• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF. pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF. pdf"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

276

PENGARUH METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF DAN GAYA KOGNITIF TERHADAP HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS V

SEKOLAH DASAR NEGERI 147 PALEMBANG

Nur Andriani

Guru Sekolah Dasar Negeri 147 Palembang [email protected]

Abstract: This study aims to determine the effect of the Cooperative Learning Method Team Assisted Individually and Think Pair Share Technique and Cognitive Style of the learning outcomes of Natural Science. The study was conducted on students in class IV SD Negeri 147 Palembang. The number of students as many as 32 students. Research using experiment method with treatment by level 2 x 2. Data analysis is the analysis of variance of two lanes (ANOVA). The results of this study indicate that (1) there are differences in learning outcomes of natural science among the group given Team Assisted Individually Technique and the group given Think Pair Share technique (2) There are Interactions between cooperative learning and cognitive style of the learning outcomes of natural science.

Keywords: Team Assisted Individualization and Think Pair Share Technique, Cognitive Style, learning outcomes.

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mentukan pengaruh Metode Pembelajaran Team Koperasi Assisted secara dan Think Pair Share Teknik dan kognitif Style dari hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam. Penelitian dilakukan pada siswa di kelas IV SD Negeri 147 Palembang. Jumlah siswa sebanyak 32 siswa. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan pengobatan dengan tingkat analisis 2 x 2. Data adalah analisis varians dua jalur (ANOVA). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) ada perbedaan hasil belajar ilmu pengetahuan alam antara kelompok yang diberi Team Assisted Individual Teknik dan kelompok yang diberi Pikirkan teknik Pair Share (2) Ada Interaksi antara pembelajaran kooperatif dan gaya kognitif pembelajaran hasil dari ilmu pengetahuan alam. Kata kunci: Team Assisted Individualization dan Think Pair Share Teknik, Cognitive Style, hasil dari ilmu alam belajar.

Kata kunci: Team Assisted Individualization , Think Pair Share Teknik, Cognitive Style, hasil belajar.

Pendidikan merupakan usaha agar manusia

dapat mengembangkan potensi dirinya

melalui proses pembelajaran dan atau cara

lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat.

Dari pengertian ini dapat ditarik benang

merah bahwa dalam memperbaharui potensi

diri seseorang perlu ada upaya melalui sebuah

proses pembelajaran baik formal, nonformal,

maupun informal. Pendidikan pada prinsipnya memikul amanah “etika masa depan”. Etika masa depan timbul dan dibentuk oleh

kesadaran bahwa setiap anak manusia akan

menjalani sisa hidupnya di masa depan

bersama-sama dengan makhluk hidup lainnya

(2)

277 Mewujudkan pendidikan impian tersebut,

peserta didik dibina sedemikian rupa dengan

membekali mereka berbagai kompetensi yang

nantinya akan membantu mereka untuk hidup

secara independent dan factual. Tentu saja

tujuan ini tidak bisa diwujudkan secara cepat,

namun dengan proses yang nyata dan dari

usia siswa sedini mungkin. Dalam hal ini,

guru memegang peran penting. guru

profesional adalah guru yang mampu melihat

potensi peserta didiknya dan mengolah

potensi tersebut melalui berbagai pendekatan

pembelajaran.

Seharusnya guru mengubah pola

pembelajaran mereka dari yang berbasis “menyalurkan pengetahuan” menjadi berbasis “aktivitas siswa”. Mentransfer informasi ke siswa dengan cara konvensional hanya akan

membuat informasi tersebut masuk ke

short-term memory (memori jangka pendek),

sedangkan bila di pembelajaran berbasis

aktivitas maka siswa akan mampu

mengkonstruksi makna sehingga secara tidak

langsung informasi tersebut akan masuk ke

long-term memory (memori jangka panjang).

Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam

(IPA) merupakan salah satu mata pelajaran

berbasis aktivitas yang memiliki pendekatan

saintifik (ilmiah). Pendekatan saintifik yang

dimaksud memiliki langkah-langkah yaitu:

mengamati, menanya, mengumpulkan

informasi, menalar/mengasosiasi, dan

mengomunikasikan gagasan. Pendekatan ini

sangat baik bila diterapkan di dalam kelas,

karena bisa dipastikan kegiatan ini mampu

membuat siswa menjadi lebih aktif.

Haryono (2013:4) mengungkapkan

bahwa pada dasarnya mata pelajaran IPA

merupakan mata pelajaran yang diharapkan

sebagai sarana mengembangkan kemampuan

berpikir analisis dan deduktif dengan

menggunakan berbagai konsep dan prinsip

IPA untuk menjelaskan berbagai peristiwa

alam.

Pada kenyataannya dari hasil observasi

yang dilakukan di lapangan, guru masih

menggunakan metode konvensional saat

mengajar, akibatnya peserta didik tidak

terbiasa menggunakan daya nalarnya, tetapi

terbiasa dengan daya menghafal dan terpaku

pada buku sumber saja sehingga terlihat

jurang pemisah pembelajaran di kelas dengan

kehidupan sehari-hari. Seperti yang telah

dijelaskan di muka, proses penyaluran

informasi yang hanya dilakukan sepihak

hanya akan sampai pada memori jangka

pendek. Bukan hanya itu, jumlah siswa yang

melebihi jumlah ideal di dalam kelas klasikal

menjadi salah satu faktor terhambatnya

penyampaian materi pembelajaran. Menurut

penuturan salah satu guru, suasana kelas yang

panas dan tidak kondusif serta tingkah laku

siswa yang berbeda-beda di dalam kelas juga

(3)

278 terarah. Di tambah lagi dengan kurangnya

sarana dan prasarana saat mengajar seperti

ketiadaan laboratorium IPA, KIT atau alat

peraga penunjang eksperimen dalam mata

pelajaran IPA, dan lain sebagainya membuat

ruang gerak siswa dan guru menjadi

terhambat.

Berdasarkan data empirik terakhir yang

diperoleh didapatkan bahwa dari 42 siswa

kelas VB yang mencapai KKM dalam muatan

pelajaran IPA hanya 23 siswa (45%). Padahal

hasil penilaian yang dilakukan oleh guru

terkadang belum sepenuhnya menggambarkan

pencapaian kompetensi nyata dari peserta

didik, sehingga informasi hasil penilaian oleh

guru melalui kegiatan penilaian adalah

informasi yang kurang valid dan akurat.

Pengukuran hasil belajar yang baik harusla

memuat standar keterampilan proses yang

terdiri dari aspek mengamati,

mengklasifikasikan, menginterprestasi,

menganalisis, menerapkan, memprediksikan,

dan mengkomunikasihkan.

Masalah di atas boleh jadi bukan hanya

terjadi di kelas tersebut saja, namun juga

menjadi permasalahan bagi guru-guru lain

yang belum menerapkan dan menguasai

berbagai metode berbasis aktivitas siswa.

Untuk itu, perlu dirancang sebuah metode

yang mampu mengatasi

keterbatasan-keterbatasan tersebut. Dalam kegiatan belajar

mengajar, guru sewajarnya berupaya

mengajar dengan baik. Dalam hal ini belajar

yang tidak menjenuhkan. Untuk itu, guru

dapat saja mencobakan berbagai metode agar

siswa mau dan termotivasi untuk belajar,

misalnya dengan menggunakan metode

cooperative learning atau pembelajaran

kooperatif.

Abidin (2014:241) pembelajaran

kooperatif merupakan sistem pembelajaran

yang memberi kesempatan kepada anak didik

untuk bekerja sama dengan sesama siswa

dalam tugas-tugas terstruktur. Pembelajaran

kooperatif dikenal dengan pembelajaran

secara kelompok atau kerja kelompok karena

dalam belajar kooperatif ada struktur

dorongan atau tugas yang bersifat

independensi efektif di antara anggota

kelompok. Hubungan kerja seperti itu

memungkinkan timbulnya persepsi yang

positif tentang apa yang dapat dilakukan

siswa untuk mencapai keberhasilan belajar

berdasarkan kemampuan dirinya dan andil

dari anggota kelompok lain selama belajar

bersama dalam kelompok.

Selama ini, kegiatan belajar siswa lebih

banyak dilakukan dengan menggunakan

metode ceramah atau belajar individual

dengan hasil yang kurang maksimal karena

siswa tidak terlalu aktif. Tujuan menggunakan

metode cooperative learning atau

pembelajaran kooperatif adalah melatih siswa

(4)

279 Para siswa yang selama ini terbiasa pasif bisa

menjadi aktif. Metode cooperative learning

atau pembelajaran kooperatif ini mempunyai

beberapa teknik yang dapat digunakan oleh

guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Dari beragam tipe dalam metode cooperative

learning tersebut, dalam penelitian ini peneliti

menggunakan metode Team Assisted

Individualization (TAI) atau bekerja dengan

sendiri lalu berkelompok dan

Think-Pair-Share (TPS) atau berpikir berpasangan

bertukar pendapat.

Teknik Team Assisted Individualization

(TAI) mengombinasikan keunggulan

pembelajaran kooperatif dan pembelajaran

individual. Dari teknik pembelajaran

kooperatif di atas, siswa secara tidak langsung

siswa dituntut aktif dalam proses

pembelajaran. Setiap anggota kelompok

diharapkan dapat saling bekerjasama secara

sportif satu sama lain dan bertanggungjawab

baik kepada dirinya maupun kepada anggota

dalam satu kelompok. Slavin dikutip

Widiharto (2006:19) membuat metode ini

dengan beberapa alasan. Pertama, teknik ini

mengkombinasikan keunggulan kooperatif

dan program pembelajaran individual. Kedua,

teknik ini memberikan tekanan pada efek

sosial dari belajar kooperatif. Ketiga, teknik

TAI disusun untuk memecahkan masalah

dalam program pengajaran, misalnya dalam

hal kesulitan belajar siswa secara individual.

Membuat siswa bekerja dalam tim-tim

pembelajaran kooperatif dan mengemban

tanggung jawab mengelola dan memeriksa

secara rutin, saling membantu satu sama lain

dalam menghadapi masalah, dan saling

memberi dorongan untuk maju.

Metode Think Pairs Share

menggabungkan kegiatan membaca,

berbicara, mendengarkan. Teknik Think Pair

Share ini dapat digunakan dalam

mengemukakan ide, apalagi membahas topik

yang disenangi, suasana menjadi dinamis dan

siswa menjadi aktif. metode Think Pair Share

ini dikembangkan oleh Frank Lyman dan

Spencer Kagan di kutip Lie (2004:6). Menurut mereka “teknik pembelajaran berpikir-berpasangan-bertukar pendapat ini

merupakan struktur kegiatan cooperative

learning”. Teknik Think Pair Share ini

memberikan kesempatan kepada siswa untuk

bekerja sama dengan orang lain atau bekerja

sendiri. Keunggulan metode Think Pair Share

siswa lebih banyak kesempatan maju untuk

mengemukakan pendapat dari pada metode

ceramah karena siswa dapat menunjukkan

partisipasi kepada siswa lain.

Diketahui pada saat proses

pembelajaran berlangsung ada beragam jenis

siswa di dalam kelas. Jika dilihat sepintas

mereka memang terlihat homogen padahal

mereka memiliki respon yang berbeda-beda

(5)

280 guru. Gaya siswa dalam menerima informasi

saat proses pembelajaran disebut dengan gaya

kognitif. Menurut Riding dan Rayner

(2005:238) di dalam dunia proses

pembelajaran, ada dua jenis gaya kognitif

yaitu field dependent dan field independent.

Sebagian siswa yang menangkap pelajaran

dengan mudah dengan cara guru memberikan

metode pembelajaran yang menekankan siswa

untuk menemukan dan menyelesaikan

masalah siswa seperti ini sering disebut field

independent. Sedangkan siswa yang

menangkap pelajaran dengan cara membaca

berpatokan dengan buku pelajaran saja

disebut field dependet.

METODE

Metode yang digunakan dalam

penelitian ini adalah metode eksperimen

dengan rancangan desain Treatment by level 2

x 2. Metode eksperimen dapat diartikan

sebagai metode penelitian yang digunakan

untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu

terhadap yang lain dalam kondisi yang

terkendalikan. Metode eksperimen dengan

variable terikat adalah hasil belajar IPA (Y).

Penelitian ini dilakukan perlakuan (treatment)

untuk mencari pengaruh di antara dua

variable yang itu variable perlakuan adalah

metode pembelajaran kooperatif (X1) dan

variable moderator adalah gaya kognitif (X2).

Variable perlakuan adalah metode

pembelajaran yang terdiri atas dua yaitu

metode pembelajaran kooperatif tehnik Team

Assisted Individualization dan Think Pair

Share (X1). Variabel moderator adalah gaya

kognitif Field Independent dan gaya kognitif

Field Dependet (X2).

Penelitian ini menggunakan metode

pembelajaran kooperatif. Percobaan

dilakukan kepada dua kelompok peserta didik

yakni kelompok gaya kognitif field

independent dan gaya kognitif field dependent

mendapat perlakukan dengan pemberian

metode pembelajaran kooperatif teknik Team

Assisted Individualization dan kelompok gaya

kognitif Field Independent dan kelompok

gaya kognitif Field Dependent mendapat

perlakuan dengan metode pembelajaran

kooperatif tipe Think Pair Share. Adapun

rancangan dalam penelitian ini terlihat pada

(6)

281 Tabel 1 : Rancangan Treatment by level

2 X 2

Sugiyono (2010:90) mengemukakan

bahwa sampel adalah bagian dari jumlah dan

karakteristik yang dimiliki oleh populasi.

Teknik penarikan sampel dalam penelitian ini

menggunakan cluster simple random

sampling adalah cara untuk mengambil

sampel dari anggota populasi degan

menggunakan acak tanpa memperhatikan

strata (tingkatan) dalam anggota populasi

tersebut.

Selanjutnya pada angket gaya kognitif

ditentukan kelompok atas dan kelompok

bawah. Siswa dikategorikan ke dalam

kelompok gaya kognitif Field Independent

apabila skor berada pada rentang 27% skor

tinggi. Kemudian siswa dikategorikan ke

dalam kelompok gaya kognitif Field

Dependent apabila skor gaya kognitif berada

rentang 27% terendah. 32 x 27% = 8 sampel.

HASIL

1. Perbedaan pengaruh variabel hasil belajar IPA antara variabel Teknik Pembelajaran Team Assisted Individualization dengan variabel teknik pembelajaran Think Pair Share.

Berdasarkan hasil perhitungan ANAVA

pada taraf signifikan = 0,05, di dapat Fhitung

= 4,4233 > Ftabel = 4,15. Dengan demikian H0

ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa

secara keseluruhan, terdapat perbedaan

pengaruh yang signifikan anatara kelompok

peserta didik yang diberikan teknik team

assisted individualization dengan kelompok

peserta didik yang diberikan teknik teknik

think pair share terhadap hasil belajar IPA.

Oleh karena itu, hasil belajar IPA yang

diberikan teknik team assisted

individualization (X = 83 dan s = 8,57) lebih

baik secara nyata dibandingkan yang

diberikan teknik think pair share(X =76,875

dan s = 6,81).

2. Pengaruh interaksi antara teknik pembelajaran dengan gaya kognitif terhadap hasil belajar IPA (INT A x B)

Hasil perhitungan ANAVA dapat

diketahui bahwa nilai hasil pengujian

hipotesis kedua yang disajikan dalam tabel

ANAVA pada baris Interaksi A x B

menunjukkan bahwa H0 ditolak berdasarkan

nilai Fhitung = 9,44> Ftab (0,05:1:36) = 4,15 dengan MetodePembelajarankooperatif

(A) Gaya Kognitif (B)

Team Assisted Individualization (A )

Think-pairs-share

(A )

Field Independent (B ) A B A B

Field Dependent (B ) A B A B

(7)

282 demikian dapat diambil keputusan bahwa

terdapat pengaruh interaksi yang signifikan

antara metode pembelajaran kooperatif

dengan gaya kognitif terhadap hasil belajar

IPA.

