JURNAL EKONOMI & BISNIS DHARMA ANDALAS VOLUME 18 NO 2, JULI 2016 P- ISSN E- ISSN

13 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

268 VOLUME 18 NO 2, Juli 2016

JURNAL EKONOMI & BISNIS

DHARMA ANDALAS

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN DENGAN MENGGUNAKAN ALTMAN Z”SCORE UNTUK MENGUKUR TINGKAT KESEHATAN PERUSAHAAN

DAN RASIO KEUANGAN YANG BERMASALAH. (STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN TELEKOMUNIKASI YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK

INDONESIA PERIODE 2010-2014)

Enny Arita1, Yunita Valentina Kusufiyah2, Maivalinda3

1)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Dharma Andalas

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana tingkat kesehatan perusahaan dan rasio keuangan mana yang bermasalah dilihat dari nilai Z”-Score, selanjutnya mengklasifikasikan perusahaan apakah termasukpadasafe zone, gray zone, atau distress zone.Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dan sampel yang digunakan di dalam penelitian ini adalah 3 perusahaan telekomunikasi, yaitu PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk., PT Indosat, Tbk. Dan PT XL Axiata, Tbk.Variabel di dalam penelitian ini adalah variabel Altman Z”-Score,yaitu working capital to total assets, retained earning to total asset, earning before interest and taxe to total assets, dan book value of total equity to book value of total liabilities. Setelah melakukan perhitungan Altman Z”-score, kemudian dianalisis tiap variabelnya untuk mengetahui variabel mana yang berperan dalam masing-masing kategori Altman Z”-score.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahun 2010-2014 PT. Telkom selalu berada pada safe zone, artinya terhindar dari potensi kebangkrutan. Sementara itu PT. Indosat tahun 2010-2012 berada pada gray zone, artinya berpotensi bangkrut atau tidak bangkrut, tahun 2013 dan 2014 berada pada distres zone, artinya berpotensi bangkrut. Sebaliknya PT. XL Axiata tahun 2010-2012 berada pada safe zone, tahun 2013 berada pada gray zone dan pada tahun 2014 berada pada distress zone.

Kata kunci:Z”-Score, safezone, gray zone, distress zone.

PENDAHULUAN

Dalam satu dekade belakangan ini industri telekomunikasi terus mengalami

pertumbuhan. Pada tahun 1999

ditetapkan Undang-undang Nomor 36

Tahun 1999 tentang Penghapusan

Monopoli Penyelenggaraan

Telekomunikasi. Memasuki abad ke 21

Pemerintah Indonesia melakukan

deregulasi di sektor telekomunikasi

dengan membuka kompetisi pasar

bebas.Dengan demikian Telkom tidak lagi memonopoli telekomunikasi di

Indonesia. Banyak perusahaan

telekomunikasi new entrantsprovider

bermunculan untuk ikut serta

memberikan fasilitas komunikasi kepada

masyarakat dan bersaing dengan

provider yang telah beberapa lama bertahan di industri telekomunikasi.

Seiring dengan terus tumbuhnya pelanggan seluler maka keinginan dan kebutuhan terus meningkat. Hal ini membuat operator telekomunikasi secara

tidak langsung harus memberikan

(2)

269

baik. Tiap operator dituntut untuk berkembang dan maju dalam hal infrastruktur, teknologi dan sumber daya dalam memenuhi kebutuhan pasar. Pasar telekomunikasi di Indonesia mengalami kemajuan yang signifikan dalam lima

tahun terakhir dan pertumbuhan

pelanggan akan terus berlanjut seiring dengan kebijakan operator melakukan ekspansi dalam hal jangkauan dan jaringan. Jumlah operator di Indonesia

yang mencapai 11 perusahaan

menyebabkan persaingan bisnis di sektor telekomunikasi menjadi sangat ketat.

Semakin tajamnya persaingan

antar perusahaan telekomunikasi di era

globalisasi ini menuntut setiap

perusahaan untuk meningkatkan

kinerjanya agar tetap eksis dalam persaingan di masa sekarang maupun di masa mendatang. Kondisi yang membuat khawatir para investor dan kriditor adalah apabila perusahaan mengalami penurunan kinerja. Menurut Basri (2003 : 1) penurunan atau kemerosotan kinerja suatu perusahaan tidak serta merta terjadi dalam hitungan “sekejap” kecuali akibat suatu peristiwa yang sangat fatal dan dramatis, yang sepenuhnya diluar

kemampuan perusahaan untuk

mengendalaikannya. Perusahaan yang dapat bersaing antara lain ditentukan oleh kinerja perusahaan itu sendiri.

Perusahaan yang tidak dapat

meningkatkan atau mempertahankan

kinerjanya akan tergusur dari lingkungan industrinya dan pada akhirnya akan mengalami kebangkrutan. Untuk para investor saham sangat penting untuk mengetahui seberapa besar potensi

kebangkrutan yang dimiliki oleh

perusahaan. Para investor akan memiliki

pandangan bahwa jika potensi

kebangkrutan besar maka laba yang diperoleh perusahaan akan menurun dan akan berakibat pada turunnya Earning Per Share (Keown et al, 2008 :24 ).

Potensi kebangkrutan memberikan

indikasi bahwa kinerja perusahaan

memburuk yang berimbas pada turunnya kemampuan untuk memperoleh laba. Penurunan laba yang terjadi terus-menerus pada perusahaan merupakan sinyal dari financial distress. Gitman (2006:785) menyaakan bahwa “ A firm may fail because its return are negarive or low”. Financial distress yang dialami

perusahaan dapat menyebabkan

perusahaan tidak dapat lagi

menghasilkan laba, sedangkan tujuan didirikannya suatu perusahaan umumnya

adalah untuk memperoleh laba,

meningkatkan penjualan,

memaksimalkan nilai saham, dan

meningkatkan kesejahteraan pemegang saham (Brigham dan Houston, 2009).

