276
PENGARUH METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF DAN GAYA KOGNITIF TERHADAP HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS V
SEKOLAH DASAR NEGERI 147 PALEMBANG
Nur Andriani
Guru Sekolah Dasar Negeri 147 Palembang [email protected]
Abstract: This study aims to determine the effect of the Cooperative Learning Method Team Assisted Individually and Think Pair Share Technique and Cognitive Style of the learning outcomes of Natural Science. The study was conducted on students in class IV SD Negeri 147 Palembang. The number of students as many as 32 students. Research using experiment method with treatment by level 2 x 2. Data analysis is the analysis of variance of two lanes (ANOVA). The results of this study indicate that (1) there are differences in learning outcomes of natural science among the group given Team Assisted Individually Technique and the group given Think Pair Share technique (2) There are Interactions between cooperative learning and cognitive style of the learning outcomes of natural science.
Keywords: Team Assisted Individualization and Think Pair Share Technique, Cognitive Style, learning outcomes.
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mentukan pengaruh Metode Pembelajaran Team Koperasi Assisted secara dan Think Pair Share Teknik dan kognitif Style dari hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam. Penelitian dilakukan pada siswa di kelas IV SD Negeri 147 Palembang. Jumlah siswa sebanyak 32 siswa. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan pengobatan dengan tingkat analisis 2 x 2. Data adalah analisis varians dua jalur (ANOVA). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) ada perbedaan hasil belajar ilmu pengetahuan alam antara kelompok yang diberi Team Assisted Individual Teknik dan kelompok yang diberi Pikirkan teknik Pair Share (2) Ada Interaksi antara pembelajaran kooperatif dan gaya kognitif pembelajaran hasil dari ilmu pengetahuan alam. Kata kunci: Team Assisted Individualization dan Think Pair Share Teknik, Cognitive Style, hasil dari ilmu alam belajar.
Kata kunci: Team Assisted Individualization , Think Pair Share Teknik, Cognitive Style, hasil belajar.
Pendidikan merupakan usaha agar manusia
dapat mengembangkan potensi dirinya
melalui proses pembelajaran dan atau cara
lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat.
Dari pengertian ini dapat ditarik benang
merah bahwa dalam memperbaharui potensi
diri seseorang perlu ada upaya melalui sebuah
proses pembelajaran baik formal, nonformal,
maupun informal. Pendidikan pada prinsipnya memikul amanah “etika masa depan”. Etika masa depan timbul dan dibentuk oleh
kesadaran bahwa setiap anak manusia akan
menjalani sisa hidupnya di masa depan
bersama-sama dengan makhluk hidup lainnya
277 Mewujudkan pendidikan impian tersebut,
peserta didik dibina sedemikian rupa dengan
membekali mereka berbagai kompetensi yang
nantinya akan membantu mereka untuk hidup
secara independent dan factual. Tentu saja
tujuan ini tidak bisa diwujudkan secara cepat,
namun dengan proses yang nyata dan dari
usia siswa sedini mungkin. Dalam hal ini,
guru memegang peran penting. guru
profesional adalah guru yang mampu melihat
potensi peserta didiknya dan mengolah
potensi tersebut melalui berbagai pendekatan
pembelajaran.
Seharusnya guru mengubah pola
pembelajaran mereka dari yang berbasis “menyalurkan pengetahuan” menjadi berbasis “aktivitas siswa”. Mentransfer informasi ke siswa dengan cara konvensional hanya akan
membuat informasi tersebut masuk ke
short-term memory (memori jangka pendek),
sedangkan bila di pembelajaran berbasis
aktivitas maka siswa akan mampu
mengkonstruksi makna sehingga secara tidak
langsung informasi tersebut akan masuk ke
long-term memory (memori jangka panjang).
Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA) merupakan salah satu mata pelajaran
berbasis aktivitas yang memiliki pendekatan
saintifik (ilmiah). Pendekatan saintifik yang
dimaksud memiliki langkah-langkah yaitu:
mengamati, menanya, mengumpulkan
informasi, menalar/mengasosiasi, dan
mengomunikasikan gagasan. Pendekatan ini
sangat baik bila diterapkan di dalam kelas,
karena bisa dipastikan kegiatan ini mampu
membuat siswa menjadi lebih aktif.
Haryono (2013:4) mengungkapkan
bahwa pada dasarnya mata pelajaran IPA
merupakan mata pelajaran yang diharapkan
sebagai sarana mengembangkan kemampuan
berpikir analisis dan deduktif dengan
menggunakan berbagai konsep dan prinsip
IPA untuk menjelaskan berbagai peristiwa
alam.
Pada kenyataannya dari hasil observasi
yang dilakukan di lapangan, guru masih
menggunakan metode konvensional saat
mengajar, akibatnya peserta didik tidak
terbiasa menggunakan daya nalarnya, tetapi
terbiasa dengan daya menghafal dan terpaku
pada buku sumber saja sehingga terlihat
jurang pemisah pembelajaran di kelas dengan
kehidupan sehari-hari. Seperti yang telah
dijelaskan di muka, proses penyaluran
informasi yang hanya dilakukan sepihak
hanya akan sampai pada memori jangka
pendek. Bukan hanya itu, jumlah siswa yang
melebihi jumlah ideal di dalam kelas klasikal
menjadi salah satu faktor terhambatnya
penyampaian materi pembelajaran. Menurut
penuturan salah satu guru, suasana kelas yang
panas dan tidak kondusif serta tingkah laku
siswa yang berbeda-beda di dalam kelas juga
278 terarah. Di tambah lagi dengan kurangnya
sarana dan prasarana saat mengajar seperti
ketiadaan laboratorium IPA, KIT atau alat
peraga penunjang eksperimen dalam mata
pelajaran IPA, dan lain sebagainya membuat
ruang gerak siswa dan guru menjadi
terhambat.
Berdasarkan data empirik terakhir yang
diperoleh didapatkan bahwa dari 42 siswa
kelas VB yang mencapai KKM dalam muatan
pelajaran IPA hanya 23 siswa (45%). Padahal
hasil penilaian yang dilakukan oleh guru
terkadang belum sepenuhnya menggambarkan
pencapaian kompetensi nyata dari peserta
didik, sehingga informasi hasil penilaian oleh
guru melalui kegiatan penilaian adalah
informasi yang kurang valid dan akurat.
Pengukuran hasil belajar yang baik harusla
memuat standar keterampilan proses yang
terdiri dari aspek mengamati,
mengklasifikasikan, menginterprestasi,
menganalisis, menerapkan, memprediksikan,
dan mengkomunikasihkan.
Masalah di atas boleh jadi bukan hanya
terjadi di kelas tersebut saja, namun juga
menjadi permasalahan bagi guru-guru lain
yang belum menerapkan dan menguasai
berbagai metode berbasis aktivitas siswa.
Untuk itu, perlu dirancang sebuah metode
yang mampu mengatasi
keterbatasan-keterbatasan tersebut. Dalam kegiatan belajar
mengajar, guru sewajarnya berupaya
mengajar dengan baik. Dalam hal ini belajar
yang tidak menjenuhkan. Untuk itu, guru
dapat saja mencobakan berbagai metode agar
siswa mau dan termotivasi untuk belajar,
misalnya dengan menggunakan metode
cooperative learning atau pembelajaran
kooperatif.
Abidin (2014:241) pembelajaran
kooperatif merupakan sistem pembelajaran
yang memberi kesempatan kepada anak didik
untuk bekerja sama dengan sesama siswa
dalam tugas-tugas terstruktur. Pembelajaran
kooperatif dikenal dengan pembelajaran
secara kelompok atau kerja kelompok karena
dalam belajar kooperatif ada struktur
dorongan atau tugas yang bersifat
independensi efektif di antara anggota
kelompok. Hubungan kerja seperti itu
memungkinkan timbulnya persepsi yang
positif tentang apa yang dapat dilakukan
siswa untuk mencapai keberhasilan belajar
berdasarkan kemampuan dirinya dan andil
dari anggota kelompok lain selama belajar
bersama dalam kelompok.
Selama ini, kegiatan belajar siswa lebih
banyak dilakukan dengan menggunakan
metode ceramah atau belajar individual
dengan hasil yang kurang maksimal karena
siswa tidak terlalu aktif. Tujuan menggunakan
metode cooperative learning atau
pembelajaran kooperatif adalah melatih siswa
279 Para siswa yang selama ini terbiasa pasif bisa
menjadi aktif. Metode cooperative learning
atau pembelajaran kooperatif ini mempunyai
beberapa teknik yang dapat digunakan oleh
guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Dari beragam tipe dalam metode cooperative
learning tersebut, dalam penelitian ini peneliti
menggunakan metode Team Assisted
Individualization (TAI) atau bekerja dengan
sendiri lalu berkelompok dan
Think-Pair-Share (TPS) atau berpikir berpasangan
bertukar pendapat.
Teknik Team Assisted Individualization
(TAI) mengombinasikan keunggulan
pembelajaran kooperatif dan pembelajaran
individual. Dari teknik pembelajaran
kooperatif di atas, siswa secara tidak langsung
siswa dituntut aktif dalam proses
pembelajaran. Setiap anggota kelompok
diharapkan dapat saling bekerjasama secara
sportif satu sama lain dan bertanggungjawab
baik kepada dirinya maupun kepada anggota
dalam satu kelompok. Slavin dikutip
Widiharto (2006:19) membuat metode ini
dengan beberapa alasan. Pertama, teknik ini
mengkombinasikan keunggulan kooperatif
dan program pembelajaran individual. Kedua,
teknik ini memberikan tekanan pada efek
sosial dari belajar kooperatif. Ketiga, teknik
TAI disusun untuk memecahkan masalah
dalam program pengajaran, misalnya dalam
hal kesulitan belajar siswa secara individual.
Membuat siswa bekerja dalam tim-tim
pembelajaran kooperatif dan mengemban
tanggung jawab mengelola dan memeriksa
secara rutin, saling membantu satu sama lain
dalam menghadapi masalah, dan saling
memberi dorongan untuk maju.
Metode Think Pairs Share
menggabungkan kegiatan membaca,
berbicara, mendengarkan. Teknik Think Pair
Share ini dapat digunakan dalam
mengemukakan ide, apalagi membahas topik
yang disenangi, suasana menjadi dinamis dan
siswa menjadi aktif. metode Think Pair Share
ini dikembangkan oleh Frank Lyman dan
Spencer Kagan di kutip Lie (2004:6). Menurut mereka “teknik pembelajaran berpikir-berpasangan-bertukar pendapat ini
merupakan struktur kegiatan cooperative
learning”. Teknik Think Pair Share ini
memberikan kesempatan kepada siswa untuk
bekerja sama dengan orang lain atau bekerja
sendiri. Keunggulan metode Think Pair Share
siswa lebih banyak kesempatan maju untuk
mengemukakan pendapat dari pada metode
ceramah karena siswa dapat menunjukkan
partisipasi kepada siswa lain.
Diketahui pada saat proses
pembelajaran berlangsung ada beragam jenis
siswa di dalam kelas. Jika dilihat sepintas
mereka memang terlihat homogen padahal
mereka memiliki respon yang berbeda-beda
280 guru. Gaya siswa dalam menerima informasi
saat proses pembelajaran disebut dengan gaya
kognitif. Menurut Riding dan Rayner
(2005:238) di dalam dunia proses
pembelajaran, ada dua jenis gaya kognitif
yaitu field dependent dan field independent.
Sebagian siswa yang menangkap pelajaran
dengan mudah dengan cara guru memberikan
metode pembelajaran yang menekankan siswa
untuk menemukan dan menyelesaikan
masalah siswa seperti ini sering disebut field
independent. Sedangkan siswa yang
menangkap pelajaran dengan cara membaca
berpatokan dengan buku pelajaran saja
disebut field dependet.
METODE
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode eksperimen
dengan rancangan desain Treatment by level 2
x 2. Metode eksperimen dapat diartikan
sebagai metode penelitian yang digunakan
untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu
terhadap yang lain dalam kondisi yang
terkendalikan. Metode eksperimen dengan
variable terikat adalah hasil belajar IPA (Y).
Penelitian ini dilakukan perlakuan (treatment)
untuk mencari pengaruh di antara dua
variable yang itu variable perlakuan adalah
metode pembelajaran kooperatif (X1) dan
variable moderator adalah gaya kognitif (X2).
Variable perlakuan adalah metode
pembelajaran yang terdiri atas dua yaitu
metode pembelajaran kooperatif tehnik Team
Assisted Individualization dan Think Pair
Share (X1). Variabel moderator adalah gaya
kognitif Field Independent dan gaya kognitif
Field Dependet (X2).
Penelitian ini menggunakan metode
pembelajaran kooperatif. Percobaan
dilakukan kepada dua kelompok peserta didik
yakni kelompok gaya kognitif field
independent dan gaya kognitif field dependent
mendapat perlakukan dengan pemberian
metode pembelajaran kooperatif teknik Team
Assisted Individualization dan kelompok gaya
kognitif Field Independent dan kelompok
gaya kognitif Field Dependent mendapat
perlakuan dengan metode pembelajaran
kooperatif tipe Think Pair Share. Adapun
rancangan dalam penelitian ini terlihat pada
281 Tabel 1 : Rancangan Treatment by level
2 X 2
Sugiyono (2010:90) mengemukakan
bahwa sampel adalah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi.
Teknik penarikan sampel dalam penelitian ini
menggunakan cluster simple random
sampling adalah cara untuk mengambil
sampel dari anggota populasi degan
menggunakan acak tanpa memperhatikan
strata (tingkatan) dalam anggota populasi
tersebut.
Selanjutnya pada angket gaya kognitif
ditentukan kelompok atas dan kelompok
bawah. Siswa dikategorikan ke dalam
kelompok gaya kognitif Field Independent
apabila skor berada pada rentang 27% skor
tinggi. Kemudian siswa dikategorikan ke
dalam kelompok gaya kognitif Field
Dependent apabila skor gaya kognitif berada
rentang 27% terendah. 32 x 27% = 8 sampel.
HASIL
1. Perbedaan pengaruh variabel hasil belajar IPA antara variabel Teknik Pembelajaran Team Assisted Individualization dengan variabel teknik pembelajaran Think Pair Share.
Berdasarkan hasil perhitungan ANAVA
pada taraf signifikan = 0,05, di dapat Fhitung
= 4,4233 > Ftabel = 4,15. Dengan demikian H0
ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa
secara keseluruhan, terdapat perbedaan
pengaruh yang signifikan anatara kelompok
peserta didik yang diberikan teknik team
assisted individualization dengan kelompok
peserta didik yang diberikan teknik teknik
think pair share terhadap hasil belajar IPA.
Oleh karena itu, hasil belajar IPA yang
diberikan teknik team assisted
individualization (X = 83 dan s = 8,57) lebih
baik secara nyata dibandingkan yang
diberikan teknik think pair share(X =76,875
dan s = 6,81).
2. Pengaruh interaksi antara teknik pembelajaran dengan gaya kognitif terhadap hasil belajar IPA (INT A x B)
Hasil perhitungan ANAVA dapat
diketahui bahwa nilai hasil pengujian
hipotesis kedua yang disajikan dalam tabel
ANAVA pada baris Interaksi A x B
menunjukkan bahwa H0 ditolak berdasarkan
nilai Fhitung = 9,44> Ftab (0,05:1:36) = 4,15 dengan MetodePembelajarankooperatif
(A) Gaya Kognitif (B)
Team Assisted Individualization (A )
Think-pairs-share
(A )
Field Independent (B ) A B A B
Field Dependent (B ) A B A B
282 demikian dapat diambil keputusan bahwa
terdapat pengaruh interaksi yang signifikan
antara metode pembelajaran kooperatif
dengan gaya kognitif terhadap hasil belajar
IPA.
Data hasil penelitian, diperoleh skor
rata-rata hasil belajar IPA antara kelompok
peserta didik yang memiliki gaya kognitif
Filed Independent yang diberikan teknik
Team Assisted Individualization adalah
sebesar 89 dan kelompok peserta didik yang
memiliki gaya kognitif Fieid Dependent yang
diberikan teknik Team Assisted
Individualization adalah sebesar 77 untuk
skor rata-rata hasil belajar IPA anatar
kelompok peserta didik yang memiliki gaya
kognitif Field Independent yang diberi teknik
Think Pair Shair adalah sebesar 75,75 dan
kelompok siswa yang memiliki gaya kognitif
Field Dependent yang diberikan teknik Think
Pair Share adalah sebesar 78.
3. Perbedaan hasil belajar IPA bagi siswa yang memiliki gaya kognitif Field Independent antara siswa yang diajar menggunakan teknik Team Assisted Individualization dengan yang diajar menggunakan teknik Think Pair Share.
Perhitungan analisis varians tahap lanjut
Uji Tukey adalah untuk membandingkan
kelompok yang memiliki gaya kognitif field
independent yang diberikan teknik Team
Assisted Individualizatiodan yang diberikan
teknik Think Pair Share perhitungan Uji
Tukey Tukey A1B1> A2B1 = Qhitung = 5,28
lebih besar dari pada Qtabel 0,05:4:10 = 4,02 atau
Qhitung> Qtabel pada taraf signifikan α = 0.05,
dengan demikian H0 ditolak dan hipotesis
alternatif H1 diterima. Sehingga dapat
ditafsirkan hasil belajar IPA antara kelompok
peserta didik yang diberikan teknik Team
Assisted Individualizationdan lebih tinggi
dibandingkan dengan kelompok peserta didik
yang diberikan teknik Think Pair Share.
Oleh karena itu, bagi peserta didik yang
memiliki gaya kognitif Field Independent
yang diberikan teknik Team Assisted
Individualization(X = 89 dan s = 5,95) lebih
tinggi secara nyata dibandingkan yang
diberikan teknik Think Pair Share (X = 75,75
dan s = 7,12).
4. Perbedaan hasil belajar IPA antara siswa yang memiliki gaya kognitif Field Dependent antara siswa yang belajar menggunakan teknik Team Assisted Individualization dengan yang diajar menggunakan teknik Think Pare Share
Perhitungan analisi varians tahap lanjut
dengan Uji Tukey adalah untuk
membandingkan kelompok yang memiliki
gaya kognitif Filed Dependent yang diberikan
teknik Team Assisted Individualizationdan
yang teknik Think Pare Share perhitungan
Uji Tukey A1B2< A2B2 = Qhitung = -0,86 lebih
kecil dari pada Qtabel 0,05:4:10 = 4,07 atau
Qhitung< Qtabel pada taraf signifikan α = 0.05,
dengan demikian H0 ditolak dan hipotesis
283 ditafsirkan hasil belajar IPA antara kelompok
peserta didik yang diberikan teknik Team
Assisted Individualization lebih rendah
dibandingkan dengan kelompok peserta didik
yang diberikan teknik Think Pair Share.
Oleh karena itu, bagi peserta didik yang
memiliki gaya kognitif Field Dependent yang
diberikan teknik Team Assisted
Individualization(X = 77 dan s = 6,32) lebih
rendah secara nyata dibandingkan yang
diberikan teknik Think Pair Share (X = 78
dan s = 6,76).
PEMBAHASAN
1. Perbedaan pengaruh variabel hasil belajar IPA antara variabel Teknik Pembelajaran Team Assisted Individualization dengan variabel teknik pembelajaran Think Pair Share.
Hasil penelitan diperkuat dengan
pendapat Wisudawati dan Sulistiyowati
(2014:69) bahwa Team Assisted
Individualization dirancang untuk
memperoleh manfaat yang sangat besar dari
potensi yang terdapat dalam pembelajaran
kooperatif. Team Assisted Individualization
bertujuan untuk dapat menggombinasikan
pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran
individual. Kombinasi ini sangat di perlukan
dalam proses pembelajaran IPA. Hal ini
disebabkan seorang peserta didik mempunyai
minat atau motivasi dan kemampuan kognitif
masing-masing dalam pembelajaran IPA.
Perbedaan karakteristik tersebut di perlukan
pembelajaran yang mengombinasikan
pembelajaran individual dan kooperatif untuk
dapat mencapai KKM yang telah di tentukan
sehingga semua peserta didik dapat belajar
tuntas (mastery learning). Berbeda dengan
Team Assisted Individualizatio, teknik Think
Pair Share adalah teknik yang memberikan
kesempatan kepada siswa untuk berfikir dan
merespon serta saling membantu dalam
memecahkan masalah. Teknik ini
memberikan siswa kesempatan untuk berpikir
mengenai jawaban dari isu yang dikemukakan
oleh guru dalam hal materi, mata pelajaran
IPA biasanya lebih sering menampilkan
fakta-fakta ilmia daripada isu-isu social. Hal ini
berarti hipotesis penelitian secara keseluruhan
adalah hasil belajar IPA yang diberikan teknik
Team Assisted Individualization lebih tinggi
dibandingkan kelompok siswa yang diberikan
teknik Think Pair Share.
2. Pengaruh interaksi antara teknik pembelajaran dengan gaya kognitif terhadap hasil belajar IPA (INT A x B)
Abidin (2013:241) menyatakan bahwa
cooperative learning atau pembelajaran
kooperatif merupakan sistem pembelajaran
yang memberikan kesempatan kepada siswa
untuk bekerja sama dengan sesama siswa
dalam tugas-tugas terstruktur. Pembelajaran
kooperatif dikenal dengan pembelajaran
secara kelompok, tetapi belajar kooperatif
284 dalam belajar kooperatif ada struktur
dorongan atau tugas yang bertugas
independensi efektif di antara anggota
kelompok. Setiap orang memiliki cara-cara
sendiri yang disukainya dalam menyusun apa
yang dilihat, diingat, dipikirkannya.
Perbedan-perbedaan antara pribadi yang
menetap dalam cara menyusun dan mengolah
informasi serta pengalaman-pengalaman ini
dikenal sebagai gaya kognitif. Gaya kognitif
setiap siswa berpengaruh terhadap
pembelajaran kooperatif didalam kegiatan
belajar mengajar. Hal ini berarti hipotesis
penelitian terdapat interaksi antara metode
pembelajarn kooperatif dengan gaya kognitif
terhadap hasil belajar IPA.
3. Perbedaan hasil belajar IPA bagi siswa yang memiliki gaya kognitif Field Independent antara siswa yang diajar menggunakan teknik Team Assisted Individualization dengan yang diajar menggunakan teknik Think Pair Share.
Hasil penelitian di atas didukung oleh
pendapat Duplas (2011:366) yang
menyatakan bahwa teknik Team Assisted
Individualization menggombinasikan
pembelajaran kelompok dan individu.
Interaksi-interaksi dengan guru terbatas
dengan tugas-tugas yang sedang dikerjakan.
Hal ini sejalan dengan siswa yang memiliki
gaya kognitif Field Independent yang
menyukai bekerja atau memecahkan masalah
tanpa bimbingan dari orang lain dan
cenderung bersikap anti sosial.
Slavin, dkk yang meneliti tentang efek
dari pembelajaran kooperatif Teknik TAI
pada siswa dengan keterbatasan akademik.
Hasil yang didapat dari dua kelas dengan
kelas eksperimen yang menggunakan teknik
TAI dan kelas kontrol yang tidak
menggunakan teknik TAI ditemukan
perbedaan yang signifikan. Perbedaan
tersebut terletak pada respon sosial dan
penerimaan siswa dengan keterbatasan
akademik dalam pembelajaran matematika.
Meskipun tidak terdapat peningkatan belajar
yang cukup berarti, namun setidaknya siswa
yang diberikan perlakuan teknik TAI lebih
mendapatkan hasil yang baik daripada siswa
yang tidak diberikan perlakuan.
Hal ini berarti hipotesis penelitian
kelompok siswa yang memiliki gaya kognitif
Filed Independent yang diberikan teknik
Team Assisted Individualization lebih tinggi
dibandingkan dengan yang diberikan teknik
Think Pair Share terhadap hasil belajar IPA.
4. Perbedaan hasil belajar IPA antara siswa yang memiliki gaya kognitif Field Dependent antara siswa yang belajar menggunakan teknik Team Assisted Individualizationi dengan yang diajar menggunakan teknik Think Pare Share
Hasil penelitian di atas diperkuat
dengan pendapat sholeh (2014:96) yang
menyatakan bahwa teknik Think Pair Share
dapat membuat siswa semakin termotivasi
untuk belajar dengan giat karena siswa yang
285 membantu siswa yang memiliki motivasi
rendah. Sehingga teknik ini sesuai dengan
siswa yang memiliki gaya kognitif Field
Dependent yang cenderung memiliki motivasi
ekternal dan lebih tertarik pada pengguatan
ekternal dalam belajar.
Putpuek dan Kiattikomol meneliti
mahasiswa normal dengan membandingkan 2
(dua) pembelajaran kolaboratif
teknikThink-Pair-Share dengan teknik STAD pada
mahasiswa ilmu komputer dan teknologi
informasi. Putpuek dan Kiattikomol
menyayangkan sumber pembelajaran yang
hanya berasal dari guru saja sehingga siswa
menjadi cepat bosan. Untuk itu teknik
pembelajaran yang lebih efektif diperlukan.
