikan sebanyak Rp. 94 milyar. Kompas 19 Juli 1999.

(10)

kawasan TNK dengan seluas 198.604 ha. Oleh karena itu, agar kelestarian kawasan TNK, terutama kelestarian satwa yang dilindungi tetap terjaga harus dilakukan tindakan rehabilitasi dan pencegahan terhadap berbagai aktivitas manusia yang dianggap mengancam keberadaannya. Tindakan rehabilitasi yang dimaksudkan adalah disamping menanam jenis pohon tumbuhan yang merupakan makanan pokok orang utan, juga dilakukan pemindahan orang utan ke kawasan yang bebas dari kebakaran di dalam kawasan TNK.

PENUTUP

Perdebatan tentang pengelolaan TNK merupakan suatu proses negosiasi terhadap pemaknaan dan konsepsi TNK. Lebih tepat disebut sebagai suatu proses negosiasi kekuasaan atas akses sumberdaya hutan dalam mkawasan TNK. Perdebatan ini muncul dan berlangsung lewat area konflik yang bersumber dari berbagai motif konflik. Dari hasil analisa terhadap perdebatan TNK ini, ada dua isu utama yang diperbincangkan dan saling berbenturan, yaitu isu penguasaan lahan dan isu ekologi (perlindungan keanekaragaman hayati). Kedua isu besar ini dikemas dalam satu kata kebijakan pengelolaan TNK.

Implikasi lebih lanjut dari perdebatan tersebut, melahirkan dua pola hubungan sosial yang terkait dengan upaya akses sumberdaya hutan di TNK. Kedua pola hubungan sosial yang dimaksudkan adalah munculnya konflik kepentingan dan koalisi. Berlangsungnya konflik kepentingan dan koalisi sebagai sebuah perdebatan yang merupakan suatu proses menuju pada perubahan makna TNK. Di satu sisi, masyarakat dan pihak Pemda Kutai Timur berusaha memapankan kekuasaan atas TNK dan disisi lain justru merupakan proses pembungkaman (delegitimasi dekonstruksi) terhadap fungsi dan keberadaan TNK yang sudah dimapankan oleh pihak BTNK.

Jika dulunya TNK merupakan kawasan yang diklaim sebagai kawasan yang bebas dari aktivitas atau kawasan perlindungan satwa dan tumbuhan yang dilindungi, sekarang justru menjadi kawasan pemukiman, perkebunan, pertanian dan tanah kapling, dan menjadi kawasan “enclave”. Ini berarti, TNK dijadikan alat oleh kelompok tertentu untuk mempertahankan dan memapankan kekuasan, yaitu kekuasaan ekonomi dan politik.

(11)

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Muhammad

2003 Wacana Politik di Taman Nasional Kutai (Perspektif Antropologi

Kebijakan). Tesis, Program Pascasarjana Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Barlett, Peggy M.

1980 Adaptive Strategies in Peasant Agricultural Production. Annual Review of Anthropoloy, 9 : 545-573.

Barber, Victor et. al.

1999 Menyelamatkan Sisa Hutan di Indonesia dan Amerika Serikat. Jakarta : YOI.

Barry, John

1999 Environment and Social Theory. Routledge Introduction to Environment. London & New York. Routledge.

Chambers, Erve

1985 Applied Anthropology. A Practical Guide. USA : Waveland Press. Departemen Kehutanan

1990 Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 1990 tentang

Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Jakarta : Dephut.

Departemen Kehutanan

1999 Undang-Undang Republik Indonesia No. 41 Tahun 1999 tentang

Kehutanan. Jakarta : Departemen Kehutanan. Donnan, Hasting & Graham McFarlane

1997 Anthropology & Policy Research. The View from Nothern Ireland

dalam Cris Shore & Susan Wright (ed). Anthropology of Policy, Critical Perspectives on Governance & Power. London : Routledge. hal. 261-281.

Hinshaw, Robert L.

1980 Anthropology. Administration & Public Policy. Annual Review of

Anthropology, 9:497-522. Hoben, Allan

1982 Anthropologists & Development. Annual Review of Anthropology,

11:349-375.

Holzberg, Carol S & Maureen J. Giovannini

1981 Anthropology & Industry : Reappraisal & New Directions. Annual Review of Anthropology, 10:317-360.

Jhamtani, Hira (Penerjemah)

1993 Menuju Kepunahan Keragaman Dunia dan Umat Manusia. Jakarta:

Konphalindo. J. Linch, Owen & Emily Harwell

2002 Whose Natural Resources ? Whose Common Good ? Toward a New

Paradigm of Environmental Justice and the National Interest in Indonesia. Jakarta : ELSAM in Collaboration by CIEL, HuMa, ICEL and ICRAF.

Kompas, 13 April 1998 : Orang Utan Korban Kebakaran Hutan di Kaltim Kompas, 19 Juli 1999 : Taman Nasional Kutai Memprihatinkan

(12)

Kaltim Post, 28 Januari 2000 : Kekayaan Kaltim Dijarah Perompak Berdasi Kaltim Post, 30 Januari 2000 : Taman Nasional Kutai : Pupusnya Cita-Cita Sultan Kaltim Post, 3 Maret 2000 : Dulu Kawasan Konservasi, Sekarang “Kebun Pisang” Mulyadi, Adief

1999 Menggali Keinginan, Merangkai Kesepakatan. Makalah disampaikan

pada Lokakarya Taman Nasional Kutai di Samarinda Kalimantan Timur, 28-29 April 1999.

Palsson, Gisli

1996 Human Environmental Relations : Orientalism, Paternalism and

Communalism dalam Nature and Society. Anthropological Perspectives. Philippe Descole and Gisli Palsson (Edited). London & New York : Routledge, 1996 : hal:63-81.

Pemda Kutai Timur

2001 Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Timur No. 2001.

Tentang Enclave Desa Sangatta Selatan, Desa Singageweh, Desa Sangkimah dan Desa Teluk Pandan sebagai Desa Defenitif yang Dilepas dari TNK. Pemkab KUTIM.

Sutrisno, Lukman

1995 Menuju Masyarakat Partisipatif. Yogyakarta : Kanisius. Warren, D. Michael

1992 Indigeneous Knowledge, Bioversity Conservation and Development.

Paper Presented of International Conference on Conservation of Biodiversity in Africa : Local Initiatives and Institutional Roles. USA : Center for Indigeneous Knowledge for Agricultural and Rural Development. Iowa State University.

Referensi

Dokumen terkait

Dari Syaibah Al-Hajabiy dari pamannya ( „ Utsman bin Thalhah Al- Hajaibiy) RA, ia berkata, "Ada tiga hal yang membuatmu tulus mencintai saudaramu, yaitu kamu

Masalah yang dihadapi berkaitan dengan pengelolaan peralatan adalah peralatan yang ada saat ini dirasakan jumlahnya tidak cukup dan jenisnya tidak lengkap

Tapi sangatlah jelas, jika kita melihat sepuluh tahun ke belakang, Anda harus percaya bahwa titik-titik itu akan saling berhubungan di masa depan.” Ia pun berpesan, satu-satunya

negeri atau bersubsidi. Calon guru juga harus berkelakuan baik dengan dibuktikan surat keterangan dari bupati. Pihak sekolah menyediakan kamus bahasa Jerman dan Inggris dengan

[r]

Enam varietas unggul nasional yang telah dilepas Balai penelitian Tanaman Hias (Balithi), yaitu Puspita nusantara, Nyi Ageng Serang, Shakuntala, Puspita Asri, Dewi

Salah satu varietas unggul nasional belimbing adalah Karangsari (SK Mentan No 483/Kpts/LB.240/8/2004) yang berasal dari Kelurahan Karangsari, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar