Solusi Isu Etika dalam Sistem Informasi Kesehatan
Habib Mufid Ridho
Information System and TechnologySTEI ITB Bandung, Indonesia
Abstract—Pemanfaatan Teknologi Informasi (TI) semakin luas, tak terkecuali di bidang kesehatan. Salah satu bentuk pemanfaatan TI di bidang kesehatan adalah Sistem Informasi Kesehatan (SIK). SIK didefinisikan sebagai sistem yang berfungsi untuk menangkap, menyimpan, dan memberikan akses informasi kesehatan. Sebagaimana TI, SIK selain memberikan manfaat juga memiliki risiko dan permasalahan yang berkaitan dengan etika. Penggunaan teori etika sebagai kerangka berpikir diharapkan dapat memberikan solusi terhadap isu etika yang dihadapi oleh SIK.
Keywords—TI, SIK, etika
I. LATAR BELAKANG
Saat ini, kehidupan manusia tidak dapat lepas dari pemanfaatan Teknologi Informasi (TI). Di tahun 2011, setidaknya terdapat 1,3 milyar personal computer (PC) [1]. Diperkirakan pada tahun 2014, pengguna telepon genggam akan mencapai 4,55 milyar. Angka ini setara dengan 63,5% penduduk dunia [2].
Gambar 1 Grafik Perkiraan Penggunaan Telepon Genggam (Sumber:
http://www.emarketer.com/Article/Smartphone-Users-Worldwide-Will-Total-175-Billion-2014/1010536)
Dengan semakin berkembangnya TI, pemanfaatannya pun semakin luas. TI tidak hanya dimanfaatkan oleh bidang-bidang industri, manufaktur, ataupun hiburan saja, tetapi juga mulai dimanfaatkan oleh bidang kesehatan. Salah satu pemanfaatan TI di bidang kesehatan adalah sebagai pendukung pada Sistem Informasi Kesehatan (SIK). Tenaga medis kini dapat saling bertukar informasi dalam menangani suatu kasus kesehatan. Rumah Sakit-Rumah Sakit juga dapat memanfaatkannya untuk mengelola administrasi maupun bisnisnya.
Pemanfaatan TI ini bukan hanya membawa kemudahan bagi dunia kesehatan tetapi juga kendala yang harus ditangani. Salah satu kendala yang dimaksud adalah berkaitan dengan isu etika. TI sendiri adalah suatu hal yang masih memilki permasalahan etika antara lain hak cipta, privasi, keamanan, dan lain-lain. Hal ini tentu berdampak pada produk turunannya sehingga perlu dikaji permasalahan etika apa saja yang dapat timbul dari pemanfaatan TI di bidang kesehatan dan bagaimana menanggulanginya.
Pembahasan pada makalan ini akan mengikuti alur sebagai berikut. Pada bagian 2 akan dijabarkan teori-teori etika yang dapat digunakan sebagai kerangka berpikir untuk mengkaji isu etika. Pada bagian 3 akan dibahas mengenai konsep dan isu etika yang berkembang dalam SIK. Selanjutnya, pada bagian 4 akan dijelaskan solusi yang dapat ditempuh untuk menanggulangi isu etika yang ada. Dan akhirnya kesimpulan akan ditarik pada bagian 5.
II. TEORI ETIKA
Berdasarkan referensi [3], pengertian etika dapat dibagi dua berdasarkan perlakuannya: tunggal atau jamak. Jika diperlakukan sebagai tunggal, etika adalah cabang pengetahuan yang berurusan dengan prisip-prinsip moral. Adapun jika diperlakukan sebagai jamak, etika adalah prinsip-prinsip moral yang mengatur perilaku seseorang atau cara melakukan suatu aktivitas. Dapat kita lihat bahwa etika memiliki kaitan erat dengan moralitas.
menggunakan teori-teori etika sebagai kerangka berpikir. Teori etika, seperti halnya teori sains, memberikan kita sebuah kerangka berpikir untuk menganalisis isu moral melalui skema yang koheren dan konsisten secara internal serta sistematis dan komprehensensif [4].
Berdasarkan [4], terdapat empat teori etika berdasarkan basisnya yaitu sebagai berikut.
A. Teori Etika Berbasis Konsekuensi
Beberapa pihak beranggapan bahwa tujuan utama dari sistem moral adalah menghasilkan konsekuensi atau hasil yang diinginkan. Bagi penganut teori ini, konsekuensi dari sebuah aksi atau kebijakan adalah tolak ukur pokok untuk menentukan keputusan moral yang harus diambil. Tentu saja, kita dapat mempertanyakan keinginan siapa yang harus dipenuhi. Kaum Utilitarian beranggapan bahwa hasil atau konsekuensi bagi pihak mayoritas dalam suatu masyarakat adalah hal paling penting dalam melakukan pertimbangan moral.
Kaum Utilitarian menekankan pada “utilitas sosial” atau kegunaan sosial.dari suatu aksi atau kebijakan dengan berfokus pada konsekuensi dari aksi atau kebijakan tersebut. Jeremy Bentham (1748-1832), salah satu filsuf pertama yang merumuskan teori etika utilitarian dengan cara yang sistematis, mempertahankan teori ini melalui dua klaim sebagai berikut.
1. Utilitas sosial lebih utama dibandingkan kriteria alternatif lainnya dalam melakukan evaluasi sistem moral.
2. Utilitas sosial dapat diukur dari jumlah kebahagiaan yang dihasilkan.
Berdasarkan klaim (1), nilai atau aksi moral harus diukur dalam hal kegunaan sosialnya daripada diukur melalui kriteria abstrak seperti keadilan sosial atau hak individu. Semakin banyak kegunaan sosial yang dihasilkan dari suatu aksi atau kebijakan, maka aksi atau kebijakan tersebut dapat dipertahankan secara moral. Cara mengukur kegunaan sosial adalah dengan klaim (2) dengan asumsi semua orang menginginkan kebahagiaan dan kebahagiaan adalah kebutuhan intrinsik yang diinginkan sendirinya.
B. Teori Etika Berbasis Tugas
Immanual Kant (1724-1804) berargumen bahwa moralitas pada akhirnya harus didasarkan pada konsep tugas atau kewajiban yang dimiliki oleh manusia pada satu dan lainnya, dan tidak pada konsekuensi dari tindakan manusia. Oleh karenanya, Kant menolak utilitarianisme secara khusus dan semua teori etika berbasik konsekuensi secara umum. Dia menunjukkan bahwa pada beberapa kasus, pelaksanaan tugas dapat menghasilkan kondisi tidak menyenangkan atau menyebabkan konsekuensi yang tidak diinginkan. Kant mendasarkan argumennya pada sifat dasar manusia sebagai makhluk rasional dan gagasan bahwa manusia berakhir pada dirinya sendiri.
Menurut Kant, hal yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya dan mengikat kita secara moral adalah kapasitas rasional kita. Tidak seperti hewan, yang hanya didorong oleh kesenangan sensorik, manusia memiliki
kemampuan untuk berpikir dan memutuskan. Jadi Kant beranggapan bahwa jika sifat dasar kita hanya mencari kesenangan, maka kita tidak berbeda dengan makhluk lainnya secara moral. Tetapi karena kita memiliki kapasitas rasional, kita mampu memikirkan situasi dan membuat pilihan moral yang mana tidak dapat dilakukan oleh makhluk lainnya. Kant berpendapat bahwa sifat dasar rasional kita menunjukkan kita memiliki tugas atau kewajiban tertentu kepada satu sama lain sebagai makhluk rasional dalam komunitas moral.
Kita telah melihat bahwa berfokus pada kriteria kebahagiaan yang dianut oleh kaum mayoritas, kaum utilitarian memperbolehkan bahwa kepentingan sebagian manusia dapat dikorbankan untuk hasil yang lebih besar. Kant berpendapat bahwa sejatinya sistem moral tidak akan pernah memperbolehkan hal tersebut. Menurutnya, tiap individu, terlepas dari kemakmuran, kecerdasan, atau keadaan lainnya, memiliki nilai moral yang sama. Dari sini, Kant menyimpulkan bahwa tiap individu berakhir pada dirinya sendiri, dan oleh karenanya, seharusnya tidak pernah menjadi akhir dari orang lain. Sehingga, kita memiliki tugas untuk memperlakuan manusia sebagai akhir.
C. Teori Etika Berbasis Kontrak
Dari sudut pandang beberapa penganut teori kontrak sosial, sebuah sistem moral ada karena kebajikan persetujuan kontraktual antar individu. Salah satu versi formal dari teori etika berbasis kontrak dapat ditemukan dalam tulisan Thomas Hobbes (1588-1679). Dalam karya klasiknya Leviathan, Hobbes mendeskripsikan sebuah keadaan “premoral” yang ia
sebut “keadaan alami”. Tiap individu bebas untuk bertindak
untuk memenuhi keinginannya. Pada kondisi ini tiap orang harus membela diri masing-masing, dan sebagai hasilnya, tiap orang juga harus menghindari ancaman dari orang lain, yang juga mengejar pemenuhan keinginan atau kepentingannya.
Hobbes mendeskripsikan keadaan ini sebagai kehidupan yang “soliter, miskin, menjijikan, kasar, dan pendek”. Karena kita adalah makhluk rasional, dan karena kita melihat bahwa hal terbaik adalah bergerombol, akhirnya kita membangun sebuah kode formal legal. Saat melakukan ini, Hobbes percaya bahwa kita bersedia untuk mengorbankan beberapa kebebasan “absolut” kepada seorang penguasa. Sebagai gantinya, kita menerima banyak keuntungan, termasuk sistem aturan dan hukum yang dirancang dan dilaksanakan untuk melindungi individu agar tidak disakiti oleh anggota sistem lainnya.
D. Teori Etika Berbasis Karakter
III. SISTEM INFORMASI KESEHATAN
A. Konsep Sistem Informasi Kesehatan
Salah satu pemanfaatan TI dalam bidang kesehatan adalah Sistem Informasi Kesehatan (SIK). SIK merujuk pada sistem yang menangkap, menyimpan, mengelola, atau mentransmisikan informasi yang berkaitan dengan kesehatan individu atau aktivitas organisasi yang berada di sektor kesehatan [5]. SIK dibuat untuk menghasilkan informasi yang akurat dan tepat waktu tentang apa yang terjadi di bidang kesehatan. Idealnya, informasi ini kemudian digunakan sebagai petunjuk operasi sehari-hari dari sistem kesehatan, melacak kinerja tiap waktu, belajar dari hasil yang telah lalu, meningkatkan secara berkelanjutan, meningkatkan transparansi, dan memperkuat akuntabilitas [6]. SIK diperkenalkan untuk memanfaatkan TI khususnya Internet dalam memberikan perawatan kesehatan yang lebih baik [7].
SIK kadang disamakan dengan pemantauan dan evaluasi tapi sudut pandang ini terlalu reduksionis. Sebagai tambahan penting bagi pemantauan dan evaluasi, sistem informasi ini juga perlu melayani hal yang lebih luas, memberikan kapabilitas peringatan dini, mendukung pasien dan manajemen fasilitas kesehatan, memungkinkan perencanaan, mendukung dan merangsang penelitian, memungkinkan situasi keseahatan dan analisis kecenderungan, mendukung laporan global, dan memfasilitasi tantangan dalam berkomunikasi terhadap pengguna yang berbeda-beda. Informasi bisa jadi kurang berguna jika tidak disajikan dalam format yang memenuhi kebutuhan dari beberapa pengguna – pembuat kebijakan, perencana, manajer, penyedia layanan perawatan kesehatan, komunitas, individu. Oleh karena itu, sosialisasi dan komunikasi adalah atribut penting dalam SIK [8].
Sebuah SIK yang baik mempertemukan semua mitra relevan untuk memastikan bahwa pengguna informasi kesehatan memiliki akses ke data yang handal, otoratif, dapat digunakan, dapat dimengerti, dan kompartif [8]. Berdasarkan draft SIK World Health Organization (WHO), perencanan kesehatan dan pembuat kebijakan memerlukan jenis informasi yang berbeda-beda yaitu sebagai berikut.
1. Penentu kesehatan (sosio-ekonomi, perilaku lingkungan, faktor genetik) dan lingkungan kontekstual dimana sistem kesehatan beroperasi.
2. Masukan untuk sistem kesehatan dan proses-proses terkait yang terdiri atas kebijakan dan organisasi, infrastruktur kesehatan, fasilitas dan peralatan, biaya, sumber daya manusia dan finansial.
3. Kinerja atau keluaran sistem kesehatan seperti ketersediaan, aksesibilitas, kualitas dan penggunaan informasi dan layanan kesehatan, tanggapan sistem terhadap kebutuhan pengguna, dan perlindungan terhadap risiko finansial.
4. Hasil kesehatan (kematian, morbiditas, perjangkitan penyakir, status kesehatan, cacat, kesejahteraan).
5. Ketidakadilan kesehatan berhubungan dengan penentu, cakupan layanan, hasil kesehatan, dan termasuk pemuas kunci seperti jenis kelamin, status sosio-ekonomi, kelompok etnis, lokasi geografis, dan lain-lain.
Salah satu aspek yang menarik dalam SIK adalah bagaimana mengelola hubungan antara penyedia layanan kesehatan dengan pasien. Membina hubungan yang baik dengan konsumen (pasien) akan mempertahankan dan menarik mereka menjadi konsumen loyal dan membuat kesepahaman, kepercayaan, dan kepuasan yang lebih besar. Sebagai tambahan, sebuah hubungan yang baik akan mendorong keterlibatan pasien dalam pengambilan keputusan (Richard dan Ronald, 2008). Sebuah hubungan yang baik akan membina komunikasi yang efektif yang sering diasosiasikan dengan peningkatan kesehatan fisik, pengelolaan penyakit kronis yang lebih efektif, dan kualitas hidup yang lebih baik (Arora, 2003). Pengelolaan hubungan harus berkembang dan tumbuh secara berkelanjutan. Sebuah hubungan yang baik adalah hubungan yang dinamis dimana organisasi menjadi peringatan akan perubahan kebutuhan. Pada gilirannya, jika organisasi kesehatan terkelola dengan baik, pasien akan bersedia untuk kembali karena loyalitas dan kepercayaan yang telah dibangun. Mereka akan tahu bahwa jika mereka menghadapi kesulitan, organisasi akan menanggulanginya secara profesional [7].
B. Isu Etika Dalam SIK
Penerapan TI dalam bidang kesehatan selain memberikan manfaat juga memiliki risiko dan permasalahan etika. Permasalah etika yang muncul dapat berasal dari proses bisnis dalam organisasis layanan kesehatan, konflik kepentingan tenaga medis, ataupun dari teknologi yang digunakan dalam rekam medis elektronik yang mulai marak digunakan. Berdasarkan [9], di antara aspek etis TI yang telah diidentifikasi adalah sebagai berikut.
1. Isu transparansi (Apakah pengguna diberikan sebuah model yang valid dan sederhana tentang apa yang dilakukan sistem? Apakah mereka sadar kapan aktivitas mereka berdampak pada sistem?).
2. Isu standardisasi yang berkaitan dengan toleransi terhadap variasi (Apakah standar yang diperkenalkan melalui sebagai contoh EPR mengganggu penerapan lokal? Apakah hal tersebut berdampak pada kualitas kerja? Apakah ‘profil’ kondusif terhadap pemikiran dalam
pengukuran sederhana seperti ‘rata-rata’ dan
apakah hal ini mengurangi toleransi terhadap perbedaan dan variasi?).
3. Isu etika kerja (Apakah sistem dan aplikasi TI menambah beban kerja tenaga medis dengan mengorbankan perawatan? Apakah urutan dokter-perawat dibangun dalam EPR dan apakah hal ini
mengabstraksi hubungan di tingkat
administratif?).
batasan yang perlu diletakkan dalam pembagian informasi EPR).
5. Isu yang berkaitan dengan kekayaan intelektual – Apa isu kekayaan intelektual yang dapat muncul dengan website informasi kesehatan dan pemeliharaan basis data informasi kesehatan?
6. Isu tentang kewajiban (Dapatkah kepercayaan pasien/dokter pada informasi kesehatan online diarahkan pada kewajiban penyedia? Apakah praktisi telemedicine lebih mudah digugat dan untuk apa?)
7. Isu yang berkaitan dengan keadilan alokasi sumber daya (Haruskah akses online kepada informasi kesehatan diberikan untuk semua atau hanya disediakan untuk pihak yang dapat membayar?)
8. Isu keaksaraan (Apakah informasi kesehatan ditampilkan dengan cara yang dapat membantu masyarakat untuk mengetahui masalah mereka dan membuat pilihan?)
IV. ALTERNATIF SOLUSI
Pada bagian ini akan dijabarkan solusi yang dapat diambil untuk menanggulangi isu etika dalam SIK yang teridentifikasi sebelumnya. Pertama akan dianalisis tiap stakeholder yang berkaitan dengan SIK beserta peran dan kaitannya terhadap isu etika yang teridentifikasi. Selanjutnya akan dirumuskan solusi untuk tiap isu tersebut.
A. Analisis Stakeholder
Dalam melakukan pemberian layanan kesehatan, suatu organisasi kesehatan, seperti Rumah Sakit, Klinik, Palang Merah, terdiri atas berbagai pihak yang memiliki peran masing-masing. Mulai dari pihak yang berkaitan langsung dengan kesehatan seperti dokter, perawat, ataupun pasien, hingga pihak yang berperan sebagai pendukung operasi seperti manajer finansial, petugas kebersihan, dan lain-lain. Adapun secara umum, stakeholder yang berkaitan dengan SIK adalah tenaga medis, ahli farmasi, pasien, keuangan, CEO, CIO, tenaga TI, dan pembuat kebijakan.
1) Tenaga Medis
Tenaga medis antara lain dokter dan perawat. Tenaga medis berinteraksi secara langsung dengan pasien. Mereka bertanggung jawab memberikan penanganan pada pasien. Mereka juga harus memberikan penanganan sesuai prosedur yang berlaku. Tenaga medis memiliki kepentingan terhadap informasi mengenai rekam medis pasien, obat-obatan yang tersedia, dan fasilitas dan infrastruktur yang dimiliki oleh organisasi.
2) Ahli Farmasi
Ahli farmasi mirip dengan tenaga medis tetapi mereka tidak berurusan secara langsung dengan pasien. Ahli farmasi memiliki tanggung jawab untuk meracik obat sesuai dengan resep dari dokter. Selain itu, ahli farmasi juga perlu mengetahui riwayat kesehatan dari pasien agar
dapat menentukan dosis yang tepat dan tidak berpengaruh buruk pada pasien.
3) Pasien
Pasien adalah konsumen dalam bisnis layanan
perawatan kesehatan. Mereka memiliki kepentingan untuk memenuhi kebutuhannya untuk menjaga kesehatan atau memulihkan kondisi kesehatannya. Informasi yang berguna bagi pasien antara lain kondisi kesehatan dirinya, hasil diagnosa, resep obat atau langkah pengobatan yang perlu diambil, hingga keuangan yang perlu dikeluarkan untuk membayar jasa perawatan kesehatan.
4) Bagian Keuangan
Bagian keuangan berkepentingan dalam pengelolaan keuangan dalam organisasi kesehatan. Dalam pelayanan kesehatan transaksi yang ada tidak hanya berupa transaksi tunai atau perbankan, tetapi juga transaksi di mana digunakan asuransi atau tunjangan kesehatan. Pendataan yang berkaitan dengan dana ini harus dilakukan untuk mencegah kebangkrutan dari organisasi.
5) CEO
Chief Executive Officer (CEO) adalah pimpinan eksekutif dalam suatu organisasi kesehatan. CEO bertanggung jawab terhadap segala hal yang ada dalam organisasi mulai dari tingkat strategis hingga tingkat operasional. Adapun informasi yang diperlukan oleh CEO hanya informasi di tingkat strategis yang sejatinya dihasilkan dari sintesis informasi di tingkat-tingkat bawahnya.
6) CIO
Chief Information Officer (CIO) adalah pimpinan yang bertanggung jawab terhadap informasi-informasi yang ada dalam organisasi kesehatan. Kepentingan dari CIO adalah memastikan setiap stakeholder mendapatkan informasi yang sesuai dengan perannya dan dalam format yang sesuai dengan bidangnya.
7) Tenaga TI
Tenaga TI adalah pihak yang bertanggung jawab terhadap TI yang digunakan dalam SIK. TI berkaitan dengan infrastruktur, arsitektur, hingga desain dari TI SIK yadng ada.
8) Pembuat Kebijakan
Pembuat kebijakan adalah pihak eksternal organisasi yang memiliki kepentingan untuk memastikan operasi dari organisasi-organisasi kesehatan beroperasi sesuai prosedur dan hukum yang berlaku. Pembuat kebijakan juga wajib melindungi masyarakat dalam mendapatkan haknya untuk memperoleh pelayanan terbaik dan transparansi dari pemberi layanan.
B. Solusi Isu Etika Pada SIK
1. Isu Transparansi
telah dijabarkan sebelumnya, tiap stakeholder memiliki peran dan tugasnya masing-masing. Jika kita gunakan teori etika berbasis tugas, maka transparansi mekanisme yang ada dalam SIK harus disesuaikan dengan tugas dan peran masing-masing stakeholder. Tiap stakeholder harus diberi sosialisasi mengenai mekanisme kerja SIK yang berkaitan dengan peran mereka.
2. Isu Standardisasi
Standardisasi di sini berkaitan dengan format penyajian dan penangkapan informasi. Tentu akan sulit untuk membuat sebuah format yang dapat memuaskan beberapa organisasi kesehatan sekaligus, apalagi jika cakupannya satu negara. Pada kasus ini, kita dapat menggunakan teori etika berbasis karakter.
Tiap stakeholder terkait harus memiliki kemauan untuk beradaptasi. Hal ini tidak berarti bahwa SIK tidak perlu menyajikan data dengan format yang sesuai dengan kebutuhan tiap stakeholder. SIK tetap harus memerhatikan kebutuhan stakeholder, adapun upaya adaptasi dari tiap stakeholder bertujuan untuk menutupi kenyataan bahwa SIK tidak dapat memenuhi kebutuhan stakeholder 100%.
3. Isu Etika Kerja
Dalam dunia kesehatan, hubungan antar tenaga medis memiliki pola dan etikanya masing-masing. Selain itu, tiap organisasi kesehatan juga memiliki proses bisnis masing-masing. SIK harus mampu memberikan kemudahan-kemudahan yang sesuai dengan proses bisnis yang ada serta etika yang berlaku di kalangan tenaga medis.
4. Isu Privasi
Isu ini paling berkaitan dengan informasi kesehatan dari pasien. Pada metode konvensional, informasi terjaga lebih baik karena informasi tersimpan secara fisik di organisasi kesehatan. Dengan cara ini akses terhadap informasi lebih mudah dikendalikan karena kontrol dilakukan secara fisik. Sebagai contoh, ruangan yang berisi dokumen-dokumen riwayat kesehatan pasien dijaga oleh satpam dan hanya orang-orang tertentu yang boleh masuk.
Dengan menggunakan SIK, informasi tersimpan di basis data, yang mana-seperti halnya informasi-informasi lain yang tersimpan di basis data-kontrol terhadap informasi tersebut dilakukan secara virtual. Penyimpanan informasi dengan metode ini tentu menawarkan kemudahan dalam pengaksesan. Informasi dapat dengan mudah dibagi-bagi di kalangan tenaga
medis, baik untuk kepentingan penelitian atau untuk memberikan penanganan yang lebih baik.
Dengan menggunakan teori etika berbasis kontrak, kita dapat merumuskan solusi berupa otorisasi informasi oleh pemilik informasi. Dalam hal ini, pemilik informasi kesehatan adalah pasien sendiri. Pasien dapat menentukan apakah informasi kesehatan yang telah diambil dapat dibagikan atau tidak. Jika dapat dibagikan, siapa saja yang berhak mendapatkannya. Pasien tentu bersedia membagi informasinya jika untuk kebaikannya sendiri. Hal ini sesuai dengan teori etika berbasis konsekuensi.
5. Isu Terkait Kekayaan Intelektual
Isu berkaitan dengan para tenaga TI, baik mereka yang berperan sebagai pengembang ataupun yang bergerak di bagian perawatan. Saat ini, sudah banyak software yang dapat digunakan kembali. Penerapan SIK pada sistem mereka harus memerhatikan aspek hak cipta dan kekayaan intelektual. Jika memang perlu menggunakan sumber dari luar sistem, tenaga IT harus mengkomunikasikannya dengan CIO.
6. Isu Tentang Kewajiban
Dengan SIK, tenaga medis dapat melakukan penanganan medis berdasarkan informasi-informasi yang ada. Sebagai contoh, seorang dokter dapat memberikan penanganan yang lebih baik pada pasien penderita kanker dengan melihat laporan-laporan penanganan dari dokter-dokter lain yang pernah menangani kasus serupa. Dari gambaran tersebut, kita dapat melihat bahwa kebenaran dari informasi yang disediakan menjadi hal yang krusial. Oleh karena itu, penyedia informasi (pada contoh sebelumnya adalah dokter yang membuat laporan
penanganan) wajib memberikan informasi yang sebenar-benarnya dan dapat dituntut jika memberikan informasi yang salah.
7. Isu Terkait Keadilan Alokasi
Layanan kesehatan pada dasarnya sama dengan bisnis lain secara umum. Penyedia memberikan layanan pada konsumen dan dibayar berdasarkan layanan ataupun hasil dari layanannya tersebut. Namun, layanan kesehatan juga tidak dapat lepas dari kaitan yang erat dengan kemanusiaan. Oleh karenanya, alokasi terhadap layanan ini dirasa perlu didistribusikan secara adil kepada masyarakata.
daya baik manusia maupun finansial. Akibatnya, harus ada pihak yang mampu menyediakan sumber daya ini. Di sinilah pembuat kebijakan seharusnya mengambil peran.
SIK dapat mempermudah kinerja tenaga medis, memberikan layanan yang lebih baik bagi pasien, dan memberikan kontribusi terhadap penilitian. Dengan manfaat-manfaat tersebut, pembuat kebijakan sebagai wakil masyarakat sebaiknya dapat membantu pada kedua pihak (masyarakat dan organisasi kesehatan). Pembuat kebijakan harus bisa menjadikan SIK ini sebagai layanan kesehatan yang tersedia bagi semua orang dengan cara membantu organisasi-organisasi kesehatan dalam hal sumber daya yang dibutuhkan untuk menerapkan SIK.
8. Isu Keaksaraan
Isu ini berkaitan dengan masyarakat khususnya pasien. SIK tidak boleh berhenti hanya pada pemberian informasi. SIK juga harus mampu menyajikan informasi yang dapat dipahami oleh pasien.
V. KESIMPULAN
SIK sebagai bentuk penerapan TI dalam bidang kesehatan memiliki isu-isu etika yang perlu ditanggulangi. Adapun
penanggulangan terhadap isu-isu tersebut dapat dilakukan dengan mempertimbangkan kepentingan-kepentingan stakeholder dan menggunakan kerangkat berpikir berupa teori etika.
REFERENCES
[1] Durwin, Michael. 2011. Global V US Statistics: Mobile, Social Network, PC, Ownership. http://www.mdurwin.com/2011/03/global-v-us-statistics-mobile-social-network-pc-ownership/ (diakses tanggal 16 Desember 2014)
[2] Anonymous. 2014. Smartphone Users Worldwide Will Total 1.75 Billion in 2014. http://www.emarketer.com/Article/Smartphone-Users-Worldwide-Will-Total-175-Billion-2014/1010536 (diakses tanggal 16 Desember 2014)
[3] http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/ethics (diakses tanggal 16 Desember 2014)
[4] Tavani, Herman T. 2013. Ethics and Technology: Controversies, Questions, and Strategies for Ethical Computing. Hoboken: WILEY. [5] http://phinnetwork.org/Resources/HIS.aspx (diakses tanggal 16
Desember 2014)
[6] http://www.cpc.unc.edu/measure/our-work/health-information-systems (diakses tanggal 16 Desember 2014)
[7] Almunawar, Mohd Nabil. and Anshari, Muhammad. 2012. Health Information Systems (HIS): Concept and Technology. Brunei Darussalam.
[8] Anonymous. 2008. Draft Health Information System. World Health Organization.