Laporan Keuangan yang

diterbitkan oleh perusahaan merupakan salah satu sumber informasi mengenai kinerja perusahaan yang sangat berguna untuk menyusun rencana yang lebih baik dan mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat.Agar informasi yang tersaji menjadi lebih bermanfaat dalam pengambilan keputusan, data keuangan harus dikonversi menjadi informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan

ekonomis.Analisis rasio merupakan

suatu metode perhitungan dan

interpretasi rasio keuangan untuk

menilai kinerja dan status perusahaan. Dari rasio keuangan dapat diketahui deskripsi mengenai sehat atau tidaknya perusahaan. Analisis laporan keuangan pada hakekatnya adalah untuk menilai keadaan dan potensi kemajuan atau kebangkrutan suatu perusahaan. Untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan kelancaran industrinya, tingkat kesehatan perusahaan menjadi penting karena menjadi tolok ukur untuk memantau sejauh mana perusahaan mampu menjaga kelancaran operasi

perusahaan agar tidak terganggu.

Dengan mengetahaui tingkat kesehatan dan kondisi keuangannya, perusahaan

dapat mengambil keputusan untuk

(3)

270

mengevaluasi apakah kebijakan yang selama ini ditempuh sudah tepat atau belum.

Salah satu alat penilaian yang digunakan untuk mengetahui tingkat kesehatan suatu perusahaan adalah

dengan menggunakan model yang

ditemukan oleh Altman.Analisis potensi kebangkrutan Altman meruapakan salah satu alat analisis yang mendalam dan

spesifik untuk mengukur tingkat

kesehatan dan peluang kebangkrutan suatu perusahaan. Analisis kebangkrutan

perlu dilakukan bukan saja oleh

perusahaan, tetapi juga oleh para pemangku kepentingan antara lain oleh

investor. Altman menggunakanlima

rasio keuangan yang dapat digunakan untuk mendeteksi dan memprediksi

kebangkrutan perusahaan.Kemudian

kelima rasio keuangan tersebut

dimasukan dalam model formula yang sekarang dikenal dengan model Altman Z-score. Di dalam Altman Z-Score

terkandung beberapa rasio yang

mendeteksi kondisi keuangan

perusahaan yang berkaitan dengan

likuiditas, profitabilitas, dan leverage. (Adnan dan Taufiq, 2001:189). Altman juga menemukan bahwa rasio-rasio

keuangan tertentu, terutama rasio

likuiditas dan leverage, memberikan

sumbangan terbesar dalam hal

mendeteksi dan memprediksi

kebangkrutan perusahaan. Dari model Altman Z-Sore tingkat kesehatan perusahaan dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu aman dari kebangkrutan (safe zone), berpotensi bangkrut atau tidak bangkrut (gray zone), dan memiliki potensi lebih tinggi untuk mengalami kebangkrutan (distress zone). Sampai dengan tahun 2015, terdapat tiga perusahaan operator layanan seluler

yang merupakan pemimpin pasar

(market leader) di industri

telekomunikasi di Indonesia, yaitu PT. Telkom, PT. Indosat, dan PT. XL Axiata.Penelitian ini ingin mengetahui

bagaimana tingkat kesehatan ketiga perusahaan tersebut dan diberi judul “ Analisis Laporan Keuangan Dengan

Menggunakan Altman Z”-Sore Untuk

Mengukur Tingkat Kesehatan

Perusahaan Telekomunikasi Yang

Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2012.” Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan maka

dapat dirumuskan permasalahannya

yaitu : Bagaimana tingkat kesehatan PT. Telkom, PT. Indosat, dan PT. XL Axiata tahun 2010 – 2014 dilihat dari nilai Z”-Score dan Rasio keuangan mana yang bermasalah pada PT. Telkom, PT. Indosat, dan PT. XL Axiata pada tahun periode 2010 – 2014.

Laporan Keuangan

Laporan keuangan yang

diterbitkan oleh perusahaan merupakan salah satu sumber informasi mengenai posisi keuangan perusahaan, kinerja

serta perubahan posisi keuangan

perusahaan, yang sangat berguna untuk

mendukung pengambilan keputusan

yang tepat. Kebangkrutan

Kebangkrutan biasanya diartikan sebagai kegagalan perusahaan dalam menjalankan operasi perusahaan untuk menghasilkan laba. Kebangkrutan juga sering disebut likuidasi perusahaan atau

penutupan perusahaan atau

insolvabilitas. Menurut Altman dan Hotchkiss (2006:3) “corporate distress, including the legal processes of corporate bankruptcy reorganization and liquidation, is a sobering economic reality reflecting the uniqueness of the american wayof corporate death”. Penyebab Kebangkrutan

Mismanagement menurut Gitman (2006:785) adalah “The primary causes of business failure ismismanagement, which accounts for more than 50 percent of all cases. Numerous specific managerial faults can cause the firm to fail. Overexpansion, poor financial actions, an ineffective sales forces and

(4)

271

high productions costs can all singly or combination cause failure”.

Analisis Kebangkrutan Usaha

Kebangkrutan merupakan masalah yang esensial yang harus diwaspadai oleh perusahaan. Untuk menghindari masalah tersebut, perusahaan harus perhatian terhadap kinerja keuangannya. Perusahaan haruslah melakukan berbagai analisis tentang keuangan, terutama

analisis mengenai kebangkrutan.

Prediksi kebangkrutan usaha berfungsi untuk memberikan panduan bagi

pihak-pihak tentang kinerja keuangan

perusahaan apakah akan mengalami kesulitan keuangan atau tidak di masa mendatang. Salah satu indikator yang bias digunakan untuk mengetahui tingkat

kebangkrutan perusahaan adalah

indikator keuangan. Prediksi

kebangkrutan perusahaan ini

dikemukakan oleh seorang profesor di New York University bernama Edward

L. Altman. Altman mempelopori

penggunaan multivariate discriminant analysis (MDA) dalam memprediksi corporate failure.

Penentuan Rasio Keuangan yang Bermasalah

Untuk mengetahui rasio keuangan mana yang bermasalah , maka langkah

selanjutnya adalah membandingkan

masing-masing ratio keuangan dengan rata-rata dari masing-masing ratio keuangan tersebut serta membandingkan masing-masing ratio keuangan dengan proporsi safe dan distress masing-masing ratio keuangan.

METODE PENELITIAN Metode Analisis Data Perhitungan Z-Score

Untuk analisis potensi

kebangkrutan atau untuk memprediksi

kemungkinan kebangkrutan pada

perusahaan menggunakan metode yang ditemukan Altman yang dikenal dengan Z-score (Altman & Hotchkiss, 2006: 242-243). Perusahaan yang termasuk

kategori service sector adalah semua perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan atau jasa. Model Z”-score ini

cocok untuk mengevaluasi potensi

kebangkrutan perusahaan seperti

perusahaan retailer, telekomunikasi, penerbangan, hotel, tours and travel, dan

perusahaan lainnya.Varian ini

merupakan rumus yang paling fleksibel,

karena dapat digunakan untuk

perusahaan publik maupun privat. Pada model ini, rasio sales to total asset

dihilangkan dengan harapan efek

industri, dalam pengertian ukuran

perusahaan terkait dengan aset atau penjualan dapat dihilangkan. Berikut adalah formula untuk Z”-Score:

Keterangan:

X1 = Working Capital/Total Assets

X2 = Retained Earnings/Total Assets

X3 = Earning before Interest and

Taxes/Total Assets

X4 = Book Value of Equity/Book Value of

Total Liabilities Z”= Overall Index or Score Nilai cutoffZ”-Score :

Z” > 2,60 Safe Zone/Nonbankruptcy 1,10< Z” < 2,60 Gray Zone

Z” < 1,10 Distress Zone/Bankruptcy Apabila nilai Z”-Score lebih besar dari 2,60 maka perusahaan masuk ke safe zone, yaitu area di mana perusahaan dikatakan aman dan tidak bangkrut. Nilai Z”-Score yang berada antara 1,10 dan 2,60 termasuk pada gray zone, di mana perusahaan bisa saja berpotensi

bangkrut atau tidak bangkrut.

Sedangkan, bila nilai Z”-Score lebih kecil dari 1,1 berarti perusahaan masuk ke red zone, di mana perusahaan memiliki potensi yang lebih tinggi untuk mengalami kebangkrutan.

Untuk menentukan proporsi masing-masing ratio keuangan safe dan distress digunakan rumus berikut :

(5)

272

Proporsi X1 sampai X5 safe =

( )

Penentuan rasio keuangan yang

bermasalah

Untuk mengetahui rasio keuangan mana yang bermasalah , maka langkah

selanjutnya adalah membandingkan

masing-masing ratio keuangan dengan rata-rata dari masing-masing ratio keuangan tersebut serta membandingkan masing-masing ratio keuangan dengan proporsi safe dan distress masing-masing ratio keuangan.

Tabel 1

Kriteria Hasil Analisis Ratio

No. Analisis Keterangan 1. X > XM dan X > XS

Ratio keuangan tidak bermasalah

2. X > XM dan XD< X < XS Ratio Keuangan sedikit

bermasalah 3. X > XM dan X < XD Ratio keuangan bermasalah

4. X < XM dan X < XD

Ratio keuangan sangat bermasalah Sumber : Ngabito (2006) Dimana : XM = X Mean XS = X Safe XD = X Distress

Analisis Nilai Jenjang

Untuk mengetahui bagaimana kondisi

masing-masing ratio keuangan

digunakan analisis nilai jenjang. Hasil analisis diberi skor sebagai berikut :

Tabel 2. Skor Nilai Jenjang

No. Keterangan Skor 1. Ratio keuangan tidak

bermasalah 4 2. Ratio Keuangan sedikit bermasalah 3 3. Ratio keuangan bermasalah 2 4. Ratio keuangan sangat bermasalah 1

Jumlah tahun penelitian adalah 5. Total Skor tertinggi adalah 5 x 4 = 20. Total skor terendah adalah 5 x 1 = 5.

Nilai persentase terkecil = 5/20 = 25 % dan nilai persentase terbesar = 20/20 = 100 %. Interval nilai persentase = (100 % - 25 %) : 4 = 18,75 %

Kategori ratio keuangan untuk masing-masing interval adalah sebagai berikut :

Tabel 3.

Kategori Interpretasi Skor

No. Hasil perhitungan Kategori Ratio Keuangan 1. 25,00 % – ≤ 43,75 % Sangat Bermasalah 2. > 43,75 % – ≤ 62,50 % Bermasalah 3. > 62,50 % – ≤ 81,50 % Sedikit Bermasalah 4. > 81,50 % – 100,00 % Tidak Bermasalah Sumber : Sugiyono (2009:184) PT. Telkom

Rasio Keuangan Tahun 2010 – 2014 Hasil perhitungan rasio keuangan yang akan digunakan sebagai dasar untuk menghitung Z”Sore disajikan pada Tabel berikut: Tabel 4. PT. Telkom-Rasio Keuangan 2010-2014 Tahun X1 X2 X3 X4 2010 -0,0174 0,4170 0,2131 3,6354 2011 -0,0090 0,4566 0,2131 3,3781 2012 0,0347 0,4739 0,2307 4,1100 2013 0,0362 0,4582 0,2176 4,2892 2014 0,0140 0,4494 0,2085 5,2728 Keterangan :

X1 = Working Capital/Total Assets X2 = Retained Earnings/Total Assets

X3 = Earning before Interest and

Taxes/Total Assets

X4 = Book Value of Equity/Book Value of

Total Liabilities

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa pada tahun 2010 dan 2011 PT.Telkom memiliki jumlah hutang lancar yang lebih besar dari jumlah aktiva lancar, yang terlihat dari Working Capital/Total Asset yang bernilai negatif. Secara teoritis perusahaan dikatakan ilikuid, artinya perusahaan tidak mampu

melunasi kewajibannya yang jatuh

tempo.Namun pada perusahaan

telekomunikasi jumlah hutang lancar yang melebihi aktiva lancar sehingga

(6)

273

modal kerja menjadi negatif sebenarnya tidak terlalu bermasalah karena salah satu produk yang dijual oleh perusahaan telekomunikasi adalah kartu prabayar atau pulsa elektronik, sehingga dengan sendirinya hutang lancar perusahaan

meningkat. Pada saat pulsa para

pengguna kartu prabayar sudah habis dengan sendirinya jumlah hutang lancar akan berkurang, sebaliknya pengguna kartu prabayar yang lain akan muncul sehingga jumlah hutang lancar kembali meningkat. Hal ini akan terjadi terus menerus selama perusahaan menjual kartu prabayar atau pulsa elektronik. Sebaliknya pada tahun 2012 - 2014 modal kerja sudah positif, artinya jumlah aktiva lancar sudah melebihi hutang lancar.

Z”-Score Tahun 2010 - 2014

Setelah rasio keuangan yang

membentuk Z” Score dihitung,

selanjutnya dapat dihitung total Z” Score untuk menentukan apakah perusahaan berada pada zona aman, zona abu-abu atau zona bangkrut. Hasil perhitungan Z”-Score pada PT. Telkom untuk tahun 2010-2014 disajikan pada Tabel berikut ini.

Tabel 5.

PT. Telkom-Z-Score Periode 2010-2014

Tahun 6,56 X1 3,26X2 6,72X3 1,05X4 Z”-Score Potensi*

2010 -0,1138 1,3594 1,4320 3,8172 6,4947 Safe Zone 2011 -0,0593 1,4885 1,4318 3,5470 6,4081 Safe Zone 2012 0,2277 1,5449 1,5506 4,3155 7,6388 Safe Zone 2013 0,2378 1,4938 1,4625 4,5037 7,6977 Safe Zone 2014 0,0920 1,4652 1,4011 5,5365 8,4947 Safe Zone

Nilai cutoff Z”- Score :

Z” >2,60 Safe Zone/Nonbankruptcy

1,10< Z” < 2,60 Gray Zone

Z” < 1,10 Distress Zone/Bankruptcy Dari Tabel terlihat bahwa periode 2010 – 2014 PT. Telkom berada pada safe zone atau zona aman. Artinya tidak diprediksi akan mengalami kebangkrutan karena Z”-Score >2,60.

Penentuan Rasio Keuangan yang Bermasalah.

Setelah nilai Z” Score dihitung dan

perusahaan sudah dapat diprediksi

apakah berada pada zona aman (tidak

bangkrut) atau zona tidak aman

(bangkrut), maka tahap selanjutnya ditentukan proporsi masing-masing rasio tidak bangkrut dan bangkrut serta ratio rata-rata. Tujuan penentuan proporsi ini adalah untuk mengetahui rasio keuangan mana yang memberikan kontribusi apakah perusahaan diprediksi bangkrut atau tidak bangkrut.

Tabel 6.

Batas Proporsi Bangkrut, Tidak Bangkrut dan Ratio Rata-rata

Ratio Proporsi Tidak Bangkrut Proporsi Bankrut Ratio Rata-rata X1 0,9696 0,4102 0,0117 X2 0,4819 0,2039 0,4510 X3 0,9933 0,4202 0,2166 X4 0,1522 0,0657 4,1371

Selanjutnyai dijelaskan kategori masing-masing ratio keuangan:

Working Capital to Total Assets (X1)

Tabel 6

Hasil Analisis Working Capital to Total Asset Ratio (X1) Periode 2010-2014 Tahun X1 X1M Proporsi XS Proporsi XD Analisis Kategori Ratio Keuangan 2010 -0,0174 0,0117 0,9696 0,4102 X1< X1M X1< XD Sangat Bermasalah 2011 -0,0090 0,0117 0,9696 0,4102 X1< X1M X1< XD Sangat Bermasalah 2012 0,0347 0,0117 0,9696 0,4102 X1> X1M X1< XD Bermasalah 2013 0,0362 0,0117 0,9696 0,4102 X1 > X1M X1< XD Bermasalah 2014 0,0140 0,0117 0,9696 0,4102 X1>X1M X1 < XD Bermasalah Dengan menggunakan skor nilai jenjang, total skor yang diperoleh adalah

sebesar 40 % dan selanjutnya

digambarkan linier continum. Sangat Bermasalah Sedikit Tidak Bermasalah Bermasalah Bermasalah

25,00 % 43,75 % 62,50 % 81,25 % 100,00%

(7)

274

Berdasarkan analisis linier continum, Working Capital to Total Assets Ratio dapat dikategorikan sangat bermasalah. Hal ini terjadi karena modal kerja bernilai negatif atau hutang lancar lebih besar dari aktiva lancar. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya modal kerja yang bernilai negatif ini terjadi karena salah satu produk yang dijual oleh perusahaan telekomunikasi adalah kartu prabayar atau pulsa elektronik. Semakin banyak pulsa yang terjual maka semakin besar pula jumlah hutang lancar. Dengan demikian hasil analisis ini dapat diabaikan.

Retained Earning to Total Assets Ratio

(X2)

Tabel 7.

Hasil Analisis Retained Earning to Total Assets Ratio (X2) Periode 2010-2014 Tahun X2 X2M Proporsi XS Proporsi XD Analisis Kategori Ratio Keuangan 2010 0,4170 0,4510 0,9696 0,4102 X2 < X2M XS>X2> XD Bermasalah 2011 0,4566 0,4510 0,9696 0,4102 X2 > X2M XS>X2> XD Sedikit Bermasalah 2012 0,4739 0,4510 0,9696 0,4102 X2> X2M XS>X2> XD Sedikit Bermasalah 2013 0,4582 0,4510 0,9696 0,4102 X2> X2M XS>X2> XD Sedikit Bermasalah 2014 0,4494 0,4510 0,9696 0,4102 X2 <X2M XS>X2>XD Bermasalah Dengan menggunakan skor nilai jenjang, total skor yang diperoleh adalah

sebesar 65 % dan selanjutnya

digambarkan linier continum. Sangat Bermasalah Sedikit Tidak Bermasalah Bermasalah Bermasalah

25,00 % 43,75 % 62,50 % 81,25 % 100,00%

65,00 %

Berdasarkan analisis linier continum, Retained Earning to Total Assets Ratio dapat dikategorikan sedikit bermasalah. Artinya retained earning yang diperoleh yang akan digunakan untuk investasi jumlahnya tidak terlalu kecil.

Earning Before Interest and Tax to

Total Assets (X3)

Tabel 8.

Hasil Analisis Earning Before Interest and Tax to Total Assets Ratio (X3)

Periode 2010-2014 Tahun X3 X3M Proporsi XS Proporsi XD Analisis Kategori Ratio Keuangan 2010 0,2131 0,2166 0,9696 0,4102 X3 < X3M X3< XD Sangat Bermasalah 2011 0,2131 0,2166 0,9696 0,4102 X3< X3M X3< XD Sangat Bermasalah 2012 0,2307 0,2166 0,9696 0,4102 X3> X3M X3< XD Bermasalah 2013 0,2176 0,2166 0,9696 0,4102 X3> X3M X3< XD Bermasalah 2014 0,2085 0,2166 0,9696 0,4102 X3< X3M X3< XD Sangat Bermasalah Dengan menggunakan skor nilai jenjang, total skor yang diperoleh adalah

sebesar 35 % dan selanjutnya

digambarkan linier continum. Sangat Bermasalah Sedikit Tidak Bermasalah Bermasalah Bermasalah

25,00 % 43,75 % 62,50 % 81,25 % 100,00%

35,00 %

Berdasarkan analisis linier

continum, Earning Before Interest and Tax to Total Assets Ratio dapat

dikategorikan Sangat Bermasalah.

Artinya PT. Telkom tidak berhasil memperoleh Earning Before Interest and Tax yang memadai, dimana jumlahnya kecil dibandingkan total aset yang dimiliki.

Market Value of Equity to Total Debt

(X4)

Tabel 9.

Hasil Analisis Market Value of Equity to Total Debt Ratio (X4)- Periode

2010-2014 Tahun X4 X4M Proporsi XS Proporsi XD Analisis Kategori Ratio Keuangan 2010 3,6354 4,1371 0,9696 0,4102 X4< X4M X4> XS Sedikit Bermasalah 2011 3,3781 4,1371 0,9696 0,4102 X4 < X4M X4> XS Sedikit Bermasalah 2012 4,1100 4,1371 0,9696 0,4102 X4< X4M X4> XS SedikitBer masalah 2013 4,2892 4,1371 0,9696 0,4102 X4> X4M X4>XS Tidak Bermasalah 2014 5,2728 4,1371 0,9696 0,4102 X4>X4M X4>XS Tidak Bermasalah

(8)

275

Dengan menggunakan skor nilai jenjang , total skor yang diperoleh adalah

sebesar 85 % dan selanjutnya

digambarkan linier continum. Sangat Bermasalah Sedikit Tidak Bermasalah Bermasalah Bermasalah

25,00 % 43,75 % 62,50 % 81,25 % 100,00%

85,00 %

Berdasarkan analisis linier

continum, Market Value of Equity to Total Debt Ratio dapat dikategorikan tidak bermasalah. Artinya PT. Telkom berhasil meningkatkan market value of

equity dan memaksimumkan

shareholder wealth. Hal ini tentu sejalan dengan tujuan dari perusahaan yaitu

memaksimumkan kesejahteraan

pemegang saham atau pemilik. Dari pembahasan mengenai rasio keuangan PT. Telkom, rasio keuangan yang paling tidak bermasalah adalah Market Value of Equity to Total Debt. Nilai rasio ini memberikan kontribusi yang paling besar dalam nilai Z” Score sehingga dalam 5 tahun periode penelitian yaitu tahun 2010-2014 PT. Telkom selalu berada pada zona aman atau tidak bangkrut. Namun demikian PT. Telkom harus memfokuskan perhatiannya pada rasio-rasio keuangan yang lain seperti

yang telah dijelaskan sebelumnya,

kecuali rasio Working Capital to Total Assets.

PT. Indosat

Rasio Keuangan Tahun 2010 – 2014 Hasil perhitungan rasio keuangan yang akan digunakan sebagai dasar untuk menghitung Z”Sore disajikan pada Tabel berikut: Tabel 10 PT. Indosat-Rasio Keuangan 2010-2014 Tahun X1 X2 X3 X4 2010 -0,1096 0,2908 0,0652 0,8485 2011 -0,1030 0,3042 0,0542 0,9204 2012 -0,0490 0,2894 0,0578 0,9782 2013 -0,1160 0,2387 0,0277 0,5934 2014 -0,2358 0,2070 0,0126 0,5634

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa pada tahun 2010 - 2014

PT.Indosat selalu memiliki jumlah

hutang lancar yang lebih besar dari jumlah aktiva lancar, yang terlihat dari Working Capital/Total Asset yang bernilai negatif. Sama halnya dengan PT. Telkom nilai yang negatif ini dapat diabaikan karena keunikan dari produk yang dijual oleh perusahaan. Semakin besar nilai negatif dari rasio ini

mengindikasikan bahwa perusahaan

berhasil melakukan penjualan produk yang unik tersebut dalam jumlah yang besar. Namun bukan berarti jika nilai

rasionya positif perusahaan tidak

berhasil melakukan penjualan dalam jumlah yang besar, akan tetapi jangka waktu mulai dari pembelian pulsa sampai dengan habisnya pulsa relatif pendek. Dengan demikian banyak faktor yang mempengaruhi nilai dari modal kerja apakah positif atau negatif.

Z”-Score Tahun 2010 - 2014

Setelah menentukan beberapa rasio keuangan maka langkah selanjutnya

adalah menghitung Z” Score.

Perhitungan Z” Score pada PT. Indosat untuk tahun 2010 – 2014 disajikan pada tabel berikut ini.

Tabel 11

PT. Indosat-Z-Score Periode 2010-2014

Tahun 6,56 X1 3,26X2 6,72X3 1,05X4 Z”-Score Potensi* 2010 -0,7189 0,9480 0,4378 0,8909 1,5579 Gray Zone 2011 -0,6756 0,9917 0,3645 0,9664 1,6471 Gray Zone 2012 -0,3215 0,9434 0,3882 1,0271 2,0371 Gray Zone 2013 -0,7611 0,7780 0,1860 0,6231 0,8260 Distress Zone 2014 -1,5467 0,6749 0,0849 0,5916 -0,1953 Distress Zone Dari Tabel diatas terlihat bahwa periode 2010 – 2012 PT. Indosat berada pada gray zone atau zona abu-abu. Artinyaperusahaan dapat diprediksi akan mengalami kebangkrutan atau tidak bangkrut karena Z” Score berada diantara 1,10 - 2,60. Namun pada tahun 2013 dan 2014 perusahaan berada pada distress zone artinya perusahaan

(9)

276

diprediksi akan mengalami

kebangkrutan.

Penentuan Rasio Keuangan yang Bermasalah.

Pada tahap selanjutnya ditentukan rasio keuangan mana yang berkontribusi sehingga PT. Indosat berada pada gray zone dan distress zone.

Working Capital to Total Assets (X1)

Tabel 12.

Hasil Analisis Working Capital to otal Asset Ratio (X1) Periode 2010-2014 Tahun X1 X1M Proporsi XS Proporsi XD Analisis Kategori Ratio Keuangan 2010 -0,1096 -0,1227 0,9696 0,4102 X1> X1M X1< XD Bermasalah 2011 -0,1030 -0,1227 0,9696 0,4102 X1> X1M X1< XD Bermasalah 2012 -0,0490 -0,1227 0,9696 0,4102 X1> X1M X1< XD Bermasalah 2013 -0,1160 -0,1227 0,9696 0,4102 X1 > X1M X1< XD Bermasalah 2014 -0,2358 -0,1227 0,9696 0,4102 X1<X1M X1< XD Sangat Bermasalah Dengan menggunakan skor nilai jenjang, total skor yang diperoleh adalah

sebesar 40 % dan selanjutnya

digambarkan linier continum. Sangat Bermasalah Sedikit Tidak Bermasalah Bermasalah Bermasalah

25,00 % 43,75 % 62,50 % 81,25 % 100,00%

45,00 %

Berdasarkan analisis linier

continum, Working Capital to Total Assets Ratio dapat dikategorikan bermasalah. Hal ini disebabkan nilai modal kerja negatif. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya hasil ini dapat

diabaikan karena nilai negatif

disebabkan dari pulsa elektronik dan kartu prabayar yang telah dijual oleh perusahaan. Semakin banyak penjualan produk tersebut, maka jumlah utang lancar akan semakin besar.

Retained Earning to Total Assets Ratio (X2)

Tabel 13

Hasil Analisis Retained Earning to Total Assets Ratio (X2) Periode 2010-2014

Tahun X2 X2M Proporsi XS Proporsi XD Analisis Kategori Ratio Keuangan 2010 0,2908 0,2660 0,9696 0,4102 X2 > X2M X2< XD Bermasalah 2011 0,3042 0,2660 0,9696 0,4102 X2 > X2M X2< XD Bermasalah 2012 0,2894 0,2660 0,9696 0,4102 X2> X2M X2< XS Bermasalah 2013 0,2387 0,2660 0,9696 0,4102 X2< X2M X2< XD Sangat Bermasalah 2014 0,2070 0,2660 0,9696 0,4102 X2 <X2M X2 <XD Sangat Bermasalah Dengan menggunakan skor nilai jenjang, total skor yang diperoleh adalah

sebesar 40 % dan selanjutnya

digambarkan linier continum. Sangat Bermasalah Sedikit Tidak Bermasalah Bermasalah Bermasalah

25,00 % 43,75 % 62,50 % 81,25 % 100,00%

40,00 %

Berdasarkan analisis linier continum, Retained Earning to Total Assets Ratio dapat dikategorikan sangat bermasalah. Artinya retained earning yang diperoleh yang akan digunakan untuk investasi jumlahnya terlalu kecil dibandingkan dengan jumlah aset yang dimiliki.

Earning Before Interest and Tax to

Total Assets (X3)

Tabel 14

Hasil Analisis Earning Before Interest and Tax to Total Assets Ratio

(X3)Periode 2010-2014 Tahun X3 X3M Proporsi XS Proporsi XD Analisis Kategori Ratio Keuangan 2010 0,0652 0,0435 0,9696 0,4102 X3 > X3M X3< XD Bermasalah 2011 0,0542 0,0435 0,9696 0,4102 X3> X3M X3< XD Bermasalah 2012 0,0578 0,0435 0,9696 0,4102 X3> X3M X3< XD Bermasalah 2013 0,0277 0,0435 0,9696 0,4102 X3< X3M X3< XD Sangat Bermasalah 2014 0,0126 0,0435 0,9696 0,4102 X3< X3M X3< XD Sangat Bermasalah Dengan menggunakan skor nilai jenjang, total skor yang diperoleh adalah

sebesar 40 % dan selanjutnya

digambarkan linier continum. Sangat Bermasalah Sedikit Tidak Bermasalah Bermasalah Bermasalah

25,00 % 43,75 % 62,50 % 81,25 % 100,00%

(10)

277

Berdasarkan analisis linier

continum, Earning Before Interest and Tax to Total Assets Ratio dapat

dikategorikan sangat bermasalah.

Artinya PT. Indosat tidak berhasil memperoleh Earning Before Interest and Tax yang memadai, dimana jumlahnya kecil dibandingkan total aset yang dimiliki.

Market Value of Equity to Total Debt

(X4)

Tabel 15.

Hasil Analisis Market Value of Equity to Total Debt Ratio (X4) Periode

2010-2014 Tahun X4 X4M Proporsi XS Proporsi XD Analisis Kategori Ratio Keuangan 2010 0,8485 0,7808 0,9696 0,4102 X4> X4M XD<X4< XS Sedikit Bermasalah 2011 0,9204 0,7808 0,9696 0,4102 X4 > X4M XD<X4> XS Sedikit Bermasalah 2012 0,9782 0,7808 0,9696 0,4102 X4> X4M X4> XS Tidak Bermasalah 2013 0,5934 0,7808 0,9696 0,4102 X4< X4M X4>XD Bermasalah 2014 0,5634 0,7808 0,9696 0,4102 X4<X4M X4>XD Bermasalah Dengan menggunakan skor nilai jenjang , total skor yang diperoleh adalah

sebesar 70 % dan selanjutnya

digambarkan linier continum. Sangat Bermasalah Sedikit Tidak Bermasalah Bermasalah Bermasalah

25,00 % 43,75 % 62,50 % 81,25 % 100,00%

70,00 %

Berdasarkan analisis linier

continum, Market Value of Equity to Total Debt Ratio dapat dikategorikan sedikit bermasalah. Artinya PT. Indosat belum berhasil meningkatkan market value of equity dan memaksimumkan shareholder wealth atau kesejahteraan pemegang saham.

PT. XL Axiata

Rasio Keuangan Tahun 2010 – 2014 Hasil perhitungan rasio keuangan yang akan digunakan sebagai dasar untuk menghitung Z”Sore disajikan pada Tabel berikut:

Tabel 16

PT. XL Axiata - Rasio Keuangan 2010-2014 Tahun X1 X2 X3 X4 2010 -0,0857 0,2021 0,1895 2,9024 2011 -0,1713 0,2383 0,1240 2,2054 2012 -0,1433 0,2556 0,1228 2,4196 2013 -0,0518 0,2226 0,0412 1,7768 2014 -0,0328 0,1179 0,0067 0,8346

Dari tabel tersebut terlihat bahwa pada tahun 2010 - 2014 PT.XL Axiata memiliki jumlah hutang lancar yang lebih besar dari jumlah aktiva lancar, sehingga modal kerja bernilai negatif.

Seperti yang telah dijelaskan

sebelumnya, hal ini tidak menjadi

masalah bagi perusahaan

telekomunikasi.

Z”-Score Tahun 2010 - 2014

Hasil perhitungan Z-Score pada PT. XL Axiata untuk tahun 2010 – 2014 disajikan pada Tabel berikut ini

Tabel 17

PT. XL Axiata -Z-Score Periode 2010-2014

Tahun 6,56 X1 3,26X2 6,72X3 1,05X4 Z”-Score Potensi* 2010 -0,5621 0,6589 1,2735 3,0475 4,4179 Safe Zone 2011 -1,1240 0,7767 0,8332 2,3157 2,8015 Safe Zone 2012 -0,9401 0,8333 0,8249 2,5406 3,2588 Safe Zone 2013 -0,3399 0,7258 0,2767 1,8656 2,5282 Gray Zone 2014 -0,2151 0,3843 0,0452 0,8764 1,0908 Distress Zone Dari Tabel diatas terlihat bahwa periode 2010 – 2014 PT. XL Axiata berada pada safe zone atau zona aman. Artinya tidak diprediksi akan mengalami kebangkrutan karena Z”-Score >2,60. Penentuan Rasio Keuangan yang Bermasalah.

Setelah perhitungan Z” Score

selanjutnya ditentukan rasio keuangan mana yang bermasalah dan yang tidak bermasalah.

(11)

278

Tabel 18

Hasil Analisis Working Capital total Asset Ratio (X1) Periode 2010-2014 Tahun X1 X1M Proporsi XS Proporsi XD Analisis Kategori Ratio Keuangan 2010 -0,0857 -0,0970 0,9696 0,4102 X1> X1M X1< XD Bermasalah 2011 -0,1713 -0,0970 0,9696 0,4102 X1< X1M X1< XD Sangat Bermasalah 2012 -0,1433 -0,0970 0,9696 0,4102 X1< X1M X1< XD Sangat Bermasalah 2013 -0,0518 -0,0970 0,9696 0,4102 X1 > X1M X1< XD Bermasalah 2014 -0,0328 -0,0970 0,9696 0,4102 X1>X1M X1 < XD Bermasalah Dengan menggunakan skor nilai jenjang, total skor yang diperoleh adalah

sebesar 40 % dan selanjutnya

digambarkan linier continum. Sangat Bermasalah Sedikit Tidak Bermasalah Bermasalah Bermasalah

25,00 % 43,75 % 62,50 % 81,25 % 100,00%

40,00 %

Berdasarkan analisis linier

continum, Working Capital to Total Assets Ratio dapat dikategorikan sangat bermasalah. Hal ini disebabkan nilai modal kerja negatif. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya hasil ini dapat diabaikan karena nilai negatif berarti perusahaan telah berhasil menjual pulsa elektronik dalam jumlah yang besar.

Retained Earning to Total Assets Ratio

(X2)

Tabel 19

Hasil Analisis Retained Earning to Total Assets Ratio (X2) Periode 2010-2014 Tahun X2 X2M Proporsi XS Proporsi XD Analisis Kategori Ratio Keuangan 2010 0,2021 0,2073 0,9696 0,4102 X2 < X2M X2< XD Sangat Bermasalah 2011 0,2383 0,2073 0,9696 0,4102 X2 > X2M X2< XD Bermasalah 2012 0,2556 0,2073 0,9696 0,4102 X2> X2M X2< XD Bermasalah 2013 0,2226 0,2073 0,9696 0,4102 X2> X2M X2< XD Bermasalah 2014 0,1179 0,2073 0,9696 0,4102 X2 <X2M X2<XD Sangat Bermasalah Dengan menggunakan skor nilai jenjang, total skor yang diperoleh adalah

sebesar 40 % dan selanjutnya

digambarkan linier continum. Sangat Bermasalah Sedikit Tidak Bermasalah Bermasalah Bermasalah

25,00 % 43,75 % 62,50 % 81,25 % 100,00%

40,00 %

Berdasarkan analisis linier

continum, Retained Earning to Total Assets Ratio dapat dikategorikan sangat bermasalah. Artinya retained earning yang diperoleh yang akan digunakan untuk investasi jumlahnya sangat kecil dibandingkan dengan jumlah aset yang dimiliki.

Earning Before Interest and Tax to

Total Assets (X3)

Tabel 20

Hasil Analisis Earning Before Interest and Tax to Total Assets Ratio

(X3)Periode 2010-2014 Tahun X3 X3M Proporsi XS Proporsi XD Analisis Kategori Ratio Keuangan 2010 0,1895 0,0968 0,9696 0,4102 X3 > X3M X3< XD Sangat Bermasalah 2011 0,1240 0,0968 0,9696 0,4102 X3> X3M X3< XD Sangat Bermasalah 2012 0,1228 0,0968 0,9696 0,4102 X3> X3M X3< XD Bermasalah 2013 0,0412 0,0968 0,9696 0,4102 X3< X3M X3< XD Sangat Bermasalah 2014 0,0067 0,0968 0,9696 0,4102 X3< X3M X3< XD Sangat Bermasalah Dengan menggunakan skor nilai jenjang, total skor yang diperoleh adalah

sebesar 30 % dan selanjutnya

digambarkan linier continum.

Sangat Bermasalah Sedikit Tidak Bermasalah Bermasalah Bermasalah

25,00 % 43,75 % 62,50 % 81,25 % 100,00%

30,00 %

Berdasarkan analisis linier

continum, Earning Before Interest and Tax to Total Assets Ratio dapat

dikategorikan sangat bermasalah.

Artinya PT. XL Axiata tidak berhasil memperoleh Earning Before Interest and Tax yang memadai, dimana jumlahnya

(12)

279

sangat kecil dibandingkan total aset yang dimiliki.

Market Value of Equity to Total Debt

(X4)

Tabel 21

Hasil Analisis Market Value of Equity to Total Debt Ratio (X4) Periode 2010-2014 Tahun X4 X4M Proporsi XS Proporsi XD Analisis Kategori Ratio Keuangan 2010 2,9024 2,0278 0,9696 0,4102 XX4> X4M 4> XS Tidak Bermasalah 2011 2,2054 2,0278 0,9696 0,4102 X4 > X4M X4> XS Tidak Bermasalah 2012 2,4196 2,0278 0,9696 0,4102 X4> X4M X4> XS Tidak Bermasalah 2013 1,7768 2,0278 0,9696 0,4102 X4< X4M X4>XS Bermasalah 2014 0,8346 2,0278 0,9696 0,4102 X4<X4M XD<X4<XS Sedikit Bermasalah Dengan menggunakan skor nilai jenjang , total skor yang diperoleh adalah

sebesar 85 % dan selanjutnya

digambarkan linier continum. Sangat Bermasalah Sedikit Tidak Bermasalah Bermasalah Bermasalah

25,00 % 43,75 % 62,50 % 81,25 % 100,00%

85,00 %

Berdasarkan analisis linier

continum, Market Value of Equity to Total Debt Ratio dapat dikategorikan tidak bermasalah. Artinya PT. XL Axiata berhasil meningkatkan market value of equity dan memaksimumkan shareholder wealth atau kesejahteraan pemegang saham.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

Tingkat kesehatan PT. Telkom dilihat dari nilai Z” Score dari tahun 2010 – 2014 termasuk kategori tidak bangkrut. Artinya PT. Telkom berada pada safe zone. Tingkat kesehatan PT. Indosat dilihat dari nilai Z” Score adalah tahun 2010 – 2012 berada pada gray

zone. Artinya perusahaan dapat

dikategorikan akan bangkrut atau tidak bangkrut. Sedangkan untuk tahun 2013 dan 2014 perusahaan berada pada

distress zone. Artinya diprediksi akan

bangkrut apabila tidak dapat

memperbaiki kinerja keuangannya

menjadi lebih baik. Tingkat kesehatan PT. XL Axiata dilihat dari nilai Z” Score adalah tahun 2010 – 2012 termasuk kaegori tidak bangkrut karena berada pada safe zone. Pada tahun 2013 perusahaan berada pada gray zone, sedangkan pada tahun 2014 berada pada distress zone.

Rasio keuangan yang sangat

bermasalah pada PT. Telkom adalah Earning Before Interest and Tax to Total Assets. Rasio keuangan yang sangat bermasalah pada PT. Indosat adalah Retained Earning to Total Assets dan Earning Before Interest and Tax to Total Assets. Rasio keuangan yang sangat bermasalah pada PT. XL Axiata adalah Retained Earning to Total Assets dan Earning Before Interest and Tax to Total Assets.

Untuk ketiga perusahaan

disarankan agar dapat melakukan inovasi dan produk diferensiasi agar memiliki keunikan tersendiri yang pada akhirnya dapat meningkatkan penjualan. Dengan demikian rasio keuangan yang bermasalah dapat teratasi sehingga perusahaan akan berada pada Safe zone dan terhindar dari prediksi kebangkrutan. DAFTAR PUSTAKA

Adnan, Muhammad Akhyar dan

Muhammad Imam Taufiq.2001. “Analisis Ketepatan Prediksi

Metode Altman Terhadap

Terjadinya Likuidasi Pada

Lembaga Perbankan (Kasus

Likuidasi Perbankan di

Indonesia)”. Jurnal Akuntansi dan Auditing, Vol 5, No. 2, Desember. Altman, Edward I. dan Edith Hotchkiss.

2006, Corporate Financial

Distress and Bankcruptcy.Third Edition. USA, John Willey & Sons, Inc.

(13)

280

Basri, Faisal. 2003. Kasus bank Lippo: Momentum Pembenahan Institusi Korporasi dan Birokrasi. Jakarta. Brigham, Eugene dan Joel F. Houston.

2009. Fundamentals of Financial

Management (Dasar-Dasar

Manajemen Keuangan Edisi Ke sepuluh). Jakarta: Salemba Empat. Gitman, Lawrence J. 2006. Principle of

Managerial Finance. Boston U.S : Pearson International Edition Keown, Arthur, J., John D. Martin, J.

William Petty, dan David F. Scott, Jr., 2008. Financial Management

: Principles and Application,

Tenth Edition, Pearson Prentice Hall.

Ngabito, Reindel Zulfikar. 2006.

Penerapan Model Altman Z-Score Pada BUMN di Indonesia. Tesis. Penerbit : Universitas Indonesia.

Sugiyono.2009. Metode Penelitian

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :