• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aplikasi Hukum Islam Pada Bisnis Syariah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Aplikasi Hukum Islam Pada Bisnis Syariah"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Aplikasi Hukum Islam Pada Bisnis Syariah di Indonesia[1] Dr. Drs. H. Dadan Muttaqien, SH. M Hum[2]

A. Pendahuluan

Maraknya praktik ekonomi syari’ah di Indonesia selama ini telah direspon positif oleh pemerintah dengan melahirkan berbagai undang-undang, antara lain:

1. Bidang Perbankan

a. Undang Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Undang Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.

b. Undang Undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syari’ah 2. Bidang Peradilan

Undang Undang No. 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Undang Undang No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

Perubahan yang substansial dari Undang Undang No. 3 Tahun 2006 adalah: a. Pada Pasal 2 dinyatakan, bahwa Peradilan Agama adalah salahsatu pelaku

kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan[3] yang beragama Islam mengenai perkara tertentu.

b. Pada Pasal 49 dinyatakan, bahwa Peradilan Agama bertugas dan berwenang untuk; memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang: a. perkawinan b. waris, c. wasiat, d. hibah, e. wakaf, f. zakat, g. infak, h. shadakah, dan e. ekonomi syari’ah.

Berdasarkan penjelasan undang undang tersebut, bahwa yang dimaksud dengan:

1. Antara orang-orang yang beragama Islam’ adalah ‘orang (persoonlijk) atau badan hukum (persoonrecht) yang dengan sendirinya menundukkan dirinya dengan sukarela kepada hukum Islam.

2. Yang dimaksud dengan “ekonomi syari’ah” adalah perbuatan atau kegiatan usaha yang dilaksanakan menurut prinsip syari’ah, antara lain meliputi: a.bank syari’ah; b.lembaga keuangan mikro syari’ah. c.asuransi syari’ah; d.reasuransi syari’ah; e.reksa dana syari’ah; f.obligasi syari’ah dan surat berharga berjangka menengah syari’ah; g.sekuritas syari’ah; h.pembiayaan syari’ah; i.pegadaian syari’ah; j.dana pensiun lembaga keuangan syari’ah; dan k.bisnis syari’ah.[4]

B. Politik Hukum Lembaga Keuangan Syari’ah

(2)

Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa, pada dasarnya mengandung 3 makna, yaitu:

1. Negara tidak boleh membuat petaturan perundang-undangan atau melakukan kebijakan-kebijakan yang bertentangan dengan dasar keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2. Negara berkewajiban membuat peraturan perundang-undangan atau kebijakan-kebijakan bagi pelaksanaan wujud rasa keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa dari segolongan pemeluk agama yang memerlukannya.

3. Negara berkewajiban membuat peraturan perundang-undangan yang melarang siapapun melakukan pelecehan terhadap ajaran agama (paham atheisme).

Dalam Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 disebutkan bahwa, negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu. Kata ‘menjamin’ tersebut bersifat ‘imperatif’,. Artinya berkewajiban secara aktif melakukan ipaya-upaya agar tiap-tiap penduduk dapat memeluk agama dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.[5]

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka keinginan umat Islam untuk dibuatnya undang-undang tentang peradilan agama dan perbankan syari’ah adalah suatu sikap yang proporsional yang berlandaskan konstitusi, yaitu UUD 1945.

C. Hukum Islam yang Telah Diaplikasikan pada Bisnis Syariah di Indonesia Wilayah kajian ekonomi Islam terdapat dalam fikih Mu`amalat, yaitu hukum yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lain yang berkenaan dengan harta (al-amwal), hak, dan pengelolaan harta (al-tasharruf) dengan cara transaksi (akad) dan lainnya. Secara ringkas ekonomi Islam meliputi: (1) benda dan kepemilikan, (2) persoalan hak dan hal-hal yang berhubungan dengannya, (3) perikatan atau akad yang berhubungan dengan kedua hal tersebut.[6]

