• Tidak ada hasil yang ditemukan

Modul Metodologi Penulisan Penelitian Il (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Modul Metodologi Penulisan Penelitian Il (1)"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

Modul Metodologi

Penelitian

Oleh:

(2)

2015

Definisi dan Metode

A. Definisi Penelitian

Secara umum, penelitian ilmiah dapat didefinisikan sebagai investigasi yang sistematis, terkontrol, empiris dan kritis dari suatu proposisi hipotesis mengenai hubungan tertentu antar fenomena (Kerlinger, 1986: 17-8).

Untuk dunia bisnis yang berorientasi pada pengambilan keputusan yang sebagian besar adalah aplikatif, diperlukan defenisi penelitian yang lebih sesuai. Diantaranya adalah:

1. Suatu proses sistematif dan objektif yang meliputi pengumpulan, pencatatan, dan analisis data untuk membantu pengambilan keputusan bisnis. (Zikmund, 2000:5).

2. Suatu penyelidikan sistematis yang memberikan informasi untuk menuntun keputusan bisnis (Cooper & Emory, 1995:11).

3. Suatu upaya sistematis dan terorganisis untuk menyelidiki suatu masalah yang muncul dalam dunia kerja yang memerlukan solusi (Sekaran, 2000:3).

Dari beberapa pengetian tersebut dapat diambil benang merah pengertian penelitian ilmiah adalah: aplikasi secara formal dan sistematis dari metode ilmiah untuk mempelajari dan menjawab permasalahan. Tujuan penelitian identik dengan tujuan pengetahuan pada umumnya, yaitu membuat penjelasan, menyususn prediksi, serta mengendalikan fenomena yang terjadi dalam suatu batasan yang ditentukan.

B. Metode Ilmiah

Meskipun tidak ada consensus tentang urutan dalam metode ilmiah, metode ilmiah umumnya memiliki beberapa karakteristik umum sebagai berikut (Davis & Cosenza, 1993:37):

1. Metode ilmian bersifat kritis dan analitis. Karakteristik ini mendorong suatu kepastian dan proses penyelidikan untuk mengidentifikasikan masalah dan metode untuk mendapatkan solusinya.

2. Metod ilmiah adalah logis. Logis merujuk pada metode dari argumentasi ilmiah. Kesimpulan secara rasional diturunkan dari bukti-bukti yang ada.

(3)

yang sama dilakukan pada kondisi yang sama. Dengan kata lain, hasil penelitian dikatakan ilmiah apabila dapat dibuktikan kebenarannya. 4. Metode ilmiah bersifat konseptuan dan teoritis. Ilmu pengetahuan

mengandung arti pengembangan struktur konsep dan teoritis untuk menuntun dan mengarahkan upaya penelitian.

5. Metode ilmiah adalah empiris. Metode ini pada prinsipnya bersandar pada realitas.

6. Metode ilmiah adalah sistematis. Sistematif mengandung arti suatu prosedur yang cermat dan mengikuti aturan tertentu yang baku.

Metode berpikir kritis sudah dikenal sejak dulu. Orang sudah mulai menggunakan alur pemikiran kritis melalui silogisme, yaitu membuat kesimpulan berdasar premis yang ada. Umumnya dibedakan antara pola berpikir deduktif dan induktif.

Pola berpikir deduktif adalah penarikan kesimpulan untuk hal spesifik dari gejala umum.

Pola piker induktif adalah suatu penarikan kesimpulan berdasarkan keadaan spesifik untuk hal-hal umum.

Metode ilmiah didasari oleh pemikiran bahwa apabila suatu pernyataan ingin diterima sebagai suatu kebenaran, maka pernyataan itu harus diverifikasi atau diuji kebenarannya secara empiris (berdasarkan fakta). Kerangka berpikir ilmiah berintikan proses logico-hypothetico-verifikatif pada dasarnya terdiri dari lima langkah sebagai berikut:

1. Merumuskan masalah; mengajukan pertanyaan untuk dicari jawabannya. Tanpa adanya masalah maka tidak akan tejadi penelitian, karena penelitian dilakukan unutk memecahkan masalah. Rumusan masalah penelitian pada umumnya diajukan dalam bentuk pertanyaan. Merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batasannya dan factor yang terkait dapat diidentifikasi.

2. Kerangka berpikir; penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis. Merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai factor yang saling terkait dan membentuk konstelasi permasalahan, yang disusun secara rasional berdasarkan premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya. Kajian terhadap teori merupakan dasar dalam merumuskan kerangka berpikir sehingga dapat diajukan hipotesis sebagai alternatif jawaban atas masalah.

(4)

4. Pengujian hipotesis; merupakan pengumpulan data yang relevan dengan hipotesis yang diajukan, kemudian mengolah dan menganalisis data secara empiris utnuk menguji kebenaran hipotesis.

5. Menarik kesimpulan; menentukan jawaban definitive atas setiap pertanyaan yang diajukan (menerima atau menolak hipotesis). Hipotesis yang diterima kemudian dianggap menjadi bagian dari pengetahuan ilmiah karena memenuhi persyaratan keilmuan, yaitu mempunyai kerangka kejelasan yang konsisten dengan pengetahuan ilmiah sebelumnya dan teruji kebenarannya. Hasil uji hipotesis adalah temuan penelitian atau hasil penelitian. Temuan penelitian kemudian disintesiskan dan kemudian disimpulkan. Kesimpulan merupakan jawaban atas rumusan masalahpenelitian yang disusun dalam bentuk proporsi atau pernyataan yang telah teruji kebenarannya.

C. Proposal Penelitian.

Proposal penelitian adalah suatu usulan penelitian yang diajukan oleh seseorang atau suatu badan/perusahaan/organisasi untuk menghasilkan suatu output tertentu atau membrikan jasa penelitian kepada sponsor/pendukung. Usulan penelitian dikenal sebagai rencana kerja, prospectus, skema (outline), pernyataan maksud yang berisikan apa yang akan dilakukan, mengapa suatu penelitian dilakukan, dan manfaat apa yang akan didapat dari apa yang dilakukan. Singkatnya, proposal penelitian adalah pernyataan tertulis yang rinci mengenai desain penelitian (Gay & Diehl, 1996, Zikmund, 2000: 95). Sedangkan maksud proposal penelitian adalah:

1. Untuk merumuskan masalah apa yang akan diteliti dan mengapa masalah tersebut penting.

2. Untuk mengkaji upaya penelitian-penelitian lain yang telah melakukan penelitian serupa.

3. Untuk menguraikan jenis data yang diperlukan dalam penyelesaian masalah dan bagaimana metode pengumpulan data, pengolahan data, serta menganalisisnya.

(5)

Langkah pertama dalam penelitian adalah menemukan apa yang akan diteliti. Hal yang ingin diteliti bias muncul dari pertimbangan teoritis, pragmatis, atau kedua-duanya. Tidak ada pedoman yang baku yang dapat digunakan utnuk membantu peneliti memilih masalah penelitiannya.

Pendahuluan dalam suatu penelitian ilmiah terdiri atas: latar belakang masalah penelitian, rumusan masalah, tujuan dilakukannya penelitian dan manfaat dilakukannya penelitian.

A. Latar Belakang.

Latar belakang berisi hal-hal yang melatar belakangi peneliti untuk melakukan penelitian. Berikut adalah langkah yang dapat diambil untuk menentukan apakah suatu topik layak untuk diteliti

1. Apakah ada permasalahan?

2. Apakah permasalahan tersebut dapat dipecahkan melalui penelitian? 3. Apakah masalah tersebut menarik utnuk dipecahkan?

4. Apakah masalah tersebut bermanfaat untuk dipecahkan?

Ada berbagai sumber permasalahan yang dapat digunakan untuk penelitian. Pertama, literature aau bahan bacaan yang berhubungan dengan minat dan pengetahuan peneliti. Disamping bahan bacaan, pengalaman pribadi merupakan sumber untuk menemukan permasalahan untuk diteliti.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah merupakan suatu pertanyaan penelitian (research question) yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data. Pertanyaan penelitian merupakan langkah awal yang sangat penting pada setiap penelitian. Pertanyaan penelitian merupakan panduan bagi peneliti untuk mengumpulkan berbagai jenis informasi yang diperlukan. Pertanyaan penelitian juga memandu peneliti menganalisis data.

(6)

masalah dan rumusan masalah, karena setiap rumusan masalah penelitian harus didasarkan kepada masalah penelitian.

1. Bentuk-bentuk rumusan masalah.

Bentuk-bentuk rumusan masalah penelitian dikembangkan berdasarkan penelitian menurut tingkat eksplanasi. Bentuk rumusan masalah dapat digambarkan sebagai berikut

a. Rumusan masalah deskriptif

Rumusan masalah deskriptif adalah rumusan masalah yang berkenaan dengan petanyaan terhadap keberadaan mandiri, baik hanya pada satu variable atau lebih (variable yang berdiri sendiri). Jadi dalam penelitian ini peneliti tidak embuat perbandingan variable itu pada sampel yang lain, dan mencari hubungan variable itu dengan variable lain.

b. Rumusan masalah komparatif.

Rumusan masalah komparatif adalah rumusan masalah penelitian yang membandingkan keberadaan satu variable atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda. Contohnya adalah sebagai berikut:

c. Rumusan masalah asosiatif

Rumusan masalah asosiatif adalah rumusan masalah penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua variable atau lebih. Terdapat tiga bentuk hubungan asosiatif:

Hubungan simetris

Hubungan simetris adalah suatu hubungan antara dua variabel atau lebih yang kebetulan munculnya bersama. Contoh:

1) “Hubungan Atara Jumlah Ac Di Ruang Kerja Dengan Produktifitas Kerja Pegawai Di Lembaga X.”

(7)

3) “Hubungan Antara Warna Rambut Dengan Kemampuan Memimpin”

Hubungan kausal

Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Jadi disini ada variable independen ( variable yang mempengaruhi ) dan variable dependen (variable yang dipengaruhi), contoh:

1) “Pengaruh Insentif terhadap Disiplin Kerja Karyawan di Departemen X”

2) “Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan tata ruang kantor terhadap efisiensi kerja kementrian X

( Contoh pertama dengan satu variabel bebas dan contoh dua dengan dua variabel bebas)

Hubungan interaktif/resiprokal/timbal balik.

Hubungan interaktif adalah hubungan yang saling mempengaruhi. Dalam penelitian ini tidak diketahui yang mana variable dependen dan yang mana variable independen. Contoh: 1) “Hubungan Antaramotivasi Dan Prestasi.”

2) “Hubungan Antara Kecerdasan Dan Kekayaan.”

d. Rumusan masalah komparatif – asosiatif.

Rumusan masalah komparatif-asosiatif adalah rumusan masalah yang menanyakan perbandingan korelasi antara dua variabel atau lebih pada sampel atau populasi yang berbeda.

e. Rumusan masalah structural.

(8)

dengan variabel manifest yang bersifat kausal atau reciprocal digunakan Structure Equation Model (SEM)

Contoh:

1. “Apakah Struktur Hubungan Antara Variabel Yang Mempengaruhi Produktifitas Kerja Karyawan Di PT X”

C. JUDUL PENELITIAN

Jika masalah penelitian telah diperoleh dan kemudian dirumuskan, langkah berikutnya ialah menyusun judul penelitian. Judul suatu penelitian benar-benar harus mampu untuk menggambarkan secara tepat dan jelas tentang apa yang diteliti. Bebrapa syarat judul penelitian yang baik, diantaranya adalah:

1. Menyebutkan variabel penelitian.

Variabel penelitian merupakan masalah utama penelitian. Walau judul penelitian harus menyebutkan variabelnya, tetapi yang disebutkan hanyalah variabel utama yang dijadikan masalah penelitian.

2. Menyebutkan unit analisis penelitian.

Setiap penelitian memiliki unit analisis. Yang dimaksud dengan unit analisis penelitian yaitu organisasi, kelompok orang, kejadian, atau hal-hal ian yang diajadikan objek penelitian.

3. Menyebutkan lokasi penelitian.

(9)

Walaupun judul penelitian harus disusun sesingkat mungkin bukan berarti judul penelitian menjadi tidak jelas. Arti sesingkat mungkin yaitu menghindari kata-kata yang tidak seharusnya ada dalam judul, karena tanpakata-kata tersebut, makna hudul tetap dapat dimengerti.

Paradigma Penelitian

Paradigm penelitian merupakan kerangka berpikir yang menjelaskan bagaimana cara pandang peneliti terhadap fakta kehidupan social dan perlakuan peneliti terhadapteori ekonomi. Secara umum pendekatan penelitian atau sering juga disebut dengan paradigma penelitian yang cukup dominan yaitu paradigm penelitian kualitatif, kuantitatif dan campuran (gabungan kualitatif dan kuantitatif).

A. Penelitian Kualitatif.

(10)

Penelitian kualitatif dilakukan pada kondisi alamiah dan bersifat penemuan. Dalam penelitian kualitatif, penelitian merupakan instrument kunci. Oleh karena itu, peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas jadi bias bertanya, menganalisis, dan mengkonstruksi objek yang diteliti menjadi lebih jelas. Penelitian ini menekankan pada makna dan terikat nilai. Penelitian kualitatif digunakan jika masalah belum jelas, mengetahui makna yang tersembunyi, untuk memahami interaksi social, mengembangkan teori, memastikan kebenaran data, dan meneliti sejarah perkembangan. Penelitian kualitatif memiliki enam jenis penelitian, yaitu: 1. Penelitian Deskriptif.

Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi sekarang. Penelitian deskriptif memusatkan perhatian pada masalah actual sebagaimana adanya pada saat penelitian berlangsung. Melalui penelitian deskriptif, peneliti berusaha mendeskripsikan peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatian tanpa memberikan perlakuan khusus terhadap peristiwa tersebut. Variabel yang diteliti bias tunggal (satu variabel) bias juga lebih dari saru variabel.

2. Studi Kasus.

Studi kasus meliputi analisis mendalam dan kontekstual terhadap situasi yang mirip dalam organisasi yang lain, dimana sifat masalah yang terjadi adalah serupa dengan masalah yang dialami saat ini (Uma Sekaran). Studi kasus pada dasarnya mempelajari secara intensif seorang indifidu atau kelompok yang dipandang mengalami kasus tertentu.

(11)

melakukan apa yang dia lakukan dan bagaimana tingkah lakunya dalam kondisi dan pengaruhnya terhadap lingkungan.

3. Biografi.

Penelitian biografi adalah studi tentang idnividu dan pengalamannya yang dituliskan kembali dengan mengumpulkan dokumen dan arsip. Tujuan penelitian ini ialah mengungkap turning point momen atau epipani, yaitu pengalaman menarik yang sangat memengaruhi atau mengubah hidup seseorang. Peneliti menginterprestasikan subjek seperti subjek tersebut memosisikan didirinya sendiri.

4. Fenomenologi.

Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna kosnep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji.

5. Grounded Theory.

Walaupun suatu studi pendekatan menekankan arti dari suatu pengalaman untuk sejumlah individu, tujuan pendekatan grounded theory adalah untuk menghasilkan atau menemukan suatu teori yang berhubungan dengan situasi tertentu. Situasi diama individu saling berhubungan, bertindak, atau terlibat dalam suatu proses sebagai respons terhadap suatu peristiwa. Inti dari grounded theory adalah pengembangan suatu teori yang berhubungan erat kepada konteks peristiwa yang dipelajari.

6. Etnografi.

(12)

kehidupan keseharian respondennya atau melalui wawancara satu per satu dengan anggota kelompok tersebut.

B. Penelitian Kuantitatif

Penelitian kuantitatif merupakan metode untuk menguji teori-teori tertentu dengan cara meneliti hubungan antar variabel. Variabel-variabel ini diukur (biasanya dengan instrument penelitian) sehingga data yang terdiri dari angka-angka dapat dianalisis berdasarkan prosedur statistik. Laporan akhir untuk penelitian pada umumnya memiliki struktur yang ketat dan konsisten mulai dari pendahuluan, tinjauan pustaka, metode penelitian, hasil penelitian dan pembahasan, kesimpulan serta saran-saran.seperti halnya penelitian kualitatif, siapapun yang terlibat dalam penelitian kuantitatif juga perlu memiliki asumsi untuk menguji teori secara deduktif, mencegah munculnya bias-bias, mengontrol penjelasan alternative, dan mampu menggeneralisasi dan menerapkan kembali peneluannya. Penelitian kuantitatif memiliki tiga jenis penelitian yaitu:

1. Penelitian survey.

Penelitian survey cukup banyak digunakan untuk pemecahan masalah perilaku organisasi termasuk kepentingan perumusan kebijaksanaan sumber daya manusia. Tujuan utamanya adalah mengumpulkan informasi tentang variabel dari sekelompok objek (populasi). Survey dengan cakupan seluruh populasi (objek) disebut sensus. Adapun survey yang mempelajari sebagian populasi dinamakan sanpel survey.

Survey dalam perilaku suatu organisasi banyak dimanfaatkan untuk memcahkan masalah praktis maupun untuk bahan dalam merumuskan kebijaksanaan sumber daya manusia bahkan juga untuk studi SDM dalam hubunhannya dengan kinerja organisasi.

2. Studi Kausal Komperatif.

Studi kausal komparatif erat hubungannya dengan studi korelasi. Atau hubungan sebab akibat untuk menyelidiki kemungkinan hubungan variabel penyebab terhadap variabel akibat. Hal ini dilakukan dengan mengamati akibat yang terjadi pada suatu kondisi kemudian dicari apa sajakah variabel-variabel peneyebabnya.

(13)

yang diteliti. Dengan kata lain, setelah diketahui adanya perbedaan pada beberapa variabel, peneliti berusaha mengidentifikasikan factor utama yang menyebabkan perbedaan tersebut.

3. Studi Korelasional.

Seperti halnya survey, metode deskriptif lain yang sering digunakan dalam perilaku organisasi yaitu studi korelasi. Studi ini mempelajari hubungan dua variabel atau lebih, yakni sejauh mana variasi dalan satu variabel berhubungan dengan variasi dalam variabel lain. Derajat hubungan variabel dinyatakan dalam satu indeks yang dinamakan koefisien korelasi. Koefisien korelasi dapat digunakan untuk menguji hipotesis tentang hubungan antar variabel atau menyatakan besar kecilnya hubungan antara kedua variabel.

4. Penelitian Experimen.

Penelitian eksperimen dapat didefinisikan sebagai metode sistematif guna membangun fenomena sebab akibat. Penelitian eksperimen merupakan metode inti dari model penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Dalam metode eksperimen, peneliti harus melakukan tiga persyaratan yaitu kegiatan mengontrol, memanipulasi dan observasi. Dalam penelitian eksperimen, peneliti membagi objek atau subjek yang diteliti menjadi dua kelompok yaitu kelompok treatment yang mendapatkan perlakuan dam kelompok control yang tidak mendapatkan perlakuan.

Table Perbedaan Metode Kuantitatif Dan Metode Kualitatif No. Metode Kuantitatif Metode Kualitatif

1 Menggunakan hipotesis yang ditentukan sejak awal penelitian.

Hipotesis dikembangkan sejalan dengan penelitian/saat penlitian.

(14)

sejak awal. penelitian berlangsung. 3 Reduksi data menjadi

angka-angka.

Deskripsi naratif/kata-kata, ungkapan atau pernyataan.

4 Lebih memperhatikan

reliabilitas skor yang diperoleh melalui instrument penelitian.

Lebih suka menganggap cukup dengan reliabilitas penyimpulan.

5 Penilaian validitas

menggunakan berbagai

prosedur dengan

mengandalkan hitungan statistic.

Penilaian validitas melalui pengecekan silang atas sumber informasi.

6 Menggunakan deskripsi prosedur yang jelas (terperinci).

Menggunakan deskripsi prosedur secara naratif.

7 Sampling random. Sampling purposive. 8 Desain/control statistic atas

variabel eksternal.

Menggunakan analisis logis dalam mengontrol variabel ekstrem. 9 Menggunakan desain khusus

utnuk mengontrol bias prosedur.

Mengandalkan analisis logis dalam mengontrol variabel ekstrem.

10 Menyimpulkan hasil

menggunkan statistic.

Mengadalkan peneliti dalam mengontrol bias.

11 Memecah gejala-gejala menjadi bagian-bagaian untuk dianalisis.

Menyimpulkan hasil secara naratif/kata-kata.

12 Memanipulasi aspek, situasi atau kondisi dalam mempelajari gejala yang kompleks

Gejala-gejala yang terjadi dilihat dalam perspektif keseluruhan.

Landasan Teori, Kerangka Konseptual dan

Hipotesis

(15)

describes the past and current state of information on topic of your research study, it also organizes the literature into subtopics, and documents, the need for a proposed study”. (Studi literature /studi kepustakaan, merupakan ringkasan tertulis dari jurnal, artikel, buku-buku dan dokumen lain, yang berisi tentang uraian informasi masa lalu atau sekarang yang relevan dengan judul penelitian yang sedang diteliti, juga mengoraganisasikan berbagai literature ke dalam sub topik sesuai dengan kebutuhan penelitian.

Kegunaan studi literature dalam penelitian kuantitati, Creswell (2012) menyatakan: “this serves two major purposes; it justifies the important of the research problem, and its provide rationale for the purpose of the study and research questions or hypothesis”. (Studi literature mempunyai dua kegunanaan yaitu; pertama, untuk menjelaskantentang pentingnya penelitian dan masalah penelitian; kedua sebagai panduan untuk membuat pertanyaan penelitian dan merumuskan hipotesis.

Studi literature beirsi deskripsi tentang teori-teori yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan.

A. Pengertian Teori

Setelah masalah penelitian dirumuskan, maka langkah selanjutnya dalam proses penelitian (kuantitatif) adalah mencari teori-teori, konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai landasan teoritis untuk pelaksanaan penelitian (Sumadi Suryabrata, 1990). Landasan teori ini perlu ditegakkan agar penelitian itu mempunyai dasar yang kokoh, dan bukan sekadar perbuatan coba-coba (trial and error). Adanya landasan teori ini merupakan cirri bahwa penelitian itu merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data.

(16)

kumpulan generalisasi yang dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena secara sistematik).

Selanjutnya Sitirahayu Haditono (1999), menyatakan bahwa suatu teori akan memperoleh arti yang penting, bila ia lebih banyak dapat melukiskan, menerangkan, dan meramalkan gejala yang ada.

Mark (1963), (dalam Sitirahayu Haditomo, 1999) membedakan adanya tiga macam teori. Ketiga teori yang dimaksud ini berhubungan dengan data empiris. Dengan demikian dapat dibedakan antara lain:

1. Teori deduktif: memberi keterangan yang dimulai dari suatu perkiraan atau pikiran spekulatif tertentu ke arah data yang akan diterangkan.

2. Teori yang induktif; cara menerangkan adalah dari data kea rah teori. Dalam bentuk ekstrim titik pandang yang positivistic ini dijumpai pada kaum behaviorist.

3. Teori yang fungsional; disini Nampak suatu interaksi pengaruh antara data dan perkiraan teoristis, yaitu data mempengaruhi pembentukan teori dan pembentukan teori dan pembentukan teori kembali mempengaruhi data.

Berdasarkan ketiga pandangan tersebut, dapat disimpulkan:

1. Teori menunjuk pada sekelompok hukum yang tersusun secara logis. Hukum-hukum ini biasanya memiliki hubungan yang deduktif. Suatu hukum menunjukkan suatu hubungan antara variabel0variabel empiris yang bersifat ajeg dan dapat diramal sebelumnya.

2. Suatu teori juga dapat merupakan suatu rangkuman tertulis mengenai suatu kelompok hukum yang diperoleh secara empiris dalam suatu bidang tertentu.

3. Suatu teori juga dapat menunjuk pada suatu cara menerangkan yang menggeneralisasi. Disini biasanya terdapat hubungan yang fungsional antara data dan pendapat teoritis.

Teori adalah alur logika atau penalaran yang merupakan seperangkat konsep, definisi, dan proposisi yang disusun secara sistematis. Secara umum teori mempunya tiga fungsi, yaitu untuk menjelaskan (explanation), meramalkan (prediction), dan pengendalian (control).

B. Tingkatan dan Fokus Teori.

Neuman (2003) mengemukakan tingkatan teori (level of theory) menjadi tiga yaitu: micro, meso, dan macro.

(17)

Meso-level theory: attempts to link macro and micro levels or to operate at an intermediate level.

Macro level theory: concerns the operation of larger aggregates such as social institution, entire culture systems, and whole societies. It uses more concepts that are abstract.

C. Kegunaan teori dalam penelitian

Cooper & Schindler (2003), menyatakan bahwa kegunaan teori dalam penelitian adalah:

1. Theory narrows the range of fact we need to study.

2. Theory suggests which research approaches are likely to field the greatest meaning.

3. Theory suggests a system for research to impose on data in order to classify them in the most meaningful way.

4. Theory summarizes what is known about object of study and states the uniformities that lie beyond immediate observation.

5. Theory can be used to predict further fact that should be found.

D. Deskripsi teori

Deskripsi teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori (dan bukan sekedar pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variabel yang diteliti.

Berapa jumlah kelompok teori yang perlu dikemukakan/dideskripsikan, akan tergantung pada luasnya permasalahan dan secara teknis tergantung pada luasnya permasalahan dan secara teknis tergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Biala dalam suatu penelitian terdapat tiga variabel independen dan satu dependen, maka kelompok teori yang perlu dideskripsikan ada empat kelompok teori, yaitu kelompok yang berkenaan dengan tiga

Deskripsi teori paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap variabel-variabel yang diteliti, melalui pendefenisian, dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai reffferensi, sehingga ruang lingkup, kedudukan dan prediksi terhadap hubungan antar variabel yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah.

E. Kerangka berpikir (kerangka konseptual).

Uma Sekaran dalam bukunya Business Research (1992) mengemukakan bahwa, kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai factor yang telah diidentifikasikan sebagai masalah yang penting.

(18)

variabel moderator dan intervening, maka juga perlu dijelaskan kenapa variabel tersebut juga diikut sertakan dalam penelitian. Pertautan antar variabel tersebut selanjutnya dirumuskan ke dalam bentuk hubungan antar variabel penelitian. Oleh karena itu setiap menyusun paradigm penelitian harus didasarkan pada kerangka berfikir.

F. Hipotesis.

Hipotesis adalah suatu penjelasan sementara tentang perilaku, fenomena, atau keadaan tertentu yang telah terjadi atau akan terjadi. Hipotesis merupakan pernyataan peneliti tentang hubungan antara variabel-variabel dalam penelitian, serta merupakan pernyataan yang paling spesifik.

Beberapa karakteristik hipotesis yang baik, yaitu: konsisten dengan penelitian sebelumnya, merupakan penjelasan yang masuk akal, perkiraan yang tepat dan terukur, dan dapat diuji.

Berdasarkan kerangka berfikir disusun hipotesis. Bila kerangka berfikir berbunyi “jika komitmen kerja tinggi, maka produktivitas lembaga akan tinggi”, maka hipotesisnya berbunyi “ ada hubungan yang posistif dan signifikan antara komitmen kerja dengan produktifitas kerja”.

Selanjutnya Uma Sekaran (1992) mengemukakan kerangka berfikir yang baik, memuat hal-hal berikut:

1. Variabel-variabel yang akan diteliti harus dijelaskan.

2. Diskusi dalam kerangka berfikir harus dapat menunjukkan dan menjelaskan pertautan/hubungan antar variabel yang diteliti dan ada teori yang mendasari.

3. Diskusi juga harus dapat menunjukkan dan menjelaskan hubungan antar variael itu bersifat positif atau egatif , berbentuk kausal, simetris atau interaktif (timbale balik).

(19)

Metode Penelitian

A. Populasi dan Sampel Penelitian.

1. Populasi

Populasi adalah kelompok elemen yang lengkap, yang biasanya berupa orang, objek, transaksi, atau kejadian dimana kita tertarik untuk mempelajarinya atau menjadikannya sebagai objek penelitian (Kuncoro, 2001: Bab 3).

Contoh populasi antara lain:

2. Semua angkatan kerja yang berkerja di Indonesia. 3. Semua pemilih yang tercatat di Kepulauan Riau.

4. Semua mobil yang diproduksi tahun 2013 di Indonesia.

(20)

ditetatpkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya

2. Sampel

Sampel adalah suatu himpunan bagian (subset) dari unit populasi. Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih dengan pertimbangan –pertimbangan dan criteria tertentu. Bila populasi terlalu besar, dan peneliti tidak mungkin memperlajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan waktu, tenaga dan dana, maka peneliti dapat menggunakan sampel dari populasi penelitian. Hasil penelitian berkaitan dengan sampel penelitian akan diaplikasikan kepada populasi, sehingga sampel penelitian haruslah benar-benar merupakan representasi dari populasi penelitian.

a) Proses Pengambilan Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang diharapkan dapat mewakili populasi penelitian. Agar informasi yang diperoleh dari sampel benar-benar mewakili populasi, sampel tersebut harus mewakili karakteristik populasi yang diwakilinya. Untuk memperoleh sampel yang dapat mewakili karakteristik populasi, diperlukan metode pemilihan sampel yang tepat. Informasi dari sampel yang baik akan dapat mencerminkan informasi dari populasi secara keseluruhan.

Proses pemilihan sampel adalah suatu kegiatan yang berurutan. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam pemilihan sampel ditunjukkan dalam pemilihan sampel berikut ini:

 Proses penentuan populasi. Proses yang pertama

 Penentuan unit pemilihan sampel.

(21)

 Penentuan desain sampel

 Penentuan jumlah sampel

 Pemilihan sampel

Langkah terakhir dalam proses pemilihan sampel adalah memilih sampel yang diperlukan. Dalam langkah ini peneliti menentukan elemen yang akan menjadi sampel dari penelitian yang dilakukan.

b) Teknik pengambilan sampel penelitian.

Teknik sampling adalah merupakan teknik pengambilan dampel untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian. Terdapat beberapa teknik sampling yang digunakan. Namun secara garis besar, teknik sampling dapat dibedakan menjadi dua. Yaitu Probability Sampling dan Nonbrobability Sampling.

1) Probability Sampling.

Probability samping adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsure (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik ini meliputi : simple random sampling, proportionate stratified random sampling, disproportionate stratified random sampling, are (cluster) sampling.

Simple Random Sampling

Dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu.

Proportionate Stratified Random Sampling

(22)

Disproportionate Stratified Random Sampling

Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional.

Cluster Sampling (Area Sampling)

Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila obyek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misal penduduk dari suatu negara. Teknik sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, dan tahap berikutnya menentukan orang-orang yang ada pada daerah itu secara sampling juga.

2) Nonprobability Sampling.

Nonprobability Sampling adalah teknik pengambilan sample yang tidak member peluang/kesempatan sama bagi setiap unsure atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampling ini meliputi: sampling sistematis, kuota, purposive, jenuh, smowbal.

Sampling Sistematis

Sampling sistematis adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut.

Sampling Kuota

Sampling Kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan.

(23)

Sampling Insidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.

Sampling Purposive

Sampling Purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Sampel ini lebih cocok digunakan untuk penelitian kualitatif, atau penelitian-penelitian yang tidak melakukan generalisasi.

Sampling Jenuh

Sampling Jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.

Snowball Sampling

Snowball sampling adalah teknik penetuam sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar.

c) Besarnya Sampel

Besarnya sampel sebaiknya sebanyak mungkin. Semakin besar sampel yang digunakan umumnya akan semakin representative mewakili populasi dan hasil penelitian bias digeneralisasikan. Terdapat beberapa cara untuk menentukan sampel penelitian, diantaranya dalah sebagai berikut:

(24)

n

=

N

1

+

(

N . e

2

)

Dimana:

n = Jumlah elemen/anggota sampel. N = Jumlah elemen/anggota populasi

e = Error level (tingkat kesalahan) (catatan: umumnya digunakan 1% atau 0,01 , 5% atau 0,05 dan 10% atau 0,01 (dapat dipilih oleh peneliti).

Menggunakan internal penaksiran.

Untuk menaksir parameter rata-rata µ

n

=

[

z

2

σ

e

]

2

Untuk menaksir parameter proporsi P

N

=

[

z

2

α

/

2

PQ

e

2

]

2

Menggunakan pendekatan Isac Michel.

Menentukan sampel untuk menaksir parameter rata-rata.

n

=

N Z

2

S

2

Nd

2

+

Z

2

+

S

2

Menentukan sampel untuk menaksir parameter proporsi P.

n

=

N Z

2
(25)

B. Teknik Pengumpulan Data.

Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber, dan berbagai cara.

1. Interview (wawancara).

Wawancara dalam penelitian survey dilakukan oleh peneliti dengan cara merekam jawaban narasumber. Peneliti memberi pertanyaan kepada narasumber berdasarkan pedoman wawancara, mendengarkan jawaban yang diberikan, mengamati perilaku, dan merekam semua respon dari narasumber.

2. Kuesioner.

Merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan memberikan atau menyebarkan daftar pertanyaan kepada responden dengan harapan memberikan respons atas daftar pertanyaan tersebut.

Daftar pertanyaan dapat bersifat terbuka, yaitu jika jawaban tidak ditentukan sebelumnya oleh peneliti. Adapun instrument daftar pertanyaan dapat berupa pertanyaan (berupa isian yang akan diisi oleh responden), checklist (berupa pilihan dengan tanda pada kolom yang disediakan), dan skala (berupa pilihan dengan member tanda pada kolom berdasarkan tingkatan tertentu).

3. Observasi.

(26)

4. Dokumen.

Sejumlah besar fakta dan data tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi. Sebahagian data yang tersedia yaitu berbentuk surat, catatan harian, cendera mata, laporan, artefak, dan foto. Sifat utama data ini tak terbatas pada ruang dan waktu sehingga member peluang kepada peneliti untuk mengetahui hal-hal yang pernah terjadi diwaktu silam. Secara detail, bahan dokumeter terbagi beberapa macam, yaitu autobiografi, surat pribadi, buku atau catatan harian, memorial, klipping, dokumen pemerintah dan swasta, data di server dan flshdisk, dan data tersimpan di web site.

5. Focus Group Discussion (FGD).

(27)

Variabel dan Definisi Penelitian

Variabel Penelitian

1. Pengertian.

Kata variabel hanya ada pada penelitian kuantitatif, karena penelitian kuantitatif berpandangan bahwa suatu gejala dapat diklasifikasikan dengan menggunakan variabel-variabel.

Variabel penelitian merupakan kegiatan menguji hipotesis, yaitu menguji kecocokan antara teori dan fakta empiris di dunia nyata.

2. Macam-macam variabel.

Menurut hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain maka macam-macam variabel dalam penelitian dapat dibedakan menjadi:

(28)

Variabel ini sering disebut sebagai variabel stimulus, predictor, antecedent. Dalam Bahasa Indonesia sering disebut variabel bebas. Variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat).

b. Variabel dependen (variabel terikat).

Variabel dependen sering disebut sebagai variabel output, criteria, konsekwen. Dalam Bahasa Indonesia disebut juga variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menajdi akibat, karena adanya variabel bebas.

Gambar:

c. Variabel moderator.

Variabel moderator adalah variabel yang mempengaruhi (memperkuat dan memperlemah) hubungan antara variabel independen dengan dependen. Variabel ini disebut juga dengan variabel independen ke dua.

Gambar:

X Y

Variabel dependen Variabel

independen

X Y

Y Variabel

(29)

d. Variabel intervening

Tuckman (1998) menyatakan :An interesting variable is that factor that theoretically affect the observed phenomenon but cannot be seen, measure or manipulate”.

Variabel intervening adalah factor-faktor yang secara teoritis mempengaruhi fenomena yang diteliti tetapi tidak bias diukur atau dimanipulasi. Variabel ini adalah variabel penyela/antara yang terletak diantara variabel independen dan dependen, sehingga variabel independen tidak langsung mempengaruhi berubahnya atau timbulnya variabel dependen.

Contoh:

e. Variabel control

Variabl control adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga pengaruh variabel independen terhadap dependen tidak dipengaruhi oleh factor luar yang tidak diteliti. Variabel control sering digunakan oleh peneliti, bila akan melakukan penelitian yang bersifat membandingkan.

X Z Y

Variabel dependen Variabel

independen

Variabel antara

Variabel moderator

X Y

(30)

Contoh:

“Pengaruh Jenis Pendidikan Terhadap Keterampilan Dan Mengetik” Variabel independennya pendidikan (SMU dan SMK), variabel control yang ditetapkan sama misalnya adalah naskah yang diketik sama, mesik ketik yang digunkan sama, ruang tempat mengetik sama. Dengan adanya variabel kontro tersebut, maka besarnya pengaruh jenis pendidikan terhadap keterampilan mengetik dapat diketahui lebih pasti.

3. Model hubungan antar variabel.

a. Model Hubungan Antar Variabel Yang Sederhana.

Model penelitian ini terdiri atas satu variabel independen dan dependen. Hal ini dapat digambarkan seperti gambar berikut:

Gambar: Model Hubungan Sederhana Misal:

X = Kualitas Alat

Y = Kualitas Barang yang Dihasilkan.

Berdasarkan model hubungan antar variabel tersebut, maka dapat ditentukan:

1) Jumlah rumusan masalah deskriptif ada dua, dan asosiatif ada satu. Yaitu:

 Bagaimana/seberapa besar nilai X? (kualitas alat)

 Bagaimana/seberapa besar nilai Y? (Kualitas barang yang dihasilkan)

(31)

2) Teori yang digunakan ada dua, yaitu teori tentang alat kerja dan tentang kualitas barang.

3) Hipotesis yang dirumuskan ada dua macam hipotesis deskriptif dan hipotesis asosiatif (hipotesis deskriptif sering tidak dirumuskan).

4) Teknik analisis data.

b. Model Sederhana Berurutan.

Dalam model ini terdapat lebih dari dua variabel, tetapi hubungannya masih sederhana.

X1 = Kualitas input X2 = Kualitas proses X3 = Kualitas output Y = Kualitas outcome

Model hubungan sederhana, menunjukkan hubungan antara satu variabel independen dengan satu variabel dependen secara berurutan. Untuk mencari hubungan antar variabel (X1 dengan X2; X2 dengan X3; X3 dengan Y) tersebut digunakan teknik korelasi sederhana. Naik turunnya nilai Y dapat diprediksikan melalui

(32)

persamaan regresi Y atas X3, dengan persamaan regresi Y atas X3, dengan persamaan Y = a + Bx3. Berdasarkan contoh tersebut.

Berdasarkan contoh diatas, berapakah rumusan masalah yang ditunjukkan oleh kerangka konseptual?

c. Model Ganda Dengan Dua Variabel Independen.

Dalam model ini terdapat dua variabel independen dan satu variabel dependen. Dalam paradigm ini terdapat 3 rumusan masalah deskriptif dan 4 rumusan masalah asosiatif (3 korelasi sederhana dan 1 korelasi ganda).

Misal:

X1 = Lingkungan keluarga X2 = Demografi

Y = Keberhasilan Usaha

Model hubungan ganda dengan dua variabel independen X1 dan X2, dan satu variabel dependen Y. Untuk mencari hubungan X1 dengan Y, dan X2 dengan Y dengan menggunakan teknik korelasi sederhana. Untuk mencari hubungan X1 dengan X2 secara bersama-sama terhadap Y menggunakan korelasi ganda.

X1

X2

(33)

d. Model ganda dengan tiga variabel independen.

Dalam paradigm ini terdapat tiga variabel independen (X1, X2, X3) dan satu variabel dependen (Y). Rumusan masalah deskriptif ada 4 dan satu rumusan masalah asosiatif (hubungan).

Misal:

X1 = Kualitas Mesin

X2 = Gaya Kepemimpinan Manajer X3 = Sistem Karir

Y = Produktifitas Kerja

Model hubungan ini menunjukkan hubungan variabel ganda dengan tiga variabel independen yaitu X1, X2 dan X3. Untuk mencari besarnya hubungan antara X1 dengan Y; X2 dengan Y; X3 dengan Y; X1 dengan X2; X2 dengan X3 dan X1 dengan X3.

Untuk mencari besarnya hubungan antar X1 secara bersama-sama dengan X2 dan X3 terhadap Y digunakan korelasi ganda. Regresi sederhana dan ganda, serta korelasi parsial dapat diterapkan dalam paradigma ini.

X1

X2

X3

(34)

e. Model hubungan variabel ganda dengan dua variabel dependen.

Misal:

X = Tingkat Pendidikan Y1 = Disiplin Kerja

Y2 = Gaya Kepemimpinan

Model hubungan variabel ganda dengan satu variable independen dan dua variable dependen. Untuk mencari besarnya hubungan antara X dengan Y1, dan X dengan Y2 digunakan korelasi sederhana. Demikian juga untuk Y1 dengan Y2.

f. Model hubungan variabel ganda dengan dua variabel independen dan dua dependen.

Dalam model ini terdapat dua variabel independen (X1, X2) dan dua variabel dependen (Y1 dan Y1). Terdapat 4 rumusan masalah deskriptif dan enam rumusan masalah hubungan sederhana. Korelasi dan regresi juga dapat digunakan untuk menganalisis hubungan antar variabel secara simultan.

r1

r2

r5

r3

X1

X1

X1

X1

X1

(35)

Misal:

X1 = Kebersihan Kereta X2 = Pelayanan KA. Y1 = Jumlah Tiket Terjual

Y2 = Kepuasan Penumpang Kereta

X1

X1

(36)

Hubungan antar variabel r1, r2, r3, r4, r5 dan r6 dapat dianalisis dengan korelasi sederana. Hubungan antara X1 terhadap Y1 dan X1 dan X2 bersama-sama terhadap Y2 dapat dianalisis denga n korelasi ganda. Analisis regresi sederhana maupun ganda dapat digunakan untuk memprediksi jumlah tiket yang terjual dan kepuasan penumpang kereta api.

g. Model jalur.

Misal:

X1 = Status Sosial Ekonomi X2 = Tingkat IQ.

X3 = Motivasi Berprestasi

Y = Prestasi Belajar (achievement)

Pada model jalur, teknik analisis statistic yang digunakan dinamakan path analysis (analisis jalur). Analisis utama yang dilakukan adalah untuk menguji konstruk jalur apakah teruji secara empiris atau tidak. Analisis selanjutnya dilakukan untuk mencari pengaruh langsung dan tidak langsung dengan menggunakan korelasi dan regresi sehingga dapat diketahui untuk sampai pada variabel dependen terakhir harus lewat jalur langsung, atau melalui variabel intervening. Dalam paradigm ini terdapat 4 rumusan masalah deskriptif dan enam rumusan masalah hubungan.

C. Instrumen Penelitian.

Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran terhadap fenomena social atau alam yang ada disekitar kita. Meneliti dengan menggunakan data yang sudah ada serng disebut sebagai laporan daripada penelitian. Namaun pada sakala paling rendah, laporan juga dapat disebut sebagai penelitian ( Emory, 1985).

Karena penelitian pada dasarnya adalam melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian biasanya disebut instrument penelitian. Jadi instrument penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun social yang sedang diteliti.

D. Teknik Analisis Data

X1

X1

X1

(37)

Teknik analisis data merumakan cara menganalisis data penelitian, termasuk alat-alat statistic yang relevan untuk digunakan dalam penelitian. Hal-hal uang dikemukakan dalam teknik analisis data adalah:

 Jenis analisis data: kemukakan jenis analisis data yang digunakan (apakah kuantitatif atau kualitatif, apakah asosiatifm komparatif atau deskriptif).

 Teknik statistic: kemukakan apa teknik statistic yang digunakan (misalnya korelasi Pearson Product Moment/korelasi sederhana), korelasi berganda, regresi sederhana, regresi berganda, atau yang lainnya).

 Rumus: kemukakan seluruh rumus yang digunakan untuk melakukan uji hipotesis, cantumkan pula sumber referensi dari rumus yang dikutip.

 Criteria pengujian hipotesis: kemukakan criteria pengujian hipotesis.

 Kemukakan pula apabila menggunakan program computer untuk mengolah data (Amos, Lisrel, SPSS, Excel, dan minitab).

1. Uji Coba Instrumen Penelitian.

Uji instrument yang disusun peneliti, berguna untuk menguji keandalan dan validitas pengukuran. Dalam menyusun sebuah kuisioner harus benar-benar dapat menggambarkan tujuan penelitian tersebut (valid) dan juga dapat konsisten bila pertanyaan pertanyaan tersebut dijawab dalam waktu berbeda (reliable). Sederhananya, kuesioner diuji cobakan dahulu kepada responden sampel (misal 30 orang responden).

Uji reliabilitas (Keandalan).

Keandalan pengukuran dengan menggunakan Alpha Cronbach adalah koefisien keandalan yang menunjukkan seberapa baiknya item/butir dalam suatu kumpulan secara positif berkorelasi satu sama lain. Berikut adalah kegunaan uji reliabilitas:

 Untuk menilasi kestabilan ukuran dan konsistensi responden dalam menjawab kuesioner. Kuesioner tersebut mencerminkan konstruk sebagai dimensi suatu variabel yang disusun dalam bentuk pertanyaan.

 Uji reliabilitas dilakukan secara bersama-sama terhadap seluruh pertanyaan.

 Jika alpha > 0,60, disebut reliable.

Menghitung reliabilitas.

(38)

r

ii

=

[

k

k

1

]

[

1

σ

σ

12

]

Dimana :

σ

2

=

X

2

(

X

)

2

N

N

rii = reliabilitas instrument

k = Banyaknya butir pertanyaan ∑σ2= Jumlah butir pertanyaan

σ12 = Varians total.

Uji validitas

Tentang uji validitas ini dapat disampaikan hal-hal pokoknya sebagai berikut:

 Uji ini sebenarnya unutk melihat kelayakan butir-butir pertanyaan dalam kuesioner tersebut dapat mendefinisikan suatu variabel.

 Daftar pertanyaan ini pada umumnya untuk mendukung suatu kelompok variabel tertentu.

 Uji validitas dilakukan setiap butir soal. Hasilnya dibandingkan dengan r table | df = n – k dengan tingkat kesalahan 5%.

 Jika rtabel < rhitung, maka butir soal disebut valid.

 Data yang diperlukan dalam rumus sebagai berikut:

r

xy

=

N

XY

(

X

)(

Y

)

{

N

X

2

(

X

)

}

{

N

Y

2

(

N

Y

)

2

}

X = Skor yang diperoleh subjek dari seluruh item. Y = Skor total yang diperoleh dari seluruh item. ∑X = Jumlah skor dalam distribusi X.

∑Y = Jumlah skor dalam distribusi Y

∑X2 = Jumlah kuadrat dalam skor distribusi X

∑Y2 = Jumlah kuadrat dalam skor distribusi 8.

N = Banyaknya responden.

2. Uji Prasyarat Analisis.

(39)

Uji persyaratan analisis yang mana yang diperlukan dalam satu teknik analisis data akan disebutkan pada pembahasan tiap-tiap teknik analiss data.

a) Uji normalitas.

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data terdistribusi secara normal atau tidak. Ada bebrapa teknik yang dapat digunakan untuk menguji normalitas data, antara lain: dengan kerta peluang normal, uji chi-kuadrat, uji Liliefors, dan teknik Kolmogorof-Smirnov, dan SPSS.

b) Uji linieritas.

Analisis regresi merupakan salah satu analisis yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh suatu variabel terhadap variabel lain. Dalam analisis regresi, variabel yang mempengaruhi disebut independent variable dan variabel yang dipengaruhi disebut dependent variable. Jika dalam persamaan regresi hanya terdapat satu variabel bebas dan satu variabel terikat, maka disebut persamaan regresi sederhana, sedangkan jika variabel bebasnya lebih dari satu, maka disebut sebagai persamaan regresi berganda.

Analissi korelasi merupakan suatu analisis untuk mengetahui tingkat keeratan hubingan antara dua variabel. Tingkat hubungan ini dapat dibagi menjadi tiga criteria, yaitu mempunya hubungan posistif, mempunyai hubungan negative, dan tidak mempunya hubungan.

Hasil Penelitian dan Pembahasan.

A. Deskripsi Penelitian

Pada dasarnya menyajikan hasil penelitian dalam laporan penelitian, merupakan upaya memberi jawaban atas tujuan penelitian. Sehingga, menyajikanhasil penelitian harus memuat poin-poin tujuan khusus dan umum penelitian.

Untuk memulainya, penyajian hasil penelitian diawali dengan pemberian gamabran lokasi penelitian dan karakteristik responden. Dilanjutkan poin-poin yang merupakan jawaban atas tujuan khusus dan umum penelitian.

1. Distribusi Frekuensi

(40)

pengamatan ke pengamatan yang lain. Oleh sebab itu harus dianalisis dengan menggunkan analisis distribusi frekuensi. Data disajikan dalam bentuk table yang berisi susunan data yang dibagi ke dalam beberapa frekuensi kelas.

Frekuensi kelas merupakan ringkasan data mentah yang diolah dan didistribusikan ke dalam kelas atau kategori yang disebut distribusi frekuensi atau table frekuensi. Penyajian data dalam bentuk distribusi frekuensi akan memudahkan melakukan analisis data, dibandingkan jika data disajikan dalam bentuk data mentah. Distribusi frekuensi ini menunjukkan pada perhitungan ukuran tendensi sentral yang meliputi rerata (mean), varian dan standar deviasi serta penyajian data dalam bentuk table distribusi frekuensi.

Cara menyusun distribusi frekuensi adalah sebagai berikut: a) Tentukan R (data tertinggi – data terendah).

b) Untuk menyajikan data dalam bentuk distribusi frekuensi digunakan aturan Sturges yang menetapkan bahwa banyaknya kelas.

(k) = 1 + 3,3 log n c) Panjang kelas (P) = R/k.

2. Jenis distribusi dan penyajian gambar.

Berdasarkan jenisnya, distribusi freuensi dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:

a) Distribusi frekuensi absolute, yaitu suatu distribusi frekuensi yang frekuensi tiap kelas tidak dinyatakan dalam angka absolute, tetapi dalam angka relative atau persentase.

b) Distribusi Frekuensi Kumulatif, yaitu distribusi frekuensi yang menunjukkan jumlah frekuensi berdasarkan jumlah dari masing-masing frekuensi tiap kelasnya terhadap nilai tepi kelasnya. Distribusi frekuensi kumulatif dibagi menjadi dua, yaitu distribusi frekuensi kumulatif kurang dari dan frekuensi kumulatif lebih dari. c) Distribusi frekuensi kumulatif relative, yaitu suatu distribusi

frekuensi kumulatif yang frekuensi masing-masing kelasnya dinyatakan dalam bentuk persentase.

3. Ukuran Gejala Dan Pusat: Rata-Rata.

(41)

jelas pengelompokan data, yaitu antara data tidak berkelompok dengan data berkelompok.

B. Pengujian Hipotesis.

Pengujian hipotesis berhubungan dengan peneriamaan atau penolakan suatu hipotesis. Penerimaan hipotesisi terjadi karena tidak cukup bukti untuk menolak hipotesis tersebutdan bukan karena hipotesis tersebut benar. Penolakan suatu hipotesis terjadi karena tidak cukup bukti unutk menerima hipotesis tersebut dan bukan karena hipotesis tersebut adalah salah. Landasan penerimaan dan penolakan hipotesisi inilah menyebabkan para peneliti mengawali pekerjaan dengan terlebih dahulu membuat hipotesis yang diharapkan ditolak, tetapi dapat membuktikan bahwa pendapatnya dapat diterima.

C. Pembahasan

Setelah hasil penelitian kita sajikan, tugas seorang peneliti berikutnya adalah melakukan pembahasa. Pembahasan atau diskusi dalam sebuah laporan penlitian sebenarnya merupakan upaya peneliti unutk meyakinkan hasil penelitian kepada pembaca. Upaya pembahasan dapat dilakukan dengan pembahsan teori maupun metodologi.

Pada dasarnya, pembahasan merupakan pemikiran yang orijinal peneliti yang dilakukan dengan mengaitkan antara temuan penelitian dan teori (hasil penelitian terdahulu) yang digunakan. Pembahasan teori dilakukan dengan merujuk hasil penelitian itu pada teori yang mendukungnya atau pada penelitian terdahulu yang pernah dilakukan oleh peneliti lain. Membandingkan hasil penelitian yang diperoleh dengan penelitian lain yang relevan akan mampu memberikan taraf kredibilitas yang lebih tinggi terhadap hasil penelitian. Tentu saja suatu penelitian akan menjdai lebih dipercaya bila didukung oleh hasil penelitian orang lain. Namun sebaiknya tidak hanya hasil penelitian yang mendukung penelitian saja yang dibahas di bagian ini.

(42)

Dari uraian di atas, maka langkah praktis dapat dilakukan sebagai berikut: 1. Menyajikan ringkasan/pokok hasil penelitian. Jika telah diketahui hasil

uji statistik atau uji hipotesis, maka angka atau koefisien tersebut dapat disajikan.

2. Melakukan pembahasn teori atas hasil penelitian.

3. Melakukan pembahasan metodologi atas hasil penelitian.

Banyak peneliti pada awalnya mengalami kesulitan pada tahap pembahasan. Sering kali pembahsan dilakukan dengan menambahkan uraian penjelas dari hasil penelitian, sehingga tahap pembahasan akan terkesan sama dengan uraian hasil penelitian.

Hal lain yang sering menjadi masalah adalah ketika hasil penelitian tidak sesuai atau bahkan bertolak belakang dengan dengan teori. Jika keadaan ini terjadi, maka langkah yang perlu diambil adalah melakukan pembahasan metodologi. Bisa jadi, ada kiesalahan dalam penerapan metodologi peneliitan. Kesalahan ini bisa terjadi dalam pemilihan sampel atau penetapan kriteria responden di lokasi penelitian, proses pengumpulan data dan mekanisme analisis data. Seorang peneliti harus menyajikan sebenar-benarnya. Jika diyakini metodologinya telah benar, maka dapat dikaji kemungkinan faktor apa saja yang dapat mempengaruhi hasil penelitian. Jika sudah dapat diidentifikasi, maka dapat dimasukkan sebagai saran penelitian berikutnya. Tetapi jika ternyata ada kesalahan, kekurangan atau keterbatasan dalam metodologi, maka seorang peneliti harus mengakuinya.

1. Penafsiran : Hasil yang sesuai dengan harapan jika Ho ditolak.

Dapat dimengerti kalau peneliti yang merasa lebih suka bila hasil penelitian sesuai dengan penafsirannya. Sehingga pembahasan menjadi lebih mudah.

2. Penafsiran: Hasil penelitian bila Ho diterima.

a) Hipotesis nol itu memang benar. Mungkin antara dua variabel itu memang tidak ada hubungannya. Perlakuan eksperimental mungkin memang tidak lebih efektif daripada perlakuan pengendali.

b) Hipotesis nol itu sebenarnya salah. Tetapi persoalan validitas internal telah mengacaukan penelitian itu sehingga hubungan yang sebenarnya di antara variabel tersebut tidak dapat diamati.

c) Hipotesis nol sebenarnya salah, tetapi desai penelitian kurang kuat untuk menolaknya.

D. Keterbatasan penelitian.

(43)

penelitian merujuk kepada suatu keadaan yang tidak dapat dihindari dalam penelitian. Keterbatasan yang sering dihadapi mengangkut dua hal. Pertama, keterbatasan ruang lingkup kajian yang terpaksa dilakukan karena alasan prosedural, teknik peneliitian, ataupun karena faktor logistik. Kedua, keterbatasan penelitian berupa kendala yang bersumber dari adat, tradisi, etika, dan kepercayaan yang tidak memungkinkan bagi peneliti untuk mencari data yang diinginkan.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan.

Kesimpulan berasal dari fakta atau hubungan yang logis. Pada umumnya, kesimpulan terdiri dari kesimpulan utama dan kesimpulan tambahan. Kesimpulan utama adalah yang berhubungan langsung dengan permasalahan. Dengan demikian, kesimpulan utama harus bertalian dengan pokok permasalahan dan dilengkapi oleh bukti-bukti.

Pada kesimpulan tambahan, penulis tidak mengaitkan pada kesimpulan utama, tetapi tetap menunjukkan fakta yang mendasarinya.

B. Saran

Setelah menutup kesimpulan penulis dapat memberikan saran atau rekomendasi untuk penelitian lebih lanjut maupun saran yang lebih praktis atau berfaedah secara riil. Sama halnya dengan kesimpulan, penulis tidak boleh menyarankan sesuatu yang tidak ada dasarnya atau tidak memiliki keterkaitan dengan pembahasan.

(44)

tersebut, ia tidak mengalami kesulitan untuk menafsirkan atau melaksanakannya. Saran yang diajukan hendaknya bersifat spesifik dan tidak bertele-tele.

Aturan Penulisan Daftar Pustaka

Beberapa pedoman yang perlu diperhatikan dalam menyusun daftar pustaka adalah sebagai berikut:

1. Di akhir essai atau tugas anda yang lain, cantumkan daftar semua referensi yang telah anda kutip. Dalam praktek, biasanya hanya mencantumkan refernsi yang benar-benar anda kutip, bukan semua sumber yang and abaca. Jika ternyata sumber yang anda baca dirasa penting, anda seharusnya mengutip dalam badan essai.

2. Daftar pustaka harus disusun sesuai dengan urutan abjad berdasarkan nama keluarga. Tidak memakai nomor. Tidak memisahkan sumber menurut jenisnya.

3. Nama penulis harus diketik rapat kiri, baris berikutnya harus diketik menjorok ke dalam.

4. Judul jurnal harus diketik dalam huruf besar untuk huruf pertama setiap kata, judul lainnya hanya perlu huruf besar pada huruf pertama pada kata pertama atau untuk nama.

5. Jika dua buku atau artikel ditulis oleh penulis yang sama, dan dipublikasikan pada tahun yang sama, tuliskan huruf alphabet secara urut setelah tahun.

(45)

6. Jika ada dua penulis dengan nama keluarga yang sama, gunakan inisial mereka, baik pada essai dan pada daftar pustaka.

Contoh: “Castello, P dan Castello, T”.

7. Jangan mereferensikan materi kuliah yang disampaikan secara lisan maupun komunikasi personal.

8. Daftar pustaka harus ditempatkan di akhir tugas, pada halaman yang terpisah, sebelum lampiran, dengan judul “Daftar Pustaka”.

Penulisan Referensi Dengan System

Harvard.

Berikut ini adalah berbagai jenis referensi (daftar pustaka) dengan cara yang berbeda berdasarkan system Harvard (Anna, 1997).

1. Buku dengan satu penulis.

Jordan, R. 1996, Academic Writing Course, 2

nd

ed., Harlow,

Longman.

2. Buku dengan lebih dari satu penulis

Mc.Taggart, D., Findlay, C. & Parkin, M., 1996, Economics, 2nd

ed.d., Sydney, Addison-Wesley

3. Bagian dari buku yang diedit oleh penulis yang berbeda dan bab yang berbeda.

Nama

keluarga Inisial Tahun terbit

Judul buku, dimiringkan/garis

bawah Edisi

Kota tempat terbit

Penerbit Spasi

Cantumkan semua penulis dalam daftar

referensi

Judul artikel dalam tanda petik

(46)

Daniels, P., 1991, “Australia’s Foreign Debt: Searching for the Benefits” in,

P. Maxwell & S. Hopkins, Macroeconomics: Contemporary

Australian Readings, 2nd ed., Pymble, Harper

.

4. Artikel jurnal.

Abrahamson, A., 1991. ‘Managerial Fads and Fashions: The Diffusion

and Rejection of Inovations’ Academy of Management Review, 16

(3), 586-612.

5. Artikel majalah.

Jayasankran, S. 2000 “Malaysia: Miracle Cure”, Far Eastern Economic

Review, May 11, p36.

6. Sumber dari internet dengan penulis.

Chan, P. 1997 Same or different?; A Comparison of the beliefs Australian

and Chinnese University Students Hold about Learning’

Proceedings of AARE conference, Swinburne University.

http://www.swin.edu.au/aare/97pap/CHAN97058.html

7. Sumber dari internet tanpa penulis.

StatSoft, inc. 1997 Electronic Statistic Textbook, Tulsa OK., StatSoft Online, http://www.statsoft.com/textbook/stathome.html accessed May 27, 2000

Judul dengan cetak miring atau garis

bawahi.

Cantumkan sub-judul

Judul jurnal dicetak miring atau digaris

bawahi

Volume Terbitan Halaman

Cantumkan tanggal

Nama artikel

Nama Organisasi atau website Alamat web atau URL.

Organisasi tempat penulis

(47)

Aturan Penulisan Kutipan

Kutipan adalah penulisan pengarang yang diacu dalam badan tulisan. Kutipan mencantumkan nama keluarga penulis dan tahun penerbitan di dalam kurung. Nomor halaman juga dicantumkan jika memakai uraian dengan kata-kata sendiri yang mirip dengan pendapat orang lain atau catatan. Beberapa pedoman yang perlu diperhatikan: 1. Kutipan harus diletakkan di akhir kalimat, di dalam tanda baca.

2. Contoh: “Aspek sistem perpajakan tersebut paling signifikan (Larsen, 1971).” Atau dengan cara lain, nama keluarga penulis dapat digabungkan ke dalam teks. Contoh: “Larsen (1971) menyatakan bahwa aspek system perpajakan tersebut sangat signifikan”.

3. Kutipan dapat dituliskan dengan cara ( Cooper, 1999), atau (Cooper, 1999: 23) atau Cooper (1999), atau Cooper (1999:23) tergantung bagaimana cara mengutip, dan apakah mencantumkan haraman referensi atau tidak.

4. Kutipan harus digunakan setiap kali anda mengutip pemikiran dan informasi berdasarkan karya penulis yang dipublikasikan. Jika anda menggunakan catatan atau kata-kata sendiri yang sangat mirip dengan pernyataan sumber, anda harus mencantumkan halaman referensi. Halaman referensi dan tahun publikasi dipisahkan dengan titik dua. Contoh: ..…. ( Cooper, 1999:23).

5. Jika terdapat dua atau lebih penulis, gunakan penghubung (&) di dalam kurung. Contoh, (Dunphy & Stace, 1990) atau Dunphy & Stance (1990). 6. Jika terdapat tiga penulis atau lebih, penulisan pertama kali tuliskan semua penulis, kemudia untuk penulisan berikutnya cukup tuliskan nama penulis pertama diikuti dengan et al.

Contoh: ”….Mc Taggart et al”.

7. Jika sebuah publikasi tidak memiliki pengarang, gunakan naa organisasi sebagai pengarang.

8. Jika sedang mengutip pernyataan yang telah dikutip oleh penulis lain, penulis pernyatakannya ( Carini, dikutip dalam Patton, 1990).

(48)

Catatan:

1. Jika anda mengutip, kutiplah dengan menggunakan kalimat yang persis sama.

2. Jika anda menghilangkan sebagian dari teks, tuliskan dengan menggunakan titik-titik di akhir kalimat. Contoh, tiga titik ( . . . ).

3. Jika anda memasukkan kata-kata anda sendiri, untuk menjadikan kalimat menjadi lebih jelas, tuliskan dengan menempatkan tambahan kata tersebut ke dalam tan kurung [ . . . ].

4. Usahakan untuk tidak terlalu sering mengutip. 5. Hindari kutipan yang terlalu panjang.

6. Kutiplah hanya jika kutipan merupakan kata-kata yang sangat penting. 7. Gunakan tanda kutip utnuk kutipan pendek. Contoh;

…..Tarif merupakan “pajak untuk barang impor” (Arnott, 1986). 8. Cantumkan kutipan setelah catatan.

9. Jika kutipan lebih dari 40 kata, tuliskan kutipan menjorok ke dalam dengan spasi tunggal dan tidak memakai tanda kutip. Contoh;

Komite Pemeriksa Campbell dan Martin menyatakan bahwa.:

Kontrol nilai tukar memiliki pengaruh terhadap kestabilan ekonomi. Terbukti pada tahun 1983 setelah devaluasi pada bulan Maret, masuknya modal secara besar-besaran telah meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.

Menggambungkan kutipan ke dalam kalimat:

Berikut ini adalah contoh bagaimana menggabungkan kutipan ke dalam tulisan, skripsi, tesis, atau penelitian:

Penemuan Russell (1999) dengan jelas menunjukkan bahwa…… McKenzie (1998) menantang pandangan bahwa……

Lee (2000) berpendapat bahwa…. Briggs (1990) menyatakan bahwa…. Seperti yang dilaporkan Watson (1997) … Seperti pendapat Black (1999) …

Menurut Smith (1996) …..

Huynh (1992) menggarisbawahi bahwa…. Patel (1989) menunjukkan bahwa…

(49)

Watts (1999) berkomentar/berpendapat/mengklaim/menyatakan/bertahan dengan pendapatnya bahwa…

Hansen (1988) telah menyelidiki … Nguyen (1995) mendiskusikan …

Adalah mendesak bahwa …….. (Gartner, 1989: 259). Telah diperdebatkan bahwa ……… (Williams, 1997).

(50)

Abstrak adalah rangkuman dari isi tulisan dalam format yang sangat singkat atau dengan kata lain penyajian atau gambaran ringkas yang benar, tepat dan jelas mengenai isi suatu dokumen (Ahira, 2009).

Abstrak merupakan suatu ringkasan yang lengkap dan menjelaskan keseluruhan isi artikel ilmiah. Abstrak ditempatkan pada bagian awal artikel ilmiah. Penulisan abstrak yang baik perlu dipertimbangkan mengingat bagian ini merupakan bagian artikel yang dibaca setelah judul. Sangatlah beralasan, dibaca tidaknya suatu artikel ilmiah tergantung pada kesan yang diperoleh pembaca saat membaca abstraknya. Bagian artikel yang paling sulit dikerjakan adalah abstrak. Abstrak dalam bahasa Inggris merupakan satu kemutlakan yang harus ada (persyaratan dalam akreditasi jurnal ilmiah) (Santoso, 2009).

Abstrak seperti sinopsis. Hanya dengan membaca abstrak, pembaca sudah bisa memahami apa yang ada dalam sebuah tulisan ilmiah. Oleh sebab itu, abstrak harus jelas, singkat, padat dan mudah dipahami (Ahira, 2009).

Sifat-sifat abstrak adalah (Santoso, 2009): 1. Ringkas

2. Jelas 3. Tepat

4. Berdiri sendiri. 5. Objektif

Abstrak harus bersifat informatif dan deskriptif, artinya setiap informasi yang terkandung pada abstrak tersebut harus berdasarkan fakta. Dengan kata lain, sangat tidak diperkenankan untuk mencantumkan informasi yang tidak ada faktanya yang jelas dalam isi artikel pada suatu abstrak. Abstrak yang baik harus mengandung empat unsur: argumentasi logis perlunya dilakukan observasi atau penelitian untuk memecahkan masalah, pendekatan yang digunakan untuk memecahkan masalah (metode), hasil yang dicapai dalam penelitian serta kesimpulan yang diperoleh. Setiap unsur hendaknya diungkapkan dalam kalimat yang singkat dan jelas, dengan demikian keseluruhan abstrak menjadi tidak terlalu panjang (Santoso, 2009).

(51)

yang diteliti)dan ringkasan hasil penelitian (bila dianggap perlu, juga simpulan dan implikasi). Tekanan diberikan pada hasil penelitian. Hal-hal lain seperti hipotesis, pembahasan dan saran tidak perlu disajikan (Ahira, 2009).

Fungsi abstrak adalah untuk memberikan informasi kepada pembaca perihal hasil penelitian yang telah dibuat. Uraian yang hanya satu halaman tersebut memudahkan abstrak untuk dimasukkan dalam jaringan internet. Hal ini dilakukan untuk memudahkan anda mengetahui hasil penelitian tanpa harus membaca keseluruhan penelitian yang berlembar-lembar. Sehingga dengan adanya abstrak dapat membant

Referensi

Dokumen terkait

No Judul Jenis Karya Penyelenggara/ Penerbit/Jurnal Tanggal/ Tahun Ketua/ Anggota Tim Sumber Dana Keterangan 1 NA NA NA NA NA NA NA GL. KEGIATAN

Dengan demikian membuktikan bahwa hubungan antara kredibilitas narasumber terhadap perilaku wajib pajak pribadi akan semakin positif karena adanya tingkat pemahaman yang tinggi

Segenap Karyawan Perpustakaan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya yang selama ini telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan

hasil penelitian diketahui bahwa pelaksanaan metode Ummi dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Quran pada siswa SMP IT Izzatul Islam Getasan secara umum telah

“ awal mulanya di gagasnya kampung ekologi ini pada tahun 2015, dan diresmikan pada tahun 2017. awalnya kampung ini adalah kampung yang biasa, sama seprti

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi marketing politik yang digunakan pada saat pemilu 2014 berhasil untuk mendapatkan dukungan dari para pemilih pada

Evaluasi kebijakan adalah tahapan yang paling penting dalam sebuah proses kebijakan, tanpa ada evaluasi suatu kebijakan itu tidak akan ada nilainya karena di

Berdasarkan grafik 4.12 dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan pada penilaian pelaksanaan pembelajaran pada setiap siklusnya.. rata rencana pelaksanaan pembelajaran