• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ekonomi Indonesia Kekinian pada industri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Ekonomi Indonesia Kekinian pada industri"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

Seminar Nasional

BEM KMFE Universitas

N

egeri

S

emarang

Semarang, 29 Nopember

2007

Ol

eh

:

(2)

1

AMAN DAN DAMAI

ADIL DAN DEMOKRATIS

LEBIH SEJAHTERA

Janji Politik Presiden dan Wakil Presiden

pada Kampanye Pemilihan Presiden Langsung 2004

Buku

“Membangun Indonesia yang Aman, Adil, dan Sejahtera. Visi, Misi, dan Program”.

Susilo Bambang Yudhoyono, M. Yusuf Kalla.

INDONESIA

Kabinet

Indonesia Bersatu

1

2

(3)

2

Arah Kebijakan

Kabinet

Indonesia Bersatu

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tanggal 17 Nopember 2004,

“Triple Strategy”

bidang ekonomi :

Pertumbuhan 6,6 persen per tahun,

Menggerakkan kembali sektor riil,

Revitalisasi pertanian dan perekonomian pedesaan.

Menko Perekonomian, tanggal 15 Oktober 2004,

“Kekuatan ekonomi lokal sebagai pilar ekonomi nasional”

Pertanian sebagai prioritas pertama,

Penetapan strategi industri yang tepat,

Pembangunan ekonomi domestik : pasar, pelaku usaha,

produksi, pembiayaan,

Pembangunan infrastruktur,

Kebijakan bidang energi.

(4)

3

Pola Pemikiran

Kondisi

Ekonomi

Masalah

dan

Tantangan

Pertumbuhan

Investasi

Pengentasan

Kemiskinan

Pembangunan

Infrastruktur

Pengembangan

Pertanian

Pembangunan

Sosial

Lainnya

Kebijakan Pemerintah

Kabinet

(5)

4

Tingkat pengganguran menurun dari

9.7% di tahun 2004 menjadi 5.1% di tahun 2009

Jumlah penduduk miskin menurun dari

16.6% di tahun 2004 menjadi 8.2% di tahun 2009

Untuk mencapai target tersebut diperlukan

percepatan pertumbuhan ekonomi

dari 5% di tahun 2004 menjadi 7.6% di tahun 2009

atau rata-rata pertumbuhan sebesar

6.6% pertahun

Sasaran laju pertumbuhan diatas

hanya akan tercapai jika rasio investasi terhadap GDP

dapat meningkat dari

20.5% di tahun 2004 menjadi 28.4% di tahun 2009

Target Pencapaian Ekonomi (Makro)

2005-2009

Kabinet

(6)

5

Pembangunan Indonesia 1945 - 2005

Orde Kemerdekaan 1945 – 1955 :

Naik

Orde Lama

1956 – 1966 :

Turun

Orde Baru

1967 – 1997 :

Naik

Orde Reformasi (1) 1998 – 2002 :

Turun

(7)

6

Negara berfungsi baik

Negara disfungsi

Modal sosial bridging

Rendah

Tinggi

Orde Baru II (1982-1998)

Transisi I (1998-2001)

Transisi II (2001-2004)

Orde Baru I (1968-1982)

Substitusi

Komplementer

Sejahtera sosial

- ekonomi

Eksklusif –

konflik laten

Konflik

Terkendali

Siklus Historis Indonesia?

(8)

7

Siklus Harga Minyak Dunia

Major Events and Real World Oil Prices, 1970-2005

(Prices adjusted by CPI for all Urban Consumers, 2005)

$-1970

1972

1974

1976

1978

1980

1982

1984

1986

1988

1990

1992

1994

1996

1998

2000

2002

2004

Con

Iranian

Revolution;

Shah Deposed

Iran-Iraq War Begins;

oil prices peak

Saudis abandon "swing

producer" role; oil prices

collapse

Iraq Invades

Kuwait

Gulf War

Asian economic crisis;

oil oversupply; prices

fall sharply

Prices rise sharply

on OPEC

cutbacks,

Prices fall sharply on

9/11 attacks;

economic weakness

Prices spike on Iraq war, rapid

demand increases,

constrained OPEC capacity,

low inventories, etc.

Saudi Light

Imported RAC

(9)

8

Konstelasi politik pasca reformasi

, yang menempatkan

perekonomian di tengah-tengah kehidupan politik yang

serba pluralis dan demokratis

Desentralisasi

, yang telah “diputuskan” sebagai pendekatan

pembangunan dan telah mengubah struktur ekonomi serta

pemangku kepentingan pembangunan ekonomi itu sendiri

Konstelasi jaring perekonomian global

, dimulai

sejak akhir 1980an ketika Indonesia telah “sadar tidak sadar”,

“mau tidak mau”, “siap tidak siap” masuk dalam proses

globalisasi dan regionalisasi yang telah membuat perekonomian

dunia semakin terintegrasi

Perubahan Mendasar Sejak Periode Pemulihan akibat Krisis

1

2

(10)

9

Score of Freedom Status

0

1980 1985-86 1990-91 1995-96 2000-01 2005 2006 2007*

0

1980 1985-86 1990-91 1995-96 2000-01 2005 2006 2007*

Indo

Phili

ppin

es

Indonesia

Japan

Malaysia

Philippines

Thailand

1980

1985-86

1990-91

1995-96

2000-01

2005

2006

2007*

Note:

1 = most free, 7 = least free

Source:

Freedom House (http://www.freedomhouse.org)

Political Rights

Civil Liberties

Free

It belongs to freedom.

It belongs to freedom.

(11)
(12)

11

Corruption Perceptions Index di Beberapa Negara Asia

Year

Bangladesh

Indonesia

Pakistan

Philippines

India

Thailand

China

Malaysia

1997

46/52

48/52

40/52

45/52

39/52

41/52

32/52

1998

80/85

71/85

55/85

66/85

61/85

52/85

29/85

1999

96/99

87/99

54/99

72/99

68/99

58/99

32/99

2000

85/90

69/90

69/90

60/90

63/90

36/90

2001

91/91

88/91

79/91

65/91

71/91

61/91

57/91

36/91

2002

102/102

96/102

77/102

77/102

71/102

64/102

59/102

33/102

2003

133/133

122/133

92/133

92/133

83/133

70/133

66/133

37/133

2006

156/163

130/163

142/163

121/163

70/163

63/163

70/163

44/163

2004

145/146

137/146

132/146

104/146

90/146

66/146

71/146

39/146

2005

158/159

140/159

146/159

124/159

92/159

60/159

78/159

39/159

2007

162/179

144/179

140/179

136/179

74/179

93/179

73/179

43/179

(13)

12

The cost of corruption is poverty,

The cost of corruption is poverty,

human suffering and under development.

human suffering and under development.

Everyone pays.

Everyone pays.

BBC London

BBC London

(14)

13

Sumber : BPS, berbagai tahun

54.2

38.4 37.4

36.1 35.5

39.3

17.4 16.6 16.7 17.7 16.6

0

1976

1980

1984

1987

1990

1993

1996

1996

1999

2002

2003

2004

2005

2006 2007*

jumlah orang miskin (juta)

persentase penduduk miskin (%)

Beware...

(15)

14

STABILITY EFFICIENCY

GROWTH

FREEDOM

SOCIAL

ORDER

EQUITY

JUSTI CE

PROSPERI TY

ƒ

Certainty

ƒ

Credibility of government policies

Tunnel effect

(16)

15

Politics

¾

¾

Expansion of freedom

Expansion of freedom

¾

¾

Improve rules of the game

Improve rules of the game

¾

¾

Political stabilizing

Political stabilizing

¾

¾

Political legitimizing

Political legitimizing

Economics

¾

¾

Market creating

Market creating

¾

¾

Market regulating

Market regulating

¾

¾

Market stabilizing

Market stabilizing

¾

¾

Market legitimizing

Market legitimizing

(17)

16

Creating the

future rather than

investing in

the past

Vision matters

Vision matters

more than ever,

more than ever,

the ability to go

the ability to go

beyond the data

beyond the data

H O P E

Effective Government

Credible and Capable Team (Shadow Cabinet)

Medium and Long Term Program

First 100-Day Program (

already past

)

Apa yang Harus Ditawarkan?

(18)

17

Pemilihan Kepala Daerah Langsung disertai kematangan

hubungan eksekutif dan legislatif

Akuntabilitas eksekutif dan legislatif terhadap pemilih

lokal

Klarifikasi posisi pemerintah propinsi dan gubernur

Evaluasi proses pemekaran daerah

Independensi fungsi kejaksaan, kepolisian, dan peradilan

(19)

18

Kejelasan pembagian kewenangan pusat dan daerah

Problem koordinasi di tingkat pusat, terutama antara

departemen teknis

Kebijakan dan administrasi PNS

Desentralisasi vs Dekonsentrasi

Mekanisme evaluasi perda, keterlibatan pemerintah

propinsi

Penerapan standar pelayanan minimum

(20)

19

DAU yang lebih menjamin keadilan dan keseimbangan

fiskal antar daerah

DAK yang lebih berperan, DIP yang berkurang

peranannya

Penguatan peranan pajak lokal dengan peralihan dari

sistim bagi hasil menuju sistim “opsen” (piggy-back)

Pencairan dana bagi hasil sumber daya alam yang lebih

menjamin kepastian arus kas daerah penerima

(21)

20

Orientasi pada pertumbuhan ekonomi, perbaikan

pendapatan masyarakat, dan penciptaan lapangan kerja

Penciptaan iklim investasi lokal yang kondusif dan

membuat kebijakan pemberian insentif

Azas kepemilikan vs azas manfaat (isu BUMD)

Menciptakan pola pertumbuhan lokal yang berbeda

dengan nasional

(22)

21

-5

10

15

20

25

30

Agriculture,

Livestock, Forestry

& Fishery

Mining & Quarrying

Manufacturing

Industry

Electricity, Gas &

Water Supply

Construction

Trade, Hotel &

Restaurant

Transport &

Communication

Finance, Real Estate

& Business Services

Services

downward

downward

Slightl

y

Slightl

y

increase

increase

Remain steady

Remain steady

Kontribusi

S

ektor

(23)

22

Chenery – Syrquin Grow th Pattern

(

idealized structural change

)

Services

I ndustrial

Agriculture

• Pre-Industrial

• Industrializing

• Post-Industrial

GDP/Y

Sebuah studi dari Chenery-Syrquin memperlihatkan pola perubahan struktural PDB

yang terjadi ketika tingkat pendapatan per kapita mengalami peningkatan. Pola ini

khas berlaku bagi perekonomian yang mengadopsi alternatif strategi industrialisasi

bagi pembangunan jangka panjangnya

• Early

Indust’ing

• Newly

Industrialized

Economies

(24)

23

Tahun

Usaha Kecil

Usaha Menengah

Usaha Besar

Total

1997

39.704.661 (99,84)

60.449 (0,15)

2.097 (0,005)

39.767.207

1998

36.761.689 (99,85)

51.889 (0,14)

1.831 (0,004)

36.815.409

1999

37.859.509 (99,86)

52.214 (0,14)

1.885 (0,005)

37.913.608

2000

38.669.355 (99,86)

54.632 (0,14)

1.973 (0,005)

38.725.960

2001

38.853.741 (99,86)

51.227 (0,13)

1.806 (0,005)

38.906.774

2002

40.820.966 (99,84)

60.618 (0,15)

3.623 (0,009)

40.885.207

2003

42.331.474 (99,84)

63.546 (0,15)

3.894 (0,009)

42.398.914

2004

43.641.094 (99,84)

66.318 (0,15)

4.068 (0,009)

43.711.480

2005

44.621.823 (99,84)

67.765 (0,15)

4.171 (0,009)

44.693.759

Sumber : Menegkop dan UKM (2005); Sirait (2006).

Keterangan : ( ) menyatakan persen terhadap total

(25)

24

42.84%

42.94%

44.04%

45.78%

3.23%

Employment

GDP

Employment

GDP

Employment

GDP

Employment

GDP

2002

2003

2004

2005

C

Small

Medium

Big

Source: Ministry of Cooperation and SMEs (CBS, 2005), calculated

(26)

25

Ekonomi dualistik Herman Boeke dan Arthur Lewis: Sistem

paternalistik (quasi-feodal) berdampingan dengan sistem

tenaga kerja upah (wage employment);

Sektor industri (modern) berbasis profit maximization, sektor

pertanian (tradisional) berdasar norma/konvensi bukan prinsip

ekonomi -- produksi dan biaya marjinal;

Terdapat asimetri produksi (modal tidak digunakan penuh) dan

asimetri organisasi (upah tidak berada pada tingkat

keseimbangan) karena

labor surplus

di sektor pertanian dan

produksi marjinal hampir nol.

(27)

26

Awal 1980an, prinsip ekonomi dualistik (dalam konteks pertanian)

diterapkan dan dimodifikasi menjadi pola perkebunan inti-rakyat

(PIR) dan beberapa turunannya TRI, TIR, PPR, dsb.

Fokus kebijakan: membereskan problema asimteri. Pihak inti

(modern) membina plasma (tradisional), bantuan teknis, akses

permodalan dan keuangan; plasma menyediakan tenaga kerja

bagi aktivitas inti.

Sistem administrasi liner dan komando ala Presiden Soeharto

cukup meyakinkan untuk melaksanakan ketentuan kebijakan yang

ketat tersebut.

(28)

27

Hasil yang dicapai awalnya (1990an) cukup bagus:

sektor perkebunan tumbuh 6%, perikanan 5,8%,

perternakan 5,4%, tanaman pangan 3,3%.

Sampai kemudian, fenomena asimetri semakin parah,

struktur pasar semakin timpang, power dan privilege

pihak inti sangat besar (

price determinator

) dan justru

dipergunakan untuk menekan plasma (

price taker

)

Mengapa ekonomi dualistik ini menjadi salah satu

strategi industrialisasi andalan, tentu saja menjadi

agenda penelitian ekonomi yang sangat menarik.

(29)

28

Jenis produk dan komoditi berdaya saing tinggi

terbatas

Ini terlihat di semua pasar utama

Di bidang manufaktur: bandingkan sektor tekstil

dan produk tekstil (TPT), alas kaki, dan mesin

(termasuk mesin listrik) sebagai “produk

unggulan”

(30)

29

Sumber: UN COMTRADE, diolah

-0.8

-0.0004 -0.0003 -0.0002 -0.0001 0 0.0001 0.0002

Competitiveness Index (World)

M

Fats, Oils, Waxes Of Animal/Vegetable, 13.69%

Plastics And Rubber And Articles Thereof, 1.17%

Machinery And Mechanical Appliances, Electrical Equipment, Etc, 0.47% Live Animals;

Animal Products, 1.29% Products Of The Chemical Or Allied Industries, 0.45%

Base Metals And Articles Of Base Metal, 0.54%

Foodstuffs, Beverage, Spirits And Tobacco, 0.88%

Pulp, Paper And Articles Thereof, 1.74% Mineral Products, 2.15%

Other, 0.34%

Textiles And Textile Articles, 1.77%

Wood And Articles Of Wood, 4.27%

Footw ear, Umbrellas, Artificial Flow ers, Etc, 2.52%

Vegetable Products, 0.60%

Raw Hides And Skins, Leather And Articles Thereof, 0.53%

Uncompetitive Competitive

Hi

(31)

30

-0.0004 -0.0003 -0.0002 -0.0001 0 0.0001 0.0002

Competitiveness Index (World)

M

Fats, Oils, Waxes Of Animal/Vegetable, 8.49%

Machinery And Mech. App., Electrical Equip., Etc, 0.28% Plastics And Rubber And Articles Thereof, 0.38% Base Metals And

Articles Of Base Metal, 0.12%

Foodstuffs, Beverage, Spirits And Tobacco, 0.37% Products Of The Chemical Or

Allied Industries, 0.10% Live Animals; Animal Products, 0.36%

Raw Hides And Skins, Leather And Articles Thereof, 0.58% Mineral Products, 0.29%

Other, 0.25%

Pulp, Paper And Articles Thereof, 0.37%

Vegetable Products, 0.35% Footw ear, Umbrellas, Artificial Flow ers, Etc, 2.61%

Wood And Articles Of Wood, 2.57% Textiles And Textile Articles, 1.46%

Uncompetitive Competitive

H

Di Pasar Uni Eropa

(32)

31

-0.0004 -0.0003 -0.0002 -0.0001 0 0.0001 0.0002

Competitiveness Index (World)

M

Live Animals; Animal Products, 2.86%

Foodstuffs, Beverage, Spirits And Tobacco, 0.38%

Base Metals And Articles Of Base Meta, 1.33%l

Plastics And Rubber And Articles Thereof, 0.59% Raw Hides And Skins, Leather And Articles Thereof, 2.72%

Vegetable Products, 0.14%

Other, 3.04%

Wood And Articles Of Wood, 1.79%

Pulp, Paper And Articles Thereof, 0.35%

Textiles And Textile Articles, 2.96%

Footw ear, Umbrellas, Artificial Flow ers, Etc, 2.38% Mineral Products, 0.50%

Products Of The Chemical Or Allied Industries, 1.94%

Fats, Oils, Waxes Of Animal/Vegetable, 0.25%

Machinery And Mechanical Appliances, Electrical Equipment, Etc, 1.05%

Uncompetitive Competitive

H

Di Pasar Amerika Serikat

(33)

32

-0.0004 -0.0003 -0.0002 -0.0001 0 0.0001 0.0002

Competitiveness Index (World)

M

Live Animals; Animal Products,2.40%

Fats, Oils, Waxes Of Animal/Vegetable, 1.83%

Plastics And Rubber And Articles Thereof, 0.79%

Pulp, Paper And Articles Thereof, 6.33%

Foodstuffs, Beverage, Spirits And Tobacco, 0.64%

Products Of The Chemical Or Allied Industries, 11.77% Machinery And Mechanical Appliances, Electrical Equipment, Etc, 0.44

Base Metals And Articles Of Base Metal, 0.78% Vegetable Products, 1.81%

Footw ear, Umbrellas, Artificial Flow ers, Etc, 18.12%

Mineral Products, 8.77%

Wood And Articles Of Wood, 2.52%

Textiles And Textile Articles, 2.75%

Other, 1.86%

Raw Hides And Skins, Leather And Articles Thereof, 2.91%

Uncompetitive Competitive

Hi

Di Pasar Asia Timur (termasuk Jepang)

(34)

33

Peta

Perdagangan

(35)

34

WTO

¾

Tariffication

(Merubah Tataniaga Impor Menjadi Bea Masuk)

¾

Tariff Reduction

(Menurunkan bea masuk secara bertahap)

APEC

¾

¾

Penghapusan Bea Masuk pada tahun 2010 (negara maju)

Penghapusan BM pada tahun 2020 (negara berkembang)

AFTA

¾

Bea Masuk = 0-5% pada tahun 2003

ASEAN-China

¾

Penghapusan BM pada tahun 2010

ASEAN-India

¾

Dalam Proses Negosiasi

ASEAN-Korea

¾

Dalam Pembahasan

ASEAN-Jepang

¾

Dalam Pembahasan

ASEAN-Canada

¾

Dalam Pembahasan

(36)

35

Agenda Membuat Indonesia Lebih Sejahtera

“Sustainabilitas Ekonomi” melalui

pemberantasan kemiskinan dengan full

employment income generating growth

“Sustainabilitas Sosial” melalui

pengembangan kualitas sumber daya

manusia / masyarakat dengan kohesi sosial

(37)

36

EKONOMI

SOSIAL

LINGKUNGAN

Ekonomi

Berantas

Kemiskinan dengan

“full employment

income generating

growth”

Dampak

pembangunan

ekonomi pada

sustainabilitas sosial

Dampak

pembangunan

ekonomi pada

sustainabilitas

lingkungan.

Sosial

Dampak

pembangunan

sosial pada

ekonomi

Pembangunan

kualitas sumber daya

manusia/masyarakat

dengan kohesi sosial

Dampak

pembangunan

sosial pada

lingkungan.

Lingkungan

Dampak

pembangunan

lingkungan pada

sustainabilitas

ekonomi

Dampak

pembangunan

lingkungan pada

sustainabilitas sosial

Melestarikan

Ekosistem

penopang

kehidupan

(38)

37

Strategi industrialisasi apa pun yang diadopsi, perlu lebih

kompatibel dengan perubahan lingkungan internal dan eksternal

yang demikian cepat;

Peningkatan kapasitas mikro – pencarian pasar-pasar baru,

fungsi intelijen pasar, strategi pemasaran dll – serta dukungan

kebijakan makro – stabilisasi makro, manajemen suku bunga,

diplomasi ekonomi dll.

Prinsip

good governance perlu dianggap sebagai

fixed variable

yang wajib hadir untuk meningkatkan rasa percaya diri

masyarakat dan seluruh

stakeholders.

(39)

38

TERIMA KASIH

FE

PEREKONOM

IA

Referensi

Dokumen terkait

Fenomena pekerja anak dan anak jalanan di Indonesia pada dasarnya merupakan dampak negatif yang ditimbulkan dari pembangunan ekonomi yang tidak merata.

4.2.2 Analisis Dampak Pembangunan Infrastruktur Bidang Cipta Karya Terhadap Ekonomi Lokal Masyarakat Kota Balikpapan. Pada dasarnya kegiatan pembangunan infrastruktur Bidang Cipta

Untuk mencapai pembangunan ekonomi yang berkelanjutan sehingga dapat mengatasi MIT (Middle Income Trap), maka pertumbuhan, pemerataan dan stabilitas ekonomi harus tumbuh seiring

Sasaran yang dicapai oleh provinsi Sumatera Selatan terdapat pada point (1-4) yaitu:.. 1) membaiknya berbagai indikator pembangunan, yaitu pertumbuhan ekonomi, kemiskinan,

Oleh karena itu diperlukan suatu kajian analisis dalam penelitian ini meliputi dampak pembangunan industri, serta keterkaitannya dengan perubahan aspek sosial

3.Persoalan Dasar Ekonomi dalam Pembangunan : Kemiskinan, ketimpangan distribusi pendapatan, kesempatan kerja,6. pengangguran dan inflasi (Teori

Keywords: Poverty, Foreign Debt, Economic Growth Abstrak Penelitian ini akan menguji hubungan kausal antara variabel, Indeks Pembangunan Manusia IPM, utang luar negeri, Kemiskinan,

Penelitian ini mengkaji dampak perkembangan sistem ekonomi pada masa Orde Baru terhadap sektor perekonomian