1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Tunawicara merupakan ketidakmampuan seorang untuk berbicara. Penyandang tunawicara biasanya berkomunikasi menggunakan simbol-simbol tertentu. Seperti yang kita ketahui, penyandang tunawicara tidak hanya berkomunikasi dengan sesama penyandang tunawicara. Sudah sewajarnya, ada kalanya mereka berkomunikasi dengan orang normal bahkan yang bukan tergolong orang terdekat yang belum tentu memahami simbol yang mereka komunikasikan. Untuk itu, peneliti bermaksud untuk mengetahui bagaimana sebenarnya penyandang tunawicara memandang keterbatasannya saat dihadapkan dengan situasi yang mengharuskannya mengungkapkan pemikirannya, bahkan menunjukkan kemampuan yang Ia miliki melalui bahasa isyarat yang harus Ia gunakan, berdasarkan konsep diri yang mereka tanamkan dalam diri mereka.
William D. Brooks mendefinisikan konsep diri sebagai “those physical, social, and psychological perceptions of ourselves that we have derived from experiences and our interactions with others” (dalam Rakhmat, 2008: 99). Jadi, konsep diri merupakan penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri. Cara seseorang menilai dirinya sendiri atau konsep diri seseorang, akan sangat berpengaruh terhadap cara mereka berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain.
Konsep diri yang ditanamkan seseorang pada dirinya mengarahkan cara mereka menempatkan diri saat berhubungan atau berkomunikasi dengan orang lain secara interpersonal. Cara seseorang memandang dirinya akan mempengaruhi cara Ia bersikap atau lebih dikenal dengan nubuat yang dipenuhi sendiri; pembatasan keterbukaan dirinya terhadap orang lain atau bahkan terhadap dirinya sendiri; kepercayaan dirinya jika berhadapan dengan
2
orang lain; dan sikap selektifnya dalam mencari, menerima, bahkan dalam mengingat informasi yang Ia yang didapatkannya. Dalam penelitian ini, konsep diri dikaitkan dengan keharusan seorang penyandang tunawicara menggunakan bahasa isyarat dalam berkomunikasi.
Selanjutnya, dalam nubuat yang dipenuhi diri sendiri, kita mengetahui bahwa “melalui tindakan yang dilakukan oleh seseorang, kita akan mendapatkan gambaran mengenai bagaimana Ia membentuk konsep dirinya”. Kecenderungan konsep diri positif maupun negatif, dapat kita lihat dari bagaimana seseorang bersikap. Dalam penelitian ini, peneliti akan meneliti mengenai kecenderungan konsep diri ke arah positif atau negatif yang tertanam dalam diri siswi penyandang tunawicara melalui sepuluh tanda yang dinyatakan oleh William D. Brooks dalam Rakhmat (2008), yakni responsifitasnya terhadap kritik dan pujian, sikap hiperkritis, merasa tidak disenangi, dan sikap pesimisnya terhadap kompetisi, atau sebaliknya keyakinannya terhadap kemampuan mengatasi masalah, merasa setara dengan orang lain, merasa pantas menerima pujian untuk hal positif yang Ia lakukan, menyadari bahwa mereka tidak akan selalu disetujui masyarakat karena perbedaan karakter yang ada, mampu mengungkapkan kekurangan yang dimiliki dan mengubahnya. Ciri-ciri ini dikaitkan dengan keharusannya dalam menggunakan bahasa isyarat. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan dengan memanfaatkan kegiatan komunikasi interpersonal sebagai media penelitian konsep diri yang dimiliki subjek penelitian.
Berdasarkan jurnal “Penyesuaian Sosial Remaja Tuna Rungu yang Bersekolah di Sekolah Umum” oleh Dian Rachmawati Wasito, dkk., dinyatakan bahwa dalam penyesuaian diri dengan lingkungan normal, misalnya memasuki sekolah regular bagi penyandang tunawicara, dapat memicu rasa frustasi dan membuat mereka memiliki kematangan sosial yang rendah. Dalam jurnal ini terdapat tiga contoh kasus kecenderungan konsep diri positif maupun negatif penyandang tunawicara. Yang pertama, kasus Y yang merasa kesulitan dalam berkomunikasi karena yang selama ini dilakukan
3
adalah mengalihkan pembicaraan dengan menggunakan tulisan. Ia merasa dapat memahami pembicaraan orang lain dengan memahami gerak bibir, tidak merasa kesulitan menyesuaikan diri dan mampu mengikuti nilai sosial lingkungan dengan baik, namun memilih diam dan pasif pada lingkungan. Tetapi, saat wawancara dilakukan dengan significant others, ternyata Y cenderung dinilai memilih teman dalam bergaul, hanya mau berteman dengan beberapa orang saja. Kasus kedua, A, satu-satunya siswa tunarungu SMU 66 Jakarta, dinilai tidak minder dalam pergaulan dan tetap semangat dalam belajar, meskipun memiliki keterbatasan. Meskipun awalnya Ia takut tidak diterima lingkungan baru, dan pernah diremehkan serta dituduh mencontek, namun Ia membuktikan bahwa Ia dapat mengikuti pelajaran secara mandiri seperti siswa lain. Selanjutnya, pada kasus ketiga, AM, seorang model, yang dicemooh dan diejek saat memasuki sekolah umum karena Ia tidak mengerti apa yang dibicarakan, merasa sangat tertekan, sehingga mengakibatkannya menjadi anak tertutup dan rendah diri, lalu memilih pasif terhadap lingkungannya.
Berdasarkan ciri-ciri konsep diri positif dan ciri-ciri konsep diri negatif di atas, kasus pertama dan ketiga, menggambarkan kecenderungan konsep diri negatif, perasaan tidak diterima oleh orang lain membuat Y dan AM merasa tertekan dan memilih untuk menutup diri. Sedangkan pada kasus A, Ia cenderung membuktikan bahwa dirinya setara dengan orang lain, sehingga Ia tidak minder dalam pergaulan dan pendidikannya.
Menurut Marcel Danesi (2010) dalam bukunya Pesan, Tanda, dan Makna, isyarat dapat didefinisikan sebagai penggunaan tangan, lengan, dan kadang-kadang kepala untuk membuat tanda. Isyarat pada manusia bersifat produktif dan bervariasi. Untuk kasus dalam penelitian ini, isyarat yang dimaksud tentu saja difokuskan pada bahasa isyarat yang digunakan oleh penyandang tunawicara saat berkomunikasi.
4
Untuk lebih fokus, penelitian ini dilakukan pada siswi-siswi Sekolah Luar Biasa Negeri Cicendo Bandung. Sekolah ini beralih berstatus negeri terhitung mulai tanggal 2 Januari 2009 berdasarkan Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat No. 421.9/22256-Disdik dan diresmikan pada Kamis, 26 Februari 2009.
Sebagaimana anak normal, anak-anak penyandang tunawicara juga berhak mengenyam pendidikan secara formal. Sesuai dengan pernyataan dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1 yang menyatakan bahwa tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran. Ini dilanjutkan lagi dengan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) pada Pasal 5 ayat 1 yang menyatakan bahwa “Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu” dan ayat 2 yang menyatakan bahwa “Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial, berhak memperoleh pendidikan khusus”. Selanjutnya, pada Bab V bagian 11 pasal 32 ayat 1, dijelaskan lebih lanjut mengenai pendidikan khusus, yakni “Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa”.
Di Indonesia, sejarah perkembangan pendidikan luar biasa dimulai saat Belanda masuk ke Indonesia (1596-1942), sehingga sistem persekolahan yang diperkenalkan berorientasi barat. Untuk pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus atau penyandang cacat dibuka lembaga-lembaga khusus. Lembaga pertama untuk pendidikan anak tunanetra dan tunagrahita dimulai pada tahun 1927 di Bandung, sedangkan untuk tunarungu dimulai pada tahun 1930 yang juga terletak di Kota Bandung, yang sekarang dikenal dengan Luar Biasa Negeri Cicendo Bandung, yang merupakan SLB Tunarungu pertama di Indonesia bahkan Asia, dan memiliki program vokasional unggulan terutama untuk tata boga dan batik, dan sudah mendapatkan sertifikasi sistem manajemen mutu, dengan akreditasi sekolah A.
5
Pada 1996 SLB-B YP3ATR dijadikan dua sekolah, berdasarkan penelitian relawan VHO Tn. Frend yang menyatakan bahwa Tunarungu Murni tidak bisa digabungkan dengan Tunarungu Plus (Tunarungu Plus gangguan lain). Setelah mengalami beberapa kali pergantian nama dan merasa kekurangan kualitas maka sekolah ini dinegerikan.
SLBN Cicendo dikenal memiliki program vokalisasi unggulan. Salah satu program pengajaran di sekolah ini adalah program vokasional seperti tata boga, batik otomotif, komputer, dan keterampilan lokakarya. Karya siswa-siswi di sekolah inipun sudah banyak dipasarkan dan sering diikutkan untuk pameran bahkan tingkat Asia Tenggara. Namun, untuk produk makanan yang mereka produksi masih belum terlalu diterima oleh masyarakat Indonesia secara umum di pasar. Tetapi bagi beberapa instansi di Kota Bandung sudah sering melakukan pemesanan, selain itu untuk negara lain seperti Singapura, bahkan mereka sering memesan impor pangan dari sekolah ini.
Saat ini, meskipun dengan keterbatasan fisik, banyak prestasi yang dimiliki oleh siswa-siswi SLBN Cicendo seperti yang dinyatakan wakil kepala sekolah kesiswaan SLBN Cicendo, Ibu Dedeh Rohayati, diantaranya pada tiga tahun terakhir sekolah ini mendapatkan medali emas renang pada OSN, juara 1, 2, dan 3 desain web tingkat nasional di tahun yang berbeda, juara 1 tari jaipong tingkat nasional, juara 2 lomba pantomim tingkat nasional, pemenang bulu tangkis nasional, lomba atletik lari 100 meter, lempar lembing antartuna rungu, lomba modelling, juara 1 tata rias tingkat propinsi, dan sering menjadi tamu undangan untuk penampilan angklung dan tari merak di acara-acara nasional, yang tidak hanya diadakan di Bandung atau Jawa Barat, tetapi juga sampai ke Ibu Kota Jakarta.
Mengingat bahwa sekolah ini merupakan sekolah SLB tuna rungu pertama di Indonesia bahkan Asia, dan tetap mampu mempertahankan keberadaan dan prestasinya semenjak masa penjajahan hingga saat ini, didukung dengan
6
prestasi nasional dan internasional yang diraih siswa-siswinya semakin mendorong peneliti untuk mengadakan penelitian di sekolah ini.
Berhubung kondisi siswa pada SLBN Cicendo saat ini tidak ada penyandang tunawicara saja, maka penelitian dilakukan kepada siswi penyandang tunawicara sekaligus tunarungu. Tunarungu adalah seorang yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar baik sebagian atau seluruhnya yang diakibatkan oleh tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran sehingga anak tersebut tidak dapat menggunakan alat pendengarannya dalam kehidupan sehari-hari. (Murni Winarsih dalam Fidiawati, 2012)
Penelitian ini peneliti lakukan difokuskan hanya pada siswa perempuan saja. Hal ini dikarenakan remaja perempuan dinilai lebih dewasa daripada laki-laki pada usia yang sama, sehingga lebih mudah pula menerima keadaannya. Seperti hasil penelitian yang dilakukan di Newcastle University, kedewasaan yang lebih cepat ini karena pada dasarnya otak remaja perempuan mengalami kematangan lebih cepat daripada laki-laki sekitar 10 tahun. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cerebral Cortex ini menyatakan bahwa seiring bertambahnya usia, otak akan mengalami pengecilan. Ini dikarenakan pemangkasan beberapa koneksi yang tidak perlu sehingga pengolahan dan kerja otak lebih ramping dan efisien.
Menurut salah satu penelitinya, Dr. Marcus Kaiser, cara perkembangan otak yang demikian merupakan bagian dari proses belajar yang normal. Secara keseluruhan, otak masih berkembang, tetapi kehilangan koneksi seiring kedewasaan, ungkapnya, Jumat, 20 Desember 2013. Ini diibaratkan seperti saat berada di pesta dan semua orang berbicara, kita akan kesulitan berkonsentrasi, namun saat beberapa suara pergi, kita akan lebih mudah mendengarkan.
7
Para ilmuwan tersebut melakukan penelitian terhadap 121 orang yang berusia 4-40 tahun, dan mendapatkan bahwa pada anak perempuan, proses pemangkasan dimulai pada usia 10 tahun. Peneliti lainnya, Sol Lim mengatakan bahwa hilangnya konektivitas pada otak ini benar-benar membantu meningkatkan fungsi otak dengan reorganisasi jaringan lebih efisien, dan membantu otak untuk lebih fokus pada informasi penting.
Kedewasaan sangat diuji ketika kita memiliki keterbatasan, karena seseorang bukan hanya dihadapkan pada penerimaan dirinya di hadapan orang lain, tetapi juga penerimannya terhadap keterbatasan dan kondisi yang dimilikinya sendiri. Keterbatasan yang dimiliki penyandang tunawicara terkadang menjadikannya dipandang rendah atau diragukan oleh orang lain. Hal ini memungkinkan munculnya penilaian negatif terhadap dirinya sendiri. Berdasarkan hal ini, peneliti bermaksud untuk mengetahui kecenderungan konsep diri, cara berkomunikasi, serta perasaan seorang komunikator tunawicara dalam menyampaikan pemikirannya saat mengharuskannya menggunakan bahasa isyarat kepada orang normal.
Berdasarkan penjabaran sebelumnya, maka peneliti bermaksud mengulas kembali secara ringkas tentang latar belakang, bahwasanya penelitian ini berangkat dari fenomena bahwa dengan keterbatasan yang mereka miliki siswa-siswi penyandang tunarungu dan tuna wicara tetap mampu memiliki prestasi sangat bagus. Untuk itu peneliti bermaksud untuk mengetahui kecenderungan konsep diri positif atau negatif yang tertanam pada mereka. Penelitian ini dilakukan pada penyandang tunawicara dikarenakan konsep diri disini dikaitkan dengan keharusannya menggunakan bahasa isyarat saat menyampaikan pemikirannya dalam komunikasi. Penelitian dilakukan di sekolah dikarenakan pernyataan mengenai hak untuk memperoleh pendidikan yang sama yang dinyatakan pada UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) pada Pasal 5 ayat 2 mengenai hak untuk mendapatkan pendidikan khusus bagi warga yang memiliki keterbatasan. Selanjutnya, pemilihan SLB Negeri Cicendo dikarenakan sekolah ini
8
merupakan sekolah SLB tuna rungu tertua di Asia yang tetap mampu mempertahankan prestasinya hingga saat ini. Penelitian hanya dilakukan kepada siswi saja dikarenakan berdasarkan penelitian yang dilakukan di Newcastle University, tingkat kedewasaan perempuan lebih baik daripada laki-laki meskipun mereka berada pada usia yang sama, dan kedewasaan ini akan semakin diuji dengan keterbatasan yang mereka miliki. Hal ini lah yang melatarbelakangi bahasan skripsi peneliti.
1.2 Fokus Penelitian
Penelitian yang peneliti lakukan berfokus pada pembahasan mengenai “Bagaimana kecenderungan konsep diri positif dan negatif siswi-siswi penyandang tunawicara yang memiliki keterbatasan fisik dalam pergaulan sehari-hari?”
Adapun pertanyaan-pertanyaan inti yang peneliti ajukan untuk melihat konsep diri subjek penelitian berpedoman kepada ciri-ciri konsep diri positif dan negatif Brooks dan Emmert, yakni mengenai:
1. Bagaimana subjek penelitian memandang dirinya sendiri? 2. Bagaimana kecenderungan konsep diri subjek penelitian?
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kecenderungan konsep diri seorang penyandang tunawicara dan menganalisa kecenderungan konsep diri tersebut kearah positif atau negatif untuk kemudian diarahkan lagi ke konsep diri yang semakin positif.
Adapun penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk:
1. Mengetahui pandangan siswi penyendang tunawicara terhadap dirinya sendiri.
2. Menganalisis kecenderungan konsep diri (positif dan negatif) penyandang tunawicara berdasarkan ciri-ciri dari Brooks dan Emmert.
9 1.4 Manfaat Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, peneliti berharap tulisan ini dapat memberikan manfaat untuk beberapa pihak, terutama berhubungan dengan pembentukan konsep diri bagi penyandang tunawicara.
a. Secara teoritis
1. Dapat dimanfaatkan untuk penelitian selanjutnya, sebagai gambaran mengenai konsep diri orang yang memiliki cacat fisik.
2. Hasil yang didapatkan dari data mengenai kecenderungan positif maupun negatif ini dapat dijadikan referensi bagi tenaga pengajar penyandang tunawicara mengenai konsep diri dilihat dari sudut pandang psikologi komunikasi.
3. Menjadi referensi untuk penanaman konsep diri positif bagi pihak yang berhubungan dengan subjek penelitian.
b. Secara praktis
1. Bagi peneliti, sebagai pengaplikasian ilmu dengan kondisi lapangan, serta wujud kepedulian terhadap lingkungan sekitar
2. Bagi orang tua dan keluarga penyandang tunawicara, sebagai gambaran mengenai kecenderungan konsep diri subjek penelitian sebagai penyandang tunawicara, dan konsep diri yang harus ditanamkan kepada subjek penelitian kedepannya.
3. Bagi tenaga pengajar penyandang tunawicara, sebagai pengingat pentingnya membangun konsep diri yang baik dalam diri para penyandang tunawicara.
1.5 Tahap Penelitian
Metode penelitian yang peneliti gunakan adalah metode penelitian kualitatif, dengan tahapan seperti berikut:
10 Gambar 1.1 Tahapan Penelitian
1.6 Lokasi dan Waktu Penelitian 1.6.1 Lokasi Penelitian
Penelitian yang akan peneliti lakukan bertempat di Sekolah Luar Biasa Negeri Cicendo Bandung. Sekolah ini peneliti pilih dikarenakan peneliti menilai bahwa pengalaman untuk menanamkan konsep diri yang baik sudah cukup matang dari pihak sekolah mengingat sekolah ini sudah ada semenjak zaman penjajahan Belanda.
1.6.2 Waktu Penelitian Tabel 1.1 Waktu Penelitian No Tahapan Bulan Des 2015 Jan 2016 Feb 2016 Mar 2016 Apr 2016 Mei 2016 Jun 2016 1. Persiapan penyusunan proposal skripsi Bab I sampai Bab Mengumpulkan data Menganalisis data Memvalidasi data Kesimpulan dan saran Menentukan masalah dan fokus penelitian Menentukan sumber data Menentukan topik penelitian
11 III 2. Pengumpulan data sekunder berupa data studi penelitian terdahulu, dan melakukan observasi tahap awal, serta pengumpulan data informan 3. Pengumpulan data secara primer kepada informan melalui observasi dan wawancara mendalam secara interpersonal mengenai konsep diri 4. Penyelesaian data meliputi kesimpulan dan saran