Ekonomi Islam adalah pengetahuan dan penerapan hukum syari`ah untuk mencegah terjadinya ketidakadilan atas pemanfaatan dan pembuangan sumber-sumber material dengan tujuan untuk memberikan kepuasan manusia dan melakukannya sebagai kewajiban kepada Allah dan masyarakat. Menurut M. Nejatullah Siddiqi, Ekonomi Islam adalah hasil pemikiran muslim yang merespon terhadap tantangan ekonomi pada masanya. Dalam hal ini mereka dibimbing dengan al Qur`an dan Sunnah beserta akal dan pengalaman. Rumusan menurut Syed Nawab Heider Naqvi, Ekonomi Islam merupakan representasi perilaku Muslim dalam suatu masyarakat Muslim tertentu. Sedangkan menurut M.A. Manan, Ekonomi Islam merupakan suatu studi sosial yang mempelajari masalah ekonomi manusia berdasarkan nilai-nilai Islam. Adapun defenisi lain yang lebih lengkap bahwa Ekonomi Islam adalah ilmu, teori, model, kebijakan serta praktik ekonomi yang bersendi dan berlandaskan ajaran Islam, dengan Al Qur`an dan Al Hadits sebagai rujukan utama serta ijtihad sebagai rujukan tambahan.[7]

(3)

kesejahteraan manusia. Karena itu, setiap kegiatan ekonomi harus senantiasa berada dalam koridor keadilan dan keseimbangan. Ketiga adalah kebebasan. Hal ini berarti bahwa setiap manusia memiliki kebebasan untuk melaksanakan berbagai aktivitas ekonomi sepanjang tidak ada ketentuan Allah SWT yang melarangnya. Keempat adalah pertanggungjawaban. Artinya bahwa manusia harus memikul seluruh tanggungjawab atas segala keputusan yang telah diambilnya.

Berbagai karakteristik dan landasan filosofis di atas memberikan panduan kepada kita dalam proses implementasi ekonomi Islam. Hal ini memberikan keyakinan kepada kita bahwa sistem ekonomi Islam ini merupakan solusi, karena mengandung nilai dan filosofi yang sejalan dengan fitrah dan kebutuhan hidup manusia, tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun atribut-atribut keduniaan lainnya. Sistem ekonomi Islam ini tidak hanya diperuntukkan bagi kaum muslimin saja, tetapi juga memberikan dampak positif kepada kalangan non muslim lainnya. [8]

Berbagai macam bentuk akad muamalah terdapat dalam Ekonomi Syariah guna membangun sebuah usaha, yakni antara lain:

1. Musyarakah

Musyarakah (syirkah atau syarikah atau serikat atau kongsi) adalah bentuk umum dari usaha bagi hasil dimana dua orang atau lebih menyumbangkan pembiayaan dan manajemen usaha, dengan proporsi bisa sama atau tidak. Keuntungan dibagi sesuai kesepakatan antara para mitra, dan kerugian akan dibagikan menurut proporsi modal. Transaksi Musyarakah dilandasi adanya keinginan para pihak yang bekerja sama untuk meningkatkan nilai asset yang mereka miliki secara bersama-sama dengan memadukan seluruh sumber daya.[9]

Menurut ulama Hanafiyah syirkah adalah Perjanjian antara dua pihak yang bersyarikat mengenai pokok harta dan keuntungannya.[10]

Menurut ulama Malikiyah syirkah adalah izin untuk berbuat hukum bagi kedua belah pihak, yakni masing-masing mengizinkan pihak lainnya berbuat hukum terhadap harta milik bersama antara kedua belah pihak, disertai dengan tetapnya hak berbuat hukum (terhadap harta tersebut) bagi masing-masing.[11]

Menurut Hanabilah Syirkah adalah berkumpul dalam berhak dan berbuat hukum. Sedangkan menurut Syafi`iyah adalah tetapnya hak tentang sesuatu terhadap dua pihak atau lebih secara merata.[12]

Menurut Latifa M.Algoud dan Mervyn K. Lewis musyarakah adalah kemitraan dalam suatu usaha, dimana dua orang atau lebih menggabungkan modal atau kerja mereka, untuk berbagi keuntungan, menikmati hak-hak dan tanggung jawab yang sama.[13]

Sedangkan menurut Sofiniyah Ghufron dkk., al-musyarakah atau syirkah adalah akad kerjasama usaha patungan antara dua pihak atau lebih pemilik modal untuk membiayai suatu jenis usaha yang halal dan produktif, di mana keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.[14]

(4)

Dasar hukum musyarakah antara lain firman Allah pada Surat An-Nisa ayat 12 yang artinya: Dan jika saudara-saudara itu lebih dua orang, maka mereka bersyarikat pada yang sepertiga itu.[15]

2. Mudharabah

Mudharabah adalah bentuk kerja sama antara dua atau lebih pihak di mana pemilik modal (shahibul amal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian di awal. Bentuk ini menegaskan kerja sama dengan kontribusi seratus persen modal dari pemilik modal dan keahlian dari pengelola. Transaksi jenis ini tidak mewajibkan adanya wakil dari shahibul maal dalam manajemen proyek. Sebagai orang kepercayaan, mudharib harus bertindak hati-hati dan bertanggung jawab atas kerugian yang terjadi akibat kelalaian dan tujuan penggunaan modal untuk usaha halal. Sedangkan, shahibul maal diharapkan untuk mengelola modal dengan cara tertentu untuk menciptakan laba yang optimal.[16]

Ulama Hijaz menamakan mudharabah, qiradh. Menurut Jumhur, mudharabah adalah bagian dari musyarakah. Dalam merumuskan pengertian mudharabah, Wahbah Az-Zuhaily mengemukakan bahwa pemilik modal menyerahkan hartanya kepada pengusaha untuk diperdagangkan dengan pembagian keuntungan yang disepakati dengan ketentuan bahwa kerugian ditanggung oleh pemilik modal, sedangkan pengusaha tidak dibebani kerugian sedikitpun, kecuali kerugian berupa tenaga dan kesungguhannya.[17]

Menurut Latifa M.Algaoud dan Mervyn K.Lewis, mudharabah dapat didefinisikan sebagai sebuah perjanjian di antara paling sedikit dua pihak, dimana satu pihak, pemilik modal (shahib al-mal atau rabb al-mal), mempercayakan sejumlah dana kepada pihak lain, pengusaha (mudharib), untuk menjalankan suatu aktivitas atau usaha.[18]

Menurut Afzalur Rahman sebagaimana dikutip oleh Gemala Dewi dkk., syirkah mudharabah atau qiradh, yaitu berupa kemitraan terbatas adalah perseroan antara tenaga dan harta, seseorang (pihak pertama/supplier/ pemilik modal/mudharib) memberikan hartanya kepada pihak lain (pihak kedua/ pemakai/pengelola/dharib) yang digunakan untuk bisnis, dengan ketentuan bahwa keuntungan (laba) yang diperoleh akan dibagi oleh masing-masing pihak sesuai dengan kesepakatan. Bila terjadi kerugian, maka ketentuannya berdasarkan syara. bahwa kerugian dalam mudharabah dibebankan kepada harta, tidak dibebankan sedikitpun kepada pengelola, yang bekerja.[19]

Dasar hukum mudharabah antara lain Firman Allah pada Surat Al-Muzammil ayat 20, Al-Jumu’ah ayat 10 dan Al-Baqarah ayat 198.

Mudharabah ada dua macam : [20]

a. Mudaharabah muthlaq, yakni mudharabah yang tidak terikat kepada syarat-syarat tertentu seputar materi usaha;

b. Mudharabah muqayyad, yakni mudharabah yang terikat kepada syarat-syarat tertentu mengenai materi usaha.

3. Murabahah

(5)

Ibnu Rusyid mendefinisikan murabahah sebagai berikut:[23] Murabahah tidak mempunyai rujukan atau referensi langsung dari al-Quran maupun Sunnah, yang ada hanyalah referensi tentang jual beli atau perdagangan. Jual beli murabahah hanya dibahas dalam kitab-kitab fiqh. Imam Malik dan Imam Syafi'i mengatakan bahwa jual beli murabahah itu sah menurut hukum walaupun Abdullah Saeed mengatakan bahwa pernyataan ini tidak menyebutkan referensi yang jelas dari Hadis.[24]

Menurut al-Kaff, seorang kritikus kontemporer tentang murabahah, bahwa para fuqaha terkemuka mulai menyatakan pendapat mereka mengenai murabahah pada awal abad ke-2 H. Karena tidak ada acuan langsung kepadanya dalam al-Quran atau dalam Hadis yang diterima umum, maka para ahli hukum harus membenarkan murabahah berdasarkan landasan lain. Malik mendukung faliditasnya dengan acuan pada praktek orang-orang Madinah. Ia berkata "Penduduk Medinah telah berkonsensus akan legitimasi orang yang membeli pakaian di sebuah toko dan membawanya ke kota lain untuk dijual dengan adanya tambahan keuntungan yang telah disepakati.[25] Imam Syafi'i menyatakan dengan kata salaf. Sedangkan hakikat salam menurut syar’i adalah jual beli barang secara ijon dengan menentukan jenisnya ketika akad dan harganya dibayar di muka. [27]

Istilah ba’i as-salam, jual-beli pesanan, kadang diungkapkan dengan menggunakan istilah ba’i as-salaf. Keduanya mempunyai pemahaman arti yang sama, yaitu jual-beli pesanan. Bagi Imam al-Mawardi, penyebutan kata salam adalah bahasa penduduk Hijaz, sedangkan penyebutan kata salaf adalah bahasa penduduk Irak. Sebagian lagi mengatakan bahwa pada jual-beli sistem salaf harga diserahkan terlebih dahulu, sedangkan dalam sistem salam harga diserahkan saat transaksi. Dari sisi ini, maka pengertian salaf lebih luas. Adapun salam menurut syariat adalah jual-beli sesuatu yang berada dalam tanggungan (dzimmah).

Secara terminologis, para ulama fiqh mendefinisikannya dengan: ba’iu ajalin bi’ajilin, aw ba’iu syai’in maushufin fidz dzimmah ay annahu yataqaddamu fihi ra’sul mal wa yataakhkharu al-mutsminu li ajalin, menjual suatu barang yang penyerahannya ditunda, atau menjual suatu (barang) yang ciri-cirinya jelas dengan pembayaran modal lebih awal, sedangkan barangnya diserahkan kemudian. Lain halnya dengan Ulama Syafi’iyah dan Ulama Hanabilah, mendefinisikannya dengan; “akad yang disepakati untuk sesuatu dengan ciri-ciri tertentu dengan membayar harganya dahulu, sedangkan barangnya diserahkan (kepada pembeli) kemudian hari”. [28]

Dasar hukum dari pelaksanaan transaksi jual-beli salam, berdasar-kan firman Allah Swt dalam QS. Al-Baqarah [2]: 282 yang artinya: “Wahai orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya....”

(6)

lakukanlah dalam ukuran tertentu, timbangan tertentu, dan waktu tertentu (HR. Al-Bukhari-Muslim-Abu Daud-an-Nasa’i-at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ibnu ‘Abbas) 5. Qiradh[29]

Qard al-hasan merupakan produk perbankan syariah yang mengacu pada prinsip pinjam-meminjam. Dalil tentang praktek qard al-hasan dapat dilacak dalam QS. Al-Hadid [57]: (11) dan hadits Nabi riwayat Ibnu Majah dari Abdullah bin Mas’ud: Nabi Saw. Berkata: “Bukan seorang muslim (mereka) yang meminjamkan muslim (lainnya) dua kali kecuali yang satunya adalah (senilai) shadaqah” (HR. Ibnu Majah).

Secara konseptual, transaksi yang mengacu pada prinsip pinjam meminjam tidak dibolehkan adanya tambahan sebesar apapun. Jika dalam prakteknya ada tambahan (ziyadah) maka transaksi tersebut sudah termasuk dalam kategori riba nasi’ah. Secara harfiyah, qardl al-hasan difahami sebagai pinjaman kebajikan yang tidak ada imbalan atau tambahan di dalamnya. Sebagai ilustrasi, jika seseorang meminjam 100 ribu maka kewajiban bagi debitur untuk mengembalikan uang sebesar 100 ribu juga.

6. Wadiah[30]

Pengertian Wadi`ah menurut bahasa adalah berasal dan akar kata Wada`a yang berarti meninggalkan atau titip. Sesuatu yang dititip baik harta, uang maupun pesan atau amanah. Jadi wadi`ah titipan atau simpanan. Para ulama pikih berbeda pendapat dalam penyampaian defenisi ini karena ada beberapa hukum yang berkenaan dengan wadi`ah itu seperti, Apabila sipenerima wadi`ah ini meminta imbalan maka ia disebut TAWKIL atau hanya sekedar menitip.

Menurut Syafii Antonio (1999) wadi`ah adalah titipan murni dari satu pihak kepihak lain, baik individu maupun badan hukum yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja sipenitip mengkehendaki.

Menurut Bank Indonesia (1999) adalah akad penitipan barang/uang antara pihak yang mempunyai barang/uang dengan pihak yang diberi kepercayaan dengan tujuan untuk menjaga keselamatan, keamanan serta keutuhan barang/uang.

Wadi`ah diterapkan mempunyai landasan hukum yang kuat yaitu dalam QS. An-Nisa` : 58 dan Al Baqarah : 283. Dalam Al-Hadits lebih lanjut yaitu dari Abu Hurairah, diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tunaikanlah amanah (titipan) kepada yang berhak menerimanya ….” (H.R. Abu Daud dan Tirmizi).

Dalam dasar hukum yang lain menerangkan yaitu Ijma` ialah para tokoh ulama Islam sepanjang zaman telah melakukan Ijma` (konsensus) terhadap legitimasi Al Wadi`ah karena kebutuhan manusia terhadap hal ini[31].

Fatwa Dewan Syari’ah Nasional (DSN) No: 01/DSN-MUI/IV/2000, menetapkan bahwa Giro yang dibenarkan secara syari’ah, yaitu giro yang berdasarkan prinsip Mudharabah dan Wadi’ah.

Demikian juga tabungan dengan produk Wadi’ah, dapat dibenarkan berdasarkan Fatwa DSN No: 02//DSN-MUI/IV/2000, menyatakan bahwa tabungan yang dibenarkan, yaitu tabungan yang berdasarkan prinsip Mudharabah dan Wadi’ah.

(7)

Ijarah berarti sewa, jasa atau imbalan, yaitu akad yang dilakukan atas dasar suatu manfaat dengan imbalan jasa.[32]

Menurut Sayyid Sabiq, Ijarah adalah suatu jenis akad yang mengambil manfaat dengan jalan penggantian.[33] Dengan demikian pada hakikatnya ijarah adalah penjualan manfaat yaitu pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang dan jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa/upah tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri. Akad ijarah tidak ada perubahan kepemilikan tetapi hanya perpindahan hak guna saja dari yang menyewakan kepada penyewa.

D. Peraturan Perundangan yang mengatur tentang Ekonomi Syari’ah

Saat ini telah banyak peraturan perundangan yang terkait dengan aplikasi ekonomi syari’ah, antara lain:

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2001 Tentang Yayasan

3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia

4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf

5. Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama

6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2008 Tentang Surat Berharga Syariah Negara

7. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah

E. Peraturan Perundangan Peraturan Pemerintah yang terkait dengan Ekonomi Syaria’h yang perlu segera dilakukan perubahan:

Di samping peraturan perundangan yang telah disebutkan di muka, masih banyak peraturan perundangan yang harus segera dilakukan penyesuaian, karena undang-undang tersebut terkait secara langsung dengan ekonomi syari’ah, Baik dalam hal mekanisme operasional maupun terkait dengan penyelesaian sengketa, antara laian:

1. Undang-Undang Kepailitan 2. Undang-Undang Fiducia 3. Undang-Undang Arbitrase

(8)

5. Undang-Undang SUN (Surat Utang Negara) 6. Undang-Undang PT (Perseroan Terbatas) 7. Undang-Undang Jabatan Notaris

8. Undang-Undang Lembaga Penjamin Simpanan. 9. Undang-Undang PPh

10. Undang-Undang Otoritas Jasa Keuangan 11. Undang-Undang Bank Indonesia

12. Undang-Undang Perbankan Syari’ah 13. Undang-Undang Perdagangan 14. Undang-Undang Wakaf

15. Undang-UndangPengelolaan Zakat 16. Undang-UndangDokumen Perusahaan 17. Undang-Undang Resi Gudang

18. Undang-Undang Perlindungan Konsumen 19. Undang-Undang Persaingan Usaha 20. Undang-UndangAsuransi

21. Undang-Undang Pasar Modal 22. Undang-Undang Koperasi

23. Undang-Undang Money Loundring 24. Undang-Undang PPn

25. Peraturan Pemerintah tentang Pegadaian.

Mengingat masih banyak piranti pendukung terhadap eksisnya ekonomi syari’ah yang harus dilengkapi, maka stakeholder ekonomi syariah, ekonom maupun politisi muslim, serta sarjana syari’ah masih harus berfikir keras untuk secara bertahap dapat menyempurnakan piranti hukum tersebut.

F. Tantangan dan Hambatan

(9)

para praktisi ekonomi syari’ah saja, tetapi diperlukan sinergi dari setiap kalangan umat Islam.

Hambatan yang paling berat terhadap terlaksananya ekonomi syari’ah ini adalah dari kalangan umat Muslim sendiri. Yaitu mereka yang belum mengetahui tentang apa dan bagaimana ekonomi syaria’ah, tetapi sudah menjustifikasi terhadap sesuatu yang sebenarnya belum dia ketahui. Demikian juga mental penikmat riba yang telah mendarah daging di kalangan umat muslim berkat penenaman kolonial Belanda dengan sistem perbankan konvensionalnya.

G. Penutup.

Secara juridis normatif, ekonomi syari’ah yang lahir bersamaan dengan kelahiran Bank Muamalat Indonesia pada tahun 1992 saat ini tidak ada masalah. Demikian juga ketangguhan ekonomi syari’ah dalam menghadapi krisis ekonomi tidak diragukan. sebagai bukti para tahun 1988 semua bank konvensional mengalami kolaps sehingga menjadi pasie BLBI, sementara Bank Muamalat tetap eksis tanpa satu senpun bantuan BLBI.

Piranti hukum sebagai pendukung, lambat tapi pasti telah tersedia, meskipun masih perlu dilengkapi.

Tantangan yang paling berat, adalah melawan hati yang masih cinta riba, sehingga memilih yang konvensional.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Amin, Hasan. al Wada`i al Masharifah an Maqdiyah wa Istitsmariha fi al Islam.

Algaoud, Latifa M. dan Mervyn K. Lewis, 2005. Perbankan Syari’ah, Prinsip, Praktik dan Prospek, (Terjemahan Burhan Wirasubrata), , Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.

Antonio, Muhammad Syafi’i, 2001. Bank Syari’ah dari Teori ke Praktek, Jakarta: Gema Insani,

Referensi

Dokumen terkait

Di dalam teks Kisah Pelayaran Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dari Singapura sampai ke Kelantan, terdapat pandangan-pandangan merendahkan yang dilakukan oleh Abdullah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pembelajaran model PBL dengan pendekatan saintifik terhadap kemampuan pemecahan masalah dan kemandirian belajar peserta

Klien manyatakan 2 hari yang lalu dibawa ke Rumah Sakit dengan keluhan pusing, pandangan mata kabur,karena ada plak yang mengkilap berwarna hitam dibawah mata

Variabel yang terpengaruh kenaikan TDL pada produksi kapal didapatkan dengan identifikasi dan evaluasi pemakaian energi listrik pada fasilitas produksi, pengaruh terhadap

Penyisipan watermark pada koefesien wavelet dengan bantuan micro-GA ditujukan untuk mencari nilai penguat (gain) watermark yang tepat, yang dapat menyesuaikan dengan

aspek-aspek yang berada dalam kuadran ini seharusnya mendapat prioritas utama dari Kantor Pertanahan Kota Semarang untuk ditingkatkan perbaikannya agar dapat memuaskan pelanggan.

Pada penelitian ini, sintesis material katoda NCM telah dilakukan dengan menggunakan metode solid state yang mana pada metode ini ialah metode yang paling simpel dibanding

ARIFIN NOOR SUGIHARTO, M.Sc.,Ph.D.. DOSEN