• Tidak ada hasil yang ditemukan

DOCRPIJM_d49271aef4_BAB IVBAB 4 ANALISIS SOSIAL, EKONOMI, DAN LINGKUNGAN.pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "DOCRPIJM_d49271aef4_BAB IVBAB 4 ANALISIS SOSIAL, EKONOMI, DAN LINGKUNGAN.pdf"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis Sosial, Ekonomi,

dan

(2)

4.1

ANALISIS SOSIAL KOTA BALIKPAPAN

4.1.1 Pengarusutamaan Gender di Kota Balikpapan

Pengarusutamaan Gender (PUG) adalah sebuah strategi nasional dituangkan dalam

Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Pengarusutamaan

Gender

(PUG). Instruksi Presiden ini telah menjadi landasan dalam pencapaian kesetaraan dan

keadilan gender. Sayangnya implementasi atas Instruksi Presiden tersebut belum

menunjukan perkembangan yang menggembirakan.

Pelaksanaan Strategi Pengarusutamaan Gender (PUG) di daerah merupakan bentuk

implementasi Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2008. Karenanya, setiap

daerah baik provinsi maupun kabupaten dan kota wajib menyusun kebijakan dan

program pembangunan berspektif gender.

Sesuai dengan Permendagri, maka seluruh pemerintah daerah berkewajiban menyusun

kebijakan dan kegiatan pembangunan berspektif gender yang dituangkan dalam rencana

pembangunan jangka menengah daerah, Renstra Satuan Kerja Perangkat Daerah dan

Rencana Kerja SKPD.

Pengarusutamaan Gender (PUG) merupakan sinergi yang dibangun untuk

mengintegrasikan gender menjadi satu dimensi integral dari perencanaan, penyusunan,

pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi atas kebijakan dan program pembangunan

Nasional.

Gender merupakan konsep yang mengacu pada peran dan tanggung jawab laki-laki dan

perempuan yang terjadi akibat dan dapat berubah oleh keadaan sosial serta budaya

masyarakat. Focal Point PUG yakni aparatur SKPD yang mempunyai kemampuan untuk

melakukan pengarusutamaan gender di unit kerjanya masing-masing.

Sasaran pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak adalah

meningkatnya kualitas kehidupan dan peran perempuan serta kesejahteraan dan

perlindungan anak dengan menurunnya kesenjangan serta pencapaian pembangunan

antara laki-laki dan perempuan.

Penurunan kesenjangan dan pencapaian pembangunan diukur dari gender development

indeks (GDI) dan gender empowerement measurement (GEM) serta menurunnya tindak

kekerasan terhadap perempuan. Untuk mendukung program tersebut diwujudkanlah

pemerintahan dan pembangunan yang diarahkan pada prespektif gender

dengan memberikan kesempatan yang sama pada laki-laki dan perempuan dalam

pembangunan pemerintahan, termasuk memberikan perlindungan kepada perempuan

(3)

4.1.2 Identifikasi Kebutuhan Penanganan Sosial Pasca Pelaksanaan Pembangunan Bidang Cipta Karya di Kota Balikpapan

Perlindungan pada Bidang Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum memiliki program

dan kegiatan yang bertujuan untuk mencapai kondisi masyarakat hidup sehat dan

sejahtera dalam lingkungan yang bebas dari pencemaran air limbah permukiman. Air

limbah yang dimaksud adalah air limbah permukiman (municipial wastewater) yang

terdiri dari atas air limbah domestik (rumah tangga) yang berasal dari air sisa mandi,

cuci, dapur dan tinja manusia dari lingkungan permukiman serta air limbah industri

rumah tangga yang tidak mengandung Bahan Beracun dan Berbahaya (B3). Air limbah

permukiman ini perlu dikelola agar tidak menimbulkan dampak seperti mencemari air

permukaan dan air tanah, disamping sangat beresiko menimbulkan penyakit seperti

diare, thypus, kolera dan lain-lain.

Terkait dengan perkembangan penduduk di Kota Balikpapan khususnya penduduk

pendatang (migran), maka hal ini menjadi dasar pertimbangan dalam pengembangan

permukiman dan perumahan. Secara umum pengembangan permukiman baik di

perkotaan maupun di perdesaan pada hakekatnya adalah mewujudkan kondisi perkotaan

dan perdesaan yang layak huni (liveable), aman, nyaman, damai dan sejahtera serta

berkelanjutan. Perkembangan permukiman hendaknya juga mempertimbangkan

aspek-aspek sosial budaya masyarakat setempat, agar pengembangannya dapat sesuai dengan

kondisi masyarakat dan alam lingkungannya. Aspek sosial budaya ini dapat meliputi

desain, pola, dan struktur, serta bahan material yang digunakan.

Ketersediaan perumahan dan permukiman serta keterjangkauan dari sarana prasarana

perumahan dan permukiman tersebut dalam pelayanan kepada masyarakat merupakan

permasalahan yang banyak dijumpai pada berbagai wilayah. Keterbatasan pendanaan

pemerintah pada banyak kasus menjadikan pelayanan perumahan dan permukiman

dibebankan kepada masyarakat.

Dampak sosial yang harus menjadi pertimbangan dalam pengembangan permukiman dan

perumahan adalah, kesiapan dari masyarakat akan kebijakan pengembangan perumahan

dan permukiman seperti rusunawa. Kesiapan masyarakat dalam beradaptasi dengan

kebijakan penyediaan perumahan dan permukiman dirasa masih belum sepenuhnya

dapat berjalan.

Dalam bidang Penataan bangunan dan lingkungan adalah serangkaian kegiatan yang

diperlukan sebagai bagian dari upaya pengendalian pemanfaatan ruang, terutama untuk

mewujudkan lingkungan binaan, baik di perkotaan maupun di perdesaan, khususnya

(4)

lingkungan adalah terwujudnya bangunan gedung dan lingkungan yang layak huni dan

berjati diri, sedangkan misinya adalah: (1) Memberdayakan masyarakat dalam

penyelenggaraan bangunan gedung yang tertib, layak huni, berjati diri, serasi dan

selaras, dan (2) Memberdayakan masyarakat agar mandiri dalam penataan lingkungan

yang produktif dan berkelanjutan.

KebijakanSub Bidang Penataan Bangunan gedung dan lingkungan adalah mewujudkan pembangunan prasarana sarana dan prasarana berkualitas. Kebijakan terkait PBL adalah

Meningkatkan penataan kawasan konsisten sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah.

Bangunan-bangunan di wilayah Kota Balikpapan secara umum saat ini diarahkan kepada

penataan sesuai dengan fungsi kawasan yang telah direncanakan yaitu perdagangan dan

jasa, pemukiman, perkantoran dan pendidikan.

Tujuan dari penyusunan rencana pembangunan Sub Bidang Drainase adalah untuk memberikan suatu manual yang dapat memberikan arahan khususnya bagi Dinas PU &

Kimpraswil Kabupaten/Kota, dan bagi pihak lain yang berkepentingan dalam

pengelolaan/penataan system drainase. Sehingga pada akhirnya dapat diwujudkan suatu

sistem drainase yang terintegrasi dan dengan kualitas pelayanan yang memadai.

Sistem drainase tidak dapat berdiri sendiri dan selalu berhubungan dengan sektor

infrastruktur lainnya seperti pengembangan daerah, air limbah, perumahan dan tata

bangunan serta jalan kota. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Perencanaan sistem drainase harus mendukung skenario pengembangan dan

pembangunan wilayah, serta terpadu rencana pengembangan prasarana lainnya.

2. Perencanaan sistem drainase harus mempertimbangkan pengembangan infrastruktur

air limbah, karena faktanya menunjukkan bahwa saluran air limbah kebanyakan

masih bercampur dengan sistem pembuangan air hujan.

3. Perencanaan sistem drainase harus dikoordinasikan dengan rencana pengembangan

perumahan, terutama dalam kaitannya dengan perencanaan sistem jaringan dan

kapasitas prasarana.

4. Perencanaan drainase yang menjadi satu kesatuan dengan jaringan jalan harus

disinkronkan dengan sistem jaringan drainase yang sudah direncanakan oleh istitusi

atau lembaga pengelola jaringan drainase.

Secara pasti dapat dikatakan bahwa penyelesaian masalah drainase (banjir) di suatu

kawasan selain memfokuskan pada penyelesaian masalah kawan internal, juga tidak

terlepas dari penyelesaian masalah kawasan eksternal, terutama menyangkut

(5)

Sub Bidang Air Minum Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya bersama Dinas PDAM Kota Balikpapan mengembangkan program pembangunan penyediaan air bersih baik untuk

skala Kota Balikpapan, wilayah-wilayah Kelurahan terutama untuk Kelurahan yang

penduduknya miskin dan berada di kawasan yang sangat rawan air bersih. Program ini

dibarengi dengan penguatan sistem kelembagaan dan peningkatan kerjasama dengan

pihak swasta dalam berinvestasi guna mewujudkan MDG’s.

Air merupakan sumber daya alam yang memegang peranan penting di dalam kehidupan

umat manusia (makhluk hidup dimuka bumi). Sebagian besar air dimanfaatkan dalam

berbagai bidang kehidupan seperti pertanian, peternakan, perikanan, industri,

pariwisata dan sebagainya. Fungsi-fungsi strategis tersebut telah menempatkan air

sebagai sarana yang vital dalam kehidupan manusia. Namun demikian, kondisi saat ini

menunjukkan bahwa kualitas air di alam sudah jauh menurun. Air sudah tercemar

sedemikian oleh berbagai macam kontamin seperti logam berat, garam, pestisida,

herbisida, bakteri, virus, dan bahan-bahan beracun. Sumber airpun sudah banyak yang

rusak sehingga jumlah cadangan air yang layakpun semakin berkurang. Salah satu

kontaminan yang banyak dijumpai adalah tingginya kadar besi di dalam air baku.

Sub Bidang Persampahan pada Bidang Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum memiliki program dan kegiatan yang bertujuan untuk mencapai masyarakat hidup sehat

dan sejahtera dalam lingkungan yang bersih dari sampah. Dampak sosial yang menjadi

pertimbangan dalam pengembangan persampahan adalah masyarakat disekitar lokasi

pengembangan TPA Manggar umum sampah adalah masalah tanggung jawab bersama

yang harus dipikirkan dan perlu diselesaikan. Pertimbangan mendasar adalah sebagai

antisipasi pencemaran lingkungan akibat kurang kesadaran masyarakat akan lingkungan.

4.2

ANALISIS EKONOMI KOTA BALIKPAPAN

4.2.1 Kemiskinan di Kota Balikpapan

Wilayah-wilayah di Balikpapan yang termasuk kategori kurang mampu yaitu terdapat di

sekitar wilayah Klandasan,Kampung Baru, Pandansari, Sepinggan Lama,dan masih banyak lagi.

Tetapi masalah kemiskinan ini harus dapat ditanggulangi secara perlahan. Beberapa faktor

penyebab kemiskinan diantaranya adalah 1) Tidak adanya lapangan pekerjaan. 2) Rendahnya

pendidikan. 3) Percaya pada mitos bahwa banyak anak banyak rezeki. 4) Sikap malas yang

melekat di diri manusia sehingga tidak ingin adanya perubahan untuk maju. Tetapi permasalahan

itu dapat diatasi dengan cara 1) Pemerintah harus menyediakan lebih banyak lapangan

(6)

Bantuan pendidikan dan kursus gratis dari pemerintah kepada masyarakat yang kurang mampu agar

dapat melanjutkan sekolahnya tanpa harus bingung soal biaya.

4.2.2 Analisis Dampak Pembangunan Infrastruktur Bidang Cipta Karya Terhadap Ekonomi Lokal Masyarakat Kota Balikpapan

Pada dasarnya kegiatan pembangunan infrastruktur Bidang Cipta Karya pasti

mengakibatkan dampak terhadap lingkungan baik dampak positif maupun dampak

negatif.

Adapun dampak positif dan negatif yang sering kita temui dalam pembangunan

infrastruktur bidang cipta karya adalah:

a. Dampak Positif

1. Merangsang tumbuhnya aktivitas perekonomian

Manfaat langsung ini sudah langsung terasa ketika pertama kali infrastruktur bidang

cipta karya dibangun.

2. Pertumbuhan PDRB (Produk Domestic Regional Bruto) daerah

Pembangunan infrastruktur Bidang Cipta Karya akan memicu peningkatan jumlah

penduduk. Meningkatnya jumlah penduduk akan merangsang naiknya permintaan

barang dan jasa. Selanjutnya akan merangsang meningkatnya kegiatan

perekonomian, berkembangnya usaha di sektor pertanian, industri, perdagangan,

jasa dan meningkatnya arus barang masuk ke Kota Balikpapan.

3. Percepatan Penyediaan Infrastruktur

Sesuai fakta yaitu adanya peningkatan jumlah penduduk dengan dibangunnya

infrastruktur bidang cipta karya, maka akan diimbangi dengan penyediaan

infrastruktur lainnya khususnya di Kota Balikpapan dalam rangka memfasilitasi

kebutuhan penduduk.

b. Dampak Negatif

1. Dampak majunya suatu daerah akan berpengaruh pada Budaya lokal.

4.3

ANALISIS LINGKUNGAN KOTA BALIKPAPAN

4.3.1 Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS)

Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan

Lingkungan Hidup (UU No. 32/2009) yang menggantikan Undang-Undang Nomor 23

Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU No. 23/1997) ada pengertian

(7)

Lingkungan Hidup Strategis (KLHS). KLHS adalah rangkaian analisis yang sistematis,

menyeluruh, dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan

berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah

dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau program. Sedangkan Amdal adalah kajian

mengenai dampak penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada

lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang

penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.

KLHS melekat pada proses penyusunan dokumen perencanaan baik di pusat dan daerah,

yaitu pada RTRW dan rencana rincinya, RPJP, RPJM dan rencana rincinya, dan

kebijakan/rencana/program lainnya yang dinilai memiliki potensi dampak negative.

KLHS dan AMDAL merupakan instumen yang disyaratkan untuk menyusun RPPLH, dimana

RPPLH adalah perencanaan tertulis yang memuat potensi, masalah lingkungan hidup,

serta upaya perlindungan dan pengelolaannya dalam kurun waktu tertentu. RPPLH

disusun oleh pemerintah di tingkat nasional, pemerintah provinsi, dan pemerintah

kabupaten/kota.

4.3.2 AMDAL, UKL – UPL, dan SPPLH

Penilaian lingkungan (environment assessment) dan rencana mitigasi dampak sub

proyek, dirumuskan dalam bentuk:

1. Analisis mengenai Dampak lingkungan atau AMDAL (atau Analisis Dampak Lingkungan

– AMDAL dikombinasikan dengan Rencana Pengelolaan Lingkungan – RKL dan Rencana

Pemantauan Lingkungan – RPL)

2. Upaya pengelolaan lingkungan-UKL dan upaya pemantauan lingkungan-UPL ; atau

3. Standar Operasi Baku – SOP

4. Tergantung pada kategori dampak sub proyek yang dimaksud

AMDAL harus dilihat sebagai alat peningkatan kualitas lingkungan. Format AMDAL atau

UKL/UPL merupakan bagian tidak terpisahkan dari analisis teknis, ekonomi, sosial,

kelembagaan dan keuangan sub proyek

Sejauh mungkin, subproyek harus menghindari atau meminimalkan dampak negatif

terhadap lingkungan. Selaras dengan hal tersebut, sub proyek harus dirancang untuk

dapat memberikan dampak positif semaksimal mungkin. Sub proyek yang diperkirakan

dapat mengakibatkan dampak negatif yang besar terhadap lingkungan, dan dampak

tersebut tidak dapat ditanggulangi melalui rancangan dan kontruksi sedemikian rupa,

(8)

Usulan program investasi infrastruktur bidang PU/ Cipta Karya tidak dapat dipergunakan

mendukung kegiatan yang dapat mengakibatkan dampak negatif terhadap habitat

alamiah, warga terasing dan rentan, wilayah yang dilindungi, alur laut internasional

atau kawasan sengketa. Disamping itu dari usulan RPI2JM juga tidak membiayai

pembelian, produksi atau penggunaan.

1. Bahan-bahan yang merusak ozon, tembakau atau produk-produk tembakau

2. Asbes.

Bahan-bahan yang mengandung unsur asbes

3. Bahan/ material yang termasuk dalam kategori B3 (bahan beracun dan berbahaya).

Rencana investasi tidak membiayai kegiatan yang menggunakan, menghasilkan,

menyimpan atau mengangkut bahan/ material beracun, korosif atau eksplosif atau

bahan/ material yang termasuk dalam kategori B3 menurut hukum yang berlaku di

Indonesia

4. Pestisida, herbisida, dan insektisida.

RPI2JM tidak diperuntukkan membiayai kegiatan yang melakukan pengadaan

pestisida, herbisida atau insektisida

5. Pembangunan bendungan.

RPI2JM bidang infrastruktur PU/ Cipta Karya tidak membiayai pembangunan atau

rehabilitasi bendungan atau investasi yang mempunyai ketergantungan pada kinerja

bendungan yang telah ada ataupun yang sedang dibangun

6. Kekayaan budaya.

RPI2JM bidang infrastruktur PU/ Cipta Karya tidak membiayai kegiatan yang dapat

merusak atau menghancurkan kekayaan budaya baik berupa benda dan budaya

maupun lokasi yang dianggap sakral atau nilai spiritual

7. Penebangan kayu.

RPI2JM bidang infrastruktur PU/ Cipta Karya tidak membiayai kegiatan yang terkait

dengan kegiatan penebangan kayu atau pengadaan peralatan penebangan kayu.

4.4

ISU PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BIDANG CIPTA KARYA

KOTA BALIKPAPAN

Dalam mengidentifikasi analisis sosial, ekonomi dan lingkungan, dapat dimasukkan

beberapa hal yang berhubungan dengan isu pembangunan berkelanjutan di Kota

(9)

Tabel 4.1 Proses Identifikasi Isu Pembangunan Berkelanjutan Bidang Cipta

Karya di Kota Balikpapan

NO PENGELOMPOKAN ISU-ISU PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

BIDANG CIPTA KARYA PENJELASAN SINGKAT

(1) (2) (3)

5.1 Sosial

1. Pencemaran menyebabkan berkembangnya wabah penyakit

5.2 Ekonomi

1. Kemiskinan berkorelasi dengan kerusakan lingkungan

2. Perkembangan ekonomi lokal dari pembangunan infrastruktur permukiman

5.3 Lingkungan

1. Kecukupan air baku untuk air minum

2. Pencemaran lingkungan oleh infrastruktur yang tidak berfungsi maksimal

3. Dampak kumuh terhadap kualitas lingkungan

4. Dampak perubahan iklim terhadap kawasan permukiman dan upaya mitigasi dan adaptasi yang telah dilakukan Keterangan Pengisian :

(1) Nomor

(2), Pengelompokan isu pembangunan berkelanjutan (sosial, ekonomi dan lingkungan)

Gambar

Tabel 4.1 Proses Identifikasi Isu Pembangunan Berkelanjutan Bidang CiptaKarya di Kota Balikpapan

Referensi

Dokumen terkait

dinamika kehidupan ekonomi sebagai dampak dari kegiatan pembangunan yang dilakukan. membuat semua produk lokal

Kemudian pada tahapan setelah selesainya atau pasca pembangunan perlu diidentifikasi apakah keberadaan infrastruktur bidang Cipta Karya tersebut membawa manfaat atau peningkatan

4.1.2 Aspek Sosial pada Pelaksanaan Pembangunan Bidang Cipta Karyaa. Pelaksanaan pembangunan bidang Cipta Karya Kota Makassar

RPIJM bidang Cipta Karya membutuhkan kajian pendukung dalam hal lingkungan dan sosial untuk meminimalisir pengaruh negatif pembangunan infrastruktur bidang Cipta Karya

Analisis ekonomi dilakukan untuk melihat dampak pembangunan infrastruktur Bidang Cipta Karya, mulai pada tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun pasca pelaksanaan yang dilakukan di

Analisis ekonomi dilakukan untuk melihat dampak pembangunan infrastruktur Bidang Cipta Karya, mulai pada tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun pasca pelaksanaan yang dilakukan di

Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kota Depok Tahun 2015-2019 4.2.2 Aspek Ekonomi Pada Pelaksanaan Pembangunan Bidang Cipta Karya. Pembangunan bidang Cipta Karya

Program Pembangunan Infrastruktur Bidang Cipta Karya berperan penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bireuen Ketersediaan infrastruktur ini juga