• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS MATA KULIAH LHK TENTANG BAHASA KRE (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TUGAS MATA KULIAH LHK TENTANG BAHASA KRE (1)"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH LINGUISTIK HISTORIS KOMPARATIF

APAKAH BAHASA INDONESIA TERGOLONG DALAM BAHASA KREOL?

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah LHK Dosen Pengampu: Dr. Inyo Yoz Fernandez

OLEH

BAIQ YULIA KURNIA WAHIDAH NIM. S111508023

FAKULTAS PASCA SARJANA

PROGRAM STUDI LINGUISTIK DESKRIPTIF UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

DAFTAR ISI

BAB I . ………..

PENDAHULUAN………. 3

A. Latar Belakang .. ……… 3

B. Rumusan Masalah. ……… 4

C. Tujuan Penelitian ……….. 4

BAB II………. 5

PEMBAHASAN………. 5

A. Pengertian Bahasa………. 5

B. Asal Muasal Bahasa……….. 6

C. Bahasa Indonesia………... 10

D. Bahasa Pijin……… 12

E. Bahasa Kreol……….. 14

BAB III……… 18

KESIMPULAN………. 18

DAFTAR PUSTAKA……… 21

(3)

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Bukan tidak mungkin jika nenek moyang manusia, baik laki-laki maupun perempuan, atau keduanya, sebelum mereka mendapatkan kekuatan untuk megekpresikan perasaan cinta mereka dalam bahasa yang jelas, mencoba untuk menarik perhatian satu sama lain dengan nada dan irama music, (Darwin, 1871).

Dalam pandangan Charles Darwin tentang asal muasal bahasa, manusia zaman dahulu telah mengembangkan kemampuan bermusik sebelum memiliki kemmapuan bahasa dan menggunakannya untuk “ menggoda satu sama lain.” Mungkin tidak sesuai dengan gambaran umum yang ada dalam benak kita tentang leluhur kita yakni orang-orang yang mengenakan pakaian dari kulit binatang dan tidak begitu menawan, tetapi merupakan spekulasi yang menarik tentang bagaimana bahasa muncul. Akan tetapi, ia tetap menjadi spekulasi.

Kita hanya tidak mengetahui bagaimana bahasa muncul. Tetapi kita tahu bahwa kemampuan untuk meghasilkan suara dan pola vocal sederhana (bunyi dengung atau bunyi dengkur, misalnya) tampaknya menjadi bagian tua dari otak kita yang memiliki kesamaan dengan semua hewan vertebrata, termasuk ikan, katak, burung, dan mamalia lain. Tetapi itu bukanlah bahasa manusia. Kami menduga beberapa tipe bahasa lisan pasti berkembang dengan baik antara 100.000 dan 50.000 tahun yang lalu sebelum bahasa tulis muncul (sekitar 5.000 tahun lalu). Namun, diantara jejak periode awal kehidupan di bumi, tidak pernah ditemukan bukti langsung artefak yang berkaitan dengan ujaran para leluhur jauh kita yang mungkin memberitahukan bagaimana bahasa pada tahap-tahap awal. Barangkali karena ketiadaan bukti fisik langsung ini, maka banyak muncul spekulasi tentang asal mula bahasa bahasa manusia.

(4)

melainkan lingua franca. Untuk lebih jelasnya maka akan dibahasa pada pembahasan pada bab selanjutnya.

Untuk membuktikan bahasa Indonesia tergolong ke dalam bahasa kreol atau tidak maka, akan dilihat dari berbagai teori dan juga menurut sejarah yang ada. Maka, dari sanalah akan dapat disimpulkan jawaban mengenai persepsi mengenai bahasa Indonesia termasuk dalam bahasa kreol atau tidak.

Bahasa Indonesia penting diketahui latar belakang atau asal muasalnya karena kita adalah masyarakat tutur atau speech community yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Maka, sudah barang tentu kita juga perlu mengetahui tentang bagaimana proses bahasa Indonesia dari awal digunakannya atau bagaimana proses yang dilalui sebelum diresmikan menjadi pemersatu atau bahasa nasional.

B. Rumusan Masalah

Sesuai dengan uraian di atas, maka dapat dirumuskan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini;

1. Apakah bahasa Indonesia tergolong ke dalam bahasa kreol atau tidak?

C. Tujuan Penelitian

Dilihat dari latar belakang yang telah diuraikan di atas serta mengacu pada rumusan masalah yang sudah dibuat, maka dapat dibuat tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penjelasan yang konkrit mengenai bahasa Indonesia yang tergolong atau tidak dalam bahasa kreol.

(5)

PEMBAHASAN A. Pengertian Bahasa

Bahasa adalah sebuah system, artinya bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Bagi orang yang mengerti system bahasa Indonesia akan mengakui bahwa susunan “Ibu meng. . .seekor. . .di” adalah sebuah kalimat bahasa Indonesia yang benar sistemnya, meskipun ada sejumlah komponennya yang ditanggalkan. Bahasa itu bersifat produktif, artinya, dengan sejumlah unsur yang terbatas, namun dapat dibuat satuan-satuan ujaran yang hamper tidak terbatas. Umpamanya, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia susunan W.J.S. Purwadarminta bahasa Indonesia hanya mempunyai lebih kurang 23.000 buah kata; tetapi dengan 23.000 buah kata itu dapat dibuat jutaan kalimat yang tidak terbatas.

Bahasa itu bersifat dinamis, maksudnya, bahasa itu tidak terlepas dari berbagai kemungkinan perubahan yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Perubahan itu data terjadi pada tataran fonologi, morfologi, sintaksis, semantic, dan leksikon. Yang tampak jelas biasanya adalah pada tataran leksikon. Bahasa itu beragam artinya, meskipun sebuah bahasa mempunyai kaidah atau pola tertentu yang sama, namun karena bahasa itu digunakan oelh penutur yang heterogen yang mempunyai latar belakang social dan kebiasaan yang berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam, baik dalam tataran fonologis, morfologis, sintaksis, semantic, dan leksikon. Bahasa yang bersifat manusawi artinya, bahasa sebagai lat komunikasi verbal yang hanya dimiliki manusia. Hewan tidak mempunyai bahasa. Yang digunakan hewan sebagai alat komunikasi adalah bunyi atau gerak isyarat, baik bersifat produktif dan dinamis. Dikuasai oleh para hewan itu secara instingtif, atau secara naluriah. Padahal manusai dalam menguasai bahasa bukanlah secara instingtif atau naluriah, melainkan dengan cara belajar. Tanpa belajar manusia tidak akan dapat berbahasa. Hewan tidak mempunyai kemmapuan untuk mempelajari bahasa manusia. Oleh karena itulah diakatakan bahwa bahasa itu bersifat manusiawi, hanya dimiliki manusia.

(6)

Bahasa Indonesia adalah varian bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia dari cabang bahasa-bahasa Sunda-Sulawesi, yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern.

Aksara pertama dalam bahasa Melayu atau Jawi ditemukan di pesisir tenggara Pulau Sumatera, mengindikasikan bahwa bahasa ini menyebar ke berbagai tempat di Nusantara dari wilayah ini, berkat penggunaannya oleh Kerajaan Sriwijaya yang menguasai jalur perdagangan. Istilah Melayu atau sebutan bagi wilayahnya sebagai Malaya sendiri berasal dari Kerajaan Malayu yang bertempat di Batang Hari, Jambi, dimana diketahui bahasa Melayu yang digunakan di Jambi menggunakan dialek "o" sedangkan dikemudian hari bahasa dan dialek Melayu berkembang secara luas dan menjadi beragam.

Istilah Melayu atau Malayu berasal dari Kerajaan Malayu, sebuah kerajaan Hindu-Budha pada abad ke-7 di hulu sungai Batanghari, Jambi di pulau Sumatera, jadi secara geografis semula hanya mengacu kepada wilayah kerajaan tersebut yang merupakan sebagian dari wilayah pulau Sumatera. Dalam perkembangannya pemakaian istilah Melayu mencakup wilayah geografis yang lebih luas dari wilayah Kerajaan Malayu tersebut, mencakup negeri-negeri di pulau Sumatera sehingga pulau tersebut disebut juga Bumi Melayu seperti disebutkan dalam Kakawin Nagarakretagama.

Ibukota Kerajaan Melayu semakin mundur ke pedalaman karena serangan Sriwijaya dan masyarakatnya diaspora keluar Bumi Melayu, belakangan masyarakat pendukungnya yang mundur ke pedalaman berasimilasi ke dalam masyarakat Minangkabau menjadi klan Malayu (suku Melayu Minangkabau) yang merupakan salah satu marga di Sumatera Barat. Sriwijaya berpengaruh luas hingga ke Filipina membawa penyebaran Bahasa Melayu semakin meluas, tampak dalam prasasti Keping Tembaga Laguna.

(7)

Dalam perkembangannya orang Melayu migrasi ke Semenanjung Malaysia (= Hujung Medini) dan lebih banyak lagi pada masa perkembangan kerajaan-kerajaan Islam yang pusat mandalanya adalah Kesultanan Malaka, istilah Melayu bergeser kepada Semenanjung Malaka (= Semenanjung Malaysia) yang akhirnya disebut Semenanjung Melayu atau Tanah Melayu. Tetapi nyatalah bahwa istilah Melayu itui berasal dari Indonesia. Bahasa Melayu yang berkembang di sekitar daerah Semenanjung Malaka berlogat "e".

Kesultanan Malaka dimusnahkan oleh Portugis tahun 1512 sehingga penduduknya diaspora sampai ke kawasan timur kepulauan Nusantara. Bahasa Melayu Purba sendiri diduga berasal dari pulau Kalimantan, jadi diduga pemakai bahasa Melayu ini bukan penduduk asli Sumatera tetapi dari pulau Kalimantan. Suku Dayak yang diduga memiliki hubungan dengan suku Melayu kuno di Sumatera misalnya Dayak Salako, Dayak Kanayatn (Kendayan), dan Dayak Iban yang semuanya berlogat "a" seperti bahasa Melayu Baku.

Penduduk asli Sumatera sebelumnya kedatangan pemakai bahasa Melayu tersebut adalah nenek moyang suku Nias dan suku Mentawai. Dalam perkembangannya istilah Melayu kemudian mengalami perluasan makna, sehingga muncul istilah Kepulauan Melayu untuk menamakan kepulauan Nusantara.

Secara sudut pandang historis juga dipakai sebagai nama bangsa yang menjadi nenek moyang penduduk kepulauan Nusantara, yang dikenal sebagai rumpun Indo-Melayu terdiri Proto Indo-Melayu (Indo-Melayu Tua/Indo-Melayu Polinesia) dan Deutero Indo-Melayu (Melayu Muda). Setelah mengalami kurun masa yang panjang sampai dengan kedatangan dan perkembangannya agama Islam, suku Melayu sebagai etnik mengalami penyempitan makna menjadi sebuah etnoreligius (Muslim) yang sebenarnya didalamnya juga telah mengalami amalgamasi dari beberapa unsur etnis.

(8)

di Sumatera Utara, ada beberapa Komunitas keturunan Batak yang mengaku Orang Kampong - Puak Melayu

Kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 Masehi diketahui memakai bahasa Melayu (sebagai bahasa Melayu Kuna) sebagai bahasa kenegaraan. Lima prasasti kuna yang ditemukan di Sumatera bagian selatan peninggalan kerajaan itu menggunakan bahasa Melayu yang bertaburan kata-kata pinjaman dari bahasa Sanskerta, suatu bahasa Indo-Eropa dari cabang Indo-Iran. Jangkauan penggunaan bahasa ini diketahui cukup luas, karena ditemukan pula dokumen-dokumen dari abad berikutnya di Pulau Jawa[10] dan Pulau Luzon.[11] Kata-kata seperti samudra, istri, raja, putra, kepala, kawin, dan kaca masuk pada periode hingga abad ke-15 Masehi.

Pada abad ke-15 berkembang bentuk yang dianggap sebagai bahasa Melayu Klasik (classical Malay atau medieval Malay). Bentuk ini dipakai oleh Kesultanan Melaka, yang perkembangannya kelak disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi. Penggunaannya terbatas di kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Jawa, dan Semenanjung Malaya.[butuh rujukan] Laporan Portugis, misalnya oleh Tome Pires, menyebutkan adanya bahasa yang dipahami oleh semua pedagang di wilayah Sumatera dan Jawa. Magellan dilaporkan memiliki budak dari Nusantara yang menjadi juru bahasa di wilayah itu. Ciri paling menonjol dalam ragam sejarah ini adalah mulai masuknya kata-kata pinjaman dari bahasa Arab dan bahasa Parsi, sebagai akibat dari penyebaran agama Islam yang mulai masuk sejak abad ke-12. Kata-kata bahasa Arab seperti masjid, kalbu, kitab, kursi, selamat, dan kertas, serta kata-kata Parsi seperti anggur, cambuk, dewan, saudagar, tamasya, dan tembakau masuk pada periode ini. Proses penyerapan dari bahasa Arab terus berlangsung hingga sekarang.

(9)

Kata-kata seperti asbak, polisi, kulkas, knalpot, dan stempel adalah pinjaman dari bahasa ini.

Bahasa yang dipakai pendatang dari Cina juga lambat laun dipakai oleh penutur bahasa Melayu, akibat kontak di antara mereka yang mulai intensif di bawah penjajahan Belanda. Sudah dapat diduga, kata-kata Tionghoa yang masuk biasanya berkaitan dengan perniagaan dan keperluan sehari-hari, seperti pisau, tauge, tahu, loteng, teko, tauke, dan cukong.

Jan Huyghen van Linschoten pada abad ke-17 dan Alfred Russel Wallace pada abad ke-19 menyatakan bahwa bahasa orang Melayu/Melaka dianggap sebagai bahasa yang paling penting di "dunia timur".[12] Luasnya penggunaan bahasa Melayu ini melahirkan berbagai varian lokal dan temporal. Bahasa perdagangan menggunakan bahasa Melayu di berbagai pelabuhan Nusantara bercampur dengan bahasa Portugis, bahasa Tionghoa, maupun bahasa setempat. Terjadi proses pidginisasi di beberapa kota pelabuhan di kawasan timur Nusantara, misalnya di Manado, Ambon, dan Kupang. Orang-orang Tionghoa di Semarang dan Surabaya juga menggunakan varian bahasa Melayu pidgin. Terdapat pula bahasa Melayu Tionghoa di Batavia. Varian yang terakhir ini malah dipakai sebagai bahasa pengantar bagi beberapa surat kabar pertama berbahasa Melayu (sejak akhir abad ke-19).[13] Varian-varian lokal ini secara umum dinamakan bahasa Melayu Pasar oleh para peneliti bahasa.

Terobosan penting terjadi ketika pada pertengahan abad ke-19 Raja Ali Haji dari istana Riau-Johor (pecahan Kesultanan Melaka) menulis kamus ekabahasa untuk bahasa Melayu. Sejak saat itu dapat dikatakan bahwa bahasa ini adalah bahasa yang full-fledged, sama tinggi dengan bahasa-bahasa internasional pada masa itu, karena memiliki kaidah dan dokumentasi kata yang terdefinisi dengan jelas.

(10)

C. Bahasa Indonesia

Pemerintah kolonial Hindia-Belanda menyadari bahwa bahasa Melayu dapat dipakai untuk membantu administrasi bagi kalangan pegawai pribumi karena penguasaan bahasa Belanda para pegawai pribumi dinilai lemah. Dengan menyandarkan diri pada bahasa Melayu Tinggi (karena telah memiliki kitab-kitab rujukan) sejumlah sarjana Belanda mulai terlibat dalam standardisasi bahasa. Promosi bahasa Melayu pun dilakukan di sekolah-sekolah dan didukung dengan penerbitan karya sastra dalam bahasa Melayu. Akibat pilihan ini terbentuklah "embrio" bahasa Indonesia yang secara perlahan mulai terpisah dari bentuk semula bahasa Melayu Riau-Johor.

Pada awal abad ke-20 perpecahan dalam bentuk baku tulisan bahasa Melayu mulai terlihat. Pada tahun 1901, Indonesia (sebagai Hindia-Belanda) mengadopsi ejaan Van Ophuijsen dan pada tahun 1904 Persekutuan Tanah Melayu (kelak menjadi bagian dari Malaysia) di bawah Inggris mengadopsi ejaan Wilkinson.[12] Ejaan Van Ophuysen diawali dari penyusunan Kitab Logat Melayu (dimulai tahun 1896) van Ophuijsen, dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim.

Intervensi pemerintah semakin kuat dengan dibentuknya Commissie voor de Volkslectuur ("Komisi Bacaan Rakyat" - KBR) pada tahun 1908. Kelak lembaga ini menjadi Balai Poestaka. Pada tahun 1910 komisi ini, di bawah pimpinan D.A. Rinkes, melancarkan program Taman Poestaka dengan membentuk perpustakaan kecil di berbagai sekolah pribumi dan beberapa instansi milik pemerintah. Perkembangan program ini sangat pesat, dalam dua tahun telah terbentuk sekitar 700 perpustakaan.[14] Bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai "bahasa persatuan bangsa" pada saat Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional atas usulan Muhammad Yamin, seorang politikus, sastrawan, dan ahli sejarah. Dalam pidatonya pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, Yamin mengatakan,

(11)

Selanjutnya perkembangan bahasa dan kesusastraan Indonesia banyak dipengaruhi oleh sastrawan Minangkabau, seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka, Roestam Effendi, Idrus, dan Chairil Anwar. Sastrawan tersebut banyak mengisi dan menambah perbendaharaan kata, sintaksis, maupun morfologi bahasa Indonesia.

Indonesia termasuk anggota dari Bahasa Melayu-Polinesia Barat subkelompok dari bahasa Melayu-Polinesia yang pada gilirannya merupakan cabang dari bahasa Austronesia. Menurut situs Ethnologue, bahasa Indonesia didasarkan pada bahasa Melayu dialek Riau yang dituturkan di timur laut Sumatra.

Bahasa Indonesia

Dituturkan di Indonesia

Wilayah Indonesia, Timor Leste

Penutur penutur

42 juta penutur asli

total 260 juta (diseluruh dunia) (date missing)

Rumpun bahasa Austronesia

 Malayo-Polinesia

o Malayo-Polinesia Inti

Sunda-Sulawesi

 Melayi

k

Melayu

(12)

Bahasa Indonesia

Status resmi

Bahasa resmi di Indonesia

Diatur oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Kode bahasa

ISO 639-1 Id

ISO 639-2 ind

ISO 639-3 ind

Keterangan:

Wilayah Bahasa Indonesia dominan dipertuturkan dan

sebagai bahasa resmi.

Wilayah Bahasa Indonesia dituturkan oleh minoritas.

D. Bahasa Pijin

(13)

pertama 1972). Pendapat Hall ini banyak diikuti oleh pakar lain seperti Hopper (1972), dan di Indonesia oleh Poedjosoedarmo (1978) dan Alwasilah (1985).

Di beberapa daerah, bahasa baku yang dipilih bias jadi merupakan ragam yang tadinya tidak memiliki penutur asli di Negara tersebut. Misalnya, di Papua Nugini, dengan lebig dari delapan ratus bahasa yang berbeda, banyak urusan bisnis dilakukan dalam bahasa Tok Pisin. Bahasa ini sekarang digunakan oleh lebih dari satu juta orang, tetapi sudah dimulai bertahun-tahun sebelumnya sebagai semacam bahasa yang tidak resmi yang disebut pidjin. Ragam bahasa sebuah bahasa yang disebut pidgin sering kali dibahas sebagai “kontak” yang berkembang untuk tujuan praktis, seperti perdagangan, anatara sekelompok orang yang sering berhubungan, tetapi yang tidak memahami bahasa satu sama lain. Dengan demikian, tidak ada penutur bahasa asli. Asal kata “pidgin” dianggap berasal dari versi bahasa China untuk kata bahasa Inggris “business”.

Bahasa pidgin dianggap sebagai “Pidgin bahasa Inggris” jika bahasa Inggris adalah bahasa leksifier, yaitu sumber kata utama yang dipakai dalam pidgin. Ini tidak berarti bahwa kata-kata tersebut akan memiliki pelafalan atau makna yang sama dengan sumbernya. Sebagai contoh, kata gras berasal dari kata bahasa Inggris “grass”, tetapi dalam Tok Pisin, kata ini juga digunakan untuk “rambut”. Kata tersebut adalah bagian dari mausgras (“moustache”) dan gras bilong fes (“beard”).

(14)

Sintaksis dari beberapa pidgin bisa saja tidak seerti bahasa-bahasa dari mana istilah-istilah mereka dipinjam dan dimodifikasika, seperti yang dapat dilihat dalam contoh berikut ini dari tahap awal Tok Pisin.

Baimba i

Hed bilongyu i-arrait gain

By and by

head Belong you

He alright

again

“ Your head will soon get well again”

Diyakini ada diantara enam sampai dua belas juta orang yang masih menggunakan bahasa pidgin dan antara sepuluh sampai tujuh belas juta lainnya menggunakan turunan pidgin yang disebut kreol.

E. Bahasa Kreol

Bahasa kreol adalah keturunan dari bahasa pijin yang menjadi bahasa ibu bagi sekelompok orang yang berasal dari latar belakang berbeda-beda. Kajian umum menunjukkan (khususnya yang dilakukan oleh Derek Bickerton) bahwa bahasa-bahasa kreol yang ada di dunia menunjukkan adalah kesamaan, khususnya dari segi tata bahasa yang mengarah pada teori Tata bahasa universal. Bahasa kreol ini juga dipengaruhi oleh kosakata-kosakata yang dibawa oleh para penuturnya.

Bahasa kreol berkembang karena sebab berikut :

 Berkumpulnya berbagai orang dari latar belakang yang berbeda, maksudnya: di

suatu daerah, terjadi kontak antara penduduk asli dan pendatang yang satu sama lain berbeda bahasa. Dari sini kemudian digunakan sarana komunikasi yang terdiri dari bahasa dominan, namun terpengaruh oleh kosakata-kosakata bawaan dari orang-orang tersebut.

(15)

perkembangan sehingga menjadi bahasa yang stabil dan terpisah dari bahasa induknya. Sebagian besar bahasa kreol ini berakar dari bahasa-bahasa Indo-Eropa sebagai bahasa dasarnya.

Berikut adalah bahasa-bahasa kreol yang sudah dikenal :

 Kreol Arab

o Ki Nubi

o Arab Juba

o Arab Babalia

 Kreol Inggris

o Bislama

o Tok Pisin

o Krio

o Pitcairn

o Sranang Tongo

o Kreol Miskito

o Kreol Rama Cay

 Kreol Perancis

o Kreol Haiti

(16)

o Kreol Mauritius

o Seselwa

 Kreol Melayu

o Betawi

o Melayu Ambon

o Melayu Manado

o Melayu Ternate

o Melayu Banda

o Melayu Kupang

o Melayu Larantuka

 Kreol Spanyol

o Chavacano

o Palenquero

 Kreol Portugis

o Papiamento

o Macao

o Burgher

(17)

o São Tomé

o Fa d'Ambo

o Crioulo

o Papia Kristang

Ketika pidgin berkembang melebihi perannya sebagai bahasa perdagangan atau komunikasi dan menjadi bahasa pertama komunitas social, maka bahasa itu disebut kreol. Tok Pisin sekarang merupakan sebuah kreol. Bahasa pertama dari banyak orang di Huwa’I juga merupakan kreol, dan meskipun secara local masih disebut pidgin, lebih tepat disebut sebagai bahasa Inggris Kreol Huwa’i. Kreol awalnya berkembang sebagai bahasa anak-anak yang tumbuh dalam komunitas yang menggunakan pidgin dan menjadi semakin kompleks ketika bahasa ini digunakan untuk tujuan komunikasi. Sehingga tidak seperti pidgin, kreol memiliki banyak penutr asli dan penggunaanya tidak terbatas. Kreol bahasa Prancis digunakan oleh sebagian besar populasi di Haiti dan kreol bahasa Inggris digunakan di Jamaika dan Sierra Leone.

Unsur kosa kata yang terpisah pada pidgin dapat menjadi unsur gramatika dalam bahas kreol. Bentuk baimbu yu go (by and by you go) pada Tok Pisin kuno secara bertahap disingkat menjadi bai yu go, dan akhirnya yu go, dengan struktur gramatika yang tidak seperti padanan terjemahan bahasa Inggrisnya, “you will go”.

Kontinum Pasca Kreol

(18)

dengan fitur kreol local. Di antara dua perbedaan penting ini mungkin ada sedikit kisaran keragaman yang berbeda, sebgaian memiliki banyak kreol dan sebagian lainnya hanya memiliki sedikit kreol. Kisaran keragaman ini, yang berevolusi setelah (pasca) kreol telah muncul, disebut kontinum pasca kreol.

Kita memperkirakan bahwa perbedaan ini akan sangat bergantung pada nilai dan identitas social. Dalam proses pembahasan ragam bahasa dari aspek perbedaan social, kita telah mengecualikan, dengan cara yang gaak keliru, factor social kompleks yang juga berproses dalam menentukan ragam bahasa.

(19)

Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Sejumlah besar bahasa-bahasa Melayu di daerah inti atau asal usul bahasa Melayu, yakni disepanjang pantai timur Pulau Sumatra, Semenanjung Malaya, wilayah bagian selatan Muanghatai, dan sepanjang pantai Kalimantan, termasuk Kalimantan Utara.

2. Bahasa yang mirip bahasa Melayu yang masing-masing merupakan kumpulan dialek tersendiri seperti Minangkabau dan Kerinci. 3. Bahasa Pidgin, Melayu Pasar, yang terdapat diberbagai tempat di

seluruh Nusantara, yang akhirnya menjadi kreol-kreol, seperti di Manado, Ambon, Ternate, Banda, Kupang, Jayapura, Fakfak, Merauke, Larantuka, dan Bajar. Termasuk juga yang disebut Baba Malay, yang digunakan oleh keturunan etnis Cina.

4. Kelompok Melayu lain seperti Melayu Jakarta dan Melayu Loloan di Bali. Dialek Jakarta, seperti dikemukakan Steinhauer (1990, asalnya dari 1980) tampaknya agak unik, sebab selain mengandung banyak unsur-unsur Melayu klasik juga banyak sekali dipengaruhi oleh unsur non Melayu. Bahasa Melayu Loloan di Pulau Bali, seperti dilaporkan Sumarsono (1990) dibawa langsung oleh sisa-sisa pasukan Pontianak dan Bugis ke daerah itu.

5. Kelompok bahasa Melayu Pustaka, Melayu Tinggi, yang mula-mula berpusat di Johor dan Riau; kemudian pindah ke Kuala Lumpur dan Jakarta. Yang berkembang di Kuala Lumpur menjadi cikal bakal bahasa Malaysia, dan yang berkembang di Jakarta menjadi cikal bakal bahasa nasional bahasa Indonesia, bukanlah dialek Jakarta, seperti yang dibicarakan pada no (4), melainkan dialek Melayu yang diajarkan di sekolah-sekolah, yang pemabkuan ejaannya yang pertama dilakukan oleh Ch A. Van Ophuijsen pada tahun 1901, dan kemudian

pengembangannya ditunjang oelh buku-buku terbitan Balai Pustaka.

(20)

Balai Pustaka, penerbitan Majalah Pujangga Baru; penagajaran secara formal di sekolah-sekolah; diteruskan dengan adanya Kongres Bahasa 1 tahun 1938 di kota Solo; diteruskan lagi dengan penggunaannya sebagai bahasa resmi pada zaman pemerintahan Jepang, sebagai pengganti bahasa Belanda dan bahasa Inggris; dan terakhir penetapannya sebagai bahasa Negara dalam Undang-Undang Dasar 1945.

Kalau kita bandingkan pijin Melayu, Kreol Melayu, dan bahasa Indonesia menurut klasifikasi sosiologi dari Stewart, maka dapat kita lihat sebuah pijin tidak memiliki dasar standarisasi, otonomi, historitas, dan vitalitas; sebuah kreol hanya memiliki dasar vitalitas, tetapi tidak memiliki standarisasi, historitas, da otonomi; padahal bahasa Indonesai memiliki keempat dasar itu. Perhatikan bagan berikut!

bahasa dasar standarisasi otonomi historitas vitalitas Pijin Kreol Indonesia - -V -V -V -V

Dua tahun setelah Hall melontarkan pendapatnya itu, maka Kridalaksana melancarkan bantahannya yang dimuat dalam Berita LIPI, 18 (1974), 2:19-23 (dan kemudian dimuat pula dalam Kridalaksana 1990). Namun, barangkali gaungnya tidak begitu keras, sehingga Poedjodoedarmo (1978) dan Alwasila (1985) tetap sependapat dengan Hall, tanpa menyinggung bantahan Kridalaksana itu. Ada baiknya sangghan Kridalaksana terhadap pendapat Hall itu dikemukakan di sini. Dalam sanggahan itu Kridalaksana memgajukan fakta-fakta yang intinya:

(21)

2. Sebelum menjadi bahasa Indonesia, bahasa Melayu ini telah melalui proses standarisasi, terutama melalui system pendidikan colonial Belanda.

3. Di samping bahasa Melayu yang full-plegded itu terdapat pula variasi lain yang disebut bahasa Melayu Pasar yang digunakan oleh pedagang-pedagang China, dan oleh orang-orang Belanda dalam berbicara dengan orang-orang. Bahasa Melayu Pasar ini jelas merupakan pijin. 4. Di samping itu terdapat pula sejumlah Kreol yang berdasar bahasa

Melayu, seperti bahasa Melayu Manado, Melayu Timur, dan Melayu Ambon, yang hingga kini tidak mempunyai kesusatraan.

5. Dialek-dialek Melayu yang nonstandard juga ada, seperti dialek Melayu Langkat, Melayu Deli, dan Melayu Jakarta. Begitu juga dialek-dialek regional yang ada di Semenanjung Malaya.

6. Masyarakat bukan Melayu di Indonesia sudah mengenal bahasa Melayu, baik yang berupa bahasa Melayu Pasar maupun yang berupa bahasa Melayu Tinggi (standar) yang diajarkan disekolah-sekolah. Dalam hal ini yang diterima sebagai bahasa nasional bukan bahasa Melayu Pasar, melainkan bahasa Melayu Tinggi.

7. Adanya pijin dan kreol yang berdasarkan bahasa Melayu, dan adanya dialek-dialek regional itu memudahkan penerimaan, penumbuhan dan penyebarabn bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

Akhirnya, mengenai pendapat Hall di atas bisa dikatakan kalau benar bahasa Indonesia standar berasal dari pijin Melayu (bahasa Melayu Pasar), maka tentunya dalam bahasa Indonesia sekarang yang diterima adalah bentuk kalimat seperti, “Dia mau kasi itu kain sama dia punya bini”, dan bukannya bentuk “Dia akan memberikan kain itu kepada istirnya”.

DAFTAR PUSTAKA

Wijana, dkk. 2013. Sosiolinguistik (Kajian Teori dan Analisis). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Chaer, dkk. 2010. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta

(22)

Crowly, dkk. 2010. An Introduction to Historical Linguistics. Oxford: University Press.

Chrystal David. 1987. The Cambridge Encyclopedia of Language.Cambridge: University Press.

https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_kreol diakses pada tanggal

https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_pijin

https://id.wikipedia.org/w/index.php?

search=asal+mula+bahasa+indonesia&title=Istimewa%3APencarian&go=Lanjut

Referensi

Dokumen terkait

Diharapkan kepada Pembaca yang melakukan proses enkripsi dan dekripsi file ataupun teks untuk menggunakan kunci yang lebih panjang dan lebih variatif antara huruf dan angka

Kliring merupakan jasa penyelesaian utang piutang antar bank dengan cara saling menyerahkan warkat-warkat yang akan dikliringkan dilembaga kliring (Penagihan warkat seperti cek atau

Bagaimana manajemen dan monitoring router dalam jaringan komputer yang digunakan untuk membroadcast dan mempelajari jaringan yang terhubung serta mempelajari

PENGARUH MEDIA RELATIONS TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN DI RUMAH MAKAN PONYO CINUNUK.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Namun maksud utama pendidikan akhlak/moral sama, yaitu menanamkan kepercayaan peserta didik terhadap standar moral untuk kemudian mengekspresikannya menjadi sikap dan tindakan

Jika ada restaurant yang khusus menyajikan berbagai macam menu ayam goreng maukah anda mencoba:.. ฀ ya

Salah satu dokumen yang perlu diperhatikan dalam keamanan datanya adalah kunci jawaban ujian akhir semester pada sekolah menengah atas, secara dokumen kunci jawaban

Jalur hijau pada segmen I berada pada tingkatan sedang (44,4% kriteria terpenuhi) untuk fungsi pereduksi polusi; tingkatan buruk hingga sedang (35,0-45,0% kriteria terpenuhi)