ASUAHANKEPERAWATAN FRAKTUR KLAVIKULA

46 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN CLOSE FRACTURE CLAVICULLA DEXTRA CLOSE FRACTURE CLAVICULLA DEXTRA DI RUANG KENANGA RSU DR. HARYOTO DI RUANG KENANGA RSU DR. HARYOTO

L U M A J A N G L U M A J A N G DI SUSUN DI SUSUN OLEH : OLEH : MUHAMAD TAUFIK MUHAMAD TAUFIK NIP. 19860705 201001 1 018 NIP. 19860705 201001 1 018

RUMAH SAKIT UMUM DR. HARYOTO LUMAJANG RUMAH SAKIT UMUM DR. HARYOTO LUMAJANG

PEMERINTAH KABUPATEN LUMAJANG PEMERINTAH KABUPATEN LUMAJANG

2012 2012

(2)
(3)

PERSETUJUAN PERSETUJUAN

Diterima dan disetujui untuk dipertahankan Diterima dan disetujui untuk dipertahankan

Pembimbeng Pembimbeng

Ns Bambang Heri Kartono Ns Bambang Heri Kartono NIP. 19690421 198902 1 001 NIP. 19690421 198902 1 001

Mengetahui kepala bidang keperawatan Mengetahui kepala bidang keperawatan

Ns Umi Sukowati, SH, M. Kep, Sp. Mat Ns Umi Sukowati, SH, M. Kep, Sp. Mat

NIP. 19631010 198803 2 013 NIP. 19631010 198803 2 013

(4)

LEMBAR PENGESAHAN LEMBAR PENGESAHAN

MAKALAH MAKALAH

Telah dipertahankan di hadapan sidang penguji karya tulis ilmiah guna memenuhi persyaratan Telah dipertahankan di hadapan sidang penguji karya tulis ilmiah guna memenuhi persyaratan kenaikan pangkat Golongan IIIA ke IIIB.

kenaikan pangkat Golongan IIIA ke IIIB.

ASUHAN

ASUHAN KEPERAWATAN KEPERAWATAN Tn. NTn. N

DENGAN CLOSE FRACTURE CLAVICULLA DEXTRA DENGAN CLOSE FRACTURE CLAVICULLA DEXTRA

Tim

Tim penguji penguji : : Tanda Tanda tangantangan 1.

1. Dr. Bambang KismoyoDr. Bambang Kismoyo 1………1……… NIP : 195504011988031 003

NIP : 195504011988031 003

2.

2. Ns Umi Sukowati, SH, M. Kep, Sp. MatNs Umi Sukowati, SH, M. Kep, Sp. Mat 2………2……… NIP. NIP. 19631010 198803 2 013

NIP. NIP. 19631010 198803 2 013

3.

3. Ns Bambang Heri KartonoNs Bambang Heri Kartono 3……….3………. NIP. 19690421 198902 1 001

(5)

KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulilah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Syukur Alhamdulilah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan HidayahNya sehingga penulis mampu menyelesaikan karya tulis ini sesuai dengan rahmat dan HidayahNya sehingga penulis mampu menyelesaikan karya tulis ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

waktu yang telah ditentukan. Karya tulis ini disusun

Karya tulis ini disusun sebagai salah satu sebagai salah satu syarat syarat kenaikan pangkat dari golongan IIIa kenaikan pangkat dari golongan IIIa keke golongan IIIb. Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada golongan IIIb. Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya untuk menambah ilmu pengetahuan dan penyegaran kembali guna meningkatkan mutu umumnya untuk menambah ilmu pengetahuan dan penyegaran kembali guna meningkatkan mutu pelayanan keperawatan ditempat kerja.

pelayanan keperawatan ditempat kerja.

Dalam penyusunan karya tulis ini penulis banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan Dalam penyusunan karya tulis ini penulis banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan dari pihak lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu penulis menyampaikan dari pihak lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada:

banyak terima kasih kepada: 1.

1. Dr. Triworo, selaku direktur RS. Dr. Haryoto Lumajang yang telah memberikanDr. Triworo, selaku direktur RS. Dr. Haryoto Lumajang yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melaksanakan tugas guna penyusunan karya tulis ini. kesempatan kepada penulis untuk melaksanakan tugas guna penyusunan karya tulis ini. 2.

2. Dr. Novi Hamzah, Sp. OT selaku dokter yang merawat klilen yang penulis buat karyaDr. Novi Hamzah, Sp. OT selaku dokter yang merawat klilen yang penulis buat karya tulis ini, yang telah meberi arahan dalam penulisan karya tulis ini.

tulis ini, yang telah meberi arahan dalam penulisan karya tulis ini. 3

3 Ns. Ahmad Syaikhu Ann, SPd, S.Kep selaku kepala ruang Kenanga tempat penulisNs. Ahmad Syaikhu Ann, SPd, S.Kep selaku kepala ruang Kenanga tempat penulis melaksanakan tugas sehari hari yang telah memberikan bimbingan kepada penulis.

melaksanakan tugas sehari hari yang telah memberikan bimbingan kepada penulis. 4

4 Teman teman penulis dan semua pihak yang telah membantu kelancaran dalamTeman teman penulis dan semua pihak yang telah membantu kelancaran dalam penyusunan karya tulis ini.

penyusunan karya tulis ini.

Penulis Penulis

(6)

DAFTAR ISI

Halaman Judul ... i

Lembar Persetujuan ... ii

Lembar Pengesahan ... iii

Kata Pengantar ... iv

Daftar Isi ... v

BAB I PENDAHULUAN ... 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian ... ... 5

2.2 Etiologi ... ... 5

2.3 Tanda dan gejala ... 5

2.4 Klasifikasi patah tulang. ... 6

2.5 Manifestasi klinis ... 6

2.6 Penatalaksanaan ... 6

2.7 Komplikasi patah tulang ... 7

2.8 Tahap penyembuhan tulang ... ... 8

2.9 Patyways ... ... 9

2.10 Tinjauan keperawatan ... 10

BAB III TINJAUAN KASUS ... ... 21

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan ... 39

4.2 Saran ... 39 DAFTAR PUSTAKA

(7)

BAB I

PEMDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Hal ini dapat menimpa siapa saja dari yang muda hingga yang tua. Dampak dari fraktur bermacam – macam sesuai dengan jejas dan karakter tulang yang fraktur. Dengan fraktur diperlukan asuhan keperawatan yang komprehensif sehingga tidak menimbulkan gejala sisa yang dapat berupa kontraktur bahkan tidak berfungsinya kembali jaringan tulang atupun otot sekitar. Untuk itu diperlukan pemberian asuhan keperawatan yang baik dan profesional.

Batang Femur dapat mengalami fraktur oleh trauma langsung, puntiran (twisting), atau pukulan pada bagian depan lutut yang berada dalam posisi fleksi pada kecelakaan jalan raya. Femur merupakan tulang terbesar dalam tubuh dan batang femur pada orang dewasa sangat kuat. Dengan demikian trauma langsung yang keras, seperti yang dapat dialami pada kecelakaan automobile.Perdarahan interna yang massif dapat menimbulkan renjatan berat.

1.2 Batasan masalah

Dalam penulisan karya tulis ini, penulis membatasi pada asuhan keperawatan pada klien dengan diagnosa penyakit fraktur di ruang anggur RS. Dr. Haryoto Lumajang.

1.3 Tujuan penulisan 1.3.1 Tujuan umum

Penulis memperoleh pengalaman yang nyata dalam pemberian asuhan keperawatan terhadap klien fraktur dengan mempergunakan pola pikir ilmiah dalam melaksanakan asuhan keperawatan.

(8)

1.3.2 Tujuan khusus

Penulis mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada klien fraktur dengan penerapan tahap-tahap proses keperawatan meliputi :

1. Pengkajian data dasar dan pengelompokan data dan menganalisa data sesuai dengan hasil pengkajian.

2. Merumuskan masalah keperawatan pada klien sesui dengan analisa data. 3. Menyusun rencana keperawatan.

4. Melaksanakan tindakan keperawatan yang telah direncanakan.

5. Mengevaluasi keberhasilan dari tindakan keperawatan berdasarkan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

6. Mendokumentasikan hasil asuhan keperawatan yang telah diberikan.

1.4 Metode penulisan

1. Metode pengumpulan data

Dalam menghimpun atau mengumpulkan data untuk penulisan ini, penulis menggunakan beberapa pendekatan :

a. Metode diskriftif yaitu suatu metode yang sifatnya mengumpulkan peristiwa atau gejala yang terjadi saat itu.

b. Study kepustakaan yaitu suatu pendekatan dengan cara mengumpulkan literatur yang diperlukan dalam penyusunan karya tulis ini.

c. Study lapangan yaitu melakukan pengamatan dan pemeriksaan secara langsung pada klien menurut rencana keperawatan, melaksanakan tindakan keperawatan dan memberikan penilaian terhadap keberhasilan dari pelaksanaan tindakan keperawatan.

2. Tehnik pengumpulan data

a. Wawancara, merupakan tanya jawab atau wawancara langsung dari klien untuk  menghimpun data subyektif, terutama tentang tentang anggapan seseorang yang berhubungan dengan masalah klien.

b. Observasi yaitu cara memperoleh data tentang gejala-gejala tertentu yang tampak dari suatu obyek dengan jalan mengamati secara langsung.

(9)

c. Pemeriksaan baik pemeriksaan fisik laboratorium,ECG dan lain-lain yang dapat menunjang tegaknya diagnosa.

3. Sumber data

a. Primer, dengan mengumpulkan data sendiri dari klien.

b. Skunder, diperoleh dari keluarga dan orang dekat klien, serta hasil pemeriksaan fisik dan penujang lainnya.

4. Lokasi

Asuhan keperawatan ini dilasanakan di ruang Kenanga RS. Dr. Haryoto Lumajang. 5. Waktu

Asuhan keperwatan ini dilakukan pada saat melaksanakan tugas jaga di ruang anggur RS. Dr. Haryoto Lumajang pada tanggal 2 Januari 2012 sampai dengan 4 Januari 2012.

1.5 Sistematika penulisan

Dalam penulisan karya tulis ini, penulis menggunakan sistematika yang terdiri dari Bab pertama pendahuluan, Bab kedua tinjauan pustaka, Bab ke tiga tinjauan kasus, Bab empat penutu.

Bab pertama, Pendahuluan berisi latarbelakang, batasan masalah keperawatan pada klien dengan cidera otak berat (COB) di RS. Dr. Haryoto Lumajang. Tujuan penulisan yang terklasifikasi menjadi tujuan umum dan khusus serta metode penulisan, tehnik pengumpulan datadan sistematika penulisan yang digunakan penulis.

Bab ke dua, Tinjauan kepustakaan, berisi tentang konsep dasar cidera otak berat (COB) dan asuhan keperawatannya secara teoritis yang terdiri dari, pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, peleksanaan dan evaluasi pada kasus cidera otak berat (COB).

Bab ke tiga, tinjauan kasus berisi tentang penerapan proses asuhan keperawatan terhadap klien dengan cidera otak berat (COB) secara riil, sebagai aplikasi dari konsep teori dalam bab ke dua.

(10)

Bab ke empat, penutup berisi tentang kesimpulan dan saran dari penulis. Daftar pustaka, berisi literature yang digunakan penulis untuk mempermudah dalam penyusunan karya tulis ini.

(11)

BAB II FRAKTUR

2.1 PENGERTIAN

Adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berubah trauma langsung, misalnya benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius dan ulna, dan dapat berubah trauma tidak langsung, misalnya jatuh bertumpu pada tangan yang menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah.

Akibat trauma pada tulang tergantung pada jenis trauma,kekuatan, dan arahnya.Taruma tajam yang langsung atau trauma tumpul yang kuat dapat menyebabkan tulang patah dengan luka terbuka sampai ketulang yang disebut patah tulang terbuka. Patah tulang yang didekat sendi atau yang mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang disertai luksa di sendi yang disebut fraktur dislokasi.

2.2 ETIOLOGI a. Trauma

b. Gerakan pintir mendadak  c. Kontraksi otot ekstem

d. Keadaan patologis : osteoporosis, neoplasma

2.3 TANDA DAN GEJALA a. Nyeri

b. Deformitas c. Krepitasi d. Bengkak 

e. Peningkatan temperatur lokal f. Pergerakan abnormal

g. Ecchymosis

(12)

2.4 KLASIFIKASI PATAH TULANG. a. Menurut jumlah garis fraktur :

1. Simple fraktur (terdapat satu garis fraktur)

2. Multiple fraktur (terdapat lebih dari satu garis fraktur)

3. Comminutive fraktur (banyak garis fraktur/fragmen kecil yang lepas) b. Menurut luas garis fraktur :

1. Fraktur inkomplit (tulang tidak terpotong secara langsung) 2. Fraktur komplit (tulang terpotong secara total)

3. Hair line fraktur (garis fraktur hampir tidak tampak sehingga tidak ada perubahan bentuk tulang)

c. Menurut bentuk fragmen :

1. Fraktur transversal (bentuk fragmen melintang) 2. Fraktur obligue (bentuk fragmen miring)

3. Fraktur spiral (bentuk fragmen melingkar)

d. Menurut hubungan antara fragmen dengan dunia luar :

1. Fraktur terbuka (fragmen tulang menembus kulit), terbagi 3 :

- Pecahan tulang menembus kulit, kerusakan jaringan sedikit, kontaminasi ringan, luka <1 cm.

- Kerusakan jaringan sedang, resiko infeksi lebih besar, luka >1 cm.

- III. Luka besar sampai ± 8 cm, kehancuran otot, kerusakan neurovaskuler, kontaminasi besar.

2. Fraktur tertutup (fragmen tulang tidak berhubungan dengan dunia luar)

2.5 MANIFESTASI KLINIS

a. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya samapi fragmen tulang diimobilisasi, hematoma, dan edema

b. Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah

c. Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur

d. Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya e. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit

(13)

2.6 PENATALAKSANAAN

a. Reduksi fraktur terbuka atau tertutup : tindakan manipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat mungkin untuk kembali seperti letak semula.

b. Imobilisasi fraktur dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna c. Mempertahankan dan mengembalikan fungsi

1. Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan 2. Pemberian analgetik untuk mengerangi nyeri

3. Status neurovaskuler (misal: peredarandarah, nyeri, perabaan gerakan) dipantau

4. Latihan isometrik dan setting otot diusahakan untuk meminimalakan atrofi disuse dan meningkatkan peredaran darah

2.7 KOMPLIKASI PATAH TULANG a. Umum : 1. Shock  2. Kerusakan organ 3. Kerusakan saraf  4. Emboli lemak  b. D i n i : 1. Cedera arteri

2. Cedera kulit dan jaringan 3. Cedera partement syndrom. c. Lanjut :

1. Stifnes (kaku sendi) 2. Degenerasi sendi

3. Penyembuhan tulang terganggu :

o Malunion adalah tulang patah telahsembuh dalam posisi yang tidak seharusnya. o Delayed union adalah proses penyembuhan yang terus berjlan tetapi dengan

kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal.

(14)

2.8 TAHAP PENYEMBUHAN TULANG a. Haematom :

1.Dalam 24 jam mulai pembekuan darah dan haematom 2.Setelah 24 jam suplay darah ke ujung fraktur meningkat

3.Haematom ini mengelilingi fraktur dan tidak diabsorbsi selama penyembuhan tapi berubah dan berkembang menjadi granulasi.

b. Proliferasi sel :

1.Sel-sel dari lapisan dalam periosteum berproliferasi pada sekitar fraktur

2.Sel ini menjadi prekusor dari osteoblast, osteogenesis berlangsung terus, lapisan fibrosa periosteum melebihi tulang.

3.Beberapa hari di periosteum meningkat dengan fase granulasi membentuk collar di ujung fraktur.

c. Pembentukan callus :

1.Dalam 6-10 hari setelah fraktur, jaringan granulasi berubah dan terbentuk callus. 2.Terbentuk kartilago dan matrik tulang berasal dari pembentukan callus.

3.Callus menganyam massa tulang dan kartilago sehingga diameter tulang melebihi normal.

4.Hal ini melindungi fragmen tulang tapi tidak memberikan kekuatan, sementara itu terus meluas melebihi garis fraktur.

d. Ossification

1.Callus yang menetap menjadi tulang kaku karena adanya penumpukan garam kalsium dan bersatu di ujung tulang.

2.Proses ossifikasi dimulai dari callus bagian luar, kemudian bagian dalam dan berakhir pada bagian tengah

3.Proses ini terjadi selama 3-10 minggu. e. Consolidasi dan Remodelling

Terbentuk tulang yang berasal dari callus dibentuk dari aktivitas osteoblast dan osteoklast.

(15)

2.9 PATYWAYS Kondisi Patologis  Osteoporosis  Ca. Tulang  Tumor Tulang Traumatik  Jatuh Kecelakaan

Penurunan absorbsi kalsium dlm tulang Terputusnyakontinuitas tulang

Tulang menjadi rentan Fraktur

Terbuka Tertutup Reduksi Immobilisasi Gang. Integritas kulit Penekananpd kulit bedrest Penurunan aktivitas Penurunan peristaltik usus Gang. Eliminasi defekasi eksterna interna pembedahan Depresi syaraf  nyeri Gang. Rasa nyaman Pengaruh Trauma jaringan Resiko infeksi Relaksasi otot Intoleransi traksi Penekanan pd kulit

(16)

2.10 TINJAUAN KEPERAWATAN

Di dalam memberikan asuhan keperawatan digunakan system atau metode proses keperawatan yang dalam pelaksanaannya dibagi menjadi 5 tahap, yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

a. Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan, untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah-masalah klien sehingga dapat memberikan arah terhadap tindakan keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan sangat bergantuang pada tahap ini. Tahap ini terbagi atas:

1. Pengumpulan Data a) Anamnesa

1) Identitas Klien

Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa medis.

2) Keluhan Utama

Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. Untuk  memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan: - Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi

faktor presipitasi nyeri.

- Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau menusuk.

- Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi.

- Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien, bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya.

(17)

pada malam hari atau siang hari. 3) Riwayat Penyakit Sekarang

Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur, yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. Selain itu, dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain (Ignatavicius, Donna D, 1995).

4) Riwayat Penyakit Dahulu

Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit paget’s yang menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk menyambung. Selain itu, penyakit diabetes dengan luka di kaki sanagt beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan tulang (Ignatavicius, Donna D, 1995).

5) Riwayat Penyakit Keluarga

Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik (Ignatavicius, Donna D, 1995). 6) Riwayat Psikososial

Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat (Ignatavicius, Donna D, 1995).

(18)

7) Pola-Pola Fungsi Kesehatan

- Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat

Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk  membantu penyembuhan tulangnya. Selain itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium, pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga atau tidak.(Ignatavicius, Donna D,1995).

- Pola Nutrisi dan Metabolisme

Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vit. C dan lainnya untuk  membantu proses penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama pada lansia. Selain itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien.

- Pola Eliminasi

Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces pada pola eliminasi alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak. (Keliat, Budi Anna, 1991)

- Pola Tidur dan Istirahat

Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. Selain itu juga, pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur (Doengos. Marilynn E, 1999).

(19)

- Pola Aktivitas

Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang lain (Ignatavicius, Donna D, 1995).

- Pola Hubungan dan Peran

Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat. Karena klien harus menjalani rawat inap (Ignatavicius, Donna D, 1995). - Pola Persepsi dan Konsep Diri

Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul ketidakutan akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk  melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan body image) (Ignatavicius, Donna D, 1995).

- Pola Sensori dan Kognitif 

Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal fraktur, sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan.begitu juga pada kognitifnya tidak mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri akibat fraktur (Ignatavicius, Donna D, 1995).

- Pola Reproduksi Seksual

Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa melakukan hubungan seksual karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami klien. Selain itu juga, perlu dikaji status perkawinannya termasuk jumlah anak, lama perkawinannya (Ignatavicius, Donna D, 1995).

- Pola Penanggulangan Stress

Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya, yaitu ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme

(20)

koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif (Ignatavicius, Donna D, 1995).

- Pola Tata Nilai dan Keyakinan

Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak klien (Ignatavicius, Donna D, 1995). b) Pemeriksaan Fisik 

Dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum (status generalisata) untuk  mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokalis). Hal ini perlu untuk dapat melaksanakan total care karena ada kecenderungan dimana spesialisasi hanya memperlihatkan daerah yang lebih sempit tetapi lebih mendalam.

1) Gambaran Umum Perlu menyebutkan:

- Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda, seperti:

 Kesadaran penderita: apatis, sopor, koma, gelisah, komposmentis tergantung pada keadaan klien.

 Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat dan pada kasus fraktur biasanya akut.

 Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun bentuk.

- Secara sistemik dari kepala sampai kelamin  Sistem Integumen

Terdapat erytema, suhu sekitar daerah trauma meningkat, bengkak, oedema, nyeri tekan.

 Kepala

Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak ada penonjolan, tidak ada nyeri kepala.

(21)

 Leher

Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan, reflek  menelan ada.

 Muka

Wajah terlihat menahan sakit, lain-lain tidak ada perubahan fungsi maupun bentuk. Tak ada lesi, simetris, tak oedema.

 Mata

Tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis (karena tidak  terjadi perdarahan)

 Telinga

Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi atau nyeri tekan.

 Hidung

Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung.  Mulut dan Faring

Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan, mukosa mulut tidak pucat.

 Thoraks

Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada simetris.  Paru

1. Inspeksi

Pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya tergantung pada riwayat penyakit klien yang berhubungan dengan paru.

2. Palpasi

Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama. 3. Perkusi

(22)

Suara ketok sonor, tak ada erdup atau suara tambahan lainnya. 4. Auskultasi

Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara tambahan lainnya seperti stridor dan ronchi.

 Jantung 1. Inspeksi

Tidak tampak iktus jantung. 2. Palpasi

Nadi meningkat, iktus tidak teraba. 3. Auskultasi

Suara S1 dan S2 tunggal, tak ada mur-mur.  Abdomen

1. Inspeksi

Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia. 2. Palpasi

Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak teraba. 3. Perkusi

Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan. 4. Auskultasi

Peristaltik usus normal 20 kali/menit.  Inguinal-Genetalia-Anus

Tak ada hernia, tak ada pembesaran lymphe, tak ada kesulitan BAB. 2) Keadaan Lokal

Harus diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal terutama mengenai status neurovaskuler. Pemeriksaan pada sistem muskuloskeletal adalah:

(23)

- Look (inspeksi)

Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain:

 Cictriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan seperti bekas operasi).

 Cape au lait spot (birth mark).

 Fistulae.

 Warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau hyperpigmentasi.

 Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal yang tidak  biasa (abnormal).

 Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas)

 Posisi jalan (gait, waktu masuk ke kamar periksa)

 Feel (palpasi)

Pada waktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki mulai dari posisi netral (posisi anatomi). Pada dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan informasi dua arah, baik pemeriksa maupun klien.

Yang perlu dicatat adalah:

1. Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit. 2. Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau oedema

terutama disekitar persendian.

3. Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan (1/3 proksimal,tengah, atau distal).

Otot: tonus pada waktu relaksasi atau konttraksi, benjolan yang terdapat di permukaan atau melekat pada tulang. Selain itu juga diperiksa status neurovaskuler. Apabila ada benjolan, maka sifat benjolan perlu dideskripsikan permukaannya, konsistensinya, pergerakan terhadap dasar atau permukaannya, nyeri atau tidak, dan ukurannya.

(24)

c) Pemeriksaan Diagnostik  1) Pemeriksaan Radiologi

Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah “pencitraan” menggunakan sinar rontgen (x-ray). Untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang yang sulit, maka diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral. Dalam keadaan tertentu diperlukan proyeksi tambahan (khusus) ada indikasi untuk memperlihatkan pathologi yang dicari karena adanya superposisi. Perlu disadari bahwa permintaan x-ray harus atas dasar indikasi kegunaan pemeriksaan penunjang dan hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan. Hal yang harus dibaca pada x-ray:

- Bayangan jaringan lunak.

- Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau biomekanik atau juga rotasi.

- Trobukulasi ada tidaknya rare fraction. - Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi. 2) Pemeriksaan Laboratorium

a. Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang.

b. Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang.

c. Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase (LDH-5), Aspartat Amino Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan tulang.

3) Pemeriksaan lain-lain

a. Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan mikroorganisme penyebab infeksi.

b. Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan diatas tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi.

c. Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan fraktur.

(25)

trauma yang berlebihan.

e. Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada tulang.

f. MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur. (Ignatavicius, Donna D, 1995)

2. Analisa Data

Data yang telah dikumpulkan kemudian dikelompokkan dan dianaisa untuk  menemukan masalah kesehatan klien. Untuk mengelompokkannya dibagi menjadi dua data yaitu, data sujektif dan data objektif, dan kemudian ditentukan masalah keperawatan yang timbul.

3. Diagnosa keperawatan dan rencana tindakan

a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan diskotinuitas jaringan tulang,  jaringan lunak di sekitar tulang

Tujuan:

Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien di harapkan mampu menunjukan adanya penurunan rasa nyeri, pengendalian terhadap spasme dan cara berelaksasi.