Data hasil penelitian, diperoleh skor

rata-rata hasil belajar IPA antara kelompok

peserta didik yang memiliki gaya kognitif

Filed Independent yang diberikan teknik

Team Assisted Individualization adalah

sebesar 89 dan kelompok peserta didik yang

memiliki gaya kognitif Fieid Dependent yang

diberikan teknik Team Assisted

Individualization adalah sebesar 77 untuk

skor rata-rata hasil belajar IPA anatar

kelompok peserta didik yang memiliki gaya

kognitif Field Independent yang diberi teknik

Think Pair Shair adalah sebesar 75,75 dan

kelompok siswa yang memiliki gaya kognitif

Field Dependent yang diberikan teknik Think

Pair Share adalah sebesar 78.

3. Perbedaan hasil belajar IPA bagi siswa yang memiliki gaya kognitif Field Independent antara siswa yang diajar menggunakan teknik Team Assisted Individualization dengan yang diajar menggunakan teknik Think Pair Share.

Perhitungan analisis varians tahap lanjut

Uji Tukey adalah untuk membandingkan

kelompok yang memiliki gaya kognitif field

independent yang diberikan teknik Team

Assisted Individualizatiodan yang diberikan

teknik Think Pair Share perhitungan Uji

Tukey Tukey A1B1> A2B1 = Qhitung = 5,28

lebih besar dari pada Qtabel 0,05:4:10 = 4,02 atau

Qhitung> Qtabel pada taraf signifikan α = 0.05,

dengan demikian H0 ditolak dan hipotesis

alternatif H1 diterima. Sehingga dapat

ditafsirkan hasil belajar IPA antara kelompok

peserta didik yang diberikan teknik Team

Assisted Individualizationdan lebih tinggi

dibandingkan dengan kelompok peserta didik

yang diberikan teknik Think Pair Share.

Oleh karena itu, bagi peserta didik yang

memiliki gaya kognitif Field Independent

yang diberikan teknik Team Assisted

Individualization(X = 89 dan s = 5,95) lebih

tinggi secara nyata dibandingkan yang

diberikan teknik Think Pair Share (X = 75,75

dan s = 7,12).

4. Perbedaan hasil belajar IPA antara siswa yang memiliki gaya kognitif Field Dependent antara siswa yang belajar menggunakan teknik Team Assisted Individualization dengan yang diajar menggunakan teknik Think Pare Share

Perhitungan analisi varians tahap lanjut

dengan Uji Tukey adalah untuk

membandingkan kelompok yang memiliki

gaya kognitif Filed Dependent yang diberikan

teknik Team Assisted Individualizationdan

yang teknik Think Pare Share perhitungan

Uji Tukey A1B2< A2B2 = Qhitung = -0,86 lebih

kecil dari pada Qtabel 0,05:4:10 = 4,07 atau

Qhitung< Qtabel pada taraf signifikan α = 0.05,

dengan demikian H0 ditolak dan hipotesis

(8)

283 ditafsirkan hasil belajar IPA antara kelompok

peserta didik yang diberikan teknik Team

Assisted Individualization lebih rendah

dibandingkan dengan kelompok peserta didik

yang diberikan teknik Think Pair Share.

Oleh karena itu, bagi peserta didik yang

memiliki gaya kognitif Field Dependent yang

diberikan teknik Team Assisted

Individualization(X = 77 dan s = 6,32) lebih

rendah secara nyata dibandingkan yang

diberikan teknik Think Pair Share (X = 78

dan s = 6,76).

PEMBAHASAN

1. Perbedaan pengaruh variabel hasil belajar IPA antara variabel Teknik Pembelajaran Team Assisted Individualization dengan variabel teknik pembelajaran Think Pair Share.

Hasil penelitan diperkuat dengan

pendapat Wisudawati dan Sulistiyowati

(2014:69) bahwa Team Assisted

Individualization dirancang untuk

memperoleh manfaat yang sangat besar dari

potensi yang terdapat dalam pembelajaran

kooperatif. Team Assisted Individualization

bertujuan untuk dapat menggombinasikan

pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran

individual. Kombinasi ini sangat di perlukan

dalam proses pembelajaran IPA. Hal ini

disebabkan seorang peserta didik mempunyai

minat atau motivasi dan kemampuan kognitif

masing-masing dalam pembelajaran IPA.

Perbedaan karakteristik tersebut di perlukan

pembelajaran yang mengombinasikan

pembelajaran individual dan kooperatif untuk

dapat mencapai KKM yang telah di tentukan

sehingga semua peserta didik dapat belajar

tuntas (mastery learning). Berbeda dengan

Team Assisted Individualizatio, teknik Think

Pair Share adalah teknik yang memberikan

kesempatan kepada siswa untuk berfikir dan

merespon serta saling membantu dalam

memecahkan masalah. Teknik ini

memberikan siswa kesempatan untuk berpikir

mengenai jawaban dari isu yang dikemukakan

oleh guru dalam hal materi, mata pelajaran

IPA biasanya lebih sering menampilkan

fakta-fakta ilmia daripada isu-isu social. Hal ini

berarti hipotesis penelitian secara keseluruhan

adalah hasil belajar IPA yang diberikan teknik

Team Assisted Individualization lebih tinggi

dibandingkan kelompok siswa yang diberikan

teknik Think Pair Share.

2. Pengaruh interaksi antara teknik pembelajaran dengan gaya kognitif terhadap hasil belajar IPA (INT A x B)

Abidin (2013:241) menyatakan bahwa

cooperative learning atau pembelajaran

kooperatif merupakan sistem pembelajaran

yang memberikan kesempatan kepada siswa

untuk bekerja sama dengan sesama siswa

dalam tugas-tugas terstruktur. Pembelajaran

kooperatif dikenal dengan pembelajaran

secara kelompok, tetapi belajar kooperatif

(9)

284 dalam belajar kooperatif ada struktur

dorongan atau tugas yang bertugas

independensi efektif di antara anggota

kelompok. Setiap orang memiliki cara-cara

sendiri yang disukainya dalam menyusun apa

yang dilihat, diingat, dipikirkannya.

Perbedan-perbedaan antara pribadi yang

menetap dalam cara menyusun dan mengolah

informasi serta pengalaman-pengalaman ini

dikenal sebagai gaya kognitif. Gaya kognitif

setiap siswa berpengaruh terhadap

pembelajaran kooperatif didalam kegiatan

belajar mengajar. Hal ini berarti hipotesis

penelitian terdapat interaksi antara metode

pembelajarn kooperatif dengan gaya kognitif

terhadap hasil belajar IPA.

3. Perbedaan hasil belajar IPA bagi siswa yang memiliki gaya kognitif Field Independent antara siswa yang diajar menggunakan teknik Team Assisted Individualization dengan yang diajar menggunakan teknik Think Pair Share.

Hasil penelitian di atas didukung oleh

pendapat Duplas (2011:366) yang

menyatakan bahwa teknik Team Assisted

Individualization menggombinasikan

pembelajaran kelompok dan individu.

Interaksi-interaksi dengan guru terbatas

dengan tugas-tugas yang sedang dikerjakan.

Hal ini sejalan dengan siswa yang memiliki

gaya kognitif Field Independent yang

menyukai bekerja atau memecahkan masalah

tanpa bimbingan dari orang lain dan

cenderung bersikap anti sosial.

Slavin, dkk yang meneliti tentang efek

dari pembelajaran kooperatif Teknik TAI

pada siswa dengan keterbatasan akademik.

Hasil yang didapat dari dua kelas dengan

kelas eksperimen yang menggunakan teknik

TAI dan kelas kontrol yang tidak

menggunakan teknik TAI ditemukan

perbedaan yang signifikan. Perbedaan

tersebut terletak pada respon sosial dan

penerimaan siswa dengan keterbatasan

akademik dalam pembelajaran matematika.

Meskipun tidak terdapat peningkatan belajar

yang cukup berarti, namun setidaknya siswa

yang diberikan perlakuan teknik TAI lebih

mendapatkan hasil yang baik daripada siswa

yang tidak diberikan perlakuan.

Hal ini berarti hipotesis penelitian

kelompok siswa yang memiliki gaya kognitif

Filed Independent yang diberikan teknik

Team Assisted Individualization lebih tinggi

dibandingkan dengan yang diberikan teknik

Think Pair Share terhadap hasil belajar IPA.

4. Perbedaan hasil belajar IPA antara siswa yang memiliki gaya kognitif Field Dependent antara siswa yang belajar menggunakan teknik Team Assisted Individualizationi dengan yang diajar menggunakan teknik Think Pare Share

Hasil penelitian di atas diperkuat

dengan pendapat sholeh (2014:96) yang

menyatakan bahwa teknik Think Pair Share

dapat membuat siswa semakin termotivasi

untuk belajar dengan giat karena siswa yang

(10)

285 membantu siswa yang memiliki motivasi

rendah. Sehingga teknik ini sesuai dengan

siswa yang memiliki gaya kognitif Field

Dependent yang cenderung memiliki motivasi

ekternal dan lebih tertarik pada pengguatan

ekternal dalam belajar.

Putpuek dan Kiattikomol meneliti

mahasiswa normal dengan membandingkan 2

(dua) pembelajaran kolaboratif

teknikThink-Pair-Share dengan teknik STAD pada

mahasiswa ilmu komputer dan teknologi

informasi. Putpuek dan Kiattikomol

menyayangkan sumber pembelajaran yang

hanya berasal dari guru saja sehingga siswa

menjadi cepat bosan. Untuk itu teknik

pembelajaran yang lebih efektif diperlukan.

Dalam penelitian ini, peneliti mensinstesis

dan mengevaluasi model pembelajaran TPS

dan STAD baik pembelajaran yang dilakukan

secara online maupun offline. Melalui

pengambilan data wawancara dan kuesioner

peneliti berkesimpulan bahwa model

pembelajaran kolaboratif tipe TPS lebih baik

daripada tipe STAD.Terlihat bahwa kelompok

yang memiliki gaya kognitif field depedent

yang diberikan metode teknik Think Pair

Share lebih tinggi dibandingkan dengan yang

diberikan teknik Team Assisted

Individualization.

SIMPULAN

Penelitian ini menggunakan metode

eksperimen yang melibatkan variable bebas,

yaitu teknik Team Assisted Individualization

dan teknik Think Pair Share dan gaya

kognitif, sedangkan sebagai variable

terikatnya adalah hasil belajar IPA siswa SD

Negeri 147 Palembang.

Berdasarkan hasil analisis data, hasil

pengujian hipotesis dan hasil pembahasan

penelitian yang telah diperoleh dijelaskan

beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Hasil belajar IPA bagi siswa yang belajar

dengan teknik pembelajaran Team

Assisted Individualization lebih tinggi

dibandingkan dengan hasil belajar IPA

siswa yang belajar dengan teknik

pembelajaran Think Pair Share.

berdasarkan temuan ini, maka dapat

disimpulkan bahwa teknik pembelajaran

team assisted individualization dapat

digunakan untuk meningkatkan hasil

belajar IPA.

2. Terdapat pengaruh interaksi antara teknik

pembelajaran dan gaya kognitif terhadap

hasil belajar IPA, berdasarkan temuan ini,

maka dapat disimpulkan bahwa hasil

belajara IPA yang memiliki kemampuan

gaya kognitif Field Independent dilakukan

dengan menggunakan teknik Team

Assisted Individualization. Sedangkan

untuk meningkatkan hasil belajar IPA

yang memiliki kemampuan gaya kognitif

Field Dependent dilakukan dengan

(11)

286 3. Hasil belajar IPA siswa yang mempunyai

gaya kognitif Field Independent dan

diberiperlakuan dengan menggunakan

teknik Team Assisted Individualization

menunjukkan adanya perbedaan dengan

teknik Think Pair Share terhadap hasil

belajar IPA pada siswa yang memiliki

gaya kognitif Field Independent.

Berdasarkan temuan ini, maka dapat

disimpulkan bahwa untuk meningkatakan

hasil belajar IPA siswa yang memiliki

kemampuan gaya kognitif Field

Independent dibutuhkan penggunaan

teknik pembelajaran Team Assisted

Individualization.

4. Hasil belajar IPA siswa yang mempunyai

gaya kognitif Field Dependent dan

diberiperlakuan pembelajaran dengan

menggunakan teknik pembelajaran Team

Assisted Individualization lebih rendah

dari pada siswa yang mempunyai gaya

kognitif Field Independent. Berdasarkan

temuan ini, maka dapat disimpulkan

bahwa untuk meningkatakan hasil belajar

IPA siswa yang memiliki kemampuan

gaya kognitif Field Dependent dibutuhkan

penggunaan teknik Think Pair Share.

DAFTAR RUJUKAN

Abidin Yunus. 2014. Desain Sistem

Pembelajaran dalam Konteks

Kurikulum 2013 Bandung: PT Refika Aditama.

Anita Lie, 2014. Cooperative Learning: Mempraktikkan Cooperative Learning

di Ruang-ruang Kelas (Jakarta:

Grasindo.

Haryono. 2013. Pembelajaran IPA yang Menarik dan Mengasyikkan Yogyakarta : Kepel Press.

Richard Riding and Stephen Rayner, 2005.

Cognitive Styles and Learning

Strategies: Understanding Style

Differences in Learning and Behaviour New York: David Fulton Publishers.

Shole, M. 2014. Metodelogi Pembelajaran Kontemporer (Yogyakarta : Kau Kaba Dipantara.

Widdiharto, Rachmadi. 2006. Model-model

Pembelajaran Matematika SMP.

Yogyakarta: PPPG Matematika.

UU No. 20 Tahun 2003.

www.slideshare.net/mobile/ahmadamriz al/01uu-no-20-tahun-2003-tentang-sistem-pendidikan-nasional. P. 1 (diakses tanggal 18 November 2014)

Robert E. Slavin, Nancy A. Madden, & Marshal Leavey. Effects of Cooperative Learning and Individualized Instruction

on Mainstreamed Students (dikutip dari

http://m.ebscohost.com) (diakses tanggal 18 Februari 2015).

Gambar

Tabel 1 : Rancangan Treatment  by level

Referensi

Dokumen terkait

(Hemiptera: Alydidae) menjadi salah satu hama penting pada pertanaman kacang panjang. Dalam upaya pengendalian hama R. linearis dibutuhkan informasi dasar seperti

maka Pokja Pengadaan Barang, Jasa Konsultansi dan Jasa Lainnya Pada Unit Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Aceh Barat Daya Tahun Anggaran 2014 mengumumkan Paket tersebut di

Unit Instalasi Pengolahan Air Limbah Lindi Pada TPA Kota Malang, Instalasi Pengolah Limbah (IPL) lindi utama yang diusulkan adalah kolam stabilisasi secara alamiah, dilanjutkan

SEGMEN BERITA REPORTER A Walikota Award Penghargaan Pemkot Bagi Media. Apa Kabar Jogja RBTV Menerima 2

Yang bertanda tangan dibawah ini Kelompok Kerja Barang Unit Layanan Pengadaan Kabupaten Kepulauan Aru, berdasarkan :. Berita Acara Pemberian Penjelasan (BAPP) Nomor

1) Siswa diberi permainan “lempar penghapus sambil bernyanyi” untuk menentukan giliran siswa yang akan membacakan hasil karangan narasi yang telah disusun. 2) Siswa

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, maka dapat diketahui bahwa efektivitas pelaksanaan program pencegahan dan pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap

86 Siti Arbainah 4052760662210113 Sejarah Kebudayaan Islam MIS DURIAN LUNJUK Hulu Sungai Tengah ASRAMA HAJI BANJARBARU. 87 Ichsan Sugiharto 8460758659200012 Sejarah Kebudayaan Islam