Dalam penelitian ini, peneliti mensinstesis
dan mengevaluasi model pembelajaran TPS
dan STAD baik pembelajaran yang dilakukan
secara online maupun offline. Melalui
pengambilan data wawancara dan kuesioner
peneliti berkesimpulan bahwa model
pembelajaran kolaboratif tipe TPS lebih baik
daripada tipe STAD.Terlihat bahwa kelompok
yang memiliki gaya kognitif field depedent
yang diberikan metode teknik Think Pair
Share lebih tinggi dibandingkan dengan yang
diberikan teknik Team Assisted
Individualization.
SIMPULAN
Penelitian ini menggunakan metode
eksperimen yang melibatkan variable bebas,
yaitu teknik Team Assisted Individualization
dan teknik Think Pair Share dan gaya
kognitif, sedangkan sebagai variable
terikatnya adalah hasil belajar IPA siswa SD
Negeri 147 Palembang.
Berdasarkan hasil analisis data, hasil
pengujian hipotesis dan hasil pembahasan
penelitian yang telah diperoleh dijelaskan
beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Hasil belajar IPA bagi siswa yang belajar
dengan teknik pembelajaran Team
Assisted Individualization lebih tinggi
dibandingkan dengan hasil belajar IPA
siswa yang belajar dengan teknik
pembelajaran Think Pair Share.
berdasarkan temuan ini, maka dapat
disimpulkan bahwa teknik pembelajaran
team assisted individualization dapat
digunakan untuk meningkatkan hasil
belajar IPA.
2. Terdapat pengaruh interaksi antara teknik
pembelajaran dan gaya kognitif terhadap
hasil belajar IPA, berdasarkan temuan ini,
maka dapat disimpulkan bahwa hasil
belajara IPA yang memiliki kemampuan
gaya kognitif Field Independent dilakukan
dengan menggunakan teknik Team
Assisted Individualization. Sedangkan
untuk meningkatkan hasil belajar IPA
yang memiliki kemampuan gaya kognitif
Field Dependent dilakukan dengan
286 3. Hasil belajar IPA siswa yang mempunyai
gaya kognitif Field Independent dan
diberiperlakuan dengan menggunakan
teknik Team Assisted Individualization
menunjukkan adanya perbedaan dengan
teknik Think Pair Share terhadap hasil
belajar IPA pada siswa yang memiliki
gaya kognitif Field Independent.
Berdasarkan temuan ini, maka dapat
disimpulkan bahwa untuk meningkatakan
hasil belajar IPA siswa yang memiliki
kemampuan gaya kognitif Field
Independent dibutuhkan penggunaan
teknik pembelajaran Team Assisted
Individualization.
4. Hasil belajar IPA siswa yang mempunyai
gaya kognitif Field Dependent dan
diberiperlakuan pembelajaran dengan
menggunakan teknik pembelajaran Team
Assisted Individualization lebih rendah
dari pada siswa yang mempunyai gaya
kognitif Field Independent. Berdasarkan
temuan ini, maka dapat disimpulkan
bahwa untuk meningkatakan hasil belajar
IPA siswa yang memiliki kemampuan
gaya kognitif Field Dependent dibutuhkan
penggunaan teknik Think Pair Share.
DAFTAR RUJUKAN
Abidin Yunus. 2014. Desain Sistem
Pembelajaran dalam Konteks
Kurikulum 2013 Bandung: PT Refika Aditama.
Anita Lie, 2014. Cooperative Learning: Mempraktikkan Cooperative Learning
di Ruang-ruang Kelas (Jakarta:
Grasindo.
Haryono. 2013. Pembelajaran IPA yang Menarik dan Mengasyikkan Yogyakarta : Kepel Press.
Richard Riding and Stephen Rayner, 2005.
Cognitive Styles and Learning
Strategies: Understanding Style
Differences in Learning and Behaviour New York: David Fulton Publishers.
Shole, M. 2014. Metodelogi Pembelajaran Kontemporer (Yogyakarta : Kau Kaba Dipantara.
Widdiharto, Rachmadi. 2006. Model-model
Pembelajaran Matematika SMP.
Yogyakarta: PPPG Matematika.
UU No. 20 Tahun 2003.
www.slideshare.net/mobile/ahmadamriz al/01uu-no-20-tahun-2003-tentang-sistem-pendidikan-nasional. P. 1 (diakses tanggal 18 November 2014)
Robert E. Slavin, Nancy A. Madden, & Marshal Leavey. Effects of Cooperative Learning and Individualized Instruction
on Mainstreamed Students (dikutip dari
http://m.ebscohost.com) (diakses tanggal 18 Februari 2015).