 Rencana:

1. Pertahankan posisi atau imobilisasi pada bagian yang terkait. 2. Bantu dan tinggikan akstrimitas yang mengalami injuri. 3. Monitor dan kaji karakteristik dan lokasi nyeri.

4. Lakukan diskusi dengan pasien mengenai nyeri dan alternatif solusinya. 5. Jelaskan pada pasien setiap akan melakukan suatu tindakan.

6. Kaji kemampuan klien dalam ROM ekstrimitasnya.

7. Jelaskan pada pasien beberapa tahenik yang dapat dilakukan guna mengurangi nyeri (relaksasi, distraksi dan fiksasi).

8. Kolaborasi dalam pemberian analgetik, antispamodik. 9. Observasi TTV dan keluhan nyeri.

(26)

b. Perubahan pola eliminasi uri berhubungan dengan adanya batu di saluran kemih, iritasi jaringan oleh batu, mekanik obstruksi, inflamasi.

Tujuan:

Setelah di lakukan tindakan perawatan klien mampu melakukan eliminasi miksi secara normal, dan bebas dari tanda-tanda obstruksi.

 Rencana:

1. Monitor intake dan output dan kaji karakteristik urine. 2. Kaji pola miksi normal pasien.

3. Anjurkan pada pasien untuk meningkatkan konsumsi minum.

4. Tampung semua urine dan perlu di lihat apakah ada batu yang perlu untuk  di lakukan pemeriksan.

5. Kaji adanya keluhan kandung kemih yang penuh, penurunan jumlah urine dan adanya periorbital/ edema dependent sebagai tanda dari terjadinya obstruksi.

6. Kolaborasi dalam pemeriksaan elektrolit, Bun, serum creat, urine kultur, dan pemberian antibiotik.

7. Observasi keadaan umum pasien, status mental, perilaku dan kesadaran. c. Resiko terjadinya gangguan keseimbangan cairan (defisit) berhubungan dengan

post obstruktif deurisis, nausea vomiting.

Tujuan:

Tidak terjadi gangguan keseimbangan cairan (defisit) selama di lakukan tindakan keperawatan.

 Rencana:

1. Monitor intake dan output cairan. 2. Observasi KU pasien dan keluhan.

3. Anjurkan pasien untuk minum banyak (3-4 l/hari) jika tidak ada kontra indikasi.

4. Monitor tanda vital (peningkatan nadi, turgor kulit, mukosa membran, capilary refill time).

5. Kaji berat badan setiap hari jika memungkinkan.

(27)

BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUAHANKEPERAWATAN PADA Tn. N

DENGAN CLOSE FRAKTUR KLAVIKULA DEKSTRA

3.1 DATA UMUM

Nama : Tn.N Register : 105331

Tempat tanggal lahir : Lumajang ,14 Februari 1986 Status perkawinan :

-Pendidikan terakhir : SMA Pekerjaan : swasta

Alamat : Rogotrunan, Lumajang Umur : 22 tahun

Jenis kelamin : laki-laki Agama : Islam Suku : Jawa

Tanggal masuk RS : 2 Januari 2012 Ruangan : Kenanga

(28)

3.2 RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI 1. Keluhan utama : Nyeri

2. Alasan MRS : Klien mengeluh nyeri dibagian bahu setelah kecelakaan 3. Riwayat penyakit :

P : Klien mengeluh nyeri dibagian bahu dan tidak dapat melakukan aktivitas seperti biasanya.

Q : Intermitten

R : Otot,sekitar Bahu S : Nyeri berat skala 8 T : Tidak menentu

3.3 RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU

Penyakit yang pernah dialami pada masa anakanak : Riwayat perawatan :

-Riwayat Operasi : Riwayat pengobatan : -Riwayat alergi :

-3.4 RIWAYAT PSIKO

 – 

SPRIUAL

1. Pola koping : Klien Merasa takut dan mersa cemas dengan penyakitnya

2. Harapan klien terhadap penyakitnya : Klien mengiginkan cepat sembuh dan bisa beraktifitas seperti biasanya

(29)

4. Konsep diri : klien mengatakan rendah diri dan merasa sunyi karena berpisah dari keluarga

5. Pengetahuan klien tentang penyakitya : Klien mengatakan takut cacat 6. Adaptasi : Klien kurang beradaptasi dengan lingkungan rumah sakit

7. Hubungan dengan anggota keluarga : Klien mengatakan merasa kehilangan peran di keluarga

8. Hubungan dengan masyarakat : Klien kurang bersosialisasi di masyarakat 9. Perhatian terhadap lawan bicara :cukup Baik 

10. Aktivitas social : Klien tidak mengikut kegiatan social 11. Bahasa yang sering dgunakan : Indonesia

12. Keadaan lingkungan : Bersih

13. Pola ibadah : Klien sering sholat 5 waktu

14. Keyakinan tentang kesehatan : Klien menyerahkan kesembuhannya kepada tuhan

3.5 KEBUTUHAN DASAR / POLA KEBIASAAN SEHARI

 – 

HARI

1. Makan

Sebelum MRS : Makan 2 kali sehari porsi makan dihabiskan

Setelah MRS : Makan 2 kali sehari porsi kecil makan dihabiskan,pada keadaan ini klien tidak mengalami gagguan pola makan

2. Minum

Sebelum MRS : Minum sekitar 8 gelas sehari

Setelah MRS : Minum 6-7 gelas sehari,tidak ada masalah 3. Tidur

Sebelum MRS : Tidur 6-8 jam Sehari

Setelah MRS : Tidur 4-5 jam sehari , klien mengalami gangguan pada pola tidur 4. Eliminasi fekal / BAB

Sebelum MRS : BAB 2 kali sehari,konsistensi lunak 

Setelah MRS : BAB 2 kali sehari,konsistensi lunak, tidak ada gangguan 5. Eliminasi urine / BAK

(30)

Setelah MRS : Frekuensi 6-7 kali sehari, kekuningan bau amoniak,dalam keadaan ini klien tidak mengalami gangguan pada pola berkemih

6. Aktifitas

Sebelum MRS : Klien mengatakan melakukan aktivitas

Setelah MRS : Klien tidak dapat melakukan aktivitas seperti biasanya 7. Personal hygiene

Sebelum MRS : Mandi 2 kali sehari

Setelsh MRS : mandi 1 kali sehari,(dibantu keluarga).

