• Tidak ada hasil yang ditemukan

Isi Juknis Malaria

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Isi Juknis Malaria"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

PETUNJUK TEKNIS

PETUNJUK TEKNIS

PELAKSANAAN PENYELIDIKAN

PELAKSANAAN PENYELIDIKAN

EPIDEMIOLOGI KASUS MALARIA

EPIDEMIOLOGI KASUS MALARIA

DAN PEMETAAN WILAYAH FOKUS

DAN PEMETAAN WILAYAH FOKUS

(DAERAH ELIMINASI DAN

(DAERAH ELIMINASI DAN

PEMELIHARAAN)

PEMELIHARAAN)

2017

(2)
(3)

BAB I

BAB I

PENDAHULUAN

PENDAHULUAN

A.

A. DASAR DASAR HUKUMHUKUM

Pelaksanaan

Pelaksanaan penyelidikan penyelidikan epidemiologi epidemiologi malaria malaria mengacu mengacu kepada kepada dasardasar hukum sebagai berikut:

hukum sebagai berikut: 1.

1. Undang-Undang Undang-Undang Nomor Nomor 4 T4 Tahun 1984 ahun 1984 tentang Wtentang Wabahabah 2.

2. Undang-Undang Undang-Undang Nomor Nomor 36 36 TTahun ahun 2009 2009 tentang tentang KesehatanKesehatan 3.

3. Undang-Undang Undang-Undang Nomor Nomor 36 T36 Tahun 2014 ahun 2014 tentang Ttentang Tenaga Kenaga Kesehatanesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 298, (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 298, T

Tambahan Lembaran Negara ambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 56Republik Indonesia Nomor 5607);07); 4.

4. PP No. PP No. 40 T40 Tahun 1991 tentang ahun 1991 tentang Penanggulangan WPenanggulangan WabahPenyakitabahPenyakit Menular

Menular 5.

5. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 45 TPeraturan Menteri Kesehatan Nomor 45 Tahun 2014 Tentangahun 2014 Tentang Penyelenggaraan Surveilans Kesehatan Peraturan Menteri Kesehatan Penyelenggaraan Surveilans Kesehatan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 374/Menkes/Per/III/2010 tentang Pengendalian Vektor;

Nomor 374/Menkes/Per/III/2010 tentang Pengendalian Vektor; 6.

6. Keputusan Menteri Keputusan Menteri Kesehatan Nomor Kesehatan Nomor 1479/Menkes/SK/X/20031479/Menkes/SK/X/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak

Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular TerpMenular Terpadu;adu; 7.

7. Peraturan Peraturan Menteri Menteri Kesehatan Kesehatan Nomor Nomor 1144/MENKES/PER/VIII/20101144/MENKES/PER/VIII/2010 tentang Organisasi dan

tentang Organisasi dan TTata Kerja Kementerian ata Kerja Kementerian KesehatanKesehatan 8.

(4)

B.

B. LATLATAR AR BELAKABELAKANGNG ELAKANGELAKANG

Malaria

Malaria adalah adalah salah salah satu satu penyakit penyakit menular menular yang yang masih masih menjadi menjadi masalahmasalah kesehatan masyarakat. Penyakit yang berdampak pada penurunan kesehatan masyarakat. Penyakit yang berdampak pada penurunan kual-itas sumber daya manusia ini mempunyai pengaruh yang kuat itas sumber daya manusia ini mempunyai pengaruh yang kuat terha-dap munculnya berbagai masalah sosial dan ekonomi. Berdasarkan data dap munculnya berbagai masalah sosial dan ekonomi. Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia atau

Badan Kesehatan Dunia atau World Health OrganizationWorld Health Organization  (WHO) tahun  (WHO) tahun 2015 terdapat sekitar 212 juta kasus baru malaria, dan

2015 terdapat sekitar 212 juta kasus baru malaria, dan menyebabkan ke-menyebabkan ke-matian sekitar 429 ribu orang di seluruh dunia. Upaya penanggulangan matian sekitar 429 ribu orang di seluruh dunia. Upaya penanggulangan malaria terus dilakukan, dan sejauh ini telah memperlihatkan hasil yang malaria terus dilakukan, dan sejauh ini telah memperlihatkan hasil yang cukup signi

cukup signififikan. Sasarankan. Sasaran Millenium Development GoalsMillenium Development Goals  (MDGs) untuk  (MDGs) untuk malaria, menekan insiden malaria di seluruh dunia tahun 2015 telah malaria, menekan insiden malaria di seluruh dunia tahun 2015 telah ter-capai dengan penurunan insiden malaria sebesar 37% di seluruh dunia capai dengan penurunan insiden malaria sebesar 37% di seluruh dunia sejak tahun 2000. Sementara itu, tingkat kematian akibat malaria di sejak tahun 2000. Sementara itu, tingkat kematian akibat malaria di se-luruh dunia antara tahun 2000 – 2015 berhasil ditekan sampai 60%, dan luruh dunia antara tahun 2000 – 2015 berhasil ditekan sampai 60%, dan sekitar 6,2 juta jiwa bisa diselamatkan berkat upaya

sekitar 6,2 juta jiwa bisa diselamatkan berkat upaya scale-upscale-up  intervensi  intervensi malaria yang dilakukan oleh seluruh negara di dunia.

malaria yang dilakukan oleh seluruh negara di dunia. Program

Program malaria malaria telah telah mencapai mencapai indikatorindikator Millenium Development GoalsMillenium Development Goals (MDGs) selanjutnya malaria masuk dalam indikator

(MDGs) selanjutnya malaria masuk dalam indikator Sustainable Develop-Sustainable Develop-ment Goals

ment Goals  (SDGs) dalam target 3.3 mengakhiri epidemi AIDS, tuber-  (SDGs) dalam target 3.3 mengakhiri epidemi AIDS, tuber-kulosis, malaria, dan penyakit tropis yang terabaikan serta memerangi kulosis, malaria, dan penyakit tropis yang terabaikan serta memerangi hepatitis, penyakit bersumber air, dan penyakit menular lainnya.

hepatitis, penyakit bersumber air, dan penyakit menular lainnya. Pada

Pada tahun tahun 2016 2016 sejumlah sejumlah 178,7 178,7 juta juta penduduk penduduk Indonesia Indonesia (69%) (69%) telahtelah hidup di daerah bebas

hidup di daerah bebas penularan malaria, sejumlah penularan malaria, sejumlah 63,6 (25%) juta pen-63,6 (25%) juta pen-duduk hidup didaerah risiko rendah penularan malaria, sisanya yang duduk hidup didaerah risiko rendah penularan malaria, sisanya yang hid-up didaerah risiko sedang dan tinggi. Dibandingkan dengan tahun up didaerah risiko sedang dan tinggi. Dibandingkan dengan tahun se-belumnya terjadi peningkatan persentase, seiring dengan

belumnya terjadi peningkatan persentase, seiring dengan jumlah daerahjumlah daerah kabupaten/kota yang telah mencapai eliminasi.Pengendalian Penyakit kabupaten/kota yang telah mencapai eliminasi.Pengendalian Penyakit malaria telah menunjukkan pencapaian program yang cukup baik. malaria telah menunjukkan pencapaian program yang cukup baik. An-  An-nual Parasite Incidence

nual Parasite Incidence (API) yang menjadi indikator keberhasilan upaya (API) yang menjadi indikator keberhasilan upaya penanggulangan malaria cenderung menurun dari tahun ke tahun. penanggulangan malaria cenderung menurun dari tahun ke tahun. Se-cara nasional kasus malaria selama tahun 2011-2016 cenderung cara nasional kasus malaria selama tahun 2011-2016 cenderung menu-run dimana angka API pada tahun 2011

(5)

(422.447 kasus) menjadi 0.84 per 1000

(422.447 kasus) menjadi 0.84 per 1000 (218.450 kasus) pada tahun 2016.(218.450 kasus) pada tahun 2016. Program

Program Pengendalian Pengendalian malaria malaria difokuskan difokuskan untuk untuk mencapai mencapai eliminasi eliminasi ma-

ma-laria yang dilakukan secara menyeluruh dan terpadu oleh pemerintah,

laria yang dilakukan secara menyeluruh dan terpadu oleh pemerintah,

pemerintah daerah bersama mitra kerja pembangunan dan masyarakat.

pemerintah daerah bersama mitra kerja pembangunan dan masyarakat.

Eliminasi malaria tersebut dilakukan secara bertahap sampai seluruh

Eliminasi malaria tersebut dilakukan secara bertahap sampai seluruh

wilayah Indonesia pada tahun 203

wilayah Indonesia pada tahun 2030. Pentahapan eliminasi terdiri dari ta-0. Pentahapan eliminasi terdiri dari

ta-hap pemberantasan, pre-eliminasi, eliminasi dan pemeliharaan.

hap pemberantasan, pre-eliminasi, eliminasi dan pemeliharaan.

Masing-masing tahapan mempunyai tujuan dan sasaran yang berbeda. Kegiatan

masing tahapan mempunyai tujuan dan sasaran yang berbeda. Kegiatan

surveilans pun disesuaikan berdasarkan tahapan eliminasi tersebut.

surveilans pun disesuaikan berdasarkan tahapan eliminasi tersebut.

Sur-veilans

veilans merupakan merupakan hal yang hal yang sangat penting sangat penting untuk ditingkatkan untuk ditingkatkan dalamdalam

pencapaian eliminasi karena salah satu syarat eliminasi adalah adanya

pencapaian eliminasi karena salah satu syarat eliminasi adalah adanya

surveilans yang baik. Dalam rangka menuju eliminasi malaria sesuai

surveilans yang baik. Dalam rangka menuju eliminasi malaria sesuai

dengan Kepmenkes nomor 293 tahun 2009 daerah yang telah masuk

dengan Kepmenkes nomor 293 tahun 2009 daerah yang telah masuk

tahap eliminasi perlu dilaksanakan kegiatan penyelidikan epidemiologi

tahap eliminasi perlu dilaksanakan kegiatan penyelidikan epidemiologi

terhadap setiap kasus positif malaria

terhadap setiap kasus positif malaria sehingga dapat dilaksanakan upayasehingga dapat dilaksanakan upaya pencegahan penularan

pencegahan penularan dan pengendalian dan pengendalian yang tepat.yang tepat.

C. TUJUAN

C. TUJUAN ELEL

1.

1. TTujuan ujuan UmumUmum

T

Terselenggaranya erselenggaranya kegiatan kegiatan penyelidikan penyelidikan epidemiologi epidemiologi pada pada setiapsetiap kasus positif malaria terutama di daerah yang telah masuk tahap kasus positif malaria terutama di daerah yang telah masuk tahap eliminasi dan pemeliharaan

eliminasi dan pemeliharaan 2.

2. TTujuan ujuan KhususKhusus

T

(6)

D.

D. DEFINISI DEFINISI OPERASIONALOPERASIONAL

1.

1. PenyelPenyelidikan Epidemiolidikan Epidemiologi Malariaogi Malaria  adalah rangkaian kegiatan  adalah rangkaian kegiatan investigasi dan pengamatan untuk memperoleh informasi yang investigasi dan pengamatan untuk memperoleh informasi yang cepat dan akurat tentang sumber penularan malaria, klasi

cepat dan akurat tentang sumber penularan malaria, klasififikasi kasus,kasi kasus, luasnya penularan, kebiasaan (perilaku) masyarakat yang berkaitan luasnya penularan, kebiasaan (perilaku) masyarakat yang berkaitan dengan proses

dengan proses penularan malaria dan penularan malaria dan situasi vektor situasi vektor malaria sertamalaria serta lingkungan tempat perkembangbiakannya

lingkungan tempat perkembangbiakannya terutama pada tahapterutama pada tahap

eliminasi dan pemeliharaan yang diperkirakan masih dapat terjadi

eliminasi dan pemeliharaan yang diperkirakan masih dapat terjadi

risiko penularan malaria untuk dilakukan penanggulangan yang

risiko penularan malaria untuk dilakukan penanggulangan yang

cepat dan akurat guna mencegah kemungk

cepat dan akurat guna mencegah kemungkinan terjadinya penularaninan terjadinya penularan malaria.

malaria. 2.

2. PenyelPenyelidikan idikan KasusKasus adalah kegiatan wawancara kasus malariaadalah kegiatan wawancara kasus malaria menggunakan formulir penyelidikan kasus malaria untuk mengetahui menggunakan formulir penyelidikan kasus malaria untuk mengetahui klasi

klasififikasi asal penularan kasus.kasi asal penularan kasus. 3.

3. Kasus Kasus tersangka tersangka malaria malaria (malaria (malaria suspek)suspek) adalah seseorang yangadalah seseorang yang tinggal di daerah endemis malaria atau adanya riwayat bepergian tinggal di daerah endemis malaria atau adanya riwayat bepergian ke daerah endemis malaria dalam empat minggu terakhir sebelum ke daerah endemis malaria dalam empat minggu terakhir sebelum menderita sakit dengan gejala demam atau riwayat demam dalam menderita sakit dengan gejala demam atau riwayat demam dalam 48 jam terakhir

48 jam terakhir 4.

4. Kasus Kasus malaria malaria konkonfifirmasi ataurmasi atau disebut kasus malaria positif disebut kasus malaria positif adalahadalah seseorang dengan hasil pemeriksaan sediaan darah positif malaria seseorang dengan hasil pemeriksaan sediaan darah positif malaria berdasarkan pengujian mikroskopis ataupun

berdasarkan pengujian mikroskopis ataupun rapid diagnostikrapid diagnostik test 

test  /RDT /RDT. . Kasus Kasus malaria malaria konkonfifirmasi terbagi menjadi kasus malariarmasi terbagi menjadi kasus malaria indigenous, kasus malaria impor dan kasus malaria kon

indigenous, kasus malaria impor dan kasus malaria konfifirmasirmasi asimtomatis

asimtomatis 5. Kasus

5. Kasus Indigenous Indigenous  adalah kasus yang penularannya terjadi diadalah kasus yang penularannya terjadi di wilayah setempat (Kabupaten/Kota) dan tidak ada bukti langsung wilayah setempat (Kabupaten/Kota) dan tidak ada bukti langsung berhubungan dengan

berhubungan dengan kasus imporkasus impor. . Secara teknis, Secara teknis, kasus malariakasus malaria indigenous

indigenous  adalah kasus tersangka malaria yang tidak memiliki  adalah kasus tersangka malaria yang tidak memiliki riwayat bepergian ke daerah endemis

riwayat bepergian ke daerah endemis malaria dalam empat minggumalaria dalam empat minggu sebelum sakit dan hasil pemeriksaan sediaan darah adalah positif sebelum sakit dan hasil pemeriksaan sediaan darah adalah positif malaria

(7)

6.

6. Kasus Kasus ImporImpor adalah kasus yang penularannya terjadi di luar wilayahadalah kasus yang penularannya terjadi di luar wilayah Kabupaten/Kota. Secara teknis kasus malaria impor adalah kasus Kabupaten/Kota. Secara teknis kasus malaria impor adalah kasus tersangka malaria dengan riwayat bepergian ke daerah endemis tersangka malaria dengan riwayat bepergian ke daerah endemis malaria dalam 4 minggu terakhir sebelum menderita sakit dan hasil malaria dalam 4 minggu terakhir sebelum menderita sakit dan hasil pemeriksaan sediaan darah adalah positif malaria

pemeriksaan sediaan darah adalah positif malaria 7.

7. Kasus Kasus RelapsRelaps adalah kasus malaria yang kambuh kembali tanpa ada adalah kasus malaria yang kambuh kembali tanpa ada gigitan nyamuk akibat adanya plasmodium dalam hati yang dorman. gigitan nyamuk akibat adanya plasmodium dalam hati yang dorman. 8. Kasus

8. KasusInduced Induced adalah kasus malaria yang penularannya tidak melaluiadalah kasus malaria yang penularannya tidak melalui nyamuk (melalui plasenta dari ibu ke janin dan transfusi darah)

nyamuk (melalui plasenta dari ibu ke janin dan transfusi darah) 9.

9. Kasus Kasus IndeksIndeks merupakan Kasus pertama yang menjadi sumbermerupakan Kasus pertama yang menjadi sumber penularan malaria

penularan malaria 10.

10. Survei Survei Kontak Kontak adalahadalah adalah bagian dari kegiatan penyelidikanadalah bagian dari kegiatan penyelidikan epidemiologi

epidemiologi berupa berupa pemeriksaan pemeriksaan malaria pmalaria pada kada kelompok yangelompok yang memiliki risiko yang sama dengan kasus malaria seperti orang yang memiliki risiko yang sama dengan kasus malaria seperti orang yang tinggal satu rumah, tinggal berdekatan, atau bepergian bersama tinggal satu rumah, tinggal berdekatan, atau bepergian bersama untuk mengetahui luasnya penularan.

untuk mengetahui luasnya penularan. 11.

11. Penyelidikan FPenyelidikan Faktor aktor RisikoRisiko adalah kegiatan pengamatan faktor risikoadalah kegiatan pengamatan faktor risiko lingkungan maupun perilaku masyarakat yang berhubungan dengan lingkungan maupun perilaku masyarakat yang berhubungan dengan terjadinya penularan malaria.

terjadinya penularan malaria. 12. Wilayah Reseptif 

12. Wilayah Reseptif  adalah wilayah yang memiliki vektor malariaadalah wilayah yang memiliki vektor malaria dengan kepadatan tinggi dan terdapat faktor lingkungan serta iklim dengan kepadatan tinggi dan terdapat faktor lingkungan serta iklim yang menunjang terjadinya penularan malaria

yang menunjang terjadinya penularan malaria 13. Fokus Malaria

13. Fokus Malaria adalah daerah reseptif malariaadalah daerah reseptif malaria 14. Fokus Aktif 

14. Fokus Aktif adalah daerah reseptif yang masih terdapat penularanadalah daerah reseptif yang masih terdapat penularan setempat (kasus

(8)

17. Non Fokus

17. Non Fokus adalah wilayah yang  adalah wilayah yang tidak reseptif.tidak reseptif. 18. Wilayah vulnerabel malaria

18. Wilayah vulnerabel malaria adalah wilayah yang rawan terjadinyaadalah wilayah yang rawan terjadinya penularan malaria

penularan malaria karena berdekatan karena berdekatan dengan wilayah dengan wilayah yang masihyang masih terjadi penularan malaria, atau masih tingginya kasus impor dan/  terjadi penularan malaria, atau masih tingginya kasus impor dan/  atau masih tingginya vektor infektif yang masuk ke wilayah ini

atau masih tingginya vektor infektif yang masuk ke wilayah ini 19.

19. Daerah Daerah endemisendemismalaria adalah wilayah puskesmas, atau kabupaten/ malaria adalah wilayah puskesmas, atau kabupaten/  kota yang masih terjadi penularan malaria. Secara teknis daerah kota yang masih terjadi penularan malaria. Secara teknis daerah endemis malaria diartikan

endemis malaria diartikan sebagai wilayah seluas Anak-Desa/Dusun,sebagai wilayah seluas Anak-Desa/Dusun, Desa, Puskesmas/Kecamatan, kabupaten/kota atau provinsi yang Desa, Puskesmas/Kecamatan, kabupaten/kota atau provinsi yang mempunyai fokus malaria aktif 

mempunyai fokus malaria aktif  20.

20. Eliminasi Eliminasi MalariaMalariaadalah suatu upaya untuk menghentikan penularanadalah suatu upaya untuk menghentikan penularan malaria setempat (

malaria setempat (indigenousindigenous) dalam satu wilayah geogra) dalam satu wilayah geografifis tertentu,s tertentu, dan bukan berarti tidak ada kasus malaria impor serta sudah tidak dan bukan berarti tidak ada kasus malaria impor serta sudah tidak ada vektor malaria di wilayah tersebut sehingga tetap dibutuhkan ada vektor malaria di wilayah tersebut sehingga tetap dibutuhkan kegiatan kewaspadaan untuk mencegah penularan

kegiatan kewaspadaan untuk mencegah penularan kembalikembali 21. Tahap Eliminasi

21. Tahap Eliminasi adalah wilayah yang telah mencapai API Kurang dariadalah wilayah yang telah mencapai API Kurang dari 1 per 1000 penduduk

1 per 1000 penduduk 22. Tahap Pemeliharaan

22. Tahap Pemeliharaan adalah wilayah yang telah mendapat sertiadalah wilayah yang telah mendapat sertififikasikasi eliminasi malaria

eliminasi malaria 23.

23. Kejadian Kejadian luar luar biasa biasa (KLB) (KLB) malariamalaria adalah timbulnya atauadalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kematian penyakit meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kematian penyakit malaria yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah malaria yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. Secara teknis KLB malaria berbeda dalam kurun waktu tertentu. Secara teknis KLB malaria berbeda setiap daerah berdasarkan tahapan eliminasi malaria :

setiap daerah berdasarkan tahapan eliminasi malaria : a.

a. Pada Pada daerah daerah tahap elimtahap eliminasi, inasi, terjadi terjadi KLB KLB malaria malaria jika :jika : 1)

1) TTerjadi erjadi peningkatan jumlah peningkatan jumlah kasus kasus indigenous daindigenous dalam lam sebulansebulan sebanyak 2 kali atau lebih dibandingkan dengan salah satu sebanyak 2 kali atau lebih dibandingkan dengan salah satu keadaan dibawah ini :

keadaan dibawah ini : •

• Jumlah Jumlah kasuskasus indigenousindigenous  dalam sebulan pada bulan  dalam sebulan pada bulan sebelumnya pada tahun yang sama

(9)

• Jumlah Jumlah kasuskasus indigenousindigenous  dalam sebulan, pada bulan  dalam sebulan, pada bulan yang sama tahun sebelumnya

yang sama tahun sebelumnya •

• Jumlah Jumlah kasuskasus indigenousindigenous  tahun berjalan melebihi  tahun berjalan melebihi maksimum pada pola maksimum dan minimum

maksimum pada pola maksimum dan minimum b.

b. Pada daerah tahap pemPada daerah tahap pemeliharaan, terjadi KLB malaria eliharaan, terjadi KLB malaria jikajika ditemukan satu atau lebih kasus malaria

(10)

BAB II

BAB II

RUANG LINGKUP

RUANG LINGKUP

A. SASARAN A. SASARAN Kegiatan

Kegiatan penyelidikan penyelidikan epidemiologi epidemiologi dilakukan dilakukan terhadap terhadap kasus kasus positifpositif malaria pada semua tahapan eliminasi. Kegiatan pada masing-masing malaria pada semua tahapan eliminasi. Kegiatan pada masing-masing tahap sebagai berikut:

tahap sebagai berikut: 1.

1. TTahap ahap Pemberantasan Pemberantasan dan dan Pra Pra EliminasiEliminasi Penyelidikan

Penyelidikan epidemiologi epidemiologi dilakukan dilakukan terhadap terhadap kasus kasus positif positif malariamalaria berdasarkan adanya indikasi

berdasarkan adanya indikasi kejadian luar biasa mkejadian luar biasa malaria yang terjadialaria yang terjadi pada suatu wilayah (unit epidemiologi).

pada suatu wilayah (unit epidemiologi). 2.

2. TTahap ahap EliminasEliminasi i dan dan PemeliharaanPemeliharaan Penyelidikan

Penyelidikan epidemiologi epidemiologi dilakukan dilakukan bila bila ditemukan ditemukan kasus kasus positifpositif malaria

malaria untuk menentukan asal atau sumuntuk menentukan asal atau sumber penularan serta strate-ber penularan serta strate-gi penanggulangannya.

gi penanggulangannya. B.

B. KERANGKA KERANGKA KONSEPKONSEP

Wilayah

Wilayah yang yang telah telah masuk masuk tahap tahap eliminasi eliminasi dan dan pemeliharaan pemeliharaan seluruhseluruh kasus positif yang ditemukan harus dilakukan penyelidikan kasus positif yang ditemukan harus dilakukan penyelidikan epidemi-ologi. Rangkaian kegiatan penyelidikan epidemiologi dilakukan dengan ologi. Rangkaian kegiatan penyelidikan epidemiologi dilakukan dengan metode 1-2-5 yaitu pada hari pertama dilakukan noti

metode 1-2-5 yaitu pada hari pertama dilakukan notififikasi adanya kasuskasi adanya kasus positif malaria dalam waktu 1 X 24 jam

positif malaria dalam waktu 1 X 24 jam kasus kasus harus dilaporkan ke dinasharus dilaporkan ke dinas kesehatan kabupaten/kota dan selambat-lambatnya pada hari ke dua kesehatan kabupaten/kota dan selambat-lambatnya pada hari ke dua di-lakukan kegiatan penyelidikan epidemiologi, serta selambar-lambatnya lakukan kegiatan penyelidikan epidemiologi, serta selambar-lambatnya pada hari ke-5 harus dilakukan penanggulangan. Lebih jelasnya pada hari ke-5 harus dilakukan penanggulangan. Lebih jelasnya rang-kaian

kaian kegiatan penyelidikan kegiatan penyelidikan epidemiologi epidemiologi malaria dilakukan malaria dilakukan mengikutimengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

langkah-langkah sebagai berikut: 1.

1. Laporan Laporan Kewaspadaan Kewaspadaan (Noti(Notififikasi)kasi) 2.

(11)

a.

a. Penyelidikan Penyelidikan KasusKasus b.

b. Survai Survai KontakKontak c.

c. Penyelidikan Penyelidikan Faktor Faktor RisikoRisiko d. Klasi

d. Klasififikasi Fokuskasi Fokus 3. Penanggulangan 3. Penanggulangan

a.

a. Penyelidikan Penyelidikan FokusFokus b.

b. Pemetaan Pemetaan FokusFokus c.

c. Penanggulangan Penanggulangan FokusFokus Rangkaian

Rangkaian kegiatan kegiatan penyelidikan penyelidikan Epidemiologi Epidemiologi dan dan Fokus Fokus Malaria Malaria dapatdapat dilihat pada bagan alur kegiatan dibawah ini:

dilihat pada bagan alur kegiatan dibawah ini: Hari Hari Ke-1 1 22 33 44 55 Laporan Kewaspadaan Laporan Kewaspadaan (Noti

(Notififikasi)kasi) PPeennyyeelliiddiikkaan n EEppiiddeemmiioollooggii PPeennaanngggguullaannggaann Suspek yang

Suspek yang dikon

dikonfifirmasirmasi

Positif  Positif  Laporan Kasus Laporan Kasus (1X24) (1X24) Penyelidi

Penyelidikan kan KasusKasus

Survai Kontak dan

Survai Kontak dan PengamatanPengamatan Faktor risiko

Faktor risiko

Klasi

Klasififikasi Fokuskasi Fokus

Penyelidik

Penyelidikan an FokusFokus

Pemetaan Fokus Pemetaan Fokus Penanggulangan Penanggulangan Fokus Fokus Gambar 1. Bagan

(12)

1. Puskesmas 1. Puskesmas Merupakan

Merupakan unit unit pelaksana pelaksana surveilans surveilans terdepan terdepan yang yang melaksanakanmelaksanakan kegiatan pencatatan, pelaporan dan analisis data malaria. kegiatan pencatatan, pelaporan dan analisis data malaria. Puskes-mas bersama Dinas kesehatan Kabupaten merupakan unit surveilans mas bersama Dinas kesehatan Kabupaten merupakan unit surveilans yang melaksanakan kegiatan penyelidikan epidemiologi kasus yang melaksanakan kegiatan penyelidikan epidemiologi kasus ma-laria yang terdapat di wilayahnya.

laria yang terdapat di wilayahnya. 2.

2. Rumah Rumah SakitSakit Rumah

Rumah Sakit Sakit berperan berperan dalam dalam pelaporkan pelaporkan suspek suspek atau atau kasus kasus malariamalaria ke Dinas Kesehatan kabupaten/kota.

ke Dinas Kesehatan kabupaten/kota. 3.

3. Fasilitas PelFasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya (Pustu/Klinik/Payanan Kesehatan Lainnya (Pustu/Klinik/Polindes/ olindes/  Bidan Desa dll)

Bidan Desa dll) Melaporkan

Melaporkan suspek suspek atau atau kasus kasus malaria malaria ke ke Puskesmas Puskesmas atau atau DinasDinas Kesehatan Kabupaten.

Kesehatan Kabupaten. 4.

4. Dinas Dinas Kesehatan Kesehatan Kabupaten/KKabupaten/Kotaota Dinas

Dinas Kesehatan Kesehatan Kabupaten/kota Kabupaten/kota berperan berperan menjadi menjadi koordinatorkoordinator dalam kegiatan penyelidikan epidemiologi malaria dan dalam kegiatan penyelidikan epidemiologi malaria dan berkoordi-nasi dengan bagian surveilans.

nasi dengan bagian surveilans. 5.

5. Dinas Dinas Kesehatan Kesehatan ProvinsiProvinsi Dinas

Dinas Kesehatan Kesehatan Provinsi Provinsi berperan berperan dalam dalam melaksanakan melaksanakan bimbinganbimbingan dan pendampingan apabila diperlukan dan berkoordinasi dengan dan pendampingan apabila diperlukan dan berkoordinasi dengan bagian surveilans

bagian surveilans 6. Pusat

6. Pusat

Pusat berperan dalam menyadiakan

Pusat berperan dalam menyadiakan NSPK Penyelidikan epidemiolo-NSPK Penyelidikan epidemiolo-gi malaria, melakukan bimbingan dan

gi malaria, melakukan bimbingan dan pendampingan apabila diper-pendampingan apabila diper-lukan.

lukan.

Jejaring Penyelidikan epidemiologi malaria bertujuan untuk Jejaring Penyelidikan epidemiologi malaria bertujuan untuk menja-min terselenggaranya penyelidikan epidemiologi. Penguatan jejaring min terselenggaranya penyelidikan epidemiologi. Penguatan jejaring melibatkan kerjasama antara fasilitas pelayanan kesehatan (puskesmas, melibatkan kerjasama antara fasilitas pelayanan kesehatan (puskesmas, rumah sakit, klinik

(13)

-esmas merupakan unit pelaksana surveilans yang melakukan kegiatan esmas merupakan unit pelaksana surveilans yang melakukan kegiatan penyelidikan epidemiologi kasus yang ditemukan di fasilitas pelayanan penyelidikan epidemiologi kasus yang ditemukan di fasilitas pelayanan kesehatan. Provinsi dan Pusat dapat membantu kegiatan sesuai dengan kesehatan. Provinsi dan Pusat dapat membantu kegiatan sesuai dengan situasi dan kebutuhan. Berikut bagan jejaring penyelidikan epidemiologi. situasi dan kebutuhan. Berikut bagan jejaring penyelidikan epidemiologi.

Kementerian Kesehatan

Kementerian Kesehatan

(Subdit Malaria)

(Subdit Malaria)

Dinas Kesehatan Provinsi

Dinas Kesehatan Provinsi

Dinas Kesehatan

Dinas Kesehatan Rumah SakitRumah Sakit

Fasyankes lainnya Fasyankes lainnya /DPM/Klinik /DPM/Klinik Puskesmas Puskesmas

Gambar 2. Bagan Jejaring Penyelidikan Epidemiologi Malaria Gambar 2. Bagan Jejaring Penyelidikan Epidemiologi Malaria

(14)

BAB III

BAB III

LAPORAN KEWASPADAAN (NOTIFIKASI)

LAPORAN KEWASPADAAN (NOTIFIKASI)

A. TUJUAN

A. TUJUAN

Laporan

Laporan Kewaspadaan Kewaspadaan (Noti(Notififikasi) dilakukan secara cepat dalam waktukasi) dilakukan secara cepat dalam waktu 1X24 jam,

1X24 jam, hal tersebut hal tersebut dilakukaan agar dilakukaan agar penanggulangan kasus penanggulangan kasus dapatdapat dilakukan secara cepat sehingga tidak menimbulkan penularan.

dilakukan secara cepat sehingga tidak menimbulkan penularan. B.

B. WAKTU WAKTU PELAKSANAANPELAKSANAAN

Malaria

Malaria merupakan merupakan penyakit penyakit menular menular yang yang berpotensi berpotensi wabah, wabah, halhal tersebut tertuang dalam Permenkes Nomor 1501 Tahun 2010 tentang tersebut tertuang dalam Permenkes Nomor 1501 Tahun 2010 tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu yang dapat Menimbulkan Wabah dan Jenis Penyakit Menular Tertentu yang dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangan, pada daerah yang masuk tahap eliminasi dan Upaya Penanggulangan, pada daerah yang masuk tahap eliminasi dan pemeliharaan kriteria KLB adalah adanya satu

pemeliharaan kriteria KLB adalah adanya satu kasus penularan setempat,kasus penularan setempat, sehingga setiap ada kasus positif malaria maka harus dilakukan noti

sehingga setiap ada kasus positif malaria maka harus dilakukan notififikasikasi secara cepat dalam waktu 1X24 jam.

secara cepat dalam waktu 1X24 jam. Penegakkan

Penegakkan diagnostik diagnostik kasus kasus malaria malaria har- har-us dilakukan berbasis laboratorium, us dilakukan berbasis laboratorium, meng-gunakan mikroskop atau RDT. Sehingga gunakan mikroskop atau RDT. Sehingga fasilitas kesehatan perlu melakukan fasilitas kesehatan perlu melakukan

kon-fi

firmasi laboratorium sebelum melakukanrmasi laboratorium sebelum melakukan noti

notififikasi kasus malaria tersebut.kasi kasus malaria tersebut. C. METODE

C. METODE

Penyelidikan

Penyelidikan epidemiologi epidemiologi diawali diawali dengan dengan adanya adanya kasus kasus positif positif malariamalaria hasil deteksi

hasil deteksi di fasilitas di fasilitas pelayanan kpelayanan kesehatan. Notiesehatan. Notififikasi adanya kasuskasi adanya kasus dapat berasal dari puskesmas, pustu, bidan , klinik dan dokter praktek dapat berasal dari puskesmas, pustu, bidan , klinik dan dokter praktek mandiri, rumah sakit pemerintah maupun swasta. Laporan ini mandiri, rumah sakit pemerintah maupun swasta. Laporan ini ditindak-lanjuti dengan penyelidikan epidemiologi oleh petugas puskesmas dan lanjuti dengan penyelidikan epidemiologi oleh petugas puskesmas dan dinas kabupaten/kota.

dinas kabupaten/kota.

Laporan kasus malaria Laporan kasus malaria pada daerah yang telah pada daerah yang telah masuk Tahap eliminasi masuk Tahap eliminasi

dan pemeliharaan dan pemeliharaan dalam waktu 1X24 jam ! dalam waktu 1X24 jam !

(15)

1.

1. Alur Alur Laporan Laporan Kewaspadaan Kewaspadaan (Noti(Notififikasi)kasi) Laporan

Laporan diberikan diberikan dari dari semua semua fasyankes fasyankes yang yang dapat dapat melakukan melakukan di- di-agnostik malaria ke Puskesmas atau Dinas Kesehatan Kabupaten/  agnostik malaria ke Puskesmas atau Dinas Kesehatan Kabupaten/  Kota.

Kota.

Puskesmas

Puskesmas

Dinas Kesehatan Kabupaten

Dinas Kesehatan Kabupaten

KKP

KKP

Klinik atau Dokter Praktek

Klinik atau Dokter Praktek

Pustu/Poskesdes/Bidan Desa Pustu/Poskesdes/Bidan Desa Rumah Sakit Rumah Sakit Laboratorium Laboratorium

Gambar 3. Alur Laporan Kewaspadaan (Noti

Gambar 3. Alur Laporan Kewaspadaan (Notififikasi)kasi)

2. Media 2. Media

Laporan

Laporan kewaspadaan kewaspadaan dilaporkan dilaporkan menggunkan menggunkan media media yang yang tersediatersedia seperti telepon, sms maupun media lainnya yang tersedia, variabel seperti telepon, sms maupun media lainnya yang tersedia, variabel yang dilaporkan berupa:

yang dilaporkan berupa: a.

a. Nama Nama d. d. UmurUmur b.

b. Alamat Alamat e. e. Jenis Jenis parasitparasit c.

(16)

BAB IV

BAB IV

PENYELIDIKAN

PENYELIDIKAN

EPIDEMIOLO

EPIDEMIOLO

GI

GI

A.

A. PENYELIDIKAN PENYELIDIKAN KASUSKASUS

1. Tujuan 1. Tujuan

T

Tujuan ujuan penyelidikan penyelidikan kasus kasus adalah adalah untuk untuk mengetahui mengetahui klasiklasififikasi kasuskasi kasus 2.

2. Waktu Waktu PelaksanaanPelaksanaan

Waktu pelaksanaannya adalah selambat-lambatnya 1 hari setelah Waktu pelaksanaannya adalah selambat-lambatnya 1 hari setelah kasus dinoti

kasus dinotififikasi.kasi. 3. Metode

3. Metode

Penyelidikan kasus malaria dilakukan dengan melakukan wawancara Penyelidikan kasus malaria dilakukan dengan melakukan wawancara kepada kasus, wawancara dilakukan dengan menggunakan formulir kepada kasus, wawancara dilakukan dengan menggunakan formulir penyelidikan kasus (Lampiran 2). kegiatan wawancara dapat dilakukan penyelidikan kasus (Lampiran 2). kegiatan wawancara dapat dilakukan di fasyankes saat pasien datang maupun di

di fasyankes saat pasien datang maupun di tempat tinggal pasien.tempat tinggal pasien. 4. Klasi

4. Klasififikasi Kasuskasi Kasus Setelah

Setelah dilakukan dilakukan wawancara wawancara petugas petugas melakukan melakukan klasiklasififikasi kasuskasi kasus berdasarkan hasil wawancara tersebut, klasi

berdasarkan hasil wawancara tersebut, klasififikasi meliputi:kasi meliputi: 1. Kasus

1. Kasus IndigenousIndigenous kasus

kasus yang yang penularannya penularannya terjadi terjadi di di wilayah wilayah setempat setempat dandan tidak ada bukti langsung berhubungan dengan kasus impor. tidak ada bukti langsung berhubungan dengan kasus impor. Secara teknis, kasus malaria

Secara teknis, kasus malaria indigenousindigenous adalah kasus tersangka adalah kasus tersangka malaria yang tidak memiliki riwayat bepergian ke daerah malaria yang tidak memiliki riwayat bepergian ke daerah endemis malaria dalam empat minggu sebelum sakit dan hasil endemis malaria dalam empat minggu sebelum sakit dan hasil pemeriksaan sediaan darah adalah positif malaria. Kasus malaria pemeriksaan sediaan darah adalah positif malaria. Kasus malaria akibat kekambuhan khususnya pada kasus vivax harus ditelusuri akibat kekambuhan khususnya pada kasus vivax harus ditelusuri riwayatnya apakah merupakan kasus

riwayatnya apakah merupakan kasus indigenous indigenous atau  atau kasus impor,kasus impor, demikian pula dengan kasus penularan melalui kongenital dan demikian pula dengan kasus penularan melalui kongenital dan transfusi, kasus relaps dan kasus penularan kongenital/transfusi transfusi, kasus relaps dan kasus penularan kongenital/transfusi (induced)

(17)

a.

a. Kasus Kasus RelapsRelaps IndigenousIndigenous Kasus

Kasus relaps relaps yang yang asal asal penularannya penularannya berada berada di di wilayahwilayah kabupaten/kota tersebut, hal tersebut dapat diketahui melalui kabupaten/kota tersebut, hal tersebut dapat diketahui melalui wawancara dengan pasien, jika riwayat sebelumnya pasien tidak wawancara dengan pasien, jika riwayat sebelumnya pasien tidak pernah pergi ke daerah endemis malaria.

pernah pergi ke daerah endemis malaria. b.

b. Kasus Kasus InducedInduced IndigenousIndigenous (Kongenital/T(Kongenital/Transfusi)ransfusi)   Kasus

  Kasus induced induced   yang asal penularannya berada di wilayah  yang asal penularannya berada di wilayah kabupaten/kota tersebut, pada kasus penularan secara kabupaten/kota tersebut, pada kasus penularan secara kongenital dapat ditelusuri dari ibu yang menularkan, yaitu jika kongenital dapat ditelusuri dari ibu yang menularkan, yaitu jika riwayat sebelumnya ibu tidak pernah pergi ke daerah endemis riwayat sebelumnya ibu tidak pernah pergi ke daerah endemis malaria. Kasus penularan melalui transfusi dapat diklasi

malaria. Kasus penularan melalui transfusi dapat diklasififikasikankasikan sebagai kasus

sebagai kasus indigenousindigenous  apabila asal penularannya berada di  apabila asal penularannya berada di wilayah kabupaten/kota tersebut, hal tersebut dapat diketahui wilayah kabupaten/kota tersebut, hal tersebut dapat diketahui dengan cara memeriksa laboratorium pada pendonor. Jika dengan cara memeriksa laboratorium pada pendonor. Jika pendonor tidak memiliki riwayat bepergian ke daerah endemis pendonor tidak memiliki riwayat bepergian ke daerah endemis malaria.

malaria. 2.

2. Kasus Kasus ImporImpor kasus

kasus yang yang penularannya penularannya terjadi terjadi di di luar luar wilayah. wilayah. Secara Secara teknis teknis kasuskasus malaria impor adalah kasus tersangka malaria dengan riwayat malaria impor adalah kasus tersangka malaria dengan riwayat bepergian ke daerah endemis malaria dalam 4 minggu terakhir bepergian ke daerah endemis malaria dalam 4 minggu terakhir sebelum menderita sakit dan hasil pemeriksaan sediaan darah sebelum menderita sakit dan hasil pemeriksaan sediaan darah adalah positif malaria. Kasus relaps dan induced (transfuse dan adalah positif malaria. Kasus relaps dan induced (transfuse dan kongenital) perlu diketahui klasi

kongenital) perlu diketahui klasififikasi kasusnya, kasus relaps dankasi kasusnya, kasus relaps dan induced (transfuse dan kongenital) dapat diklasi

induced (transfuse dan kongenital) dapat diklasififikasikan sebagaikasikan sebagai kasus impor

kasus impor, antara , antara lain:lain: a.

(18)

b.

b. Kasus Kasus Induced Induced ImporImpor Kasus

Kasus induced induced yang yang asal asal penularannya penularannya dari dari wilayah wilayah di di luarluar kabupaten/kota tersebut dapat diklasi

kabupaten/kota tersebut dapat diklasififikasikan sebagai kasuskasikan sebagai kasus impor, pada kasus kongenital hal tersebut dapat diketahui impor, pada kasus kongenital hal tersebut dapat diketahui dengan adanya riwayat bepergian ibu hamil ke daerah endemis dengan adanya riwayat bepergian ibu hamil ke daerah endemis malaria, sedangkan pada kasus transfusi dapat diketahui dari malaria, sedangkan pada kasus transfusi dapat diketahui dari riwayat bepergian dari pendonor darah.

riwayat bepergian dari pendonor darah. Kl

Klasiasi kaskasi Ki Kasuasuss

Impor

Impor

Indigenous

Indigenous

Relaps

Relaps Transfusi/Transfusi/

Kongenital

Kongenital

Gambar 4.

Gambar 4. Bagan KBagan Klasilasififikasi Kasus Malariakasi Kasus Malaria

Berikut

Berikut beberapa beberapa analisis analisis yang yang dapat dapat digunakan digunakan untuk untuk melakukanmelakukan klasi

klasififikasi kasus malaraia:kasi kasus malaraia: 1)

1) Penularan Penularan setempat setempat (kasus(kasus indigenousindigenous)) T

Terdapat erdapat Indikasi Indikasi penularan penularan setempat setempat yang yang ditandai ditandai dengan dengan :: a)

a) Ditemukan kasus Ditemukan kasus malaria positifmalaria positif, terutama , terutama bayi dan bayi dan anak < 9anak < 9 tahun positif malaria

tahun positif malaria b)

b) Ditemukan Ditemukan vektor vektor atau atau tersangka tersangka vektorvektor c)

c) Ditemukan Ditemukan tempat tempat perindukan perindukan potensialpotensial d)

d) Banyak Banyak kasus kasus pada pada kelompok kelompok wanitawanita Tidak

(19)

a)

a) Tidak Tidak terdapat terdapat vektor vektor penularpenular b)

b) Kasus Kasus malaria malaria pada pada umumnya umumnya laki-lakilaki-laki c)

c) Kasus Kasus malaria malaria pada pada umumnya umumnya dewasadewasa B.

B. SURVEI SURVEI KONTAK KONTAK 

1. Tujuan 1. Tujuan Survei

Survei kontak kontak dilakukan dilakukan untuk untuk mengetahui mengetahui luasnya luasnya penularan penularan atauatau kejadian malaria.

kejadian malaria. 2.

2. Waktu Waktu PelaksanaanPelaksanaan

Survei kontak dilakukan setelah kasus diklasi

Survei kontak dilakukan setelah kasus diklasififikasikan dan dalamkasikan dan dalam rentang waktu 2-5 hari.

rentang waktu 2-5 hari. 3. Metode

3. Metode   Klasi

  Klasififikasi kasus menjadi dasar untuk menentukan langkah selanjut-kasi kasus menjadi dasar untuk menentukan langkah selanjut-nya yang harus dilaksanakan, setelah kasus diklasi

nya yang harus dilaksanakan, setelah kasus diklasififikasikan langkahkasikan langkah selanjutnya adalah melakukan kontak survai, namun tidak semua selanjutnya adalah melakukan kontak survai, namun tidak semua kasus perlu dilakukan kontak survai, hal tersebut dapat lebih jelas kasus perlu dilakukan kontak survai, hal tersebut dapat lebih jelas terlihat pada bagan dibawah ini:

terlihat pada bagan dibawah ini:

Kasus Positif

Kasus Positif

Penyelidikan Kasus

Penyelidikan Kasus

Impor

Impor IndigenousIndigenous

Reseptif Reseptif Non-Reseptif Non-Reseptif Survei kontak Survei kontak & & penyelidikan penyelidikan Survei kontak Survei kontak & &

(20)

Berdasarkan bagan diatas maka kasus yang perlu ditindaklanjuti dengan Berdasarkan bagan diatas maka kasus yang perlu ditindaklanjuti dengan survai kontak dan Penyelidikan Faktor Risiko, adalah kasus penularan lokal survai kontak dan Penyelidikan Faktor Risiko, adalah kasus penularan lokal (

(indigenousindigenous) dan kasus import di daerah reseptif. Kasus impor di daerah non) dan kasus import di daerah reseptif. Kasus impor di daerah non reseptif perlu dilihat apakah sendiri atau berkelompok, jika berkelompok reseptif perlu dilihat apakah sendiri atau berkelompok, jika berkelompok maka dilakukan survei kontak dan jika sendiri tidak perlu dilakukan survei maka dilakukan survei kontak dan jika sendiri tidak perlu dilakukan survei kontak.

kontak.

Kontak survai pada kasus

Kontak survai pada kasus indigenousindigenous dan kasus impor dilakukan dengan dan kasus impor dilakukan dengan cara yang berbeda, yaitu:

cara yang berbeda, yaitu: a.

a. Kontak Kontak Survai Survai pada pada KasusKasus IndigenousIndigenous Survai

Survai kontak kontak dilakukann dilakukann dengan dengan cara cara memeriksa memeriksa sediaan sediaan darah darah padapada populasi yang memiliki risiko yang sama dengan kasus. Survai kontak populasi yang memiliki risiko yang sama dengan kasus. Survai kontak pada kasus

pada kasus indigenousindigenous dilakukan di sekitar tempat yang dicurigai sebagai dilakukan di sekitar tempat yang dicurigai sebagai tempat penularan. Survai kontak pada kasus

tempat penularan. Survai kontak pada kasusindigenousindigenous dilakukan dengan dilakukan dengan cara memeriksa:

cara memeriksa: 1)

1) Seluruh Seluruh anggota anggota keluarga/orang keluarga/orang yang yang tinggal tinggal bersama bersama kasuskasus 2)

2) TTetangga yang tinggal dalam etangga yang tinggal dalam radius 200 m radius 200 m atau 5 rumah atau 5 rumah sekitarsekitar kasus.

kasus. 3)

3) TTeman yang eman yang bekerja bekerja dilingkungan yang dilingkungan yang sama sama dengan kasusdengan kasus 4)

4) Kontak survai dilakukan berjenjang, apabKontak survai dilakukan berjenjang, apabila ditemukan kasusila ditemukan kasus positif kembali setelah dilakukan kontak survei yang pertama maka positif kembali setelah dilakukan kontak survei yang pertama maka dilakukan kontak survai kembali dengan radius yang sama atau dilakukan kontak survai kembali dengan radius yang sama atau diperluas radiusnya.

diperluas radiusnya. b.

b. Kontak Kontak Survai Survai pada pada Kasus Kasus ImporImpor Kontak

Kontak survai survai pada pada kasus kasus impor impor dilakukan dilakukan berdasarkan berdasarkan reseptireseptififitas suatutas suatu daerah, antara lain:

daerah, antara lain: 1)

1) Kasus Impor di DaerKasus Impor di Daerah Reseptifah Reseptif, apabila suatu daerah masih, apabila suatu daerah masih merupakan daerah reseptif, kontak survai dilakukan pada populasi merupakan daerah reseptif, kontak survai dilakukan pada populasi berisiko (seperti pada kasus indigenous).

berisiko (seperti pada kasus indigenous). 2)

2) Kasus Impor Kasus Impor di Dearah Nodi Dearah Non-Reseptifn-Reseptif, kasus impo, kasus impor di daerah r di daerah non- non-reseptif dilakukan survai kontak apabila kasus bepergian secara reseptif dilakukan survai kontak apabila kasus bepergian secara

(21)

berkelompok dan kontak survai dilaukan pada seluruh anggota berkelompok dan kontak survai dilaukan pada seluruh anggota kelompok atau rombongan yang pergi bersama dengan kasus.

kelompok atau rombongan yang pergi bersama dengan kasus. c.

c. Alat Alat dan dan Bahan Bahan Kontak Kontak SurvaiSurvai Sebelum

Sebelum melakukan melakukan kontak kontak survei, survei, perlu perlu dipersiapkan dipersiapkan alat alat dan dan bahanbahan yang dibutuhkan seperti:

yang dibutuhkan seperti: 1)

1) Formulir Formulir Survai Survai Kontak Kontak ( ( Lampiran Lampiran ..)..) 2) Lancet

2) Lancet 3)

3) Object glassObject glass (kaca sediaan) (kaca sediaan) 4)

4)  Alcohol swab Alcohol swab 5)

5) Kotak Kotak penyimpanan penyimpanan slideslide 6)

6) Alat Alat GPS GPS atau atau HP HP android android untuk untuk menandai menandai titik titik koordinatkoordinat d. Identi

d. Identififikasi daerah reseptif kasi daerah reseptif  Kegiatan

Kegiatan survei survei kontak kontak dilakukan dilakukan berdasarkan berdasarkan reseptireseptififitas suatu daerah,tas suatu daerah, sehingga identi

sehingga identififikasi daerah reseptif perlu dilakukan, identikasi daerah reseptif perlu dilakukan, identififikasi dae-kasi dae-rah reseptif

rah reseptif dilakukan dengan memdilakukan dengan memerikasa jentik di erikasa jentik di tempat perindukantempat perindukan nyamuk seperti lagoon, rawa, mata air, sungai, sawah, dan genangan air nyamuk seperti lagoon, rawa, mata air, sungai, sawah, dan genangan air lainnya yang ada di alam. Serta menangkap nyamuk anopheles lainnya yang ada di alam. Serta menangkap nyamuk anopheles dewa-sa. Daerah reseptif ditandai dengan ditemukannya larva atau nyamuk sa. Daerah reseptif ditandai dengan ditemukannya larva atau nyamuk anopheles, sedangkan daerah reseptif tinggi

anopheles, sedangkan daerah reseptif tinggi bila ditemukan tempat per-bila ditemukan tempat per-indukan yang positif larva Anopheles

indukan yang positif larva Anopheles ≥≥1% dan atau MBR-Man Biting1% dan atau MBR-Man Biting

Rate > 0,025 gigitan nyamuk/orang/malam. Data reseptivitas suatu Rate > 0,025 gigitan nyamuk/orang/malam. Data reseptivitas suatu dae-rah harus diperbaharui setiap enam bulan sekali.

(22)

Gambar 7.

Gambar 7. Nyamuk Nyamuk AnophelesAnopheles

C.

C. PENYELPENYELIDIKAN IDIKAN FAKTOR FAKTOR RISIKORISIKO

Faktor

Faktor risiko risiko penularan penularan malaria malaria terdiri terdiri atas atas faktor faktor risiko risiko lingkungan lingkungan dandan perilaku, berikut penyelidikan faktor risiko lingkungan dan perilaku:

perilaku, berikut penyelidikan faktor risiko lingkungan dan perilaku: 1.

1. Penyelidikan Penyelidikan Faktor Faktor Risiko Risiko LingkungaLingkungann a. Tujuan

a. Tujuan

Mengetahui

Mengetahui perilakuperilaku(bionomic)(bionomic) vektor serta tipe dan karakteristik vektor serta tipe dan karakteristik tempat perindukan

tempat perindukan vektorvektor.. b.

b. Waktu Waktu PelaksanaanPelaksanaan

Penyelidikan faktor risiko dilakukan dalam rentang waktu 2-4 Penyelidikan faktor risiko dilakukan dalam rentang waktu 2-4 hari

hari c. Tempat c. Tempat

Dilaksanakan

Dilaksanakan di di sekitar sekitar tempat tempat yang yang dicurigai dicurigai menjadi menjadi tempattempat penularan

penularan d. Metode d. Metode

Pengamatan

Pengamatan lingkungan lingkungan disekitar disekitar tempat tempat yang yang dicurigai dicurigai sebagaisebagai tempat penularan meliputi:

tempat penularan meliputi: 1)

1) Survei Survei NyamukNyamuk Anopheles Anopheles Dewasa Dewasa

• Menentukan lokasi penangkapan nyamuk dan • Menentukan lokasi penangkapan nyamuk dan pengambilan titik koordinat pada tempat penangkapan pengambilan titik koordinat pada tempat penangkapan nyamuk

(23)

• Mempersiapkan Mempersiapkan petugas petugas survei survei nyamuknyamuk •

• Mempersiapkan Mempersiapkan bahan bahan dan dan peralatan peralatan meliputi:meliputi: paper  paper cupcup,, kapas, chloroform, kaca pembesar 10 x dan 20 x, karet gelang, kapas, chloroform, kaca pembesar 10 x dan 20 x, karet gelang,  petridish

 petridish, kertas label,, kertas label, objek glassobjek glass,, microtest tubemicrotest tube, mikroskop, mikroskop stereo, mikroskop compund, aspirator (sedotan nyamuk), stereo, mikroskop compund, aspirator (sedotan nyamuk), senter, hygrometer, jarum seksi, cidukan,

senter, hygrometer, jarum seksi, cidukan, Global PositionGlobal Position System (GPS)

System (GPS), refractometer,, refractometer, thermometer thermometer   maksimum-  maksimum-minimum

minimum •

• Melakukan Melakukan penangkapan penangkapan nyamuk nyamuk umpan umpan orang orang di di dalamdalam dan di luar rumah masing-masing oleh 3 orang penangkap dan di luar rumah masing-masing oleh 3 orang penangkap (kolektor) menggunakan aspirator (sedotan nyamuk). Aktif (kolektor) menggunakan aspirator (sedotan nyamuk). Aktif menangkap setiap jam adalah 45 menit

menangkap setiap jam adalah 45 menit •

• Nyamuk Nyamuk yang yang tertangkap tertangkap dimasukan dimasukan ke ke dalam dalam paper paper cup,cup, selanjutnya dilakukan identi

selanjutnya dilakukan identififikasi spesieskasi spesies •

• Menghitung Menghitung kepadatan kepadatan nyamuknyamuk  Anopheles Anopheles  dewasa per  dewasa per spesies atau

spesies atau Man Biting RateMan Biting Rate  (MBR) yaitu jumlah gigitan  (MBR) yaitu jumlah gigitan nyamuk per

nyamuk per orang per orang per malam malam adalah:adalah: Jumlah

Jumlah nyamuk nyamuk tertangkap tertangkap umpan umpan orang orang per per speciesspecies MBR =

MBR = ____________________________________________________________________________________________________________________ Jumlah

Jumlah penangkap penangkap x x waktu waktu penangkapan penangkapan ((jam)jam) •

• Contoh: Contoh: jumlah jumlah nyamuknyamuk An. maculatus An. maculatus tertangkap sebanyak tertangkap sebanyak 1 ekor

1 ekor dari penangkapan dari penangkapan umpan orang. umpan orang. Jumlah kolektJumlah kolektor 6or 6 orang dan lama penangkapan jam 18.00 – 06.00

orang dan lama penangkapan jam 18.00 – 06.00 1

(24)

tambak,

tambak, genangan air genangan air pasang, rpasang, rawa-rawa, sawah, awa-rawa, sawah, saluran irigasi,saluran irigasi, mata air

mata air, rawa, kolam, rawa, kolam, , dan lain-lain. Sedangkan karakterisdan lain-lain. Sedangkan karakteristik TPtik TP,, ditentukan

ditentukan oleh oleh keadaankeadaan fifisik sik   (cahaya, aliran, kedalaman, keruh,  (cahaya, aliran, kedalaman, keruh, dll),

dll), kimiakimia (salinitas, pH), dan (salinitas, pH), dan biologik biologik  (adanya jenis-jenis hewan dan (adanya jenis-jenis hewan dan tanaman).

tanaman). •

• pengambilan pengambilan titik titik koordinat koordinat pada pada tempat tempat yang yang positif positif larva/nyamuklarva/nyamuk •

• Mempersiapkan Mempersiapkan petugas petugas survei survei larva/jentiklarva/jentik •

• Mempersiapkan Mempersiapkan bahan bahan dan dan peralatan peralatan antara antara lain: lain: cidukan cidukan ((dipper dipper )) dengan ukuran diameter 10 cm atau gayung yang volumenya dengan ukuran diameter 10 cm atau gayung yang volumenya kira-kira 400 ml, pipet, botol kecil (

kira 400 ml, pipet, botol kecil (vial bottlevial bottle) 10-20 ml,) 10-20 ml, petridish petridish (tempat (tempat larva yang akan diperiksa), formulir, salinometer (untuk mengukur larva yang akan diperiksa), formulir, salinometer (untuk mengukur kadar garam),

kadar garam), Global Position SystemGlobal Position System (GPS), pH meterlakmus untuk (GPS), pH meterlakmus untuk mengukur pH air, dll

mengukur pH air, dll •

• Melakukan Melakukan pencidukan pencidukan larva larva pada pada tempat tempat perindukan perindukan yang yang telahtelah ditentukan dengan menggunakan alat penciduk dengan kemiringan ditentukan dengan menggunakan alat penciduk dengan kemiringan 45 derajat ke arah kumpulan larva/jentik

45 derajat ke arah kumpulan larva/jentik •

• Hitung Hitung jumlah jumlah jentik jentik yang yang diciduk diciduk dari dari setiap setiap cidukancidukan •

• Selanjutnya Selanjutnya masukan masukan larva larva ke ke dalam dalam botol botol kecil kecil (vial (vial bottle) bottle) daridari cidukan dengan menggunakan pipet

cidukan dengan menggunakan pipet •

• Setiap Setiap botol botol larva harus larva harus dibedakan dibedakan menurut menurut jenis jenis (tipe) (tipe) tempattempat perindukan

perindukan •

• Menghitung Menghitung kepadatan kepadatan larva/jentiklarva/jentik Anopheles Anopheles adalah: adalah: Jumlah larva/jentik

Jumlah larva/jentik Anopheles Anopheles tertangkap per spesies tertangkap per spesies __________________________________________________________ __________________________________________________________

Jumlah Cidukan Jumlah Cidukan Contoh

Contoh Soal: Soal: ditemukan ditemukan jentikjentik Anophel Anopheleses sundaicus 10 ekor dari lagun sundaicus 10 ekor dari lagun dengan jumlah 50 cidukan, maka

dengan jumlah 50 cidukan, maka kepadatan larva = kepadatan larva = 10/50 = 0,2.10/50 = 0,2. •

• Bila kepBila kepadatan larva peradatan larva per-ciduk sangat -ciduk sangat rendah, maka rendah, maka perlu jumlahperlu jumlah cidukan diperbanyak

cidukan diperbanyak misalnya per misalnya per 10 ciduk, per 50 10 ciduk, per 50 ciduk ciduk atau 100atau 100 ciduk

(25)

• Menghitung Indeks Menghitung Indeks Habitat Larva Habitat Larva dengan dengan cara cara menghitungmenghitung persentasi tempat perindukan yang positif larva

persentasi tempat perindukan yang positif larva Anopheles Anopheles.. •

• Hasil Hasil survey survey larva/jentik larva/jentik nyamuknyamuk Anopheles Anopheles  dicatat dan dilaporkan  dicatat dan dilaporkan pada formulir (Lampiran).

pada formulir (Lampiran). 3.

3. Penentuan Penentuan Wilayah Wilayah Reseptif Reseptif Tinggi Tinggi dan dan RendahRendah Wilayah

Wilayah reseptif reseptif tinggi tinggi dan dan rendah rendah dapat dapat ditentukan ditentukan berdasarkan berdasarkan hasilhasil survei (penyelidikan) nyamuk pra-dewasa (larva/jentik) dan atau nyamuk survei (penyelidikan) nyamuk pra-dewasa (larva/jentik) dan atau nyamuk dewasa, sebagai berikut:

dewasa, sebagai berikut: a)

a) Wilayah Wilayah reseptif reseptif tinggi tinggi dan dan rendahrendah Wilayah

Wilayah reseptif reseptif tinggi tinggi dan dan rendah rendah dapat dapat ditentukan ditentukan berdasarkanberdasarkan hasil survei (penyelidikan) nyamuk pra-dewasa (larva/jentik) dan hasil survei (penyelidikan) nyamuk pra-dewasa (larva/jentik) dan atau nyamuk dewasa, sebagai berikut:

atau nyamuk dewasa, sebagai berikut: •

• Indeks Indeks Habitat Habitat Larva Larva (persentase (persentase tempat tempat perindukan perindukan yang yang positifpositif larva/jentik) sama dengan atau

larva/jentik) sama dengan atau lebih besar dari lebih besar dari 1 %, dan atau1 %, dan atau •

• Kepadatan Kepadatan nyamuk nyamuk dewasa dewasa (MBR) (MBR) sama sama dengan dengan atau atau lebih lebih besarbesar dari 0,025 jumlah gigitan nyamuk per orang per malam

dari 0,025 jumlah gigitan nyamuk per orang per malam b)

b) Wilayah Wilayah Reseptif Reseptif Rendah, Rendah, apabila:apabila: •

• Indeks Indeks Habitat Habitat Larva Larva (persentasi (persentasi tempat tempat perindukan perindukan yang yang positifpositif larva /jentik)

larva /jentik) lebih klebih kecil dari ecil dari 1 %, 1 %, dan ataudan atau •

• Kepadatan Kepadatan nyamuk nyamuk dewasa dewasa (MBR) (MBR) lebih lebih kecil kecil dari dari 0,025 0,025 jumlahjumlah gigitan nyamuk per orang per malam.

gigitan nyamuk per orang per malam. Tingkat resepti

Tingkat reseptififitas suatu wilayah dapat juga digambarkan sebagai beri-tas suatu wilayah dapat juga digambarkan sebagai beri-kut:

kut:

Tabel 1. Tabel Hasil Survei Vektor Tabel 1. Tabel Hasil Survei Vektor

(26)

2.

2. Penyelidikan Faktor Risiko PerilakuPenyelidikan Faktor Risiko Perilaku a. Tujuan

a. Tujuan

Mengetahui

Mengetahui faktor faktor risiko risiko perilaku perilaku yang yang berhubungan berhubungan dengandengan penularan malaria

penularan malaria b.

b. Waktu Waktu PelaksanaanPelaksanaan Penyelidikan

Penyelidikan faktor faktor risiko risiko dilakukan dilakukan dalam dalam rentang rentang waktu waktu 2-4 2-4 harihari c. Tempat

c. Tempat

Dilaksanakan

Dilaksanakan di di sekitar sekitar tempat tempat yang yang dicurigai dicurigai menjadi menjadi tempattempat penularan

penularan d. Metode d. Metode

• Melakukan wawancara terhadap masyrakat setempat • Melakukan wawancara terhadap masyrakat setempat

menggunakan formulir (Lampiran 5) menggunakan formulir (Lampiran 5) •

• Melakukan Melakukan observasi observasi kebiasaan/kegiatan kebiasaan/kegiatan penduduk penduduk pada pada malammalam hari

hari D.

D. KLASIFIKASI KLASIFIKASI FOKUSFOKUS

1. Tujuan 1. Tujuan

Melakukan

Melakukan klasiklasififikasi fokus berdasarkan adanya kasuskasi fokus berdasarkan adanya kasus indigenousindigenous dan respti

dan resptififitastas 2.

2. Waktu Waktu PelaksanaanPelaksanaan   Klasi

  Klasififikasi fokus dapat dilakukan setelah kasuskasi fokus dapat dilakukan setelah kasus indigenousindigenous dan dae- dan dae-rah reseptif dapat diidenti

rah reseptif dapat diidentififikasi, yaitu pada rentang waktu 2-4 hari.kasi, yaitu pada rentang waktu 2-4 hari. 3. Metode

3. Metode a) Klasi

a) Klasififikasi Fokuskasi Fokus Setelah

Setelah dilakukan dilakukan penyelidikan penyelidikan kasus kasus maka maka kasus kasus dapatdapat diklasi

diklasififikasikan sebagai kasus impor ataukasikan sebagai kasus impor atau indigenousindigenous, klasi, klasififikasikasi fokus dilakukan berdasarkan adanya kasus

fokus dilakukan berdasarkan adanya kasus indigenousindigenous  dan  dan resptivitas suatu daerah. Fokus diklasi

resptivitas suatu daerah. Fokus diklasififikasikan menjadi tigakasikan menjadi tiga daerah fokus antara lain:

(27)

1)

1) Fokus Fokus Aktif Aktif  Fokus

Fokus aktif aktif merupakan merupakan daerah daerah reseptif reseptif yang yang masih masih terdapatterdapat penularan setemp

penularan setempat dalam at dalam tahun berjalan.tahun berjalan. 2)

2) Fokus Fokus Non Non Aktif Aktif  Fokus

Fokus Non Non Akif Akif adalah adalah daerah daerah reseptif reseptif malaria malaria yang yang tidaktidak terdapat penularan dalam tahun berjalan namun masih terdapat penularan dalam tahun berjalan namun masih terdapat penularan pada tahun sebelumnya hingga 2 t

terdapat penularan pada tahun sebelumnya hingga 2 tahunahun sebelumnya.

sebelumnya. 3)

3) Fokus Fokus BebasBebas Fokus

Fokus Bebas Bebas adalah adalah daerah daerah reseptif reseptif yang yang tidak tidak ada ada penularanpenularan dalam waktu 3 tahun berturut-turut.

dalam waktu 3 tahun berturut-turut. Seluruh

Seluruh daerah daerah fokus fokus merupakan merupakan daerah daerah reseptif reseptif sedangkan sedangkan daerahdaerah yang tidak reseptif disebut daerah non-fokus. Pembagian daerah yang tidak reseptif disebut daerah non-fokus. Pembagian daerah fokus digambarkan dalam bagan sebagai berikut:

fokus digambarkan dalam bagan sebagai berikut:

Non-Resepti Resepti f f Non Non -Fokus Fokus Reseptif Reseptif Tahun 2 Tahun 2 Tahun 1

Tahun 1 Tahun 3Tahun 3

(Tahun Berjalan)

(Tahun Berjalan)

Indigenous

Indigenous FokusFokus

Aktif

Aktif

Indigenous

Indigenous Tidak adaTidak ada

Indigenous Indigenous Fokus Fokus

Non-Fokus

Fokus

(28)

BAB V

BAB V

PENANGGULANGAN

PENANGGULANGAN

A.

A. PENYELIDIKAN PENYELIDIKAN FOKUSFOKUS

1. Tujuan 1. Tujuan

T

Tujuan ujuan penyelidikan penyelidikan fokus fokus adalah adalah untuk untuk menggambarkan menggambarkan daerahdaerah dimana malaria terjadi dan menggambarkan populasi yang berisiko dimana malaria terjadi dan menggambarkan populasi yang berisiko 2.

2. Waktu Waktu PelaksanaanPelaksanaan

Penyelidikan fokus dilaksanakan setelah dilakukan penyalidikan Penyelidikan fokus dilaksanakan setelah dilakukan penyalidikan kasus, dilaksanakan dalam waktu 2-5 hari,

kasus, dilaksanakan dalam waktu 2-5 hari, sehingga pada hari ke limasehingga pada hari ke lima diharapkan kegiatan penyelidikan fokus telah selesai dilaksanakan. diharapkan kegiatan penyelidikan fokus telah selesai dilaksanakan. Apabila kasus baru terjadi didalam fokus yang telah diketahui Apabila kasus baru terjadi didalam fokus yang telah diketahui sebelumnya maka kegiatan penyelidikan fokus tidak perlu dilakukan, sebelumnya maka kegiatan penyelidikan fokus tidak perlu dilakukan, namun jika kasus ditemukan diluar fokus yang telah diketahui perlu namun jika kasus ditemukan diluar fokus yang telah diketahui perlu dilakukan penyelidikan fokus.

dilakukan penyelidikan fokus. 3. Metode

3. Metode a.

a. Pengamatan Pengamatan FokusFokus Pengamatan

Pengamatan daerah daerah fokus fokus dilakukan dilakukan setelah setelah diidentidiidentififikasikasi adanya kasus indigenous, pengamatan fokus dilakukan untuk adanya kasus indigenous, pengamatan fokus dilakukan untuk memastikan lokasi terjadinya terjadinya penularan malaria serta memastikan lokasi terjadinya terjadinya penularan malaria serta populasi yang berisiko. Pengamatan fokus mengidenti

populasi yang berisiko. Pengamatan fokus mengidentififikasikasi populasi berisiko dan keberadaan vektor sehingga dapat populasi berisiko dan keberadaan vektor sehingga dapat diketahui lokasi sumber penularan.Kegiatan pengamatan fokus diketahui lokasi sumber penularan.Kegiatan pengamatan fokus perlu melibatkan entomolog untuk mengidenti

perlu melibatkan entomolog untuk mengidentififikasi tempatkasi tempat perindukan nyamuk, spesies nyamuk dan bionomik nyamuk dan perindukan nyamuk, spesies nyamuk dan bionomik nyamuk dan menilai kegiatan intervensi vektor yang telah dilakukan serta menilai kegiatan intervensi vektor yang telah dilakukan serta kerentanan terhada insektisida.

(29)

b.

b. Penilaian Penilaian Intervensi Intervensi ProgramProgram Apabila

Apabila ditemukan ditemukan kasus kasus penularan penularan setempat setempat atau atau kasuskasus indigenous maka perlu dilakukan penilaian intervensi program indigenous maka perlu dilakukan penilaian intervensi program yang meliputi:

yang meliputi: 1)

1) Penilaian Penilaian Kinerja Kinerja DiagnostikDiagnostik Kinerja

Kinerja diagnostik diagnostik dinilai dinilai dengan:dengan: •

• TTenaga enaga mikroskopis mikroskopis di di Fasyankes Fasyankes yang yang terlatih terlatih minimalminimal level 3

level 3 •

• TTersedianya ersedianya alat alat dan dan bahan bahan diagnostikdiagnostik •

• Kualitas Kualitas Alat Alat dan dan bahan bahan diagnostikdiagnostik 3)

3) Penilaian Penilaian Kinerja Kinerja TTatalaksanaatalaksana •

• TTenaga enaga medis medis yang yang terlatih terlatih tatalaksana tatalaksana malariamalaria •

• TTersedianya ersedianya obat obat malaria malaria sesuai sesuai kebijakan kebijakan programprogram •

• Kepatuhan Kepatuhan pasien pasien dalam dalam meminum meminum obatobat •

• Adanya Adanya follow follow up up pengobatanpengobatan 4)

4) Penilaian Penilaian Kinerja Kinerja Pengendalian Pengendalian VVektorektor •

• Penilaian Penilaian Cakupan Cakupan pembagian pembagian kelambukelambu •

• Evaluasi Evaluasi kualitas kualitas kelambu kelambu yang yang digunakan digunakan dalam dalam rumahrumah tangga

tangga •

• Evaluasi Evaluasi cara cara perawatan perawatan kelambukelambu •

• Evaluasi Evaluasi cakupan cakupan IRSIRS B.

(30)

1.

1. Lokasi Lokasi tempat tempat tinggal tinggal kasuskasus T

Tabel 2. Simbol abel 2. Simbol Rumah Kasus MalariaRumah Kasus Malaria

K Kaassuus s MMaallaarriia a SSiimmbbooll  Tempat Tinggal  Tempat Tinggal Kasus Indigenous Kasus Indigenous PPff PPvv PPoo PPmm MMiixx PPkk  Tempat Tinggal  Tempat Tinggal Kasus Import Kasus Import PPff PPvv PPoo PPmm MMiixx PPkk 2.

2. Lokasi Lokasi terjadinya terjadinya penularan penularan (fokus)(fokus) Tabel 3. Simbol Klasi

Tabel 3. Simbol Klasififikasi Fokuskasi Fokus

F

Fookkuus s SSiimmbbooll

Aktif 

Aktif  Fokus Aktif Fokus Aktif 

N

Noonn--AAkkttiiff FFookkuus s NNoonn--AAkkttiif  f  

Bebas

Bebas Fokus BebasFokus Bebas

3.

3. TTempat empat Perindukan Perindukan NyamukNyamuk T

Tempat empat perindukan perindukan nyamuk nyamuk yaitu yaitu kondisi kondisi geogrageografifis yang berhubungans yang berhubungan dengan transmisi malaria (sungai yang arusnya lambat dan membuat dengan transmisi malaria (sungai yang arusnya lambat dan membuat genangan air di pinggirnya

genangan air di pinggirnya (maculatus)(maculatus), sawah, sawah (aconitus)(aconitus), bendungan, bendungan (barbirostris)

(31)

(balabasensi)

(balabasensi), lagoon/air payau, lagoon/air payau (subpictus, sundaicus, farauti)(subpictus, sundaicus, farauti), rawa-rawa, rawa-rawa (barbirostis, farauti)

(barbirostis, farauti), genangan air di hutan/kebun, genangan air di hutan/kebun(balabasensis)(balabasensis), tambak, tambak yang terbengkalai

yang terbengkalai (sundaicus, subpictus, farauti)(sundaicus, subpictus, farauti) harus digambarkan. harus digambarkan. 4.

4. Jentik Jentik NyamukNyamuk Habitat

Habitat yang yang ditemukan ditemukan vektor vektor malaria malaria jentik jentik nyamuk nyamuk digambarkandigambarkan dengan menambahkan gambar jentik, seperti berikut:

dengan menambahkan gambar jentik, seperti berikut:

J

Jeennttiik k NNyyaammuuk k SSiimmbbooll

Jentik Nyamuk

Jentik Nyamuk Anopheles Anopheles

Tabel 4. Simbol Jentik Nyamuk Tabel 4. Simbol Jentik Nyamuk

5.

5. NyamukNyamuk

Habitat yang ditemukan nyamuk digambarkan dengan simbol seperti Habitat yang ditemukan nyamuk digambarkan dengan simbol seperti dibawah ditambahkan keterangan jenis spesiesnya berdasarkan dibawah ditambahkan keterangan jenis spesiesnya berdasarkan penomeran dalam lampiran 6

penomeran dalam lampiran 6 T

Tabel 5. Simbol Nyamuk abel 5. Simbol Nyamuk AnophelesAnopheles

N

Nyyaammuuk k AAnnoopphheellees s SSiimmbbooll

 An. Sundaicus

(32)

Vek

Vektor tor ditetapkan ditetapkan oleh oleh Dinas Dinas Provinsi Provinsi atau atau Kabupaten/Kota. Kabupaten/Kota. ApabilaApabila disuatu wilayah terdapat beberapa vektor/tersangka vektor, maka disuatu wilayah terdapat beberapa vektor/tersangka vektor, maka sim-bol vektor yang telah dikon

bol vektor yang telah dikonfifirmasi sebagai vektor malaria diberi warnarmasi sebagai vektor malaria diberi warna merah.

merah. 6.

6. Lokasi Lokasi PemberantasPemberantasan an VektorVektor Lokasi

Lokasi pemberantasan pemberantasan vektor vektor digambarkan digambarkan dengan dengan symbol symbol sebagai sebagai beri- beri-kut:

kut:

Tabel 6. Simbol Kegiatan Pengendalian Vektor Tabel 6. Simbol Kegiatan Pengendalian Vektor

K

Keeggiiaattaan n SSiimmbbooll

Penyemperotan Rumah

Penyemperotan Rumah IRSIRS

Pembagian Kelambu

Pembagian Kelambu IBNIBN

Biological Control

Biological Control BCBC

Larvaciding

Larvaciding LARLAR

7.

7. Lokasi Lokasi Infrastruktur Infrastruktur KesehatanKesehatan Lokasi

Lokasi infrastruktur infrastruktur kesehatan kesehatan Kesehatan Kesehatan Berupa Berupa puskesmas puskesmas atau atau rumahrumah sakit dapat digambarkan sebagai berikut:

(33)

T

Tabel 7. abel 7. Simbol Fasilitas KesehatanSimbol Fasilitas Kesehatan

P

Puusskkeessmmaas s SSiimmbbooll

 Puskesmas yang bisa melakukan

 Puskesmas yang bisa melakukan

diagnostik malaria

diagnostik malaria PKM/DPKM/D

Puskesmas tanpa diagnostik malaria

Puskesmas tanpa diagnostik malaria PKMPKM

Rumah Sakit

Rumah Sakit RSRS

C.

C. PENANGGULANGAN PENANGGULANGAN FOKUSFOKUS

Hasil k

Hasil kegiatan penyelidikan egiatan penyelidikan epidemiologi epidemiologi dan fokus dan fokus malaria adalahmalaria adalah informasi mengenai permasalahan yang terjadi disuatu wilayah fokus, informasi mengenai permasalahan yang terjadi disuatu wilayah fokus, terutama pada daerah fokus aktif dan fokus non-aktif yang masih terjadi terutama pada daerah fokus aktif dan fokus non-aktif yang masih terjadi penularan malaria dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Berikut penularan malaria dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Berikut be-berapa kegiatan penanggulangan yang dilakukan berdasarkan klasi

berapa kegiatan penanggulangan yang dilakukan berdasarkan klasififikasikasi fokusnya:

fokusnya: 1.

1. PenanggulPenanggulangan angan di di Daerah Daerah Fokus Fokus Aktif Aktif  Fokus

Fokus aktif aktif merupakan merupakan daerah daerah reseptif reseptif yang yang masih masih terdapat terdapat penu- penu-laran malaria pada tahun berjalan, kegiatan penanggulangan di laran malaria pada tahun berjalan, kegiatan penanggulangan di wilayah fokus aktif seperti:

wilayah fokus aktif seperti: a.

a. Untuk setiap Untuk setiap kasus yang kasus yang ditemukan dilakukan ditemukan dilakukan pemantauanpemantauan minum obat dan

Gambar

Gambar 1. Bagan Rangkaian Kegiatan Penyelidikan Epidemiologi Malaria Rangkaian Kegiatan Penyelidikan Epidemiologi Malaria
Gambar 2. Bagan Jejaring Penyelidikan Epidemiologi MalariaGambar 2. Bagan Jejaring Penyelidikan Epidemiologi Malaria
Gambar 3. Alur Laporan Kewaspadaan (Noti
Tabel 3. Simbol Klasi fi fi kasi Fokus kasi Fokus F
+3

Referensi

Dokumen terkait

Indonesia merupakan negara kepulauan yang berbatasan dengan 10 negara di wilayah laut, dengan demikian Indonesia mempunyai peran dalam politik luar negeri/internasional

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Duarte, Matos, Stubbs (2017) para wanita bertubuh besar yang tidak memiliki kepercayaan diri cenderung memiliki rasa malu yang lebih

Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa nilai rata-rata variabel X siswa 69,96 berkategori “cukup” kemudian setelah diterapkan model discovery

Metode Simpleks adalah metode yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan manajerial yang telah diformulasikan terlebih dahulu ke dalam persamaan matematika program

Dengan demikian bahwa faktor pendidikan, pengalaman, lahan, modal, penyuluhan, dan jumlah tanggungan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani

Pelayanan Kefarmasian yang dilakukan oleh Apoteker terkait terapi Antibiotik, dalam mewujudkan terapi antibiotik yang bijak dan pencegahan resistensi, hendaknya dilakukan secara

Agar pelaksanaan kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik dapat terselenggara dengan baik, maka perlu dibuat ketentuan atas dasar nilai-nilai atau

maf gan sy punya printer epson r 230, ceritanya bigini awalnya saya print foto kemuadian hasilnya bergaris-garis gt,,, saya cleaning eh mala h tambah parah akhirnya