3.6 PEMERIKSAAN FISIK 1. Keadaan umum :

 Kehilangan BB : Klien tidak mengalami kehilangan berat badan

 Kelemahan : Klien mengalami kelemahan dan sulit melakukanaktifitas  Perubahan mood : Klien kurang mood

 Vital sign :

TD = 110/80 N = 70/Menit S = 36,5

RR = 16 kali / menit

 Tingkat kesadaran : compos mentis, nilai 15

2. Head to toe

 Kulit / integumen

Inspeksi : kulit tampak sianosis

Palpasi : ada edema dan ada nyeri tekan

 Kepala

Inspeksi : rambut hitam lurus, bersih Palpasi : tidak ada edema dan nyeri tekan

 Mata

Inspeksi : simetris kiri dan kanan Palpasi : tidak ada nyeri tekan

(31)

 Hidung

Inspeksi : simetris kiri dan kanan , tidak ada gangguan fungsi penciuman Palpasi : tidak ada nyeri tekan

 Telinga

Inspeksi : simetris kiri dan kanan,tidak ada gangguan sisstem penciuman Palpasi : tidak ada nyeri tekan

 Mulut dan gigi

Inspeksi : keadaan gigi lengkap, tidak ada gangguan

 Leher

Inspeksi : simetris kiri dan kanan Palpasi : tidak ada nyeri tekan

 Abdomen

inspeksi : tidak ada pembesaran pada abdomen palpasi : tidak ada distensi abdomen

perkusi : tidak ada massa auskultasi: peristaltic usus baik 

 Ekstemitas (atas)

Inspeksi : pergerakan tangan kanan klien terbatas(+), luka (-)

Palpasi : nyeri tekan pada klavikula kanan (+), krepitasi (+), deformitas

 Ekstemitas (bawah)

Inspeksi : pergerakan kedua kaki klien tidak mengalami gangguan, vulnus abrasi pada dorsal pedis dekstra (+),vulnus abrasi pada gnue dekstra (+), ROM ridak mengalami gangguan

(32)

3.7 Pemeriksaan Penunjang

- Rongent Thorak: CF clavikula dekstra - Pemeriksaan Laboratorium:

No. Jenis Periksa Hematologi

Hasil

Pemeriksaan Nilai Normal Metode

Hematologi 1 Hemoglobin 10,1 P13,0-18,0 mg/dl L14,0-18,0 mg/d Flowcytometri 2 Leukosit 7.970 3.500-10.000/cmm Flowcytometri 3 Eritrosit 4,72 L4,5-6,5 juta/cmm P3,0-6,0 juta/cmm Flowcytometri

4 Laju endap darah 29 L0-5/jam P0-7/jam Westergren

5 Hematokrit 31 L40-54 % P35-47 % Flowcytometri 6 Trombosit 274.000 150.000-450.000 Flowcytometri 7 Diffcount 0/0/0/46/42/12 1-2/0-1/3-5/54-62/25-33/3-7 Flowcytometri 3.8 Program Terapi - Infuse RL 2000 cc/24 jam - Ceftriaxone 2x1gr - Ketorolak 3x30mg - Rawat luka tiap 2 hari - Diit TKTP bebas

(33)

3.9 ANALISA DATA Nama : Tn. N

Reg : 105331

No. DATA ETIOLOGI MASALAH

1.

2.

DS : Klien mengeluh merasa nyeri yang hebat pada daerah bahu (klavikula) kanan

DO :

- Klien tampak meringis - Skala nyeri 6 (rentang 0-10) - Pergerakan lengan kanan terbatas - Nyeri tekan pada klavikula kanan (+) - Krepitasi (+) - Deformitas (+) - TTV: TD = 110/80 N = 70/Menit S = 36,5 RR = 16 kali / menit

- Hasil rongen torak: CF. clavicula (D) - Klien post op hr ke 0

DS :

- Klien mengeluh merasa nyeri yang hebat pada daerah bahu (klavikula) kanan

- Klien mengeluh kesulitan dalam melakukan aktivitas.

DO :

- Klien tampak meringis

- Tangan kanan klien tdk bisa bergerak 

Proses inflamasi Keterbatasan gerak  Nyeri (akut) Gangguan pemenuhan ADL

(34)

3.

bebas

- Skala nyeri 6 (rentang 0-10) - Pergerakan lengan kanan terbatas - Nyeri tekan pada klavikula kanan (+) - Krepitasi (+) - Deformitas (+) - Klien post op hr ke 0 - TTV: TD = 110/80 N = 70/Menit S = 36,5 RR = 16 kali / menit

- Hasil rongen torak: CF. clavicula (D)

DS:

- Klien mengatakan tidak tau cara merawat luka post operasi dan makanan apa yang harus dihindari

- Klien bertanya tentang penyakitnya

DO:

- Klien tampak bingung

- Klien tidak mau makan diit dari rumah sakit

- Klien takut menggerakkan tanggannya - TTV: TD = 110/80 N = 70/Menit S = 36,5 RR = 16 kali / menit - Klien post op hr ke 0 Kurangnya informasi Kurang pengetahuan

(35)

3.10 DIAGNOSA KEPERAWATAN

Nama : Tn. N Reg : 105331

Dalam kasus ini penulis menemukan diagnose keperawatan sebagai berikut: 1. Nyeri akut berhubungan dengan proses inflamasi

2. Gangguan pemenuhan ADL berhubungan dengan keterbatasan gerak  3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi

(36)

3.11 RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KEPERAWATAN Nama : Tn. N

Reg : 105331 NO Diagnosa

Keperawatan

Tujuan Dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional 1 Nyeri akut berhubungan dengan diskontinyuitas  jaringan tulang Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, nyeri klien berkurang Kriteria hasil: - Klien dapat beradaptasi dengan nyerinya - Ekspresi wajah rileks - Klien nampak  tanang

- Skala nyeri ringan (1-3)

1. Kaji ulang lokasi, intensitas dan tipe nyeri.

2. Berikan lingkungan yang tenang dan berikan dorongan untuk melakukan aktivitas hiburan. 3. Lakukan dan awasi

latihan rentang gerak  pasif/aktif 

4. Dorong

menggunakan tehnik  manajemen stress, contoh : relasksasi, latihan nafas dalam, imajinasi visualisasi, sentuhan

5. Observasi tanda-tanda vital.

1. Mengetahui tipe, skala dan lokasi nyeri yang tepat untuk menentukan evaluasi berikutnya. 2. Memberikan

kenyamanan dan mengalihkan

perhatian klien dari nyerinya.

3. Melatih tonus otot dan mencegah kontraktur. 4. Memberikan

kenyamanan dan mengalihkan

perhatian klien dari nyerinya.

5. Perubahan skala nyeri dapat mempengaruhi tanda-tanda vital

(37)

6. Lakukan perawatan luka 7. Kolaborasi : pemberian analgetik  dan antibiotik  6. Mencegah adanya infeksi tambahan yang dapat meningkatkan intensitas nyari 7. Mencegah adanya infeksi tambahan dan mengurangi nyeri klien. 2 Gangguan pemenuhan ADL berhubungan dengan keterbatasan gerak  Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, kerusakan mobilitas fisik dapat berkurang Kriteria hasil: - Mempertahankan posisi fungsinal - Meningkaatkan kekuatan /fungsi yang sakit - Menunjukkan tehnik mampu melakukan aktivitas. 1. Kaji kemampuan klien dalam memenuhi ADL. 2. Instruksikan klien/bantu dalam latian rentanng gerak  pada ekstrimitas yang sakit dan tak sakit. 3. Beri penyangga pada

ekstrimit yang sakit diatas dan di bawah fraktur ketika

bergerak.

4. Berikan dorongan pada pasien untuk  melakukan aktifitas semampunya dan motifasi keluarga pasien untuk  membantu bila diperlukan. 5. Kolabirasi dengan 1. Berguna untuk  mengetahui kemampuan klien. 2. Mencegah adanya

cidera tambahan dan melatih rentang gerak klien.

3. Mengurangi nyeri ketika bergerak.

4. Membangkitkan semangat klien dan melibatkan keluarga untuk melatih

kemandirian klien dan keluarganya.

(38)

tim fisioterapi. pelayanan yang komprehensif dan profesional 3 Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, klien tahu tentang penyakitnya Kriteria hasil:

- klien tidak tampak  bingung - klien mau menghabiskan diit dari rumahsakit - klien kooperatif  terhadap semua program terapi 1. Kaji pengetahuan klien dan keluarganya. 2. Jelaskan pentingnya memenuhi kebutuhan nutrisi post operasi.

3. Jelaskan pentingnya menjaga kebersihan.

4. Jelaskan pentingnya melatih bahu yang sakit.

5. Evaluasi kognitif  pasien setelah diberi penyuluhan. 1. Mengetahui pengetahuan klien dan keluarganya. 2. Meningkatkan pemahaman klien dan keluarga tentang nutrisi post operasi 3. Meningkatkan

pemahaman klien dan keluarga tentang pencegahan inos. 4. Meningkatkan

pemahaman klien dan keluarga tentang rentang gerak sendi pasien.

5. Mengetahui seberapa banyak  pasien dan keluarga menyerap kognitif  yang di jelaskan perawat.

(39)

3.12 CATATAN PERKEMBANGAN Nama : Tn. N Reg : 105331 Hari/Tgl No. Dx IMPLEMENTASI EVALUASI Senin 2/1/12 1. 2.

1. Mengkaji ulang lokasi, intensitas dan tipe nyeri.

2. memberikan lingkungan yang tenang dan memberikan dorongan untuk melakukan aktivitas hiburan.

3. melakukan dan mengawasi latihan rentang gerak pasif/aktif  4. mendorong menggunakan tehnik 

manajemen stress

relasksasidengan latihan nafas dalam.

5. mengobservasi tanda-tanda vital. 6. melakukan perawatan luka

7. menginjeksikan ceftriaxone 1 gr/iv dan ketorolac 3 %/iv

1. Mengkaji kemampuan klien

S: klien mengatakan luka operasinya terasa sakit seperti tertusuk dan tidak  menjalar O: - ku: lemah - grimace (+) - Menyeringai (+) - Skala nyeri 6

- Melatih nafas dalam (+) - TTV:

TD = 130/80 N = 88/Menit S = 36,5

RR = 24 kali / menit

- Luka operasi di bahu kanan di bungkus kasa hypafix dan tidak  ada cairan yang menembus balutab luka.

- Ceftriaxone 1gr dan ketorolac 3% sudah masuk.

A: masalah belum teratasi P : Lanjutkan intervensi 1-7

(40)

3.

dalam memenuhi ADL.

2. menginstruksikan klien dan membantu dalam latian rentang gerak pada ekstrimitas yang sakit dan tak sakit.

3. Menyangga bahu yang sakit diatas dan di bawah fraktur ketika bergerak.

4. Memberikan dorongan pada pasien untuk melakukan aktifitas semampunya dan motifasi keluarga pasien untuk membantu bila diperlukan.

5. Berkolabirasi dengan tim fisioterapi

1. Mengkaji pengetahuan klien dan keluarganya.

2. Menjelaskan pentingnya memenuhi kebutuhan nutrisi post operasi.

3. Menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan.

4. Menjelaskan pentingnya melatih bahu yang sakit.

5. mengevaluasi kognitif pasien setelah diberi penyuluhan

terasa sakit bila tangan digerakkan O:

- ku: lemah - grimace (+) - Menyeringai (+)

- Klien Post op hari ke 0 - TTV:

TD = 130/80 N = 88/Menit S = 36,5

RR = 24 kali / menit

- Klien belum mampu memnuhi ADL

- Klien masih takut menggerakkan tangan

- Keluarga mau membantu ADL klien

A: Masalah belum teratasi P : Lanjutkan intervensi 1-5

S : klien mengatakan masih tidak  paham dengan penyakitnya

O:

- ku: lemah

- klien dan keluarga tidak tahu tentang perawatan pasien post operasi

- klien masih malas makan

- keluarga klien takut menyeka klien - klien masih takuk menggerakkan

(41)

Selasa 3/1/12

1.

2.

1. Mengkaji ulang lokasi, intensitas dan tipe nyeri.

2. memberikan lingkungan yang tenang dan memberikan dorongan untuk melakukan aktivitas hiburan.

3. melakukan dan mengawasi latihan rentang gerak pasif/aktif  4. mendorong menggunakan tehnik 

manajemen stress

relasksasidengan latihan nafas dalam.

5. mengobservasi tanda-tanda vital. 6. melakukan perawatan luka

7. menginjeksikan ceftriaxone 1 gr/iv dan ketorolac 3 %/iv

1. Mengkaji kemampuan klien dalam memenuhi ADL.

2. menginstruksikan klien dan membantu dalam latian rentang gerak pada ekstrimitas yang sakit

A: Masalah belum teratasi P : Lanjutkajn intervensi no 5

S: klien mengatakan luka operasinya terasa sakit seperti tertusuk dan tidak  menjalar O: - ku: cukup - grimace (-) - Menyeringai (-) - Skala nyeri 4

- Melatih nafas dalam (+) - TTV:

TD = 120/80 N = 84/Menit S = 36,5

RR = 16 kali / menit

- Luka operasi: panjang 8 cm dengan jahitan sub kutikuler, cairan luka (-)

- Ceftriaxone 1gr dan ketorolac 3% sudah masuk.

A: masalah teratasi sebagian P : Lanjutkan intervensi 1-7

S: klien mengatakan bahu kanannya sudah enak digerakkan

O:

- ku: cukup - grimace (-) - Menyeringai (-)

(42)

3.

dan tak sakit.

3. Menyangga bahu yang sakit diatas dan di bawah fraktur ketika bergerak.

4. Memberikan dorongan pada pasien untuk melakukan aktifitas semampunya dan motifasi keluarga pasien untuk membantu bila diperlukan.

5. Berkolabirasi dengan tim fisioterapi

5. Mengevaluasi kognitif pasien setelah diberi penyuluhan

- Klien Post op hari ke 1 - TTV:

TD = 120/80 N = 84/Menit S = 36,5

RR = 16 kali / menit

- Klien belum mampu memenuhi ADL secara mandiri

- Keluarga mau membantu ADL klien

- Latihan dengan fisioterapi (+) A: Masalah teratasi sebagian

P : Lanjutkan intervensi 1-5

S : klien mengatakan sudah paham tentang perawatan pasien setelah dioperasi

O:

- ku: cukup

- klien dan keluarga sudah tahu tentang perawatan pasien post operasi

- diit dari RS dihabiskan

- keluarga berani menyeka klien - klien sudah tidak takut

menggerakkan tangan kanannya. A: Masalah teratasi

(43)

Rabu 4/1/12

1.

2.

1. Mengkaji ulang lokasi, intensitas dan tipe nyeri.

2. memberikan lingkungan yang tenang dan memberikan dorongan untuk melakukan aktivitas hiburan.

3. melakukan dan mengawasi latihan rentang gerak pasif/aktif  4. mendorong menggunakan tehnik 

manajemen stress

relasksasidengan latihan nafas dalam.

5. mengobservasi tanda-tanda vital. 6. melakukan perawatan luka

7. menginjeksikan ceftriaxone 1 gr/iv dan ketorolac 3 %/iv

1. Mengkaji kemampuan klien dalam memenuhi ADL.

2. menginstruksikan klien dan membantu dalam latian rentang gerak pada ekstrimitas yang sakit dan tak sakit.

3. Menyangga bahu yang sakit diatas dan di bawah fraktur ketika bergerak.

S: klien mengatakan luka operasinya terasa sakit seperti tertusuk dan tidak  menjalar O: - ku: baik  - grimace (-) - Menyeringai (-) - Skala nyeri 2

- Melatih nafas dalam (+) - TTV:

TD = 120/80 N = 84/Menit S = 36,5

RR = 16 kali / menit

- Luka operasi terbungkus kasa dan hypapix serta tidak ada cairan yang menembus pembalut luka - Ceftriaxone 1gr dan ketorolac 3%

sudah masuk. A: Masalah teratasi

P : hentikan intervensi klian KRS

S: klien mengatakan bahu kanannya sudah enak digerakkan

O:

- ku: baik  - grimace (-) - Menyeringai (-)

- Klien Post op hari ke 2 - TTV:

(44)

4. Memberikan dorongan pada pasien untuk melakukan aktifitas semampunya dan motifasi keluarga pasien untuk membantu bila diperlukan.

5. Berkolabirasi dengan tim fisioterapi

N = 84/Menit S = 36,5

RR = 16 kali / menit

- Klien sudah mampu memenuhi ADL secara mandiri

- Latihan dengan fisioterapi (+) A: Masalah teratasi

P : hentikan intervensi klian KRS

Perawat yang MerawatGF

MUHAMAD TAUFIK, SST 19860705 201001 1 0180

(45)

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian-uraian pada bab III, maka penulis mengambil kesimpulan,bahwa: 1. Pada pengkajian kondisi yang ditemukan pada pasien adalah keadaan umum lemah,

kesadaran compos mentis, pasien sudah menjalani operasi ORIF hari ke 0. Pasien masih kasakitan bila menggerakkan tangan atau bahu kanannya. Terdapat luka post operasi pada klavikula dextra terbungkus kasa dan hypapix dan tidak ditemukan adanya cairan yang menembus balutan luka. Ditemukan juga ada luka abrasi pada siku kanan dan lutut kanan klien. Tanda-tanda vital: tekanan darah:120/80 mmHg posisi berbaring semi fowler, Nadi:88 x/menit, irama teratur dan kuat, Suhu:36,5oC/axila, Pernapasan:24x/menit, irama teratur, dan akral teraba hangat. Pasien sering menyeringai karena menahan nyeri post op nya.

2. Diagnosa keperawatan yang penulis temukan pada kasus close fracture klavikula dextra pada penelitian ini adalah: Nyeri akut berhubungan dengan proses inflamasi, Gangguan pemenuhan ADL berhubungan dengan keterbatasan gerak, Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi

3. Rencana tindakan pada ketiga diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus nyata semuanya dilakukan pada pasien.

4. Evaluasi dari ketiga diagnosa keperawatan yang ditemukan semua teratasi dan pasien dipulangkan dengan kontrol ke poli orthopedi.

4.2 Saran

1. Bagi perawat

Agar dalam memberikan tindakan keperawatan kepada pasien, juga harus dilakukan tindakan-tindakan mandiri perawat.

(46)

Agar jumlah instrument untuk perawatan luka ditambah, sehingga perawat ruangan bisa melaksanakan teknik steril dan on steril dengan benar.

3. Bagi penulis

Agar terus mengembangkan pengetahuan yang telah didapat tentang kasus fraktur dan membagikannya kepada orang lain sehingga tindakan perawatan pasien post operasi bisa optimal.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :